• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of PENGATURAN DAN PENGAWASAN PERBANKAN SYARIAH OLEH OJK DALAM RANGKA MEMPERKUAT GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "View of PENGATURAN DAN PENGAWASAN PERBANKAN SYARIAH OLEH OJK DALAM RANGKA MEMPERKUAT GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGATURAN DAN PENGAWASAN PERBANKAN OLEH OJK

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

Magister Ilmu Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Good Corporate Governance (GCG) or good governance provides a positive value to Islamic banking. With the implementation of GCG in Islamic banking and combined with sharia principles, it is hoped that there will be improvements in performance both financially and non

of this study was to determine the extent to which the regulation and supervision of the OJK in supervising the implementation

how the influence of GCG on Islamic banking. The application of Good Corporate Governance in Islamic banking makes Islamic banks more Islamic.

This is because Good Corporate Governance legitimizes sharia bank operations to comply with sharia principles.

Keywords: Good Corporate Governance, supervision, Financial Services Authority.

Good Corporate Governance (GCG) atau tata kelola yang baik memberikan nilai yang positif terhadap perbankan syariah. Dengan penerapan G didalam perbankan syariah dan dipadukan dengan prinsip syariah, maka diharapkan akan adanya perbaikan kinerja baik secara keuangan maupun non keuangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaturan dan pengawasan dari OJK dalam me

pada perbankan syariah dan bagaimana pengaruh GCG terhadap perbankan syariah. Penerapan dari Good Corporate Governance pada perbankan syariah membuat Bank syariah lebih syariah. Hal ini dikarenakan Good Corporate PENGATURAN DAN PENGAWASAN PERBANKAN SYARIAH

OLEH OJK DALAM RANGKA MEMPERKUAT GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

Farhan Zikry [email protected]

Magister Ilmu Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Asbtract

Good Corporate Governance (GCG) or good governance provides a positive value to Islamic banking. With the implementation of GCG in Islamic banking h sharia principles, it is hoped that there will be improvements in performance both financially and non-financially. The purpose of this study was to determine the extent to which the regulation and supervision of the OJK in supervising the implementation of GCG in Islamic banking and how the influence of GCG on Islamic banking. The application of Good Corporate Governance in Islamic banking makes Islamic banks more Islamic.

This is because Good Corporate Governance legitimizes sharia bank operations mply with sharia principles.

Good Corporate Governance, supervision, Financial Services

Abstrak

Good Corporate Governance (GCG) atau tata kelola yang baik memberikan nilai yang positif terhadap perbankan syariah. Dengan penerapan G didalam perbankan syariah dan dipadukan dengan prinsip syariah, maka diharapkan akan adanya perbaikan kinerja baik secara keuangan maupun non keuangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaturan dan pengawasan dari OJK dalam mengawasi penerapan GCG pada perbankan syariah dan bagaimana pengaruh GCG terhadap perbankan syariah. Penerapan dari Good Corporate Governance pada perbankan syariah membuat Bank syariah lebih syariah. Hal ini dikarenakan Good Corporate

297

SYARIAH

Good Corporate Governance (GCG) or good governance provides a positive value to Islamic banking. With the implementation of GCG in Islamic banking h sharia principles, it is hoped that there will be financially. The purpose of this study was to determine the extent to which the regulation and supervision of GCG in Islamic banking and how the influence of GCG on Islamic banking. The application of Good Corporate Governance in Islamic banking makes Islamic banks more Islamic.

This is because Good Corporate Governance legitimizes sharia bank operations

Good Corporate Governance, supervision, Financial Services

Good Corporate Governance (GCG) atau tata kelola yang baik memberikan nilai yang positif terhadap perbankan syariah. Dengan penerapan GCG didalam perbankan syariah dan dipadukan dengan prinsip syariah, maka diharapkan akan adanya perbaikan kinerja baik secara keuangan maupun non- keuangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana

ngawasi penerapan GCG pada perbankan syariah dan bagaimana pengaruh GCG terhadap perbankan syariah. Penerapan dari Good Corporate Governance pada perbankan syariah membuat Bank syariah lebih syariah. Hal ini dikarenakan Good Corporate

(2)

Farhan Zikry

56 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022 Governance melegitima

syariah.

Kata Kunci: Good Corporate Governance, pengawasan, Otoritas Jasa Keuangan.

A. PENDAHULUAN

Bank merupakan lembaga keuangan yang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Dalam pengelolaan

berbagai resiko yang rumit baik dari faktor dalam (internal) atau faktor luar (eksternal).

Pada saat terjadinya puncak krisis ekonomi di tahun 1998 tidak sedikit Bank konvensional yang dipaksa terlikuidasi dan memerlukan

pemulihan kembali. Salah satu faktor lamanya pemulihan ini adalah kurangnya atau lemahnya praktek Good Corporate Governance. Hal yang serupa juga tidak menutup kemungkinan untuk terjadi bagi Bank yang berprinsip syariah.

Bank syariah sebagaimana bank konvensional memiliki peranan yang sama sebagai lalu lintas keeuangan dan memobilisasi dana dari masyarakat bagi peningkatan kesejahteraan, sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. 10 Tahun 1998. Dalam hal meningkatakan pembiayaan, baik Bank Konvensional maupun Bank Syariah bersinergi untuk mengupayakan serta mendukung masyarakat secara luas yang nantinya berdampak pada sektor perekonomian secara nasional.

Bank yang berprinsip Syariah secara terus menerus mengalami peningka

perkembangan di setiap tahun. Hal ini juga bersamaan dengan penerapan Good Corporate Governance (GCG). Penerapan ini menjadi penting mengingat GCG merupakan suatu sistem pengelolaan perbankan untuk meningkatkan nilai tambah perusahaan,melindungi kepentingan didalamnya dan mengembangkan peraturan terhadap daya patuh terhadap undang-undang yang ada serta nilai etika moral yang berlaku. Oleh karena itu dengan membengun kepercayaan dari masyarakat terhadap kinerja bank syariah dan menjamin akan terpenuhinya prinsip syariah memerlukan penerapan Good Corporate Governance (GCG) sebagai bukti dan syarat untuk mengembangkan dan bank syariah ke arah lebih baik.106

Good Corporate Governance (GCG) diartikan sebagai bentuk penerapan profesionalitas,transparansi

adanya penerapan Good Corporate Governance (GCG) pada suatu bank syariah menjadikan bank syariah lebih syariah. Hal ini dikarenakan adanya ketentuan akan kepatuhan terhadap prinsip syariah.

benar menerapakan dasar prinsip

105Abdul Mujib, Dinamika Hukum dan Perkembangan Perbankan Islam di No. 2, 2013. Hlm, 5.

106Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia (Jakarta: KNKG, 2006), 2.

107Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 11/33/PBI/2009 Tentang Pelaksanaan Go Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) Pasal 1 ayar 10.

108Mervyn K. Lewis dan Latifa M. Algaud, Perbankan Syariah, terj. Burhan Subrata (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2007), 208-239.

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

Governance melegitimasi operasional bank syariah untuk mematuhi prinsip Good Corporate Governance, pengawasan, Otoritas Jasa

Bank merupakan lembaga keuangan yang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Dalam pengelolaan sebuah Bank akan dihadapkan dengan berbagai resiko yang rumit baik dari faktor dalam (internal) atau faktor luar (eksternal).

Pada saat terjadinya puncak krisis ekonomi di tahun 1998 tidak sedikit Bank konvensional yang dipaksa terlikuidasi dan memerlukan cukup banyak waktu untuk melakukan pemulihan kembali. Salah satu faktor lamanya pemulihan ini adalah kurangnya atau lemahnya praktek Good Corporate Governance. Hal yang serupa juga tidak menutup kemungkinan untuk terjadi bagi Bank yang berprinsip syariah.

