• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYEBAB NAIKNYA TEMPERATUR MINYAK LUMAS PADA MESIN INDUK DI KAPAL KM. CHUO NO. 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENYEBAB NAIKNYA TEMPERATUR MINYAK LUMAS PADA MESIN INDUK DI KAPAL KM. CHUO NO. 1 "

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENYEBAB NAIKNYA TEMPERATUR MINYAK LUMAS PADA MESIN INDUK DI KAPAL KM. CHUO NO. 1

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III dan Diklat Pelaut III (DP-III) Pembentukan

JOKO HADI SUSILO N.I.T 05.17.014.1.54

AHLI TEKNIKATINGKAT III

PROGRAM DIPLOMA III PELAYARAN POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA

TAHUN 2021

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur senantiasa saya panjatkan kepada Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa pengayom segenap alam yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga dalam penulisan karya ilmiah terapan ini saya tidak

mengalami kendala yang berarti hingga terselesaikan-nya karya ilmiah terapan ini yang saya beri judul PENYEBAB NAIKNYA TEMPERATUR MINYAK LUMAS PADA MASIN INDUK DI KAPAL KM. CHUO NO. 1.Pada kesempatan ini, dalam penulisan karya ilmiah ini saya mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, oleh karenanya dari hati yang terdalam saya juga ingin mengungkapkan rasa terima kasih saya kepada kedua orangtua saya yang selalu memberikan dukungan kepada saya baik itu berupa dukungan moral maupun dukungan materil.

Pada kesempatan ini disampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan, antara lain kepada:

1. Capt. DIAN WAHDIANA, M.M. selaku Direktur Politeknik Pelayaran Surabaya.

2. MONIKA RETNO GUNARTI, M.Pd.,M.Mar.E. selaku Kepala Jurusan Teknika Politeknik Pelayaran Surabaya.

3. Dosen Pembimbing I / II penulisan Karya Ilmiah Terapan.

4. Seluruh Dosen Politeknik Pelayaran Surabaya yang telah membantu dalam penulisan Karya Ilmiah Terapan.

5. Seluruh Dosen penguji Karya Ilmiah Terapan yang telah memberikan bekal ilmu dan pengetahuan dalam kegiatan belajar mengajar.

6. Seluruh pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan sehingga Karya Ilmiah Terapan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

7. Dan kedua orang tua yang telah mendukung penelitian ini.

(3)

iii

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan karya ilmiah terapan ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan karya ilmiah terapan ini.

Penulis juga berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi perwira kapal pada khususnya. Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan yang terdapat dalam penyusunankarya ilmiah terapan.

Surabaya, ... 2021

Joko Hadi Susilo NIT: 05.17.014.1.54

(4)

iv

PERNYATAN KEASLIAN

Yang bertandatangan di bawah ini :

Nama : Joko Hadi Susilo

Nomor Induk Taruna : 05.17.014.1.54

Program Diklat : Ahli Teknika Tingkat III Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul:

PENYEBAB NAIKNYA TEMPERATUR MINYAK LUMAS PADA MESIN INDUK DI KAPAL KM.CHUO NO. 1

Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali tema dan yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri. Jika pernyataan di atas terbukti tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang diterapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.

SURABAYA, ...2021

Joko Hadi Susilo NIT: 05.17.014.1.54

(5)

v

PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN

Judul : PENYEBAB NAIKNYA TEMPERATUR MINYAK LUMAS DI KAPAL KM. CHUO NO. 1

Nama Taruna : Joko Hadi Susilo

NIT : 05.17.014.1.54

Program Diklat : Ahli Teknika Tingkat III

Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diseminarkan.

SURABAYA,...

Menyetujui:

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Solehuddin S.Si.T. MM Penata Tk. 1 (III/d) NIP.19731127 200812 1 002

Dr. Trisnowati Rahayu, M.AP.

Pembina Tk. I (IV/b) NIP. 19660216 199303 2 001

Mengetahui:

Ketua Jurusan Teknika

Monika Retno Gunarti, M.Pd.,M.Mar.E.

Penata Tk 1 (III/d) NIP. 19760528 200912 2 002

(6)

vi

PENGESAHAN KARYA ILMIAH TERAPAN

PENYEBAB NAIKNYA TEMPERATUR MINYAK LUMAS PADA MESIN INDUK DI KAPAL KM. CHUO NO. 1

Disusun dan Diajukan Oleh:

JOKO HADI SUSILO NIT. 05.17.014.154/T Ahli Teknika Tingkat III

Telah dipertahankan di depan Panitia Ujian Karya Ilmiah Terapan Pada Tanggal ...

Menyetujui:

Penguji I Penguji II Penguji III

Solehuddin S.Si.T . MM Penata Tk. 1 (III/d) NIP.19731127 200812 1 002

H. Saiful Irfan, M.Pd.,M.Mar.E.

Penata (III/c)

NIP. 19760905 201012 1 001

Dr. Trisnowati Rahayu, M.Ap Pembina TK. I(IV/b) NIP. 19660216 199303 2 001

Mengetahui:

Ketua Jurusan Teknik

Monika Retno Gunarti, M.Pd.,M.Mar.E.

Penata Tk 1 (III/d) NIP. 19760528 200912 2 002

(7)

vii ABSTRAK

JOKO HADI SUSILO. Penyebab Naiknya Temperatur Minyak Lumas Pada Mesin Induk di Kapal KM. Chuo No. 1. Dibimbing oleh Solehuddin, S.Si.T. MM dan Dr. Trisnowati Rahayu.M.AP.

Minyak pelumas merupakan zat cair yang digunakan sebagai pelumas dalam suatu mesin untuk mengurangi keausan akibat gesekan, dan sebagai pendingin serta peredam suara. Sifat-sifat minyak pelumas dapat dilihat dari tingkat viscositas, residu karbon, titik nyala, air endapan, keasaman, emulsi, oksidasi, abu, belerang, warna minyak pelumas, dan gravitasi. Sifat-sifat minyak pelumas tersebut harus memenuhi standar yang ada agar tidak memengaruhi kinerja dari pelumasan pada mesin induk.Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi seperti tekanan pompa air laut rendah, kurangnya tekanan pada pompa air laut dikarenakan kurangnya perawatan pada electromotor pompa air laut dan kurang perawatan pada pipa – pipa air laut sehingga tekanan yang dihasilkan kurang. Akan tetapi hal tersebut harusnya dapat dikurangi dengan dilakukannya perawatan secara rutin serta pengecekan terus-menerus terhadap elctromotor pompa air laut dan instalasi pipa air laut.

Metode yang dilakuakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Laporan penilitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk member gambaran penyajian laporan, data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan,foto,dokumen pribadi, catatan atau memo dan dokumen resmi lainnya.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pentingnya pelaksanaan perawatan berkala pada LO cooler dan pompa air laut agar pendinginan pada minyak lumas dapat berjalan secara maksimal.

Kata kunci : Temperatur, LO cooler, pompa air laut, perawatan.

(8)

viii ABSTRACT

JOKO HADI SUSILO. The Cause of Increasing Temperature of Lubricated Oil on Main Engine on KM. Chuo No. 1. Supervised by Solehuddin, S.Si.T. MM and Dr. Trisnowati Rahayu.M.AP.

Lubricating oil is a liquid that is used as a lubricant in a machine to reduce wear due to friction, and as a coolant and silencer. The properties of lubricating oil can be seen from the level of viscosity, carbon residue, flash point, sedimentation water, acidity, emulsion, oxidation, ash, sulfur, lubricating oil color, and gravity. The properties of these lubricating oils must meet the existing standards so as not to affect the performance of the lubrication of the main engine.

There are several factors that cause this to happen such as low sea water pump pressure, lack of pressure on sea water pumps due to lack of maintenance on the seawater pump electromotor and less maintenance of sea water pipes resulting in less pressure. However, this should be reduced by carrying out routine maintenance and constant checking of the sea water pump electromotor and sea water pipe installation.

The method used in this research uses descriptive qualitative research methods. The research report will contain excerpts of data to provide an overview of the report presentation, the data comes from interview manuscripts, field notes, photos, personal documents, notes or memos and other official documents.

The results of this study indicate that it is important to carry out periodic maintenance on the LO cooler and sea water pump so that the cooling of the lubricating oil can run optimally.

Key words: temperature, LO cooler, sea water pump, maintena

(9)

ix DAFTAR ISI

PENYEBAB NAIKNYA TEMPERATUR MINYAK LUMAS PADA MESIN

INDUK DI KAPAL KM. CHUO NO. 1 ... i

KATA PENGANTAR ... ii

PERNYATAN KEASLIAN ...iv

PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN ... v

PENGESAHAN KARYA ILMIAH TERAPAN ...vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Batasan Masalah ... 3

D. Tujuan Penelitian ... 3

E. Manfaat Penelitian ... 3

1. Manfaat teoritis ... 3

2. Manfaat praktis ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 5

A. Review Penelitian Sebelumnya ... 5

Tabel 2.1 Penelitian sebelumnya ... 5

B. Landasan Teori ... 6

1. Pengertian ... 6

2. Kerangka Penelitian ... 21

BAB III METODE PENELITIAN ... 22

A. Jenis Penelitian ... 22

B. Lokasi Penelitian ... 23

C. Jenis dan Sumber Data ... 23

1. Data Primer ... 23

2. Data Sekunder ... 24

(10)

x

D. Pemilihan Informan ... 24

E. Teknik Analisis Data ... 25

1. Data collecting ... 25

2. Data Reduction ... 26

3. Data Display ... 27

4. Conclusion and Verification ... 27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..Error! Bookmark not defined. A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...Error! Bookmark not defined. B. Hasil Penelitian ...Error! Bookmark not defined. 1. Penyajian Data ...Error! Bookmark not defined. 2. Analisis Data ...Error! Bookmark not defined. C. Pembahasan ...Error! Bookmark not defined. BAB V PENUTUP ...Error! Bookmark not defined. A. Kesimpulan ...Error! Bookmark not defined. B. Saran ...Error! Bookmark not defined. DAFTAR PUSTAKA ... 28

MV. SALINDO PERDANA 1 ... 28

(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

2.1Low Speed Diesel Engine………. 7

2.2Pompa Air Laut ... 9

2.3Lubricating Oil Cooler ... 10

2.4 Sistem Minyak Pelumas ...16

2.5 Kerangka penelitian………21

4.1 Sistem Pelumasan ...30

4.2 Pohon Masalah ...35

4.3 Solution Problem ...36

4.5 Overhaul Electromotor Pompa Air Laut ...39

(12)

xii

DAFTAR TABEL

2.1 Review Penelitian Sebelumnya ... 5 2.2 Teknik Analisis Data ... 25 4.1 Hasil Wawancara ………...30

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelumas adalah zat kimia yang umumnya cairan, yang diberikan diantara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan.

