• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengoperasian dan Troubelshooting PLTU CFB

N/A
N/A
M Rusdan Mirsyad

Academic year: 2024

Membagikan "Pengoperasian dan Troubelshooting PLTU CFB"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

MATA PELAJARAN 05

Pengoperasian dan Troubelshooting PLTU CFB

TUJUAN PELAJARAN :

Setelah mengikuti pelajaran ini peserta mampu memahami dan melaksanakan pengoeprasian dan Troubelshooting PLTU CFB sesuai dengan SOP dan Standard Perusahaan.

DURASI : 16 JP

PENYUSUN :

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

(3)

PENGOPERASIAN DAN TROUBELSHOOTING PLTU CFB 1. Pengoperasian Turbin

1.1. Persiapan Start

Prosedur sebelum melakukan pengoperasian suatu peralatan atau sistem adalah melakukan persiapan atau pemeriksaan sebelum start (pre start check). Apabila kondisi unit usai pekerjaan overhaul atau pekerjaan pemeliharaan, maka persiapan dan pemeriksaan mencakup semua bagian alat dan harus dilakukan secara teliti dan bertahap. Tetapi apabila kondisi unit hangat atau stand by, maka persiapn dan pemeriksaan relatif lebih sederhana dan singkat, hanya untuk memastikan (konfirmasi) posisi bagian alat.

Semua sistem yang merupakan bagian dari sistem turbin harus benar-benar dipastikan kesiapan pengoperasiannya, pengoperasian alat atau sistem ada yang dapat dilakukan secara paralel tetapi ada pula yang harus dikerjakan secara berurutan.

1.1.1. Sistem Air Pendingin Utama Dan Pendingin Umum

Didalam unit pembangkit yang sistem pendinginnya terdiri dari sistem pendingin utama dan pendingin umum, maka sistem pendingin utama merupakan sistem yang pertama dioperasikan sebelum alat atau sistem yang lain beroperasi. Hal ini karena sistem pendingin utama selain untuk mengkondensasi uap di kondensor juga berfungsi untuk mendinginkan air dalam sistem air pendingin umum (general service water atau close/fresh cooling water). Jadi sekalipun kondensor belum mengkondensasi uap karena turbin belum beroperasi, tetapi sudah dialiri air pendingin.

Tetapi apabila sistemnya dilengkapi dengan sistem air pendingin bantu (auxiliary cooling water) yang berfungsi mendinginkan air pendingin umum, maka yang dijalankan pertama kali adalah sistem pendingin bantu. Sedang sistem pendingin utama baru dijalankan pada saat akan dilakukan pemvakuman kondensor (vacuum up).

a. Sistem Pendingin Utama

(4)

Persiapan sistem pendingin utama meliputi pemeriksaan mulai dari intake (sisi masuk) pompa hingga outfall (sisi keluar) kondensor, lihat gambar 1.

Pemeriksaan ini antara lain adalah :

 Penstok sudah terbuka

 Saringan kasar (bar screen) sudah terpasang

 Saringan putar (travelling screen) sudah bersih dan siap

 Pompa air pendingin (CWP) sudah siap meliputi : pelumas, pendingin/perapat poros, pasok listrik dan kontrol sudah siap.

 Discharge valve posisi tertutup

 Semua manhole sudah terpasang dalam posisi yang benar

 Katup sisi masuk dan keluar kondensor dalam posisi yang benar

 Katup venting dan drain dalam posisi yang benar

 Sistem pembersih tapproge dalam posisi yang benar

b. Sistem Pendingin Umum

Sistem ini berfungsi untuk mendinginkan alat bantu dan bersirkulasi secara tertutup. Sekalipun siklusnya tertutup tetapi sebagian airnya terbuang (bocor), misalnya untuk pendingin atau perapat poros pompa dan sebagainya. Oleh karena itu persediaan air dalam tangki (header) air pendingin ini harus cukup sebelum sistem dioperasikan.

Persiapan sistem ini meliputi sebagai berikut :

 Level tangki (header) air penambah cukup

 Saringan masuk pompa sudah bersih dan terpasang

 Katup masuk dan keluar pompa dalam posisi yang benar

 Pompa pendingin meliputi pelumas, pasok listrik, siap

 Katup masuk dan keluar heat exchanger (pendingin) dalam posisi benar

 Heat exchanger dalam keadaan bersih dan siap

(5)

 Sistem resirkulasi dalam keadaan siap

1.1.2. Sistem Air Pengisi

Sistem ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

 Sistem air pengisi tekanan rendah (air kondensat)

 Sistem air pengisi tekanan tinggi

Persiapan untuk pengoperasian sistem air pengisi meliputi semua komponen yang terdapat dalam sistem mulai dari hotwell hingga drum boiler.

a. Sistem Air Pengisi Tekanan Rendah

Persiapan yang dilakukan untuk pengoperasian di sistem ini adalah

 Level air hotwell kondensor cukup, apabila rendah tambah dari air penambah (make up water)

 Saringan masuk pompa kondensat bersih dan terpasang

 Pompa kondensat meliputi pasok listrik, pelumas, dan perapat siap

 Katup masuk dan keluar pompa kondensat dalam posisi yang benar

 Kondensor uap perapat (gland steam condenser) siap, termasuk katupmasuk dan keluarnya.

 Katup resirkulasi pompa kondensat dalam posisi yang benar

 Katup pengatur (control valve) aliran kondensat ke deaerator siap dan dalam posisi benar

 Katup masuk dan keluar pemanas air (heater) dalam posisi yang benar.

b. Sistem Air Pengisi Tekanan Tinggi

 Level air di tangki deaerator cukup, bila kurang isi dahulu hingga cukup

 Saringan masuk pompa air pengisi (BFP) dalam keadaan bersih dan terpasang

 Katup masuk dan keluar pompa BFP dalam posisi yang benar

(6)

 Pompa BFP dalam keadaan siap meliputi pasok listrik, pelumas, dan pendingin

 Katup resirkulasi dalam posisi yang benar

 Katup pengatur (control valve) aliran air pengisi dalam posisi siap

 Katup masuk dan keluar pemanas air (heater) tekanan tinggi dalam posisi benar

 Venting drum dalam posisi terbuka dan blow down dalam posisi tertutup.

1.1.3. Sistem Minyak Pelumas

Didalam unit pembangkit minyak pelumas selain digunakan untuk pelumas bantalan turbin generator juga digunakan sebagai minyak hidrolik dan kontrol turbin serta untuk perapat poros (seal) generator. Pompa pelumas terdiri lebih dari satu, tetapi dalam kondisi normal yang beroperasi hanya satu, sedang yang lain sebagai back up.

Pemeriksaan sistem pelumas meliputi :

a. Level minyak pada tangki pelumas utama cukup (normal) b. Saringan sisi masuk pompa sudah bersih dan terpasang.

c. Katup masuk dan keluar pompa dalam posisi yang benar

d. Pompa pelumas bantalan (turning oil pump/TOP) dalam keadaan siap e. Pompa pelumas bantu (AOP) dan pompa pelumas darurat (EOP) dalam

keadaan siap

f. Pendingin pelumas (oil cooler) dalam keadaan siap termasuk posisi katup-katupnya.

g. Oil conditioner atau oil purifier dalam keadaan siap termasuk pompa dan katup-katupnya.

h. Vapour extractor dalam keadaan siap

i. Katup pengatur tekanan dalam posisi yang benar.

(7)

Sistem minyak perapat poros hanya digunakan dalam generator yang didinginkan dengan hidrogen. Pompa minyak terdiri dari dua, yaitu pompa perapat untuk sisi udara dan pompa perapat untuk sisi hidrogen. Dalam kodisi normal kedua pompa yang digerakkan dengan arus AC ini beroperasi semua.

Untuk mencegah keluarnya hidrogen pada saat aliran listrik AC hilang, maka sistem ini dilengkapi dengan pompa perapat yang digerakkan dengan arus DC.

Pemeriksaan sistem minyak perapat poros meliputi :

a. Pompa perapat sisi hidrogen dan sisi udara telah siap b. Katup masuk dan keluar pompa dalam posisi yang benar

c. Pendingin pelumas dalam kondisi siap, termasuk posisi katup-katupnya.

d. Katup pengatur tekanan dalam posisi benar

e. Level tangki penampung minyak pada sisi hidrogen dan sisi udara, normal

f. Fan pembuang gas minyak dalam keadaan siap.

