PENGARUH ZIKIR HAYLALAH TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL JEMAAH TAREKAT TIJANIYAH
(Studi Kasus Di Majelis Pondok Pesantren Darul Falah, Sukaresmi Kabupaten Garut)
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Anggraeni Salsabila (1201040017)
JURUSAN TASAWUF DAN PSIKOTERAPI FAKULTAS USHULUDDIN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG
DJATI BANDUNG 2023
2 BAB 1
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Zaman modern, adalah masa dimana kemudahan akses untuk mengetahui segala sesuatu dengan mudah. Seperti mudahnya berinteraksi dengan orang-orang tanpa harus bertemu juga mudahnya membaca berita tanpa harus membeli koran. Kemudahan mengakses dunia sosial pun menunjukkan beberapa sisi lain seperti kehidupan penuh dengan kemewahan. Sehingga kemewahan dan kekayaan di dunia menjadi patokan kebahagian dan menjadi keinginan kebanyakan orang. Kemajuan zaman sekarang ini menjadi bukti bahwa manusia mengalami perkembangan dan perubahan. Namun kenyataannya jika melihat sisi lain zaman modern dengan kemajuan dan kecerdasan teknologi yang canggih, masih banyaknya manusia memiliki kualitas rendah dan kemunduran berfikir.
Yang dimana harusnya dengan dukungan kemajuan dan kecerdasan teknologi modern mestinya berfikir logis, bijak dan mampu meningkatkan kualitas kehidupannya. (Anwar, 2014, p. 1).
Penulis buku The Art of Loving (1989) Erich Fromm di bukunya menjelaskan tentang orang-orang zaman modern mengalami kecenderungan adanya ketidakstabilan jiwa yang diakibatkan karena terisolasi nya cara bekerja dan cara berfikir. Dimana harus serba efesien , teratur , mekanis dan juga prediktibilitas. Akibatnya terbentuklah istilah
‘manusia baru’ yang memiliki watak seperti robot. Yablonsky menyebutnya dengan ‘Robopath’ dimana mereka dengan watak kejam, tidak berperasaan , dan adanya perilaku yang patuh pada otoritas , kering dari emosi , dan kepatuhan kaku atau yang disebut dengan ‘otomat’. (M.Solihin, 2004, p. 31) Jika melihat sisi lain zaman ini, makin banyak nya kasus-kasus kejahatan karena emosi tidak terkontrol seperti bunuh diri karena rasa sedih, kecewa dan keterputusasaan sebagai manusia saat menjalani takdir
3 kehidupan atau marah yang disebabkan kesalah pahaman terhadap sebuah persoalan kehidupan sosial yang bersifat sepele. Penelitian yang dilakukan oleh Sarah Rahmawati pada studi kasus anak sekolah dasar menunjukkan hasil yang memprihatinkan dari dampak negatif kemajuan zaman modern.
Hasilnya adalah, kecerdasan emosional pada anak sekolah dasar menunjukkan sifat mudahnya marah ketika gadget mereka di ambil. Selain itu, akibat kecanduan terhadap gadget mengurangi tingkat nya berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar sehingga membuat ketidakstabilan kecerdasan emosi terhadap rasa peka dan empati di lingkungan sekitarnya. (Rahmawati, 2021). Anak-anak ini nantinya akan dewasa dan menjadi bagian dari masyarakat, sehingga jika kebiasaan emosi dari sejak masa perkembangan mengalami demikian, dapat menimbulkan sifat kurangnya pengelolaan emosi yang baik dan minimnya rasa empati sebagai manusia yang bersosial di masa yang akan datang.
Manusia yang memiliki kecerdasan emosi yang kurang dan krisis spiritual diantaranya akan merasa Tuhan tidak adil. Perasaan seakan dunia ini penuh dengan ujian dan cobaan. Sehingga muncul rasa putus asa, dan hilang kendali terhadap diri.Ibnu Atha’illah As-sakandari menuliskan di kitab karangannya ‘Al-Hikam’ di hikmah 24 pada bagian tiga :“selama kita hidup di dunia ini , jangan kalian heran terhadap adanya penderitaan- penderitaan yang ada, karena sesungguhnya penderitaan-penderitaan ini tidak akan hadir karena merupakan watak dan sifat dunia ini.”
Tokoh sufi dari Andalusia Ar-Randi (733H) menjelaskan hikmah ini ialah , bahwa di dunia manusia pasti tidak menyukai sesuatu dan mengalami kesusahan yang menyebabkan kecemasan dan kesedihan. Dan sifat dunia ini memberikan angan yang menggiurkan pada manusia padahal mereka tidak mendapatkan dari apa yang diinginkan. Dosen besar Al – Azhar Asy Syarnubi (1348H) mengartikan hikmah ini adalah, janganlah merasa aneh dengan adanya kesukaran yang kita alami di dunia ini, karena dunia tidak menyajikan kecuali sifat dan karakter aslinya. Dan diantara keniscayaan
4 dunia ialah hal-hal yang tidak disukai dengan kenikmatannya . (Athaillah, 2020, hal. 94-95).
Di dunia ini, ujian dan cobaan akan datang pada setiap hamba Allah SWT. Begitupun ujian kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Tapi, Islam tidak pernah mengharamkan umat nya untuk menikmati kenikmatan dunia. Bahkan kedudukan hamba yang bisa beramal lewat hartanya menjadi salah satu kedudukan yang paling mulia. Islam mengajarkan untuk hidup seimbang dengan beribadah kepada Allah SWT juga beramal saleh terhadap sesama manusia. (Simuh, 2002, p. 15) .
Keseimbangan menjalani kehidupan sangat dibutuhkan. Baik itu dari hubungan hamba dengan Allah SWT melewati cara mendekatkan diri kepada -Nya sehingga terbangun kecerdasan spiritual. Serta menjalani kehidupan secara pribadi dan sosial yang baik lewat terbentuknya kecerdasan emosi. Adanya kecerdasan emosi pada diri manusia adalah sebagai penguasaan dan kemampuan untuk menaklukakkan emosi juga membimbingnya ke hal-hal yang positif. (Hude, 2006).
Emosi dapat mendorong seseorang menjadi rasional dan tidak rasional. Karena emosi memiliki logika dan nalarnya sendiri. Sehingga seseorang tidak dapat memberikan tanggapan yang sama terhadap kecenderungan emosionalnya. Namun ketika seseorang mampu mengolah potensi emosional dan intelektual, maka berkesempatan menjadi manusia yang terdepan dalam berbagai sisi di kehidupan. (Hude, 2006).Sebagai manusia di zaman modern menyeimbangi perkembangan dengan memiliki kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosi membentuk adanya kedekatan dengan Tuhan secara baik dan mampu mengenali diri, mengelola diri ,memiliki rasa empati dan peka terhadap orang lain.
Seribu empat ratus tahun ke belakang, islam memiliki tokoh besar dan agung juga suri tauladan yang sampai saat ini banyak dijadikan role model yakni Nabi Muhammad SAW. Beliau memiliki kecerdasan spiritual
5 dan emosi yang menjadi keteladanan yang sangat sempurna dengan mengajarkan dan mencontohkan. Seperti sifat baginda Rasul yang memiliki pengelolaan emosi baik dan telah ada ada pada diri beliau salah satunya ialah sabar ketika emosi sedang bergejolak atau marah dan Rasulullah SAW menghadapi nya dengan tenang dan rasional. Lalu anjuran Rasul yang membentuk tentang persatuannya umat di ruang linkup sosial yang senantiasa menganjurkan umat nya beribadah salat berjamaah dan akan mendapatkan pahala 27 derajat lebih tinggi daripada salat sendirian.
(Amanda, 2022).Bahkan rasa kasih sayang dan kepedulian Rasul kepada umatnya hingga akhir hayat, sampai Rasul masih memikirkan dan menyebut umat nya di penghujung nafasnya.
Sehingga kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional ini saling berkaitan,karena emosi menjadi penunjang spiritualitas manusia.Emosi memberikan peran untuk melakukan tindakan-tindakan yang digunakan dan diperlukan untuk menjalani kehidupan dunia. Dan spiritualitas yang memberikan makna bagi perbuatan manusia. Spiritualitas yang baik akan tercermin dari emosi yang baik. Sebaliknya, spiritualitas yang buruk akan tercermin dari emosi yang buruk. (Hernanta, 2013, p. 73).
