MAKALAH MAKALAH
“
“PENYEDIAAN PENYEDIAAN LAHAN DAN LAHAN DAN BUDIDAYA TEBUBUDIDAYA TEBU””
Diajukan untuk memenuhi persyaratan sa
Diajukan untuk memenuhi persyaratan salah satu tugaslah satu tugas Mata Kuliah Budidaya T
Mata Kuliah Budidaya Tanaman Perkebunanaman Perkebunan Utamaan Utama
Oleh : Oleh : Irlanggana Irlanggana (071510101054) (071510101054)
PROGRAM STUDI AGRONOMI PROGRAM STUDI AGRONOMI JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN - UNIVERSITAS JEMBER FAKULTAS PERTANIAN - UNIVERSITAS JEMBER
2012 2012
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
Pada umumnya mahkluk hidup membutuhkan sumberdaya alam berupa Pada umumnya mahkluk hidup membutuhkan sumberdaya alam berupa air, oksigen, karbondioksida, makanan dan sinar matahari. Kecuali karbon air, oksigen, karbondioksida, makanan dan sinar matahari. Kecuali karbon dioksida dan oksigen, sumberdaya alam lainnya berada pada kondisi yang terbatas dioksida dan oksigen, sumberdaya alam lainnya berada pada kondisi yang terbatas dan sering tidak mencukupi kebutuhan, sehingga terkadang memerlukan usaha dan sering tidak mencukupi kebutuhan, sehingga terkadang memerlukan usaha untuk mencukupi kebutuhan tersebut dengan tindakan pengelolaan hidup. Sebagai untuk mencukupi kebutuhan tersebut dengan tindakan pengelolaan hidup. Sebagai contoh misalnya tanaman tebu membutuhkan hara untuk mencapai pertumbuhan contoh misalnya tanaman tebu membutuhkan hara untuk mencapai pertumbuhan normalnya, namun ketersediaan di dalam tanah tempat tanaman itu tumbuh tidak normalnya, namun ketersediaan di dalam tanah tempat tanaman itu tumbuh tidak tersedia hara N yang memadai. Pada keadaan demikian tanaman tersebut tentu tersedia hara N yang memadai. Pada keadaan demikian tanaman tersebut tentu tidak akan mungkin tumbuh normal (karena defisiensi N). Untuk mencapai tidak akan mungkin tumbuh normal (karena defisiensi N). Untuk mencapai kondisi pertumbuhan normal, maka upaya budidaya diperlukan yaitu dengan cara kondisi pertumbuhan normal, maka upaya budidaya diperlukan yaitu dengan cara memberikan pupuk N untuk kasus kekurangan hara N
memberikan pupuk N untuk kasus kekurangan hara N tersebut.tersebut.
Sumberdaya alam selama periode pertumbuhan tebu sangat dibutuhkan.
Sumberdaya alam selama periode pertumbuhan tebu sangat dibutuhkan.
Namun laju kebutuhan setiap fase pertumbuhan tanaman terhadap kebutuhan jenis Namun laju kebutuhan setiap fase pertumbuhan tanaman terhadap kebutuhan jenis maupun kuantitasnya selalu tidak sama. Dengan demikian terdapat ukuran - maupun kuantitasnya selalu tidak sama. Dengan demikian terdapat ukuran - ukuran kebutuhan yang secara keseluruhan sangat ditentukan oleh kebutuhan ukuran kebutuhan yang secara keseluruhan sangat ditentukan oleh kebutuhan biologi
biologi pertumbuhan. pertumbuhan. Sebagai Sebagai contoh, contoh, tanaman tanaman tebu tebu memiliki memiliki 5 5 stadiumstadium pertumbuhan
pertumbuhan yaitu yaitu fase fase perkecambahan, perkecambahan, pertunasan, pertunasan, pemanjangan pemanjangan batang,batang, kemasakan dan kematian, kebutuhan akan sumberdaya air pada setiap stadium kemasakan dan kematian, kebutuhan akan sumberdaya air pada setiap stadium berbeda.
berbeda. Stadium Stadium perkecambahan perkecambahan sampai sampai pemanjangan pemanjangan batang batang dapat dapat dikatakandikatakan menghendaki kebutuhan air yang sangat banyak. Namun pada fase kemasakan menghendaki kebutuhan air yang sangat banyak. Namun pada fase kemasakan dan bahkan kematian, kebutuhan terhadap air justru pada kondisi yang lebih dan bahkan kematian, kebutuhan terhadap air justru pada kondisi yang lebih sedikit untuk mengoptimalkan pengisiaan gula dalam batang. Hal yang lain yang sedikit untuk mengoptimalkan pengisiaan gula dalam batang. Hal yang lain yang berkaitan
berkaitan dengan dengan kebutuhan kebutuhan hidup hidup tanaman tanaman tebu tebu adalah adalah secara secara agregat agregat setiapsetiap sumber daya alam selalu dibutuhkan, meskipun kuantitasnya dapat berlainan sumber daya alam selalu dibutuhkan, meskipun kuantitasnya dapat berlainan antara setiap fase pertumbuhannya.
antara setiap fase pertumbuhannya.
Tidak terpenuhi salah satu atau lebih sumberdaya alam yang dibutuhkan Tidak terpenuhi salah satu atau lebih sumberdaya alam yang dibutuhkan tanaman tebu, maka akan berakibat pada penurunan kualitas pertumbuhan tanaman tebu, maka akan berakibat pada penurunan kualitas pertumbuhan maupun produktivitas tanaman yang dihasilkan. Dalam budidaya tebu, upaya maupun produktivitas tanaman yang dihasilkan. Dalam budidaya tebu, upaya
untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya alam pada saat optimal diperlukan akan untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya alam pada saat optimal diperlukan akan memberikan hasil panen yang maksimal.
memberikan hasil panen yang maksimal.
Yang dimaksud dengan budidaya tebu adalah upaya menciptakan kondisi Yang dimaksud dengan budidaya tebu adalah upaya menciptakan kondisi fisik lingkungan tanaman tebu, berdasarkan ketersediaan sumberdaya lahan, alat fisik lingkungan tanaman tebu, berdasarkan ketersediaan sumberdaya lahan, alat dan tenaga yang memadai agar sesuai dengan kebutuhan pada fase dan tenaga yang memadai agar sesuai dengan kebutuhan pada fase pertumbuhannya, sehingga meng
pertumbuhannya, sehingga menghasilkan produksi (gula) seperti yang diharapkan.hasilkan produksi (gula) seperti yang diharapkan.
Dewasa ini budidaya yang efisien adalah pengelolaan tanaman tertentu yang Dewasa ini budidaya yang efisien adalah pengelolaan tanaman tertentu yang diusahakan menyesuaikan dengan lingkungan agroklimat (ketersediaan lahan).
diusahakan menyesuaikan dengan lingkungan agroklimat (ketersediaan lahan).
Karekteristik agroklimat terdiri dari iklim, kesuburan tanah dan topografi.
Karekteristik agroklimat terdiri dari iklim, kesuburan tanah dan topografi.
Budidaya tebu hendaknya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik agroklimat Budidaya tebu hendaknya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik agroklimat di lahan tegalan yang umumnya dijumpai untuk tanaman tebu. Produktifitas tebu di lahan tegalan yang umumnya dijumpai untuk tanaman tebu. Produktifitas tebu ditentukan oleh karakteristik agroklimat yang paling minimum.
ditentukan oleh karakteristik agroklimat yang paling minimum.
Secara definisi telah dikemukakan di atas arti dari budidaya yang Secara definisi telah dikemukakan di atas arti dari budidaya yang sesungguhnya dapat disederhanakan lagi yaitu suatu upaya manusia sesungguhnya dapat disederhanakan lagi yaitu suatu upaya manusia mengoptimalkan kondisi tanaman agar memperoleh sumberdaya alam yang mengoptimalkan kondisi tanaman agar memperoleh sumberdaya alam yang dibutuhkan untuk hidupnya, sehingga dapat dimaksimalkan perolehan dibutuhkan untuk hidupnya, sehingga dapat dimaksimalkan perolehan produktivitas tanaman. Dengan demikian
produktivitas tanaman. Dengan demikian tujuan akhir dari tujuan akhir dari upaya budidaya adalahupaya budidaya adalah mengoptimalkan kondisi tanaman untuk memaksimumkan hasil panen.
mengoptimalkan kondisi tanaman untuk memaksimumkan hasil panen.