1.1.4. Sistem EH (Electro Hidrolik) Oil

Sistem EH Oil ini adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai tenaga hidrolik untuk kontrol pemasukan steam ke turbin yaitu kontrol Governor Valve (GV) dan Trottle Valve (TV). Pemeriksaan persiapan operasi untuk sistem ini meliputi :

a. Level minyak pada tangki pelumas cukup (normal) b. Saringan keluar pompa sudah bersih dan terpasang c. Katup masuk dan keluar pompa dalam posisi yang benar

d. Katup masuk dan keluar untuk peralatan Accumulator dalam posisi benar e. Pendingin pelumas (oil cooler) dalam keadaan siap termasuk posisi

katup-katupnya dan pompa sirkulasi pendinginannya.

1.1.5. Sistem Udara Instrumen

(8)

Sistem ini dioperasikan apabila sistem air pendingin umum telah beroperasi. Hal ini karena kompressor udara instrumen didinginkan dengan air pendingin umum.

Produk udara instrumen ini digunakan untuk menggerakkan peralatan instrumen kontrol yaitu katup-katup kontrol.

Persiapan sebelum mengoperasikan sistem udara instrumen sebagai berikut :

 Level minyak pelumas dalam kompresor cukup

 Ketegangan V belt cukup (yang memakai v belt sebagai penggerak kompressor)

 Katup air pendingin masuk dan keluar kompresor dalam posisi benar

 Katup udara keluar kompresor terbuka

 Saringan udara masuk kompresor bersih dan terpasang

 Drier/pengering udara dalam konsisi siap

 Tangki penampung (receiver) dalam keadaan siap termasuk katup dan drain nya

 Kompresor dalam keadaan siap termasuk pasok listriknya

1.2. Pengoperasian Alat Bantu Turbin 1.2.1. Main Cooling Water Pump

Persiapan dan pemeriksaan sudah selesai.

a. Sluice Gate pada kondisi terbuka

b. Buka drain valve pada pipa inlet kondensor sisi A dan B (untuk membuang kotoran)

c. Buka venting valve pada pipa inlet kondensor sisi A dan B

d. Buka venting valve inlet dan outlet kondensor (Water Box). Posisikan tanda garis secara horizontal pada valve jika membuka

(9)

Gambar 1. Venting Water Box Condensor e. Buka Circulation Water Inlet Motor Valve

Gambar 2. Inlet motor Valve condensor f. Buka Circulation Water Outlet Motor

g. Operasikan MCWP

h. Operasikan Booster Cooling Pump untuk pendingin bearing MCWP i. Tutup drain valve pada pipa inlet kondensor sisi A dan B jika air yang

keluar telah bersih

j. Tutup semua venting valve jika air telah keluar

(10)

1.2.2. Open Cooling Water Pump Persiapan dan pemeriksaan sudah selesai

a. Pastikan MCWP telah beroperasi

b. Pastikan Inlet dan Outlet Valve pada Heat Exchanger terbuka 100%

Gambar 3. Penunjukan valve sisi air laut Heat Exchanger

c. Buka Circulation Water Inlet Filter Inlet dan Outlet Motor Valve hingga 100%

d. Buka Manual Inlet Valve

e. Buka Venting Valve pada pipa sebelum OCWP kemudian tutup kembali jika telah keluar air

Gambar 4. OCWP f. Start OCWP

(11)

1.2.3. Close Cooling Water Pump Persiapan dan pemeriksaan sudah selesai.

a. Inlet dan Outlet Manual Valve pada Heat Exchanger sisi CCWP buka 100%

Gambar 5. Penunjukan Valve sisi air pendingin CCWP pada HE b. Buka Manual Discharge Valve CCWP Expansion Tank 100%

c. Buka Manual Inlet Valve CCWP hingga 100%

d. Buka Manual Outlet Valve CCWP sebesar 30%

e. Buka Venting Valve CCWP kemudian tutup kembali jika telah keluar air f. Start CCWP

1.2.4. Oil Exhauster Fan

a. Buka Outlet Manual Valve Oil Exhauster Fan b. Start Oil Exhauster Fan

1.2.5. Ac Oil Pump

a. Buka Outlet Manual Valve AC dan DC Oil Pump b. Buka Inlet dan Outlet Manual Valve pada Oil Cooler c. Start AC Oil Pump

d. Posisi DC Oil dalam posisi stand by operasi bila tekanan turun dari yang dizinkan/sumber AC mati maka otomatis DC Oil Pump akan beroperasi.

1.2.6. Jacking Oil Pump

a. Buka Outlet Manual Valve Jacking Oil Pump b. Start Jacking Oil Pump

(12)

1.2.7. Turning Gear

Peralatan dalam kondisi siap operasi

a. Switch Turning Gear pada panel dalam kondisi OFF

b. Persiapkan 2 operator untuk mengoperasikan turning Gear

c. Tekan Handle Piston dan bersamaan dengan itu putar Handle Motor, masing-masing dilakukan oleh 1 operator. Ini untuk mengkoneksikan Gear pada Motor dan Gear pada Shaft Turbin.

r Gambar 6. Turning Gear

d. Tekan Switch ke posisi ON, kemudian arahkan panel ke posisi RUN

1.2.8. Condensate Water Pump

a. Buka valve Condensate Pump Inlet Motor Valve

b. Buka Drain Valve yang terletak diantara valve Condensate Pump Inlet Motor Valve dan strainer untuk membuang air kotor pada daerah tersebut. Tutup kembali jika sudah dipastikan bersih

c. Buka Inlet Manual Valve dan Outlet dari CCWP untuk mendinginkan bearing DE dan NDE Condensate Water Pump

d. Buka Manual Valve Inlet dan Outlet Gland Steam Condenser e. Buka LP Heater 5 Condensate Bypass Motor

f. Buka LP Heater 4 Condensate Bypass Motor Valve

g. Buka Manual Valve Deaerator Filling Water Piping dilokal untuk mengisi air yang diambil dari Condensate Water Storage Tank melalui

(13)

Condensate Transfer Pump pada line-pipe outlet Condensate Water Pump sampai Deaerator

h. Setelah seluruh line-pipe outlet Condensate Pump menuju Deaerator telah terisi air, maka tutup seluruh Manual Venting Valve dan Manual Valve Deaerator Filling Water Piping

i. Start Condensate Water Pump

1.2.9. Boiler Water Feed Pump

a. Buka Primary Boiler Water Filling Manual Valve, Secondary Boiler Water Filling Manual Valve, HP Heater 1 Bypass Motor Valve, HP Heater 2 Bypass Motor Valve, Front Boiler 70% Feed Water CV Motor Valve, Front Boiler 30% Feed Water CV Motor Valve, Front Boiler 100% Feed Water CV Motor Valve, Primary Venting Manual Valve dan Secondary Venting Manual Valve

b. Start Condensate Transfer Pump untuk mengisi line BFP (buka venting valve untuk membuang udara sisa dioutlet header pompa dan tutup kembali jika sudah mengalir air)

c. Tunggu sampai Feed Water Pressure (Before HP Heater 2) menunjukkan tekanan

d. Tutup kembali Primary Venting Manual Valve dan Secondary Venting Manual Valve jika sudah mengalir air dengan menunggu 5-10 menit atau memegang dan merasakan sampai terdapat aliran air pada outlet Venting Manual Valve tersebut

e. Matikan Condensate Transfer Pump

f. Tutup kembali Primary Boiler Water Filling Manual Valve dan Secondary Boiler Water Filling Manual Valve

g. Start BFWP pompa Oil BFP

h. Buka Feedwater Pump Gland seal Valve

i. Atur tekanan inlet dan outlet sesuai yang diizinkan dengan membuka dan menutup Manual Valve Inlet dan Outlet Sealing BFP

j. Buka Manual Valve Inlet BFP 100%

k. Buka Primary Manual Venting Valve dan Secondary l. Buka Penuh Front BFP sirkulasi (Leak Off) CV Motor Valve

(14)

m. Buka BFP Leak Off Control Valve 100%

n. Atur pembukaan sirkulasi (leak off) control Valve sesuai dengan tekanan air pengisi ke drum dan kenaikan beban. (Note :Level Drum Normal dilanjutkan Pengoperasian Boiler).