Pada hakikatnya di otak telah ada emosi di sistem limbik yang melakukan tindakkan memperoleh kesadaran diri , manajemen suasana hati , makna hidup, empati , motivasi diri dan juga pengaturan hubungan sosial.
Jika emosi ini baik atau buruk, akan mempengaruhi dan tercermin pada spiritualitas seseorang. Di situasi inilah , otak menjadi tempat terbaik bagi terbentuknya simbiosis rasio-emosi- spiritualitas. (Hernanta, 2013, p. 73).
Spiritualitas yang baik akan terbentuk dari kebiasaan seseorang beribadah dan cara mendekatkan diri kepada Tuhannya. Agama islam sudah memberikan pandangan bahwa, berusaha untuk memperoleh kecerdasan emosional melekat dengan bagaimana usaha manusia mendapatkan kecerdasan spiritual. Untuk mencapai nya metode yang dilakukan yaitu
6 dengan adanya ‘mujahadah’ (latihan yang sungguh-sungguh dan telaten) dan kekuatan dari dalam diri (inner power). (Hude, 2006).
Dan tasawuf menjadi salah satu dari berbagai jalan untuk dekat kepada Sang Pencipta. Lewat tasawuf manusia mencintai Tuhannya secara ikhlas, membebaskan diri dari sifat individualis dan meninggalkan akhlak yang tidak baik menggantinya menjadi kebaikan yang terbentuk menjadi karakter. (Kamba, 2020, p. 49). Dalam tasawuf memiliki keseimbangan emosi dan interaksi yang sehat dan menyehatkan itu sama pentingnya dengan memiliki kesehatan jasmani dan kesehatan spiritual. Bertujuan untuk memiliki rasa sifat tidak terikatnya terhadap dunia dengan hidup sepenuhnya di dunia. (Frager, 2023, p. 35).
Untuk mendapatkan kecerdasan juga kesehatan spiritual dan emosi lewat jalan tasawuf memiliki beberapa jalan. Di budaya sufi ada lima jalan menuju itu ialah jalan akal , jalan hati , jalan zikir, jalan bantuan, dan jalan kelompok. (Frager, 2023, p. 52) Dan jalan yang paling tepat pada kehidupan masyarakat modern yang terisolasi ini adalah dengan jalan kelompok.
Seperti melakukan praktik dari tasawuf yaitu zikir secara bersama-sama yang di laksanakan per pekan atau perbulan.
Dengan jalan kelompok para salik akan melakukan zikir bersama, dan saling mengajarkan juga menyemangati. Selain itu syekh atau pemimpin senantiasa membimbing salik baru. Sehingga dari kebiasaan ini terlihat dan terbentuk keimanan yang lebih terbina, kebiasaan melayani, dan juga lebih khusyuk ketika berzikir kepada Tuhan. Juga tumbuhnya persahabatan yang didasari rasa cinta terhadap Tuhan tanpa mengharapkan apa-apa atau niat buruk.
Dan untuk bisa bertasawuf lewat jalan kelompok ini maka dikenal dengan yang namanya ‘tarekat’. Dan tarekat ini dikenal juga dengan nama lain ‘Thoriqot’ yang memiliki arti kumpulan orang-orang sufi sepemahaman di suatu tempat yang membentuk menjadi sebuah keluarga atau kelompok
7 baik itu demi mengajarkan ajaran-ajaran ataupun latihan-latihan yang diberikan dan di pimpin oleh mursyid atau muqaddam secara langsung.
(Aceh, 1996, p. 295).
Kabupaten Garut dikenal dengan adanya salah satu tarekat yang didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar al Tijani yaitu tarekat ‘Tijaniyah’. Amalan tarekat yang diajarkan dalam tarekat Tijaniyah adalah zikir atau yang dikenal juga dengan wirid. Dan zikir tarekat Tijaniyah bisa dibilang sederhana dan mudah. Misalnya ada dua kegiatan amalan zikir yang dilakukan dua kali dalam sehari. Yaitu zikir Wazifah dan zikir Ladzimah. Lalu ada zikir yang dilakukan karena disunahkan berjemaah yaitu zikir Haylalah yang dilaksanakan pada waktu jum’at sore. (Pijiper, 1987).
Dan berdasarkan hasil obserasi dam wawancara salah satu majlis ajaran tarekat Tijaniyah yang berada di Majelis pondok pesantren Darul Falah tarekat Tijaniyah ini senantiasa melakukan amalan bukan hanya untuk memiliki kecerdasan spiritual yang berpengaruh pada ketenangan jiwa saja.
Namun juga membangun kecerdasan emosional para pengikut tarekat Tijaniyah sendiri lewat adanya pembinaan yang dilakukan oleh para Muqaddam dan Imam haylalah dan wadzifah Tarekat Tijaniyah. Sekarang tarekat Tijaniyah kabupaten Garut mengadakan program pembinaan yang dimana sebuah majlis tarekat Tijaniyah didatangi muqaddam untuk mendapatkan pembinaan kepada ikhwan dan akhwat juga para muhibbin.
(Wawancara, 2023). Ajaran -ajaran yang di ajarkan dan bimbingan amalan- amalan yang ada pada tarekat Tijaniyah ini menarik untuk lebih di teliti secara jauh.
Oleh karena itu jika melihat kondisi masyarakat modern saat ini kehidupan duniawi lebih banyak di utamakan dibandingkan kehidupan akhirat. Sehingga kebanyakan orang lebih mengutamakan kesuksesan yang bersifat sementara. Selain itu , kemajuan teknologi juga mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir manusia. Kesenangan dunia lebih banyak dicari dan
8 ingin di dapatkan,namun melupakan nilai-nilai agama. Terlalu fokus mencari kebahagiaan dunia sehingga lupa akan kewajiban sebagai hamba Tuhan. Dan jika kesenangan dan kebahagian tidak didapat terkadang muncul sifat menyalahkan Tuhan , hilangnya rasa syukur dan berputus asa.
Adapun dari sisi lain kehidupan terkadang manusia lebih fokus untuk dekat kepada Tuhan. Namun lupa membangun hubungan yang baik dengan makhluk Tuhan. Terlalu ambisuis demi kepentingan pribadi untuk mencapai surga nya Allah tapi lupa dengan melakukan amalan perbuatan kebaikan terhadap sesama. Karena tatkala menjalankan kehidupan untuk bisa mendapatkan dunia dan akhirat pentingnya memiliki keseimbangan spiritualitas dan emosioanlitas.
Dari pemaparan diatas tersebut penyusun tertarik dan terdorong untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai pengaruh dari zikir haylalah terhadap kecerdasan emosional jemaah tarekat Tijaniyah di Pondok Pesantren Darul Falah kabupaten Garut. Oleh karena itu peniliti mendatkan judul “Pengaruh Zikir Haylalah terhadap Kecerdasan Emosional Jemaah Tarekat Tijaniyah”.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas , maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana proses amalan Tarekat Tijaniyah ?
2. Bagaimana pengaruh zikir Haylalah membentuk kecerdasan emosional jemaah tarekat Tijaniyah Garut ?
C. Tujuan Penelitian
Dengan adanya rumusan masalah di atas , dapat diambil tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana proses amalan pada jemaah tarekat Tijaniyah kabupaten Garut.
9 2. Untuk mengetahu pengaruh dari zikir haylalah tarekat Tijaniyah dalam mem
kecerdasan emosional.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Berkaitan dengan pemaparan tujuan penelitian di atas, maka hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya :
1. Manfaat teoritis
Peneletian ini merupakan gabungan dari ranah bagian ilmu tasawuf dan psikoterapi. Dimana untuk dekat dengan sang pencipta dalam ilmu tasawuf ada salah satu jalan yaitu dengan ber tarekat. Selain dekat dengan sang pencipta manusia di tuntut untuk bisa hidup berdampingan dengan lingkungan. Maka dari itu perlunya memiliki kecerdasan emosional yang baik. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dedikasi bagi peneletian di bidang tasawuf dan psikoterapi.
Khususnya untuk merealisasikan kajian teoritis tasawuf saat meneliti serta mengkaji pembahasan yang berkenaan dengan zikir Tarekat Tijaniyah dan mengembangkan tentang pembahasan psikologis di aspek pembahasan kecerdasan emosional. Juga memberikan tambahan wawasan ilmu mengenai signifikasi orang – orang tarekat Tijaniyah yang memiliki kecerdasan emosional. Diharapkan juga penelitian ini memperluas adanya rujukan bacaan dan menjadi pembanding , pengimbang bagi literatur mahasiswa Fakultas Ushuluddin utamanya Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung. Mengenai adanya pengaruh zikir haylalah terhadap kecerdasan emosional.