Budidaya merupakan prasarana untuk meningkatkan respon tanaman terhadap Budidaya merupakan prasarana untuk meningkatkan respon tanaman terhadap input yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam input yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menunjang dan memacu proses pertumbuhan. Keberhasilan budidaya ditentukan menunjang dan memacu proses pertumbuhan. Keberhasilan budidaya ditentukan oleh berlangsungnya proses-proses pertumbuhan dalam setiap stadium secara oleh berlangsungnya proses-proses pertumbuhan dalam setiap stadium secara normal dan berkesinambungan. Setiap proses fase pertumbuhan harus berjalan normal dan berkesinambungan. Setiap proses fase pertumbuhan harus berjalan dengan sempurna, untuk memberikan kesempatan proses fase pertumbuhan dengan sempurna, untuk memberikan kesempatan proses fase pertumbuhan berikutnya
berikutnya sehingga sehingga berjalan berjalan sempurna sempurna juga. juga. Gangguan Gangguan pada pada salah salah satu satu prosesproses fase pertumbuhan tebu, harus dipandang sebagai titik dari mata rantai yang fase pertumbuhan tebu, harus dipandang sebagai titik dari mata rantai yang terlemah dan yang paling bertanggung jawab terhadap hasil panen yang akan terlemah dan yang paling bertanggung jawab terhadap hasil panen yang akan diperoleh. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan faktor pembatas yang paling diperoleh. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan faktor pembatas yang paling menentukan terhadap perolehan hasil tanaman, maka upaya dari budidaya menentukan terhadap perolehan hasil tanaman, maka upaya dari budidaya sesungguhnya untuk mengeleminir sekecil mungkin kekurangan ketersedian sesungguhnya untuk mengeleminir sekecil mungkin kekurangan ketersedian
sumber daya alam yang dibutuhkan setiap fase pertumbuhan guna sumber daya alam yang dibutuhkan setiap fase pertumbuhan guna memaksimumkan hasil panen yang akan diperoleh.
memaksimumkan hasil panen yang akan diperoleh.
Landasan Pola Budidaya Tebu.
Landasan Pola Budidaya Tebu.
Budidaya tebu yang paling sesuai adalah budidaya tebu yang Budidaya tebu yang paling sesuai adalah budidaya tebu yang menyesuaikan dengan kondisi agroklimat, yaitu iklim, kesuburan tanah dan menyesuaikan dengan kondisi agroklimat, yaitu iklim, kesuburan tanah dan tofografi. Selain itu, keberhasilan budidaya tebu ditentukan pula oleh penggunaan tofografi. Selain itu, keberhasilan budidaya tebu ditentukan pula oleh penggunaan sarana pendukung seperti tenaga kerja dan penggunaan peralatan yang akan sarana pendukung seperti tenaga kerja dan penggunaan peralatan yang akan menunjang pengelolaan pertanian berkelanjutan. Lebih spesifik lagi, keberhasilan menunjang pengelolaan pertanian berkelanjutan. Lebih spesifik lagi, keberhasilan penyesuaian
penyesuaian budidaya budidaya tebu tebu ditentukan ditentukan oleh oleh kesesuaian kesesuaian tebu tebu terhadap terhadap kondisikondisi iklim, kesesuaian tebu terhadap kesuburan tanah, kesesuaian pengelolaan tebu iklim, kesesuaian tebu terhadap kesuburan tanah, kesesuaian pengelolaan tebu dengan tofografi, kesesuaian pengelolaan tebu berdasarkan keterbatasan tenaga, dengan tofografi, kesesuaian pengelolaan tebu berdasarkan keterbatasan tenaga, sehingga mengharuskan penerapan peralatan mekanisasi dan kesesuaian tebu sehingga mengharuskan penerapan peralatan mekanisasi dan kesesuaian tebu menuju pertanian berkelanjutan.
menuju pertanian berkelanjutan.
- Kesesuaian Tebu Terhadap Iklim - Kesesuaian Tebu Terhadap Iklim
Budidaya tebu harus mengupayakan kebutuhan tebu terhadap variabel Budidaya tebu harus mengupayakan kebutuhan tebu terhadap variabel iklim, khususnya terhadap ketersediaan air, baik dalam mengatur kecukupan air iklim, khususnya terhadap ketersediaan air, baik dalam mengatur kecukupan air maupun mengurangi ketersediaannya. Dalam budidaya, singkronisasi kebutuhan maupun mengurangi ketersediaannya. Dalam budidaya, singkronisasi kebutuhan pertumbuhan
pertumbuhan tebu tebu dengan dengan kebutuhan kebutuhan SDA SDA iklim, iklim, seperti seperti mengatur mengatur masa masa tanamtanam yang baik untuk mendapatkan kebutuhan air optimal pada fase pertumbuhan awal yang baik untuk mendapatkan kebutuhan air optimal pada fase pertumbuhan awal dan ditebang pada periode musim kemarau.
dan ditebang pada periode musim kemarau.
Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, curah hujan Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, curah hujan bulanan
bulanan ideal ideal untuk untuk pertanaman pertanaman tebu tebu adalah adalah 200 200 mm mm / / bulan bulan pada pada 5-6 5-6 bulanbulan berturut
berturut - - turut, turut, 125 125 mm/bulan mm/bulan pada pada 2 2 bulan bulan transisi transisi dan dan kurang kurang 75 75 mm mm / / bulanbulan pada
pada 4 4 - - 5 5 bulan bulan berturut-turut. berturut-turut. Menurut Menurut tipe tipe iklim iklim Oldeman, Oldeman, zona zona yang yang terbaikterbaik untuk tanaman tebu adalah tipe iklim C2 dan C3. Dalam pengembangannya ke untuk tanaman tebu adalah tipe iklim C2 dan C3. Dalam pengembangannya ke lahan kering selain kedua tipe iklim tersebut ada beberapa lahan dengan tipe iklim lahan kering selain kedua tipe iklim tersebut ada beberapa lahan dengan tipe iklim yang dapat diusahakan untuk tebu dengan masukan-masukan teknologi adalah B2, yang dapat diusahakan untuk tebu dengan masukan-masukan teknologi adalah B2, C2, C3, D2, E3. Lahan yang dapat dikembangkan untuk pertumbuhan tebu C2, C3, D2, E3. Lahan yang dapat dikembangkan untuk pertumbuhan tebu dengan tanah cukup ringan dan berdrainase baik
dengan tanah cukup ringan dan berdrainase baik B1, C1, D1 dan E1.B1, C1, D1 dan E1.
- Kesesuaian Tebu Terhadap Kesuburan Tanah - Kesesuaian Tebu Terhadap Kesuburan Tanah
Kesuburan tanah menentukan keberhasilan budidaya tebu, menyangkut Kesuburan tanah menentukan keberhasilan budidaya tebu, menyangkut aspek faktor pembatas fisik dan kimia tanah. Sifat fisik tanah yang menonjol aspek faktor pembatas fisik dan kimia tanah. Sifat fisik tanah yang menonjol adalah drainase / permeabilitas, tekstur dan ruang pori. Sedangkan sifat kimia adalah drainase / permeabilitas, tekstur dan ruang pori. Sedangkan sifat kimia tanah adalah kadar bahan organik, pH, ketersediaan hara esensial dan KTK tanah.
tanah adalah kadar bahan organik, pH, ketersediaan hara esensial dan KTK tanah.
Tekstur tanah yang sesuai bagi tanaman tebu berdasarkan sifat olah tanah adalah Tekstur tanah yang sesuai bagi tanaman tebu berdasarkan sifat olah tanah adalah sedang sampai berat atau menurut klasifikasi tekstur tanah (Buckman and Brady, sedang sampai berat atau menurut klasifikasi tekstur tanah (Buckman and Brady, 1960) adalah lempung, lempung berpasir, lempung berdebu, liat berpasir, liat 1960) adalah lempung, lempung berpasir, lempung berdebu, liat berpasir, liat berlempung,
berlempung, liat liat berdebu berdebu dan dan liat liat atau atau yang yang tergolong tergolong bertekstur bertekstur agak agak kasarkasar sampai halus. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk tanaman tebu adalah sampai halus. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk tanaman tebu adalah pada
pada kisaran kisaran 6,06,0 – – 7,0 namun masih dapat tumbuh pada kisaran pH 4,5 - 7,5. 7,0 namun masih dapat tumbuh pada kisaran pH 4,5 - 7,5.
Kesuburan tanah (status hara), berdasarkan hasil penelitian P3GI untuk Kesuburan tanah (status hara), berdasarkan hasil penelitian P3GI untuk menentukan kesesuaian lahan bagi tanaman tebu dengan kriteria N total > 1,5, menentukan kesesuaian lahan bagi tanaman tebu dengan kriteria N total > 1,5, P2O5 tersedia > 75 ppm, K2O tersedia > 150 ppm dan kejenuhan Al <> 4 bulan, P2O5 tersedia > 75 ppm, K2O tersedia > 150 ppm dan kejenuhan Al <> 4 bulan, masa tanam yang optimal pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan masa tanam yang optimal pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan yaitu pertengahan Oktober sampai dengan masa tanam juga dapat pada akhir yaitu pertengahan Oktober sampai dengan masa tanam juga dapat pada akhir musim hujan sampai awal musim kemarau (pola II) dengan kondisi tanah ringan, musim hujan sampai awal musim kemarau (pola II) dengan kondisi tanah ringan, ngompol dapat diolah sepanja
ngompol dapat diolah sepanjang musim. Pada daerah basah (bulan kering ≤ 2ng musim. Pada daerah basah (bulan kering ≤ 2 bulan) masa tanam tebu terbaik pada awal musim kemarau.
bulan) masa tanam tebu terbaik pada awal musim kemarau.