1.2.10. Vacuum Pump

a. Atur level vacuum tank normal b. Tutup Vaccum Breaker Valve

c. Buka Vaccum Pump Inlet Motor Valve d. Start Vacuum Pump.

1.2.11. Penyetopan Peralatan

Pada umumnya semua peralatan pompa hampir sama cara penyetopannya, yaitu dengan menekan tombol stop, tidak ada persiapan khusus dalam menyetopkan peralatan ini. Ada tambahan khusus pada penyestopan Vacuum Pump bila pompa Vacuum telah distop maka Vacuum breaker Valve harus dibuka.

1.3. Pengoperasian Turbin

Ada tiga kondisi start berdasarkan temperatur inner casing turbin dalam memulai proses rolling turbin, yatiu :

 Turbin start dingin (Cold Start)

 Turbin start hangat (Warm Start)

 Turbin start panas (Hot Start)

Kondisi cold start jika suhu inner casing turbin < 180oC, kondisi warm start jika suhu temperatur inner casing turbin diantara 180oC – 400oC, sedangkan kondisi hot start temperatur innner casing diatas 400oC. Grafik ketiga kondisi pengoperasian turbin ini dapat dilihat pada gambar berikut.

(15)

Gambar 7. Grafik Turbin Cold Start

(16)

Gambar 8. Grafik Turbin Warm Start

(17)

Gambar 9. Grafik Turbin Hot Start

1.3.1 Rolling Turbin

Sebelum mengoperasikan turbin semua peralatan atau sistem yang merupakan bagian dari turbin harus dioperasikan. Persyaratan untuk mengoperasikan peralatan atau sistem adalah pemeriksaan dan persiapan. Penjelasan mengenai pemeriksaan dan persiapan peralatan atau sistem untuk komponen turbin telah dibahas di paragraf sebelumnya, seperti sistem pelumas dan sistem air pendingin.

Dibawah ini pengoperasian peralatan atau sistem yang harus dilakukan sebelum turbin beroperasi.

(18)

a. Kondensor utama

Sistem air pendingin utama sudah beroperasi dan air pendingin telah mengalir melalui kondensor.

b. Minyak pelumas

Pompa minyak pelumas telah beroperasi dengan tekanan yang cukup dan temperatur dalam batas operasi normal. Semua bagian yang bantalan teraliri minyak yang ditunjukkan dengan adanya aliran minyak pada sight glass.

c. Turning gear dan Jacking Oil serta EH Oil

Bila dilengkapi dengan jacking oil jalankan jacking oil untuk mengangkat poros, kemudian jalankan turning untuk memutar poros. Bila tidak dilengkapi dengan jacking oil, jalankan langsung turning gear setelah sistem pelumas beroperasi.

d. Saluran uap utama

Lakukan pemanasan saluran uap utama, apabila temperatur dan tekanan uap keluar boiler sudah cukup, dengan cara :

 Buka semua katup drain yang tersedia (drain main steam dsb).

 Buka katup bypass BSV (boiler stop valve)

 Periksa tekanan dan temperatur sebelum dan sesudah BSV, tunggu hingga keduanya mendekati sama.

 Setelah sama, buka penuh katup BSV

 Tutup katup bypass BSV

 Katup drain main steam, biasanya ditutup ketika generator sudah sinkron.

A. Membuat Vakum

Sebelum menjalankan turbin mengalirkan uap kedalam turbin kondensor harus dibuat vakum terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar uap yang memutar turbin begitu masuk kondensor langsung terkondensasi.

(19)

Prosedur untuk membuat vakum kondensor dilakukan dengan cara sebagai berikut :

 Alirkan uap perapat poros turbin menggunakan uap bantu.

 Buka drain Gland steam condenser, kemudian tutup kembali

 Jalankan exhaust fan gland stem condenser

 Buka katup uap untuk Starting (hooging) ejektor udara, perhatikan tekanan uapnya

 Buka katup drain ejektor beberapa saat, kemudian tutup kembali

 Buka katup sisi udara

 Tutup katup vacuum breaker

 Start Pompa Vakum

 Periksa kenaikan vakumnya

Pada saat mengalirkan uap perapat periksa sisi tekanan rendah silinder turbin tekanan rendah, tidak menjadi panas akibat aliran uap perapat ini.

Apabila tidak tersedia ejektor, penaikan vakum dilakukan dengan menggunakan pompa vakum atau pompa udara. Naikkan vakum hingga mencapai nilai minimum yang diizinkan.

B. Rolling

Turbin dirancang untuk memikul beban pada kecepatan tertentu dengan tekanan dan temperatur uap tertentu pula. Turbin akan bekerja dengan normal apabila tercapai kondisi yang stabil, yaitu gradien panas yang benar mulai dari sisi masuk hingga sisi keluar. Semua clearance dalam keadaan normal, ekspansi harus benar-benar bebas dan kelurusan poros harus berada dalam batas yang telah ditentukan.

Untuk dapat mengalirkan uap kedalam turbin, temperatur dan tekanan uap harus sesuai dengan temperatur tingkat pertama metal turbin tekanan tinggi. Apabila temperatur uap telah sesuai, maka uap dapat dialirkan untuk memutar turbin.

(20)

Begitu uap mengalir putaran turbin naik, kopling turning gear lepas dan turning stop secara otomatis. Kenaikan putaran turbin harus dilakukan secara bertahap untuk memberi kesempatan metal turbin (rotor dan casing) memuai dengan merata. Selama proses start turbin, temperatur uap masuk turbin harus dipertahankan konstan diatas temperatur jenuhnya atau dalam kondisi superheat. Sebelum menaikan putaran ke tahap berikutnya , lakukan pemeriksaan parameter dibawah ini untuk memastikan bahwa minyak mengalir ke semua bantalan dan distribuasi panas berlangsung dengan baik.

 Eksentrisitas silinder turbin tekanan tinggi dan tekanan menengah

 Perbedaan pemuaian dalam silinder tekanan tinggi, menegah, dan rendah

 Posisi rotor

 Vibrasi bantalan

 Tekanan minyak bantalan dan temperatur minyak keluar pendingin

 Temperatur uap pada stop valve turbin

 Temperatur metal turbin

Bila terdapat kelainan pada parameter diatas, maka penyebabnya harus dicari hingga dapat ditetapkan apakah akan dilanjutkan atau dibatalkan start turbin ini.

Tahap kenaikan putaran dan waktu yang diperlukan untuk menjalankan mesin hingga putaran kerja akan berbeda-beda sesuai dengan jenis start dan tipe mesinnya.

Pada saat melewati putaran kritis jangan berhenti atau memperlambat putaran, karena pada saat itu vibrasinya cukup tinggi. Pada putaran sekitar 2850-2950 rpm terjadi transfer katup governor bergerak menutup ke posisi minimum sedang katup penutup turbin (TSV) membuka penuh. Kontrol putaran turbin kini dipegang oleh katup governor.

(21)

Pada saat putaran mencapai 3000 rpm, pompa pelumas bantu dapat di stop, karena pompa pelumas utama sudah berfungsi. Lakukan pemeriksaan lagi kondisi operasi turbin sebelum melanjutkan ke langkah berikutnya, yaitu memparalel generator.

Selama proses start turbin temperatur uap masuk turbin tidak boleh turun- naik, temperatur ini harus diusahakan cenderung naik secara perlahan dengan mengatur pembakaran di boiler. Kenaikan dan penurunan temperatur uap masuk turbin akan menyebabkan terjadinya pemuaian dan penyusutan metal turbin.

Hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses rolling :

 Setiap kenaikan putaran turbin, koordinasikan dengan operator boiler untuk menjaga level steam drum karena banyak steam yang dibutuhkan ketika putaran turbin bertambah besar

 Perhatikan semua parameter pada layar DEH ATC, pastikan nilainya normal

 Turning Gear akan lepas secara otomatis ketika putaran turbin >4.3 RPM

 Perhatikan dan pastikan #2 LUBE OIL HEADER PRESSURE ± 145 – 155 kPa pada layar DCS pengoperasian Turbine Proper Lube Oil System

 Ketika putaran turbin > 1300 RPM, matikan JACKING OIL PUMP

Langkah-langkahnya :

- Tekan tombol IL (jacking oil pump) pada layar TURBINE PROPER LUBE OIL SYSTEM

- Setelah muncul layar JACKING OIL STANDBY, klik tombol ONE lalu OK

- Klik Jacking Oil Pump yang beroperasi

- Setelah muncul layar JACKING OIL PUMP, klik STOP lalu OK

(22)

- Klik tombol PS (jacking oil pump) pada layar TURBINE PROPER LUBE OIL SYSTEM

- Setelah muncul layar JACKING OIL PUMP PRE A SELECT, klik tombol SEL-1 atau SEL-2 (tergantung pompa mana yang dipilih untuk operasi dahulu) lalu OK

 Ketika putaran turbin 3000 RPM, matikan AC OIL PUMP dan HP OIL PUMP

1.3.2 Pengoperasian Extraction

Sistem Extraction Steam merupakan pengambilan uap Turbin yang digunakan untuk pemanasan LP Heater dan HP Heater. Perbedaan temperatur dalam saluran piping atas bawah pada sistem extraksi ini biasanya tidak melebihi 50oC bila perbedaan temperatur melebihi batas nilai yang diizinkan maka motor valve extraksi tidak akan membuka bila dioperasikan secara remote, juga proses de- oksigen dan pemanasan di deaerator, adapun langkah-langkah proses pengoperasiannya yaitu :

a. Extraction Untuk LP Heater

Penggunaan ekxtraksi untuk LP Heater ini digunakan setelah beban mencapai 10%.

Langkah-lagkah kerjanya yaitu :

 Buka semua Drain Extraction Valve Low Pressure Heater & Extraction Steam System (biasanya valve ini dalam kondisi terbuka otomatis bila turbin stop) dan pastikan di lokal semua manual valve sebelum dan sesudah Drain Extraction Manual Valve dalam keadaan terbuka.

 Pastikan semua Drain Heater Valve pada Low Pressure Heater dalam keadaan tertutup dan pastikan di lokal Drain Heater Manual Valve dalam keadaan tertutup

 Buka LP Heater outlet dan inlet sisi air , pastikan di lokal telah benar- benar terbuka 100%, kemudian by pass valve dapat ditutup

(23)

 Kontrol Level pada LP Heater sesuai dengan batas normal yang diizinkan.

b. Extraction Untuk Deaerator

Penggunaan ekxtraksi untuk LP Heater ini digunakan setelah beban mencapai 30%.

Langkah-lagkah kerjanya yaitu :

 Pastikan Extraction Steam By Pass Motor Valve dalam keadaan tertutup

 Pastikan Auxiliary Steam To Deaerator Motor Valve yang bersumber dari aux steam boiler dalam keadaan tertutup

 Buka Extraction Steam Check Valve

 Buka Extraction Steam Motor Valve

 Tutup Extraction Steam Before Check Valve Drain Valve

 Tutup Extraction Steam Behind Check Valve Drain Valve

 Gunakan Deaerator Heater Steam Inlet Control Valve untuk mengontrol tekanan deaerator

c. Extraction Untuk HP Heater

Penggunaan ektraksi untuk HP Heater ini digunakan setelah beban mencapai 20%.

Langkah-lagkah kerjanya yaitu :

 Buka HP Heater Inlet dan Outlet Motor Valve pada sisi air pastikan di lokal dalam keadaan terbuka, setelah terbuka kedua valve tersebut maka valve by pass dapat ditutup

 Buka Extraction Steam Check Valve

 Buka Extraction Steam Motor Valve

 Tutup Extraction Steam Before Check Valve Drain Valve

 Tutup Extraction Steam Behind Check Valve Drain Valve

 Kontrol level dalam kondisi normal.

(24)

1.4. Shut Down Turbin

Ketika turbin telah berbeban dan akan dilakukan shut down, maka dalam proses penurunan beban generator yang perlu diperhatikan adalah :

 Penurunan temperatur dari inner casing turbin harus dikontrol jangan terlalu drastis

 Memperhatikan parameter-parameter yang ada yaitu : vibrasi bearing, rotor eccentric, casing expansion, vakum condensor, tekanan pelumasan, temperatur casing.

 Pada beban dibawah 30% maka extraksi untuk deaerator ditutup dan pengambilan sumber steam untuk deaerator dari steam auxerilary boiler

 Pada beban dibawah 20% maka extraksi untuk HP Heater ditutup dan semua drain-drain extraksi akan terbuka

 Pada beban dibawah 10% maka extraksi untuk LP Heater ditutup

 Setelah generator lepas syncron, maka beberapa saat kemudian turbin dapat distop dengan menekan tombol stop turbin.

 Setelah tombol stop turbin ditekan maka GV dan TV akan menutup penuh, perhatikan semua kondisi berjalan dengan normal (Pompa pelumas AC Oil Pump start, pada putaran <800 rpm start Jacking Oil Pump), putaran turbin akan turun menuju 0 rpm

 Ketika putaran turbin mendekati 0 rpm, operasikan turning gear.

DAFTAR SINGKATAN

CTP : Condensate Transfer Pump

MCWP : Main Cooling Water Pump

CWP : Condensate Water Pump

OCWP : Open Cooling Water Pump

CCWP : Close Cooling Water Pump

(25)

BFP : Boiler Feed Pump

BFWP : Boiler Feed Water Pump (Sama Dengan BFP)

TOP : Turning Oil Pump

EOP : Emergency Oil Pump

AOP : Auxiliary Oil Pump

2. Pengoperasian Boiler CFB

2.1. Persiapan Start

Sebelum melakukan pengoperasian suatu peralatan atau sistem, maka harus dilakukan persiapan atau pemeriksaan sebelum start (pre start check). Apabila kondisi unit usai pekerjaan overhaul atau pekerjaan pemeliharaan, maka persiapan dan pemeriksaan mencakup semua bagian alat dan harus dilakukan secara teliti dan bertahap. Tetapi apabila kondisi unit hangat atau stand by, maka persiapn dan pemeriksaan relatif lebih sederhana dan singkat, hanya untuk memastikan (konfirmasi) posisi bagian alat.

Persiapan ini meliputi persiapan terhadap semua peralatan atau sistem yang merupakan bagian dari boiler. Sesuai dengan prosedur yang berlaku pekerjaan persiapan ataupun pengoperasian alat atau sistem ada yang dapat dilakukan secara paralel tetapi ada pula yang harus dikerjakan secara berurutan.

Persiapan Pra Operasi Boiler

Didalam unit pembangkit yang terdiri dari berbagai sistem peralatan diperlukan persiapan dan pemeriksaan dari peralatan-peralatan tersebut agar dapat beroperasi dengan baik pada saat dioperasikan. Berikut ini merupakan pemeriksaan pra operasi yang harus dilaksanakan dengan cermat operator.

a. Sistem Bahan Bakar

Bahan bakar yang digunakan di boiler CFB adalah minyak solar (HSD) sebagai bahan bakar penyala untuk start up dan bahan bakar batubara sebagai bahan bakar utama.

Bahan bakar minyak solar (HSD)

(26)

Bahan bakar minyak solar digunakan sebagai pembakaran awal pada saat start dingin start hangat. Sistem bahan bakar solar yang dipersiapkan mulai dari tangki hingga penyala. Pemeriksaan pada sistem ini meliputi :

- Level tangki solar (HSD) cukup

- Katup masuk dan keluar tangki dalam posisi yang benar - Saringan (strainer) sisi masuk pompa dalam keadaan bersih

dan terpasang benar.

- Pompa solar dalam keadaan siap

- Katup masuk dan keluar pompa dalam posisi benar

- Katup pengatur (control valve) tekanan dalam posisi benar - Flow meter, angkanya dicatat

- Trip valve (katup penutup cepat) tertutup

- Igniter dalam kondisi baik (bersih dan sumber listrik pematik ada)

- Sistem atomisasi uap atau udara siap

Sistem bahan bakar batubara

Sistem bahan bakar batubara merupakan sistem yang cukup kompleks karena komponennya banyak. Persiapan sistem bahan bakar batubara mulai dari bunker hingga Coal Feeder. Namun demikian harus selalu berkomunikasi dengan pihak yang menangani persediaan batubara untuk kelangsungan pasokannya ke bunker.

