• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Peningkatan Hasil Belajar Dan Minat Siswa Dalam Pembelajaran Ips Kompetensi Dasar Mendeskripsikan Uang Dan Lembaga Keuangan Melalui Model Pembelajaran Numbered Heads Together (Nht) Kelas Ix E Smp Negeri 1 Punung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Peningkatan Hasil Belajar Dan Minat Siswa Dalam Pembelajaran Ips Kompetensi Dasar Mendeskripsikan Uang Dan Lembaga Keuangan Melalui Model Pembelajaran Numbered Heads Together (Nht) Kelas Ix E Smp Negeri 1 Punung"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

191 PENDAHULUAN

Pembelajaran harus mampu memberikan bekal kepada siswa untuk berpikir kritis, logis, analisis, sistematis, dan kreatif. Pemberian bekal kepada siswa memerlukan model pembelajaran IPS yang inovatif, menarik dan menyenangkan agar mata pelajaran IPS bukan lagi dianggap sebagai mata pelajaran hafalan dan membosankan membuat mengantuk yang akan berimbas pada rendahnya minat belajar siswa pada pelajaran IPS.

Hasil observasi dan refleksi guru IPS selaku peneliti yang dilakukan di SMP Negeri 1 Punung khususnya Kelas IX E pada pelajaran IPS yang diampu, siswa cenderung diam dan kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Pernyataan tersebut dimungkinkan karena guru selaku peneliti kurang

bervariasi dalam pemanfaatan model pembelajaran.

Terlihat siswa terkadang merasa jenuh dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan dan rendahnya minat siswa dalam mengikuti pelajaran tercermin dari sebagian siswa cenderung ramai serta tidak memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru. Hasil belajar IPS pada kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan di kelas ini juga tergolong rendah karena hanya 34,48% (10 siswa) dari jumlah siswa yang mencapai KKM sebesar 75. Keadaan ini apabila terus terjadi, tujuan pendidikan akan semakin jauh untuk dicapai.

Strategi pembelajaran yang lebih menarik dan dapat menambah minat belajar siswa untuk mengikuti proses pembelajaran tanpa adanya rasa keterpaksaan untuk mengatasi hal tersebut perlu dikembangkan.

Salah satu cara pembelajaran yang dianggap cocok DAN LEMBAGA KEUANGAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN

NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) KELAS IX E SMP NEGERI 1 PUNUNG Titik Handayani

SMP Negeri 1 Punung

[email protected] Abstrak

Tujuan penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah: (1) Mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan. (2) Mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan minat siswa Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan.

Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas atau sering disebut dengan CAR (Classroom Action Research). Penelitian dilaksanakan dengan tiga siklus, setiap siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung tahun pembelajaran 2018/2019, yang berjumlah 29 siswa terdiri dari 14 orang siswa laki-laki dan 15 orang siswa perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan: (1) Penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan dibuktikan dengan persentase siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus I sebesar 37,93% (11 anak tuntas) meningkat menjadi 58,62% (17 anak tuntas) pada siklus II dan masih mengalami peningkatan menjadi 96,55% (28 anak tuntas) pada siklus III. (2) Penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan minat siswa Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata persentase indikator minat belajar siswa setiap siklusnya. Pada siklus I rata-rata persentase indikator minat belajar siswa adalah 62%. Pada siklus II menjadi 70% atau mengalami peningkatan sebesar 8%. Pada siklus III mengalami peningkatan sebesar 19% sehingga menjadi 89%. Pemaparan ini berarti bahwa rata-rata persentase indikator minat belajar siswa telah melampaui kriteria keberhasilan tindakan yang ditetapkan, yaitu 75%.

Kata Kunci: Hasil Belajar, IPS, Minat, Numbered Heads Together (NHT)

(2)

192 Jurnal Humaniora, Volume 10, Nomor 03, Juni 2023, Hal. 135-207 untuk memecahkan permasalahan di atas adalah

Model Numbered Heads Together (NHT).

Model Numbered Heads Together (NHT) dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran yang baik dan menyenangkan tanpa kehilangan esensi belajar yang sedang berlangsung. Penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat melibatkan siswa menjadi aktif. Melalui penerapan model Numbered Heads Together (NHT), dapat melatih siswa untuk terlibat langsung dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Teknik NHT memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangan jawaban yang paling tepat, selain itu teknik ini mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka (Isjoni, 2010:78).

Model pembelajaran aktif seperti ini yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan pada pelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan Kelas IX E di SMP Negeri 1 Punung.

Permasalahan yang telah dipaparkan di atas, guru selaku peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pembelajaran IPS Terpadu dengan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT), sehingga permasalahan penelitian ini dibingkai dalam judul “Peningkatan Hasil Belajar dan Minat Siswa Dalam Pembelajaran IPS Kompetensi Dasar Mendeskripsikan Uang dan Lembaga Keuangan Melalui Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Kelas IX E Semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019”.

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, masalah yang dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini yaitu: 1) Apakah penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan? 2) Apakah penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan minat siswa Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan?

Tujuan penelitian ini adalah a) Mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan. b) Mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan minat siswa

Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019 pada pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan.

Manfaat hasil penelitian tindakan kelas ini secara teoritis diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, khususnya berkaitan dengan penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) pada bidang mata pelajaran IPS. Manfaat Praktis. Bagi siswa: penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dalam penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa khususnya mata pelajaran IPS sehingga dapat mengubah perolehan hasil belajar yang lebih baik. Bagi guru: 1) Dapat memberikan masukan bagi para guru IPS dan guru mata pelajaran lain, bahwa dengan penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat mengatasi masalah rendahnya minat belajar siswa. 2) Hasil penelitian ini diharapkan juga dapat menambah wawasan bagi sesama guru IPS untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelasnya. Bagi sekolah: sebagai bahan referensi dan informasi untuk lebih mengembangkan model pembelajaran, salah satunya untuk menunjang pembelajaran IPS melalui penggunaan model yang lebih variatif.

