CERAI GUGAT AKIBAT KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI PENGADILAN AGAMA
PEKANBARU
DISUSUN OLEH :
FEBRI ANCE YULIANA BR SINAGA 221010721 PUTRI AYU 221010721
AQILA MAHDIYA NISA 221010350
DOSEN PENGAMPU :DR.RIADI ASRA RAHMAD,S.H.,M.H HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA
KELAS N
PRODI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ISLAM RIAU
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah Swt karena berkat rahmat, karunia serta kasih sayangnya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Cerai Gugat Akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Pengadilan Agama Pekanbaru “dengan tepat waktu.Makalah disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Acara Peradilan Agama.Selain itu, makalah ini bertujuan menambah wawasan tentang proses dalam Pengadilan Agama ,menambah pengetahuan terkait segala perkara dan salah satunya gugat cerai oleh seorang istri kepada suaminya yang diselesaikan di Peradilan Agama Pekanbaru dan membuka wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulis untuk lebih mengetahui bagaimana Peradilan Agama berperan dalam menyelesaikan perkara perceraian yang melibatkan keputusan majelis hakim, terutama yang berkaitan dengan gugat cerai, bagaimana Peradilan Agama menjadi salah satu saluran untuk penyelesaian perkara perceraian.Melalui analisis ini, diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai mekanisme hukum yang berlaku di Peradilan Agama.Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr.Riadi Asra Ahmad,S.H.,M.H selaku dosen pengampu pada mata kuliah hukum acara peradilan agama dan bantuan berbagai pihak yang membantu dalam penyelesaiannya.Dalam makalah ini kami menyadari masih terdapat kesalahan, baik dalam penyampaian materi,maupun dalam pengetikan. Meskipun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu kami dengan terbuka menerima kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah ini. Dengan demikian makalah ini dibuat, kami berharap makalah ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca.
Pekanbaru,15 Oktober 2024
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI... 3
BAB I PENDAHULUAN... 4
A.Latar Belakang...4
2.Rumusan Masalah... 8
3.Tujuan... 8
BAB III PEMBAHASAN... 9
1.Proses Persidangan Cerai Gugat Akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Pengadilan Agama Pekanbaru...9
2.Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Salah Satu Pihak Melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga... 11
3.Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Pekanbaru Dalam Memberikan Putusan Perkara Cerai Gugat...12
BAB III PENUTUP...13
Kesimpulan...13
DAFTAR PUSTAKA... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Agama Islam sebagai sistem hidup dan kemasyarakatan, secara universal tatanan nilainya mencakup seluruh aspek kehiduapn umat Islam. Dari sekian banyak aspek ajaran Islam, salah satu diantarannya yaitu hukum yang berkaitan dengan sistern kekeluargaan. Awal keluarga ditandai dengan ikatan perkawinan. Hukum perkawinan yang baik ialah yang menjalin dan memelihara hakikat perkawinan.Perkawinan ialah hubungan kemamusiaan, di dalam masyarakat antara dua jenis kelamin yang berbeda dari umat manusia yang membutuhkan kehidupan yang layak dan manusiawi.Perkawinan menurut Hukum Islam yaitu akad mitsaqan ghalidzhan untuk mentaati perintah merupakan ibadah. Perkawinan dapatmewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah dan Perkawinan juga aqad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta bertolong-tolongan antara seorang laki-laki dan perempuan yang antara keduanya bukan muhrim.1
Dalam pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, merumuskan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang kekal dan berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Perkawinan dalam hukum perdata diartikan sebagai pertalian yang dilakukan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk waktu yang cukup lama.2Tujuan dari sebuah perkawinan adalah terbentuknya keluarga yang bahagia, kekal dan abadi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, hal ini dapat terwujud jika suami isteri saling memahami serta melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing sebagai upaya membangun sebuah keluarga. Kewajiban antara suami dan isteri harus dimaknai secara timbal balik yang artinya bahwa kewajiban suami adalah merupakan hak isteri dan sebaliknya yang menjadi kewajiban bagi isteri merupakan hak dari pada suami.3Keluarga harmonis dan tentram tidak akan terwujud jika terjadi kelalaian atau kesengajaan baik dari pihak suami maupun isteri,dengan tidak menunaikan kewajiban ini akan berakibat terlantarnya salah satu pihak ataukeduanya.