Bank syariah sebagaimana bank konvensional memiliki peranan yang sama sebagai lalu lintas keeuangan dan memobilisasi dana dari masyarakat bagi peningkatan kesejahteraan, sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. 10 Tahun 1998. Dalam hal iayaan, baik Bank Konvensional maupun Bank Syariah bersinergi untuk mengupayakan serta mendukung masyarakat secara luas yang nantinya berdampak pada sektor perekonomian secara nasional.105

Bank yang berprinsip Syariah secara terus menerus mengalami peningka

perkembangan di setiap tahun. Hal ini juga bersamaan dengan penerapan Good Corporate Governance (GCG). Penerapan ini menjadi penting mengingat GCG merupakan suatu sistem pengelolaan perbankan untuk meningkatkan nilai tambah perusahaan,melindungi pentingan didalamnya dan mengembangkan peraturan terhadap daya patuh terhadap undang yang ada serta nilai etika moral yang berlaku. Oleh karena itu dengan membengun kepercayaan dari masyarakat terhadap kinerja bank syariah dan menjamin inya prinsip syariah memerlukan penerapan Good Corporate Governance (GCG) sebagai bukti dan syarat untuk mengembangkan dan bank syariah ke arah lebih Good Corporate Governance (GCG) diartikan sebagai bentuk penerapan profesionalitas,transparansi,responsibilitas,akuntabilitas serta kewajaran.

adanya penerapan Good Corporate Governance (GCG) pada suatu bank syariah menjadikan bank syariah lebih syariah. Hal ini dikarenakan adanya ketentuan akan kepatuhan terhadap prinsip syariah.108 Dalam opersionalnya, Bank syariah harus secara benar menerapakan dasar prinsip-prinsip syariah. Dan disisi lain tujuan dari

Dinamika Hukum dan Perkembangan Perbankan Islam di Indonesia, Jurnal Al

Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 11/33/PBI/2009 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi

Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) Pasal 1 ayar 10.

Mervyn K. Lewis dan Latifa M. Algaud, Perbankan Syariah, terj. Burhan Subrata (Jakarta: Serambi Ilmu

si operasional bank syariah untuk mematuhi prinsip Good Corporate Governance, pengawasan, Otoritas Jasa

Bank merupakan lembaga keuangan yang memiliki peran penting dalam sebuah Bank akan dihadapkan dengan berbagai resiko yang rumit baik dari faktor dalam (internal) atau faktor luar (eksternal).

Pada saat terjadinya puncak krisis ekonomi di tahun 1998 tidak sedikit Bank konvensional cukup banyak waktu untuk melakukan pemulihan kembali. Salah satu faktor lamanya pemulihan ini adalah kurangnya atau lemahnya praktek Good Corporate Governance. Hal yang serupa juga tidak menutup Bank syariah sebagaimana bank konvensional memiliki peranan yang sama sebagai lalu lintas keeuangan dan memobilisasi dana dari masyarakat bagi peningkatan kesejahteraan, sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. 10 Tahun 1998. Dalam hal iayaan, baik Bank Konvensional maupun Bank Syariah bersinergi untuk mengupayakan serta mendukung masyarakat secara luas yang nantinya berdampak Bank yang berprinsip Syariah secara terus menerus mengalami peningkatan dan perkembangan di setiap tahun. Hal ini juga bersamaan dengan penerapan Good Corporate Governance (GCG). Penerapan ini menjadi penting mengingat GCG merupakan suatu sistem pengelolaan perbankan untuk meningkatkan nilai tambah perusahaan,melindungi pentingan didalamnya dan mengembangkan peraturan terhadap daya patuh terhadap undang yang ada serta nilai etika moral yang berlaku. Oleh karena itu dengan membengun kepercayaan dari masyarakat terhadap kinerja bank syariah dan menjamin inya prinsip syariah memerlukan penerapan Good Corporate Governance (GCG) sebagai bukti dan syarat untuk mengembangkan dan bank syariah ke arah lebih Good Corporate Governance (GCG) diartikan sebagai bentuk penerapan ,responsibilitas,akuntabilitas serta kewajaran.107 Dengan adanya penerapan Good Corporate Governance (GCG) pada suatu bank syariah menjadikan bank syariah lebih syariah. Hal ini dikarenakan adanya ketentuan akan rsionalnya, Bank syariah harus secara prinsip syariah. Dan disisi lain tujuan dari

Jurnal Al-Ahkam, Vol. 23, Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia

od Corporate Governance Bagi Mervyn K. Lewis dan Latifa M. Algaud, Perbankan Syariah, terj. Burhan Subrata (Jakarta: Serambi Ilmu

(3)

pengambangan dan peraturan bank syariah di Indonesia adalah untuk terpenuhinya kepatuhan terhadap pelaksanaan fatwa DSN MUI.

GCG yang diterapkan di bank syariah dan konvensional sesungguhnya adalah sama yaitu sama-sama memiliki lima prinsip. Akan tetapi menurut Lewis dan Algoud selain menerapkan GCG seperti halnya bank konvensional, dalam bank syariah juga harus menerapkan prinsip syariah itu s

syariah merupakan gabungan antara teori GCG yang ditambah dengan teori prinsip syariah.

Menurut Bank Indonesia

GCG terdapat lima prinsip yaitu profesionali serta kewajaran. Adapun unsur

menurut Qawi dan ‘Ismah adalah tidak ada riba, gharar, dan maisir dalam seluruh transaksi bank syariah, amanah, menjalankan

zakat sesuai ketentuan Islam.

Sampai saat ini belum ada pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap penerapan GCG pada perbankan syariah, seharusnya OJK mengawasi dan memberikan peraturan yang tegas pada p

setiap perbankan syariah. Sehingga perbankan syariah bisa lebih baik lagi dan lebih siap bersaing dengan perbankan konvensional apabila penerapan GCG ini benar diterapkan dengan baik oleh perbankan

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Good Corporate Governance

Menurut Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/33/PBI/2009 yang dimaksud dengan

pengelolaan Bank yang menerapakan prinsip profesionalita responsibilitas, akuntabilitas serta kewajaran.

Bank Dunia adalah regulasi dan organisasi dalam bidang ekonomi yang mengatur tentang perilaku perusahaan,direktur serta jajaran petugas yang bertanggung jawab terhadap investor.113

Good corporate governance

proses serta struktur yang digunakan oleh struktur perusahaan (pemilik modal,komisaris,Direksi dan karyawan) sebagai metode untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan a

pemegang saham dalam waktu yang panjang dengan memperhatikan kepentingan stakeholder, berdasarkan undang

sistem didesain untuk mengendalikan dan mengarahka

109 Ibid., 214.

110 PBI No. 11/33/PBI/2009 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Pasal 1 Ayat 10

111 Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Pedoman…, 5

112 Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 11/33/PBI/2009 tentang Pelaksanaan Bank Umum syariah.

113 Mawardi, “Pengaruh Good Corporate Governance Di Indonesia Periode 2010-2015”, Jurnal

114 Andrian Sutedi, Good Corporate Governance

Pengaturan Dan Pengawasan Perbankan Syariah

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | pengambangan dan peraturan bank syariah di Indonesia adalah untuk terpenuhinya kepatuhan terhadap pelaksanaan fatwa DSN MUI.

kan di bank syariah dan konvensional sesungguhnya adalah sama sama memiliki lima prinsip. Akan tetapi menurut Lewis dan Algoud selain menerapkan GCG seperti halnya bank konvensional, dalam bank syariah juga harus menerapkan prinsip syariah itu sendiri.109 Dengan begitu, dalam penerapan GCG di bank syariah merupakan gabungan antara teori GCG yang ditambah dengan teori prinsip

Menurut Bank Indonesia110 dan Komite Nasional Kebijakan Governance

GCG terdapat lima prinsip yaitu profesionalitas, transparansi, responsibilitas, akuntabilitas serta kewajaran. Adapun unsur-unsur yang terdapat di dalam prinsip

menurut Qawi dan ‘Ismah adalah tidak ada riba, gharar, dan maisir dalam seluruh transaksi bank syariah, amanah, menjalankan kegiatan usaha yang halal dan mengelola zakat sesuai ketentuan Islam.

