• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SUKU BUNGA BANK INDONESIA, INFLASI, DAN PENDAPATAN NASIONAL TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH SUKU BUNGA BANK INDONESIA, INFLASI, DAN PENDAPATAN NASIONAL TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA TAHUN"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH SUKU BUNGA BANK INDONESIA, INFLASI, DAN PENDAPATAN NASIONAL TERHADAP NILAI

TUKAR RUPIAH DI INDONESIA TAHUN 1986-2015

OLEH

SYLVIA YEMIMA SINAGA 170523086

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)
(3)

3

(4)
(5)

ABSTRAK

PENGARUH SUKU BUNGA BANK INDONESIA, INFLASI, DAN PENDAPATAN NASIONAL TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA TAHUN 1986-2015

Penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Suku Bunga Bank Indonesia, inflasi, dan Pendapatan Nasional terhadap Nilai Tukar Rupiah baik secara parsial maupun simultan.

Jenis Penelitian yang digunakan adalah Peneltian Kuantitatif. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data keuangan atau laporan keuangan Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik mengenai nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan tingkat pendapatan nasional. Data yang diambil yaitu mulai dari tahun 1986 sampai dengan 2015.

Hasil Penelitian menunjukkan secara simultan variabel bebas Suku Buka BI, Inflasi, dan Pendapatan Nasional berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap Nilai Tukar Rupiah. Secara parsial variabel suku bunga BI berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel nilai tukar rupiah, variabel inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap variabel nilai tukar rupiah, variabel pendapatan nasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel nilai tukar rupiah. Berdasarkan analisis terhadap persamaan regresi yang diperoleh dari ketiga variabel independen mempengaruhi variabel dependen sebesar 68,4%.

Kata Kunci: Suku Bunga Bank Indonesia, Inflasi, Pendapatan Nasional, dan

Nilai Tukar Rupiah

(6)

ABSTRACT

EFFECT OF BI RATE, INFLATION AND NATIONAL INCOME TO INDONESIAN RUPIAH EXCHANGE RATE PERIOD 1986-2015

This research is to determine how much influence interest rate, inflation, and national income on rupiah exchange rate either partially or simultaneously in Indonesia.

Research type used is quantitative. The data collection is done by using secondary data such as bank's annual report and financial statements of banks published. Data bank's annual report and financial statements of banks and BPS published from 1986 to 2015.

The multiple regression test indicated that variable of BI rate,inflation, and national income value are simultaneously influence to exchange rate of rupiah. Partially known that BI rate variable an influence positive significant effect on the exchange rate, The inflation variable an influence negative significant effect on the exchange rate, The national income variable an influence positive significant effect on the exchange rate. This result also showed that the exchange rate is 68,4% explained by BI rate, inflation, and national income.

Keywords: BI Rate, Inflation, National Income, and Exchange Rate

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dengan limpah karunia-Nya Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Suku Bunga Bank Indonesia, Inflasi, dan Pendapatan Nasional terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia tahun 1986- 2015”. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat diselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak.

Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada :

1. Bapak Prof Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Coki Ahmad Syahwier, MP, selaku Ketua Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

3. Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution, SE, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Syahrir Hakim Nasution, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan fikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini dari awal penulisan hingga selesainya skripsi ini.

5. Ibu Dr. Murni Dulay, SE, M.Si dan ibu Dra. Raina Linda Sari, M.Si selaku Dosen Pembanding I dan Dosen Pebanding II yang telah membantu penulis melalui saran dan kritik yang diberikan demi kesempurnaan skripsi ini.

6. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membagi ilmu pengetahuan yang akan bermanfaat bagi saya.

7. Seluruh Pegawai dan Staf Administrasi Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membantu saya dalam penyelesaian kelengkapan administrasi.

Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, sangat baik jika ada kritik dan saran demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini memberi manfaat bagi pengembangan ilmu.

Medan, 2019

Sylvia Yemima Sinaga

170523086

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 2.1 Landasan Teori ... 7

2.1.1 Nilai Tukar (Exchange Rate) ... 7

2.1.2 Tingkat Suku Bunga ... 10

2.1.3 BI Rate ... 11

2.1.4 Inflasi ... 12

2.1.5 Tingkat Pendapatan ... 15

2.1.6 Teori Paritas Suku Bunga (Interest Rate Parity/IRP) ... 16

2.1.7 Teori Internasional Fisher Effect (IFE) ... 18

2.1.8 Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity Theory/PPP) ... 20

2.2 Penelitian Terdahulu ... 25

2.3 Kerangka Konseptual ... 28

2.3.1 Hubungan Suku Bunga Bank Indonesia dengan Nilai Tukar ... 28

2.3.2 Hubungan Inflasi dengan Nilai Tukar ... 29

2.3.3 Hubungan Pendapatan Nasional dengan Nilai Tukar ... 30

2.4 Hipotesis ... 31

BAB III METODE PENELITIAN 32 3.1 Jenis Penelitian dan Sumber Data ... 32

3.2 Ruang Lingkup ... 32

3.3 Defenisi Operasional... 33

3.4 Teknik Pengumpulan Data... 33

3.5 Metode Analisis Data... 34

3.5.1 Pengujian Asumsi Klasik ... 35

3.5.1.1 Uji Normalitas ... 35

(9)

3.5.1.3 Uji Heteroskedastisitas ... 36

3.5.1.4 Uji Autokorelasi ... 37

3.5.2 Analisis Regresi Linier Berganda ... 37

3.5.3 Uji Kesesuaian ... 38

3.5.3.1 Uji F (Uji Simultan) ... 38

3.5.3.2 Uji t (Uji Parsial) ... 38

3.5.3.3 Koefisien Determinasi (R 2 ) ... 39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

4.1 Perkembangan Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar di Indonesia ... 40

4.2 Analisis Data Penelitian ... 42

4.3 Hasil Penelitian ... 44

4.4 Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian ... 44

4.4.1 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 44

4.4.1.1 Uji Normalitas ... 44

4.4.1.2 Uji Multikolinieritas ... 45

4.4.1.3 Uji Heteroskedastisitas ... 46

4.4.1.4 Uji Autokorelasi ... 46

4.4.2 Hasil Uji Regresi Linier Berganda ... 47

4.4.3 Uji Kesesuaian ... 49

4.4.3.1 Uji F (Uji Simultan) ... 49

4.4.3.2 Uji t (Uji Parsial) ... 49

4.4.3.3 Koefisien Determinasi (R 2 ) ... 51

4.5 Pembahasan ... 51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 55

5.1 Kesimpulan ... 55

5.2 Saran ... 55

DAFTAR PUSTAKA ... 57

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 26

Tabel 4.1 Data Penelitian ... 43

Tabel 4.2 Uji Normalitas ... 44

Tabel 4.3 Uji Multikolinieritas ... 45

Tabel 4.4 Uji Heteroskedastisitas... 46

Tabel 4.5 Uji Autokorelasi ... 47

Tabel 4.6 Hasil Uji Regresi Linier Berganda ... 47

Tabel 4.7 Uji F (Simultan) ... 49

Tabel 4.8 Uji t (Parsial) ... 50

Tabel 4.9 Koefisien Determinasi ... 51

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 28

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul

1 Data Penelitian 2 Uji Normalitas 3 Uji Multikolinieritas 4 Uji Heteroskedastisitas 5 Uji Autokorelasi

6 Uji Regresi Linier Berganda 7 Uji F (Simultan)

8 Uji t (Parsial)

9 Koefisien Determinasi (R 2 )

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya (Mankiw 2006). Nilai tukar mata uang pada suatu negara bersifat fluktuatif dan dinyatakan dalam perbandingan dengan mata uang negara lain. Jika nilai mata uang menguat maka nilai ekspor produk dari negara tersebut akan menjadi lebih tinggi dan sebaliknya jika nilai mata uang melemah, maka nilai impor barang dari negara lain akan lebih rendah atau murah. Nilai tukar mata uang (exchange rate) suatu negara dihadapkan dengan mata uang negara lain dalam perkembangannya selalu mengalami perubahan, apakah menguat yang disebut appreciation atau bahkan melemah atau depreciation. Perubahan nilai tukar yang terjadi pada prinsipnya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran valuta asing pada suatu tingkat harga tertentu.