Suami isteri harus saling bertanggung jawab untuk saling memenuhi kebutuhan pasangannya untuk membangun keluarga harmonis dan tentram.
Di era kemajuan sekarang ini, semakin banyak persoalan-persoalan baru yang melanda rumah tangga, semakin banyak pula tantangan yang dihadapi sehingga bukan saja berbagai problem yang dihadapi bahkan kebutuhan rumah tangga semakin meningkat seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akibatnya tuntutan terhadap setiap pribadi dalam rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan semakin jelas dirasakan. Kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi akan berakibat menjadi satu pokok permasalahan dalam keluarga, semakin lama permasalahan meruncing sehingga dapat menjadikan kearah perceraian bila tidak ada penyelesaian yang berarti bagi pasangan suami isteri.
1Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam,h.335
2Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata,h.23
3Soemiyut Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang perkawinan,h.96
Perceraian pada hakekatnya adalah suatu proses dimana hubungan suamiisteri tatkala tidak ditemui lagi keharmonisan dalam perkawinan.Saat masalah yang sudah ada tidak dapat diselesaikan dengan upayaperdamaian maka Islam memberikan solusi dengan dibolehkannya perceraian.Putus hubungan dalam perkawinan merupakan suatu perbuatan yang dibenci Allah, maka sedapat mungkin perceraian tersebut harusnya dihindari dengan sekuat tenaga dari masing-masing pihak, baik istri maupun suami hingga para keluarga yang terkait.4 Dibolehkannya suami menceraikan istrinya jika dalam keadaan yang sangat terpaksa setelah melalui banyak pertimbangan sehingga hanya perceraianlah jalan satu-satunya yang dapat ditempuh.Cerai atau putusnya perkawinan dapat terjadi atas kehendak suami ataupun kehendak isteri, Hal ini karena karakteristik hukum Islam dalam perceraian memang menghendaki demikian, sehingga proses perceraiannya pun berbeda5, dapat diketahui ada dua macam perceraian yaitu cerai gugat dan cerai talak.Cerai talak hanya berlaku bagi mereka yang beragama Islam dan di ajukan oleh pihak suami. Cerai talak adalah istilah yang khusus digunakan dilingkungan Peradilan Agama untuk membedakan para pihak yang mengajukan cerai. Dalam perkam talak pihak yang mengajukan adalah suami sedangkan cerai gugat pihak yang mengajukan adalah isteri. Sebagaimana disebutkan dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 114 bahwa "Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadikarena talak atau pun berdasarkan gugatan perceraian."
Sehubungan dengan latar belakang tersebut penulis berkeinginan untukmelakukan observasi mengenai cerai gugat akibat kekerasan dalam rumah tanggadi Pengadilan Agama Pekanbaru, di mana perceraian dengan alasan tersebutyang seringkali merugikan pihak dari isteri karena tindakan dari suaminyani dibenarkan oleh Undang-undang perkawinan yaitu di atur dalam pasal 19 huruf(d) Undang-undang No 1 Tahun 1974 Jo pasal 116 huruf (d) Kompilasi HukumIslam dan pada dasarnya Undang-undang perkawinan mengatur dan menentukantentang alasan-alasan yang dapat digunakan untuk mengajukan perceraian, yaitu : 1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudidan lain sebagainya yang sukar disembuhkan
2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahunberturut- turut tanpa alasan yang sah atau karena alasan yang laindiluar kemampuannya.
3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yangmembahayakan pihak lain.
5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibattidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami atau istri.
6. Antara suami-istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkerandan tidak ada harapan lagi untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
4Dedi Supriyadi dan Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan Islam di Dunia Islam,hal 190-191
5Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama,cat.ke 11.206
Kekerasan adalah tindakan dan serangan terhadap seseorang yangkemungkinan dapatmelukai fisik, psikis, dan mental, serta menyebabkanpenderitaan dan kesengsaraan.Korban kekerasan dalam rumah tangga umumnya adalah perempuan atauisteri yang notabene mempunyai fisik yang lemah dibandingkan dengansuaminya. Tetapi banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga yang tidakmelaporkan nasibnya kepada yang berwenang, salah satu sebabnya adalahketergantungan korban terhadap pelaku baik secara ekonomi maupun sosial.Kekerasan dalam rumah tangga ini biasanya disebabkan oleh faktor tidaksiapnya pasangan dalam menempuh kehidupan berumah tangga yang kemudiandisalurkan kedalam kehidupan rumah tangga, dan seringkali yang menjadi korbanadalah dari pihak isteri dan anak-anaknya.6
Kekerasan dalam rumah tangga menurut pasal 1 ayat 1 undang-undangNo. 23 tahun 2004, tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tanggamenyatakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah ; “setiap perbuatanterhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan,atau penderitaan secara fisik, seksual psikologis, dan/atau penelantaran rumahtangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan,pemaksaan, atauperampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.Adapun bentuk kekerasan dalam rumah tangga seperti yang disebut di atasdapat dilakukan suami terhadap istrinya dalam bentuk:1)kekerasan fisik,dimana si suami sudah melakukan tindak kekerasan dengan memukul istri dan kasar kepada istri sejak 2017,yang mengakibatkan rasa sakit dan sering jatuh sakit.2)kekerasan psikis,yang mengakibatkan rasa ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnyakemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dll.