Sampai saat ini belum ada pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap penerapan GCG pada perbankan syariah, seharusnya OJK mengawasi dan memberikan peraturan yang tegas pada perbankan syariah untuk mewajibkan penerapan GCG pada setiap perbankan syariah. Sehingga perbankan syariah bisa lebih baik lagi dan lebih siap bersaing dengan perbankan konvensional apabila penerapan GCG ini benar diterapkan dengan baik oleh perbankan syariah.

Pengertian Good Corporate Governance

Menurut Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/33/PBI/2009 yang dimaksud dengan Good Corporate Governance

pengelolaan Bank yang menerapakan prinsip profesionalitas, transparansi, responsibilitas, akuntabilitas serta kewajaran.112 Sedangkan definisi GCG menurut Bank Dunia adalah regulasi dan organisasi dalam bidang ekonomi yang mengatur tentang perilaku perusahaan,direktur serta jajaran petugas yang bertanggung jawab Good corporate governance atau disingkat dengan GCG merupakan sebuah proses serta struktur yang digunakan oleh struktur perusahaan (pemilik modal,komisaris,Direksi dan karyawan) sebagai metode untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas sebuah perusahaan guna terwujudnya nilai pemegang saham dalam waktu yang panjang dengan memperhatikan kepentingan berdasarkan undang-undang serta nilai etika moral.114 GCG merupakan sistem didesain untuk mengendalikan dan mengarahkan perusahaan terciptanya

1/33/PBI/2009 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Pasal 1 Ayat 10 Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Pedoman…, 5-7

Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 11/33/PBI/2009 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Good Corporate Governance Terhadap Profitabiltas (ROE) Pada Bank Umum Syariah

2015”, Jurnal I-Finance, Vol. 2, Nomor 2 Desember 2016 Good Corporate Governance (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), hlm. 1

an Pengawasan Perbankan Syariah Oleh ...

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | 57 pengambangan dan peraturan bank syariah di Indonesia adalah untuk terpenuhinya kan di bank syariah dan konvensional sesungguhnya adalah sama sama memiliki lima prinsip. Akan tetapi menurut Lewis dan Algoud selain menerapkan GCG seperti halnya bank konvensional, dalam bank syariah juga harus Dengan begitu, dalam penerapan GCG di bank syariah merupakan gabungan antara teori GCG yang ditambah dengan teori prinsip dan Komite Nasional Kebijakan Governance111 dalam tas, transparansi, responsibilitas, akuntabilitas unsur yang terdapat di dalam prinsip-prinsip syariah menurut Qawi dan ‘Ismah adalah tidak ada riba, gharar, dan maisir dalam seluruh kegiatan usaha yang halal dan mengelola Sampai saat ini belum ada pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap penerapan GCG pada perbankan syariah, seharusnya OJK mengawasi dan memberikan erbankan syariah untuk mewajibkan penerapan GCG pada setiap perbankan syariah. Sehingga perbankan syariah bisa lebih baik lagi dan lebih siap bersaing dengan perbankan konvensional apabila penerapan GCG ini benar-benar

Menurut Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor Good Corporate Governance adalah sebuah s, transparansi, Sedangkan definisi GCG menurut Bank Dunia adalah regulasi dan organisasi dalam bidang ekonomi yang mengatur tentang perilaku perusahaan,direktur serta jajaran petugas yang bertanggung jawab atau disingkat dengan GCG merupakan sebuah proses serta struktur yang digunakan oleh struktur perusahaan (pemilik modal,komisaris,Direksi dan karyawan) sebagai metode untuk meningkatkan kuntabilitas sebuah perusahaan guna terwujudnya nilai pemegang saham dalam waktu yang panjang dengan memperhatikan kepentingan GCG merupakan n perusahaan terciptanya

1/33/PBI/2009 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Pasal 1 Ayat 10

Good Corporate Governance bagi Terhadap Profitabiltas (ROE) Pada Bank Umum Syariah

(4)

Farhan Zikry

58 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

hubungan yang transparan,baik dan adil diantara para pihak yang terkait dalam sebuah perusahaan.115

2. Tujuan penerapan Good Corporate Governance

Penerapan sistem GCG dalam perbankan Islam diharapkan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan melalui beberapa tujuan berikut:

a. Meningkatkan efektifitas,efisiensi dan kesinambungan dalam suatu organisasi guna memberikan kontribusi terhadap terciptantanya kesejahteraan pemilik modal,pegawai dan jajaran pengurus lainya serta menjadi sa

menghadapi tantangan dalam organisasi kedepanya.

b. Meningkatkan dan memperkuat organisasi yang dikelola dengan adil,terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

c. Melindungi dan mengakui kewajiban dan hak para jajaran pengurus perusahaan.

d. Menerapkan kaidah demokrasi,partisipasi dan pengelolan organisasi dengan pendekatan yang terpadu dan legitimate.

e. Meningkatkan nilai perusahaan dengan biaya yang rendah, meningkatkan persepsi yang lebih baik dari jajaran pengurus perusahaan dan kinerja keuanga

di masa depan.. 116

3. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance

a. Transparansi adalah nilai keterbukaan dalam memberikan informasi yang meteril dan relevan serta terbuka dalam melaksanakanya. Hal ini dilakukan untuk menjaga objektifitas dalam bisn

material dan relevan sehingga mudah diakses oleh para jajaran pengurus perusahaan. Perusahaan juga diharuskan mengambil inisiatif dan tidak hanya mengacu pada peraturan yang ada akan tetapi juga hal p

keputusan oleh pemilik modal atau pemegang saham, kreditur dan kepentingan lainya.

b. Akuntabilitas adalah penjelasan fungsi dan pertanggungjawaban dari pihak perusahaan sehingga pengelolaan yang ada berjalan secara efektif dan m

Dalam pelaksanaanya, sebuah perusahaan harus mempertanggungjawabkan kinerjanya secara independen dan transparan. Akuntabilitas merupakan persyaratan yang harus dilakukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.

c. Professional adalah mempunyai

tekanan atau independen, bertindak secara objektif serta memiliki kesenggupan dalam mengembangkan komitmen untuk bank syariah.

d. Kewajaran adalah kesetaraan atau keseimbangan dalam memenuhi hak para jajaran pengurus perusahaan berdasarkan kesepakatan dan peraturan yang berlaku.

115 Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia hlm. 179.

116 Veithzal Rivai dan Rifki Ismal, Utama, 2013), hlm.534

117 Amir Machmud dan Rukmana, Erlangga, 2010), hlm.77.

118 Veithzal Rivai dan Rifki Ismal, Utama, 2013), hlm.534

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

hubungan yang transparan,baik dan adil diantara para pihak yang terkait dalam sebuah

Tujuan penerapan Good Corporate Governance

Penerapan sistem GCG dalam perbankan Islam diharapkan nilai tambah bagi berkepentingan melalui beberapa tujuan berikut:

Meningkatkan efektifitas,efisiensi dan kesinambungan dalam suatu organisasi guna memberikan kontribusi terhadap terciptantanya kesejahteraan pemilik modal,pegawai dan jajaran pengurus lainya serta menjadi salah satu solusi dalam menghadapi tantangan dalam organisasi kedepanya.

Meningkatkan dan memperkuat organisasi yang dikelola dengan adil,terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

Melindungi dan mengakui kewajiban dan hak para jajaran pengurus perusahaan.

erapkan kaidah demokrasi,partisipasi dan pengelolan organisasi dengan pendekatan yang terpadu dan legitimate.

