PENGARUH TINGKAT INFLASI, TINGKAT PENDAPATAN, DAN TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH
TAHUN 1998-2021
Syafni Dwi Darmawan Politeknik Statistika STIS
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat inflasi, tingkat pendapatan, dan tingkat suku bunga terhadap nilai tukar rupiah (Rp/US$) tahun 1998 β 2021. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data world development indicator negara Indonesia tahun 1998-2021 yang bersumber dari website World Bank. Variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini diantaranya adalah nilai tukar rupiah (Rp/US$), inflasi (%), PDB per kapita (Rp) sebagai pendekatan untuk tingkat pendapatan, dan suku bunga riil (%). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis inferensia dengan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat inflasi dan tingkat pendapatan berpengaruh positif terhadap nilai tukar rupiah pada tingkat signifikansi 10%. Dengan kata lain, kenaikan tingkat inflasi dan kenaikan tingkat pendapatan menyebabkan nilai rupiah terdepresiasi.
Kata kunci: tingkat pendapatan, nilai tukar, depresiasi.
LATAR BELAKANG
Sistem perekonomian terbuka memungkinkan suatu negara melakukan perdagangan internasional dengan negara lain. Perdagangan ini bisa berupa barang dan jasa, pertukaran teknologi, modal, dan sebagainya. Penggunaan uang dalam perekonomian terbuka diatur dengan menggunakan mata uang yang telah disepakati untuk mempermudah perdagangan internasional. Mata uang yang digunakan sebagai pembanding dalam pertukaran mata uang adalah dollar Amerika Serikat (US$) karena mata uang ini merupakan salah satu mata uang yang kuat dan merupakan mata uang acuan bagi sebagian besar negara berkembang. (Puspitaningrum, dkk., 2014).
Penggunaan mata uang acuan ini dapat menyebabkan risiko perubahan nilai tukar mata uang karena ketidakpastian nilai tukar itu sendiri. Adanya perubahan nilai tukar mata uang dapat menyebabkan apresiasi dan depresiasi nilai mata uang. Apresiasi merupakan peningkatan nilai mata uang domestik terhadap mata uang asing. Sementara itu, depresiasi merupakan penurunan nilai mata uang domestik terhadap mata uang asing (Madura, 2018). Perubahan nilai tukar ini berpengaruh langsung terhadap perkembangan harga barang dan jasa di dalam negeri. Ketika nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS tidak stabil, maka akan mengganggu perdagangan yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi karena perdagangan dinilai dengan dollar.
Nilai tukar mata uang tergantung pada sistem kurs yang diterapkan oleh suatu negara. menurut Madura (2018), sistem kurs tetap merupakan sistem yang memungkinkan suatu negara untuk menetapkan nilai tukar mata uangnya terhadap negara lain. Sistem ini memerlukan intervensi dari bank sentral untuk menjaga agar nilai tukar mata uang tetap konstan atau berfluktuasi dalam batas yang sempit. Indonesia menerapkan sistem ini pada tahun 1970 β 1978. Sistem kurs yang ke dua adalah sistem kurs mengambang terkendali, yaitu sistem yang memungkinkan nilai mata uang suatu negara mengambang, tetapi pemerintah dapat melakukan intervensi secara berkala untuk mencapai tujuan tertentu. Indonesia menerapkan sistem ini pada tahun 1978 β Juli 1997. Sistem kurs yang ke tiga adalah sistem kurs mengambang bebas. Nilai mata uang pada sistem ini ditentukan sepenuhnya oleh mekanisme pasar, tanpa ada campur tangan pemerintah. Indonesia menerapkan sistem ini pada Agustus 1997 β sekarang (Ansori, 2010).
Nilai tukar mata uang juga dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya. Menurut Madura (2018), faktor-faktor yang memengaruhi nilai tukar mata uang adalah tingkat inflasi relatif, tingkat suku bunga relatif, tingkat pendapatan relatif, kontrol pemerintah, dan ekspektasi nilai tukar di masa depan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat inflasi, tingkat pendapatan, dan tingkat suku bunga terhadap nilai tukar rupiah (Rp/US$) menggunakan analisis regresi linier berganda.
LANDASAN TEORI
Keynesβ Liquidity Preference Theory
Menurut Madura (2018), faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar mata uang adalah sebagai berikut:
1) Tingkat inflasi relatif
Perubahan tingkat inflasi relatif berpengaruh terhadap aktivitas perdagangan internasional, yang mempengaruhi permintaan dan penawaran mata uang yang pada akhirnya mempengaruhi nilai tukar. Jika inflasi suatu negara (misalnya Indonesia) naik, sementara inflasi di negara lainnya (misalnya Amerika Serikat) tetap, maka harga barang domestik di Indonesia lebih mahal daripada harga barang Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan permintaan akan barang AS di Indonesia meningkat karena harganya yang lebih murah.
