• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyebab dan Faktor Slow Learner

N/A
N/A
SITI AMANATUL M

Academic year: 2025

Membagikan "Penyebab dan Faktor Slow Learner"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Faktor dan Penyebab Slow Learner

Terdapat banyak pendapat mengenai penyebab dari seorang anak menjadi slow learner, keadaan demikian itu biasanya terjadi semasa anak masih dalam kandungan ibunya atau pada waktu dilahirkan. Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap kemampuan akademik seseorang. Dua faktor penyebab anak slow learner menurut Mardianti (dalam Minsih, 2020) yaitu, sebagai berikut:

1. Faktor Internal

Faktor internal dikenal dengan faktor genetik atau hereditas adalah faktor yang berasal dari diri anak sendiri. Kelainan pada anak slow learner menggambarkan bahwa adanya suatu kelainan atau perbedaan pusat susunan syaraf dibandingkan dengan anak normal lainnya. Keadaan tersebut biasanya terjadi kelainan saat di dalam kandungan rahim ibu atau saat melahirkan.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal berasal dari luar anak dan berkaitan erat dengan lingkungan di mana anak tumbuh. Faktor eksternal atau faktor lingkungan dapat berupa kesehatan, iklim, nutrisi, kualitas stimulasi, emosional keluarga, serta interaksi yang diterima dari perilaku yang dilakukan.

Seorang anak juga tidak dapat belajar dengan lancar apabila anak tidak memiliki motivasi untuk melaksanakannya. Motivasi baik berasal dari dalam diri anak itu sendiri maupun dari luar diri anak sangat berpengaruh dalam pencapaian prestasi belajar. Apabila seorang anak mempunyai motivasi rendah untuk belajar maka akan menghasilkan prestasi belajar yang kurang maksimal.

Kesulitan belajar juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, faktor tersebut terdiri dari keluarga dan sekolah. Keluarga sangat berperan penting dalam pencapaian prestasi belajar karena sebagian besar waktu anak berada di rumah. Selain itu hambatan belajar tidak hanya dari keluaga, sekolah juga berperan dalam membantu keberhasilan anak untuk mencapai prestasi yang baik. Hal ini yang menghambat belajar siswa (St & Astutik, dalam Nurfadillah, 2020).

Saat proses belajar, apabila anak dalam proses belajar tidak memiliki minat terhadap bahan yang dipelajarinya maka akan timbul suatu kebosanan, dan apabila anak tidak berbakat

(2)

pada bahan yang dipelajari, maka proses belajar akan lamban karena anak tersebut akan kurang semangat terhadap apa yang dipelajari (Fatra et al., dalam Nurfadillah, 2020). Menurut Aini (dalam Nurfadillah, 2020) mengemukakan beberapa penyebab slow learner meliputi kelainan pranatal pada waktu anak lahir (pranatal), neonatal, dan setelah kelahiran atau postnatal.

Beberapa aspek medis ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Prenatal

Anak diketahui memiliki kelainan karena faktor keturunan. Proses terjadinya berkaitan dengan tahapan periode kehamilan kandungan seperti tahap embrio, kemudian berkembang menjadi janin muda yang kemudian lahir secara premature menjadikan seorang anak itu tumbuh menjadi anak yang lambat belajar. Secara fisik, anak semacam ini memiliki ciri organ yang lambat berkembang dan tentunya belum siap berfungsi maksimal.

2. Neonatal

Kelambatan belajar anak dapat berkaitan dengan aspek neonatal dimana suatu kelainan menyertai bayi yang dilahirkan oleh sang ibu. Kelainan anak saat terlahir ini bisa karena belum waktunya atau dalam dunia medis disebut prematurity atau prematur. Teknisnya, kelahiran semacam ini dilakukan menggunakan alat tertentu, bisa juga karena posisi bayi yang tidak seperti kelahiran normal, bisa pula karena aspek kesehatan bayi.

3. Postnatal

Kelainan ini terjadi pasca seorang bayi dilahirkan. Bisa juga sedang dalam masa perkembangan karena sebab infeksi. bahan kimia, dan luka. Pada tahap ini lingkungan dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anak lambat belajar. Berdasarkan di atas, dapat dipahami bahwa slow learner yang dialami seorang anak juga berkaitan dengan aspek pertumbuhan fisik yang sejak dalam kandungan mengalami masalah kesehatan. Dengan demikian, sangat penting bagi guru memahami ciri anak semacam ini sehingga berkomunikasi dan memberikan bimbingan berdasarkan pertubuhan fisik dan mental peserta didiknya.

Nani Triani & Amir (dalam Minsih, 2020) mengutarakan beberapa pendapat mengenai faktor atau penyebab anak menjadi slow learner yaitu, sebagai berikut:

1. Faktor prenatal (sebelum lahir) dan genetik

(3)

Kelambanan belajar terjadi akibat faktor prenatal dan genetik yaitu karena kelainan pada kromosom yang menyebabkan suatu kelainan fisik serta memengaruhi kecerdasan otak, adanya gangguan biokimia di dalam tubuh ibu, serta kelahiran prematur yang mengakibatkan organ tubuh bayi belum siap untuk berfungsi. Hal-hal tersebut merupakan penyebab dari anak slow learner yang terjadi saat sebelum lahir.

2. Faktor biologis non-keturunan

Pada faktor ini, hal yang menyebabkan anak slow learner yaitu ibu yang mengandung mengonsumsi obat-obatan yang tidak aman untuk janin atau mengonsumsi minuman keras dan obat terlarang ataupun zat adiktif lainnya, ibu mengalami gizi buruk, ibu terkena radiasi sinar X, faktor rhesus.

3. Faktor saat proses kelahiran (natal)

Penyebab anak lamban belajar pada faktor natal yaitu terjadinya kekurangan oksigen saat melahirkan karena adanya masalah saat proses bersalin. Hal tersebut mengakibatkan transfer oksigen ke otak bayi menjadi terhambat.

Faktor natal dapat menyebabkan anak lamban belajar. Adapun penyebabnya adalah suatu kondisi di mana anak kekurangan oksigen saat proses kelahiran karena proses persalinan yang lama atau terjaid masalah, sehingga menyebabkan transfer oksigen ke otak bayi terhambat

4. Faktor setelah lahir (postnatal) dan lingkungan

Penyebab dari anak memiliki kondisi lamban belajar pada fase setelah bayi lahir yaitu meliputi: 1) malnutrisi; 2) trauma fisik akibat jatuh atau kecelakaan; dan 3) beberapa penyakit seperti meningitis serta enchepalis. Selain penyebab pada fase postnatal, ada juga dari faktor lingkungan yang dapat menyebabkan anak lamban belajar. Faktor lingkungan yang menyebabkan anak lamban belajar adalah stimulasi yang salah, sehingga anak tersebut tidak dapat berkembang secara optimal.

Selain itu, beberapa ahli lain juga mengemukakan bahwa terdapat faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan anak menjadi slow learner. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai faktor- faktor tersebut (Ni'matuzahroh et al., 2021):

1) Kemiskinan

(4)

Kemiskinan menciptakan kondisi dan kerentanan yang dapat menyebabkan anak lamban belajar. Misalnya, kemiskinan dapat mengganggu kesehatan dan mengurangi kemampuan belajar anak.

2) Faktor Kecerdasan Orang Tua dan Jumlah Anggota Keluarga

Kecerdasan orang tua dan jumlah anggota keluarga orang tua yang tidak berkesempatan mendapatkan pendidikan yang layak dan jumlah anggota keluarga yang besar dapat menyebabkan anak lamban belajar karena orang tua cenderung kurang memperhatikan perkembangan intelektual anak, tidak memiliki waktu belajar bersama anak, dan memiliki keterbatasan dalam memberikan fashitas belajar anak, sehingga kesempatan anak untuk meningkatkan kecepatan belajarnya hampir tidak ada.

3) Faktor Emosi

Anak lamban belajar mengalami masalah emosi berat dan berkepanjangan yang menghambat proses pembelajaran. Masalah emosi ini menyebabkan anak lamban belajar memiliki prestasi belajar rendah, hubungan interpersonal yang buruk, dan konsep diri yang rendah.

4) Faktor Pribadi

Faktor-faktor pribadi yang dapat menyebabkan anak lamban belajar meliputi: 1) kelainan fisik, 2) kondisi tubuh yang terserang penyakit; 3) mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, dan berbicara; 4) ketidakhadiran di sekolah; dan 5) kurang percaya diri.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa, slow learner atau anak yang lambat belajar disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan genetik atau gangguan pada sistem saraf yang dapat terjadi sejak dalam kandungan, saat lahir, atau setelahnya. Kelahiran prematur, kekurangan oksigen saat persalinan, serta infeksi atau cedera otak dapat memengaruhi perkembangan kognitif anak.

Sementara itu, faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga, kondisi sosial ekonomi, metode pembelajaran di sekolah, serta faktor psikologis dan emosional. Kurangnya stimulasi, pola asuh yang kurang mendukung, serta stres dan rendahnya rasa percaya diri juga dapat memperlambat proses belajar anak. Memahami penyebab slow learner sangat penting agar anak mendapatkan bimbingan dan metode belajar yang sesuai untuk mengoptimalkan perkembangan akademiknya.

(5)

Nurfadillah, S. (2023). Pendidikan Inklusi: Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah Dasar. CV Jejak (Jejak Publisher).

Minsih. (2020). Pendidikan Inklusif Sekolah Dasar: Merangkul Perbedaan dalam Kebersamaan. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Ni'matuzahroh, Soen, Woei, M., & Yuliani, S. R. (2021). Psikologi Dan Intervensi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar faktor pendapatan keluarga, tingkat pendidikan ibu, jumlah anggota keluarga, jumlah beras raskin yang diterima, dan

Beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya prostitusi pada anak adalah faktor keluarga, ekonomi, pendidikan, lingkungan, mental dan kejiwaan, serta perdagangan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor jenis kelamin, status gizi anak, status ekonomi keluarga, pendidikan orang tua, serta stimulasi orang

Individu yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak memiliki faktor herediter.. Individu

Bebera aspek faktor keluarga yang mempengaruhi minat belajar adalah (1) cara orang tua mendidik, (2) relasi antar anggota keluarga, (3) suansa rumah, (4) keadaan ekonomi keluarga,

Individu yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak memiliki faktor herediter.. Individu

Keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan menjadikan orang tua tidak mampu untuk membiayai pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi; (2) faktor lingkungan

Variabel jarak sekolah dengan tempat tinggal, jenis pekerjaan orang tua, jumlah tanggungan keluarga, latar belakang pendidikan orang tua, tingkat pendapatan orang tua