Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapat Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
ULFAH SULFIANA.B NIM. 10540 2839 09
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014
vi
sedangkan ilmu akan memelihara kita. Harta habis bila dinafkahkan, sedangkan ilmu justru akan berkembang. Ilmu adalah kuasa, sedangkan harta dikuasai.
( Ali Bin Abi Thalib )
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan
yang lain dan hanya kepada Allah lah hendaknya kamu berharap.
(QS.Alam Nasyrah: 6-8)
Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan Hari esok harus lebih baik dari hari ini Jadi jangan pernah menunda untuk melakukan hal-hal yang baik
(penulis)
Karena itu, kupersembahkan karya sederhana ini sebagai ungkapan rasa cinta dan banggaku sebagai seorang anak atas segala pengorbanan dan kasih sayang ibundaku dan ayahandaku, saudara-
saudariku, serta keluargaku yang senantiasa mendoakanku.
Kalian tak ubahnya kedua bola mataku Yang memancarkan surga dan bagiku Kalian adalah cerminan surah Ar-Rahman Yang tak mampu
aku dustakan.
Melalui Penerapan Model Reciprocal Teaching Pada Murid Kelas V SD Negeri Gaddong 1 kota Makassar, Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Di bimbing oleh Hj. Rawiyah Tompo Dan M.Arsyad
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan. Prosedur penelitian ini meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas V SD Negeri Gaddond I kota Makassar sebanyak 28 orang.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada siklus I yang tuntas secara individual dari 28 hanya 9 murid atau 32,1% yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau berada pada kategori sedang. Secara klasikal belum terpenuhi karena nilai rata-rata diperoleh sebesar 54,11 %. Sedangkan pada siklus ke II dimana 23 murid telah memenuhi KKM dan secara klasikal sudah terpenuhi dengan rata-rata yang diperoleh 75,89 % atau berada pada kategori tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar murid dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada murid kelas V SD Negeri Gaddong 1 kota Makassar mengalami peningkatan.
Kata Kunci: hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial, model reciprocal teaching,Aktifitas Belajar
vii
viii
Segala puji bagi Allah swt, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Salawat dan salam yang melimpah semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang istiqomah dan setia di jalan Allah, hingga akhir zaman nanti.
Amin ya robbal alamin.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak dapat diselesaikan. Untuk itu, Teristimewa dan terutama sekali penulis sampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada kedua orang tua, ayahanda Mansyur dan Ibunda Saenab atas segala pengorbanan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu sejak kecil sampai sekarang ini. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.
Begitu pula penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Dra. Hj. Rawiyah Tompo,M.Pd, selaku Pembimbing I dan Drs.H.M.Arsyad,M.Pd.I selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, motivasi, serta bimbingan dengan penuh kesabaran dan ketulusan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
ix
Pendidikan, Haeruddin, S.Pd.,M.Pd., Pembantu Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Sulfasyah, MA.,Ph.D. Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan kepada Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, atas bimbingan dan jasa-jasa beliau selama penulis mengikuti perkuliahan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah, bapak dan ibu guru, serta staf SD Negeri Gaddong 1 kota Makassar yang telah memberikan izin dan bantuan kepada penulis dalam melakukan penelitian. Terima kasih juga kepada murid-murid kelas V SD Negeri Gaddong 1 kota Makassar atas kerjasama dan motivasinya dalam belajar selama penelitian ini berlangsung.
Penulis mengucapkan terima kasih pada saudara-saudaraku. mustari, fitriani, syamsualam dan irfan mansyur, serta keluarga yang selalu membantu, mencintai, dan menyayangi penulis dengan sepenuh hati sehingga menjadi motivasi bagi penulis untuk meraih sebuah kesuksesan semoga mendapat pahala yang setimpal dari Allah swt.
Penulis ucapkan terima kasih dan penghargaan yang sama kepada sahabat-sahabatku yang telah berjuang bersama, khususnya teman-teman kelas G angkatan 2009 yang telah memberikan persaudaraan dan bantuannya dalam segala hal dengan tulus dan ikhlas serta semua pihak yang telah memberikan motivasi
x
Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan sebagai bahan acuan untuk perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini..
Makassar, Mei 2014
Penulis
Gambar 3.1 Model Suharsimi Arikunto dalam (Paizaluddin, 2013:34)... 25
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan media yang sangat berperan dalam menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi dalam diri yang seluas-luasnya. Melalui pendidikan akan terjadi proses pendewasaan diri sehingga di dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang dihadapi selalu disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar. Mengingat peran pendidikan tersebut maka sudah seyogyanya aspek ini menjadi perhatian pemerintah dalam rangka meningkatkan sumber daya masyarakat Indonesia yang berkualitas.
Hal ini, sejalan dalam UUD SISDIKNAS NO. 20 Tahun 2003 tentang Tujuan Pendidikan Nasional adalah :
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab “.
Pelaksanaan sistem pendidikan di sekolah, khususnya menyangkut proses belajar mengajar telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan dari segi muatan atau materi yang diajarkan. Hal ini ditandai dengan semakin berkembangnya materi pembelajaran yang senantiasa selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Kondisi inilah yang menuntut para guru saat ini untuk selalu meningkatkan keterampilan dan profesionalismenya dalam memberikan pembelajaran. Dalam hubungan ini, Tylee 2000 (Warsono dan
1
Hariyanto ; 21) menyatakan bahwa : tugas pokok seorang fasilitas atau peran guru pada saat tatap muka di kelas terutama adalah 1. Menilai para murid 2.
Merencanakan pembelajaran 3. Mengimplementasikan rancangan pembelajaran dan 4. Melaksanakan evaluasi proses pembelajaran.
Guru sangat menentukan sejauh mana pencapaian hasil belajar murid dari kedalaman dan keluasan materi pelajaran yang termasuk dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan guru dalam mengantarkan muridnya meraih hasil belajar yang optimal adalah pendekatan, strategi dan model pembelajaran yang efektif dan interaktif yang senantiasa digunakan dalam pembelajaran.
Pembelajaran merupakan pusat kegiatan belajar mengajar , yang terdiri dari guru dan murid. Pembelajaran merupakan salah satu unsur penentu baik tidaknya lulusan yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan. Pembelajaran ibarat jantung dari proses pendidikan. Pembelajaran yang baik, cenderung menghasilkan lulusan dengan hasil belajar yang baik pula, demikian pula sebaliknya. Namun, kenyataannya hasil belajar pendidikan di Indonesia masih dipandang kurang baik. Sebagian besar murid belum mampu menggapai potensi ideal/optimal yang dimilikinya. Oleh karena itu, perlu ada perubahan proses pembelajaran yang sudah berlangsung selama ini.
Berdasarkan pengamatan dilapangan banyak ditemui pelaksanaan pembelajaran masih kurang variatif, proses pembelajaran memiliki kecenderungan pada metode tertentu, dan tidak memerhatikan tingkat pemahaman murid terhadap informasi yang disampaikan. Murid kurang aktif dalam proses
belajar, murid lebih banyak mendengar dan menulis, menyebabkan isi pelajaran sebagai hafalan sehingga murid tidak memahami konsep yang sebenarnya. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan.
Oleh karena itu, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial disusun secara sistematis, konfrehensif dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam masyarakat.