Pemeriksaan sistem ini meliputi : - Level silo batubara cukup

- Coal feeder sudah siap, meliputi pasok listrik, dan pencatat aliran

- Gate valve masuk dan keluar feeder dalam posisi yang benar

(27)

- Lampu coal feeder menyala dan kaca intip dalam kondisi bersih.

- Belt conveyor coal feeder dalam posisi yang lurus/ tidak slip - Seal air dalam posisi siap

b. Sistem Udara Instrument Dan Udara Service

Sistem ini dioperasikan apabila sistem air pendingin umum telah beroperasi. Hal ini karena kompressor udara instrumen maupun kompresor udara service didinginkan dengan air pendingin umum. Produk udara instrumen ini digunakan untuk menggerakkan peralatan instrumen-kontrol termasuk katup dan damper.

Persiapan sebelum mengoperasikan sistem udara instrumen dan service pada dasarnya sama. Perbedaannya adalah dalam sistem udara instrumen terdapat sistem pengering udara (air dryer).

Prosedur persiapan dan pemeriksaannya adalah sebagai berikut :

 Level minyak pelumas dalam kompresor cukup

 Kekencangan dari V belt cukup

 Katup air pendingin masuk dan keluar kompresor dalam posisi benar

 Katup udara keluar kompresor terbuka

 Saringan udara masuk kompresor bersih dan terpasang.

 Tangki penampung (receiver) dalam keadaan siap termasuk katup dan drainnya.

 Kompresor dalam keadaan siap termasuk pasok listriknya

 Sistem pengering udara dalam kondisi siap

c. Sistem Udara Pembakaran Dan Gas Buang

Udara Fluidizied dari Primary Air Fan, udara sekunder dari Secondary Air Fan, udara tekanan tinggi untuk mengembalikan material ke furnace dari Separator dan udara pengisap dari Induce Draft Fan dalam keadaan siap.

Persiapan dan pemeriksaan sistem ini meliputi sebagai berikut :

(28)

 Inlet dan oulet Damper PAF dalam posisi benar dan dapat dioperasikan dari remote

 Pasokan listrik PAF, pelumas dan pendingin dalam keadaan siap

 Inlet dan outlet Damper SAF dalam posisi benar dan dapat dioperasikan remote

 Outlet High Pressure Fan (HP Blower) dalam posisi benar

 Inlet dan oulet Damper IDF dalam posisi benar dan dapat dioperasikan dari remote

 Damper-damper pada PA duct burner dalam posisi benar dan dapat dioperasikan remote

 Damper PAF dan SAF masuk dan keluar air heater dalam posisi benar

 Electrostatic precipitator dalam posisi siap

 ID fan meliputi pasok listrik, pelumas, dan pendingin dalam keadaan siap

 Semua manhole dan inspection door dalam posisi tertutup.

Pada beberapa boiler tertentu dilengkapi dengan sistem resirkulasi gas yang berfungsi untuk mengontrol temperatur uap. Caranya adalah dengan mensirkulasikan sebagian gas keluar ekonomiser dikembalikan ke ruang bakar dengan menggunakan gas recirculation fan (GR fan).

Pemeriksaan dan persiapan sistem ini meliputi : - Dust collector dalam keadaan bersih dan siap

- Damper gas masuk dan keluar GR fan dalam posisi benar

- GR fan meliputi pasok listrik, pelumas, pendingin dan pengontrol putaran dalam keadaan siap.

- Semua manhole dalam keadaan tertutup.

(29)

2.2. Pengoperasian Peralatan Sistem Boiler 2.2.1. Pompa Bahan Bakar HSD

Persiapan dan pemeriksaan sudah selesai

Lakukan priming pada saringan dan pompa dengan cara membuka katup sisi masuk saringan dan pompa, dan menutup katup keluar pompa. Tutup katup drain dan buka katup venting. Tunggu hingga minyak keluar dari venting, kemudian katup venting ditutup dan katup discharge pompa dibuka.

a. Tekan tombol start (on)

b. Periksa tekanan keluar pompa dan ampere motor

c. Periksa kerja katup resirkulasi dan katup pengatur tekanan.

d. Buka katup penutup cepat (trip valve) dan lihat tekanan pada header.

e. Ignitor siap dinyalakan

Pengoperasian ignitor yang pertama pada saat start boiler dilakukan setelah purging ruang bakar (boiler) selesai.

2.2.2. Pompa Pelumas

Persiapan dan pemeriksaan sudah selesai

Pompa pelumas umumnya terpasang pada ID Fan. Pompa pelumas ini tugasnya untuk mensirkulasikan pelumas untuk melumasi bearing-bearing seperti NDE dan DE side bearing.

Pemeriksaan dan persiapan sudah selesai a. Tekan tombol start (on)

b. Periksa Ampere motor, tekanan, temperatur dan aliran minyak pelumas.

c. Pastikan saluran lancar dan tekanan minyak pelumas sebelum masuk bearing mencukupi.

2.2.3. Kompressor Udara

Persiapan dan pemeriksaan sudah selesai

a. Pilih posisi selector switch loading-unloading

(30)

b. Tekan tombol start (on)

c. Periksa : ampere motor, tekanan udara keluar kompresor, kerja sistem pendingin, vibrasi

d. Periksa kerja switch loading-unloading e. Operasikan Drier.

2.2.4. Fan - Fan

Penggunaan fan pada Boiler PLTU CFB batubara lebih dari satu jenis, yaitu ID Fan, SA Fan, PA Fan dan HPA Fan (Note : Pengoperasian Fan-Fan setelah level drum dalam keadaan normal) .

Pada dasarnya pengoperasian semua fan prosedurnya sama, bila ada perbedaan hanya karena perlengkapannya yang berbeda. Pada saat fan akan distart vane atau damper sisi masuk fan harus tertutup kecuali pada HPA Fan.

a. Lakukan pengoperasian Fan-fan sesuai dengan sequence biasanya urutan pengoperasiannya adalah : IDF, HPAF, SAF, dan PAF.

b. Tekan tombol start (on)

c. Tunggu beberapa saat, fan akan start

d. Periksa : ampere , pelumas, dan pendinginnya serta vibrasi.

e. Atur aliran dengan membuka vane sisi masuk fan.

2.2.5. Pengisian Pasir

Pasir yang ada di dalam sand silo dialirkan ke furnace melalui pemipaan tersendiri, pemipaan ini masuk melalui satu sisi saja di furnace. Pengiriman pasir yang berfungsi sebagai bed material ini didorong oleh tekanan udara service.

Cara pengoperasiannya sebagai berikut ;

a. Buka venting sand vessel valve dan sand vessel inlet valve setelah vessel terisi penuh tutup.

b. Buka sand vessel to boiler valve

c. Tutup setelah tekanan di line turun yang mengidikasikan line sudah kosong.

(31)

2.2.6. Penyetopan (Shut Down)

Didalam melakukan penyetopan terhadap pompa atau mesin tersebut diatas pada prinsipnya prosedurnya hampir sama diantara satu dengan yang lain, yaitu :

a. Turunkan (kurangi) beban hingga minimum, periksa sistem resirkulasi b. Tekan tombol stop (off)

c. Mesin stop dan periksa, tekanan keluar serta amper motor

Pastikan bahwa mesin tersebut telah stop dan katup atau damper isolasi menutup.

2.2.7. Pengoperasian Firing Oil

Sebelum melakukan penyalaan pertama pada boiler, ruang bakar dan saluran gas harus di purging (dibilas). Tujuan dari purge ini adalah untuk membuang gas yang dapat terbakar (combustible gas) dari dalam boiler. Gas yang dapat terbakar yang terdapat didalam boiler berasal dari bahan bakar yang tidak terbakar.

Ketika boiler beroperasi selalu ada resiko masuknya bahan bakar yang tidak terbakar kedalam boiler. Untuk memastikan bahwa boiler sudah bersih dari combustible gas, maka purging dilakukan selama sekitar 3 - 5 menit.

2.2.8. Persiapan Purge

Untuk dapat melakukan purging diperlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan untuk melakukan purge antara boiler yang satu dengan yang lain dapat saja berbeda, tetapi persyaratan utama pada prinsipnya sama.

