• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7

2.1.8 Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity

(2.6)

Seperti dibuktikan di atas, teori IFE menyatakan bahwa ketika ih > if , ef akan positif karena suku bunga asing yang relatif kecil mencerminkan taksiran inflasi negara asing yang relatif rendah dengan kata lain, mata uang asing akan terapresiasi ketika suku bunga asing lebih kecil dibandingkan suku bunga nagara asal. Apresiasi ini akan meningkatkan pengembalian asing bagi investor negara asal, sehingga pengembalian atas sekuritas asing akan sama dengan pengembalian atas sekuritas negara asal. Sebaliknya, jika ih < if , ef akan negatif, atau dengan kata lain mata uang asing akan terdepresiasi ketika suku bunga asing lebih tinggi dibandingkan suku bunga negara asal. Depresiasi ini akan mengurangi pengembalian atas sekuritas asing dari sudut pandang investor negara asal, sehingga pengembalian atas sekutitas asing tidak akan lebih tinggi dibandingkan pengembalian atas sekuritas negara asal (Hady, 2016).

2.1.8 Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity Theory/PPP)

Teori ini dikemukakan oleh Gustav Cassel, seorang ekonom Swedia, yang memperkenalkan teori PPP pada tahun 1918. PPP menghubungkan kurs valas dengan harga-harga komoditi dalam mata uang lokal di pasar internasional, yaitu bahwa kurs valas akan cenderung menurun dalam proporsi yang sama dengan laju kenaikan harga (Saragih, 2014).

Pada prinsipnya teori PPP ini menganalisis bagaimana hubungan antara perubahan dan perbedaan tingkat inflasi dengan fluktuasi kurs. Pengaruh tingkat

21

inflasi terhadap kurs dapat dijelaskan berdasarkan teori Purchasing Power Parity atau teori paritas daya beli atau keseimbangan atau kesamaan daya beli yang diperkenalkan oleh Gustav Cassel setelah Perang Dunia I.

Penjelasan teori ini didasarkan pada law of one price (LOP), yaitu hukum yang menyatakan bahwa harga produk yang sejenis di dua negara yang berbeda akan sama pula bila dinilai dalam currency atau mata uang yang sama.

Saat hukum satu harga diterapkan secara internasional, pada standard commodity basket, kita memperoleh teori keseimbangan daya beli (PPP). Teori ini menyatakan bahwa nilai tukar antara mata uang dua negara harus sama dengan rasio tingkat harga di negara tersebut.

1. Paritas Daya Beli Absolut Teori paritas daya beli versi absolut pada dasarnya adalah perbandingan nilai satu mata uang terhadap mata uang lain yang ditentukan oleh tingkat harga pada masing-masing negara. Paritas daya beli absolut memiliki asumsi bahwa tanpa adanya hambatan internasional, harga dari sejumlah produk yang sama pada dua negara yang berbeda seharusnya setara jika diukur dalam mata uang yang sama. Biaya transportasi, bea masuk dan kuota perdagangan menyebabkan bentuk absolut dari paritas daya beli ini tidak akan terjadi. Paritas daya beli bentuk absolut ini menunjukkan nilai tukar yang dihitung dari perbandingan tingkat harga domestik dengan tingkat harga di luar negeri (Jamli, 2001).

2. Paritas Daya Beli Relatif PPP relatif menyatakan bahwa perubahan persentase dalam kurs antara duamata uang selama periode tertentu sama dengan selisih antara persentase perubahan atas tingkat harga berbagai negara. Dengan

kalimat lain, PPP relatif menerangkan bahwa harga-harga dan kurs mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga nisbah daya beli domestik dan luar negeri dari setiap negara tetap bertahan. PPP relatif ini penting karena ia dapat diterapkan sementara PPP absolut tidak asalkan faktor-faktor penyebab deviasi PPP absolut dari waktu ke waktu cukup stabil, perubahan-perubahan persentase tingkat-tingkat harga relatif rnasih dapat memperkirakan perubahan persentase kurs. Selain itu, bentuk relatif teori paritas daya beli ini merupakan versi alternatif yang memperhitungkan kemungkinan ketidaksempurnaan pasar seperti biaya transportasi, tarif, dan kuota, sehingga produk yang sama di negara yangberbeda tidak perlu menjadi sama bila diukur dengan mata uang yang sama. Dengan dermikian, versi ini menyatakan bahwa tingkat perubahan dalam harga-harga produk seharusnya sedikit sama bila diukur dengan mata uang yang sama. (Saragih, 2014)

