PENDAHULUAN
Permasalahan
- Identifikasi Masalah
- Pembatasan Masalah
- Rumusan Masalah
15 Indrie Prihastuti, “Eutanasia dari Perspektif Etika Islam, Aspek Kedokteran dan Hukum di Indonesia,” Jurnal Filsafat Indonesia 1, no. Berdasarkan pemaparan latar belakang masalah di atas, agar pembahasan dalam tesis ini lebih fokus dan detail, maka peneliti membatasi penelitian ini pada “Eutanasia aktif dengan mengkaji hanya 2 tafsir saja, yaitu Tafsir Al-Azhar Prof. Dr.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tinjauan Pustaka
16 Ahmad Zaelani, “Eutanasia Dalam Pandangan Hak Asasi Manusia dan Hukum Islam”, Skripsi, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta, 2008. 19 Akhsanul Khalisin, “Eutanasia dalam Perspektif Hukum Pidana Islam Skripsi, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2016.
Kerangka Teori
Argumen Alquran tentang Isu Euthanasia Tesis ini ditulis oleh Indah Wardatul Maula mahasiswi Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta, 2018. tentang tafsir ahkam. Sedangkan pengertian metodologi tafsir maudhu'i adalah cara yang ditempuh seorang mufasir dengan cara mengumpulkan ayat-ayat al-Qur'an yang berbicara tentang suatu masalah (topik) tertentu dan mengarah pada suatu tujuan, meskipun ayat-ayat tersebut diturunkan dengan cara yang berbeda-beda. cara, tersebar di beberapa surat di Al-Qur'an dan di waktu dan tempat asal yang berbeda.
Metodologi Penelitian
- Jenis Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Metode Analisis Data
22 Muhammad Nurhamdi Prasetya, “Bala’ dalam Al Qur’an menurut Tafsir Al-Azhar Buya Hamka”, tesis (Medan: UIN Sumatera Utara, 2018), h.Prasetya, Muhammad Nurhamdi, “Bala’ dalam Al Qur’an menurut tafsir Al-Azhar oleh Buya Hamka”, disertasi, Medan: UIN Sumatera Utara, 2018.
Sistematika Penulisan
GAMBARAN UMUM TENTANG TINDAKAN EUTHANASIA
Sejarah dan Fakta Tentang Euthanasia
Digunakan secara sempit, euthanasia mengacu pada tindakan menghindari rasa sakit dari penderitaan saat menghadapi kematian. Dalam penggunaan yang lebih luas, istilah euthanasia digunakan untuk pengobatan yang menghindari rasa sakit pada penderita dengan resiko efek memperpendek umur. 17 Ahmad Wardi Muslich, Eutanasia Menurut Pandangan Hukum Positif dan Hukum Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), hlm.
Hadits tersebut pada dasarnya melarang bunuh diri.18 Tindakan euthanasia tidak diatur secara jelas dalam peraturan hukum. Pasal 344 KUHP (selanjutnya disebut KUHP) secara tegas mengatur tindakan euthanasia hanya atas permintaan pemohon atau pasien untuk euthanasia. Secara yuridis, euthanasia belum diatur dalam hukum positif di Indonesia, termasuk UU Kesehatan dan UU Kegiatan Kesehatan, sehingga tidak ada batasan yang jelas mengatur tentang euthanasia.
Namun, sejauh ini pasal yang paling mendekati adalah pasal 344 KUHP yang secara tegas melarang euthanasia aktif.
Klasifikasi Euthanasia
Euthanasia pasif, yaitu mempercepat kematian dengan cara menolak pertolongan medis atau menghentikan proses pengobatan yang sedang berlangsung, misalnya dengan memberikan antibiotik kepada penderita pneumonia berat (pneumonia) memberikan obat-obatan dosis tinggi untuk mempercepat proses menghentikan fungsi-fungsi tubuh yang menunjang kehidupan manusia. Euthanasia aktif, yaitu mempercepat kematian dengan tindakan yang secara langsung atau tidak langsung menyebabkan kematian, seperti pemberian tablet sianida atau penyuntikan zat mematikan ke dalam tubuh pasien. Perbuatan ini langsung ditujukan untuk membunuh pasien, karena dalam kasus suntik mati, perbuatan ini seolah-olah memperlakukan pasien sebagai penjahat.
