PENYIMPANGAN DARI TAUHID
(Diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Ilmu Tauhid) Dosen Pengampu : Dr. H. M. Rozali, M.A
Disusun Oleh:
1. Abdul Wahid (0704213078) 2. Evha Astaviana (0704213035)
DIREVISI OLEH:
Abdul Wahid (0704213078)
BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Al-hamdulillahi rabbil ‘alamin kami ucapkan Puji dan syukur terhadap kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmu tauhid yang berjudul
“Penyimpangan dari Tauhid”.
Makalah ini disusun oleh penulis dan dibantu oleh pihak yang bersangkutan dalam pembuatannya sehingga dapat menyelesaikan makalah kami ini dengan lancar. Penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada pihak yang mau bekerja sama untuk membantu dalam pembuatan makalah.
Terlepas dari itu semua, penulis menyadari bahwa banyak terdapat kesalahan maupun kekurangan baik dari segi penulisan, tata letak, maupun referensi. Oleh sebab itu penulis menerima dengan pikiran terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pembaca agar bisa memperbaiki makalahnya.
Penulis berharap bahwa makalah ini nantinya akan membawa manfaat dan inspirasi bagi pembaca.
Medan, 27 Desember 2021
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...1
DAFTAR ISI...2
BAB I PENDAHULUAN...3
A. LATAR BELAKANG...3
B. RUMUSAN MASALAH...5
C. TUJUAN MASALAH...5
BAB II PEMBAHASAN...6
A. FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI...6
B. EFEK DARI PENYIMPANGAN TAUHID...15
C. CARA PENANGGULANGAN SIKAP PENYIMPANGAN TAUHID...17
BAB III PENUTUP...21
KESIMPULAN...21
DAFTAR PUSTAKA...23
BAB I
PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Tauhid adalah sebuah kata yang tidak asing lagi bagi kaum muslimin. Karena pada umumnya kita menginginkan atau bahkan telah mengaku sebagai seorang yang bertauhid.
Disamping itu, kata ‘tauhid’ ini sangat sering disampaikan oleh para penceramah baik pada waktu khutbah atau pengajian- pengajian. Akan tetapi bisa jadi masih banyak orang yang belum memahami hakikat dan kedudukan tauhid ini bagi kehidupan manusia, bahkan bagi yang telah merasa bertauhid sekalipun. Berangkat dari banyaknya pemahaman orang yang telah kabur tentang hakikat tauhid dan lupa akan kedudukannya yang begitu tinggi maka penjelasan yang gamblang tentang masalah ini sangat penting untuk disampaikan. Dan karena permasalahan tauhid merupakan permasalahan agama maka penjelasannya tidak boleh lepas dari sumber ilmu agama yaitu Al Quran dan As Sunnah dengan merujuk kepada penjelasan ahlinya, yaitu para ulama.1
Dalam hubungannya dengan agama Islam, menurut istilah, ia bermakna bahwa di dunia ini hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah rabbul’alamin. Tidak ada yang disebut Tuhan, atau dianggap sebagai Tuhan, atau dinobatkan sebagai Tuhan, selain Allah SWT. Jadi semua yang ada di alam semesta ini, adalah makhluk belaka. Tidak boleh ada yang pantas atau patut buat dipertuhankan. Pula nama Tuhan selain Allah, wajib tidak ada.
1 DR. H. Muhammad Hasbi, Ilmu Tauhid, hal-1
Jika masih ada sedikit saja kepercayaan selain-Nya, harus segera dikikis habis. Inilah yang disebut kepercayaan monoteisme. Yakni hanya percaya pada “satu Tuhan”.2
Ilmu Tahuid terkadang disebut juga “ilmu Aqaid” dan Ilmu I’tiqad”, karena ilmu ini membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keyakinan yang terpatri dalam hati.
