• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Terapi Bermain Origami Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Retardasi Mental Sedang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pengaruh Terapi Bermain Origami Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Retardasi Mental Sedang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BERMAIN ORIGAMI MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK RETARDASI MENTAL SEDANG

Dwi Hastuti, Khrisna Wisnu Sakti, Citra Rahmawati

Program Studi Ilmu Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Cimahi [email protected]

ABSTRAK

Tahun 2011, terdapat 30.400 anak mengalami penurunan fungsi intelektual dibawah 70 di Indonesia dan Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat pertama dengan berkisar 15,41%. Tahun 2017, sekitar 65% anak mengalami penurunan fungsi intelektual di Kabupaten Cianjur dan sebagian anak yang disebut retardasi mental tergolong kategori sedang. Anak retardasi mental sedang merupakan kondisi anak dengan penurunan fungsi intelektual (IQ) 36-51 yang memiliki kelemahan dalam kemampuan motorik halus. Pemberian terapi bermain origami merupakan stimulasi tepat untuk menggerakkan tangan dan jari dan menciptakan gerakan halus tetapi guru kelas di SLB BC Purnama Cipanas Kabupaten Cianjur belum menerapkan terapi permainan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terapi bermain origami terhadap kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sedang di SLB BC Purnama Cipanas Kabupaten Cianjur. Rancangan penelitian menggunakan pra eksperimen dengan one group pre test post test design. Jumlah sampel sebanyak 15 responden dengan teknik total sampling pada anak SDLB kelas III-VI. Intervensi perlakuan dilakukan selama 30 menit dalam 12 kali pertemuan,dengan dilakukan pre test sebelum perlakuan dan post test setelah perlakuan. Hasil uji T dependent menunjukkan skor rata-rata hasil kemampuan motorik halus pada pra test adalah 1,33 sedangkan pada post adalah 2,24 sehingga terdapat pengaruh terapi bermain origami terhadap kemampuan motorik halus (p 0,001). Disarankan agar pihak sekolah menerapkan terapi bermain origami sebagai pengembangan untuk mengoptimalkan kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sedang.

Kata kunci : Origami, Motorik Halus, Retardasi Mental Sedang

ABSTRACT

In 2011, there were 30,400 children decreased intellectual function below 70 in Indonesia and West Java Province ranked first with 15.41% range. In 2017, approximately 65% of children decreased intellectual function in Cianjur and some children called mental retardation classified as a category is. Mentally retarded child was a child's condition with decreased intellectual functioning (IQ) 36-51 who have a weakness in fine motor skills. Origami play therapy is an appropriate stimulation to move the hand and fingers and create smoother motion but the class teacher in SLB BC Purnama Cipanas Cianjur district has not implemented the play therapy. This study aims to determine the therapeutic play origami on fine motor skills in children with mental retardation were in SLB BC Purnama Cipanas, Cianjur regency. The study design using pre experiment with one group pretest posttest design. The total sample of 15 respondents with a total sampling technique in children SDLB class III-VI. Treatment intervention carried out for 30 minutes in 12 meetings, conducted a pre-test and post-test before treatment after treatment. Dependent T test results showed an average score of fine motor skills results in pre-test was 1.33, while the post is 2.24 so that there is play therapy origami influence on fine motor skills (p 0.001). It is suggested that the school apply play therapy origami as to optimize the development of fine motor skills in children with mental retardation were.

Keywords : Origami, Fine Motor Ability, Moderate Mental Retardation

PENDAHULUAN

WHO memperkirakan bahwa lebih dari 450 juta orang didunia mengalami retardasi mental dan akan meningkat pada tahun 2020.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sharma, et al. (2016) terhadap anak berusia 1-

10 tahun di Zona Goiter, India Selatan, ditemukan 91 anak dari total 5300 anak menderita retardasi mental. Pravelensi tertinggi lebih banyak pada kelompok usia 73- 120 bulan berkisar 3,3%, pada anak laki-laki

(2)

berkisar 1,6% serta anak berstatus kelas menengah bawah di perdesaan berkisar 2%.

Di Indonesia, anak yang mengalami retardasi mental pada tahun 2011 berjumlah 30.400 anak dari 8,3 juta anak yang mengalami disabilitas. Menurut Riskesdas tahun 2010, pravelensi anak retardasi mental berusia 24-59 bulan berkisar 0,14% (Kemenkes, 2011). Dari 33 provinsi tercatat 14 provinsi yang memiliki pravelensi anak retardasi mental tertinggi.

Salah satunya adalah provinsi Jawa Barat yang menduduki peringkat pertama dengan berkisar 15,41% (Kemenkes, 2014). Di Kabupaten Cianjur, ada 418 orang yang mengalami retardasi mental dan 27 orang berasal dari Kecamatan Cipanas (BPS, 2017).

Anak retardasi mental merupakan kondisi dimana perkembangan kecerdasannya mengalami hambatan sehingga tidak mencapai tahap perkembangan optimal. Anak dapat diklasifikasikan ke dalam golongan yaitu retardasi mental ringan yang masih dapat belajar secara akademik, retardasi mental sedang yang dapat didik mengurus diri sendiri dan retardasi mental berat yang membutuhkan bantuan perawatan total (Somantri, 2012).

