PENGARUH SUHU DAN LAMA PENGOVENAN PADA ENKAPSULASI Lactobacillus salivarius TERHADAP KADAR BAHAN KERING DAN JUMLAH BAKTERI ASAM
LAKTAT
SKRIPSI
Oleh :
ERLYNA BUDIARTI NPM.216.01.04.1035
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
MALANG 2020
PENGARUH SUHU DAN LAMA PENGOVENAN PADA ENKAPSULASI Lactobacillus salivarius TERHADAP KADAR BAHAN KERING DAN JUMLAH BAKTERI ASAM
LAKTAT
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh Gelar Sarjana Peternakan (S.Pt) Pada Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang
Oleh :
ERLYNA BUDIARTI NPM.216.01.04.1035
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
MALANG 2020
PENGARUH SUHU DAN LAMA PENGOVENAN PADA ENKAPSULASI Lactobacillus salivarius TERHADAP KADAR BAHAN KERING DAN
JUMLAH BAKTERI ASAM LAKTAT
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama pengovenan pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius terhadap kadar bahan kering dan jumlah bakteri asam laktat. Penelitian ini dilaksanakan di Lab. Terapan Fakultas Peternakan dan Lab. Dasar Fakultas Pertanian UNISMA pada tanggal 1 Juli sampai 30 Juli 2020.
Materi penelitian yaitu isolat bakteri Lactobacillus salivarius, MRS Agar, tepung maizena, dan maltodekstrin sedangkan Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 6 perlakuan dan 3 ulangan, dengan perlakuan P1 = Suhu 45 ºC selama 4 jam, P2 = Suhu 45 ºC selama 6 jam, P3 = Suhu 48 ºC selama 4 jam, P4 = Suhu 48 ºC selama 6 jam, P5 = Suhu 51 ºC selama 4 jam, dan P6 = Suhu 51 ºC selama 6 jam. Variabel yang diamati dalam peneltian ini adalah kadar bahan kering dan jumlah bakteri asam laktat.
Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan uji beda nyata terkecil (BNT) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Berdasarkan penelitian, hasil menunjukkan bahwa suhu dan lama pengovenan pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar bahan kering, dengan nilai rataan P1 = 71,38a, P2 = 75,62b, P3 = 75,93b, P4 = 76,04b, P5 = 76,11b, dan P6= 81,90c. Hasil perhitungan jumlah BAL (Bakteri Asam Laktat) pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius menunjukkan berpengaruh sangat nyata (P<0,01), dengan nilai rataan P1 = 9,61a (9,9 x 108), P2 = 9,63a (5,3 x 107), P3= 9,60a (4,2 x 107), P4= 9,69a (7,4 x 108), P5= 9,85ᵇ (5,5 x 109), dan P6= 9,94b (7,0 x 109). Kesimpulan bahwa suhu dan lama pengovenan pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius dapat meningkatkan kadar bahan kering dan jumlah bakteri asam laktat, dan disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan mengaplikasikan penggunaan produk probiotik yang telah mendapatkan pengovenan suhu 51 ºC selama 6 jam.
Kata kunci : Probiotik, Lactobacillus salivarius, enkapsulasi, Bahan Kering, Bakteri Asam Laktat
EFFECT OF TEMPERATURE AND DRYING TIME OF Lactobacillus salivarius ENKAPSULATION ON DRY MATTER INGREDIENTS AND
AMOUNT OF BACTERIA Abstract
The purpose of this study was to determine the effect of temperature and duration of oven on Lactobacillus salivarius encapsulation on dry matter content and the number of lactic acid
bacteria. This study was conducted in the Lab. Applied Faculty of Animal Husbandry and Lab. Faculty of Agriculture UNISMA on July 1 to July 30 2020. The materials were bacterial isolates of Lactobacillus salivarius, MRS Agar, cornstarch, and maltodextrin. The method of the study was carried out experimentally using a completely randomized design consisting of 6 treatments and 3 replications, with treatment P1 = temperature 45 ºC for 4 hours, P2 = temperature 45 ºC for 6 hours, P3 = temperature 48 ºC for 4 hours, P4 = temperature 48 ºC for 6 hours, P5 = temperature 51 ºC for 4 hours, and P6 = temperature 51 ºC for 6 hours.
The variables observed in this study were dry matter content and the number of lactic acid bacteria. The collecting data were analyzed using Analysis of variance (ANOVA) and continued with the smallest significant difference (LSD) test to determine the differences between treatments.