Meningkatkan nilai perusahaan dengan biaya yang rendah, meningkatkan persepsi yang lebih baik dari jajaran pengurus perusahaan dan kinerja keuanga

prinsip Good Corporate Governance

Transparansi adalah nilai keterbukaan dalam memberikan informasi yang meteril dan relevan serta terbuka dalam melaksanakanya. Hal ini dilakukan untuk menjaga objektifitas dalam bisnis. Sebuah perusahaan diharuskan membuka informasi yang material dan relevan sehingga mudah diakses oleh para jajaran pengurus perusahaan. Perusahaan juga diharuskan mengambil inisiatif dan tidak hanya mengacu pada peraturan yang ada akan tetapi juga hal penting terkait pengambilan keputusan oleh pemilik modal atau pemegang saham, kreditur dan kepentingan Akuntabilitas adalah penjelasan fungsi dan pertanggungjawaban dari pihak perusahaan sehingga pengelolaan yang ada berjalan secara efektif dan m

Dalam pelaksanaanya, sebuah perusahaan harus mempertanggungjawabkan kinerjanya secara independen dan transparan. Akuntabilitas merupakan persyaratan yang harus dilakukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.

Professional adalah mempunyai kualifikasi kompetensi,bebas dari pengaruh tekanan atau independen, bertindak secara objektif serta memiliki kesenggupan dalam mengembangkan komitmen untuk bank syariah.

Kewajaran adalah kesetaraan atau keseimbangan dalam memenuhi hak para jajaran perusahaan berdasarkan kesepakatan dan peraturan yang berlaku.

Perbankan Syariah di Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007), Veithzal Rivai dan Rifki Ismal, Islamic Risk Management For Islamic Bank, (Jakarta: Gramedia Pustaka Amir Machmud dan Rukmana, Bank Syariah Teori Kebijakan dan Studi Empiris di Indonesia

Veithzal Rivai dan Rifki Ismal, Islamic Risk Management For Islamic Bank, (Jakarta: Gramedia Pustaka

hubungan yang transparan,baik dan adil diantara para pihak yang terkait dalam sebuah

Penerapan sistem GCG dalam perbankan Islam diharapkan nilai tambah bagi Meningkatkan efektifitas,efisiensi dan kesinambungan dalam suatu organisasi guna memberikan kontribusi terhadap terciptantanya kesejahteraan pemilik lah satu solusi dalam Meningkatkan dan memperkuat organisasi yang dikelola dengan adil,terbuka dan Melindungi dan mengakui kewajiban dan hak para jajaran pengurus perusahaan.

erapkan kaidah demokrasi,partisipasi dan pengelolan organisasi dengan Meningkatkan nilai perusahaan dengan biaya yang rendah, meningkatkan persepsi yang lebih baik dari jajaran pengurus perusahaan dan kinerja keuangan perusahaan

Transparansi adalah nilai keterbukaan dalam memberikan informasi yang meteril dan relevan serta terbuka dalam melaksanakanya. Hal ini dilakukan untuk menjaga is. Sebuah perusahaan diharuskan membuka informasi yang material dan relevan sehingga mudah diakses oleh para jajaran pengurus perusahaan. Perusahaan juga diharuskan mengambil inisiatif dan tidak hanya enting terkait pengambilan keputusan oleh pemilik modal atau pemegang saham, kreditur dan kepentingan Akuntabilitas adalah penjelasan fungsi dan pertanggungjawaban dari pihak perusahaan sehingga pengelolaan yang ada berjalan secara efektif dan maksimal.

Dalam pelaksanaanya, sebuah perusahaan harus mempertanggungjawabkan kinerjanya secara independen dan transparan. Akuntabilitas merupakan persyaratan yang harus dilakukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.117

kualifikasi kompetensi,bebas dari pengaruh tekanan atau independen, bertindak secara objektif serta memiliki kesenggupan Kewajaran adalah kesetaraan atau keseimbangan dalam memenuhi hak para jajaran

perusahaan berdasarkan kesepakatan dan peraturan yang berlaku.118

, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007), , (Jakarta: Gramedia Pustaka Bank Syariah Teori Kebijakan dan Studi Empiris di Indonesia, Surabaya:

, (Jakarta: Gramedia Pustaka

(5)

e. Pertanggungjawaban adalah bentuk kepatuhan terhadap peraturan serta menjalankan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpenuhinya kesinambungan dalam kinerja jangk

4. Pengertian dan Tujuan Otoritas Jasa Keuangan Pasal 1 ayat 1 Undang

menyatakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan selamjutnya disingkat OJK merupakan lembaga yang independent dan bebas dari campur tangan pi

fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana yang dimaksud dalam undang

Seturut dengan UU Nomor 21 Tahun 2011, Otoritas Jasa Keuangan merupakan salah satu lembaga nega

fungsinya yakni untuk melakukan penyelenggaraan sistem pengaturan dan pengawasan secara terintegrasi terkait sektor tersebut.

peran Bapepam-LK umumnya digantika

memberikan pengawasan secara intensif terhadap lembaga

diantaranya meliputi pasar modal, perbankan, reksadana, perusahaan pembiayaan, asuransi dan dana pensiun,

Adapun dalam pasal 4 UU Nomor 21 Tahun 20

bahwa pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertujuan agar keseluruhan kegiatan dalam sektor jasa keuangan dapat diselenggarakan secara teratur, adil, transparan, akuntabel, dan mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh seca berkelanjutan dan stabil, serta kepentingan konsumen dan masyarakat dapat terlindungi. Dengan demikian, adanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan dapat mendukung secara menyeluruh terkait kepentingan sektor jasa keuangan sehingga daya saing perekonomian dapat ditingkatkan dengan maksimal. Selain itu, kepentingan Nasional juga harus mampu dijaga ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjalankan tugas dan wewenangnya. Adapun kepentingan Nasional yang dimaksud meliputi peningkatan keikutsertaan sumber da

pengendalian yang intensif, dan kredibilitas kepemilikan dalam sektor jasa keuangan harus senantiasa mempertimbangkan aspek positif globalisasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta perlu adanya landasan berdasarkan

baik, yang mencakup independensi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, transparansi, dan kewajaran (fairness).

5. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan

Dalam sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

fungsi, tugas, dan wewenang. Fungsi, tugas, dan wewenang tersebut ditetapakan dan terintegrasi agar setiap sistem pengawasan dan pengaturan di dalam sektor jasa keuangan tersebut dapat terselenggara dengan baik. Fungsi, tugas, dan wewena Otoritas Jasa Keungan (OJK) tersebut seturut pada Pasal 6 UU Nomor 21 Tahun 2011.

119 Otoritas Jasa Keuangan, Op.Cit.,h. 2

120 Irfan Fahmi, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya : Teori dan Aplikasi,

121 Otoritas Jasa Keuangan, Op.Cit., h..3.

Pengaturan Dan Pengawasan Perbankan Syariah

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | Pertanggungjawaban adalah bentuk kepatuhan terhadap peraturan serta menjalankan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpenuhinya kesinambungan dalam kinerja jangka panjang.

Pengertian dan Tujuan Otoritas Jasa Keuangan

Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonsia Nomor 21 Tahun 2011 menyatakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan selamjutnya disingkat OJK merupakan lembaga yang independent dan bebas dari campur tangan pihak lain yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana yang dimaksud dalam undang-undang tersebut.

Seturut dengan UU Nomor 21 Tahun 2011, Otoritas Jasa Keuangan merupakan salah satu lembaga negara yang menaungi keseluruhan sektor jasa keuangan dengan fungsinya yakni untuk melakukan penyelenggaraan sistem pengaturan dan pengawasan secara terintegrasi terkait sektor tersebut.119 Dalam melaksanakan tugasnya, saat ini LK umumnya digantikan oleh Otoritas Jasa Keuangan yakni memberikan pengawasan secara intensif terhadap lembaga-lembaga keuangan diantaranya meliputi pasar modal, perbankan, reksadana, perusahaan pembiayaan, asuransi dan dana pensiun,120

Adapun dalam pasal 4 UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK disebutkan bahwa pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertujuan agar keseluruhan kegiatan dalam sektor jasa keuangan dapat diselenggarakan secara teratur, adil, transparan, akuntabel, dan mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh seca berkelanjutan dan stabil, serta kepentingan konsumen dan masyarakat dapat terlindungi. Dengan demikian, adanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan dapat mendukung secara menyeluruh terkait kepentingan sektor jasa keuangan sehingga daya omian dapat ditingkatkan dengan maksimal. Selain itu, kepentingan Nasional juga harus mampu dijaga ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjalankan tugas dan wewenangnya. Adapun kepentingan Nasional yang dimaksud meliputi peningkatan keikutsertaan sumber daya manusia, pengelolaan yang terstruktur, pengendalian yang intensif, dan kredibilitas kepemilikan dalam sektor jasa keuangan harus senantiasa mempertimbangkan aspek positif globalisasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta perlu adanya landasan berdasarkan pada prinsip-prinsip tata kelola yang baik, yang mencakup independensi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, transparansi,

(fairness).121

Fungsi, Tugas, dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan

Dalam sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentunya memiliki fungsi, tugas, dan wewenang. Fungsi, tugas, dan wewenang tersebut ditetapakan dan terintegrasi agar setiap sistem pengawasan dan pengaturan di dalam sektor jasa keuangan tersebut dapat terselenggara dengan baik. Fungsi, tugas, dan wewena Otoritas Jasa Keungan (OJK) tersebut seturut pada Pasal 6 UU Nomor 21 Tahun 2011.

Otoritas Jasa Keuangan, Op.Cit.,h. 2-3.

Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya : Teori dan Aplikasi, (Jakarta : Alfabeta, 2014), h. 47.

Otoritas Jasa Keuangan, Op.Cit., h..3.

an Pengawasan Perbankan Syariah Oleh ...

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | 59 Pertanggungjawaban adalah bentuk kepatuhan terhadap peraturan serta menjalankan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat

Undang Republik Indonsia Nomor 21 Tahun 2011 menyatakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan selamjutnya disingkat OJK merupakan hak lain yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan Seturut dengan UU Nomor 21 Tahun 2011, Otoritas Jasa Keuangan merupakan ra yang menaungi keseluruhan sektor jasa keuangan dengan fungsinya yakni untuk melakukan penyelenggaraan sistem pengaturan dan pengawasan Dalam melaksanakan tugasnya, saat ini n oleh Otoritas Jasa Keuangan yakni lembaga keuangan diantaranya meliputi pasar modal, perbankan, reksadana, perusahaan pembiayaan, 11 tentang OJK disebutkan bahwa pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertujuan agar keseluruhan kegiatan dalam sektor jasa keuangan dapat diselenggarakan secara teratur, adil, transparan, akuntabel, dan mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, serta kepentingan konsumen dan masyarakat dapat terlindungi. Dengan demikian, adanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan dapat mendukung secara menyeluruh terkait kepentingan sektor jasa keuangan sehingga daya omian dapat ditingkatkan dengan maksimal. Selain itu, kepentingan Nasional juga harus mampu dijaga ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjalankan tugas dan wewenangnya. Adapun kepentingan Nasional yang dimaksud meliputi ya manusia, pengelolaan yang terstruktur, pengendalian yang intensif, dan kredibilitas kepemilikan dalam sektor jasa keuangan harus senantiasa mempertimbangkan aspek positif globalisasi Otoritas Jasa Keuangan prinsip tata kelola yang baik, yang mencakup independensi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, transparansi,

tentunya memiliki fungsi, tugas, dan wewenang. Fungsi, tugas, dan wewenang tersebut ditetapakan dan terintegrasi agar setiap sistem pengawasan dan pengaturan di dalam sektor jasa keuangan tersebut dapat terselenggara dengan baik. Fungsi, tugas, dan wewenang Otoritas Jasa Keungan (OJK) tersebut seturut pada Pasal 6 UU Nomor 21 Tahun 2011.

(Jakarta : Alfabeta, 2014), h. 47.

(6)

Farhan Zikry

60 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

Menurut UU tersebut,, sistem pengaturan dan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dilakukan pada berbagai sektor kegiatan jasa keuangan. Adapun sektor kegiatan jasa keuangan tersebut mencakup:

a. Kegiatan dalam sektor perbankan.

b. Kegiatan dalam sektor pasar modal.

c. Kegiatan dalam sektor peransurasian, pengadaan dana pensiun, lembaga yang mengatur pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan yang lainnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK diantaranya meliputi :

a. Wewenang mengenai pengawasan dan pengaturan lembaga jasa keuangan bank, diantaranya mencakup:

1) Perizinan terkait pendirian bank, pendirian kantor bankpenetapan anggaran dasar, perencanaan ke

pemberlakuan merger, konsolidasi dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha pada bank.

2) Kegiatan usaha yang, mencakup penetapan sumber dana, ketersediaan dana, hasil hibridasi, dan aktivits kegiata

3) Pengawasan dan pengaturan terkait kesehatan bank yang mencakup: adanya likuiditas sektor keguangan pada instansi terkait, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset yang digunakan, rasio minimum terkait kecukupan modal, pemberian kredit dalam batas maksimum,rasio penyimpanan dan pencadangan peminjaman bank, pelaporan kinerja dan kesehatan bank, informasi sitem debitur, pengujian terkait kredit

4) Pengawasan dan pengaturan terkait

diantaranya mencakup: manajemen terhadap resiko, pengelolaan bank, prinsip terkait pengenalan bank terhadap nasabah dan anti pencucian uang, pencegahan terhadap pembiaya aksi terorisme, kejahatan terkait perbankan, serta pemeriksaan terhadap bank.

b. Wewenang mengenai pengaturan Lembaga Jasa Keuangan baik bank dan non Wewenang terssebut mencakup:

1) Penetapan terkait keputusan dan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

2) Penetapan terkait peraturan dan pengawasan dalam se

3) Penetapan terkait kebijakan yang mengatur mengenai pelaksanaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

4) Penetapan terkait peraturan tata kelola statute terhadap lembaga jasa keuangan.

5) Penetapan terkait struktur organisasi dan infrastruktur, pengel pemeliharaan, tata usaha kekayaan, dan kewajiban.

6) Penetapan terkait peraturan pemberian sanksi seturut dengan perundang undangan yang berlaku disektor jasa keuangan.

c. Wewenang mengenai pengawasan Lembaga Jasa Keuangan baik bank ataupun non bank. Adapun wewenang tersebut diantaranya meliputi:

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

Menurut UU tersebut,, sistem pengaturan dan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dilakukan pada berbagai sektor kegiatan jasa keuangan. Adapun sektor kegiatan

angan tersebut mencakup:

Kegiatan dalam sektor perbankan.

Kegiatan dalam sektor pasar modal.

Kegiatan dalam sektor peransurasian, pengadaan dana pensiun, lembaga yang mengatur pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan yang lainnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memiliki wewenang. Wewenang tersebut diantaranya meliputi :

Wewenang mengenai pengawasan dan pengaturan lembaga jasa keuangan bank, diantaranya mencakup:

Perizinan terkait pendirian bank, pendirian kantor bankpenetapan anggaran dasar, perencanaan kerja, kepemilikan, sumber daya manusia dan kepengurusan, pemberlakuan merger, konsolidasi dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha Kegiatan usaha yang, mencakup penetapan sumber dana, ketersediaan dana, hasil hibridasi, dan aktivits kegiatan yang tercantum pada bidang jasa.

Pengawasan dan pengaturan terkait kesehatan bank yang mencakup: adanya likuiditas sektor keguangan pada instansi terkait, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset yang digunakan, rasio minimum terkait kecukupan modal, mberian kredit dalam batas maksimum,rasio penyimpanan dan pencadangan peminjaman bank, pelaporan kinerja dan kesehatan bank, informasi sitem debitur, pengujian terkait kredit (kredit testing), serta standar akuntansi bank.

Pengawasan dan pengaturan terkait berbagai aspek kehati

diantaranya mencakup: manajemen terhadap resiko, pengelolaan bank, prinsip terkait pengenalan bank terhadap nasabah dan anti pencucian uang, pencegahan terhadap pembiaya aksi terorisme, kejahatan terkait perbankan, serta pemeriksaan terhadap bank.

Wewenang mengenai pengaturan Lembaga Jasa Keuangan baik bank dan non Wewenang terssebut mencakup:

Penetapan terkait keputusan dan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penetapan terkait peraturan dan pengawasan dalam sektor jasa keuangan.

Penetapan terkait kebijakan yang mengatur mengenai pelaksanaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penetapan terkait peraturan tata kelola statute terhadap lembaga jasa keuangan.

Penetapan terkait struktur organisasi dan infrastruktur, pengel pemeliharaan, tata usaha kekayaan, dan kewajiban.

Penetapan terkait peraturan pemberian sanksi seturut dengan perundang undangan yang berlaku disektor jasa keuangan.

Wewenang mengenai pengawasan Lembaga Jasa Keuangan baik bank ataupun non pun wewenang tersebut diantaranya meliputi:

Menurut UU tersebut,, sistem pengaturan dan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dilakukan pada berbagai sektor kegiatan jasa keuangan. Adapun sektor kegiatan

Kegiatan dalam sektor peransurasian, pengadaan dana pensiun, lembaga yang

) juga memiliki wewenang. Wewenang tersebut Wewenang mengenai pengawasan dan pengaturan lembaga jasa keuangan bank,

Perizinan terkait pendirian bank, pendirian kantor bankpenetapan anggaran rja, kepemilikan, sumber daya manusia dan kepengurusan, pemberlakuan merger, konsolidasi dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha Kegiatan usaha yang, mencakup penetapan sumber dana, ketersediaan dana,

n yang tercantum pada bidang jasa.

Pengawasan dan pengaturan terkait kesehatan bank yang mencakup: adanya likuiditas sektor keguangan pada instansi terkait, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset yang digunakan, rasio minimum terkait kecukupan modal, mberian kredit dalam batas maksimum,rasio penyimpanan dan pencadangan peminjaman bank, pelaporan kinerja dan kesehatan bank, informasi sitem

, serta standar akuntansi bank.

berbagai aspek kehati-hatian bank, diantaranya mencakup: manajemen terhadap resiko, pengelolaan bank, prinsip terkait pengenalan bank terhadap nasabah dan anti pencucian uang, pencegahan terhadap pembiaya aksi terorisme, kejahatan terkait perbankan, serta

Wewenang mengenai pengaturan Lembaga Jasa Keuangan baik bank dan non-bank.

Penetapan terkait keputusan dan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

ktor jasa keuangan.

Penetapan terkait kebijakan yang mengatur mengenai pelaksanaan Otoritas Jasa Penetapan terkait peraturan tata kelola statute terhadap lembaga jasa keuangan.

Penetapan terkait struktur organisasi dan infrastruktur, pengelolaan, Penetapan terkait peraturan pemberian sanksi seturut dengan perundang-

Wewenang mengenai pengawasan Lembaga Jasa Keuangan baik bank ataupun non-

(7)

1) Penetapan terkait pengawasan kebijakan operasional mengenai keseluruhan kegiatan jasa keuangan.

2) Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh Kepala Eksekutif.

3) Pelaksanaan pengawasan, pemeriksaan, pen

konsumen dan segela bentuk tindakan lain mengenai lembaga jasa keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jas akeuangan seturut dengan yang tertuang di dalam peraturan perundang

keuangan.

4) Pemberian perintah kepada lembaga jasa keuanagan atau pihak tertentu secara tertulis.

5) Pemberlakuan terkait penunjukkan pengelola statuter.

6) Penetapan erkait penggunaan pengelola statuter.

7) Penetapan sanksi secara administratif yang diberikan kepada

melakukan penyelewengan atau tindakan yang melanggar peraturan perundang undangan yang telah ditetapkan terkait sektor jasa keuangan.

8) Pemberian dan/atau pencabutan terkait izin terhadap usaha, izin terhadap perseorangan, keefektifan terkai

persetujuan terkait pemberlakuan kegiatan usaha, persetujuan, pengesahan, serta terkait penetapan pemburan dan penetapan lainnya.

6. Analisis Peran OJK dalam mengawasi penerapan GCG pada Perbankan Syariah Perihal GCG dalam UU nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan telah diatur baik tentang governance outcome, Governance structure , governance process dan governance structure.

uji kepantasan atau kel

dan kompetensi menajemen perbankan melalui uji kepatutan terhadap pemilik modal atau seham,direksi,komisaris dan pejabat perbankan eksekutif yang mengelola aktivitas bank. Kedua, manajemen bank ya

direksi dan komisaris tidak boleh memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan keuangan (financial) dengan dewan direksi atau komisaris perusahaan lain.

ketentuan untuk direktur dalam peningkatan fungsi

audit internal bank publik mengharusakan direktur kepatuhan yang memiliki tanggung jawab terhadap peraturan yang ada. Dalam pengelolaan bank di Indonesia mewajibkan bank memiliki strategi dan anggaran jangka panjang dan m

dari direksi bank Indonesia pada tahun 1995, dalam hal ini yang dimaksud dengan bank harus memiliki strategi tertuang dengan jelas dan termasuk nilai

di sampaikan kepada seluruh jajaran tingkatan dalam organisasi pengendalian. Perihal

telah mengeluarkan regulasi terkait hal ini. Peraturan tersebut antara lain tentang transparansi keuangan bank serta peningkatan audit eksternal. Ban

keharusan untuk menunjukan

dan afiliasianya sebagai praktik dalam menajemen resiko pada pelaporan keuangan..

122 Otoritas Jasa Keuangan, Op.Cit., h. 5

123 Thomas S. Kaihatu, Good Cooperate Governance dan Penerapannya di Indonesia, Dan Kewirausahaan, Vol.8, No. 1, Maret 2006, hlm. 6

Pengaturan Dan Pengawasan Perbankan Syariah

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | Penetapan terkait pengawasan kebijakan operasional mengenai keseluruhan kegiatan jasa keuangan.

Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh Kepala Eksekutif.

Pelaksanaan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan terhadapa konsumen dan segela bentuk tindakan lain mengenai lembaga jasa keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jas akeuangan seturut dengan yang tertuang di dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait sektor jasa Pemberian perintah kepada lembaga jasa keuanagan atau pihak tertentu secara Pemberlakuan terkait penunjukkan pengelola statuter.

Penetapan erkait penggunaan pengelola statuter.

Penetapan sanksi secara administratif yang diberikan kepada pihak

melakukan penyelewengan atau tindakan yang melanggar peraturan perundang undangan yang telah ditetapkan terkait sektor jasa keuangan.

Pemberian dan/atau pencabutan terkait izin terhadap usaha, izin terhadap perseorangan, keefektifan terkait pernyataan pendaftaran, surat tanda terdaftar, persetujuan terkait pemberlakuan kegiatan usaha, persetujuan, pengesahan, serta terkait penetapan pemburan dan penetapan lainnya. 122

Analisis Peran OJK dalam mengawasi penerapan GCG pada Perbankan Syariah erihal GCG dalam UU nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan telah

governance outcome, Governance structure , governance process governance structure. Dalam governance structure terdiri atas : pertama,

uji kepantasan atau kelayakan. Didalamnya mengatur tentang perningkatan integritas dan kompetensi menajemen perbankan melalui uji kepatutan terhadap pemilik modal atau seham,direksi,komisaris dan pejabat perbankan eksekutif yang mengelola aktivitas manajemen bank yang independen, diharusakan untuk para anggota direksi dan komisaris tidak boleh memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan keuangan (financial) dengan dewan direksi atau komisaris perusahaan lain.

ketentuan untuk direktur dalam peningkatan fungsi audit bank publik. Standart fungsi audit internal bank publik mengharusakan direktur kepatuhan yang memiliki tanggung jawab terhadap peraturan yang ada. Dalam pengelolaan bank di Indonesia mewajibkan bank memiliki strategi dan anggaran jangka panjang dan menengah melalui keputusan dari direksi bank Indonesia pada tahun 1995, dalam hal ini yang dimaksud dengan bank harus memiliki strategi tertuang dengan jelas dan termasuk nilai-

di sampaikan kepada seluruh jajaran tingkatan dalam organisasi serta resiko tentang pengendalian. Perihal governance outcome, Bank Indonesia selaku salah satu regulator telah mengeluarkan regulasi terkait hal ini. Peraturan tersebut antara lain tentang transparansi keuangan bank serta peningkatan audit eksternal. Bank juga memiliki keharusan untuk menunjukan non performing loan dari pemegang saham mayoritas dan afiliasianya sebagai praktik dalam menajemen resiko pada pelaporan keuangan..

Otoritas Jasa Keuangan, Op.Cit., h. 5-9.

Good Cooperate Governance dan Penerapannya di Indonesia, dalam Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, Vol.8, No. 1, Maret 2006, hlm. 6-7.

an Pengawasan Perbankan Syariah Oleh ...

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | 61 Penetapan terkait pengawasan kebijakan operasional mengenai keseluruhan Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh Kepala Eksekutif.

yidikan, perlindungan terhadapa konsumen dan segela bentuk tindakan lain mengenai lembaga jasa keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jas akeuangan seturut dengan yang tertuang undangan yang berlaku terkait sektor jasa Pemberian perintah kepada lembaga jasa keuanagan atau pihak tertentu secara

pihak-pihak yang melakukan penyelewengan atau tindakan yang melanggar peraturan perundang- Pemberian dan/atau pencabutan terkait izin terhadap usaha, izin terhadap

t pernyataan pendaftaran, surat tanda terdaftar, persetujuan terkait pemberlakuan kegiatan usaha, persetujuan, pengesahan, serta

Analisis Peran OJK dalam mengawasi penerapan GCG pada Perbankan Syariah erihal GCG dalam UU nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan telah

governance outcome, Governance structure , governance process pertama, tentang ayakan. Didalamnya mengatur tentang perningkatan integritas dan kompetensi menajemen perbankan melalui uji kepatutan terhadap pemilik modal atau seham,direksi,komisaris dan pejabat perbankan eksekutif yang mengelola aktivitas ng independen, diharusakan untuk para anggota direksi dan komisaris tidak boleh memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan keuangan (financial) dengan dewan direksi atau komisaris perusahaan lain. Ketiga, audit bank publik. Standart fungsi audit internal bank publik mengharusakan direktur kepatuhan yang memiliki tanggung jawab terhadap peraturan yang ada. Dalam pengelolaan bank di Indonesia mewajibkan enengah melalui keputusan dari direksi bank Indonesia pada tahun 1995, dalam hal ini yang dimaksud dengan -nilai yang harus serta resiko tentang Bank Indonesia selaku salah satu regulator telah mengeluarkan regulasi terkait hal ini. Peraturan tersebut antara lain tentang k juga memiliki dari pemegang saham mayoritas dan afiliasianya sebagai praktik dalam menajemen resiko pada pelaporan keuangan..123

dalam Jurnal Manajemen

(8)

Farhan Zikry

62 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

Tata kelola yang baik disebut juga dengan istilah (GCG). Good Corporate Governance

digunakan oleh para pihak yang ada di perusahaan untuk mencapai tujuan dan meningkatkan keberhasilan suatu perusahaan yang berlandaskan peraturan perundang undangan.124 Berkaitan denga

pasal 34 yang menyebutkan bahwa bahwa bank syariah harus melakukam tata kelola yang baik dengan menerapakan prinsip akuntabilitas, profesionalitas, transparansi, pertanggungjawaban dan kewajaran dalam menjal

Pengimplemantasian

dimaksudkan untuk menjadikan bank syariah lebih syariah. Hal ini dikarenakan dalam industri perbankan syariah harus menerapkan beberapa prinsip yang memenuhi syariah itu sendiri. Dalam hal operasional, perbankan syariah diharuskan menjalankan prinsip syariah dengan benar. Disisi lain, perihal pengembangan dan regulasi tentang bank syariah ditujukan untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip

menjalankan pengelolaanya dengan melaksanakan fatwa yang telah dikeluarkan DSN MUI.

Good Corporate Governance

yang didesain untuk meningkatkan performa dari bank, melindungi kepentingan dari jajaran pengelola serta meningkat

yang berlaku. Oleh karenanya, untuk membangun kepercaayaan dari masyarakat kepada bank dan terjaminya kepatuhan kepada prinsip syariah maka perlu diberlakukan GCG sebagai syarat untuk mengembangkan ban

Upaya untuk menerapkan GCG secara efektif pada bank syariah dilakukan Bank Indonesia dengan mengeluarkan peraturan bank Indonesia nomor 11/33/PBI/2009 yang kemudian dilengkapi denga (SEBI) surat edaran bank Indonesia t

Good Corporate Governance

dikeluarkanya peraturan tersebut seriap bank syariah diwajibkan untuk menerapkan Good Corporate Governance

melaksanakan hal tersebut kemudian membuat laporan tentang penerapan atas Corporate Governance

Pengawasan dari OJK terhadap Perbankan Syariah dalam memperkuat GCG sangatlah penting, di mana saat ini perbankan syariah masih kalah sa

perbankan konvensional, dengan memperkuat GCG dipadukan dengan prinsip syariah itu akan membuat perbankan syariah menjadi lebih menarik meningkatkan daya saing tersendiri.

Dengan ditetapkanya UU nomor 21 tahun 2011 yang menjadi dasar hukum OJK yang melegitimasi OJK sebagai lembaga yang independen yang memiliki tugas, fungsi dan regulator. Selain hal tersebut OJK juga memiliki peran sebagai pengawas, pemeriksa dan penyidik sebagaiman diatur dalam UU.

Dalam menjalankan fungsinya sebagai regulator d

kerjasama dengan Bank Indonesia dan memiliki kewenangan yang saling bersinergi

124 Andrian Sutedi, Good Corporate Governance

125 Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, Pasal 34 ayat (1)

126 Moh. Wahyudin Zarkasyi (2008).

Perbankan Dan Jasa Keungan Lainnya Vol. 16, No. 1 Maret 2022

Tata kelola yang baik disebut juga dengan istilah Good Corporate Governance Good Corporate Governance (GCG) adalah penerapan prinsip

digunakan oleh para pihak yang ada di perusahaan untuk mencapai tujuan dan meningkatkan keberhasilan suatu perusahaan yang berlandaskan peraturan perundang

Berkaitan dengan prinsip GCG terdapat UU No. 21 Tahun 2008 pada pasal 34 yang menyebutkan bahwa bahwa bank syariah harus melakukam tata kelola yang baik dengan menerapakan prinsip akuntabilitas, profesionalitas, transparansi, pertanggungjawaban dan kewajaran dalam menjalankan usahanya..125

Pengimplemantasian Corporate Governance pada perbankan syariah dimaksudkan untuk menjadikan bank syariah lebih syariah. Hal ini dikarenakan dalam industri perbankan syariah harus menerapkan beberapa prinsip yang memenuhi syariah diri. Dalam hal operasional, perbankan syariah diharuskan menjalankan prinsip syariah dengan benar. Disisi lain, perihal pengembangan dan regulasi tentang bank syariah ditujukan untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah dalam pengelolaanya dengan melaksanakan fatwa yang telah dikeluarkan DSN Good Corporate Governance atau disingkat GCG merupakan sebuah sistem yang didesain untuk meningkatkan performa dari bank, melindungi kepentingan dari jajaran pengelola serta meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi dan nilai etika moral yang berlaku. Oleh karenanya, untuk membangun kepercaayaan dari masyarakat kepada bank dan terjaminya kepatuhan kepada prinsip syariah maka perlu diberlakukan GCG sebagai syarat untuk mengembangkan bank kearah yang sehat dan lebih baik.