Ahmad Susanto (2013:137) mendefinisikan bahwa ilmu pengetahuan sosial yang sering disingkat dengan IPS adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam rangka memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik, khususnya di tingkat dasar dan menengah. Luasnya kajian IPS ini mencakup berbagai kehidupan beraspek majemuk baik hubungan sosial, ekonomi, psikologi, budaya, sejarah, maupun politik, semuanya dipelajari dalam ilmu sosial ini.

Dimyati dan Mudjiono (2015:210) menjelaskan bahwa hasil dari interaksi tindak belajar dan tindak mengajar biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru. Instrumen evaluasi hasil belajar yang disebut juga alat penilaian yang akan digunakan, tergantung dari metode/teknik/

evaluasi yang dipakai, apakah teknik tes atau teknik non-tes.

Sardiman (2016:76) menyatakan bahwa minat adalah suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhan sendiri. Seseorang yang melihat sesuatu sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingan sendiri.

(3)

Isjoni (2010:78) mendefinisikan bahwa teknik NHT memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangkan jawaban yang paling tepat, selain itu teknik ini mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. NHT pada dasarnya adalah varian dari group discussion, pembelokannya yaitu pada hanya ada satu siswa yang mewakili kelompoknya tetapi sebelumnya tidak diberi tahu siapa yang akan menjadi wakil kelompok tersebut.

Pembelokan tersebut memastikan keterlibatan total dari semua siswa.

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:

model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar dan minat siswa dalam pembelajaran IPS kompetensi dasar mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung Tahun Pembelajaran 2018/2019.

METODE

Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas atau sering disebut dengan CAR (Classroom Action Research). Arah penelitian ini dilakukan secara partisipatif dan kolaboratif.

Waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada Bulan Oktober 2018. Penelitian dilaksanakan dalam 3 siklus, 1 pertemuan setiap minggunya, sehingga total sebanyak 3 pertemuan.

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Punung pada Kelas IX E Tahun Pembelajaran 2018/2019. SMP Negeri 1 Punung beralamat di Desa Sooka, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Objek penelitian ini adalah siswa Kelas IX E SMP Negeri 1 Punung berjumlah 29 siswa.

Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas IX E semester I SMP Negeri 1 Punung tahun pembelajaran 2018/2019, yang berjumlah 29 siswa terdiri dari 14 orang siswa laki-laki dan 15 orang siswa perempuan. Skenario atau rancangan penelitian tindakan perbaikan pembelajaran dalam PTK ini terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi yang diuraikan secara rinci sebagai berikut.

Siklus I Perencanaan

Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap perencanaan sebagai berikut: 1) Guru IPS selaku peneliti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat serangkaian kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT). 2) Menyiapkan instrumen penelitian yang terdiri dari: a) Tes mata

pelajaran IPS materi uang dan lembaga keuangan.

b) Lembar observasi minat belajar. c) Pedoman wawancara siswa dan kolabolator. d) Dokumentasi.

3) Melakukan koordinasi dengan guru IPS lintas kelas selaku kolabolator dan kepala sekolah.

Tindakan

Pendahuluan: (Guru IPS selaku peneliti membuka pelajaran dengan mengucap salam, dilanjutkan berdoa dan menanyakan kondisi siswa serta presensi, Guru IPS selaku peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran, Guru IPS selaku peneliti melakukan apersepsi). Kegiatan Inti: siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor, siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai materi pelajaran disertai tanya jawab, guru memberikan tugas dan masing- masing kelompok mengerjakannya, kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dan mengerjakannya/

mengetahui jawabannya, guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka, tanggapan dari teman yang lain kemudian guru menunjuk nomor yang lain, guru mengklarifikasi materi pelajaran, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan, memberi hadiah kepada siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dengan benda yang bermanfaat. Penutup: Guru IPS selaku peneliti dan siswa menyimpulkan materi pelajaran, guru IPS selaku peneliti memberikan tugas kepada siswa, guru IPS selaku peneliti mengucapkan salam penutup untuk mengakhiri pertemuan.

Observasi atau Pengamatan

Kegiatan observasi dilakukan pada waktu penelitian atau pada waktu pelaksanaan tindakan.

Indikator yang perlu diamati meliputi: pengamatan terhadap kegiatan guru IPS selaku peneliti dalam penerapan model Numbered Heads Together (NHT) dan minat belajar siswa selama proses pembelajaran.

Refleksi

Hasil observasi atau pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dijadikan bahan analisis (refleksi) untuk mengetahui kemajuan minat belajar siswa. Guru IPS selaku peneliti dan kolaborator melakukan refleksi untuk mengetahui apakah yang terjadi sesuai dengan rancangan skenario, apakah tidak terjadi penyimpangan atau kesalahan prosedur, apakah prosesnya seperti yang diharapkan.

Siklus II

Hasil refleksi pada siklus I sangat menentukan perencanaan tindakan pada siklus ke II dan seterusnya. Penelitian ini akan dilanjutkan ke siklus III apabila pada siklus II target belum tercapai.

Siklus ini akan dihentikan jika tercapainya tujuan

(4)

194 Jurnal Humaniora, Volume 10, Nomor 03, Juni 2023, Hal. 135-207 penelitian ini, yaitu meningkatnya minat belajar

siswa sesuai dengan indikator keberhasilan.

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode, yaitu: tes hasil belajar, observasi (pengamatan), wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Instrumen penelitian menggunakan tes hasil belajar, lembar observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Validitas dalam penelitian ini menggunakan demokratis, proses dan hasil, uji reliabilitas. Instrumen setelah diuji validitas kemudian diuji coba lapangan, uji daya pembeda dan tingkat kesukaran soal.

Kriteria Keberhasilan Tindakan

Penelitian ini dikatakan berhasil berhasil apabila mampu mencapai kriteria yang telah ditentukan. Pengukuran keberhasilan tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

Penelitian ini dikatakan berhasil apabila rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada lembar observasi mencapai 75%. 2. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila 75% jumlah siswa Kelas IX E memiliki nilai minimal 75 pada mata pelajaran IPS. Pernyataan ini berdasarkan Kurikulum SMP Negeri 1 Punung mengenai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran IPS, yaitu 75.