Kenaikan permintaan barang AS ini menyebabkan kenaikan permintaan dollar AS di pasar valuta asing, sehingga harga dollar AS akan meningkat. Dengan kata lain, nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS (depresiasi). Dengan demikian, kenaikan inflasi suatu negara relatif terhadap negara lain akan menyebabkan nilai mata uang negara tersebut melemah.
2) Tingkat suku bunga relatif
Perubahan suku bunga relatif berpengaruh terhadap investasi pada sekuritas asing, yang mempengaruhi permintaan dan penawaran mata uang dan pada akhirnya akan mempengaruhi keseimbangan nilai tukar. Jika suku bunga suatu negara (misal Indonesia) naik, sementara suku bunga negara lain (misal AS) tetap, maka investasi di Indonesia akan meningkat. Suku bunga Indonesia yang lebih tinggi daripada suku bunga AS menarik investor asing untuk berinvestasi di Indonesia karena return yang didapatkan lebih tinggi. Hal ini menyebabkan permintaan rupiah di pasar valuta asing meningkat, sehingga harga rupiah meningkat.
Dengan kata lain, nilai rupiah menguat terhadap dollar AS. Dengan demikian, kenaikan suku bunga relatif terhadap negara lain akan menyebabkan nilai mata uang negara tersebut menguat.
3) Tingkat pendapatan relatif
Tingkat pendapatan berpengaruh terhadap aktivitas perdagangan internasional yang pada akhirnya mempengaruhi nilai tukar melalui tingkat permintaan dollar di pasar valuta asing.
Kenaikan pendapatan akan menyebabkan kenaikan permintaan barang asing. Kenaikan permintaan barang asing ini menyebabkan kenaikan permintaan dollar AS di pasar valuta asing, sehingga harga dollar AS akan meningkat. Dengan kata lain, nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS (depresiasi). Dengan demikian, kenaikan pendapatan suatu negara akan menyebabkan nilai mata uang negara tersebut melemah.
METODE
Penelitian ini menggunakan data world development indicator negara Indonesia tahun 1998- 2021 yang bersumber dari website World Bank. Variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini diantaranya adalah nilai tukar rupiah (Rp/US$), inflasi (%), PDB per kapita (Rp) sebagai pendekatan untuk tingkat pendapatan, dan suku bunga riil (%). Adapun variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai tukar rupiah, sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah inflasi, tingkat pendapatan, dan suku bunga riil.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis inferensia dengan menggunakan regresi linier berganda dan metode estimasi Ordinary Least Square (OLS) untuk mengetahui pengaruh tingkat inflasi, tingkat pendapatan, dan tingkat suku bunga terhadap nilai tukar rupiah. Model yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
ππ‘ = π½0+ π½1π1π‘+ π½2π2π‘+ π½3π3π‘+ ππ‘ ... (1) Dimana:
Yt = nilai tukar rupiah tahun ke-t (RP/US$) X1t = tingkat inflasi tahun ke-t (%)
X2t = tingkat pendapatan tahun ke-t (Rp) X3t = tingkat suku bunga tahun ke-t (%) π = error
Adapun tahapan-tahapan dalam melakukan analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Menentukan variabel dependen dan variabel independen yang akan digunakan dalam model 2) Mengestimasi koefisien parameter persamaan regresi
3) Melakukan interpretasi dan analisis dari hasil persamaan regresi yang didapat.
HASIL
Tabel 1. Hasil estimasi parameter regresi linier berganda
Variable Coefficient Std, Error
t-
Statistics Prob,
R- Squared
Adj, R- Square
F- Statistics
Prob (F- Statistic)
Duurbin- Watson Stat Intercept 1922,227 1111,175 1,729905 0,0991 0,823140 0,796611 31,02795 0,000000 0,805396
X1 54,07875 29,82469 1,813221 0,0848 X2 0,000289 3,16 Γ 10β5 9,153666 0,0000 X3 24,55567 41,46871 0,592149 0,5604 Sumber: hasil pengolahan menggunakan software E-Views
Berdasarkan hasil estimasi parameter menggunakan metode OLS, diperoleh nilai F-statistics sebesar 31,02795 dengan p-value sebesar 0,0000. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat inflasi, tingkat pendapatan, dan tingkat suku bunga secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah, dengan tingkat signifikansi 10%. Selain itu, diperoleh nilai R-square sebesar 0,8231, yang berarti bahwa 82,31% variasi nilai tukar rupiah dapat dijelaskan oleh tingkat inflasi, tingkat pendapatan, dan tingkat suku bunga, sedangkan 17,69% sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
Dari tabel di atas juga diperoleh nilai t-statistics dari tingkat inflasi (X1) sebesar 1,8132 dengan p-value sebesar 0,0848. Artinya, tingkat inflasi berpengaruh signifikan nilai tukar rupiah, dengan tingkat signifikansi 10%. Selain itu, nilai t-statistics dari tingkat pendapatan (X2) adalah sebesar 9,1537 dengan p-value sebesar 0,0000. Artinya, tingkat pendapatan berpengaruh signifikan nilai tukar rupiah, dengan tingkat signifikansi 10%. Sementara itu, nilai t-statistics dari tingkat suku bunga (X3) adalah sebesar 0,5921 dengan p-value sebesar 0,5604. Artinya, tingkat suku bunga tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah, dengan tingkat signifikansi 10%.
