PENGARUH TAREKAT TIJANIYAH TERHADAP INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT KAMPUNG BABAKAN PASIR AWI (Studi Kasus Di Majelis Pondok Pesantren Darul Falah, Sukaresmi
Kabupaten Garut)
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Anggraeni Salsabila 1201040017
JURUSAN TASAWUF DAN PSIKOTERAPI FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2023
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Zaman modern, adalah masa dimana kemudahan akses untuk mengetahui segala sesuatu dengan mudah. Seperti mudahnya berinteraksi dengan orang-orang tanpa harus bertemu juga mudahnya membaca berita tanpa harus membeli koran. Kemudahan mengakses dunia sosial pun menampilkan kehidupan sisi lain seperti kehidupan penuh dengan kemewahan ataupun kehidupan religius. Namun yang ditampilkan untuk dalam sebuah layar handpone bisa saja hanya untuk popularitas bahwa ia seorang manusia kaya atau manusia alim ahli agama.
Penulis buku The Art of Loving (1989) Erich Fromm di bukunya menjelaskan tentang orang-orang zaman modern mengalami kecenderungan adanya ketidakstabilan jiwa yang diakibatkan karena terisolasi nya cara bekerja dan cara berfikir. Dimana harus serba efesien, teratur, mekanis dan juga prediktibilitas. Akibatnya terbentuklah istilah
‘manusia baru’ yang memiliki watak seperti robot. Yablonsky menyebutnya dengan ‘Robopath’ dimana mereka dengan watak kejam, tidak berperasaan, dan adanya perilaku yang patuh pada otoritas, kering dari emosi, dan kepatuhan kaku atau yang disebut dengan ‘otomat’. (M.Solihin, 2004, p. 31) Manusia yang berhubungan kurang baik dengan sekitarnya mendapatkan beberapa masalah sosial diantaranya, ketidak mampuan bekerjasama dengan orang baru atau lingkungan baru. Dan ketika ada masalah dengan manusia lainnya merasa diri nya terisolasi atau bahkan menganggap dunia dan takdir Tuhan yang diberikan sangat penuh dengan penderitaan. Padahal Ibnu Atha’illah As-sakandari menuliskan di kitab karangannya ‘Al-Hikam’ di hikmah 24 pada bagian tiga :“selama kita hidup di dunia ini , jangan kalian heran terhadap adanya penderitaan- penderitaan yang ada, karena sesungguhnya penderitaan-penderitaan ini
tidak akan hadir karena merupakan watak dan sifat dunia ini.” (Athaillah, 2020, hal. 94-95).
Kondisi masyarakat modern saat ini kadang lebih mengutamakan kehidupan duniawi dibandingkan kehidupan akhirat. Selain itu, kemajuan teknologi dan globalisasi juga mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir manusia. Kesenangan dunia lebih banyak dicari dan ingin di dapatkan, namun melupakan nilai-nilai agama. Sehingga mereka sering di sebut dengan istilah ‘Si Ahli Dunia’. Karena terlalu fokus mencari kebahagiaan dunia sehingga lupa akan kewajiban sebagai hamba Tuhan. Dan jika kesenangan dan kebahagian tidak didapat terkadang muncul sifat menyalahkan Tuhan, hilangnya rasa syukur dan berputus asa. Bahkan terlalu fokus dengan kehidupan dunia ketika keberhasilan di dapatkan orang lain malah muncul nya rasa tidak senang dan ingin memiliki kebahagian orang lain.
Adapun sisi lain kehidupan terkadang manusia yang lebih fokus untuk dekat kepada Tuhan baik itu sendiri ataupun mengikuti organisasi agama atau Tarekat. Namun lupa membangun hubungan yang baik dengan makhluk Tuhan lainnya. Terlalu ambisuis demi kepentingan pribadi dan kelompok untuk mencapai surga Nya Allah. Tapi lupa dengan melakukan amalan perbuatan kebaikan terhadap lingkungan sekitar. Dan masyarakat agama yang religius itu merasa bahwa kelompok agama, organisasi agama ataupun tarekat yang di ikuti sebagai eklusifisme pribadi.
Sehingga menyebabkan beberapa pandangan masyarakat tentang kurangnya rasa empati terhadap saudara muslim lain karena terlihat mementingkan kelompok itu sendiri. Bahkan suatu hal yang tidak asing bagi mereka yang terlalu fanatik agama ialah mengurangi interaksi dengan sesama manusia atau yang berbeda. Apalagi tasawuf di masa dulu dan sekarang masih disinggung dengan sikap individualisme karena terlalu fokus pada kehidupan akhirat.
