• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Sosial Media Instagram MLDSPOT sebagai Media Informasi Gaya Hidup Komunitas MLDSQUAD

N/A
N/A
er y

Academic year: 2025

Membagikan " Penggunaan Sosial Media Instagram MLDSPOT sebagai Media Informasi Gaya Hidup Komunitas MLDSQUAD"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Mercu Buana Fakultas Ilmu Komunikasi

Bidang Studi Hubungan Masyarakat Allysa Lavenia Ginting

44214120043

Penggunaan Sosial Media Instagram MLDSPOT Sebagai Media Informasi Gaya Hidup Komunitas MLDSQUAD

Jumlah Halaman : xiv - 107 Bibliografi : 28 Buku + 13 Jurnal

ABSTRAK

Memasuki era digital menjadikan khalayak memiliki berbagai macam pilihan platform dalam mencari informasi. Manusia sebagai khalayak menuntut media menyajikan update informasi yang cepat namun mudah diakses. Hal inilah yang mengharuskan media juga mengikuti perkembangan teknologi agar tidak tertinggal atau ditinggalankan khalayak.

Generasi milenial merupakan khalayak yang mengandalkan teknologi digital dan media sosial untuk memenuhi kebutuhan akan informasi. Instagram sebagai new media merupakan media sosial yang sedang populer dalam kalangan generasi milenial. Hal tersebut dimanfaatkan oleh MLDSPOT untuk membangun media sosial Instagram dengan menyajikan informasi yang berfokus terhadap gaya hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana media sosial Instagram MLDSPOT digunakan sebagai media informasi gaya hidup Komunitas MLDSQUAD dalam pemenuhan kebutuhan informasi.

Penelitian ini menggunakan konsep four-step oleh Cutlip, Center & Broom: fact finding, planning, communicating, evaluating serta teori uses and gratifications. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara sebagai data primer dan observasi sebagai data sekunder. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan menggunakan teknik triangulasi.

Hasil penelitian menunjukan penggunaan sosial media Instagram @MLDSPOT melalui sebuah tahapan. Melalui tahapan fact finding diperoleh target khalayak serta kebutuhan informasi gaya hidup khalayak, dalam tahapan planning diperoleh strategi dalam penyampaian informasi, dalam tahapan communicating diterapkan pendekatan persuasif dan edukatif, dan terakhir evaluating merupakan proses dimana MLDSPOT mengukur kesuksesan penyampaian informasi.

Kata kunci : Instagram, New Media, Konsep Four-Step, Teori Uses & Gratifications

(2)

Universitas Mercu Buana Fakultas Ilmu Komunikasi

Bidang Studi Hubungan Masyarakat Allysa Lavenia Ginting

44214120043

Penggunaan Sosial Media Instagram MLDSPOT Sebagai Media Informasi Gaya Hidup Komunitas MLDSQUAD

Pages : xiv - 107

Bibliography : 28 Books + 17 Journals

ABSTRACT

Entering the digital era, audiences have a variety of platform in finding information.

Humans as audiences demand that the media provied information updates that are fast but easily accessible. This is what requires the media to also follow technological developments so as not to be left behind or run by the public. Millennials are audiences that rely on digital technology and social media to meet information needs. Instagram as new media is a social media that is popular among millennials. This is used by MLDSPOT to build Instagram social media by providing information that focuses on lifestyle. The purpose of this research is to find out how Instagram MLDSPOT social media is used as an MLDSQUAD Community lifestyle information media in fulfilling information needs.

This study uses the four-step concept by Cutlip, Center & Broom: fact finding, planning, communicating, evaluating and the uses and gratifications theory. The research method used was descriptive qualitative with data collection techniques through interviews as primary data and observation as secondary data. Checking the validity of the data is done using triangulation technique.

The results of the study show the use of Instagram social media @ MLDSPOT through a stage. Through the fact finding stages obtained by the target audience and information needs of the public lifestyle, in the stages of planning obtained strategies in the delivery of information, in the stages of communicating applied persuasive and educative approaches, and finally evaluating is a process where the MLDSPOT measures the success of information delivery.

Keywords: Instagram, New Media, Four-Step Concept, Theory Uses & Gratifications

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PERNYATAAN MAHASISWA ... i

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI ... ii

LEMBAR TANDA LULUS SIDANG SKRIPSI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN PERBAIKAN SKRIPSI ... iv

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2 Fokus Penelitian ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 10

1.4 Manfaat Penelitian ...10

1.4.1. Manfaat Akademis ... 10

1.4.2. Manfaat Praktis ... 10

1.4.3. Manfaat Sosial ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Penelitian Terdahulu ... .... 11

2.2 Kajian Teoritis ... 21

2.2.1 Komunikasi ... 21

2.2.2 Konvergensi Media ... 27

2.2.3 Public Relations ... 28

2.2.4 Media Sosial ... 36

2.2.5 Gaya Hidup ... 44

(4)

2.2.6 Teori Uses & Gratifications ... 51

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 52

3.1 Paradigma Penelitian ... 52

3.2 Metode Penelitian ... 53

3.3 Subjek Penelitian ... 54

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 55

3.4.1 Data Primer ... 55

3.4.2 Data Sekunder ... 56

3.5 Teknis Analisis Data ... 57

3.6 Teknik Uji Keabsahan Data ... 58

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 61

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 61

4.1.1 Logo MLDSPOT ... 62

4.1.2 Struktur Pengelola Instagram MLDSPOT ... 62

4.2 Hasil Penelitian ... 63

4.2.1 Fact Finding ... 64

4.2.1.1 Focus Group Discussion ... 64

4.2.1.2 Analisis Fitur Instagram ... 70

4.2.2 Planning ... 75

4.2.2.1 Klasifikasi Konten ... 75

4.2.2.2 Tampilan Visual ... 80

4.2.2.3 Gaya Bahasa ... 81

4.2.2.4 Penggunaan Fitur Instagram ... 82

4.2.2.5 Progam Pendukung ... 83

4.2.3 Communicating ... 86

4.2.3.1 Sharing ... 86

4.2.3.2 Engage ... 88

4.2.3.3 Program Komunitas MLDSQUAD ... 88

(5)

4.2.4 Evaluating ... 91

4.2.4.1 Monitoring Insight ... 91

4.2.4.2 Focus Group Discussion ... 93

4.3 Pembahasan ... . 94

4.3.1 Gaya Hidup Komunitas MLDSQUAD ... . 95

4.3.2 Pengelolaan Instagram MLDSPOT Sebagai Media Informasi Gaya Hidup... . 96

4.3.3 MLDSPOT Sebagai Media Informasi Gaya Hidup Komunitas MLDSQUAD... 107

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 110

5.1 Simpulan ... 110

5.2 Saran ... 111

5.2.1 Saran Akademis ... 111

5.2.2 Saran Praktis ... 112

5.2.3 Saran Sosial ... 112 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Logo Instagram

Gambar 2.1 Profile Instagram MLDSPOT Gambar 3.1 Logo MLDSPOT

Gambar 4.1 Struktur Pengelola Instagram MLDSPOT

Gambar 5.1 Screenshot Interaksi MLDSPOT dengan Audiens Gambar 5.2 Konten MLDSPOT: Inspiring People

Gambar 5.3 Konten MLDSPOT: Inspiring Product Gambar 5.4 Konten MLDSPOT: Inspiring Place Gambar 5.5 Konten MLDSPOT: Inspiring Community Gambar 6.1 Tampilan Visual MLDSPOT

Gambar 7.1 Salah Satu Konten Instagram MLDSPOT

Gambar 8.1 Anggota Komunitas MLDSQUAD Dalam Kegiatan “Instaclass Human Interest Photography”, Menteng