Berdasarkan tabel 1, diperoleh persamaan regresi nilai tukar rupiah sebagai berikut:
π = 1922,2270 + 54,0788π1+ 0,0003π2+ 24,5557π3 ... (2) Persamaan di atas menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 persen inflasi akan meningkatkan nilai tukar rupiah sebesar Rp.54,0788, dengan asumsi variabel lain konstan. Dengan kata lain, kenaikan inflasi menyebabkan nilai rupiah terdepresiasi. Selain itu, persamaan tersebut juga menunjukkan bahwa
kenaikan tingkat pendapatan sebesar Rp.100.000 akan meningkatkan nilai tukar rupiah sebesar Rp.30, dengan asumsi variabel lain konstan. Dengan kata lain, kenaikan pendapatan akan menyebabkan nilai rupiah terdepresiasi. Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Madura (2018) yang menyatakan bahwa kenaikan inflasi dan kenaikan tingkat pendapatan akan menyebabkan nilai mata uang terdepresiasi.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah tingkat inflasi dan tingkat pendapatan berpengaruh positif terhadap nilai tukar rupiah. Kenaikan tingkat inflasi dan kenaikan tingkat pendapatan akan meningkatkan nilai tukar rupiah. Dengan kata lain kenaikan tingkat inflasi dan kenaikan tingkat pendapatan menyebabkan nilai rupiah terdepresiasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ansori, R. (2010). Analisis Pengaruh Tingkat Inflasi, SBI, Jumlah Uang Beredar, dan Tingkat Pendapatan Terhadap Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Amerika. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Madura, & Jeff. (2018). International Financial Management. Boston: Cengage Learning.
Puspitaningrum, R., & dkk. (2014). Pengaruh Tingkat Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI, dan Petumbuhan Ekonomi Terhadap Nilai Tukar Rupiah Studi Pada Bank Indonesia Periode Tahun 2003-2012. Jurnal Administrasi Bisnis, 1-9.
LAMPIRAN
Data nilai tukar rupiah, tingkat inflasi, PDB per kapita, dan tingkat suku bunga riil Indonesia Tahun 1998- 2021
Tahun Kurs(Rp/$) Inflasi PDB_Perka(Cons) Real_IR 1998 10013,62 58,45 18751533,59 -24,6 1999 7855,15 20,48 18618491,28 11,83 2000 8421,78 3,69 19253887,18 -1,65 2001 10260,85 11,5 19675979,94 3,72 2002 9311,19 11,9 20280813,1 12,32 2003 8577,13 6,76 20967866,17 10,85 2004 8938,85 6,06 21744111,33 5,13 2005 9704,74 10,45 22693985,14 -0,25 2006 9159,32 13,11 23633297,23 1,66
2007 9141 6,41 24805283,88 2,34
2008 9698,96 10,23 25956788,22 -3,85 2009 10389,94 4,39 26815154,28 5,75 2010 9090,43 5,13 28129828,51 -1,75 2011 8770,43 5,36 29492692,17 4,59 2012 9386,63 4,28 30880825,58 7,75 2013 10461,24 6,41 32204000,54 6,37 2014 11865,21 6,39 33426509,73 6,79 2015 13389,41 6,36 34669222,28 8,35 2016 13308,33 3,53 36030577,97 9,22
2017 13380,83 3,81 37478151,7 6,5
2018 14236,94 3,2 39038361,27 6,47 2019 14147,67 3,03 40615173,64 8,63 2020 14582,2 1,92 39443591,81 10,02 2021 14308,14 1,56 40616397,78 2,74
Regresi linier berganda
Dependent Variable: KURS_RP_$_
Method: Least Squares Date: 06/11/23 Time: 17:11 Sample: 1998 2021
Included observations: 24
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
INFLASI 54.07875 29.82469 1.813221 0.0848
PDB_PERKA_CONS_ 0.000289 3.16E-05 9.153666 0.0000
REAL_IR 24.55567 41.46871 0.592149 0.5604
C 1922.227 1111.175 1.729905 0.0991
R-squared 0.823140 Mean dependent var 10766.67 Adjusted R-squared 0.796611 S.D. dependent var 2220.791 S.E. of regression 1001.547 Akaike info criterion 16.80749 Sum squared resid 20061930 Schwarz criterion 17.00383 Log likelihood -197.6899 Hannan-Quinn criter. 16.85958 F-statistic 31.02795 Durbin-Watson stat 0.805396 Prob(F-statistic) 0.000000