Dengan kata lain, PPP absolut menerangkan bahwa kurs spot ditentukan oleh harga relatif dari sejumlah barang yang sama (ditunjukkan oleh indeks harga). Misalnya, katakanlah tingkat harga saat ini di Indonesia 110 sedang di AS sebesar 105. Jika kurs awal dolar adalah Rp2.500, maka menurut PPP, kurs rupiah yang dinilai dalam dolar AS seharusnya meningkat menjadi Rp2.619 , yang diperoleh dari (2.500 x 110/105), atau mengalami depresiasi sebesar 4,76%. Di lain pihak, bila tingkat harga di AS sekarang menjadi 115 maka rupiah akan mengalami apresiasi sekitar 4,36%, atau menjadi Rp2.391 yang diperoleh dari (2.500 x 110/115). Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam PPP absolut, negara yang mata uangnya mengalami tingkat inflasi yang tinggi seharusnya mengurangi nilai

23

mata uangnya relatif terhadap mata uang dengan tingkat inflasi yang lebih rendah.

Sementara itu, PPP yang relatif (relative) mengatakan persentase perubahan kurs nominal akan sama dengan perbedaan inflasi di antara kedua negara. Dinyatakan dalam konteks mendatang (ex ante terms), harapan perubahan kurs valas sama dengan harapan perbedaan inflasi (Jamli, 2001).

Teori Purchasing Power Parity absolute ialah perbandingan nilai satu mata uang terhadap mata uang lain yang ditentukan pada tingkat harga masing-masing negara. PPP absolut berasumsi bahwa tanpa adanya hambatan internasional, harga sejumlah produk yang sama pada dua negara yang berbeda seharusnya setara apabila diukur pada mata uang yang sama. Biaya transportasi, bea masuk dan kuota perdagangan menyebabkan bentuk absolut dari PPP ini tidak akan terjadi. PPP bentuk absolut ini menunjukan nilai tukar yang dapat dihitung dari perbandingan antara tingkat harga domestik dengan tingkat harga di luar negeri (Hady, 2016).

Asumsikan bahwa indeks harga pada negara asal (h) dan negara asing (f) adalah setara. Sekarang asumsikan bahwa sepanjang waktu, negara asal mengalami tingkat inflasi sebesar (Ih) sementara negara asing mengalami inflasi sebesar ( ) karena inflasi, indeks harga barang pada negara asal konsumen ( ) adalah:

( ) (2.7)

Indek harga di negara asing ( ) juga akan berubah menjadi:

( ) (2.8)

Jika Ih > If dan nilai tukar antara valuta dari dua negara tidak berubah, maka daya beli konsumen atas produk luar negeri lebih besar dari pada daya beli produk domestik. Jika Ih < If dan nilai tukar tidak berubah, maka daya beli atas produk domistik lebih besar dari pada daya beli atas produk luar negeri (Hady, 2016).

Teori PPP menyatakan bahwa nilai tukar tidak akan tetap konstan, tetapi akan menyesuaikan diri untuk mempertahankan paritas daya beli. Jika inflasi terjadi dan nilai tukar berubah, maka indeks harga luar negeri dari prespektif konsumen domestik menjadi:

( )( ) (2.9)

Dimana ef mewakili presentase perubahan dalam nilai valas yang bersangkutan. Menurut teori PPP, persentase perubahan nilai valas (ef) harus berubah untuk mempertahankan paritas dalam indeks harga yang baru dari kedua negara. Berdasarkan law of one price: New Price Index Foreign Country = New Price Index Home Country, maka:

( )( ) ( )

( ) ( )

Karena indeks harga awalnya diasumsikan sama di kedua negara (Ph= Pf) maka:

(2.10)

ef dinyatakan sebagai persentase perubahan kurs, maka rumus atau formula diatas menunjukkan bagaimana hubungan antara tingkat inflasi di kedua

25

Dari rumusan atau formula diatas dapat dikemukakan catatan penting sebagai berikut, Formula di atas, mencerminkan hubungan antara laju inflasi relatif dengan nilai tukar menurut PPP. Jika Ih > If , ef haruslah positif, maka valuta asing yang dimaksud akan mengalami apresiasi terhadap valuta domestik pada saat inflasi domestik melebihi inflasi luar negeri. Sebaliknya, Jika Ih < If , ef haruslah negatif, maka valuta asing yang dimaksud akan mengalami depresiasi terhadap valuta domestik pada saat inflasi luar negeri melebihi inflasi domestik (Hady, 2016).

Dokumen terkait