Teknik Analisis Data

Analisis Data Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa dihitung persentase ketuntasan menggunakan rumus dari Kunandar (2013:280), yaitu berikut ini:

P= Σ Siswa yang tuntas Belajar

x 100%

Σ Siswa Keterangan:

P : Persentase

Analisis Data Minat Belajar Siswa

Analisis data observasi minat belajar siswa dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Memberikan kriteria pemberian skor terhadap masing-masing deskriptor pada setiap indikator minat belajar siswa yang diamati. b. Menjumlahkan skor untuk masing-masing indikator minat belajar siswa. c. Mempersentasekan skor minat belajar siswa pada setiap indikator yang diamati dengan menggunakan rumus:

NP= R

x 100(Purwanto, 2016:207) SM

Keterangan:

NP : Nilai persen yang dicari atau diharapkan R : Skor mentah yang diperoleh siswa

SM : Skor maskimum ideal dari tes yang bersangkutan

100 : Bilangan tetap

Analisis Data Observasi Kegiatan Guru

Data hasil pengukuran kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran dianalisis secara kualitatif.

Skor rata-rata deskriptor kegiatan guru akan dibagi menjadi empat kategori skala ordinal, yaitu: sangat baik, baik, cukup, dan kurang (selengkapnya terdapat di lampiran). Data yang diperoleh dari observasi merupakan data kualitatif dan dikonversi ke dalam bentuk penskoran kuantitatif berdasarkan deskriptor jumlah siswa yang memunculkan tiap indikator. Rumus yang digunakan sebagai berikut.

P= f

x 100% (Anas Sudijono, 2008:40) N

Keterangan:

P : Angka persentase

F : Frekuensi nilai yang memunculkan indikator

N : Jumlah nilai keseluruhan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Deskripsi Kondisi Awal Siswa (Kegiatan Pra Survey)

Berdasarkan hasil diskusi, pernyataan yang disampaikan oleh guru selaku peneliti diketahui bahwa guru merasakan bahwa hasil belajar dan minat siswa Kelas IX E rendah. Pernyataan ini didukung data yang ditunjukkan guru mata pelajaran IPS Kelas IX E selaku peneliti baru mencapai 34,48% (10 siswa) yang tuntas dalam pelajaran IPS sesuai dengan KKM mata pelajaran IPS di SMP Negeri 1 Punung sebesar 75. Guru selaku peneliti padahal sudah menerapkan model pembelajaran yang bervariasi antara lain: ceramah dan diskusi untuk menumbuhkan minat belajar siswa. Minat belajar siswa Kelas IX E dalam proses pembelajaran IPS masih sangat rendah. Siswa cenderung diam dan kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran.

Berdasarkan penjelasan guru selaku peneliti tentang model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) yang akan diterapkan di kelas, guru pengamat memberikan tanggapan positif. Guru selaku peneliti dan kolabolator sepakat untuk mencoba menerapkan metode pembelajaran tersebut di Kelas IX E pada pembelajaran IPS.

(5)

Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa pada siklus I rata-rata persentase indikator minat belajar siswa belum optimal atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus I baru mencapai 62%. Persentase tiap indikator minat belajar siswa pada siklus I, yaitu: perhatian 60%, ingin tahu 60%, keinginan 65% dan rasa senang 60%. Pemaparan tersebut untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

202 Jurnal Humaniora, Vol. 10, No. 03, Juni 2023

Jurnal Humaniora. ISSN: 2356-0614

No Aspek Indikator % Rata-rata

Persentase Indikator

Kriteria Keberhasilan 2 Ingin Tahu Menanyakan materi yang belum

dimengerti 60%

3 Keinginan Menjawab dan merespon petanyaan guru 65%

4 Rasa Senang Mengerjakan tugas dari guru 60%

Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa pada siklus I rata-rata persentase indikator minat belajar siswa belum optimal atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus I baru mencapai 62%. Persentase tiap indikator minat belajar siswa pada siklus I, yaitu: perhatian 60%, ingin tahu 60%, keinginan 65% dan rasa senang 60%. Pemaparan tersebut untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 1: Diagram Persentase Minat Belajar Siswa Siklus I

Ringkasan data pengamatan guru selaku observer terhadap guru IPS selaku peneliti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2:

Hasil Observasi Observer Terhadap Kegiatan Guru IPS Selaku Peneliti Siklus I No Tahapan Jumlah Skor Ideal (%)

1. Pendahuluan

39 64 61%

2. Kegiatan Inti 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus pertama masih tergolong rendah atau dikategorikan cukup. Perolehan skor 39 atau 61%, sedangkan skor idealnya adalah 64. Pemaparan ini terjadi karena banyak berdiri di depan kelas, kurang memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 2: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus I

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 3: Hasil Belajar Individu Siswa Siklus I

Nilai Jumlah Nilai Siswa Jumlah Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤75 18 29 100% 62,06%

≥75 11 29 100% 37,93%

0%

50%

100%

Perhatian Ingin Tahu Keinginan Rasa Senang

60%62%75% 60% 65% 60%

Persentase Rata-rata Persentase Indikator Kriteria Keberhasilan

1000

Jumlah Skor Ideal Persentase (%)

39 64

61%

Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup

Gambar 1: Diagram Persentase Minat Belajar Siswa Siklus I

Ringkasan data pengamatan guru selaku observer terhadap guru IPS selaku peneliti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2:

Hasil Observasi Observer Terhadap Kegiatan Guru IPS Selaku Peneliti Siklus I No Tahapan Jumlah Skor Ideal (%) 1. Pendahuluan

39 64 61%

2. Kegiatan Inti 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus pertama masih tergolong

rendah atau dikategorikan cukup. Perolehan skor 39 atau 61%, sedangkan skor idealnya adalah 64. Pemaparan ini terjadi karena banyak berdiri di depan kelas, kurang memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Jurnal Humaniora. ISSN: 2356-0614

