• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7

2.3 Kerangka Konseptual

2.3.3 Hubungan Pendapatan Nasional dengan Nilai Tukar

Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Bahwa valuta asing diperlukan guna melakukan transaksi pembayaran ke luar negeri (impor). Makin tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan (relatif terhadap negara lain) makin besar kemampuan untuk impor makin besar pula permintaan akan valuta asing. Kurs valuta asing cenderung meningkat dan harga mata uang sendiri turun. Demikian juga inflasi akan menyebabkan impor naik dan ekspor turun kemudian akan menyebabkan valuta asing naik. Seandainya kenaikan pendapatan masyarakat di

31

Indonesia tinggi sedangkan kenaikan jumlah barang yang tersedia relatif kecil, tentu impor barang akan meningkat. Peningkatan impor ini akan membawa efek kepada peningkatan demand valas yang ada gilirannya akan mempengaruhi kurs.

(Hady, 2016) 2.4 Hipotesis

Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu hupo dan thesis. Hupo berarti lemah, kurang atau di bawah dan thesis berarti teori, proposisi, atau pernyataan yang disajikan sebagai bukti. Jadi, hipotesis dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan perlu dibuktikan atau dugaan yang sifatnya masih sementara.

Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel independen Suku Bunga BI /BI Rate (X1) mempunyai pengaruh positif terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia Tahun 1986-2015

2. Variabel independen Inflasi (X2) mempunyai pengaruh negatif terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia Tahun 1986-2015

3. Variabel independen Pendapatan Nasional (X3) mempunyai pengaruh positif terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia Tahun 1986-2015

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan dalam pengumpulan data dan informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan menguji hipotesis penelitian. Dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini, metode penelitiannya adalah sebagai berikut:

3.1 Jenis Penelitian dan Sumber Data

Berdasarkan sifatnya, jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu bersifat angka atau bilangan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, data sekunder yaitu data yang dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data serta dipublikasikan pada masyarakat pengguna data. Sumber data diperoleh dari website Bank Indonesia mengenai tingkat inflasi, suku bunga Bank Indonesia, dan nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap Dollar Amerika (Rp/US$).

Serta diperoleh data yang bersumber dari website Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai Pendapatan Nasional. Data beberbentuk data berkala (time series) dalam kurun waktu 30 tahun (1986-2015).

3.2 Ruang Lingkup

Penelitian ini akan dilaksanakan dengan mengambil data keuangan atau laporan keuangan Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik mengenai nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan pendapatan nasional. Data yang diambil yaitu mulai dari tahun 1986 sampai dengan 2015. Ruang lingkup penelitian ini yaitu membahas variabel bebas (Variable Independent) yang terdiri dari tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan tingkat pendapatan nasional.

33

Sedangkan variabel tetap (variable dependent) yaitu Nilai Tukar Rupiah. Dalam penelitian ini nilai tukarnya terhadap Dollar Amerika Serikat (Rp/US$).

3.3 Defenisi Operasional

Untuk menyamakan persepsi tentang variabel-variabel yang digunakan dan menghindari terjadinya perbedaan penafsiran, maka penulis membei definisi dan batasan variabel operasional sebagai berikut :

1. Nilai Tukar atau kurs (exchange rate) merupakan suatu perbandingan antara nilai mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika (Rp/US$) tahun 1986-2015 2. Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate) adalah tingkat suku bunga yang

ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik dalam kurun waktu 1986-2015 dalam satuan persen yang bersumber dari Bank Indonesia.

3. Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga-harga secara umum dan belangsung secara terus-menerus. Dalam penelitian ini inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun 1986-2015 dalam satuan persen yang bersumber dari Bank Indonesia.

4. Pendapatan Nasional, dalam penelitian ini yaitu GDP (Gross Domestic Product), atau Produk Domestik Bruto (PDB) atas harga berlaku dalam miliar Rupiah yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 1986-2015.

3.4 Tenik Pengumpulan Data

Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut :

1. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan metode kepustakaan (library search). Yaitu dengan cara mengambil data-data atau pun bahan-bahan kepustakaan berupa tulisan-tulisan ilmiah, jurnal, artikel, dan buku – buku.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melakukan pencatatan langsung berupa data seri waktun (time series) yaitu tahun 1986-2015 yang diperoleh dari laporan tahunan yang dikeluarkan Oleh Bank Indonesia (BI).

3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum dan generalisasi.

Penelitian yang dilakukan (tanpa diambil sampelnya) jelas akan menggunakan statistik deskriptif dalam analisisnya.

Statistik deskriptif adalah penyajian data melalui tabel, grafik, diagram, lingkaran, pictogram, perhitungan modus, median, mean, perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data, melalui perhitungan rata-rata, standar deviasi dan perhitungan presentase. Dalam statistik deskriptif juga dapat dilakukan mencari kuatnya hubungan antar variabel melalui analisis korelasi, melakukan prediksi dengan analisis regresi, dan membuat perbandingan dengan membandingkan rata-rata data sampel atau populasi (Sugiyono, 2006).

35

3.5.1 Pengujian Asumsi Klasik

Model regresi linier berganda (multiple regression) dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). BLUE dapat dicapai bila memenuhi asumsi klasik. Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui apakah hasil analisis regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini terlepas dari penyimpangan asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, multikolinieritas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi. Adapun masing-masing penguji tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

3.5.1.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi mempunyai korelasi antar variabel bebas ketiganya mempunyai distribusi normal atau tidak (Suliyanto, 2011). Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi normalitas data dilakukan dengan pengujian Kolmogorov Smirnov.

Dalam ujian ini, pedoman yang digunakan dalam pengambilan keputusan adalah :

a. Jika nilai signifikan > 0.05 maka distribusi normal, dan b. Jika nilai signifikan < 0.05 maka distribusi tidak normal.

3.5.1.2 Uji Multikolinieritas

Bertujuan untuk menguji apakah model regresi mempunyai korelasi antara variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara

variabel independen. Multikolinieritas adalah situasi adanya korelasi varibael-variabel independen antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini disebut variabel-variabel bebas ini tidak ortogonal. Variabel-variabel bebas yang bersifat ortogonal adalah variabel bebas yang memiliki nilai korelasi dinatara sesamanya

= 0. Jika terjadi korelasi sempurna diantara sesame variabel bebas, maka konsekuensinya adalah :

a. Koefisein-koefisien regresi menjadi tidak dapat ditaksir.

b. Nilai standar error setiap koefisien regresi menjadi tak terhingga

Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya serta variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini ini menunjukkan setaip varaiabel independen manakah yang dijelaskan oleh varaibel independen lainnya.

Tolerance mengukur variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF=1/Tolerance). Nilai yang umum dipakai untuk menujukkan adanya multikolinieritas adalah nilai tolerance < 0.1 atau sama dengan nilai VIF > 10.

3.5.1.3 Uji Heteroskedastisitas

Menurut Suliyanto (2011), uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan lain. Konsekuensi adanya heteroskedastisitas dalam model regresi adalah penaksir yang diperoleh tidak efisien, baik dalam sampel kecil maupun besar. Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas dapat diketahui dengan melakukan uji glejser. Jika variabel bebas signifikan secara statistik

37

mempengaruhi variabel terikat maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas (Suliyanto, 2011).

3.5.1.4 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu modelregresi linier ada korelasi antara kesalahan pada periode t dengan periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi (Suliyanto, 2011) untuk menguji ada tidaknya gejala autokorelasi maka dapat dideteksi dengan uji Durbin – Watson. Pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut :

1. Angka D-W dibawah -2 berarti autokorelasi positif, 2. Angka D-W diantara -2 ada autokorelasi negatif.

3.5.2 Analisis Regresi Linier Berganda

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah metode regresi linier berganda, dimana data yang dikumpulkan kemudian analisis menggunakan indikator yang digunakan. Bentuk umum regresi linier berganda yaitu :

Y= a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 Keterangan:

