• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAWETAN BENIH KARET DENGAN PEG 6000 DAN PEMASARANNYA

N/A
N/A
TIETIN INDRIYANTI

Academic year: 2023

Membagikan "PENGAWETAN BENIH KARET DENGAN PEG 6000 DAN PEMASARANNYA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENGAWETAN BENIH KARET DENGAN PEG 6000 DAN PEMASARANNYA

Dosen Penanggung Jawab:

Dr. Ir. Charloq M.P.

Disusun oleh:

Kelompok 8

Tietin Indriyanti 200304103

Tiya Veronica 200304104

Valentine Grecia Br.Tarigan 200304106

Viery Hutauruk 200304107

Widya Pascalia Aritonang 200304108 Kelas AGB 2

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Pengawetan Benih Karet Dengan PEG 6000 dan Pemasarannya” dengan tepat waktu.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas dari Ibu Dr. Ir. Charloq M.P. pada mata kuliah Budidaya Tanaman Perkebunan di Universitas Sumatera Utara. Selain itu, penulis juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca mengenai Pengawetan Benih Karet Dengan PEG 6000 dan Pemasarannya.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Ir. Charloq M.P. selaku dosen mata kuliah Budidaya Tanaman Perkebunan. Semoga tugas yang telah diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan untuk penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini.

Penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dan kelemahan pada penyusunan dan penulisan. Demi kesempurnaan makalah ini, Penulis sangat berharap adanya perbaikan, kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.

Akhirnya apabila ada kata-kata yang kurang berkenan bagi pembaca, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Medan, 02 Maret 2022

Penyusun

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penulisan ... 3

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN ... 4

2.1. Permasalahan Benih Karet ... 4

2.2. Pengawetan Benih Karet Dengan Metode Pemberian Bahan PEG 6000 ... 5

2.3. Pemasaran Benih Karet ... 7

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ... 9

3.1. Kesimpulan ... 9

3.2. Saran ... 9

DAFTAR PUSTAKA ... 10

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman karet (Hevea brasiliensis L.) merupakan tanaman perkebunan yang memiiki nilai ekonomi sangat tinggi terutama bagi Indonesia yang merupakan negara penghasil karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand,hasil berupa getah atau lateks dari tanaman ini dimanfaatkan sebagai sumber bahan utama industri, mulai dari peralatan masak, alat medis, transportasi, dan lain-lain. Perkembangan teknologi dan industri yang semakin berkembang menyebabkan penggunaan karet alam semakin luas dalam kehidupan sehari-hari dan mendorong peningkatan konsumsi karet dunia serta permintaan karet alam. Sebagai salah satu negara pengekspor karet alam terbesar dunia, Indonesia memiliki peluang besar dalam peningkatan hasil produktivitas tanaman karet ini (Sari dan Supijatno, 2015).

Sehubungan dengan peningkatan kebutuhan karet maka diperlukan teknologi dalam pengusahaan karet. Salah satu komponen teknologi terpenting dalam pengusahaan karet adalah benih. Mengingat amat pentingnya bibit dalam menentukan perbaikan pembangunan perkebunan karet, maka usahatani pembibitan perlu dikelola dengan baik. Bibit karet berkualitas yang digunakan akan menghasilkan tanaman karet yang berkualitas pula. Namun demikian, yang paling sulit dari pembibitan karet ialah mencari sumber benih pembibitan karet yang bersertifikat yang berasal dari pusat penelitian tanaman perkebunan karet.

Pusat Perkebunan karet sungai putih merupakan sumber devisa nomor 2 setelah kelapa sawit, dimana bisnis yang paling empuk adalah di level biji sampai pembibitan dimana terdapat lahan yang tidak begitu luas namun dapat menghasilkan bisnis karet dalam penjualan biji.