No Aspek Indikator % Rata-rata

Persentase Indikator

Kriteria Keberhasilan 2 Ingin Tahu Menanyakan materi yang belum

dimengerti 60%

3 Keinginan Menjawab dan merespon petanyaan guru 65%

4 Rasa Senang Mengerjakan tugas dari guru 60%

Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa pada siklus I rata-rata persentase indikator minat belajar siswa belum optimal atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus I baru mencapai 62%. Persentase tiap indikator minat belajar siswa pada siklus I, yaitu: perhatian 60%, ingin tahu 60%, keinginan 65% dan rasa senang 60%. Pemaparan tersebut untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 1: Diagram Persentase Minat Belajar Siswa Siklus I

Ringkasan data pengamatan guru selaku observer terhadap guru IPS selaku peneliti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2:

Hasil Observasi Observer Terhadap Kegiatan Guru IPS Selaku Peneliti Siklus I No Tahapan Jumlah Skor Ideal (%)

1. Pendahuluan

39 64 61%

2. Kegiatan Inti 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus pertama masih tergolong rendah atau dikategorikan cukup. Perolehan skor 39 atau 61%, sedangkan skor idealnya adalah 64. Pemaparan ini terjadi karena banyak berdiri di depan kelas, kurang memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 2: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus I

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 3: Hasil Belajar Individu Siswa Siklus I

Nilai Jumlah Nilai Siswa Jumlah Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤75 18 29 100% 62,06%

≥75 11 29 100% 37,93%

0%

50%

100%

Perhatian Ingin Tahu Keinginan Rasa Senang

60% 62%75% 60% 65% 60%

Persentase Rata-rata Persentase Indikator Kriteria Keberhasilan

0 100

Jumlah Skor Ideal Persentase (%)

39 64

61%

Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup

Gambar 2: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus I

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 3:

Hasil Belajar Individu Siswa Siklus I Nilai Jumlah

Nilai Siswa

Jumlah

Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤75 18 29 100% 62,06%

≥75 11 29 100% 37,93%

Berdasarkan tabel 3 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus I sebanyak 11 siswa dari 29 siswa atau baru DESKRIPSI HASIL PENELITIAN

Siklus I Perencanaan

Kegiatan pada tahap ini dilakukan persiapan dan perencanaan penerapan model Numbered Heads Together (NHT).

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilaksana- kan pada tanggal 09 Oktober 2018. Pembelajaran

berlangsung pada jam ke 4-5 selama 2 x 40 menit dengan Standar Kompetensi 4. Memahami Lembaga Keuangan dan Perdagangan dan Kompetensi Dasar 4.1. Mendeskripsikan Uang dan Lembaga Keuangan.

Observasi

Hasil observasi minat belajar siswa disajikan secara rinci sebagai berikut.

Tabel 1:

Hasil Observasi Minat Belajar Siswa Siklus I

No Aspek Indikator % Rata-rata Persentase

Indikator Kriteria Keberhasilan 1 Perhatian Memperhatikan guru saat proses

pembelajaran 60%

62% 75%

2 Ingin Tahu Menanyakan materi yang belum dimengerti 60%

3 Keinginan Menjawab dan merespon petanyaan guru 65%

4 Rasa Senang Mengerjakan tugas dari guru 60%

(6)

196 Jurnal Humaniora, Volume 10, Nomor 03, Juni 2023, Hal. 135-207 mencapai persentase 37,93%. Perolehan persentase

tersebut bahwa belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%. Sedangkan 62,06% siswa yang belum mencapai KKM ada sebanyak 18 siswa. Hasil belajar individu siklus I di atas apabila dibuat diagramnya, maka akan tampak sebagai berikut.

Titik Handayani, Peningkatan Hasil... 203

Jurnal Humaniora. ISSN: 2356-0614 Berdasarkan tabel 3 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus I sebanyak 11 siswa dari 29 siswa atau baru mencapai persentase 37,93%. Perolehan persentase tersebut bahwa belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%. Sedangkan 62,06% siswa yang belum mencapai KKM ada sebanyak 18 siswa. Hasil belajar individu siklus I di atas apabila dibuat diagramnya, maka akan tampak sebagai berikut.

Gambar 3: Diagram Hasil Belajar Individu Siswa Siklus I Refleksi

Beberapa kendala yang ditemukan pada siklus I antara lain: a) Guru IPS selaku peneliti belum optimal dalam menjelaskan dan mengondisikan pembelajaran dengan model Numbered Heads Together (NHT). b) Guru IPS selaku peneliti belum dapat mengontrol kelas dengan baik pada saat penerapan model Numbered Heads Together (NHT). c) Guru IPS selaku peneliti belum dapat memanfaatkan waktu secara optimal dan efektif pada saat pembelajaran di kelas berlangsung. d) Guru IPS selaku peneliti kurang tegas menegur siswa yang membuat keributan di kelas. e) Rata-rata persentase indikator minat belajar belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan karena baru mencapai 62%. f) Rata-rata persentase guru IPS selaku peneliti dalam mengelola pembelajaran menggunakan model Numbered Heads Together baru mencapai 61%.

Siklus II Perencanaan

Hasil refleksi pada siklus I dijadikan dasar pelaksanaan siklus berikutnya, maka hal-hal yang perlu disiapkan dalam pembelajaran siklus II sama seperti siklus I.

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan pembelajaran siklus II dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2018. Pembelajaran berlangsung pada jam ke 3-4 selama 2 x 40 menit dengan Standar Kompetensi 4. Memahami Lembaga Keuangan dan Perdagangan dan Kompetensi Dasar 4.1. Mendeskripsikan Uang dan Lembaga Keuangan.