Dalam proses pembelajaran IPS, yang diinginkan adalah pola pembelajaran IPS yang dapat membuat IPS terasa mudah dan menyenangkan. Untuk itu diperlukan suatu strategi baru berupa pendekatan yang lebih memberdayakan murid. Salah satunya pendekatan reciprocal teaching. Reciprocal teaching adalah pendekatan yang berdasar pada prinsip-prinsipembuatan/pengajuan pertanyaan, dimana keterampilan-keterampilan metakognitif (merangkum, meringkas, mengklarifikasi dan memprediksi) diajarkan melalui pengajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk penampilan murid terhadap materi pelajaran. Nur dan Wikandari (Trianto 2009:175).
Kenyataan yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini, khususnya bagi murid SD Negri Gaddong 1 Makassar bahwa banyak di antara mereka yang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi IPS. Masalah lain yang terjadi di lapangan yaitu metode mengajar yang digunakan oleh guru kurang tepat sehingga hasil belajar yang diperoleh murid pun kurang maksimal dan memperoleh nilai yang cenderung rendah.
Meskipun guru IPS murid kelas V SD Negri Gaddong 1 Makassar sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan optimal, tetapi kenyataannya masih menunjukkan hasil belajar yang dicapai murid rendah. Hal ini dapat dilihat pada nilai rapor atas informasi guru kelas. Rata-rata nilai hasil belajar IPS murid kelas V SD Negri Gaddong 1 Makassar 65 dari nilai maksimal 100 yang seharusnya dapat dicapai murid.
Alasan lain yang juga dapat dikemukakan terkait dengan rendahnya nilai rata-rata yang dicapai murid kelas V SD Negri Gaddong 1 Makassar karena metode pembelajaran yang digunakan guru belum ditekankan pada aktivitas belajar murid, kurang optimal dalam memberi pelatihan dan pembimbingan kepada murid untuk menguasai pelajaran IPS, penggunaan model pembelajaran yang kurang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai kurikulum mata pelajaran IPS.
Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan peneliti di SD Negri Gaddong 1 Makassar tahun 2014/2015 pada semester II yang dilakukan peneliti pada tanggal 18 januari 2014, terbukti dari hasil observasi di kelas Menunjukkan rendahnya tinggkat penguasaan Murid terhadap mata pelajaran IPS di mana rata rata murid mencapai nilai 53 dari 28 murid. 5 orang murid yang mendapatkan nilai ≥ 65 yang telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah 23 Murid yang mendapat nilai dibawah 65. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya nilai rata-rata yang diperoleh murid dari kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditentukan, dengan nilai tertinggi 75 dan nilai terendah 30. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kreatifitas guru dalam materi IPS. Sedangkan KKM pada mata
pelajaran IPS adalah 65. Motivasi dan hasil belajar murid yang berbeda–beda khususnya pada pelajaran IPS, ada murid yang mempunyai motivasi serta prestasi yang tinggi dalam pembelajaran IPS ada pula yang mempunyai motivasi serta hasil belajar yang sedang bahkan kurang.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Melalui Penerapan Pendekatan Reciprocal Teaching pada Murid Kelas V SD Negri Gaddong 1 Makassar ”.
B. Perumusan dan Pemecahan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang akan diidentifikasi dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini antara lain:
a. Strategi pembelajaran tidak tepat
b. Model pembelajaran monoton tidak variatif c. Tidak ada kolaborasi guru dan murid d. Aktifitas belajar murid rendah e. Hasil belajar masih rendah 2. Alternatif Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah tentang rendahnya hasil belajar IPS murid kelas V SD Negeri Gaddong 1 Makassar maka dilakukan tindakan berupa penerapan pendekatan reciprocal teaching. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru tidak hanya memberi kemudahan dan untuk proses belajar murid, tetapi guru memberi kesempatan kepada Murid untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka
sendiri dan mengajar Murid untuk menjadi sadar menggunakan strategi murid sendiri untuk belajar. Prinsip ini tampak pada kegiatan penjelasan, merangkum dengan berbagai strategi masing-masing murid untuk menemukan ide-ide pokok seperti merangkum melakukan underlining, note taking,dan sebagainya.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan yaitu: Bagaimana penerapan pembelajaran dengan pendekatan reciprocal teaching dalam meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas V SD Negeri Gaddong 1 Makassar
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPS melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching Pada murid kelas V SD Negeri Gaddong 1 Makassar
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan sumbangan bagi pengembang pengetahuan khususnya tentang hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dengan penerapan pendekatan reciprocal teaching.
b. Memberikan konstribusi bahwa hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada murid kelas V dapat ditingkatkan melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Murid
Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan Murid dalam proses pembelajaran, sehingga hasil belajar murid dapat meningkat
b. Bagi Guru
Sebagai masukan dalam upaya peningkatan hasil belajar muridserta efektifitas dalam penyajian pembelajaranIPS.
c. Bagi Sekolah
Memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
d. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi awal bagi peneliti lain yang mengangkat tema sejenis.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKAPIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka 1. Pengertian belajar
Belajar adalah suatu aktivitas atau proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian. Witherington ( Suyono 2011:11) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola- pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan
Crow and Crow ( Suyono 2011: 12) enyatakan bahwa : belajarr merupakan diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Belajar baru dikatakan berhasil jika seseorang mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya, sehingga belajar semacam ini disebut dengan role learning, belajar halafan, belajar melalui ingatan, di luar kepala tanpa mempeduli makna Winkell ( Suprihatiningrum 2013:15) menyatakan bahwa : belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap.Belajar dikatakan juga sebagai suatu interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya , yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep, ataupun teori
Budiningsih ( Suprihatiningrum 2013:15) menyatakan bahwa : belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan, yang mana murid aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
8
Zainal Aqib (2013: 67) Mentakan bahwa : proses belajar mengajar (Pembelajaran) upaya secara sistematis yang dilakukan guru unutuk mewujudkan prosespembelajaran berjalan secaraefektifdan efesien yang dimulai dari perencanaan , pelaksanaan dan evaluasi .
Dari beberapa pengertian belajar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaansadar untuk memperoleh suatu konsep,pemahaman,atau pengetahuan baru sehingga kemungkinan seseorang terjadi perubahan perilaku yang relative tetap baik dalam berpikir, maupun bertindak.
2. Pengertian Hasil Belajar
Berdasarkan uraian tentang konsep belajar diatas, dapat dipahami tentang makna hasil belajar, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri murid, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar.
Nawawi ( Susanto 2013 : 5) menyatakan bahwa : hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu.
Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar murid adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap.
Dalam interaksi edukatif ada harapan yang bersifat timbal balik antara murid dengan guru, guru mengharapkan agar muridnya berhasil dalam bentuk pencapaian prestasi belajar yang ideal, sedangkan murid mengharapkan hasil dari dirinya sendiri sebagai efek profesionalisme gurunya dalam memberikan interaksi edukatif. Harapan yang dikemukakan kedua pihak dalam konteks belajar- mengajar sering dikenal dengan istilah prestasi belajar.
Hasil belajar dan prestasi belajar ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, berbicara hasil belajar maka orientasinya adalah berbicara prestasi belajar yang diukur dengan nilai tertentu. Hal ini dibuktikan pula dengan sejumlah pengertian yang dikemukakan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh Poerwadarminta (1986:624) menyatakan bahwa::
prestasi belajar diartikan sebagai Hasil yang telah dicapai seseorang setelah melakukan kegiatan tertentu atau dengan kata lain prestasi adalah hasil yang telah dicapai berdasarkan tinggi atau rendahnya nilai hasil belajar”.