- Mencukupi Kebutuhan Hara Tanaman - Mencukupi Kebutuhan Hara Tanaman
Ketersediaan hara dalam tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman pada Ketersediaan hara dalam tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman pada masing-masing fase pertumbuhannya sangat ditentukan oleh kondisi lahan dan masing-masing fase pertumbuhannya sangat ditentukan oleh kondisi lahan dan ketepatan pemupukan. Dalam pemupukan perlu diperhatikan efektivitas dan ketepatan pemupukan. Dalam pemupukan perlu diperhatikan efektivitas dan efisiensi.
efisiensi.
- Pengendalian Hama dan
- Pengendalian Hama dan PenyakitPenyakit
Prinsip pengendalian jasad pengganggu (gulma, hama dan penyakit) adalah Prinsip pengendalian jasad pengganggu (gulma, hama dan penyakit) adalah memastikan bahwa input dan tanaman tebu tidak
memastikan bahwa input dan tanaman tebu tidak “termakan” oleh jasad“termakan” oleh jasad pengganggu y
pengganggu yaitu pengendalian secara preventif.aitu pengendalian secara preventif.
- Penanganan Panen - Penanganan Panen
Dalam pengusahaan tanaman tebu, upaya budidaya yang ditunjukkan Dalam pengusahaan tanaman tebu, upaya budidaya yang ditunjukkan untuk meningkatkan bobot tebu dan rendemen yang tinggi pada akhirnya banyak untuk meningkatkan bobot tebu dan rendemen yang tinggi pada akhirnya banyak
ditentukan oleh sejumlah mana tebu tersebut ditebang dan digiling dalam keadaan ditentukan oleh sejumlah mana tebu tersebut ditebang dan digiling dalam keadaan Masak, Bersih dan Segar (MBS). Untuk menciptakan panen MBS banyak Masak, Bersih dan Segar (MBS). Untuk menciptakan panen MBS banyak berkaitan
berkaitan dengan dengan aspek aspek - - aspek aspek manajerial manajerial dan dan koordinasi, koordinasi, baik baik diintern diintern PabrikPabrik Gula (antara Bagian Tanaman, Tebang Angkut dan Pabrik) maupun koordinasi Gula (antara Bagian Tanaman, Tebang Angkut dan Pabrik) maupun koordinasi PG dengan Petani.
PG dengan Petani.
- Pemantauan Pertumbuhan Tanaman - Pemantauan Pertumbuhan Tanaman
Pemantauan perrtumbuhan tanaman yang bertujuan untuk mengetahui Pemantauan perrtumbuhan tanaman yang bertujuan untuk mengetahui dampak dari tindakan - tindakan budidaya yang dilakukan. Pemantauan dampak dari tindakan - tindakan budidaya yang dilakukan. Pemantauan pertumbuhan
pertumbuhan tanaman tanaman dapat dapat dilakukan dilakukan dengan dengan pengetahuan pengetahuan pertumbuhan pertumbuhan setiapsetiap fase dan faktor - faktor yang mempengaruhi dan dinamika populasi. Dengan fase dan faktor - faktor yang mempengaruhi dan dinamika populasi. Dengan membandingkan antara jumlah populasi atau pertumbuhan suatu saat pada suatu membandingkan antara jumlah populasi atau pertumbuhan suatu saat pada suatu kebun dengan standar pertumbuhan / dinamika populasi normal serta kebun dengan standar pertumbuhan / dinamika populasi normal serta dihubungkan dengan fase pertumbuhan saat pemantauan, sehingga dapat dihubungkan dengan fase pertumbuhan saat pemantauan, sehingga dapat ditentukan tumbuh normal atau tidak serta antisipasi / ti
ditentukan tumbuh normal atau tidak serta antisipasi / tindakan yang diperlukan.ndakan yang diperlukan.
- Konsistensi Pengelolaan Tanaman - Konsistensi Pengelolaan Tanaman
Agar dapat diperoleh hasil gula yang optimal diperlukan konsistensi Agar dapat diperoleh hasil gula yang optimal diperlukan konsistensi pengelolaan yang prima sejak pembukaan lahan sampai tebu dipanen dan digiling, pengelolaan yang prima sejak pembukaan lahan sampai tebu dipanen dan digiling, mengingat kualitas suatu fase pertumbuhan menentukan pertumbuhan berikutnya mengingat kualitas suatu fase pertumbuhan menentukan pertumbuhan berikutnya dan kualitas bahan baku akan menentukan sejauh mana potensi gula yang ada di dan kualitas bahan baku akan menentukan sejauh mana potensi gula yang ada di batang
batang dapat dapat dijadikan dijadikan gula gula kristal kristal yang yang diharapkan. diharapkan. Salah Salah satu satu yang yang harusharus diwaspadai adalah ketidak konsistenan pada saat panen, tebu yang ditanam dan diwaspadai adalah ketidak konsistenan pada saat panen, tebu yang ditanam dan dipelihara dengan baik hasil gulanya kurang menggembirakan karena kehilangan dipelihara dengan baik hasil gulanya kurang menggembirakan karena kehilangan gula yang cukup besar saat panen akibat mutu tebang dan angkut kurang baik.
gula yang cukup besar saat panen akibat mutu tebang dan angkut kurang baik.
Secara teknis pembukaan lahan tanaman tebu dikenal adanya sistem Secara teknis pembukaan lahan tanaman tebu dikenal adanya sistem Reynoso (Manual) dan Sistem Mekanisasi (Plough Out).
Reynoso (Manual) dan Sistem Mekanisasi (Plough Out).
1. Sistem Mekanisasi 1. Sistem Mekanisasi
Sistem yang menggunakan traktor/ mekanisasi sebagai alat kerjanya. Urutanya 2 Sistem yang menggunakan traktor/ mekanisasi sebagai alat kerjanya. Urutanya 2 kali bajak dengan arah berbeda (cross) yang selanjutnya dibuat kairan. Setelah itu kali bajak dengan arah berbeda (cross) yang selanjutnya dibuat kairan. Setelah itu dilakukan pembuatan got dan selanjutnya tanam.
dilakukan pembuatan got dan selanjutnya tanam.
2. Sistem Reynoso (manual) 2. Sistem Reynoso (manual)
Adalah sistem yang dikerjakan dengan sistem manual/ orang berprinsip pada Adalah sistem yang dikerjakan dengan sistem manual/ orang berprinsip pada pembuatan got-got untuk
pembuatan got-got untuk penampungan dan penampungan dan pembuangan air. Urutanya adalah:pembuangan air. Urutanya adalah:
a. Pembuatan patusan/ saluran pembuangan/ afvoer a. Pembuatan patusan/ saluran pembuangan/ afvoer
tujuanya alah untuk membuang air yang masih didalam kebun apabila terjadi tujuanya alah untuk membuang air yang masih didalam kebun apabila terjadi kelebihan air. Kedalamanya adalah 90 cm, dan lebar 80 cm
kelebihan air. Kedalamanya adalah 90 cm, dan lebar 80 cm b. Pembuatan got mu
b. Pembuatan got mujurjur
got mujur berfungsi menampung kelebihan air dari got malang. Arah got mujur got mujur berfungsi menampung kelebihan air dari got malang. Arah got mujur tegak lurus dengan got malang atau juringan. Ukuran got mujur adalah adalah tegak lurus dengan got malang atau juringan. Ukuran got mujur adalah adalah dalam 70 cm dan lebar 60 cm.
dalam 70 cm dan lebar 60 cm.
c. Pembuatan got malang c. Pembuatan got malang
Berfungsi untuk menampung kelebihan air dari juringan, menurunkan permukaan Berfungsi untuk menampung kelebihan air dari juringan, menurunkan permukaan air tanah dan menahan air sementara guna pekerjaan sirat/ebor. Arah got malang air tanah dan menahan air sementara guna pekerjaan sirat/ebor. Arah got malang adalah searah dengan kemiringan tanah. Ukuran got malang adalah dalam 60 cm adalah searah dengan kemiringan tanah. Ukuran got malang adalah dalam 60 cm dan lebar 50 cm.
dan lebar 50 cm.