UU 7/1998 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai PenghapusanSegala BentukDiskriminasi Terhadap Wanita, UU No. 23/2002 tentangperlindungan anak, UU No. 23/2004 tentang penghapusan Kekerasan Dalam RumahTangga, UU No. 21/2007 tentang penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orangadalah bukti perubahan konstruktif bagi penghapusan KDRT.
Penghapusan KDRTdan penghapusan kekerasan terhadap perempuan pada umumnya selanjutnyamenuntut jaminan implementasi dan operasionalisasi yang lebih konkrit sehinggaderetan pasal dalam berbagai perundang-undangan tersebut tidak menjadi pasal bisuyang tidak mampu melimpahkan keadilan bagi perempuan.Tugas aparat penegakhukum, polisi, jaksa, hakim, advokat, dan pendamping adalah memastikan bahwaperundang- undangan itu bisa dijalankan.7sehingga tercapailah kebahagiaan dan cita-cita yang diinginkan.
Pengadilan agama adalah salah satu institusi penegak hukum yang sangatberhubungan dengan penegak berbagai perundang-undangan di atas. Meskipununtuk kategori kejahatan atau tindak pidana tetap menjadi kewenangan pengadilannegeri, tetapi laporan tahunan komnas perempuan yang salah satunya dihimpun daripengadilan agama, menunjukkan bahwa pengadilan agama pintu pertamaterkuaknya berbagai kekerasan dalam rumah tangga yang sebelumnya tertutup rapidi tengah rumah tangga. Karena itu, meskipun tidak langsung mengadili tindakpidananya, pengadilan agama memiliki peranan strategis dalam menguak peristiwakekerasan yang terjadi.8Institusi Peradilan Agama sebagai bagian dari sistem
6Noelle Nelson, Bagaimana Mengenali dan Merespon Sejak Dini Kekerasan Dalam RumahTangga,hal.6
7Faqihuddin Abdul Kodir, Ummu Azizah Mukarnawati, “Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga,h.2
8Aiumur Naruddin, Azhari Akmal Tarigan, “Hukum Perdata Islam di Indonesia”, Kencana 2004), h. 208
hukum nasionalmemiliki kontribusi penting dalam mempengaruhi dan membentuk praktik dankebiasaan yang terjadi dalam hubungan antar laki-laki dan perempuan. Hal inikarena hampir semua kompleksitas persoalan relasi antar laki-laki dan perempuansebagai pasangan suami isteri adalah bagian pokok dari kompetensi PeradilanAgama.9Peradilan Agama menyelenggarakan guna menegakkan tugas pokokuntuk menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yangdiajukan kepadanya berdasarkan peraturan perundangan.10
Hal utama yang juga menjadi kewajiban hakim adalah mandat legalnyasebagai pihak yang bertugas memutus perkara. Hakim tidak bisa semata-matamengacu secara rigid perundang- undangan yang memiliki keterbatasan dalammenangkap setiap spektrum peristiwa KDRT yang kompleks, tapi juga dituntutuntuk berkreasi, menelaah, dan terampil membangun argumen yang holistik(menyeluruh dan meluas) dari berbagai perundang-undangan nasional yang tersedia.Meskipun kasus yang disidangkannya merupakan kasus perdata, perceraianmisalnya, dalam rangka memenuhi keadilan perempuan, hakim semestinyamenelisik setiap kemungkinan tindak pidana, selanjutnya proses pidana dapatdimulai dari sini. Dengan demikian, kualitas putusan hakim tidak hanya memenuhistandar penyelesaian perdatanya saja tapi juga mendorong dan membuka keadilanbaru bagi perempuan korban KDRT.