Cairan (minyak lumas) merupakan salah satu dari empat fase benda yang volumenya tetap dalam kondisi suhu dan tekanan tetap.

Dari empat fase benda tersebut adalah zat cair, padat, gas, dan massa jenis, cairan termasuk golongan fluida yang mana di sebut zat cair. Di dalam hukum aliran viscos, Newton menyatakan hubungan antara gaya – gaya mekanika dari suatu aliran viscos geseran dalam (viscositas) fluida adalah konstan sehubungan dengan gesekannya. Minyak lumas mempunyai kekentalan yang berbeda-beda. Kekentalan (Viscositas) pelumas diklasifikasikan secara khusus oleh International Organization for Standardization (ISO).

Pada suhu mesin yang tinggi kekentalan oli cenderung turun dan oli mengalami pemuaian volume, sebaliknya bila suhu mesin rendah maka kekentalan oli cenderung meningkat, dan oli mengalami penyusutan volume.

Oli mengalami perubahan volume bila terjadi perubahan temperatur. Volume suatu zat berhubungan dengan besarnya massa jenis zat tersebut. Jika volume V bergantung pada temperatur, maka massa jenis juga bergantung pada temperatur.

(14)

2

Dari beberapa faktor diatas, temperatur minyak lumas sangat berperan penting dalam sebuah pelumasan pada mesin, karena apabila temperatur minyak lumas yang terlalu tinggi akan mengakibatkan kurangnya efisiensi dari pelumasan tersebut. Adapun temperatur normal pelumasan yaitu 45°C - 50°C dan temperatur tidak normalnya 50°C - 70°C. Naiknya temperatur minyak lumas dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti kurangnya penyerapan panas pada lubricating oil cooler yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti terjadinya penyumbatan pada pipa-pipa kapiler pada lubricating oil cooler serta dapat juga disebabkan oleh volume media pendingin yang masuk ke lubricating oil cooler tidak sebanding dengan minyak lumas yang didinginkan.

Selain hal diatas temperatur media pendingin yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan naiknya temperatur minyak lumas, adapun faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan naiknya temperatur minyak lumas seperti terjadinya kebocoran pembakaran yang masuk ke crank case, serta pemakaian minyak lumas yang sudah melebihi jam kerja atau minyak lumas yang sudah tidak layak pakai akan mengalami kenaikan temperatur dengan cepat jika terus-menerus digunakan.

Untuk itu pada sistem pelumasan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk menjaga temperatur dari minyak lumas, sehingga tercipta pelumasan yang lebih efisien dan komponen mesin yang bergerak tidak tejadi kerusakan serta mesin dapat beroperasi lebih lama.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis merencanakan melakukan penelitian dengan mengambil judul : PENYEBAB NAIKNYA

(15)

3

TEMPERATUR MINYAK LUMAS PADA MESIN INDUK DI KAPAL KM. CHUO NO. 1.

B. Rumusan Masalah

Dalam hal ini penulis merumuskan beberapa masalah yang akan diuraikan dalam bab selanjutnya yaitu:

Apakah penyebab naiknya temperatur minyak lumas pada mesin induk dikapal KM. Chuo No. 1 ?

C. Batasan Masalah

Mengingat luasnya permasalahan, penulis menganggap perlunya mengambil batasan-batasan dengan maksud agar tidak terjadi penyimpangan dalam pembahasan.

Dari sekian banyak faktor yang mengakibatkan naiknya temperatur minyak pelumas khususnya alat mekanis dan media pada sistem pelumasan maka penulis hanya mengamati pada media pemindah panas yaitu LO Cooler dan alat mekanis yaitu pompa air laut.

D. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui penyebab naiknya temperatur minyak lumas pada motor induk di kapal KM. Chuo No. 1.

E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai tentang naiknya temperatur minyak lumas pada mesin induk

(16)

4

2. Manfaat praktis

a. Menjadi pedoman dalam mencegah terjadinya kerusakan pada bagian- bagian yang berhubungan dengan naiknya temperatur minyak lumas pada mesin induk dikapal KM. Chuo No. 1.

b. Dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya

c. Sebagai gambaran kepada pembaca utamanya bagi rekan-rekan taruna tentang penyebab naiknya temperatur minyak lumas pada motor induk di kapal KM. Chuo No. 1.

(17)

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Review Penelitian Sebelumnya

Tabel 2.1 Penelitian sebelumnya Nama

Penelitian

Judul Hasil

Zudha Saputro

Perawatan sistem pelumasan mesin utama di kapal “x” pada perusahaan “y”

di surabaya 29 Januari 2013 praktek laut di kapal

MV.SALINDO PERDANA 1

Pelumasan yang teratur akan mengurangi terjadinya gesekan langsung antara dua permukaan komponen yang saling bergerak.

Gesekan itu sendiri akan menyebabkan keausan dan dengan melumas berarti memasukkan bahan pelumas antara 2 bagian yang bergerak dengan tujuan untuk mengurangi gesekan. Dimana minyak lumas yang di gunakan sebagai pelumas harus memiliki suhu yang normal yaitu 45 – 50 derajat celcius.