Y = Nilai Tukar Rupiah a = Konstanta

b1, b2, b3 = Koefisien regresi variabel independen X1 = Tingkat Suku bunga BI (%)

X2 = Tingkat Inflasi (%)

X3 = Pendapatan Nasional (miliar rupiah) = Term of Error

3.5.3 Uji Kesesuaian

Uji statistik yang dilakukan adalah sebagai uji signifikansi hasil estimasi yang diperoleh terhadap hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Maka uji hipotesis yang digunakan adalah :

3.5.3.1 Uji F (Uji Simultan)

Uji simultan (Uji Statistik F) merupakan uji yang menunjukkan pengaruh variabel secara simultan yaitu variabel independen dan variabel dependen.

Pengujian ini dilakukan untuk membandingkan nilai F-hitung dengan F-tabel. Jika F-hitung > F-tabel, maka Ho ditolak, artinya variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen.

3.5.3.2 Uji t (Uji Parsial)

Uji parsial (Uji Statistik t) dimaksudkan untuk menguji hubungan masing- masing variabel dependen. Bila nilai t-hitung > t-tabel, maka pada tingkat kepercayaan tertentu Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa variabel independen yang diuji dapat berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. Bila t-hitung <t-tabel maka pada tingkat kepercayaan tertentu Ho diterima. Ho diterima artinya bahwa variabel independen yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.

39

3.5.3.3. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien yang mengukur seberapa jauh pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Semakin tinggi nilai R2 maka semekin baik pengaruh variabel independen terhadap variebel dependen.

Ciri-ciri dari R2:

1. Jumlah nilai R2 tidak pernah negatif, 2. Nilai R2 digunakan antara 0-1 (0 < R2 ≤ 1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perkembangan Sistem Dan Kebijakan Nilai Tukar Di Indonesia Sebagaimana negara-negara lainnya, tujuan utama kebijakan nilai tukar di Indonesia adalah menunjang efektivitas kebijakan moneter dalam rangka memelihara kestabilan harga. Stabilitas nilai tukar dapat mendorong stabilitas harga khususnya stabilitas harga barang-barang yang berasal dari impor.

Depresiasi nilai tukar yang terlalu besar dapat mengakibatkan harga barang impor menjadi lebih mahal dan secara keseluruhan laju inflasi dapat meningkat.

Selanjutnya, inflasi yang terlalu tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat dan menurunkan kegiatan ekonomi. Tujuan kebijakan nilai tukar lainnya yang tidak kalah penting adalah mendukung kesinambungan pelaksanaan pembangunan khususnya yang terkait dengan neraca perdagangan. Menjaga keseimbangan nilai tukar dalam rangka mendukung neraca perdagangan perlu dipelihara karena nilai tukar yang over-valued dapat mengakibatkan neraca perdagangan menjadi memburuk dan merugikan perekonomian nasional.

Sejak kemerdekaan, pada prinsipnya tujuan kebijakan nilai tukar tidak jauh berbeda dari dua hal pokok di atas. Sebelum diberlakukannya Undang Undang No. 23 tahun 1999 dan diperbarui dengan Undang Undang No. 3 tahun 2004, tujuan kebijakan nilai tukar lebih banyak ditekankan pada menunjang keseimbangan neraca pembayaran. Sementara sejak undang-undang tersebut diberlakukan, tujuan kebijakan nilai tukar lebih ditekankan pada menunjang efektivitas kebijakan moneter. Dengan tercapainya tujuan akhir kebijakan moneter

41

mendukung keseimbangan neraca pembayaran dan perekonomian nasional.

Sejalan dengan tujuan kebijakan nilai tukar maka sistem dan kebijakan nilai tukar di Indonesia mempunyai sejarah yang panjang. Bangsa Indonesia telah mengenal uang jauh sebelum masa kemerdekaan. (Simorangkir, 2014). Berdasarkan sejarah, negara Indonesia telah menerapkan tiga sistem nilai tukar, yaitu:

1. Sistem Kurs Tetap (1970-1978)

Sesuai dengan Undang-Undang No.32 Tahun 1964, Indonesia menganut sistem nilai tukar resmi Rp. 250/dolar Amerika sementara kurs uang lainnya dihitung berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Untuk menjaga kestabilan nilai tukar pada tingkat yang ditetapkan. Bank lndonesia melakukan intervensi aktif di pasar valuta asing.

