PENGAWASAN TERHADAP NOTARIS YANG TIDAK MEMBUKA KANTOR SUPERVISION OF NOTARY THAT DOES NOT OPEN AN OFFICE
Mariana, Darmawan, Suhaimi Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala
Jalan Putroe Phang No. 1 Darussalam, Banda Aceh 23111 E-mail: [email protected]; Telp.: (0651) 7552295 Diterima: 14/09/2018; Revisi: 22/12/2018; Disetujui: 23/12/2018
DOI: https://doi.org/10.24815/kanun.v21i3.11836 ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengkaji akibat hukum terhadap notaris yang tidak membuka kantor, dikaitkan dengan pengawasannya. Setelah pengambilan sumpah dan pelantikan, notaris wajib menjalankan jabatannya secara nyata yaitu salah satunya wajib membuka kantor. Kenyataanya masih ditemukan notaris yang tidak membuka kantor. Metode penelitian ini adalah yuridis empiris, dengan mengkaji ketentuan hukum yang berlaku serta apa yang terjadi dalam kenyataan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akibat hukum bagi notaris yang tidak membuka kantor, Majelis Pengawas Daerah bisa merekomendasikan kepada Majelis Pengawas Wilayah dan Majelis Pengawas Pusat untuk menjatuhkan sanksi terhadap notaris yang kantor tidak dibuka.
Diharapkan Majelis Pengawas Daerah lebih tegas dalam melakukan pengawasan terhadap notaris yang tidak membuka kantor, melakukan pemeriksaan dan pembinaan secara rutin kepada notaris supaya tidak ada notaris yang tidak membuka kantor, dan notaris bisa melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Kata Kunci: pengawasan notaris; membuka kantor; sanksi.
ABSTRACT
This study aims to examine the legal consequences of notaries who do not open offices, linked to their supervision. After taking an oath and inauguration, the notary is obliged to carry out his position significantly, one of which must open an office. The fact is still found notary who does not open an office. The research method is empirical juridical, by reviewing the applicable legal provisions and what is happening in the reality of society. The results showed that the legal consequences for notaries who did not open offices, the Regional Supervisory Council could recommend to the Regional Supervisory Council and the Central Supervisory Council will impose sanctions. It is hoped that the Regional Supervisory Council will be more assertive in supervising notaries, conduct regular checks and guidance so that there are no notaries who do not open offices, and notaries can carry out their duties and obligations in accordance with applicable laws.
Key Words: supervision of notaries; open offices; sanctions.
PENDAHULUAN
Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 yang telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan (selanjutnya disebut UUJN), yang dimaksud notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini atau berdasarkan undang- undang lannya. Notaris sebagai pejabat umum adalah pejabat yang oleh undang-undang diberi wewenang, untuk membuat suatu akata autentik, namun dalam hal ini pejabat yang dimaksud bukanlah pegawai negeri.
Jabatan notaris adalah jabatan publik karena notaris diangkat dan diberhentikan pemerintah (Heriyanti, 2016). Jabatan notaris lahir karena msyarakat membutuhkan, bukan karena jabatan yang sengaja diciptakan, kemudian baru disosialisasikan kepada khalayak (Afifah, 2017). Nogtaris sebagai jabatan publik bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan (Erwinsyahbana & Melinda, 2018).
Pembinaan dan pengawasan notaris dilakukan oleh negara yang dalam hal ini dijalankan oleh menteri. Menteri yang dimaksud menurut UUJN adalah menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang kenotariatan atau dengan tegas adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kemudian dalam pengawasannya menteri mendelegasikan kepada sebuah Majelis Pengawas Notaris (MPN) yang terdiri dari Majelis Pengawas Daerah (MPD), Majelis Pengawas Wilayah (MPW), dan Majelis Pengawas Pusat Notaris (MPPN) sebagaimana diatur dalam Pasal 67 UUJN.