Dalam era globalisasi perekonomian dunia, pergerakan uang antar negara tidak mengenal batas lagi. Uang bergerak dengan cepat dari suatu negara ke negara lain dan cenderung menuju ke tempat yang menghasilkan pendapatan terbesar. Selain itu, uang juga diperdagangkan sebagai barang sehingga mata uang suatu negara cukup rentan terhadap kegiatan spekulasi.

Negara-negara berkembang seringkali menggantungkan perekonomiannya

melalui perdagangan lintas negara tersebut. Ketergantungan negara-negara

berkembang terutama terhadap negara-negara yang memiliki kondisi

(14)

perekonomian yang cenderung kuat dan stabil dapat disebabkan diantaranya seperti keterbatasan faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh negara tersebut, seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun teknologi yang kurang memadai untuk mengelola sumber daya alam yang ada, seperti yang dialami oleh Indonesia.

Untuk mempermudah transaksi yang dilakukan dalam perdagangan internasional tersebut, penggunaan uang dalam perekonomian terbuka ditetapkan dengan mata uang yang telah disepakati. Hal ini dikarenakan setiap negara mempunyai mata uang atau valutanya sendiri yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di dalam batas-batas negara itu sendiri, tetapi belum tentu diterima di negara lain. Oleh karena itu diperlukan valuta asing (exchange rate) yaitu valuta (mata uang) yang diterima oleh dunia internasional. Mata uang yang seringkali digunakan sebagai standar dalam pembayaran internasional adalah Dollar Amerika Serikat (US$). Hal ini dikarenakan Amerika merupakan negara yang memiliki kondisi perekonomian yang cenderung kuat dan stabil.

Nilai tukar mata uang mempunyai pengaruh yang besar terhadap jalannya suatu perekonomian. Hal ini akan berdampak pada penentuan nilai tukar barang pada kegiatan perdagangan. Kestabilan nilai tukar uang akan mengurangi risiko para pelaku ekonomi sehingga dapat mendorong perekonomian pada tingkat perkembangan yang lebih baik (Miraza, 2006).

Krisis nilai tukar berpengaruh negatif terhadap perekonomian suatu

negara, seperti yang telah dirasakan oleh beberapa negara Asia pada tahun

1997/98. Krisis nilai tukar ini tidak hanya mengakibatkan harga-harga

(15)

3

membumbung tinggi, tetapi juga mengakibatkan kontraksi perekonomian yang cukup dalam. Melemahnya nilai tukar mengakibatkan barang-barang impor, seperti bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi lebih mahal dan mengakibatkan terjadinya kenaikan harga-harga barang di dalam negeri. Selain itu, melemahnya nilai tukar mengakibatkan semakin besarnya kewajiban hutang luar negeri perusahaan-perusahaan sehingga neraca perusahaan dan bank-bank memburuk.

Sebagaimana diuraikan di atas, krisis nilai tukar dapat berdampak buruk terhadap ekonomi sehingga kebijakan untuk menstabilkan nilai tukar merupakan kebijakan ekonomi yang penting pada beberapa negara. Misalnya, di Indonesia, sesuai dengan Undang Undang No. 4 tahun 2003, kepada Bank Indonesia diberi tugas untuk menjaga dan memelihara kestabilan nilai Rupiah. Dalam pengertian tersebut, Bank Indonesia tidak hanya menjaga dan memelihara kestabilan nilai Rupiah agar harga-harga barang dan jasa (laju inflasi) dapat terkendali, tetapi juga untuk menjaga dan memelihara stabilitas nilai Rupiah terhadap mata uang asing.

Stabilitas mata uang merupakan persoalan yang penting untuk mendorong

kegiatan ekonomi dan menciptakan pertumbuhan eekonomi suatuunegara. Kurs

yang ada di suatu negara akan menyebabkan perdagangannantar negara dan

mengakibatkannterjadinyaapertukaran mata uang antar negara yang digambarkan

pada kurs mata uang. Mengapa nilai mata uang berfluktuasi? Ada beberapa faktor

yang menyebabkan fluktuasi nilai mata uang. Diantara yang menjadi sebab naik

turunnya nilai tukar mata uang adalah suku bunga Bank Indonesia, inflasi dan

Pendapatan Nasional.

(16)

Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah adalah suku bunga (BI Rate). Menaikkan atau menurunkan suku bunga (BI Rate) merupakan salah satu kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Perubahan suku bunga (BI Rate) akan mempengaruhi investasi pada surat berharga luar negeri.

Investor yang berinteraksi secara global akan mencari negara dengan tingkat suku bunga yang menguntungkan (Nasution, 1998).

Perubahan tingkat bunga juga dapat mempengaruhi tingkat inflasi melalui jumlah uang yang beredar. Jika tingkat bunga mengalami penurunan maka terdapat kecenderungan peningkatan jumlah uang beredar, permintaan akan barang dan jasa meningkat sehingga harga-harga cenderung mengalami kenaikan.

Apabila inflasi semakin meningkat maka daya beli masyarakat mengalami penurunan sehingga masyarakat akan menyesuaikan tingkat pendapatannya dengan mengurangi konsumsi. Jadi dapat dikatakan inflasi merupakan suatu proses ketidakseimbangan (disequilibrium) yang mana tingkat harga yang terus menerus mengalami peningkatan selama periode tertentu (Nasution, 1998).

Kemudian inflasi ini akan mempengaruhi nilai tukar apakah melemah atau bahkan menguat.

Selain tingkat inflasi yang berfluktuasi, pendapatan nasional juga

berfluktuasi dari tahun ketahun. Pendapatan Nasional merupakan salah satu

indikator kemampuan dan kualitas sumber daya (alam dan manusia) suatu negara

pada periode tertentu. (Wati, 2012). Pendapatan nasional menggambarkan tingkat

produksi negara yang dicapai dalam suatu tahun tertentu dan perubahannya dari

tahun ke tahun. Tingkat perkembangan ekonomi suatu negara juga dapat dilihat

(17)

5

dari pendapatan nasionalnya. Usaha-usaha pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh setiap negara pasti diarahkan untuk meningkatkan untuk menstabilkan pendapatan nasional. Apabila Pendapatan Nasional dari suatu negara meningkat otomatis juga akan meningkatkan daya beli masyarakat. Apabila nilai tukar (kurs) mata uang negara tersebut stabil akan mendorong kegiatan ekonomi internasional yang makin maju.

Berdasarkan uraian 1yang telah dijelaskan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana PENGARUH SUKU BUNGA BANK INDONESIA, INFLASI DAN PENDAPATAN NASIONAL TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA TAHUN 1986-2015.

1.2 Perumusan Masalah

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pengaruh Suku Bunga Bank Indonesia terhadap Nilai Tukar Rupiah?

2. Bagaimana pengaruh Inflasi terhadap Nilai Tukar Rupiah?

3. Bagaimana pengaruh Pendapatan Nasional terhadap Nilai Tukar Rupiah?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasakan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka tujuan

dari penelitian ini adalah:

(18)

1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Suku Bunga Bank Indonesia terhadap Nilai Tukar Rupiah.

2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Inflasi terhadap Nilai Tukar Rupiah.