Namun Permasalahannya yaitu:

•Biji Karet ini hanya dipanen 1x setahun;

•Biji karet tidak dapat disimpan lama karena kadar airnya tinggi yang disebut benih recalsitrant yang artinya benih tropical yang memiliki kandungan air tinggi dan tidak memiliki masa dormansi atau masa dimana benih menjadi biji yang matang langsung bisa

(5)

2

seketika berkecambah dalam tempoh 3 hari sampai 21 hari bila dikecambahkan karena benih yang berasal dari tanaman karet adalah jenis atau kelompok benih recalcitrant;

• Karena kadar airnya tinggi, respirasi benih tersebut sangat tinggi/kuat karna di dalam benih tersebut terkandung kadar air yang cukup tinggi membuat benih tersebut apabila disimpan akan mengalami respirasi atau pernafasan benih yang cukup tinggi sehingga memberi kesempatan timbulnya serangan jamur pada periode penyimpanan benih karet tersebut; serta

• Adanya respirasi yg tinggi akan terjadi pembongkaran cadangan makanan di dalam benih (kortiledon) hal ini menyulitkan dalam perdagangan bisnis benih tersebut untuk diekspor ke berbagai negara sehingga charloq membuat terobosan baru dengan mengupas benih tersebut lalu diselimuti dengan bahan PEG 6000 30% agar terjadi pengawetan benih sehingga kesegaran atau liabilitas atau daya hidup bisa mencapai diatas 96% bisa disimpan selama 16 hari.

Oleh karena itu perlu dilakukan perlakuan khusus pada masa penyimpanan yang bertujuan untuk mempertahankan viabilitas benih dengan menciptakan kondisi lingkungan simpan yang optimum, kondisi ini diperlukan agar benih tidak berkecambah dan busuk atau berjamur dalam penyimpanan dan mampu berkecambah setelahperiodepenyimpanan. Media penyimpanan yang sering digunakan adalah serbuk gergaji lembab, namun cara ini masih sangat konvensional. Mengingat serbuk gergaji yang berasal dari kayu lama kelamaan akan mengalami kelangkaan sehingga sulit untuk diperoleh, mudah melapuk sehingga sangat mudah memicu serangan jamur. Maka untuk mengatasi hal tersebut diperlukan adanya teknologi alternatif, yaitu menggunakan larutan osmotik salah satunya adalah Polyethylene Glycol-6000 yang dikombinasikan dengan lamanya pengeringan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa permasalahan pada benih karet ?

2. Bagaimana pengawetan benih karet dengan metode pemberian bahan PEG 6000 ? 3. Bagaimana pemasaran benih karet ?

(6)

3 1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui permasalahan pada benih karet.

2. Untuk mengetahui pengawetan benih karet dengan metode pemberian bahan PEG 6000.

3. Untuk mengetahui pemasaran benih karet.

(7)

4 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Permasalahan Benih Karet

Tanaman karet (Hevea brasilliensis Muell Erg) merupakan salah satu komoditas pertanian terbesar Indonesia setelah kelapa sawit. Di Indonesia karet merupakan salah satu hasil pertanian yang banyak menunjang perekonomian negara, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Hasil devisa yang diperoleh Indonesia dari karet merupakan yang terbesar kedua setelah kelapa sawit. Luas total perkebunan karet di Indonesia mencapai 3.262.291 hektar. Dari total areal tersebut 84.5% merupakan kebun milik rakyat, 8.4% milik swasta dan 7.1% nya merupakan milik negara.

Sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia, jumlah suplai karet yang dihasilkan oleh Indonesia sangat penting untuk pasar global. Sejak tahun 1980 industri karet Indonesia telah mengalami perubahan perkembangan produksi yang stabil. Kebanyakan hasil produksi karet negara ini telah mengalami pertumbuhan 80% karena produksi oleh petani kecil. Oleh karena itu perkebunan pemerintah dan swasta memiliki peran yang lumayan kecil dalam industri karet domestik. Sekitar 85% dari produksi karet Indonesia telah ekspor ke beberapa negara.

Dibandingkan dengan negara-negara kompetitor penghasil karet yang lain, Indonesia memiliki level produktivitas per hektar yang rendah. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa usia pohon-pohon karet di Indonesia umumnya sudah tua dikombinasikan dengan kemampuan investasi yang rendah dari para petani kecil, sehingga mengurangi hasil panen.

Sementara Thailand memproduksi 1.800 kilogram (kg) karet per hektar per tahun, Indonesia hanya berhasil memproduksi 1.080 kg/ha. Baik Vietnam (1.720 kg/ha) maupun Malaysia (1.510 kg/ha) memiliki produktivitas karet yang lebih tinggi.

Dalam perkebunan karet rakyat, para petani karet kesulitan membeli benih karet berkualitas dan unggul untuk merevitalisasi pohon karet, karena terbatasnya lahan dan modal yang dimiliki petani. Karena itulah, untuk meningkatkan produktivitas perkebunan karet milik rakyat, pemerintah berusaha melakukan berbagai upaya seperti perluasan areal tanam, penyuluhan, intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan serta penyebaran klon-klon unggul benih karet. Dalam menunjang keberhasilan peningkatan produktivitas perkebunan karet, maka dilakukan usaha khususnya terhadap benih karet.

(8)

5

Bisnis karet yang paling empuk adalah di level biji sampai pembibitan, karena memerlukan lahan yang tidak begitu luas tetapi mampu menghasilkan bisnis pembibitan yang menjanjikan. Namun, kandungan kadar air yang terdapat pada biji karet dapat dikatakan tinggi (benih rekalsitran). Kadar air yang tinggi pada benih karet ini membuat benih yang disimpan akan mengalami respirasi yang cukup tinggi sehingga akan meningkatkan timbunlya serangan jamur pada penyimpanan benih karet. Adanya respirasi yang tinggi pada benih karet juga akan memicu terjadinya pembongkaran cadangan makanan di dalam benih.

Hal ini akan menyebabkan sulitnya perdagangan bisnis ekspor pada benih karet ke negara- negara lain, karena benih memiliki daya simpan yang singkat dan cepat rusak jika keseimbangan airnya tidak terjaga.

Karena itulah diperlukan adanya upaya pengawetan pada benih karet untuk menjaga dan meningkatkan kesegaran, liabilitas atau daya hidup dari benih karet sehingga dapat dilakukan penyimpanan benih karet dalam waktu yang lama, sehingga dapat dilakukan pengiriman ekspor benih karet ke berbagai negara tanpa mengkhawatirkan terjadinya kerusakan pada benih karet yang akan dikirimkan.

2.2 Pengawetan Benih Karet Dengan Metode Pemberian Bahan PEG 6000

Mempertahankan mutu fisiologis benih selama masa penyimpanan sangat diperlukan.

Selama penyimpanan, benih akan mengalami penuaan dan pembusukan. Biji semakin mundur, laju respirasi meningkat yang menyebabkan berkurangnya cadangan makanan dan dapat membuat jaringan meristem kelaparan. Kemunduran benih karet selama masa penyimpanan dapat diamati dari penurunan kualitas fisiologis yang menyebabkan perubahan fisiologis benih yang menurunkan viabilitas benih. Biji karet memiliki kandungan air, respirasi dan metabolisme yang relatif tinggi dan tetap aktif selama masa penyimpanan.

Pamenter dan Berjak (2014) menyatakan bahwa benih yang peka terhadap kekeringan (rekalsitran) tidak dapat mentolerir kehilangan air sehingga tidak dapat disimpan menggunakan kondisi bank benih konvensional. Khususnya sehubungan dengan penyimpanan, benih rekalsitran tidak mengalami dediferensiasi intraseluler atau penghentian metabolisme yang signifikan. Indikasi kemunduran seperti penurunan kadar air benih, laju respirasi, penurunan cadangan makanan, peningkatan nilai konduktivitas benih dan penurunan daya berkecambah ditemukan setelah masa penyimpanan.

(9)

6

Fisiologi benih dapat dipengaruhi oleh kualitas benih yang telah melalui tahapan proses penyimpanan. Benih karet termasuk benih rekalsitran, berdasarkan pengamatan pola perilakunya tidak memiliki dormansi, memiliki umur simpan yang pendek, mengalami pengeringan saat masak fisiologis, selain dari kadar air yang relatif tinggi, berkisar antara 30- 70%.

Faktor pembatas pada benih karet rekalsitran adalah memiliki masa simpan yang sangat singkat, kadar air yang tinggi pada saat fisiologis matang (35-70%), diikuti dengan laju respirasi dan laju metabolisme yang tinggi sehingga penipisan cadangan makanan terus berlangsung serta bisa menyebabkan penurunan viabilitas dan penuaan dini sebelum benih menjadi bahan tanaman. Dalam hal ini diperlukan perlakuan pelapisan benih yang merupakan salah satu metode peningkatan.

Oleh karena itu, Copeland dan McDonald melakukan metode peningkatan untuk meningkatkan kualitas benih dengan penambahan bahan kimia pada pelapis untuk mengontrol perkecambahan. Sebagai pengganti cangkang, benih dilapisi dengan polietilen glikol 6000 (seed coating) sebagai senyawa yang memiliki potensi osmotik yang dapat membatasi ketersediaan air dan oksigen dalam media penyimpanan. Hal ini juga di dukung oleh Ayranci dan Sahin yang menyatakan bahwa PEG dengan yang merupakan senyawa polimer rantai panjang, tidak berubah (inert) dan tidak ionik serta tidak beracun serta tidak mempengaruhi metabolisme benih dan fungsi fisiologi benih setelah periode penyimpanan.

PEG 6000 memiliki potensi osmotik yang dapat digunakan untuk membuat substrat bertekanan osmotik tinggi tanpa efek keracunan. Hal ini juga di dukung berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Charloq dkk (2013) bahwa perkecambahan biji karet kulit rekalsitran selama penyimpanan dapat dihambat dengan melapisi benih dnegan PEG 6000.

PEG 6000 (30%) cocok untuk proses pengawetan benih karena memiliki kemampuan mengikat air di dalam benih. Hal ini mungkin disebabkan oleh air yang menyusup melalui membran tipis, sehingga air akan mengalir bebas dalam benih dari larutan yang kurang pekat ke larutan yang lebih pekat melewati membran.

Dari hasil penelitian Charloq dkk. (2013) menemukan bawha kombinasi PEG 6000 30% dna fungisida 40g/1 kg benih karet tanpa cangkang mampu mempertahankan daya simpan benih dengan daya kecambah 10,67% dan serangan jamur hingga 18,00% selama 16 hari penyimpanan dengan daya berkecambah 96,80%. Teknik pengobatan PEG 6000 yang

(10)

7

dikombinasikan dengan fungisida (ai, phyraclostobin-metiram) memberikan peran ganda dalam menekan proliferasi jamur dalam penyimpanan benih.

Ini menunjukkan bahwa telah ditemukan kemajuan yang substansial. Disarankan agar penggunaan PEG dapat mempertahankan vigor dan perkecambahan biji karet pada tingkat yang tinggi. Ada empat perbedaan mendasar dari penelitian-penelitian di atas. Pertama benih yang digunakan dalam penelitian ini telah dikupas, kedua, benih diperlakukan dengan Polyethylene Glycol (PEG) sebagai pengawet, ketiga, lama penyimpanan tidak sama dan keempat benih disimpan dalam kantong plastik berlubang tanpa menggunakan serbuk gergaji basah. media pada suhu kamar. Pemberian PEG pada konsentrasi 30% memiliki interaksi yang nyata dengan fungisida 40 g. Mereka bisa mempertahankan perkecambahan di atas 90%. Ada empat keuntungan yang diperoleh dari ekstraksi kulit biji yaitu ruang penyimpanan lebih kecil dan mengurangi berat dan biaya pengiriman.

2.3 Pemasaran Benih Karet

Tanaman karet (Hevea brasilliensis) merupakan tanaman tahunan. Satu siklus tanam yang dihitung dari saat penanaman di lapangan sampai dengan peremajaan memakan waktu 25 tahun. Hal ini berarti pemilihan bahan tanaman dilakukan hanya sekali dalam 25 tahun.

Pemilihan bahan tanam harus dipertimbangkan secara cermat karena adanya kekeliruan dalam pemilihan bahan tanam akan berdampak negatif terhadap perkebunan khususnya, maupun usaha karet alam nasional

Minat petani dalam menanam karet akhir-akhir ini mulai meningkat setelah membaiknya harga karet dipasaran sebagai bahan baku industri. permintaan bibit karet juga mulai meningkat sehingga mendorong para penangkar bibit untuk mulai mengembangkan usaha pembibitan karet. bibit berperan sangat penting dalam pertumbuhan karet agar tanaman karet dapat tumbuh sehat dan menghasilkan lateks (getah) yang melimpah. pembibitan karet mesti dilakukan secara benar dan tepat agar menghasilkan bibit karet yang berkualitas bagus.

Bahan tanam karet anjuran adalah bahan tanaman klon yang diperbanyak secara okulasi. Dibandingkan dengan benih semaian, penggunaan bahan tanam klon sangat menguntungkan karena produktivitas tanaman lebih tinggi, masa tanaman belum menghasilkan lebih cepat, tanaman lebih seragam sehingga produksi pada tahun sadap pertama lebih tinggi serta memiliki sifat sekunder yang diinginkan seperti relatif tahan

(11)

8

terhadap penyakit tertentu, batang tegap, responsif terhadap stimulan dan pupuk, serta volume kayu per pohon tinggi.