Padahal Allah SWT senantiasa memerintahkan agar kita selaku hambaNya banyak berbuat amal baik. Dan menuju surga nya pun jalan berupa melakukan banyak amal soleh dan berhubungan baik dengan manusia. Ustadz Adi Hidayat didalam dakwahnya pun menceritakan kisah seorang ibu pada zaman Rasulullah yang dilaporkan ia senantiasa rajin beribadah namun ia masuk neraka karena hubungan muamalah yang kurang baik terhadap tetangganya. (Hidayat, 2018)
Kehidupan yang terlalu mementingkan dunia pun tidak baik seolah- olah manusia tidak sadar ia diciptakan dan akan kembali. Tapi kehidupan yang terlalu mementingkan akhirat namun mengabaikan kewajiban dan hak-hak duniawi sehingga kurangnya rasa kepudulian terhadap keluarga atau sesama. Padahal dalam islam zakat menjadi salah satu dari lima rukun islam. Ini menunjukan bahwa aspek zakat ini adalah sebagai makna seorang muslim tentulah memberikah harta yang terbaiknya di jalan Allah SWT untuk membantu agama dan berinteraksi dengan sesama lewat memberikan sebagain hartanya kepada orang-orang yang telah di tentukan dalam Al- Quran sebagai penerima zakat.
Terlepas dari itu di Kabupaten Garut ada salah satu tarekat yang didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar al Tijani yaitu tarekat ‘Tijaniyah’. Para pengikut tarekat di tarekat Tijaniyah ini wajiblah melakukan talkin agar senantiasa menjadi jemaah yang disebut dengan ikhwan dan akhwat tarekat. Amalan tarekat yang diajarkan dalam tarekat Tijaniyah adalah zikir atau yang dikenal juga dengan wirid. Dan zikir tarekat Tijaniyah bisa dibilang sederhana dan mudah. Misalnya ada dua kegiatan amalan zikir yang dilakukan dua kali dalam sehari. Yaitu zikir Wazifah dan zikir Ladzimah. Lalu ada zikir yang dilakukan karena disunahkan berjemaah yaitu zikir Haylalah yang dilaksanakan pada waktu jum’at sore. (Pijiper, 1987).
Dan berdasarkan hasil obserasi dam wawancara salah satu majlis ajaran tarekat Tijaniyah yang berada di Majelis pondok pesantren Darul
Falah tarekat Tijaniyah ini senantiasa melakukan amalan yang bukan berpengaruh pada ketenangan jiwa saja. Namun juga membangun interaksi sosial para pengikut tarekat Tijaniyah sendiri lewat adanya ijtima dan pembinaan yang dilakukan oleh para Muqaddam dan Imam haylalah dan wadzifah Tarekat Tijaniyah. Ijtima yang dilakukan tarekat Tijaniyah di kabupaten Garut sedang mengadakan program pembinaan jemaah di sebuah majlis tarekat Tijaniyah yang berada di wilayah kabupaten Garut dengan peran muqaddam memberikan pembinaan ukhuwah kepada ikhwan dan akhwat juga para muhibbin. (Wawancara, 2023). Dan ajaran -ajaran yang di ajarkan dan bimbingan amalan-amalan yang ada pada tarekat Tijaniyah ini menarik untuk lebih di teliti secara jauh.
Lalu, kondisi masyarakat di kampung Babakan Pasir Awi yang penulis teliti sebagian dari mereka senantiasa rajin dan aktif mengikuti kegiatan tarekat Tijaniyah di Majelis Pondok pesantren Darul Falah.
Sedangkan sebagian lain memilih untuk tidak bertarekat namun mengikuti pengajian biasa yang tanpa di terbebani sunah kelompok seperti Tarekat Tijaniyah yang berada di majelis pondok pesantren Darul Falah tersebut.
Dari pemaparan diatas tersebut penyusun tertarik dan terdorong untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai pengaruh tarekat Tijaniyah majelis Darul Falah terhadap interaksi sosial di kampung Babakan Pasir Awi, kabupaten Garut. Oleh karena itu peniliti mendatkan judul
“Pengaruh Tarekat Tijaniyah terhadap Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Babakan Pasir Awi”.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas , maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan tarekat Tijaniyah ?
2. Sejauh mana pengaruh tarekat Tijaniyah dalam interaksi sosial masyarakat kampung Babakan Pasir Awi ?
C. Tujuan Penelitian
Dengan adanya rumusan masalah di atas , dapat diambil tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa itu tarekat Tijaniyah.
2. Untuk mengetahui pengaruh tarekat Tijaniyah dalam membentuk interaksi sosial masyarakat di kampung Babakan Pasir awi.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Berkaitan dengan pemaparan tujuan penelitian di atas, maka hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya :
1. Manfaat teoritis
Peneletian ini merupakan gabungan dari ranah bagian ilmu tasawuf dan psikoterapi. Dimana untuk dekat dengan sang pencipta dalam ilmu tasawuf ada salah satu jalan yaitu dengan ber tarekat. Selain dekat dengan sang pencipta manusia di tuntut untuk bisa hidup berdampingan dengan lingkungan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dedikasi bagi peneletian di bidang tasawuf dan psikoterapi. Khususnya untuk merealisasikan kajian teoritis tasawuf saat meneliti serta mengkaji pembahasan yang berkenaan dengan Tarekat Tijaniyah dan mengembangkan tentang pembahasan psikologi sosial di aspek berinteraksi dengan sesama manusia. Juga memberikan tambahan wawasan ilmu mengenai signifikasi orang – orang tarekat Tijaniyah yang memiliki dalam berinteraksi dengan masyarakat. Diharapkan juga penelitian ini memperluas adanya rujukan bacaan dan menjadi pembanding , pengimbang bagi literatur mahasiswa Fakultas Ushuluddin utamanya Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung. Mengenai adanya pengaruh tarekat Tijaniyah terhadap interaksi sosial.