Gambar 9.1 Anggota Komunitas MLDSQUAD Dalam Kegiatan “Instaclass Cityscape Photography”, Mandarin Oriental

Gambar 10.1 Anggota Komunitas MLDSQUAD Dalam Kegiatan “Instaclass Photo Hunting Sunrise”, Pangalengan

Gambar 11.1 Anggota Komunitas MLDSQUAD Dalam Kegiatan “MLDSQUAD Photo Hunting Tanjung Lesung”, Tanjung Lesung

Gambar 12.1 Contoh Fitur Insight Instagram

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Permohonan Menjadi Informan

Lampiran 2. Lembar Persetujuan Menjadi Informan Bayu Priadi

Lampiran 3. Lembar Persetujuan Menjadi Informan Andhika Fikri Pratama Lampiran 4. Lembar Persetujuan Menjadi Informan Armand Donida Lampiran 5. Lembar Persetujuan Menjadi Informan Arindina Janidya Lampiran 6. Hasil Wawancara dengan Bayu Priadi

Lampiran 7. Hasil Wawancara dengan Andhika Fikri Pratama Lampiran 8. Hasil Wawancara dengan Armand Donida Lampiran 9. Hasil Wawancara dengan Arindina Janidya Lampiran 10. Curriculum Vitae

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Perkembangan teknologi membuat kita tidak lagi mengandalkan cara-cara tradisional dalam mencari, memperoleh, berbagi dan menyebarkan informasi.

Banyak orang menyebut era sekarang sebagai era konvergensi media, hal tersebut merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi digital yang ada, khususnya karena keberadaan internet yang merupakan revolusi komunikasi yang sangat luas dan mendalam.

Secara sederhana, konvergensi media adalah proses bersatunya berbagai jenis media ke dalam sebuah media tunggal atau platform presentasi digital1. Menurut Briggs dan Bourke, dikutip dalam Dwyer di Media Convergence: Issues in Cultural and Media Studies, istilah konvergensi banyak digunakan sejak tahun 1990-an yang mana banyak dipakai dalam perkembangan teknologi digital, integrasi teks, angka, gambar, video, dan suara2.

Internet tidak bisa lepas kaitannya dengan konvergensi media. Internet, yang menjadi platform media dalam penyebaran informasi menjadi tren serta mempromosikan pengembangan konvergensi media yang masuk ke dalam daftar New Media atau media baru. Media baru adalah istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan

1Suryanto. 2018. Kapita Selekta Komunikasi. Bandung: CV Pustaka Setia, Hal. 154 2Ibid, Hal. 33

(9)

komunikasi pada akhir abad ke-20. Media baru juga merupakan istilah yang dipakai untuk semua bentuk media komunikasi massa yang berbasis teknologi komunikasi dan teknologi informasi. Teknologi yang masuk ke dalam media baru adalah digital, memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, mampat, interaktif dan tidak memihak.

Media sosial menjadi bagian dari new media atau media baru karena karakteristik dan cirinya. Media sosial tercipta untuk mendukung pengguna dalam berbagi informasi, mencari informasi serta membuat konten. Ketika Internet dan konvergensi media berinteraksi, media sosial mengekspresikan karakteristik kompetitif mereka. Ini menjadikan banyak media sosial memasukkan berbagai fungsi atau fitur dalam aplikasi untuk menunjang kebutuhan pengguna dan bersaing dengan media sosial lainnya.

Instagram adalah salah satu platform media sosial paling sukses dengan lebih dari 600 juta pengguna aktif bulanan dari seluruh dunia. Meskipun platform media sosial ini mungkin memiliki elemen yang mirip dengan media sosial lainnya seperti Twitter dan Snapchat, Instagram telah melampaui kedua media sosial ini dalam hal jumlah pengguna. Selain fitur berbagi foto di mana pengguna dapat menambahkan tagar (hashtag) agar lebih mudah ditemukan (seperti Twitter), pengguna Instagram juga dapat berbagi video berdurasi pendek dan mengunggah konten visual yang dilengkapi dengan sebuah deskripsi atau caption.

Wiltbank, dalam artikel “If You’re Not Using Instagram, You’re Already Behind” menyebutkan bagaimana Instagram menyediakan fitur analitik sederhana, sehingga memudahkan pengguna untuk menggunakannya sebagai platform iklan

(10)

dan media informasi. Dengan lebih dari 53 juta pengguna Instagram di Indonesia menurut WeAreSocial.net dan Hootsuite3, Instagram tidak diragukan lagi menjadi alat penyebaran dan berbagi informasi baik di kalangan publik serta perusahaan.

Salah satu survey yang dilakukan A. Jackson pada tahun 2017, menunjukkan bahwa Instagram adalah platform media sosial terpopuler kedua, dengan 59% pengguna online usia 18 - 29 tahun menggunakan Instagram.Instagram dianggap sebagai media sosial yang menarik karena media sosial ini fokus pada foto dan video durasi pendek, peningkatan citra dan hubungan reciprocal dibandingkan dengan media sosial lain yang berfokus pada kicauan4.

Instagram digunakan sebagai tempat membagikan segala macam kegiatan dan tempat berkeluh kesah. Dengan Instagram pengguna bebas berbagi cerita, pengalaman, tanpa dibatasi jarak dan waktu dengan followers-nya. Tidak ada batas dan privasi dalam Instagram, apapun yang kita bagikan dan orang lain bagikan dapat kita lihat. Selain itu, Instagram juga digunakan sebagai media untuk berbagi informasi mulai dari tempat wisata, kuliner, lowongan pekerjaan, maupun bisnis (jual beli).

Akun-akun pada Instagram mulai bermunculan sepanjang tahun 2015 hingga 2016, mulai dari akun dakwah, akun hiburan, akun resmi perusahaan, akun penyedia jasa dan lainnya. Selain itu, komunitas demi komunitas di Instagram pun bermunculan dan hal ini menjadi trend tersendiri dalam masyarakat

3Wiltbank, Krista. 2018. If You’re Not Using Instagram, You’re Already Behind. Diakses pada 02 Juni 2019 dari http://creativebrad.com/small-medium-sized-businesses-youre-not-using-instagram- youre-already-behind

4 Sakti, Yulianto. 2018. Penggunaan Media Sosial Instagram Dalam Pembentukan Identitas Diri Remaja. Jurnal Interaksi Online, Vol. 24 No. 4, hal. 49

(11)

Indonesia. Hingga sekarang komunitas di Instagram semakin beragam, mulai dari komunitas pertemanan, komunitas organisasi, komunitas hobi hingga komunitas berbasis lokasi. Menariknya di Indonesia komunitas tersebut berkembang dengan cepat dan massive5.

Hal-hal di atas menunjukkan bagaimana pesatnya perkembangan Instagram sebagai media informasi dan komunikasi. Instagram yang awalnya sebagai media sharing hal-hal yang bersifat perseorangan seseorang tentang segala macam kegiatan dan tempat berkeluh kesah hingga menjadi media informasi dari seseorang/lembaga/komunitas/dan lain sebagainya kepada orang lain (masyarakat luas). Terlebih lagi, Instagram terus melakukan perkembangan dan update fitur bagi penggunanya, yang awalnya hanya bersifat grafik (foto atau gambar) hingga saat ini menyediakan layanan video (IGTV).

