1
Pengenalan Organ Tikus Percobaan
Organ Recognition of Experimental Rats
Arif Rizkika Putra1, Cesar Welya Refdi2, Yasmin Azzahra3, Muhammad Ihsan4, Ririn T. Rawuni5, Bunga Silvana Khaira5, Muhammad Rizky Steval6
1-Thursday-Student of Food Technology and Agricultural Product, 2Lecturer of Food Technology and Agricultural Product, 3EGDP Laboratory Asisstant of Food Technology and Agricultural Product Faculty of Agricultural
Technology, Andalas University, Kampus Limau Manis-Padang, Indonesia 25163 Email : [email protected]
ABSTRACT
This article discusses the use of the white rat (Rattus norvegicus) as an animal model in scientific research. The white rat was chosen for its known properties, ease of maintenance, and suitability for different types of research.
This study involves the observation of the abdominal organs of rats, including the heart, lungs, kidneys, and others.
Rats, quarantined and treated with different diets, are observed to determine the effect of nutrition on internal organ weights. The practicum involves dissecting rats for blood collection and identifying the position and function of important organs such as the liver, stomach and intestines. The practicum also emphasized the importance of ethics in animal research and the appropriate use of anesthesia to reduce animal suffering. The results showed that the nutrition provided had a significant impact on the organ weights of the rats, which could be an indicator of the effect of feeding different rations. In conclusion, nutrition has a significant effect on the organ weights of rats. This study provides new insights into animal welfare and research ethics, and suggests caution in the use of chemicals and animal surgery according to existing regulations.
Keywords: White rat (Rattus norvegicus), abdominal organs, rat surgery, ration
I. PENDAHULUAN
Tikus putih (Rattus norvegicus) merupakan binatang percobaan yang umum dipakai dalam penelitian ilmiah. Hewan ini sudah diketahui sebagian besar sifat-sifatnya, mudah dipelihara, dan merupakan hewan yang relatif cocok untuk berbagai penelitian.
Landasan penelitian tikus terus berkembang hingga saat ini.
Tikus terus digunakan dalam studi-studi yang luas, termasuk penelitian kanker, jantung, diabetes, dan neurologi. Genom tikus juga telah secara lengkap dipetakan, memungkinkan para peneliti untuk mempelajari lebih dalam tentang peran gen tertentu dalam kesehatan dan penyakit manusia. Secara keseluruhan, landasan sejarah penelitian tikus telah melibatkan banyak penemuan dan pemahaman yang penting dalam ilmu pengetahuan. Penggunaan tikus sebagai subjek penelitian terus memberikan wawasan yang berharga dalam berbagai bidang, dan kemungkinan masih sangat besar untuk lebih banyak lagi penelitian yang akan datang (Wati, 2024)
Ketika melakukan penelitian menggunakan model hewan, seperti tikus, kelinci dan lain sebagainya.
Penting untuk mempertimbangkan berbagai aspek tekait etika dasar dalam perlakuan terhadap hewan. Di Indonesia, terdapat peraturan pemerintah yang mengatur pedoman etika penelitian dengan menggunakan hewan
yang dikeluarkan oleh departemen Kesehatan maupun Menteri dan badan riset nasional. Menurut UU No. 18 Tahun 2009 pasal 74 ayat 1 hingga 2 dan juga pelaksanaan dan penerapan kesejahteraan hewan dijelaskan secara rinci pada PP No. 95 Tahun 2012 pasal 97 dan 98 terkait praktik kedokteran mengenaik kesejahteraan Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan. Dimana aspek penelitian wajib memenuhi prinsip kesejahteraan hewan, pengurangan penderitaan hewan, persetujuan dan pengawasan komite etik, dilakukan transparan dan adanya laporan, dan pertimbangan ilmiah lainnya (Wati, 2024).
Tikus digunakan untuk uji coba tentang makanan dan defisiensi zat pada makanan pada semua jenis hewan termasuk manusia. Kecepatan tumbuh tikus cukup signifikan dimana dapat mencapai pertumbuhan 5g per hari. Dibanding dengan tikus lain, tikus laboratorium lebih cepat dewasa, tidak memperlihatkan perkawinan musiman dan lebih cepat berkembang biak (Rejeki, 2019).
