PENGENALAN VAKSINASI HPV OLEH KOALISI INDONESIA CEGAH KANKER SERVIKS DENGAN PENDEKATAN TEORI DIFUSI INOVASI
Dosen Pengampu: Dr. Muh. Arsyad Rahman, S.KM., M.Kes.
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 11
RIFKA FATURUNISAH (K011221073) MUHAMMAD ALFITRAH YASIR (K011221082) ALMA DAMAYANTI LASANANG (K011221084) NURUL SYAHRI RAMADHANI SYAM (K011221096)
PMBERDAYAAN DAN PENGORGANISASIAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2023
1. Elemen Utama Difusi Inovasi
Terdapat empat elemen utama yang mempengaruhi proses difusi inovasi dalam menentukan sebuah inovasi dapat diterima oleh penerima adopsi, yaitu inovasi, waktu, saluran komunikasi, dan sistem sosial (Rogers, 2003). Berikut adalah pembahasan mengenai empat elemen tersebut, yaitu:
a. Inovasi
Program Vaksinasi HPV diperkenalkan sebagai langkah inovatif dalam upaya pencegahan penyakit kanker serviks. Pendekatan ini berusaha mengatasi tantangan kesehatan yang signifikan, terutama terkait dengan dampak kesehatan masyarakat. Inovasi ini menargetkan peningkatan tingkat adopsi dengan menggabungkan elemen-elemen kunci pembangunan kesehatan masyarakat.Program Vaksinasi HPV ini tidak hanya berfokus pada aspek pencegahan penyakit, tetapi juga berusaha menangani dampak sosial dan ekonomi yang mungkin timbul. Dengan pendekatan ini, program Vaksinasi HPV tidak hanya menjadi suatu inovasi dalam pencegahan penyakit kanker serviks, tetapi juga sebuah upaya terpadu untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
b. Saluran komunikasi
Menurut Rogers, saluran komunikasi digambarkan sebagai penghubung antara komunikator dan komunikan untuk menyampaikan pesan. Dalam proses difusi inovasi pengenalan vaksinasi HPV yang dilakukan oleh Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KICKS), menggunakan saluran komunikasi berbentuk media massa dalam bentuk pemberitaan dan kerja sama dengan beberapa jenis media massa baik cetak, broadcast, maupun online. Dengan menggunakan media massa, akan semakin banyak orang yang terkena pesan sehingga dapat mencakup stakeholder yang menjadi sasaran dari program yang dilakukan KICKS ini. KICKS juga menggunakan saluran komunikasi interpersonal melalui penyuluhan dan edukasi kepada berbagai pihak terkait dengan menggunakan berbagai macam pendekatan. Menurut Rogers, saluran komunikasi interpersonal lebih efektif dalam membujuk individu untuk mengadopsi suatu inovasi yang melibatkan tatap muka antara dua orang atau lebih. Selain itu, edukasi juga
dilakukan di berbagai media, seperti adanya online clinic di media sosial, juga penyuluhan yang dilakukan di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), sekolah, rumah sakit, Perusahaan, hingga di pusat perbelanjaan.
c. Jangka waktu
Jangka waktu proses difusi inovasi pengenalan vaksinasi HPV yang dilakukan oleh Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KICKS) dapat ditinjau dari lamanya durasi proses penerimaan inovasi tersebut yang terdiri dari lima tahap, yaitu tahap pengetahuan, tahap persuasi, tahap keputusan, tahap implementasi, hingga tahap konfirmasi. Proses difusi inovasi oleh KICKS ini masih berada di tahap persuasi yang dimana menurut Rogers pada tahap ini seseorang akan secara aktif mencari informasi terkait inovasi dan yang terpenting dalam tahap persuasi ini yaitu pesan apa yang diterima dan bagaimana menginterpretasikannya. Pada tahap persuasi ini, KICKS menggunakan pendekatan dan strategi sesuai dengan teori yang ada seperti pemilihan media, pengolahan pesan, penggunaan opinion leader, dan sebagainya. Akhirnya, mulai banyak masyarakat yang telah mengenal vaksinasi HPV melalui kegiatan yang dilakukan oleh KICKS ini.
d. Sistem sosial
Sistem sosial atau target khalayak dalam proses difusi inovasi pengenalan vaksinasi HPV yang dilakukan oleh Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KICKS) yaitu seluruh masyarakat Indonesia khususnya wanita remaja, dewasa, dan sudah menikah. Selain itu, terdapat beberapa stakeholder sebagai target komunikasi, yaitu pemerintah, pembuat kebijakan, pemimpin opini (opinion leader), media, organisasi medis, dan organisasi non medis. Strategi yang digunakan dalam kegiatan KICKS ini yaitu melibatkan peran opinion leader sebagai komunikator dan perpanjangan tangan yangmembantu menyebarluaskan pesan terkait pengenalan vaksinasi HPV kepada masyarakat. Opinion leader dalam kegiatan ini terdiri dari duta kanker serviks yang berasal dari kalangan selebritis Indonesia dan beragam organisasi baik organisasi medis maupun non medis. Para dokter dan ahli kandungan juga berperan secara aktif dalam membantu menyebarkan pesan untuk mengenalkan vaksinasi HPV kepada
masyarakat sebagai upaya program pencegahan kanker serviks dengan melibatkan para ahli.
2. Tahap Proses Adopsi Inovasi
Adopsi inovasi terdiri atas beberapa tahap proses, yaitu a. Tahap munculnya pengetahuan
Dalam proses adopsi inovasi dimulai dengan individu atau kelompok mengetahui keberadaan suatu inovasi. Pada tahap awal ini, perhatian terhadap inovasi diperkuat untuk menciptakan pemahaman bahwa inovasi tersebut mungkin menjadi kebutuhan. Peran agen perubahan, terutama humas, menjadi sangat signifikan untuk mengatasi perbedaan dan membangun kesamaan dengan target audiens.Humas KICKS berperan sebagai agen perubahan dalam pengenalan vaksinasi HPV. Mereka menggunakan strategi kampanye kehumasan yang disebut CegahKankerServiks. Dalam kampanye ini, pemimpin opini, termasuk para ahli, dokter, dan selebriti, dimaksimalkan sebagai komunikator. Ini menciptakan suatu perubahan dengan membangun kesadaran akan pentingnya vaksinasi HPV.Humas juga KICKS berhasil menyampaikan informasi dasar terkait inovasi, termasuk definisi inovasi, manfaat, kelebihan, dan sebagainya melalui berbagai media, upaya ini menciptakan dasar pemahaman yang diperlukan sebelum individu atau kelompok mempertimbangkan adopsi inovasi.
b. Tahap persuasi
Dalam pengenalan vaksinasi HPV oleh KICKS, terdapat tahap persuasi yang penting dalam proses adopsi inovasi. Pada tahap ini, individu secara aktif mencari informasi tentang inovasi dan pentingnya pesan yang diterima serta bagaimana menginterpretasikannya. KICKS telah melakukan control messages dalam berbagai kegiatan baik online maupun offline untuk mempengaruhi pembentukan sikap positif terhadap vaksinasi HPV yang diperkenalkan. Selain itu, humas KICKS juga mempertimbangkan peserta kegiatan, media yang digunakan, komunikator, dan sebagainya guna mempengaruhi persuasi dan pembentukan sikap positif terhadap inovasi yang diperkenalkan.
c. Tahap keputusan
Dalam tahap difusi inovasi, keputusan merupakan salah satu elemen penting.
Tahap keputusan terjadi ketika individu atau unit pengambil keputusan lainnya menentukan apakah akan mengadopsi atau menolak suatu inovasi. Dalam konteks kegiatan KICKS, tidak semua masyarakat yang terkena pesan memutuskan untuk melakukan adopsi inovasi, bahkan beberapa menolak uji coba. Namun, sikap positif masyarakat terkait kegiatan KICKS mulai terlihat, seperti antusiasme warga dalam menghadiri kegiatan, permintaan seminar, kesediaan melakukan tes pap smear, dan kolaborasi dengan pihak lain.
Implementasi inovasi terjadi ketika individu atau unit pengambil keputusan lainnya menggunakan inovasi, dan pada tahap ini terdapat perubahan perilaku yang jelas karena suatu ide, pemikiran, dan objek benar-benar diterapkan.
d. Tahap implementasi
Implementasi kegiatan KICKS masih belum terjadi saat ini, tetapi sikap positif masyarakat terkait kegiatan KICKS mulai terlihat. Hal ini ditunjukkan oleh antusiasme warga dalam menghadiri kegiatan, permintaan seminar, kesediaan melakukan tes pap smear, dan banyaknya pihak yang datang untuk melakukan kolaborasi. Namun, masih banyak target khalayak yang belum masuk ke tahap implementasi karena adanya tipe penerima adopsi yang berbeda- beda, waktu, harga. Dalam tahap ini, humas KICKS berperan sebagai agen perubahan yang mewakili perusahaan untuk menciptakan perubahan.
e. Tahap konfirmasi
Tahap konfirmasi muncul ketika individu atau unit pengambil keputusan mencari dukungan atau penguatan terhadap keputusan yang telah diambil. Pada tahap ini, individu yang sebelumnya telah mengadopsi inovasi dapat
mengonfirmasi atau menolak keputusan tersebut. Peran khusus humas KICKS sebagai agen perubahan menjadi sangat penting di sini. Setelah melakukan berbagai upaya untuk memastikan individu membuat keputusan yang diharapkan, agen perubahan sekarang harus menyediakan pesan pendukung kepada mereka yang telah mengadopsi inovasi.Tugas ini memerlukan upaya berkelanjutan, dengan memberikan informasi secara aktif melalui berbagai saluran komunikasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah individu terpapar pesan
negatif yang mungkin dapat menggoyahkan keputusan adopsi. Saat ini, upaya pengenalan vaksinasi HPV oleh KICKS belum sepenuhnya mencapai tahap konfirmasi ini.
3. Karakteristik Adopter
Karakteritstik penerima adopsi dalam pengenalan vaksin HPV oleh KICKS di Jabodetabek sangat beragam. Hal ini dapat terjadi karena Masyarakat memiliki latar belakang yang berbeda sehingga memengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk memilih mengadopsi atau tidak mengadopsi inovasi tersebut. Faktor yang paling memengaruhi keputusan tersebut umumnya adalah faktor ekonomi serta pengetahuan masyarakat. Humas KICKS menyatakan bahwa masyarakat menunjukkan sikap positif terkait kegiatan KICKS yang ditunjukan dari antusiasme warga dalam menghadiri kegiatan, permintaan seminar, kesediaan melakukan tes pap smear, serta banyaknya pihak yang datang untuk melakukan kolaborasi. Hal ini berarti Masyarakat tersebut umumnya merupakan early mayority dan late mayority. Dalam kegiatan KICKS, salah satu strategi utama yang digunakan adalah dengan memaksimalkan peran pemimpin opini dalam memperkenalkan inovasi. Penggunaan opinion leader ini terdiri dari beragam pihak, mulai dari selebriti, duta kanker serviks, ahli kanker, ahli kandungan, dan lainnya yang akan aktif terlibat sebagai komunikator dan perpanjangan tangan. Memaksimalkan penggunaan opinion leader sebagai early adopter yang telah dikenal oleh banyak Masyarakat merupakan strategi agar lebih mudah membangun kepercayaan Masyarakat, menyampaikan pesan, dan melakukan observasi
4. Hambatan dalam Proses Difusi Inovasi
Hambatan yang dihadapi oleh KICKS dalam mengenalkan vaksinasi HPV adalah belum selesainya tahapan dalam proses keputusan inovasi karena adanya tipe penerima adopsi yang berbeda-beda dan jangka waktu kegiatan yang masih dikategorikan baru. Selain itu, harga vaksin yang masih tergolong mahal dan belum maksimalnya penerapan karakteristik inovasi dalam mengenalkan vaksinasi HPV juga menjadi hambatan dalam proses difusi inovasi ini.
Hambatan serupa juga dijelaskan dalam beberapa penelitian bahwa dalam proses
keputusan inovasi, tipe penerima adopsi yang berbeda akan memerlukan upaya dan waktu yang berbeda pula. Hambatan tersebut dapat diatasi apabila KICKS terus mengembangkan dan memberikan infomasi yang sesuai dan menarik bagi para target khalayak dengan menggunakan berbagai saluran komunikasi seiring berjalannya waktu.
Referensi
Sutjipto, A. M., & Pinariya, J. M. (2019). Pengenalan Vaksinasi Hpv Oleh Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks Dengan Pendekatan Teori Difusi Inovasi. WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 18(2), 203- 214.