2. Manfaat Praktis
Selain dari manfaat teoritis, ada juga manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi jemaah Tarekat Tijaniyah selama mengamalkan amalan zikir haylalah. Juga mengetahui proses dari pengaruh amalan zikir Tarekat Tijaniyah terhadap kecerdasan emosional. Serta memberikan pemahaman lebih mengenai potensi kecerdasan emosional khususnya jemaah dan umumnya bagi yang lain. Sehingga dapat dijadikan
10 tuntunan dan upaya memiliki kecerdasan emosional. Baik itu berupa meningkatkan pemahaman diri atau kemampuan mengelola emosi pada kehidupan sehari-hari melalui rutinitas dari zikir haylalah Tarekat Tijaniyah.
E. Kerangka Berpikir
Zaman sekarang ini manusia sering kali menganggap bahwa untuk mencapai sebuah kebahagiaan ,kedamaian dan kesuksesan hanya perlu membutuhkan materi dan nilai akademik yang tinggi. Padahal untuk bisa mencapai semua itu ternyata didapatkan dari perubahan dan pengalaman emosional yang dialaminya sendiri. Dan konidisi ini disebut juga dengan afek. Semakin menumpuknya afek yang buruk pada diri maka semakin diselimuti dengan suasana psikologis yang tidak nyaman dan perasaan gundah lara. Akibatnya manusia tidak pernah merasa cukup terhadap kehidupan dan kebahagiaan yang ada. (Safaria & Eka, 2009, p. 14)
Dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidina Abu Dzar Al Ghifari ,
‘Rasulullah bersabda kepada saya, “bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada. Ikutilah perbuatan buruk dengan kebaikan,maka itu akan menghapusnya. Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik’. Dalam hadis ini di jelaskan bahwa ada tiga hak yang harus di ketahui.
Pertama yaitu hak Allah yang berupa menta’ati apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Kedua hak pribadi yang berupa dihapus nya kesalahan yang diperbuat dan terakhir yaitu hak terhadap makhluk Allah yang lain berupa berkakhlah atau berperilaku dengan baik. (Fauz, 2020).
Supaya bisa mencapai semua itu, manusia memerlukan yang namanya kecerdasan spiritual dan juga kecerdasannya emosional. Karena kecerdasan spiritual membantu menjalani hubungan baik terhadap Tuhan.
Dan kecerdasan emosional diperlukan untuk senantiasa membentuk pengelolaan emosi yang benar dalam menjalankan kehidupan pribadi dan lingkungan secara baik. Dengan ajaran tasawuf melalui jalan kelompok atau di sebut dengan tarekat umat islam bisa mencapai kecerdasan spiritual dan emosional. Selain mengutamakan untuk bisa berdekatan dengan sang
11 pencipta, manusia juga senantiasa mementingkan untuk mampu bersosial dan hidup di dunia secara baik.
Kh. Mansyur berkata mengenai lupanya orang islam terhadap dua puluh persen kepentingan hidup di dunia dari delapan puluh persen kepentingan hidup di akhirat. Sehingga manusia menjadi lemah tatkala mencari kehidupan dunia dan akhirnya memiliki rasa tidak mau berkorban.
Seperti tidak mau berzakat karena tidak ada harta yang mampu di zakatkan atau bahkan tidak mampu bersedekah karena tidak ada harta untuk di sedekah kan. Hal ini membuat umat muslim mundur mencari kehidupan dunia yang padahal sangat menunjang untuk dekat dengan Allah melalui harta dan berbagi dengan makhluk Allah lainnya. (Amrullah, 2015)
Oleh karenanya memiliki kecerdasan spiritual dan emosional merupakan keseimbangan menjalankan kehidupan dunia dan akhirat.
Kecerdasan secara bahasa memiliki arti kesempurnaan sesuatu, pemahaman. Secara bahasa inggris kecerdasan dikenal dengan nama
‘intelegence’. Kecerdasan manusia sangat erat berhubungan dengan namanya kemampuan kognitif yang dimiliki oleh setiap individu. (Anwar, 2014).
Manusia adalah makhluk Tuhan yang sempurna, baik secara jasmaniyah dan rohaniyah. Juga memiliki kelebihan pada kecerdasan.
Hordward Gardner menyatakan mengenai multiple inteligences atau kecerdasan majemuk. Gardner menjelaskan ada sembilan kecerdasan yang dimiliki oleh manusia. Diantaranya yaitu kecerdasan ilmu bahasa,kecerdasan ilmu bilangan-logika, kecerdasan spasial , kecerdasan kinestik - badani , kecerdasan musikal dan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. (Lalajuan, Krismayan, & Teddy, 2019).
Selain itu manusia juga makhluk yang memiliki emosi. Dan tidak bisa lepas dari emosi karena memiliki fungsi untuk memunculkan berbagai macam perasaan. Menurut para ahli psikologi bahwa manusia adalah makhluk yang secara alamiah memiliki emosi. James berpendapat bahwa emosi ialah kondisi jiwa yang menunjukan adanya sesuatu perubahan yang
12 nyata dan jelas pada tubuh. Dengan kata lain emosi ini adalah cerminan dari kondisi jiwa sehingga akan terlihat jelas pada jasmani. (Safaria & Eka, 2009, p. 11) Dan untuk bisa mengelola sehingga menampilkan emosi yang baik maka perlu adanya upaya untuk mencapai dan memiliki kecerdasan emosi tersebut.
Dalam Al Quran emosi tidak dijelaskan dengan bahasa yang khusus.
Namun , al – Quran banyak mengungkapkan dan menjelaskan ayat tentang beberapa peristiwa perilaku emosi yang terjadi. Seperti adanya rasa takut,marah,cemas dan lain-lain. Al-Quran pun banyak menggambarkan perbedaan mengenai emosi negatif dan positif. Dan dimaksudkan agar manusia senantiasa mendahulukan emosi positif baik untuk kehidupan pribadi ataupun sosial. Yang dimana emosi ini berpengaruh terhadap tercapainya manusia dalam mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat.
(Hude, 2006, p. 19).
Dari kecerdasan majemuk yang di kemukakan Gardner diantaranya ada yang dinamakan kecerdasan interpersonal. Dimana kecerdasan ini adalah bagaimana kemampuan seseorang untuk mampu bersosialisasi dengan beragam manusia, punya rasa peka ,dan sifat memotivasi. Daniel Goleman di bukunya ‘Emotional Intelligence; Why It Can Matter More Than IQ’ menjelaskan bahwa Peter Salovey memposisikan kecerdasan pribadi dari Gardner ini kedalam pengertian dasar mengenai kecerdasan emosional yang dikemukakannya dan diperluas menjadi lima wilayah kemampuan yaitu : kemampuan mengenali emosi diri ,kemampuan mengelola emosi ,kemampuan memotivasi diri sendiri , memiliki rasa empati serta membangun hubungan yang baik atau kerja sama. (Goleman, 1995).
Charles Darwin tokoh yang terkenal dengan teori evolusi menuliskan mengenai hal yang menarik dari kecerdasan emosi.
Menurutnya kecerdasan emosi ialah sebuah kemampuan manusia yang diturunkan ketika proses evolusi yang bertujuan untuk keterampilan manusia bertahan hidup. (Wesfix, 2015). Kunci dari kecerdasan emosional
13 adalah pada suara hati yang jujur. Kecerdasan emosi dapat terus bertambah dan meningkat selama hidup. Maka untuk menghidupkan kecerdasan akal dan kecerdasan emosional secara efektif manusia membutuhkan sebuah fondasi yaitu dengan memiliki kecerdasan spiritual. (Agustian, 2001).
Rasulullah SAW telah mengajarkan dan mencontohkan kecerdasan emosional di dalam ajaran agama islam. Seperti muhasabah yang sama dengan unsur pertama dari kecerdasan emosional yaitu mengenali emosi diri sendiri. Muhasabah ialah memperitungkan ,mengevaluasi dan menilai sifat kebaikan dan kebrukan yang ada dalam diri. Dalil muhasabah terdapat dalam Al- Qur’an surah Al – Hasyr (59) ayat 18:“Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan sepatutnya setiap hari memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk besok hari (akhirat) , dan bertakwalah kepada Allah , sesungguhnya Allah Maha Mengetaui dari apa yang kamu kerjakan.” (Amanda, 2022).
Selain itu Rasulullah SAW menyampikan lewat sabdanya (Marzuki M, 2009) yaitu : “Bilamana manusia mendekatkan diri Kepada Tuhan Sang Pencipta dengan melakukan berbagai macam kebaikan maka dekatilah oleh engkau dengan menggunakan akalmu , pasti engkau akan merasakan nikmat yang lebih banyak. Yaitu dengan dekatnya kepada manusia di dunia dan dekat dengan Allah SWT di akhirat” (al-Hadist).
Kenikmatan yang berupa dekat dengan orang lain dan Allah SWT memberikan arti bahwa manusia semestinya seimbang dalam menjalankan kehidupan. Bisa berhubungan baik dengan orang lain dan juga Tuhannya.
Dan kemampuan ini menjadi salah satu point dari lima unsur kecerdasan emosional yang di paparkan oleh Daniel Goleman dalam bukunya. Yaitu mempunyai keterampilan dalam lingkungan sosial dan membina hubungan dengan orang lain.
Dari pemaparan diatas dapat dipahami bahwa manusia memiliki kecerdasan yang memiliki peran dan fungsi masing-masing. Salah satunya
14 kecerdasan emosional yang telah terbukti memiliki peran dan dianggap oleh kebanyakan orang sebagai penentu keberhasilan seseorang dalam berbagai bidang. Selain itu , manusia memiliki kecerdasan spiritual yang juga menjadi fondasi dalam memiliki kecerdasan emosional. Oleh karena itu perlunya keseimbangan kecerdasan tersebut. Sehingga terbentuknya manusia yang seimbang. Dan upaya untuk mencapai keseimbangan kecerdasan tersebut sudah di laksanakan selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari amalan salah satu jalan kelompok tasawuf yaitu Tarekat di daerah Kabupaten Garut yakni Tarekat Tijaniyah melalui binaan Tarekatnya.
Tasawuf merupakan salah satu jalan menuju dekat dengan Allah.
Dan memiliki tujuan untuk meningkatkan jiwa seorang manusia secara moral melalui latihan - latihan tertentu yang rasional , dan praktis. (al- Tatazmai, 1974, p. 6). Imam Al-Ghazali memaknai tasawuf adalah rasa tulus seorang hamba kepada Allah dan bergaul dengan baik terhadap sesama manusia. Orang yang senantiasa mempunyai ketulusan kepada Allah juga senantiasa membina hubungan yang baik terhadap sesama manusia itulah yang disebut dengan ‘sufi’. (Al-Ghazali, 2019).
Dalam referensi tasawuf untuk dekat dengan Allah ada tiga jalan.
Pertama ialah syari’at, yang artinya mengerjakan apa yang di perintahkan Allah dan senantiasa tidak melakukan apa yang menjadi larangannya.
Kedua , tarekat sebuah amalan perbuatan Nabi yang kemudian diikuti dan diamalkan. Dan terakhir adalah haqiqot yang merupakan hasil dari tarekat.
Jika diibaratkan syariat bagaikan kapal laut yang senantiasa menghantarkan kepada tempat harta karun , lalu tarekat yang ibaratkan lautan berisi mutiara dan haqiqat ialah mutiara yang indah yang berada dalam lautan. Syariat senantiasa membimbing untuk berpegang teguh kepada Allah , dan tarekat memberikan jalan yang lebih hati-hati sehingga jalan-jalan ini memudahkan seorang hamba dalam mencari pengetahuan tentang Allah dan menuai sinaran cahaya Allah kepada jiwanya. (Asmani, 2019).
15 Di zaman sekarang banyak orang yang mengikuti tarekat dan senantiasa mengikuti ajaran – ajaran tarekat sebagai salah satu jalan menuju dekat dengan Allah. Tarekat diambil dari bahasa arab yakni dari kata
‘thariqoh’ yang artinya adalah jalan. Dan tarekat dipahami sebagai langkah atau tata cara mempelajari spiritual yang bersifat mistik demi mencapai tingkatan spiritualitas dan kedekatan yang lebih dengan Tuhan. Dan tarekat memiliki dua pengertian , jika di artikan per seorangan tarekat ini adalah jalan yang di tempuh para sufi dalam mencapai spiritualnya kepada Allah.
Sedangkan jika di artikan sebagai jalan yang ditempuh perkelompok ialah berupa sebuah lembaga atau organisasi dengan sruktur berisikan guru seperti mursyid dan adanya murid. Juga diisi dengan pembelajaran didalamnya dan bahkan ada evaluasi dari sang guru pada muridnya.
(Abitolkha & Muvid, 2020).
Oleh karenanya tarekat menjadi salah satu jalan bagi manusia modern untuk mencapai kedekatan dengan Allah dan kedekatan dengan manusia. Agar senantiasa bisa menjauhi apa yang Allah larang dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Serta merawat diri dengan membangun keimanan yang kuat dan memperbanyak melakukan amal-amal perbuatan kebaikan yang bermanfaat bagi diri sendiri , orang lain dan lingkungan.
Tarekat juga memiliki peranan, diantaranya ada sepuluh bagian yaitu membina para murid dalam berperilaku, pelatihan ruhani sebagai penyucian dalam diri, menanamkan nilai-nilai agama pada diri salik, metode praktis yang diajarkan kepada murid, menjadi salah satu jalan untuk dekat dengan Allah dan jiwa semangat dalam memperbanyak kebaikan , upaya untuk bisa sampai pada ma’rifah , menjadi sebuah tempat untuk bersilaturahmi dan menjalin kekeluargaan dengan sesama murid lain , menjadi pengawas terhadap politik negara yang bergejolak , sebagai jalan untuk bisa mengontrol nafsu , dan yang kesepuluh adalah jalan untuk
16 menjalin hubungan kepada Allah sebagai seorag hamba pada sang Pencipta.
(Asmani, 2019).
Dengan demikian tarekat diperlukan untuk membantu manusia mengembangkan dan mengasah kecerdasan yang ada dalam diri serta menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Kyai Achmad menuliskan bahwa penyebaran dan pertumbuhan tarekat di masyarakat senantiasa mengenalkan mengenai ibadah yang bersifat seorangan yaitu akhirat dan ibadah sosial (ibadah al ijtimaiyah). Manfaat yang didapat dari ibadah sendiri tentu akan dirasakan oleh diri sendiri sedangkan manfaat dari ibadah sosial yang dilakukan senantiasa memberikan dampak pada pribadi juga berdampak bagi umat muslim. (Ni'am, 2000).
Tarekat yang muktabarah di Indonesia salah satunya adalah tarekat Tijaniyah yang mengajarkan dan membimbing para pengikutnya dengan amalan-amalan tasawuf. Tarekat tijaniyah ini berasal dari Salah satunya adalah amalan zikir. Zikir sendiri diambil dari bahasa arab yaitu dzakara yang artinya mengingat. Secara istilah ialah membiasakan lidah dengan basah karena mengucapkan kata-kata pujian kepada Allah dan mengeluarkan kalimat pengagungan kepada Allah. Oleh karenanya zikir dalam ilmu tasawuf tarekat ialah upaya untuk senantiasa mengingat Allah dengan cara di ucapkan di lisan, dalam hati maupun gerakan agar senantiasa dekat dengan Allah SWT dan menghilangkan kesibukan yang mengakibatkan lupa dan lalai sebagai seorang hamba. (Muvid, 2020).
Zikir yang diajarkan tarekat Tijaniyah diantaranya adalah zikir wadzifah,Ladzzimah dan zikir Haylalah. Zikir Wadzifah dan Ladzimah ini dilakukan sehari dua kali. Dan zikir Haylalah dilaksanakan satu minggu sekali di hari Jum’at dan waktu setelah ba’da ashar dibaca secara berjemaah.
Dengan membacakan La Ilaha Illa Llah bersama-sama sebanyak jumlah yang ditentukan mursyid. (Pijiper, 1987).