Pencapaian hasil belajar dapat diukur dengan melihat prestasi belajar yang diperoleh maupun pada proses pembelajaran. Prestasi belajar sebagai tolok ukur kemampuan kognitif (intelektual) murid tidak terlepas dari proses pembelajaran di kelas dan berbagai bentuk interaksi belajar lainnya.
Reigeluth (Suprihatiningrum 2012: 37) menyatakan bahwa : hasil belajar atau pembelajaran dapat juga dipakai sebagai pengaruh yang memberikan suatu ukuran nilai dari metode (strategi) alternatif dalam kondisi yang berbeda .
Berdasarkan hal tersebut, maka hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah prestasi belajar yang diperoleh dari kegiatan belajar
mengajar. Dengan demikian, jika standar kompetensi dan kompetensi dasar dipandang sebagai suatu harapan yang akan diperoleh murid setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, maka prestasi belajar dalam penelitian ini adalah seberapa besar standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut tercapai. Hal ini sebagaimana dikemukakan “ hasil belajar murid dirumuskan sebagai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dinyatakan dalam bentuk yang lebih spesifik dan merupakan komponen dari tujuan umum bidang studi”.
Dalam penelitian ini hasil belajar IPS, hanya dibatasi pada penguasaan bahan ajar kelas V yang diberikan dengan mengacu pada indikator pembelajaran yang telah disusun pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yaitu skor hasil tes belajar murid setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar yang menggunakan pendekatan reciprocal teaching.
Berdasarkan pengertian hasil belajar, maka dapat disimpulkan bahwa : hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri seseorang/individu sebagai hasil aktivitas dalam belajar.
3. Prinsip-Prinsip Belajar
Menurut B.F. Skinner dan dkk (Rusman 2012 : 177) Menyatakan bahwa:
sebagai berikut. a. Persiapan belajar b. Motivasi
c. Perbedaan Individual d. Kondisi Pembelajaran e. Partisivasi aktif f. penyampaian hasil murid g. hasil yang sudah diperoleh h. latihan
i. kadar bahan yang ditarik j. sikap mengajar
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai murid dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri murid itu dan faktor yang datang dari luar diri murid atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari murid terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan murid besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, social ekonomi, faktor fisik dan psikis.
Selanjutnya faktor lingkungan atau faktor yang berada diluar diri murid yaitu salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah , ialah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran.
Walisman (Susanto 2013 : 12) menyatakan bahwa : hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi, baik faktor internal maupun eksternal adalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal: faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang memengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi : kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan
b. Faktor Eksternal : faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang memengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar murid. Keluarga yang morat-marit keadaan ekonominya, pertengkaran suami istri, perhatian orang tua yang kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan sehari-hari berperilaku yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.
5. Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial a. PengertianIlmu Pengetahuan Sosial
Secara umum Ilmu Pengetahuan Sosial adalah ilmu yang mempelajari mengenai hal – hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial yang mengkaji berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam rangka memberi wawasan dan pemahamn yang mendalam kepada peserta didik, khususnya ditingkat dasar dan menengah.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata pembelajaran adalah kata benda yang diartikan sebagai "proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar". Kata ini berasal dari kata belajar yang berarti "berusaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman" (Depdikbud: 2002).
Istilah ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan nama mata pelajaran ditingkat sekolah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah “Social Studies”(Sapriya: 2009).
Di samping istilah yang ada, sering ditemui dua istilah lain yang kadang-kadang digunakan orang untuk menyebut bidang studi IPS ini, istilah tersebut adalah sosial education dan sosial learning.
Kedua istilah tersebut lebih menitikberatkan kepada berbagai pengalaman di sekolah yang dipandang dapat membantu anak didik untuk lebih mampu bergaul ditengah-tengah masyarakat.
Tetapi menurut beberapa pihak kedua istilah tersebut dirasakan terlalu luas di banding dengan istilah sosial studies atau IPS.
Zuraik ( Susanto 2013:138) menyatakan bahwa : hakikat IPS adalah harapan untuk mampu membina suatu masyarakat yang baik di mana para
anggotanya benar-benar berkembang sebagai insan sosial yang rasional dan penuh tangung jawab, sehingga oleh karenanya diciptakan nilai-nila.
Hakikat IPS di sekolah dasar memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan sebagai media pelatihan bagi murid sebagai warga negara sedini mungkin. Karena pendidikan IPS tidak hanya memberikan pengetahuan semata, tetapi harus berorientasi pada pengembangan keterampilan berfikir kritis, sikap, dan kecakapan-kecakapan dasar murid yang berpijak pada kenyataan kehidupan sosial kemasyrakatan sehari-hari dan memenuhi kebutuhan bagi kehidupan sosial murid di masyarakat.
Jadi hakikat IPS adalah untuk mengembangakan konsep pemikiran yang berdasarkan realita kondisi sosial yang ada di lingkungan murid, sehingga dengan memberikan pendidikan IPS diharapkan dapat melahirkan warga negara yang baik dan bertangung jawab terhadap bangsa dan negaranya.
b. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial Menurut Para Ahli
Begitu luas cakupan dan kajian IPS ini, banyak ahli yang memberikan batasan dari pendidikan IPS tersebut, mulai dari dalam negeri sampai ahli dari luar negeri. Maryani (Susanto, 2013: 140) menyatakan bahwa : pendidikan IPS adalah bahan kajian yang terpadu (interdisipliner) yang merupakan penyederhanaan, adaptasi,seleksi,dan modifikasi dari konsep-konsep dan keterampilan displin sejarah, geografis, sosiologi,antropolgi,politik,dan ekonomi yang diorganisasikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan psikologis untuk tujuan pembelajaran.
Mulyono (Hamdat, 2008: 8) menyatakn bahwa : memberi pengertian bahwa IPS adalah integrasi dari berbagai cabang ilmu – ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. Saidiharjo (Hamdat, 2008: 4) menyatakan bahwa : IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, dan politik
Banks (Susanto, 2013: 140) menyatakan bahwa : pendidikan IPS adalah pendidikan IPS atau yang dia sebut sosial studies, merupakan bagian dari kurikulum di sekolah yang bertujuan untuk membantu mendewasakan murid agar dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai berpartisipasi di dalam masyarakat,bangsa negara, bahkan di seluruh dunia.
Jarolimek (Susanto, 2013 :141) Menyatakan bahwa : pada dasarnya pendidikan IPS berhubungan erat dengan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang memungkinkan murid yang berperan serta dalam kelompok masyarakat di mana ia tinggal. Di pihak lain, dengan memperoleh pendidikan IPS ini, menurut Frankel (Susanto, 2013: 142) menyatakan bahwa : dapat membantu para murid menjadi lebih mampu mengetahui tentang diri mereka dan di mana dunia mereka hidup.