3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Pendapatan Nasional terhadap Nilai Tukar Rupiah.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Output atau hasil dari penelitian ini diharapkan mampu mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah. Penelitian ini diharapkan juga dapat digunakan sebagai bahan kajian ilmiah sehingga dapat menanmbah pengetahuan dan referensi penelitian selanjutnya.

2. Bagi lembaga BI dan Pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi tambahan dalam pengambilan kebijakan ekonomi yang tepat guna mempertahankan nilai tukar rupiah.

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap kritis peneliti

terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah serta

menambah wawasan penulis, terkhusus pada bidang yang diteliti.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Nilai Tukar (Exchange Rate)

1. Pengertian Nilai Tukar (Exhange Rate)

Nilai tukar atau kurs dapat didefenisikan sebagai harga mata uang suatu negara relatif terhadap mata uang negara lain. Karena nilai tukar ini mencakup dua mata uang, maka titik keseimbangan ditentukan oleh sisi penawaran dan permintaan dari kedua mata uang tersebut, atau dengan kata lain nilai tukar adalah sejumlah uang dari suatu mata uang tertentu yang dapat dipertukarkan dengan satu unit mata uang negara lain (Ekananda, 2015).

Pergerakan kurs mata uang akan berdampak pada nilai komoditi dan aset sebab kurs dapat memengaruhi jumlah arus masuk kas yang diterima dari ekspor atau dari anak perusahaan, dan memengaruhi jumlah arus keluar kas yang digunakan untuk membayar impor. Kurs nilai tukar mengukur nilai satu satuan mata uang terhadap mata uang lain. Apabila kondisi ekonomi berubah, kurs mata uang dapat berubah cukup besar. Penurunan nilai pada suatu mata uang sering disebut depresiasi (depreciation). Sedangkan peningkatan nilai suatu mata uang disebut apresiasi (appreciation) (Ekananda, 2015).

Nilai tukar dapat dibedakan menjadi dua yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Dimana nilai tukar nominal merupakan harga relatif mata uang diantara 2 negara, dinyatakan dalam nilai mata uang domestik per mata uang asing.

Sedangkan nilai tukar riil merupakan harga relatif dari suatu barang diantara 2

(20)

negara, dengan demikian nilai tukar riil menunjukkan suatu nilai tukar barang di suatu negara dengan negara lain.

Perubahan nilai kurs yang terjadi pada prinsipnya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara permintaan (demand) dan penawaran (supply) valuta asing pada suatu tingkat harga tertentu . perubahan ini tidak dapat dihindari sehingga dijumpai pihak yang dirugikan dan diuntungkan; untuk itu diperlukan penyesuaian. Sistem penyesuaian kurs atau disebut juga sistem penyesuaian internasional dalam perkembangannya meliputi: (1) fluctuating/floating exchange rate system (paper standard), (2) fixed exchange rate system (Gold Standard), (3) exchange control system (pengawasan devisa) (Nasution, 2018).

2. Penentuan Nilai Tukar

Ada beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar, yaitu (Madura, 2009):

1. Faktor Fundamental

Faktor fundamental berkaitan dengan indikator-indikator ekonomi seperti inflasi, suku bunga, perbedaan relatif pendapatan antar negara, ekspektasi pasar dan intervensi Bank Sentral.

2. Faktor Teknis

Faktor teknis berkaitan dengan kondisi penawaran dan permintaan devisa pada

saat-saat tertentu. Apabila ada kelebihan permintaan, sementara penawaran tetap

maka harga valas akan naik dan begitu juga sebaliknya.

(21)

9

3. Sentimen Pasar

Sentimen pasar lebih banyak disebabkan oleh rumor atau berita-berita politik yang bersifat insidentil, yang dapat mendorong harga valas naik atau turun secara tajam dalam jangk pendek. Apabila rumor atau berita-berita sudah berlalu, maka nilai tukar akan kembali normal.

3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kurs

Salah satu ciri era globalisasi yang menonjol saat ini yaitu adanya arus uang dan modal dalam bentuk valas antara berbagai pusat keuangan di berbagai negara yang semakin besar dan cepat, seakan-akan mengalir tanpa batas wilayah.

Aliran valas yang besar dan cepat untuk memenuhi tuntutan perdagangan, investasi dan spekulasi dari suatu tempat yang surplus ke tempat yang defisit dapat terjadi karena adanya beberapa faktor atau kondisi yang berbeda sehingga berengaruh dan menimbulkan perbedaan kurs valas di masing-masing tempat.

Beberapa faktor atau kondisi yang berbeda dan mempengaruhi kurs valas di masing-masing tempat tersebut antara lain sebagai berikut, perbedaan supply dan demand foreign currency, posisi balance of payment (BOP), tingkat inflasi, tingkat bunga, tinggkat pendapatan, pengawasan pemerintah dan ekspektasi, spekulasi dan rumor (Hady, 2016).

Faktor ekonomi utama yang dapat memengaruhi pergerakan kurs mata

uang pada kondisi permintaan dan penawaran adalah tingkat inflasi relatif bunga,

tingkat pendapatan, serta pengendalian pemerintah. Ketiga faktor itu

menyebabkan permintaan atau penawaran suatu mata uang berubah dan pada

akhirnya memengaruhi kurs keseimbangan.

(22)

Jika suatu negara mengalami inflasi tinggi (relatif terhadap AS), ekspor negara tersebut ke AS akan menurun (permintaan AS untuk mata uang negara tersebut berkurang), impornya akan meningkat (penawaran mata uang negara ditukar ke dolar akan meningkat, dan terdapat tekanan untuk menurunkan nilai keseimbangan mata uang tersebut.

Jika suatu negara mengalami kenaikan suku bunga (relatif terhadap suku bunga AS), arus masuk dana AS untuk membeli sekuritas akan meningkat (permintaan AS akan mata uang negara tersebut meningkat), arus keluar dana negara tersebut untuk membeli sekuritas AS akan turun (penawaran mata uang negara tersebut untuk ditukar dengan dolar AS berkurang) dan karenanya mendorong kenaikan nilai keseimbanagn mata uang tersebut (Ekananda, 2015).

2.1.2 Tingkat Suku Bunga

Suku bunga adalah pembayaran yang dilakukan untuk penggunaan uang.

Suku bunga adalah jumlah bunga yang harus dibayar per unit waktu (Nasution,

1998). Dengan kata lain, masyarakat harus membayar peluang untuk meminjam

uang. Menurut Keynes, dalam Nasution (1998), tingkat bunga ditentukan oleh

permintaan dan penawaran akan uang (ditentukan dalam pasar uang). Perubahan

tingkat suku bunga selanjutnya akan mempengaruhi keinginan untuk mengadakan

investasi, misalnya pada surat berharga, dimana harga dapat naik atau turun

tergantung pada tingkat bunga (bila tingkat bunga naik maka surat berharga turun

dan sebaliknya), sehingga ada kemungkinan pemegang surat berharga akan

menderita capital loss atau gain. Suku bunga dibedakan menjadi dua, yaitu:

(23)

11

1. Suku bunga nominal adalah suku bunga dalam nilai uang. Suku bunga ini merupakan nilai yang dapat dibaca secara umum. Suku bunga ini menunjukkan sejumlah rupiah untuk setiap satu rupiah yang diinvestasikan.

2. Suku bunga riil adalah suku bunga yang telah mengalami koreksi akibat inflasi dan didefinisikan sebagai suku bunga nominal dikurangi laju inflasi.

2.1.3 BI Rate

BI Rate menurut Bank Indonesia adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (Liquidity Management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter.

BI Rate berfungsi sebagai sinyal dari kebijakan moneter Bank Indonesia, dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa respon kebijakan moneter dinyatakan dalam kenaikan, penurunan, atau tidak berubahnya BI Rate tersebut.

Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi ke depan

diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia

akan menurunkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah

sasaran yang telah ditetapkan. Pada dasarnya perubahan BI Rate menunjukkan

penilaian Bank Indonesia terhadap prakiraan Inflasi ke depan dibandingkan

dengan sasaran Inflasi yang ditetapkan. Pelaku pasar dan masyarakat akan

mengamati penilaian Bank Indonesia tersebut melalui penguatan dan transparansi

(24)

yang akan dilakukan, antara lain dalam Laporan Kebijakan Moneter yang disampaikan secara triwulanan dan press release bulanan (Amalia, 2005).

BI Rate ditetapkan oleh Dewan Gubernur dengan mempertimbangkan:

1) Rekomendasi BI Rate yang dihasilkan oleh fungsi reaksi kebijakan dalam model ekonomi untuk pencapaian sasaran inflasi, dan

2) Berbagai informasi lainnya seperti leading indicators, survei, informasi anekdotal, variabel informasi, expert opinion, asesmen faktor risiko dan ketidakpastian serta hasil-hasil riset ekonomi dan kebijakan moneter.

BI Rate diumumkan ke publik segera setelah ditetapkan dalam RDG sebagai sinyal stance kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia secara lebih jelas. (Amalia, 2005)

Pendapatan yang diperoleh perusahaan perbankan akan dipengaruhi oleh besarnya tingkat suku bunga (BI Rate) yang ditetapkan. Besarnya tingkat suku bunga yang ditawarkan kepada calon nasabah kredit dan nasabah simpanan berpengaruh terhadap keinginan dan ketertarikan masyarakat untuk meminjam maupun menyimpan dananya di bank melalui produk-produk yang ditawarkan.

Pendapatan dari selisih tingkat bunga pinjaman dan simpanan setelah dikurangi biaya-biaya operasional merupakan profit yang akan diterima. Dana simpanan masyarakat akan mempengaruhi besarnya jumlah kredit yang dapat disalurkan, sehingga akan berdampak pada profitabilitas bank.

2.1.4 Inflasi

Inflasi adalah ciri yang pada umumnya dirasakan dan ditandai dengan

adanya suasana harga barang yang tinggi secara mayoritas, dimana seolah-olah

(25)

13

kita kehilangan keseimbangan antara daya beli dibandingkan dengan pendapatan sampai pada periode tertentu, biasanya dirasakan masyarakat secara keseluruhan.

1. Jenis-Jenis Inflasi

Inflasi menurut sebabnya dikenal dua kategori yaitu:

1) Demand pull Inflation

Merupakan inflasi yang disebabkan oleh adanya kenaikan permintaan total (agregate demand) disamping kenaikan harga yang dapat menaikkan hasil produksi, sementara produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati full employement.

2) Cost push Inflation

Merupakan inflasi yang ditandai dengan kenaikan harga, namun terjadi penurunan produksi suatu barang atau jasa. Dengan kata lain, inflasi yang dibarengi dengan resesi. Keadaan ini umumnya diawali dengan adanya penurunan dalam penawaran total (agregate supply) yang disebabkan oleh adanya kenaikan biaya produksi atau sebab lainnya, antara lain ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Kenaikan biaya produksi dan atau ekonomi biaya tinggi ini dapat timbul karena beberapa faktor, antara lain adalah:

a. Berhasilnya perjuangan serikat buruh untuk menuntut kenaikan upah buruh minimum regional.

b. Kuatnya industri yang sifatnya monopolistis, manajer dapat memakai kekuasaannya dalam menguasai pasar untuk menetapkan harga tinggi atau monopoli pasar.

c. Kenaikan harga bahan baku industri.

(26)

d. Tingkat suku bunga semakin tinggi, mengakibatkan biaya modal tinggi yang pada akhirnya harga produk harus tinggi.

Jika kenaikan biaya produksi ini berjalan terus, pada gilirannya akan mengakibatkan naiknya harga dan turunnya produksi maka timbullah cost push inflation. Penggolongan berdasarkan sifat sebagai berikut:

1. Sangat rendah (lower inflation)

Inflasi yang sangat rendah diantara 2-5%.

2. Merayap (creeping inflation)

Ditandai dengan laju inflasi dibawah dua digit (<10%) pertahun. Kenaikan harga barang-barang lambat, dengan persentase yang kecil serta dalam jangka waktu yang relatif lama.

3. Menengah (galloping inflation)

Ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar (double digit bahkan ada yang triple digit), kadang-kadang berjalan dalam waktu yang cukup pendek.

4. Tinggi (hyper inflation)

Adalah jenis inflasi yang paling parah dampaknya bagi perekonomian suatu negara. Harga barang-barang naik hingga 6 sampai 10 kali lipat. Masyarakat tidak lagi memiliki kemampuan untuk enabung atau menyimpan uangnya.

Nilai uang merosot tajam, sehingga ada hasrat untuk ditukarkan dengan

barang. Perputaran uang cepat, harga naik secara akselerasi. Umumnya

keadaan ini timbul apabila pemerintah suatu negara mengalami defisit

anggaran belanja yang besar, biasanya ditutup dengan mencetak uang, tetapi

tidak diikuti dengan cadangan emas atau devisa yang memadai. Indonesia

(27)

15

sendiri pernah mengalami hyper inflation 650% pada tahun 1966, sehingga pemerintah terpaksa melakukan “sangering”, (pemotongan nilai rupiah dari Rp.1000,- (seribu rupiah) menjadi Rp.1 (satu rupiah).

2.1.5 Tingkat Pendapatan

Pendapatan nasional mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu perekonomian negara. Dengan pendapatan nasional negara dapat mengetahui mengenai seberapa efisien sumber daya yang ada dalam perekonomian yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar produksi barang dan jasa. Menurut Sadono Sukirno, pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang digunakan untuk memproduksikan barang dan jasa dalam suatu tahun tertentu. Secara fiknitif pendapatan nasional merupakan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat dalam suatu negara, dalam kurun waktu tertentu prinsip ini mewakili konsep Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross domestic Product (GDP )dan Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP). Pendapatan nasional merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi disuatu negara dalam periode tertentu.

Pendapatan nasional adalah PDB, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar

harga konstan. Pada dasarnya PDB merupakan jumlah nilai tambah yang

dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu. PDB atas harga

berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung

menggunakan harga berlaku pada setiap tahun. Sedangkan PDB atas dasar

konstan menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung

menggunakan harga berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar. PDB dan PNB

(28)

atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, sedangkan harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ketahun.

2.1.6 Teori Paritas Suku Bunga (Interest Rate Parity/ IRP)

IRP adalah salah satu teori yang paling dikenal dalam keuangan internasional yang menerangkan bagaimana hubungan bursa valas atau forex market dengan international money market (pasar uang internasional) atau dengan kata lain teori ini menganalisis hubungan perubahan kurs dengan perubahan tingkat bunga (Hady, 2016).

Interest Rate Parity (IRP) adalah teori yang mengartikan hubungan antara pasar keuangan internasional dengan pasar valuta asing. IRP juga menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara tingkat depresiasi mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain dengan penetapan tingkat suku bunga. IRP terjadi dari aktivitas arbitrase untuk mencari keuntungan khususnya pada covered interest rate.

Teori IRP menyatakan bahwa perbedaan tingkat bunga pada international money market akan cenderung sama dengan forward rate premium atau discount.

IRP memiliki implikasi langsung pada penentuan nilai tukar.

Pada semua kasus, kenaikan suku bunga di Indonesia akan mengarah pada tingginya nilai tukar rupiah. Ini karena tingginya suku bunga akan menarik masuknya modal ke Indonesia, menaikkan permintaan terhadap rupiah.

