• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh penggunaan model pembelajaran auditory

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh penggunaan model pembelajaran auditory"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY, INTELLECTUALY, REPETITION (AIR) TERHADAP KETERAMPILAN

BERBICARA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 3 PANCUNG SOAL KABUPATEN PESISIR SELATAN

Selmira1, Dina Ramadhanti2, Ricci Gemarni Tatalia2

1

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat

2

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]

ABSTRACT

This research is motivated by the lack of interest of students to speak because students have difficulty expressing ideas and feelings into oral form. The purpose of this study is to determine the effect of the use of auditory learning model, intellectualy, repetition (AIR) on the speaking skills of students in grade VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Pesisir Selatan Regency. This type of research is quantitative with Pre-experiment Design method. The population in this study were students of class VII of SMP Negeri 3 Pancung Soal Pesisir Selatan Regency. The result of this research is first, speaking skill of VII students of SMP Negeri 3 Pancung Soal of South Pesisir Selatan Regency before using auditory, intellectualy, repetition (AIR) model, get the average score 59,57 with qualification Enough. Second, the speaking skill of the seventh grade students of SMP Negeri 3 Pancung Soal of Pesisir Selatan Regency after using auditory, intellectualy, repetition (AIR) model, got an average score of 69.29 with more than Enough qualifications. Third, there is the influence of the use of auditory learning model, intellectualy, repetition (AIR) on the skills of speaking skill of grade VII students of SMP Negeri 3 Pancung Soal Pesisir Selatan Regency. Based on t-test results, it is concluded that hypothesis (H_1) is accepted at a significant level of 95% and dk = n-1 because t_count> t_table (6.50> 1.70), it can be

concluded that the use of auditory, intellectualy, repetition (AIR) influenced the speaking skill o f the seventh grade students of SMP Negeri 3 Pancung Soal of Pesisir Selatan Regency.

Keywords : Effect Auditory, Intellectualy, Repetition (AIR) Model, Speaking Skills

PENDAHULUAN

Permasalahan yang dihadapai dalam penelitian ini adalah. Pertama, guru sering menggunakan bahasa Ibu, sehingga siswa tidak terlatih berbicara dengan bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, dalam proses

pembelajaran perlu digunakan bahasa Indonesia. Kedua, siswa sulit menuangkan ide, gagasan, dan pemikiran ke dalam bentuk lisan sehingga siswa masih malu dan tidak percaya diri dalam berbicara. Ketiga, siswa sulit mengekspresikan diri saat

(2)

tampil di depan kelas. Keempat, kosakata yang diucapkan siswa masih rendah sehingga kata-kata yang diucapkan menjadi tidak jelas dan sering diulang-ulang. Kelima, guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam proses belajar mengajar. Sehingg siswa tidak termotivasi dalam berbicara berbahasa Indonesia, salah satu model pembelajaran adalah auditory, intellectualy, repetition (AIR). Hal ini disebabkan karena siswa kekurangan ide dan kreativitas dalam keterampilan berbicara khususnya dalam menceritakan tokoh idola.

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, mendeskripsikan keterampilan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan sebelum menggunakan model pembelajaran auditory, intellectualy, repetition (AIR). Kedua, mendeskripsikan keterampilan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan sesudah menggunakan model pembelajaran auditory, intellectualy, repetition (AIR). Ketiga, Mendeskripsikan

pengaruh penggunaan model pembelajaran auditory, intellectualy, repetition (AIR) terhadap keterampilan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan.

Rencana pemecahan masalah ini menggunakan model pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas XI SMA Negeri VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan yaitu model pembelajaran AIR Shoimin (2014:30) menyatakan bahwa model pembelajaran AIR sebagai media Pembelajaran. Model pembelajaran AIR merupakan pembelajaran yang menekankan tiga aspek, yaitu auditory (belajar dengan mendengar), intellectualy (belajar dengan berpikir), repetition (pengulangan) agar belajar menjadi efektif. Cara pembelajaran seperti ini akan lebih cepat dipahami siswa daripada hanya bercerita kepada siswa tanpa ditunjukan contohnya.

