PENGEMBANGAN USAHA MIKRO DI BANK SYARIAH MANDIRI KC. KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG
Oleh:
HABIB AHMARUDIN NPM.1502100258
Jurusan S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO
1441 H / 2019 M
ii
ANALISIS PRODUK PEMBIAYAAN MURABAHAH DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO DI BANK SYARIAH
MANDIRI KC. KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG
Diajukan Untuk Memnuhi Tugas Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
Oleh:
HABIB AHMARUDIN NPM.1502100258
Pembimbing I : Drs. H. M. Saleh, M.A Pembimbing II : Rina El Maza, S.H.I., M.S.I
Jurusan S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO
1441 H / 2019 M
iii
Oleh: Habib Ahmarudin
Usaha Mikro merupakan kelompok ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia. Usaha Mikro dapat menciptakan peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu upaya mengurangi pengangguran. Dalm pengembangan usaha mikro Bank Syariah Mandiri KC.
Kedaton Kota Bandar Lampung sebagai lembaga pembiayaan mengutamakan pelayanan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Salah satu langkah pengembangan usaha mikro dengan memberikan pinjaman modal dalam bentuk pembiayaan kepada nasabah dengna akad murabahah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis produk pembiayaan murabahah dalam pengembangan usaha mikro di Bank Syariah Mandiri KC.
Kedaton Kota Bandar Lampung. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field researh). Sedangkan sifat penelitiannya bersifat deskriptif kualitatif. Sumber yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Data hasil temuan digambarkan secara deskriptif dan di analisis menggunakan cara berpikir induktif.
Hasil penelitian menyimpulkan analisis produk pembiayaan murabahah dalam pengembangan usaha mikro di Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung harus memberikan kesempatan atau peluang bagi para pelaku usaha yang akan melakukan pembiayaan usaha mikro, dengan bagitu penyaluran produk pembiayaan usaha mikro dapat tersalurkan secara maksimal kepada para pelaku usaha mikro yang masih sangat membutuhkan suntikan dana untuk memenuhi kebutuhan dari segi permodalan. Sehingga dengan bagitu dapat memberikan dampak positif bagi pelaku usaha guna mengembangkan usahanya dan dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat khususnya para pelaku usaha mikro.
iv
HALAMAN PERSETUJUAN
Judul :ANALISIS PRODUK PEMBIAYAAN MURABAHAH DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO DI BANK SYARIAH MANDIRI KC. KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG
Nama : HABIB AHMARUDIN NPM : 1502100258
Fakultas : Ekonomi Dan Bisnis Islam Jurusan : S1 Perbankan Syariah
MENYETUJUI
Untuk dimunaqosyahkan dalam sidang munaqosyah Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Institut Agama Islam (IAIN) Metro.
Metro, Desember 2019
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. M. Saleh.MA Rina El Maza, S.H.I., M. S.I NIP. 1965 0111 1993 03 1001 NIP. 19840123 200912 2 003
v Lampiran : 1 (Satu) berkas
Hal : Pengajuan Skripsi Penelitian
Kepada Yth.
Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro
Di-
Tempat Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Setelah kami mengadakan pemeriksaan, bimbingan dan perbaikan seperlunya maka skripsi saudara:
NAMA : HABIB AHMARUDIN
NPM : 1502100258
Fakultas : Ekonomi Dan Bisnis Islam Jurusan : S1 Perbankan Syariah
Judul : ANALISIS PRODUK PEMBIAYAAN MURABAHAH
DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO DI BANK SYARIAH MANDIRI KC. KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG
Setelah dapat kami setujui dan dapat diajukan ke Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro untuk dimunaqosyahkan.
Demikianlah harapan kami dan atas perhatianya, kami ucapkan terimakasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Metro, Desember 2019
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. M. Saleh.MA Rina El Maza, S.H.I., M. S.I NIP. 1965 0111 1993 03 1001 NIP. 19840123 200912 2 003
vi
HALAMAN PENGESAHAN
vii Nama : Habib Ahmarudin
Npm : 1502100258
Program Studi : S1 Perbankan Syariah Jurusan : Ekonomi dan Bisnis Islam
Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah asli hasil penelitian saya kecuali bagian-bagian tertentu yang dirujuk dari sumbernya dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Metro, Desember 2019 Yang Menyatakan
Habib Ahmarudin NPM. 1502100258
viii MOTO
ِ لُقَو
ِ اوُلَم ۡع ِٱ
ِىَرَيَسَف ِ
َُِللّ ٱ
ُِهُلوُسَرَوِ ۡمُكَلَمَع ِ
َِو ۥِ
ِ َنوُن م ۡؤُمۡل ٱ
ِ م ل َٰعِ ٰىَل إِ َنوُّدَرُتَسَو ِ
ِ بۡيَغۡل ٱ
َِو ِ
ِ ةَدَٰهَشل ٱ
ِ َنوُلَم ۡعَتِ ۡمُتنُكِاَم بِمُكُئِّبَنُيَف ِ ٥٠١
ِ
Artinya : “Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS: Al Taubah Ayat 105)1
1Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah, (Bandung:Syaamil Quran, 2012), 203.
ix
1. Kedua orang tua saya Bapak Syamsudin dan Ibu Muti’ah yang tidak pernah lelah untuk mendo’akan dan mendukung peneliti baik dalam bentuk moral materil serta selalu mencurahkan kasih sayang dan motivasi yang tidak terbatas. Semoga Allah SWT selelu mencurahkan kasih sayang kepada mereka.
2. Kakak dan adik saya yang selalu memberikan dukungan untuk terus semangat belajar.
3. Teman-teman seperjuangan di S1 Perbankan Syariah Kelas F, dan semua angkatan 2015.
4. Bapak Drs. H. M. Saleh, M.A dan Ibu Rina El Maza, S.H.I., M.S.I yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan dengan penuh kesabaran dalam menyusun skripsi ini.
5. Dosen-dosen Jurusan Ekonomi dan Bisnis Islam Prodi S1 Perbankan Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro.
6. Almamater IAIN Metro.
Penulis harap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas taufik dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan propgram Strata Satu (S1) Jurusan Perbankan Syariah guna memperoleh gelar SE.
Upaya menyelesaikan skripsi ini, penulis telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Hj. Enizar, M.Ag selaku Rektor IAIN Metro
2. Ibu Dr. Widhiya Ninsiana, M.Hum selaku Dekan Fakultaas Ekonomi dan Bisnis Islam
3. Ibu Reonika Puspita Sari, M.E,Sy selaku Ketua Jurusan Perbankan Syariah
4. Bapak Drs. H. M. Saleh M.A, selaku pembimbing I, yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan yang sangat baik kepada peneliti.
5. Ibu Rina El Maza, M. S. I, selaku pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga dalam mengarahkan dan memberikan motivasi kepada peneliti hingga skripsi ini selesai.
6. Bapak dan ibu, selaku dosen, karyawan/karyawati IAIN Metro yang telah memberikan pengetahuan dan sarana prasarana selama peneliti menempuh pendidikan.
xi perbanakan syariah.
Metro, Desember 2019 Penulis
Habib Ahmarudin NPM. 1502100258
xii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN ABSTRAK ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAMAN NOTA DINAS ... v
HALAMAN PENGESAHAN ... vi
HALAMAN ORISINALITAS PENELITIAN ... vii
HALAMAN MOTO ... viii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
D. Penelitian Relevan ... 7
BAB II LANDASAN TEORI A. Pembiayaan Murabahah ... 10
1. Pengertian Pembiayaan Murabahah ... 10
2. Dasar Hukum Murabahah ... 12
3. Rukun Dan Syarat Pembiayaan Murabahah ... 13
4. Implementasi Murabahah Dalam Lembaga Keuangan Syariah .... 15
B. Usaha Mikro ... 17
1. Pegertian Usaha Mikro ... 17
2. Kriteria Usaha Mikro ... 18
3. Kendala Usaha Mikro ... 18
C. Pengembangan Usaha ... 20
1. Pengertian Pengembangan ... 20
2. Indikator Pengembangan Usaha ... 21
xiii
1. Data Primer ... 24
2. Data Sekunder ... 25
C. Teknik Pengumpulan Data ... 25
1. Wawancara ... 26
2. Dokumentasi ... 26
D. Teknik Analisis Data ... 27
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung ... 28
1. Sejarah Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung ... 28
2. Implementasi Produk Pembiayaan Murabahah Dalam Pengembangan Usaha Mikro Di Bank Syariah KC. Kedaton Kota Bandar Lampung ... 33
B. Analisis Produk Pembiayaan Murabahah Dalam Pengembangan Usaha Mikro Di Bank Syariah KC. Kedaton Kota Bandar Lampung . 38 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 46
B. Saran ... 47
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
xiv
DAFTAR TABEL
1. Tabel 1 ... 4 2. Tabel 2 ... 39 3. Tabel 3 ... 42
xv 2. Kartu konsultasi bimibingan skripsi 3. Surat tugas research
4. Surat keterangan bebas pustaka 5. Kerangka interview/APD
6. Fatwa DSN-MUI tentang murabahah dan wakalah 7. Brosur pembiayaan mikro
8. Foto dokumentasi
9. Struktur organisasi Bank Syariah Mandiri
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, Usaha Mikro sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat.
Keberadaanya sebagai usaha sekala kecil yang dilakukan oleh masyarakat telah memiliki peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi.
Usaha mikro merupakan suatu usaha yang secara umum berbeda dengan usaha berskala besar. Ciri khas usaha mikro yaitu dijalankan oleh masyarakat perorangan ataupun perkelompok dan hasil usaha ataupun hasil produk yang sangat kecil serta hasilnya pun hanya lingkup masyarakat tersebut. Akan tetapi hasil usaha ini akan menjadi lebih luas produktifitasnya jika dalam pengembanganya dikelola dengan baik. Secara umum, pada tahun 2006 sumbangan UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 53,5% artinya lebih dari setengah gerak perekonmian di Indonesia ditopang oleh UMKM.2
Usaha Mikro merupakan kelompok ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Selain menjadi sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional, Usaha Mikro juga
2Muslimin Kara, “Kontribusi Pembiayaan Perbankan Syariah Terhadap Pengembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) Di Kota Makasar,” Jurnal Syariah Dan ilmu Hukum 47, no. 1 (Juni 2013): 274.
menciptakan peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri sehingga sangat membantu upaya mengurangi pengangguran.3
Eksistensi usaha mikro semakin berkembang setelah adanya UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM. Dengan adanya peraturan yang menjadi payung hukum, gerak UMKM menjadi semakin luas. Persoalan klasik seperti akses permodalan kepada lembaga keuangan pun mulai bisa teratasi. Karena di dalam peraturan itu tercantum mengenai perluasan pendanaan dan fasilitas oleh perbankan dan lembaga jasa keuangan non-bank.
Lembaga keuangan bank atau lembaga perbankan di Indonesia berdiri dan tumbuh sejalan dengan perkembangan ekonomi nasional karena lembaga perbankan merupakan perantara keuangan dalam perekonomian dan berperan sebagai lembaga yang menyediakan alat pembayaran serta sekaligus juga sebagai salah satu institusi sumber dana untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.4 Melihat ruang lingkup usahanya dapat dinyatakan produk perbankan syariah lebih fariatif dibandingkan dengan produk bank konvensional. Dalam menjalankan usahanya bank syariah dapat memberikan pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual beli (murabahah), prinsip sewa (ijarah), dan prinsip lainya yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.5
3Ibid., 274.
4I Wayan Sudirman, Manajemen Perbankan (Jakarta: Prenada Media Group, 2013), 16.
5UU No. 21 Tahun 2001 Pasal 12 Tentang Perbankan Syariah
3
Melihat kondisi tersebut, memungkinkan produk bank syariah memberi peluang yang lebih luas dalam rangka memenuhi kebutuhan nasabah. Dengan hal ini, memberi peluang bagi usaha usaha mikro untuk mengembangkan usahanya berdasarkan asas kemitraan sebagaimana yang diusung perbankan syariah.
Berdasarkan hasil survey, Bank Syariah Mandiri memberikan peluang bagi para pelaku usaha khususnya usaha mikro dalam memberikan pinjaman pada aspek permodalan dengan mengeluarkan produk Pembiayaan Usaha Mikro (PUM). Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) di peruntukan bagi para pelaku usaha mikro menggunakan akad murabahah, menurut jenis nya pembiayaan usaha mikro dibagi menjadi 3 jenis yaitu:6
1. Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) Tunas 0-10 Juta.
2. Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) Madya 10-50 Juta.
3. Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) Utama 50-200 Juta.
Jenis Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) Tunas diberikan bagi para pelaku Usaha Mikro, sedangkan jenis Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) Madya diberikan kepada para pelaku Usaha Kecil dan untuk jenis Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) Utama diberikan bagi para pelaku Usaha Menengah. Hampir semua sektor usaha yang termasuk dalam kriteria Usaha Mikro dibiayai oleh Bank Syariah Mandiri tetapi tentunya usaha tersebut tidak melanggar ketentuan-ketentuan prinsip muamalah dalam Islam, contohnya seperti
6Wawancara dengan Bpk. Thawap Nasution Micro Banking Manager Bank Syariah Mandiri, Kedaton Bandar Lampung, Pada 28 Desember 2018.
menjual minuman keras, menjual rokok dan jenis usaha lainya yang mengandung unsur-unsur haram.
Berdasarkan wawancara dengan Bpk. NB, nasabah Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung diperoleh informasi bahwa salah satu jenis produk pembiayaan usaha mikro dengan akad murabahah sangat membantu dalam pengembangan usahanya, seperti usaha yang sedang di jalankan yaitu toko sembako, yang semula dari toko kecil-kecilan setelah mendapatkan pembiayaan dari bank hingga kini usahanya semakin meningkat dan berkembang.7
Wawancara dengan Bpk. TM, nasabah Bank Syariah Mandiri KC.
Kedaton Kota Bandar Lampung, diperoleh informasi bahwa dengan adanya produk pembiayaan usaha mikro yang ada di bank syariah mandiri tersebut nasabah dapat terbantu untuk mengembangkan usahanya, seperti usaha yang sampai saat ini dilaksanakan yaitu usaha warung makan kelontongan yang semula dari warung kecil kemudian hingga saat ini setelah mendapat pembiayaan usahanya mengalami peningkatan dan mulai berkembang.8
7 Wawancara dengan Bpk. NB Nasabah Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung, Pada 28 September 2019.
8 Wawancara dengan Bpk. TM Nasabah Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar
Lampung, Pada 28 September 2019
5
Tabel 1
Tabel Jumlah Pembiayaan Murabahah Untuk Usaha Mikro
No Nama
Produk
Tahun Total Pembiayaan Yang Disalurkan
Total Nasabah 1 Murabahah 2016 Rp.3.000.000.000 127 2 Murabahah 2017 Rp.4.000.000.000 169 3 Murabahah 2018 Rp.5.000.000.000 225 Sumber: Dokumentasi Bank Mandiri Syariah Bandar Lampung
Tabel diatas menunjukan data pembiayaan murabahah setiap tahunya mengalami peningkatan yang diberikan oleh Bank Syariah Mandiri kepada usaha mikro, meliputi pedagang kaki lima, pedagang sembako, bengkel servis motor dan lain-lain, yang secara legalitas nya hanya mempunyai surat keterangan dari kelurahan.9
Penyaluran dana kepada pelaku usaha mikro dalam bentuk pembiayaan murabahah merupakan salah satu solusi dalam pemenuhan modal usaha mikro yang diharapkan dapat menjadi suatu hal positif untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha mikro.
Sistem ekonomi syariah dapat memberikan akses yang luas, mudah, dan menguntungkan bagi pelaku usaha mikro. Dengan demikian, pertumbuhan usaha mikro dapat ditingkatkan dan dapat membuka peluang bagi para pelaku usaha baru untuk membuka lapangan pekerjaan baru serta mengurangi
9Wawancara dengan Bpk. Thawap Nasution Micro Banking Manager Bank Syariah Mandiri, Kedaton Bandar Lampung, Pada 27 April 2019.
tingginya tingkat pengangguran yang masih sangat mengkhawatirkan. Akan tetapi, dalam penyaluranya terdapat kesenjangan yaitu dimana bank syariah mandiri dalam memberikan pembiayaan lebih cenderung hanya kepada nasabah-nasabah lama.
Bagi nasabah-nasabah baru yang ingin mengajukan pembiayaan itu sangat sulit untuk mendapatkan pembiayaan tersebut, karena pihak bank lebih memprioritaskan pembiayaan tersebut kepada nasabah-nasabah lama yang sudah menjadi mitra sebelumnya atau tingkat kepercayaan bank kepada calon nasabah baru masih sangat diragukan, padahal tujuan bank syariah itu sendiri untuk memaslahatkan umat atau meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Sehingga dalam pengembangan usaha mikro disini belum tersalurkan secara maksimal atau hanya diperuntukan bagi nasabah-nasabah yang sudah menjadi mitra bank tersebut. Berdsarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk mengangkat penelitian dengan judul “Analisis Produk Pembiayaan Murabahah Dalam Pengembangan Usaha Mikro Di Bank Mandiri Syariah Kedaton Kota Bandar Lampung.”
B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah bagaimana Analisis Produk Pembiayaan Murabahah Dalam Pengembangan Usaha Mikro di Bank Mandiri Syariah Kedaton Kota Bandar Lampung?
7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Analisis Produk Pembiayaan Murabahah Dalam Pengembangan Usaha Mikro di Bank Mandiri Syariah Kedaton Kota Bandar Lampung
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini mempunyai manfaat dari dua segi yaitu:
a. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan di ranah Lembaga Keuangan Syariah, terutama mengenai produk murabahah pada perbankan syariah.
b. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi para praktisi perbankan syariah dalam mengambil keputusan terkait pembiayaan murabahah pada perbankan syariah.
D. Penelitian Relevan
Penelitian relevan berisi tentang uraian mengenai hasil penelitian terdahulu tentang persoalan yang akan dikaji. Penelitian mengemukakan dan menunjukkan dengan tegas bahwa masalah yang akan dibahas belum pernah diteliti atau berbeda dengan penelitian sebelumnya. Disini peneliti menunjukan dan mengemukakan tentang bebrapa hasil penelitian itu antara lain:
Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Nursanti Tahun 2017, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro dengan judul “Peran BRI Syariah KCP Bandar Sribawono Lampung Dalam Pemberdayaan Usaha Kecil (MIKRO)”, penelitian ini mengkaji tentang bagaimana peran BRI Syariah KCP Sribawono Lampung dalam pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua cara yang dilakukan dalam memberdayakan usaha kecil (mikro) pada BRI Syariah KCP Bandar Sribawono yaitu dengan menggunakan pembiayaan dan pembinaan (monitoring). BRI Syariah KCP Bandar Sribawono dalam melakukan pemberdayaan telah menyediakan produk-produk pembiayaan yaitu: Musyarakah, Murabahah, Wakalah, sehingga pelaku usaha dapat memilih pembiayaan sesuai dengan jenis usaha yang dibutuhkan tentunya dengan takaran marjin yang telah disepakati pada awal perjanjian.10
Penelitian yang dilakukan oleh Siti Sriwahyuni Tahun 2016, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro dengan judul “Pemberian Pembiayaan Usaha Kecil Menengah (UKM) oleh BMT Assyafi’iyah Kota Gajah”, penelitian ini mengkaji tentang bagaimana pemberian pembiayaan Usaha Kecil Menengah (UKM) di BMT Assyafi’iyah Kota Gajah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pembiayaan Usaha Kecil Menengah di BMT Assyafi’iyah Kota Gajah harus memenuhi beberapa persyaratan dalam pengajuan
10Dwi Nursanti, Peran BRI Syariah KCP Bandar Sribawono Lampung Dalam Pemberdayaan Usaha Kecil (MIKRO), Tugas Akhir, (IAIN Metro:2017).
9
pembiayaan sesuai dengan prinsip 5C untuk mencegah terjadinya wanprestasi atau gagal bayar, selain itu dalam sistem pembayaran dilakukan dengan 3 cara yaitu: mingguan, bulanan, atau saat jatuh tempo hal ini disesauikan dengan kesepakatan bersama.11
Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Jaelani Tahun 2015, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Walisongo, dengan judul “Analisis Terhadap Mekanisme Pembiayaan Mikro Dengan Akad Murabahah Di Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Semarang Timur ” penelitian ini mengkaji tentang pelaksanaan serta analisis terhadap mekanisme pembiayaan mikro dengan akad murabahah di Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Pembantu Semarang Timur. Hasil penelitian ini menunjukakan bahwa mekanisme pembiayaan mikro dengan akad murabahah di Bank Syariah Mandiri KCP Semarang Timur yang terdiri atas pembukaan, pelunasan dan penutupan melibatkan antara nasabah pembiayaan dengan karyawan bagian customer service, account office, dan teller, serta direktur dengan alur yang sederhana dan mudah. Mekaanisme tersebut hampir sama dengan mekanisme yang digunakan oleh bank-bank lain, hanya saja terdapat beberapa perbedaan dan modifikasi.
Penelitian Dwi Nursanti, Siti Sriwahyuni dan Ahmad Jaelani yang telah dipaparkan secara sekilas diatas, dapat diketahui persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang pemberian pembiayaan kepada para
11Siti Sriwahyuni, Pemberian Pembiayaan Usaha Kecil Menengah (UKM) oleh BMT Assyafi’iyah Kota Gajah, Tugas Akhir, (STAIN Jurai Siwo Metro:2016).
pelaku usaha mikro. Akan tetapi terdapat perbedaan dalam fokus kajianya dimana dalam penelitian pertama membahas tentang peran bank syariah dalam pemberdayaan UMKM, bank disini memberikan berbagai pilihan produk pembiayaan guna memenuhi kebutuhan nasabah tersebut. Kemudian pada penelitian yang kedua membahas tentang prosedur pemberian pembiayaan kepada pelaku UMKM, yaitu harus memenuhi prinsip 5C demi meminimalisir terjadinya wanprestasi.
Penelitian yang ketiga membahas tentang mekanisme pembiayaan mikro dengan akad murabahah dengan alur yang sederhana dan mudah. Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan berfokus pada Analisis Produk Pembiayaan Murabahah Dalam Pengembangan Usaha Mikro di Bank Mandiri Syariah kedaton Kota Bandar Lampung.
BAB II
LANDASAN TEORI A. Pembiayaan Murabahah
1. Pengertian Pembiayaan Murabahah
Murabahah merupakan masdar dari kata rabaha- yurabihu murabahatan.
Secara terminologi dalam kitab Tuhfah Al-Fuqaha’ disebutkan: “Jual beli murabahah adalah kepemilikan obyek jual beli seraya memberikan pengganti sejumlah dengan harga awal dan tambahan keuntungan atau laba.”
Sebagaimana yang dikutip oleh Imam Mustofa di dalam buku Veithzal Rivai bahwa, jual beli murabahah adalah akad jual beli atas suatu barang dengan harga disepakati antara penjual dan pembeli, setelah sebelumnya penjual menyebutkan dengan sebenarnya harga perolehan atas barang tersebut dan besarnya keuntungan yang diperoleh.12
Murabahah dapat dilakukan untuk pembelian secara pesanan dan biasa disebut sebagai murabahah kepada pemesan pembelian. Dalam kitab al-umm, Imam Syafi’i menamai transaksi sejenis ini dengan istilah al-amir bisysyira.
Dalam hal ini, calon pembeli atau pemesan beli dapat memesan kepada seseorang (sebut sebagai pembeli) untuk membelikan sesuatu barang tertentu yang diinginkannya. Kedua pihak membuat kesepakatan mengenai barang tersebut serta kemungkinan harga asal pembelian juga harus menyepakati berapa keuntungan atau tambahan yang harus dibayar pemesan. Jual beli
12Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Kontemporer, (Yogyakarta:Kaukaba Dipantara, 2014), 55-57.
antaar kedua belah pihak dilakukan setelah barang tersebut berada ditangan pemesan.13
Akad murabahah adalah sesuai dengan syariah karena merupakan transaksi jual beli dimana kelebihan dari harga pokoknya merupakan keuntungan dari penjualan barang. Sangat berbeda dengan praktik riba dimana nasabah meminjam uang sejumlah tertentu untuk membeli suatu barang kemudian atas pinjaman tersebut nasabah harus membayar kelebihanya dan ini adalah riba. Menurut ketentuan syariah, pinjaman uang harus dilunasi sebesar pokok pinjamanya dan kelebihanya adalah riba, tidak tergantung dari besar kecilnya kelebihan yang diminta juga tidak tergantung kelebihan tersebut nilainya tetap atau tidak tetap sepanjang waktu pinjaman.14
Penjual dapat meminta uang muka pembelian kepada pembeli sebagai bukti keseriusannya ingin membeli barang tersebut uang muka menjadi bagian pelunasan piutang murabahah jika akad murabahah disepakati. Namun apabila penjual telah membeli barang dan pembeli membatalkanya, uang muka ini dapat digunakan untuk kerugian si penjual akibat dibatalkanya pesanan tersebut. Bila jumlah uang muka lebih kecil dibandingkan jumlah kerugian yang harus ditanggungleh penjual, penjual dapat meminta kekurangan kepada pembeli. Sebaliknya, bila lebih besar pembeli berhak untuk mengambil atau menerima kembali sebagian uang mukanya.15
13Akhmad Mujahidin, Hukum Perbankan Syariah (Jakarta:Rajawali Pers, 2016), 54.
14Sri Nurhayati dan Wasilah, Akutansi Syariah di Indonesia (Jakarta:Salemba Empat, 2008) 161-162.
15Ibid.
13
Dengan penjualan tangguh, maka akan muncul utang piutang, dan prnjual mempunyai piutang. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan atau untuk menghindari risiko penjual dapat mengadakan perjanjian khusus dengan pembeli dan meminta jaminan. Dalam hali ini, objek akad murabahah yaitu barang yang diperjualbelikan dapat digunakan sebagai jaminan.16
Untuk penjualan tidak tunai (tangguh) sebaliknya dibuatkan
kontrak/perjanjiannya secara tertulis dan dihadiri saksi-saksi. Kontrak memuat antara lain besarnya utang pembeli karena membeli barang, jangka
waktu akad, besarnya angsuran setiap periode, jaminan dan lain sebagainya.
2. Dasar Hukum Murabahah a. Dasar Dalam Alqur’an
1) Firman Allah dalam surat Al-Baqarah 275:
اَبِّرلاَِمَرَحَوَِع يَباُِ َالَّلَِلَحَأَو ...
...
Artinya: “...Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...”17
2) Firman Allah dalam surat Al-Anisa’ 29:
ِ َني ذَلااَهُيَأِ اَي
ِ َنِ وُكَتِ نَألا إِ ل طِ اَب لا بِ مُكَن يَبِ مُكَلاَو مَأاوُلُك أتلااوُنَمَأ
اًم ي حَرِ مُك بِ َنِاَكَِ َالَّلِ َن إِ مُكَسُف نَأِاوُلُت قَت َلاَوِ مُك ن مٍِضاَرَتِ نَعًةَراَج ت
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara
16Ibid., 161-162.
17 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah, (Bandung:JABAL, 2010), 47.
kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.18
b. Dasar Dalam Al-Sunnah 1) Hadis riwayat Abu Bakar:
َِي ضَرِ ر كَبِوُبَأَِعاَت باَِةَر ج ه لاَِداَرَأِاَمَلَِمَلَسَوِ ه يَلَعُِ َالَّلِىَلَصِِّي بَنلاَِنَأ
ِ ن يَِري عَبُِه نَعُِ َالَّل
ِىَلَصُِّي بَنلاُِ َالَّلُِهَلَِلِاَقَف ِ‘
َِمَلسوِ ه يَلَعُِ َالَّل
ِي نِّلَو ِ:
ِ ر يَغ باَمَأُِم َلََسلاَوُة َلََصلاِ ه يَلَعَِلاَقَفِ،ٍءِ يَشِ ر يَغ بِكَلَِوُهَِلاَقَفِ،اَمُهَدَحَأ
َِلََفٍِنَمَث .
“Ketika Nabi Saw hendak hijrah, Abu Bakar Ra membeli dua ekor unta Nabi Saw. Kemudian berkata kepadanya: ‘biar aku membayar harga salah satunya.’ Abu Bakar menjawab: ‘ambilah unta itu tanpa harus mengganti harganya’, Nabi Saw kemudian menjawab: ‘jika tanpa membayar harganya, maka aku tidak akan mengambilnya.”19 c. Fatwa Dewan Syariah Nasional
Perihal murabahah ini diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional, yaitu:
1) Fatwa DSN No. 04/ DSN-MUI/IV/2000 Tentang Murabahah 2) Fatwa DSN No. 10/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Wakalah20 3. Rukun Dan Syarat Murabahah
a. Rukun murabahah adalah sebagai berikut:
1) Pihak yang berakad (bai’ dan musytari’) a) Cakap menurut hukum
b) Tidak terpaksa 2) Barang/objek (mabi’)
a) Barang tidak dilarang oleh syara’
18 Ibid.,83.
19Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Kontemporer., 59.
20Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Jakarta:Rajawali Pers, 2015), 5.
15
b) Penyerahan barang dapat dilakukan c) Hak milik penuh yang berakad 3) Harga (tsaman)
a) Memberitahukan harga pokok b) Keuntungan yang telah disepakati 4) Ijab kabul (sighat)
a) Harus jelas
b) Harga dan barang yang disebutkan harus seimbang c) Tidak dibatasi oleh waktu21
b) Syarat-syaratnya adalah sebagai berikut:
1) Penjual memberitahu harga pokok kepada pembeli 2) Kontrak harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan 3) Kontrak harus bebas dari riba
4) Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian
5) Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika dilakukan secara utang.22
Dalam fiqih kontemporer telah membolehkan penggunaan murabahah sebagai bentuk pembiayaan alternatif dengan syarat-syarat tertentu. Dua hal utama yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:23
21Akhmad Mujahidin, Hukum Perbankan Syariah., 55
22Ibid.,56
23Ascarya, Akad Dan Produk Bank Syariah, (Jakarta:Rajawali Pers, 2013), 84-85
1. Harus selalu di ingat bahwa pada mulanya murabahah bukan merupakan bentuk pembiayaan, melainkan hanya alat untuk menghindari “bunga” dan bukan merupakan instrumen ideal untuk mengemban tujuan riil ekonomi Islam. Isntrumen ini hanya digunakan sebagai langkah transisi yang diambil dalam proses Islamisasi ekonomi, dan penggunaanya hanya terbatas pada kasus- kasus ketika mudharabah dan m,usyarakah tidak/belum dapat diterapkan.
2. Murabahah muncul bukan hanya untuk mengantikan “bunga”
dengan “keuntungan” melainkan sebagai bentuk pembiayaan yang diperbolehkan oleh ulama syariah dengan syarat-syarat tertentu.
apabila syarat-syarat ini tidak dipenuhi, maka murabahah tidak boleh digunakan dan cacat menurut syariah.24
4. Implementasi Murabahah Dalam Lembaga Keuangan Syariah Murabahah dalam praktik lembaga keuangan syariah, prinsipnya didasarkan pada dua elemen pokok harga beli serta biaya yang terkait dan kesepakatan atas laba yang diperoleh oleh lembaga. Ciri dasar akad murabahah dalam lembaga keuangan syariah adalah sebagai berikut:
a. Pembeli harus mengetahui tentang biaya-biaya terkait dengan harga asli barang, batas laba harus ditetapkan dalam bentuk presentase dari total harga ditambah biaya-biaya
24Ibid., 84-85.
17
b. Apa yang harus dijual adalah barang yang dibayar dengan uang c. Barang yang di perjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh penjual,
dan penjual harus mampu menyerahkan barang tersebut kepada pembeli.
d. Pembayaran ditangguhkan, dalam hal ini pembeli hanya membayar uang muka yang besar dan nominalnya ditentukan dan disepakati bersama antara nasabah dengan lembaga keuangan.25
Dalam pembiayaan murabahah, sekurang-kurangnya terdapat dua pihak yang melakukan transaksi jual beli, yaitu bank syariah sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli barang. Untuk memperjelas aplikasi jual beli murabahah pada lembaga keuangan syariah, berikut ditampilkan skema dan alurnya.
25 Ibid., 139.
Skema Pembiayaan Murabahah
2. Akad Jual Beli
6. Bayar
5. Terima Barang
& Dokumen
3. Beli Barang 4. Kirim
Keterangan:
1. Nasabah mengajukan pembiayaan ke pihak bank dengan negosiasi dan persyaratan tertentu.
2. Kemudian pihak bank dan nasabah melakukan akad atas suatu barang tertentu yang telah di ajukan oleh nasabah
3. Bank membelikan barang tersebut ke pihak suplier sesuai spesifikasi yang nasabah inginkan
4. Suplier kemudian mengirim barang yang telah dibeli oleh bank ke nasabah
NASABAH BANK
SUPLIER PENJUAL
1. Negosiasi &
Persyaratan
19
5. Nasabah menerima barang dan dokumen dari suplier yang sebelumnya telah diajukan ke pihak bank
6. Nasabah kemudian membayar barang tersebut biasanya dengan cara mengangsur ke bank sesuai kesepakatan antara pihak bank dan nasabah.26
B. Usaha Mikro
1. Pengertian Usaha Mikro
Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 20 pasal 1 tahun 2008 tentang usaha mikro kecil dan menengah.27
Usaha Mikro merupakan kelompok ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Selain menjadi sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional, Usaha Mikro juga menciptakan peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri sehingga sangat membantu upaya mengurangi pengangguran.28
26 Muhammad Syafi’i Antonio, “Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik“,(Jakarta:Gema
Insani, 2001), 107
27Yuli Rahmini Suci, “Perkembangan UMKM (Usaha Mikro Kecil, Dan Menengah) Di Indonesia,” Jurnal Ilmiah Canu Ekonomus 6, no. 1 (Januari 2017): 54.
28Muslimin Kara, “Kontribusi Pembiayaan Perbankan Syariah Terhadap Pengembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) Di Kota Makasar,” 274.
2. Kriteria Usaha Mikro
Meurut Undang-undang No.20 tahun 2008 tentang kriteria usaha mikro dalam bentuk permodalan. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).29 Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yaitu usaha produktif memiliki orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memnuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang.30
4. Kendala Usaha Mikro
Usaha Mikro di Indonesia mempunyai peranan penting dalam sektor perekonomian, namun kebijakan pemerintah maupun pengaturan yang mendukungnya sampai saat ini dirasa belum maksimal. Secara umum usaha mikro sendiri menghadapi dua permasalaan utama, yaitu masalah finansial dan nonfinansial.31
Sebagaimana yang dikutip oleh Idris Yanto Niode didalam penelitian Urata bahwa masalah finansial diantaranya adalah:
1. Kurangnya kesesuaian (terjadinya mismatch) antara dana yang tersedia dan dapat diakses oleh UMKM
2. Tidak adanya pendekatan yang sistematis dalam pendanaan UMKM
29Pasal 6 Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam https://www.ojk.go.id diunduh Pada 21 November 2018.
30Muslimin Kara, “Kontribusi Pembiayaan Perbankan Syariah, 275.
31Idris Yanto Niode, “Sektor UMKM Di Indonesia: Profil, Masalah Dan Strategi Pemberdayaan,” Jurnal Kajian Ekonomi Dan Bisnis OIKOS-NOMOS 2, no. 1 (Januari 2009): 4.
21
3. Biaya transaksi yang tingi, yang disebabkan oleh prosedur kredit yang cukup rumit sehingga menyita banyak waktu sementara jumlah kredit yang dikucurkan kecil.
4. Kurangnya akses kesumber dana yang formal, baik yang disebabkan oleh ketiadaan bank dipelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai.
5. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi 6. Bayaknya UMKM yang belum berlabel, baik disebabkan belum
adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial.32
Sedangkan termasuk dalam masalah organisasi manajemen (non finansial) diantaranya adalah:
1. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan.
2. Kurangnya pengetahuan akan pemasaran, yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UMKM mengenai pasar, elain karena keterbatasan kemampuan UMKM untuk menyediakan produk/jasa yang sesuai dengan keinginan pasar.
3. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM.
4. Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi.33
C. Pengembangan Usaha
1. Pengertian pengembangan Usaha
Pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembang: pemerintah selalu berusaha dulu, pembangunan secara bertahap dan teratur yang menjurus ke sasaran yang dikehendaki. Pengertian pengembangan tersebut memiliki dua unsur, yaitu:
1. Pengembangan itu sendiri bisa berupa satu tindakan, proses atau pengembangan dari suatu tujuan.
32Ibid., 4.
33Ibid.,4
2. Pengembangan itu bisa menunjukkan kepada perbaikan atau atas sesuatu.
Menurut Purdi E Chandra, perkembangan usaha merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan omset penjualan.34 Menurut Jeaning Beaver dalam Muhammad Sholeh, tolak ukur tingkat keberhasilan dan perkembangan perusahaan kecil dapat dilihat dari peningkatan omset penjualannya.35
Menurut Werren G. Bennis dalam Sutarto, pengembangan adalah suatu jawaban atas perubahan, suatu strategi pendidikan yang kompleks yang diharapkan untuk merubaha keoercayaan, sikap, nilai dan susunan organisasi, sehingga organisasi dapat lebih baik menyesuaikan dengan teknologi, pasar dan tantangan yang baru serta perputaran yang cepat dari perubahan itu sendiri.
2. Indikator Pengembangan Usaha
Sebagaimana yang dikutip oleh Adijati Utaminingsih, Teguh Ariefiantoro, dan Sri Yuni Widowati didalam penelitian Suryana bahwa faktor penyebab keberhasilan berwirausaha ditentukan oleh beberapa indikator yaitu:
a. Kemampuan dan kemauan. Orang yang tidak memiliki kemampuan tetapi banyak kemauan dan orang yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki kemampuan, keduanya tidak akan menjadi wirausaha yang sukses.
b. Tekad yang kuat dan kerja keras.
34 Purdi E Chandra,” Trik Menuju Sukses,” (Yogyakarta: Grafika Indah, 2000), 121
35 Muhammad Sholeh, “Analisis Strategi Inovasi dan Dampaknya terhadap Kinerja Perusahaan,” (Semarang: UNDIP), 25
23
c. Mengenal peluang yang ada dan berusaha meraihnya ketika ada kesempatan.36
Kemudian faktor penyebab kegagalan berwirausaha ditentukan oleh beberapa indikator yaitu :
a. Tidak kompeten dalam hal menejerial.
b. Kurang berpengalaman.
c. Kurang dapat mengendalikan keuangan.
d. Gagal dalam perencanaan.
e. Lokasi yang kurang memadai.
f. Kurangnya pengawasan peralatan.
g. Sikap yang kurang sunggu-sungguh.
h. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan kewirausahaan.37
36 Adijati Utaminingsih, Teguh Ariefiantoro, dan Sri Yuni Widowati, “Menyingkap
Rahasia Kesuksesan Usaha Tahu Baxo Bu Pudji Ungaran,” Jurnal Dinamika Sosial Budaya 18, no. 2, (Desember 2016):186-187.
37 Ibid.,
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Sifat Penelitian 1. Jenis Penelitian
Pada bagian ini akan dijelaskan secara rinci langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melakukan penelitian untuk menjawab permasalahan yang ditetapkan, mulai dari penetuan jenis dan sifat penelitian, sumber data yang dijadikan pokok penelitian, teknik pengumpulan data.
Jenis penelitian dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (Field Research). Ide penting penelitian lapangan adalah peneliti berangkat ke lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang sesuatu fenomena dalam suatu keadaan alamiah.38
Untuk memecahakan permasalahan dan mengetahui tentang bagaimana analisis produk pembiayaan murabahah dalam pengembangan usaha mikro, peneliti mengadakan penelitian langsung di, Bank Syariah Mandiri Kedaton Kota Bandar Lampung.
38 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2012), Eds Revisi, 26.
25
2. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencaindraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian.39
Pada penelitian ini, peneliti berupaya menguraikan atau memaparkan situasi atau kejadian yang diteliti berdasarkan data hasil survei dan membandingkan dengan pustaka yang ada.
Data yang dihasilkan dari penelitian ini, yaitu data kualitatif.
penelitian kualitatif. Penelitian bersifat kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.40Dalam hal ini peneliti bermaksud memberikan deskripsi mengenai analisis produk pembiayaan murabahah dalam pengembangan usaha mikro di Bank Syariah Mandiri Kedaton Kota Bandar Lampung.
B. Sumber Data
Sumber data merupakan bagian yang penting dalam penelitian. Dengan data inilah seseorang dapat menganalisis suatu masalah, menarik kesimpulan dan mencarikan solusi-solusi atas permasalahan yang sedang diteliti.
Berdasarkan sumbernya, data dibagi menjadi dua yakni sumber data primer dan sekunder. 41
39Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Eds. 2, 76.
40Uhar Suharsaptra, Metodologi Penelitian, (Bandung: PT Refika Aditama, 2012),. 181.
41Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif,. 8.
1. Sumber Data Primer
Sumber primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber aslinya yaitu instansi atau perusahaan yang menjadi objek penelitian yang berupa kata-kata atau tindakan dari informan.42Dalam hal ini peneliti melakukan penelitian langsung pada Bank Syariah Mandiri Kedaton Kota Bandar Lampung. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah 1 orang (Micro Banking Manager), 1 orang (Micro Financing Sales) dan 5 nasabah pembiayaan murabahah Bank Syariah Mandiri Kedaton Bandar Lampung.
Pemilihan nasabah sebagai sumber data primer pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penelitian yang lebih mengutamakan tujuan penelitian daripada sifat populasi dalam menentukan sampel penelitian. Walaupun demikian, untuk menggunakan teknik ini peneliti seharusnya orang yang pakar dalam karakteriistik populasi. Berdasarkan pengetahuan yang jeli terhadap populasi, maka unit-unit dianggap “kunci”, diambil sebagai sampel penelitian. 43
Sumber data primer sangatlah dibutuhkan karena akan menjadi sumber informasi penting yang bersumber dari seseorang yang berkaitan langsung dengan lembaga keuangan atau bank yang diteliti. Adapun kriteria-kriteria nasabah yang dijadikan sampel sebagai berikut:
42M Burhan Bungin, Metedologi Penelitian Kuantitatif;Komunikasi, Ekonomi dan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial lainnya, (Jakarta: Kencana,2004), 122
43M. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi , (Jakarta : PT Fajar Interpratama Mandiri, 2013), 118.
27
a) Nasabah bersedia menjadi informan b) Sudah menjadi nasabah selama 1 tahun c) Nasabah tidak pernah macet (lancar) 2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder dari data yang kita butuhkan. Jadi Sumber data sekunder adalah sumber data penunjang atau pendukung yang berupa tulisan dan penelitian yang berkaitan dengan pembahasan penelitian ini. Adapun yang menjadi acuan sumber data sekunder dalam penelitian adalah buku-buku dari karangan Imam Mustofa yang berjudul Fiqih Mu’amalah Kontemporer, Kasmir yang berjudul Dasa-Dasar Perbankan dan Mukti Fajar ND yang berjudul UMKM Di Indonesia Persepektif Hukum Ekonomi.
Sumber data sekunder dibutuhkan untuk menambah informasi yang sebelumnya sudah dijelaskan pada sumber data primer. Sumber data sekunder dapat menjadi penguat suatu informasi karena penjelasan yang di dapatkan bersumber dari buku-buku yang berkaitan dengan judul yang peneliti teliti.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan
data.44 Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data menggunakan teknik sebagai berikut:
1. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancara.45 Data-data yang diharapkan didapat oleh peneliti dalam wawancara ini adalah, hal-hal yang berkaitan dengan produk pembiayaan murabahah dalam pengembangan usaha mikro.
Jenis wawancara yang digunakan peneliti dalam penelitian ini yaitu, wawancara semistruktur. Peneliti mengadakan tanyajawab kepada Thawap Nasution (Micro Banking Manager), Nisbah Permana (Micro Financing Sales) dan 5 nasabah (SM, NS, FY, FP, MG) nasabah pembiayaan murabahah di Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung.
2. Dokumentasi
Dokumentasi ialah teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan mengenai data pribadi responden.46 Dokumentasi dalam penelitian ini yaitu teknik pengumpulan data dengan cara penelusuran terhadap bahan pustaka yang menjadi sumber penelitian secara langsung yang meliputi arsip-arsip, produk-produk, profil Bank Syariah Mandiri
44 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R &D, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 224.
45 Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2011), 105.
46Ibid., 112
29
Kedaton Kota Bandar Lampung, mencatat saat diadakan tanya jawab yang dilakukan dengan pihak Bank Syariah Mandiri Kedaton Kota Bandar Lampung, dan dengan mengutip artikel di website Bank Mandiri Syariah. Dokumen yang dimaksud seperti brosur-brosur pembiayaan usaha mikro yang sedang peneliti teliti .
D. Teknik Analisis Data
Analisis adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumetasi dengancara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah di fahami oleh diri sendiri maupun orang lain.47 Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif. Analisis data kualitataif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu.48
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan cara berfikir induktif yang berangkat dari informasi tentang analisis produk pembiayaan murabahah dalam pengembangan usaha mikro di Bank Syariah Mandiri Kedaton Kota Bandar Lampung.
47 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R &D, (Bandung: Alfabeta, 2012), 244.
48 Ibid.,245
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Profil Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung 1. Sejarah Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung
PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999. PT Bank Syariah Mandiri hadir dan tampil dengan harmonisasi idealisme usaha dengan nilai-nilai spiritual.
Bank Syariah Mandiri tumbuh sebagai bank yang mampu memadukan keduanya, yang melandasi kegiatan operasionalnya.
Harmonisasi idealisme usaha dan nilai-nilai spiritual inilah yang menjadi salah satu keunggulan Bank Syariah Mandiri dalam kiprahnya di perbankan Indonesia. Per Desember 2017 Bank Syariah Mandiri memiliki 737 kantor layanan di seluruh Indonesia, dengan akses lebih dari 196.000 jaringan ATM. 49
PT. Bank Syariah Mandiri selama tahun 2017 banyak mendapatkan sejumlah penghargaan diantaranya penghargaan sebagai TOP CSR Award 2017 Kategori TOP CSR Improvement 2017 pada 5 April 2017 yang diberikan oleh Majalah Business News Indonesia, Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) dan Masyarakat CSR Indonesia.
Peringkat I Digital Brand Bank Umum Syariah untuk kategori bank umum syariah 2012-2016 pada 30 Maret 2017 yang diberikan oleh
49www.bsm.co.id
31
Majalah Info bank bekerja sama dengan Isentia Research dan sejumlah penghargaan lainya.
Kehadiran BSM sejak tahun 1999, sesungguhnya merupakan hikmah sekaligus berkah pasca krisis ekonomi dan moneter 1997-1998.
Sebagaimana diketahui, krisis ekonomi dan moneter sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis multi-dimensi termasuk di panggung politik nasional, telah menimbulkan beragam dampak negatif yang sangat hebat terhadap seluruh sendi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dunia usaha. Dalam kondisi tersebut, industry perbankan nasional yang didominasi oleh bank–bank konvensional mengalami krisis luar biasa.
Pemerintah akhirnya mengambil tindakan dengan merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank–bank di Indonesia.
Salah satu Bank konvensional, PT Bank Susila Bakti (BSB) yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT Mahkota Prestasi juga terkena dampak krisis. BSB berusaha keluar dari situasi tersebut dengan melakukan upaya merger dengan beberapa Bank lain serta mengundang investor asing. Pada saat bersamaan, pemerintah melakukan penggabungan (merger) empat Bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo) menjadi satu Bank baru bernama PT Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999. Kebijakan penggabungan tersebut juga menempatkan dan
menetapkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai pemilik mayoritas baru BSB. 50
Sebagai tindak lanjut dari keputusan merger, Bank Mandiri melakukan konsolidasi serta membentuk Tim Pengembangan Perbankan Syariah. Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengembangkan layanan perbankan syariah di kelompok perusahaan Bank Mandiri, sebagai respon atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang Bank Umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).
Tim Pengembangan Perbankan Syariah memandang bahwa pemberlakuan UU tersebut merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konversi PT Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah. Dengan melakukan penggabungan (merger) dengan beberapa bank dan mengundang investor asing. Oleh karenanya, Tim Pengembangan Perbankan Syariah segera mempersiapkan sistem dan infrastrukturnya, sehingga kegiatan usaha BSB berubah dari bank konvensional menjadi bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan nama PT Bank Syariah Mandiri sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris: Sutjipto, SH, No. 23 tanggal 8 September 1999.
Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi Bank Umum Syariah dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI\No.1/24/\ KEP.BI/1999, 25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/
50 Ibid.
33
Menyusul pengukuhan dan pengakuan legal tersebut, PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420H atau tanggal 1 November 1999.
PT Bank Syariah Mandiri hadir, tampil dan tumbuh sebagai bank yang mampu memadukan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani, yang melandasi kegiatan operasionalnya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan Bank Syariah Mandiri dalam kiprahnya di perbankan Indonesia. BSM hadir untuk bersama membangun Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik.51
Setelah melalui proses yang melibatkan seluruh jajaran pegawai sejak pertengahan 2005, lahirlah nilai-nilai perusahaan baru yang disepakati bersama untuk dijadikan pedoman oleh seluruh pegawai Bank Syariah Mandiri yang disebut Bank Syariah Mandiri Shared Values. BSM Shared Values disingkat “ETHIC”. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Excellence
Berupaya mencapai kesempurnaan melalui perbaikan yang terpadu dan berkesinambungan, meningkatkan keahlian sesuai dengan tugas yang diberikan dan sesuai dengan tuntutan profesi bankir, serta berkomitmen pada kesempurnaan.
51 Ibid.
2. Teamwork
Mengembangkan lingkungan kerja yang saling bersinergi dengan cara mewujudkan iklim lalu lintas pesan yang lancar dan sehat, menghargai pendapat dan kontribusi orang lain, serta memiliki orientasi pada hasil dan nilai tambah bagi stakeholders.
3. Humanity
Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan religius danmeluruskan niat untuk mendapatkan ridha Allah.
4. Integrity
Menaati kode etik profesi dan berpikir serta berperilaku terpuji dengan cara menerima tugas dan kewajiban sebagai amanah dan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab sesuai ketentuan dan tututan perusahaan.
5. Customer Focus
Memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan untuk menjadikan Bank Syariah Mandiri sebagai mitra yang terpercaya dan menguntungkan dengan cara proaktif dalam menggali dan mengimplementasikan ide-ide baru untuk memberikan layanan yang lebih baik dan lebih cepat dibandingkan kompetitor.52
Nilai-nilai tersebut diupayakan untuk selalu ditanamkan dalam organisasi Bank Syariah Mandiri. Bank Syariah Mandiri yang beralamatkan di Jl. Teuku Umar No. 6 A-B, Kedaton, Bandar Lampung
52 Ibid.
35
merupakan Kantor Cabang dari Bank Syariah Mandiri Area Lampung yang beralamatkan di Jl. Diponegoro No. 189, Bandar Lampung.
2. Implementasi Produk Pembiayaan Murabahah Dalam Pengembangan Usaha Mikro Di Bank Syariah KC. Kedaton Kota Bandar Lampung
Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung menyediakan produk penyaluran dana berupa modal kerja dengan akad murabahah dan ijarah. Modal kerja ini termasuk didalamnya yaitu pembiayaan usaha mikro. Pembiayaan usaha mikro merupakan suatu produk alternative diberikan oleh Bank Syariah Mandiri kepada pengusaha yang memiliki keterbatasan modal dalam pengembangan pembiayaan mikro adalah pembiayaan kepada calon nasabah atau usahanya.
Usaha yang dibiayai harus sesuai dengan prinsip syariah, bank tidak akan memberikan pembiayaan apabila digunakan untuk usaha yang sifatnya haram, seperti menjual minuman keras, berjudi, jual rokok dll.
Usaha mikro yang Menurut surat edaran No. 11/009/PEM 13 Februari tahun 2009, nasabah perorangan atau badan uaha untuk membiayai kebutuhan usahanya melalui pembiayaan modal kerja dan atau pembiayaan investasi dengan maksimal limit hingga Rp. 200 juta.53
Adapun tujuan pembiayaan usaha mikro adalah sebagai berikut:
53 Wawancara dengan Bpk. Thawap Nasution Micro Banking Manager Bank Syariah
Mandiri, Kedaton Bandar Lampung, Pada 28 September 2019
1) Membantu wirausaha usaha kecil, menegah, mikro dan yang belum dapat memperoleh kredit perbankan untuk memperoleh pembiayaan supaya mengembangkan usahanya.
2) Merangsang para generasi muda untuk memulai usaha.
Jenis pembiayaan usaha mikro ini dibagi menjadi 3 yaitu:
4. Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) Tunas.
a) Limit pembiayaan minimal Rp. 0 sampai dengan Rp.
10.000.000 (sepuluh juta rupiah).
b) Margin 18%
c) Jangka waktu maksimal 36 bulan
d) Biaya administrasi sesuai dengan ketetapan BSM 5. Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) Madya
a) Limit pembiayaan di atas Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) sampai dengan Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah)
b) Margin 20%
c) Jangka waktu maksimal 36 bulan
d) Biaya administrasi sesuai dengan ketetapan BSM 6. Pembiayaan Usaha Mikro (PUM) Utama
a) Limit pembiayaan di atas Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah)
37
b) Margin 22%
c) Jangka waktu maksimal 48 bulan
d) Biaya administrasi sesuai dengan ketetapan BSM54
Sebelum nasabah memperoleh pembiayaan, terlebih dahulu harus melalui tahapan-tahapan penilaian sampai dengan pembiayaan tersebut dikucurkan. Tahapan dalam pemberian pembiayaan disebut dengan prosedur pemberian pembiayaan. Prosedur pemberian pembiayaan di Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung sangatlah mudah. Tujuan prosedur tersebut adalah untuk memastikan kelayakan suatu pembiayaan.
Prosedur pembiayaan usaha mikro di Bank Syariah Mandiri adalah sebagai berikut:
a. Nasabah mengajukan pembiayaan dengan mendatangi kantor Bank Syariah Mandiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung b. Nasabah mengisi aplikasi pembiayaan, kemudian
mengumpulkan syarat-syarat dokumen yang harus di lampirkan. Adapun persyaratan dokumen yang dilampirkan sebagai berikut:
1) Fotocopy KTP, kartu keluarga, surat nikah dan pas foto 4x6
2) Surat keterangan usaha (SKU) dari kelurahan
3) Copy SK terakhir, asli slip gaji 3 bulan (bagi pegawai)
54 Wawancara dengan Bpk. Nisbah Permana, Micro Financing Sales Bank Syariah Mandiri, Kedaton Bandar Lampung, Pada 07 November 2019
4) Copy PBB & Bukti bayar PBB tahun terakhir
5) Copy sertifikat HM/HGB (agunan tanah & bangunan) 6) Copy BPKB & STNK (agunan kendaraan)
7) Copy NPWP (diatas 50 juta)55
c. Setelah dokumen tersebut dikumpulkan, kemudian pihak marketing akan mengecek BI-cheking
d. Setelah itu di lanjutkan back office melakukan taksaksi jaminan
e. Apabila pembiayaan tersebut disetujui, maka back office membuat nota analisa pembiayaan dan membuat surat persetujuan pembiayaan yang akan ditandatangani oleh kepala cabang
f. Kemudian back office membuat surat persetujuan pembiayaan yang ditandatangani oleh nasabah disertai dengan:
1) Menyerahkan dokuen agunan asli sebagai pengikat 2) Menyerahkan dokumen asli lainya
3) Wajib membuka rekening tabungan
g. Setelah surat persetujuan pembiayaan ditandatangani oleh nasabah dan kepala cabang., kemudian back office akan membuat akad pembiayaan yang akan ditandatangani oleh kepala cabang dan nasabah pula.
55 Ibid.,
39
h. Setelah itu nasabah harus menandatangani dokumen legal berisi:
1) Akad pembiayaan 2) Pengikat agunan 3) Dokumen pendukung 4) Permohonan pencairan
Akad yang digunakan dalam pembiayaan usaha mikro di Bank Syariah Madiri KC. Kedaton Kota Bandar Lampung adalah murabahah.
Bank menggunakan akad murabahah karena menyesuaikan keadaan yang ada di lapangan dimana pelaku usaha mikro belum memiliki sistem keuangan yang update sehingga murabahah cocok untuk para pelaku usaha dengan sistem jual beli guna untuk membantu dari segi pemenuhan dalam aspek permodalan.
Murabahah yang digunakan oleh Bank Syariah Mandiri adalah murabahah biasa dan murabahah bill wakalah menyesuaikan dengan keadaan pelaku usaha apabila pembiayaan untuk kendaraan, peralatan, rumah dan sebagainya, bank akan mencari atau memesan ke suplier dan akan diberikan ke nasabah namun apabila untuk barang-barang sembako, atau yang berkaitan dengan barang dagangan maka pihak bank akan menggunakan murabahah bill wakalah (mewakilkan) kepada nasabah untuk mencari sendiri atau bank hanya memberikan uang kepada nasabah tersebut, kemudian nasabah harus membayarnya secara berangsur kepada bank.