Anak dengan keterbatasan dalam kemampuan, memiliki masalah belajar yang disebabkan adanya hambatan perkembangan inteligensi, mental, emosi, sosial dan fisik. Keterbatasan kemampuan mengacu pada kondisi tertentu dengan adanya penurunan intelegensi dan fungsi adaptif yang disebabkan oleh keabnormalan genetik, kerusakan pada otak sebelum atau saat dilahirkan dan kemunduran fungsi otak pada masa anak-anak(Delphie, 2012). Anak ini dapat dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus yang disebut retardasi mental.

Anak retardasi mental sedang sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca, dan berhitung walaupun mereka masih dapat menulis secara sosial, misalnya menulis namanya sendiri, alamat rumahnya dan lain-lain. Tetapi masih dapat dididik mengurus diri,

seperti mandi, berpakaian, makan, minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga sederhana seperti menyapu, membersihkan parabot rumah tangga, dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari, anak retardasi mental sedang membutuhkan pengawasan terus- menerus (Somantri, 2012). Davison, Neale dan Kring (2014) mengemukakan ada sekitar 10% dari mereka memiliki IQ kurang dari 70 diklasifikasi dalam kelompok retardasi mental sedang. Orang yang mengalami retardasi mental sedang dapat memiliki kelemahan fisik dan fungsi neurologis yang menghambat keterampilan motorik yang normal.

Kemampuan motorik halus merupakan koordinasi halus pada otot-otot kecil yang memainkan suatu peran utama. Suatu keterampilan menulis huruf “a” merupakan serangkaian beratus-ratus koordinasi syaraf otot.

Pergerakan terampil adalah proses yang sangat kompleks. Variasi perkembangan motorik halus mencerminkan kemauan dan kesempatan individu untuk belajar. Anak yang jarang menggunakan krayon, akan mengalami keterlambatan pada perkembangan memegang pensil (Soetjiningsih, 2015). Saputra (2005 dalam Fitrianita, 2016) mengemukakan bahwa kemampuan motorik halus memiliki fungsi yaitu alat untuk mengembangkan keterampilan gerak kedua tangan, koordinasi kecepatan tangan dengan gerakan mata, dan melatih penguasaan emosi. Anak retardasi mental berbeda dengan anak normal umumnya. Kondisi rendahnya IQ pada anak retardasi mental yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal. Hal tersebut membuat

anak retardasi mental mengalami keterlambatan motorik halus (WHO, 1996 dalam Faisal, 2016).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ziliwu (2015) terhadap kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental di SLB Karya Tulus, Deli Serdang, anak hanya mampu melakukan satu komponen dibanding

PINLITAMAS 1 | Vol 1, No.1 | Oktober 2018 | Halaman 170

(3)

komponen lain dimana komponen pertama yaitu melipat kertas sebanyak 26 anak dengan presentase sekitar 72,2%, sedangkan komponen kedua yaitu mewarnai berjumlah 12 anak dengan presentase 33,3%. Kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sangat perlu dikembangkan karena memiliki potensi lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan lainnya. Bila kemampuan motorik halusnya meningkat, memudahkan untuk melalui tahap perkembangan selanjutnya (Santrock, 2011).

Stimulasi motorik halus harus diberikan secara optimal karena akan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya seperti bahasa, kemampuan sosial dan kepercayaan diri (Yuniarti, 2015). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lisnawati, Shabib dan Wijayanegara (2014) terhadap 13 anak yang mengalami retardasi mental sedang di SDLB Aisyiyah Tasikmalaya, terdapat 7 anak mengalami peningkatan dalam pengembangan potensi kecerdasan setelah diberikan terapi bermain dengan peningkatan 43%.

Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktekkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, serta mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa. Dengan bermain, anak akan selalu mengenal dunia, mampu mengembangkan kematangan fisik, emosional dan mental sehingga akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas dan penuh inovatif (Hidayat, 2011).Perkembangan motorik halus lebih melibatkan tangan sebagai stimulus dalam melatih gerakan halusnya sehingga perlu adanya permainan secara mendidik. Jenis permainan yang dianjurkan adalah kertas lipat (origami), menggambar dan mewarnai, puzzle, teka-teki/tebak-tebakan, alat permainan musik, buku cerita, majalah dan game (Andriana, 2011). Maka salah satu alat permainan yang akan dipilih dalam penelitian ini adalah melipat (origami).

Origami merupakan seni melipat kertas yang berasal dari Jepang dengan menggunakan

media kertas atau kain berbentuk persegi empat. Origami ini dibuat dengan melibatkan teknik tangan yang sangat teliti sehingga menghasilkan nilai seni yang tinggi (Bachtiar, 2017). Pada dasarnya, origami merupakan salah satu upaya untuk meningkat motorik halus pada anak retardasi mental sedang dengan pertimbangan bahwa mudah dilakukan, bahan latihan mudah didapat, dan dapat dilakukan dimanapun. Origami mempunyai kelebihan dalam meningkatkan kinerja otot untuk melakukan gerakan halus yaitu ketepatan dalam memegang kertas dengan posisi benar, koordinasi antara mata dan tangan, melatih kekuatan dalan menekan lipatan kertas dan kelembutan dalam melakukan gerakan (Surmadiyah, 2012).

Penelitian yang dilakukan oleh Kusumastuti (2014) terhadap 25 anak di RA Al Ikhlas Semarang, bahwa anak mengalami peningkatan motorik halus setelah dilakukan intervensi permainan origami dengan pencapaian target sekitar 80%. Penelitian Yolanda (2016) membuktikan bahwa media origami dapat memberikan pengaruh pada kelenturan jemari dan kekuatan otot jemari tangan pada anak low vision di SDLB Negeri A Citeureup yang mengalami peningkatan 30%.