Dalam kajian Islam, akidah berarti tali pengikat batin manusia dengan yang diyakininya sebagai Tuhan yang Esa yang patut disembah dan Pencipta serta Pengatur alam semesta ini. Akidah sebagai sebuah keyakinan kepada hakikat yang nyata yang tidak menerima keraguan dan bantahan. Apabila kepercayaan terhadap hakikat sesuatu itu masih ada unsur keraguan dan kebimbangan, maka tidak disebut akidah. Jadi akidah itu harus kuat dan tidak ada kelemahan yang membuka celah untuk dibantah.3
Penyimpangan adalah sikap tindak di luar ukuran (kaidah) yang berlaku. Jadi, Penyimpangan tauhid adalah sikap atau tindakan di luar dari kaidah ajaran tauhid. Penyimpangan dari aqidah atau tauhid yang benar adalah kehancuran dan kesesatan.
Karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang lama-kelamaan mungkin menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan menyudahi hidup, sekali pun
2 Nurnaningsih Nawawi, Aqidah Islam, hal-5
3 Kemenag RI, Dirjen Pendis, Buku Siswa Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas X, hal-4
dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang telah kehilangan hidayah aqidah yang benar.4
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja faktor yang melatarbelakangi penyimpangan tauhid?
2. Apa bahaya atau efek dari penyimpangan tauhid?
3. Bagaimana cara menanggulangi efek penyimpangan dari tauhid?
C. TUJUAN MASALAH
1. Mengetahui pengertian penyimpangan dari tauhid.
2. Mengetahui faktor apa saja yang melatarbelakangi penyimpangan dari tauhid.
3. Mengetahui cara menanggulangi efek penyimpangan dari tauhid.
4 https://masjidrayaalfalah.or.id/penyimpangan-aqidah-dan-cara-cara-penanggulangannya/
BAB II
PEMBAHASAN
A. FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI
Faktor yang melatarbelakangi penyimpangan dari tauhid adalah sebagai berikut:
1. Kebodohan terhadap ajaran tauhid atau aqidah yang benar
Sayyid Quthb berkata, “Aqidah Islamiyah adalah aqidah yang jelas, lurus dan murni. Tidak ada sedikitpun darinya yang tegak di atas persangkaan, dugaan atau syubhat. “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya,”
janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui dengan yakin dan belum engkau pastikan kebenarannya, baik berupa perkataan atau riwayat yang disampaikan, dari suatu zhahir yang ditafsirkan atau kenyataan yang dijelaskan sebabnya, dan dari hukum syar’i atau masalah keyakinan.5 Hal ini dikarenakan enggan dan malas mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya, sehingga tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal akidah yang benar dan sangat mudah disesatkan dan menyesatkan. Hal ini pernah terjadi pada kaum Nabi Musa yang begitu mudah disesatkan oleh Samiri, seperti firman Allah SWT:
ِم ْوََقْلٱ ِةََنيِز نّم اًراَز ْوَأ اَََنْلّمُح اّنِك َٰلَو اَََنِكْلَمِب َكَدَِعْوَم اَنْفَلْخَأ اَم ۟اوُلاَق
ّىِرِماّسلٱ ىَقْلَأ َكِل َٰذَكَف اَهَٰنْفَذَقَف
Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami
5 Sumber: https://muslim.or.id/17716-penghalang-ittiba-1-kebodohan-terhadap-ajaran- agama.html
disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya"
ٰى َََسوُم ُهَََٰلِإَو ْمُكُهَٰلِإ اَذَََٰه ۟اوُلاَََقَف ٌراَوََُخ ۥُهّل اًد َََسَج ًلْجِع ْمُهَل َجَرْخَأَََف
َى ََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََََسَنَف ِ
Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa". (QS. Thaha: 87-88)
Tidak mengenal kebodohan dan karakakteristiknya yang berbahaya dalam merusak keimanan dan pendirian hidup yang benar. Sebagaimana pernah dikatakan oleh Khalifah Umar bin Khattab,
ُفِرْعَي َل ْنَم ِم َلْسِلا ْيِف َأَشَن اَذِإ ًةَوْرُع ًةَوْرُع ملسلا ىرُع ُضَقْنُت امنإ
َةِيِلِهاَجلا
"Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu manakala dalam Islam terdapat orang-orang yang tumbuh tanpa mengenal (bahaya) kebodohan".
