• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penguatan politik lokal dalam penyelenggaraan otonomi daerah

N/A
N/A
muh fichri

Academic year: 2023

Membagikan " Penguatan politik lokal dalam penyelenggaraan otonomi daerah "

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Penguatan politik lokal dalam penyelenggaraan otonomi daerah

Yang dibahas pertama itu maksud dan definisi politik lokal (apa itu politik lokal dan ruang lingkupnya, seperti apa politik lokal tersebut di maknai dalam otonomi daerah)

Kemudian sejauh mana otonomi daerah berjalan hari ini ?

kebijakan otonomi daerah masih menghadapi beberapa kelemahan seperti : otonomi daerah hanya dipahami sebagai kebijakan yang bersifat institusional belaka, perhatian dalam otonomi daerah hanya pada masalah pengalihan

kewenangan dari pusat ke daerah, tetapi mengabaikan esensi dan tujuan kebijakan tersebut, otonomi daerah tidak dibarengi dengan peningkatan kemandirian dan prakarsa masyarakat di daerah sesuai tuntutan alam demokrasi.

Pemberian otonomi yang luas kepada daerah-daerah di Indonesia seperti yang tercantum dalam UU nomor 22 dan 25 tahun 1999, yang diperbaharui dalam UU nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah merupaka bagian rekayasa

kelembagaan untuk mempercepat proses demokratisasi di Indonesia dan di daerah.

DPD (Dewan Perwakilan Daerah) sebagai katalisator kepentingan politik belum mampu berperan menjadi ‘integrator’ dalam memperjuangkan kepentingan daerah. Disamping itu, akibat keterbatasan kewenangannya, DPD tidak memberi pengaruh signifikan terhadap mekanisme cheks and balances antara pemerintah pusat dan daerah. Celakanya, terbatasnya otoritas kekuasaan dan kewenangan DPD diikuti dengan pembatasan peran DPRD.

Otonomi Daerah dan Desentralisasi Partai Politik

Delegasi menurut H.D. van Wilk/Willem Konijnenbelt adalah pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya, sedang mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengijinkan kewenangannya dijalankan oleh organ lain atas namanya. Berbeda dengan pendefinisian tersebut, F.A.M. Stroink dan J.G. Steenbeek menjelaskan bahwa delegasi menyangkut pelimpahan wewenang yang telah ada (oleh organ yang telah memperoleh wewenang secara atributif) kepada organ lain. Jadi, delegasi secara logis selalu didahului oleh atribusi.34 Salah satu syarat delegasi adalah tidak terdapat hubungan hierarki (atasan dan bawahan), akan tetapi menurut Henk van

Marseven, atas dasar konstitusi, dapat dibenarkan dalam beberapa hal pendelegasian oleh pembuat peraturan perundang-undangan kepada organ bawahan. Menurut Safri Nugraha, cara memperoleh kewenangan akan menggambarkan adanya perbedaan yang hakiki antara berbagai level pemerintahan yang ada di suatu negara. Sebagai contoh, pelaksanaan atribusi kewenangan memerlukan adanya pembagian level pemerintahan yang bersifat nasional, regional, dan lokal atau level pemerintahan atasan dan pemerintahan bawahan. Selain itu, pelaksanaan delegasi membuktikan adanya level pemerintahan yang lebih tinggi (delegator) dan level pemerintahan yang lebih rendah (delegans).35 Perubahan UUD 1945 telah mengubah banyak hal terkait dengan otonomi daerah. Berawal dari satu norma saja, setelah perubahan Bab mengenai pemerintahan daerah menjadi sebelas norma dengan uraian yang lebih kompleks. Berikut perbandingan norma konstitusi sebelum dan sesudah perubahan UUD 1945:

(2)
(3)

Proses perubahan Pasal 18 UUD 1945 mengenai pemerintahan daerah dilakukan sejak Perubahan Pertama UUD 1945 pada tahun 1999 yang didasari semangat penerapan otonomi daerah seluas-luasnya.

Walaupun begitu rumusan baru mengenai pemerintahan daerah baru dapat diputuskan pada Perubahan Kedua UUD 1945 pada 2000 secara keseluruhan36 sedangkan norma yang menyebutkan frasa “partai politik” diubah pada Perubahan Ketiga dan Perubahan Keempat pada tahun 2001 dan 2002.