Sekolah Luar Biasa (SLB) BC Purnama Cipanas Kabupaten Cianjur merupakan salah satu institusi pendidikan yang menangani anak berkebutuhan khusus. Pada sekolah ini terapi bermain belum diterapkan sebagai stimulasi karena pembelajaran lebih mengarah pada pendidikan formal. Guru hanya memberikan tugas pada anak untuk dikerjakan dan apabila anak tidak bisa, guru bertindak untuk membimbing sampai anak itu bisa. Peran perawat sebagai fasilitator perlu mendukung dan mendorong anak untuk bermain sehingga terciptanya proses interaksi dan stimulus dalam tumbuh kembang anak. Perawat juga perlu mengobservasi setiap perubahan perilaku, memahami kebutuhan anak dan ikut serta dalam interaksi permainan agar hasil yang

(4)

didapat memberikan pengaruh pada proses perkembangan anak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Bermain Origami Terhadap

METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian adalah eksperimen pre experimental. Penelitian pre experimental digunakan untuk mengetahui efek perlakuan atau intervensi pada individu atau kelompok (Budiman, 2013). Penelitian ini menggunakan desain One Group Pretest Postest dilakukan untuk menguji perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen tanpa ada kelompok pembanding (kontrol) (Notoadmodjo, 2010).

Populasi dalam penelitian ini adalah anak retardasi mental sedang kelas III-VI di SLB BC Purnama berjumlah 15 responden. Tehnik pengambilan sampel Non Probability

Sampling dengan teknik Total sampling/Sampilng Jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sujarweni, 2014). Menurut Roscoe (1982, dalam Sugiyono, 2017), ukuran sampel untuk penelitian eksperimen yang sederhana berjumlah 10-20 orang. Sampel yang digunakan untuk penelitian ini berjumlah 15 responden. Instrumen penelitian ini menggunakan lembar observasi kemampuan motorik halus khusus anak retardasi mental yang diambil dari GPI (Geddes Psychomotor Inventory) (Delphie, 2012). Untuk terapi bermain origami menggunakan SOP (Standar Operasional Prosedur) (Yuniarti, 2015).

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasidengan melakukan pengamatan secara langsung untuk mencari adanya pengaruh terapi bermain origami terhadap kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sedang. Penelitian ini dilakukan sebanyak 1 kali pertemuan dengan durasi 30 menit selama 12 hari dan dilakukan test awal dan akhir sebanyak 1 kali pertemuan. Terapi bermain origami dilakukan dengan

Kemampuan Motorik Halus Pada Anak Retardasi Mental Sedang di SLB BC Purnama Cipanas Kabupaten Cianjur.

durasi yang sama dan dua kelompok yang sama tetapi sesi waktu yang berbeda. Semua anak yang dijadikan responden dibagi menjadi 2 kelompok kecil yaitu kelompok A terdiri dari kelas 3 dan 4 sebanyak 8 orang sedangkan kelompok B terdiri dari kelas 5 dan 6 sebanyak 7 orang. Setiap kelompok akan dilakukan terapi bermain origami dengan sesi waktu yang berbeda. Untuk kelompok A mendapatkan sesi pertama dan kelompok B mendapatkan sesi kedua. Terapi bermain origami dilaksanakan setelah jam pelajaran selesai. Peneliti dibantu oleh asisten untuk membimbing dan mengawasi anak saat terapi bermain origami berlangsung.

Pada hari ke-1 dilakukan penilaian perkembangan motorik halus pada semua anak retardasi mental sedang, hari ke-dua diberikan intervensi terapi bermain origami dengan bentuk gunung sebanyak 1 kali pertemuan dengan durasi 30 menit. Hari ke-3 diberikan terapi bermain origami yang kedua dengan bentuk kepala tani. Hari ke-4 terapi bermain origami dengan bentuk topi koki. Hari ke-5 terapi bermain origami yang keempat dengan bentuk perahu boat. Hari ke-6 terapi bermain origami yang kelima dengan bentuk rumah. Hari ke-7 terapi bermain origami yang keenam dengan bentuk kepala kucing. Hari ke-8 terapi bermain origami yang ketujuh dengan bentuk pohon cemara. Hari ke-9 terapi bermain origami yang kedelapan dengan bentuk amplop. Hari ke-10 terapi bermain origami yang kesembilan dengan bentuk figura matahari. Hari ke-11 terapi bermain origami yang kesepuluh dengan bentuk mahkota. Hari ke-12 terapi bermain origami dengan bentuk kincir. Hari ke-13 terapi bermain origami bentuk pesawat kertas. Pada hari ke-14,

PINLITAMAS 1 | Vol 1, No.1 | Oktober 2018 | Halaman 172

(5)

peneliti melakukan post test pada responden.

Seperti yang dilakukan pre test, post test ini tetap menggunakan lembar observasi kemampuan motorik halus dan dibantu 2 asisten untuk melakukan penilaian pada responden satu persatu dan tiap observer menilai 5 orang anak.

Analisa data untuk mengidentifikasi skor rata-rata kemampuan motorik halus pada anak

HASIL PENELITIAN

retardasi mental sedang sebelum dan sesudah dilakukan terapi bermain origami sehingga dapat dilihat apakah distribusi normal atau tidak. Peneliti melakukan uji normalitas dengan parameter Shapiro-Wilk karena sampel kurang dari 50. Setelah dilakukan uji normalitas, diketahui nilai Sig pre test adalah 0,435 dan post test adalah 0,622. Analisa bivariat menggunakan uji t Dependent.

