• Tidak ada hasil yang ditemukan

peningkatan kecerdasan naturalis dengan permainan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "peningkatan kecerdasan naturalis dengan permainan"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

Anak yang memiliki kecerdasan naturalistik yang baik akan mampu mencintai dan memiliki minat yang tinggi terhadap tumbuhan, hewan dan lingkungan. Peran guru sangat penting dalam perkembangan kecerdasan naturalistik anak, apalagi di era sekarang ini dimana banyak anak yang acuh tak acuh terhadap lingkungan disekitarnya. Memberikan pemahaman kepada anak sejak dini untuk membuang sampah dan memberikan pemahaman untuk mencintai alam merupakan hal mendasar dalam mengembangkan kecerdasan naturalistik anak.

Pengembangan kecerdasan naturalistik di sekolah diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar tentang alam di sekitarnya dan diharapkan dapat mengajak anak untuk peduli dan peduli terhadap lingkungan di masa depan. Kecerdasan naturalistik anak TK Alam Azkia berbeda dengan kecerdasan naturalistik anak TK pada umumnya. Hal ini tentunya sejalan dengan visi dan misi TK Alam Azkia, namun permasalahan yang masih dirasakan oleh guru dan siswa kelompok B TK Alam Azkia antara lain kecerdasan naturalistik khususnya pada subtema memancing.

Identifikasi Masalah

Ikan merupakan salah satu sumber makanan yang dimanfaatkan oleh manusia, karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan merupakan salah satu menu yang disantap anak setiap hari dan sangat dikenal oleh anak sebagai lauk pendamping nasi saat anak makan. Sayangnya, anak-anak belum mengetahui jenis ikan yang dimakannya setiap hari, dengan pembelajaran ini kita bisa belajar tentang beberapa jenis ikan yang sering dimakan anak dan manfaatnya bagi pertumbuhan anak sejak dini.

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Pengertian Anak Usia Dini

Dalam peraturan pemerintah no. 137 Tahun 2014, terdapat enam aspek perkembangan yang dapat dikembangkan pada usia 5-6 tahun, antara lain: nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional dan seni. Perkembangan kecerdasan pada anak usia dini salah satunya berkaitan dengan kemampuan kognitif, kemampuan ini dapat dikembangkan melalui metode demonstrasi yaitu penyajian dengan penjelasan secara lisan yang disertai dengan tindakan atau peragaan suatu proses tertentu, yang kemudian diikuti atau dicoba oleh mahasiswa. Selain metode demonstrasi, metode tanya jawab juga dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak dengan cara guru memberikan pertanyaan kepada anak untuk dijawab dan mendorong anak untuk aktif dalam menjawab pertanyaan.

Kecerdasan Naturalis

Menurut Armstrong dalam Sujiona, kecerdasan IPA adalah kecerdasan untuk mencintai keindahan alam melalui pengenalan terhadap flora dan fauna yang terdapat di lingkungan sekitar serta pengamatan terhadap fenomena alam dan kepekaan/kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Widayati dalam Suyada menyatakan bahwa kecerdasan IPA adalah kemampuan mengenal berbagai jenis tumbuhan dan hewan serta fenomena alam lainnya seperti awal mula keberadaan tumbuhan dan hewan, proses tata surya, dan lain-lain. Berdasarkan beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan sains adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, menyatakan, membedakan tumbuhan dan hewan serta peristiwa alam yang terjadi di lingkungan anak.

Pentingnya potensi kecerdasan sains pada anak tidak berbeda dengan potensi kecerdasan di bidang lain karena kecerdasan sains merupakan bagian dari kecerdasan anak secara keseluruhan, yang terhubung dengan otak kiri. Menurut Suyadi, kecerdasan sains diperlukan setiap orang sejak usia dini, karena kecerdasan ini mampu menjaga dan melestarikan. Rashidiyanti (2016:2) menyatakan bahwa guru dan orang tua harus mampu membimbing anak untuk mengembangkan kecerdasan sains secara konsisten sejak usia dini agar anak memiliki kecerdasan sains yang tinggi.

Jika anak tidak didorong untuk mengembangkan kecerdasan sains sejak dini, maka akan mengakibatkan rendahnya kecerdasan sains pada anak. Suyadi mengatakan bahwa orang dengan kecerdasan alami rendah cenderung mengeksploitasi lingkungannya dan tidak segan-segan berburu, menyiksa, dan membunuh hewan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sangat penting untuk mengembangkan kecerdasan alami sejak dini, karena kecerdasan ini mampu memberikan pemahaman untuk perlindungan dan pemeliharaan lingkungan atau alam.

Letak geografis dapat menjadi faktor penentu atau faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak, di antaranya kecerdasan sains juga termasuk. Berdasarkan beberapa uraian di atas, beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan sains anak usia dini adalah faktor lingkungan dan keluarga.

Tabel 2.1 Tahapan Kecerdasan naturalis Anak Usia Dini
Tabel 2.1 Tahapan Kecerdasan naturalis Anak Usia Dini

Pengembangan Kecerdasan Naturalis

Orang tua yang membiarkan anak bermain dengan alam akan memungkinkan anak mengembangkan kecerdasan naturalistiknya, sedangkan orang tua yang melarang anaknya bermain di alam karena khawatir kecerdasan naturalistik anak tidak akan berkembang seperti anak yang dibiarkan bermain. di alam liar. Melibatkan anak dalam menciptakan alam selain sebagai bahan atau sumber, juga merupakan objek pembelajaran. Melatih dan mendidik anak untuk tidak menaklukkan dan melawan alam dengan cara merusak lingkungan, tetapi melibatkan mereka secara langsung dalam memelihara dan melestarikannya.

Memberikan contoh yang baik kepada anak-anak untuk mencintai dan merawat berbagai jenis hewan tidak hanya merawat dan membesarkannya, tetapi juga melepaskan hewan-hewan tersebut untuk menghirup udara bebas di alam luas. Mendidik dan mengembangkan kemampuan anak untuk memanfaatkan semua ciptaan Tuhan, mengolahnya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang dapat digunakan untuk proses pembelajaran di sekolah. Berdasarkan berbagai uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pengembangan kecerdasan naturalistik adalah membangun kesadaran anak untuk memanfaatkan alam sebagai sumber belajar, melatih dan mendidik anak untuk menjaga alam, memberi contoh kepada anak untuk melestarikan alam. alam .

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh inspirasi, ide, pengamatan langsung untuk menciptakan dan mengembangkan cara pandang dan kreativitas baru. Libatkan siswa agar alam selain menjadi sumber dan bahan belajar, juga menjadi mata pelajaran belajar yang aktif dan dapat langsung dipelajari dan dieksplorasi. Jendela belajar membangkitkan minat siswa yang duduk di dekat jendela dan selalu melihat ke luar jendela ketika guru menjelaskan materi pembelajaran di depan kelas, sehingga semua siswa cenderung memperhatikan apa yang terjadi di luar ruangan. . .

Menginspirasi guru untuk mengembangkan kreativitas dalam menyampaikan materi pembelajaran agar dapat dicerna dan diterima dengan baik oleh siswa. Dewantara dalam Yauma memberikan perumpamaan guru sebagai petani yang merawat tumbuhan atau tumbuhan, dimana murid diumpamakan sebagai tanaman yang tumbuh dari biji yang ditanam menjadi tanaman.

Metode pembelajaran Outing Class

Menyaksikan ikan di dalam akuarium dan mengamati tingkah laku ikan secara bersama-sama juga bisa mengajak anak untuk melihat makanan ikan yang akan mereka keluarkan, lalu memberi makan ikan tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan sains dapat dipromosikan dengan berbagai cara, seperti mengajak anak belajar di luar ruangan, menggunakan alat bantu belajar di luar ruangan yang dapat membuat belajar menjadi menyenangkan bagi anak. Dengan kunjungan lapangan atau ekskursi, anak dapat lebih memahami realita kehidupan masyarakat, mereka dapat mengamati, meneliti dan mempelajari suatu mata pelajaran di luar sekolah (Simanjuntak 2012).

Kunjungan lapangan atau darmawisata adalah metode pengajaran yang dilakukan dengan mengajak anak ke fasilitas tertentu di luar sekolah untuk belajar atau menjelajahi ladang, perkebunan, lingkungan alam, dan lain-lain. Karena media ini dapat merangsang minat dan keinginan anak untuk belajar serta meningkatkan potensinya dan menarik untuk diikuti oleh semua siswa. Menurut Ggne, Briggs and Wager (dalam Dina Indrian 2011), kelas ekskursi media mencakup beberapa tanda seperti keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan perilaku, keterampilan motorik.

Tidak salah kita memasukkan media field trip dalam pembelajaran untuk mengantarkan siswa pada potensi maksimalnya karena media ini menyenangkan. Belajar mandiri dan interaksi instan sambil bermain dengan teman di alam terbuka, ini jelas merupakan pengalaman yang bermakna dan tak terlupakan.

Penelitian Relevan

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kecerdasan naturalistik anak melalui Media Bahan Alam pada anak PAUD IT Aneuk Shaleh Ceria.

Kerangka Berpikir

Hipotesis Tindakan

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilaksanakan secara kolaboratif dan partisipatif, artinya peneliti tidak melakukan penelitian sendiri melainkan bekerja sama dengan guru kelas. Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja sebagai guru, guna meningkatkan hasil belajar anak, (Wardhani, 2012:14). Dengan demikian mulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi peneliti selalu dilibatkan, kemudian peneliti memantau, mencatat dan mengumpulkan data, kemudian menganalisis data tersebut dan diakhiri dengan laporan penelitian.

Menurut Wijaya Kusuma dan Dedi Dwitagama menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas termasuk dalam penelitian kualitatif meskipun data yang dikumpulkan bersifat kualitatif. Pendapat tersebut diperkuat oleh Suharsimi Arikunto bahwa penelitian tindakan ini merupakan penelitian kualitatif karena mengacu pada proses tindakan, hasil penelitian hanya berlaku untuk subjek yang diteliti atau tindakan yang akan digeneralisasikan. Kecamatan Blang Paseh gampong Lampeudeu Baroh Kec. Pidie, dengan jumlah anak sebanyak 17 orang, terdiri dari 9 anak perempuan dan 8 anak laki-laki.

Desain Penelitian

Berdasarkan prosedur penelitian di atas, penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan naturalistik anak melalui kegiatan bermain berbasis alam dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi atau observasi, dan refleksi, yang selanjutnya disebut satu siklus. Pada tahapan ini, proses yang dilakukan adalah mengamati aktivitas kecerdasan naturalistik anak selama proses pembelajaran. Tahap ini dimaksudkan untuk meninjau secara menyeluruh tindakan yang dilakukan, berdasarkan data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dan didiskusikan dengan guru kelas.

Hasil analisis tersebut dapat disajikan sebagai bahan refleksi, melihat kelemahan dan kelebihan selama proses pembelajaran, kemudian dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil yang telah dicapai, apakah diperlukan tindakan lebih lanjut atau tidak. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang penting untuk penelitian tindakan kelas yaitu observasi. Pada penelitian ini observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dengan cara mencentang checklist pada kolom hasil yang sesuai.

Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi berupa instrumen untuk mencatat kemampuan kecerdasan anak melalui kegiatan pembelajaran berbasis alam yang mengacu pada Permendikbud No. Sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan kelas, dalam penelitian ini dinyatakan berhasil jika terjadi perubahan atau peningkatan hasil belajar yang dicapai anak setelah diberikan tindakan.

Tabel 3.1 Instrumen Observasi Ketrampilan Kecerdasan Naturalis
Tabel 3.1 Instrumen Observasi Ketrampilan Kecerdasan Naturalis

Gambar

Tabel 2.1 Tahapan Kecerdasan naturalis Anak Usia Dini
Tabel 3.1 Instrumen Observasi Ketrampilan Kecerdasan Naturalis
Tabel 3.2 Rubrik Penilaian Anak mampu mengenal hewan yang hidup di air  Anak senang memelihara dan merawat hewan (ikan)
Tabel 3.3 Kriteria Penilaian

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Membangun Aplikasi Pengadaan Barang dan Jasa pada