Pengendalian Risiko Kecelakaan Kerja Menggunakan Metode HIRA dan HAZOP
(Studi Kasus: WL Alumunium, Yogyakarta)
Manggala Maulana Mahardhika1, Cahyono Sigit Pramudyo 2*
1,2Program Studi Teknik Industri, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia
*Koresponden email: [email protected]
Diterima: 22 Desember 2022 Disetujui: 1 Februari 2023
Abstract
This study aims to identify and analyze potential hazards based on the AS/NZS 4360 risk matrix in the WL Aluminum production section as a form of initial review of the implementation of Occupational Health and Safety Management System (OHSMS). The method in this study adopts the Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) approach to identify the source of hazard, along with risk assessment. On the other hand, the Hazard and Operability Study (HAZOP) method is used to analyze the causes, impacts, and control of hazards that must be carried out. The results showed 34 validated hazard sources where 9% were in the extreme hazard category, 59% in the high hazard category, 20% in the moderate hazard category, and 12% in the low hazard category. Suggestions for improvement are made with the help of the HAZOP analysis worksheet based on the known priority scale of potential hazards and 48 risk controls were obtained in this study case. Risk control measures follow the basic hierarchy of OHSAS 18001 risk control, namely substitution, technical, administrative, and personal protective equipment. Risk control is also based on the AS/NZS 4360 control strategy in the form of emphasizing the probability level and severity of a risk.
Keywords: OHSMS, HIRA, HAZOP, hazard, workplace accident
Abstrak
Penelitian dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis potensi bahaya berdasarkan matriks risiko AS/NZS 4360 pada bagian produksi WL Aluminium sebagai bentuk tinjauan awal penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Metode pada penelitian ini mengadopsi pendekatan Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) untuk melakukan identifikasi pada sumber bahaya, beserta penilaian risikonya, sedangkan metode Hazard and Operability Study (HAZOP) digunakan untuk menganalisis penyebab, dampak, serta pengendalian bahaya yang harus dilakukan. Penelitian menunjukkan 34 sumber bahaya dimana 9% diantaranya berada pada kategori bahaya extreme, 59% pada kategori bahaya high, 20% pada kategori bahaya moderate, dan 12% pada kategori bahaya low. Usulan perbaikan dibuat dengan bantuan lembar kerja analisis HAZOP berdasarkan skala prioritas potensi bahaya yang telah diketahui dan diperoleh sebanyak 48 tindakan perbaikan. Tindakan pengendalian risiko yang diusulkan mengikuti hierarki pengendalian risiko OHSAS 18001 yaitu substitusi, teknis, administratif, dan penggunaan APD. Pengendalian risiko juga didasarkan pada strategi pengendalian AS/NZS 4360 berupa penekanan tingkat kemungkinan dan penekanan tingkat keparahan suatu risiko.
Kata Kunci: SMK3, HIRA, HAZOP, sumber bahaya, kecelakaan kerja.
1. Pendahuluan
Manusia yang menjadi salah satu sumber daya yang ada di suatu perusahaan dan menjadi sebuah aset yang sangat bernilai. Manusia akan bekerja dengan produktif apabila bekerja di tempat dan situasi yang nyaman dan aman [1]. Situasi tempat kerja yang aman dan nyaman dapat terjadi jika keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terjamin oleh perusahaan. Hal itu dapat disebabkan faktor-faktor seperti kondisi yang memiliki risiko kecelakaan kerja, alat yang berbahaya, perilaku karyawan yang berbahaya, dan kondisi fisik para karyawan dapat dikendalikan [2].
K3 diatur dalam sebuah sistem yang dinamakan sistem manajemen K3 (SMK3). SMK3 wajib diterapkan pada badan usaha yang dianggap memiliki potensi bahaya tinggi. Potensi bahaya tinggi adalah potensi yang dapat berakibat pada proses produksi yang terganggu, pencemaran lingkungan kerja, dan kecelakaan kerja yang mengakibatkan adanya korban jiwa [3]. Salah satu contoh badan usaha dengan potensi bahaya tinggi adalah badan usaha peleburan dan pengecoran logam seperti WL Aluminium.
WL Aluminium merupakan salah satu usaha kecil menengah (UKM) berbasis peleburan dan pengecoran logam yang berlokasi di Yogyakarta dengan produksi berupa alat rumah tangga berbahan dasar
aluminium. SMK3 yang belum diterapkan pada WL Aluminium berimbas pada kecelakaan kerja yang tidak terdokumentasi secara jelas dan rinci, sehingga menyebabkan kecelakaan pada bagian produksi sering terulang kembali dan sulitnya melakukan pengendalian pada sumber bahaya penyebab kecelakaan. Selain itu, tidak maksimalnya pengendalian risiko pada penekanan tingkat kemungkinan dan keparahan risiko, hanya ditutup dengan pengendalian yang bersifat mengalihkan suatu risiko. Pengalihan risiko menggunakan asuransi hanya berkaitan dengan nilai aset saja dan tidak berkaitan dengan risiko lain, seperti kehilangan pelanggan, tuntutan hukum, dan menurunnya citra perusahaan [4].
WL Aluminium memiliki target pemenuhan stok pengaman yang tinggi untuk 260 nomor, untuk produk berukuran kecil berada di angka 500–700 produk per nomor, dan produk berukuran sedang hingga besar berada di angka 250 produk per nomornya. Pemenuhan target yang tinggi tidak akan bisa dicapai apabila keselamatan kerja para karyawan tidak terjamin oleh perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan adanya metode yang bersifat proaktif dalam mengidentifikasi sumber bahaya, sehingga nantinya potensi bahaya yang ada bisa dikendalikan sesuai dengan hasil penilaian dan analisis risiko kecelakaan kerja yang telah dilakukan. Metode yang relevan dengan permasalahan tersebut ialah Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA), dipadukan dengan metode Hazard and Operability Study (HAZOP).
2. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan mengadopsi metode HIRA dan HAZOP dimana HIRA merupakan metode utama yang digunakan untuk mencegah kecelakaan kerja dengan pendekatan pencegahan yang bersifat proaktif. Tujuan utama HIRA adalah untuk menilai risiko dan memprioritaskan risiko untuk menghilangkan bahaya dalam urutan yang diprioritaskan [5], [6]. Sedangkan, HAZOP bertujuan untuk menemukan penyimpangan, mengidentifikasi penyebab, dan memperkirakan akibat, serta pengendaliannya dengan bantuan lembar kerja HAZOP [7]–[10].
Metode HIRA dan HAZOP digunakan pada WL Aluminium untuk menganalisis potensi bahaya yang ada, dengan didukung metode pengumpulan data berupa: i) observasi, ii) wawancara, iii) pengukuran, dan iv) kuesioner. Observasi dilakukan secara langsung terhadap kegiatan yang tengah berlangsung.
Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi tentang risiko kecelakaan kerja yang mungkin terjadi atau pernah terjadi secara lebih mendalam. Pengukuran dilakukan untuk menentukan kondisi lingkungan fisik bagian produksi. Kuesioner dilakukan dengan pendampingan secara individual oleh peneliti pada pekerja dengan kriteria minimal setingkat pengawas yang memiliki pengetahuan juga pengalaman di bidang manajemen risiko K3.