Euthanasia Involuntary, yaitu mempercepat kematian atas permintaan pasien, yang ditularkan melalui pihak ketiga, misalnya keluarga, atau melalui keputusan pemerintah. Untuk memberantas penyakit endemik atau membatasi virus, seseorang dengan penyakit menular harus dibunuh, agar orang-orang di sekitarnya tidak tertular penyakit yang diderita pasien. Kedua, euthanasia aktif, yaitu tindakan pembunuhan yang dilakukan dengan menghilangkan nyawa seseorang secara langsung.
Tujuan lain dari tindakan ini adalah untuk mempercepat proses berakhirnya penderitaan, dengan anggapan bahwa kematian adalah jalan terakhir untuk mengakhiri penderitaan dan penyebaran penyakit.
Penyebab Terjadinya Euthanasia
Jika pengobatan dilanjutkan, biaya akan ditanggung lebih banyak lagi oleh keluarga, sedangkan harapan untuk sembuh atau nyawa pasien sangat tipis, bahkan tidak ada sama sekali. Tenaga medis melihat proses pengobatan sudah tidak efektif lagi yaitu melalui proses pengobatan jangka panjang, namun kondisi pasien tidak menunjukkan perubahan. Hal ini dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari malpraktek yang dapat dituduhkan oleh tenaga medis.
Perasaan iba atas penderitaan pasien, biasanya datang dari pihak keluarga, mengingat kondisi pasien yang sulit diobati, kondisinya akan sangat menyedihkan dan juga mengingat penderitaan luar biasa yang akan dialami. Tenaga medis menerima permintaan pasien atau keluarga untuk menghentikan pengobatan, penghentian ini terjadi karena tenaga medis menilai keluarga sudah tidak sabar dengan waktu pengobatan yang lama. Selain itu, permintaan eutanasia oleh pasien dan keluarganya mencerminkan sikap dan perasaan putus asa.
Hai anak-anakku, pergilah kamu, kemudian carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Euthanasia Dalam Al-Qur’an
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan (sebab) yang benar." Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata, kemudian banyak di antara mereka benar-benar melampaui batas untuk mendatangkan mudharat. bumi.” Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan (alasan) yang benar.
Dan barangsiapa yang dibunuh secara zalim, maka Kami telah memberikan kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi ahli waris tidak boleh melewati batas pembunuhan. Rasulullah saw bersabda "jika Allah mencintai manusia, maka dia akan menghadapi berbagai cobaan" jika manusia menyerah dalam menghadapi penderitaan, maka Allah menjanjikan jalan keluarnya, yaitu dalam QS. Atas sebab terdapat pesakit yang masih muda dan diramalkan mempunyai peluang yang lebih baik untuk sembuh, kakitangan perubatan memberi keutamaan kepada pesakit yang lebih muda.
Dengan demikian, tidak ada jaminan bahwa pasien yang sakit ringan akan dapat hidup lebih lama dari pasien yang sakit parah.
Euthanasia Dalam Kajian Islam
Fachruddin seperti dikutip Imron Halimi menyatakan bahwa dari sudut pandang Islam, eutanasia untuk membantu penderitanya sangat ditolak, karena orang yang koma tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Namun bila dokter tidak lagi memberikan obat kepada pasien, karena yakin obat yang ada tidak dapat membantu. 33 Masjfuk Zuhdi, penderita AIDS tidak boleh dibunuh, dalam undang-undang no. QS. Yunus: 56, Al-Mulk: 1-2. 34 Sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu ingin hidup sehat, baik jasmani maupun rohani.
Ada yang menghidap penyakit yang serius dan teruk, manakala yang lain mengidap penyakit yang ringan dan mudah disembuhkan. Di antara mereka ada yang meyakini sabar (tidak berubat) itu lebih utama, berdasarkan hadis Ibnu Abbas, yang diriwayatkan dalam kitab sahih dari seorang wanita yang ditimpa penyakit, wanita tersebut meminta Rasulullah SAW agar berdoa untuknya, lalu baginda menjawab “Jika kamu bersabar (maka bersabarlah) kamu akan mendapat syurga; jika anda mahu, saya berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkan anda. Namun, terdapat sebahagian ulama yang mewajibkan rawatan perubatan seperti ulama Syafiiyah dan Hanabilah sebagaimana yang dinyatakan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah. 36.
Dalam hal ini, Imam Abu Hamid Al-Ghazali membantah mereka yang berpendapat bahwa dalam keadaan apa pun lebih penting untuk tidak berobat.
BIOGRAFI MUFASIR DAN KITAB TAFSIR
Tafsir Al-Azhar
Biografi M. Quraish Shihab dan Tafsir Al-Misbah
- Tafsir Al-Misbah
ANALISIS PENAFSIRAN AYAT-AYAT EUTHANASIA
Penafsiran M. Quraish Shihab Mengenai QS. Al-Maidah Ayat 32, QS
Analisis penafsiran Hamka dan M. Quraish Shihab dalam Q.S Al-
Analisis kedua komentator ini tidak mendukung pembunuhan yang tentunya berkaitan dengan eutanasia aktif, seseorang tidak dapat mengambil nyawanya sendiri karena itu adalah dosa besar. Oleh karena itu, jika orang yang memburunya bertanya apakah dia bersembunyi di sini, kita dapat berbohong dan mengatakan bahwa dia tidak bersembunyi, sehingga nyawa orang itu terselamatkan. Maidah ayat 32 yaitu penyebutan Bani Isra'il secara khusus dalam ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang ini telah mencapai puncak kejahatan dalam pembunuhan karena yang mereka bunuh adalah orang-orang suci yang diutus Allah sebagai nabi dan rasul.
Ayat Quraish Shihab ini menunjukkan bahwa ada semacam hak prerogatif Allah SWT, seperti hak prerogatif kepala negara. Tidak halal darah orang yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dalam salah satu dari tiga kasus, yaitu janda atau duda yang berzina, orang yang melakukan zina. pembunuhan dan orang yang meninggalkan agamanya dan memisahkan diri dari masyarakat. Dalam ayat ini jelas bahwa bunuh diri karena suatu sebab dilarang keras dalam al-Qur'an, begitu juga dengan eutanasia, Islam melarang dilakukannya eutanasia, baik dengan tangan sendiri yaitu dengan cara gantung diri atau meminum racun atau dengan bantuan orang lain. orang lain dengan overdosis obat atau suntikan mematikan.
Barangsiapa merampas nyawa orang lain atas permintaannya sendiri, yang dengan jelas dinyatakan dengan kesungguhan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Relevansi penafsiran terhadap pelaksanaan Euthanasia
Di era globalisasi ini, semakin banyak orang yang dibunuh atau dibunuh dengan berbagai faktor termasuk melakukan euthanasia, padahal tidak ada ayat yang secara khusus membahas tentang euthanasia dalam Al-Qur'an. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tindakan euthanasia aktif adalah perbuatan yang haram dari sudut pandang Al-Qur'an dan pelakunya mendapatkan dosa yang sama dengan pembunuhan. Fauzi, Euthanasia Tinjauan dari sudut pandang kedokteran, hukum pidana dan hukum Islam, dalam masalah hukum kontemporer, editor oleh Chuzaimah T.
Tim Penulis, “Petunjuk Teknis Penulisan dan Disertasi Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta (IIQ) jakarta”, Jakarta: LPPI IIQ, 2017. Zamimah, Iffaty, Al-Wasthiyyah dalam Al-Qur'an, Al-Maraghi Kajian Tafsir, Al-Munir, dan Al-Mishbah, Ciputat: IIQ Press, 2019. Khalisin, Akhsanul, “Eutanasia dalam Perspektif Hukum Pidana Islam”, skripsi, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar , 2016 .
Rahmat H, Hasriasman, “Eutanasia dalam Perspektif Hukum Pidana Islam dan Supremasi Hak Asasi Manusia”, tesis, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, 2012.
PENUTUP
Saran-saran
Al-Farmawi, Abd al-Hayy, Al-Bidayah Fi Al-Tafsir Al-Maudlu'I Dirosah, 2de Cet, Jakarta: PT Grafindo Persada, 1996. Sukanto, Soerjono, Regsaspekte en pasiëntverpligtinge in die gesondheidsregsraamwerk, Bandung : Mandar Maju, 1990. Spiritual Fitri, Reason as an Instrument for Human Learning in Al-Misbah Interpretation, Thesis, UIN North Sumatra Medan, 2018.
Maula, Indah Wardatul, "Qur'anic Arguments on the issue of euthanasia", Thesis, State Islamic University Syarif Hidayatulah Jakarta, 2018. Prihastuti, Indrie "Euthanasia in the View of Ethics in Islamic Religion, Medical and Juridical Aspects in Indonesia," Journal of Indonesian Philosophy 1 , nee. De manier van denken van Muhammad Quraish Shihab's Kalam in Tafsir Al-Misbah, Thesis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008.