Alma (Susanto.2013: 141) Menyatakan bahwa : pengertian IPS sebagai suatu program pendidikan yang merupakan suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam lingkungan sosialnya dan bahannya diambil dari berbagai ilmu sosial, seperti: geografi, sejarah, ekonomi, antropologi, sosiologi, politik, dan psikologi.
c. Tujuan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Mengenai tujuan ilmu pendidikan sosial (pendidikan IPS), para ahli sering mengkaitkannya dengan berbagai sudut kepentingan dan penekanan dari program pendidikan tersebut. (Depdikbud, 2003) menyebutkan bahwa “tujuan pendidikan IPS adalah untuk mempersiapkan murid menjadi warga Negara yang baik dalam kehidupannya di masyarakat, Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara manusia dan lingkungannya”.
Lingkungannya masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada
dan
terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS yang berusaha membantu murid dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya.
Pada dasarnya tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada murid untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi murid untuk melanjutkan pendidikan pada tingkatan yang lebih tinggi.
Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS tampaknya dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjebatani tercapainya tujuan tersebut.
Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metode, strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan , agar pembelajaran pendidikan IPS benar-benar mampu mengkondisikan upaya
pembelajaran kemampuan dan keterampilan dasar bagi murid, untuk menjadi manusia dan warga Negara yang naik.
Pola pembelajaran pendidikan IPS menekankan pada unsur pendidikan dan pembekalan pada murid. Penekanan pembelajarannya bukan sebatas pada upaya mencekoki atau menjajaki murid dengan sejumlah konsep yang bersifat hafalan belaka, melainkan terletak pada upaya agar mereka mampu menjadikan
Oleh karena itu, rancangan pembelajaran guru hendaknya diarahkan dan difokuskan sesuai dengan kondisi dan perkembangan potensi Murid agar pembelajaran yang dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat bagi murid.
d. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun global sehingga mampu hidup bersama-sama dngan masyarakat lainya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah dasar sebagai lembaga formal yang dapat mengembangkan dan melatih potensi diri murid yang mampu melahirkan manusia yang andal, baik dalam bidang akademik, maupun dalam aspek moralnya.
Tujuan utama pembelajaran IPS adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyrakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan terhadap segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi setiap hari-hari baik yang menimpadirinya sendiri maupun yang menimpa masyrakat.
Tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar, Munir (Susanto, 2013: 150) Menyatakan bahwa : sebagai berikut
1.Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan kelak di masyrakat 2. Membekali anak didik dengan kemampuan berkomonikasi dengan sesama warga masyrakat da bidang keilmuan serta bidang keahlian. 3. Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan masyrakat, ilmu pengetahuan, dan tehnologi.
Sedangkan tujuan pembelajaran IPS secara umum dikemukakan oleh Fenton (Hamdat, 2008: 28) adalah mempersiapkan murid menjadi warga Negara yang baik, mengajar anak didik agar mempunyai kemampuan berfikir dan dapat melanjutkan kebudayaan bangsa . Mutaki (Susanto, 2013: 144) menyatakan bahwa: tujuan pembelajaran IPS yaitu supaya murid memiliki kesadaran kepeduliaan terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan mempelajari ilmu pengetahuan sosial di Indonesia adalah untuk memberikan pengetahuan yang merupakan kemampuan untuk mengingat kembali atau mengenal kembali atau mengenal ide – ide atau penemuan yang telah dialami dalam bentuk yang sama atau dialami sebelumnya, selain itu murid dapat mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya.
e. Manfaat Pendidikan Ilmu Pengetahuan sosial
Manfaat pendidikan IPS sangat dibutuhkan untuk membekali murid dengan berbagai kemampuan. Melihat kemampuan murid khususnya tingkat SD
masih sangat terbatas. Untuk itu, perlunya pengoptimalan dan pemaksimalan pembelajaran IPS SD agar dapat berpengaruh signifikan terhadap perkembangan murid.
f. Fungsi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Djahiri (Susanto, 2013:148) menyatakan bahwa : memanusiakan manusia dan memasyarakatkan secara fungsional, dan penuh rasa kebersamaan serta rasa tanggung jawab, hendaknya mampu menampilkan harapan-harapan, sebagai berikut: 1. Mampu memberikan pembekalan pengetahuan tentang manusia dan seluk beluk kehidupan dalam astagarata kehidupan. 2. Membina kesadaran keyakinan,dan sikap pentingnya hidup bermasyarakat dengan penuh kebersamaan, bertangung jawab, dan manusiawi. 3. Membina keterampilan dalam bermasyarakat dalam negara Indonesia yang berlandasan Pancasila. 4. Membina pembekalan dan kesiapan murid untuk belajar lebih lanjut atau melanjutkan jenjang yang lebih tinggi.
Selanjutnya Djahiri juga menekankan bahwa keempat fungsi dan peran harapan pembelajaran IPS di sekolah dasar hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip, sebagai berikut: 1. Tingkat perkembangan usia dan belajar murid. 2. Pengalaman belajar dan lingkungan budaya murid. 3. Kondisi kehidupan masyrakat sekitar masa kini dan kelak yang diharapkan. 4. Proyeksi harapan pembangunan nasional atau daerah yang tentunya mampu diajangkau. 5. Isi dan pesan nilai moral budaya bangsa, pancasila dan agama yang dianut yang diakui bangsa dan negara indonesia 6. Pengertian Reciprocal Teaching
‘’Reciprocal teaching adalah pendekatan yang berdasar pada prinsip-prinsip pembuatan/pengajuan pertanyaan, dimana keterampilan-keterampilan metakognitif (merangkum, meringkas, mengklarifikasi dan memprediksi)
diajarkan melalui pengajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk penampilan murid terhadap materi pelajaran’’ Nur dan Wilkandari (Trianto 2009:173).
Dalam reciprocal teaching, mula-mula guru memberikan model-model pertanyaan sedangkan murid diminta untuk membaca teks bacaan materi kemudian murid ditetapkan seolah-olah menjadi guru (murid-guru) untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada murid yang lain. Guru memberi model perilaku yang diinginkan pada muridnya untuk mampu bekerja sendiri dan mengubah peranan sebagai fasilitator serta mengatur murid mulai membuat pertanyaan-pertanyaan yang aktual.
Prinsip reciprocal teaching melalui beberapa tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Secara lebih rinci, bagaimana melaksanakan reciprocal teachingdapat diuraikan berikut ini:
7. Pengenalan Reciprocal Teaching
Pada fase ini, guru memperkenalkan reciprocal teaching pada murid, dengan memulai cara sebagai berikut: Nur dan Wilkandari (Trianto 2009:174)
a. Untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul tentang hal apa yang kamu baca dan untuk meyakinkan bahwa kamu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. b. Untuk merangkum informasi-informasi penting dari bacaan-bacaan yang telah kamu baca. c. Untuk memprediksi apa yang dibahas oleh pengarang pada pokok bahasan berikutnya. d. Untuk memberi tanda hal-hal yang tidak jelas dengan paragraph yang telah kamu baca.
Apabila dalam belajar melakukan empat langkah kegiatan, yaitu memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang penting, merangkum, memprediksi, dan
mengklarifikasi serta mengambil peran seolah-olah menjadi guru selama satu pertemuan kegiatan, maka pada dasarnya telah melakukan kegiatan belajar mengajar dangan pendekatan reciprocal teaching.
8. Langkah - Langkah Pembelajaran Reciprocal Teaching
Pada awal penerapan pendekatan reciprocal teaching, guru memberitahukan akan memperkenalkan suatu pendekatan / strategi pembelajaran, menjelaskan tujuan, manfaat, dan prosedurnya. Selanjutnya mengawali pemodelan dengan membaca suatu paragraph suatu bacaan kemudian menjelaskan dan mengajarkan bahwa pada saat atau selesai membaca terdapat kegiatan - kegiatan yang harus dilakukan yaitu :
a. Memikirkan pertanyaan - pertanyaan penting yang dapat diajukan dari apa yang telah dibaca, berkenaan dengan wacana dan memastikan dapat menjawabnya. b. Membuat ikhtisar atau rangkuman tentang informasi terpenting dari wacana. c.
Memprediksi atau meramalkan apa yang mungkin akan dibahas selanjutnya, dan d. Mencatat apa bila ada hal - hal yang kurang jelas atau tidak masuk akal dari suatu bagian, selanjutnya apakah kita bias berhasil membuat hal - hal itu masuk akal.
Setelah murid memahami keterampilan diatas guru akan menunjuk seorang murid untuk menggantikan perannya dalam kelompok tersebut. Mula - mula ditunjuk murid yang memiliki kemampuan memimpin diskusi, selanjutnya secara bergilir setiap murid merasakan atau melakukan peran sebagai guru.
Setelah sesi perkenalan berakhir, guru menjelaskan kepada murid mengapa, kapan, dan bagaimana strategi tersebut digunakan
9. Kelebihan Dan Kelemahan Reciprocal Teaching Kelebihan reciprocal teachingadalah :
a. Murid terlatih mengonstruksi sendiri pengetahuan. b. Pengetahuan yang diperoleh murid sendiri terkesan pada memorinya karena mereka mengalami sendiri pembelajaran sehingga tak mudah melupakannya. c.
Memupuk rasa solidaritas, empati karena murid saling menghargai perbedaan pendapat d. Memudahkan guru menjaring materi pembelajaran”.
Kekurangan reciprocal teachingadalah :
a. Memerlukan waktu yang lama, baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi. b. Memerlukan keahlian guru dalam memanajemen pembelajaran. Apabila guru tidak terampil mendesain pembelajaran ini akan menimbulkan kebingungan murid.
Murid yang pintar dan terampil berbicara akan mendominasi dialog dalam pembelajaran, sehingga murid yang kurang sulit dinilai kemampuannya .Sulastriningsih Djumingin (2011: 179).
10. Prosedur Harian Reciprocal Teaching
Dalam tahap pelaksanaan reciprocal teaching melalui prosedur harian sebagai berikut: Nur dan Wilkandari (Trianto 2009:175)
a. Disediakan teks bacaan materi yang dapat diselesaikan kira-kira satu pertemuan. b. Dijelaskan bahwa pada segmen pertama anda sebagai gurunya (model). c. Murid diminta untuk membaca dalam hati seluruh teks bacaan dan untuk memudahkan murid diminta
membaca paragraf demi paragraf. d. Jika murid telah melaksanakan membaca, dilanjutkan dengan membuat berbagai model pertanyaan. e. Murid dilatih berperan sebagai seorang guru melalui kegiatan pengenalan belajar mengajar dengan reciprocal teaching. Murid lain diminta untuk berpartisipasi dalam dialog dan selalu diingatkan bahwa pada segmen ini murid berperan sebagai guru sebenarnya menuntun dialog meyakinkan murid dengan banyak memberi umpan balik dan ujian untuk berpartisipasi.
f. Pada pertemuan berikutnya dicoba lebih banyak dialog, sehingga pada saat murid berperan sebagai guru sudah mulai berinisiatif pada kegiatan mereka sendiri.
B. Kerangka Pikir
Pengajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada satuan pendidikan tingkat sekolah dasar memiliki arti dan peran yang penting, baik secara individu maupun sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dalam proses pembelajarannya fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan murid sehari-hari.
Hal ini menjadi lebih penting mengingat rendahnya hasil belajar murid kelas V pada semester I tahun ajaran 2013/2014, di mana jumlah murid yang memenuhi syarat ketuntasan belajar minimal hanya 58%. Kondisi tersebut di atas disebabkan karena dalam proses pembelajaran di kelas selama ini guru hanya menggunakan metode ceramah saja dengan sedikit variasi.
Untuk mengungkap secara jelas pengembangan pengajaran IPS melalui pendekatan reciprocal teaching, perlu diadakan penelitian lebih mendalam.
Penelitian ini dirancang secara deskriptif dengan melalui penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tiga tahap, yakni tahap perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Rancangan ini diharapkan mampu
mengungkap secara tuntas hasil belajar murid melalui penerapan pendekatan reciprocal teachingmurid kelas V SD Negeri Gaddong 1 Makassar
Untuk memudahkan pemahaman terhadap permasalahan yang sedang dikaji, maka akan dikemukakan alur/skema kerangka pikir seperti di bawah ini:
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritik di atas ,maka hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah “jika pendekatan reciprocal teaching diterapkan dalam
Kondisi Awal
Tindakan Penerapan Pendekatan
Reciprocal Teaching Siklus I & II Siklus I
Kondisi Akhir Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial meningkat
1. Guru menggunakan metode yang masih monoton tidak variatif dan inovatif
2. Nilai hasil belajar murid rendah
pembelajaran, maka hasil belajar IPS murid kelas V SD Negeri Gaddong 1 Makassar dapat meningkat”.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian tindakan kelas atau PTK memiliki peranan yang sangat penting dan strategi meningkatkan mutu pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasi dengan benar , artinya sesuai dengan kaidah kaidah PTK.
Ebbut ( Wiriaatmadja 2012 : 12 ) menyatakan bahwa : ’’penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan – tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan tindakan tersebut”.
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan fokus kajian peningkatan kemampuan membaca murid melalui pembelajaran dengan pendekatan reciprocal teaching.
Secara garis besar pelaksanaan penelitian ini dibagi dalam dua siklus dengan empat tahapan yaitu: a. perencanaan tindakan b. pelaksanaan tindakan c.
observasi dan evaluasi d. analisis dan refleksi.
B. Lokasi, Waktu dan Subjek Penelitian 1. Lokasi
Penelitian ini berlokasi pada SD Negeri Gaddong 1 Makassar
26
2. Subjek
Subjek penelitian ini adalah murid kelas V yang berjumlah 28 orang yang terdiri dari 12 laki-laki dan 16 perempuan pada semester genap.
C. Faktor yang Diselidiki
Adapun faktor-faktor yang diselidiki pada penelitian ini adalah:
1. Faktor proses, yaitu melihat bagaimana keaktifan murid dalam proses pembelajaran melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching.
2. Faktor hasil, yaitu bagaimana ketuntasan belajar murid setelah melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan reciprocal teaching
D. Prosedur Kerja Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dirancang dalam dua siklus kegiatan, dengan perincian sebagai berikut:
1. Siklus I dilaksanakan selama 1 minggu ( sebanyak 3 kali pertemuan atau 6 jam pelajaran).
2. Siklus II dilaksanakan selama 1 minggu ( sebanyak 3 kali pertemuan atau 6 jam pelajaran).
Arikunto (2003) Menyatakan bahwa : skematik kegiatan inti penelitian ini adalah:
Tahap-tahap penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam alur siklus yang dapat diuraikan yaitu sebagai berikut:
Gambar 3.2Model PTK ( Arikunto , 2011:16) Adapun Langkah-langkah PTK adalah :
1. Gambaran Kegiatan pada Siklus I
Dalam siklus I hal-hal yang dilakukan adalah:
Perencanaan
Refleksi
Observasi
Pelaksanaan
Observasi Siklus II
Siklus I
Pelaksanaan Refleksi
Perencanaan
Siklus N
a. Tahap Perencanaan
Sebelum memulai kegiatan pada siklus I hal-hal yang pertama dilakukan adalah:
1) Menelaah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006 sedemikian rupa sehingga pokok bahasan dapat diajarkan selama 3 kali pertemuan.
2) Membuat skenario pembelajaran untuk setiap pertemuan.
3) Membuat format observasi untuk melihat bagaimana kondisi murid pada saat proses belajar mengajar berlangsung selama diadakan tindakan.
4) Merancang dan membuat kisi-kisi soal, serta soal sebagai alat evaluasi.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Langkah-langkah yang diajukan dalam pelaksanaan tindakan adalah menyajikan materi dengan pendekatan reciprocal teachingyaitu murid diberikan contoh yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehubungan dengan materi yang diajarkan, dalam penyajian bahan pelajaran diupayakan setiap langkah pendekatan reciprocal teaching dapat mengarah keinti permasalahan dimulai dari yang sederhana.
c. Tahap Observasi dan Evaluasi
Observasi dilakukan dengan cara mengidentifikasi keadaan murid selama proses belajar mengajar berlangsung dan mencatat pada lembar observasi. Hal-hal yang dicatat adalah sebagai berikut:
1) Murid yang hadir pada saat pembelajaran.
2) Murid yang tidak memperhatikan pelajaran pada saat pembelajaran.
3) Murid yang mengerjakan PR.
4) Murid yang bertanya pada saat pembelajaran berlangsung.
5) Murid yang mengerjakan soal.
Sedangkan informasi data yang diperoleh pada akhir siklus dengan memberikan tes bentuk uraian.
d. Tahap Refleksi
Hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis pada tahap ini. Demikian pula hasil evaluasi, hal-hal yang masih perlu diperbaiki dan dikembangkan dengan tetap mempertahankan hasil yang diperoleh pada setiap pertemuan.
Hasil analisis siklus I yang dijadikan acuan untuk merencanakan siklus II, sehingga yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai yang diharapkan.
2. Gambaran Kegiatan pada Siklus II
Pelaksanaan kegiatan siklus II ini relatif sama dengan pelaksanaan kegiatan siklus I. Namun dalam pelaksanaan ini dilakukan perbaikan-perbaikan dari siklus I sehingga aktivitas murid dalam belajar lebih meningkat. Adapun langkah-langkah pelaksanaan kegiatan siklus II, yaitu:
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini, dirumuskan perencanaan siklus II sesuai pelaksanaan siklus I dengan menambahkan atau mengurangi bagian-bagian yang dianggap perlu berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Selain menelaah kurikulum untuk materi pada siklus II penulis juga tetap mempelajari materi dan berbagai sumber baik dari buku paket maupun dari buku penunjang yang lainnya.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Langkah-langkah yang dilakukan pada pelaksanaan tindakan ini merupakan penambahan kegiatan pembelajaran pada siklus I, yang diharapkan dapat memperbaiki kekurangan yang terdapat pada siklus sebelumnya. Seperti lebih banyak memberikan penyajian materi melalui pendekatan reciprocal teaching yaitu memberikan contoh-contoh yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, yang pembahasan soal murid lebih banyak diaktifkan. Dalam penyajian bahan pelajaran, selalu diupayakan setiap langkah pendekatan dimulai dari yang sederhana hingga tahap akhir. Setelah penyajian materi muriddiberi kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti. Kemudian muriddiberikan soal-soal untuk dikerjakan.
c. Tahap Observasi dan Evaluasi
Observasi yang dilakukan pada dasarnya sama dengan siklus I yaitu dengan cara mengidentifikasi keadaan murid selama proses belajar mengajar berlangsung dan mencatat pada lembar observasi. Sedangkan informasi diperoleh pada akhir siklus dengan memberikan tes dengan bentuk uraian.
d. Tahap Refleksi
Pada tahap refleksi umumnya sama dengan yang dilakukan pada siklus I, data yang diperoleh pada tahap observasi selanjutnya dianalisis kemudian dilakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan.
E. Teknik Dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Sumber data
Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Murid kelas V SD Negeri Gaddong 1 Makassar
2. Jenis Data
a. Hasil belajar sebagai data kuantitatif b. Hasil Observasi sebagai data kualitatif 3. Instrument Pengumpulan Data
a. Tes adalah cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilan suatu nilai.
b. Observasi adalah suatu pengamatan langsung guru terhadap murid dengan memperhatikan tingkah lakunya. Kegiatan observasi yang dimaksudkan yaitu untuk mengamati proses pelaksanaan mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Demikian pula terhadap partisipasi murid dalam proses pembelajaran berupa sikap, minat, keaktifan, kehadiran, kerjasama, dan motivasi belajar murid.
c. Angket adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan daftar pertanyaan yang harus di isi oleh responden atau Murid
d. Dokumentasi adalah dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah murid kelas V SD Negri Gaddong 1 Makassar dan berfoto bersama murid-murid untuk diambil sebagai dokumentasi nantinya.
F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan akan dianalisis secara deskriptif. Kriteria yang digunakan untuk kategori ini adalah berdasarkan teknik kategori standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Masita, 2003) yaitu:
Table 3.1 Teknik Kategori Standar Berdasarkan Ketetapan Departemen Pendidikan Nasional
SKOR KATEGORI
0-34 35-54 55-64 65-84 85-100
Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Sumber Departemen Pendidikan Nasional
G. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah tes hasil murid sudah menunjukkan peningkatan jumlah murid yang tuntas belajar. Depdiknas, murid dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh skor minimal 65 dari skor ideal dan tuntas klasikal apabila 80% murid yang tuntas individu.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Siklus
a) Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 05 Mei 2014.
Kegiatan pertama yang dilakukan pada kegiatan awal adalah pembelajaran dimulai dengan memberi salam dan membaca doa, absensi, memberikan apersepsi dengan merangsang pengetahuan awal tentang materi yang akan dibahas sebagai pendahuluan sebelum memasuki inti pelajaran. Selanjutnya guru menyampaikan pokok bahasan pembelajaran, menyampaikan tentang model reciprocal teaching dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Selanjutnya, pada kegiatan inti guru menjelaskan materi pembelajaran yaitu Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahap inti guru menjelaskan materi sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), selanjutnya guru membagi murid dalam beberapa kelompok .Dengan kelompok yang dibentuk tersebut anggotanya heterogen (ada yang pintar, sedang, kurang) yang jumlahnya 4-5 orang. Guru menjelaskan terlebihi dahulu materi yang akan diajarkannya dan meminta murid untuk mencatat hal-hal yang kurang jelas dalam pembelajaran tersebut,Setelah itu guru memanggil murid muridnya dan dimulai dari murid yang memiliki kemampuan memimpin diskusi terlebih dahulu dan
3432
selanjutnya secara bergiliran naik seolah olah murid tersebut menjadi seorang guru agar murid tersebut dapat merasakan peran sebagai seorang guru. Kemudian guru membagikan Lembar Kerja Murid (LKM) dan soal evaluasi yang harus dikerjakan oleh murid
Pada tahap akhir guru bersama murid menyimpulkan materi yang telah diajarkan, dan sebelum mengakhiri pelajaran guru bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari selama pertemuan itu untuk mengetahui ketercapaian indikator dan kompetensi dasar. Selanjutnya, kegiatan pembelajaran diakhiri dengan memberikan tugas/PR kepada murid. menyampaikan sub materi pada pertemuan berikutnya.
b) Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 10 Mei 2014.
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah pembelajaran dimulai dengan memberi salam dan membaca doa, absensi, guru memeriksa kesiapan murid, memberikan apersepsi dengan merangsang pengetahuan awal tentang materi yang akan dibahas sebagai pendahuluan sebelum memasuki inti pelajaran. Selanjutnya guru menyampaikan pokok bahasan pembelajaran dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Pada pertemuan kedua ini murid-murid sudah lebih tertib dibandingkan pada pertemuan I.
Agar suasana kelas menjadi lebih semangat dan hidup, guru meminta semua murid untuk bertanya jawab tentang materi yang akan didiskusikan berdasarkan media gambar yang digunakan . Setelah itu guru menanyakan tentang
pekerjaan rumahnya dan meminta masing-masing murid mengumpulkan pekerjaan rumahnya. Selanjutnya guru menjelaskan materi tentang Tokoh Tokoh penting dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Seperti pada pertemuan pertama pada saat guru menjelaskan, masih ada beberapa murid tidak memperhatikan, namun jumlahnya sudah berkurang.
Selanjutnya, guru menjelaskan materi sesuai dengan rencana pengajaran.
Murid diarahkan untuk membentuk kelompok kecil yang pembagiannya telah disepakati bersama. Dengan kelompok yang dibentuk tersebut anggotanya heterogen (ada yang pintar, sedang, kurang) yang jumlahnya 4-5 orang. Guru menjelaskan terlebihi dahulu materi yang akan diajarkannya dan meminta murid untuk mencatat hal hal yang kurang jelas dalam pembelajaran tersebut,Setelah itu guru memanggil murid muridnya dan dimulai dari murid yang memiliki kemampuan memimpin diskusi terlebih dahulu dan selanjutnya secara bergiliran naik seolah olah murid tersebut menjadi seorang guru agar murid tersebut dapat merasakan peran sebagai seorang guru. Kemudian guru membagikan Lembar Kerja Murid (LKM) dan soal evaluasi yang harus dikerjakan oleh murid
Pada tahap akhir guru memberikan penghargaan terhadap hasil kerja setiap anggota kelompok Yang mampu benar benar berperan sebagai seorang Guru dihadapan teman temannya. Sebagai tindak lanjut untuk menutup pembelajaran guru memberi pesan-pesan moral.
c) Pertemuan Ketiga
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 12 Mei 2014.
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah pembelajaran dimulai dengan memberi salam dan membaca doa, absensi, guru memeriksa kesiapan murid, memberikan apersepsi dengan merangsang pengetahuan awal tentang materi yang akan dibahas sebagai pendahuluan sebelum memasuki inti pelajaran. Selanjutnya guru menyampaikan pokok bahasan pembelajaran dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Kemudian menyampaikan tentang model Recirocal teaching . Pada pertemuan ketiga ini murid-murid sudah merasa nyaman dan sudah mau mendengar sehingga suasana dalam kelas sudah sangat tertib.
Selanjutnya, pada kegiatan inti guru menjelaskan materi sesuai dengan rencana pengajaran. Murid diarahkan untuk membentuk kelompok kecil yang pembagiannya telah disepakati bersama. Dengan kelompok yang dibentuk tersebut anggotanya heterogen (ada yang pintar, sedang, kurang) yang jumlahnya 4-5 orang. Guru menjelaskan terlebih dahulu materi yang akan diajarkannya dan meminta murid untuk mencatat hal hal yang kurang jelas dalam pembelajaran tersebut,Setelah itu guru memanggil murid muridnya dan dimulai dari murid yang memiliki kemampuan memimpin diskusi terlebih dahulu dan selanjutnya secara bergiliran naik seolah olah murid tersebut menjadi seorang guru agar murid tersebut dapat merasakan peran sebagai seorang guru. Kemudian guru membagikan Lembar Kerja Murid (LKM) dan soal evaluasi yang harus dikerjakan oleh murid
Pada tahap akhir guru memberikan penghargaan terhadap hasil kerja setiap anggota kelompok Yang mampu benar benar berperan sebagai seorang Guru dihadapan teman temannya. Murid memberikan kesimpulan dari materi yang telah diajarkan, dan sebelum mengakhiri pelajaran guru bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari selama pertemuan itu untuk mengetahui ketercapaian indikator dan kompetensi dasar. Selanjutnya, kegiatan pembelajaran diakhiri dengan memberikan tugas/PR kepada murid. Kemudian guru memberitahukan pertemuan berikutnya akan diadakan test evaluasi siklus I.
d) Pertemuan ke empat
Pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Saptu 17 Mei 2014. Kegiatan ini adalah kegiatan akhir dalam siklus Satu yaitu diadakan sebuah tes evaluasi pada setiap murid untuk mengukur tingkat pemahaman murid selama proses pembelajaran dan Data observasi ini merupakan data sikap murid kelas V SD Negeri Gaddong 1 kota Makassar , dalam proses pembelajaran kita harus menggunakan lembar observasi terdiri atas lembar observasi aktivitas murid selama melaksanakan proses pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I Namun masih banayk murid yang belum mencapain nilai ketuntasan belajar dalam hasil Tes Evaliasi dari siklus 1 .
Observasi terhadap kegiatan murid ini terangkum dalam hasil pengamatan observasi yang merupakan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai observer selama berlangsungnya penelitian.
Data hasil observasi selama proses pelaksanaan siklus I tercermin pada lembar observasi . Adapun aktifitas murid pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Observasi Aktivitas Murid Pada Siklus I
No Komponen yang diperhatikan
Siklus I Persentase (%) Frekuensi Rata-rata
1. Kehadiran 23 26 26 25 89,2
2.
Murid yang melakukan kegiatan lain pada saat menjelaskan materi
8 4 2 4,67 18,68
3.
Murid yang tenang saat pembagian
kelompok diskusi 18 24 26 19,3 77,33
4. Murid yang berani tampil menjelaskan materi di depan kelas
12 19 20 17 68
5.
Murid yang berani bertanya dan aktif
dalam proses pembelajaran 8 10 12 10 4
6.
Murid yang memahami materi dan mampu berperan sebagai seorang guru di hadapan teman temannya
7 9 11 9 36
7. Murid yang aktif menyimpulkan materi. 3 7 12 7,33 29,33
Rata-Rata 92,3 293,2
Aktivitas yang teramati dalam penelitian ini ditekankan pada 8 opsi seperti yang tertera pada tabel 4.1 . Persentase aktivitas tersebut berdasarkan pengisian lembar observasi. Berdasarkan data hasil observasi, pada awal pelaksanaan siklus I yaitu Berdasarkan hasil observasi siklus I. Pada aspek yang 1, kehadiran pada pertemuan I,II dan III dengan rata-rata 25 dan presentase 89,2 %, Pada Aspek yang ke 2, Murid yang melakukan kegiatan lain pada saat menjelaskan materi pada pertemuan I,II,dan III dengan rata-rata 4,67 dan presentase 18,68 %. Pada aspek yang ke 3 Murid yang tenang saat pembagian kelompok diskusi pada pertemuan I,II dan III dengan rata-rata 19,3 dan persentase 77,33% .Pada aspek yang ke 4 Murid yang berani tampil menjelaskan materi di depan kelas dengan baik dan benar pada pertemuan I,II dan III dengan rata-rata 17 dan persentase 68% . Pada aspek yang ke 5 Murid yang berani bertanya dan aktif dalam proses pembelajaran pada pertemuan I,II dan III dengan rata-rata 10 dan persentase 4 % .Pada aspek yang ke 6 Murid yang memahami materi dan mampu berperan sebagai seorang guru dihadapan teman temannya, pada pertemuan I,II dan III dengan rata-rata 9 dan presentase 36 %, Pada aspek yang ke 7 Murid yang memberikan tanggapan pada saat diskusi pada pertemuan I,II dan III dengan rata- rata 7,33 dan persentase 29,33%. Pada aspek yang ke 8 murid yang aktif menyimpulkan materi pada pertemuan I,II dan III dengan rata-rata 7,33 dan 29,33
%.
pada pertemuan I, II, III masih terdapat beberapa kesulitan, terutama dalam menghadapi murid, hal yang menonjol adalah murid yang menjawab dan
memberi tanggapan masih sangat kurang, kami juga melihat murid yang memperhatikan penjelasan guru juga masih sangat kurang dari jumlah murid yang berada di dalam kelas. Respon yang lain memperhatikan sikap yang kurang pasif dan kurang mendukung sehingga suasana kelas yang gaduh /ribut, murid yang mondar-mandir sambil menganggu temannya dan bermain. Selain itu ada murid yang bicara dengan teman kelompoknya yang tidak berhubungan dengan pelajaran, tidak antusias dalam belajar dan kelihatan masih bingung dengan metode pembelajaran yang diterapkan. Hasil observasi ini menunjukkan sikap, perhatian dan keaktifan murid terhadap penerapan metode pembelajaran ini masih kurang
Pada siklus ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian setelah selesai penyajian materi untuk Siklus I. Adapun deskripsi hasil belajar IPS setelah menerapkan model reciprocal teaching pada Siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2, berikut:
Tabel 4.2 Statistik Nilai Hasil Belajar Murid pada Tes Siklus I
Statistik Nilai Statistik
Subjek Skor Ideal Skor tertinggi Skor terendah Rentang Skor Skor rata-rata
28 100
75 30 45 54,11
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar IPS murid kelas V SD Negeri Gaddong 1 kota Makassar setelah menerapkan metode Reciprocal teaching pada siklus I dengan skor rata-rata 54,11 dari KKM 65 dari skor ideal 100. Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 75 dan nilai terendah adalah 30. Jika nilai hasil belajar murid tabel di atas dikelompokkan kedalam lima kategori maka diperoleh distribusi nilai seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Belajar pada Siklus I
Rentang Nilai Kategori Frekuensi (f) Persentase (%)
0 – 34 Sangat Rendah 5 17,9
35 – 54 Rendah 7 25
55 – 64 Sedang 7 25
65 – 84 Tinggi 9 32,1
85 – 100 Sangat Tinggi 0 0
Jumlah 28 100
Hasil di atas menunjukkan bahwa dari 28 murid yang menjadi subjek penelitian perolehan skor pada kategori sangat tinggi 0%, pada kategori tinggi sebesar 32,1%, pada kategori sedang sebesar 25%, pada kategori rendah sebesar 25% dan pada kategori sangat rendah 17,9 % dari Kriteria ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65. Olehnya itu penelitian ini belum bisa dikatakan berhasil karena masih banyak murid yang berada pada kategori rendah.
Apabila hasil belajar murid pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus I
Skor Kategori Frekuensi Persentase
<65 Belum Tuntas 19 67,9 %
≥65 Tuntas 9 32,1 %
Jumlah 28 100%
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa persentase ketuntasan kelas sebesar 32,1%
yaitu 9 murid dari 28 termasuk dalam kategori tuntas dan 67,9 % yaitu 19 murid
0 5 10 15 20 25 30 35
Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah
Frekuensi Persentase
dari 28 murid termasuk dalam kategori tidak tuntas. Ini berarti terdapat 19 murid yang perlu perbaikan karena belum mencapai kriteria ketuntasan individual.
e) Refleksi Tindakan
Siklus I dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan untuk meningkatkan hasil belajar murid dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS ) Di Kelas V SD Negeri Gaddong 1 Kota Makassar.
Pada pertemuan pertama siklus I, murid merasa asing dengan model yang digunakan yaitu model reciprocal teaching . Pertemuan ini merupakan tahap pengenalan dan penyesuaian penerapan. Pada pertemuan kedua dan seterusnya murid mulai beradaptasi pada model reciprocal teaching, namun penerapannya belum maksimal.
Masih ada beberapa murid yang kurang memperhatikan yang pada akhirnya murid tersebut menemukan kesulitan-kesulitan pada saat mengerjakan tugas.
Pada tahap ini guru memberikan latihan soal mengerjakan tugas. Namun, masih banyak murid yang tidak menyelesaikan pekerjaannya dengan berbagai alasan. Pembelajaran tahap akhir yakni memberi penghargaan kepada kelompok dan murid yang dapat mendorong peningkatan pembelajaran. Namun, kalau dipresentasikan secara klasikal belum terlalu banyak peningkatan. Hal ini disebabkan oleh murid belum dapat menyesuaikan secara langsung metode pembelajaran yang baru diterapkan oleh guru.
Pada akhir pembelajaran siklus I diberi ujian atau evaluasi siklus I, mereka menunjukkan kesiapan dalam mengikuti ujian hal ini terlihat pada saat
mengerjakan soal pada umumnya tenang, meskipun ujian hal ini terlihat gelisah karena merasa sulit mengerjakan soal, selain itu ada pula yang melihat pekerjaan temannya, namun hal itu dapat diatasi dengan memberikan teguran dan memperketat pengawasan. Berdasarkan hal ini maka tidak mengherankan jika kemudian hari diperoleh hasil belajar yang masih kurang memuaskan.
Dari analisis diatas terlihat bahwa hasil tes evaluasi pada siklus I belum sepenuhnya mencapai ketuntasan belajar. Oleh karena itu, penerapan model reciprocal teaching dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) masih perlu ditingkatkan. Dengan demikian diperlukan lanjutan untuk siklus berikutnya atau siklus II.
1. Siklus II
a) Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 19 Mei 2014.
kegiatan awal yang dilakukan adalah pembelajaran dimulai dengan memberi salam dan membaca doa, absensi, memberikan apersepsi dengan merangsang pengetahuan awal tentang materi yang akan dibahas sebagai pendahuluan sebelum memasuki inti pelajaran. Selanjutnya guru menyampaikan pokok bahasan pembelajaran , menyampaikan tentang Model Reciprocal teaching dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Selanjutnya, pada kegiatan inti guru menjelaskan materi pembelajaran yaitu usaha mempersiapkan kemerdekaan indonesia. Pada tahap inti guru menjelaskan materi sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran