• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengelolaan pos lintas batas laut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengelolaan pos lintas batas laut"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

Pengelolaan pos lintas batas laut di Kabupaten Nunukan (dibimbing oleh Muhlis Madani dan Ihyani Malik). Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengelolaan Pos Lintas Batas Maritim di Kabupaten Nunukan”. Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Administrasi Publik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Burhanuddin, S.Sos., M.Si selaku Ketua Jurusan Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaaan Penelitian

  • Pengertian Manajemen
  • Fungsi Manajemen
  • Sarana Manajemen
  • Pengertian dan Konsep Manajemen Transportasi
  • Regulasi Pengelolaan Perbatasan Negara

Menurut Manullang (2006:5), manajemen adalah suatu seni dan ilmu dalam proses perencanaan, pengorganisasian, pengumpulan, pengarahan dan pengawasan sumber daya yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut Terry dalam Effendi (2014:3), manajemen adalah suatu proses khas yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan oleh orang-orang dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan agar berfungsi secara efektif dan efisien.

Pengawasan merupakan proses pengamatan terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan yang dilaksanakan dalam organisasi untuk memastikan seluruh pekerjaan yang dilaksanakan berjalan sesuai rencana yang telah ditentukan.

Gambar 3.1. Kerangka Pikir Penelitian
Gambar 3.1. Kerangka Pikir Penelitian

Fokus Penelitian

Deskripsi Fokus Penelitian

Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan diharapkan mampu mengerahkan seluruh sumber dayanya agar berhasil dan efisien khususnya dalam hal pengelolaan PLBL, hingga mampu memperlancar proses pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Pengendalian stasiun lintas batas laut pada pelayanan transportasi merupakan salah satu cara untuk mengurangi kesalahan dalam proses pencapaian tujuan organisasi. Faktor pendukung merupakan hal-hal yang mendorong keberhasilan pengelolaan PLBL pada Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan.

Faktor penghambat adalah keadaan dimana terdapat hambatan dalam proses pelaksanaan suatu kegiatan dan hal ini berdampak pada terhambatnya pencapaian tujuan yang ingin dicapai dalam proses pengelolaan PLBL pada Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan.

Jenis dan Tipe Penelitian

Periode penelitian dimulai pada bulan Maret sampai dengan bulan April dan dilakukan di Dinas Perhubungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan PLBL Liem Hie Djung Kabupaten Nunukan. Dengan adanya hal tersebut peneliti ingin mengetahui dan melihat langsung proses pengelolaan pos lintas batas laut serta mengetahui faktor penghambat dan faktor pendukung dalam pengelolaan pos lintas batas laut pada Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan.

Sumber Data

Informan Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

Observasi, yaitu melakukan kegiatan observasi dengan cara mendatangi langsung lokasi yang akan diteliti, untuk memperoleh informasi yang jelas. Observasi ini dilakukan secara terbuka, cara ini diharapkan mampu menggali kejujuran informan sehingga memberikan informasi yang sebenarnya. Dokumentasi merupakan teknik memperoleh data dari beberapa buku bacaan, laporan kegiatan, arsip dan foto-foto yang berkaitan dengan objek penelitian untuk melengkapi data tentang pengelolaan PLBL pada Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan.

Teknik Analisis Data

Reduksi data merupakan komponen pertama analisis data yang memperkuat, memperpendek, menciptakan fokus, menghilangkan hal-hal yang tidak begitu penting dan mengelola data sedemikian rupa sehingga dapat ditarik kesimpulan peneliti. Pada awal pengumpulan data, peneliti dituntut untuk dapat memahami makna dari hal-hal yang ditemuinya dengan menuliskan kaidah sebab akibat dan berbagai proporsinya sehingga dapat diambil kesimpulan secara bertanggung jawab.

Keabsahan Data

  • Sejarah Terbentuknya Kabupaten Nunukan
  • Gambaran Umum Kabupaten Nunukan
  • Peran dan Fungsi Pelabuhan Pos Lintas Batas Laut a. Peran pelabuhan PLBL Liem Hie Djung

Misalnya data yang diperoleh melalui wawancara kemudian diverifikasi dengan hasil observasi, dokumentasi atau angket. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan diskusi lebih lanjut mengenai sumber data yang bersangkutan dan dengan sumber lain untuk memastikan bahwa data tersebut dianggap valid atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan teknik wawancara yang kami lakukan pada pagi hari saat informan masih segar sehingga tidak banyak permasalahan.

Apabila hasil pengujian memberikan data yang berbeda, sebaiknya dilakukan berulang kali agar dapat diketahui keamanan datanya. Atas dasar tersebut, Kabupaten Bulungan dimekarkan menjadi dua kabupaten baru lainnya yang terdiri dari Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau. Berdasarkan letak geografisnya, Kabupaten Nunukan terletak di wilayah paling utara Kalimantan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, tepatnya pada posisi 3o o 24' 55'' LU dan 115o 44' 55'' BT.

Pelabuhan Pos Lintas Batas Maritim Liem Hie Djung yang dikelola oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nunukan. Gambaran objek penelitian pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Liem Hie Djung PLBL Kabupaten Nunukan. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, peneliti mengumpulkan beberapa data dari UPT PLBL Liem Hie Djung Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan.

Kabupaten Nunukan, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) bertugas menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah di bidang transportasi, komunikasi dan teknologi informasi berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Berdasarkan konsep Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 18 Tahun 2008 tentang standardisasi, prasarana dan pelayanan lintas batas antar negara menjelaskan bahwa terdapat beberapa fungsi pelabuhan pos lintas batas internasional yaitu imigrasi, bea cukai, karantina. , keamanan. dan fungsi lain yang ditunjuk sebagai pelabuhan lintas batas Internasional Nunukan – Tawau Sabah Malaysia untuk menyediakan layanan lokal, domestik dan internasional.

Pengelolaan Pos Lintas Batas Laut di Kabupaten Nunukan

  • Perencanaan
  • Pengorganisasian
  • Penggerakkan
  • Pengawasan
  • Berbagai Macam Persoalan Perbatasan

Kemudian berdasarkan keputusan bupati no. 54 Tahun 2013 pengelolaan PLBL dikelola langsung oleh Dinas Perhubungan pada Unit Pelaksana Teknis PLBL Liem Hie Djung Kabupaten Nunukan. Dengan demikian, sejak tahun 2010 PLBL Liem Hie Djung ditetapkan sebagai pelabuhan internasional. Pembukaan ini dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Timur (H. Oleh karena itu, pengurus PLBL Liem Hie Djung wajib menjalankan fungsi keimigrasian.

Pengoperasian PLBL Liem Hie Djung berdasarkan surat Gubernur Provinsi Kalimantan Timur bahwa pengelolaan PLBL ini diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Nunukan. Berdasarkan pernyataan di atas, diharapkan Pemerintah Daerah sebagai pihak yang berkompeten dalam pengelolaan PLBL Liem Hie Djung dapat melakukan hal tersebut. Dalam pengorganisasian yang dilakukan di PLBL Liem Hie Djung, peneliti menekankan pada struktur organisasi UPT PLBL serta pembagian tugas yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. A.

Untuk itu, UPT PLBL Liem Hie Djung mengajukan usulan perampingan struktur kepada Bupati Nunukan jika bisa dipertimbangkan. Namun karena usulan perampingan tersebut belum mendapat persetujuan dari Pemerintah Kabupaten Nunukan, maka saat ini UPT PLBL Liem Hie Djung masih menggunakan struktur organisasi yang lama. Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa segala bentuk pembagian tugas yang dilaksanakan di UPT PLBL Liem Hie Djung diatur berdasarkan Peraturan Bupati.

Pengelolaan PLBL Liem Hie Djung di Kabupaten Nunukan sangat penting untuk dilaksanakan secara optimal, terutama terkait dengan pengelolaan kebijakan perbatasan Indonesia. Selama ini UPT PLBL Liem Hie Djung hanya melayani layanan lokal dan regional; layanan internasional lintas batas masih belum aktif. Armada kapal penyeberangan yang saat ini beroperasi di PLBL LIEM HIE DJUNG adalah armada speedboat dan kapal motor.

Berdasarkan keterangan di atas, jelas bahwa setiap kapal yang sandar di pelabuhan PLBL Liem Hie Djung akan dilakukan pemeriksaan dokumen pelayarannya.

Gambar 4.2 Struktur Organisasi UPT PLBL Liem Hie Djung
Gambar 4.2 Struktur Organisasi UPT PLBL Liem Hie Djung

Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Pengelolaan PLBL di Kabupaten Nunukan

  • Faktor pendukung Pengelolaan PLBL Kabupaten Nunukan
  • Faktor penghambat dalam Pengelolaan PLBL Kabupaten Nunukan Faktor penghambat merupakan faktor yang menjadi kendala dalam pencapaian

Berdasarkan hasil observasi lapangan, peneliti menemukan bahwa salah satu faktor pendukung dalam pengelolaan PLBL adalah sarana dan prasarana yang sesuai dengan Permendagri nomor 18 Tahun 2007 dan sumber daya manusia yang kompeten. Pengelolaan PLBL selama ini didukung oleh sumber daya manusia serta sarana dan prasarana yang siap melayani layanan lintas batas antar negara. “Kami sama-sama berharap permasalahan standar izin kapal dapat diselesaikan sehingga pengelolaan PLBL kedepannya dapat lebih maksimal lagi.”

Berdasarkan keterangan informan di atas dan berdasarkan hasil observasi di lapangan, pengelolaan PLBL sudah cukup baik. Namun karena kendala teknis dan perizinan yang belum terselesaikan, PLBL masih terkendala dalam menyediakan layanan lintas batas Nunukan Tawau. Menurut saya, pengelolaan PLBL selama ini sudah membaik, arus keluar masuk penumpang lebih tertib dan didukung sarana dan prasarana yang memadai.

Sebab, PLBL tidak hanya diperuntukkan bagi pelayanan lokal dan regional tetapi juga untuk pelayanan internasional Nunukan-Tawau.” Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, peneliti menemukan bahwa faktor yang menjadi kendala dalam pengelolaan PLBL Liem Hie Djung, khusus terkait dengan penyelenggaraan pelayanan internasional, izinnya diberikan oleh Kementerian Perhubungan dibawah Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor B IX 506/PP.008. Faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pengelolaan PLBL Liem Hie Djung khususnya dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pelayanan internasional adalah: Pertama, diterbitkannya izin yang diberikan oleh Menteri Perhubungan Laut mengenai izin kapal standar yang hanya diberikan untuk GT 1 sampai dengan GT 35.

Hanya saja di perusahaan besar ia hanya menerima proposal dalam bentuk jumlah besar jika tidak dibiayai dalam jumlah kecil.Ia berharap dana pajak PLBL bisa langsung dikelola oleh UPT PLBL sendiri, sehingga proses pengelolaannya lebih maksimal. Atas dasar itulah UPT PLBL harus mempunyai anggaran tersendiri dan dalam pengelolaan PLBL ada dana yang dihasilkan melalui jasa kepelabuhanan berdasarkan biaya parkir, penumpang, pengantaran, dan tambatan kapal.

PENUTUP

Saran

Guna terciptanya pengelolaan PLBL yang efektif, kami berharap adanya sinkronisasi dan komitmen dari berbagai pihak baik pemerintah daerah, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Perhubungan Laut, agar turut terlibat dalam mendorong pengoperasian Liem. PLBL Hie Djung sebagai Lintas Batas Maritim Internasional Nunukan – Tawau. Agar PLBL Liem Hie Djung tidak terhambat dalam memberikan pelayanan melintasi batas laut internasional, kami berharap permasalahan dan kendala yang dihadapi dapat diminimalisir. Khususnya ponton 3 yang tenggelam, perlu segera diperbaiki dan ditinjau strukturnya agar seimbang dengan kapal untuk pelayaran Nunukan-Tawau.

Evaluasi Kebijakan Pengelolaan Pelabuhan Lintas Batas Maritim Liem Hie Djung (Nunukan-Tawau Sabah Malaysia International Shipping Cross-Border) di Kabupaten Nunukan (disertasi), Jakarta: Universitas Terbuka. Analisis Pengelolaan Kawasan Pos Lintas Batas dan Kawasan Niaga Aruk di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat (disertasi), Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Beranda Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2007 tentang Standardisasi, Sarana, Prasarana, dan Pelayanan Lintas Batas Antar Negara.

DOKUMENTASI WAWANCARA

KUNJUNGAN KERJA PRESIDEN IR JOKO WIDODO

Gambar

Gambar 3.1. Kerangka Pikir Penelitian
Tabel 3.1. Daftar Informan Penelitian
Gambar 4.2 Struktur Organisasi UPT PLBL Liem Hie Djung
Tabel 4.2 Data Pegawai Honorer UPT PLBL
+5

Referensi

Dokumen terkait

Pengaturan tanggung jawab negara terhadap pencemaran laut lintas batas sebagai akibat seabed oil mining tersebut perlu diatur dalam bentuk bilateral agreement, dan

Penarikan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan dengan prinsip sama jarak ( equidistance ) untuk pantai berdampingan. Dari hasil pengamatan citra Landsat tahun

Upaya peningkatan pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan batasan wilayah administrasi, upaya pengelolaan sampah terpadu dan terontegrasi dalam lintas

Dalam penelitian ini menghasilkan peta yang memuat beberapa alternatif garis batas pengelolaan laut daerah terkait dengan keberadaan Pulau Galang, diantaranya alternatif

Tidak jelasnya status wilayah administrasi pulau-pulau Sain, Kiyas, dan Piay berpengaruh terhadap penetapan garis batas kewenangan pengelolaan wilayah laut (KPWL)

Seperti yang terlihat pada Gambar 8 merupakan peta batas wilayah pengelolahan laut Provinsi Bangka Belitung yang terbentuk dari garis hasil buffer sejauh 12 mil laut,

Prinsip penarikan garis batas yang digunakan dalam penentuan batas pengelolaan laut dan bagi hasil kelautan antara Kota Surabaya dengan Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten

Pasal 29 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dinyatakan bahwa pelaksanaan Pengelolaan Batas Wilayah Laut dan Pesisir