• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengembangan buku saku berbasis potensi lokal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengembangan buku saku berbasis potensi lokal"

Copied!
276
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN BUKU SAKU BERBASIS POTENSI LOKAL EKOWISATA PANTAI PAPUMA JEMBER

PADA MATERI MOLLUSCA & INVERTEBRATA UNTUK SISWA KELAS X MIPA

DI MA DARUS SHOLAH JEMBER

SKRIPSI

Oleh : Husni Mubarok NIM : T20188115

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JULI 2023

(2)

i

PENGEMBANGAN BUKU SAKU BERBASIS POTENSI LOKAL EKOWISATA PANTAI PAPUMA JEMBER

PADA MATERI MOLLUSCA & INVERTEBRATA UNTUK SISWA KELAS X MIPA

DI MA DARUS SHOLAH JEMBER SKRIPSI

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan Pendidikan Sains Program Studi Tadris Biologi

Oleh : Husni Mubarok NIM : T20188115

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JULI 2023

(3)

ii

PENGEMBANGAN BUKU SAKU BERBASIS POTENSI LOKAL EKOWISATA PANTAI PAPUMA JEMBER

PADA MATERI MOLLUSCA & INVERTEBRATA UNTUK SISWA KELAS X MIPA

DI MA DARUS SHOLAH JEMBER SKRIPSI

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan Pendidikan Sains Program Studi Tadris Biologi

Oleh : Husni Mubarok NIM : T20188115

Disetujui Dosen Pembimbing

Mohammad Wildan Habibi, M.Pd NUP. 201701148

(4)

iii

PENGEMBANGAN BUKU SAKU BERBASIS POTENSI LOKAL EKOWISATA PANTAI PAPUMA JEMBER

PADA MATERI MOLLUSCA & INVERTEBRATA UNTUK SISWA KELAS X MIPA

DI MA DARUS SHOLAH JEMBER SKRIPSI

telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan Pendidikan Sains Program Studi Tadris Biologi

Hari : Senin Tanggal : 3 Juli 2023

Tim Penguji

Ketua Sekretaris

Dr. Hj. Umi Farihah, M.M, M.Pd.

NIP. 196806011992032001

Bayu Sandika, M.Si.

NUP. 20160373 Anggota:

1. Abdul Rahim, S.Si., M.Si. ( )

2. Mohammad Wildan Habibi, M.Pd. ( )

Menyetujui

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I.

NIP. 196405111999032001

(5)

iv

MOTTO

ّٖ لُك نِم َو ٞۖٞجاَجُأ ٌحۡلِم اَذََٰه َو ۥُهُباَرَش ٞغِئٓاَس ٞتاَرُف ٞبۡذَع اَذََٰه ِناَر ۡحَبۡلٱ يِوَت ۡسَي اَم َو ْاوُغَت ۡبَتِل َر ِخا َوَم ِهيِف َكۡلُفۡلٱ ىَرَت َو ٞۖاَهَنوُسَبۡلَت ٗةَيۡل ِح َنوُج ِر ۡخَت ۡسَت َو اٗ ي ِرَط ا ٗم ۡحَل َنوُلُكۡأَت ۡمُكَّلَعَل َو ۦِهِل ۡضَف نِم َنوُرُك ۡشَت

١٢

“ Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur”1. (QS. Fatir [35]:12)

1 Kemenag RI, Al-Qur’an dan Terjemahan

(6)

v

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur atas selesainya skripsi ini, penulis mempersembahkan kepada:

1. Kedua orang tua tercinta, Alm. Bapak Abd Rohim dan Ibu Rodliyatun yang telah membesarkan dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang, dan selalu memberikan dukungan, berupa moral dan materi serta doa yang tak pernah putus.

2. Saudara kandung saya, kakak Maslihatur Rohmah yang selalu memberi dukungan, semangat, dan motivasi yang baik kepada saya.

3. Calon istri saya, Laylatu Zulva yang selalu setia dan tak pernah menyerah memberi dukungan, semangat, dan kasih sayang kepada saya.

(7)

vi

ABSTRAK

Husni Mubarok, 2023: Pengembangan Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Ekowisata Pantai PAPUMA Jember pada Materi Mollusca dan Echinodermata untuk Siswa Kelas X MIPA MA Darus Sholah Jember.

Kata kunci: Buku Saku Mollusca dan Echinodermata, Potensi Lokal, Animalia.

Menurut Pendidik biologi kelas X MIPA MA Darus Sholah yakni Ibu Anis Azizah, mengatakan bahwa ketika kegiatan pembelajaran biologi, siswa kurang suka membaca buku paket yang berukuran besar, mereka cenderung suka dengan buku yang berukuran kecil dan bisa di bawa kemana-mana seperti buku saku yang digunakan untuk hafalan, Kemudian siswa cenderung menyukai bahan ajar yang di dalamnya terdapat gambar-gambar yang membuat siswa memiliki ketertarikan pada bahan ajar tersebut.

Rumusan masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah: Bagaimana Kevalidan Buku Saku, Bagaimana Respon Siswa, dan Bagaimana Keefektifan Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pantai Papuma Jember Pada Materi Mollusca &

Echinodermata Untuk Siswa Kelas X MIPA di MA Darus Sholah Jember?

Tujuan penelitian ini adalah: Mendeskripsikan kevalidan produk, Mendeskripsikan respon siswa, Mendeskripsikan keefektifan produk hasil pengembangan berupa Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pantai Papuma Jember Pada Materi Mollusca & Echinodermata Untuk Siswa Kelas X MIPA di MA Darus Sholah Jember.

Jenis penelitian ini adalah research and development (R&D). Model pengembangan yang digunakan adalah model Plomp yang terdiri dari tiga tahap yaitu premilinary research, development or prototyphing phase, dan assessment phase.

Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA MA Darus Sholah Jember. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: angket, tes, observasi, wawancara dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Buku saku berbasis potensi lokal ekowisata pantai PAPUMA Jember pada materi mollusca dan echinodermata dinyatakan sangat layak digunakan dengan persentase kevalidan oleh ahli materi sebesar 90%, kevalidan oleh ahli media sebesar 95%, keavalidan oleh ahli bahasa sebesar 91% dan kevalidan oleh guru biologi sebesar 100%. (2) Hasil kepraktisan buku saku berbasis potensi lokal ekowisata pantai PAPUMA Jember pada materi mollusca dan echinodermata didapatkan nilai persentase sebesar 87,5% untuk uji skala kecil dan 91,25% untuk uji skala besar dengan kategori “sangat menarik”. (3) Hasil uji pretest dan posttest menggunakan uji t diperoleh nilai sig sebesar 0,00 <

0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan buku saku. Sehingga buku saku berbasis potensi lokal ekowisata pantai PAPUMA Jember pada materi mollusca dan echinodermata efektif digunakan dalam proses pembelajaran

(8)

vii

KATA PENGANTAR

َِّاللَ ِمْسِب مْي ِحَّرلا ِنَمْحَّرلا

Puji syukur kepada Allah Ta’ala, karena atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana strata 1 ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa umat Islam ke jalan yang benar, yaitu Agama Islam.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan meraih gelar Sarjana Pendidikan dalam Program Studi Tadris Biologi pada Universitas Islam Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dengan judul “Pengembangan Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Ekowisata Pantai PAPUMA Jember pada Materi Mollusca dan Echinodemata untuk Siswa Kelas X IPA MA Darus Sholah Jember”.

Kelancaran dan kesuksesan ini dapat penulis peroleh karena dukungan oleh banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah memberi kesempatan dan menfasilitasi selama proses kegiatan belajar mengajar di lembaga ini.

2. Ibu Prof. Dr. Hj. Mukni‟ah, M.Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah menfasilitasi selama proses kegiatan belajar mengajar di lembaga ini.

3. Ibu Dr. Indah Wahyuni, M.Pd. selaku ketua jurusan Fakultas Tarbiyah yang telah menfasilitasi selama proses belajar mengajar di lembaga ini.

4. Ibu Dr. Hj. Umi Farihah, MM., M,Pd. selaku ketua Program Studi Tadris Biologi yang telah memberi bimbingan dan memberikan persetujuan judul skripsi.

5. Bapak Moh. Wildan Habibi, M.Pd. selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu membantu, memotivasi, dan memberi bimbingan dalam penulisan skripsi ini.

(9)

viii

6. Bapak/Ibu validator yang telah memberi saran dan kritik dalam pengembangan bahan ajar sehingga bahan ajar layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran.

7. Bapak/Ibu guru dan staf MA Darus Sholah Jember yang telah mengizinkan saya untuk melakukan penelitian.

8. Seluruh Dosen Tadris Biologi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

9. Abah Mastur dan Umi Nanik selaku pengasuh pondok pesantren mahasiswa Baitul Ilmi Jember, sekaligus sebagai orang tua kedua saya yang selalu memberi doa, semangat, dan dukungan.