Media komunikasi yang berkembang ini pada akhirnya akan memberikan pengaruh kepada masyarakat sehingga menghasilkan tipe masyarakat yang baru, yaitu masyarakat yang sudah beradaptasi mengikuti perkembangan yang dibawa oleh teknologi tersebut6. Tipe masyarakat ini disebut sebagai generasi milenial atau disebut juga dengan istilah Digital Generation7, dikarenakan salah satu ciri utama generasi ini ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan tekonologi digital. Karena dibesarkan oleh kemajuan teknologi, generasi milenial memiliki ciri-ciri kreatif, informatif, mempunyai

5Ma’ruf, Moh. Ali. 2017. Analisa Penggunaan Instagram Sebagai Media Informasi Kabupaten Nganjuk. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga

6Ramadhani, Vindy Elsa. Jurnal: Teknologi Komunikasi dan Interaksi Sosial, Hal 3.

7Kemenpppa dan BPS. 2018. Profil Generasi Millennial Indonesia. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Hal, 15

(12)

passion dan produktif. Generasi milenial merupakan generasi yang melibatkan teknologi dalam segala aspek kehidupan.

Bukti nyata yang dapat diamati adalah hampir seluruh individu dalam generasi ini memilih menggunakan smartphone. Generasi ini mempunyai karakteristik komunikasi yang terbuka, penggunaan media sosial yang fanatik, kehidupan yang sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi, serta lebih terbuka dengan pandangan politik dan ekonomi. Sehingga, mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) pada tahun 2011, salah satu karakteristik generasi millennial adalah bahwa mereka wajib memiliki media sosial sebagai alat komunikasi dan pusat informasi.

“Millenials have come of age in the time of crowdsourcing, where large groups of

people are entrusted to provide solutions more effectively than could an individual, so it feels natural to them to gather as much information as possible before making decisions. On the flip side, the have a tendency to feel rather overwhelmed by information, so they have to strive to strike a balance.”8. Menurut hasil studi beberapa mahasiswa Universitas Berkley pada tahun 2011, pilihan atau keputusan yang generasi millennial ambil lebih banyak didasarkan pada informasi dari internet, terutama media sosial. Hal tersebut dikarenakan adanya koneksi dan luasnya kebebasan bertanya mengenai informasi dalam sosial media yang memberikan mereka rasa percaya diri yang tinggi dalam mengambil sebuah keputusan.

8Jeff Frimm, Celeste Lindell, Lainie Decker. 2011. American Millenials: Deciphering the Enigma Generation. University of Berkley, Hal 23

(13)

Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Puskakom Universitas Indonesia (UI) melakukan survey pada 7000 responden yang menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia pada tahun 2014 menembus angka 88.1 juta yang 49% di antaranya merupakan generasi milenial. Sejumlah 87.4% responden tersebut mengaku menggunakan internet untuk mengakses media sosial demi mendapatkan beri terbaru atau sebagai pusat informasi.9 Dengan tumbuh besar dalam kuatnya arus perkembangan teknologi, menjadikan sikap dan perilaku generasi millennial dipengaruhi oleh gadget dan internet.

McNely mempelajari implementasi Instagram pada sebuah organisasi yang relatif kecil dan mengusulkan perlunya untuk lebih memahami peran berbagi gambar dalam membentuk reputasi organisasi.10 Dengan berbagi dan berinteraksi dengan audiens melalui postingan, organisasi dapat membangun reputasi yang kuat. Dalam hal ini pun, individu sekarang menggunakan brands untuk mempromosikan diri mereka sendiri dalam kesempatan baru untuk hubungan konvensional.

Hasil penelitian Indika dan Jovita pada tahun 2017, menunjukkan bahwa komunikasi foto yang dikemas secara kreatif menjadi salah satu faktor yang cukup penting dalam menarik minat konsumen. Instagram yang lebih menonjolkan gambar dan video terbukti memiliki korelasi yang kuat dalam mempengaruhi konsumen11. Perusahaan menggunakan media sosial dalam

9Library Binus, 2018. Diakses pada 02 Juni 2019 dari

http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab1/BAB I-TS-R-2018-0049.pdf Hal 2

10Alshawaf, Eman. 2015. Understanding Digital Reputation on Instagram: A Case Study of Social Media Mavens. University of Minnesota Twin Citis, Hal 4

11Indika, D.R., Jovita, C. 2017. Media Sosial Instagram Sebagai Sarana Promosi Untuk Meningkatkan Minat Beli Konsumen. Jurnal Bisnis Terapan, Vol. 1 No.1, Hal. 30

(14)

memasarkan produk atau jasanya dengan tujuan untuk memberikan informasi dan promosi produk atau jasa yang dihasilkan. Dengan demikian, masyarakat akan sadar tentang produk tersebut, image produk atau jasa yang ditawarkan akan meningkat, dan pada akhirnya penjualan akan meningkat12.

Salah satu media online di Indonesia, yakni MLDSPOT mengikuti era konvergensi media serta memanfaatkan media sosial Instagram sebagai platform untuk berbagi informasi di kalangan generasi milenial. Pemilihan Instagram oleh MLDSPOT berdasarkan fakta bahwa masyarakat, khususnya khalayak muda lebih memilih Instagram sebagai media informasi. Melihat potensi yang ada pada khalayak muda atau generasi milenial dan perkembangan sosial media, MLDSPOT membuka koneksi dengan khalayak melalui platform Instagram dengan akun @MLDSPOT sebagai media informasi dan membangun komunitas MLDSQUAD.

MLDSPOT adalah media online yang dibentuk oleh brand rokok MLD sebagai sarana informasi kegiatan yang dapat diikuti atau menginsipirasi kalangan anak muda hingga tua. MLDSPOT sudah memiliki pengikut sejumlah 41.600 dalam Instagram per Maret 2019, dengan konten visual yang rapih dan terkonsep.

Seperti deskripsi profil yang tertulis dalam akun Instagram MLD “An inspiring urban lifestyle reference with a multitude of local greatness”, akun ini seringkali mengunggah foto acara musik, produk lokal, workshop, tempat yang sedang trend, pariwisata, fotografi dan hal lainnya yang menginspirasi.

12Keller, Kotler. 2016. Marketing Management. Pearson: Prentice hall

(15)

Sedangkan MLDSQUAD adalah komunitas yang dibentuk oleh MLDSPOT, terdiri dari berbagai kalangan dengan usia 20 hingga 35 tahun.

Dengan jumlah anggota utama 36 orang dan terus bertambah, komunitas ini terbentuk dengan adanya kesamaan dalam hobi dan bidang fotografi, dimulai dengan adanya workshop fotografi yang diselenggarakan oleh MLDSPOT pada tahun 2016, berbagai kalangan turut serta berpartisipasi untuk mendapatkan ilmu dan berkenalan dengan sesama penyuka fotografi. Komunitas ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu MLDSPOT dalam penyebaran informasi mengenai gaya hidup dengan mengunggah kegiatan MLDSPOT dari mulai acara musik, kegiatan lokal, pariwisata, fotografi dengan menggunakan fitur tagar #InspiringLifestyle dan #MLDSPOT dalam bentuk unggahan visual dan caption yang menarik. Selain itu komunitas ini pun menjadi wadah untuk berdiskusi mengenai informasi terkini, sehingga dimanfaatkan pula sebagai target sasaran dalam penyampaian informasi.

Konvergensi yang dilakukan MLDSPOT dilakukan karena pengaruh digitalisasi dan tuntuan pasar. MLDSPOT tidak hanya sekedar membuat konten berita informasi gaya hidup, tetapi merangkum dan menyajikan visual yang menarik. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan pangsa pasar sehingga tetap bisa bersaing dengan media lain serta bisa mengikuti tuntutan perkembangan teknologi.

Seperti yang sudah dijabarkan diatas, konsep dari konvergensi media tidak hanya memperkaya informasi yang disajikan, tetapi juga memberikan pilihan kepada khalayak untuk memilih informasi yang sesuai dengan selera mereka.

Dengan kebebasan dalam memilih informasi, berarti ada pula alasan dibalik

(16)

sebuah keputusan dalam memilih dan menggunakan informasi tersebut. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti “Penggunaan Sosial Media Instagram

@MLDSPOT Sebagai Sarana Media Informasi Gaya Hidup Komunitas MLDSQUAD” dengan periode penelitian mulai dari Maret hingga Juli 2019.

Disamping itu, peneliti juga ingin mengetahui bagaimanakah penggunaan Instagram sebagai new media dalam menyampaikan informasi kepada khalayak.

Seperti pemikiran McLuhan, “media pada hakikatnya telah memengaruhi manusia dari cara berpikir, merasakan, dan bertingkah laku”13. Adapula keterkaitan penelitian ini dalam bidang studi public relations, yang memanfaatkan new media dalam proses manajemen public relations oleh Cutlip & Center. Dengan diperkenalkannya teknologi komunikasi baru seperti media sosial, public relations tidak hanya mendapatkan akses ke publik yang lebih luas dan saluran komunikasi baru, tetapi mereka juga mendapatkan peluang untuk membangun brandserta interaksi dengan publik. Sekarang public relations berkompetisi untuk mengembangkan strategi untuk mempromosikan konten dan berinteraksi dengan publik yang menjadi target serta mendapat umpan balik atau hubungan yang konvensional.

1.2 Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka peneliti memfokuskan penelitian ini pada, bagaimana penggunaan media sosial Instagram MLDSPOT sebagai media informasi gaya hidup komunitas MLDSQUAD.

13Suryanto. 2018. Kapita Selekta Komunikasi. Bandung: Hal, 86

(17)

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui dan menggambarkan bagaimana pengelolaan, informasi dan manfaat media sosial Instagram MLDSPOT Sebagai Media Informasi Gaya Hidup di Komunitas MLDSQUAD.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Manfaat Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pembanding bagi penelitian selanjutnya dalam konteks penggunaan media sosial sebagai media informasi dilihat dari sudut pandang Public Relations.

b. Manfaat Praktis

Penelitian ini secara praktis bermanfaat untuk menjadi bahan panduan bagi praktisi Public Relations dalam penggunaan media sosial Instagram sebagai media informasi.

c. Manfaat Sosial

Bisa menjadi penjelasan terhadap masyarakat terhadap fitur-fitur Instagram yang dapat digunakan untuk memfasilitasi kegiatan komunikasi serta distribusi informasi.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Penelitian Terdahulu

Dalam sebuah penelitian tentunya memiliki etika, untuk menghindari plagiasi peneliti menjabarkan beberapa penelitian terdahulu:

1. Peneliti pertama bernama Elfira Firda Aulia, berasal dari Universitas Mercu Buana dengan judul penelitiannya “Penggunaan Media Sosial Instagram @SMKN60 Sebagai Media Informasi Di Kalangan Pelajar SMK Negeri 60 Jakarta”, penelitian dilakukan pada tahun 2018 dengan menggunakan Metode Kualitatif Deskriptif.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan media sosial Instagram @SMKN60 sebagai media informasi dengan menggunakan konsep Cyber PR. Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa penggunaan media sosial Instagram sebagai media informasi merupakan pilihan yang tepat dan lebih efisien dibandingkan dengan media yang lain dari segi biaya dan waktu.

2. Peneliti kedua bernama Difa Nurhasna Ayutiani, berasal dari Universitas Telkom, dengan judul penelitiannya “Penggunaan Akun Instagram sebagai Media Informasi Wisata Kuliner”. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2018 dengan Metode Kualitatif Virtual Etnografi.

Adapun penelitian ini mengarah pada penggunaan Instagram yang digunakan sebagai media informasi wisata kuliner berdasarkan respons kognitif,

(19)

afektif dan behavioral menurut Steven M. Chaffee. Hasil penelitian ini menyimpulkan adanya perubahan dalam respons kognitif yaitu followers mendapatkan informasi dan manfaat, followers juga mengalami respons afektif yaitu adanya perubahan emosi atau perasaan setelah melihat postingan, setelah merasakan respons afektif munculah sebuah respons behavioral yaitu adanya tindakan berwisata kuliner dan memberikan infromasi kembali setelah melihat postingan wisata kuliner.

3. Peneliti ketiga bernama Bulan Cahya Sakti, berasal dari Universitas Diponogoro, dengan judul penelitiannya “Penggunaan Media Sosial Instagram Dalam pembentukan Identitas Remaja”. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2018 dengan metode kualitatif deskriptif.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan Instagram oleh remaja, dalam pembentukan identitas diri mereka.

Teori yang digunakan adalah teori interaksionalisme simbolik. Focus pada penelitian ini adalah remaja yang menggunakan media sosial Instagram, memanfaatkan berbagai macam fasilitas yang dimiliki oleh Instagram untuk mengkonstruksi identitas dirinya. Pembentukan identitas diri dalam media sosial Instagram tersebut dipengaruhi oleh pikiran, pengalaman, dan masyarakat.

4. Peneliti keempat bernama Ali J Al-Kandari, berasal dari Universitas Gulf, Kuwait. Dengan judul penelitiannya “ The Influence of Culture on Instagram Use”, penelitian ini dilakukan pada tahun 2016 dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif.

(20)

Penelitian ini dilakukan untuk mengekplorasi pengaruh budaya dalam penggunaan Instagram pada siswa SMA di Kuwait. Penelitian ini lebih berfokus pada penjelasan perbedaan jenis kelamin dan pengaruhnya dalam pengunaan aktifitas Instagram, serta dampaknya terhadap sikap dan perilaku. Hasil dari penelitian ini adalah lelaki di lebih banyak menggunakan Instagram untuk mengunggah foto pribadi mereka dengan akun public, sementara perempuan lebih cenderung memiliki akun privasi.

5. Peneliti kelima bernama Saleh Shuqair dan Philip Cragg berasal dari Politeknik Bahrain dengan judul penelitiannya “The Immediate Impact of Instagram Posts on Changing The Viewers’ Perceptions Towards Travel Destinations”, penelitian ini dilakukan pada tahun 2017 dengan metode penelitian kuantitatif.

Penelitian ini dilakukan untuk mengukur dampak langsung dari User Generated Contents (UCG) dalam bentuk gambar di instagram pada perubahan persepsi viewers terhadap tujuan perjalanan. Penelitian ini berfokus pada efektifitas pengaruh posting gambar pada instagram terhadap perubahan persepsi viewers. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posting gambar pada instagram memberikan pengaruh yang efektif dalam mempengaruhi niat dan persepsi viewers selama tahap menentukan tujuan wisata.

6. Peneliti keenam bernama Astrid Triwidisari, Ahmad Nurkhin dan Muhsin dari Universitas Negeri Semarang dengan judul penelitian “The Relationship Between Instagram Social Media Usage, Hedonic Shopping Motives

(21)

and Financial Literacy on Impulse Buying”, penelitian ini dilakukan pada tahun 2017 dengan metode kuantitatif.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media sosial instagram dan motif belanja hedonis terhadap impuls pembelian untuk mengetahui apakah literasi keuangan mampu memoderasi pengaruh penggunaan media sosial instagram dan motif belanja hedonis untuk mendorong pembelian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Instagram media sosial dan motif belanja hedonis memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pembelian.

7. Peneliti ketujuh bernama Yi-Ting Huang dan Sheng-Fang Su dari Universitas Chung Yuan Christian, Taiwan dengan judul penelitian “Motives for Instagram Use and Topics of Interest among Young Adults”, penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner.