Waktu yang diperlukan untuk menyediakan bibit karet unggul sejak penyemaian biji hingga bibit siap disalurkan dengan teknik okulasi dini lebih singkat dan biaya pengadaan bibit lebih murah dibandingkan dengan teknik okulasi cokelat. Berdasarkan aspek teknis dan ekonomis, penyiapan bibit unggul karet dengan teknik okulasi dini layak untuk dikembangkan dalam skala luas sehingga dapat membantu mengatasi masalah dalam pengadaan bibit karet unggul.

Selain melaui okulasi karet juga bisa dipasarkan melalui benih. Dalam pemasaran benih yang diperhatikan adalah unsur konservasi benih selama menunggu konsumen.

Apabila pedagang benih teledor dalam menjaga mutu benih selama dalam periode konservasi tersebut maka penurunan viabilitas benih akan terjadi secara cepat. Padahal benih yang akan dipasarkan harus memenuhi standar sertifikasi secara legal dengan kaidah benih yang baik dan benar. Dengan kata lain dalam pemasaran benih harus selalu menjaga mutu benih. Untuk mempercepat proses pemasaran benih juga perlu dilakukan promosi benih dan menjaga hubungan baik dengan konsumen.

Benih karet termasuk benih Benih rekalsitran yaitu benih yang mengalami penurunan kemampuan pertahanan hidup cepat rusak pada kondisi kadar air yang sedikit. Umumnya, benih rekalsitran akan mati pada kadar air berkisar antara 12%–31%. Benih rekalsitran juga tidak tahan disimpan pada suhu dan kelembapan rendah.

untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan konsentrasi larutan osmotik PEG 6000 dan pengeringan benih yang mana sangat membantu dalam penyimpanan benih rekalsitran karena memiliki potensi osmotikum sel yang dapat membatasi perubahan kadar air dan oksigen pada benih.

Pengamatan terhadap keseluruhan parameter menunjukkan bahwa fisiologi karet cangkang dengan pelapisan PEG 6000 30% dapat dipertahankan pada viabilitas 99%

menunjukkan dormansi sekunder benih karet cangkang selama periode penyimpanan 16 hari.

(Charloq. Dkk).

Dengan kualitas yang unggul dan ketahanan benih karet dalam penyimpanan maka pemasaran benih karet juga akan bisa dipasarkan kemana saja termasuk ekspor keluar negeri.

(12)

9 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

 Dalam perkebunan karet rakyat, para petani karet kesulitan membeli benih karet berkualitas dan unggul untuk merevitalisasi pohon karet.Masalah yang sering terjadi pada benih adalah kandungan kadar air yang terdapat pada biji karet dapat dikatakan tinggi (benih rekalsitran). Kadar air yang tinggi pada benih karet ini membuat benih yang disimpan akan mengalami respirasi yang cukup tinggi sehingga akan meningkatkan timbunlya serangan jamur pada penyimpanan benih karet dan memicu terjadinya pembongkaran cadangan makanan di dalam benih.

 Dari hasil penelitian masalah kadar air yang tinggi pada benih karet dapat diatasi dengan melakukan metode peningkatan kualitas benih dengan penambahan bahan kimia pada pelapis untuk mengontrol perkecambahan. Sebagai pengganti cangkang, benih dilapisi dengan polietilen glikol 6000 (seed coating) sebagai senyawa yang memiliki potensi osmotik yang dapat membatasi ketersediaan air dan oksigen dalam media penyimpanan. PEG 6000 (30%) cocok untuk proses pengawetan benih karena memiliki kemampuan mengikat air di dalam benih.

 Dengan adanya pengawetan benih, maka mutu dan kualitas benih akan tergaja.

 Dalam pemasaran benih yang diperhatikan adalah unsur konservasi benih selama menunggu konsumen. Apabila pedagang benih teledor dalam menjaga mutu benih selama dalam periode konservasi tersebut maka penurunan viabilitas benih akan terjadi secara cepat.

3.2 Saran

Dalam upaya menjaga mutu dan kualitas juga mempertahankan daya simpan dari benih karet, disarankan untuk melakukan pengawetan pada benih karet dengan menggunakan bahan PEG 6000 untuk mencegah terjadinya kerusakan pada benih karet selama masa penyimpanan dan pemasarannya.