Dalam model pembelajaran AIR terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya. Pertama, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok ada 4-5

(3)

anggota. Kedua, siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru. Ketiga, setiap kelompok mendiskusikan materi yang akan mereka pelajari dan menuliskan hasil diskusi tersebut untuk dipresentasikan di depan kelas (auditory). Keempat, saat diskusi berlangsung, siswa mendapat soal atau permasalahan yang berkaitan dengan materi. Kelima, masing- masing kelompok memikirkan bagaimana cara menerapkan hasil diskusi sehingga dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk

menyelesaikan masalah

(intellectualy). Keenam, setelah selesai berdiskusi, siswa mendapat pengulangan materi dengan cara mendapatkan tugas atau kuis untuk tiap individu (repetitian).

Arsjad dan Mukti (1998:17- 21), penilaian keterampilan berbicara antara lain. Pertama, ketepatan ucapan adalah mengucapkan bunyi- bunyi bahasa secara tepat. Kedua, intonasi adalah tinggi rendahnya nada dalam berbicara. Ketiga, kelancaran adalah seorang pembicara yang lancar berbicara akan mempermudahkan pendengar

menangkap isi pembicaraannya.

Keempat, pandangan mata adalah pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara saat berbicara di depan.

Kelima, mimik adalah eksperisi dalam berbicara, mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara. Keenam, penguasaan topik adalah seorang pembicara harus menguasai topik pembicaraan sebelum berbicara di depan.

METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah

kuantitatif dengan analisis metode pre-eksperimen. Menurut Sugiyono (2014:74), metode penelitian eksperimen diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu One Group Pretest-Postest Desain.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan tahun ajaran 2017/2018 yang berjumlah 36 orang siswa. Dengan demikian, sampel pada penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten

(4)

Pesisir Selatan, karena populasi kurang dari 100 maka semua populasi dijadikan sebagai sampel.

Variabel dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut ini. Pertama, variabel bebas “Penggunaan Model Pembelajaran AIR ”. Kedua, variabel terikat “Keterampilan Berbicara”.

Terkait dengan variabel penelitian, data dalam penelitian ini adalah berupa hasil tes unjuk kerja berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes unjuk kerja. Tes unjuk kerja ini digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran AIR. Pengumpulan data yang akan dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan, dilakukan melalui langkah-langkah berikut ini.

Pertama, siswa diberikan pretest mengerjakan tes awal keterampilan berbicara menceritakan tokoh idola sebelum menggunakan model pembelajaran AIR. Kedua, siswa

diberikan perlakuan dengan model pembelajaran AIR, yakni menyampaikan materi yang akan dipelajari secara umum dengan menggunakan model Pembelajaran AIR. Ketiga, siswa diberikan postest mengerjakan tes akhir keterampilan berbicara menceritakan tokoh idola sesudah menggunakan model pembelajaran AIR. Setelah selesai mengerjakan tes, hasil kemampuan berbicara siswa dinilai berdasarkan indikator.

HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan deskripsi data dan analisis data, maka selanjutnya dilakukan pembahasan lebih lanjut mengenai berikut ini: (1) Keterampilan berbicara sebelum menggunakan model pembelajaran AIR siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan. (2) Keterampilan berbicara sesudah menggunakan model pembelajaran AIR siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan. (3) Pengaruh penggunaan model pembelajaran AIR terhadap keterampilan berbicara siswa kelas

(5)

VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan.

1. Keterampilan Berbicara Sebelum Menggunakan Model Pembelajaran Auditory, Intellectualy, Repetition (AIR) Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan.

Dapat disimpulkan skor akhir dari keterampilan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan sebelum menggunakan model pembelajaran AIR sebagai berikut.

Pertama, skor 8 diperoleh oleh 3 orang siswa . Kedua, skor 9 diperoleh oleh 5 orang siswa. Ketiga, skor 10 diperoleh oleh 9 orang siswa.

Keempat, skor 11 diperoleh oleh 9 orang siswa. Kelima, skor 12 diperoleh oleh 3 orang siswa.