Sumber : penelitian sebelumnya (S,Zudha, 2013)

(18)

6

B. Landasan Teori 1. Pengertian

Minyak lumas adalah zat cair atau benda cair yang digunakan sebagai pelumasan dalam suatu mesin untuk mengurangi keausan akibat gesekan dan sebagai pendingin serta peredam suara.

Menurut Maleev (1991), pelumasan adalah pemberian minyak lumas antara dua permukaan bantalan yaitu permukaan yang bersinggungan dengan tekanan dan saling bergerak satu terhadap yang lain. Bantalan pena engkol mesin horizontal kecil dan mesin dua langkah pembilasan karter menggunakan peminyak sentrifugal atau peminyak banyo. Lubang minyak yang mengarah kepermukaan pena engkol seringkali digurdi pada sudut sekitar 30 derajat mendahului titik mati, sehingga cangkang atas menerima minyak sebelum langkah penyalaan dan pada titik yang tekanannya relatif rendah.

Mesin diesel adalah pesawat pembakaran dalam ( Internal Combustion Engine ), karena didalam mendapatkan energi potensial ( berupa panas ) untuk kerja mekaniknya diperoleh dari pembakaran bahan bakar yang dilaksanakan didalam pesawat itu sendiri, yaitu didalam silindernya.

Mesin diesel adalah motor bakar, dimana proses pembakaran bahan bakar terjadi akibat proses kompresi / penekanan udara didalam silinder ( 30 s/d 40 Kg/cm2 dengan suhu 600 s/d 800 °C ) untuk kemudian bahan bakar disemprotkan dalam bentuk kabut kepada udara yang bersuhu dan bertekanan tinggi tersebut.

(19)

7

Sebagai Mesin Penggerak Utama Kapal, mesin diesel lebih menonjol dibandingkan jenis Mesin Penggerak Utama Kapal lainnya, terutama : a. untuk rute pelayaran antar pulau ( Interinsulair ), rute pelayaran yang

sempit ( sungai ) dan ramai, karena pada saat olah gerak mesin kapal, mesin mudah dimatikan dan mudah dijalankan kembali.

b. Konsumsi bahan bakar lebih hemat c. Lebih mudah dalam mengoperasikannya

Gambar 2.1 low speed diesel engine

Temperatur adalah ukuran panas-dinginnya dari suatu benda. Panas- dinginnya suatu benda berkaitan dengan energi termis yang terkandung dalam benda tersebut. Makin besar energi termisnya, makin besar temperaturnya. Temperatur disebut juga suhu. Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat

(20)

8

berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut.

Pompa sebagai salah satu mesin aliran fluida hidrolik pada dasarnya digunakan untuk memindahkan fluida tak mampat (incompressible fluids) dari suatu tempat ketempat lain dengan cara menaikkan tekanan fluida yang dipindahkan tersebut. Pompa akan memberikan energi mekanis pada fluida kerjanya, dan energi yang diterima fluida digunakan untuk menaikkan tekanan dan melawan tahanan-tahanan yang terdapat pada saluran-saluran instalasi pompa.

Pompa air laut pendingin mesin induk merupakan salah satu jenis pompa sentrifugal. Pompa sentrifugal sebagai salah satu jenis pompa yang banyak dijumpai dalam industry bekerja dengan prinsip putaran impeller sebagai elemen pemindah fluida yang digerakkan oleh suatu penggerak mula. Zat cair yang berada di dalam akan berputar akibat dorongan sudu- sudu dan menimbulkan gaya sentrifugal yang menyebabkan cairan mengalir dari tengah impeller dan keluar melalui saluran di antara sudu- sudu dan meninggalkan impeller dengan kecepatan tinggi. Cairan dengan kecepatan tinggi ini dilewatkan saluran yang penampangnya makin membesar (diffuser) sehingga terjadi perubahan head (tinggitekan) kecepata nmenjadi head tekanan. Setelah cairan dilemparkan oleh impeler, ruang di antara sudu-sudu menjadi vacuum, menyebabkan cairan akan terhisap masuk sehingga terjadi proses pengisapan.

(21)

9

Gambar 2.2 pompa air laut

LO Cooler merupakan sebuah alat pendingin dimana minyak pelumas yang mempunyai kenaikan temperatur akibat panas gesekan dan panas jenis lainnya di dalam sebuah alat yaitu LO Cooler akan didinginkan oleh air laut dengan cara bersinggungan, yang mana temperatur minyak lumas akan diserap panasnya oleh air laut yang berada dalam pipa-pipa kapiler yang selanjutnya temperatur minyak pelumas akan mengalami penurunan akibat penyerapan oleh air laut.

(22)

10

Gambar 2.3 Lubricating Oil Cooler a. Minyak Lumas

Sifat – sifat Minyak lumas

Menurut Maleev (1991), sifat minyak lumas baik fisik maupun kimia, ditentukan dengan penyajian yang sama dengan yang digunakan untuk menguji bahan bakar. Pembahasannya akan diurutkan menurut pentingnya :

1) Viscositas adalah sifat yang paling penting yang menunjukkan kefluidaan relatif dari minyak tertentu. Jadi merupakan ukuran dari gesekan fluida, atau tahanannya, yang akan diberikan oleh molekul atau partikel minyak satu sama lain kalau badan utama dari minyak sedang bergerak, misalnya dalam sistem peredaran makin berat atau makin malas gerakannya, berarti viscositas lebih tinggi.