Pelaksanaan pengawasan terhadap notaris dilakukan dengan dibentuknya Majelis Pengawas Notaris di tiap kabupaten atau kota dimaksud untuk meningkatkan pelayanan dan perlindungan hukum bagi masyarakat pengguna jasa notaris. Adanya pengawasan ini juga disebabkan karena pada faktanya terjadi penyimpangan-penyimpangan yang banyak dilakukan oleh notaris dalam
melaksanakan tugas dan jabatannya mulai dari penyimpangan yang bersifat administratif maupun penyimpangan yang mengakibatkan kerugian materiil pada masyarakat pengguna jasa Notaris.
Dalam menjalankan fungsi pengawasan dengan baik, maka telah disusun beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tugas, wewenang dan kewajiban Majelis Pengawas Daerah Notaris dengan UUJN, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan, Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi, Tata Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris, Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.39-PW.07.10 tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Majelis Pengawas Notaris, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2014 tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan, Perpindahan dan pemberhentian dan Perpanjangan Masa Jabatan Notaris.
Adapun fungsi pengawasan yang diemban oleh Majelis Pengawas Daerah Notaris meliputi:
(1) Kewenangan Majelis Pengawas Daerah Notaris yang berkaitan dengan pemeriksaan atas pengambilan Minuta akta; (2) Melakukan pemeriksaan atas pemanggilan Notaris dalam proses peradilan; (3) Melakukan pemeriksaan terhadap laporan masyarakat mengenai adanya dugaan pelanggaran Kode Etik oleh Notaris atau peraturan mengenai jabatan Notaris; (4) Melakukan pemeriksaan terhadap protokol Notaris (Adjie, 2008).
Tujuan dari pengawasan agar notaris bersungguh-sungguh memenuhi persyaratan-persyaratan dan menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perundang-undangan yang berlaku, demi pengamanan kepentingan masyarakat umum. Sedangkan yang menjadi tugas pokok pengawasan notaris adalah agar segala hak dan kewenangan maupun kewajiban yang diberikan kepada notaris dalam menjalankan tugasnya sebagaimana yang diberikan oleh peraturan dasar yang bersangkutan, senantiasa dilakukan diatas jalur yang telah ditentukan bukan saja jalur hukum, tetapi juga atas dasar moral dan etika profesi demi terjaminnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat.
Majelis Pengawas Notaris, tidak hanya berwenang melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap notaris, tetapi juga berwenang untuk menjatuhkan sanksi tertentu terhadap notaris yang telah terbukti melakukan pelanggaran hukum terhadap peraturan jabatan notaris (Adjie, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian di Provinsi Aceh diketahui bahwa Majelis Pengawas Notaris di Aceh berpusat pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Aceh. Majelis Pengawas Notaris di Aceh terbagi dalam dua bentuk majelis, yaitu Majelis Pengawas Wilayah (MPW) untuk tingkat Provinsi dan Majelis Pengawas Daerah (MPD) untuk tingkat Kabupaten/Kota dengan jumlah notaris yang diawasi 163 orang. MPD yang telah terbentuk hanya tiga yaitu: (1) MPD Banda Aceh, ruang lingkup kerjanya meliputi Kota Banda Aceh, Kota Sabang dan Kabupaten Aceh Besar dengan jumlah notaris 62 orang; (2) MPD Aceh Utara, ruang lingkup kerjanya meliputi Kabupaten Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Kota Bireuen, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kabupaten Bener Meriah, dengan jumlah notaris 36 orang; (3) MPD Aceh Timur, ruang lingkup kerjanya Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Tamiang, Kota Langsa dengan jumlah notaris 21 orang.
Kabupaten/kota yang tidak termasuk di dalam ketiga Majelis Pengawas Daerah Notaris tersebut, maka berada didalam pengawasan Majelis Pengawas Wilayah (MPW) yang meliputi Kabupaten Aceh Jaya, kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, Kota Subussalam, Simeulu, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, kabupaten Aceh Singkil, kabupaten Gayo Lues, dan kabupaten Aceh Tenggara dengan jumlah notaris 44 orang.