Perceraian merupakan perkara yang mendominasi ruang sidang pengadilanagama di Indonesia. Peraturan perundang-undangan menyebutkan bahwa perceraianhanya dilakukan melalui pengadilan agama.Sebenarnya yang menarik dariperkembangan hukum perceraian adalah, di mana undang-undang dalam kasusperceraian apakah melalui talak maupun cerai gugat telah menempatkan laki-lakidan perempuan dalam posisi yang setara sama-sama dapat mengajukan permohonancerai, dan pengadilan adalah pihak yang menentukan dapat atau tidaknya sebuahperceraian itu terjadi.
Dari uraian diatas, maka penulis bermaksud untuk melakukan observasi dan melakukan penelitian lebih mendalam dalam permasalahan ini yaitu mengenaigugatan cerai yang diakibatkan oleh Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). maka dalam hal ini penulis memilih Pengadilan Agama Pekanbaru untuk observasi, maka penulis akan memberi judul:CERAI GUGAT AKIBAT KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI PENGADILAN AGAMA PEKANBARU(Studi Analisis Putusan Hakim Dalam Perkara Gugat Cerai No.1695/Pdt.G/2024/PA.Pbr)
9Arskal Salim, Euis Nurlaelawati, Lies Marcoes Natsir, Wahdi Sayuti, “Demi Keadilan Dan Kesetaraan”
10Ba siq Djalil, “Peradilan Agama Di Indonesia”, h. 14.
2.Rumusan Masalah
1.Bagaimana proses persidangan cerai gugat akibat kekerasan dalam rumah tangga di Pengadilan Agama Pekanbaru
2.Bagaimana Faktor-Faktor Apa saja Yang Menyebabkan Salah Satu Pihak MelakukanKekerasan Dalam Rumah Tangga
3.Bagaimana pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Pekanbaru dalam memberikan Putusan Perkara cerai gugat.
3.Tujuan
1.Mengetahui proses persidangan cerai gugat akibat kekerasan dalam rumah tangga di Pengadilan Agama Pekanbaru
2.Mengetahui faktor-faktor apasaja yang menyebabkan salah satu pihak melakukan kekerasan dalam rumah tangga
3.Mengetahui pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Pekanbaru dalam memberikan Putusan Perkara cerai gugat.
BAB III PEMBAHASAN
1.Proses Persidangan Cerai Gugat Akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Pengadilan Agama Pekanbaru
Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai proses perceraian di pengadilan agama, termasuk tahapan, estimasi waktu, prosedur, dan apa saja yang dibahas dalam setiap tahap:
1. Proses Pendaftaran Awal
Tahapan: Pemohon atau penggugat (suami atau istri) datang ke pengadilan agama untuk mendaftarkan gugatan cerai. Pemohon perlu membawa dokumen seperti KTP, buku nikah, surat gugatan, dan dokumen pendukung lainnya. Pendaftaran dilakukan di bagian Panitera Muda pengadilan agama.
Waktu: 1-3 hari untuk proses verifikasi berkas dan pendaftaran perkara. Jika ada kekurangan berkas, waktu bisa lebih lama karena pemohon harus melengkapinya terlebih dahulu.
2. Proses Pemeriksaan Berkas oleh Panitera
Tahapan: Setelah berkas diterima, panitera memverifikasi kelengkapan dokumen yang telah diajukan. Jika berkas lengkap, panitera mendaftarkan perkara tersebut dalam buku register perkara pengadilan dan membuat surat panggilan untuk tergugat. Setelah itu, berkas akan diteruskan ke Sekretaris Pengadilan.
Waktu: 1-5 hari untuk pemeriksaan berkas oleh panitera, tergantung kompleksitas berkas dan jumlah perkara yang ditangani pengadilan.
3. Penyerahan Berkas ke Sekretaris Pengadilan
Tahapan: Setelah berkas diverifikasi dan didaftarkan, Sekretaris Pengadilan akan menerima berkas perkara tersebut. Sekretaris bertugas untuk mengkoordinasikan berkas dengan Ketua Pengadilan Agama untuk menentukan majelis hakim yang akan menangani perkara.
Waktu: 1-3 hari untuk proses penyerahan dari panitera ke sekretaris dan penjadwalan penyerahan ke Ketua Pengadilan Agama.
4. Penyerahan Berkas ke Ketua Pengadilan Agama
Tahapan: Sekretaris menyerahkan berkas kepada Ketua Pengadilan Agama. Ketua Pengadilan kemudian mempelajari berkas dan menunjuk majelis hakim yang akan menangani perkara.
Ketua Pengadilan juga menentukan mediator yang akan menangani proses mediasi jika diperlukan.
Waktu: 1-7 hari untuk penyerahan berkas dan penunjukan majelis hakim oleh Ketua Pengadilan.
5. Penetapan Hari Sidang oleh Sekretaris
Tahapan: Setelah majelis hakim ditunjuk, Sekretaris Pengadilan akan menetapkan tanggal untuk sidang pertama. Sekretaris juga mengeluarkan surat panggilan untuk kedua belah pihak, yaitu penggugat dan tergugat, agar hadir pada sidang pertama.
Waktu: 7-14 hari setelah majelis hakim ditunjuk untuk menentukan hari sidang dan mengirimkan surat panggilan kepada pihak terkait.
6. Proses Mediasi
Tahapan: Pada sidang pertama, kedua belah pihak (penggugat dan tergugat) diwajibkan untuk menjalani mediasi sebagai upaya menyelesaikan konflik tanpa harus melanjutkan ke persidangan penuh. Mediasi ini dilakukan oleh seorang mediator yang telah ditunjuk oleh Ketua Pengadilan. Mediasi bertujuan untuk mencari jalan damai dan menghindari perceraian jika memungkinkan.
Durasi mediasi: Maksimal 30 hari. Jika diperlukan, bisa diperpanjang hingga maksimal 30 hari lagi (total maksimal 60 hari).
Prosedur yang dibahas: Dalam mediasi, mediator akan mengupayakan perdamaian dengan mendengarkan keluhan kedua pihak. Pembahasan fokus pada permasalahan rumah tangga, hak asuh anak (jika ada), serta pembagian harta bersama (jika ada).
7. Jika Mediasi Gagal
Tahapan: Jika mediasi tidak menghasilkan kesepakatan atau gagal, proses dilanjutkan dengan sidang pembuktian. Pada tahap ini, kedua belah pihak harus mengajukan bukti-bukti yang mendukung argumen mereka, seperti dokumen, saksi, atau bukti lain yang relevan.
Waktu sidang pembuktian: Waktu tergantung pada jumlah saksi dan bukti yang harus dihadirkan serta tingkat kompleksitas kasus. Proses ini dapat berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung pada volume perkara yang ada di pengadilan.
8. Sidang Lanjutan dan Proses Pemberkasan
Tahapan: Setelah sidang pembuktian selesai, proses berlanjut ke tahapan sidang replik, duplik, dan kesimpulan. Setelah semua tahapan sidang ini selesai, hakim akan memberikan putusan. Berkas kemudian disiapkan oleh bagian administrasi untuk diberkaskan.
Waktu pemberkasan: Setelah sidang terakhir, pemberkasan putusan dapat memakan waktu 14 hari hingga 1 bulan. Berkas akan disimpan oleh pengadilan sebagai dokumen resmi dan diserahkan ke administrasi untuk arsip.
9. Putusan Pengadilan dan Pengambilan Salinan Putusan
Tahapan: Setelah hakim memutuskan perkara, putusan tersebut diumumkan dalam sidang dan disampaikan kepada kedua belah pihak. Jika putusan berupa perceraian, maka salinan putusan perceraian (akta cerai) dapat diambil oleh pihak yang bersangkutan. Akta cerai ini nantinya bisa digunakan untuk melaporkan perceraian ke Kantor Urusan Agama (KUA) atau Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) untuk memperbaharui status perkawinan.
Waktu pengambilan salinan putusan: 2 minggu hingga 1 bulan setelah putusan dikeluarkan.
Kesimpulan Tahapan dan Waktu Estimasi:
1. Pendaftaran Awal: 1-3 hari.
2. Pemeriksaan oleh Panitera: 1-5 hari.
3. Penyerahan ke Sekretaris Pengadilan: 1-3 hari.
4. Penyerahan ke Ketua Pengadilan Agama: 1-7 hari.
5. Penetapan Hari Sidang oleh Sekretaris: 7-14 hari.
6. Proses Mediasi: Maksimal 30 hari (bisa diperpanjang hingga 60 hari).
7. Jika Mediasi Gagal: Sidang pembuktian (1-3 bulan tergantung kompleksitas).
8. Proses Pemberkasan: 14 hari hingga 1 bulan setelah sidang terakhir.
9. Pengambilan Salinan Putusan: 2 minggu hingga 1 bulan setelah putusan.
Prosedur dan Pembahasan dalam Setiap Tahap:
Mediasi: Fokus pada menyelesaikan masalah rumah tangga, hak asuh anak, pembagian harta gono-gini, dan upaya rekonsiliasi Sidang Pembuktian: Pemeriksaan bukti dan saksi untuk mendukung gugatan atau pembelaan.