(23)

11

2) Residu karbon adalah jumlah karbon yang tertinggal setelah zat yang dapat menguap telah diuapkan dan terbakar dengan pemanasan minyak. Ini akan menunjukkan jumlah karbon yang dapat diendapkan dalam mesin yang akan mengganggu operasi.

3) Titik nyala adalah suhu pada saat uap minyak di atas minyak akan menyala kalau dikenai api kecil. Titik nyala dari minyak lumas ditentukan dengan metode yang sama seperti yang digunakan untuk minyak bahan bakar. Titik nyala dari berbagai minyak lumas diesel bervariasi dari 340°F sampai 430°F.

4) Air endapan adalah minyak diuji dengan pemusingan dan harus bebas dari air dan endapan. Tentu saja tidak boleh ada kotoran dalam penyediaan minyak lumas. Sebagian besar dari wadah minyak terbuka pada instalasi diesel yang ada, tetap dalam keadaan terbuka. Kotoran akan terikat dan masuk ke dalam minyak kemudian tinggal di dalam saluran minyak.

5) Keasaman adalah minyak lumas harus menunjukkan reaksi netral kalau diuji dengan kertas litmus. Minyak yang asam cenderung mengkorosi atau melubangi bagian mesin dan membentuk emulsi dengan air serta membentuk lumpur dengan karbon.

6) Emulsi adalah campuran minyak dengan air yang tidak terpisah menjadi komponennya, yaitu minyak dan air disebut

(24)

12

di suatu emulsi. Minyak lumas tidak boleh membentuk emulsi dengan air. Kalau dikocok dengan air harus segera terpisah darinya. Kemampuan untuk memisah ini terutama penting setelah minyak digunakan untuk beberapa waktu.

7) Oksidasi adalah minyak tidak boleh memiliki kecenderungan yang kuat untuk teroksidasi, karena oksidasi menyebabkan pembentukan lumpur. Oksidasi dan pembentukan lumpur dalam carter atau dimana saja dalam sistem pelumasan mesin diesel tidak dikehendaki, karena kemungkinannya untuk mengganggu aliran minyak dan melemahkan pelumasan dalam bagian yang penumpukan lumpur.

8) Abu dalam minyak adalah ukuran benda yang dapat menyebabkan pengikisan atau kemacetan dari bagian bergerak yang bersinggungan.

9) Belerang adalah belerang bebas atau campuran korosi dari belerang tidak diperbolehkan dalam minyak lumas karena mereka mempunyai kecenderungan untuk membentuk asam dengan uap air. Campuran bukan korosi dari belerang diperbolehkan sampai batas tertentu.

10) Warna minyak lumas tidak ada hubungannya dengan mutu pelumasannya.

11) Gravitasi adalah pada umumnya minyak yang viskositasnya tinggi maka gravitasinya tinggi, tetapi tidak ada hubungannya antara kedua karakteristik minyak ini.

(25)

13

Prinsip pelumasan

Menurut Maleev (1991), bagaimanapun juga halusnya dan tepatnya persatuan logam dapat dilihat atau dirasakan, tetapi sebenarnya tidak rata melainkan terdiri atas titik yang tinggi dan rendah, kalau satu permukaan meluncur diatas permukaan yang lain dan suatu gaya menekannya terhadap permukaan yang lain tersebut, maka titik yang tinggi pada kedua permukaan akan saling mengunci dan menghambat gerak relatif. Dalam meluncur dan mengatasi hambatan ini, maka permukaan yang keras akan melepaskan sebagian dari titik yang tinggi dan permukaan yang lunak tetapi pada saat yang sama dapat kehilangan sebagian dari titik tingginya sendiri. Hambatan untuk meluncur ini disebut gesekan (friction), pelepasan titik yang tinggi (wear).

Menurut Suharto (1991), pemilihan serta perlakuan pelumas di dalam kaitannya dengan operasi mesin tentunya bukan sekedar asal melumuri saja, akan tetapi mempunyai makna dan tujuannya yang banyak dan komplek serta itu semua disesuaikan dengan objek yang dilumasi, bagaimana lingkungannya, bagaimana tinggi rendahnya temperatur operasinya, sifat–sifat bahan pelumas terhadap objek, kecepatan putar ataupun kecepatan linier dari objek yang dilumasi.

Menurut Maneen, poros dibebani dengan sebuah gaya dengan arah tegak lurus ke bawah, sehingga lapisan pelumas antara poros dan bantalan terdesak keluar. Akibatnya terjadi hubungan antara

(26)

14

poros dan material bantalan. Bila poros diputar, maka akibat adhesi minyak pelumas antara poros dan bantalan akan ditarik. Pada kecepatan sudut yang cukup besar tekanan dalam lapisan pelumas sedemikian besar sehingga terjadi keseimbangan dengan beban poros sehingga poros akan terangkat oleh lapisan pelumas dan memutuskan hubungan metal dengan poros.

Sistem Pelumasan

Pada umumnya sistem pelumasan yang sering digunakan pada mesin dibagi atas dua bagian yaitu :

1) Sistem pelumasan kering

Sistem pelumasan kering yaitu minyak lumas ditampung di tempat yang lain yaitu sump tank. Di kapal sistem pelumasan yang digunakan adalah sistem pelumasan kering yaitu sistem pelumasan tekanan penuh yaitu minyak berasal dari tempat penampungan (sump tank) yang disirkulasikan dengan pompa dengan tekanan tertentu kebagian-bagian mesin yang memerlukan pelumasan kemudian minyak kembali ke tangki penampungan (sump tank).