Penelitian ini menggunakan 27 pertanyaan dibagi ke dalam lima faktor:

interaksi sosial, dokumentasi, diversi, promosi diri dan kreatifitas untuk invesitasi motif penggunaan Instagram serta topik yang dibicarakan oleh khalayak muda.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan motif penggunaan Instagram adalah untuk melihat postingan, yang termasuk interaksi sosial dan motif diversi.

8. Peneliti kedelapan bernama Lizzatul Farhatiningsih dan Irwansyah, dari Biro Humas Kementrian Perdagangan RI dengan judul penelitian

“Optimization of Instagram Use in The Practice of Government Public Relations”

dengan metode kualitatif.

(22)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Instagram telah unggul sebagai alat komunikasi dan pemasaran yang efektif untuk menampilkan produk dengan deskripsi visual serta menunjukkan pentingnya interaksi ketika sebuah organisasi ingin membangun pemerintah saat ini karena dibutuhkan kecepatan dalam menyampaikan informasi dan tanggap dalam menangani keluhan masyarakat.

Tanggung jawab dalam pengelolaannya bagi pemerintah lokal terletak pada petugas informasi dan komunikasi publik, yang harus mendapat persetujuan dan dukungan dari pejabat pemerintah, baik yang terpilih maupun yang ditunjuk.

9. Peneliti kesembilan bernama Amanda Ayudia Putri, berasal dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, dengan judul penelitian “Communication Strategy of SUJI in Instagram”.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akun @suji.co memilih dan memanfaatkan media sosial Instagram sebagai strategi komunikasi dengan beberapa faktor, yakni menentukan tujuan strategi komunikasi melalui model komunikasi pemasaran modern, memanfaatkan fitur-fitur yang sudah tersedia di Instagram.

10. Peneliti kesepuluh bernama Trisha Dowerah Baruah, berasal dari Universitas Krishna Kanta Handiqui State Open, India dengan judul penelitian

“Effectiveness of Social Media as A Tool of Communication and Its Potential For Technology Enabled Conncetions: Micro-level Study”.

Hasil penelitian ini menunjukkan sosial media melakukan pekerjaan yang baik sebagai jembatan komunikasi. Perbedaan fitur dalam sosial media membantu khalayak untuk berinteraksi satu dengan yang lain dan mengubah karakter sosial,

(23)

baik dalam interpersonal dan level komunitas. Hasil penelitian ini dibuktikan dengan 62.5% responden menganggap bahwa sosial media merupakan alat komunikasi.

Table Matrix Penelitian

No Nama Peneliti

Judul Penelitian

Tipe Penelitian

Metode Penelitian

Perbedaan Penelitian

Persamaan Penelitian 1 Elfira Firda

Aulia, 2018

Penggunaan Media Sosial Instagram

@SMKN60 Sebagai Media Informasi Di Kalangan Pelajar SMK Negeri 60 Jakarta

Kualitatif Deskriptif Penelitian dilakukan dengan

mengarah pada manfaat Instagram sebagai media informasi untuk sekolah maupun siswa

Penelitian ini membahas penggunaan media sosial Instagram sebagai media informasi

2 Difa Nurhasna Ayutiani, 2018

Penggunaan Akun Instagram Sebagai Media Informasi Wisata Kuliner

Kualitatif Virtual Etnografi

Penelitian ini menggunakan pola pendekatan terhadap internet dan budaya yang terdapat di internet

Penelitian ini dilakukan untuk melihat penggunaan Instagram dalam respons kognitif, afektif dan

(24)

behavioral 3 Bulan Cahya

Sakti, 2018

Penggunaan Akun Instagram Sebagai Media Informasi Wisata Kuliner

Kualitatif Deskriptif Penelitian ini menggunakan teori

interaksionalisme simbolik dan berfokus pada penggunaan Instagram dalam mencari jati diri remaja

Penelitian ini menggunakan teknik

pengumpulan data indepth interview

4 Ali J Al- Kandari, 2016

The Influence Of Culture On Instagram Use

Kuantitatif Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh budaya dalam

penggunaan aplikasi Instagram menggunakan metode penelitian kuantitatif dan mengumpulkan data melalui

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan Instagram dikalangan remaja yang mempengaruhi perilaku dan sikap, juga memahami aktifitas yang dilakukan di

(25)

kuisionaire. Instagram.

5 Saleh Shuqair dan Philip Cragg, 2017

The Immediate Impact of Instagram Posts on Changing The Viewers’

Perception Towards Travel Destination

Kuantitatif Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh posting gambar di instagram dalam mempengaruhi persepsi viewers menggunakan metode penelitian kuantitatif dan mengumpulkan data melalui kuisionaire.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui posthing gambar di Instagram yang

mempengaruhi niat dan persepsi viewers terhadap tujuan wisata.

6 Asri Triwidisari, Ahmad Nurkhin dan Muhsin, 2017

The

Relationship Between Instagram Social Media Usage

Kuantitatif Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik sampling purposive bertujuan untuk mengetahui

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan Instagram serta

menggunakan tipe deskriptif

(26)

motif hedonic pembelian serta pengaruhnya melalui Instagram.

untuk penulisan dalam menganalisa data.

7 Yi Thing Huang dan Sheng Fang Su, 2018

Motives for Instagram Use and Topics of Interest among Young Adults

Kuantitatif Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif serta pengumpulan data yang dilakukan memalui survey untuk

memetakan motif penggunaan Instagram serta untuk

mengetahui topik konten pengguna Instagram.

Penelitian ini juga

menggunakan teori uses &

gratifications serta adanya interaksi sosial yang

diciptakan melalui Instagram.

8 Lizzatul Farhatiningsih, Irwansyah 2018

Optimization of Instagram Use in The Practice of Government

Kualitatif Deskriptif Penelitian ini dilakukan dari segi kehumasan pemerintah.

Penelitian ini mengenai penggunaan Instagram dari

(27)

Public Relations

segi kehumasan pada era digital.

9 Amanda Ayudia Putri, 2017

Communication Strategy of SUJI in Instagram

Kualitatif Deskriptif Penelitian ini bertujuan untuk meneliti strategi komunikasi dalam bidang pemasaran menggunakan Instagram.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui strategi komunikasi menggunakan Instagram serta adanya keterkaitan pemanfaatan fitur-fitur Instagram.

10 Trisha Dowerah Baruah, 2012

Effectiveness of Social Media as A Tool of Communication and Its

Potential For

Mixed Kualitatif

&

Kuantitatif

Survey Objektif dari penelitian ini adalah untuk menganalisa dampak sosial media sebagai

Latar belakang penelitian ini melihat perkembangan teknologi komunikasi,

(28)

Technology Enabled Connections:

Micro-level Study

alat untuk berkomunikasi, juga dalam penggunaan sosial media, serta potensinya sebagai

teknologi.

khususnya media sosial yang berkembang untuk tujuan komunikasi dan pertukaran informasi.

2.2 Kajian Teoretis 2.2.1 Komunikasi

Komunikasi berasal dari kata latin “communicare atau communis” yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Bila suatu sistem atau sumber mempengaruhi yang lain dengan mengolah pemakaian isyarat-isyarat pilihan yang dapat diteruskan melalui saluran yang menghubungkan kedua belah pihak.

Komunikasi merupakan proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa, dan dengan akibat apa atau hasil apa1. Komunikasi antar manusia hanya bisa terjadi, jika ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu, artinya komunikasi hanya bisa terjadi kalau adanya pesan, sumber, media, penerima, dan efek2.