Keenam, skor 13 diperoleh oleh 6 orang siswa. Ketujuh, skor 14 diperoleh oleh 1 orang siswa.

Dari data di atas, diperoleh rata- rata hitung (M) yaitu 59,59.

Berdasarkan rata-rata hitung tersebut disimpulkan bahwa tingkat keterampilan berbicara sebelum menggunakan model pembelajaran

AIR siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan berada pada rentangan 56- 65% yaitu klasifikasi Cukup (C).

2. Keterampilan Berbicara Sesudah Menggunakan Model Pembelajaran Auditory, Intellectualy, Repetition (AIR) Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan.

Dapat disimpulkan skor akhir dari keterampilan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan sesudah menggunakan model pembelajaran AIR sebagai berikut.

Pertama, skor 9 diperoleh oleh 1 orang siswa. Kedua, skor 10 diperoleh oleh 3 orang siswa. Ketiga, skor 11 diperoleh oleh 8 orang siswa.

Keempat, skor 12 diperoleh oleh 6

03 69 1215 1821 2427 3033 36

buruk sekali buruk kurang sekali kurang hampir cukup cukup lebih dari… baik baik sekali sempurna

Frekuensi

Kualifikasi

(6)

orang siswa. Kelima, skor 13 diperoleh oleh 8 orang siswa.

Keenam, skor 14 diperoleh oleh 6 orang siswa. Ketujuh, skor 15 diperoleh oleh 2 orang siswa.

Kedelapan, skor 16 diperoleh oleh 2 orang siswa.

Dari data di atas, diperoleh rata- rata hitung (M) yaitu 69,29.

Berdasarkan rata-rata hitung tersebut disimpulkan bahwa tingkat keterampilan berbicara sesudah menggunakan model pembelajaran AIR siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan berada pada rentangan 66- 75% yaitu klasifikasi Lebih dari Cukup (LdC).

3. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Auditory, Intellectualy, Repetition (AIR)

Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan.

Berdasarkan nilai keterampilan berbicara sesudah menggunakan model pembelajaran AIR dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa sangat baik. Hal ini terbukti dari hasil keterampilan berbicara siswa dengan tema “artis atau actor terkenal” setelah mendapatkan perlakuan penggunaan model pembelajaran AIR lebih baik dibandingkan dengan sebelum menggunakan model pembelajaran AIR. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengujian normalitas data, homogenitas data dan uji penelitian hipotesis, untuk pengujian normal L0 lebih kecil dari Lt (0,146<0,147), ini berarti data hasil belajar siswa berdistribusi normal. Berdasarkan uji homogenitas tersebut, disimpulkan bahwa 1,16 dan Ftabel 1,84 pada taraf signifikasi 0,05 untuk n=36 diperoleh angka. 1,84.

maka mempunyai variansi yang homogen karena fhitung <ftabel. (1,16<1,84). Selanjutnya, dilihat dari hasil uji-t disimpulkan bahwa

03 69 1215 1821 2427 3033 36

buruk sekali buruk kurang sekali kurang hampir cukup cukup lebih dari… baik baik sekali sempurna

Frekuensi

Kualifikasi

(7)

hipotesis alternatif (H1) diterima pada taraf signifikan 95% dan dk=

n–1 = 36-1= 35 karena thitung> ttabel (6,50>1,70). Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran AIR berpengaruh secara signifikan terhadap keterampilan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan.

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan model pembelajaran AIR siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan karena thitung> tabel (6,50>1,70). Jadi, disimpulkan bahwa keterampilan

berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 3 Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan sesudah menggunakan model pembelajaran AIR lebih baik daripada sebelum menggunakan model pembelajaran AIR.

KEPUSTAKAAN

Arsjad, Maidar G dan Mukti. 1988.

Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia..

Jakarta: Erlangga.

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif dan R & D.

Bandung: Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan kompetensi pengetahuan IPA antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran

Pengaruh Penggunaan Pendekatan Reciprocal Teaching Terhadap Keterampilan Menulis Teks Prosedur Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Rao Kabupaten Pasaman Hasil analisis data dalam