Hasil penelitian menjelaskan terapi bermain origami terhadap kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sedang di SLB BC Purnama Cipanas Kabupaten Cianjur pada 15 responden dengan menggunakan analisa univariat dan bivariat

Skor Rata-Rata Kemampuan Motorik Halus Pada Anak Retardasi Mental Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Bermain Origami

Tabel 1.1 Distribusi Skor Rata-Rata Perkembangan Motorik Halus

Test N Mean Std Deviation Min Max

Pre Test 15 1,33 0,690 0,13 2,63

Post Test 15 2,24 0,740 1,13 3,75

Hasil penelitian tabel 1.1 didapatkan skor rata-rata kemampuan motorik halus anak retardasi mental sedang sebelum diberikan terapi bermain origami yaitu 1,33 dengan standar deviasi 0,690 dimana skor terendah adalah 0,13 dan tertinggi adalah. 1,13

Sedangkan nilai atau skor rata-rata kemampuan motorik halus anak retardasi mental sedang setelah diberikan terapi bermain origami yaitu 2,24 dengan standar deviasi 0,740 dimana skor terendah adalah 2,63 dan tertinggi adalah 3,75.

2. Pengaruh Terapi Bermain Origami Terhadap Kemampuan Motorik Halus

Tabel 2.2 Terapi Bermain Origami Terhadap Kemampuan Motorik Halus Test N Mean Std Deviation Std Error

CI 95% pvalue Mean

Pre Test 15 1,33 0,690 0,178 (-1,064)-

0,001 (-0,770)

Post Test 15 2,24 0,740 0,191

Hasil penelitian tabel 2.2 skor rata-rata kemampuan motorik halus anak retardasi mental sedang sebelum diberikan terapi bermain origami yaitu 1,33 sedangkan nilai atau skor rata-rata kemampuan motorik halus

anak retardasi mental sedang setelah diberikan terapi bermain origami yaitu 2,24. Diketahui selisih skor perkembangan motorik halus anak sebelum pemberian terapi bermain origami dengan setelah pemberian terapi bermain

(6)

origami adalah antara (-1,064) sampai dengan (-0,770).

Hasil uji statistik pvalue 0,001 ≤ α 0,05, dapat disimpulkan terdapat perbedaan skor rata-rata kemampuan motorik halus anak

PEMBAHASAN

Teori dari Davison, Neale dan Kring (2014) menjelaskan anak retardasi mental sedang memiliki fungsi intelektual (IQ) antara 35-40 hingga 50-55. Kerusakan otak dan berbagai patologi lain membuat anak retardasi mental sedang memiliki kelemahan fisik dan disfungsi neurologis yang menghambat keterampilan motorik halus seperti memegang dan mewarnai di dalam garis. Hal ini sesuai hasil penelitian Tabel 1.1 rata-rata kemampuan motorik halus anak retardasi mental sedang sebelum diberikan terapi bermain origami yaitu 1,33 dengan standar deviasi 0,690 dimana skor terendah adalah 0,13 dan tertinggi adalah 2,63. Setelah dilakukan pre test terhadap 15 responden dengan melibatkan 8 jenis kemampuan didapat hasil yang menunjukkan bahwa 53% anak tidak mampu melakukan dan 60% anak mampu melakukan dengan bantuan penuh sedangkan 86% anak mampu melakukan dengan mandiri hanya 1 jenis kemampuan yaitu mewarnai. Hal ini didasari bahwa setiap pembelajaran guru selalu memberikan tugas untuk mewarnai bidang tertentu bahkan pihak sekolah memberikan satu hari untuk melatih kemampuan motorik halus mereka melalui mewarnai.

Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian Ziliwu (2015) mengenai gambaran kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sedang bahwa anak hanya dapat mampu melakukan 1 jenis kemampuan dari 2 jenis kemampuan yang diujikan karena anak sudah terampil dalam jenis kemampuan tersebut dibanding dengan jenis kemampuan yang satu lagi. Hal ini dapat menyebabkan kemampuan motorik halus tidak berjalan secara optimal.

Berdasarkan hasil penelitian dapat

retardasi mental sedang sebelum dan setelah diberikan terapi bermain origami, sehingga terdapat pengaruh terapi bermain origami terhadap kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sedang.

disimpulkan bahwa 80% anak belum mampu menggambar tubuh manusia secara lengkap. Hal ini menunjukkan anak masih kesulitan dalam membentuk lengkungan ataupun garis yang menyatukan bagian satu dengan bagian lainnya.

Penelitian ini diperkuat pada penelitian Yulianti (2016) mengenai media Fondant dalam meningkatkan motorik halus dengan menulis bahwa anak masih kesulitan dalam menebalkan dan meneruskan garis sehingga hasil diperolehan 56% sebelum intervensi. Sedangkan 53% anak belum mampu meniru untaian manik- manik. Hal ini dapat ditinjau dari kemampuan dalam memahami suatu objek. Anak terlihat masih bingung dan saat memasukkan benang ke dalam butiran manik masih kesulitan. Penelitian ini diperkuat pada penelitian Muchlisah (2016) mengenai peningkatan kemampuan motorik halus dengan meronce manik-manik bahwa anak belum mengerti cara

memasukkan manik-manik sehingga pencapaian test awal sebanyak 41%.