Sebaliknya, penurunan suku bunga di Indonesia akan menurunkan nilai tukar

rupiah (Saragih, 2014).

(29)

17

IRP mengimplikasikan bahwa pada jangka pendek nilai tukar tergantung pada suku bunga relatif antara dua negara dan nilai tukar mendatang yang diharapkan. Hal lain yang sama, suku bunga bunga domestik yang lebih tinggi atau lebih rendah akan mengarah pada apresiasi atau depresiasi mata uang domestik.

Secara teoritis, seorang investor akan menginvestasikan atau mendepositokan dana dalam valas apabila rate of return dari luar (r f ) minimal akan sama bahkan lebih tinggi daripada tingkat bunga dalam negeri atau home country interest rate (i h ). Atau dengan kata lain dapat dirumuskan menjadi r f = i h . Bila r f disubstitusikan dengan i h , maka akan diperoleh rumusan berikut (Hady, 2016).

( )( ) ( )( )

(2.2)

Dari rumusan perhitungan forward premium/discount diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

 Bila i h > i f maka akan diperoleh p > 0 atau positif, berarti forward rate premium dan FR > SR

 Bila i h < i f maka akan diperoleh p < 0 atau negatif, berarti forward rate

premium dan FR < SR (Hady,2016).

(30)

2.1.7 Teori International Fisher Effect (IFE)

Teori yang didasarkan pada teori Fisher Effect sesuai dengan nama ekonom Irving Fisher yang menyatakan tingkat bunga nominal (i) di setiap negara akan sama dengan real rate return (r) ditambah dengan tingkat inflasi (I) yang diharapkan atau dengan rumus sebagai berikut:

(2.3)

Menurut teori Fisher Effect, tingkat bunga di dua negara yang berbeda, misalnya USA dan Jepang, dapat terjadi karena adanya perbedaan tingkat inflasi yang diharapkan (expected inflation) (Hady, 2016).

Fisher Effect ini yang mendasari lahirnya teori IFE yang pada dasarnya hampir sama dengan teori IRP yang menggunakan perbedaan tingkat bunga untuk menerangkan mengapa terjadi perubahan kurs. Akan tetapi teori IFE ini erat kaitannya dengan teori PPP karena tingkat bunga sangat erat kaitannya dengan tingkat inflasi. Oleh karea itu, dapat dikatakan bahwa perbedaan tingkat bunga yang terjadi antar beberapa negara dapat disebabkan oleh perbedaan tingkat inflasi.

Dengan menggabungkan teori PPP dan efek fisher yang digeneralisir

(hubungan antara tingkat bunga nominal dengan inflasi), maka kita akan

memperoleh Efek Fisher Internasional yang menjelaskan kaitan antara tingkat

bunga dengan kurs mata uang. PPP mengatakan bahwa kurs mata uang tergantung

tingkat inflasi, sementara efek fisher mengatakan bahwa inflasi menentukan

tingkat bunga. Dengan menggabungkan keduanya, diperoleh efek fisher

internasional

(31)

19

Akhirnya perlu digaris bawahi, relatif tingginya tingkat inflasi di Indonesia dibandingkan dengan luar negeri, seperti di USA, merupakan penyebab utama dari terjadinya depresiasi rupiah terhadap dollar selama ini.

Hubungan antara selisih suku bunga dua negara dengan ekspektasi perubahan nilai tukar menurut IFE adalah sebagai berikut: pertama, pengembalian aktual bagi investor adalah suku bunga yang ditawarkan pada sekuritas pasar uang (deposito perbankan jangka pendek), dimana pengembalian aktual investor bergantung pada suku bunga luar negeri (i f ) dan perubahan valuta asing (e f ), sehingga penentuan pengembalian aktual (efektif) luar negeri adalah:

( )( ) (2.4)

Menurut IFE, pengembalian efektif dari investasi asing harus, secara rata-rata, secara dengan pengembalian efektif atas investasi domestik karenanya, IFE menyatakan bahwa taksiran pengemablian atas investasi pasar uang lokal:

( ) (2.5)

Dimana (r) adalah pengembalian efektif atas deposit asing dan (i h ) adalah suku bunga deposit negara asal. Kemudian dapat menentukan beberapa tingkat perubahan mata uang asing sehingga investasi didua negara memberikan hasil yang sama. Menggunakan rumus awal untuk menentukan (r), dan tetap (r) setara denga (i h ) sebagai berikut:

( )( )

( )( ) ( )

(32)

( ) ( ( ) )

(2.6)

Seperti dibuktikan di atas, teori IFE menyatakan bahwa ketika i h > i f , e f akan positif karena suku bunga asing yang relatif kecil mencerminkan taksiran inflasi negara asing yang relatif rendah dengan kata lain, mata uang asing akan terapresiasi ketika suku bunga asing lebih kecil dibandingkan suku bunga nagara asal. Apresiasi ini akan meningkatkan pengembalian asing bagi investor negara asal, sehingga pengembalian atas sekuritas asing akan sama dengan pengembalian atas sekuritas negara asal. Sebaliknya, jika i h < i f , e f akan negatif, atau dengan kata lain mata uang asing akan terdepresiasi ketika suku bunga asing lebih tinggi dibandingkan suku bunga negara asal. Depresiasi ini akan mengurangi pengembalian atas sekuritas asing dari sudut pandang investor negara asal, sehingga pengembalian atas sekutitas asing tidak akan lebih tinggi dibandingkan pengembalian atas sekuritas negara asal (Hady, 2016).

2.1.8 Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity Theory/PPP)

Teori ini dikemukakan oleh Gustav Cassel, seorang ekonom Swedia, yang memperkenalkan teori PPP pada tahun 1918. PPP menghubungkan kurs valas dengan harga-harga komoditi dalam mata uang lokal di pasar internasional, yaitu bahwa kurs valas akan cenderung menurun dalam proporsi yang sama dengan laju kenaikan harga (Saragih, 2014).

Pada prinsipnya teori PPP ini menganalisis bagaimana hubungan antara

perubahan dan perbedaan tingkat inflasi dengan fluktuasi kurs. Pengaruh tingkat

(33)

21

inflasi terhadap kurs dapat dijelaskan berdasarkan teori Purchasing Power Parity atau teori paritas daya beli atau keseimbangan atau kesamaan daya beli yang diperkenalkan oleh Gustav Cassel setelah Perang Dunia I.

Penjelasan teori ini didasarkan pada law of one price (LOP), yaitu hukum yang menyatakan bahwa harga produk yang sejenis di dua negara yang berbeda akan sama pula bila dinilai dalam currency atau mata uang yang sama.

Saat hukum satu harga diterapkan secara internasional, pada standard commodity basket, kita memperoleh teori keseimbangan daya beli (PPP). Teori ini menyatakan bahwa nilai tukar antara mata uang dua negara harus sama dengan rasio tingkat harga di negara tersebut.

1. Paritas Daya Beli Absolut Teori paritas daya beli versi absolut pada dasarnya adalah perbandingan nilai satu mata uang terhadap mata uang lain yang ditentukan oleh tingkat harga pada masing-masing negara. Paritas daya beli absolut memiliki asumsi bahwa tanpa adanya hambatan internasional, harga dari sejumlah produk yang sama pada dua negara yang berbeda seharusnya setara jika diukur dalam mata uang yang sama. Biaya transportasi, bea masuk dan kuota perdagangan menyebabkan bentuk absolut dari paritas daya beli ini tidak akan terjadi. Paritas daya beli bentuk absolut ini menunjukkan nilai tukar yang dihitung dari perbandingan tingkat harga domestik dengan tingkat harga di luar negeri (Jamli, 2001).