17 Gambar 1.1 Kerangka Berpikir
F. Hipotesis
Dalam peneletian menggunakan metodologi kuantitatif maka ada hipotesis. Hipotesis ialah pernyataan sementara atau dugaan karena sifatnya yang masih lemah. Maka penulisan untuk menunjukan hipotesis diawali dengan kata ‘diduga’. (Sarmanu, 2017). Pada bagian hipotesis penelitian ada dua jenis variabel yaitu variabel bebas (x) dan variabel tak bebas (y) masuk dalam hipotesis alternatif yang memiliki keterkaitan sedangkan ada hipotesis yang tidak memiliki hubungan yaitu hipotesis nol dimana variabel (x) dan variabel (y) tidak ada kaitan. (Sugiyono, 2013). Dan ada dua kesimpulan dari hipotesis yang diujikan ialah diterima atau ditolak.
Oleh karenanya, penyusun menyatakan pengajuan hipotess yaitu :
“terdapatnya pengaruh yang signifikan zikir Haylalah terhadap kecerdasan emosional pada jemaah tarekat Tijaniyah Pondok Pesantren Darul Falah Sukaresmi, Garut.
Jemaah Tarekat Tijaniyah Pondok Pesantren Darul Falah
Kota Garut
Permasalahan Emosional dalam diri pribadi dan lingkungan di
zaman modern
Zikir Haylalah Tarekat Tijaniyah Kecerdasan emosional :
• Mengenali diri
• Mengelola emosi
• Memotivasi diri
• Rasa empati
• Kerja sama
18 Gambar 1.2 Variabel Penelitian
G. Metodologi Penelitian
1. Menentukan Lokasi Penelitian
Peneliti menentukan lokasi yang di ambil di Darul Falah Thoriqoh Tijaniyah yang berada di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut. Data – data yang diperlukan dan dibutuhkan berada di Darul Falah yang merupakan Pondok pesantren yang senantiasa mengadakan kegiatan majlis amalan Thoriqoh Tijaniyah di Kabupaten Garut.
2. Pendekatan dan Metode Penelitian
Menurut Dimas Agung Trisliatanto dalam bukunya bahwa pendekatan ilmiah ialah pendekatan yang dilakukan dengan tersusun dan menggunakan cara-cara tertentu untuk mencapai pengetahuan yang benar (Trisiliatanto, 2020). Pendekatan yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif ini adalah penelitian ilmiah yang tersusun atau terorganisasi terhadap bagian-bagian dan fakta dengan sebab akibat dari kaitannya. Penelitian kuantitatif ini diartikan juga sebagai penelitian data yang tersusun terhadap fakta dengan mengumpulkan data-data yang dapat diperhitungkan dengan teknik matematika, statistika ataupun komputasi. Metode deskriptif ini adalah salah satu jenis dari berbagai metode penelitian kuantitatif.
Dan bertujuan untuk menggambarkan fakta secara metodis dan tersusun sesuai dengan karakteristik dari populasi tertentu atau sejenisnya dengan cara benar dan teliti. (Abullah, et al., 2021).
Zikir Haylalah (x)
Kecerdasan Emosional
(Y)
19 3. Jenis Data
Jenis data yang digunakan penyusun ialah data kuantitatif yang dinyatakan dalam bentuk bilangan. Data kuantitatif juga lebih mudah dipahami daripada data kualitatif. (Bungin, 2005).
4. Sumber Data
Sumber data merupakan hal yang penting sebagai bentuk penunjang penelitian yang sedang dilakukan. Sumber data dalam penelitian diartikan sebagai pokok utama dari data yang didapatkan (Rosyidah & Fijra, 2021). Klasifikasi dan pengumpulan sumber data terbagi menjaddi dua. Yaitu data primer dan data sekunder. Data primer ini adalah data yang didapatkan secara langsung dan merupakan data yang diperoleh dari pihak asli atau pertama. Baik itu perorangan atau kelompok seperti Yayasan, pondok pesantren dan lembaga lainnya. Sedangkan data sekunder ini lebih mudah untuk didapatkan karena diperoleh dari sumber lain dan telah ada seperi biro statistik, lembaga pemerintahan, organisasi atau perpustakaan. (Abullah, et al., 2021).
a. Sumber data Primer
1) Muqaddam Tarekat Tijaniyyah dan yang mewakilinya 2) Imam Wadzifah dan Haylalah Tijaniyah
3) Jemaah Tarekat Tijaniyah 4) Muhibbin Tarekat Tijaniyah b. Sumber data Sekunder
Data sekunder didapatkan dari buku-buku, artikel ilmiah, jurnal imiah dan hasil penelitian lainnya yang berkaitan dengan penelitian yang akan disusun yaitu mengenai tarekat Tijaniyah dan kecerdasan emosion
5. Populasi dan Sampel
Populasi yang di ambil adalah Jemaah majlis Darul falah yang mendapatkan bimbingan tarekat Tijaniyah kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut.
Dan sampel yang diambil ialah memakai Purposive Sampling.
Dimana lebih mendahulukan tujuan penelitian dibandingkan sifat populasi yang menentukan sampel dari penelitian. Dan sampel yang didapatkan dengan melihat beberapa pertimbangan dan asalan adalah sebagai berikut :
A. Jemaah yang sudah talqin dan senantiasa istiqomah melakukan amalan-amalan juga mengikuti kegiatan tarekat Tijaniyah.
B. Muhibbin yaitu orang yang belum talqin namun senantiasa ikut kegiatan dan amalan – amalan tarekat Tijaniyah.
6. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi
Menurut Sugiyono observasi adalah sebuah metode peneltian yang melihat tentang kondisi dan keadaan peneletian yang dilakukan. (Salma, 2023). Maka dari itu, penyusun melakukan observasi kepadaa Jemaah Tarekat Tijaniyah untuk melihat bagaimana situasi kegiatan, keadaan Jemaah dan kondisi Jemaah tarekat Tijaniyah di Pondok Pesantren Darul Falah,Sukaresmi Kabupaten Garut.
b. Wawancara
Wawancara merupakan suatu proses untuk mendapatkan data melalui tanya jawab dengan saling bertatapnya wajah pewawancara dan orang yang menjadi narasumber. (Bungin, 2005). Wawancara yang dilaksanakan penyusun dilakukan secara terstruktur, dimana mewawancarai beberapa orang yang
21 menjadi narasumber. Sebelumnya penyusun menyiapkan pertanyaan yang akan diajukan. Hal ini untuk mendapatkan data tentang tarekat Tijaniyah, kegiatan tarekat Tijaniyah dan juga amalan-amalan yang di kerjakan.
c. Angket
Metode angket atau kata lainnya disebut dengan metode kusioner adalah sebuah cara untuk mendapatkan data melalui jawaban dari responden yang telah mengisi jawaban dari daftar pertanyaan yang telah disusun. Angket yang digunakan penyusun ialah angket langsung tertutup yaitu untuk mendapatkan data mengenai kondisi yang hanya dialami responden sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan yang telah terstruktur. (Bungin, 2005, p. 133). Melalui angket ini penyusun menjadikan nya sebagai data pendukung dan utama dalam teknik mengumpulkan data melalui daftar pertanyaan mengenai pengaruh zikir Haylalah kepada kecerdasan emosional responden.
7. Teknik Analisis Data
Setealh data analisis terkumpulkan, penyusun akan mengolah data dan menganlisis menggunakan statistik. Yaitu menggunakan aplikasi software statitisk SPSS (Statistical Program For Social Science). Dan metode yang digunakan untuk menganalisis data tersebut dilakukan dengan berbagai tahapan sebagai berikut.
a. Uji Instrumen 1) Uji Validitas
Uji validitas menggunakan aplikasi software SPSS for Windows.
Karena adanya alat ukur untuk mendapatkan data maka itu adalah instrumen yang valid. (Sugiyono, 2013). Dan data akan diuji dengan menggunakan teknik uji corrected item total colleration.
22
Keterangan :
r = Koefisien korelasi X = Jumlah dari skor item
Y = Jumlah skor dari total instrumen n = Jumlah seluruh sampel
Dari rumusan yang dibuat dapat memiliki dua kesimpulan dari keputusan dengan membandingkan nilai rhitung dan rrariabel, sebagai berikut :
rhitung lebih besar dari rtabel, maka dinyatakan valid rhitung lebih kecil dari rtabel, maka dinyatakan tidak valid 2) Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas ini untuk menguji menggunakan teknik tertentu dan menganalisis kesesuaian bagian-bagian dari instrumen. (Sugiyono, 2013, p. 130). Penelitian ini menggunakan metode alpha Cronbach karena intrumen menggunakan angket atau soal uraian. Dan signifikasi yang digunakan ialah uji signifikasi taraf a = 0,5 Dan pengukuran pada satu variabel dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
rac = Koefisien dari realibilitas alpha Cronbach N = Jumlah dari item pertanyaan
∑ 𝜎b2 = Jumlah varians dari tiap item pertanyaan 𝜎t2 = Jumlah Varians
Penjelasan pada tingkat realibilitas sebagai berikut : a) Intsrumen reliabel jika nilai rac > 0,5
b) Instrumen memiliki tingkatan yang reliabilitas jika tinggi dan nilai dari rac > 0,6
23 c) Bagus dan jeleknya instrumen bisa di pertimbangkan dengan
melihat dari nilai rac > rtabel dan nilai n = 10 , taraf signifikasi α = 0,05.
b. Uji Asumsi 1) Uji Normalitas
Uji normalitas ini digunakan untuk mencari tahu apakah data sampel yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak.