(13)

10

DAFTAR PUSTAKA

Berjak, P. dan NW Pamenter, 2013.Implikasi dari kurangnya toleransi pengeringan pada benih rekalsitran. Depan. Ilmu Tanaman., Vol. 4.

Boerhendhy, Island. "Prospek perbanyakan bibit karet unggul dengan teknik okulasi dini."

(2013).

Charloq , A. Yazid and P.P. Gustiansyah, 2017. Viability of Shelled Rubber (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Seed Treated with PEG 6000 at Different Drying Times in Storage Period. Journal of Agronomy, 16: 83-86.

Charloq, Z. Lubis, TH Siregar, J. Elisa, BA Sirait dan NT Mathius, 2013.Uji kemampuan PEG 6000 dan efikasi fungisida dalam meningkatkan daya simpan benih karet kupas ( Hevea brasilliensis Muell.Arg). Res. J. Seed Sci., 6: 40-48.

Charloq , Z. Lubis, T.H. Siregar, Sengly B. Damanik, A. Yazid and M. Husni, 2016.

Physiology Changes of Shelled Rubber (Hevea brasilliensis Muell. Arg.) Seed After 16 Days Storage with PEG 6000 30% Coating to Induce Secondary Dormancy. Journal of Agronomy, 15: 11-18.

Charloq , Z. Lubis, T.H. Siregar, J. Elisa, Bilter A. Sirait and Nurita T. Mathius, 2013. PEG 6000 Ability Test and Fungicide Efficacy in Improving Storability of Shelled Rubber (Hevea brasilliensis Muell.Arg) Seed. Research Journal of Seed Science, 6: 40-48.

Copeland, LO dan MF Mc-Donald, 2001.Prinsip Ilmu dan Teknologi Benih. Edisi ke-4, Springer, New York Halaman: 488

Kusharyono, H. 2013. “Strategi Pengadaan Dan Pengawasan Peredaran Benih Karet Unggul Dan Bermutu Di Medan, Provinsi Sumatera Utara.” Jurnal Agribisnis. 7(2), 145-156.

Pamenter, NW dan P. Berjak, 2000.Aspek fisiologi benih bandel. Revista Brasileira Fisiologia Vegetal, 12: 56-69.

Pamenter, NW dan P. Berjak, 2014.Fisiologi benih yang peka terhadap pengeringan (rekalsitran) dan implikasinya terhadap kriopreservasi. Int. J. Tanaman Sci., 175: 21-28.

(14)

11

Santoso, A. (2018). PERMASALAHAN PENGEMBANGAN KARET DI INDONESIA ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN. Jurnal Ilmu dan Budaya, 41(59).

Sudjindro, Sudjindro. "Permasalahan dalam Implementasi Sistem Perbenihan." Buletin Tanaman Tembakau, Serat dan Minyak Industri 1.2 (2009): 92-100.

Tweddle, JC, JB Dickie, CC Baskin dan JM Baskin, 2003.Aspek ekologi sensitivitas pengeringan benih. J. Ekol., 91: 294-304.

Referensi

Dokumen terkait

benih karet pada percobaan jenis mata entres pada beberapa klon 3 variabel berbeda nyata yaitu variabel presentase tunas yang tumbuh, variabel tinggi tunas hasil

Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi PEG dan masa pengeringan benih yang tepat dalam meningkatkan daya simpan benih.Penelitian dilakukan di Laboratorium

Perlakuan median simpan yang terbaik adalah menggunakan media simpan serbuk gergaji ukuran 20 Mesh dengan lama penyimpanan 10 hari, dimana viabilitas benih karet

Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari, semusim, bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dari dormansinya (Sutopo, 2012). Dormansi

pelapis benih (PEG) pada kondisi kelembaban udara tinggi dan suhu yang rendah. akan berbeda dengan pengeringan pada kondisi kelembaban udara

KESIMPULAN Dari hasil pengamatan fisik dan viabilitas benih karet dari tanaman muda dan tanaman dewasa yang mengalami gugur daun berkepanjangan dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk

tanaman padi dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu radikula akar yang tumbuh pada saat benih berkecambah, akar serabut atau akar adventif setelah 5- 6 hari terbentuk akar

Hasil analisis menunjukkan bahwa 1 penyadap wanita tanaman karet rata-rata mencurahkan waktunya sebesar 21 HOK/bulan, atau setara dengan 0,75 HOK/hari, 2 Rata-rata kontribusi wanita