2. Paritas Daya Beli Relatif PPP relatif menyatakan bahwa perubahan persentase

dalam kurs antara duamata uang selama periode tertentu sama dengan selisih

antara persentase perubahan atas tingkat harga berbagai negara. Dengan

(34)

kalimat lain, PPP relatif menerangkan bahwa harga-harga dan kurs mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga nisbah daya beli domestik dan luar negeri dari setiap negara tetap bertahan. PPP relatif ini penting karena ia dapat diterapkan sementara PPP absolut tidak asalkan faktor-faktor penyebab deviasi PPP absolut dari waktu ke waktu cukup stabil, perubahan-perubahan persentase tingkat-tingkat harga relatif rnasih dapat memperkirakan perubahan persentase kurs. Selain itu, bentuk relatif teori paritas daya beli ini merupakan versi alternatif yang memperhitungkan kemungkinan ketidaksempurnaan pasar seperti biaya transportasi, tarif, dan kuota, sehingga produk yang sama di negara yangberbeda tidak perlu menjadi sama bila diukur dengan mata uang yang sama. Dengan dermikian, versi ini menyatakan bahwa tingkat perubahan dalam harga-harga produk seharusnya sedikit sama bila diukur dengan mata uang yang sama. (Saragih, 2014)

Dengan kata lain, PPP absolut menerangkan bahwa kurs spot ditentukan

oleh harga relatif dari sejumlah barang yang sama (ditunjukkan oleh indeks

harga). Misalnya, katakanlah tingkat harga saat ini di Indonesia 110 sedang di AS

sebesar 105. Jika kurs awal dolar adalah Rp2.500, maka menurut PPP, kurs rupiah

yang dinilai dalam dolar AS seharusnya meningkat menjadi Rp2.619 , yang

diperoleh dari (2.500 x 110/105), atau mengalami depresiasi sebesar 4,76%. Di

lain pihak, bila tingkat harga di AS sekarang menjadi 115 maka rupiah akan

mengalami apresiasi sekitar 4,36%, atau menjadi Rp2.391 yang diperoleh dari

(2.500 x 110/115). Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam PPP absolut, negara yang

mata uangnya mengalami tingkat inflasi yang tinggi seharusnya mengurangi nilai

(35)

23

mata uangnya relatif terhadap mata uang dengan tingkat inflasi yang lebih rendah.

Sementara itu, PPP yang relatif (relative) mengatakan persentase perubahan kurs nominal akan sama dengan perbedaan inflasi di antara kedua negara. Dinyatakan dalam konteks mendatang (ex ante terms), harapan perubahan kurs valas sama dengan harapan perbedaan inflasi (Jamli, 2001).

Teori Purchasing Power Parity absolute ialah perbandingan nilai satu mata uang terhadap mata uang lain yang ditentukan pada tingkat harga masing- masing negara. PPP absolut berasumsi bahwa tanpa adanya hambatan internasional, harga sejumlah produk yang sama pada dua negara yang berbeda seharusnya setara apabila diukur pada mata uang yang sama. Biaya transportasi, bea masuk dan kuota perdagangan menyebabkan bentuk absolut dari PPP ini tidak akan terjadi. PPP bentuk absolut ini menunjukan nilai tukar yang dapat dihitung dari perbandingan antara tingkat harga domestik dengan tingkat harga di luar negeri (Hady, 2016).

Asumsikan bahwa indeks harga pada negara asal (h) dan negara asing (f) adalah setara. Sekarang asumsikan bahwa sepanjang waktu, negara asal mengalami tingkat inflasi sebesar (I h ) sementara negara asing mengalami inflasi sebesar ( ) karena inflasi, indeks harga barang pada negara asal konsumen ( ) adalah:

( ) (2.7)

Indek harga di negara asing ( ) juga akan berubah menjadi:

( ) (2.8)

(36)

Jika I h > I f dan nilai tukar antara valuta dari dua negara tidak berubah, maka daya beli konsumen atas produk luar negeri lebih besar dari pada daya beli produk domestik. Jika I h < I f dan nilai tukar tidak berubah, maka daya beli atas produk domistik lebih besar dari pada daya beli atas produk luar negeri (Hady, 2016).

Teori PPP menyatakan bahwa nilai tukar tidak akan tetap konstan, tetapi akan menyesuaikan diri untuk mempertahankan paritas daya beli. Jika inflasi terjadi dan nilai tukar berubah, maka indeks harga luar negeri dari prespektif konsumen domestik menjadi:

( )( ) (2.9)

Dimana e f mewakili presentase perubahan dalam nilai valas yang bersangkutan. Menurut teori PPP, persentase perubahan nilai valas (e f ) harus berubah untuk mempertahankan paritas dalam indeks harga yang baru dari kedua negara. Berdasarkan law of one price: New Price Index Foreign Country = New Price Index Home Country, maka:

( )( ) ( )

( ) ( )

Karena indeks harga awalnya diasumsikan sama di kedua negara (P

h

= P

f

) maka:

(2.10)

e f dinyatakan sebagai persentase perubahan kurs, maka rumus atau

formula diatas menunjukkan bagaimana hubungan antara tingkat inflasi di kedua

(37)

25

Dari rumusan atau formula diatas dapat dikemukakan catatan penting sebagai berikut, Formula di atas, mencerminkan hubungan antara laju inflasi relatif dengan nilai tukar menurut PPP. Jika I h > I f , e f haruslah positif, maka valuta asing yang dimaksud akan mengalami apresiasi terhadap valuta domestik pada saat inflasi domestik melebihi inflasi luar negeri. Sebaliknya, Jika I h < I f , e f haruslah negatif, maka valuta asing yang dimaksud akan mengalami depresiasi terhadap valuta domestik pada saat inflasi luar negeri melebihi inflasi domestik (Hady, 2016).

2.2 Penelitian Terdahulu

Banyak penelitian yang telah memberikan titik perhatian terhadap tingkat

inflasi, suku bunga BI dan pendapatan nasional pokok bahasannya dengan

berbagai variabel, untuk itu sebagai bahan referensi dan perbandingan, akan

dikemukakan penelitian terdahulu yang pembahasannya atau topiknya sesuai

dengan permasalahan dalam penelitian ini.

(38)

Tabel 2.1 Penelitian terdahulu

No

Nama Peneliti dan Tahun

Peneliti

Judul Variabel Hasil Penelitian 1 Mardiana

(2016) Pengaruh Tingkat Inflasi dan

Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Nilai Tukar Rupiah (Studi pada Bank Indonesia Periode Tahun 2005-2014).

Variabel Dependen: Nilai Tukar Rupiah Variabel Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi

Terdapat pengaruh secara bersama-sama antar variabel bebas yang meliputi tingkat inflasi, dan pertumbuhan ekonomi terhadap variabel terikat nilai tukar rupiah atas dollar AS. Tingkat inflasi, dan pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh sebesar 33,9% . Variabel tingkat inflasi secara parsial tidak berpengaruh terhadap nilai tukar Rupiah.

Variabel tingkat pertumbuhan ekonomi berpengaruh tidak signifikan dengan arah negatif terhadap nilai tukar rupiah atas dollar AS periode tahun 2005 sampai dengan 2014.

2 Theo (2014) Pengaruh Suku Bunga, dan inflasi Terhadap Nilai Tukar Rupiah 2008- 2012

Variabel Dependen: Nilai Tukar

Variabel Independen:

Suku Bunga, Inflasi

Suku Bunga (X1)berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah selama periode penelitian. Inflasi (X2) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Nilai Tukar Rupiah (Y) di Indonesia tahun 2008-2012. Secara simultan berpengaruh secara bersama- sama terhadap variable Y.

3 Sangad

(2014) Pengaruh Tingkat Tingkat Suku Bunga SBI terhadap Nilai Tukar Rupiah (terhadap Dollar) di Indonesia

Variabel Dependen: Nilai Tukar

Variabel Independen:

Suku Bunga SBI

Variabel Suku Bunga SBI tidak mempengaruhi secara nyata terhadap nilai tukar Rupiah selama periode penelitian. Hal ini disebabkan karena adanya hambatan pada mekanisme transmisi kebijakan moneter.

4 Listika

(2018) Pengaruh Inflasi dan capital inflow terhadap Nilai Tukar.

Variabel Dependen: Nilai Tukar

Inflasi memiliki pengaruh yang

negatif dan signifikan terhadap

nilai tukar rupiah. Artinya setiap

kenaikan inflasi di Indonesia

(39)

27

Studi Kasus:

Indonesia- Malaysia

Variabel Independen:

Inflasi dan Capital Inflow

akan mendepresiasi mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika. Capital inflow berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Artinya setiap kenaikan Capital inflow akan mengapresiasi nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika.

Sedangkan di Malaysia, inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai tukar ringgit terhadap Dollar Amerika.

Dan Capital inflow berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai tukar Ringgit terhadap Dollar Amerika.

5 Khajjah

(2015) Pengaruh Tingkat Inflasi dan Suku Bunga SBI terhadap Nilai Tukar (US$/Rp)

Variabel Dependen: Nilai Tukar

Varibel Independen:

Inflasi, Suku Bunga SBI

Pengaruh variabel inflasi yang dihasilkan adalah positif. Hasil ini menyimpulkan bahwa meningkatnya tingkat inflasi domestik akan mengakibatkan meningkatnya kurs uang domestik yang artinya mata uang Rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika. Variabel suku bunga SBI pengaruh signifkan terhadap nilai tukar (US$/Rp) periode 2011-2013 dengan pengaruh yang dihasilkan adalah negatif. Hasil tersebut menyimpulkan bahwa ketika suku bunga SBI mengalami peningkatan maka nilai tukar (kurs) akan menurun. Jika terjadi peningkatan tingkat suku bunga akan memberikan pengaruh yang semakin menurunkan cash inflow dan cash outflow suatu negara sehingga akan mempengaruhi pula permintaan maupun penawaran nilai tukar mata uang.

Sumber: Data diolah

(40)

2.3 Kerangka Konseptual

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.3.1 Hubungan Suku Bunga Bank Indonesia dengan Nilai Tukar

Nilai tukar mata uang suatu negara memiliki keterkaitan dengan tingkat inflasi. Dalam kondisi inflasi rendah, nilai mata uang cenderung mengalami apresiasi atau kenaikan karena uang yang beredar tidak banyak. Sedangkan kondisi sebaliknya terjadi ketika inflasi mencapai angka yang tinggi maka uang yang beredar banyak dan mengakibatkan depresiasi terhadap nilai mata uang.

Harga barang mengalami kenaikan sehingga kemudian banyak barang impor yang masuk sebagai pesaing. Ketika negara melakukan impor, hal itu berarti negara sedang menambah angka permintaan terhadap mata uang asing dibandingkan permintaan terhadap mata uang domestik (Nasution, 1998). Namun kenyataannya negara membutuhkan banyak mata uang asing yang tidak cukup hanya mengandalkan ekspor negara tersebut. Di sisi lain, mata uang negara tersebut mengalami penawaran tinggi yang tidak diimbangi dengan permintaan sehingga hal inilah yang kemudian menyebabkan nilai mata uang mengalami depresiasi.

SUKU BUNGA BANK INDONESIA (X 1 )

PENDAPATAN NASIONAL (X 3 )

INFLASI (X 2 )

NILAI TUKAR

RUPIAH (Y)

(41)

29

Suku bunga adalah biaya yang dikeluarkan oleh kreditur atas pinjamannya sekaligus menjadi imbalan untuk pemberi dana utang. Dari sini bank sentral suatu negara akan memberlakukan suku bunga yang tinggi untuk menekan inflasi agar uang yang beredar dapat dikendalikan. Namun yang terpenting adalah dengan diberlakukannya suku bunga yang tinggi maka hal tersebut dapat menarik minat para investor serta modal asing sehingga kemudian nilai mata uang pun meningkat.

Hubungan antara suku bunga dan nilai tukar dijelaskan melalui teori paritas suku bunga (interest rate parity). Teori paritas tingkat suku bunga adalah salah satu teori yang penting mengenai penentuan tingkat bunga dalam sistem devisa bebas. Teori pada pokoknya menyatakan bahwa dalam sistem devisa bebas tingkat bunga dinegara satu akan cenderung sama dengan tingkat bunga dinegara lain, setelah diperhitungkan perkiraan mengenai laju depresiasi mata uang negara yang satu terhadap negara lain. Dengan demikian seorang pemilik dana akan dapat menetukan dalam mata uang atau valas apa dananya akan diinvestasikan.

Caranya dengan membandingkan besarnya perbedaan tingkat suku bunga antara dua negara (Jamli, 2001).

2.3.2 Hubungan Inflasi dengan Nilai Tukar

Inflasi erat kaitanya dengan nilai tukar mata uang, perubahan tingkat

inflasi dapat mempengaruhi permintaan mata uang di suatu negara, sehingga

dapat pula mempengaruhi pola perdagangan internasional. Perubahan dalam laju

inflasi dapat mempengaruhi aktifitas perdagangan internasional. Jika inflasi suatu

negara meningkat, permintaan atas mata uang negara tersebut menurun

(42)

dikarenakan ekspornya juga turun (disebabkan harga yang lebih tinggi). Selain itu, konsumen dan perusahaan dalam negara tersebut cenderung meningkatkan impor mereka. Kedua hal tersebut akan menekan inflasi yang tinggi pada mata uang suatu negara. Tingkat inflasi antarnegara berbeda, sehingga pola perdagangan internasional dan nilai tukar akan berubah sesuai dengan inflasi tersebut.

Teori yang menerangkan hubungan antara nilai tukar dan tingkat inflasi di antara dua negara dengan kurs kedua negara tersebut adalah teori paritas daya beli (purchasing power parity-PPP). Teori paritas daya beli adalah keseimbangan kurs akan menyesuaikan dengan besaran perbedaan tingkat inflasi di antara dua negara.

Hal ini akan berakibat daya beli konsumen untuk membeli produk-produk domestik akan sama dengan daya beli mereka untuk membeli produk-produk luar negeri. “Teori paritas daya beli nilai tukar berpendapat bahwa pergerakan nilai tukar terutama disebabkan oleh perbedaan tingkat inflasi antar negara” (Nasution, 1998).

2.3.3 Hubungan Pendapatan Nasional dengan Nilai Tukar

Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa faktor

yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Bahwa valuta asing

diperlukan guna melakukan transaksi pembayaran ke luar negeri (impor). Makin

tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan (relatif terhadap negara lain) makin besar

kemampuan untuk impor makin besar pula permintaan akan valuta asing. Kurs

valuta asing cenderung meningkat dan harga mata uang sendiri turun. Demikian

juga inflasi akan menyebabkan impor naik dan ekspor turun kemudian akan

menyebabkan valuta asing naik. Seandainya kenaikan pendapatan masyarakat di

(43)

31

Indonesia tinggi sedangkan kenaikan jumlah barang yang tersedia relatif kecil, tentu impor barang akan meningkat. Peningkatan impor ini akan membawa efek kepada peningkatan demand valas yang ada gilirannya akan mempengaruhi kurs.