2. Ta’ashub (fanatik buta)
‘Asabiah atau ta’asub adalah istilah dalam Islam yang artinya fanatik buta. Taasub bukanlah sebuah kenikmatan ataupun sebuah keagungan melainkan sebuah penyakit yang secara sadar atau tidak sadar mampu menginfeksi siapa saja. Penyakit
ini termasuk penyakit yang berbahaya dan memiliki kemampuan untuk merusak tatanan syariat Islam. Fanatik buta merupakan adat-istiadat orang-orang yang lemah dan celah- celah kebodohan. Dimana jika seseorang tertimpa olehnya, akan membutakan mata dan akan merampas akalnya. Maka orang ini tidak bisa melihat kebaikan kecuali apa yang baik menurutnya, tidak bisa melihat kebenaran kecuali yang sesuai dengan madzhabnya atau orang-orang yang fanatik buat terhadapnya.
fanatik kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekali pun hal itu batil, dan mencampakkan apa yang menyalahinya, sekali pun hal itu benar.
Orang yang tertimpa ta’asub golongan atau ta’ashub syakhshi (orang tertentu selain Nabi Muhammad) akan tergelincir pada kesesatan dan enggan untuk mengikuti Yang Maha Benar lagi Maha Memberi Petunjuk. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala gambarkan dalam firman-Nya Al Qur'an surat Az- Zukhruf ayat 23-24, bahwa ta’asub benar-benar bisa membutakan mata dan merampas akal sehat sehingga barang siapa yang ada padanya penyakit ini maka dia tidak bisa lagi melihat kebenaran dan petunjuk.
اّنِاۙ اَََه ْوُفَرْتُم َلاَََق ّلِا ٍۙرْيِذّن ْنّم ٍةَََيْرَق ْيِف َكََِلْبَق ْنِم اَنْل َََسْرَا اَََم َكِل ٰذَََكَو
َن ْوُدَتْقّم ْمِهِرٰثٰا ى ٰٓلَع اّنِاّو ٍةّمُا ىٰٓلَع اَنَءۤاَبٰا اَنْدَجَو
Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata,
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut
suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak- jejak mereka.”
ٖهََِب ْمُتْل ََِس ْرُا اَََمِب اّنِا ا ْٓوُلاَََق ْۗمُكَءۤاَََبٰا ِهََْيَلَع ْمّتْدَََجَو اّمِم ى ٰدْهَاِب ْمُكُتْئِج ْوَلَوَا َلٰق
َن ْوُرِف ٰك
(Rasul itu) berkata, “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu.”
Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya.”(QS. Az-Zukhruf: 23- 24)
3. Taqlid
Secara harfiah adalah berarti rantai atau barang sejenisnya yang diikatkan pada leher.( Rahmad Syafe’i,1999: 67). Sedangkan taqlid menurut hukum Islam, ialah “Mengikuti pendapat seorang faqih, atau seorang imam, tanpa mengetahui dalil atau sumber hukumnya”(Rahmad Syafe’i, 1999: 67).
Pengertian taqlid menurut beberapa ahli :
a. Imam al-Gazali, ia mendefinisikan taqlid sebagai, “Menerima ucapan tanpa hujjah”.
b. Al-Isnawi, dalam kitabnya Nihayah al-Ushul, mendefinisikan taqlid sebagai, “Mengambil perkataan orang lain tanpa dalil”
c. Tajuddin al-Subki, dalam kitabnya Jam’ul Jawami mendefinisikan taqlid sebagai, “Mengambil suatu perkataan tanpa mengetahui dali”l
d. Al-Mahali, dalam kitabnya yang berjudul “Jam’ul al-Jawami, menjelaskan bahwa menerima atau mengambil selain ucapan,
baik dalam bentuk perbuatan atau pengakuan tidak disebut taklid.
e. Ibnu al-hummam, menurutnya taqlid adalah beramal dengan pendapat seseorang yang pendapatnya itu bukan merupakan hujjah, tanpa mengetahui hujjahnya (Beni Ahmad Saebani, 2008: 43)
Dengan demikian essensi dari taqlid adalah:
a. Beramal dengan mengikuti ucapan atau pendapat orang lain.
b. Ucapan atau pendapat orang lain yang diikuti itu tidak bernilai hujjah.
c.Tidak mengetahui hujjah dari pendapat yang diikutinya itu.
