• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Green Manufacture dan Ketahanan Pangan di Lahan Salin Laut Jawa

N/A
N/A
tria tmp

Academic year: 2025

Membagikan "Pengembangan Green Manufacture dan Ketahanan Pangan di Lahan Salin Laut Jawa"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

8

Riset Green Manufacture dengan lingkup Suistaineble Smart

Farming Lahan Salin mendukung Ketahanan Pangan dan Energi

Laut Jawa

(2)
(3)

Green Manufacture for W a t e r – E n e r g y – F o o d (N E X U S)

Untuk D e s a M a n d i ri Energi dan Pangan Berkelanjutan

(4)

FASE 1

Koordinasi antar unit kerja seluruh Instansi dalam persiapan

dukungan program dan kegiatan

Kerjasama Pusat – Daerah

(BRIN - KEMENTAN – PEMKOT SEMARANG)

Padi Payau Keltan Sumber RejekiDesa Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang

(5)

STAGE OF LAND PREPARATION AND CULTIVATION

Cleaning of Shrub Land for Extensification

Seedling Petasol for Agricultural Machinery

Petasol for TR 4

(6)

5

Food: Optimalisasi Lahan Payau Pesisir dengan Padi Biosalin

Energi – Food - Water

Energy : Powerthreser berbahan bakar Petasol

Water: Pengelolaan Air melalui Embung untuk Panen Air Hujan

(7)

EKSTENSIFIKASI LAHAN TIDUR PAYAU/SALIN

3

Kondisi lahan eksisting sebelum kegiatan ekstensifikasi lahan

Pemanfaatan Lahan Tidur

(8)

INTENSIFIKASI LAHAN

4

Pembuka, Catatan Penting:

Luas lahan salin di Indonesia diperkirakan 440.300 ha. 300.000 ha dikategorikan lahan agak salin dan 140.300 ha lahan salin.

Total lahan salin di Indonesia sekitar 20,10 juta hektar, dengan 20-30% di antaranya berpotensi untuk Pertanian.

Artinya Perlu dilakukan Perbanyakan Benih Padi Lahan Payau di beberapa Kawasan pesisir agar

dapat mendukung Penambahan Luas Tanam Padi hingga 440.300 HEKTAR

(9)

6

PERLUNYA PERBAIKAN PINTU AIR DAN TANGGUL IRIGASI DI KAWASAN PERTANIAN PESISIR

PERLU DUKUNGAN UNTUK PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR IRIGASI PERTANIAN

Harapan Eksisting

(10)

GIAT PERCEPATAN OPTIMALISASI LAHAN PESISIR (2025)

Koordinasi antar K/L untuk saling memberikan dukungan sesuai

dengan peran/fungsi masing- masing (Sinergi Program)

Koordinasi Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah untuk persiapan lokasi, petani dan sarana

pendukungnya.

Penyusunan jadwal kerja dari persiapan sampai dengan panen

Koordinasi antar unit kerja seluruh Instansi dalam persiapan dukungan program dan kegiatan

(11)

1. Padi varietas toleran 2. Pemupukan tepat

3. Pengelolaan air: pengairan berselang (genang-alir-genang), pencucian garam (Na) dan genangan alir (dukungan infrastruktur)

4. Persemaian insitu atau eksitu → bibit 25-30 hss

5. Olah tanah sederhana → decomposer, penggenangan & pengaliran air tawar 3-4 kali (pematang, penutupan pengairan)

6. Pupuk organik

7. Pupuk hayati pengubah formasi garam & penghasil enzim hydrolase (Pseudomonas, Bacillus, dan

Halomonas), enzim dehydrogenase (Thiobacillus dan Desulfovibrio), bakteri denitrifikasi & pelarutfosfat 8. Pembenah tanah (SP50, gypsum, kapur, asamhumat, abuvolkan)

INOVASI PEMANFAATAN LAHAN TERDAMPAK SALIN & GENANGAN

(12)

Tabel 1. Aspek dan faktor penilaian keberlanjutan pertanian padi di Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

12

(13)

Tabel 2. Karakteristik petani padi di Tugu Semarang, Jawa Tengah

13

(14)

Sustainability status of rice farming

14

(15)

Pengambilan sampel dan analisa tanah (20 Maret 2024)

Persemaian dan Pemeliharaan

(07 Juli 2024)

Persiapan Lahan (08 Juli 2024)

Persiapan Tanam dan Alat Tanam

(31 Juli 2024) Penanaman (1 Agustus 2024)

Penyulaman (3 Agustus 2024) Pemupukan ke-1 (8 Agustus 2024

Pengendalian Hama ke-1 (10 Agustus 2024)

Penilaian Fase Vegetatif (26 Agustus 2024)

Pemupukan ke-2 (30 Agustus 2024)

Pengendalian Hama ke-2 (1 Sept 2024)

Seleksi (roguing)

(10 Sept 2024) Pemupukan ke-3 (16 Sept 2024)

Pengendalian Hama ke-3 (18 Sept 2024) Penilaian Fase

Generatif (19 Sept 2024)

Pengendalian Gulma ke-2 (20 Sept 2024) FGD 40 Petani (05 Oktober 2024)

Pengamatan Menjelang Panen (22 Oktober 2024)

Panen

(26 Oktober 2024)

Penanganan Pasca Panen

(29 Oktober 2024)

TAHAPAN AKTIVITAS PADI LAHAN PAYAU FASE 1 (RISET 2024)

(16)

Hasil panen untuk Pengembangan Benih Biosalin

Benih Padi Biosalin lulus uji dan

mendapatkan label sertifikasi benih bermutu dari Balai Pengawasan

Sertifikasi Benih Provinsi JawaTengah sebanyak 450 Kg

Direplikasi oleh Kab. Jepara, Kab.

Cilacap, Kab. Batang, Kab. Brebes

(17)

Sebar benih (SEMAI) untuk seluas 20 Ha (21 Desember 2024 )

Pembukaan lahan baru 10 ha dan Perbenihan 2 ha (22 Desember 2024)

Penanaman BAPAK JOKOWI (18 Januari 2024)

Evaluasi irigasi oleh Wamendagri

(1 Januari 2025)

Penilaian Fase Vegetatif (24 Januari 2025)

Pengendalian (27 Januari 2025)Hama

Pemupukan (4 Februari 2025)

Penilaian Fase Generatif (27 Maret 2025) Pengukuran

salinitas lahan (31 Januari 2025)

Ketahanan Banjir

(5 Februari 2025) Menjelang panen 23 April 2025)

TAHAPAN AKTIVITAS BUDIDAYA PADI LAHAN PAYAU FASE 2

Roguing (10 April 2025

(18)

Thynk Unlimited

Kegiatan Program

Mangunharjo Mandiri Sejahtera

Sarana Eduwisata Anak Sekolah dan Warga Peningkatan Kapasitas Wirausaha UMKM

Pembangunan Embung CSR Bank Jateng

SISTEM TANAM MINA PADI LAHAN SALIN

Penanaman 20 ha

CSR Pertamina Gas Negara

Penanaman (18 Januari 2024)

https://brin.go.id/news/122139/jokowi-dukung-inovasi- padi-biosalin-untuk-ketahanan-pangan-di-wilayah-pesisir

(19)

Thynk Unlimited

Nilai Gizi Beras Biosalin 1 dan Biosalin 2

(Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Universitas Diponegoro)

Tabel Mutu Beras Biosalin 1 dan Biosalin 2

Komponen gizi utama beras adalah kandungan karbohidrat, yang menyediakan energi dan nutrisi bagi tubuh.

Riset menampilkan nilai Biosalin 1 (78,68%) dan Biosalin 2 (78,57%) termasuk tinggi.

Kadar amilosa Biosalin 1 (20,07%) dan Biosalin 2 (20,57%) termasuk kategori sedang.

Amilosa merupakan faktor utama yang memengaruhi rasa dan kualitas nasi. Beras dengan kadar amilosa tinggi memiliki sifat nasi pera,

sedangkan beras berkadar amilosa rendah akan menghasilkan nasi pulen.

Analisis dengan metode AOAC 2016;960.52A membuktikan kadar protein Biosalin 1 (6,75 %) lebih minimalis dibandingkan Biosalin 2 (7,08%).

Jumlah protein dalam beras memang cenderung kecil. Meskipun kecil, protein beras menghasilkan kalori sebesar 40–80% dan penyumbang 38%

total kecukupan protein dalam konsumsi penduduk Indonesia.

Catatan: Metode by difference standar AOAC, 2006 / analisis proksimat.

(20)

Pindah tanam untuk seluas 2 Ha (18 Januari 2025 )

Pembukaan lahan baru 10 ha dan Perbenihan 2 ha (26 Maret 2025)

Pengamatan Salinitas Pengamatan

vegetatif (31 Januari 2025)

Pemupukan Vegetatif (Februari2025)

Pengendalian Hama

Oplah 5 hektar

Penilaian Fase Generatif (27 Maret 2025) Pertumbuhan

Vegetatif Maksimum

Menjelang panen

TAHAPAN AKTIVITAS PRODUKSI BENIH PADI PAYAU TERKINI

Roguing (10 April 2025

(21)

Hasil Panen Benih Lahan Payau seluas 1.65 ha

Panen 6.415 ton GKP -> Benih 5.100 ton -> mencukupi lahan 205 ha Provitas KA 18% 5.18 ton/ha

Produktivitas Biosalin 1 : 6.03 ton/ha Produktivitas Biosalin 2 : 5.67 ton/ha Mina Padi dan Nila Salin : 6.52 ton/ha

Hasil Panen Petani Lahan Payau seluas 20 ha Panen 116.95 ton GKP

Produktivitas 5.85 ton/ha

16

https://www.ruangenergi.com/ino vasi-produksi-pangan-pgn-brin- berhasil-panen-perdana-116-ton- padi-biosalin-di-semarang/

(22)
(23)
(24)
(25)

INTRODUKSI TEKNOLOGI:

SISTEM TANAM MINA PADI LAHAN SALIN

Perbedaan model ini terletak pada jarak padi 20 cm, sehingga untuk minapadi harus dilengkapi dengan caren/parit. Berbagai letak caren/parit pada petakan sawah yaitu : caren/parit keliling, tengah, diagonal dan ada juga yang dilengkapi dengan petak pengungsian. Fungsi dari parit/kemalir yaitu : untuk melindungi ikan dari kekeringan pada saat terjadi kebocoran, memudahkan panen ikan, tempat memberi makan ikan dan untuk memudahkan ikan bergerak ke seluruh petakan.

Model Tegel yang dilengkap parit/ceren

(26)

Modal kolam dalam adalah model tanam padi jajar legowo atau tegel yang dilengkapi parit/caren dalam dengan ukuran caren lebar minimal 1 meter dan kedalaman 0,8-1 meter. Dengan menggunakan model kolam dalam, panen padi dapat meningkat hingga 15 % per satuan luas petakan sawah

MINA PADI KOLAM DALAM

SISTEM TANAM MINA PADI LAHAN SALIN

BRIN Apresiasi Pemkot Semarang dan PGN Cetak Sawah 20 Hektare di Pesisir

(27)

Teknis Budidaya Mina Padi 01

PERSIAPAN LAHAN

02

WADAH MINA PADI

Teknik budidaya minapadi untuk menghasilkan benih ikan umumnya menerapkan sistim tumpang sari dan sistim penyelang. Sedangkan teknik budidaya minapadi untuk menghasilkan ikan konsumsi dilakukan dengan sistim tumpang sari dan palawija.

Tanah diolah dengan sempurna sampai kedalaman 15-20 cm sampai perbandingan lumpur dan air 1 : 1.

Pematang dibuat padat dan kokoh agar tidak mudah bocor dan longsor. Ukuran lebar dasar pematang 40 - 50 cm, lebar atas 30 - 40 cm dan tinggi 30 - 40 cm.

a. wadah pembesaran berupa petakan sawah yang mampu menampung air;

b. wadah dapat dikeringkan dengan sempurna;

c. pintu air masuk dan keluar terpisah;

d. dasar caren miring ke arah saluran pengeluaran;

e. luasan petakan sawah minimal 500 m2;

f. pematang harus kuat untuk menahan air minimal 30 cm dari pelataran sawah dengan lebar minimal 50 cm; g.

g. lebar caren minimum 1,5 m dengan kedalaman dari pelataran minimum 0,5m;

h. ukuran kobakan minimum 1,5 m x 1,5 m x 0,5 m

Sumber : Direktorat jenderal perikanan budidaya kementrian kelautan dan perikanan, 2018

(28)

Keterangan : Lahan padi

Ceren untuk ikan

(29)

Teknis Budidaya 01

PEMILIHAN BENIH

04

1. Ikan Mas

Benih ikan mas yang digunakan untuk minapadi sesuai dengan SNI Nomor 01-6132-1999 Benih ikan Nila Salin (FPP Undip & MSTP Jepara) .

2. Ikan nila

3. Ikan lele 4. Sejenis udang Benih Padi

Ada 3 jenis varietas padi unggul bedasarkan SK Mentan No.2015- 2017/Ktps/SR.120/4/2011 yaitu Varietas INPARI 14 pakuan, varietas INPARI 15 Parahyangan, INPARI 16 Pasundan. Dan khusus lahan salin menggunakan BIOSALIN 1 DAN BIOSALIN 2

Sumber : Direktorat jenderal perikanan budidaya kementrian kelautan dan perikanan, 2018

(30)

Solusi: Smart Greenhouse (SGH) → Sensor untuk memantau kondisi tanah, kelembaban, dan suhu. Sistem otomatisasi untuk irigasi, pemupukan, dan ventilasi. Kontrol lingkungan yang lebih baik untuk pertumbuhan optimal. Perlindungan dari hama dan penyakit, mengurangi penggunaan pestisida. Pertanian sepanjang tahun, terlepas dari kondisi cuaca.

Sustainable Smart Green House

Peluang Ekonomi dan Keberlanjutan

Peningkatan produktivitas, kualitas tanaman, diversifikasi produk dengan nilai ekonomi tinggi (produk dari smart greenhouse memiliki kualitas lebih baik dan harga jual lebih tinggi → produksi yang lebih berkelanjutan dan ramah

lingkungan (kontrol lingkungan mengurangi risiko hama) Tantangan

Keterbatasan lahan subur membatasi kapasitas produksi, perubahan iklim dan pola cuaca yang tidak stabil, sistem budidaya tradisional yang tidak efisien

Solusi

Smart Greenhouse (SGH) → Sensor untuk memantau kondisi tanah, kelembaban, dan suhu. Sistem otomatisasi untuk irigasi, pemupukan, dan ventilasi. Kontrol lingkungan yang lebih baik untuk pertumbuhan optimal.

Perlindungan dari hama dan penyakit, mengurangi penggunaan pestisida.

Pertanian sepanjang tahun, terlepas dari kondisi cuaca.

(31)

Parameter Teknologi

Penyiraman Drip stick, drip tape, valve Pendinginan Cooling misting

Dosis pemupukan Ruang system, torrent, sensor NPK, meracik dan mendistribusikan secara otomatis

Suhu tanah,

kelembaban tanah, pH tanah, intensitas cahaya dan EC

Sensor lingkungan online dan offline

Pertumbuhan CCTV, cloud storage, modem, data internet, android application dan web dashboard

Uraian Keterangan

Biaya Pembangunan Greenhouse + Rp. 1.500.000 per meter

Balik Modal Investasi Greenhouse 14 Musim Tanam

Lama Balik Modal 3 tahun

Efisiensi Penggunaan Modal / Return of Investment (ROI) 21,75%

Kelayakan Usaha Tani (R/C Ratio) 1,22

Titik Balik Modal / Break Event Point (BEP) Budidaya Melon 41.068 (Rupiah) 605,50 (Kg)

Teknologi pintar yang digunakan di greenhouse

Analisis Tekno Ekonomi Melon di Smart Greenhouse

(32)

Tingkat Kemanisan

Buah

Impact Measurement Usaha Tani Melon di Smart Greenhouse Selama 1 Musim Tanam

Parameter Smart Farming

Populasi tanaman 1164

Varietas Melon

Hasil

panen/tanaman (kg) Alisha, New Ceria, & Inthanon Skala Mikro 1 SGH

(500 m2) Skala Coorporate 500 SGH Biaya Produksi

Fix Cost (GH,

system, depresiasi) Rp6.746.944,00 Rp3.373.472.000,00 Variable Cost

(saptotan) Rp10.948.020,00 Rp5.474.010.000,00 Tenaga Kerja Rp12.580.000,00 Rp62.900.000.000,00 Total Cost Rp30.274.964,00 Rp15.137.482.000,00

HPP/tanaman Rp26.009,42 Rp13.004.710,00

HPP/kg Rp41.067,50 Rp20.533.750,00

Hasil Panen Realisasi Total Hasil

Panen 737,2 368.600,0

Pendapatan Rp36.860.000,00 Rp18.430.000.000,00

Profit Rp6.585.036,00 Rp3.292.518.000,00

(33)

THANKYOU

Gambar

Tabel 1. Aspek dan faktor penilaian keberlanjutan pertanian  padi di Tugu, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah
Tabel 2. Karakteristik petani padi di Tugu Semarang, Jawa Tengah
Tabel Mutu Beras Biosalin 1 dan Biosalin 2

Referensi

Dokumen terkait

  Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang terdiri dari lahan beririgasi, lahan reklamasi, rawa pasang surut dan non-pasang surut serta lahan tidak beririgasi..

lahan pertanian pangan berkelanjutan di luar Pulau Jawa yang dinilai. cukup potensial untuk menutupi penyusutan lahan pertanian

Pelaksanaan Program dan Kegiatan Ketahanan Pangan Tingkat Kabuaten/Kota Wilayah I (Jawa dan Sumatera).. Badan Ketahanan Pangan,

Dampak langsung dari konversi lahan pertanian adalah berkurangnya luas areal tanam dan panen khususnya tanaman pangan, karena sebagian besar lahan yang dikonversi adalah lahan

Dalam hal menentukan kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian Subur dalam Kerangka Ketahanan Pangan di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan sangat sulit

Dengan didapatkannya luasan serta lokasi lahan pertanian pangan berkelanjutan ini, serta tingkat akurasi sebesar 93%, diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah

Tantangan utama yang akan dihadapi untuk mewujudkan ketahanan pangan dan energi nasional antara lain adalah: 1) degradasi sumber daya lahan dan kelang- kaan sumber daya air,

Dokumen ini membahas tentang strategi pengembangan kacang gude sebagai pangan alternatif untuk mencapai ketahanan pangan berkelanjutan di