(Octavia, 2017). Dan teknik yang digunakan untuk mengetahui normalitas ialah menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov yaitu dengan rumus sebagai berikut :
𝐷hitung = 𝑀𝑎𝑘𝑠|𝐹(𝑥) − 𝑆(𝑥)|
Dan kesimpulan dari hasil kriteria uji adalah : Jika 𝐷hitung < 𝐷tabel Maka H0 diterima.
Jika 𝐷hitung ≥ 𝐷tabel Maka H0 tidak diterima.
c. Uji Hipotesis
Dilakukannya uji hipotesis dalam penelitian ini untuk mendapatkan data dengan hasil yang akurat dan tepat. Sehingga penyusun melakukan uji dengan teknik koefesien korelasi. Dimana untuk melihat apakah satu variabel bebas ini ada hubungan pada variabel terikat. Dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
rxy = Koefesien korelasi x = Variabel X
y = Variabel Y
Yn = Jumlah dari hasil data x dan y
24 H. Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu di gunakan menjadi acuan dan dasar dari penelitian.
Juga sebagai sumber data untuk melihat koherensi dengan karya ilmiah dan penelitian yang akan di lakukan. Selain itu penelitian terdahulu menjadi pendukung dari penelitian yang akan dibahas. (Arief, 2010). Dan peneliti mengambil beberapa hasil penelitian terdahulu untuk dijadikan dasar dan acuan yang berkaitan juga penguat dari pembahasan penelitian
Tujuan dari hasil penelitian adalah untuk menunjukan pembenaran atas penelitian yang dilakukan,untuk melihat juga ketidaksamaan dari bacaan dan ilmu pnegetahuan dalam penelitian. Dan juga bermaksud memperluas ilmu pengetahuan dalam memperdalam subjek dan objek penelitian yang akan dibahas. (Bungin, 2005) Lalu ada beberapa penelitian terdahulu yang banyak berkaitan dengan zikir haylalah dan kecerdasan emosional yang dijadikan peneliti sebagai dasar , acuan dan juga peninjauan dalam penelitian yang akan dilaksanakan berikutnya yaitu diantaranya :
a. Disertasi yang disusun oleh Susilo Wibowo tahun 2021 ini dengan judul
“Membangun Kecerdasan Emosional Melalui Zikir Dalam Prespektif Al- Qur’an”. (Wibowo, 2021) Disertasi ini mendalami bagaimana membangun kecerdasan emosional lewat zikir dalam pandangan Al-Qur’an dengan melihatnya tafsiran ayat Al-Qur’an yang berkaitan. Dalam disertasi tersebut, Wibowo menjabarkan bahwa zikir adalah perilaku spiritual yang efektif dalam membangun kecerdasan emosional dalam berbagai interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an, studi spiritual Islam (Sufisme), dan eksplorasi potensi diri dan psikis manusia . Indikator kecerdasan emosional melalui zikir dalam berbagai ayat Al-Qur’an antara lain: (1) hati menjadi tenang dalam Surat Ar Ra’du ayat 28; (2) hati dibuka oleh cahaya Allah dalam Surat Al-Zumar ayat 22; (3) bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 6 . Dalam penelitian ini, Wibowo menyarankan bahwa zikir dapat digunakan sebagai teknik untuk
25 membangun kecerdasan emosional. Zikir dapat membantu seseorang untuk mengendalikan emosi, meningkatkan kesadaran diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah. Metode yang digunakan pada disertasi ini ialah kualitatif dan data melalui library research dan data dari wawancara dengan ahli zikir dan menggunakan penafsiran ayat dengan tafsir maudhu’i.
persamaan penelitian ini sama-sama membahas zikir dalam membangun terhadap kecerdasan emosional seseorang. Sedangkan perbedaan penelitian ini ialah pada penelitian ini pembahasan lebih khusus pada amalan zikir sebuah tarekat Tijaniyah. Dan penelitian berbeda dalam menggunakan merode ditambah disertasi ini menggunakan penafsiran metide maudhi’i.
b. Skripsi yang disusun oleh Saepul Anwar pada tahun 2014 ini dengan judul
“Peranan Bimbingan Tarekat Tijaniyah Dalam Membangun Kecerdasan Emosional Dan Spiritual Ikhwannya”. Penelitian skripsi dilakukan terhadap objek komunitas Tijaniyah yaitu berada di pondok pesantren Zawiyah yang bertarekat Tijaniyah daerah Samarang, kota Garut Jawa Barat. Metode penilitian yang dilakukan peneliti menggunakan deskriptif dan pendekatan kualitatif. Dan berdasarkan dari penelitian tersebut menunjukan bahwa sebelumnya kecerdasan spiritual ddan emosional dari ikhawan taekat Tijaniyah kurang. Namun dengan seiringnya amalan – amalan juga kegiatan pembimbingan yang dilaksanakan maka para Ikhwan tarekat tijaniyah mulai merasakan adanya keseimbangan dari kecerdasan spiritual dan emosional.
Hasil Penelitian mengambil kesimpulan bahwa ajaran, amalan dan bimbingan tarekat Tijaniyah di pondok pesantren Zawiyah Samarang kabupaten garut ini sangat membantu dalam menyeimbangkan dan membangun kecerdasan spiritual dan emosional Ikhwan tarekat Tijaniyah.
Persamaan dengan penelitian ini adalah sama- sama di lakukan pada Tarekat Tijaniyah , dan sama- sama melihat keberpengaruhan amalan tarekat Tijaniyah terhadap kecerdasan emosional. Lalu perbedaan penelitian dengan yang sedang di kerjakan adalah ruang pembahasan penelitian ini lebih luas dan umum yaitu pada bimbingan tarekat Tijaniyah. (Anwar, 2014). Sedangkan yang akan di bahas pada penelitian selanjutnya lebih
26 khusus yaitu pada amalan zikir haylalah tarekat Tijaniyah, dan penelitian ini pun berpengaruh pada dua aspek yaitu antara keberpengaruhan pada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Lalu metode yang digunakan dalam meneliti berbeda, penelitian skripsi ini menggunakan deskriptif dan metoe kualitatif.
c. Skripsi yang disusun oleh Niqa Afina Ahsaina tahun 2021 dengan judul
“Pengaruh Dzikir Thoriqoh Tijaniyah Terhadap Ketenangan Jiwa”. Objek dari penelitian ini ialah jama’ah thoriqoh Tijaniyah di Zawiyah Abi Sanghum Padalarang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan meneliti untuk mengetahui korelasi dari variabel apakah berkaitan atau tidak. Dengan Teknik pengumpulan data menggunakan metode angket. Hasil penelitian menunjukan bahwa dzikir berpengaruh terhadap ketenangan jiwa seseorang. Dan hal ini diperkuat dalam pandangan psikologi mengenai teori hypnosis yaitu pada bagian selfhypnosis yaitu adanya sifat fokus dan lama kelamaan tidak merasakan adanya gangguan dan keadaan yang terjadi di sekitarnya. Kondisi Jamaah thoriqot Tijaniyah sebelumnya mengalami kecemasan 60%. Munculnya rasa kecemasan ddiantaranya 20% mengalami kecemasan dalam faktor ekonomi , 20% lainnya mengalami kecemasan karena masalah pribadi dan kesedihan yang dialami, 20% sisanya mengalami kecemasan menghadapi ketakutan ujian di sekolah ,skripsi , dan urusan kantor. Lalu setelah mengikuti dan melakukan dzikir thoriqot tijaniyah yang dilakukan pada 60 responden yang melakukan amalan secara istiqomah dan benar menunjukan nilai sig.(2- tailed) 0,001<0,05 dengan hasil kolerasi yang diterima dan terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel X (dzikir thoriqoh Tijaniyah) dan Variabel Y (Ketenangan Jiwa). Dan hasil dari uji kolerasi varibel X dan Y ini adalah 40,3% yang diartikan sebagai sedang. Jadi ketenangan jiwa yang ddidapatkan dari amalan dzikir thoriqoh Tijaniyah terbilang cukup baik. Dan perlunya diberikan pemaknaan juga pemahaman mengenai dzikir yang dilakukan agar bisa mendapatkan ketenangan jiwa yang sesuai. (Ahsaina, 2021). Persamaan dengan skripsi ini adalah mebahas
27 mengenai zikir yang dilakukan pada Tarekat Tijanyah namun berbeda dengan yang akan diteliti baru lebih khusus dalam penelitian berupa pada amalan zikir haylalah. Perbedaan lainnya adalah variabel Y pada peneltitian ini pada aspek ketenangan jiwa sedangkan yang akan di teliti ialah variabel Y kecerdasan emosional.
d. Skripsi yang di tulis oleh Acep Aam Amirudin tahun 2012 dengan judul
“Terapi Sufistik Dalam Prespektif Tarekat Tijaniyah”. Metode yang di gunakan penelitian skripsi ini adalah studi kepustakaan yang dimana termasuk pada metode kualitatif. Dan peneliti menggunakan wawancara kepada narasumber sebagai tambahan data dari penelitian. Tempat observasi peneliti tempatnya di salah satu Tarekat Tijaniyah yang berada di daerah Semarang kota Garut. Hasil peneletian yang dilakukan pada skripsi ini adalah bahwa bagian dari terapi sufistik ada namanya terapi zikir. Dan terakat Tijaniyah di Samarang , kota Garut ini melakukan zikir yang terdiri dari wirid lazimah yaitu wirid yang sifatnya wajib diamalkan oleh para pengikut tarekat Tijaniyah dan menjadi ketentuan ukuran sah dan tidak sebagai seorang murid. Lalu ada wirid ikhtariyah yang dihukumi sunnah dan tidak menjadi ukuran sah dan tidak sah nya sebagai seorang murid bila tidak di kerjakan. Zikir tarekat Tijaniyah berisikan dari bacaan istighfar, shalawat dan zikir dan dilakukan tiga waktu yaitu wiri lazimah, wadifah secara pribadi dan wirid hailalah yang dilakukan bersama-sama di jum’at sore. Manfaat yang dirasakan para Jemaah tarekat Tijaniyah ini merasakan adanya ketenangan batin setelah melakukan terapi sufistik zikir pada tarekat Tijaniyah ini. (Amirudin, 2012). Persamaan ari skrispi ini dan peneletian yang akan dilakukan adalah sama-sama meneliti mengenai terapi sufistik yang ada dalam ajaran tarekat Tijaniyah. Namun, perbedaan dari penelitian ini yaitu mulai dari pembahasan yang akan di bahas disini lebih pada terapi sufistik dan juga metode yang dilakukan penelitian ini berupa kualitatif, lalu adanya perbedaan dalam aspek variabel.
e. Skripsi yang disusun oleh Muhammad Arizal Wiguna tahun 2020 dengan judul “Haylalah Thariqot Tijaniyah Dalam Prespektif Hadis”. Metode yang
28 digunakan adalah metode living hadis atau sunnah dengan pendekatan Lidwa dan juga menganalisis menggunakan analisis komperatif atau perbandingan. Dimana membandingkan keadaan variabel kepada variabel lain baik dua ataupun lebih. Hasil dan kesimpulan penelitian dari skripsi ini adalah, bahwa hailalah ini adalah zikir kepada Allah SWT dan ada dalam tarekat Tijaniyah yang di laksanakan pada jum’at sore atau waktu ashar sampai maghrib. Dan hailalah ini adalah bacaan Lailahaillallah yang di baca sebanyak-banyaknya atau tidak ditentukan jumlah tapi hanya ditentukan waktu pelaksanaanya. Hailalah ini mengacu pada hadis yang di riwayatkan oleh Imam Abudaud yaitu “Barangsiapa yang ddi akhir hidupnya mengucapkan ‘lailaha illallah’ maka dia akan masuk surga”
sehingga tidak adanya penyimpangan dalam praktik amalan zikir hailalah pada Tarekat Tijaniyah ini karena mempunyai rujukan hadis yang menjadi sumber kedua rujukan umat islam. (Wiguna, 2020). Persaman penelitian ini sama-sama membahas tentang zikir hailalah yang dilakukan oleh Tarekat tijaniyah. Perbedaan penelitian dapat dilihat dari metoelogi yang digunakan dan variabel Y dimana penelitian ini menganalisis pada perbandingan variabel.
f. Artikel Jurnal yang di susun oleh Ratna dewi dari IAIN Bangka Belitung tahun 2021 dengan judul “Kontribusi Tarekat Tijaniyah Terhadap Perubahan Prilaku Sosial Jama’ah Masyarakat Di Desa Payabenua”. Penelitian pada jurnal ini menggunakan kajian literatur dan metode wawancara kepada ustadz dan guru yang berada di Desa Payabenua. Hasil dari artikel penelitian jurnal ini adalah adanya kontribusi dari tarekat Tijaniyah kepada pribadi jam’ah Masyarakat yaitu adanya nilai menanamkan keimanan dan menghasilkan ketakwaan kepada Jama’ah, juga perasaan Ikhlas dalam berzikir kepada Allah SWT. Dan pengaruh juga kontribusi terhadap sosial dalam pengajaran tarekat Tijaniyah yang diberikan sangat luar biasa. Mulai dari berhubungan baik dengan sesame manusia seperti gotong royong dan bershalawat bersama – sama. Juga diajarkan untuk saling menyayangi terhadap makhluk ciptaan Allah yang lain seperti hewan dan tumbuhan.
29 Dengan tidak menganiyaya atau membunuh hewan tanpa alasan yang logis.
Dan menjaga tumbuhan dengan sebaik mungkin seperti tidak sembarangan mencabut tumbuhan yang hidup. (Dewi, 2021). Persamaan dengan penelitian yang di lakukan adalah membahas Tarekat Tijaniyah dan berperilaku sosial menjaddi salah satu unsur dari lima unsur kecerdasan emosional. Perbedaan dengan artikel penelitian diantaranya pembahasan yang cukup luas mengenai tarekat dan objek dari tarekat lebih kepada bidang sosial kepada seluruh makhluk Allah. Metode penelitian yang dilakukan , dan teknik penganalisisan data yang digunakan pun berbeda.
g. Artikel Jurnal akhlak tasawuf yang di tulis oleh Cecep Zakarias El Bilad dan Dony Apriatama dengan judul “Terapi Dzikir Tarekat Qairiyah Naqsabandiyah dalam Peningkatan Kecerdasan Emosional”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperiemen yang bertujuan untuk melihat adanya keberpengaruhan perlakuan tertentu terhadap aspek varabel lain dalam keadaan dan kondisi yang bisa dikendalikan. Dan desain yang di gunakan masih adanya keberpengaruhan variabel dari luar terhadap adanya variabel dependen. Disamping menggunakan metode eksperimen peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menambahkan informasi dan pengetahuan juga data yang lebih mendalam dan menjaddu pendukung selama penelitian berlangsung. Objek dari penelitian ini adalah 34 mahasantri di pondok Dzikir Miftahus Sudur yang bertempat di Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah dan berkuliah di IAIN Palangka Raya. Dengan tahapan awal pretest untuk mengetahui tingkatan dan kondisi kecerdasan para santri. Lalu setelah dilihat dari hasil pretest dilakukan lah penerapan zikir Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah, dan setelah di terapkan terapi zikir tersebut baru diberikan tes akhir untuk mengetahui hasil akhir. Hasil dari penelitian ini adalah para mahasantri yang diterapi di talqin dengan kemauan sendiri dan sebagai persyaratan untuk mengikuti amalan-amalan dari tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah yang harus sah menjadi murid dari tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah. Para mahasantri mengikuti rangkaian amalan-amalan dzikir di bawah
30 pengawasan dan bimbingan dari pendampingan terapi. Amalan-amalan ini dimulai dari membaca dzikir Jahar sebanyak 1.000-1.500 kali yang dilaksanakan pada jam 03.15, lalu di lanjutkan setelah ba’da subuh sebanyak 165 kali. Dan melaksanakan dzikir khotaman yang dimulai dari wmatahari terbit. Dzikir Jahar ini pun di baca paling sedikit 165 kali setelah sholat dzuhur dan ashar. Dan ketika memasuki maghrib setelah melakukan sholat sunnah dzikir Jahar ini ddi bacakan kembali kurang lebih sebanyak 165 kali, dan ketika memasuki jam 22.00 para mahasantri diwajibkan untuk melakukan amalan-amalan seperti mempunyai wudhu sebelum tidur, shalat sunnah syukrul wudhu,shalat mutlak, hajat dan sholat istikharah. Lalu menghaap kekanan sambil membaca dzikir ya lathif hingga tertidur.