Based on the study, the results showed that the temperature and duration of the oven in the Lactobacillus salivarius encapsulation had a significant effect (P <0.05) on the dry matter content, with an average value of P1 = 71.38a, P2 = 75.62b, P3 = 75.93b, P4. = 76.04b, P5 = 76.11b, and P6 = 81.90c. The results of the calculation of the number of LAB (Lactic Acid Bacteria) in the encapsulation of Lactobacillus salivarius showed a very significant effect (P <0.01), with an average value of P1 = 9.61a (9.9 x 108), P2 = 9.63a (5.3 x 107), P3 = 9.60a (4.2 x 107), P4 = 9.69a (7.4 x 108), P5 = 9.85ᵇ (5.5 x 109), and P6 = 9.94b ( 7.0 x 109). The conclusion is that the temperature and duration of the oven in the Lactobacillus salivarius encapsulation can increase the dry matter content and the number of lactic acid bacteria, and it is advisable to conduct further research to apply the use of probiotic products that have been subjected to an oven temperature of 51 ºC for 6 hours.
Key words: Probiotic, Lactobacillus salivarius, encapsulation, dry matter, Lactic Acid Bacteri
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Feed additive adalah salah satu substansi yang bisa ditambahkan ke dalam pakan dalam jumlah relatif sedikit untuk meningkatkan kandungan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan khusus (Fathul, Tantalo, Liman, dan Purwaningsih, 2013).
Selain itu feed additive dapat menghasilkan bahan nutrisi yang berupa protein, vitamin, dan mineral. Probiotik menjadi salah satu cara untuk pengganti antibiotik.
Dalam penggunaan antibiotik harus diperhatikan karena masyarakat menolak tanpa ada alasan, dijelaskan seiring berjalannya waktu, bakteri mulai resisten terhadap pemberian antibiotik (Borong, 2012). Probiotik merupakan kultur single strain bakteri atau campuran dari beberapa strain, yang dapat diberikan kepada ternak untuk memperbaiki aspek kesehatan dan efisiensi produk pakan (Sjofjan, 2010). Menurut Mei, Kalsum, dan Farid (2015) menyatakan bahwa penggunaan probiotik pada dasarnya mampu meningkatkan efektivitas mikroba dalam usus dan akhirnya meningkatkan pertumbuhan.
Dalam menambahkan probiotik dapat mengurangi kemampuan mikroorganisme patogen dalam memproduksi toksin, mengurangi efek negatif yang mengakibatkan adanya hambatan dalam pakan yang berupa anti nutrisi karena probiotik dapat mengupayakan dalam peningkatkan ketersediaan zat makanan, kemudian dapat merangsang produksi enzim pencernaan serta vitamin dan substansi antimikrobial sehingga dapat meningkatkan status kesehatan dalam saluran pencernaan (Sumarsih, Sulistiyanto, Sutrisnodan, dan Rahayu, 2012).
Probiotik tersebut agar bisa menggantikan peran antibiotik, sehingga dapat memperoleh probiotik ASUH (aman, sehat, utuh, dan halal).
Enkapsulasi merupakan suatu proses membalut bahan inti (coating) dengan menggunakan bahan enkapsulasi tertentu. Keuntungan dari probiotik terenkapsulasi adalah lebih tahan lama penyimpananya karena berbentuk serbuk dan mudah pengaplikasikannya (Debby, Sumanti, Lanti, Hanida, Sukarmina, dan Giovanni, 2016). Berdasarkan uraian tersebut enkapsulasi diperlukan untuk mempertahankan viabilitas bakteri probiotik dan ketahanan daya agar tidak rusak. Oleh karena itu, maka diperlukan dalam penelitian ini untuk probiotik pada enkasulasi terhadap suhu dan lama pengovenan untuk mendukung kinerja probiotik sebagai pemacu dalam pertumbuhan dan produktivitas pada ternak.
Suhu merupakan faktor lingkungan yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan bakteri. Setiap spesies ada beberapa strain yang dapat memiliki suhu optimum yang berbeda (Adamberg, Kast, Laht, and Paalmet., 2003). Pengovenan adalah salah satu metode untuk menunjukkan dalam mengurangi kerusakan dengan perkembangan mikroorganisme. Pemanasan dalam bahan pakan akan mengakibatkan kerusakan pada kontaminan yang ada di dalamnya (Bouton, Harris, and Shorthose, 1971). Tujuan pengovenan untuk menguapkan air selama proses pemanasan dalam bahan pakan serta mengurangi kadar air.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh suhu dan lama pengovenan pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius terhadap kadar bahan kering dan jumlah bakteri asam laktat.
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama pengovenan pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius terhadap kadar bahan kering dan jumlah bakteri asam laktat.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Sebagai bahan informasi tentang pengaruh suhu dan lama pengovenan pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius terhadap kadar bahan kering dan jumlah bakteri asam laktat.
b. Dapat berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan terutama di bidang peternakan serta menambah wawasan untuk pengembangan lebih lanjut dari produk probiotik enkapsulasi bagi peternak.
1.5 Hipotesis
Pada penelitian ini diduga adanya pengaruh suhu dan lama pengovenan pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius terhadap kadar bahan kering dan jumlah bakteri asam laktat.
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Pengaruh suhu dan lama pengovenan pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius ada respon positif terhadap kadar bahan kering dan jumlah bakteri asam laktat (BAL).
b. Pengaruh suhu dan lama pengovenan yang terbaik pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius yaitu enkapsulasi pada suhu 51°C selama 6 jam.
6.2 Saran
Disarankan dengan suhu dan lama pengovenan yang terbaik pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius memberikan respon positif terhadap kadar bahan kering. Perlu diadakan penelitian lanjutan tentang penggunaan suhu (51 °C) dan lama pengovenan (6 jam) pada enkapsulasi Lactobacillus salivarius sebagai meningkatkan pada media pertumbuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Adamberg K, Kask S, Laht TM, PaalmeT (2003). The effect of temperatu and pH on the growth of lactic acid bacteria: a pH-auxostat study. Int. J. Food Microbiol.
85: 171-183.
Afandhie, R. dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius.
Yogyakarta. (diakses tanggal 7 juni 2020)
Ahmad, H., N. Iskandar dan Kurniawati. 2012. Pemberian Probiotik dalam Pakan terhadap Pertumbuhan Lele Sangkuriang (Claris sp) Pada Pendederan II.
Jurnal Perikanan dan Kelautan, 3 (4) : 99-107.
Borong, M. F. 2012. Kerasionalan Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Rawat Inap Anak Rumah Sakit M.M Dunda Limboto Tahun 2011. Laporan Hasil Karya Tulis Ilmiah. Program Studi D-III Farmasi Ilmu-ilmu Kesehatan dan Keolahragaan Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo.
Bouton, P. E., P. V. Harris, and W. R.Shorthose. 1971. Effect of ultimate
pH upon the water-holding capacityand tenderness of mutton. J. FoodSci.
36:435-439.
Carr FJ, Hill D, Maida N. 2002. The lactic acid bacteria: a literature survey Crit Rev Microbial 28: 281-370.
Debby M. Sumanti, I. Lanti, In-In Hanida, E. Sukarmina, A. Giovanni 2016. The Effect of Skim Milk and Maltodextrin Concentration as Coating Agent Towards Viability and Characteristics of Lactobacillus plantarum Bacteria Microencapsulated Suspension Using Freeze Drying Method. Jurnal Penelitian Pangan Volume 1.1:7-1.
Deman, M.J. 1993. Kimia Makanan. Bandung: ITB.
De Vos P, Garrity M G, Krieg N, Ludwig W, Rainey A, Scleifer H Karl, Witman W.
2009. Bergey’s Manual of Systematic Bacteria Second Edition. Springer Dordrecht Heidelberg London New York.
Dziezak, J.D. 1998. Microencapsulation and Encapsulated Ingedients. Food Technology. Symposium on The Controlled Release of Bioactive Materials, Deerfield, IL: Controlled Release Society, Inc. New York.
Fardiaz, S, 2001. Analisis Mikrobuiologi Pangan. PT Raja Gafindo Persada. Jakarta.
Fathul, F.S. Tantalo, Liman, dan N. Purwaningsih. 2013. Pengetahuan Pakan dan Formulasi Ransum. Buku Ajar. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Firmansyah, A. 2015. Perhitungan Jumlah Bakteri. Program Studi Budidaya Peraiaran. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung.
Hadi, P.E.S. 2019. Pengaruh Perbedaan Jenis Lantai Kandang Sapi Perah Terhadap Jumlah Bakteri Susu dan Kasus Mastitis. Jurusan Peternakan Fakultas Peternakan. Universitas Islam Malang.
Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo dan A.D. Tillman. 1990. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Kaillasapathy. 2002. Mikroencapsulation Of Probiotic Bacteria Technology And Potential Application. Current Issue In Intestinal Microbiology 3:39-48.
Katherine dan Asaf Kleopas S. 2015. Pengaruh Pretreatment Saccharoyces Cereviceae Dan Suhu Enkapsulasi Dalam Enkapsulasi Ekstrak Temulawak Dengan Saccharoyces Cereviceae. Jurusan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Universitas Katolik Parahyangan.
Kurniasih. 2015. Pengaruh Penambahan Berbagai Sumber Nitrogen Pada Proses Enkapsulasi Terhadap Jumlah Mikroba dan Penurunan Kandungan Bahan Organik Probitik. Penelitian Peternakan Universitas Islam Malang.