Anak retardasi mental sedang memerlukan latihan yang menyangkut gerakan-gerakan jari tangan dengan maksud untuk latihan melemaskan urat-urat syaraf jari tangan (Fitrianita, 2016). Menurut Saputra dan Rudyanto (2005, dalam Andayani, 2012) tujuan perkembangan motorik halus anak yaitu mampu memfungsikan otot-otot kecil seperti gerakan jari tangan, mampu mengkoordinasi kecepatan tangan dengan mata, dan mampu mengendalikan emosi. Kemampuan motorik halus yang perlu dilatih oleh anak retardasi mental sedang adalah membangun bentuk, melipat, menggunting, menggambar dan sebagainya (Haryanto, 2011).

Hal ini sesuai

PINLITAMAS 1 | Vol 1, No.1 | Oktober 2018 | Halaman 174

(7)

dengan hasil post test ,didapatkan nilai atau skor rata-rata kemampuan motorik halus anak retardasi mental sedang setelah diberikan terapi bermain origami yaitu 2,24 dengan standar deviasi 0,740, dimana skor terendah adalah 1,13 dan tertinggi adalah 3,75. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan anak dalam menciptakan gerakan halus pada 8 jenis kemampuan mengalami peningkatan dibanding hasil pre test dengan penambahan 1-2 point. Peningkatan hasil post test didasarkan adanya stimulus yang merangsang anak untuk menggerakkan jari tangan dalam mengembangkan kemampuan motorik halus. Hasil post test yang diperoleh mengalami perubahan dimana pada pre test terdapat 53% anak tidak mampu melakukan menjadi 0% dan 60% anak mampu melakukan dengan bantuan penuh menjadi 40%. Tetapi masih 86% anak mampu melakukan dengan mandiri hanya 1 jenis kemampuan meskipun setelah dilakukan terapi bermain origami. Hal ini didasari bahwa anak cenderung mempelajari 1 jenis kemampuan dengan frekuensi sering dibanding dengan jenis kemampuan lainnya sehingga mereka sudah terampil dalam jenis kemampuan tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan terjadi perubahan dimana sekitar 80% anak belum mampu menggambar tubuh manusia secara lengkap setelah dilakukan post test maka sekitar 86% anak mampu melakukan meskipun bantuan penuh dengan peningkatan 1 point tetapi ada sekitar 6% tidak mengalami perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa sedikitnya stimulus yang didapat membuat sulit untuk menggerakkan pensil. Anak masih membutuhkan bimbingan dan latihan yang berulang kali untuk membuat goresan yang sesuai dengan aslinya. Dalam penelitian Yulianti (2016), setelah dilakukan terapi bermain dengan media Fondant, anak sudah mulai menggoreskan pensil meskipun hasil tulisannya tidak rapi. Hal ini dilakukan berulang kali tetapi perlahan dengan bimbingan sehingga mendapat hasil yang

diperoleh mencapai 65% dari hasil test awal yaitu 55%. Dalam jenis kemampuan meniru untaian manik-manik terjadi perubahan dimana 53% anak belum mampu pada pre test menjadi 60% anak mampu melakukan dengan bantuan penuh dengan peningkatan 1-2 point tetapi ada sekitar 20% tidak mengalami perubahan. Hal ini menunjukkan adanya penurunan fungsi intelektual yang membuat anak belum mengerti dalam memahami suatu objek sehingga masih sulit untuk memasukkan benang ke dalam butiran manik tetapi apabila dibimbing secara terus menerus maka anak akan sedikit menangkap hal yang diambil dari bimbingan tersebut.

Dalam mempelajari kemampuan motorik halus ada beberapa cara yaitu dengan belajar coba dan ralat, meniru dan latihan (Hurlock, 2012). Proses intervensi terapi bermain pada anak retardasi mental sedang dilakukan 1 kali pertemuan selama 12 hari dengan tema bentuk origami berbeda setiap harinya. Pada awal intervensi anak membutuhkan waktu 45 menit untuk menyelesaikan bentuk origami tetapi seiring dengan waktu dan latihan yang terus menerus dan berulang kali, anak dapat menyesuaikan pergerakan tangan secara perlahan sehingga pada hari terakhir, anak mampu menyelesaikan bentuk origami dalam waktu 15 menit meskipun bentuk origami tidak sempurna. Hal ini dapat menunjukkan proses motorik halus mengalami peningkatan.

Secara teori dari Soetjiningsih (2015), perkembangan motorik halus mencerminkan mielinisasi pada traktus kortikospinal, traktus piramidal dan traktus kortikobulbar. Traktus piramidal berasal dari kortek motorik dan premotorik, selanjutnya terhubung ke basal ganglia, melewati medula oblongata dan turun ke bagian lateral medula spinalis. Mielin sangat penting untuk kecepatan penghantaran rangsangan melalui sel syaraf. Mielinisasi terjadi dengan cepat pada usia kehamilan 32 minggu sampai anak berusia 2 tahun dan mengalami perlambatan sampai usia 12 tahun.

Proses tersebut menyebabkan penghambatan

(8)

sistem subkortikal, termasuk refleks primitif dan meningkatkan kontrol motorik halus. Kemajuan perkembangan motorik halus, khususnya ekstremitas atas, berlangsung ke arah proksimodistal, dimulai dari bahu menuju ke arah distal sampai jari. Kemampuan motorik halus dipengaruhi oleh matangnya fungsi visual yang akurat, dan kemampuan intelek non verbal.

Keterampilan motorik halus merupakan koordinasi halus pada otot-otot

kecil yang memainkan peran utama.