Pada sistem pelumasan yang digunakan di kapal sebelum menghidupkan mesin maka diharuskan melakukan pelumasan awal engkol, torak, mahkota torak, (piston crown), bantalan utama connecting rod, silinder, komponen penggerak katup, turbo charge.

(27)

15

Sirkulasi minyak mulai diserap oleh pompa roda gigi dari tangki penampungan (sump tank) kemudian disaring oleh saringan minyak lumas (oil filter) kemudian minyak lumas itu didinginkan di pendingin minyak (LO Cooler) kemudian minyak lumas tersebut melumasi bagian-bagian yang memerlukan pelumasan itu, minyak lumas kembali ke tangki penampungan (sump tank).

2) Sistem pelumasan basah

Sistem pelumasan ini pada mumumnya dipergunakan pada mesin kapal yang berdaya rendah. Ini disebabkan karena konstruksinya yang masih relatif sederhana. Pada sistem pelumasan basah pompa minyak lumas memompa minyak lumas dari bak minyak pelumas ke dalam mangkok minyak pelumas pada setiap pangkat batang engkol bergerak mencebur ke dalam mangkok tersebut dan memercikkan minyak pelumas dari dalam mangkok membasahi bagian- bagian yang harus dilumasi.

(28)

16

Gambar 2.4 Sistem Minyak Pelumas Tujuan Pelumasan

Menurut Suharto (1991), beberapa maksud dari pelumasan mesin sekaligus mencakup tujuan-tujuan diantaranya :

1) Menahan beban mesin

Jadi disini untuk mengantisipasi gerusan bearing karena kontaknya poros dengan bearing.

2) Mengendalikan terjadinya getaran

Jadi disini mempunyai aspek yaitu menjaga kelemahan bahan karena beban-beban ekstra dari getaran- getaran mesin.

3) Mencegah terjadinya korosi

Disini korosi oleh uap air, lepasnya electron atau sebab-sebab lain. Di beberapa tempat pada motor diantaranya bagian-bagian yang bergerak satu terhadap

(29)

17

yang lain diberikan bahan pelumas. Tujuan dari pelumasan adalah :

a) Pembatasan gesekan dan keausan gesekan.

b) Penyalur panas gesekan.

c) Pelindung permukaan terhadap korosi.

d) Pembilasan bahan pengotor.

e) Peredam suara berfungsi sebagai penutup rapat.

b. Temperatur

Viscositas adalah sifat yang menentukan besar daya tahan fluida terhadap gaya geser. Hal ini terutama diakibatkan oleh saling pengaruh antara molekul-molekul fluida. Viscositas zat cair menyebabkan terbentuknya gaya geser antara elemen-elemennya.

Bila suatu fluida mengalami geseran, ia mulai bergerak dengan laju regangan yang berbanding terbalik dengan suatu besaran yang disebut koefisien viscositas, viscositas dinamis.

Viscositas berkurang dengan naiknya suhu dan ditentukan dangan viscosimeter saybolt dengan orifis universal. Viscositas minyak disel dari berbagai mesin bervariasi dari 100 sampai 500 SSU pada 130°F. Gesekan, keausan mesin, dan penggunaan minyak pada dasarnya tergantung pada viscositas minyak.

Menurut Jackson dan Morton (2003), bisa didefinisikan sebagai tahanan fluida yang berubah bentuk. Yang mana seharusnya gesekan molekular dalam dan molekul pada fluida menghasilkan fluida oleh pengaruh tahanan geseskan.

(30)

18

Tingginya viscosiatas maka lebih cenderung kearah pelumasan hydrodynamic. Tentunya tipe minyak pelumas, air atau grease dan temperatur itu sangat penting. Temperatur bisa naik melalui sirkulasi pelumas yang tidak cukup untuk menghilangkan panas disebabkan di dalam bearing, ini bisa disebabkan oleh celah yang terlalu kecil atau penyuplaian oli yang tidak cukup.

c. Mesin Induk

Sistem pelumasan motor diesel dan komponen pendukungnya sistem pelumasan merupakan salah satu sistem utama pada mesin, yaitu suatu rangkaian alat-alat mulai dari tempat penyimpanan minyak pelumas, pompa oli (oil pump), pipa-pipa saluran minyak, dan pengaturan tekanan minyak pelumas agar sampai kepada bagian-bagian yang memerlukan pelumasan.

Sebagian besar mekanik engine yang bergerak memerlukan pelumasan, hal ini dimaksudkan agar komponen – komponen engine tidak cepat aus dan kinerja engine tetap terjaga, melancarkan komponen – komponen mesin yang bergerak atau berputar, dan mengurangi panas yang timbul. Adapun komponen sistem pelumasan meliputi: Saringan (Strainer), pompa oli (Oil pump), saringan oli (Oil filter), saluran oli (Hole).