Sedangkan taqlid menurut istilah sebagaimana dikemukakan oleh Said Romadlon al-Buthi dalam bukunya Alla Madzhabiyyah Akhthoru Bid’atin Tuhaddidus Syari’atil Islamiyyah, Taqlid adalah “Mengikuti pendapat orang lain tanpa mengerti dalil yang menunjukkan kebenaran pendapat tersebut. Di samping itu Taqlid adalah keniscayaan bagi orang- orang yang tidak mempunyai kemampuan dalam berijtihad atau meng-istinbath hukum baik dari Al-Qur’an maupun dari Hadits”(Hasbi Ash-Shiddieqy, 1999: 202).6
Dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi pada golongan- golongan seperti Mu’tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka bertaqlid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam sesat, sehingga mereka juga sesat, jauh dari aqidah shahihah.
6 Rahimi, Pengaruh Taqlid dalam Pendidikan Islam, hal-74
4. Ghuluw
Yang dimaksud dengan ghuluw dalam aqidah ialah sikap melampaui batas pada hal-hal yang berkaitan dengan syariat Islam dan memiliki kaitan yang erat dengan permasalahan- permasalahan pokok. Ghuluw ini lebih condong kepada pemikiran firqah-firqah sesat seperti ahli kalam dan filsafat yang bertentangan dengan Ahli Sunnah wa al-Jamaah. Mereka menyelisihnya sehingga keluar dari jalan yang lurus.
Secara umum, bentuk-bentuk ghuluw dalam aqidah dapat dirincikan sebagai berikut :
- Ghuluw orang-orang yang menafikan (meniadakan) sifat-sifat Allah dalam masalah tanzih (mensucikan sifat Allah dari kekurangan) sehingga mereka menta‟thil (menolak atau membuang sebagian atau seluruh) sifat-sifat Allah.
- Ghuluw dalah hal kepemimpinan atau imāmah dimana seseorang memperlakukan pemimpinnya layaknya seperti Tuhan yang tidak pernah salah. Dalam hal ini seperti yang dilakukan oleh kaum Nashara dalam mensikapi Isa As, kaum Syiah dalam mensikapi Ali Ra, dan ghuluw sebagian kaum sufi dalam menyikapi Rasulullah Saw.
- Sikap ghuluw dalam memperlakukan orang-orang yang berbuat maksiat yang mengafirkan mereka sehingga mereka dikucilkan dan dijauhkan.7
Berlebihan dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih, serta mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya,
7 Mohamad Ilyas, Kemudahan Dalam Beragama Islam, Bab III Konsep Kemudahan Dalam Beragama Islam, hal 3-4
sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun menolak kemudharatan. Juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara Allah dan makhlukNya, sehingga sampai pada tingkat penyembahan para wali tersebut dan bukan menyembah Allah. Mereka mendekatkan diri kepada kuburan para wali itu dengan hewan qurban, nadzar, do’a, istighatsah dan meminta pertolongan. Ini merupakan bentuk pemikiran yang dilarang dalam aqidah islam.
5. Ghaflah
Al-Ghaflah adalah hilangnya sesuatu dari fikiran seseorang serta tidak mengingatnya. Terkadang kalimat ghaflah juga digunakan bagi seseorang yang meninggalkan sesuatu karena menyepelekan atau karena menolaknya. Ghaflah adalah salah satu penyakit yang paling berbahaya yang menimpa individu dan umat. Ia adalah penyakit yang amat membinasakan, yang membunuh kebaikan dan penghancur semangat. Ia adalah pohon yang buruk, yang disirami dengan air kebodohan dan membuahkan su’ul khatimah. Ia adalah penyakit yang keras, yang membuat seseorang kehilangan tujuannya, dan menghabiskan energinya. Jika ia mengenai seorang yang alim, maka ia akan meninggalkannya dalam keadaan jahil. Jika ia mengenai orang kaya, niscaya ia akan meninggalkan hartanya dan jatuh dalam keadaan miskin. Jika ia menimpa orang yang terhormat, niscaya ia akan mengubahnya menjadi orang hina.8
8 Guna Dwi Minart, Ghaflah Dan Sahwan Dalam AlquranPerspektf Wahbah Mustafa Al-Zuhaili (Studi Tafsir Al-Munīr), hal 25-26
Ghaflah ialah lalai terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam KitabNya (ayat-ayat Qur’aniyah). Di samping itu, juga terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata.