Observasi

Pengamatan terhadap minat belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran secara umum dapat dikatakan mengalami peningkatan dari siklus I. Peningkatan rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus II tetapi belum mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Pernyataan tersebut dibuktikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4. Hasil Observasi Minat Belajar Siswa Siklus II

No Aspek Indikator % Rata-rata

Persentase Indikator

Kriteria Keberhasilan 1 Perhatian Memperhatikan guru saat proses

pembelajaran 60% 70% 75%

2 Ingin Tahu Menanyakan materi yang belum dimengerti 75%

3 Keinginan Menjawab dan merespons pertanyaan guru 85%

4 Rasa Senang Mengerjakan tugas dari guru 60%

Berdasarkan tabel 4 di atas, dapat diketahui bahwa pada siklus II rata-rata persentase indikator minat belajar siswa belum optimal atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus II baru mencapai 70%. Persentase tiap indikator minat belajar siswa pada siklus I, yaitu: perhatian 60%, ingin tahu 75%, keinginan 85% dan rasa senang 60%. Pemaparan tersebut untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

18 11

29 29

100% 62,06% 100% 37,93%

0 20 40

≤ 75 ≥ 75

Jumlah Nilai Siswa Jumlah Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

Gambar 3: Diagram Hasil Belajar Individu Siswa Siklus I

Refleksi

Beberapa kendala yang ditemukan pada siklus I antara lain: a) Guru IPS selaku peneliti belum optimal dalam menjelaskan dan mengondisikan pembelajaran dengan model Numbered Heads Together (NHT). b) Guru IPS selaku peneliti belum dapat mengontrol kelas dengan baik pada saat penerapan model Numbered Heads Together (NHT). c) Guru IPS selaku peneliti belum dapat memanfaatkan waktu secara optimal dan efektif pada saat pembelajaran di kelas berlangsung. d) Guru IPS selaku peneliti kurang tegas menegur siswa yang membuat keributan di kelas. e) Rata- rata persentase indikator minat belajar belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan karena baru mencapai 62%. f) Rata-rata persentase guru IPS selaku peneliti dalam mengelola pembelajaran

menggunakan model Numbered Heads Together baru mencapai 61%.

Siklus II Perencanaan

Hasil refleksi pada siklus I dijadikan dasar pelaksanaan siklus berikutnya, maka hal-hal yang perlu disiapkan dalam pembelajaran siklus II sama seperti siklus I.

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan pembelajaran siklus II dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2018.

Pembelajaran berlangsung pada jam ke 3-4 selama 2 x 40 menit dengan Standar Kompetensi 4.

Memahami Lembaga Keuangan dan Perdagangan dan Kompetensi Dasar 4.1. Mendeskripsikan Uang dan Lembaga Keuangan.

Observasi

Pengamatan terhadap minat belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran secara umum dapat dikatakan mengalami peningkatan dari siklus I. Peningkatan rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus II tetapi belum mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Pernyataan tersebut dibuktikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.

Hasil Observasi Minat Belajar Siswa Siklus II

No Aspek Indikator % Rata-rata Persentase

Indikator Kriteria Keberhasilan 1 Perhatian Memperhatikan guru saat proses pembelajaran 60% 70% 75%

2 Ingin Tahu Menanyakan materi yang belum dimengerti 75%

3 Keinginan Menjawab dan merespons pertanyaan guru 85%

4 Rasa Senang Mengerjakan tugas dari guru 60%

Berdasarkan tabel 4 di atas, dapat diketahui bahwa pada siklus II rata-rata persentase indikator minat belajar siswa belum optimal atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa

pada siklus II baru mencapai 70%. Persentase tiap indikator minat belajar siswa pada siklus I, yaitu:

perhatian 60%, ingin tahu 75%, keinginan 85% dan rasa senang 60%. Pemaparan tersebut untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

204 Jurnal Humaniora, Vol. 10, No. 03, Juni 2023

Jurnal Humaniora. ISSN: 2356-0614

Gambar 4: Diagram Persentase Minat Belajar Siswa Siklus II

Ringkasan data pengamatan guru selaku observer terhadap guru IPS selaku peneliti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 5:

Hasil Observasi Observer Terhadap Kegiatan Guru IPS Selaku Peneliti Siklus II

No Tahapan Jumlah Skor Ideal %

1. Pendahuluan

52 64 81%

2. Kegiatan Inti 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus kedua masih tergolong sedang atau dikategorikan cukup. Perolehan skor 52 atau 81%, sedangkan skor idealnya adalah 64. Pemaparan ini terjadi karena guru masih sedikit kurang memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 5: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus II

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 6:

Hasil Belajar Individu Siswa Siklus II Nilai Jumlah Nilai

Siswa Jumlah

Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤75 12 29 100% 41,38%

≥75 17 29 100% 58,62%

Berdasarkan tabel 6 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus II sebanyak 17 siswa dari 29 siswa atau baru mencapai persentase 58,62%. Perolehan persentase tersebut bahwa belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%. Sedangkan 41,38% siswa yang belum mencapai KKM ada sebanyak 12 siswa. Hasil belajar individu siklus II di atas apabila dibuat diagramnya, maka akan tampak sebagai berikut.

Gambar 6: Diagram Hasil Belajar Individu Siswa Siklus II Refleksi

Hasil refleksi siklus II ini adalah rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus II masih kurang atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena baru mencapai

0%

100%

Perhatian Ingin Tahu Keinginan Rasa Senang

60%70%75% 75% 85% 60%

Persentase Rata-rata Persentase Indikator Kriteria Keberhasilan

1000

Jumlah Skor Ideal Persentase (%)

52 64

81%

Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup

12 29 17 29

100% 41,38% 100% 58,62%

0 20 40

≤ 75 ≥ 75

Jumlah Nilai Siswa Jumlah Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

Gambar 4: Diagram Persentase Minat Belajar Siswa Siklus II

Ringkasan data pengamatan guru selaku observer terhadap guru IPS selaku peneliti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 5:

Hasil Observasi Observer Terhadap Kegiatan Guru IPS Selaku Peneliti Siklus II No Tahapan Jumlah Skor Ideal %

1. Pendahuluan

52 64 81%

2. Kegiatan Inti 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus kedua masih tergolong

(7)

Titi Handayani, Peningkatan Hasil Belajar dan Minat Siswa 197 sedang atau dikategorikan cukup. Perolehan skor

52 atau 81%, sedangkan skor idealnya adalah 64. Pemaparan ini terjadi karena guru masih sedikit kurang memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Jurnal Humaniora. ISSN: 2356-0614

Gambar 4: Diagram Persentase Minat Belajar Siswa Siklus II

Ringkasan data pengamatan guru selaku observer terhadap guru IPS selaku peneliti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 5:

Hasil Observasi Observer Terhadap Kegiatan Guru IPS Selaku Peneliti Siklus II

No Tahapan Jumlah Skor Ideal %

1. Pendahuluan

52 64 81%

2. Kegiatan Inti 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus kedua masih tergolong sedang atau dikategorikan cukup. Perolehan skor 52 atau 81%, sedangkan skor idealnya adalah 64. Pemaparan ini terjadi karena guru masih sedikit kurang memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 5: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus II

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 6:

Hasil Belajar Individu Siswa Siklus II Nilai Jumlah Nilai

Siswa Jumlah

Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤75 12 29 100% 41,38%

≥75 17 29 100% 58,62%

Berdasarkan tabel 6 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus II sebanyak 17 siswa dari 29 siswa atau baru mencapai persentase 58,62%. Perolehan persentase tersebut bahwa belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%. Sedangkan 41,38% siswa yang belum mencapai KKM ada sebanyak 12 siswa. Hasil belajar individu siklus II di atas apabila dibuat diagramnya, maka akan tampak sebagai berikut.

Gambar 6: Diagram Hasil Belajar Individu Siswa Siklus II Refleksi

Hasil refleksi siklus II ini adalah rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus II masih kurang atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena baru mencapai

0%

100%

Perhatian Ingin Tahu Keinginan Rasa Senang

60%70%75% 75% 85% 60%

Persentase Rata-rata Persentase Indikator Kriteria Keberhasilan

1000

Jumlah Skor Ideal Persentase (%)

52 64

81%

Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup

12 29 17 29

100% 41,38% 100% 58,62%

0 20 40

≤ 75 ≥ 75

Jumlah Nilai Siswa Jumlah Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

Gambar 5: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus II

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 6:

Hasil Belajar Individu Siswa Siklus II Nilai Jumlah

Nilai Siswa Jumlah

Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤75 12 29 100% 41,38%

≥75 17 29 100% 58,62%

Berdasarkan tabel 6 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus II sebanyak 17 siswa dari 29 siswa atau baru mencapai persentase 58,62%. Perolehan persentase tersebut bahwa belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%.

Sedangkan 41,38% siswa yang belum mencapai KKM ada sebanyak 12 siswa. Hasil belajar individu siklus II di atas apabila dibuat diagramnya, maka akan tampak sebagai berikut.

204 Jurnal Humaniora, Vol. 10, No. 03, Juni 2023

Jurnal Humaniora. ISSN: 2356-0614

Gambar 4: Diagram Persentase Minat Belajar Siswa Siklus II

Ringkasan data pengamatan guru selaku observer terhadap guru IPS selaku peneliti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 5:

Hasil Observasi Observer Terhadap Kegiatan Guru IPS Selaku Peneliti Siklus II No Tahapan Jumlah Skor Ideal %

1. Pendahuluan

52 64 81%

2. Kegiatan Inti 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus kedua masih tergolong sedang atau dikategorikan cukup. Perolehan skor 52 atau 81%, sedangkan skor idealnya adalah 64. Pemaparan ini terjadi karena guru masih sedikit kurang memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 5: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus II

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 6:

Hasil Belajar Individu Siswa Siklus II Nilai Jumlah Nilai

Siswa Jumlah

Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤75 12 29 100% 41,38%

≥75 17 29 100% 58,62%

Berdasarkan tabel 6 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus II sebanyak 17 siswa dari 29 siswa atau baru mencapai persentase 58,62%. Perolehan persentase tersebut bahwa belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%. Sedangkan 41,38% siswa yang belum mencapai KKM ada sebanyak 12 siswa. Hasil belajar individu siklus II di atas apabila dibuat diagramnya, maka akan tampak sebagai berikut.

Gambar 6: Diagram Hasil Belajar Individu Siswa Siklus II Refleksi

Hasil refleksi siklus II ini adalah rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus II masih kurang atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena baru mencapai

0%

100%

Perhatian Ingin Tahu Keinginan Rasa Senang

60%70%75% 75% 85% 60%

Persentase Rata-rata Persentase Indikator Kriteria Keberhasilan

1000

Jumlah Skor Ideal Persentase (%)

52 64 81%

Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup

12 29 17 29

100% 41,38% 100% 58,62%

0 20 40

≤ 75 ≥ 75

Jumlah Nilai Siswa Jumlah Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

Gambar 6: Diagram Hasil Belajar Individu Siswa Siklus II

Refleksi

Hasil refleksi siklus II ini adalah rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus II masih kurang atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75%

karena baru mencapai 70%, sedangkan kemampuan guru dalam mengelola model NHT pada siklus II mencapai 81%. Persentase siswa yang mencapai nilai KKM belum mencapai 75% sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Persentase siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus II adalah sebesar 58,62%. Beberapa tindakan yang mengakibatkan kegagalan pada siklus II ini adalah:

a) Pengelolaan kelas belum sepenuhnya berhasil, b) Beberapa siswa masih ramai pada saat pembelajaran di kelas, terutama siswa laki-laki, c) Peningkatan minat belajar siswa melalui penggunaan LKS belum optimal, d) Hanya sedikit siswa yang berani bertanya dan menanggapi pertanyaan dari guru.

Siklus III Perencanaan

Hasil refleksi siklus II dijadikan dasar dalam melaksanakan perbaikan siklus III. Kegiatan yang dilaksanakan dalam perencanaan masih sama dengan siklus sebelumnya.

Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran siklus III dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2018.

Pembelajaran berlangsung pada jam ke 3-4 selama 2 x 40 menit dengan Standar Kompetensi 4.

Memahami Lembaga Keuangan dan Perdagangan dan Kompetensi Dasar 4.1. Mendeskripsikan Uang dan Lembaga Keuangan.

Observasi

Pengamatan terhadap minat belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran pada siklus III secara umum terlihat mengalami peningkatan dari siklus II. Pemaparan tersebut terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 7:

Hasil Observasi Minat Belajar Siswa Siklus III

No Aspek Indikator % Rata-rata Persentase

Indikator Kriteria Keberhasilan 1 Perhatian Memperhatikan guru saat proses pembelajaran 85% 89% 75%

2 Ingin Tahu Menanyakan materi yang belum dimengerti 85%

3 Keinginan Menjawab dan merespon petanyaan guru 90%

4 Rasa Senang Mengerjakan tugas dari guru 95%

(8)

198 Jurnal Humaniora, Volume 10, Nomor 03, Juni 2023, Hal. 135-207 Berdasarkan tabel 7 di atas, dapat diketahui

bahwa pada siklus III rata-rata persentase indikator minat belajar siswa sudah optimal atau sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus III mencapai 89%.

Persentase tiap indikator minat belajar siswa pada siklus III, yaitu: perhatian 85%, ingin tahu 85%, keinginan 90% dan rasa senang 95%. Pemaparan tersebut untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Titik Handayani, Peningkatan Hasil... 205

Jurnal Humaniora. ISSN: 2356-0614 70%, sedangkan kemampuan guru dalam mengelola model NHT pada siklus II mencapai 81%. Persentase siswa yang mencapai nilai KKM belum mencapai 75% sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Persentase siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus II adalah sebesar 58,62%. Beberapa tindakan yang mengakibatkan kegagalan pada siklus II ini adalah: a) Pengelolaan kelas belum sepenuhnya berhasil, b) Beberapa siswa masih ramai pada saat pembelajaran di kelas, terutama siswa laki-laki, c) Peningkatan minat belajar siswa melalui penggunaan LKS belum optimal, d) Hanya sedikit siswa yang berani bertanya dan menanggapi pertanyaan dari guru.

Siklus III Perencanaan

Hasil refleksi siklus II dijadikan dasar dalam melaksanakan perbaikan siklus III. Kegiatan yang dilaksanakan dalam perencanaan masih sama dengan siklus sebelumnya.

Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran siklus III dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2018. Pembelajaran berlangsung pada jam ke 3-4 selama 2 x 40 menit dengan Standar Kompetensi 4. Memahami Lembaga Keuangan dan Perdagangan dan Kompetensi Dasar 4.1. Mendeskripsikan Uang dan Lembaga Keuangan.

Observasi

Pengamatan terhadap minat belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran pada siklus III secara umum terlihat mengalami peningkatan dari siklus II. Pemaparan tersebut terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 7:

Hasil Observasi Minat Belajar Siswa Siklus III

No Aspek Indikator % Rata-rata

Persentase Indikator

Kriteria Keberhasilan 1 Perhatian Memperhatikan guru saat

proses pembelajaran 85%

89% 75%

2 Ingin Tahu Menanyakan materi yang belum dimengerti 85%

3 Keinginan Menjawab dan merespon

petanyaan guru 90%

4 Rasa Senang Mengerjakan tugas dari guru 95%

Berdasarkan tabel 7 di atas, dapat diketahui bahwa pada siklus III rata-rata persentase indikator minat belajar siswa sudah optimal atau sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu: 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus III mencapai 89%. Persentase tiap indikator minat belajar siswa pada siklus III, yaitu: perhatian 85%, ingin tahu 85%, keinginan 90% dan rasa senang 95%. Pemaparan tersebut untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 7: Diagram Persentase Minat Belajar Siswa Siklus III

Ringkasan data pengamatan guru selaku observer terhadap guru IPS selaku peneliti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 8:

Hasil Observasi Observer Terhadap Kegiatan Guru IPS Selaku Peneliti Siklus III No Tahapan Jumlah Skor Ideal %

1. Pendahuluan

62 64 97%

2. Kegiatan Inti

0%

100%

Perhatian Ingin Tahu Keinginan Rasa Senang

85%89% 75% 85% 90% 95%

Persentase Rata-rata Persentase Indikator Kriteria Keberhasilan

Gambar 7: Diagram Persentase Minat Belajar Siswa Siklus III

Ringkasan data pengamatan guru selaku observer terhadap guru IPS selaku peneliti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 8:

Hasil Observasi Observer Terhadap Kegiatan Guru IPS Selaku Peneliti Siklus III No Tahapan Jumlah Skor Ideal %

1. Pendahuluan

62 64 97%

2. Kegiatan Inti 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus ketiga tergolong sangat baik atau dikategorikan sangat tinggi. Perolehan skor 62 atau 97%, sedangkan skor idealnya adalah 64.

Pemaparan ini terjadi guru sangat efektif dan efisien memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

206 Jurnal Humaniora, Vol. 10, No. 03, Juni 2023

Jurnal Humaniora. ISSN: 2356-0614

No Tahapan Jumlah Skor Ideal % 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus ketiga tergolong sangat baik atau dikategorikan sangat tinggi. Perolehan skor 62 atau 97%, sedangkan skor idealnya adalah 64. Pemaparan ini terjadi guru sangat efektif dan efisien memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 8: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus III

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 9:

Hasil Belajar Individu Siswa Siklus III Nilai Jumlah Nilai

Siswa Jumlah

Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤ 75 1 29 100% 3,45%

≥ 75 28 29 100% 96,55%

Berdasarkan tabel 9 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus III sebanyak 28 siswa dari 29 siswa atau mencapai persentase 96,55%. Perolehan persentase tersebut dinyatakan berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%. Sedangkan 3,45% siswa yang belum mencapai KKM ada sebanyak 1 siswa. Hasil belajar individu siklus II di atas apabila dibuat diagramnya, maka akan tampak sebagai berikut.

Gambar 9: Diagram Hasil Belajar Individu Siswa Siklus III Refleksi

Pencapaian rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus III sudah optimal atau sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus III mencapai 89%. Persentase siswa yang mencapai nilai 75 pada siklus ini sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 75% bahkan melebihi. Persentase siswa Kelas IX E yang berhasil mencapai nilai 75 adalah 96,55%. Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan antara guru IPS selaku peneliti dengan guru IPS lintas kelas sebagai pengamat pada siklus III, maka secara umum upaya perbaikan yang dilakukan dapat dikatakan berhasil atau dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan terbukti atau diterima secara signifikan.

Pembahasan

Peningkatan minat belajar siswa dalam mata pelajaran IPS untuk memperjelasnya, dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 10. Peningkatan Minat Belajar Siswa

No Aspek Indikator Siklus Kriteria

Keberhasilan

I II III

1 Perhatian Memperhatikan guru saat proses pembelajaran 60% 60% 85% 75%

1000

Jumlah Skor Ideal Persentase (%)

62 64

97%

Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup

1

29 28 29

100% 3,45% 100% 96,55%

0 20 40

≤ 75 ≥ 75

Jumlah Nilai Siswa Jumlah Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

Gambar 8: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus III

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 9:

Hasil Belajar Individu Siswa Siklus III Nilai Jumlah

Nilai Siswa Jumlah

Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤ 75 1 29 100% 3,45%

≥ 75 28 29 100% 96,55%

Berdasarkan tabel 9 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus III sebanyak 28 siswa dari 29 siswa atau mencapai persentase 96,55%. Perolehan persentase tersebut dinyatakan berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%.

Sedangkan 3,45% siswa yang belum mencapai KKM ada sebanyak 1 siswa. Hasil belajar individu siklus II di atas apabila dibuat diagramnya, maka akan tampak sebagai berikut.

206 Jurnal Humaniora, Vol. 10, No. 03, Juni 2023

Jurnal Humaniora. ISSN: 2356-0614

No Tahapan Jumlah Skor Ideal % 3. Penutup

Hasil observasi aktivitas guru dalam belajar mengajar pada siklus ketiga tergolong sangat baik atau dikategorikan sangat tinggi. Perolehan skor 62 atau 97%, sedangkan skor idealnya adalah 64. Pemaparan ini terjadi guru sangat efektif dan efisien memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara kooperatif dengan model NHT. Pemaparan tersebut untuk memperjelasnya, dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Gambar 8: Diagram Persentase Aktivitas Guru Peneliti Siklus III

Hasil individu ini digunakan sebagai kontrol apakah peningkatan minat belajar siswa juga akan diikuti oleh peningkatan hasil belajar siswa. Hasil individu dalam mengerjakan soal pilihan ganda dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 9:

Hasil Belajar Individu Siswa Siklus III Nilai Jumlah Nilai

Siswa Jumlah

Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

≤ 75 1 29 100% 3,45%

≥ 75 28 29 100% 96,55%

Berdasarkan tabel 9 di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus III sebanyak 28 siswa dari 29 siswa atau mencapai persentase 96,55%. Perolehan persentase tersebut dinyatakan berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%. Sedangkan 3,45% siswa yang belum mencapai KKM ada sebanyak 1 siswa. Hasil belajar individu siklus II di atas apabila dibuat diagramnya, maka akan tampak sebagai berikut.

Gambar 9: Diagram Hasil Belajar Individu Siswa Siklus III Refleksi

Pencapaian rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus III sudah optimal atau sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus III mencapai 89%. Persentase siswa yang mencapai nilai 75 pada siklus ini sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 75% bahkan melebihi. Persentase siswa Kelas IX E yang berhasil mencapai nilai 75 adalah 96,55%. Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan antara guru IPS selaku peneliti dengan guru IPS lintas kelas sebagai pengamat pada siklus III, maka secara umum upaya perbaikan yang dilakukan dapat dikatakan berhasil atau dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan terbukti atau diterima secara signifikan.

Pembahasan

Peningkatan minat belajar siswa dalam mata pelajaran IPS untuk memperjelasnya, dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 10. Peningkatan Minat Belajar Siswa

No Aspek Indikator Siklus Kriteria

Keberhasilan

I II III

1 Perhatian Memperhatikan guru saat proses pembelajaran 60% 60% 85% 75%

0 100

Jumlah Skor Ideal Persentase (%)

62 64

97%

Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup

1

29 28 29

100% 3,45% 100% 96,55%

0 20 40

≤ 75 ≥ 75

Jumlah Nilai Siswa Jumlah Siswa Persentase Kriteria Keberhasilan

Gambar 9: Diagram Hasil Belajar Individu Siswa Siklus III

Refleksi

Pencapaian rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus III sudah optimal atau sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus III mencapai 89%. Persentase siswa yang mencapai nilai 75 pada siklus ini sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 75%

bahkan melebihi. Persentase siswa Kelas IX E yang berhasil mencapai nilai 75 adalah 96,55%.

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan antara guru IPS selaku peneliti dengan guru IPS lintas kelas sebagai pengamat pada siklus III, maka secara umum upaya perbaikan yang dilakukan dapat dikatakan berhasil atau dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan terbukti atau diterima secara signifikan.

PEMBAHASAN

Peningkatan minat belajar siswa dalam mata pelajaran IPS untuk memperjelasnya, dapat dilihat dalam tabel berikut:

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan persentase rata-rata hasil observasi minat belajar siswa 51,47% pada pra siklus menjadi 65,94% pada siklus I dan 73,75% pada siklus

Pertemuan pertama siklus II diperoleh skor 19 dengan persentase 79,2% kategori baik, pertemuan pertama siklus II sudah ada peningkatan dibandingkan pertemuan pada siklus I karena

Hasil penelitian menunjukan bawa persentase keaktifan tersebut meningkat pada nilai hasil belajar siswa rata-rata dari tes awal (pre test) yaitu 15,62% menjadi 53,12% pada siklus I

Untuk ketuntasan belajar secara klasikal dari siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan sebesar 34.3% dari 65,22% atau 15 siswa yang tuntas belajar menjadi

Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila skor rata-rata hasil belajar atau ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan, ditambah dengan respons siswa

siswa dan sudah mencapai titik jenuh. Selisih rata-rata dari siklus I ke siklus III sebesar 10. Berdasarkan dari hasil dan pembahasan penelitian yang dilakukan, maka

Ringkasan Hasil Penelitian tentang Hasil Belajar IPA Siswa pada Siklus I dan Siklus II Tahapan Rata-Rata Hasil Belajar Persentase Hasil Belajar Kategori Siklus I 72,74 72,74 %

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri atas nilai siswa kelompok eksperimen siswa kelas IV SD Negeri 01 Nglayang dengan jumlah siswa 22