Upaya untuk menerapkan GCG secara efektif pada bank syariah dilakukan Bank Indonesia dengan mengeluarkan peraturan bank Indonesia nomor 11/33/PBI/2009 yang kemudian dilengkapi denga (SEBI) surat edaran bank Indonesia tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance di Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah. Semenjak dikeluarkanya peraturan tersebut seriap bank syariah diwajibkan untuk menerapkan Good Corporate Governance serta melaksanakan self assessment.

an hal tersebut kemudian membuat laporan tentang penerapan atas Corporate Governance dalam laporan setiap tahunya

Pengawasan dari OJK terhadap Perbankan Syariah dalam memperkuat GCG sangatlah penting, di mana saat ini perbankan syariah masih kalah sa

perbankan konvensional, dengan memperkuat GCG dipadukan dengan prinsip syariah itu akan membuat perbankan syariah menjadi lebih menarik meningkatkan daya saing Dengan ditetapkanya UU nomor 21 tahun 2011 yang menjadi dasar hukum OJK ang melegitimasi OJK sebagai lembaga yang independen yang memiliki tugas, fungsi dan regulator. Selain hal tersebut OJK juga memiliki peran sebagai pengawas, pemeriksa dan penyidik sebagaiman diatur dalam UU.

Dalam menjalankan fungsinya sebagai regulator dan pengawas, OJK memiliki kerjasama dengan Bank Indonesia dan memiliki kewenangan yang saling bersinergi

Good Corporate Governance (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), hlm. 1 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, Pasal 34 ayat (1)

Moh. Wahyudin Zarkasyi (2008). Good Corporate Governance Pada Perusahaan Badan Usaha Manufaktur, Perbankan Dan Jasa Keungan Lainnya (Bandung: Alfabeta), hlm. 35.

Good Corporate Governance (GCG) adalah penerapan prinsip-prinsip yang digunakan oleh para pihak yang ada di perusahaan untuk mencapai tujuan dan meningkatkan keberhasilan suatu perusahaan yang berlandaskan peraturan perundang-

n prinsip GCG terdapat UU No. 21 Tahun 2008 pada pasal 34 yang menyebutkan bahwa bahwa bank syariah harus melakukam tata kelola yang baik dengan menerapakan prinsip akuntabilitas, profesionalitas, transparansi,

pada perbankan syariah dimaksudkan untuk menjadikan bank syariah lebih syariah. Hal ini dikarenakan dalam industri perbankan syariah harus menerapkan beberapa prinsip yang memenuhi syariah diri. Dalam hal operasional, perbankan syariah diharuskan menjalankan prinsip syariah dengan benar. Disisi lain, perihal pengembangan dan regulasi tentang bank prinsip syariah dalam pengelolaanya dengan melaksanakan fatwa yang telah dikeluarkan DSN atau disingkat GCG merupakan sebuah sistem yang didesain untuk meningkatkan performa dari bank, melindungi kepentingan dari kan kepatuhan terhadap regulasi dan nilai etika moral yang berlaku. Oleh karenanya, untuk membangun kepercaayaan dari masyarakat kepada bank dan terjaminya kepatuhan kepada prinsip syariah maka perlu diberlakukan

k kearah yang sehat dan lebih baik.126 Upaya untuk menerapkan GCG secara efektif pada bank syariah dilakukan Bank Indonesia dengan mengeluarkan peraturan bank Indonesia nomor 11/33/PBI/2009 yang entang Pelaksanaan di Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah. Semenjak dikeluarkanya peraturan tersebut seriap bank syariah diwajibkan untuk menerapkan self assessment. Setelah an hal tersebut kemudian membuat laporan tentang penerapan atas Good Pengawasan dari OJK terhadap Perbankan Syariah dalam memperkuat GCG sangatlah penting, di mana saat ini perbankan syariah masih kalah saing dengan perbankan konvensional, dengan memperkuat GCG dipadukan dengan prinsip syariah itu akan membuat perbankan syariah menjadi lebih menarik meningkatkan daya saing Dengan ditetapkanya UU nomor 21 tahun 2011 yang menjadi dasar hukum OJK ang melegitimasi OJK sebagai lembaga yang independen yang memiliki tugas, fungsi dan regulator. Selain hal tersebut OJK juga memiliki peran sebagai pengawas, an pengawas, OJK memiliki kerjasama dengan Bank Indonesia dan memiliki kewenangan yang saling bersinergi

Good Corporate Governance Pada Perusahaan Badan Usaha Manufaktur,

(9)

dalam menjalankan fungsinya sebagai regulator dan pengawas. Dalam ruang lingkup micropudential dilakukan oleh OJK. Sedangkan dalam ruang lingkup

menjadi wewenang dari Bank Indonesia.

C. KESIMPULAN

Good Corporate Governance

yang merapkan beberapa prinsip antara lain : profesionalitas, transparansi, responsibilitas, akuntabilitas serta kewaj

Bank syariah diharapkan menjadikan bank syariah lebih syariah lagi kerena dalam industri perbankan syariah terdapat keharusan untuk memenuhi prinsip syariah. Dalam operasionalnya, bank syariah harus p

Keuangan (OJK) belum mengawasi dan memberikan peraturan yang tegas terhadap perbankan syariah untuk mewajibkan penerapan GCG pada setiap perbankan syariah.

Pengawasan dari OJK terhadap perbankan syariah dal

penting, di mana saat ini perbankan syariah masih kalah saing dengan perbankan konvensional, dengan memperkuat GCG dipadukan dengan prinsip syariah akan membuat perbankan syariah menjadi lebih menarik dan meningkatkan daya saing

Pengaturan Dan Pengawasan Perbankan Syariah

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | dalam menjalankan fungsinya sebagai regulator dan pengawas. Dalam ruang lingkup

dilakukan oleh OJK. Sedangkan dalam ruang lingkup menjadi wewenang dari Bank Indonesia.

Good Corporate Governance adalah suatu tatakelola organisasi atau korporasi yang merapkan beberapa prinsip antara lain : profesionalitas, transparansi, responsibilitas, akuntabilitas serta kewajaran. Good Corporate Governance dalam penerapanaya pada Bank syariah diharapkan menjadikan bank syariah lebih syariah lagi kerena dalam industri perbankan syariah terdapat keharusan untuk memenuhi prinsip syariah. Dalam operasionalnya, bank syariah harus patuh terhadap prinsip. Di sisi lain Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum mengawasi dan memberikan peraturan yang tegas terhadap perbankan syariah untuk mewajibkan penerapan GCG pada setiap perbankan syariah.

Pengawasan dari OJK terhadap perbankan syariah dalam meperkuat GCG sangatlah penting, di mana saat ini perbankan syariah masih kalah saing dengan perbankan konvensional, dengan memperkuat GCG dipadukan dengan prinsip syariah akan membuat perbankan syariah menjadi lebih menarik dan meningkatkan daya saing tersendiri.

an Pengawasan Perbankan Syariah Oleh ...

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | 63 dalam menjalankan fungsinya sebagai regulator dan pengawas. Dalam ruang lingkup dilakukan oleh OJK. Sedangkan dalam ruang lingkup macroprudential

adalah suatu tatakelola organisasi atau korporasi yang merapkan beberapa prinsip antara lain : profesionalitas, transparansi, responsibilitas,

dalam penerapanaya pada Bank syariah diharapkan menjadikan bank syariah lebih syariah lagi kerena dalam industri perbankan syariah terdapat keharusan untuk memenuhi prinsip syariah. Dalam atuh terhadap prinsip. Di sisi lain Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum mengawasi dan memberikan peraturan yang tegas terhadap perbankan syariah untuk mewajibkan penerapan GCG pada setiap perbankan syariah.

am meperkuat GCG sangatlah penting, di mana saat ini perbankan syariah masih kalah saing dengan perbankan konvensional, dengan memperkuat GCG dipadukan dengan prinsip syariah akan membuat

tersendiri.

Referensi

Dokumen terkait

The purpose of this study was to determine whether there was a significant difference in taxpayer compliance before and after taxpayers participated in the tax

menggunakan prinsip sesuai syariah dilingkungan perbankan syariah di Indonesia utamanya di Bank Muamalat KCP Palopo. Adapun dalam hal ini pihak bank dapat