2. Sistem Kurs Mengambang Terkendali ( 1978-Juli 1997)

Pada masa ini, nilai tukar rupiah didasarkan pada sistem sekeranjang mata uang (basket of currencies). Kebijakan ini diterapkan bersama dengan dilakukannya devaluasi rupiah pada tahun 1978. Dengan sistem ini, bank Indonesia menetapkan kurs indikasi (pembatas) dan membiarkan kurs bergerak di pasar dengan spread tertentu. Bank indonesia hanya melakukan intervensi bila kurs bergejolak melebihi batas atas atau bawah dari spread.

3. Sistem kurs mengambang bebas (14 Agustus 1997-sekarang)

Sejak pertengahan Juli 1997, nilai tukar terhadap US dolar semakin melemah, sehubungan dengan hal tersebut dan dalam rangka mengamankan cadangan devisa yang terus berkurang maka bank Indonesia memutuskan untuk menghapus rentang intervensi (sistem nilai tukar mengambang terkendali) dan

mulai menganut sistem nilai tukar mengambang bebas (free floating exchange rate) pada tanggal 14 Agustus 1997. Penghapusan rentang intervensi ini juga dimaksudkan untuk mengurangi kegiatan intervensi bank Indonesia terhadap rupiah dan memantapkan pelaksanaan kebijakan moneter dalam negeri.

Penerapan sistem nilai tukar ini dimaksudkan untuk mencapai penyesuaian yang lebih berkesinambungan pada posisi keseimbangan eksternal (external equilibrium position), tetapi kemudian timbul indikasi bahwa beberapa persoalan akibatdari kurs yang fluktuatif akan timbul, terutama karena karakteristik ekonomi dan struktur kelembagaan pada negara berkembang masih sederhana. Dalam sistem nilai tukar mengambang bebas ini diperlukan sistem perekononomian yang sudah mapan.

4.2 Analisis Data Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series berdasarkan laporan tahunan dari BI dan BPS tahun 1986-2015. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai tukar rupiah. Variabel independen dalam penelitian ini adalah suku bunga BI dalam satuan persen, inflasi dalam satuan persen, dan pendapatan nasional (PDB) dalam miliar rupiah.

43

4.3 Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini, variabel-variabel yang dianalisis yaitu nilai tukar rupiah (kurs) sebagai variabel terikat, tingkat suku bunga BI, inflasi, dan pendapatan nasional sebagai variabel bebas. Penelitian ini menggunakan model ekonometrika dan analisisnya menggunakan SPSS. Untuk memperoleh hasil yang representatif perlu dilakukan rangkaian pengujian.

4.4 Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian 4.4.1 Hasil Uji Asumsi Klasik

4.4.1.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Dasar pengambilan keputusan adalah berdasarkan probabilitas > 0,05 maka populasi berdistribusi normal dan jika probabilitas < 0,05 maka populasi tidak berdistribusi normal.

Tabel 4.2 Uji Normalitas

45

Berdasarkan hasil uji Kolmogorov-Smirnov diketahui bahwa nilai Asymp.

Sig. (2-tailed) > α atau 0,467 > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.

4.4.1.2 Uji Multikolinieritas

Adanya gejala multikolinieritas dapat dilihat dari tolerance value atau nilai Variance Inflation Factor (VIF). Batas tolerance value adalah < 0,1 dan batas VIF > 10 = terjadi multikolineritas. Apabila tolerance value > 0,1 atau VIF < 10 = maka tidak terjadi multikolinieritas.

Tabel 4.3 Uji Multikolinieritas

Berdasarkan hasil uji dapat dilihat bahwa tidak ada nilai VIF yang lebih besar dari 10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel bebas dalam penelitian tidak mengandung multikolinieritas.