6. Rumah tangga yang jauh dari nilai-nilai islami
Dalam rumah tangga islami segala adab-adab Islam dipelajari dan dipraktikkan sebagai filter bagi penyakit moral di era globalisasi ini. Suami bertanggung jawab terhadap perkembangan pengetahuan keislaman dari istri, dan bersama- sama menyusun program bagi pendidikan anak-anaknya. Saling tolong-menolong dan saling mengingatkan untuk meningkatkan kefahaman dan praktik ibadah. Oleh sebab itu suami dan istri harus memiliki pengetahuan yang cukup memadai tentang Islam.
Rumah tangga didirikan dalam rangka ibadah kepada Allah, dari proses pemilihan jodoh, pernikahan (akad nikah, walimah) sampai membina rumah tangga jauh dari unsur kemaksiatan atau yang tidak islami. Sebagaimana tugas kita di muka bumi ini yang hanya untuk mengabdi/beribadah kepada Allah, maka pernikahan pun harus diniatkan dalam rangka hal tersebut.
Beberapa contoh yang tidak islami, pemilihan jodoh tidak berdasarkan diennya (agamanya), proses berpacaran, dan tradisi-tradisi budaya yang melanggar syariat.
Rumah tangga yang jauh dari penjabaran diatas dapat menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi penyimpangan dari tauhid. Jadi, orang tua punya peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya, sebagaimana sabda rasulullah SAW:
َةَميِهَبْلا ُجَتْنُت ِةَميِهَبْلا ِلَثَمَك ِهِناَسّجَمُي ْوَأ ِهِناَرّصَنُي ْوَأ ِهِناَدّوَهُي ُهاَوَبَأَف ِةَرْطِفْلا ىَلَع ُدَلوُي ٍدوُلْوَم ّلُك
َءاَعْدَج اَهيِف ىَرَت ْلَه
“Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang- tuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari).
7. Enggannya media pendidikan dan media informasi dalam melaksanakan tugasnya.
Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi, baik media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata. Tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan aqidah serta menangkis aliran-aliran sesat.
Dari sini, muncullah generasi yang telanjang tanpa senjata, yang tak berdaya di hadapan pasukan kekufuran yang lengkap persenjataannya.
B. EFEK DARI PENYIMPANGAN TAUHID Bahaya tidak bertauhid
Keimanan yang kuat akan memberikan hikmah dan manfaat yang besar. Sebaliknya, sikap tidak bertauhid akan mendatang hal-hal negatif, diantaranya:
1. Orang yang tidak bertauhid tidak akan mempunyai rasa optimisme dan pengharapan dalam hidup, karena tidak ada dalam benaknya keyakinan akan adanya kehidupan setelah mati.
2. Orang yang tidak bertauhid akan berpandangan sempit. Tidak ada dorongan di dalam hatinya untuk melakukan penelitian dan renungan tentang rahasia di balik kekuasaan Allah Swt. Karena ia tidak percaya terhadap Allah Swt. Penghidupannya akan menjadi sempit. Seperti firman Allah SWT:
ِةَََمَٰيِقْلٱ َم ْوَََي ۥُهُرُش ْحَنَو اًكنَض ًةَشيِعَم ۥُهَل ّنِإَف ىِرْكِذ نَع َضَرْعَأ ْنَمَو
ٰىَمْعَأ
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thahaa : 124)
3. Orang yang tidak bertauhid akan mudah tertipu oleh hal-hal yang bersifat keduniawian. Prinsip hidup orang seperti ini yang penting senang, tidak peduli apakah hal itu benar atau salah.