Sidang Replik, Duplik, dan Kesimpulan: Tanggapan dari kedua belah pihak mengenai bukti yang dihadirkan di sidang sebelumnya, serta penyampaian kesimpulan akhir.
Putusan Pengadilan: Keputusan final dari majelis hakim yang mencakup perceraian, hak asuh anak, nafkah, dan pembagian harta.
Hasil akhir yang didapat adalah salinan putusan pengadilan atau akta cerai, yang kemudian dapat digunakan untuk administrasi di KUA atau Disdukcapil.
2.Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Salah Satu Pihak Melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Pada kasus ini istri melakukan cerai gugat terhadap suami ke Pengadilan Agama Pekanbaru karena terjadi kekerasan seperti serangan fisik kepada istri.Dimana tindakan suami sudah terjadi dalam waktu cukup lama yaitu dimulai pada tahun 2017 hingga saat ini.Suami juga melakukan tindakan kasar, baik dari perkataan kasar kepada sang istri dan memukul istri.Istri merasa tidak nyaman lagi terhadap tindakan suami dan ingin menggugat cerai suaminya.
Menurut B. Mardjono Reksodiputro sebagaimana dikutip oleh Sagung Putri, dapatdiketahui bahwa dalam pengertian kejahatan kekerasan ada dua faktor penentuyaitu:
a. Adanya penggunaan kekerasan, dan
b. Adanya tujuan untuk mencapai tujuan pribadi yang bertentangan dengan orang lain.
Menurut para ahli kriminologis, kekerasan yang mengakibatkanterjadinya kekerasan fisik adalah kekerasan yang bertentangan dengan hukum.Oleh karena itu, kekerasan merupakan kejahatan.11Berdasarkan pengertianinilah sehingga kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dalam rumahtangga dijaring dengan Pasal-Pasal KUHP tentang kejahatan.
Sedangkan dalamUndang-Undang nomor 23 tahun 2004 Pasal 1 disebutkan:
”Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorangterutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaansecara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasukancamana untu melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasankemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.”
Undang-undang diatas menyebutkan bahwa kasus kekerasan dalamrumah tangga adalah segala jenis kekerasan (baik fisik maupun psikis) yangdilakukan oleh anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain (yangdapat dilakukan suami kepada isteri dan anknya, atau oleh ibu kepada anaknya,atau bahkan sebaliknya). Meskipun demikian korban yang dominan adalahkekerasan terhadap isteri dan anak oleh sang suami.Sebagai bentuk perlindungan terhadapa perempuan sebagai korbankekerasan setelah meratifikasi Konveksi mengenai Penghapusan Segala BentukDiskriminasi terhadap wanita melalui Undang-undang No. 7 Tahun 1984,pemerintah membentuk Undang-Undang No. 23 tahun 2004 tentangPenghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PDKRT).
Disamping itu, bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi dalam rumahtangga seperti pemukulan terhadap isteri oleh suami adalah hal yang sangatsulit diungkap, karena persoalannya dianggap sebagai urusan pribadi. Hal inijuga disebabkan adanya legitimasi keagamaan yang membenarkan bagi suamiuntuk “memukul” isterinya dengan istilah “isteri durhaka”, sehingga secara luasdikalangan umat Islam lahir keyakinan bahwa suami berhak memukul isterinyadan terkadang juga seorang suami tidak merasa melakukan tindak kekerasanbila ia membentak, main serong, atau ia tidak memberi uang belanja, sedangisteri merasa hal ini adalah suatu tindak kekerasan yaitu kekerasan psikologisatau kekerasan ekonomi.
3.Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Pekanbaru Dalam Memberikan Putusan Perkara Cerai Gugat.