2. Manfaat Praktis
Selain dari manfaat teoritis, ada juga manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi jemaah Tarekat Tijaniyah selama
mengamalkan amalan tarekat. Juga mengetahui proses dari pengaruh Tarekat Tijaniyah terhadap interaksi sosial. Serta memberikan pemahaman lebih mengenai jemaah dan umumnya bagi yang lain. Sehingga dapat dijadikan tuntunan dalam kondisi sosial. Baik itu berupa meningkatkan pemahaman diri atau kemampuan berinteraksi di kehidupan sehari-hari dengan adanya rutinitas amalan Tarekat Tijaniyah.
E. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian 1. Populasi, Sampel, dan Karakteristik Sampel
1) Populasi
Populasi menurut Sugiyono adalah wilayah generalisasi dan berisikan subyek atau obyek yang memiliki karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan untuk di pelajari dan diambil kesimpulan oleh peneliti (Sugiyono, 2013, p. 80). Dalam penelitian ini populasi Masyarakat yang mengikuti tarekat Tijaniyah ini berjumlah 70 orang.
2) Sampel menurut Sugiyono merupakan bagian dari besaran dan karakteristik yang dimiliki dalam populasi. Dan sampel ini dapat mewakili dari keseluruhan populasi (Sugiyono, 2013, p. 81).
Teknik yang digunakan menggunakan teknik slovin dengan rumus sebagai berikut:
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁(𝑒)2
Keterangan:
n = Jumlah responden N = Ukuran Populasi
e = Batas kesalahan yang di tolerasni, e = 10% atau0,01 jumlah populasi penilitian ini adalah 70 orang dengan menggunakan toleransi 10% atau 0,01. Perhitungan sampeladalah sebagai berikut:
𝑛 = 𝑁 1 + 𝑁(𝑒)2
𝑛 = 70
1 + 70(0,1)2
𝑛 = 70
1 + 70(0,01)2
𝑛 = 70 1 + 0,70
𝑛 = 70 1,70
𝑛
= 41,17~41 (𝑑𝑖𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 41 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛)
Dari teknik slovin yang digunakan, sampel yang diambil adalah 41 orang dari seluruh jumlah jemaah tarekat Tijaniyah. Sampel pun diambil menggunakan teknik simple random sampling dimana mengambil sampel secara acak dan tidak membedakan starata populasi yang dijadikan sampel (Sugiyono, 2013, p. 82).
3) Karakteristik Sampel
Kriteria sampel yaitu sebagai berikut:
a. Jemaah tarekat Tijaniyah majelis pondok pesantren Darul Falah, Sukaresmi kota Garut.
b. Laki-laki dan perempuan.
2. Variabel Penelitian 1) Variabel Bebas
Variabel ini disebut juga dengan variabel x. dan variabel ini adalah kemungkinan adanya akibat pada variabel yang lain. Tarekat Tijaniyah adalah variabel bebas di dalam penelitian ini.
2) Variabel Tak Bebas
Variabel tak bebas disebut juga dengan variabel Y. dan ini adalah variabel yang diakibatkan karena adanya perubahan dari variabel lain. Dan interaksi sosial menjadi variabel tak bebas dalam peneliian ini.
3. Lokasi Penelitian
Peneliti menentukan lokasi yang di ambil di Darul Falah Thoriqoh Tijaniyah yang berada di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut. Data – data yang diperlukan dan dibutuhkan berada di Darul Falah yang merupakan Pondok pesantren yang senantiasa mengadakan kegiatan majlis amalan Thoriqoh Tijaniyah di Kabupaten Garut.
F. Kerangka Berpikir
Tarekat dikenal dengan istilah ‘Thoriqoh’ yang memiliki arti jalan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia tarekat ialah sebuah jalan menuju kebenaran (KBBI, 2023). Menurut Abu Al-Wafa Al- Taftazani tarekat merupakan kumpulan orang-orang salik bersama guru nya atau bisa disebut syaikh, kumpulan ini membentuk sebuah kelompok yang memiliki aturan-aturan jelas dalam bertindak sosial serta senantiasa melakukan kumpulan untuk melaksanakan amalan seperti zikir yang membentuk sebuah majlis atau organisasi.
(Cantika, 2023).
Dan tarekat ini merupakan bagian dari jalan kelompok tasawuf sebagai usaha untuk dekat dengan Allah SWT yang
melibatkan adanya interaksi. Adapun pengertian tasawuf adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kata tasawuf dalam kitab al-Luma karya al-Sarraj al -Thusi ini berasal dari kata suf yang artinya pakaian berbulu domba. Dan tasawuf menurut Al-Kattani ialah moral dan ia berkata “siapa diantara kamu yang makin kuat dalam bermoral (tasawuf) tentulah jiwa yang berada dalam dirinya semakin bersih.”. (al- Taftazani, 1985).