10. Teman-teman Prodi Tadris Biologi angkatan 2018, teman-teman kelas Biologi 3, dan teman-teman santri pondok pesantren mahasiswa baitul ‘ilmi yang telah memberi semangat, dan dukungan.

Akhirnya, semoga amal baik yang telah Bapak/Ibu berikan kepada saya mendapat balasan yang baik pula dari Allah. Saya menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saya sangat terbuka apabila ada saran dari pembaca.

Semoga karya sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Jember, 11 Juni 2023

Husni Mubarok

(10)

ix

DAFTAR ISI

No. Uraian Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian dan Pengembangan ... 8

D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan ... 9

E. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan ... 10

F. Asumsi Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan ... 11

G. Definisi Istilah ... 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 64

A. Penelitian Terdahulu ... 64

B. Kajian Teori ... 71

1. Penelitian dan Pengembangan ... 71

2. Model Pengembangan ... 77

3. Bahan Ajar ... 80

4. Buku saku ... 86

5. Potensi Lokal Ekowisata Pantai PAPUMA Jember ... 96

(11)

x

6. Materi Animalia Kelas Invertebrata (Mollusca dan Echinodermata) .... 97

C. Kerangka Berpikir ... 114

BAB III METODE PENELITIAN... 116

A. Model Penelitian dan Pengembangan ... 116

B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan ... 118

C. Uji Coba Pengembangan Produk ... 125

BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 89

A. Penyajian Data Uji Coba ... 89

B. Analisis Data ... 124

C. Revisi Produk ... 133

BAB V ... 140

KAJIAN DAN SARAN ... 140

A. Kajian Produk yang Telah Direvisi ... 140

B. Saran Pemanfaatan, Diseminasi dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut. 142 DAFTAR PUSTAKA ... 145

(12)

xi

DAFTAR TABEL

No.Uraian Halaman

2.1 Persamaan dan Perbedaan Kajian Terdahulu Dengan Penelitian ini ... 14

3.1 Analisis Validitas Soal Tes Uji Coba ... 78

3.2 Hasil Reliable Instrumen Soal UJi Coba ... 79

3.3 Hasil Tingkat Kesukuran Soal ... 80

3.4 Hasil Analisis Uji Coba Soal ... 81

3.5 Kriteria Tingkat Kevalidan Produk ... 82

3.6 Kriteria Respon Siswa ... 82

4.1 Kompetensi Inti ... 94

4.2 Indikator dan Tujuan Pembelajaran ... 95

4.3 Hasil Indentifikasi Mollusca Dan Echinodermata di Ekowisata Pantai PAPUMA Jember ... 97

4.4 Komponen-Komponen Buku Saku ... 99

4.5 Nilai Setiap Aspek Penilaian Buku Saku Oleh Ahli Materi ... 111

4.6 Nilai Setiap Penilaian Buku Saku Oleh Ahli media ... 113

4.7 Nilai Setiap Aspek Penilaian Buku Saku Oleh Ahli Bahasa ... 114

4.8 Hasil Validasi Guru Biologi ... 116

4.9 Hasil Uji Skala Kecil ... 118

4.10 Hasil Penilaian Pretest ... 119

4.11 Hasil Penilaian Posttest ... 120

4.12 Nilai Setiap Aspek Kepraktisan Produk ... 125

4.13 Revisi Produk dari Ahli Materi ... 135

4.14 Kritik/Saran dan Hasil Revisi dariAhli Media ... 137

4.15 kritik/Saran dan Hasil dari Ahli Bahasa ... 138

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

No. Uraian Halaman 2.1 Langkah-langkah Penggunaan Metode Research and

Development ... 19

2.2 Lapisan-lapisan Evaluasi Formatif Model Pengembangan Plomp ... 25

2.3 Pelecypoda (bivalvia) ... 48

2.4 Gastropoda 41 ... 49

2.5 Chepalopoda ... 50

2.6 Scaphopoda ... 50

2.7 Polyplacophora ... 51

2.8 monoplacophora ... 52

2.9 Chaetodermomorpha ... 53

2.10 Neomeniomorpha ... 53

2.11 Asteroidea penampang bagian aboral (kiri) dan bagian oral (kanan) ... 55

2.12 Bintang Ular ... 56

2.13 Bagian-bagian pada Echinoidea ... 56

2.14 Anatomi pada Holothuroidea ... 58

2.15 Crinoidea ... 59

2.16 Kerangka Berpikir ... 63

3.1 Lapisan-Lapisan Evaluasi Formatif Model ... 69

4.1 Rancangan cover depan dan belakang vbuku saku ... 102

4.2 Rancangan halaman utama dan redaksi Buku Saku ... 102

4.3 Kata Pengantar ... 103

4.4 Petunjuk Buku Saku ... 104

4.5 Rancangan Daftar Isi dan Daftar Spesies ... 104

4.6 Rancangan Pengenalan Ekowisata Pantai PAPUMA Jember ... 105

4.7 Indikator dan Tujuan Pembelajaran ... 106

4.8 Peta Konsep ... 106

(14)

xiii

4.9 Rancangan Materi Mollusca dan Echinodermata ... 107

4.10 Rancangan Katalog Hewan Mollusca dan Echinodermata ... 108

4.11 Perancangan Glosarium ... 108

4.12 Rancangan Daftar Pustaka dan Profil Penulis ... 109

4.13 Hasil Analisis Statistik Deskriptif ... 121

4.14 Hasil Uji Normalitas ... 123

4.15 Hasil Uji T – Test ... 124

(15)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Matriks Penelitian ... 151

Lampiran 2 : Pedoman Wawancara ... 155

Lampiran 3 : Hasil Wawancara ... 156

Lampiran 4 : Hasil Identifikasi Hewan Mollusca dan Echinodermata ... 158

Lampiran 5 : Kisi-kisi Angket Analisis Kebutuhan Siswa ... 160

Lampiran 6: Lembar Angket Analisis Kebutuhan Siswa ... 161

Lampiran 7 : Rekapitulasi Hasil Analisis Kebutuhan Siswa ... 164

Lampiran 8 : Kisi-Kisi Angket Ahli Materi ... 166

Lampiran 9 : Angket Validasi Ahli Materi ... 167

Lampiran 10 : Hasil Validasi Ahli Materi... 173

Lampiran 11 : Kisi-Kisi Penyusunan Angket Validasi Ahli Media ... 179

Lampiran 12 : Angket Validasi Ahli Media ... 180

Lampiran 13 : Hasil Validasi Ahli Media ... 186

Lampiran 14 : Kisi-Kisi Angket Validasi Ahli Bahasa ... 192

Lampiran 15 : Angket Validasi Ahli Bahasa ... 193

Lampiran 16 : Hasil Validasi Ahli Bahasa ... 197

Lampiran 17 : Kisi-Kisi Angket Validasi Guru Biologi ... 201

Lampiran 18 : Angket Validasi Guru Biologi ... 202

Lampiran 19 : Hasil Validasi Guru Biologi ... 207

Lampiran 20 : Kisi-Kisi Instrumen Angket Respon Siswa ... 211

Lampiran 21 : Angket Respon Siswa ... 212

Lampiran 22 : Hasil Respon Siswa ... 215

Lampiran 23 : Angket Validasi RPP ... 217

Lampiran 24 : RPP ... 220

Lampiran 25 : Hasil Validasi RPP ... 227

Lampiran 26 : Kisi-Kisi Soal Pretest dan Posttest ... 230

Lampiran 27 : Angket Validasi Soal ... 231

Lampiran 28 : Hasil Validasi Soal ... 236

Lampiran 29 : Soal Uji Coba ... 240

(16)

xv

Lampiran 30 : Hasil Uji Coba Soal ... 245

Lampiran 31 : Soal Pretest dan Posttest ... 247

Lampiran 32 : Hasil Pretest dan Posttest ... 251

Lampiran 33 : Hasil Uji Statistik ... 253

Lampiran 34 : Surat Penelitian ... 254

Lampiran 35 : Surat Selesai Penelitian ... 255

Lampiran 36 : Dokumentasi ... 257

Lampiran 37 : Jurnal Penelitian ... 258

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan tinggi menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 ialah menciptakan lingkungan dan kegiatan belajar yang memungkinkan siswa dapat aktif dalam mengembangkan potensi, keagamaan, spiritual, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, kekuatan moral dan keterampilan yang dibutuhkan bagi masyarakat, bangsa, dan negara2. Menurut Sugiyono (2016) Pendidikan dapat diartikan sebagai upaya melakukan aktivitas dengan mengerahkan pikiran, tenaga maupun tubuh guna tercapainya tujuan dalam kondisi sadar dan konseptual, serta untuk menciptakan lingkungan dan proses belajar. Dengan demikian, siswa harus mampu secara aktif menyesuaikan kekuatan mental, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, kepribadian luhur, dan potensinya untuk mencapai keterampilan yang dibutuhkan masyarakat, negara, dan negara.3

Seperti yang kita ketahui, komponen yang harus ada pada proses pembelajaran ialah pendidik dan siswa, dan pada kegiatan pembelajaran memang mencakup interaksi atau hubungan antara pendidik dengan siswanya dan akan melibatkan banyak komponen-komponen lain pada saat kegiatan pembelajaran. Contoh dari komponen tersebut adalah adanya fasilitas

2Kemristekdikti. UU Nomor: 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, 2016. 15 April 2022

3Sugiyono. “Metode Penelitian dan Pengembangan Research and Development”.( Bandung:

Alfabeta, 2015), 34.

.

(18)

2

pembelajaran. Perangkat pembelajaran dapat diartikan sebagai pedoman atau petunjuk belajar warga negara4. Kita ketahui bersama bahwasannya, bahan ajar memiliki peran yang sangat penting pada kegiatan pembelajaran. Dengan digunakannya bahan ajar, maka kegiatan pembelajaran akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pendidik dan siswa. Kegiatan pembelajaran akan berjalan dengan tertib, jika menggunakan buku teks atau bahan ajar yang tepat dan sesuai dengan materi pada mata pelajaran tersebut. Menurut Sadjati (2012) faktor penting pada peningkatan kualitas pembelajaran adalah bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan materi yang digunakan oleh pendidik dan siswa, kemudian dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar.

Seiring berkembangnya zaman, siswa menjadi lupa akan kewajibannya untuk menuntut ilmu dan menyebabkan penurunan atau lemahnya semangat belajar siswa. Oleh karena itu, seorang pendidik harus memiliki suatu inovasi agar semangat belajar siswa tidak menurun dan juga seorang pendidik harus mampu memotivasi para siswanya. Jika hal tersebut telah dilakukan, maka kemungkinan besar menimbulkan semangat belajar siswa. Upaya pendidik untuk memotivasi semangat belajar siswanya dapat menggunakan bahan ajar yang tepat. Jenis atau macam-macam bahan ajar sangat bervariasi yang digunakan pada pembelajaran, salah satunya Buku saku. Buku saku yang digunakan memiliki unsur edukasi khususnya pada pelajaran biologi.

4 Sukirman. “Administrasi dan Supervisi Pendidikan”. (Yogyakarta: UNY Press, 2008)., 24.

(19)

3

Adapun berkembangnya zaman Buku saku tidak hanya terbatas pada media cetak saja, Buku saku digital juga ikut berkembang. Akan tetapi Buku saku digunakan pada penelitian dan pengembangan ini, akan disajikan secara cetak. Tujuan dari bahan ajar tersebut ialah untuk membantu atau memfasilitasi para siswa pada proses pembelajaran agar dapat meningkatkan semangat belajar para siswa. Namun, kelebihan menggunakan Buku saku adalah sangat mudah untuk dipahami dan terdapat ringkasan materi. Buku saku juga dilengkapi dengan hasil perkembangan penelitian yang terbaru dan dalam pengaplikasiannya pada kehidupan sehari-hari pada materi tersebut5. Oleh karena itu, buku harus selalu baru atau inovatif. Namun, dengan berkembangnya zaman tidak berarti kita melupakan kebudayaan yang kita miliki. Buku yang layak adalah buku yang dikemas dengan menarik, efektif, dan imajinatif, disesuaikan dengan kebutuhan siswa, dan dapat mengenalkan siswa dengan cara hidup di linkunganya (Potensi Lokal).

Potensi Lokal adalah karakter suatu daerah yang harus dikenalkan kepada usia yang lebih muda (generasi penerus) melalui media pengajaran.

Karena pengalaman pendidikan yang sangat bagus, bagi siswa adalah belajar dari iklim terdekat atau Potensi Lokal, yaitu belajar dari daerahnya dan kemudian belajar keilmua dari daerah rang lebih luas dan keseluruhan. Generasi muda setempat akan mengikuti budaya lokal mereka sendiri. Oleh karena itu,

5 Ali, M. “Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Mata Kuliah Medan Elektromagnetik”. (Jurnal Edukasi, 5 (1), 2009), 22.

(20)

4

sebagai penrus perjuangan bangsa dan negara, pemuda harus ikut menjaga budaya lokal agar tidak larut oleh budaya asing.

budaya lokal termasuk semua wawasan (virtuoso terdekat) yang menggabungkan, atau sesuatu yang dipandang setara dengan karakter sosial yang dapat diartikan sebagai kepribadian sosial atau karakter suatu negara.

sifat-sifat dasar Potensi Lokal adalah: 1) Mampu bertahan dari pengaruh budaya asing; 2) Mampu memasukan unsurunsur budaya asing, menjadi Potensi Lokal;

3) Dapat mengoordinasikan komponen budaya asing ke dalam budaya lokal; 4) Siap mengontrol dan siap memberikan bimbingan untuk kemajuan kebudayaan.

Mengenai setiap daerah tentunya memiliki karakter atau keunikan tersendiri yang menjadi kelebihan dari suatu daerah. Wujud karakter suatu daerah yang dimiliki masyarakat setempat belum tentu dimiliki oleh daerah lain. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki Potensi Lokal adalah kota Jember. Contoh dari Potensi Lokal di jember yaitu larung sesaji atau petik laut yang berada di salah satu kawasan wisata pantai di jember, yaitu di pantai papuma.

Peneliti mulai melakukan observasi pada Sabtu 12 November 2022 di Pantai Papuma bahwa pantai merupakan wilayah di tepian air yang terkena dampak pasang surut tertinggi dan surut terkecil, sisi laut memiliki potensi yang sangat besar sebagai wilayah yang digunakan untuk aktivitas manusia.

Pemanfaatan kawasan pantai yang meluas disertai dengan perluasan masalah pantai karena disintegrasi yang disebabkan oleh gelombang.

(21)

5

Dalam Al-Qur'an juga telah dimaknai tentang kemegahan sisi Samudra dan lautan. Dalam surat An Nahl ayat 14 Allah menjelaskan:

َهَنوُسَب ۡلَت ٗةَيۡل ِح ُهۡنِم ْاوُج ِر ۡخَت ۡسَت َو اٗ ي ِرَط ا ٗم ۡحَل ُهۡنِم ْاوُلُكۡأَتِل َر ۡحَبۡلٱ َرَّخَس يِذَّلٱ َوُه َو ٞۖا

َنوُرُك ۡشَت ۡمُكَّلَعَل َو ۦِهِل ۡضَف نِم ْاوُغَتۡبَتِل َو ِهيِف َر ِخا َوَم َكۡلُفۡلٱ ىَرَت َو ١٤

“Dialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur6.” (Qs. An Nahl : 14)

Yang dimaksud lautan di sini adalah perairan yang luas, baik tawar maupun asin, mencakup laut, danau, dan sungai yang luas.

Pantai Papuma merupakan tepi lautan yang terdapat pasir putih di selatan Jawa Timur. pantai Tajung Papuma terletak di kota Lojejer, Wuluhan. Jaraknya sekitar satu langkah dari titik pusat pemerintahan kabupaten Jember. Pantai Papuma berarti merupakan sinkatan dari "Pasir Putih Malikan". Dikutip dari situs Perhutani, "Tanjung" disematkan nama pantai Papuma untuk menunjukkan tempat pantai Papuma yang menjorok ke laut, pasirnya berwarna putih dan juga terdapat lempengan batu malik (terbalik) seperti sisik ikan.

Pada saat Husni Mubarok Melakukan observasi di MA Darus Sholah pada tanggal 6 Desember 2022, menemukan bfahwa dalam kegiatan pembelajarannya masih menggunakan metode pembelajaran konvensional (ceramah). Menurut Hisyam, dkk (2008) metode ceramah atau konvensional memiliki kekurangan. sehingga kekurangan dari penggunaan

6 Al-Quran, 14

(22)

6

metode ceramah atau konvensional ialah: metode ini kurang melekat pada ingatan para siswa, monoton sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang membosankan.7 Kemudian peneliti juga menemukan pada saat pembelajaran para siswa hanya berpusat pada buku ajar yang sedang digunakan pada saat pembelajaran berlangsung, contohnya seperti buku paket.

Buku paket tersebut memiliki keterbatasan terhadap isi materi yang ada di dalamnya. Jika ingin mengakses materi yang lengkap harus menggunakan scan barcode yang tertera pada buku paket tersebut. Siswa menjadi kesulitan mendapatkan materi yang lengkap karena MA Darus Sholah merupakan lembaga yang dikelola oleh pondok pesantren, sehingga para siswa tidak boleh membawa alat eletronik, seperti laptop dan handphone. Karena keterbatasan inilah yang membuat para siswa tidak memiliki ketertarikan dengan bahan ajar yang digunakan ketika proses pembelajaran berlangsung, bahkan ada beberapa siswa yang tidak membawa buku dan tertidur saat kegiatan pembelajaran.

Menurut Pendidik biologi kelas X MIPA MA Darus Sholah yakni Ibu Anis Azizah, mengatakan bahwa ketika kegiatan pembelajaran biologi, siswa kurang suka membaca buku paket yang berukuran besar, mereka cenderung suka dengan buku yang berukuran kecil dan bisa di bawa kemana-mana seperti buku saku yang digunakan untuk hafalan, Kemudian

7 Hisyam Zaini.2008. Srategi pembelajaran aktif. (Yogyakarta: Insan Mandiri. Joko Santoso, Surtikanti. 2008), 15.

(23)

7

siswa cenderung menyukai bahan ajar yang di dalamnya terdapat gambar- gambar yang membuat siswa memiliki ketertarikan pada bahan ajar tersebut. Maka dari itu, peneliti menyimpulkan bahwa bahan ajar seperti buku paket yang digunakan selama kegiatan pembelajaran biologi kurang efektif, karena siswa lebih menyukai bahan ajar yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Siswa juga lebih tertarik jika buku tersebut bisa di bawa kemana-mana.

Dari deskripsi tersebut, maka perlu adanya pengembangan bahan ajar yang bisa dijadikan alternatif. Buku saku merupakan media yang sangat cocok untuk mempelajari ilmu biologi. Menurut Santyasa (2017), Buku saku dapat membantu atau memudahkan para siswa untuk memahami materi yang diajarkan oleh pendidik dan tentu akan mendapatkan pengalaman belajar yang menarik8. Adapun penelitian kebaharuan yang sedang dilakukan dalam produk Buku saku ini yaitu tertuju pada materi animalia dan buku ini bukan sekedar buku saku pada umumnya, melainkan buku saku yang berbasis Potensi Lokal. Jadi selain mempelajari ilmu biologi, siswa juga dapat mempelajari Potensi Lokal atau budaya di daerah tersebut.

Berdasarkan dari uraian latar belakang diatas, peneliti memiliki ketertarikan untuk melakukan sebuah penelitian yang berjudul

“Pengembangan Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pantai Papuma Jember

8 Santyasa. “Landasan Konseptual Media Pembelajaran”. Banjar Angkan: (Universitas Sumatra Utara, 2007), 33-34

(24)

8

Pada Materi Mollusca & Echinodermata Untuk Siswa Kelas X MIPA di MA Darus Sholah Jember”

B. Rumusan Masalah

Adapun permasalahan akan yang dikaji dalam penelitian dan pengembangan berdasarkan latar belakang diatas, yaitu:

1. Bagaimana Kevalidan Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pantai Papuma Jember Pada Materi Mollusca & Echinodermata Untuk Siswa Kelas X MIPA di MA Darus Sholah Jember?

2. Bagaimana Respon Siswa terhadap Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pantai Papuma Jember Pada Materi Mollusca & Echinodermata Untuk Siswa Kelas X MIPA di MA Darus Sholah Jember?

3. Bagaimana Keefektifan Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pantai Papuma Jember Pada Materi Mollusca & Echinodermata Untuk Siswa Kelas X MIPA di MA Darus Sholah Jember?

C. Tujuan Penelitian dan Pengembangan

Adapun tujuan penelitian pengembangan yang akan dicapai berdasarkan rumusan masalah di atas yaitu:

1. Mendeskripsikan kevalidan produk hasil pengembangan berupa Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pantai Papuma Jember Pada Materi Mollusca &

Echinodermata Untuk Siswa Kelas X MIPA di MA Darus Sholah Jember.

2. Mendeskripsikan respon siswa terhadap hasil pengembangan berupa Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pantai Papuma Jember Pada Materi Mollusca

(25)

9

& Echinodermata Untuk Siswa Kelas X MIPA di MA Darus Sholah Jember.

3. Mendeskripsikan keefektifan produk hasil pengembangan berupa Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pantai Papuma Jember Pada Materi Mollusca

& Echinodermata Untuk Siswa Kelas X MIPA di MA Darus Sholah Jember.

D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan

Secara detail item yang diharapkan dalam karya inovatif yang akan dilakukan, ialah:

1. Buku saku ini merupakan buku saku yang berbentuk cetak dengan gambar dan warna yang menarik

2. Buku saku ini mempermudah siswa dalam memahami materi karena disertai dengan adanya foto asli hasil observasi dan Informasi yang disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami oleh siswa.

3. Buku saku ini sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan siswa untuk pembelajaran secara mandiri.

4. Buku Saku ini dicetak menggunakan kertas A6 dengan ukuran 105 mm x 148 mm atau 10,5 cm x 14,8 cm

5. Muatan materi dalam buku saku berasal dari penelitian langsung di lapangan/observasi langsung, hasil wawancara dan tambahan informasi dari buku, jurnal serta referensi lain yang relevan dan sumber dapat dipertanggung-jawabkan.

6. Buku saku ini disusun secara sistematis diawali dengan cover, halaman

(26)

10

utama, kata pengantar, petunjuk penggunaan, kompetensi inti dan kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, kata pengantar, daftar isi, daftar spesies, pendahuluan, isi, daftar pustaka, glosarium, dan riwayat penulis.

E. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan

Pengembangan bahan ajar Buku Saku berbasis Potensi Lokal dilakukan sebagai salah satu bentuk upaya untuk membantu siswa guna tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, pentingnya penelitian dan pengembangan bahan ajar Buku Saku ini, ialah:

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian dan pengembangan yang berupa Buku saku ini dapat memberikan variasi serta inovasi belajar siswa terutama pada materi biologi yaitu materi Mollusca dan Echinodermata.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Pendidik

Hasil dari penelitian ini berupa Buku Saku dan diharapkan memudahkan pendidik selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

b. Bagi Siswa

Hasil dari penelitian ini berupa Buku Saku dan diharapkan memudahkan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

c. Bagi Sekolah

Diharapkan dapat menjadi sebuah inovasi dan alternatif bagi pihak sekolah, khususnya pada bahan ajar yang digunakan, untuk bekerja pada sifat pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran sains.

d. Bagi Peneliti

Hasil dari penelitian pengembangan ini diharapkan menjadi rujukan bagi para peneliti lain dan dapat memberikan inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan bahan ajar.

(27)

11

F. Asumsi Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan 1. Asumsi Pengembangan

Adapun asumsi pengembangan bahan ajar berbentuk buku saku yang berbasis Potensi Lokal adalah sebagai berikut :

a. Siswa dapat menggunakan buku saku berbasis Potensi Lokal dalam pembelajaran di sekolah.

b. Buku saku dapat dibawa dan dibaca dimana saja oleh siswa.

c. Menghasilkan produk media pembelajaran berupa Buku saku pada materi mollusca dan echinodermata sebagai variasi dan inovasi baru untuk menambah ketersediaan media pembelajaran.

d. Dengan adanya media pembelajaran dengan konteks mollusca dan echinodermata dapat mengenalkan potensi mollusca dan echinodermata di Kawasan ekowisata Pantai PAPUMA Jember kepada siswa.

e. Produk yang dihasilkan dapat digunakan guru sebagai media pembelajaran

2. Keterbatasan Pengembangan

Buku saku memiliki beberapa keterbatasan yaitu:

a. Pengembangan Buku Saku ini hanya terbatas pada materi Animalia sub bab mollusca dan echinodermata kelas X SMA/MA.

b. Meskipun berukuran minimalis, biaya untuk penyusunan dan

penggandaan buku saku relatif besar karena diproduksi dalam bentuk cetak.

G. Definisi Istilah

Untuk menghindari kesalahan yang terkandung dalam judul, peneliti mencoba memahami makna kata dan istilah yang digunakan dalam pembahasan ini. Mengenai sebagian istilah yang digunakan dalam karya inovatif ini, lebih spesifiknya sebagai berikut:

1. Penelitian dan pengembangan

Penelitian dan pengembangan ialah suatu metode penelitian yang digunakan untuk memvalidasi suatu produk yang dikembangkan. Penelitian

(28)

12

ini menggunakan model pengembangan Plomp yang terdiri dari 3 tahapan yaitu premilinary research, development or prototyphing phase, dan assessment phase.

2. Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa untuk belajar

3. Buku saku

Buku saku adalah bahan ajar yang di dalamnya memuat materi-materi sains dan bertujuan untuk memberikan informasi secara nyata yang berkaitan dengan prinsip-prinsip sains. Bahan ajar Buku saku di desain menarik dengan memproyeksikan gambar-gambar, bentuk yang unik, praktis (mudah dibawa kemana-mana), dan materi terstruktur secara sistematis sehingga dapat menimbulkan minat baca para siswa.

4. Potensi Lokal

Potensi lokal merupakan bagian dari cara hidup masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa daerah setempat itu sendiri. Dapat juga dikatakan bahwa kelihaian masyarakat merupakan pandangan hidup dan informasi serta berbagai metodologi kehidupan sebagai latihan yang dilakukan oleh jaringan lokal dalam menjawab berbagai persoalan dalam menjawab kebutuhannya.

5. Mollusca dan Echinodermata

Mollusca dan echinodermata merupakan filum hewan invertebrata.

Invertebrata adalah hewan yang tidak memiliki tulang belakang

(29)

64

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Berikut ini beberapa penelitian terdahulu yang berhasil dikumpulkan dan yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan:

1. Penelitian yang berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Buku Saku Berbasis Kearifan Lokal Pada Tema 8 Subtema 1 Di Kelas IV SDN 007 Tarakan”. Penelitian inin dilaksanakan oleh Zaniah Sha Fitri pada tahun 2021, dan betempat di sekolah dasar negeri 007 kelas VI tarakan.

Pemnelitian ini menggunakan pendekatan penelitian Research and Development (R&D) mengingat model ADDIE yang terdiri dari lima fase yaitu Examination, Plan, Advancement, Execution, dan Assessment.

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas 4 SDN 007 Tarakan dengan jumlah siswa 5 orang. Instrumen pengumpulan informasi yang digunakan adalah observasi, wawancara, lembar persetujuan, dan lembar jajak pendapat siswa. Hasil studi dompet yang didapat dari lembar persetujuan diharapkan sepenuhnya dapat dilakukan dan jajak pendapat reaksi minat siswa seharusnya sangat menarik. Mengingat evaluasi yang dilakukan oleh ahli materi, ahli etimologi, dan ahli media, rata-ratanya mencapai 88%.

Kemudian jajak pendapat siswa di babak penyisihan terbatas mencapai 88%. Mengingat perolehan skor rata-rata validator dan tingkat respons daya tarik siswa di babak penyisihan terbatas, media pembelajaran dompet

(30)

berdasarkan wawasan terdekat dapat digunakan dan memikat siswa.

2. Penelitian yang dilakukan Komala Dewi (2019) dengan judul

“Pengembangan Modul Biologi Berbasis Potensi Lokal Lampung Barat Pada Mata Pelajaran Biologi Kelas X Ditingkat SMA/MA”. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode Innovative work (R and D) dari Borg and Nerve to set seven. Prosedur pengumpulan informasi menggunakan (1) jajak pendapat tentang kebutuhan siswa, (2) wawancara dengan instruktur (3) survei untuk menampilkan ahli modul, (4) jajak pendapat untuk ahli materi, (5) survei untuk ahli etimologi, (6) polling reaksi siswa, (7) polling reaksi guru dan (8) dokumentasi. Konsekuensi dari peningkatan modul pembelajaran IPA ditinjau dari wawasan sekitar Lampung Barat menunjukkan layak digunakan pada pengalaman yang berkembang dilihat dari evaluasi kualitas modul dengan menunjukkan ahli modul, ahli materi, dan ahli bahasa secara terpisah 88,63%, 86,36%, 90,1% dengan ukuran umum yang sangat adil. Reaksi instruktur mata pelajaran IPA sebesar 80,39%. Reaksi siswa adalah 78,02% selama pendahuluan atau penyisihan terbatas dan 83,78% dan 81,38% selama pendahuluan yang lebih luas. Oleh karena itu dapat beralasan bahwa, Perbaikan mengenai konfigurasi:

organisasi konten, variasi. Dari segi material lebih presisi, teratur, kuat dan jelas.

3. Penelitian yang dilakukan Devy Afrianti (2021) yang berjudul

“Pengembangan Media Pembelajaran Pocket Book Berbasis Potensi Lokal Pada Pembelajaran Matematika Kelas X Di SMPN 1 Belopa”, menunjukkan

(31)

hasil akhir dengan validasi sebesar 85,41% yang dapat dikategorikan valid sehingga digunakan pada kegiatan pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan yaitu Research & Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari 5 tahap yaitu Analyze, design, development, implementation, and evaluation.

4. Penelitian yang dilakukan Anwari (2015) dengan judul “Pengembangan Modul Pembelajaran Biologi Berbasis Potensi Lokal Di Taman Nasional Gunung Merapi Untuk SMA/MA Kelas X Materi Keanekaragaman Hayati”. Perbaikan modul menggunakan model 4D yang terdiri dari characterize, plan, create dan spread, yang dalam hal ini hanya berpusat pada tahap pengembangan. Modul yang dibuat dapat digunakan dengan konsekuensi evaluasi master, komentator rekan, instruktur sains, dan reaksi siswa sebagai dasar. Secara berturut-turut hasil evaluasi adalah ahli materi 94,87% (Sangat Baik), Ahli media 93,95% (Luar biasa), analis sejawat 84,59% (Luar Biasa), Pengajar IPA 92,67% (Luar biasa) dan tanggapan siswa 85,46% (Sangat Baik).

5. Penelitian yang dilakukan Harnisa Fitri (2019) yang berjudul:

“Pengembangan Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Sebagai Sumber Belajar Pada Materi Bilangan VII SMP Negeri Tarakan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk buku saku berdasarkan Potensi Lokal yang dihasilkan berdasarkan persetujuan para ahli material mendapat klasifikasi yang sangat pas dengan tingkat 85,71%, ahli menunjukkan mendapatkan kategori yang sangat memungkinkan dengan tingkat 86,25% dan ahli

(32)

etimologi mendapat kelas yang sepenuhnya masuk akal dengan tingkat 85%. Sementara itu, dari hasil pemeriksaan di lapangan dengan reaksi klien siswa, diperoleh angka 83,5% pada kelas sangat fungsional.

Berikut dibawah ini merupakan tabel persamaan dan perbedaan dalam kelima kajian terdahulu :

Tabel 2. 1

Persamaan dan Perbedaan Kajian Terdahulu dengan Penelitian ini.

No.

Nama, Tahun, dan Judul Persamaan Perbedaan

1 Zaniah Sha Fitri (2021) yang berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Pada Tema 8 Subtema 1 Di Kelas IV SDN 007 Tarakan.”

• Produk yang dikembangkan berupa bahan ajar Buku saku berbasis Potensi Lokal.

Penelitian Terdahulu:

• Materi yang dicantumkan dalam Buku saku berbasis Potensi Lokal yaitu materi Tema 8 pada Sub Tema 1.

• Menggunakan model

pengembangan ADDIE

Penelitian yang sedang dikembangkan oleh peneliti:

• Materi yang dicantumkan dalam Buku Saku berbasis Potensi

(33)

Lokal yaitu materi Animalia kelas X SMA/MA

• Menggunakan model

pengembangan 4D 2

Komala Dewi (2019), dengan judul “Pengembangan Modul Biologi Berbasis Potensi Lokal Lampung Barat Pada Mata Pelajaran Biologi Kelas X Ditingkat SMA/MA”.

• Produk yang dikembangkan berupa bahan ajar berbasis Potensi Lokal.

Penelitian Terdahulu:

• Produk yang dikembangkan berupa modul biologi

• Model

pengembangan yang dipakai ialah Borg & Gall Penelitian yang sedang dikembangkan oleh peneliti:

• Materi yang dicantumkan dalam Buku Saku berbasis Potensi Lokal yaitu materi Animalia kelas X SMA/MA

• Menggunakan model

pengembangan 4D

(34)

3 Devy Afrianti (2021) yang berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Pocket Book Berbasis Potensi Lokal Pada Pembelajaran

Matematika Kelas X Di SMPN 1 Belopa”

• Produk yang dikembangkan berupa bahan ajar Buku saku berbasis Potensi Lokal.

Penelitian Terdahulu:

• Materi yang dibahas ialah pada pembelajaran Matematika untuk kelas X SMPN

• Model

pengembangan yang digunakan adalah ADDIE Penelitian yang sedang dikembangkan oleh peneliti:

• Materi yang dicantumkan dalam Buku Saku berbasis Potensi Lokal yaitu pembelajaran biologi materi Animalia kelas X SMA/MA

• Menggunakan model

pengembangan 4D 4

Anwari (2015) dengan judul

“Pengembangan Modul Pembelajaran Biologi Berbasis Potensi Lokal Di Taman Nasional Gunung

• Produk yang dikembangkan berupa bahan ajar berbasis Potensi Lokal.

Penelitian Terdahulu:

• Materi yang dibahas pada Modul berbasis Potensi Lokal ialah

(35)

Merapi Untuk SMA/MA Kelas X Materi

Keanekaragaman Hayati”.

• Menggunakan model

pengembangan 4D

Keanekaragaman Hayati Kelas X SMA/MA

Penelitian yang sedang dikembangkan oleh peneliti:

• Materi yang dicantumkan dalam Buku Saku berbasis Potensi Lokal yaitu pembelajaran biologi materi Animalia kelas X SMA/MA.

5

Harnisa Fitri (2019) yang berjudul “Pengembangan Buku Saku Berbasis Potensi Lokal Sebagai Sumber Belajar Pada Materi Bilangan VII SMP Negeri Tarakan”.

• Bahan ajar yang dikembangkan berupa Buku saku berbasis Potensi Lokal

Penelitian Terdahulu:

• Materi yang dicantumkan dalam Buku Saku berbasis Potensi Lokal yaitu materi Invertebrata kelas X SMP.

• Model

pengembangan yang digunakan ialah ADDIE Penelitian yang sedang dikembangkan oleh peneliti:

(36)

• Materi yang dicantumkan dalam Buku Saku berbasis Potensi Lokal yaitu pembelajaran biologi materi Animalia kelas X SMA/MA.

• Menggunakan model

pengembangan 4D.

B. Kajian Teori

1. Penelitian dan Pengembangan a. Pengertian

Pengertian R&D (research and development) merupakan serangkaian proses yang dilakukan untuk memvalidasi dan mengembangkan produk. R&D merupakan metode ilmiah untuk merancang, meneliti, membuat, dan juga untuk menguji keefektifan suatu produk atau bahan ajar yang akan diproduksi.9 Pengembangan termasuk dalam jenis R&D dan didefinisikan sebagai "Penelitian dan Pengembangan". R&D memiliki pemahaman yang terfokus pada proses penciptaan objek yang dapat dilihat dan disentuh. Pengembangan adalah

9 Sugiyono. “Metode Penelitian dan Pengembangan Research and Development”. (Bandung: Alfabeta, 2015), 28-30.

(37)

proses membangun sekumpulan elemen yang dapat dirangkai menjadi produk yang diinginkan10

Pengembangan diartikan sebagai suatu usaha pendidikan yang dilakukan secara sadar, terarah, dan terencana yang bertujuan untuk menumbuhkan, memperkenalkan, dan mengembangkan dasar kepribadian yang selaras atau seimbang.11

b. Langkah-langkah Penelitian dan Pengembangan

Gambar 2. 1 Langkah-langkah Penggunaan Metode Research and Development. Sumber:

Sugiyono (2015:298).

Adapun langkah-langkah dalam R&D seperti pada gambar berikut:

1) Potensi Masalah

Potensi merupakan segala bentuk upaya yang memungkinan untuk menambah nilai ketika dikembangkan. Sedangkan masalah merupakan ketidaksesuaian antara apa yang diharapkan dan apa yang telah terjadi.

10 Priyanto, Dwi. “Pengembangan Multimedia Pembelajaran Berbasis Komputer”. (Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan. 14 No.1, 2009), 20.

11Mangesti. “Konsep Pengembangan SDM” (Perpustakaan UT. 2019), 9.

(38)

Masalah-masalah ini dapat diselesaikan dengan menerapkan penelitian dan pengembangan sehingga peneliti dapat menemukan dan menggunakan prototipe, model, atau sistem pemrosesan terintegrasi untuk mengatasi masalah tersebut.

2) Pengumpulan Data

Kemudian jika peneliti dapat membuktikan potensi masalah secara efektif, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan berbagai sumber atau informasi yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai bahan rancangan produk untuk memecahkan masalah tersebut. Pada tahap ini, diperlukan metode penelitian lain. Metode yang digunakan dalam penelitian tergantung pada ketepatan masalah dan tujuan yang akan dicapai.

3) Desain Produk

Terdapat banyak jenis produk yang dikembangkan pada penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan menghasilkan berbagai macam produk-produk yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuan akhir dari penelitian dan pengembangan adalah merancang produk baru yang dilengkapi dengan spesifikasinya.

Desain produk juga ditampilkan dalam gambar atau diagram untuk digunakan sebagai panduan evaluasi dan pembuatan. Dalam hal ini, desain produk harus disertai dengan deskripsi elemen-elemen berikut:

pengetahuan tentang hasil yang benar, umpan balik, percabangan, penilaian, prapenyelenggara, petunjuk, desain layar, informasi layar, komponen layar, keterbacaan, dan lain-lain

(39)

4) Validasi Desain

Validasi desain didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan yang memiliki unsur untuk mengevaluasi desain suatu produk baru dan bertujuan untuk mengetahui apakah desain bahan ajar yang baru lebih efektif daripada yang lama. Jenis verifikasi di sini masih berupa evaluasi berdasarkan pemikiran rasional, bukan fakta di lapangan.

Kemudian, peneliti mendatangkan beberapa ahli yang sangat berpengalaman untuk mengevaluasi produk baru yang peneliti kembangkan untuk memverifikasi produk. Sedikitnya dua orang ahli dibidang media dan materi terlibat dalam penelitian dan pengembangan ini. Setiap ahli diminta untuk mengevaluasi desain produk baru sehingga dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan produk baru. Verifikasi desain dapat dilakukan dalam forum diskusi dimana peneliti mempresentasikan proses penelitian yang mengarah pada pengembangan produk.

5) Perbaikan Desain

Setelah desain produk diverifikasi melalui diskusi dengan ahli media dan materi, maka kekurangan dari produk dapat diidentifikasi.

Dari kekurangan inilah yang menjadi pedoman bagi peneliti untuk memperbaiki desain produk.

6) Uji Coba Produk

Produk dapat langsung diuji setelah melewati tahap verifikasi dan revisi. Pada tahap awal percobaan dilakukan dengan mensimulasikan

(40)

penggunaan program pembelajaran. Ketika simulasi selesai, selanjutnya dapat diuji dalam kelompok terbatas. Tujuan dari pengujian ini ialah untuk memberikan informasi apakah bahan yang baru dikembangkan lebih efektif daripada produk lama. Pada tahap ini juga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi. Menurut Borg & Gall uji coba terbatas secara kelompok dibagi menjadi 2 bagian yaitu ujicoba lapang skala kecil dan skala besar. Uji coba lapang skala kecil, dapat dilakukan dari 1 sampai 3 sekolah yang berjumlah 6 sampai 12 subjek ujicoba. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan kuisioner. Sedangkan ujicoba lapang skala besar dapat dilakukan dari 5 sampai 15 sekolah yang berjumlah 30-100 subjek ujicoba. Pada pengujian ini, menggunakan metode eksperimen, sehingga efektifitas produk dapat dengan mudah untuk diketahui dengan cara melakukan perbandingan nilai sebelum dan sesudah menggunakan produk tersebut.12

7) Revisi Desain

Jika dalam uji efektivitas produk baru diuji dengan jumlah sampel yang terbatas dan produk baru lebih efektif daripada produk lama dan juga terdapat perbedaan yang signifikan, maka produk baru dapat digunakan dalam berbagai kelas terlepas dari mana sampel tersebut diambil.

12 Sugiyono. “Metode Penelitian dan Pengembangan Research and Development”.

(Bandung: Alfabeta, 2015), 492.

(41)

Jika dalam pengujian terdapat salah satu indikator yang perbedaan efektivitas tidak seperti yang diharapkan, maka peneliti perlu merevisi desain produk itu kembali.

8) Uji Coba Pemakaian

Setelah lolos dari pengujian produk, maka produk tersebut akan digunakan dalam bentuk program pembelajaran baru dalam cakupan disiplin ilmu yang lebih luas. Pada pelaksanaannya, program perlu diperiksa terkait hambatan atau kesulitan dimana hal tersebut akan menunjukkan perbaikan selanjutnya.

9) Revisi Produk

Tahap ini dilakukan ketika dalam penggunaan produk tersebut terdapat kelemahan. Menurut Sugiyono, dalam uji coba produk diperlukan adanya evaluasi-evaluasi. Dengan cara tersebut dapat ditemukan berbagai kekurangan-kekurangan pada penggunaan produk.

Oleh karena itu, dengan adanya evaluasi-evaluasi dapat menjadi pedoman perbaikan dalam pembuatan produk yang baru.

10) Pembuatan Produk Masal

Jika dalam beberapa kali ujicoba produk yang dikembangkan tersebut dikategorikan efektif, maka produk tersebut dapat digunakan diseluruh lembaga pendidikan dan juga produk tersebut dapat dicetak secara masal kemudian didistribusikan secara luas di pasaran.

(42)

2. Model Pengembangan

Ada banyak model penelitian dan pengembangan (R&D) yang dapat digunakan sesuai kebutuhan. Dalam buku model penelitian dan pengembangan karya Tegeh et.al., (2014) terdapat banyak model penelitian dan pengembangan (R&D) yang dapat dipilih untuk melakukan penelitian dan pengembangan, diantaranya: Model Kemp (1994), Model Sistem Dick dan Carey (1990:2000), Model Smith dan Ragan (1993), Model 4 D (1974), Model Borg dan Gall (1983/2003), Model R-D-R, dan model Plomp (2013) yang berasal dari University of Twente Belanda.

Model penelitian Plomp merupakan model pengembangan yang sangat intens dengan subjek penelitian. Mulai dari memahami objek penelitian hingga mengetahui keandalan produk, semuanya tergantung pada subjek penelitian. Model pengembangan plomp banyak digunakan dalam pengembangan produk-produk pendidikan seperti bahan ajar, media, ataupun pendekatan pembelajaran.

Dalam penelitian dan pengembangan (R&D), menurut Plomp and Nieveen (2013:35) diperlukan desain penelitian. Plomp juga menyatakan bahwa “we characterized educational design in short as method within which one is working in systematic way toward the solving of a „make‟

problem” Artinya secara singkat mencirikan desain bidang pendidikan sebagai metode dimana orang bekerja secara sistematis untuk memecahkan masalah yang dibuat atau diciptakan. Berdasarkan Plomp and Nieveen

(43)

(2013:36), terdapat 3 tahapan dalam penelitian pengembangan model plomp ini, yaitu:

Gambar 2. 2 Lapisan-Lapisan Evaluasi Formatif Model Pengembangan Plomp. (Sumber: Plomp and

Nieveen (2013:36).

a. Tahap Penelitian Pendahuluan (Preliminary Research)

Tahap pendahuluan (prelimanary research) adalah tahap dimana peneliti melakukan analisis secara menyeluruh terhadap kebutuhan subjek penelitian seperti karakteristik materi, karakteristik guru dan siswa, saran dan prasarana pembelajaran dan lain-lain.

b. Tahap Prototype (Prototyping Phase)

Tahap prototype (prototyping phase) adalah tahap peneliti melakukan perancangan produk yang diinginkan, dengan melakukan uji validitas oleh Ahli materi (expert apraisal), parktisi merevisi produk sesuai saran validator. Proses prototyping produk secara teoritis oleh Plomp dkk, dapat dilakukan dengan proses seperti berikut:

1) Self evaluation

(44)

Peneliti mengevaluasi produk yang telah dirancang sendiri, untuk mengetahui kemungkinan kesalahan atau kekurangan yang masih ada pada produk yang dikembangkan. Self evaluation dapat dilakukan dengan mencermati kembali produk yang dihasilkan dari segala aspek. Hasil Self evaluation digunakan kembali untuk merevisi produk.

2) Expert review

Ialah melihat kualitas produk yang telah dirancang apakah sudah sesuai dengan kebutuhan serta tujuan pengembangan (validitas).

Expert review dilakukan oleh ahli tentang produk yang dirancang seperti ahli materi, kegrafisan, ahli bahasa atau ahli lainnya yang berkaitan dengan penilaian kualitas produk masukan dan saran yang disampaikan oleh para ahli atau validator digunakan sebagai bahan untuk merevisi produk yang dihasilkan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh peneliti dalam uji validitas adalah sebagai berikut:

a) Meminta pendapat, saran atau kritikan validator terhadap kelayakan produk yang telah dikembangkan.

b) Peneliti menganalisis kembali catatan, saran atau kritikan sebagai hasil validasi yang dikemukakan validator.

c) Melakukan revisi jika diperlukan sesuai pendapat, saran, dan kritikan dari validator untuk kemudian divalidasi lagi.

3) One to one

(45)

One to one adalah pengujian awal produk yang dikembangkan jika produk tersebut sudah dinilai valid oleh validator. Uji one to one dipercayakan kepada seseorang yang dianggap mengetahui atau memahami produk yang dikembangkan dan kalau memungkinkan didampingi oleh seorang observer.

4) Small group

Small group atau grup kecil adalah lanjutan dari one to one. Tahap ini merupakan tahap uji lanjutan yang dilakukan melalui sekelompok subjek. Small group ini dimplementasikan melalui penggunaan secara langsung produk yang dikembangkan oleh beberapa orang subjek.

5) Field test

Uji lapangan adalah pengujian produk yang dikembangkan pada suasana nyata dan ril. objek yang dikembangkan diujikan kepada pengguna yang sesungguhnya ketika produk ini sudah selesai.

c. Tahap penilaian (assessment phase)

Ialah tahap uji coba produk melalui penggunaan produk pada subjek penelitian atau uji efektifitas paraktikalitas produk yang dihasilkan.

Aspek efektivitas yang diamati pada tahap ini dapat berasal dari peningkatan hasil belajar siswa, minat belajar, motivasi belajar siswa atau keterbatasan efektivitas lainnya berdasarkan harapan peneliti.

3. Bahan Ajar

a. Pengertian Bahan Ajar

(46)

Bahan ajar adalah seperangkat alat pembelajaran, batasanbatasan dan metode pembelajaran yang dievaluasi secara sistematis guna tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Tujuan dari penggunaan bahan ajar yaitu agar tercapainya kompetensi dan sub- kompetensi dalam segala kompleks. Bahan tersebut dapat berupa bahan yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Bahan ajar adalah materi yang dibuat secara sistematis yang di dalamnya terdapat kompetensi yang mencakup kemampuan siswa untuk memperoleh dan menggunakannya pada kegiatan pembelajaran.13

b. Fungsi Bahan Ajar

1) Fungsi Bahan Ajar Dalam Proses Pembelajaran

Manfaat bahan ajar pada proses pembelajaran yaitu membsntu pendidik dalam proses pembelajaran. Pendidik perlu mengembangkan bahanajar, agar pada kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna dan tetap sejalan dengan konpetensi yang dituju. Dalam kegiatan pembelajaran, bahanajar memiliki kedudukan yang sangst penting, baik bagi pendidik maupun bagi siswa. Sungkono menjelaskan seorang pendidik aksn mengslami kendala dalam upaya meningkstkan efektifitas pembelajaran, jika penggunaan bahan ajar dalam proses pembelajaran tidak lengkap.

Jika suatu lembaga tidak memiliki bahaan ajar yang mumpuni, hal

13Prastowo, Andi. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. (Jakarta: Kencana, 2014), 14

(47)

tersebut akan membuat siswa mengalami kesulitan dalam belajarnya. Oleh karenanya, bahsn ajar adalah bagian yang sangst penting untuk dikembaangkan karena terdapat fungsi yang sangat penting pula dalam kegiatan belajar mengajar.14

2) Fungsi Bahan Ajar Bagi Pendidik

Fungsi bahan ajar bagi pendidik yaitu: 1) dapat menghemat waktu pendidik pada kegiatan pembelajaran, 2) menjalankan peran pendidik yaitu sebagai fasilitator, 3) dapat menjadikan proses pembelajaran lebih efektif dan interaktif, 4) menjadi acuan bagi pendidik untuk digunakan pada kegiatan belajar mengajar, 5) sebagai alat untuk menilai pencapaian atau kemahiran hasil belajar (Rizki, 2018: 14).

3) Fungsi Bahan Ajar Bagi Siswa

Fungsi bahan ajar bagi siswa yaitu: 1) dapat membantu siswa untuk belajar secara mandiri, 2) membantu siswa pada proses belajarnya sesuai dengan keinginannya, 3) dapat digunakan kapan saja sehingga dapat memudahkan peserts diidik dslam belajarnya,4) dapat membsntu siswa mengelola seluruh kegiatan pembelajaran.

c. Tujuan Pembuatan Bahan Ajar

Tujuan pembuatan bahan ajar yaitu:

14Sungkono, Manajemen Penelitian Pengembangan (R&D) Bagi Penyusun Tesis dan Disertasi. (Yogyakarta: Aswaja Presindo, 2017) , 5.

(48)

1) memudahkan para siswa dalam mendapatkan pengganti bahanajar diantara buku-buku yang terkadang sulit untuk didapatkan,

2) dapat membantu pendidik proses belajar mengajar15, pengembangan bahan ajar bertujuan untuk menyediakan buku-buku yang memenuhi kebutuhan siswa, kurikulum, dan perkembangan teknologi.

d. Karaskteristik Bahan Ajar

Setiap bahan ajar yang dikembangkan pasti mempunyai ciri khas tersendiri. Ciri-ciri karakteristik bahan ajar, yaitu:

1) Self Instructional

Adanya bahan ajar dapat menjadikan siswa untuk belajar secara mandiri menggunakan bahan ajar yang sedang dikembangkan.

Tujuan dalaam bahan ajar harus didefinisikan secara jelas.

2) Self Contained

Bahan ajar harus mencakup semua unit konpetensi dalam sebuah buku dan bertujuan supaya terciptanya kondisi yang menguntungkan bagi siswa untuk mempelajari bahan ajar terssebut.

3) Standalone

Bahan ajar yang dikembangkan tidak dapat dipakai secara bersamaan dan tidak dapat bergantung pada bahan ajar yang lain. 4) Adaptive

15Prastowo, Andi. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. (Jakarta: Kencana, 2014), 14.

(49)

Bahan ajar yang dikembangkan harus mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan supaya dapat menambah wawasan para siswa.

5) User Friendly

Setiap instruksi dan informaasi yang terdapat pada bahan ajar membantu bagi para siswa. Bahan ajar didesain selayak mungkin agar dapat memudahkan siswa dalam mendapatkan informasi dengan sejelas-jelasnya.

e. Jenis Bahan Ajar

Prastowo (2014) menjelaskan bahwa bahan ajar dapat dibedakan menurut bentuk, fungsi, sifat dan substansinya. Berdasarkan bentuknya, bahan ajar dibedakan menjadi empat macam, antara lain:

1) Bahan ajar cetak, merupakan bahan ajar yang tercantum dalam kertas yang memiliki fungsi sebagai kebutuhan pembelajaran.

Contohnya: Buku saku sains, handout, buku, modul, dan LKPD

.

2) Bahan ajar dengan program audio, merupakan seluruh sistem yang dapat dimainkan atau didengar oleh seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan sinyal radio. Contohnya radio dan compact disk audio.

3) Bahan ajar pandang (audiovisual) merupakan bahan ajar yang dapat menggabungkan sinyal audio dengan vidio atau gambar yang bergerak secara berkesinambungan. Contohnya film dan video compact disk.

(50)

4) Bahan ajar interaktif merupakan gabungan dari dua atau lebih media (teks, audio, gambar, animasi, video dan grafik). Contohnya compact disk interactive.

Jika ditinjau dari aspek cara fungsinya, bahan ajar dapat dibedakan menjadi lima macam, ialah:

1) Bahan ajar non-proyeksi adalah bahan ajar yang tidak memerlukan perangkat proyektor untuk memproyeksikan isi yang terkandung di dalamnya. Memungkinkan siswa untuk membaca, melihat, dan mengamati materi secara langsung. Contohnya adalah diagram, foto, model, dan tampilan.

2) Bahan ajar yang diproyeksikan, merupakan bahan ajar yang perlu dipelajari melalui proyektor agar dapat tersampaikan kepada siswa.

Contohnya proyeksi komputer, slides dan filmstrip.

3) Bahan ajar audio, merupakan bahan ajar yang direkam dalam surat media rekam yang berupa sinyal audio. Agar dapat menggunakannya diperlukan player atau media rekam, contohnya:

VCD Player, CD Player, tape compo dan lain-lain. Contoh bahan ajar audio adalah: flashdisk dan kaset (CD).

4) Bahan ajar vidio, merupakan bahaan ajar yang membutuhkan alat pemutar seperti VCD player, DVD player dan vidio tape player.

Contoh bahan ajar vidio adalah film dan vidio.

5) Bahan ajar computer (media), adalah bahan ajar non-cetak yang memerlukan komputer supaya dapat menampilkan materinya.

(51)

Contohnya: Hypermedia atau Computer Based Multimedia dan CMI (Computer Mediated Instruction).

Menurut sifatnya, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1) Bahan ajar berbentuk cetak. Bahan ajar ini berupa bahan ajar cetak seperti pamflet, buku, biomagz, bahan tutorial, LKPD, peta, panduan belajar siswa, dan lain-lain.

2) Bahan ajar dengan basis teknologi. Contoh dari bahan ajar ini adalah: audiocassette, siaran radio, slides, film trip, siaran televisi, video interaktif, film dan multimedia.

3) Bahan ajar dimanfaatkan sebagai media praktik, seperti: lembaar observasi dan lembar wawancara.16

4. Buku saku

a. Pengertian Buku saku

Kata buku dalam bahasa Indonesia memiliki kemiripan dalam dialek yang berbeda. Dalam bahasa Yunani disebut biblos, dalam bahasa Inggris disebut "book", dalam bahasa Belanda disebut "bock", dan dalam bahasa Jerman disebut "das bach". Semua kata dasar dimulai dengan huruf "b" jadi kemungkinan besar semuanya berasal dari akar kata yang, khususnya dari bahasa Yunani. Dengan asumsi Anda mencari dengan cermat referensi kata dari setiap bahasa yang menggunakannya,

16Prastowo, Andi. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. (Jakarta: Kencana, 2014), 147-152.

(52)

kata tersebut pada dasarnya memiliki arti yang sama dan digunakan untuk item yang serupa, tepatnya bermacam-macam. dari kertas terikat.17

Sedangkan buku adalah kumpulan kertas yang berisi informasi, dicetak, disusun dengan rapi, diikat dan diamankan dari luar yang terbuat dari kertas tebal, karton atau bahan lain.18 Buku Referensi Indonesia memaknai, dari sudut pandang yang luas, sebuah buku menggabungkan semua komposisi dan gambar yang disusun dan dilukis di atas berbagai macam papirus, bahan dan lembaran kertas dengan masing-masingnya. struktur sebagai perkamen, bukaan, dan diikat atau diikat muka. juga, bergerak di kulit anak sapi, bahan, karton, dan kayu.

Sementara itu, buku adalah selembar kertas yang dijilid, baik yang berisi tulisan maupun tulisan19.

Salah satu jenis buku adalah buku saku. Buku saku adalah aset pembelajaran tercetak. Buku saku adalah buku kecil yang dapat dimasukkan ke dalam saku dan tidak sulit untuk dibawa kemana-mana.

Lebih lanjut, dompet dapat diartikan sebagai buku yang kecil, ringan, mudah dibawa kemana-mana, dan dapat dibaca kapan saja. Dompet adalah buku kecil yang dapat disimpan dalam saku dan tidak sulit untuk dibawa kemana-mana.

Dari beberapa kesimpulan di atas, sangat mungkin beralasan bahwa buku saku adalah buku kecil dengan berbagai potongan kertas yang

17 Sitepu , Pengembangan Bahan Ajar. (Yogyakarta: Graha Ilmu. Barston, R.P. 2013), 123.

18Sitepu, 2014:13

19Prastowo, Andi. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. (Jakarta: Kencana, 2014), 167.

(53)

berisi data dan tidak sulit untuk dibawa kemana-mana sehingga dapat disimpan dan dibaca di mana saja dan kapan saja.

b. Fungsi, Tujuan, dan Kegunaan Buku Saku

Penyusunan buku saku memiliki arti penting untuk latihan pembelajaran. Kepentingan yang signifikan ini jika diartikan secara lebih komprehensif mencakup kemampuan, alasan, dan penggunaan dompet. Penataan dompet ini merupakan transformasi modul Kemampuan, tujuan, dan penggunaan buku saku adalah sebagai berikut.20

1) Fungsi Buku Saku

a) Bahan ajar mandiri. Artinya, pemanfaatan dompet dalam pengalaman pendidikan mampu membangun kemampuan siswa untuk belajar sendiri tanpa mengandalkan kehadiran guru.

b) Pengganti tugas guru. Artinya, buku saku harus dapat memahami materi pembelajaran dengan tepat dan mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya. Sementara itu, kemampuan ilustrasi sesuatu juga melekat pada guru. Dengan demikian, pemanfaatan dompet dapat berperan sebagai pengganti kemampuan atau pekerjaan fasilitator atau pengajar.

c) Sebagai perangkat penilaian. Artinya, dengan buku saku mahasiswa diharapkan dapat mengukur dan mensurvei tingkat penguasaannya sendiri terhadap materi yang telah dipelajari.

d) Sebagai bahan rujukan siswa. Artinya, karena buku saku berisi berbagai bahan yang harus dibawa oleh siswa, buku saku juga memiliki fungsi sebagai bahan perspektif untuk siswa.

2) Tujuan Buku Saku

Adapun tujuan penyusunan atau pembuatan buku saku, antara lain:

20 Prastowo, 2014:15

(54)

a) Agar siswa dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan pendidik.

b) Agar peran pendidik tidak terlalu dominan dan otoriter dalam kegiatan pembelajaran.

c) Melatih kejujuran siswa.

d) Mengakomodasi berbagai tingkat dan kecepatan belajar siswa.

3) Kegunaan Buku Saku

Menurut Andriani pemanfaatan buku saku dalam

pengalaman pendidikan, antara lain sebagai penyedia data dasar, sebagai bahan pendidikan atau pedoman bagi siswa, serta bahan korelatif dengan gambar dan foto terbuka21.

c. Ukuran Buku Saku

Sampai saat ini belum ada standar baku ukuran buku saku. Ada beberapa ukuran buku saku yang dikembangkan, sepert

Gambar

Gambar 2. 1 Langkah-langkah Penggunaan  Metode Research and Development. Sumber:
Gambar 2. 2 Lapisan-Lapisan Evaluasi Formatif  Model Pengembangan Plomp. (Sumber: Plomp and
Gambar 2. 3 Pelecypoda (bivalvia)
Gambar 2. 4 Gastropoda
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengembangan materi pembelajaran IPS dengan pendekatan CTL di SMPN 7 Purworejo meliputi materi dikembangkan dari materi yang sederhana dan mudah menuju materi yang sedang dan

Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah Aplikasi Buku Saku Gerakan Pramuka Bilingual Berbasis Android yang berisi tentang materi umum gerakan pramuka,

Penelitian pengembangan ( Research and Development ) yang bertujuan menghasilkan bahan ajar berupa buku saku pada materi geometri transformasi matematika di SMP yang layak

Secara keseluruhan untuk proses pengembangan buku saku digital berbasis android sebagai pendukung bahan ajar pada materi PPh pasal 21 kelas XII akuntansi telah

Subjek penelitian ini adalah peserta didik MA Sunan Katong kelas X dengan teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif.Berdasarkan

Efektivitas buku ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini diukur melalui empat indikator, yakni (1) keterlaksanaan pengembangan buku ajar, (2) aktivitas mahasiswa

E-LKPD berbasis kearifan lokal tradisi batimung yang dikembangkan berdasarkan model ADDIE dimulai dengan tahapan Analyze yang meliputi analisis awal, analisis tugas, dan analisis materi

Penelitian ini didukung dengan beberapa penelitian sebelumnya yang relevan seperti: 1 penelitian yang dilakukan oleh Cahyono et al., 2018, yang mendapatkan hasil penelitian bahwa bahan