Beberapa spesies tikus yang sering digunakan sebagai hewan coba antara lain tikus wistar, sprague dawley, dan fischer. Tikus memiliki kemampuan beradaptasi di beberapa habitat, lingkungan, dan sumber makanan, dimana masa hidup tikus secara umum adalah 2,5 - 3,5 tahun. Hal ini menjelaskan mengapa tikus dapat ditemukan di seluruh bagian dunia (Zainuddin, 2021)
2 Pada praktikum dilakukan pengamatan organ-
organ tikus meliputi Jantung, paru-paru, ginjal, lambung, hati, limfa, pankreas, usus besar, usus halus, caecum, testis. Organ yang diamati ambil adalah organ abdominal. Organ abdominal adalah sekumpulan organ yang terletak di dalam rongga perut, termasuk pencernaan, eksresi, reproduksi dan penyimpanan zat- zat penting (Widayana, 2022).
Tujuan praktikum ini adalah untuk mendemonstrasikan bagaimana cara membedah tikus percobaan untuk tujuan pengambilan darah dari jantung dan mengenalkan letak, bentuk dan rangkaian organ- organ abdominal tikus percoabaan. Disamping itu memberi kesempatan kepada beberapa orang mahasiswa untuk melakukan pembedahan sendiri.
\
II. METODE PRAKTIKUM 2.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Evaluasi gizi dalam pengolahan pangan dengan objek Pengenalan Organ Tikus Percobaan dilakukan di laboratorium Kimia, Biokimia Pangan dan Hasil Pertanian Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Pada hari Minggu, 19 Mei 2024 Pukul 08.00 WIB.
2.2 Alat dan Bahan
Pada Objek 3 ini peralatan yang digunakan antara lain peralatan bedah, alas bedah berupa sterofoam, kapas, sarung tangan disposable, kantung sampah, penutup mulut, paku. Dan bahan yang digunakan ialah tikus putih berumur 30 hari, kloroform, dan aquades
2.3 Diagram Alir Prosedur Kerja
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Praktikum Tabel 1. Berat masing-masing organ tikus
Organ Berat (gram)
1 2 3 4 5
Non-Protein
Jantung 0,21 0,13 0,13 0,17 0,23 Ginjal 0,38 0,31 0,35 0,28 0,31 Hati 1,37 0,65 1,07 0,91 0,83 Limfa 0,10 0,47 0,09 0,04 0,03 Lambung 0,41 0,88 0,46 0,33 0,38 Usus besar 1,05 0,75 0,49 1,22 0,57 Usus halus 1,62 1,80 1,40 0,14 1,26 Paru-paru 0,28 - 0,17 0,26 0,18 Pankreas - 0,27 0,05 0,05 0,12
Caecum - - - 0,23 -
Rectum - - - - -
Testis - - 0,09 0,18 -
Kasein
Jantung 0,14 0,14 0,14 0,23 0,15 Ginjal 0,38 0,35 0,40 0,37 0,38 Hati 1,32 1,47 1,42 1,23 1,24 Limfa 0,09 0,08 0,09 0,28 0,07 Lambung 0,47 0,79 1,09 0,36 0,42 Usus besar 0,35 0,49 0,27 0,29 0,49 Usus halus 1,83 1,41 1,82 1,41 1,91 Paru-paru 0,46 0,36 0,36 - 0,30 Pankreas 0,12 0,15 - 0,34 - Caecum 0,59 0,52 0,52 0,53 0,54
Rectum - 0,08 - - -
Testis - - - - -
Protein
Jantung 0,40 0,11 0,15 0,98 0,12 Ginjal 0,35 0,30 0,35 0,40 0,38
Hati 0,90 1,04 1,54 - 1,10
Limfa 0,04 0,06 0,04 0,90 0,07 Lambung 0,60 0,30 0,60 1,08 0,72 Usus besar 0,38 0,25 0,62 0,59 1,21 Usus halus 0,92 1,71 1,77 1,75 1,44 Tikus usia 30 hari
Dimasukkan tikus ke dalam chamber dan tutup rapat hingga tikus terbius mati
Ditimbang tikus dan tangan kaki tikus dipaku ke sterofoam
Dilakukan pengamatan masing-masing posisi organ
Diambil masing-masing organ untuk identifikasi dan ditimbang
Disiapkan chamber berisi kapas yang telah diberi kloroform
Dilakukan pembedahan dengan gunting tajam dan bersih, dari perut bagian bawah gunting kesamping
1cm dan keatas membentuk huruf T
Analisis
Jantung, paru-paru,
ginjal, lambung, hati, limfa,
pankreas, usus besar, usus halus, caecum,
testis
3 Paru-paru 0,25 0,24 0,28 0,25 0,34
Pankreas 0,06 0,07 0,14 0,80 0,10 Caecum 0,60 0,63 0,49 0,60 0,50
Rectum - - - - -
Testis - - - - -
3.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini telah dilakukan pengamatan dan pengenalan organ tikus percobaan, dimulai dari melakukan penimbangan tikus percobaan, pembedahan tikus percobaan dan pengamatan organ- organ dalam tikus percobaan.
Tikus putih yang merupakan hewan uji sebelumnya dikarantina selama 9 hari sambil diberi perlakuan dengan 3 jenis pakan ransum yakni ransum protein tepung kedelai, protein kasein dan non-protein.
Pada 3-5 hari pertama dilakukan stabilisasi pada tikus untuk mengurangi stressor yang didapatkan tikus karena perbedaan lingkungan baru di tempat penelitian dan lingkungan sebelumnya (Rejeki, 2019). Setelah karantina, lalu dilakukan pembedahan tikus untuk pengamatan organ abdominal.
Sebelum tikus dilakukan pembedahan, tikus lebih dahulu dianastesi. Anastesi bertujuan untuk menghilangkan sensasi rasa nyeri dan memungkinkan hewan dimanipulasi dengan tujuan tertentu, yakni dilakukan dengan pemberian obat bius. Pemberian bius menyebabkan hewan mengalami penurunan kesadaran sehingga hewan mati tanpa merasakan nyeri ataupun stress (Citra, 2021).
Obat bius yang digunakan umumnya adalah kloroform dan eter. Kedua jenis obat bius ini sama-sama memengaruhi sistem saraf pusat, menyebabkan kehilangan kesadaran. Namun mekanisme keduanya berbeda.
Eter telah lama dikenal sebagai anastesi yang relatif aman dan murah. Selain itu eter tidak bercaun bagi sistem kardiovaskular dan tidak menekan aktivitas pernapasan. Eter bekerja dengan cara menghambat sinyal-sinyal saraf yang dikirim ke otak. Namun penggunaan eter memiliki resiko karena sifatnya mudah terbakar, sehingga penggunaannya diperlukan tindakan pencegahan yang ketat (Chang et al, 2015). Sedangkan kloroform diketahui lebih beracun daripada eter, dimana penggunaannya akan dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal, serta masalah pernapasan. Kloroform bekerja dengan mengurangi aktivitas saraf dan menekan sistem saraf pusat dan menyebabkan kematian hewan uji dengan cepat (Aledani, 2020)
Pada praktikum kali ini digunakan kloroform, kloroform digunakan karena memiliki kemampuan bius yang cepat dan jika dibiarkan lama maka tikus tersebut akan langsung mati dan siap untuk dilakukan pembedahan (Padang, 2020). Kloroform dituang ke kapas yang lalu diletakkan di dalam chamber bertutup.
Pastikan kloroform menyebar keseluruh ruangan tempat tikus akan dibius.
Hewan uji selanjutnya dilakukan pembedahan.
Bedah dimulai dari bagian perut ataupun uterus
menggunakan gunting bengkok. Selanjutnya ambil dan pisahkan masing-masing organ menggunakan gunting lurus dan psatikan tiap organ tidak tercampur. Bersihkan organ dari lemak-lemak yang masih menempel dengan hati-hati tanpa merusak organ ataupun jaringan pembuluh darah, menggunakan pencelupan ke air. Lalu organ dipisahkan satu per satu untuk diamati.
Organ yang diamati ambil adalah organ abdominal. Organ abdominal adalah sekumpulan organ yang terletak di dalam rongga perut, termasuk pencernaan, eksresi, reproduksi dan penyimpanan zat- zat penting (Widayana, 2022). Beberapa organ yang diambil adalah Jantung, paru-paru, ginjal, lambung, hati, limfa, pankreas, usus besar, usus halus, caecum, testis.
Organ-organ tersebut dipilih karena memiliki peranan penting dan termasuk dalam organ vital yang bertanggungjawab atas fungsi metabolisme dalam tubuh. Beberapa fungsi organ internal tikus dapat dijelaskan sebagai berikut (Hebel, 1976)
Hati merupakan organ yang besar, terletak di sebelah kanan abdomen dibawah diafragma. Berwarna merah tua, dan memiliki fungsi salah satunya penghasil empedu untuk memecah lemak, namun tikus tak memiliki gall blader yang digunakna untuk menyimpan empedu. Selanjutnya lambung yang terletik di sebelah kiri pada rongga abdomen dibawah hati. Lambung berfungsi dalam menyimpan makanan dan memecah makanan melalui bantuan enzim. Limfa memiliki warna merah tua, terletak pada freater curvatura pada lambung dan menempel pada bagian tersebut yang berfungsi sebagai imunitas. Pankreas terlihat seperti sebuah membran tipis, menghasilkan enzim pencernaan dan hormon insulin untuk metabolisme glukosa. Usus halus berfungsi untuk penyerapan sari-sari makanan yang dihubungkan oleh caecum ke usus besar. Caecum merupakan kantung tempat makanan disimpan sementara. Usus besar atau colon memiliki warna keabuan dan dapat membantu penyerapan air. Yang terakhir rektum, bagian saluran pendek mendeati anus, penyimpanan feses sementara
Indeks organ dapat menjadi indikator tambahan yang menunjukkan efek pemberian ransum yang diamati dengan ada atau tidaknya perbedaan signifikan antara kelompok uji ransum hewan tersebut (Anto, 2023).
Adanya peningkatan indeks organ hati antara kelompok yang diberi pakan non-protein dengan diberi protein dikaitkan dengan fungsi hati yang mengatur keadaan gizi dan keseimbangan energi dalam tubuh (Anto, 2023). Selain itu, hal ini menandakan bagaimana malnutrisi juga dapat berdampak negatif pada kesehatan hati, dimana malnutrisi yang disebabkan kurangnya asupan protein dapat menyebabkan stress oksidatif pada hati (Purnak, 2013). Hal ini tampak pada bobot hati non- protein yang memiliki rata-rata (0,966) lebih rendah dari rata-rata bobot hati protein (1,145) dan kasein (1,336).
Selanjutnya juga tampak pada peningkatan indeks organ paru-paru antar ketiga kelompok uji.
Malnutrisi dapat memengaruhi struktur, elastisitas,
4 fungsi paru, kekuatan dan ketahanan otot serta imunitas
paru. Dimana defisiensi protein dapat menyebabkan kadar hemoglobin yang dibawa ke organ paru-paru menjadi rendah, sehingga kemampuan darah membawa oksigen menurun. Rendahnya kadar mineral yang masuk ke dalam paru-paru bertanggungjawab atas rusaknya paru yang harus bekerja keras pada kondisir malnutrisi ini (Fasitasari, 2013). Hal ini tampak pada rata-rata bobot paru-paru non-protein (0,22) yang lebih rendah dari protein dan kasein (0,37 dan 0,25)
Dari praktikum ini diketahui bagaimana pra- perlakuan pembedahan tikus, cara pembedahan tikus dan identifikasi posisi dan fungsi masing-masing organ, juga bagaimana kondisinya pada pemberian ransum berbeda jenis terhadap bobot masing-masing organ tikus percobaan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan:
1. Tikus putih umum digunakan untuk penelitian dalam bidang kesehatan karena sifat-sifatnya, mudah dipelihara, dan merupakan hewan yang relatif cocok untuk berbagai penelitian 2. Pembiusan tikus dapat dilakukan dengan
penggunaan obat kloroform dan eter tergantung tujuan penelitian
3. Pembedahan tikus harus dilakukan sesuai etika yang ditetapkan
4. Organ abdominal adalah sekumpulan organ yang terletak di dalam rongga perut, termasuk pencernaan, eksresi, reproduksi dan penyimpanan zat-zat penting
5. Nutrisi pakan dan ransum yang diberikan ke hewan uji berpengaruh signifikan terhadap bobot tikus dan organ internal tikus
4.2 Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, praktikan menyarankan:
1. Berhati-hati dalam menggunakan bahan kimia terutama obat bius
2. Utamakan etika dalam pembedahan hewan tikus sesuai aturan yang ada
3. Teliti dalam melakukan pembedahan tanpa merusak organ dan jaringan pembuluh darah 4. Ikuti SOP praktikum yang berlaku
DAFTAR PUSTAKA
Aledani, A. H. E., Khudhair, N. A., & Alrafas, H. R.
(2020). Effect of different methods of anesthesia on physiobiochemical parameters in laboratory male rats. Basrah Journal of Veterinary Research, 19(1), 206-214.
Anto, V. A. (2023) Pengaruh malnutrisi terhadap perilaku dan indeks organ pada tikus yang
diinduksi pakan formulasi rendah protein.
Journal Pharmacy Of Tanjungpura, 1(1).
Chang, C. Y., Wu, M. Y., Chien, Y. J., Su, I. M., Wang, S. C., & Kao, M. C. (2021). Anesthesia and long-term oncological outcomes: a systematic review and meta-analysis. Anesthesia &
Analgesia, 132(3), 623-634.
Citra, Mutiarahmi., Hartady, T. & Lesmana, R. (2021).
Kajian Pustaka: Penggunaan Mencit Sebagai Hewan Coba di Laboratorium yang Mengacu pada Prinsip Kesejahteraan Hewan. Jurnal Indonesia Mediscus Veterinus, 10(1): 134-145 Fasitasari M. Terapi Gizi pada Lanjut Usia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
Sains Medika. 2013; 5(1): 50-54
Hebel, R., & Stromberg, M. W. (1976). Anatomy of the laboratory rat.
Padang, V. G., de Queljoe, E., & Mansauda, K. L. R.
(2020). Efek Pemberian Ekstrak Etanol Buah Pare (Momordica Charantia L.) Terhadap Gambaran Histopatologi Organ Hepar Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar (Rattus Novergicus L.). Jurnal MIPA, 9(2), 106-112.
Purnak, T., & Yilmaz, Y. (2013). Liver disease and malnutrition. Best practice & research Clinical gastroenterology, 27(4), 619-629.
Rejeki, P. S., Putri, E. A. C., & Prasetya, R. E. (2019).
Ovariektomi pada tikus dan mencit.
Widayana, K. A. (2022). Pemeriksaan Radiologi dan Imaging untuk Perforasi Hollow Organ Abdomen. Cermin Dunia Kedokteran, 49(1), 50-56.
Zainuddin, n. A. (2021). Gambaran histopatologi hati pada tikus putih (rattus norvegicus) jantan orchiectomy dan betina ovariohysterectomy (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin)
DOKUMENTASI
Gambar 1. Tikus Percobaan 30 hari
5 Gambar 2. Tikus diikat ke styrofoam
Gambar 3. Pembedahan tikus dengan gunting bagian bawah perut
Gambar 4. Pengambilan organ dari tikus
Gambar 5. Tikus yang sudah dipisahkan dengan organ
Gambar 6. Organ-organ tikus
Gambar 7. Penimbangan Berat Organ Tikus