(Hady, 2016) 2.4 Hipotesis

Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu hupo dan thesis. Hupo berarti lemah, kurang atau di bawah dan thesis berarti teori, proposisi, atau pernyataan yang disajikan sebagai bukti. Jadi, hipotesis dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan perlu dibuktikan atau dugaan yang sifatnya masih sementara.

Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel independen Suku Bunga BI /BI Rate (X 1 ) mempunyai pengaruh positif terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia Tahun 1986-2015

2. Variabel independen Inflasi (X 2 ) mempunyai pengaruh negatif terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia Tahun 1986-2015

3. Variabel independen Pendapatan Nasional (X 3 ) mempunyai pengaruh positif

terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia Tahun 1986-2015

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan dalam pengumpulan data dan informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan menguji hipotesis penelitian. Dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini, metode penelitiannya adalah sebagai berikut:

3.1 Jenis Penelitian dan Sumber Data

Berdasarkan sifatnya, jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu bersifat angka atau bilangan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, data sekunder yaitu data yang dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data serta dipublikasikan pada masyarakat pengguna data. Sumber data diperoleh dari website Bank Indonesia mengenai tingkat inflasi, suku bunga Bank Indonesia, dan nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap Dollar Amerika (Rp/US$).

Serta diperoleh data yang bersumber dari website Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai Pendapatan Nasional. Data beberbentuk data berkala (time series) dalam kurun waktu 30 tahun (1986-2015).

3.2 Ruang Lingkup

Penelitian ini akan dilaksanakan dengan mengambil data keuangan atau

laporan keuangan Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik mengenai nilai tukar

rupiah, tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan pendapatan nasional. Data yang

diambil yaitu mulai dari tahun 1986 sampai dengan 2015. Ruang lingkup

penelitian ini yaitu membahas variabel bebas (Variable Independent) yang terdiri

dari tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan tingkat pendapatan nasional.

(45)

33

Sedangkan variabel tetap (variable dependent) yaitu Nilai Tukar Rupiah. Dalam penelitian ini nilai tukarnya terhadap Dollar Amerika Serikat (Rp/US$).

3.3 Defenisi Operasional

Untuk menyamakan persepsi tentang variabel-variabel yang digunakan dan menghindari terjadinya perbedaan penafsiran, maka penulis membei definisi dan batasan variabel operasional sebagai berikut :

1. Nilai Tukar atau kurs (exchange rate) merupakan suatu perbandingan antara nilai mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika (Rp/US$) tahun 1986-2015 2. Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate) adalah tingkat suku bunga yang

ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik dalam kurun waktu 1986-2015 dalam satuan persen yang bersumber dari Bank Indonesia.

3. Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga-harga secara umum dan belangsung secara terus-menerus. Dalam penelitian ini inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun 1986-2015 dalam satuan persen yang bersumber dari Bank Indonesia.

4. Pendapatan Nasional, dalam penelitian ini yaitu GDP (Gross Domestic Product), atau Produk Domestik Bruto (PDB) atas harga berlaku dalam miliar Rupiah yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 1986-2015.

3.4 Tenik Pengumpulan Data

Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian

adalah sebagai berikut :

(46)

1. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan metode kepustakaan (library search). Yaitu dengan cara mengambil data-data atau pun bahan-bahan kepustakaan berupa tulisan-tulisan ilmiah, jurnal, artikel, dan buku – buku.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melakukan pencatatan langsung berupa data seri waktun (time series) yaitu tahun 1986-2015 yang diperoleh dari laporan tahunan yang dikeluarkan Oleh Bank Indonesia (BI).

3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum dan generalisasi.

Penelitian yang dilakukan (tanpa diambil sampelnya) jelas akan menggunakan statistik deskriptif dalam analisisnya.

Statistik deskriptif adalah penyajian data melalui tabel, grafik, diagram,

lingkaran, pictogram, perhitungan modus, median, mean, perhitungan desil,

persentil, perhitungan penyebaran data, melalui perhitungan rata-rata, standar

deviasi dan perhitungan presentase. Dalam statistik deskriptif juga dapat

dilakukan mencari kuatnya hubungan antar variabel melalui analisis korelasi,

melakukan prediksi dengan analisis regresi, dan membuat perbandingan dengan

membandingkan rata-rata data sampel atau populasi (Sugiyono, 2006).

(47)

35

3.5.1 Pengujian Asumsi Klasik

Model regresi linier berganda (multiple regression) dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). BLUE dapat dicapai bila memenuhi asumsi klasik. Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui apakah hasil analisis regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini terlepas dari penyimpangan asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, multikolinieritas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Adapun masing-masing penguji tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

3.5.1.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi mempunyai korelasi antar variabel bebas ketiganya mempunyai distribusi normal atau tidak (Suliyanto, 2011). Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi normalitas data dilakukan dengan pengujian Kolmogorov Smirnov.

Dalam ujian ini, pedoman yang digunakan dalam pengambilan keputusan adalah :

a. Jika nilai signifikan > 0.05 maka distribusi normal, dan b. Jika nilai signifikan < 0.05 maka distribusi tidak normal.

3.5.1.2 Uji Multikolinieritas

Bertujuan untuk menguji apakah model regresi mempunyai korelasi antara

variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara

(48)

variabel independen. Multikolinieritas adalah situasi adanya korelasi varibael- variabel independen antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini disebut variabel-variabel bebas ini tidak ortogonal. Variabel-variabel bebas yang bersifat ortogonal adalah variabel bebas yang memiliki nilai korelasi dinatara sesamanya

= 0. Jika terjadi korelasi sempurna diantara sesame variabel bebas, maka konsekuensinya adalah :

a. Koefisein-koefisien regresi menjadi tidak dapat ditaksir.

b. Nilai standar error setiap koefisien regresi menjadi tak terhingga

Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya serta variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini ini menunjukkan setaip varaiabel independen manakah yang dijelaskan oleh varaibel independen lainnya.

Tolerance mengukur variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF=1/Tolerance). Nilai yang umum dipakai untuk menujukkan adanya multikolinieritas adalah nilai tolerance < 0.1 atau sama dengan nilai VIF > 10.

3.5.1.3 Uji Heteroskedastisitas

Menurut Suliyanto (2011), uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji

apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan variance dari residual satu

pengamatan lain. Konsekuensi adanya heteroskedastisitas dalam model regresi

adalah penaksir yang diperoleh tidak efisien, baik dalam sampel kecil maupun

besar. Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas dapat diketahui dengan

melakukan uji glejser. Jika variabel bebas signifikan secara statistik

Gambar

Tabel 2.1   Penelitian terdahulu  No  Nama  Peneliti  dan Tahun  Peneliti
Gambar 2.1  Kerangka Konseptual
Tabel 4.2   Uji Normalitas
Tabel 4.3 Uji   Multikolinieritas
+6

Referensi

Dokumen terkait

Analisis regresi linier berganda dilakukan dengan bantuan SPSS 17.0 dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas yang terdiri dari modal sendiri (X1)

Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis secara simultan variabel bebas, yaitu Investasi (X1), Inflasi (X2), Nilai Tukar Rupiah (X3) dan Tingkat Suku Bunga (X 4 )

Alat analisis yang digunalkan dalam penelitian ini adalah model regresi linier berganda dimana impor Indonesia sebagai variabel dependen dan pendapatan perkapita, nilai

Model yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier berganda, bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel dependent dalam

Pengujian hipotesis yang dipakai dalam penelitian ini adalah regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh faktor-faktor nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga

Hasil pengujian variabel inflasi menunjukkan nilai t hitung sebesar 1,567 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,119. Hal ini menunjukkan secara parsial tidak ada

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada alpha 5%, hasil analisis regresi linear berganda menujukkan bahwa variabel inflasi berpengaruh signifikan terhadap pasar

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis inferensia dengan menggunakan regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat