PERAN DINAS SOSIAL DALAM PENANGANAN PENGEMIS DI KOTA BANJARBARU
Nurmila Sari
1, Delli Anhar
2, A. Nikhrawi Hamdie
31
Ilmu Administrasi Publik, 63201, Fisip, Uniska, 16120021
2
Ilmu Administrasi Publik, 63201, Fisip, Uniska, 0010106201
3
Ilmu Administrasi Publik, 63201, Fisip, Uniska, 1105026401
Email : [email protected] ABSTRAK
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peran Dinas Sosial dalam menangani pengemis dan hambatan – hambatan apa saja yang dihadapi dalam penanganan tersebut.
Metode penelitian menggunakan pendekatan Kualitatif dengan jenis penelitian Deskriptif.
Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Analisis data menggunakan langkah – langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Peran Dinas Sosial dalam menangani pengemis yaitu dengan pemberdayaan melalui rumah singgah sebagai sarana untuk mendapatkan keterampilan yang baru serta meninggalkan kehidupannya sehari – hari sebagai pengemis. Dalam menangani pengemis Dinas Sosial Kota Banjarbaru belum berjalan secara sepenuhnya. Karena beberapa faktor yang menghambat jalannya penanganan tersebut ialah : a). Penyebaran pengemis hampir di seluruh Kota Banjarbaru sehingga menyulitkan untuk di tanggulangi. b). Pengemis yang datang di Kota Banjarbaru datang secara menyebar sehingga sulit dicegah.
Kata Kunci : Peran, Faktor - Faktor, Pengemis.
ABSTRACT
The purpose of this study is to determine the role of social services in dealing with beggars and to find out what obstacles are faced in handling them. The research method used a qualitative approach with a descriptive type. Data were collected using observation, interview, and documentation techniques. Data analysis, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the role of social services in dealing with beggars was empowerment through open houses as a means of gaining new skills and leaving their daily life as a beggar. In dealing with beggars, the social service of the Banjarbaru City has not been fully implemented. Due to several factors that hinder the handling of these are: a). The spread of beggars in almost all Banjarbaru cities makes it difficult to overcome. b). Beggars who come to the city of Banjarbaru come so widely that it is difficult to prevent.
Key words : Role, Factors, Beggars.
A. Pendahuluan
Masalah kependudukan merupakan salah satu sumber masalah sosial yang penting, karena pertambahan penduduk dapat menjadi penghambat dalam pelaksanaan pembangunan, apalagi jika pertambahannya tersebut tidak terkontrol secara efektif. Dampak dari pertambahan penduduk ditandai dengan adanya suatu keadaan yang selalu tidak merata, terutama mengenai sumber – sumber penghidupan masyarakat yang semakin terbatas. Pertambahan jumlah penduduk tersebut disebabkan oleh adanya tingkat kelahiran yang tinggi dibandingkan dengan tingkat kematian yang rendah, dan juga peluang kerja yang sangat kecil sebagai akibat dari perubahan era globalisasi menuju era pasar bebas yang menuntut setiap individu untuk memperjuangkan hidupnya.
Dampak dari pembangunan tersebut ialah dampak negatif dan postifnya yang sangat sulit untuk dihindari sehingga diperlukan usaha untuk mengembangkan dampak positifnya serta mengurangi salah satu dampak negatifnnya. Salah satunya adalah pengemis, pengemis merupakan salah satu dampak negatif pembangunan, khususnya pembangunan perkotaan. Pengemis perkotaan seperti yang ada di Kota Banjarbaru adalah fenomena yang mulai dipandang sebagai masalah serius, terutama dengan semakin banyaknya permasalahan sosial yang ada.
Masalah Pengemis merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari keberadaannya terutama di daerah Kota Banjarbaru. Secara fisik, pengemis juga berinteraksi langsung dengan masyarakat di sekitarnya tetapi sebenarnya mereka terisolasi karena tidak bisa mencapai fasilitas yang ada.
Banyak sebagian pengemis yang sesungguhnya masih dalam keadaan sehat tetapi memilih untuk menjadi seorang pengemis dan meminta - minta, hal ini di pengaruhi oleh faktor kemiskinan, terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia, kurangnya ilmu pengetahuan dan keterampilan, arus urbanisasi dan masalah kecacatan. Dampak dari bertambahnya jumlah pengemis yaitu muncul beberapa ketidakteraturan sosial, ketidaknyamanan, ketidaktertiban, dan menganggu keindahan kota. Menurut Soetomo dalam bukunya yang berjudul “ Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya ” (2008 : 319) mengemukakan bahwa penyebab kemiskinan merupakan akibat dari rasa malas, rendahnya kemampuan untuk menanggapi persoalan disekitarnya.
Fenomena pengemis bukanlah sebuah fenomena yang luput dari kehidupan di Kota Banjarbaru. Pemandangan umum terlihat bahwa gelandangan dan penemis berdada di mana – mana khususnya daerah yang sering munculnya pengemis adalah di depan pom bensin dan di pasar – pasar besar ataupun pasar – pasar tradisional di Kota Banjarbaru. Fenomena ini adalah permasalahan yang serius, salah satu akibat dari pertumbuhan ekonomi, sehingga membutuhkan kebijakan dan penanganan khusus yang berkaitan dengan dengan hal sosial.
B. Tinjauan Pustaka Teori Peran
Teori peran (role theory) mengemukakan bahwa peran adalah sekumpulan tingkah laku yang dihubungkan dengan suatu posisi tertentu.
Peran yang berbeda membuat jenis tingkah laku yang berbeda pula. Tetapi apa yang membuat tingkah laku itu sesuai dalam suatu situasi dan tidak sesuai dalam situasi lain relatif bebas pada seseorang yang menjalankan peran tersebut.
Dinas Sosial
Dinas Sosial Kota Banjarbaru merupakan salah satu tempat pelayanan sosial kepada pengemis atau Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial lainnya. Pengemis sering ditempatkan dengan posisi yang miskin secara ekonominya sehingga perlu diberikan sebuah bantuan berupa penanganan.
Dalam melaksanakan tugasnya, Dinas Sosial menyelenggarakan fungsi perumusan kebijakan teknis dibidang sosial dan ketenagakerjaan, penyelenggara urusan pemerintah dan pelayanan umum dibidang sosial dan ketenagakerjaan, penanggulangan dan pelaksanaan tugas dibidang sosial dan ketenagakerjaan.
Pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional untuk membantu individu – individu atau kelompok – kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan.
Dari pengertian diatas, maka seseorang pekerja sosial harus bisa menciptakan kondisi masyarakat yang baik dan teratur dalam menjaga setiap fungsi elemennya yang menjadi para pemeran sebagai peran yang ada di dalam masyarakat dan menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik.
Fungsi Dinas Sosial
a. Perumusan kebijakan teknis bidang sosial tenaga kerja dan transmigrasi
b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang sosial, tenaga kerja dan transmigrasi.
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang sosial, tenaga kerja dan transmigrasi.
Pengemis
Pengemis merupakan sebutan bagi orang yang membutuhkan uang, makanan, tempat tinggal, atau hal lainnya dari orang yang ditemuinya dengan cara meminta. Bebagai macam pakaian atau perlengkapan mereka gunakan, seperti pakaian lusuh, topi, gelas plastik, bungkus permen, atau kotak kecil untuk menempatkan uang yang mereka dapatkan dari meminta – minta.
Mereka menjadikan pengemis sebagai pekerjaan mereka dengan berbagai macam alasan, seperti kemiskinan dan ketidakberdayaan mereka karena lapangan pekerjaan yang sempit.
Trik – trik yang biasa dipakai adalah sebagai berikut :
a. Menjual kemiskinan, para pengemis biasa berpenampilan kumuh, kotor, dan berpakian compang camping.
b. Menampilkan wajah kesedihan, setiap sepanjang jalan di keramaian kota sering dijumpai pengemis dari anak kecil hingga orang tua yang duduk di pinggir jalan dan mengayunkan tangan dan mereka siap beraksi menampilkan wajah kesedihan agar membuka para dermawan untuk memberi.
c. Komunitas pengemis, yaitu kumpulan sejumlah pengemis yang terkoordinasi oleh kordinator yang menempatkan para pengemis – pengemis di wilayah – wilayah tertentu, seperti di pusat kota dengan lokasi yang berpindah – pindah dan para pengemis diwajibkan menyetorkan uang kepada kordinator pengemis yang biasa dikenal dengan bos pengemis.
d. Membawa anak kecil yang digendong merupakan salah satu trik yang dilakukan pengemis. Anak yang dibawa itu umumnya merupakan anak pinjaman atau sewaan, untuk menarik rasa iba orang lain.
C. Metodologi Penelitian
Pendekatan Penelitian
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang alamiah sesuai kondisi dilapangan tanpa adanya manipulasi data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna yang sebenarnya.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang alamiah sesuai kondisi dilapangan tanpa adanya manipulasi data yang mendalam atau suatu data yang mengandung makna yang sebenarnya.
Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini pada Dinas Sosial Kota Banjarbaru yang berada di alamat Jl. Ketumbar, Komet, Banjarbaru Utara, Kec. Banjarbaru Utara, Kota Bajarbaru, Kalimantan Selatan 70714.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan sesuatu yang sangat penting dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan data. Dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian dari observasi atau wawancara, akan lebih kredibel atau dapat dipercaya kalau didukung oleh sejarah pribadi kehidupan dimasa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat, atau autobiografi. Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto – foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.
Metode Analisis Data
Aktivitas dalam menganalisis data kualitatif yaitu anatar lain :
Reduksi Data ( Reduction Data )
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemisahan, perhatian pada penyerdehanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan – catatan tertulis dilapangan. Laporan atau data yang diperoleh dilapangan akan dituangkan dalam bentuk uraian yang lengkap dan terperinci. Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya akan cukup banyak, sehingga perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum,
memilih hal – hal pokok, memfokuskan pada hal – hal yang penting, serta dicari tema dan polanya.
Dengan demikian, data yang direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Data yang diperoleh dari lokasi penelitian dituangkan dalam uraian laporan lengkap dan terperinci. Laporan yang direduksi, dirangkum, dipilih hal – hal pokok, difokuskan pada hal – hal penting kemudian dicari tema atau polanya.
Penyajian Data ( Data Display )
Penyajian data dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian tertentu dari penelitian. Penyajian data dilakukan dengan cara mendeskripsikan hasil wawancara yang dituangkan dalam bentuk uraian dengan teks naratif, dan didukung oleh dokumen – dokumen, serta foto – foto maupun gambar sejenisnya untuk diadakannya suatu kesimpulan.
Penarikan Kesimpulan ( Concluting Drawing ) Penarikan kesimpulan yaitu melakukan verifikasi secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung, yaitu selama proses pengumpulan data. Peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari pola, tema, hubungan persamaan, hal – hal yang sering timbul, hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang tentatif. Dalam penelitian ini, penarikan kesimpulan dilakukan dengan pengambilan intisari dari rangkaian kategori hasil penelitian berdasarkan observasi dan wawancara.
D. Gambaran Umum Dinas Sosial Kota Banjarbaru
Dinas Sosial Kota Banjarbaru sebagai salah satu perangkat daerah otonomi Pemerintah Kota Banjarbaru, yang diserahi tugas untuk melaksanakan kewajiban otonomi daerah dibidang Sosial, dibentuk berdasarkan Peraturan Walikota Banjarbaru Nomor 42 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Pokok dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Sosial Kota Banjarbaru.
Berdasarkan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan tersebut maka Dinas Sosial Kota Banjarbaru telah melakukan berbagai program dan kegiatan, dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang
Perlindungan dan Jaminan Sosial , Rehabilitasi Sosial dan Pemberdayaan Sosial.
Pelaksanaan tugas dan fungsinya Dinas Sosial Kota Banjarbaru mengalami berbagai tantangan dan hambatan dalam Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sangat dinamis disebabkan oleh berbagai factor ketidak berdayaan karena kemiskinan, disabilitas dan lain sebagainya
Permasalahan Sosial bukan saja merupakan masalah Dinas Sosial pada khususnya dan Pemerintah Kota Banjarbaru pada umumnya, akan tetapi merupakan masalah nasional yang serius dan harus segera dipecahkan bersama, sinergi pemerintah kota , provinsi, pemerintah pusat.
E. Pembahasan
Permasalahan sosial tidak bisa dihindari keberadaannya dalam kehidupan masyarakat, terutama daerah perkotaan dengan beberapa masalah seperti, anak jalanan, gelandangan, orang terlantar, dan pengemis. Salah satunya pengemis yang ada di Kota Bajarbaru, Pengemis di Kota Banjarbaru merupakan salah satu faktor masalah dari kemiskinan, para pengemis banyak mengeluhkan tentang masalah perekonomiannya, karena faktor ekonomi tersebut yang menjadi masalah bagi para pengemis. Mereka banyak mengemis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang semakin kesini semakin bertambah karena banyak bahan pokok yang harganya semakin naik.
Selain faktor ekonomi yang menjadi permasalahannya, kurangnya anggota tubuh atau cacat menjadi salah satu faktor mengapa mereka harus menjadi seorang pengemis. Mereka beranggapan bahwa kurangnya anggota tubuh sangat susah untuk mendapatkan pekerjaan, yang tubuhnya sempurna pun susah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak apalagi mereka yang tidak sempurna. Salah satu jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin sulit, mereka harus terpaksa mengemis untuk mempertahankan hidupnya karena tidak ada jalan lain lagi daripada menjadi pengangguran yang tidak mempunyai penghasilan apa – apa untuk kehidupan sehari – hari. Faktor umur dan kesehatan menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya seseorang menjadi pengemis karena menurut mereka umur yang sudah tua ataupun badan yang tidak sehat lagi tidak ada yang mau memperkerjakan mereka karena sudah tua dan sakit – sakitan. Sementara untuk berobat saja sangat susah, jangankan untuk berobat memenuhi kebutuhan hidup saja sudah sangat sulit. Menjadi pengemis adalah salah satu
mata pencaharian bagi para pengemis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari demi untuk bertahan hidup.
Membahas tentang pengemis merupakan bukan persoalan yang baru karena sudah beberapa kali pengemis menjadi perhatian khusus pemerintah ataupun masyarakat umum. Di Kota Banjarbaru sendiri, merupakan sasarannya bagi para pengemis, karena banyaknya tempat untuk meminta – minta. Karena Kota Banjarbaru merupakan kota yang banyak ditemui pasar – pasar tradisional, pertokoan besar, pinggiran jalan raya, pom bensin dan tempat lainnya. Pengemis yang ada di seputaran Kota Banjarbaru merupakan pengemis yang bukan asli dari daerah sini melainkan orang – orang yang dari luar daerah yang ingin mengadu nasib mencari peruntungan di kota besar seperti Kota Banjarbaru ini. Para pengemis melakukan aktifitas meminta – minta dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuan sehari – hari demi untuk bertahan hidup. Para pengemis melakukan kegiatan meminta – minta pada pagi hari sampai dengan sore hari atau bahkan terkadang sampai malam hari jika ada malam pasar.
Beberapa pengemis yang ada di Kota Banjarbaru merupakan pengemis yang memiliki keterbatasan fisik atau cacat dan masih ada pengemis yang masih sehat dengan kondisi yang sempurna dan memilih untuk menjadi pengemis.
Kegiatan mengemis ini menjadi rutinitas sehari – hari dan telah menjadi mata pencaharian yang utama bagi para pengemis.
Pengemis yang sering terdapat rajia merupakan pengemis yang bukan asli warga Banjarbaru melainkan pengemis yang datang dari berbagai kota seperti gambut, banjarmasin, astambul bahkan ada pengemis yang dari pulau jawa sekalipun. Mereka mengadu nasib ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih layak dari kehidupan mereka di daerah asalnya, tetapi justru mereka tidak mendapatkan pekerjaan yang lebih layak melainkan hanya menjadi seorang pengemis yang mencari duit lewat meminta – minta kepada orang dengan berbagai alasan. Dinas Sosial Kota Banjarbaru tetap berupaya untuk menangani pengemis lebih baik lagi agar pengemis yang sudah dipulangkan ke daerah asal masing – masing tidak kembali lagi ke Kota Banjarbaru dan tidak menjadi tujuan pengemis untuk mencari peruntungan.
F. Faktor – Faktor Munculnya Pengemis
Pada umumnya penyebab munculnya pengemis bisa dilihat dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor intrnal berkaitan dengan kondisi diri yang meminta – minta, sedangkan kondisi eksternal berkaitan dengan kondisi diluar yang bersangkutan. Munculnya pengemis dilatar belakangi 2 faktor, yaitu :
1. Faktor Eksternal :
a. Gagal dalam
mendapatkan pekerjaan b. Terdesak karena keadaan
( bencana alam ) c. Ajakan orang lain 2. Faktor Internal :
a. Kurangnya pendidikan dan keterampilan
b. Kurang percaya diri c. Kurangnya anggota tubuh Faktor – faktor yang menyebabkan adanya pengemis berasal dari faktor – faktor pembentuk kemiskinan. Terdapat 3 ( tiga ) faktor penyebab adanya pengemis, yaitu :
1. Faktor natural, yaitu hal – hal yang menyebabkan seseorang menjadi miskin karena memang berasal dari keluarga miskin.
2. Faktor kultural, yaitu faktor – faktor yang penyebabnya berasal dari dalam. Budaya dia sendiri yang menyebabkan seseorang terbelit dalam kemiskinan.
Beberapa hal yang menjadi faktor kultural dari adanya pengemis adalah :
- Cacat fisik.
- Malas.
- Merasa nyaman dengan pekerjaannya.
3. Faktor Struktural, yaitu hal - hal yang membuat seseorang menjadi miskin karena kebijakan – kebijakan yang diberlakukan membuat mereka sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
G. Hasil Penelitian
Kemiskinan merupakan keterbatasan yang disandang oleh seseorang ataupun sebuah keluarga yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan. Kemiskinan yaitu keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan seperti makanan, tempat
tinggal, pakaian, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan karena kurangnya pemenuhan kebutuhan dasar ataupun sulitnya menduduki bangku pendidikan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan.
Kemiskinan dari dimensi ekonomi bisa dijelaskan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk mendapatkan mata pencaharian yang layak dan memberikan pendapatan yang cukup dalam menunjang kehidupannya secara berkesinambungan yang bisa dilihat dari cukupnya gizi makanan, tingkat kesehatan yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah, tempat tinggal yang layak serta pakaian yang layak.
Kemiskinan berkaitan dengan pengangguran karena hal ini saling berhubungan. Pengangguran melahirkan sebuah problema kemiskinan yang mana seorang pengangguran tidak mendapatkan pendapatan untuk biaya hidup. Pengangguran umumnya karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada.
Kemiskinan merupakan faktor munculnya pengemis – pengemis di kota – kota besar. Faktor ekonomi yang menyebabkan pengemis harus meminta – minta agar mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup di tengah naiknya harga bahan pokok yang sangat tinggi.
Pengemis muncul karena beberapa faktor, faktor yang mempengaruhi dari munculnya pengemis yaitu rasa malas, memiliki anggota tubuh yang tidak sempurna, kurangnya pendidikan, terbatasnya lapangan pekerjaan, masalah kondisi perekonomian, dan tidak mampunya memenuhi kebutuhan pokok. Akhir – akhir ini pengemis sering dijumpai di tempat – tempat umum seperti pasar, pom bensin, pertokoan besar, taman kota, dan jalan raya yang dianggap menganggu pemandangan disepanjang jalan. Untuk beberapa orang yang menggantungkan hidupnya dengan cara meminta – minta, sebagian ada yang menganggap pengemis sebagai profesi. Keberadaan para pengemis dianggap mengganggu aktifitas sebagian dari masyarakat sehari – hari. Pengemis mempunyai beberapa cara dalam menarik perhatian dari masyarakat yaitu ada yang berpura – pura lapar, buta, dan sakit, bahkan ada yang menggunakan keterbatasan fisik untuk menjadi pengemis. Banyak dari masyarakat ada yang peduli terhadap pengemis, tapi tak sedikit yang kurang simpati terhadap keberadaan pengemis yang sering muncul.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Peran Dinas Sosial Dalam Penanganan Pengemis di Kota Banjarbaru, pemerintah sudah melakukan beberapa upaya untuk mengurangi jumlah pengemis yang sering terdapat rajia untuk tidak kembali lagi ke kota ini agar kota menjadi lebih aman dan tertib dari para pengemis – pengemis yang sering berkeliaran untuk meminta – minta.
Berdasarkan observasi yang dilakukan berkaitan dengan peran pemerintah untuk memberi dukungan yang diberikan kepada pengemis agar tidak lagi berkeliaran mengemis dijalanan karena ada jalan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari selain menjadi pengemis, yaitu dengan mencari pekerjaan yang layak. Karena pengemis yang terjaring rajia diberikan pelatihan agar jika keluar dari rumah singgah tidak lagi menjadi pengemis bisa dengan cara berjualan, menjahit atau menjadi buruh walaupun hasil yang seadanya.
Masalah pengemis ini bukan hanya tanggung jawab Dinas Sosial saja yang ikut berperan tetapi juga dari dukungan masyarakat lainnya.
H. Peran Dinas Sosial Dalam Penanganan Pengemis di Kota Banjarbaru.
Pengemis mucul karena didukung oleh beberapa faktor. Faktor – faktor dari kemunculan pengemis itulah yang harus ditangani oleh pemerintah agar para pengemis dapat ditanggulangi supaya tidak bertambah dalam jangka waktu yang panjang. Penanganan pengemis menjadi tanggung jawab dari berbagai pihak. Banyaknya pengemis yang masih berkeliaran memperlihatkan bahwa penanganan pengemis belum dilaksanakan dengan maksimal.
Pemerintah berkewajiban dalam menyelesaikan permasalahan pengemis ini demi terciptanya kedamaian dalam kehidupan di masyarakat.
Penanganan pengemis yang dilakukan oleh Dinas Sosial adalah cara atau tindakan agar para pengemis tidak meluas diseputaran kehidupan masyarakat dan mengembalikan pengemis menjadi masyarakat biasa dengan memberikan pengembangan diri untuk mengembalikan kemampuan diri guna mencapai taraf hidup dan penghidupan yang layak. Peran Dinas Sosial dalam menangani pengemis yaitu dengan pemberdayaan melalui rumah singgah sebagai sarana untuk mendapatkan keterampilan yang baru serta meninggalkan kehidupannya sehari – hari menjadi pengemis.
Pemerintah Kota Banjarbaru melihat serius permasalahan mengenai pengemis dan beberapa upaya sudah dilakukan untuk menangani hal tersebut. Pemerintah Kota Banjarbaru berupaya dalam menangani pengemis dengan membuat regulasi, fasilitas rumah singgah, dan sosialisasi tentang larangan memberi uang kepada pengemis.
I. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi baik itu sifatnya mendukung maupun sifatnya penghambat :
1. Faktor Pendukung
a. Tersedianya regulasi sebagai
dasar hukum dalam
meminimalisir jumlah pengemis.
Dalam menangani pengemis regulasi atau aturan sangat diperlukan dalam mengatur tentang larangan untuk mengemis beserta sanksinya yang diberikan baik itu kurungan atau denda . b. Tersedianya sumber daya yang
memadai untuk membina pengemis.
c. Tersedianya sarana dan prasarana yang mendukung program pembinaan dan anggaran yang memadai.
2. Faktor Penghambat
a. Penyebaran pengemis hampir di seluruh Kota Banjarbaru sehingga menyulitkan untuk di tanggulangi.
b. Pengemis yang datang di Kota Banjarbaru datang secara menyebar sehingga sulit dicegah.
c. Hukuman yang diberikan atas pelanggaran mengemis tidak membuat jera pengemis karena peraturan tidak tegas.
d. Kurangnya dukungan masyarakat dalam upaya penanggulangan pengemis.
J. Kesimpulan
Peran Dinas Sosial dalam menangani pengemis yaitu dengan pemberdayaan melalui rumah singgah sebagai sarana untuk mendapatkan keterampilan yang baru serta meninggalkan kehidupannya sehari – hari sebagai pengemis.
Pemerintah Kota Banjarbaru melihat serius permasalahan mengenai pengemis dan beberapa
upaya sudah dilakukan untuk menangani hal tersebut. Dinas Sosial Kota Banjarbaru berupaya dalam menangani pengemis dengan membuat regulasi, fasilitas rumah singgah, dan sosialisasi tentang larangan memberi uang kepada pengemis.
Dalam menangani pengemis Dinas Sosial Kota Banjarbaru belum berjalan secara sepenuhnya.
Karena beberapa faktor yang menghambat jalannya penanganan tersebut ialah :
a. Penyebaran pengemis hampir di seluruh Kota Banjarbaru sehingga menyulitkan untuk di tanggulangi.
b. Pengemis yang datang di Kota Banjarbaru datang secara menyebar sehingga sulit dicegah.
c. Hukuman yang diberikan atas pelanggaran mengemis tidak membuat jera pengemis karena kurang tegasnya peraturan yang diberikan.
d. Kurangnya dukungan masyarakat dalam upaya penanggulangan pengemis.
K. Daftar Pustaka A. Literatur
HS, Salim dan Nurbani, Erkies Septiana.
Penerapan Teori Hukum (2013).
Irawan, Dimas Dwi Pengemis Undercover Rahasia Seputar Kehidupan Pengemis, (Jakarta Media Publisher, 2013)
Moelong, Lexy. J. Metode Penelitian Kualitatif.
(Bandung : Rosda Karya, 2007) Soekamto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar.
(Rajawali Press. Jakarta. 2002)
Soekamto, Soerjono. “ Pengantar Penelitian Hukum ” (Rajawali Press. Jakarta.
1996)
Soetomo, Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008)
Sudilarsih, Feni. Kisah Suksesnya Seorang Pengemis, (Penerbit Sabil, Jakarta : 2012)
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D), (Bandung : Alfabeta, 2013)
Yafie, Ali. Islam dan Problema Kemiskinan.
(Jakarta : Pesantren P3M, 1986) B. Jurnal
Damapolii, Muljono. Penulisan Pedoman Karya Tulis Ilmiah : Makalah Skripsi Tesis, Disertasi dan Laporan Penelitian, Universitas Islam Negri Allauddin Makassar, (cet, 1 : Makassar Alauddin Press, 2013)
Rochatun, Isti. 2011. Eksploitasi Anak Jalanan sebagai Pengemis di Kawasan Simpang Lima Semarang. Skripsi.
Semarang : Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan FIS Unnes.
Soraya, Ira. Penanganan Pengemis di Kota Makassar Karya Tulis Ilmiah : Makalah Skripsi, Universitas Islam Negri Allaudin Makassar, 2017 C. Peraturan Perundang – Undangan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980
Tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis.
Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 14 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis
Undang – Undang No. 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial