• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SUKU BUNGA DAN PENDAPATAN TERHADAP PERMINTAAN UANG DI INDONESIA TAHUN 1990-2020

N/A
N/A
Syafni

Academic year: 2024

Membagikan "PENGARUH SUKU BUNGA DAN PENDAPATAN TERHADAP PERMINTAAN UANG DI INDONESIA TAHUN 1990-2020 "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH SUKU BUNGA DAN PENDAPATAN TERHADAP PERMINTAAN UANG DI INDONESIA TAHUN 1990-2020

Syafni Dwi Darmawan Politeknik Statistika STIS

[email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujun untuk mengetahui pengaruh suku bunga dan pendapatan terhadap permintaan uang di Indonesia tahun 1990 – 2020. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data world development indicator negara Indonesia tahun 1990-2020 yang bersumber dari website World Bank.

Variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini diantaranya adalah broad money (miliar rupiah), GDP deflator, deposit interest rate (%) yang menunjukkan tingkat suku bunga (i), dan constant gross domestic product/PDB riil (miliar rupiah) yang menunjukkan tingkat pendapatan (Y).

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis inferensia dengan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan berpengaruh positif terhadap permintaan uang di Indonesia. Hasil ini bertentangan dengan Teori Keynes yang menyatakan bahwa tingkat suku bunga berpengaruh negatif terhadap permintaan uang.

Kata kunci: suku bunga, pendapatan, permintaan uang, teori Keynes

LATAR BELAKANG

Permintaan uang mempunyai peranan yang sangat penting bagi otoritas kebijakan moneter dalam menentukan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi. Analisis permintaan uang merupakan suatu analisis besaran-besaran ekonomi yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah di bidang moneter. Pemerintah, dalam hal ini adalah Bank Indonesia dapat menempuh suatu kebijakan moneter yang bertujuan untuk mencapai stabilitas moneter (Prawoto, 2010).

Mengingat pentingnya kestabilan permintaan uang, maka banyak penelitian yang dilakukan untuk menganalisis faktor apa saja yang memepengaruhi permintaan uang. Salah satunya adalah penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang tahun 1999; Q1 – 2010; Q yang dilakukan oleh Setiadi (2013). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwaa inflasi dalam jangka pendek dan jangka panjang berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan uang, begitu juga pengaruh PDB, sedangkan suku bunga dalam jangka panjang memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap permintaan uang. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti

(2)

pengaruh tingkat pendapatan dan tingkat suku bunga terhadap permintaan uang di Indonesia tahun 1990 – 2020 menggunakan fungsi permintaan uang Keynes.

LANDASAN TEORI

Keynes’ Liquidity Preference Theory

Keynes menerangkan alasan seseorang memegang uang tunai berdasarkan kegunaan uang. Uang dapat berfungsi sebagai alat tukar (transaksi) dan penyimpan kekayaan. Dalam teorinya tentang permintaan akan uang tunai, Keynes membedakan antara motif transaksi (dan berjaga-jaga) serta spekulasi.

Individu atau perusahaan memerlukan uang tunai untuk membiayai transaksi. Keynes mengatakan bahwa permintaan uang tunai untuk tujuan transaksi ini tergantung pada pendapatan.

Semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang, makin besar kebutuhan akan uang tunai untuk tujuan transaksi. Seseorang dengan tingkat pendapatan tinggi mempunyai pengeluaran yang lebih banyak dibandingkan orang dengan pendapatan yang lebih rendah.

Sementara itu, menurut Keynes, besarnya permintaan uang untuk tujuan spekulasi ditentukan oleh perbandingan hasil dari bentuk kekayaan seperti saham, obligasi, atau barang yang lain.

Permintaan uang untuk tujuan spekulasi ditentukan oleh tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga, semakin rendah permintaan masyarakat akan uang tunai. Hal ini terjadi karena semakin tinggi tingkat bunga, berarti ongkos memegang uang tunai (opportunity cost of holding money) semakin tinggi, sehingga orang lebih memeilih untuk memegang obligasi. Oleh karena itu, permintaan masyarakat akan uang tunai akan makin kecil. Sebaliknya, apabila tingkat bunga semakin rendah, maka permintaan masyarakat akan uang tunai akan semakin besar.