- Ukuran Got dalam system Reynoso - Ukuran Got dalam system Reynoso
TEKNIS BUDIDAYA TEBU TEKNIS BUDIDAYA TEBU 1. Persiapan Lahan
1. Persiapan Lahan
Pengolahan tanah hendaknya dilakukan dengan pembajakan, Pengolahan tanah hendaknya dilakukan dengan pembajakan, penggemburan
penggemburan dan dan pembuatan pembuatan juringan. juringan. Dengan Dengan demikian demikian perkecambahan perkecambahan tebutebu berjalan normal.
berjalan normal.
1. Pembajakan (
1. Pembajakan ( plowing plowing ))
Adalah upaya pembongkaran tanah yang bertujuan untuk memperdalam Adalah upaya pembongkaran tanah yang bertujuan untuk memperdalam batas
batas olah olah tanah, tanah, membalikkan membalikkan tanah tanah agar agar sirkulasi sirkulasi udara udara lebih lebih baik baik serta serta untukuntuk menghancurkan sisa-sisa tumbuhan yang sebelumnya sudah ada (Dinas menghancurkan sisa-sisa tumbuhan yang sebelumnya sudah ada (Dinas Perkebunan, 2004). Biasanya hasil pembajakan berupa tanah bongkahan yang Perkebunan, 2004). Biasanya hasil pembajakan berupa tanah bongkahan yang masih cukup besar.
masih cukup besar.
2. Penggemburan (
2. Penggemburan (harrowing harrowing ))
Adalah upaya memperhalus hasil olahan tanah dari kondisi tanah besar Adalah upaya memperhalus hasil olahan tanah dari kondisi tanah besar menjadi lebih kecil. Tujuannya untuk membuat kondisi tanah berpori lebih menjadi lebih kecil. Tujuannya untuk membuat kondisi tanah berpori lebih banyak dan lebih remah sehingga permuk
banyak dan lebih remah sehingga permukaan tanah mudah dibentuk sesuai denganaan tanah mudah dibentuk sesuai dengan yang diinginkan (Dinas Perkebunan, 2004). Dilakukan dengan menggunakan yang diinginkan (Dinas Perkebunan, 2004). Dilakukan dengan menggunakan implement Rome Master
implement Rome Master dengan alat tarikdengan alat tarik Crowler-D5Crowler-D5. Penggemburan untuk. Penggemburan untuk tanah ringan boleh ditarik dengan traktor roda ban.
tanah ringan boleh ditarik dengan traktor roda ban.
3. Pembuatan juringan (
3. Pembuatan juringan ( furrowing furrowing ))
Sesudah tanah dibajak dan digembur maka pekerjaan pembuatan alur Sesudah tanah dibajak dan digembur maka pekerjaan pembuatan alur tanaman dapat dimulai. Alat yang digunakan adalah
tanaman dapat dimulai. Alat yang digunakan adalah furrower furrower dengan kedalamandengan kedalaman juringan
juringan 25-30 25-30 cm cm yang yang ditarik ditarik dengan dengan traktor traktor rantai rantai atau atau traktor traktor ban. ban. Pada Pada satusatu kali jalan dibuat 2 sampai 3 alur. J
kali jalan dibuat 2 sampai 3 alur. Jarak antar juringan adalah 135 cmarak antar juringan adalah 135 cm 2. Pembibitan
2. Pembibitan
Bibit merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan tebu Bibit merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan tebu giling. Bibit yang bermutu baik dan sehat akan menghasilkan tanaman yang baik giling. Bibit yang bermutu baik dan sehat akan menghasilkan tanaman yang baik dan sehat pula. Penurunan produksi tebu antara lain disebabkan pemakaian bibit dan sehat pula. Penurunan produksi tebu antara lain disebabkan pemakaian bibit yang kurang baik. Bibit bisa didapatkan dari :
yang kurang baik. Bibit bisa didapatkan dari : a. Bibit pucuk
a. Bibit pucuk
Bibit ini berasal dari
Bibit ini berasal dari pucuk batang tebu giling. Untuk keperluan ini, dipilihpucuk batang tebu giling. Untuk keperluan ini, dipilih tebu yang baik dan sehat serta yang tidak banyak bercampur dengan jenis-jenis tebu yang baik dan sehat serta yang tidak banyak bercampur dengan jenis-jenis
tebu lain. Daun kering yang membungkus bibit tidak diklentek/dilepas, karena tebu lain. Daun kering yang membungkus bibit tidak diklentek/dilepas, karena dapat melindungi mata dari kerusakan.
dapat melindungi mata dari kerusakan.
b. Bibit kebun b. Bibit kebun
Bibit ini merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai Bibit ini merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan
penyediaan bahan bahan tanam tanam bagi bagi kebun kebun tebu tebu giling. giling. Lokasi Lokasi kebun kebun pembibitanpembibitan diusahakan dekat dengan areal tebu
diusahakan dekat dengan areal tebu giling.giling.
c. Bibit mentah/bibit krecekan c. Bibit mentah/bibit krecekan
Bibit ini berasal dari tanaman yang berumur 0-7 bulan. Bibit ini dipotong Bibit ini berasal dari tanaman yang berumur 0-7 bulan. Bibit ini dipotong tanpa mengklentek daun pembungkusnya agar mata-mata tunas tidak rusak.
tanpa mengklentek daun pembungkusnya agar mata-mata tunas tidak rusak.
d. Bibit seblangan d. Bibit seblangan
Bibit ini diambil dari tanaman yang telah tumbuh untuk mencukupi Bibit ini diambil dari tanaman yang telah tumbuh untuk mencukupi penyulaman. Bibit yang diambil jika tanaman sudah berumur 1
penyulaman. Bibit yang diambil jika tanaman sudah berumur 16-18 hari atau yang6-18 hari atau yang telah bermata tunas dua.
telah bermata tunas dua.
e. Bibit siwilan e. Bibit siwilan
Jika tanaman sudah tidak tumbuh atau pucuknya mati, maka keluarlah Jika tanaman sudah tidak tumbuh atau pucuknya mati, maka keluarlah tunas-tunas yang disebut siwilan. Siwilan ini bisanya digunakan untuk tunas-tunas yang disebut siwilan. Siwilan ini bisanya digunakan untuk penyulaman
penyulaman (Sutardjo, 1994).(Sutardjo, 1994).
Jenjang bibit kebun atau kebun pembibitan adalah sebagai berikut : Jenjang bibit kebun atau kebun pembibitan adalah sebagai berikut :
• Kebun Bibit Pokok Utama (KBPU)
• Kebun Bibit Pokok Utama (KBPU)
KBPU adalah kebun bibit yang diselenggarakan oleh P3GI (Pusat KBPU adalah kebun bibit yang diselenggarakan oleh P3GI (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia) Pasuruan. Kemurniannya berada dibawah Penelitian Perkebunan Gula Indonesia) Pasuruan. Kemurniannya berada dibawah pengawasan Pemulian Tanaman. KBPU
pengawasan Pemulian Tanaman. KBPU ditanam pada bulan Juli-Agustus.ditanam pada bulan Juli-Agustus.
• Kebun Bibit Pokok (KBP)
• Kebun Bibit Pokok (KBP)
KBP merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai KBP merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan bahan tanam bagi kebun nenek. Kebun ini menggunakan bahan tanam penyediaan bahan tanam bagi kebun nenek. Kebun ini menggunakan bahan tanam yang berasal dari KBPU. Kebun ini dikelola oleh Riset Pengembangan. KBP yang berasal dari KBPU. Kebun ini dikelola oleh Riset Pengembangan. KBP ditanam pada bulan Januari-Februari.
ditanam pada bulan Januari-Februari.
• Kebun Bibit Nenek (KBN)
• Kebun Bibit Nenek (KBN)
KBN merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai KBN merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan
penyediaan bahan bahan tanam tanam bagi bagi kebun kebun bibit bibit induk. induk. Kebun iKebun ini ni menggunakan menggunakan bahanbahan
tanam yang berasal dari KBP. Kebun ini dikelola oleh Riset Pengembangan. KBN tanam yang berasal dari KBP. Kebun ini dikelola oleh Riset Pengembangan. KBN ditanam pada bulan Juli-Agustus.
ditanam pada bulan Juli-Agustus.
• Kebun Bibit Induk (KBI)
• Kebun Bibit Induk (KBI)
KBI merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai KBI merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan
penyediaan bahan bahan tanam tanam bagi bagi kebun kebun bibit bibit datar. datar. Kebun Kebun ini ini menggunakan menggunakan bahanbahan tanam yang berasal dari KBN. Kebun ini dikelola oleh Asisten Afdeling. KBI tanam yang berasal dari KBN. Kebun ini dikelola oleh Asisten Afdeling. KBI ditanam pada bulan Januari-Februari.
ditanam pada bulan Januari-Februari.