Pelumas (oli mesin) pada motor diesel memiliki fungsi utama untuk mengurangi gesekan atau persinggungan langsung diantara dua permukaan komponen mesin yang saling bergerak dengan cara membentuk lapisan oli yang tipis (Oil film) pada

(31)

19

permukaan kedua komponen tersebut. Selain fungsi utama tersebut, oli mesin juga berfungsi sebagai :

a. Pendingin (penyerapan panas yang dilaluinya) b. Penyerapan (pencegah kebocoran kompresi diantara

ring piston dan silinder)

c. Pembersih (pelarut kotoran / partikel logam hasil gesekan)

Minyak pelumas motor diesel diklasifikasikan berdasarkan viskositas (kekentalan) dan kondisi operasi. Menurut klasifikasi API (American Petroleum Institute), pelumas untuk diesel dibagi menjadi 4 yaitu : kode CA (diesel beban ringan), kode CB dan CC (diesel beban sedang) serta CD (diesel beban berat).

Untuk klasifikasi berdasarkan viskositas biasanya ditandai dengan nilai SAE. Minyak pelumas yang biasanya digunakan untuk diesel generator adalah berkode CB atau CC dengan nilai kekentalan SAE 30 atau SAE 40. Untuk minyak pelumas jenis multigrade (kekentalannya tidak terpengaruh oleh suhu) biasanya berkode “W”. Dalam pemilihan minyak pelumas sebaiknya mengacu pada buku manual motor diesel yang bersangkutan.

d. Analisis

Analisis merupakan sekumpulan kegiatan, aktivitas dan proses yang saling berkaitan untuk memecahkan masalah atau memecahkan komponen menjadi lebih detail dan digabungkan kembali lalu ditarik kesimpulan. Bentuk dari kegiatan analisa salah

(32)

20

satunya yaitu merangkum data mentah menjadi sebuah informasi yang bisa disampaikan ke khalayak. Segala macam bentuk analisis menggambarkan pola-pola yang konsisten di dalam data, sehingga hasil analisa dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan singkat dan penuh makna. Analisa juga dapat diartikan sebagai sebuah penyelidikan terhadap suatu peristiwa dengan tujuan mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi.

(33)

21

2. Kerangka Penelitian

Gambar 2.5 : kerangka Penelitian

Perawatan yang baik pada pompa air laut agar tidak terjadi kerusakan sehingga prosess pendinginan berjalan dengan sempurna

Pompa air laut rusak

Pendinginan LO Cooler oleh air laut tidak bekerja Naiknya temperatur minyak lumas di atas kapal

(34)

22

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Dalam penyusunan karya ilmiah ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Moeleong (2002:3), bahwa penelitian kualitatif merupakan tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam istilahannya. Penelitian kualitatif menyampaikan masalah secara deskriptif untuk menjelaskan dan menguraikan objek yang diteliti dan fakta yang ada di lapangan dan menyimpulkan secara induktif dan deduktif.

Metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai suatu kejadian atau situasi, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar. Adapun yang dimaksud dengan deskripif menurut Moleong (2002:2) adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambaran, dan bukan angka-angka.

Laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan, data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi, catatan atau memo dan dokumen resmi lainnya

.

(35)

23

B. Lokasi Penelitian

Penulis melakukan penelitian mengenai penyebab naiknya temperatur minyak lumas pada mesin induk di atas kapal yaitu saat penulis melaksanakan Praktek Laut (PRALA) saat di kapal KM. Chuo No. 1 yang dilaksanakan ±12 bulan hingga berakhirnya waktu penelitian di atas kapal.

Ketika melakukan penelitian banyak hal yang dilakukan penulis untuk meneliti mengenai penyebab naiknya temperatur minyak lumas pada mesin induk di kapal KM. Chuo No. 1.

Tempat yang dipilih untuk melakukan penelitian oleh penulis adalah kapal tempat dimana penulis melaksanakan praktek laut. Penulis melakukan penelitian tersebut dikarenakan masalah yang sering muncul dalam kapal, yang berhubungan dengan penyebab naiknya temperatur minyak lumas pada mesin induk di atas kapal.

C. Jenis dan Sumber Data

Sumber penelitian yang digunakan dalam membuat karya ilmiah terapan menggunakan sumber data sekunder. Data yang digunakan untuk penulisan skripsi ini merupakan data-data atau berbagai macam informasi yang lengkap dan bersifat praktis. Dalam penyusunan karya ilmiah terapan ini tentunya dijelaskan bagaimana penulis melakukan penelitian dan perolehan data. Adapun jenis data yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah terapan ini sebagai berikut:

1. Data Primer

Data ini merupakan data yang diperoleh secara langsung dari kapal dengan jalan mengadakan wawancara langsung dengan masinis dan

(36)

24

KKM tentang mesin penggerak utama khususnya pada bagian sistem pelumasan serta diperoleh dengan cara metode survey, yaitu dengan mengamati, mengukur dan mencatat secara langsung di lokasi penelitian.

2. Data Sekunder

Data sekunder meliputi data-data yang diperoleh secara tidak langsung yang dapat berupa catatan-catatan dan laporan-laporan tertulis.

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung yang biasanya berupa data dokumentasi dan arsip-arsip resmi. Dalam hal ini penulis memperoleh data dengan membaca buku atau dokumen yang membahas tentang naiknya temperatur minyak lumas pada mesin induk.

D. Pemilihan Informan

Pemilihan informan sebagai sumber data dalam penelitian ini adalah berdasarkan pada asas subyek yang menguasai permasalahan, memiliki data, dan bersedia memberikan informasi lengkap dan akurat.

Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis mendapatkan informasi dari berbagai narasumber, salah satunya adalah dengan bertanya kepada dosen pengajar di Politeknik Pelayaran Surabaya. Pada saat praktek berlayar, penulis menghadapi kenyataan langsung dilapangan sehingga untuk mendapaktan informasi lebih lengkap dan akurat, subyek yang dijadikan informan adalah first engineer yang bertanggung jawab penuh atas segala permasalahan mesin induk diatas kapal, dan juga semua crew yang ada di dalam kamar mesin.

Sehingga hasil data yang akan diperoleh lebih terperinci dan akurat mengenai naiknya temperatur minyak lumas di atas kapal pada mesin induk.

(37)

25

E. Teknik Analisis Data

Metode ini dilakukan dengan mengambil gambar tentang obyek yang diteliti sehingga penulis dapat mengetahui penyebab naiknya minyak lumas pada mesin induk.

Milles dan Huberman yang dimuat dalam (Sugiyono: 2010), menyatakan bahwa aktivitas dalam pengolahan dan analisis data meliputi data reduction, data display, conclusion drawing/verification. Langkah- langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Tabel 2.2 Teknik analisis data menurut Milles dan Huberman

Sumber : Prof. Dr. Sugiyono 1. Data collecting

Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Sedangkan Instrumen Pengumpul Data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman wawancara, camera photo dan lainnya.

(38)

26

Adapun tiga teknik pengumpulan data yang biasa digunakan adalah angket, observasi dan wawancara.

a. Angket

Angket / kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya.

b. Observasi

Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi).

c. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data.

2. Data Reduction

Melakukan reduksi data dapat diartikan sebagai upaya merangkum dan memilih hal-hal pokok serta mefokuskan diri pada data yang relefan dengan permasalahan yang dikaji. Pada kenyataannya, data temuan di lapangan bisa sangat beragam dan heterogen, sehingga perlu dilakukan pemilahan dan penyusunan secara sistematis agar diperoleh data yang dibutuhkan.

(39)

27

3. Data Display

Setelah data di reduksi, tahap berikutnya adalah melakukan display atau penyajian data sehingga temuan dapat digambarkan secara utuh, menyeluruh, sehingga bagian-bagian pokoknya terlihat jelas untuk memudahkan pemaknaan. Sugiyono (2010), menyatakan bahwa penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan melalui uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flow chart, dan sejenisnya.

4. Conclusion and Verification

Tahapan berikutnya dari analisis data adalah penarikan kesimpulan (konklusi) dan verifikasi .Berdasarkan reduksi dan display data temuan penelitian, peneliti dapat menarik kesimpulan. Penarikan kesimpulan dalam penelitian kualitatif, pada dasarnya amasih bersifat sementara, karena data hasil temuan harus diferifikasi dan dicek keabsahannya melalui berbagai teknik. Verifikasi yang dilakukan bertujuan untuk mempertajam pemaknaan temuan, sehingga diperoleh kesimpulan yang benar-benar menggambarkan realita.

(40)

28

DAFTAR PUSTAKA

Adji,R.. 1985. “Bahan Bakar Minyak”. Semarang: Yayasan Neptunus

Adji,R. 2015. “Motor Bakar”. Disertasi. Surabaya: Perpustakaan Politeknk Pelayaran,

Maanen,P.Van, “Motor Diesel KapalJilid 1. Nautech.

Maleev.1991. “OperasidanPemeliharaan Motor Diesel”.MKS

Milles and Huberman. 1984. “Qualitative Data Analysis”.London: Sage Publication

Moeleong.2002. “Metodologi Penelitian kualitatif .Bandung: PT: Remaja Rosdakarya

Sugiyono.2010. “Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Suharto. “Manajemen Perawatan Mesin”.Jakarta : PT. Rinekacipta

Tim POLTEKPEL SURABAYA. 2015. “Mesin Penggerak Utama”. Surabaya:

Politeknik Pelayaran Surabaya

Tim _______________________. 2015. “Permesinan Bantu”. Surabaya:

Politeknik Pelayaran Surabaya

Tim penyusun maritime world. 2011. Apa Saja Yang Ada di Dalam Kamar Mesin.

http://www.maritimeworld.web.id/2011/03/apa-saja-yang-ada-di-dalam- kamar-mesin.html. Di akses pada tanggal 9 mei 2017

Tim penyusun fiderwin. 2010. Mesin Penggerak Utama http://fidierwin.blogspot.com2010/07/p/mesin-penggerak-utama.html.

Tim penyusun bisnizinvestasi. 2012. Permesinan Yang Ada di Kamar Mesinhttp://bisnizinvestasi.blogspot.com/2012/10/permesinan-yang-ada-di- kapal.html.

Tim penyusun eyes beam. 2009. Pengetahuan Umum Tentang Lubricating Oil https://eyesbeam.wordpress.com/2009/03/11/pengetahuan-umum-tentang- lubricating-oil-minyak-pelumas/.

Zudha, S. 2013. “perawatan sistem pelumasan mesin utama”. Surabaya:

MV. SALINDO PERDANA 1

Gambar

Tabel 2.1 Penelitian sebelumnya  Nama
Gambar 2.1  low speed diesel engine
Gambar 2.2 pompa air laut
Gambar 2.3 Lubricating Oil Cooler  a.  Minyak Lumas
+4

Referensi

Dokumen terkait