Menurut Robert Frager dalam tasawuf memiliki keseimbangan ibadah dan interaksi yang sehat dan menyehatkan itu sama pentingnya dengan memiliki kesehatan jasmani dan kesehatan spiritual. Bertujuan untuk memiliki rasa sifat tidak terikatnya terhadap dunia tapi hidup dengan sepenuhnya di dunia. (Frager, 2023).
Maka terbentuklah spiritualitas yang baik dengan terbentuknya kebiasaan seorang salik mendekatkan diri kepada Tuhannya. Dan tasawuf menjadi salah satu dari berbagai jalan untuk dekat kepada Sang Pencipta. Lewat tasawuf manusia mencintai Tuhannya secara ikhlas, membebaskan diri dari sifat individualis dan meninggalkan akhlak yang tidak baik menggantinya menjadi kebaikan yang terbentuk menjadi karakter. (Kamba, 2020)
Dengan jalan kelompok tarekat inilah para salik akan melakukan kegiatan seperti zikir bersama. Maka, dari kegiatan zikir bersama tersebut timbulah interaksi antar anggota, seperti saling mengajarkan juga menyemangati. Selain itu syekh atau pemimpin tarekat senantiasa membimbing salik baru. Sehingga dari kebiasaan terbentuklah dan terbina kebiasaan melayani, dan lebih khusyuk ketika berzikir kepada Tuhan. Juga tumbuhnya persahabatan yang didasari rasa cinta terhadap Tuhan tanpa mengharapkan apa-apa dan niat buruk. (Fahad, 2023)
Tarekat Tijaniyah merupakan salah satu tarekat yang didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar.
Amalan tarekat yang diajarkan dalam tarekat Tijaniyah diantaranya adalah pembinaan, ijtima dan zikir atau yang dikenal juga dengan wirid. Dan zikir tarekat Tijaniyah bisa dibilang sederhana dan mudah. Misalnya ada dua kegiatan amalan zikir yang dilakukan dua kali dalam sehari. Yaitu zikir Wazifah dan zikir Ladzimah. Lalu ada zikir yang dilakukan karena disunahkan berjemaah yaitu zikir Haylalah yang dilaksanakan pada waktu jum’at sore. (Pijiper, 1987).
Sisi lain kehidupan pun tak luput dari sifat manusia yang terkadang lebih fokus untuk dekat kepada Tuhan. Namun lupa membangun interaksi yang baik dengan sesama. Padahal hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu manusia bisa saja mempengaruhi atau dipengaruhi oleh orang lain atau lingkungan. Baik itu membawa kepada hal yang baik atau bahkan pada yang buruk. (Mulyadi, raharjo, Asmarany, &
Pranandary, 2016).
Sehingga ketika manusia menjadi sebagai makhluk sosial pasti ada yang namanya interaksi sosial. Interaksi sosial ini berasal dari dua kata. Yaitu interaksi berarti hubungan timbal balik dan sosial berarti adanya sifat kemasyarakatan. Dan menurut Soekanto (2018) interaksi sosial adalah sebuah pergaulan bermanfaat yang didalamnya terjadi hubungan antara individu satu dengan individu lain atau hubungan individu dengan kelompok untuk memahami apa yang seharusnya dilakukan individu dalam berhubungan sosial.
(Psikologi, 2023).
Dalam berinteraksi sosial pasti seorang individu yang berada dalam lingkungan nya berinteraksi dengan yang namanya masyarakat. Masyarakat ini menurut Koentjaraningrat adalah suatu
kepaduan hidup manusia yang melakukan interaksi sesuai dengan adat istiadat tertentu atau suatu sistem yang berkesinambungan dan terjalin dengan rasa identitas yang sama. (Sudariyanto, 2019).
Teori Gillin dan Gillin pun menjelaskan bahwa yang namanya interaksi sosial adalah hubungan yang berkaitan antara individu, antara individu dengan kelompok, dan juga antara sesama kelompok yang memiliki sifat dinamis. Jenis dari interaksi sosial ini di bagi dua yaitu:
a. Proses Disosiatif
Dalam proses ini interaksi yang dilakukan dalam masyarakat yaitu tidak adanya keharmonisan dan kebanyakan penuh dengan pertikaian dan penolakan. Sehingga terjadinya interaksi yang dilakukan seperti adanya pertentanan, dan rasa persaingan.
b. Proses Sosial Asosiatif
Proses ini adalah kebalikan dari proses disosiatif.
Karena keadaan interaksi masyarakat harmonis dan senantisa melakukan Kerjasama. Maka proses ini pun sering disebut juga dengan proses integrative atau konjungtif. Dalam proses sosial asosiatif ini ada empat macam bentuk interaksi soial:
tercapainya tujuan bersama dengan adanya melakukan kerjasama, menciptakan keseimbangan dengan akomodasi, adanya usaha untuk menurunkan nilai rasa perbedaan dengan asimilasi, dan menerima hal-hal baru dari luar dengan akulturasi. (Bahri & Lestari, 2020).