Pergerakan terampil merupakan proses yang kompleks. Variasi perkembangan mencerminkan kemauan dan kesempatan .

Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan pvalue 0,001 ≤ α 0,05, terdapat perbedaan skor rata-rata kemampuan motorik halus anak retardasi mental sebelum dan setelah diberikan terapi bermain origami, sehingga terdapat pengaruh terapi bermain origami terhadap kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sedang. Terapi permainan pada anak retardasi mental sedang merupakan terapi penyembuhan dengan menggunakan media berbagai macam bentuk permainan. Terapi permainan disusun hendaknya menunjang kegiatan yang berkaitan dengan psycomotor terutama kemampuan motorik halus (Delphie, 2006). Penggunaan media origami membantu orang yang mengalami kesulitan pada tangan dimana keterampilan motorik halus diperlukan. Origami memiliki kelebihan dalam melatih motorik halus yaitu meningkatkan kinerja otot-otot untuk melatih gerakan (Surmadiyah, 2012).

Hasil penelitian ini ditekankan pada penelitian Chalis dan Wijiastuti (2014) bahwa penggunaan seni origami dapat mengembangkan kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sedang setelah diberikan terapi bermain origami dan tampak ada perubahan yang lebih baik dari hasil pre test. Melalui hasil penelitian ini, rata-rata kemampuan anak pada hasil pre test didapat 38 sedangkan rata-rata kemampuan anak pada hasil post test didapat 57 sehingga terjadi

peningkatan 19 point dari selisih hasil kedua test tersebut. Melipat kertas atau origami membutuhkan ketepatan gerak jari tangan sehingga anak mampu melipat kertas dengan benar. Kegiatan melipat kertas atau origami memberikan dampak pada peningkatan kemampuan motorik halus terutama melatih gerakan otot-otot kecil. Hal ini dibuktikan pada penelitian Nuryuliani (2016) bahwa terdapat peningkatan kemampuan motorik halus dari pemberian intervensi dengan melipat kertas.

Hasil skor pada saat dilakukan test awal yaitu 41% sedangkan test akhir setelah dilakukan intervensi 58% sehingga terjadi peningkatan 17% dan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan motorik halus.

Anak retardasi mental sedang tergolong dalam kategori anak mampu dilatih yaitu anak yang mampu mengurus diri sendiri melalui aktivitas sesuai dengan kemampuannya (Efendi, 2009). Pada hari pertama dilakukan intervensi terapi bermain origami, anak terlihat antusias mengikuti terapi bermain origami tetapi anak masih lambat dalam melipat dasar dan membutuhkan waktu lama untuk menyatukan lipatan tersebut. Selain itu, penekanan dalam melipat dasar masih rendah karena kurang stimulus pada penekanan tersebut. Pada hari kedua sampai hari kelima anak mulai mengikuti instruksi dari peneliti dan mencoba sedikit untuk menyatukan bagian ujung satu ke ujung lain dan memulai penekanan pada lipatan secara perlahan dengan

berbagai bentuk meskipun tidak sempurna.Pada hari keenam anak sudah mampu menyatukan lipatan dasar dan penekanan sudah mulai cukup baik serta pembentukkan bentuk origami hampir sempurna hingga hari terakhir anak sudah mampu menggerakkan jari tangan untuk mengembangkan lipatan dasar menjadi sebuah bentuk origami sesuai dengan instruksi dari peneliti. Bagi anak dengan keterbatasan perkembangan tingkat sedang, hasil yang diperoleh dalam terapi permainan adalah agar mereka memiliki kemampuan seperti mereka

PINLITAMAS 1 | Vol 1, No.1 | Oktober 2018 | Halaman 176

(9)

yang ditingkatannya, tetapi lebih disederhanakan seperti memiliki koordinasi gerak yang baik, memiliki kemampuan motorik halus yang baik, memiliki kemampuan persepsi dari sensorimotor yang baik (Delphie, 2006). Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dikaji, ada sekitar 20%

anak mengalami perubahan yang signifikan pada rata-rata skor kemampuan motorik halus bahkan sekitar 6%

KESIMPULAN

Terjadi peningkatan setelah diberikan terapi bermain origami dengan ditunjukkan kemampuan motorik halus sebelum diberikan terapi bermain origami (pre test) adalah 1,33;setelah diberikan terapi bermain origami

SARAN

Bagi orang tua dan guru yang memfasilitasi peserta didik dengan anak retardasi mental sedang hendaknya

DAFTAR PUSTAKA

Amriliyanto, Ainun dan Ima KurrotunI Ainin (2013). Pembelajaran Chaining bermedia origami terhadap kemampuan motorik halus anak tunagrahita sedang.

Jurnal Pendidikan Khusus, 1(1), 1-8.

Andayani, Wijil Yuningtias. (2012).

Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Melipat Pada Siswa Kelompok A di TK IT Mekar Insani Suryodiningratan Yogyakarta,Tesis, Universitas Negeri Yogyakarta..

Andriana, Dian. (2011). Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain Pada Anak. Jakarta : Salemba Medika.

Arikunto, Suharsini. (2010). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.

anak mampu melakukan 7 jenis kemampuan secara mandiri. Berdasarkan teori Hurlock (2012), pada tahap awal mempelajari kemampuan motorik halus, gerakan tubuh masih janggal dan tidak terkoordinasi tetapi dengan berpraktek lebih banyak maka kemampuan akan lebih baik dan gerakan akan terkoordinasi dan berirama.

(post test) adalah 2,24 dan Terdapat pengaruh terapi bermain origami terhadap kemampuan motorik halus pada anak retardasi mental sedang (pvalue 0,001 ≤ α 0,05 dengan CI - 1,064 sampai -0,770.

memberikan perlakuan dan pengajaran keterampilan motorik halus dengan stimulasi salah satunya terapi bermain origami.

Bachtiar, Selamet. (2017). Bermain Origami.

Jakarta: Erlangga.

BPS. (2017). Kecamatan dalam Angka.

Cianjur: Badan Pusat Statistik Cianjur.

Budiman. (2013). Penelitian Kesehatan.

Bandung: Refika Aditama.

Chalis, Ulvan Chairul danAsti Wijiastuti (2014). Pengaruh Penggunaan Seni Origami Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Tunagrahita Sedang.Jurnal Pendidikan Khusus, 6 (6), 1-6.

Delphie, Bandi. (2006). Terapi permainan.

Bandung: Rizqi Press.

_____________.(2012). Pembelajaran Anak Tunagrahita. Bandung: Refika Aditama.

Dinas Sosial Kabupaten Cianjur. (2017). Data Penyandang Cacat di Kabupaten Cianjur.

(10)

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

(2017). Data Jumlah Siswa Tunagrahita di SLB Seluruh Provinsi Jawa Barat.

Efendi, Muhammad. (2009). Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan.

Jakarta: Bumi Aksara.

Efrina, Elsa. (2013). Assesman Anak Berkebutuhan Khusus. Padang:

Universitas Negeri Padang.

Faisal, Yusup. Nur. (2016). Pengaruh Kegiatan Origami Terhadap Kemampuan Motorik Halus Penderita Retardasi Mental Ringan, Semarang, Universitas Islam Sultan Agung .

Fitrianita, Daniati. (2016). Pengaruh Terapi Bermain Puzzle Terhadap Perkembangan Motorik Halus Pada Anak Retardasi Mental Sedang Di SLB C Budaya Bangsa Kopo Bandung, Skripsi, Cimahi, STIKES Jenderal Achmad Yani Cimahi.

Gunardi, Hartono., et al (2011). Kumpulan Tips Pediatri. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

Hapsari, Iriani Indri. (2016). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Indeks.

Haryanto. (2011). Pengantar Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta:

Universitas Negeri Yogyakarta.

Hidayat, A. Aziz Alimul. (2011). Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Hurlock, Elizabeth B. (2012). Perkembangan Anak 1. Jakarta: Erlangga.

________________. (2012). Perkembangan Anak 2. Jakarta: Erlangga.

James, Susan Rowen., Kristine Ann Nelson dan Jean Weiler Ashwill. (2013). Nursing Care Of Children: Principles and Pratice. United States of America:

Elseivier Health Science.

Kemenkes. (2011). Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Di Sekolah Luar Biasa Bagi

Petugas Kesehatan. Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI.

________. (2014). Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Di Sekolah Luar Biasa

Bagi Petugas Kesehatan. Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI.

________.(2014). InfoDatin Penyandang Disabliitas Pada Anak. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

________. (2014). Situasi Penyandang Disabilitas. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kemis danAtik Rosnawati. (2013). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tunagrahita.

Jakarta: Luxima Metro Media.

Kindsense. (2017). Fine Motor Skills. South Australia: Kid Sense Child Development.

Kusumastuti, Rully. (2014). Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia Dini

Melalui Kegiatan Origami Pada Anak Kelompok Roudlotul Athafal (RA) Al-Ikhlas

Semarang Barat, Tesis, Semarang, Universitas Negeri Semarang.

Kyle, Terry danSusan Carman. (2015). Buku Ajar Keperawatan Pediatri. Jakarta:

EGC.

Libal, Autumn. (2009). Namaku Bukan Si Lamban : Pemuda Penyanda Tunagrahita. Yogyakarta: Kompotensi Terapan Sinergi Pustaka.

Lisnawati, Lilis., M Nurhalim Shabib dan Hidayat Wijayanegara. (2014). Analisis Keberhasilan Terapi Bermain terhadap Perkembangan Potensi Kecerdasan Anak Retardasi Mental Sedang Usia 7–12 Tahun. Majalah Kedokteran Bandung, 46(2), 73-82.

Muchlisah, Anugerah. (2016). Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Meronce Manik-Manik Pada Anak Tunagrahita Sedang Kelas IV Di SLB Sumbersari Bandung. Tesis,

Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Muhammad, As'adi. (2010). Panduan Praktis Stimulasi Otak Anak. Yogyakarta: Diva Press.

PINLITAMAS 1 | Vol 1, No.1 | Oktober 2018 | Halaman 178

(11)

Mutaqqin, Arif. (2008). Asuhan Keperawatan Dengan Klien Gangguan Persyarafan.

Jakarta: Salemba Medika.

Nuryuliani, Lisa. (2016). Kegiatan Melipat Kertas Untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Tunagrahita Sedang Di SLB C Sumbersari Bandung. Tesis, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Oxford. (2010). Ensiklopedia Pelajar.

England: Oxford University Press.

Pieter, Heni Zan., Bethasaida Janiwarti danMarti Saragih. (2011). Pengantar Psikopatologi Untuk Keperawatan.

Jakarta: Kencana.

Rismalinda. (2017). Psikologi Kesehatan.

Jakarta: Trans Info Media.

Risman, Ricki. (2010). Burung dari Kertas.

Bandung: Tataletak Pustaka Prima.

Risnawati. (2017). Pengembangan Program Intervensi Keterampilan Motorik Halus Pada Anak Tunagrahita Sedang Kelas IV SDLB di YPLB Cipaganti Kota Bandung.

Tesis, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Riyadi, Sujono danSukarmin. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Anak. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Riyanto, Agus. (2010). Pengolahan dan Analisa Data Kesehatan. Yogyakarta:

Nuha Medika.

Robinson, Nick danSusan Behar. (2013).

Origami Untuk Sahabat. Solo: Tiga Ananda.

Santrock, John W. (2011). Masa Perkembangan Anak 1 Edisi 11. Jakarta:

Salemba Medika.

Schlender, Sheelley. (2013). Origami, Seni yang Menyembuhkan. Dipetik 5 Februari, 2018, dari VOA Indonesia:

www.voaindonesia.com /a/origami-seni- yang-menyembuhkan

Setyaningsih, Evi Dwi (2015). Pengembangan Kemampuan Motorik Halus Anak Dengan Retardasi Mental Ringan Melalui Skill

Play Therapy, Tesis, Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada.

Sharma, Shailja., et al (2016). Pravalence of Mental Retardation in Urban and Rural Populations of the Goiter Zone in Northwest India. Indian Journal of Public Health, 60(2), 131-136.

Smite, John. (2016). Health Benefits of Origami. Dipetik 5 Februari, 2018, dari Origami Resource Center: www.origami-

resource-center.com/health-benefits.html Soetjiningsih danIG. N. Gde Ranuh. (2015).

Tumbuh Kembang Anak Edisi 2. Jakarta : EGC.

Somantri, Sujihati. (2012). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Adiatama.

Sudrajat, Dodo dan Lilis Rosida. (2013).

Pendidikan Bina Diri Bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Luxima Metro Media.

Suenaga. (2016). Therapeutic Advantages of Origami. USA: Idaho Health Care Association.

Sujarweni, V. Wiratna. (2014). Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta:

Gava Media.

Sulistyaningsih, Yuni. (2010). Meningkatkan Gerak Motorik Halus pada Jari-Jari Tangan Melalui Keterampilan Kolase Siswa Tunagrahita Ringan Kelas II SLB C Shanti Yoga Klatem, Skripsi, Surakarta, Universitas Sebelas Maret.

Surmadiyah, Siti. (2012). Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Tunagrahita Sedang Melalui Origami di SLB Negeri 1 Sleman, Tesis Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta.

Suryani, Eko danAtik Badi'ah. (2017). Asuhan Keperawatan Anak Sehat dan Berkebutuhan Khusus. Klaten: Pustaka Baru Press.

Torres, Leyra. (2011). Health Benefits of Origami. Dipetik Februari 5, 2018, dari

Origami Spirit:

http://www.origamispirit.com/2011/01/he alth-benefits-of-origami.

(12)

Upton, Penney. (2012). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Wong, Donna L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Yolanda, Septy Dwi. (2015). Penerapan Keterampilan Origami Terhadap Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Low Vision di SDLB Negeri A Citeureup. Tesis, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Yulianti, Dewi. (2016). Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Dalam Menulis Permulaan Melalui Media Fondant Pada Anak Tunagrahita Sedang di SLB Purnama Asih. Tesis, Bandung:

Universitas Pendidikan Indonesia.

Yuniarti, Sri. (2015). Asuhan Tumbuh Kembang Neonatus Bayi-Balita dan Anak Pra-Sekolah. Bandung: Refika Adiatama.

Yusup, Ah., Rizky Fitryasari PK, dan Hanik Endang Nihayati. (2015). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta:

Salemba Medika.

Ziliwu, Dayana. (2015). Gambaran Motorik Halus Pada Anak Retardasi Mental dalam Bermain Di SLB C Karya Tulus Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang, Karya Tulis Ilmiah, Medan, STIKES Sumatera Utara.

Zsuzsanna, Krickskovis. (2014). Ornamen dari Berbagai Negara. Jakarta: Erlangga.

PINLITAMAS 1 | Vol 1, No.1 | Oktober 2018 | Halaman 180

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Setelah dilakukan tindakan Siklus II rata-rata kemampuan motorik halus anak meningkat 86% artinya kemampuan motorik halus anak berkembang sangat baik.Kesimpulan dari penelitian

Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bermain menggunting, menempel terhadap kemampuan motorik halus anak TK A Bustanul Athfal Aisyiyah Karangasem

Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bermain playdough terhadap kemampuan motorik halus anak di TK A Aisyiyah, Gonilan, Kartasura, Sukoharjo tahun pelajaran

Setelah dilakukan tindakan pada siklus I hasilnya pada kemampuan motorik halus melalui kegiatan meronce mengalami peningkatan yang dapat diilihat yaitu untuk kriteria sangat

Penanganan untuk anak autis dalam menangani perkembangan motorik halus menggunakan terapi bermain playdough agar merangsang saraf, otot-otot halus dan otak sehingga

Rekapitulasi dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan antara tingkat kemampuan motorik halus anak autis sebelum diberikan perlakuan dan sesudah diberikan perlakukan melalui

Hasil penelitian yang dapat dilihat pada tabel 6, kemampuan kecermatan motorik halus dalam meronce pada anak tunagrahita sesudah diberikan intervensi permainan edukatif

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa efektifitas terapi okupasi terhadap perkembangan motorik halus anak autis di SLB Khusus