Bentuk yang sederhana dari fungsi permintaan uang riil dari teori Keynes adalah:

(𝑀

𝑃)𝐷 = 𝐿(𝑖, 𝑌) ... (1) Dimana:

M = broad money

P = harga output (GDP deflator) (𝑀

𝑃)𝐷 = real money demand i = tingkat suku bunga Y = tingkat pendapatan METODE

(3)

diantaranya adalah broad money (miliar rupiah), GDP deflator, deposit interest rate (%) yang menunjukkan tingkat suku bunga (i), dan constant gross domestic product/PDB riil (miliar rupiah) yang menunjukkan tingkat pendapatan (Y). Adapun varibel dependen dalam penelitian ini adalah real money demand (𝑏𝑟𝑜𝑎𝑑 𝑚𝑜𝑛𝑒𝑦

𝐺𝐷𝑃 𝑑𝑒𝑓𝑙𝑎𝑡𝑜𝑟), sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat suku bunga (i) dan tingkat pendapatan (Y).

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis inferensia dengan menggunakan regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan terhadap permintaan uang serta mendapatkan estimasi persamaan fungsi Keynes di Indonesia tahun 1990 – 2020. Model yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(𝑀 𝑃)

𝑡 𝐷

= 𝛽0+ 𝛽1𝐼𝑡+ 𝛽2𝑌𝑡+ 𝜀𝑡

Dimana:

M = broad money

P = harga output (GDP deflator) (𝑀

𝑃)

𝑡 𝐷

= real money demand tahun ke-t It = tingkat suku bunga tahun ke-t Yt = tingkat pendapatan tahun ke-t 𝛽0 = konstanta

𝛽1, 𝛽2 = koefisien dari tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan

Adapun tahpan-tahapan dalam melakukan analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Menentukan variabel dependen dan variabel independent yang akan digunakan dalam model 2) Mengestimasi koefisien parameter fungsi

3) Melakukan interpretasi dan analisis dari estimasi fungsi yang didapat.

HASIL

Tabel 1. Hasil estimasi fungsi Keynes dengan regresi linier berganda

Variable Coefficient

Std.

Error

t-

Statistics Prob.

R- Squared

Adj, R- Square

F- Statistics

Prob (F- Statistic)

Duurbin- Watson Stat Intercept -600,4254 2037,805 -0,294643 0,7704 0,943572 0,939542 234,1056 0,000000 0,789537

Y 0,003880 0,000213 18,21901 0,0000 I 245,8192 71,80332 3,423507 0,0019 Sumber: hasil pengolahan menggunakan software E-Views

(4)

Berdasarkan hasil estimasi fungsi Keynes, diperoleh nilai F-statistics sebesar 234,1056 dengan p-value sebesar 0,0000. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendapatan dan tingkat suku bunga secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap permintaan uang, dengan tingkat signifikansi 5%. Selain itu, diperoleh nilai R-square sebesar 0,9436, yang berarti bahwa 94,36% variasi permintaan uang dapat dijelaskan oleh tingkat pendapatan dan tingkat suku bunga, sedangkan 5,64%

sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model.

Dari tabel di atas juga diperoleh nilai t-statistics dari tingkat pendapatan (Y) sebesar 18,2190 dengan p-value sebesar 0,0000. Artinya, tingkat pendapatan berpengaruh signifikan terhadap permintaan uang, dengan tingkat signifikansi 5%. Sementara itu, nilai t-statistics dari tingkat suku bunga (I) adalah sebesar 3,4235 dengan p-value sebesar 0,0019. Artinya, tingkat suku bunga berpengaruh signifikan terhadap permintaan uang, dengan tingkat signifikansi 5%.

Berdasarkan tabel 1, diperoleh persamaan regresi atau fungsi permintaan uang riil sebagai berikut:

(𝑀

𝑃)

𝑡

𝐷 = −600,4254 + 0,003880 𝑌𝑡+ 245,8192 𝐼𝑡 ... (2)

Persamaan di atas menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 miliar rupiah tingkat pendapatan akan meingkatkan permintaan uang sebesar 3,88 juta rupiah. Hal ini sesuai dengan teori Keynes yang menyatakan bahwa permintaan uang berbanding lurus dengan tingkat pendapatan. Persamaan di atas juga menunjukkan bahwa setiap kenaikan tingkat suku bunga sebesar 1% akan meningkatkan permintaan uang sebesar 245,82 miliar rupiah. Hasil ini bertentangan dengan teori Keynes yang menyatakan bahwa permintaan uang berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:

1) Tingkat suku bunga berpengaruh positif terhadap permintaan uang. Setiap kenaikan tingkat suku bunga sebesar 1% akan meningkatkan permintaan uang sebesar 245,82 miliar rupiah.

Hasil ini bertentangan dengan teori Keynes yang menyatakan bahwa permintaan uang berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga.

2) Tingkat pendapatan berpengaruh positif terhadap permintaan uang. Setiap kenaikan 1 miliar rupiah tingkat pendapatan akan meingkatkan permintaan uang sebesar 3,88 juta rupiah. Hasil ini sesuai dengan teori Keynes yang menyatakan bahwa permintaan uang berbanding lurus dengan tingkat pendapatan

DAFTAR PUSTAKA

(5)

Prawoto, N. (2010). Money Demand: A Study on the Indonesian Influental Factors. Economic Journal of Emerging Markets, 223-236.

Setiadi, I. O. (2013). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Uang di Indonesia tahun 1999:

Q1-2010: Q4 dengan Pendekatan Error Correction Models (ECM). Economics Development Analysis Journal, 1-9.

(6)

LAMPIRAN

Data nominal interest rate, GDP, dan real money demand Indonesia Tahun 1986- 2020 Tahun Deposit Interest

Rate (%)

GDP (Constant Miliar Rupiah)

Real Money Demand (Miliar Rupiah)

1990 17,53 2820000,00 12305,74

1991 23,32 3011078,05 13279,78

1992 19,60 3206723,04 14806,34

1993 14,55 3415044,86 14918,67

1994 12,53 3672538,26 16638,66

1995 16,72 3974421,17 19310,02

1996 17,26 4285148,86 22580,13

1997 20,01 4486545,66 25124,25

1998 39,07 3897609,13 23331,25

1999 25,74 3928444,13 22937,25

2000 12,50 4121726,24 22208,97

2001 15,48 4271899,95 21737,78

2002 15,50 4464113,04 21504,15

2003 10,59 4677514,12 22003,66

2004 6,44 4912833,96 22123,91

2005 8,08 5192500,54 22511,57

2006 11,41 5478137,49 22680,43

2007 7,98 5825726,53 24324,82

2008 8,49 6176068,46 23660,47

2009 9,28 6461950,71 24682,51

2010 7,02 6864133,10 24712,06

2011 6,93 7287635,30 26773,32

2012 5,95 7727083,40 29663,72

2013 6,26 8156497,80 31871,90

2014 8,75 8564866,60 33817,39

2015 8,34 8982517,10 35448,98

2016 7,17 9434613,40 38075,35

2017 6,52 9912928,10 39529,42

2018 6,13 10425851,90 40470,64

2019 6,69 10949155,40 42439,19

2020 5,50 10723054,80 47967,79

(7)

Regresi linier berganda

Dependent Variable: MD Method: Least Squares Date: 03/19/23 Time: 18:27 Sample: 1990 2020

Included observations: 31

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -600.4254 2037.805 -0.294643 0.7704

Y 0.003880 0.000213 18.21901 0.0000

I 245.8192 71.80332 3.423507 0.0019

R-squared 0.943572 Mean dependent var 25917.42

Adjusted R-squared 0.939542 S.D. dependent var 8882.883 S.E. of regression 2184.144 Akaike info criterion 18.30760 Sum squared resid 1.34E+08 Schwarz criterion 18.44637 Log likelihood -280.7678 Hannan-Quinn criter. 18.35284 F-statistic 234.1056 Durbin-Watson stat 0.789537 Prob(F-statistic) 0.000000

Referensi

Dokumen terkait

Yulia Lamasi Simanulang: Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI dan Inflasi Terhadap Tingkat Suku Bunga..., 2006... Yulia Lamasi Simanulang: Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga

Pada penelitian ini digunakan analisis jalur yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh nilai tukar rupiah dengan USD, dan tingkat suku bunga terhadap IHSG baik

Tujuan dan kegunaan penelitian yaitu (1) untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pendapatan perkapita dan tingkat suku bunga terhadap permintaan polis asuransi jiwa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan penanaman modal dalam negeri (PMDN) dengan tingkat suku bunga kredit dan untuk mengetahui pengaruh tingkat

Pengujian hipotesis yang dipakai dalam penelitian ini adalah regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh faktor-faktor nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga

Teknik analisis yang dilakukan pada penelitian ini menggunankan metode regresi linier berganda dengan menggunakan variabel independen Inflasi, suku bunga, kurs $ dan jumlah

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh suku bunga kredit, dana pihak ketiga dan giro wajib minimum terhadap penyaluran kredit pada Bank Central

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mencari nilai persamaan regresi yang digunakan untuk mengukur tingkat variabel Y berdasarkan beberapa tingkat