Kesimpulan dari penelitian metode eksperimen ini menunjukan bahwa kecerdasan emosional dapat ditingkatkan melalui penerapan dzikir Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah. Hal ini dengan adanya bukti pada mahasantri Pondok Dzikir Miftahus Sudur Palangka Raya yang selaku mahasiswa di IAIN Palangka Raya bahwa ada peningkatan yang secara kuantitatif sebesar 15% dan adanya dampak positif yang dirasakan secara kejiwaan setelah mengamalkan dzikir Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah. Dimana kecerdasan emosional dalam bagian mengelola emosi yang mereka rasakan dapatnya mengendalikan emosi yang terjadi. Namun ada yang perlu di catat zikir yang dilakukan tidak terbuka untuk semua kalangan karena perlunya persyaratan menjadi muri dari Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah untuk mengemalkan amalan-amalan zikir. Dan penelitian ini dilakukan dalam keadaan mahasantri sedang libur kuliah sehingga mereka fokus melakukan kegiatan ini. Dan akan berbeda hasil nya jika dilakukan oleh orang yang beraktivitas seperti sekolah atau bekerja. (Bilad & Apriatama, 2020).
Persamaan penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek Variabel Y yang membahas peningkatan kecerdasan emosional yang di pengaruhi dari zikir sebuah tarekat. Namun, terdapat perbedaan yaitu penelitian ini dilakukan kepada mahasantri dan menggunakan terapi zikir dari Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah yang berbeda dengan yang akan di teliti yaitu Tarekat
31 Tijaniyah. Lalu metode yang di gunakan penelitian ini menggunakan metode eksperimen untuk melihat keberpengaruhan yang lebih relative terlihat karena berada dalam bimbingan dan pengawasan.
32 Daftar Pustaka
Abitolkha, A. M., & Muvid, M. B. (2020). Melacak Tarekat-Tarekat Muktabar di Nusantara. Kuningan: Goresan Pena.
Abullah, K., Jannah, M., Aiman, U., Hasa, S., Fadilla, Z., Taqwin, . . . Sari, M. E.
(2021). Metodelogi Penelitian Kuantitatif. Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini .
Aceh, A. B. (1996). Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf. Solo: Ramadhani.
Agustian, A. G. (2001). Emotional Spiritual Quetient. Jakarta: ARGA Publishing.
Ahsaina, N. A. (2021). Pengaruh Dzikir Thariqoh Tijaniyah Terhaap Ketenangan Jiwa. digilib uin sgd.
Al-Ghazali, I. (2019). Ringkasan Ajaran Tasawuf. Bandung: Penerbit Marja.
al-Tatazmai, A. a.-W.-G. (1974). Sufi Dari Zaman ke Zaman. Bandung: PUSTAKA (perpustakaan Salman Institut Teknologi Bandung. .
Amanda, A. (2022). Kecerdasan Emosional Dalam Perspektif Islam. Artikel Islam.
Amirudin, A. A. (2012). Terapi Sufistik Dalam Prespektif Tarekat Tijaniyah. skripsi UIN Sunan Gunung Djati.
Amrullah, H. A. (2015). Tasawuf Modern. Jakarta: Republika.
Anwar, S. (2014). PERANAN BIMBINGAN TAREKAT TIJANIYAH DALAM MEMBANGUN . Bandung: UIN Sunan Gunung Djati.
Arief, M. (2010). Analisis Kompetensi. Universitas Indonesia Library.
Asmani, J. M. (2019). Tasawuf Sosial KH.MA.SAHAL MAHFUDH Tasawuf Kajen Menghadirkan Solusi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Athaillah, I. (2020). Al Hikam Ibnu Athaillah ( Hilman Hidayatullah S),Terjemahan). Jakarta Selatan: PT.Qaf Media Kreativa.
33 Bilad, C. Z., & Apriatama, D. (2020). Terapi Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah
dalam Peniingkatan Kecerdasan Emosional. Esoterik : Jurnal akhlak tasawuf.
Bungin, B. (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana Pernada Media Group.
Dewi, R. (2021). Kontribusi Tarekat Tijaniyah Terhaap Perubahan Perilaku Sosial Jama'ah Masyarakat Di Desa Payabenua. Scienta:Jurnal Hasil Penelitian Vol.6,Nomor 1,Juni 2021.
Fauz, N. A. (2020). Terjemahan 40 Hadis Tombo Ati. Pati: Zawiyah Manba'us Sa'adah.
Frager, R. (2023). Sufi Psychology. Jakarta Selatan: PT.Qaf Media Kreativa.
Goleman, D. (1995). Kecerdasan Emisoanal ; Mengapa EI lebih penting daripada EQ. Jakarta: PT SUN.
Hernanta, I. (2013). Ilmu Kedokteran lengkap tentang Neorosains. Banguntapan Jogjakarta: D-Medika.
Hude, M. (2006). Emosi penjelajahan religio-psikologis tentang manusia dalam Al- Qur'an. jakarta: Erlangga.
Kamba, D. N. (2020). Mencintai Allah Secara Merdeka. Tanggerang Selatan:
Pustaka Iman.
Lalajuan, K., Krismayan, O., & Teddy, M. (2019). Kecerdasan Anak Usia Dini Ditinjau Dari Prespektif Teori Kecerdasan Howard Garner.
M.Solihin. (2004). Terapi Sufistik. Bandung: Pustaka Setia.
Marzuki M, A. (2009). Prinsip Dasar Akhlak Mulia, Pengantar Studi Konsep - konsep Dasar Etika dalam Islam. Yogyakarta: Debut Wahana Press.
Muvid, M. B. (2020). Zikir Penyejuk Jiwa Panduan untuk Membersihkan Hati dan Membangun Akhlak Mulia. Tanggerang Selatan: Alifia Books.
34 Ni'am, S. (2000). The Wisdom of K.H. Achmad Siddiq. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Octavia, V. (2017). Metode Statistika Untuk Penelitian. Bandung.
Pijiper, G. (1987). Fragmenta Islamica Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam Di Indonesia Awal Abad XX. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Rahmawati, S. (2021). Perkembangan Kecerdasan emosional di era digital. Jurnal Bimbingan dan Konseling.
Rosyidah, M., & Fijra, R. (2021). Metode Penelitian. Sleman: Deepublish.
Safaria, T., & Eka, S. N. (2009). Manajmen Emosi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Salma. (2023). Observasi : Pengertian, Jenis, Tujuan, Ciri, dan Manfaatnya.
Deepublish.
Sarmanu. (2017). Dasar Metodologi penelitian Kuantitatif,Kualitatif & Statistika.
Surabaya: Airlangga University Press.
Simuh. (2002). Tasawuf dan Perkembangannya dalam islam. Jakarta: RajaGrafndo Persada.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
CV ALFABETA.
Trisiliatanto, D. A. (2020). Metodologi Penelitian panduan Lengkap Penelitian Dengan Mudah. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Wawancara. (2023, Oktober 30). Ajaran tarekat Tijaniyah. (F. Syaibani, Pewawancara)
Wesfix, T. (2015). Emotional Intelligence itu "Dipraktekin". Jakarta: Gramedia.
Wibowo, S. (2021). Membangun Kecerdasan Emosional Melalui Zikir Dalam Prespektif Al-Quran. Repository Institut PTIQ Jakarta.
Wiguna, M. A. (2020). Hailalah Tharoqot Tijaniyah Dalam Prespektif hadis . digilib uin sgd.
35 Dokumentasi
Wawancara bersama pimpinan sekaligus pendiri Pondok pesantren dan Majlis Darul Falah Sukajaya, Sukaresmi Kabupaten Garut.
Tempat atau Pondok Pesantren
36 Wawancara bersama wakil (anak) dari
Muqaddam Tarekat Tijaniyah yang berada di Garut
37