Dapat dikatakan bahwa norma Pasal 18 UUD 1945 yang memberikan otonomi bagi pemerintahan daerah yang sangat penting juga bagi posisi dan kedudukan partai politik dalam sistem ketatanegaraan,

mengingat partai politik memiliki kewenangan untuk mengisi jabatan anggota dewan perwakilan rakyat daerah dan berdasarkan Undang-Undang juga berwenang mengajukan calon kepala daerah (right to propose a candidate). Jika ditelisik secara lebih mendalam, secara sistematika norma konstitusi Indonesia UUD 1945, dengan mengaitkan atas norma yang mengatur keberadaan partai politik dan norma

mengenai pemerintahan daerah yang fokus terhadap pelaksanaan otonomi daerah, dapat dinyatakan bahwa keberadaan partai politik juga perlu mengakomodir pelaksanaan desentralisasi sistem kepartaian juga. Secara faktual, menurut Agus Sutisna, pelaksanaan otonomi daerah yang pada aspek administrasi pemerintahan relatif telah menunjukkan kemajuan-kemajuan, ternyata tidak didukung oleh

desentralisasi kekuasaan dan kewenangan dalam lingkup atau lokus politik kepartaian. “Hubungan hirarki kepartaian masih bercorak patron-client dan bersifat memperkokoh dominasi pusat atas daerah.

(4)

Akibatnya partai politik di daerah memiliki ketergantungan akut terhadap pusat,” ujarnya. Lebih lanjut, menurut Agus Sutisna, “gejala dependensi akut itu tentu saja memberi pengaruh negatif bukan saja terhadap situasi internal partai, tetapi juga terhadap aspirasi dan kepentingan politik konstituen partai di daerah.’37 HM Harry Mulya Zein berpendapat, perkembangan otonomi daerah dan desentralisasi politik memang seharusnya juga dibarengi dengan otonomi daerah sistem partai politik. Menurut Zein,

desentralisasi pada saat ini hanya dimaknai sebagai penyerahan urusan dari pusat ke daerah, sedangkan daerah sendiri tidak memiliki kekuasaan yang otonom untuk mandiri karena masih begitu dependen terhadap pusat. Dependensi daerah terhadap pusat terlihat dari ketidakmampuan daerah untuk memengaruhi kebijakan politik nasional karena daerah tidak memiliki kekuatan politik yang memadai.

mengadopsi secara serupa segala hal yang distandarisasi partai politik di tingkat pusat dan bahkan pemimpin di tingkat lokal tersebut dengan begitu mudah dapat dipengaruhi dan diperintah pengurus tingkat pusat. Secara berjangka, kondisi ini berkontribusi kepada pelemahan institusionalisasi partai politik di daerah.

mengadopsi secara serupa segala hal yang distandarisasi partai politik di tingkat pusat dan bahkan pemimpin di tingkat lokal tersebut dengan begitu mudah dapat dipengaruhi dan diperintah pengurus tingkat pusat. Secara berjangka, kondisi ini berkontribusi kepada pelemahan institusionalisasi partai politik di daerah.

Proses pelembagaan ini mengandung dua aspek, yaitu aspek internaleksternal dan aspek struktural- kultural. Bila kedua dimensi itu dipersilangkan, akan tampak sebuah tabel empat sel, yaitu; pertama, dimensi kesisteman suatu partai (systemness) sebagai hasil persilangan aspek internal dengan struktural.

Kedua, dimensi identitas nilai suatu partai (value infusion) sebagai hasil persilangan aspek internal dengan kultural. Ketiga, dimensi otonomi suatu partai dalam pembuatan keputusan (decisional autonomy) sebagai hasil persilangan aspek eksternal-struktural. Keempat, dimensi pengetahuan atau citra publik (reification) terhadap suatu partai politik sebagai persilangan aspek eksternal-kultural.Dalam dimensi kesisteman, systemness memiliki arti sebagai proses pelaksanaan fungsi-fungsi partai politik, yang dilakukan menurut aturan, persyaratan, prosedur, dan mekanisme yang disepakati dalam partai politik. Dalam dimensi identitas nilai, value infusion partai politik merupakan nilai yang didasarkan pada ideologi atau platform partai. Nilai inilah yang menjadi basis ikatan bagi para kader dan simpatisan untuk mendukung partai tersebut karena value infusion adalah representasi dari pola dan arah perjuangan partai politik.Dalam dimensi decisional autonomy, independensi partai politik akan ditentukan oleh kemampuan partai untuk membuat keputusan secara otonom. Rendahnya nilai decisional autonomy menunjukkan bahwa pembuatan keputusan di dalam partai merupakan transaksi kepentingan antara elite partai dan kepentingan aktor lain yang berada di luar partai. Adapun dalam dimensi yang terakhir atau citra publik, reification merupakan kedalaman pengetahuan publik atas keberadaan partai politik tersebut.

Sayangnya, menurut Zein, dalam kasus di Indonesia partai politik terlihat belum memiliki kesatuan yang erat di dalam tubuh internal partai.

Sementara dari dimensi value infusion, partai politik masih belum mampu menginternalisasi nilai-nilai yang menjadi ciri partai yang dapat membawa manfaat jangka panjang. Sebagian besar partai di Indonesia masih terfokus untuk mendapatkan popularitas dan keberhasilan secara instan, sehingga pengabaian pada penumbuhan ideologi dan platform jangka panjang membuat partai tersebut menjual pragmatisme sebagai produk politik kepada masyarakat. Dari dimensi decional autonomy, pembuatan

(5)

keputusan partai politik biasanya sarat dengan hasil negosiasi lingkaran elite politik di level pusat dan bukan ditentukan suara dan kepentingan para pendukungnya di tingkat daerah. Kemudian yang terakhir, dari dimensi reification, partai politik baru mampu menanamkan citra partainya kepada rakyat melalui serangkaian simbol-simbol kepartaian saja, misalnya warna atau gambar partai, bukan pada visi misi yang dibawa partai tersebut

Pemahaman akan prinsip desentralisasi kerap tidak terlalu dijadikan alasan pengambilan keputusan internal partai politik. Menurut Rahmat Al Kafi, semangat desentralisasi di era reformasi belum dianut oleh partai politik-partai politik, meskipun masih lebih baik dibanding pada masa Orde Baru.

Sistem parpol yang masih sentralistik akhirnya membuat DPP (Dewan Pimpinan/Pengurus Pusat) sebagai pimpinan tertinggi partai menjadi yang “paling didengar” atau bahkan “harus didengar dan dipatuhi.”

Masalahnya, terkadang instruksi partai dikeluarkan tanpa melalui mekanisme musyawarah yang mendalam di internal parpol di tiap tingkatan. Seperti contoh dalam kasus penetapan rekomendasi parpol untuk kandidat dalam Pilkada atau pergantian Ketua Umum DPW (wilayah), pengurus DPD (daerah), atau Anggota DPRD yang bila tidak dipatuhi oleh pengurus di daerah dapat berujung pada pemecatan.

Saat ini, menurut Rahmat Al Kafi, besar keinginan para elit lokal agar parpol dapat menerapkan sistem desentralisasi, sehingga penentuan kebijakan partai politik di tingkatan lokal diharapkan sesuai dengan aspirasi pengurus partai politik di daerah, yang lebih tahu banyak permasalahan lokal. Bukan malah sebaliknya, kebijakan di daerah sesuai dengan selera elit pusat tanpa memperhatikan aspirasi elit lokal.

Bila dipaksakan, cara-cara otoriter yang dilakukan elit pusat akan menjadi bencana bagi demokrasi lokal yang mengharapkan parpol bergerak sesuai dengan geopolitik.

Dengan demikian, harapan atas adanya desentralisasi kewenangan partai politik di tingkat lokal tidak hanya perlu didorong atas keinginan agar partai politik mampu menjalankan perannya sebagai sarana komunikasi politik, sosialisasi politik (political socialization), pengatur konflik (conflict management) dan akhirnya menjadi sarana rekruitmen politik (political recruitment) baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, melainkan juga dalam bentuk peraturan perundangundangan yang bersifat mengikat dan memaksa.

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Pendapatan asli daerah yang bertujuan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai penyelenggaraan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah

daerah otonom agar dapat diperoleh penilaian kinerja keuangan yang lebih. komprehensif dalam melaksanakan otonomi keuangan

Faktor yang mempengaruhi kebijakan otonomi daerah daerah adalah dalam meningkatkan kualitas SDM bidang pendidikan yang secara politis ditandai dengan reformasi hukum

Dengan demikian, diharapkan mekanisme perumusan kebijakan yang akomodatif terhadap aspirasi masyarakat daerah dapat dibangun, sehingga keberadaan otonomi daerah akan

Kota Bandar Lampung dalam melaksanakan tugas Otonomi Daerah khususnya mengenai pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dilaksanaan oleh salah satu Satuan Kerja

Pelaksanaan Otonomi Daerah Seiring dengan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945, kebijakan tentang Pemerintahan Daerah mengalami perubahan yang cukup

Adanya kebijakan Otonomi khusus melalui Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang

Dengan demikian, diharapkan mekanisme perumusan kebijakan yang akomodatif terhadap aspirasi masyarakat daerah dapat dibangun, sehingga keberadaan otonomi daerah akan