Coefficientsa

4.4.1.3 Uji Heteroskedastisitas

Salah satu cara mendeteksi ada tidaknya geja heteroskedastisitas dalam model regresi adalah dengan melakukan uji glejser. Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji heteroskedastisitas dengan menggunakan uji glejser adalah sebagai berikut;

1. Jika nilai signifikansi (Sig.) > 0,05 maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi.

2. Jika nilai signifikansi (Sig.) < 0,05 maka terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi. maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedatisitas dalam model regresi.

4..4.1.4 Uji Autokorelasi

Untuk menguji ada tidaknya gejala autokorelasi maka dapat dilakukan dengan uji Dorbin-Watson. Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut:

47

3. Angka D-W dibawah -2 berarti autokorelasi positif, 4. Angka D-W diantara -2 ada autokorelasi negatif.

Tabel 4.5 Uji Autokorelasi

Berdasarkan hasil uji Durbin-Watson diketahui bahwa nilai uji berada diantara -2 dan 2 atau -2 < 0,361 < 2, sehingga dapat disimpulkan bahwa data penelitian tidak mengandung autokorelasi.

4.4.2 Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda dilakukan dengan bantuan SPSS 18 dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas yang terdiri dari Tingkat Suku Bunga BI (X1), Inflasi (X2), dan Pendapatan Nasional (X3) terhadap variabel terikat yaitu Nilai Tukar Rupiah (Y).

Tabel 4.6

Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 167,431 12,850 3,344 ,034

BI_Rate 20,014 2,246 ,210 2,621 ,040

Inflasi -21,039 9,969 -,143 -2,526 ,003

PDB 34,701 9,524 ,447 3,777 ,007

a. Dependent Variable: Nilai_Tukar

Berdasarkan tabel 4.6 maka persamaan regresi linier berganda pada penelitian ini adalah:

Y = 167,431 + 20,014 X1 – 21,039 X2 + 34,701 X3

Berdasarkan persamaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Nilai konstanta dalam model regresi linier adalah 167,431 , artinya jika variabel bebas suku bunga BI, inflasi, dan pendapatan nasional dianggap konstan (tetap), maka nilai variabel nilai tukar rupiah naik sebesar 167,431 satuan.

2. Koefisien regresi suku bunga BI sebesar 20,014 (bertanda positif), menyatakan bahwa setiap penambahan atau kenaikan suku bunga BI sebesar 1 satuan akan menaikkan (menguat) nilai tukar rupiah sebesar 20,014 satu satuan. Dengan catatan variabel lain dalam keadaan konstan.

3. Koefisien regresi inflasi sebesar -21,039 (bertanda negatif) menyatakan bahwa setiap penambahan atau kenaikan inflasi sebesar 1 satuan akan menurunkan (melemah) nilai tukar rupiah sebesar 21,039 satu satuan.

Dengan catatan variabel lain dalam keadaan konstan.

4. Koefisien Pendapatan Nasional (PDB) sebesar -34,701 (bertanda positif) menyatakan bahwa setiap penambahan atau kenaikan pendapatan nasional (PDB) sebesar 1 satuan akan menaikkan (menguat) nilai tukar rupiah sebesar 34,701 satu satuan. Dengan catatan variabel lain dalam keadaan konstan.

49

4.4.3 Uji Kesesuaian 4.4.3.1 Uji F (Uji Simultan)

Uji simultan (Uji Statistik F) merupakan uji yang menunjukkan pengaruh variabel secara simultan yaitu variabel independen dan variabel dependen.

Pengujian ini dilakukan untuk membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel. Jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak, artinya variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen.

Residual 1,486E8 26 5713750,508

Total 4,697E8 29

a. Predictors: (Constant), PDB, Inflasi, BI_Rate b. Dependent Variable: Nilai_Tukar

Berdasarkan hasil pengolahan data, terlihat bahwa nilai Fhitung sebesar 18,737 lebih besar dari Ftabel 2,89 (untuk derajat pembilang 3 dan derajat penyebut 26 serta nilai signifikansi 0,05 adalah 2,89), serta nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti bahwa suku bunga BI, inflasi, dan pendapatan nasional (PDB) secara bersama-sama atau simultan berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah.

4.4.3.2 Uji t (Uji Parsial)

Uji parsial (Uji Statistik t) dimaksudkan untuk menguji hubungan masing- masing variabel dependen. Bila nilai thitung > ttabel, maka pada tingkat kepercayaan tertentu Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa variabel independen yang diuji dapat

berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. Bila thitung < ttabel maka pada tingkat kepercayaan tertentu Ho diterima. Ho diterima artinya bahwa variabel independen yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.

Tabel 4.8

Nilai ttabel untuk 4 variabel, 30 data penelitian dan tingkat signifikansi 0,05 adalah sebesar 2,055.

1. Untuk variabel suku bunga BI nilai Sig. 0,040 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05. Variabel suku bunga BI dengan nilai thitung adalah 2,621 lebih besar dari nilai ttabel dan koefisiennya bernilai positif, sehingga variabel suku bunga BI berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel nilai tukar rupiah.

2. Nilai Sig. Varibel inflasi sebesar 0,053 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05, dan thitung untuk variabel inflasi adalah sebesar 2,526 lebih besar dari nilai ttabel, nilai t bernilai negatif yang menunjukkan bahwa variabel inflasi memiliki hubungan negatif, sehingga variabel inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap variabel nilai tukar rupiah.

51

3. Nilai Sig. Varibel pendapatan nasional sebesar 0,07 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05, nilai thitung untuk variabel pendapatan nasional adalah 3,777 lebih besar dari nilai ttabel, nilai t bernilai negatif yang menunjukkan bahwa variabel inflasi memiliki hubungan negatif, sehingga variabel pendapatan nasional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap varibel nilai tukar rupiah.

4.4.3.3 Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien yang mengukur seberapa jauh pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Semakin tinggi nilai R2 maka semakin baik pengaruh variabel independen terhadap varibel dependen.

Tabel 4.9 Koefisien Determinasi

Berdasarkan dari tabel diatas dapat dilihat nilai R square sebesar 0,684 atau 68,4 persen, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel suku bunga BI, inflasi dan pendapatan nasional dapat memengaruhi variabel Nilai Tukar sebesar 68,4 persen. Dan sisanya 31,6 persen dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak menjadi objek data penelitian ini.

4.5 Pembahasan

1. Pengaruh Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Nilai Tukar Rupiah tahun 1986-2015

Hasil pengujian hipotesis pertama tentang pengaruh suku bunga BI terhadap kurs rupiah tahun 1986-2015 menunjukkan bahwa suku bunga BI berpengaruh positif dan signifikan terhadap kurs rupiah. Suku bunga yang tinggi dapat digunakan sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan dan juga sebagai kontrol yang dilakukan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar. Akan tetapi, suku bunga yang tinggi tidak cocok bagi iklim usaha. Hal ini dikarenakan, hampir semua usaha di sektor riil tidak terlepas dari kredit perbankan, dimana para pengusaha tersebut membutuhkan dana tambahan untuk usahanya. Dengan demikian, suku bunga yang tinggi mengakibatkan pinjaman menjadi lebih mahal sehingga memperlambat perkembangan dunia usaha.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Theo, 2014 yang berjudul pengaruh suku bunga dan inflasi terhadap nilai tukar rupia 2008-2012.

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, variabel suku bunga dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah selama periode penelitian.

2. Pengaruh Inflasi terhadap Nilai Tukar Rupiah Tahun 1986-2015

Hasil pengujian hipotesis kedua tentang pengaruh inflasi terhadap kurs rupiah tahun 1986-2015 menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kurs rupiah.

Jika inflasi suatu negara meningkat, permintaan atas mata uang negara tersebut menurun dikarenakan ekspornya juga turun (disebabkan harga yang lebih tinggi). Selain itu, konsumen dan perusahaan dalam negara tersebut cenderung meningkatkan impor mereka. Kedua hal tersebut akan menekan inflasi yang tinggi

Dokumen terkait