Persyaratan tersebut antara lain adalah :

a. Aliran udara lebih besar dari 30 % aliran beban penuh

b. Katup penutup cepat (trip valve) bahan bakar penyala tertutup c. Tekanan ruang bakar sudah sesuai

d. Katup penutup cepat bahan bakar utama tertutup e. Semua damper dan vane udara dan gas terbuka f. Level air di drum boiler diatas batas minimum.

g. Tidak ada nyala api di ruang bakar h. Tidak sedang menjalankan pembakaran

(32)

i. Boiler tidak sedang trip

Untuk memperoleh aliran udara lebih besar dari 30 %, dilakukan dengan mengatur inlet vane dari FD fan. Sementara untuk mengisi air ke drum boiler dapat dilakukan dengan menggunakan pompa kondensat dan pompa BFP.

Bila semua persyaratan tersebut terpenuhi, maka lampu penunjuk tanda persyaratan purging terpenuhi menyala.

2.2.9. Prosedur Purging

Apabila persiapan dan persyaratan purging telah terpenuhi, maka purging dapat dilakukan . Prosedur purging dilakukan dengan cara mengalirkan udara ke ruang bakar dan semua saluran gas dengan aliran lebih minimal 30 % aliran beban penuh selama waktu sekitar 5 menit.

Selama proses purging berlangsung kondisi boiler dijaga stabil seperti sesaat sebelum purging. Jadi semua parameter dari alat yang beroperasi dijaga untuk tidak berubah dan tidak melakukan start atau stop suatu alat.

Pada dasarnya purging sudah mulai berlangsung pada saat FD fan mulai beroperasi dengan adanya aliran udara ke ruang bakar. Tetapi untuk memastikan bahwa purging telah dilakukan dengan yang benar, maka dibuat prosedur seperti tersebut diatas. Apabila pada saat proses purging sedang berlangsung salah satu parameter yang merupakan persyaratan purging berubah harganya, maka purging batal dan alarm gangguan muncul di panel.

Jika proses purging gagal, artinya belum selesai sesuai dengan set waktu yang telah ditentukan salah satu parameter berubah, maka purging harus diulang dari awal.

Ketika purging telah selesai (komplit) akan muncul pemberitahuan yang menyatakan bahwa purging telah selesai.

Pengoperasian ignitor yang pertama pada saat start boiler dilakukan setelah purging ruang bakar (boiler) selesai.

(33)

2.2.10. Penyalaan dan Menaikan Temperatur

Sebelum melakukan penyalaan awal, maka komponen berikut ini harus disiapkan :

a. Bahan bakar untuk penyala (minyak HSD atau gas LPG) cukup tersedia b. Damper udara dalam posisi untuk penyalaan

c. Tekanan uap atau udara untuk penyalaan cukup d. Elektroda busi dalam keadaan bersih

e. Flame detector (sensor) dalam keadaan baik dan telah terpasang f. Tekanan ruang bakar normal,

g. Tekanan bahan bakar penyala cukup

Penyalaan dapat dilakukan apabila purging telah selesai. Untuk melakukan penyalaan, maka katup bahan bakar penyala dibuka sehingga bahan bakar siap hingga didepan igniter tinggal menunggu sumber api dan udara.

Begitu tombol start igniter ditekan, maka urutan penyalaannya adalah sebagai berikut :

a. Igniter gun masuk keruang bakar.

b. Katup uap atau udara atomisasi terbuka c. Busi mengeluarkan bunga api (igniter on) d. Katup bahan bakar penyala terbuka

Jika nyala api yang ditangkap oleh flame detector memuaskan, artinya terjadi pembakaran yang baik, maka penyalaan berlangsung terus dan busi akan mati setelah memberi penyalaan. Tetapi jika nyala api yang ditangkap flame detector tidak memuaskan, maka igniter trip (katup bahan bakar penyala dan uap atau udara atomisasi tertutup, dan busi mati).

Pada saat pembakaran awal pastikan bahwa pembakaran terjadi dengan baik, tidak ada bahan bakar yang tidak terbakar masuk ke ruang bakar. Bentuk nyala api harus diperhatikan melalui kaca intip, yaitu tidak terlalu panjang tetapi juga tidak terlalu lebar sehingga menyentuh dinding ruang bakar.

Proses pemanasan pada boiler harus dilakukan bertahap dengan kenaikan temperatur uap yang terkontrol. Temperatur metal boiler (boiler drum, superheater) harus dipantau dan dijaga pada batas yang diijinkan. Temperatur

(34)

metal reheater juga harus diamati terus menerus karena belum ada aliran uap masuk turbin. Buka katup resirkulasi ekonomiser agar air dapat bersirkulasi dari drum ke pipa pipa ke ekonomiser dan kembali ke drum. Pada saat ini belum ada penguapan dan belum terjadi sirkulasi sehingga kenaikan temperatur harus diatur dengan hati-hati agar tidak terjadi overheating pada pipa-pipa boiler.

Atur laju kenaikan temperatur dan tekanan uap dengan mengatur banyaknya igniter yang beroperasi. Periksa temperatur gas keluar ruang bakar dengan menggunakan thermoprobe, jaga agar temperatur ini tidak melebihi batas yang telah ditentukan.

Apabila telah terjadi pemanasan yang cukup dan timbul tekanan yang cukup, pembakaran dapat dilanjutkan dengan menggunakan bahan bakar batubara.

Temperatur furnace untuk permit masuk bahan bakar batubara adalah 595OC guna memastikan batubara yang masuk dapat langsung terbakar dengan baik.

Laju kenaikan temperatur tetap harus dibatasi demikian pula temperatur pipa- pipa boiler juga harus terus dipantau. Pengaturan kenaikan temperatur dapat dilakukan dengan mengatur aliran bahan bakar dan udara pembakaran, serta drain dan katup blow down.

Urutan pengoperasian boiler tersebut diatas yang terdiri dari : a. Pengisian air ke boiler

b. Pengoperasian sistem udara dan gas c. Purging

d. Penyalaan dan (pembakaran) penaikan temperatur

2.2.11. Pengoperasian Coal Feeder

Setelah pengisian pasir kedalam furnace tercukupi dengan melihat parameter tekanan bed material dan temperature ruang baker telah sesuai dengan persyaratan start Coal Feeder, contohnya kalau di PLTU Labuhan Angin permit untuk pemasukan batubara ke ruang baker, maka temperature harus diatas 595 dec C. Maka pengoperasian Coal Feeder dapat dilakukan.

Langkah – langkah pengoperasiannya sebagai berikut :

a. Setelah semua permit tercapai Operator DCS membuka gate valve coal

(35)

b. Start motor belt conveyor coal feeder dengan flow minimum selama 15 detik dan kemudian distop

c. Perhatikan parameter oksigen excess, bila ada penurunan berarti batubara bara yang dimasukan ke furnace terbakar, dan adanya kenaikan temperature bed

d. Start kembali coal feeder selama 15 detik dan stop kembali perhatikan temperature dan O2 Excess nya juga.

e. Start kembali coal feeder dan atur flow batubara pada flow minimum, dan perhatikan terus kenaikan temperature furnace dan compact separator, sesuaikan pemasukan batubara dengan kenaikan temperature yang diizinkan setiap menit (sesuai manual book)

Seimbangkan laju kebutuhan udara pembakaran dan udara fluidazing dengan penambahan batubara kedalam furnace.

2.2.12. Limestone

a. Buka limestone manual isolation valves di front wall boiler.

b. Start dua dari tiga limestone blowers dan pastikan line discharge bertekanan.

c. Buka limestone rotary airlock isolation valves,

d. Start limestone rotary isolation valves, airlock rotary valves A1, A2, di limestone feeder A, dan B1 dan B2 on limestone feeder B.

e. Buka limestone isolation gates silo

f. Start limestone feeders secara manual pada minimum feeder speed.

g. Atur limestone flow untuk mengatur kebutuhan berdasarkan banyaknya bahan bakar dan stack emissions (SO2) monitor

h. Set limestone feeder controls pada posisi automatic ketika coalfeed dan limestone feed rates diatas minimum dan ketika beban boiler tinggi.

2.2.13. Stripper Cooler

Stripper cooler atau juga disebut bottom ash removal bertujuan untuk mengeluarkan kelebihan bed material dan medinginkan pada saat akan dikeluarkan dari ruang bakar. Operasikan rotary valve apabila differential

(36)

pressure di stripper cooler section sudah tinggi mengindikasikan sudah terisi oleh bed material.

a. Apabila hopper telah penuh stop rotary valve

b. Buka ash drain valve agar bottom ash dapat ditransfer ke bottom ash silo.

3. Pengoperasian Generator

3.1. Persiapan Start Up

Persiapan start yang dilakukan sebelum melakukan syncron generator dan membebani generator harus benar-benar diperhatikan, karena kelalaian didalam melakukan persiapan start dapat mengakibatkan kegagalan operasi dan bahkan bisa mengakibatkan kerusakan unit. Selama melakukan persiapan start up generator ini bisa bersamaan telah dimulai firing pada boiler. Persiapan- persiapan yang dilakukan adalah :

a. Semua permit telah dipenuhi, tidak ada lg pekerjaan di areal generator, switch yard, PMT, PMS (DS), dan areal kontrol;

b. Izin pekerjaan pelaksanaan pemeliharaan/Work Permit telah ditutup dengan hasil baik;

c. Sliding Ring dari generator dalam keadaan bersih, Carbon brush telah terpasang, cek semua rangkaian tidak ada kontak pembumian dan short circuit;

d. Periksa instrument proteksi signal dalam kondisi baik;

e. Pendinginan untuk generator dalam kondisi operasi, bila menggunakan pendinginan udara pastikan juga intercoooler untuk pendingin udara dalam kondisi baik, aliran air untuk cooler teraliri dengan sempurna, sesuai dengan kebutuhan;

f. Grounding outlet generator dalam posisi open;

g. Lakukan pengukuran resistansi terhadap Stator winding, winding eksitasi dalam keadaan nilai resistansi yang diizinkan;

h. Pengukuran dengan megger untuk mengukur resistansi isolasi untuk

(37)

Generator type WX21Z capasitas 143,75 MVA, Voltage 13,8 KVA, rated current 6014 A, maka dengan megger 2500 V nilai resistansi isolasi yang diizinkan tidak kurang dari 1MΩ, bila nilai pengukuran dibawah nilai yang diizinkan maka harus ditemukan masalah/penyebabnya;

i. Catat semua hasil pemeriksaan/pengecekan dan laporkan ke shift leader;

j. Pastikan bahwa heater generator telah dimatikan

k. Pastikan peralatan Synchronoscope dalam kondisi standby

3.2. Start Up Syncron

a. Pastikan putaran turbin > 2950 RPM

b. Tutup DS (Disconecting Switch)/PMS (Pemisah).

c. Tutup CB Eksitasi (excitation field breaker)

d. Aktifkan eksitasi dan sesuaikan parameter – parameter generator, seperti :

 tegangan generator (>95% rate voltage),

 arus generator,

 frekuensi (di Indonesia digunakan frekuensi 50 Hz), dan

 sudut phasa,

contoh : tegangan Generator > 95% X 13,8KV = > 13,11KV di PLTU Labuhan Angin

e. Aktifkan Synchronoscope,

f. Bila parameter – parameter generator terpenuhi maka PMT akan menutup dengan sendirinya

g. Setelah unit syncron, matikan Synchronoscope h. Naikkan beban (raise load) secara perlahan.

Contoh : 0.8 – 1 MW / menit 3.3. Shutdown dan Lepas Syncron

a. Pastikan daya mampu < 5% dari daya terpasang

contoh : < 5% X 115MW = < 5,75 MW pada PLTU Labuhan Angin b. Buka PMT (pemutus)

c. Matikan eksitasi

(38)

d. Buka CB Eksitasi (exitation field breaker)

e. Open DS (Disconecting Switch)/PMS (Pemisah)

f. Hidupkan heater generator (bila shutdown dalam jangka waktu yang lama)

4. Troubleshooting Turbin

4.1 Nilai Vakum Rendah

 Periksa pompa vakum apakah beroperasi dengan normal

 Perhatikan tekanan gland seal apakah beroperasi dibawah normal

 Periksa apakah ada kebocoran vakum pada venting-venting line dari discharge pompa condensate sampai suction ujung menuju deaerator

 Periksa diafragma pada casing LP turbin

4.2 Turbin Tidak Bisa Latch

 Reset supervisi peralatan control turbin (DEH Control)

 Tekanan vakum tidak terbaca oleh control DEH

 Membran untuk valve proteksi turbin bocor

4.3 Peralatan Bantu Turbin A. Main Cooling

No Gangguan Identifikasi Masalah Penanggulangan 1. MCWP Motor

Bearing Temperatur High

Sistem pendingin bearing tidak bekerja

Terjadi kerusakan bearing

Cek sistem pendingin dan pastikan pendingin dari Booster Pump bekerja dengan baik

Ganti bearing jika terjadi kerusakan

B. Open Cycle Cooling Water

No Gangguan Identifikasi Masalah Penanggulangan 1. Vibrasi Pompa

tinggi

Inlet valve masih tertutup, sehingga tidak adanya air melalui pompa

Inlet dan Outlet Valve pada filter belum terbuka sempurna

Terjadi kerusakan

Sebelum

mengoperasikan pompa pastikan semua inlet valve tebuka sempurna

Ganti bearing jika terjadi kerusakan, dan aligment poros pompa dan motor

Jika hanya satu MCWP

(39)

Main Cooling Water pressure low sehingga air tidak mengalir ke sistem OCWP

gunakan hanya satu sisi pada kondensor sehingga distribusi air ke sistem OCWP tetap normal

2. Temperatur air keluaran Heat Exchanger sisi OCWP makin turun

Perpindahan panas pada Heat Exchanger telah berkurang karena terdapat pengendapan kotoran air laut pada tubing

Pindahkan

pengoperasian ke Heat Exchanger yang masih bersih, dan segera bersihkan Heat Exchanger yang kotor C. Close Cycle Cooling Water

No Gangguan Identifikasi Masalah Penanggulangan 1. Vibrasi Pompa

tinggi

Inlet valve masih tertutup, sehingga tidak adanya air melalui pompa

Terjadi kerusakan bearing

Sebelum

mengoperasikan pompa pastikan semua inlet valve tebuka sempurna

Ganti bearing jika terjadi kerusakan, dan aligment poros pompa dan motor 2. Temperatur

air keluaran Heat

Exchanger sisi OCWP makin naik

Perpindahan panas pada Heat Exchanger telah berkurang karena terdapat pengendapan kotoran air laut pada tubing

Pindahkan

pengoperasian ke Heat Exchanger yang masih bersih, dan segera bersihkan Heat Exchanger yang kotor 3. Tekanan pada

sistem turun, current CCWP naik

Pembukaan By Pass Lube Oil Cooler Valve terlalu besar

Pembukaan Generator air cooler CV terlalu besar (sesuaikan dengan temperature dan beban saat operasi)

Pembukaan Lube Oil Cooler CV terlalu besar (sesuaikan dengan temperature oli)

Sesuaikan besarnya pembukaan valve sehingga diperoleh tekanan kerja 0.56-0.58 Mpa.

D. Sistem Pelumasan

No Gangguan Identifikasi Masalah Penanggulangan 1. Tekanan Oli Oil filter telah kotor Ganti pengoperasian oil

(40)

turun Ada valve yang masih tertutup

Terjadi kebocoran

pada sistem

pelumasan

Level Oli kurang

filter dengan yang masih bersih, kemudian segera bersihkan oil filter yang kotor

Periksa semua valve dan pastikan valve yang harus terbuka dalam kondisi Open

Periksa kebocoran pada semua bagian, dan segera mampatkan

Level oli harus selalu dipantau jika berkurang segera tambahkan hingga level normal 2. Temperature

oli naik

Perpindahan panas pada oil cooler bermasalah

Proses pendinginan CCWP oleh OCWP bermasalah, sehingga temperature CCWP naik

Pembukaan valve pada sistem Lube Oil

Cooler belum

sempurna, yaitu 1. Lube Oil Coolers

Control Valve 2. Inlet dan Outlet

Manual Valve Oil Cooler sisi oli 3. Inlet dan Outlet

Manual Valve Oil Cooler sisi air

Periksa oil cooler, pindahkan

pengoperasian ke oil cooler yang masih bagus

Periksa Heat Exchanger, pindahkan

pengoperasian ke Heat Exchanger lainnya jika telah kotor

Periksa semua valve dan pastikan yang harus terbuka dalam posisi Open

E. Sistem Air Pengisi

No Gangguan Identifikasi Masalah Penanggulangan 1. Motor Bearing

temperature

Sealing dari CCWP belum dibuka

Periksa pembukaan inlet dan outlet valve sealing

(41)

bermasalah

Temperature transmitter rusak

terbuka untuk CWP yang beroperasi

Periksa bearing, ganti jika telah rusak

Periksa temperature motor bearing secara manual di lokal, jika terdapat perbedaan lokal dengan DCS segera perbaiki temperature transmitter

2. Condensate pump outlet header pressure Low

Inlet filter CWP kotor

Terjadi kebocoran pada condensate pump outlet header

Pembukaan resirkulasi valve terlalu besar

Pindahkan

pengoperasian CWP, dan segera bersihkan filter

Periksa kebocoran dan segera mampatkan

Atur pembukaan resirkulasi valve

3. CWP trip Level kondensor LL (Low Low < 300 mm)

Temperature motor bearing high > 800C

Inlet Filter CWP kotor sehingga pressure outlet header Low

.Jaga level kondensor >

600 mm

Periksa sealing dari CCWP dan pastikan selalu beroperasi dengan normal

Pindahkan

pengoperasian CWP, dan segera bersihkan filter

4. Motor bearing temperature BFWP High

Lube oil BFWP bermasalah

Pendingin Lube Oil

dari CCWP

bermasalah

Sealing dari outlet CWP tidak normal

Periksa semua valve pada sistem Lube Oil

Periksa level Oli, tambahkan jika berkurang

Periksa Lube Oil Pump, untuk kondisi emergency operasikan 2 Lube Oil Pump

Pastikan header valve sealing BFWP terbuka penuh

Atur sealing BFWP pada

(42)

tekanan normal

5. Troubelshooting Boiler

5.1. Temperatur Bed Tinggi/Rendah

a. Cek thermokopel dan instrument yang berhubungan dengan pengukuran temperatur.

b. Cek kondisi coal feeder beroperasi dengan baik, normal dari tumpahan, plugging dan putaran belt normal.

c. Cek kondisi operasi Primary dan Secondary Fan dan blower, tambah/kurangi PA to grid atau PA to plenum, Up PA ditambahi atau dikurangi.

d. Apabila temperatur naik bed pressure tinggi, operasikan Stripper Cooler, dan pastikan bed material terbuang di lokal.

e. Cek level, densitas dan pressure bed di ruang bakar. Atur hingga pada kondisi normal.

5.2. Tekanan Minyak HSD Terlalu Rendah

a. Cek line pipa bahan bakar, bila pressure rendah bersihkan filter di lokal.

b. Cek kondisi pompa bahan bakar ketika beroperasi apakah tidak ada kelainan suara.

c. Cek valve by pass tekanan minyak HSD apakah terlalu terbuka.

5.3. Bed Terlalu Tinggi/Rendah

a. Cek tapping tekanan instrument dan pastikan tidak ada yang tersumbat.

b. Cek Operasi Fan dan blower sudah sesuai dengan kebutuhan operasi c. Cek indikasi pressure di windbox.

d. Jangan mengoperasikan boiler tanpa bed material yang cukup di dalam furnace. Jika bed material turun (windbox pressure <7,5KPa), semua coal feeder akan otomatis stop.

e. Perhatikan pengoperasian Coal feeder, apabila kondisi batubara kurang baik (kalori rendah), Operasikan Stripper Cooler lebih sering.

5.4. Level Drum Tinggi/Rendah

a. Cek semua instrmen untuk steam drum, blowdown level glass dan pastikan pembacaan sama antara lokal dan DCS.

b. Cek line up boiler feed pump dan pastikan level di deaeretor normal.

(43)

c. Cek semua feed water control valves, pastikan instrument air ke control normal dan bebas dari air.

d. Cek semua transmitter steam flow dan feed water flow.

e. Cek apakah ada kebocoran tube boiler atau tidak dengan pengamatan di lokal dan pembacaan temperature di DCS.

f. Cek semua kondisi drain valve. Pastikan tidak ada yang terbuka atau bocor.

5.5. Kehilangan Bed Material di Sirkulasi

a. Cek pengoperasian stripper cooler, pastikan kondisinya normal tidak ada kebocoran.

b. Cek fluidisasi di semua nozzles wall seal. Jika bola di rotameter tidak melayang hal itu mengindikasikan ada nozzle yang tersumbat. Gunakan udara service untuk melepas sumbatan di nozzle.

c. Cek tekanan discharge HPA Fan, pastikan inlet filter HPAF tidak tersumbat.

d. Cek semua fan dalam kondisi normal.

5.6. Coal Feeder Blocking

a. Operator DCS segera mengubah posisi fuel feeder set menjadi manual b. Bila control CCS MODE segera ubah ke TF MODE

c. Jaga agar bed temperatur tidak turun drastis

d. Jaga agar total udara fluidization tetap diatas batas yang diizinkan

e. Untuk lebih amannya posisikan Primary air fan dan secondary air fan dalam posisi manual

f. Turunkan perlahan suplai udara dari primary dan secondary air fan untuk mengimbangi suplai bahan bakar dari coal feeder.

g. Perhatikan tekanan furnace Pressure, dalam batas normal

h. Tetap jaga kondisi rasio antara bahan bakar dan udara pembakaran diatas batas yang diizinkan

i. Operasikan dengan normal sampai coal feeder selasai pekerjaan blocking.

6. Troubelshooting Generator

No Gangguan Yang Terjadi Penanggulangannya 1. Tegangan dan arus tidak tercapai

sehingga menyebabkan gagal

Atur tegangan dengan pengaturan

(44)

sinkron tegangan (AVR) dari sistem eksitasi 2. Tegangan pemakaian sendiri (PS)

rendah atau tinggi

Contoh : tegangan pemakaian sendiri 6 – 6.6 KV pada PLTU Labuhan Angin

Atur tegangan pemakaian sendiri dengan On Load Tap Changer pada auxiliary trafo. Baik sewaktu sinkron ataupun setelah lepas sinkron.

3 PMT tidak dapat menutup, setelah 10 detik sejak Synchronoscope diaktifkan

maka segera tutup secara manual setelah tegangan terbangkit terpenuhi.

4. Frekuensi > ±5% 50 Hz Hubungi unit pengaturan beban

Gambar

Gambar 1.  Venting Water Box Condensor  e.  Buka Circulation Water Inlet Motor Valve
Gambar 2.  Inlet motor Valve condensor  f.  Buka Circulation Water Outlet Motor
Gambar 4.  OCWP  f.  Start OCWP
Gambar 3.  Penunjukan valve sisi air laut Heat Exchanger
+5

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian di PLTU Tarahan dengan judul “Modifikasi line coal feeder dengan penambahan sistem pneumatic pada Boiler CFB Tarahan”, dimana penelitian ini membahas

Polutan yang dihasilkan dari pem- bakaran batubara pada pengoperasian PLTU adalah emisi gas Karbon dioksida (CO 2 ), Nitrogen dioksida (NO 2 ), Sulfur dioksida (SO 2 )

Operasi Penutupan Circuit Breaker pada posisi remote adalah cara pengoperasian yang umum dilakukan di PLTU Paiton Unit 7 dan 8.. Pengoperasian posisi remote hanya pada

Pedoman pendampingan pengoperasian dan pemeliharaan prasarana dan sarana SPALD memuat rangkaian kegiatan yang perlu dilaksanakan untuk mempersiapkan prasarana dan

PJB UBJOM PLTU TENAYAN Ditulis Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Kerja Praktek Politeknik Negeri Bengkalis ARYUDI 3204191275 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM STUDI D-4

Pengoperasian Governor dan Speed Droop PLTU Gresik  Load Limit adalah kontrol beban unit yang menghendaki beban konstan bersifat pasif, tidak dipengaruhi oleh perubahan frequency

Dokumen ini membahas tentang pengertian dan pengoperasian dasar

Dokumen ini menyajikan penjelasan sistem kontrol dan proteksi yang digunakan pada pembangkit listrik tenaga uap