Lasztity, R. 1986. The Chemistry of Cereal Protein. CRC Press Inc. USA.
Lindgren, S.E. dan W.J. Dobrogosz. 1990. “Antagonistic activities of lactic acid bacteria in food and fermentation”. FEMS micobial. 87:149-164.
Luthana, 2008. Maltodekstrin. http://www.yongkikastanyaluthana.
(diakses pada 20 Maret 2020)
Madigan M, Martinko J, eds. 2005. Biologi Mikroorganisme Brock.
Mei Yuni A., U. Kalsum dan M. F. Wadjdi, 2015. Pengaruh Penambahan Jenis Probiotik Terenkapsulasi Terhadap Konsumsi Pakan, Produksi Telur dan Efisiensi Pakan Burung Puyuh. Jurnal Peternakan. Vol. V. 21-25.
Meiliawati dan Agata. 2017. Pengaruh Penambahan Garam 5% Dan 7,5% Terhadap Potensi Probiotik Bakteri Asam Laktat Hasil Fermentasi Acar Kubis Putih (Brassica OleraceaI) Asal Getasan, Kopeng. Fakultas Teknologi Pertanian.
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
Membre , J,M., B. Leporq, M. Vialette, E. Mettler, L. Perrier, D. Thuaut, M.
Zwietering, 2005, Temperature effect on bacterial growth rate: quantitative microbiology approach including cardinal values and variability estimates to perform growth simulations on/in food, Int. J. Food Microbial. 100:179–186.
Nayak SK. 2010. Probiotics and Immunity: A Fish Perspective. Review. Fish anda Shellfish Immunologi 29:2-14.
Neville, Ba, O'Toole, PW. (May 2010). "Probiotic properties of Lactobacillus salivarius and closely related Lactobacillus species.". Future Microbiol 5 (5):
759–74. doi:10.2217/fmb.10.35. PMID 20441548.
Okuzumi M dan T Fujii. 2000. Nutritional and Functional Properties of Squid and Cuttlefish.National Cooperative Association of Squid Processors. Japan.
Ramli, 2004. Tepung Maizena. https://www.abadiprima.biz/tepung-maizena/.
Diakses pada 22 maret 2020
Ray, B. 1996b. Probiotics of lactid acid bacteria : Current advance in metabolism, CRC Press, Boca Raton, New York.
Rizqi, N. 2013. Arti penting bahan kering dalam pakan. Litbang KALTIM. Kalimantan Timur.
Saarela, M., G. Mogensen, R. Fonde, J. Matto and T.M. Sandlolm. 2000. Probiotic bacteria: Safety, functional and technological properties. J. Biotecthnol.
84(2000): 197 – 215.
Sjofjan, O. 2010. Probiotik Untuk Unggas dalam Soeharsono (editor), Probiotik Basis Ilmiah, Aplikasi dan Aspek Praktis. Pernerbit Widya Padjadjaran Bandung.
Solihah, W. N. 2017. Rancangan Acak Lengkap (Ral). Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Sumarsih, S., B. Sulistiyanto, C. I. Sutrisnodan E. S. Rahayu. 2012. Peran probiotik bakteri asam laktat terhadap produktivitas unggas. Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah. 10 (1): 511-518.
Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohardiprojo, S. Prawiro Kusuma, dan S.
Lebdosoekoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Trinanda, Muh Ade. 2015. Studi Aktivitas Bakteri Asam Laktat (L. Plantarum Dan L.
Fermentum) Terhadap Kadar Protein Melalui Penambahan Tepung Kedelai Pada Bubur Instan Terfermentasi. Skripsi Kimia. Program Studi Kimia.
Jurusan Pendidikan Kimia. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Yogyakarta.
Usman A,. 2016. Petunjuk Praktikum Teknologi Laboratorium. Fakultas Peternakan.
Universitas Islam Malang : Malang.
Volk. 1993. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Erlangga.
Waluyo. L. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang.
Wu W, W.S. Roe, V.G. Gimino, V. Seriburi, D.E. Martin and S.E. Knapp. 2000. Low melt encapsulation with high laurate canola oil. US. Patent 6 153 326.
Yoyok, P.B., E. Hamayani dan T. Utami. 2003. Kinetika pertumbuhan Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus sp. Pada Media MRS Cair.
Yousefien, M., M.S. Amiri,. 2009. A Review of the Use of Probiotik in aquaculture for fish and shrimp. African journal of Biotecnology Vol.8 (25), pp. 7313-7318.
Yuan Kun Lee dan Seppo Salminen. 2009. Handbook of Probiotics and Prebiotics Second Edition A John Wiley & Sons Ins All rights reserved Published by John Wiley & Sons, Ins., Hoboken, New Jersey Published simultaneously in Canada, 60-66.