• Kebun Bibit Datar (KBD)
• Kebun Bibit Datar (KBD)
KBD merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai KBD merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan
penyediaan bahan bahan tanam tanam bagi bagi kebun kebun tebu tebu giling. giling. Kebun Kebun ini ini menggunakan menggunakan bahanbahan tanam yang berasal dari KBI. Kebun ini dikelola oleh Asisten Afdeling. KBD tanam yang berasal dari KBI. Kebun ini dikelola oleh Asisten Afdeling. KBD ditanam pada bulan Juli-Oktober.
ditanam pada bulan Juli-Oktober.
Gambar 1. Pola pembibitan tebu PTPN II Sumatera Utara Gambar 1. Pola pembibitan tebu PTPN II Sumatera Utara 3. Penanaman
3. Penanaman
Bibit yang digunakan di lahan sawah dapat berupa bibit bagal atau bibit Bibit yang digunakan di lahan sawah dapat berupa bibit bagal atau bibit rayungan. Umumnya digunkaan bibit dengan 2 mata untuk menjaga kepastian rayungan. Umumnya digunkaan bibit dengan 2 mata untuk menjaga kepastian tumbuh. Dalam satu meter juringan ditanam 5
tumbuh. Dalam satu meter juringan ditanam 5 – – 6 stek bibit. Waktu tanam yang 6 stek bibit. Waktu tanam yang ideal untuk tebu sawah adalah bulan Mei
ideal untuk tebu sawah adalah bulan Mei – – Juni, sehingga pada saat panen bulan Juni, sehingga pada saat panen bulan Juli
Juli – – September tanaman sudah cukup masak dan memiliki bobot tebu yang September tanaman sudah cukup masak dan memiliki bobot tebu yang tinggi.
tinggi.
Penanaman bibit diusahakan agar mata bibit menghadap ke samping.
Penanaman bibit diusahakan agar mata bibit menghadap ke samping.
Apabila mata bibit menghadap keatas maka tunas akan muncul lebih dulu pada Apabila mata bibit menghadap keatas maka tunas akan muncul lebih dulu pada permukaan
permukaan tanah tanah daripada daripada mata mata bibit bibit yang yang menghadap menghadap kebawah. kebawah. KeadaanKeadaan tersebut disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan oleh tunas untuk mencapai tersebut disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan oleh tunas untuk mencapai permukaan
permukaan tanah tanah menjadi menjadi dua dua kali kali lebih lebih lama, lama, secara secara perhitungan perhitungan jaraknya jaraknya sajasaja sudah jelas lebih jauh untuk mencapai permukaan tanah sehingga mengakibatkan sudah jelas lebih jauh untuk mencapai permukaan tanah sehingga mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam dan pertumbu
pertumbuhan tidak seragam dan pertumbuhan tunas terganggu.han tunas terganggu.
1. Bibit Bagal/debbeltop/generasi 1. Bibit Bagal/debbeltop/generasi
Tanah kasuran harus diratakan dahulu, kemudian tanah digaris dengan alat Tanah kasuran harus diratakan dahulu, kemudian tanah digaris dengan alat yang runcing dengan kedalaman + 5-10 cm. Bibit dimasukkan ke dalam bekas yang runcing dengan kedalaman + 5-10 cm. Bibit dimasukkan ke dalam bekas garisan dengan mata bibit menghadap ke samping. Selanjutnya bibit ditimbun garisan dengan mata bibit menghadap ke samping. Selanjutnya bibit ditimbun dengan tanah.
dengan tanah.
2. Bibit Rayungan (bibit yang telah tumbuh di
2. Bibit Rayungan (bibit yang telah tumbuh di kebun bibitkebun bibit))
Jika bermata (tunas) satu: batang bibit terpendam dan tunasnya Jika bermata (tunas) satu: batang bibit terpendam dan tunasnya menghadap ke samping dan sedikit miring, + 45 derajat. Jika bibit rayungan menghadap ke samping dan sedikit miring, + 45 derajat. Jika bibit rayungan bermata
bermata dua; dua; batang batang bibit bibit terpendam terpendam dan dan tunas tunas menghadap menghadap ke ke samping samping dengandengan kedalaman + 1 cm.
kedalaman + 1 cm.
3. Sebaiknya, bibit bagal (stek) dan rayungan ditanam secara terpisah di dalam 3. Sebaiknya, bibit bagal (stek) dan rayungan ditanam secara terpisah di dalam petak-petak tersendiri supaya pertumbuhan tanaman merata.
petak-petak tersendiri supaya pertumbuhan tanaman merata.
- Penyulaman - Penyulaman
1.
1.
Sulam sisipan, dikerjakan 5 - 7 hari setelah tanam, yaitu untuk tanamanSulam sisipan, dikerjakan 5 - 7 hari setelah tanam, yaitu untuk tanaman rayungan bermata satu.
rayungan bermata satu.
2.
2.
Sulaman ke - 1, dikerjakan pada umur 3 minggu dan berdaun 3 - 4 helai.Sulaman ke - 1, dikerjakan pada umur 3 minggu dan berdaun 3 - 4 helai.
Bibit dari rayungan bermata dua atau pembibitan.
Bibit dari rayungan bermata dua atau pembibitan.
3.
3.
Penyulaman yang berasal dari ros/pucukan tebu dilakukan ketika tanamanPenyulaman yang berasal dari ros/pucukan tebu dilakukan ketika tanaman berumur + 1 bulan
berumur + 1 bulan 4.
4.
Penyulaman ke-2 harus selesai sebelum pembubunan, bersama sama denganPenyulaman ke-2 harus selesai sebelum pembubunan, bersama sama dengan pemberian air ke - 2 atau rabuk ke-2 yaitu umur 1,
pemberian air ke - 2 atau rabuk ke-2 yaitu umur 1,5 bulan5 bulan 5.
5.
Penyulaman ekstra bila perlu, yaitu sebelum bumbun ke -2Penyulaman ekstra bila perlu, yaitu sebelum bumbun ke -2 - Pemupukan
- Pemupukan
Tujuanya Tujuanya adalah adalah untuk untuk menambah menambah unsur unsur hara hara di di dalam dalam tanah tanah yangyang dibutuhkan oleh tanaman. Dosis setiap daerah lainya tergantung dari hasil analisa dibutuhkan oleh tanaman. Dosis setiap daerah lainya tergantung dari hasil analisa hara dalam tanah. J
hara dalam tanah. Jenis pupuk : ZA, TSP, KCL.enis pupuk : ZA, TSP, KCL.
Dosis pupuk/jenis pupuk Dosis pupuk/jenis pupuk ::
Waktu Pemupukan : Waktu Pemupukan :
Pupuk I : 1 s/d 7 hari setelah tanam, TSP : 100 % dosis , ZA : 30 % s/d 70 Pupuk I : 1 s/d 7 hari setelah tanam, TSP : 100 % dosis , ZA : 30 % s/d 70
% dosis. Pupuk II : 1 bulan setelah pupuk 1 ; ZA :
% dosis. Pupuk II : 1 bulan setelah pupuk 1 ; ZA : 30 % s/d 70 % (sisanya), KCL :30 % s/d 70 % (sisanya), KCL : 100 % dosis. Pemupukan dengan ditegal/lencog dan ditutup tanah.
100 % dosis. Pemupukan dengan ditegal/lencog dan ditutup tanah.
- Penyiraman / Pengairan - Penyiraman / Pengairan
Tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan Air bagi Proses Tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan Air bagi Proses Pertumbuhan Tanaman. Kekurangan air akan sangat berpengaruh pada Produksi.
Pertumbuhan Tanaman. Kekurangan air akan sangat berpengaruh pada Produksi.