Dari pemaparan diatas dapat dipahami bahwa interaksi sosial di masyarakat memiliki dua jenis proses, yaitu adanya proses disosiatif dimana interaksi antara individu atau kelompok (masyarakat) mengalami persaingan, pertentangan dan tidak
harmonis. Kemudian, interaksi antar individu atau kelompok (masyarakat) bisa saja mencapai yang namanya proses sosial asosiatif dimana terciptanya keharmonisan yang seimbang melalui adanya empat bentuk interaksi. Sehingga hubungan sosial dilakukan dengan interaksi positif yang bernilaikan kebaikan- kebaikan. Masyarakat yang mengikuti tarekat Tijaniyah bisa saja melakukan interaksi sosial melewati proses asosiatif atau proses disosiatif.
Gambar 1.1 Kerangka Berpikir
G. Hipotesis
Dalam peneletian menggunakan metodologi kuantitatif maka ada hipotesis. Hipotesis ialah pernyataan sementara atau dugaan karena sifatnya yang masih lemah. Maka penulisan untuk
Jemaah Tarekat Tijaniyah Pondok Pesantren Darul Falah
Kota Garut
Permasalahan interaksi sosial di masyarakat kp. Babakan pasir Awi
Tarekat Tijaniyah Interaksi sosial yang baik
menunjukan hipotesis diawali dengan kata ‘diduga’. (Sarmanu, 2017). Pada bagian hipotesis penelitian ada dua jenis variabel yaitu variabel bebas (x) dan variabel tak bebas (y) masuk dalam hipotesis alternatif yang memiliki keterkaitan sedangkan ada hipotesis yang tidak memiliki hubungan yaitu hipotesis nol dimana variabel (x) dan variabel (y) tidak ada kaitan. (Sugiyono, 2013). Dan ada dua kesimpulan dari hipotesis yang diujikan ialah diterima atau ditolak.
Oleh karenanya, penyusun menyatakan pengajuan hipotesis yaitu : “terdapatnya pengaruh yang signifikan tarekat tijaniyah terhadap interaksi sosial pada jemaah tarekat Tijaniyah Pondok Pesantren Darul Falah Sukaresmi, Garut.
Gambar 1.2 Variabel Penelitian
H. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan dan Metode Penelitian
Menurut Dimas Agung Trisliatanto dalam bukunya bahwa pendekatan ilmiah ialah pendekatan yang dilakukan dengan tersusun dan menggunakan cara-cara tertentu untuk mencapai pengetahuan yang benar (Trisiliatanto, 2020). Pendekatan yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif ini adalah penelitian ilmiah yang tersusun atau terorganisasi terhadap bagian-bagian dan fakta dengan sebab akibat dari kaitannya. Penelitian kuantitatif ini diartikan juga
Tarekat Tijaniyah
(x)
Interaksi Sosial (Y)
sebagai penelitian data yang tersusun terhadap fakta dengan mengumpulkan data-data yang dapat diperhitungkan dengan teknik matematika, statistika ataupun komputasi. Metode deskriptif ini adalah salah satu jenis dari berbagai metode penelitian kuantitatif.
Dan bertujuan untuk menggambarkan fakta secara metodis dan tersusun sesuai dengan karakteristik dari populasi tertentu atau sejenisnya dengan cara benar dan teliti. (Abullah, et al., 2021).
2. Jenis Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan penyusun ialah data kuantitatif yang dinyatakan dalam bentuk bilangan. Data kuantitatif juga lebih mudah dipahami daripada data kualitatif. (Bungin, 2005).
Sumber data merupakan hal yang penting sebagai bentuk penunjang penelitian yang sedang dilakukan. Sumber data dalam penelitian diartikan sebagai pokok utama dari data yang didapatkan (Rosyidah & Fijra, 2021). Klasifikasi dan pengumpulan sumber data terbagi menjaddi dua. Yaitu data primer dan data sekunder. Data primer ini adalah data yang didapatkan secara langsung dan merupakan data yang diperoleh dari pihak asli atau pertama. Baik itu perorangan atau kelompok seperti Yayasan, pondok pesantren dan lembaga lainnya. Sedangkan data sekunder ini lebih mudah untuk didapatkan karena diperoleh dari sumber lain dan telah ada seperi biro statistik, lembaga pemerintahan, organisasi atau perpustakaan. (Abullah, et al., 2021).
a. Sumber data Primer
1) Muqaddam Tarekat Tijaniyyah dan yang mewakilinya 2) Imam Wadzifah dan Haylalah Tijaniyah
3) Jemaah Tarekat Tijaniyah b. Sumber data Sekunder
Data sekunder didapatkan dari buku-buku, artikel ilmiah,
jurnal imiah dan hasil penelitian lainnya yang berkaitan dengan penelitian yang akan disusun yaitu mengenai Populasi dan Sampel.
Populasi yang di ambil adalah masyarakat majlis Darul falah yang mengikuti tarekat Tijaniyah kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut.
3. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi
Menurut Sugiyono observasi adalah sebuah metode peneltian yang melihat tentang kondisi dan keadaan peneletian yang dilakukan. (Salma, 2023). Maka dari itu, penyusun melakukan observasi kepadaa Jemaah Tarekat Tijaniyah dan masyarakat Kp. Babakan Pasir awi untuk melihat bagaimana situasi kegiatan, keadaan Jemaah dan kondisi Jemaah tarekat Tijaniyah di Pondok Pesantren Darul Falah,Sukaresmi Kabupaten Garut.
b. Wawancara
Wawancara merupakan suatu proses untuk mendapatkan data melalui tanya jawab dengan saling bertatapnya wajah pewawancara dan orang yang menjadi narasumber. (Bungin, 2005). Wawancara yang dilaksanakan penyusun dilakukan secara terstruktur, dimana mewawancarai beberapa orang yang tarekat Tijaniyah dan masyarakat Kp. Babakan Pasir Awi bagaimana dalam interaksi menjadi narasumber. Sebelumnya penyusun menyiapkan pertanyaan yang akan diajukan. Hal ini untuk mendapatkan data tentang tarekat Tijaniyah, kegiatan tarekat Tijaniyah dan juga amalan-amalan yang di kerjakan.
c. Angket
Metode angket atau kata lainnya disebut dengan metode kusioner adalah sebuah cara untuk mendapatkan data melalui
jawaban dari responden yang telah mengisi jawaban dari daftar pertanyaan yang telah disusun. Angket yang digunakan penyusun ialah angket langsung tertutup yaitu untuk mendapatkan data mengenai kondisi yang hanya dialami responden sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan yang telah terstruktur. (Bungin, 2005, p. 133).
Melalui angket ini penyusun menjadikan nya sebagai data pendukung dan utama dalam teknik mengumpulkan data melalui daftar pertanyaan mengenai pengaruh Tarekat Tijaniyah kepada interaksi sosial responden. Dengan menggunakan skala pengukuran likert yang disajikan melalui pernyataan favorable dan unfaforable. Yang mempunyai tingkatan dari sangat positif dan sangat tidak positif. Dan ada empat jawaban untuk menjawab aspek pengaruh tarekat Tijaniyah dan aspek interaksi sosial.
Tabel 1.3 Skor Nilai Setiap Pernyataan No Alternatif Jawaban Skor Nilai
1 Sangat Setuju (SS) 4 1
2 Setuju(S) 3 2
3 Tidak Setuju(TS) 2 3
4 Sangat Tidak
Setuju(STS)
1 4
4. Teknik Analisis Data
Setelah data analisis terkumpulkan, penyusun akan mengolah data dan menganlisis menggunakan statistik. Yaitu menggunakan aplikasi software statitisk SPSS (Statistical Program For Social Science). Dan metode yang digunakan
untuk menganalisis data tersebut dilakukan dengan berbagai tahapan sebagai berikut.
a. Uji Instrumen
1) Uji Validitas
Uji validitas menggunakan aplikasi software SPSS for Windows.
Karena adanya alat ukur untuk mendapatkan data maka itu adalah instrumen yang valid. (Sugiyono, 2013). Dan data akan diuji dengan menggunakan teknik uji corrected item total colleration.
Keterangan :
r = Koefisien korelasi X = Jumlah dari skor item
Y = Jumlah skor dari total instrumen n = Jumlah seluruh sampel
Dari rumusan yang dibuat dapat memiliki dua kesimpulan dari keputusan dengan membandingkan nilai rhitung dan rrariabel, sebagai berikut :
rhitung lebih besar dari rtabel, maka dinyatakan valid rhitung lebih kecil dari rtabel, maka dinyatakan tidak valid 2) Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas ini untuk menguji menggunakan teknik tertentu dan menganalisis kesesuaian bagian-bagian dari instrumen. (Sugiyono, 2013, p. 130). Penelitian ini menggunakan metode alpha Cronbach karena intrumen menggunakan angket atau soal uraian. Dan signifikasi yang digunakan ialah uji signifikasi taraf a = 0,5 Dan pengukuran pada satu variabel dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
rac = Koefisien dari realibilitas alpha Cronbach N = Jumlah dari item pertanyaan
∑ 𝜎b2 = Jumlah varians dari tiap item pertanyaan 𝜎t2 = Jumlah Varians
Penjelasan pada tingkat realibilitas sebagai berikut : a) Intsrumen reliabel jika nilai rac > 0,5
b) Instrumen memiliki tingkatan yang reliabilitas jika tinggi dan nilai dari rac > 0,6
c) Bagus dan jeleknya instrumen bisa di pertimbangkan dengan melihat dari nilai rac > rtabel dan nilai n = 10 , taraf signifikasi α = 0,05.
b. Uji Asumsi 1) Uji Normalitas
Uji normalitas ini digunakan untuk mencari tahu apakah data sampel yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak.
(Octavia, 2017). Dan teknik yang digunakan untuk mengetahui normalitas ialah menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov yaitu dengan rumus sebagai berikut :
𝐷hitung = 𝑀𝑎𝑘𝑠|𝐹(𝑥) − 𝑆(𝑥)|
Dan kesimpulan dari hasil kriteria uji adalah : Jika 𝐷hitung < 𝐷tabel Maka H0 diterima.
Jika 𝐷hitung ≥ 𝐷tabel Maka H0 tidak diterima.
c. Uji Hipotesis
Dilakukannya uji hipotesis dalam penelitian ini untuk mendapatkan data dengan hasil yang akurat dan tepat. Sehingga penyusun melakukan uji dengan teknik koefesien korelasi. Dimana
untuk melihat apakah satu variabel bebas ini ada hubungan pada variabel terikat. Dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
rxy = Koefesien korelasi x = Variabel X
y = Variabel Y
Yn = Jumlah dari hasil data x dan y
I. Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu di gunakan menjadi acuan dan dasar dari penelitian. Juga sebagai sumber data untuk melihat koherensi dengan karya ilmiah dan penelitian yang akan di lakukan. Selain itu penelitian terdahulu menjadi pendukung dari penelitian yang akan dibahas. (Arief, 2010). Dan peneliti mengambil beberapa hasil penelitian terdahulu untuk dijadikan dasar dan acuan yang berkaitan juga penguat dari pembahasan penelitian
Tujuan dari hasil penelitian adalah untuk menunjukan pembenaran atas penelitian yang dilakukan,untuk melihat juga ketidaksamaan dari bacaan dan ilmu pnegetahuan dalam penelitian.
Dan juga bermaksud memperluas ilmu pengetahuan dalam memperdalam subjek dan objek penelitian yang akan dibahas. (Bungin, 2005) Lalu ada beberapa penelitian terdahulu yang banyak berkaitan dengan tarekat Tijaniyah dan interaksi sosial yang dijadikan peneliti sebagai dasar , acuan dan juga peninjauan dalam penelitian yang akan dilaksanakan berikutnya yaitu diantaranya :
a. Artikel Jurnal yang di susun oleh Ratna dewi dari IAIN Bangka Belitung tahun 2021 dengan judul “Kontribusi Tarekat Tijaniyah
Terhadap Perubahan Prilaku Sosial Jama’ah Masyarakat Di Desa Payabenua”. Penelitian pada jurnal ini menggunakan kajian literatur dan metode wawancara kepada ustadz dan guru yang berada di Desa Payabenua. Hasil dari artikel penelitian jurnal ini adalah adanya kontribusi dari tarekat Tijaniyah kepada pribadi jam’ah Masyarakat yaitu adanya nilai menanamkan keimanan dan menghasilkan ketakwaan kepada Jama’ah, juga perasaan Ikhlas dalam berzikir kepada Allah SWT. Dan pengaruh juga kontribusi terhadap sosial dalam pengajaran tarekat Tijaniyah yang diberikan sangat luar biasa. Mulai dari berhubungan baik dengan sesama manusia seperti gotong royong dan bershalawat bersama – sama. Juga diajarkan untuk saling menyayangi terhadap makhluk ciptaan Allah yang lain seperti hewan dan tumbuhan. Dengan tidak menganiyaya atau membunuh hewan tanpa alasan yang logis. Dan menjaga tumbuhan dengan sebaik mungkin seperti tidak sembarangan mencabut tumbuhan yang hidup.
(Dewi, 2021). Persamaan dengan penelitian yang di lakukan adalah membahas Tarekat Tijaniyah dan berperilaku sosial menjadi salah satu kegiatan dalam bentuk adanya interaksi sosial. Perbedaan dengan artikel penelitian diantaranya pembahasan yang cukup luas mengenai tarekat dan objek dari tarekat lebih kepada bidang sosial kepada seluruh makhluk Allah. Metode penelitian yang dilakukan , dan teknik penganalisisan data yang digunakan pun berbeda. Sedangkan penelitian yang akan dikaji peneliti lebih pada pengaruh tarekat ini pada interaksi sosial jemaah kepada masyarakat.
b. Artikel jurnal yang disusun oleh Siti Fathonah, Agus Setyawan, dan Khofidoh dengan judul ‘Pengaruh Ajaran tarekat Qadiriyah wa naqsabandiyah Terhadap Perilaku Sosial Masyarakat Dukuh Pilang Desa Tulung Kecamatan Sampung”. Kesimpulan dari artikel jurnal ini menemukan banyaknya pengaruh pada kehidupan pribadi dan sosial.
Dalam kehidupan pribadi seperti ibadah yang lebih tenang dan kehidupan sosial bermasyarakat yang mengajarkan etika dan adab dalam
menata kondisi emosional. Persamaan artikel dengan proposal yang akan diteliti adalah sama-sama membahas pengaruh dari ajaran tarekat kepada kehidupan sosial. Perbedeaan artikel dengan proposal peneliti adalah metode yang digunakan artikel ini metode kualitatif dengan pendekatan deksriptif. Sedangkan peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan adanya studi kasus (Fathonah, Setyawan, & Khofidoh, 2023).
c. Artikel jurnal yang disusun oleh Ahmad Syaifullah dan Khoirul Anwar dengan judul ‘Peran Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Terhadap pemahaman dan Keagamaan dan Kesadaran Sosial di Dusun Panyeretan Desa Sidamukti Kecamatan Patimuan Kabupaten Cilacap’. Kesimpulan dari artikel ini ialah peran yang dilakukan TQN memberikan pemahaman terhadap ibadah yang maghdah dan ghoir maghdoh. Juga adanya pemahaman saling menghormati, menjaga tali silaturahmi dengan baik antara jemaah dan masyarakat. Juga terhadap gotong royong masyarakat di ruang lingkup jamaah yang mengikuti TQN. Persamaan dengan penelitian yang diteliti adalh pengaruh daripada tarekat kepada kehidupan sosial sedangkan perbedaannya adalah artikel jurnal ini lebih mendalam dan luas sedangkan peneliti hanya aspek interaksi. Metode yang digunakan pada artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan peniliti menggunakan metode kuantitatif.
Daftar Pustaka
Abullah, K., Jannah, M., Aiman, U., Hasa, S., Fadilla, Z., Taqwin, . . . Sari, M. E.
(2021). Metodelogi Penelitian Kuantitatif. Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini .
al-Taftazani, A. a.-W.-g. (1985). Sufi dari zaman ke zaman . Bandung: Pustaka.
Arief, M. (2010). Analisis Kompetensi. Universitas Indonesia Library.
Athaillah, I. (2020). Al Hikam Ibnu Athaillah ( Hilman Hidayatullah S),Terjemahan). Jakarta Selatan: PT.Qaf Media Kreativa.
Bahri, S., & Lestari, E. T. (2020). PATTERNS OF SOCIAL RELATIONS BETWEEN ETHNICS TO MAKE SOCIAL INTEGRATION OF HISTORICAL EDUCATION STUDENTS OF THE PGRI IKIP OF PONTIANAK. Santhet ( Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora.
Bungin, B. (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana Pernada Media Group.
Cantika, Y. (2023, Desember 17). Gramedia Blog. Diambil kembali dari Gramedia.com: https://www.gramedia.com/literasi/tarekat/
Dewi, R. (2021). Kontribusi Tarekat Tijaniyah Terhaap Perubahan Perilaku Sosial Jama'ah Masyarakat Di Desa Payabenua. Scienta:Jurnal Hasil Penelitian Vol.6,Nomor 1,Juni 2021.
Fahad, R. (2023, Oktober Senin). Kegiatan amalan Tarekat Tijaniyah dan pengaruh kepada kehidupan . (A. Salsabila, Pewawancara)
Fathonah, S., Setyawan, A., & Khofidoh. (2023). Pengaruh Ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Terhadap Perilaku Sosial Masyarakat Dukuh Pilang Desa Tulung Kecamatan Sampung. Journal Of Community Development and Disaster Managment.
Frager, R. (2023). Sufi Psychology. Jakarta Selatan: PT.Qaf Media Kreativa.
Hidayat, A. (2018). Rajin Ibadah Tapi Buruk Dalam Bersosial.
Kamba, D. N. (2020). Mencintai Allah Secara Merdeka. Tanggerang Selatan:
Pustaka Iman.
KBBI. (2023, Desember 19). KBBI IV Daring. Diambil kembali dari Badan
Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/tarekat
M.Solihin. (2004). Terapi Sufistik. Bandung: Pustaka Setia.
Marzuki M, A. (2009). Prinsip Dasar Akhlak Mulia, Pengantar Studi Konsep - konsep Dasar Etika dalam Islam. Yogyakarta: Debut Wahana Press.
Mulyadi, S., raharjo, W., Asmarany, A. I., & Pranandary, K. (2016). Psikologi Sosial. Jakarta: Gunadarma.
Octavia, V. (2017). Metode Statistika Untuk Penelitian. Bandung.
Pijiper, G. (1987). Fragmenta Islamica Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam Di Indonesia Awal Abad XX. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Psikologi, U. (2023, Desember 18). Universitas Psikologi. Diambil kembali dari
Universitas Psikologi:
https://www.universitaspsikologi.com/2020/12/teori-interaksi-sosial- menurut-para-ahli.html
Rochmat, A. M. (2023, Desember 18). nuonline. Diambil kembali dari nu.or.id:
https://nu.or.id/nasional/mengapa-orang-bertasawuf-juga-harus-bertarekat- CBUaL
Rosyidah, M., & Fijra, R. (2021). Metode Penelitian. Sleman: Deepublish.
Salma. (2023). Observasi : Pengertian, Jenis, Tujuan, Ciri, dan Manfaatnya.
Deepublish.
Sarmanu. (2017). Dasar Metodologi penelitian Kuantitatif,Kualitatif & Statistika.
Surabaya: Airlangga University Press.
Sudariyanto. (2019). Interaksi Sosial . Jawa Tengah : ALPRIN.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
CV ALFABETA.
Suhariswi. (2022). Pengembangan Interaksi Sosial Anak Autis di Sekolah Dasar Kelas Awal. CV. Azka Pustaka.
Trisiliatanto, D. A. (2020). Metodologi Penelitian panduan Lengkap Penelitian Dengan Mudah. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Wawancara. (2023, Oktober 30). Ajaran tarekat Tijaniyah. (F. Syaibani, Pewawancara)