4. Orang yang tidak bertauhid akan tertutup hatinya. Jiwanya mengalami disfungsi. Pesan-pesan Allah tidak akan mampu tertangkap meskipun Allah begitu dekat.
5. Orang yang tidak bertauhid akan selalu diliputi dengan kegelisahan dan kegersangan jiwa. Meskipun tampaknya senang, itu hanyalah tipuan setan dan sifatnya hanyalah sementara.
6. Orang yang tidak bertauhid akan masuk neraka, karena ia akan terjebak pada praktik kemusyrikan dan kemusyrikan adalah dosa yang tidak akan diampuni.9
Bahaya Kerusakan Akidah
Bahaya kerusakan akidah bersifat laten baik terhadap individu, jamaah, maupun umat di dunia dan di akhirat. Di antara bahaya- bahayanya adalah:
1. Menjerumuskan seseorang atau jamaah ke dalam lubang kesyirikan dan kekufuran serta pengingkaran terhadap akidah yang benar yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Menolak ketentuan-ketentuan syariat dan mengutamakan ajaran nenek moyang, fanatisme akal, dan sebagainya daripada ketentuan- ketentuan syariat tersebut.
3. Mengakibatkan kehinaan, keterbe-lakangan, dan kerendahan umat Islam sepanjang masa dan tempat.
4. Memecah-belah persatuan umat, menghancurkan kejayaan mereka serta kemenangan demi kemenangan yang telah mereka raih.
5. Menjauhkan kaum muslimin dari pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.
9 Kemenag RI, Dirjen Pendis, Buku Siswa Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas X, hal 23-24
6. Menyebabkan terjatuh ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.10
C. CARA PENANGGULANGAN SIKAP PENYIMPANGAN TAUHID
1. Kembali kepada al-Qur`an dan as-Sunnah dalam menimba aqidah yang benar. Sebagaimana para ulama salaf mengambil aqidah mereka dari keduanya. Karena tidak akan membaik nasib umat ini kecuali dengan apa yang menjadikan awal umat ini menjadi umat yang terbaik. Di samping itu, kita juga harus mengetahui akidah-akidah dari setiap sekte yang menyimpang, serta mengetahui syubhat-syubhat mereka agar semuanya bisa dipatahkan dan umat bisa diperingatkan dari kesesatan mereka.
As-Sa’di –rahimahullah– berkata dalam Tafsirnya, ““Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat (al-Qur’an)” Yakni kami menjelaskan, menerangkan dan membedakan antara jalan hidayah dan kesesatan dan (antara jalan) penyelewengan dan petunjuk. Agar orang-orang yang diberi hidayah bisa mendapatkan hidayah dengannya dan agar semakin nampak kebenaran yang harus untuk diikuti. “Dan supaya jelas jalannya orang-orang yang berdosa” yang mengantarkan kepada kemurkaan Allah I dan siksaan-Nya. Karena, kalau jalannya orang-orang yang mujrim telah nampak dan jelas, maka akan mudah untuk menghindar dan menjauh darinya.
Berbeda kalau jalan mereka masih kabur dan kurang jelas, karena kalau demikian keadaannya maka maksud yang mulia ini (menjauh darinya dan agar jelas jalannya orang-orang yang sholeh) tidak bisa terwujud”.
10 https://asysyariah.com/bahaya-laten-penyimpangan-akidah/
2. Mempunyai perhatian dan minat yang besar dalam mempelajari dan mengajarkan aqidah yang benar pada setiap tingkatan pendidikan. Memberikan porsi yang cukup dalam pengajarannya dan memperketat ujian dalam hal ini guna memantapkan hasil aqidah tersebut pada setiap orang yang mempelajarinya.
3. Hanya mengajarkan kitab-kitab aqidah salaf ahlussunnah wal jamaah, dan menjauhi kitab-kitab yang ditulis oleh mereka yang terpengaruh oleh aqidah sekte-sekte yang menyimpang, seperti Shufiah, Mu’tazilah, Asy’ariyah dan selainnya.
4. Tegaknya setiap dai untuk memperingatkan, memperbaiki dan meluruskan semua bentuk aqidah rusak yang tersebar di tengah- tengah kaum muslimin, serta membantah semua kesesatan orang-orang yang menyimpang. Hal itu karena di antara faktor yang membantu tersebarnya aqidah yang rusak adalah di satu sisi tatkala banyaknya orang jahil atau sesat yang berbicara dan mengajarkan aqidah yang menyimpang, di sisi lain orang yang mengetahui aqidah yang benar tidak mau menyebarkan dan diam terhadap berbagai aqidah rusak yang dia temui. Sehingga yang bodoh tidak akan pernah mengetahui kebenaran dan yang sesat semakin merajalela dengan kesesatannya.11
Metode-Metode Peningkatan Kualitas Akidah
11 https://majalahdaarelsalam.wordpress.com/2009/06/17/penyimpangan-aqidah-islamiyah/
Seorang mukmin harus memiliki kualitas akidah yang baik, yaitu akidah yang benar, kokoh dan tangguh. Kualitas akidah tidak hanya diukur dari kemauan seseorang untuk percaya kepada Allah Swt. atau kepada yang lain seperti yang tercantum di dalam rukun iman. Namun lebih jauh dari itu, kepercayaan itu harus bisa dibuktikan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Percaya saja tidak cukup, tapi harus diikuti dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di manapun berada.
Seseorang yang beriman kepada Allah Swt. maka ia harus melakukan semua yang diperintahkan Allah Swt. dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Jika ia beriman kepada kitab Allah, maka ia harus melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya.
Jika ia beriman kepada para rasul Allah, maka ia wajib melaksanakan ajaran yang disampaikan para rasul dengan sebaik- baiknya serta meneladani akhlaknya. Untuk itu mengingat pentingnya kekuatan akidah itu dimiliki oleh setiap mukmin, maka diperlukan upaya-upaya atau cara-cara yang baik agar bisa meningkatkan keyakinan dan memudahkan menerapkan semua keyakinannya itu di dalam kehidupannya di masyarakat. Sebab kepercayaan atau keyakinan itu bisa tumbuh paling tidak karena tiga hal; yaitu karena meniru orang tua atau masyarakat, karena suatu anggapan dan karena suatu pemikiran (dalil aqli).
Di antara cara atau metode yang bisa diterapkan adalah:
(1)Melalui pembiasaan dan keteladanan.
Pembiasaan dan keteladanan itu bisa dimulai dari keluarga. Di sini peran orang tua sangat penting agar akidah itu bisa tertanam di dalam hati sanubari anggota keluarganya sedini mungkin. Keberhasilan penanaman
akidah tidak hanya menjadi tanggungjawab guru saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak. Karena itu, semuanya harus terlibat. Selain itu pembiasaan hidup dengan kekuatan akidah itu harus dilakukan secara berulang-ulang (istiqamah), agar menjadi semakin kuat keimanannya.
(2)Melalui pendidikan dan pengajaran.
Pendidikan dan pengajaran dapat dilaksanakan baik dalam keluarga, masyarakat atau lembaga pendidikan formal. Pendidikan keimanan ini memerlukan keterlibatan orang lain untuk menanamkan akidah di dalam hatinya. Penanaman kalimat-kalimat yang baik seperti dua kalimat syahadat dan kalimat la ilaha ill Allah (tiada Tuhan selain Allah) sangat penting untuk menguatkan keimanan seseorang. Pendidikan dan pengajaran menjadi salah satu cara yang tepat dalam menanamkan akidah dan meningkatkan kualitas akidah.
Islam mendidik manusia supaya menjadikan akidah dan syariat Allah sebagai rujukan terhadap seluruh perbuatan dan tindakannya. Oleh sebab itu, pendidikan Islam menjadi kewajiban orang tua dan guru di samping menjadi amanat yang harus dipikul oleh satu generasi untuk disampaikan kepada generasi berikutnya, dan dijalankan oleh para pendidik dalam mendidik anak- anak.12
12 Kemenag RI, Dirjen Pendis, Buku Siswa Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas X, hal 8-9
BAB III
PENUTUP KESIMPULAN
Penyimpangan tauhid adalah sikap atau tindakan di luar dari kaidah ajaran tauhid. Penyimpangan dari aqidah atau tauhid yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang lama- kelamaan mungkin menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan menyudahi hidup, sekali pun dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang telah kehilangan hidayah aqidah yang benar.
Faktor yang melatarbelakangi penyimpangan dari tauhid:
1. Kebodohan terhadap ajaran tauhid atau aqidah yang benar 2. Ta’ashub (fanatik buta)
3. Taqlid
4. Ghuluw (berlebihan) 5. Ghaflah (lalai)
6. Rumah tangga yang jauh dari nilai-nilai islami
7. Enggan media informasi dan pendidikan dalam melaksanakan tugasnya.
Efek dari penyimpangan tauhid
1. Menjerumuskan seseorang atau jamaah ke dalam lubang kesyirikan dan kekufuran serta pengingkaran terhadap akidah yang benar yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Menolak ketentuan-ketentuan syariat dan mengutamakan ajaran nenek moyang, fanatisme akal, dan sebagainya daripada ketentuan-ketentuan syariat tersebut.
3. Mengakibatkan kehinaan, keterbe-lakangan, dan kerendahan umat Islam sepanjang masa dan tempat.
4. Memecah-belah persatuan umat, menghancurkan kejayaan mereka serta kemenangan demi kemenangan yang telah mereka raih.
5. Menjauhkan kaum muslimin dari pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.
6. Menyebabkan terjatuh ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.
Cara penanggulangan sikap penyimpangan tauhid
1. Kembali kepada al-Qur`an dan as-Sunnah dalam menimba aqidah yang benar.
2. Mempunyai perhatian dan minat yang besar dalam mempelajari dan mengajarkan aqidah yang benar pada setiap tingkatan pendidikan.
3. Hanya mengajarkan kitab-kitab aqidah salaf ahlussunnah wal jamaah, dan menjauhi kitab-kitab yang ditulis oleh mereka yang terpengaruh oleh aqidah sekte-sekte yang menyimpang.
4. Tegaknya setiap dai untuk memperingatkan, memperbaiki dan meluruskan semua bentuk aqidah rusak yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, serta membantah semua kesesatan orang-orang yang menyimpang.
DAFTAR PUSTAKA
Direktur Jenderal Pendidikan Islam. Buku Siswa Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas X, Kementrian Agama, 2014
Nawawi, Nurnaningsih. Aqidah Islam. Makassar: Pustaka Almaida Makassar, 2017
Hasbi, DR. H. Muhammad. Ilmu Tauhid: Konsep Ketuhanan dalam Teologi Islam. Yogyakarta: Trust Media Publishing, 2016
Rahimi, 2020. “Pengaruh Taqlid dalam Pendidikan Islam” dalam ITQAN: Jurnal Jurnal Ilmu Kependidikan, Volume 11(hal 71-83).
Lhokseumawe, Aceh: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe.
Ilyas, Mohamad (2019) Kemudahan Dalam Beragama Islam (Kajian Tafsir Tematik). Diploma atau S1 thesis, UIN SMH BANTEN.
Penyimpangan Aqidah dan Cara-Cara Penanggulangannya, https://masjidrayaalfalah.or.id/penyimpangan-aqidah-dan-cara-cara- penanggulangannya/, diakses pada tanggal 6 November 2021
Minarti, Gina Dwi (2019) Ghaflah Dan Sahwan Dalam AlquranPerspektif Wahbah Mustafa Al-Zuhaili(Studi Tafsir Al- Munīr). Diploma atau S1 thesis, UIN SMH BANTEN.
Penghalang Ittiba’ Kebodohan terhadap Ajaran Ajaran Agama , https://muslim.or.id/17716-penghalang-ittiba-1-kebodohan-terhadap- ajaran-agama.html, diakses pada tanggal 6 November 2021
Bahaya Laten Penyimpangan Aqidah,https://asysyariah.com/bahaya- laten-penyimpangan-akidah/, diakses pada tanggal 6 November 2021
Penyimpangan Aqidah Islamiyah,
https://majalahdaarelsalam.wordpress.com/2009/06/17/penyimpangan -aqidah-islamiyah/, diakses tanggal 6 November 2021