Dalam pelaksanaannya Pengairan meliputi : Dalam pelaksanaannya Pengairan meliputi :
a. Ebor Muka Tanam, dilakukan sebelum bibit ditanam untuk membuat kondisi a. Ebor Muka Tanam, dilakukan sebelum bibit ditanam untuk membuat kondisi tanah basah.
tanah basah.
b.
b. Sirat Sirat Patri, Patri, dilakukan dilakukan 33 – – 4 hari setelah tanam dengan tujuan memacu 4 hari setelah tanam dengan tujuan memacu perkecambahan tunas dan mempercepat pertumbuhan akar.
perkecambahan tunas dan mempercepat pertumbuhan akar.
c. Ebor Pupuk I, dilakukan setelah Pupuk I dengan tujuan melarutkan pupuk c. Ebor Pupuk I, dilakukan setelah Pupuk I dengan tujuan melarutkan pupuk supaya segera dapat diserap oleh Tanaman.
supaya segera dapat diserap oleh Tanaman.
d. Ebor Pupuk II, dilakukan setelah Pupuk II dengan tujuan melarutkan pupuk d. Ebor Pupuk II, dilakukan setelah Pupuk II dengan tujuan melarutkan pupuk supaya segera dapat diserap oleh Tanaman.
supaya segera dapat diserap oleh Tanaman.
e. Ebor Muka Bumbun II, bertujuan untuk menghancurkan lungko agar dalam e. Ebor Muka Bumbun II, bertujuan untuk menghancurkan lungko agar dalam pelaksanaan Bumbun II nantiny
pelaksanaan Bumbun II nantinya akan didapatkan tanah yang halus.a akan didapatkan tanah yang halus.
f. Ebor Muka Bumbun III, bertujuan untuk memberikan air yang cukup untuk f. Ebor Muka Bumbun III, bertujuan untuk memberikan air yang cukup untuk tanaman juga untuk memudahkan pelaksanaan Bumbun III.
tanaman juga untuk memudahkan pelaksanaan Bumbun III.
g. Ebor Garbu Muka Gulud, diberikan dalam jumlah yang cukup banyak karena g. Ebor Garbu Muka Gulud, diberikan dalam jumlah yang cukup banyak karena tanah yang diolah adalah tanah waras. Tujuannya adalah untuk memudahkan tanah yang diolah adalah tanah waras. Tujuannya adalah untuk memudahkan pelaksanaan Garbu.
pelaksanaan Garbu.
h. Ebor Muka Gulud, diberikan pada tanah
h. Ebor Muka Gulud, diberikan pada tanah guludan yang telah digarbu. Tujuannyaguludan yang telah digarbu. Tujuannya adalah agar tanah blabagan
adalah agar tanah blabagan menjadi gembur dan mudah dibuat guludan.menjadi gembur dan mudah dibuat guludan.
- Pembubunan Tanah - Pembubunan Tanah
1.
1.
Pembumbunan ke-1 dilakukan pada umur 3-4 minggu, yaitu berdaun 3 - 4Pembumbunan ke-1 dilakukan pada umur 3-4 minggu, yaitu berdaun 3 - 4 helai. Pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan rumput- helai. Pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan rumput- rumputan, membalik guludan dan menghancurkan tanah (jugar) lalu rumputan, membalik guludan dan menghancurkan tanah (jugar) lalu tambahkan tanah ke tanaman sehingga tertimbun tanah.
tambahkan tanah ke tanaman sehingga tertimbun tanah.
2.
2.
Pembumbunan ke - 2 dilakukan jika anakan tebu sudah lengkap dan cukupPembumbunan ke - 2 dilakukan jika anakan tebu sudah lengkap dan cukup besar
besar + + 20 20 cm, cm, sehingga sehingga tidak tidak dikuatirkan dikuatirkan rusak rusak atau atau patah patah sewaktusewaktu ditimbun tanah atau + 2 bulan.
ditimbun tanah atau + 2 bulan.
3.
3.
Pembumbunan ke-3 atau bacar dilakukan pada umur 3 bulan, semua gotPembumbunan ke-3 atau bacar dilakukan pada umur 3 bulan, semua got harus diperdalam ; got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm.
harus diperdalam ; got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm.
4. Penyiangan 4. Penyiangan
Penyiangan adalah membuang rumput-rumput yang tumbuh di kebun, Penyiangan adalah membuang rumput-rumput yang tumbuh di kebun, supaya jangan mengadakan pesaingan dengan tanaman tebu dan merintangi supaya jangan mengadakan pesaingan dengan tanaman tebu dan merintangi tumbuhnya. Penyiangan dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan tumbuhnya. Penyiangan dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan cangkul Koret (Adisewojo, 1991).
cangkul Koret (Adisewojo, 1991).
5. Klentek (pelepasan daun kering) 5. Klentek (pelepasan daun kering)
Klentek bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi udara dan kebersihan Klentek bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi udara dan kebersihan kebun, memperbanyak sinar matahari yang masuk mengenai batang tebu dan kebun, memperbanyak sinar matahari yang masuk mengenai batang tebu dan meningkatkan kualitas tebangan. Daun yang diklentek adalah daun kering yang meningkatkan kualitas tebangan. Daun yang diklentek adalah daun kering yang kelopak daunnya sudah membuka 50%. Klentek dilakukan pada saat tanaman kelopak daunnya sudah membuka 50%. Klentek dilakukan pada saat tanaman berumur
berumur ± ± 6 6 bulan, bulan, apabila apabila diperlukan diperlukan klentek klentek bisa bisa dilakukan dilakukan lagi lagi pada pada saatsaat tanaman berumur ±
tanaman berumur ± 8 bulan 8 bulan (PTPN II, 200(PTPN II, 2008).8).
6. Hama dan Penyakit 6. Hama dan Penyakit Hama
Hama
Hama merupakan binatang pengganggu tanaman. Gangguan dilakukan Hama merupakan binatang pengganggu tanaman. Gangguan dilakukan dengan cara menghisap atau memakan bagian tanaman. Beberapa hama penting dengan cara menghisap atau memakan bagian tanaman. Beberapa hama penting yang sering menyerang tanaman tebu antara lain :
yang sering menyerang tanaman tebu antara lain : 1.
1.
Penggerek Pucuk (Penggerek Pucuk (Tryporina nivellaTryporina nivella))
Hama ini berupa ulat yang menyerang pucuk tanaman sehingga Hama ini berupa ulat yang menyerang pucuk tanaman sehingga mematikan titik tumbuh.
mematikan titik tumbuh.
2.
2.
Penggerek Batang (Penggerek Batang ( Phragmatoecia castaneae Phragmatoecia castaneae) Hama ini berupa ulat yang) Hama ini berupa ulat yang merusak ruas-ruas batang tebu sehingga pada serangan yang parah dapat merusak ruas-ruas batang tebu sehingga pada serangan yang parah dapat merobohkan tanaman.
merobohkan tanaman.
3.
3.
Kutu Bulu Putih (Kutu Bulu Putih (Ceratovacuna laniagaraCeratovacuna laniagara))
Pada daun-daun yang mulai nampak ada kutu bulu putih segera dipangkas, Pada daun-daun yang mulai nampak ada kutu bulu putih segera dipangkas, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk dimusnahkan atau kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk dimusnahkan atau dibakar.
dibakar.
4.
4.
UretUret
Hama ini menyerang akar dan pangkal tanaman tebu. Tanaman yang Hama ini menyerang akar dan pangkal tanaman tebu. Tanaman yang terserang menampakkan gejala kelayuan daun.
terserang menampakkan gejala kelayuan daun.
5.
5.
TikusTikus
Hama ini menyerang tanaman berumur kurang dari satu bulan. Tanaman Hama ini menyerang tanaman berumur kurang dari satu bulan. Tanaman yang terserang akan mati. (Muljana, 1983).
yang terserang akan mati. (Muljana, 1983).
Penyakit Penyakit
1.
1.
Penyakit Pokkahbung (Penyakit Pokkahbung (Gibbrela moniliformisGibbrela moniliformis))
Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur dan terutama timbul di Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur dan terutama timbul di musimhujanTanda-tanda penyakit ini adalah pada daun muda terlihat musimhujanTanda-tanda penyakit ini adalah pada daun muda terlihat memutih (
memutih (chlorosischlorosis). Pokkahbung adalah salah satu jenis penyakit yang). Pokkahbung adalah salah satu jenis penyakit yang sangat berbahaya bagi tanaman tebu, terutama di daerah beriklim basah sangat berbahaya bagi tanaman tebu, terutama di daerah beriklim basah (Sutardjo, 1994).
(Sutardjo, 1994).
2.
2.
Penyakit Blendok (Penyakit Blendok ( Xanthomonas albilincans Xanthomonas albilincans))
Penyakit ini menyerang tanaman tebu berumur 1,5-2 bulan. Tanda-tanda Penyakit ini menyerang tanaman tebu berumur 1,5-2 bulan. Tanda-tanda penyakit
penyakit ini ini adalah adalah pada pada penampang penampang membujur membujur dari dari batang-batangbatang-batang kelihatan perubahan warna dari kuning sampai merah tua,
kelihatan perubahan warna dari kuning sampai merah tua, titik tumbuh dantitik tumbuh dan
tunas-tunas juga berwarna merah. Gejala penyakit ini akan lenyap bila tunas-tunas juga berwarna merah. Gejala penyakit ini akan lenyap bila hujan turun.
hujan turun.
3.
3.
Penyakit MosaikPenyakit Mosaik
Penyebab penyakit ini adalah virus mosaik. Tanda-tanda penyakit ini yaitu Penyebab penyakit ini adalah virus mosaik. Tanda-tanda penyakit ini yaitu pada
pada daun daun terdapat terdapat gambaran gambaran mosaik mosaik berupa berupa garis-garis garis-garis dan dan noda-nodanoda-noda berwarna hijau muda sampai kuning.
berwarna hijau muda sampai kuning.
4.
4.
Penyakit Luka Api (Penyakit Luka Api (Smut Smut )) Penyebab penyakit ini adalah
Penyebab penyakit ini adalah Ustilago scitaminea syd Ustilago scitaminea syd . Gejala penyakit ini. Gejala penyakit ini adalah timbul cambuk hitam pada pucuk tebu.
adalah timbul cambuk hitam pada pucuk tebu.
5.
5.
Penyakit PembuluhPenyakit Pembuluh
Penyebab penyakit ini adalah bakteri
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Clavibacter xylisubsp xyliClavibacter xylisubsp xyli. Tanaman. Tanaman yang terserang menampakkan gejala pertumbuhan yang kurang sempurna yang terserang menampakkan gejala pertumbuhan yang kurang sempurna terutama tanaman keprasan tampak kerdil (Dinas Perkebunan, 1994).
terutama tanaman keprasan tampak kerdil (Dinas Perkebunan, 1994).
Panen Panen
Tebang Muat Angkut (TMA) adalah tiga kegiatan
Tebang Muat Angkut (TMA) adalah tiga kegiatan yang tidak dapat dipisahyang tidak dapat dipisah dalam rangka memungut hasil batang tebu layak giling untuk dibawa ke pabrik.
dalam rangka memungut hasil batang tebu layak giling untuk dibawa ke pabrik.
Kegiatan TMA dapat mempengaruhi kualitas kadar gula jika tidak ditangani Kegiatan TMA dapat mempengaruhi kualitas kadar gula jika tidak ditangani dengan baik. Di lapangan kegiatan TMA masih jauh dari yang diharapkan.
dengan baik. Di lapangan kegiatan TMA masih jauh dari yang diharapkan.
Walaupun telah memperoleh pengalaman, namun untuk mendapatkan tenaga Walaupun telah memperoleh pengalaman, namun untuk mendapatkan tenaga tebang yang terampil sangat sulit untuk diharapkan. Umumnya tenaga tebang tebang yang terampil sangat sulit untuk diharapkan. Umumnya tenaga tebang lebih banyak dilakukan oleh tenaga perempuan dari pada pria (Dinas Perkebunan, lebih banyak dilakukan oleh tenaga perempuan dari pada pria (Dinas Perkebunan, 2004).
2004).
Tebang Tebang
Tebangan baik untuk PC (tanaman yang berasal dari bibit baru) maupun Tebangan baik untuk PC (tanaman yang berasal dari bibit baru) maupun Ratoon (tanaman yang tumbuh setelah penebangan
Ratoon (tanaman yang tumbuh setelah penebangan plant plant canecane) dilakukan dalam) dilakukan dalam bentuk tebu segar (
bentuk tebu segar ( green cane green cane). Waktu penebangan dan giling adalah Januari-Juli.). Waktu penebangan dan giling adalah Januari-Juli.
Untuk menentukan waktu tebangan maka faktor yang perlu dipertimbangkan Untuk menentukan waktu tebangan maka faktor yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut :
adalah sebagai berikut :
Umur 10-12 bulan dan dapat dilihat dari masa tanamnyaUmur 10-12 bulan dan dapat dilihat dari masa tanamnya
Gejala-gejala visual antara lain daun-daun tanaman tebu secara keseluruhanGejala-gejala visual antara lain daun-daun tanaman tebu secara keseluruhan telah menguning
telah menguning
Nilai Nilai Kemasakan Kemasakan Tebu, Tebu, dengan dengan adanya adanya Analisa Analisa Pendahuluan Pendahuluan untukuntuk mengetahui Faktor Kemasakan, Kosien Peningkatan dan Kosien
mengetahui Faktor Kemasakan, Kosien Peningkatan dan Kosien Daya Tahan.Daya Tahan.
Rencana Kapasitas Giling PabrikRencana Kapasitas Giling Pabrik Pemeliharaan Tanaman Keprasan Pemeliharaan Tanaman Keprasan
Pekerjaan Kepras harus dilakukan secepat mungkin setelah ditebang. Hal Pekerjaan Kepras harus dilakukan secepat mungkin setelah ditebang. Hal ini bertujuan agar Tunas yang dikepras masih dalam keadaan segar sehingga ini bertujuan agar Tunas yang dikepras masih dalam keadaan segar sehingga pertumbuhan
pertumbuhan tunas tunas nantinya nantinya baik. baik. Sebelum Sebelum Keprasan Keprasan perlu perlu dilakukandilakukan Pembersihan dan Pembakaran sisa-sisa tanaman dan daduk. Keprasan dilakukan Pembersihan dan Pembakaran sisa-sisa tanaman dan daduk. Keprasan dilakukan dengan cara manual menggunakan cangkul. Bentuk hasil Keprasan melihat dengan cara manual menggunakan cangkul. Bentuk hasil Keprasan melihat apakah tanaman tersebut bekas TS I atau bekas keprasan yang sudah dikepras apakah tanaman tersebut bekas TS I atau bekas keprasan yang sudah dikepras berulang-ulang. Untuk
berulang-ulang. Untuk bekas bekas tanaman tanaman TS TS I I dibuat dibuat MoModel “U“, sedangkan untukdel “U“, sedangkan untuk bekas keprasan yang sudah dikepras berkali-
bekas keprasan yang sudah dikepras berkali-kali dibuat Model “W”.kali dibuat Model “W”.
Pemeliharaan Tanaman Keprasan pada dasarnya sama dengan Pemeliharaan Tanaman Keprasan pada dasarnya sama dengan Pemeliharaan Tanaman TS I, hanya yang membedakan adalah : Pemeliharaan Tanaman TS I, hanya yang membedakan adalah : - PEDOT OYOT, dilakukan segera setelah dikepras. Tujuannya adalah untuk - PEDOT OYOT, dilakukan segera setelah dikepras. Tujuannya adalah untuk memutus akar lama dan mendorong tumbuhnya akar-akar baru yang sehat dan memutus akar lama dan mendorong tumbuhnya akar-akar baru yang sehat dan kuat, juga berguna
kuat, juga berguna
Budidaya Tebu Lahan Kering ( Tegalan ) Budidaya Tebu Lahan Kering ( Tegalan )
‐‐
Penggarapan tanah.Penggarapan tanah.Waktu pengolahan tanah menjelang musim kemarau (periode I ) dan atau Waktu pengolahan tanah menjelang musim kemarau (periode I ) dan atau menjelang musim penghujan ( periode II ). Pembuatan got ditegalan hanya menjelang musim penghujan ( periode II ). Pembuatan got ditegalan hanya didaerah beriklim B1 dan B2 (daerah basah ) pada periode I Pengolahan tanah didaerah beriklim B1 dan B2 (daerah basah ) pada periode I Pengolahan tanah dengan membongkar, membalik dan menghancurkan tanah. Tanah yang diolah dengan membongkar, membalik dan menghancurkan tanah. Tanah yang diolah minimal 30 cm ; Pengolahan anah bertekstur berat dapat menggunakan bajak atau minimal 30 cm ; Pengolahan anah bertekstur berat dapat menggunakan bajak atau garu yang ditarik traktor. Tanah bertekstur sedang diolah dengan tenaga manusia.
garu yang ditarik traktor. Tanah bertekstur sedang diolah dengan tenaga manusia.
Diakhir pengolahan tanah dilakukan pembuatan kairan/jolangan sedalam 25 Diakhir pengolahan tanah dilakukan pembuatan kairan/jolangan sedalam 25
‐‐
3030 cm, jarak antara pusat kepusat 95cm, jarak antara pusat kepusat 95
‐‐
125 cm, panjang kairan sekitar 50 m 125 cm, panjang kairan sekitar 50 m tergantung keadaan lahan.tergantung keadaan lahan.
‐‐
Bahan tanamanBahan tanamanBibit bagal dari KBD dengan 3
Bibit bagal dari KBD dengan 3
‐‐
4 mata tunas ; 4 mata tunas ;Bibit pucuk (top stek )
Bibit pucuk (top stek ) panjang 35panjang 35
‐‐
40 cm 40 cm;;‐‐
PenanamanPenanamanWaktu tanam untuk periode I bulan mei dan juli sedangkan periode II Waktu tanam untuk periode I bulan mei dan juli sedangkan periode II September
September
‐‐
Nopember. Bibit diletakan pada jaringan/jolangan dengan mata tunas Nopember. Bibit diletakan pada jaringan/jolangan dengan mata tunas disamping.disamping. Bibit ditutup tanah setebal 3 cm (periode I ) dan 5 cm Bibit ditutup tanah setebal 3 cm (periode I ) dan 5 cm ( periode II ) ;( periode II ) ;
‐‐
PenyulamanPenyulamanPenyulaman I tanaman umur 2 minggu.