Sumber adalah pengirim pesan yang disebut dengan komunikator. Pesan yang disampaikan oleh sumber dapat berupa informasi, sikap, ide, opini atau

1 Mulyana, Deddy. 2018. Metodologi Penelitian Komunikasi, Paradigma Baru ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya, Hal 69

2 Cangara, Hafied. 2016. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Hal 22

(29)

pendapat. Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima baik melaui tatap muka secara langsung ataupun melalui media. Media yang dimaksud disini adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Penerima merupakan pihak yang menjadi sasaran sebuah pesan dan memiliki efek yaitu perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Setiap pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator memiliki makna3.

Proses komunikasi dapat diartikan sebagai proses transfer informasi atau pesan dari pengirim pesan sebagai pihak komunikator kepada penerima sebagai komunikan. Komunikasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mencapai saling pengertian atau mutual understanding antara kedua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi antar manusia. Terjadinya proses komunikasi setidaknya harus memiliki lima komponen utama yaitu komunikator, pesan, media, komunikan dan pengaruh4.

Dalam aplikasinya, setelah komponen utama terpenuhi maka langkah- langkah dalam proses komunikasi dimulai dari penciptaan ide atau gagasan oleh komunikator. Ide atau gagasan tersebut kemudian dialihkan bentuknya menjadi lambang-lambang komunikasi yang memiliki makna dan dapat dikirimkan.

Langkah ketiga adalah pesan yang telah di-encoding dikirimkan melalui media sesuai dengan karakteristik lambang komunikasi. Pesan yang sudah diterima akan

3Sulvinajayanti. 2017. Public Relations Dan New Media (Proses Humas dalam Mengelola Instagram @universitaspertamina). STAIN Pare-Pare.

4 Suprapto, Tommi. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Media Pressindo. Hal, 9

(30)

ditafsirkan isinya sesuai dengan persepsi komunikan untuk dapat memahami tujuan pesan tersebut. Langkah terakhir, apabila pesan tersebut berhasil di- decoding maka komunikan akan mengirim kembali pesan tersebut kepada komunikator.

Komunikasi secara umum dapat diklasifikasikan berdasarkan levelnya menjadi komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa. Komunikasi interpersonal terkait dengan komunikasi antara orang yang biasanya dilakukan dengan tatap muka dalam situasi pribadi.

Komunikasi kelompok merujuk pada interaksi antar orang dalam sebuah kelompok kecil. Level komunikasi selanjutnya adalah komunikasi organisasi yang terjadi pada jaringan kerja sama mencakup aspek komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok. Komunikasi massa didefinisikan sebagai komunikasi publik yang dilakukan dengan menggunakan perantara (mediasi)5.

Berkomunikasi tidak hanya dilakukan dengan bercakap langsung. namun dapat dilakukan melalui cara-cara tidak langsung, seperti penggunaan media. Pada saat ini, media komunikasi menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan.

Hal ini dapat diketahui melalui bagaimana saat ini orang-orang dapat berkomunikasi secara langsung, namun secara fisik mereka tidak bertemu. Media komunikasi saat ini mampu menjembatani mereka, mampu membantu menyampaikan pesan dengan cepat tanpa perlu mempertemukan pihak komunikator dan komunikannya.

5 Morissan. 2013. Teori Komunikasi. Jakarta. Hal, 15

(31)

Media komunikasi saat ini merupakan hasil sebuah revolusi komunikasi yang menarik, mencengangkan, bahkan menantang. Dinilai menarik karena media komunikasi adalah hasil revolusi komunikasi yang mampu memberikan perubahan pola dan struktur proses komunikasi. Dinilai mencengangkan karena media komunikasi saat ini adalah hasil revolusi komunikasi berupa teknologi informasi yang mampu menyampaikan pesan komunikasi menembus batas ruang dan waktu. Kemudian dinilai menantang karena penggunaan media komunikasi saat ini selain membawa nilai-nilai postif, juga membawa nilai-nilai negatif yang dapat berpengaruh pada manusia tersebut dimana nilai-nilai negatif itu dibawa dari kemudahan manusia dalam menggunakan media komunikasi terkini serta ketidakpekaan manusia dalam menfilter nilai-nilai yang dibawa oleh media komunikasi saat ini6.

Sebagian besar orang beranggapan bahwa berkomunikasi itu sesuatu hal yang mudah dilakukan, mengingat semenjak kecil kita sudah biasa melakukannya.

Namun dalam konteks tertentu, terutama jika komunikasi yang ingin kita lakukan bertujuan untuk mendapatkan efek dari komunikan, maka kita akan berfikir dua kali untuk mengatakan bahwa berkomunikasi itu mudah. Kita justru akan mengalami kesulitan yang luar biasa dalam melakukan komunikasi, terlebih jika efek dimaksud sesuai dengan yang kita inginkan, dan pada komunikan yang jumlahnya banyak. Dalam kondisi demikian, tentu ada beberapa syarat yang harus kita penuhi sebagai seorang komunikator agar pesan yang akan kita sampaikan tadi didengar oleh komunikan dan menghasilkan efek tertentu. Terpenuhinya

6 Puspita, Yesi. 2015. Pemanfaatan New Media dalam Memudahkan Komunikasi dan Transaksi Pelacur Gay. Jurnal Perkommas. Vol. 18 No. 3.

(32)

syarat-syarat itu dengan sendirinya akan membuat komunikasi yang kita lakukan menjadi efektif 7. Terdapat empat faktor yang harus dipenuhi oleh komunikator, yaitu :

1. Faktor Strategi komunikasi

Strategi komunikasi berkaitan dengan perencanaan komunikasi sampai dengan pelaksanaan komunikasi. Pada faktor ini, seorang komunikator dituntut untuk pandai membuat siasat agar tujuan komunikasi yang akan ia lakukan dapat dicapai. Seperti halnya dengan strategi dalam bidang apapun, maka strategi komunikasi harus didukung oleh teori, sebab teori merupakan pengetahuan berdasarkan pengalaman yang sudah diuji kebenarannya.

2. Faktor Accessibility (Keterjangkauan)

Faktor ini dapat dilihat dari dua sisi, yaitu keterjangkauan dari segi teknologi (teknologi komunikasi), dan keterjangkauan dari sisi daya beli masyarakat. Dari segi teknologi, penyampaian pesan harus mempertimbangkan jumlah dan keberadaan audience. Dengan pertimbangan itu, maka akan dapat ditentukan jenis media yang sesuai untuk menyebarkan pesan komunikasi.

3. Faktor Progressing (Perencanaan)

Perencanaan dimaksud disini difokuskan pada perencanaan pesan komunikasi. Mengingat tujuan komunikasi adalah untuk mengubah pengetahuan, sikap, perilaku, dan sosial, maka dalam merencanakan

7 Nurhadi, Zikri Fachrul, Kurniawan, Achmad Wildan. 2017. Kajian Tentang Efektivitas Pesan Dalam Komunikasi. Jurnal Komunikasi Vol. 3 No. 1.

(33)

pesan komunikasi yang efektif hendaknya mengacu pada tujuan komunikasi tersebut. Misalkan suatu pesan ditujukan untuk sekedar merubah pengetahuan komunikan, maka pesan tersebut hanya diisi informasi-informasi baru yang belum pernah didengar atau dilihat oleh komunikan di masa lalu. Berbeda dengan pesan yang ditujukan untuk merubah sikap, maka pesan komunikasi harus dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menggugah emosi atau perasaan komunikan. Demikian pula dengan pesan yang ditujukan untuk merubah perilaku maupun sosial, maka terdapat perbedaan dalam merancang isi pesan. Sekali lagi yang perlu ditekankan disini adalah bahwa perencanaan pesan harus disesuaikan dengan tujuan komunikasi.

4. Faktor Supporting (Dukungan)

Agar pesan diterima oleh komunikan, maka komunikator dituntut berperilaku sopan terhadap komunikan, karena perilaku tersebut bisa dinilai sebagai wujud penghargaan terhadap komunikan. Selain itu, suatu pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan akan komunikatif apabila terjadi proses psikologis yang sama antara orangorang yang terlibat dalam proses tersebut. Dengan kata lain, pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan itu setara (in tune). Situasi komunikatif seperti itu akan terjadi bila terdapat etos pada diri komunikator.

(34)

2.2.2 Konvergensi Media

Konvergensi media adalah gabungan dari beberapa media massa dan teknologi informasi ke dalam satu paket perangkat yang dapat memudahkan akses ke berbagai informasi dan tayangan. Konvergensi ini menjadi bentuk integrasi dari fungsi berbagai media ke dalam satu media yang semakin canggih dan modern. Kemunculan konvergensi media didasarkan pada kebutuhan pengguna terhadap beberapa fungsi teknologi dan implikasi dari akumulasi perkembangan teknologi informasi8 .

Konvergensi media mampu menciptakan satu media yang memiliki berbagai fungsi sekaligus sehingga konvergensi media ini dapat memfasilitasi mayarakat untuk mengakses informasi lebih cepat. Kinerja media yang sebelumnya bersifat parsial, manual dan membutuhkan waktu telah bertransformasi menjadi lebih cepat dan integral serta mengarah pada pembentukan lingkungan online. Data yang berupa berita, video, gambar serta grafis melalui konvergensi media dapat menyatu, sinergis dan integratif9. Konvergensi ini akan membawa dampak positif karena adanya efisiensi kegiatan birokratismaupun administratif, sehingga proses yang tidak perlu dapat diminimalkan atau dihilangkan. Konvergensi media juga akan memberikan pengaruh pada konsumsi media oleh masyarakat, persepsi public, penyebaran informasi dan literasi media. Dengan kata lain, konvergensi media akan menciptakan konstruksi sosial media baru yang belum pernah terjadi.

Konstruksi media baru dihasilkan dari proses ekspresi dan proyeksi sosial pekerja di media yang berbentuk siaran, tayangan atau tulisan. Setiap siaran,

8Sugiharti, Rahma. 2014. Perkembangan Masyarakat Informasi dan Teori Sosial Kontemporer.

Jakarta. Hal, 88.

9 Fikri AR, M. 2018. Sejarah Media. Malang. Hal, 33.

(35)

tayangan ataupun tulisan pada media mengandung ideology dan kepentingan dari pemilik, pemegang saham, redaktur, produser, penulis maupun editornya. Siaran, tayangan atau tulisan inilah yang akan membangun relasi sosial antara pekerja di media dengan masyrakat sekitar. Relasi sosial ini bertujuan untuk menemukan kebernaran karena siaran, tayangan atau tulisan akan membentuk makna tertentu.

Bahasa dalam siaran, tayangan atau tulisan tidak bebas nilai karena bahasa ini dikonstruksi dan mengkonstruksi maknanya tergantung pada orang yang memproduksi dan mengkonsumsinya10.

2.2.3 Public Relations

Public relations merupakan fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan kebijaksanaan dan tata cara seseorang atau organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan dan merakukan suatu program kegiatan untuk meraih pengertian, pemahaman, dan dukungan dari publiknya11.

Publik dalam public relations adalah kelompok yang harus senantiasa dihubungi dan diperhatikan, ada dua macam publik yang menjadi tujuan yaitu:

publik internal dan publik eksternal. Publik internal yakni publik yang menjadi bagian unit badan, lembaga organisasi, perusahaan seperti; pegawai/karyawan dan termasuk juga para pejabat pengambil keputusan dari lembaga itu sendiri. Publik eksternal yakni publik umum atau orang luar dimana suatu lembaga itu berada

10 Iskandar, Dudi. 2018. Konvergensi Media. Yogyakarta. Hal, 6

11Cutlip, Scott M., ET AL. 2016. Effective Public Relations. Jakarta: Kencana

(36)

yang harus diberi penerangan atau informasi demi tumbuhnya goodwill dari mereka12.

Public relations dalam arti method of communication adalah suatu rangkaian atau sistem kegiatan komunikasi. Kegiatan komunikasi dalam public relations berciri komunikasi yang berlangsung dua arah dan timbal balik (two way traffic communication) antara komunikator dan komunikan dalam rangka meningkatkan pembinaan kerjasama dan pemenuhan kepentingan bersama dengan lambang-lambang yang sama.

2.2.3.1 Fungsi Public Relations

Fungsi public relations menurut Nova, adalah menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antar organisasi dengan publik internal dan eksternal dalam rangka menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik dalam upaya menciptakan iklim pendapat atau biasa disebut dengan opini publik yang menguntungkan lembaga organisasi.

2.2.3.2 Tujuan Kegiatan Public Relations

Menurut Widjaja, tujuan public relations yaitu untuk mengembangkan hubungan harmonis dengan pihak lain yakni publik. Tujuan public relations adalah untuk menciptakan, membina dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi organisasi di suatu pihak dan dengan publik di lain pihak dengan komunikasi yang harmonis dan timbal balik.

12F. Rahmadi. Public Relations Teori dan Praktek, Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah. Jakarta: Gramedia, Hal 13.

(37)

2.2.3.3 Peran Public Relations

Mewujudkan visi dan misi perusahaan untuk menjadi besar dan maju bukanlah pekerjaan mudah, hambatan dari lingkungan internal maupun eksternal merupakan hal-hal yang tidak dapat diduga. Oleh sebab itu, public relations sebagai salah satu fungsi manajemen di perusahaan yang berperan untuk menyaring informasi yang behrubungan dengan perusahaan dan memfasilitasi kegiatan komunikasi untuk memberikan pemahaman kepada public internal dan eksternalnya. Menurut Cutlip, peran public relations terbagi atas empat, yakni:

1. Penasehat Ahli (Expert Prescriber)

Seorang praktisi pakar public relations yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya (Public Relationship).

2. Fasilitator Komunikasi (Communication Facilitator)

Dalam hal ini, praktisi public relations bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya. Di pihak lain, dia juga dituntut mampu, menjelaskan kembali keinginan, kebijakan dan harapan organisasi kepada pihak publiknya.

Sehingga dengan komunikasi timbal balik tersebut dapat tercipta saling pengertian, mempercayai, menghargai, mendukung dan toleransi yang baik dari kedua belah pihak.

3. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah (Problem Solving Facilitator)

(38)

Peranan public relations dalam proses pemecahan persoalan ini merupakan bagaian dari tim manajemen. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasihat (adviser) hingga mengambil tindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tenggan dihadapi secara rasional dan professional.

4. Teknisi Komunikasi (Communication Technician)

Peran communication technician ini menjadikan praktisi public relations sebagai journalist in resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan method of communication. System komunikasi dalam organisasi tergantung dari masing-masing bagian atau tingkatan (level), yaitu secara teknis komunikasi, baik arus maupun media komunikasi yang dipergunakan dari tingkat pimpinan dengan bawahan akan berbeda dari bawahan ke tingkat atasan. Hal yang sama juga berlaku pada arus dan media komunikasi antar karyawan satu department dengan lainnya.

2.2.3.4 Proses Pelaksanaan Tugas Public Relations

Supaya pelaksanaan tugas public relations dapat dijalankan sesuai dengan pernanannya, maka penting untuk diketahui bahwa terdapat proses dalam pelaksanaan tugas tersebut, berikut ini proses pelaksanaan tugas public relations menurut Cutlip, Center & Broom:

1. Fact Finding (Penemuan Fakta)

(39)

Taraf research-listening atau fact finding, meliputi penelitian pendapat, sikap dan reaksi orang-orang atau publik. Disini dapat diketahui masalah apa yang sedang dihadapi.

2. Planning (Perencanaan)

Setelah pendapat, sikap dan reaksi publik dianalisa lalu diintegrasikan atau diserahkan dengan kebijaksanaan dan kegiatan organisasi. Pada tahapan ini bisa ditemukan “pilihan yang diambil”.

3. Communication (Komunikasi)

Rencana-rencana di atas harus dikomunikasikan dengan semua pihak yang bersangkutan dengan metode yang sesuai. Dalam tahap ini kita menjelaskan tindakan yang diambil dan apa alasan jatuhnya pilihan tersebut.

4. Evalution (Evaluasi)

Dinilai dari segi berhasil dan tidaknya, apa sebab-sebabnya, apa yang sudah dicapai apa resep kemanjurannya dan apa factor penghambatnya.

Itulah perntanyaan yang timbul dalam tahap ini.

2.2.3.5 Pendekatan Strategi Public Relations

Menurut Ruslan, public relations berfungsi menciptakan iklim yang kondusif dalam mengembangkan tanggung jawab serta partisiapasi antar pejabat public relations dan masyarakat, fungsi tersebut diwujudkan dengan pendekatan atau strategi public relations berikut:

1. Strategi Operasional

(40)

Melalui pelaksanaan program public relations yang dilakukan dengan pendekatan kemasyarakatan (sociology approach), melalui mekanisme social kultural dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dari opini public atau kehendak masyarakat pada setiap berita atau surat pembaca yang dimuat di media massa.

2. Pendekatan Persuasif dan Edukatif

Fungsi public relations adalah menciptakan komunikasi dua arah (timbal balik) dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publiknya yang bersifat mendidik dan memberikan penerangan, maupun dengan melakukan pendekatan persuasif, agar tercipta saling pengertian.

3. Pendekatan Tanggung Jawab

Menumbuhkan sikap tanggung jawab social bahwa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai tersebut bukan ditujukan untuk mengambil keuntungan sepihak dari public sasarannya, namun untuk memperoleh keuntungan bersama.

4. Membina Hubungan

Berupa membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan berbagai kalangan, baik hubungan ke dalam maupun keluar untuk meningkatkan kerja sama.

2.2.3.6 Public Relations dalam New Media

Definisi new media secara umum adalah bentuk konvergensi atau pengabungan media konvensional dengan media digital. Teknologi computer yang semakin modern dan kehadiran internet mendasari munculnya istilah new media

(41)

tersebut. Salah satu contoh new media adalah intenet dengan aplikasinya seperti situs, email, blog, media sosial dan sebagainya. Internet sebagai new media pada prinsipnya dapat memberikan manfaat bagi penggunanya untuk berbagai kepentingan13. Selain itu, new media juga memiliki keunggulan yaitu bersifat real time, dimana pengguna dapat mengakses informasi dan layanan dengan cepat, kapan saja, dimana saja selama mereka terkoneksi dengan perangkat terkomputerisasi dan jaringan internet.

Produk new media mengalami perkembangan yang pesat karena dinilai mampu menyejahterakan masyarakat dan bernilai efektivitas tinggi. Beberapa manfaat dari new media sebagai supporting dalam prduktivitas masyarakat informasi antara lain adalah menyajikan arus informasi yang dapat dengan mudah dan cepat diakses dimana saja dan kapan saja. Hal ini akan memudahkan seseorang untuk memperoleh sesuatu yang dibutuhkan dari tempat sumber informasinya. Manfaat kedua adalah new media dapat berfungsi sebagai media transaksi jual beli karena kemudahan memesan barang melalui fasilitas internet.

Manfaat lainnya adalah new media dapat berperan sebagai media hiburan, komunikasi maupun sebagai sarana pendidikan yang mudah dan praktis untuk digunakan14.

Public relations dalam new media berkaitan dengan fungsi public relations yang semakin sentral untuk mengelola dan mengembangkan praktik komunikasi baik secara internal maupun eksternal. Praktik komunikasi yang optimal dapat dilakukan dengan bantuan media. Salah satu tugas fundamental bagi praktisi

13Situmorang, James R. 2012. Pemanfaatan Internet Sebagai New Media dalam Bidang Politik, Bisnis, Pendidikan dan Sosial Budaya. Jurnal Administrasi Bisnis. Hal, 74.

14Hidajanto Djamal, Andi Fachrudin. 2011. Dasar-Dasar Penyiaran. Jakarta. Hal, 36

(42)

public relations adalah bekerjasama dengan media dengan berlandaskan prinsip etika sehingga audiens dapat dijangkau dengan bentuk komunikasi timbal balik.

Oleh karena itu, public relations dan new media memiliki relasi yang erat karena keduanya merupakan mitra kerja yang saling memperoleh keuntungan dalam kerjasamanya. Public relations akan berperan sebagai sumber dan penghubung informasi, sementara media merupakan sarana penyampaian informasi kepada public secara serempak15.

2.2.3.8 Community Relations

Community relations sebagai bagian dari public relations merupakan wujud tanggung jawab sosial organisasi. Perkembangan di masyarakat menuntut praktek public relations tidak hanya sebagai corong masyarakat dan bersifat satu arah, tetapi public reation diharapkan mampu menjembatani organisasi dalam mewujudkan tanggung jawab pada publiknya. Bentuk tanggung jawab itu sendiri dapat dikatakan tanpa batas. Organisasi sulit menentukan kapan tanggung jawab sosial itu dimulai dan berakhir.

Antara organisasi dengan komunitas terdapat hubungan saling ketergantungan, adanya saling ketergantungan ini memotivasi organisasi untuk mendesain program-program community relations. Menurut Grunig dan Hunt, program community relations dapat dibedakan dalam dua tipe. Tipe program yang pertama merupakan program yang fokus pada aktivitas yang melibatkan organisasi pada aktivitas komunitas, seperti dukungan terhadap proses pendidikan dan sekolah, maupun memberikan donasi pada organisasi local.

15Fikri AR, M. 2018. Sejarah Media. Malang. Hal, 170

Referensi

Dokumen terkait

Perlunya dilakukan penelitian mengenai manajemen kesan pada media sosial instagram yang menjadi dasar gaya hidup hangout seseorang adalah karena sekarang ini

Hasil penelitian menunjukkan gaya komunikasi yang digunakan calon kepala daerah Ridwan Kamil (RK) pada media sosial instagram adalah gaya komunikasi dua arah (The

Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana penggunaan Instagram sebagai media promosi Komunitas Ketimbang Ngemis yang bergerak pada bidang sosial, sebagai wadah penyaluran dana

Media Sosial Instagram @pustaka.kemenetan Sumber: Instagram @pustaka.kementan Berdasarkan hasil penelitian, dalam kegiatan promosi melalui media sosial Instagram, PUSTAKA membagikan

Hasil nilai R Square Penggunaan Media Sosial Instagram Dalam Pemenuhan Kebutuhan Informasi Reproduksi Remaja Kota Batam adalah sebesar 74%, sedangankan sisanya sebesar 26% dipengaruhi

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM TERHADAP TINGKAT KECEMASAN SOSIAL MAHASISWA BIMBINGAN DAN KONSELING ANGKATAN 2019 UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA TUGAS AKHIR

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana penggunaan media sosial Instagram pada akun @yhoophii_official sebagai media komunikasi dengan

Urban 106.3 FM Bandung memanfaatkan media sosial Instagram sebagai media informasi melalui akun Instagram