Notaris yang tidak membuka kantor apabila sudah dilantik selama 60 hari setelah pelantikan berarti tidak menjalankan kewajibannya sebagai notaris seperti yang termuat di dalam Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tentang Pengangkatan Notaris, di dalam konsideran menetapkan nomor dua mewajibkan notaris huruf 2 berbunyi:
“ dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal pengucapan sumpah/janji jabatan Notaris, yang bersangkutan wajib:
a. Menjalankan jabatannya dengan nyata;
b. Menyampaikan berita acarasumpah/janji jabata Notaris kepada Menteri, organisasi, dan majelis Pengawas daerah; dan
c. Menyampaikan alamat kantor, contoh tanda tangan, paraf, dan teraan cap/ stempel jabatan Notaris berwarna merah kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia cq.
Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum, Instansi Pertanahan, Organisasi Notaris pada tingkat (kabupaten/kota, provinsi dan pusat), Majelis Pengawas Notaris pada tingkat (kabupaten/kota, provinsi dan pusat), serta Bupati atau Walikota di tempat kedudukan Notaris.
Ada dua penelitian terdahulu yang terkait dengan Kewenangan Majelis Pengawas Notaris yaitu Edison yang menjelaskan kewenangan Majelis Pengawas Daerah di Kota Banda Aceh terkait dengan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan secara umum oleh notaris, antara lain: Akta dibuat tanpa dihadiri oleh saksi-saksi, padahal di dalam akta disebutkan harus dihadiri oleh saksi-saksi, akta tidak dibacaakan di depan notaris, notaris membuat akta di luar wilayah, dan seorang notaris membuka cabang, padahal itu melanggaran ketentuan undang-undang dan kode etik notaris (Edison, 2014).
Penelitian lain dilakukan Dwi Bagus Wibisono tentang peranan Majelis Pengawas Daerah Notaris terhadap pelaksanaan jabatan notaris. Ia menjelaskan Majelis Pengawas Daerah mempunyai kewenangan untuk memeriksa notaris sehubungan dengan permintaan penyidik, penuntut umum, atau hakim untuk mengambil fotokopi, minuta, atau surat-surat lainnya yang dilekatkan pada minuta atau dalam protokol notaris yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya atau dalam protokol notaris yang berada dalam penyimpanan notaris (Wibisono, 2018).
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini ingin menjawab bagaimana bentuk pengawasan yang dilakukan Majelis Pengawas Daerah terhadap notaris yang tidak membuka kantor, serta kendala apa yang dihadapi oleh MPD dalam melakukan pengawasan terhadap notaris yang tidak membuka kantor?
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis empiris yaitu penelitian dilakukan terhadap kenyataan yang sebenarnya atau keadaan yang nyata di dalam masyarakat dengan maksud untuk mengetahui dan menemukan fakta-fakta dan data yang dibutuhkan dengan mewawancarai para responden dan informan yang terkait dengan pelaksanaan kewenangan MPD (Sulaiman, 2018).
Untuk memperoleh data sekunder dilakukan penelitian kepustakaan dengan mempelajari peraturan perundang-undangan, buku-buku teks, teori-teori yang berkaitan dengan kewenangan MPD Notaris.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Majelis Pengawas Daerah Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Timur telah melakukan Pengawasan dan melakukan pemeriksaan terhadap notaris yang tidak membuka kantor dalam wilayah hukum Kota Banda Aceh dengan cara: (1) Menyelenggarakan sidang untuk memeriksa adanya dugaan pelanggaran kode etik notaris atau pelanggaran pelaksanaan jabatan notaris; (2) Melakukan pemerikasaan terhadap protokol notaris secara berkala satu kali dalam satu tahun atau setiap waktu yang dianggap perlu; (3) Menetapkan notaris pengganti dengan memperhatikan usul notaris yang bersangkutan; (4) Menunjuk notaris yang akan bertindak sebagai pemegang sementara protokol notaris yang diangkat sebagai pejabat negara; (5) Menerima laporan masyarakat mengenai adanya dugaan pelanggaran kode etik notaris atau pelanggaran ketentuan dalam UUJN; (6) Membuat dan menyampaikan laporan kepada Majelis Pengawas Wilayah.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa bentuk pengawasan yang dilakukan Majelis Pengawas Daerah Kota Banda Aceh dan Aceh Timur melakukan yaitu pemeriksaan terhadap protokol notaris, untuk keperluan pemeriksaan rutin (setahun sekali) maupun waktu tertentu sesuai keperluan. MPD Kota Banda Aceh dan MPD Kabupaten Aceh Timur telah terbentuk tim pemeriksa yang terdiri dari tiga orang berasal dari masing-masing unsur, dibantu satu orang sekretaris. Dengan mempertimbangkan efesiensi waktu dan efektivitas tugas yang dilaksanakan tim pemeriksa yang telah terbentuk itu mempunyai koordinator wilayah yang cukup luas.
Tata kerja dari MPD diatur dalam Pasal 15 Peraturan Menteri, antara lain tujuh hari kerja sebelum pemeriksaan dilakukan, kepada notaris yang bersangkutan disampaikan pemberitahuan tertulis yang mencantumkan jam, hari dan tanggal pemeriksaan serta komposisi tim pemeriksa. Hal ini telah dilaksanakan oleh pihak MPD Kota Banda Aceh, dimana sebelum melakukan pengawasan pihak kesekretariatan MPD mengirim surat pemberitahuan kepada notaris yang bersangkutan dan hal ini juga dibenarkan oleh beberapa notaris yang berhasil ditemui.
Informan notaris di Banda Aceh, menyebutkan bahwa pada waktu pemeriksaan dilakukan, notaris bersangkutan wajib berada di kantornya dan mempersiapkan semua protokol yang akan diperiksa, yang terdiri dari: (1) Minuta akta; (2) Buku daftar akta atau reportorium; (3) Buku khusus untuk mendaftarkan surat di bawah tangan yang disahkan tanda tangannya dan surat di bawah tangan yang dibukukan; (4) Buku daftar nama penghadap atau klapper dari daftar akta dan daftar surat di bawah tangan yang disahkan; (5) Buku daftar protes; (6) Buku daftar wasiat; dan (7) Buku daftar lain yang harus disimpan oleh notaris berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Semua buku di atas merupakan protokol notaris, yang diatur dalam keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.39-PW.07.10 Tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Majelis Pengawas Notaris. Menurut informan, selain protokol notaris yang menjadi objek Tim Pemeriksa pada saat melakukan pengawasan dan pembinaan pada sebuah kantor notaris, antara lain: (1) Kondisi kantor Notaris; (2) Surat pengangkatan sebagai Notaris dan Berita Acara Sumpah Jabatan; (3) Surat keterangan izin cuti Notaris dan sertifikat cuti Notaris; (4) Keadaan arsip; (5) Keadaan penyimpanan akta; (6) Laporan bulanan; (7) Uji petik terhadap akta; (8) Jumlah pegawai, dan; (9) Sarana kantor.
Hasil penelitian pada MPD Kota Banda Aceh juga diketahui bahwa notaris yang berada di bawah pengawasan MPD Kota Banda Aceh dalam melaksanakan tugas dan fungsinya juga ada yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 UUJN tentang kewenangan notaris, Pasal 16 UUJN tentang kewajiban dan Pasal 17 UUJN tentang larangan bagi notaris yang merugikan
masyarakat. Hal ini ditunjukkan dalam Notula Rapat MPD Notaris Kota Banda Aceh pada tanggal 23 Agustus 2017 tentang Pemanggilan Notaris inisial NZ dan ER. Apabila sampai pada saat tenggang waktu tersebut notaris tidak dapat memberikan keputusan sesuai dengan ketentuan dalam UUJN.
Berdasarkan pemeriksaan, rekomendasi yang dikeluarkan MPD Kota Banda Aceh adalah sebagai berikut:
1. Bahwa notaris inisial NZ dan ER tidak menjalankan kewajibannya sebagai notaris berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat (1) huruf a dan Pasal 17 ayat (1) huruf b UUJN.
2. Bahwa Notaris inisial NZ selama hampir 1 (satu) tahun tidak pernah buka kantor. Dari keterangan yang diperoleh, bahwa notaris memiliki pekerjaan lain selain notaris sehingga notaris berkeinginan untuk megundurkan diri dari jabatan notaris. Minute akta yang telah dibuat disimpan dalam lemari arsip di rumah notaris.
3. Bahwa notaris berinisial ER selama hampir 6 bulan tidak melaksanakan kewajibannya untuk buka kantor. Dari keterangan diperoleh, bahwa pada saat menjalankan kewajibannya sebagai notaris dia merasa terintimidasi dan merasa mendapat pelecehan seksual dari penduduk setempat sehingga ia merasa tidak nyaman melaksanakan tugasnya.
Adapun yang menjadi kendala yang dihadapi MPD, notaris dalam mengawasi notaris yang tidak membuka kantor yaitu:
a. Masih terbatasnya dana yang digunakan oleh pengawas daerah notaris Kota Banda Aceh dan Aceh Timur untuk melakukan pengawasan.
Dalam hal pendanaan seharusnya disediakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Aceh masih tidak memadai untuk
memeriksa seluruh notaris yang ada di kabupaten/kota dikarenakan banyaknya notaris yang harus dikunjungi oleh MPD notaris.
b. Terbatasnya waktu dalam melakukan pengawasan.
Keterbatasan waktu ini disebabkan kesibukan masing-masing anggota MPD Kota Banda Aceh dan Aceh Timur baik yang bekerja sebagai dosen, maupun yang bekerja sebagai notaris dan yang bekerja sebagai pejabat negeri sipil di masing-masing instansi berkait.
c. MPD notaris tidak Mempunyai kewenangan dalam menjatuhi sanksi yang tegas terhadap notaris yang tidak membuka kantor tetapi MPD notaris hanya bisa memberikan sanksi secara tertulis dan merekomendasikan penjatuhan sanksi kepada Majelis Pengawas Wilayah dan Majelis Pengawas Pusat.
d. MPD notaris belum mempunyai kantor sendiri, sehingga segala proses administrasi masih belum baik, sarana dan prasarana belum layak sebagai kantor. Bagaimana Majelis Pengawas melakukan pemeriksaan di kantor notaris, sedangkan Majelis Pengawas sendiri belum mempunyai kantor, selama ini masih menggunakan ruangan atau gedung pinjaman dari Kantor Wilayah dan ruangan Lembaga Pemasyarakatan.
e. Faktor intern sesama notaris dimana anggota Majelis Pengawas Notaris dari unsur notaris yang merasa tidak enak memeriksa sesama notaris. Sehingga membuat kinerja pengawasan terhadap notaris menjadi tidak profesional.
Adapun yang menjadi hambatan yang dihadapi MPD notaris dalam mengawasi notaris yang tidak membuka kantor yaitu:
a. Alamat yang tidak sesuai dengan alamat yang ada pada Sekretariat MPD, sehingga ketika Tim melakukan pemeriksaan di lapangan tidak ditemukannya alamat kantor tersebut.
b. Kurangnya partisipasi masyarakat dalam memberikan laporan kepada Majelis Pengawas terhadap notaris yang tidak membuka kantor.
Dalam pelaksanaan pengawasan dan pembinaan terhadap notaris di wilayah kerjanya MPD Kota Banda Aceh dan Aceh Timur masih berhadapan dengan berbagai hambatan secara intern dan ekstern. Walaupun tidak tertutup kemungkinan kendala hambatan lain juga timbul dan mengganggu kinerja MPD dalam pelaksanaan pengawasan.
Akibat Hukum bagi notaris yang tidak membuka kantor dari hasil penelitian pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Aceh terhadap notaris yang tidak membuka kantor di Kabupaten Aceh Besar selama ini sudah dilakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap notaris yang bersangkutan serta sudah dilakukan peringatan tertulis kepada notaris yang tidak membuka kantor. Namun ada notaris yang berjanji bahwa akan membuka kembali kantor dalam tempo waktu yang disepakati bersama.
Sementara terhadap notaris yang tidak membuka kantor di Kabupaten Aceh Timur, MPD Kabupaten Aceh Timur telah merekomendasikan kepada Majelis Pengawas Wilayah dan Majelis Pengawas Pusat Notaris agar diusulkan atau diberi sanksi pemberhentian dengan tidak hormat terhadap notaris yang bersangkutan.
Berdasarkan hasil pemantauan dan monitoring Tim MPD notaris Kota Banda Aceh di lapangan menemukan notaris yang melanggar kewajiban sebagaimana diamanatkan dalam pasal 7 ayat (1) huruf a dan pasal 17 (1) huruf b UUJN. MPD Kota Banda Aceh telah melakukan rapat MPD notaris Kota Banda Aceh dalam hal pemanggilan Notaris NZ dan ER disimpulkan:
1. MPD Kota Banda Aceh akan melaksanakan Pembinaan dan Pengawasan terhadap notaris bertempat di Aula Kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh. Notaris membawa semua buku protokol Notaris dan Minuta Akte untuk dilakukan pemeriksaan oleh Tim MPD.
2. Notaris ER menyatakan satu minggu setelah rapat akan melaksanakan kewajibannya sebagai notaris dengan buka kantor di Pagar Air Kabupaten Aceh Besar.
3. Jika notaris tidak melaksanakn kesepakatan tersebut, MPD notaris Kota Banda Aceh akan mengambil tindakan berupa sanksi agar Notaris dapat memetuhi kewajibannya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Tim MPD notaris Kabupaten Aceh Timur dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Diduga notaris TM tidak menjalankan jabatanya dengan nyata sebagai notaris sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat (1) huruf a UUJN.
2. Diduga notaris TM meninggalkan wilayah jabatannya lebih dari tujuh hari kerja berturut- turut tanpa alasan yang sah sebagaimana dimaksud pasal 17 ayat (1) UUJN.
3. MPD Notaris Kabupaten Aceh Timur merekomendasikan kepada Majelis Pengawas Notaris Pusat dan Wilayah, terhadap TM agar diusulkan dijatuhi/dikenai sanksi berupa Pemberhentian dengan tidak hormat.
4. Dengan alasan pasal terkait pemeriksaan notaris TM, UUJN, yakni: (a) Pasal 7 yang menyebutkan dalam waktu paling lambat 60 hari terhitung sejak tanggal pengambilan sumpah/janji jabatan notaris, yang bersangkutan wajib menjalankan jabatannya dengan nyata; notaris yang melanggar dapat dikenai sanksi berupa: (a) Peringatan tertulis; (b) Pemberhentian sementara; (c) Pemberhentian dengan hormat; atau (d) Pemberhentian dengan tidak hormat. Dalam Pasal 17 disebutkan bahwa notaris dilarang meninggalkan wilayah jabatannya lebih dari tujuh hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang sah. Dosen yang melanggar dapat dikenai sanksi berupa: (a) Peringatan tertulis; (b) Pemberhentian sementara; (c) Pemberhentian dengan hormat; atau (d) Pemberhentian dengan tidak hormat. Pasal 19 menyebutkan notaris wajib mempunyai hanya satu kantor, yaitu di tempat kedudukannya.
Tindakan seperti ini, tentunya melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 UUJN, di mana notaris tidak diperkenankan mempunyai kantor cabang di tempat-tempat lain.
Dengan hanya mempunyai satu kantor berarti notaris dilarang mempunyai kantor cabang, perwakilan, dan/atau bentuk lainnya. Selanjutnya pembuatan akta notaris dilangsungkan di kantor notaris kecuali pembuatan akta-akta tertentu.
Akibat hukum terhadap akta yang dibuat oleh notaris yang telah melakukan pelanggaran terhadap UUJN, yaitu akta notaris tersebut tidak otentik dan akta itu hanya mempunyai kekuatan seperti akta yang dibuat di bawah tangan apabila ditandatangani oleh para pihak yang bersangkutan.
SIMPULAN
Bentuk pengawasan yang dilakukan MPD Kota Banda Aceh dan Aceh Timur dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap protokol notaris, notaris bersangkutan wajib berada di kantornya dan mempersiapkan semua protokol yang akan diperiksa. Kendala dan hambatan yang dihadapi oleh MPD masih terbatasnya dana yang digunakan oleh pengawas dalam melakukan pengawasan, MPD belum mempunyai kantor sendiri, MPD tidak mempunyai kewenangan dalam menjatuhi sanksi yang tegas terhadap notaris yang tidak membuka kantor, alamat yang tidak sesuai dengan alamat yang ada pada Sekretariat MPD, kurangnya partisipasi masyarakat dalam memberikan laporan kepada Majelis Pengawas terhadap notaris yang tidak membuka kantor. Akibat hukum bagi notaris yang tidak membuka kantor selama ini sudah dilakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap notaris yang bersangkutan serta sudah dilakukan peringatan tertulis kepada notaris yang tidak membuka kantor dan merekomendasikan kepada Majelis Pengawas Wilayah dan Majelis Pengawas Pusat, notaris agar diusulkan atau diberi sanksi pemberhentian dengan tidak hormat terhadap notaris yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA Jurnal/Majalah
Adjie, H. (2005). Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) sebagai Unifikasi Hukum Pengaturan Notaris. Renvoi, 28 (3).
Adjie, H. (2008). Berita Daerah Mengenai Kewenangan Majelis Pengawas Cerminkan Kelembagaan Profesi Notaris. Renvoi, 30.
Afifah, K. (2017). Tanggung Jawab dan Perlindungan Hukum bagi Notaris Secara Perdata terhadap Akta yang Dibuatnya. Lex Renaissance, 2 (1).
Erwinsyahbana, T. & Melinda. (2018). Kewenangan dan Tanggung Jawab Notaris Pengganti Setelah Pelaksanaan Tugas dan Jabatan Berakhir. Lentera Hukum, 5 (2).
Heriyanti. (2016). Perlindungan Hukum terhadap Notaris yang Terindikasi Tindak Pidana Pembuatan Akta Otentik. Yustisia, 5 (2).
Sulaiman. (2018). Paradigma dalam Penelitian Hukum. Kanun Jurnal Ilmu Hukum, 20 (2).
Hasil Penelitian
Edison. (2014). Analisis Pelaksanaan Pengawasan terhadap Notaris oleh Majelis Pengawas Daerah di Kota Banda Aceh. Tesis. Banda Aceh: Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.
Wibisono, D. B. (2018). Peranan Majelis Pengawas Daerah (MPD) terhadap Pengawasan Pelaksananan Jabatan Notaris di Kabupaten Tegal. Semarang: Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung.
Hasil Wawancara
Mahdar, S. (2018). Ketua Majelis Pengawas Daerah Notaris Aceh Timur. Wawancara tanggal 05 Juni.
Marina, Y. (2018). Sekretaris Sekretariat Majelis Pengawas Daerah Kota Banda Aceh. Wawancara tanggal 9 Mei.
Nurdhani. (2018). Ketua Majelis Pengawas Daerah Notaris Banda Aceh. Wawancara tanggal 25 Mei.
Sasmita. (2018). Kadiv Pelayanan Hukum dan HAM Aceh, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Aceh. Wawancara tanggal 07 Mei.