Penyulaman I tanaman umur 2 minggu.
Penyulaman 2 tanaman umur 4 minggu.
Penyulaman 2 tanaman umur 4 minggu.
Bibit sulaman dan sumpingan yang ditanam diujung jolangan.
Bibit sulaman dan sumpingan yang ditanam diujung jolangan.
- Pemupukan - Pemupukan
‐‐
PembumbunanPembumbunanBumbun I : Setelah pemupukan II, Bumbun 2 setelah tanaman berumur 3 Bumbun I : Setelah pemupukan II, Bumbun 2 setelah tanaman berumur 3 –
– 3,5 bulan (semua tunas telah tumbuh) 3,5 bulan (semua tunas telah tumbuh)
‐‐
Penyiangan, pengendalian hama penyakit dan penebangan dilakukanPenyiangan, pengendalian hama penyakit dan penebangan dilakukan seperti pada tebu lahan sawah.seperti pada tebu lahan sawah.
‐‐
Tanaman Keprasan ( TRIT IITanaman Keprasan ( TRIT II‐‐
IV ). IV ).Tebu lahan kering dapat dikepras sampai 3 x ; Tebu lahan kering dapat dikepras sampai 3 x ; Pengeprasan seperti tebu pada lahan sawah ; Pengeprasan seperti tebu pada lahan sawah ; Pemeliharaan TRIT II
Pemeliharaan TRIT II
‐‐
IV hampir sama dengan TRIT I : IV hampir sama dengan TRIT I :
Pemupukan TRIT II
Pemupukan TRIT II
‐‐
IV : IV :
Pemupukan I : TSP 100% dosis, ZA 30Pemupukan I : TSP 100% dosis, ZA 30 – – 70%, dilakukan 2 minggu setelah 70%, dilakukan 2 minggu setelah kepras.
kepras.
Pemupukan I : ZA 70Pemupukan I : ZA 70 – – 30% (sisanya), KCL diberikan 6 minggu setelah 30% (sisanya), KCL diberikan 6 minggu setelah kepras.
kepras.
Diberikan dengan cara ditabur dalam alur yang dibuat didekat tanamanDiberikan dengan cara ditabur dalam alur yang dibuat didekat tanaman kemudian ditutup tanah atau dengan cara
kemudian ditutup tanah atau dengan cara ditugal.ditugal.
Pengolahan gula putih, perhitungan rendemen dan bagi
Pengolahan gula putih, perhitungan rendemen dan bagi hasilhasil..
Pengolahan.
Pengolahan.
Setelah tebu di panen/ditebang diangkut ke pabrik gula untuk diolah Setelah tebu di panen/ditebang diangkut ke pabrik gula untuk diolah menjadi gula putih dengan menggunakan peralatan yang sebagian besar bekerja menjadi gula putih dengan menggunakan peralatan yang sebagian besar bekerja secara otomatis ;
secara otomatis ;
Beberapa tahap pengolahan gula putih yaitu : pemerahan cairan tebu ( Beberapa tahap pengolahan gula putih yaitu : pemerahan cairan tebu ( nira), penjernihan, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, pengeringan nira), penjernihan, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, pengeringan pengemasan dan penyimpanan.
pengemasan dan penyimpanan.
Rendemen Rendemen
Rendemen adalah persentase perbandingan antara gula yang dihasilkanRendemen adalah persentase perbandingan antara gula yang dihasilkan dengan sejumlah tebu yang digiling ;
dengan sejumlah tebu yang digiling ;
Beberapa macam rendemen yang dikenal antara Beberapa macam rendemen yang dikenal antara lain rendemen contoh ( untuklain rendemen contoh ( untuk menentukan kemasakan optimal tanaman tebu ), rendemen sementara, menentukan kemasakan optimal tanaman tebu ), rendemen sementara, rendemen efektif.
rendemen efektif.
Prosedur perhitungan rendemen dan bagi hasil.Prosedur perhitungan rendemen dan bagi hasil.
Pengendalian beberapa penyakit
Pengendalian beberapa penyakit
‐‐
Hama tikusHama tikus dikendalikan dengan pengumpanan menggunakan pestisida dandikendalikan dengan pengumpanan menggunakan pestisida dan gropyokan yang dilakukan secara terpadugropyokan yang dilakukan secara terpadu
‐‐
Hama penggerek batangHama penggerek batang ;;
Diroges ;Diroges ;
Pelepasan Trichogramma nanun, T. minutun atau T Australian. ;Pelepasan Trichogramma nanun, T. minutun atau T Australian. ;
Pelepasan Diatracophaga ( Lalat jatiroto ). ;Pelepasan Diatracophaga ( Lalat jatiroto ). ;
Dengan insektisida.Dengan insektisida.
‐‐
Hama penggerek pucuk :Hama penggerek pucuk :
Pelepasan trichogramma japonium ; Pelepasan trichogramma japonium ;
Penyuntukan karbofuran ditengah batang atau melalui tanah dengan cara Penyuntukan karbofuran ditengah batang atau melalui tanah dengan cara ditugal ;
ditugal ;
‐‐
Hama Uret.Hama Uret.
Tanah disingkap dan hama uretnya dibunuh ;Tanah disingkap dan hama uretnya dibunuh ;
Insektisida ditaburkan pada dasar jolangan (sebelum tanam ).Insektisida ditaburkan pada dasar jolangan (sebelum tanam ).
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA
Booker Tate Ltd. 1999.
Booker Tate Ltd. 1999. Study of The Indonesian Sugar IndustryStudy of The Indonesian Sugar Industry, (Vol.1-3)., (Vol.1-3).
Research Report for Meneg BUMN, UK. Jakarta.
Research Report for Meneg BUMN, UK. Jakarta.
Dewan Gula Indonesia. 1999.
Dewan Gula Indonesia. 1999. Restrukturisasi Restrukturisasi Gula Gula Indonesia Indonesia April April 19991999..
Publikasi Interen DGI dan Bahan Diskusi Reformasi Gula Indonesia.
Publikasi Interen DGI dan Bahan Diskusi Reformasi Gula Indonesia.
Jakarta.
Jakarta.
Ditjen Bina Produksi Perkebunan. 2002.
Ditjen Bina Produksi Perkebunan. 2002. Program Program Akselerasi Akselerasi PeningkatanPeningkatan Produktivitas
Produktivitas GulaGula Nasional: Nasional: 2002-2007 2002-2007 , (Buku 1). Ditjen BPP Deptan,, (Buku 1). Ditjen BPP Deptan, Jakarta.
Jakarta.
Hadi, P.U., A.H. Malian, A. Djulin, A. Agustian, S.H. Suhartini dan S.H.
Hadi, P.U., A.H. Malian, A. Djulin, A. Agustian, S.H. Suhartini dan S.H.
Susilowati. 2002.
Susilowati. 2002. Kajian Perdagangan Internasional Kajian Perdagangan Internasional Komoditas PetanianKomoditas Petanian Indonesia
Indonesia Tahun 2001;Tahun 2001; Laporan Akhir Laporan Akhir PenelitianPenelitian. Pusat Penelitian Sosial. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.
Ekonomi Pertanian, Bogor.
Lembaga Penelitian IPB. 2002.
Lembaga Penelitian IPB. 2002. Studi Pengembangan Sistem Industri PergulaanStudi Pengembangan Sistem Industri Pergulaan Nasional
Nasional . Kerjasama antara Ditjen Bina Produksi Perkebunan dengan LP. Kerjasama antara Ditjen Bina Produksi Perkebunan dengan LP IPB, Bogor, Desember 2002.
IPB, Bogor, Desember 2002.
Malian, A.H., M. Ariani, K.S. Indraningsih, A.K. Zakaria, A. Askin dan J.
Malian, A.H., M. Ariani, K.S. Indraningsih, A.K. Zakaria, A. Askin dan J.
Hestina. 2004.
Hestina. 2004. Revitalisasi Revitalisasi Sistem Sistem dan dan Usaha Usaha Agribisnis Agribisnis GulaGula;; Laporan Laporan Akhir
Akhir . Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia (P3GI). 2003.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia (P3GI). 2003. StudiStudi Konsolidasi
Konsolidasi PergulaanPergulaan Nasional Nasional . Kerjasama Ditjen BPP Deptan dengan. Kerjasama Ditjen BPP Deptan dengan P3GI, Jakarta.
P3GI, Jakarta.
Sawit, M.H., Erwidodo, T. Kuntohartono, dan H.Siregar. 2003.
Sawit, M.H., Erwidodo, T. Kuntohartono, dan H.Siregar. 2003. Penyelamatan dan Penyelamatan dan Penyehatan
Penyehatan Industri Industri Gula Gula Nasional.Nasional. Naskah Naskah akademis akademis final final (19 (19 AgustusAgustus 2003).
2003).