Berdasarkan penelitian [11], implementasi metode HIRA pada suatu studi kasus dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
1. Memahami keseluruhan proses produksi
2. Mengidentifikasi sumber bahaya dengan berdasar pada observasi, wawancara, pengukuran, dan kuesioner
3. Melakukan analisis risiko berdasarkan penilaian risiko yang telah dilakukan, dengan rumus penentuan level risiko AS/NZS 4360 sebagai berikut:
Nilai risiko = Tingkat keparahan × Tingkat kemungkinan
Sedangkan, implementasi HAZOP ditunjukkan dengan lembar kerja HAZOP yang dibuat berdasarkan hasil dari metode HIRA, dengan langkah sebagai berikut:
1. Melakukan klasifikasi potensi bahaya yang ditemukan pada proses produksi 2. Mendeskripsikan penyimpangan yang terjadi selama proses produksi berlangsung 3. Mendeskripsikan sebab dari penyimpangan
4. Mendeskripsikan kerugian yang muncul akibat penyimpangan 5. Menentukan tindakan yang bisa dilakukan
3. Hasil dan Pembahasan
Identifikasi sumber bahaya dilakukan pada bagian produksi WL Aluminium dengan melibatkan studi literatur, observasi, dan wawancara. Sumber bahaya yang telah teridentifikasi nantinya akan melalui uji content validity ratio (CVR), guna mengetahui apakah temuan bahaya telah merepresentasikan keadaan sebenarnya pada bagian produksi WL Aluminium. Hasil identifikasi sumber bahaya menunjukkan sebanyak 40 sumber bahaya yang tersebar ke berbagai area produksi, dengan 6 sumber bahaya dinyatakan tidak valid dikarenakan nilai CVR hitung kurang dari batas kritis nilai CVR, sehingga kurang merepresentasikan keadaan yang sebenarnya dari proses produksi WL Aluminium.
Penilaian dan analisis risiko dilakukan pada 34 sumber bahaya yang telah dinyatakan valid dengan bantuan kuesioner. Kuesioner merujuk kepada penilaian terhadap variabel risiko yang ada, yaitu frekuensi risiko kecelakaan dan pengaruhnya terhadap perusahaan. Kuesioner melibatkan responden yang memiliki pengetahuan juga pengalaman di bidang manajemen risiko K3. Tabel hasil penilaian dan analisis risiko dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil penilaian dan analisis risiko No. Lokasi Penjelasan
Bahaya Risiko Sumber
Bahaya S L
Nilai Risiko
(S×L)
Kategori Risiko
A1
Keseluruhan area produksi
Kurangnya rambu-rambu perusahaan dan sebagian penempatannya tidak mengikuti aturan
Pekerja lalai akan kecelakaan kerja dan muncul rasa panik saat keadaan darurat sebab minim petunjuk
Rambu K3 3 5 15 E
A2
Keseluruhan area produksi
P3K tidak diisi dan digunakan sebagaimana mestinya
Penanganan korban kecelakaan
terlambat
P3K 2 4 8 H
A3
Keseluruhan area produksi
Toilet jarang mengalami perawatan
Penyebaran penyakit terutama pada kulit dan kelamin
Toilet 2 2 4 L
A4
Keseluruhan area produksi
APAR sulit dijangkau dan tidak ada rambu khusus
Kebakaran tidak dapat ditangani secara cepat
APAR 1 4 4 M
A5
Keseluruhan area produksi
Pekerja menempatkan gelas minum terlalu dekat dengan sumber listrik dan paparan hazard
Korsleting listrik pada stopkontak dan genset, serta risiko mengonsumsi bahan berbahaya
Penempatan
air minum 4 5 20 E
B6 Gudang
bahan baku
Penempatan bahan baku rosok seadanya dan besi rosok terkadang mencuat
Tertimpa besi rosok atau tergores besi rosok
Posisi besi
rosok 2 4 8 H
C7 Peleburan
Terpapar suhu ruang sebesar 35,7℃ dan kelembapan 58%
yang melebihi aturan yang dianjurkan dan menyebar ke area produksi lain
Pekerja mengalami heat cramps bahkan dapat berlanjut ke heat stroke
Tungku
peleburan 1 5 5 H
C8 Peleburan
Debu peleburan turun kembali dan sebagian lainnya
menyebar ke area produksi lain
Masalah pernafasan bagi pekerja dan masyarakat sekitar
Debu
peleburan 2 4 8 H
C9 Peleburan
Pekerja tidak memakai sarung tangan anti panas saat mengambil aluminium cair
Kulit melepuh saat mengambil aluminium cair
Alat pengambil aluminium cair panas
2 5 10 H
No. Lokasi Penjelasan
Bahaya Risiko Sumber
Bahaya S L
Nilai Risiko
(S×L)
Kategori Risiko
C10 Peleburan
Pekerja terpapar dan menghirup uap logam aluminium cair
Sesak nafas dan merusak fungsi dari paru-paru jika terpapar logam fume group A
Uap logam
aluminium 1 5 5 H
D11 Pencetakan
Pengait untuk mengambil produk seluruhnya terbuat dari besi tanpa
memperhatikan data
antropometer
Kurang nyaman dan berakibat cedera saat tangan pekerja mengambil produk
Peralatan tidak memperhi-
tungkan antropometri
1 5 5 H
D12 Pencetakan
Tidak terdapat penutup pada bagian aktif di sekitar saklar
Tersetrum saat menekan saklar
Kelistrikan
terbuka 3 2 6 M
D14 Pencetakan
Alat untuk membersihkan lubang cetakan kurang
memperhatikan antropometri dan faktor
keselamatan
Kulit pekerja melepuh atau mengalami luka bakar ringan sampai sedang
Peralatan tidak memperhi-
tungkan antropometri
2 5 10 H
D15 Pencetakan
Produk panas ditempatkan di tengah aisle
Kulit pekerja melepuh
Penempatan produk
panas
2 4 8 H
E17 Rekayasa
Tidak adanya prosedur
pemakaian mesin circular saw
Terkena mesin circular saw
Bahaya mekanikal
mesin circular saw
3 2 6 M
E18 Rekayasa
Tidak menggunakan sarung tangan tahan panas saat mengoperasikan mesin las
Kulit melepuh terkena percikan las dan filler metal panas
Percikan las dan filler metal panas
1 4 4 M
F19 Pengikiran
Pekerja hanya menggunakan kapas sebagai penutup telinga
Telinga pekerja sakit dan tidak nyaman
Peralatan
keamanan 1 5 5 H
F20 Pengikiran
Pekerja pengikiran bekerja dalam posisi kurang baik
Punggung pekerja linu dan sakit
Postur
operator 2 5 10 H
F21 Pengikiran
Pekerja terpapar dan menghirup debu pengikiran
Sesak nafas dan pneumoconiosis
Debu hasil
pengikiran 1 5 5 H
G22 Pengeboran
Kursi sudah rapuh dan hanya diperkuat menggunakan tali
Pekerja jatuh dan berakibat fatal jika terkena tulang ekor maupun kepala bagian belakang
Kursi rapuh 2 1 2 L
H24 Pengepresan
Pekerja tidak memakai sarung tangan saat
Tersayat pisau Mata pisau 2 2 4 L
No. Lokasi Penjelasan
Bahaya Risiko Sumber
Bahaya S L
Nilai Risiko
(S×L)
Kategori Risiko memperbaiki
ukuran gagang kayu produk
H25 Pengepresan
Tidak terdapat meja kerja pada proses
pemasangan gagang aluminium produk
Terpukul palu dan paha linu
Tidak terdapat
meja
2 3 6 M
I26 Pembubutan
Pekerja tidak memakai APD lengkap saat melakukan pembubutan
Terkena lesatan scrap/gram panas hasil pembubutan
Gram panas hasil pembubutan
1 2 2 L
I28 Pembubutan
Mesin tidak memiliki pelindung pada bagian yang berputar dan tidak ada tombol emergency stop
Terluka akibat mesin bubut
Bahaya mekanikal mesin bubut
3 2 6 M
I29 Pembubutan
Hasil pembubutan yang menumpuk hanya dibuang ketika jam kerja akan selesai
Tertusuk gram hasil pembubutan
Gram hasil
pembubutan 2 3 6 M
J30 Polish kasar
Pengukuran kebisingan suara metode titik sampling terkadang melebihi NAB dengan hasil minimal 75 dBA, rata-rata 84 dBA, dan maksimal 87 dBA
Telinga pekerja sakit karena terlalu bising
Kebisingan 1 5 5 H
J31 Polish kasar
Pekerja terpapar debu logam hasil polish kasar
Sesak nafas dan gangguan fungsi paru-paru
Debu logam 1 5 5 H
J32 Polish kasar
Pekerja polish kasar bekerja dalam posisi kurang baik
Leher pekerja cepat merasa lelah dan sakit
Postur
operator 1 5 5 H
J33 Polish kasar
Penataan kabel dan stopkontak yang tidak rapi dan berada di tengah area polish kasar
Jatuh tersandung
kabel gerinda Posisi kabel 1 5 5 H
J35 Polish kasar
Pekerja polish kasar tidak memakai APD lengkap maupun perusahaan salah dalam pengadaan APD
Tubuh tergores bahkan terpotong mesin gerinda
Mata
gerinda 4 3 12 E
No. Lokasi Penjelasan
Bahaya Risiko Sumber
Bahaya S L
Nilai Risiko
(S×L)
Kategori Risiko K36 Polish halus
Pekerja terpapar bahan kimia polish halus
Iritasi dan gatal-
gatal pada kulit Bahan kimia 1 5 5 H
L38 Gudang barang jadi
Produk pada bagian atas ditutup dengan produk yang tidak terpakai
Tertimpa produk maupun tangga
Posisi produk paling atas
2 5 10 H
Sumber: Hasil pengolahan data (2022)
Berdasarkan data pemetaan risiko sesuai tingkat risikonya pada Tabel 1, diperoleh hasil bahwa dari 34 variabel risiko yang telah tervalidasi, terdapat 3 potensi bahaya tingkat extreme dengan persentase 9%, 20 potensi bahaya tingkat high dengan persentase 59%, 7 potensi bahaya tingkat moderate dengan persentase 20%, dan 4 potensi bahaya tingkat low dengan persentase 12%. Persentase tingkatan risiko berdasarkan nilai risiko yang telah diperoleh dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Persentase tingkat risiko Sumber: Hasil pengolahan data (2022)
Tingkat risiko extreme sebesar 9% harus menjadi prioritas untuk didahulukan pengendaliannya dibanding dengan tingkat risiko dibawahnya. Dominasi risiko tingkat high dipengaruhi oleh faktor kemungkinan munculnya potensi bahaya pada tingkat tersebut yang juga tinggi, yaitu sebesar 4,57. Nilai dari faktor kemungkinan ini terhitung besar karena mendekati nilai maksimalnya yaitu 5, sehingga diperlukan usulan perbaikan untuk mengurangi kemungkinan timbulnya potensi bahaya yang ada di WL Aluminium.
Tingginya variabel risiko yang ada sejalan dengan penggunaan tujuan HAZOP, yaitu untuk mencari tindakan yang berupa solusi dengan tujuan mengurangi tingkatan dari suatu variabel risiko atau bahkan dapat menghilangkan suatu bahaya penyebab risiko tersebut [12]. Tindakan pengendalian risiko akan dibahas dalam lembar kerja HAZOP berdasarkan sumber bahaya yang telah diidentifikasi menggunakan metode HIRA, guna menyederhanakan analisis dan pembahasan data yang telah diperoleh. Risiko pada kategori extreme pada hasil penilaian dan analisis risiko harus diprioritaskan untuk segera diperbaiki [11].
Contoh pengendalian pada risiko dengan kategori extreme dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Lembar kerja HAZOP tingkat Extreme No. Kata
Panduan Penyimpangan Penyebab Akibat Nilai
Risiko Tindakan
A5 Other than
Pekerja menempatkan gelas minum terlalu dekat dengan sumber listrik dan paparan hazard
Tempat menaruh gelas terlalu dekat dengan sumber listrik
Korsleting listrik pada stopkontak dan genset, serta risiko mengonsumsi bahan berbahaya
20
Substitusi: Mengganti tempat menaruh gelas pekerja dengan membuat tempat minum baru atau dengan pengadaan sumber air minum yang dekat dengan stasiun kerja pada jarak yang dianjurkan [13].
Teknis: Penempatan sumber air minum jauh dari area Extreme
9%
High 59%
Moderate 20%
Low 12%
No. Kata
Panduan Penyimpangan Penyebab Akibat Nilai
Risiko Tindakan
peleburan [14]. Tempat minum direkomendasikan berjarak 60 meter dari setiap stasiun dan tidak boleh terlalu dekat dengan sumber bahan berbahaya, tempat minum bisa diletakkan di dekat area loker pekerja maupun restroom perusahaan [15].
A1 Less
Kurangnya rambu-rambu perusahaan dan sebagian penempatannya tidak
mengikuti aturan
Perusahaan belum mengetahui aturan tentang penempatan rambu-rambu area produksi
Pekerja lalai akan kecelakaan kerja dan muncul rasa panik saat keadaan darurat sebab minim petunjuk
15
Administratif: Pengadaan dan penempatan rambu-rambu K3 pada perusahaan yang sesuai dengan standar dan pedoman teknis yang ada pada perusahaan [3]. Perusahaan juga dapat mengikuti standar rambu K3 internasional seperti OSHA 1910.145, ISO 3864- 1:2011, dan ANSI Z535.
J35 No
Pekerja polish kasar tidak memakai APD lengkap maupun perusahaan salah dalam pengadaan APD
Tidak terdapat rambu pengingat penggunaan APD serta sanksinya dan perusahaan belum mengetahui APD yang ideal
digunakan pada kondisi pekerjaan tersebut
Tubuh tergores bahkan terpotong mesin gerinda
12
Administratif: Membuat displai visual untuk mengingatkan para pekerja agar selalu menggunakan APD dan penegasan akan sanksi jika pekerja tidak memakai APD [16].
APD: Penggunaan APD berupa sarung tangan untuk meminimalisir akibat luka gores dan luka potong [16].
Sumber: Hasil Pengolahan Data (2022)
Tindakan pengendalian risiko pada penelitian ini dilakukan dengan memprioritaskan risiko pada tingkat extreme berdasarkan hierarki pengendalian risiko OHSAS 18001 dan strategi pengendalian risiko sesuai AS/NZS 4360, seperti memprioritaskan penekanan pada tingkat kemungkinan risiko yang kemudian dilengkapi dengan penekanan tingkat keparahan dan pengalihan risiko. Strategi pengendalian yang diprioritaskan adalah penekanan pada faktor kemungkinan sesuai dengan urutan strategi pengendalian yang ada, selain itu hasil penilaian risiko yang telah diperoleh menunjukkan nilai rata-rata dari nilai tingkat kemungkinan lebih mempengaruhi tingginya nilai risiko yaitu sebesar 4 dibandingkan dengan nilai tingkat keparahan sebesar 1,8.
4. Kesimpulan
Potensi bahaya yang diperoleh dari proses identifikasi sumber bahaya pada bagian produksi WL Aluminium berjumlah 34 sumber bahaya yang terbagi ke berbagai area produksi. Penilaian dan analisis risiko juga menunjukkan adanya 3 potensi bahaya tingkat extreme dengan persentase 9%, 20 potensi bahaya tingkat high dengan persentase 59%, 7 potensi bahaya tingkat moderate dengan persentase 20%, dan 4 potensi bahaya tingkat low dengan persentase 12%. Usulan perbaikan dilakukan dengan memprioritaskan risiko pada tingkat extreme berdasarkan hierarki pengendalian risiko OHSAS 18001 dan strategi pengendalian risiko berdasarkan AS/NZS 4360. Strategi dilakukan dengan memprioritaskan penekanan pada tingkat kemungkinan dibandingkan dengan tingkat keparahan. Hal ini dilakukan berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan rata-rata nilai tingkat kemungkinan yang lebih besar dari tingkat keparahannya, yaitu 4 berbanding 1,8.
5. Daftar Pustaka
[1] L. Lestary and Harmon, “Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan,” Ris. Bisnis Investasi, vol. 3, no. 2, pp. 94–103, 2017, doi: https://doi.org/10.35313/jrbi.v3i2.937.
[2] A. Musyafa and E. Zulfiana, “Risk Management and Hazard and Operability Study on Steam Turbine Power Plant Unit-5 in the Power Generation Paiton , East Java – Indonesia,” Am. Netw. Sci.
Inf., vol. 7, no. 5, pp. 510–518, 2013.
[3] Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, “Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.” Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, 2012.
[4] S. Ramli, Manajemen Risiko dalam Perspektif K3 OHS Risk Management, 2nd ed. Jakarta: Dian Rakyat, 2010.
[5] P. Eraiyanbu, M. Anbalagan, R. Prabhu, I. Sirajudeen, and P. Satheeshkumar, “Hazard Identification
& Risk Assessment with Human Error Analysis Method in Automotive,” Int. J. Innov. Res. Sci.
Eng. Technol., vol. 6, no. 8, pp. 131–145, 2017.
[6] N. Chartres, L. A. Bero, and S. L. Norris, “A review of methods used for hazard identification and risk assessment of environmental hazards,” Environ. Int., vol. 123, no. November 2018, pp. 231–
239, 2019, doi: 10.1016/j.envint.2018.11.060.
[7] L. Kotek and M. Tabas, “HAZOP study with qualitative risk analysis for prioritization of corrective and preventive actions,” Procedia Eng., vol. 42, no. 4, pp. 808–815, 2012, doi:
10.1016/j.proeng.2012.07.473.
[8] T. S. Nova and N. L. P. Hariastuti, “Analisa Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Metode HAZOPS dan Pendekatan Ergonomi (RULA dan REBA) di UD. Sekar Surabaya,” J.
SENOPATI, vol. 3, no. 2, pp. 63–73, 2021.
[9] Iva Mindayani, “Analisis risiko keselamatan dan kesehatan kerja dengan metode hazop dan pendekatan ergonomi (studi kasus: UD Barokah Bantul),” J. SIMETRIS, vol. 11, no. 1, pp. 31–38, 2020.
[10] C. Anwar, W. Tambunan, and S. Gunawan, “Analisis Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Dengan Metode Hazard and Operability Study (Hazop),” J. Mech. Eng. Mechatronics, vol. 4, no. 2, pp. 61–70, 2019, doi: 10.33021/jmem.v4i2.825.
[11] B. Suhardi, P. W. Laksono, V. E. A. Ayu, J. Mohd.Rohani, and T. S. Ching, “Analysis of the Potential Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) and Hazard Operability Study (HAZOP): Case Study,” Int. J. Eng. Technol., vol. 7, no. 3, pp. 1–7, 2018, doi:
10.14419/ijet.v7i3.24.17290.
[12] M. S. P. Budi and S. R. Gusmawarni, “Hazard Operability Study (HAZOP): Salah Satu Metode Untuk Mengidentifikasi Bahaya Dalam Manajemen Risiko,” J. Inov. Proses, vol. 6, no. 2, p. 6, 2021.
[13] International Labour Organization, “Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Tempat Kerja Sarana untuk Produktivitas,” International Labour Office. ILO, Jakarta, pp. 1–102, 2013, doi:
10.4337/9781849807692.00014.
[14] T. Farihah, “Manajemen Resiko dan Analisis Hazard sebagai Dasar Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja di UKM Logam ( Studi Kasus : WL Alumunium ),” Integr. Lab J., vol. 4, no. 1, pp. 77–86, 2016.
[15] J. A. Tompkins, J. A. White, Y. A. Bozer, and J. M. A. Tanchoco, Facilities Planning, Fourth. New York: John Wiley & Sons, 2010.
[16] Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, “Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.08/Men/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri.” Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jakarta, pp. 1–69, 2010.