Pertimbangan Hakim Dalam Menyelesaikan Perkara Cerai Gugat AkibatKekerasan Dalam Rumah Tangga Di Pengadilan Agama Pekanbaru.Pada sidang kedua majelis Hakim memberikan putuan menyarankan untuk melakukan mediasi terlebih dahulu.Sehingga mediasi pun dilaksanakan oleh si penggugat dan tergugat. Setelah itu penggugat dan tergugat diberi waktu 14 hari setelah mediasi dan sebelum panggilan sidang ketiga.
Pada sidang Ketiga dan terakhir MajelisHakim berpendapat pintu perceraian dapat dibuka guna menghindarkanpara pihak dari kemelut rumah tangga yang berkepanjangan yang akanmembawa mudharat kepada kehidupan Penggugat dan Tergugat apabilarumah tangga tetap dipertahankan, sedangkan kemudharatan harusdisingkirkan sebagaimana kaidah fiqhiyah.
11Romli Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi,hal.55
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
1.Proses persidangan cerai gugat akibat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) di Pengadilan Agama Pekanbaru umumnya mengikuti langkah-langkah berikut:
Pendaftaran Gugatan: Penggugat (pihak yang menggugat cerai) mendaftarkan permohonan cerai di Pengadilan Agama. Dokumen yang diperlukan meliputi identitas diri, bukti KDRT, dan surat pernyataan jika ada.
Panggilan Sidang: Setelah pendaftaran, pengadilan akan mengeluarkan panggilan untuk kedua belah pihak. Pihak tergugat (suami/istri yang digugat) akan dipanggil untuk hadir dalam persidangan.
Persidangan Awal: Pada sidang pertama, hakim akan mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak. Hakim juga akan menanyakan tentang upaya mediasi, yang biasanya dilakukan sebelum melanjutkan ke persidangan lebih lanjut.
Mediasi: Jika memungkinkan, hakim akan mencoba melakukan mediasi untuk mendamaikan kedua belah pihak. Jika mediasi gagal, proses akan berlanjut.
Pembuktian: Penggugat harus menghadirkan bukti-bukti terkait KDRT, seperti saksi, laporan medis, atau dokumen lain. Tergugat juga diberikan kesempatan untuk membela diri.
Keputusan Hakim: Setelah mendengar semua keterangan dan bukti, hakim akan membuat keputusan. Jika cerai dikabulkan, maka akan dikeluarkan putusan cerai.
Upaya Hukum: Jika salah satu pihak tidak puas dengan keputusan hakim, mereka dapat mengajukan banding dalam waktu yang ditentukan.
2.Faktor-Faktor Apasaja Yang Menyebabkan Salah Satu Pihak MelakukanKekerasan Dalam Rumah Tangga yaitu yaitukarena terjadi kekerasan seperti serangan fisik kepada istri.Dimana tindakan suami sudah terjadi dalam waktu cukup lama yaitu dimulai pada tahun 2017 hingga saat ini.Suami juga melakukan tindakan kasar, baik dari perkataan kasar kepada sang istri dan memukul istri.Istri merasa tidak nyaman lagi terhadap tindakan suami dan ingin menggugat cerai suaminya.
3.Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Pekanbaru dalam memberikan Putusan Perkara cerai gugat.Pada sidang kedua majelis Hakim memberikan putuan menyarankan untuk melakukan mediasi terlebih dahulu.Sehingga mediasi pun dilaksanakan oleh si penggugat dan tergugat. Setelah itu penggugat dan tergugat diberi waktu 14 hari setelah mediasi dan sebelum panggilan sidang ketiga.
Pada sidang Ketiga dan terakhir MajelisHakim berpendapat pintu perceraian dapat dibuka guna menghindarkanpara pihak dari kemelut rumah tangga yang berkepanjangan yang akanmembawa mudharat kepada kehidupan Penggugat dan Tergugat apabilarumah tangga tetap dipertahankan, sedangkan kemudharatan harusdisingkirkan sebagaimana kaidah fiqhiyah.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam,h.335
Buku Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata,h.23
Buku Soemiyut Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang perkawinan,h.96
Buku Dedi Supriyadi dan Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan Islam di Dunia Islam,hal 190-191
Buku Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama,cat.ke 11.206
Buku Noelle Nelson, Bagaimana Mengenali dan Merespon Sejak Dini Kekerasan Dalam RumahTangga,hal.6
Buku Faqihuddin Abdul Kodir, Ummu Azizah Mukarnawati, “Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga,h.2
Buku Aiumur Naruddin, Azhari Akmal Tarigan, “Hukum Perdata Islam di Indonesia”, Buku Romli Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi,hal.55