• Tidak ada hasil yang ditemukan

peran guru dalam meningkatkan kecerdasan sosial

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "peran guru dalam meningkatkan kecerdasan sosial"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Konteks Penelitian

Fokus Penelitian

Apa saja program guru untuk meningkatkan kecerdasan sosial santri putri di Pondok Pesantren Hadil Isahlah Bilebante. Kendala apa yang dihadapi guru dan solusi apa yang dicari dalam meningkatkan kecerdasan sosial santri putra dan putri di Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante tahun ajaran 2020/2021.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Memberikan informasi kepada para santri dan santriwati tentang peran astidz dan asatidzah, agar para santri dan santriwati dapat memperbaiki diri ketika ditegur oleh asatidz atau asatidzah. Sebagai bahan untuk memperkaya tubuh pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan penelitian dan memberikan wawasan kepada peneliti tentang hal-hal yang berkaitan dengan kecerdasan sosial dan peran seorang pendidik.

Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Telaah Pustaka

Sedangkan penelitian saat ini di Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante, (2) Penelitian terdahulu mengkaji peran ustad dalam pembentukan karakter santri. Sedangkan penelitian saat ini mengkaji peran ustadz dalam meningkatkan kecerdasan sosial santri, (2) Penelitian sebelumnya dilakukan di Pesantren Al-Hasan.

Kerangka Teori

  • Guru
  • Kecerdasan Sosial

Dengan kecerdasan sosial seseorang dapat mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan orang tersebut. Dengan kecerdasan sosial ini kita mampu mendominasi argumentasi yang dikemukakan oleh orang lain.

Metode Penelitian

  • Pendekatan Penelitian
  • Kehadiran Peneliti
  • Lokasi Penelitian
  • Sumber Data
  • Tehnik Pengumpulan Data
  • Tehnik Analisis Data
  • Pengecekan Keabsahan Data

Dengan demikian, penelitian kualitatif adalah penelitian naturalistik untuk mencari kebenaran kondisi alamiah, yang menekankan pada pengertian bahwa peneliti merupakan alat utama dalam mengumpulkan data di lapangan sebagai hasil penelitian. Untuk memperoleh data yang sebenarnya diperlukan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan objek penelitian yang diteliti. Teknik observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data non verbal seperti kegiatan seperti kegiatan belajar pada malam hari, program latihan pidato dan lain-lain yang diadakan di Pondok Pesantren Hadil Islah Bilebante dengan melibatkan santri dan asatidz.

Teknik wawancara adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang yang menjadi informan dan diwawancarai dalam suatu penelitian. 36. Agar pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik wawancara tidak terlalu muluk-muluk, maka peneliti menyiapkan pedoman wawancara sebagai acuan dalam pengumpulan data. Perluasan observasi ini juga bertujuan untuk menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan informan sehingga peneliti dapat lebih yakin bahwa data yang diperolehnya benar-benar valid.

Oleh karena itu pada tahap ini peneliti kembali ke pondok pesantren Hadil Ishlah Bilebante untuk melakukan observasi lebih lanjut dan memastikan apakah data yang diperoleh benar atau tidak. Sebagai instrumen penelitian, peneliti perlu meningkatkan ketekunannya dalam observasi lapangan agar dapat mengecek apakah data yang diperoleh benar atau tidak. Oleh karena itu, tujuan validasi data tingkat kedua adalah untuk menemukan fitur dan elemen yang mendalam.

Sistematika Pembahasan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

Gambaran Umum lokasi penelitian

  • Sejarah Singkat dan Perkembangan Pondok Pesantren Hadil Ishlah
  • Profil Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante
  • Visi dan Misi Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante
  • Keadaan Guru Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante
  • Keadaan Santri Podok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante
  • Keadaan Sarana Prasarana Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante

Tingkat Kecerdasan Sosial Santriwan Dan Santriwati Di Pondok Pesantren

Berkenaan dengan penelitian ini, maka tujuan kajian penelitian adalah peran guru dalam meningkatkan kecerdasan sosial santri di Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante. Ahmad Taufik juga memaparkan pendapatnya tentang kecerdasan sosial yang dimiliki santri di Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante. Kecerdasan sosial siswa laki-laki dan perempuan biasanya dilihat dari bagaimana siswa tersebut dapat bergaul dengan orang lain.

Rosadayana memberikan pendapat tentang kecerdasan sosial santri dan santriwati di Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante. Peran guru di Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante dalam meningkatkan kualitas santri tidak monoton tetapi sebatas memberi. Program ini merupakan salah satu alternatif yang dapat membantu meningkatkan kecerdasan sosial siswa.

Hal ini dapat dilihat berdasarkan SKIA (Syarat Kecakapan Ibadah Amaliyah) dan SKIN (Syarat Kecakapan Ilmu Nahwu) yang dicapai oleh mahasiswa. Program ini dibuat untuk memberikan pengalaman baru bagi siswa dan meningkatkan kecerdasan sosial siswa. Namun kendala selanjutnya yang dihadapi para asatidz dalam meningkatkan kecerdasan sosial santri di lingkungan pesantren adalah adanya keluhan santri kepada orang tuanya.

Program Guru Dalam Meningkatkan Kecerdasan Sosial Santriwan dan

Kendala Yang Dihadapi dan solusi yang dilakukan Oleh Para Guru Dalam

Santri masih merasa malu dan kurang percaya diri dengan apa yang telah mereka terima di lingkungan pondok pesantren. Sehingga, sebagian siswa merasa kehilangan rasa percaya diri ketika berada di tengah lingkungan masyarakat. Sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar pondok pesantren merasa tidak setuju dengan kehadiran santri di tengah-tengah kegiatan masyarakat.

Dalam hal ini membuat sebagian masyarakat kurang percaya diri dengan keterampilan yang dimiliki siswa. Meski bekal yang diberikan para guru dirasa cukup untuk membuat para santri memimpin kegiatan kemasyarakatan. Kondisi santri putra dan putri yang tinggal di lingkungan islami pesantren berasal dari kelas IV Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah, membuat guru membutuhkan metode yang lebih dalam meningkatkan kecerdasan sosial santri.

Jumlah guru juga sangat terbatas, sehingga guru cukup kewalahan dalam mengontrol siswa. Sehingga asatidz harus memunculkan berbagai metode efektif untuk membentuk kecerdasan sosial siswa. Berdasarkan observasi lapangan, keberagaman karakter siswa menyebabkan guru mengalami kesulitan dalam memberikan pendidikan sosial.

PEMBAHASAN

Tingkat Kecerdasan Sosial Santriwan Dan Santriwati Di Pondok Pesantren

Program Guru Dalam Meningkatkan Kecerdasan Sosial Santriwan dan

Pengawasan langsung ini berkaitan dengan kegiatan sehari-hari yang dilakukan santriwan/santriwati. Keberadaan guru yang sepenuhnya berdampingan di lingkungan asrama sangat membantu dalam mengawasi kegiatan santri/santri. Atau secara horizontal berkaitan dengan orang dan lingkungan pada umumnya 96 Pesan moral sebagai bahan evaluasi dari lingkungan pondok pesantren Hadil Ishlah Bilebante menurut guru sangat membantu beliau untuk membentuk kepribadian santriwan/santriwati menurut ust.

Selain menyoroti penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh santriwati di Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante, sebagai pembicara di setiap akhir shalat Fardhu Maghrib berjamaah, saya juga memasukkan pesan-pesan moral ke dalam ceramah tersebut. Jika sikap dan perilaku santri di pondok pesantren Hadil Ishlah Bilebante dapat menjamin peningkatan kualitas santri. Sikap yang berkaitan dengan lingkungan sosialnya akan terbentuk seiring dengan pemantauan dan pengawasan yang terus dilakukan oleh para asatizd/asatidzah di Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante.

Melalui program ini santri akan belajar bersosialisasi dan berinteraksi secara nyata sebelum mereka keluar dari pondok pesantren. Kegiatan tersebut dilakukan seminggu sekali dengan pembagian santri secara acak dan berurutan, yang berlaku untuk seluruh santri Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante. Kendala yang dihadapi dan solusi yang dilakukan guru dalam meningkatkan kecerdasan sosial santri di pondok pesantren.

Kendala Yang Dihadapi Dan Solusi Yang Dilakukan Oleh Para Guru Dalam

Untuk mengatasi hal tersebut guru memberikan materi yang cukup kepada siswa sebelum melakukan kegiatan di lingkungan setempat. Ketika santri melanggar tata tertib pesantren dan mendapat sanksi atau teguran dari guru, santri kemudian mengadu kepada orang tuanya, sehingga sebagian orang tua dan wali santri protes kepada guru. Hal ini tentu menyulitkan guru dalam mempertimbangkan sanksi atau teguran yang akan diberikan kepada siswa yang melakukan pelanggaran.

Program guru untuk meningkatkan kecerdasan sosial siswa yaitu program observasi lapangan guru; pelaksanaan program Niha'ie yang menyasar siswa kelas akhir; Meskipun perilaku ini berdasarkan aturan pesantren, ada aturan tidak tertulis yang diwariskan oleh para santri tentang bagaimana guru berperilaku. Selain kedua hal tersebut, terdapat kendala lain untuk meningkatkan kecerdasan siswa yang mengeluhkan sanksi yang diberikan.

Apakah siswa sering mengontrol emosinya ketika sedikit memanas baik di dalam forum maupun di luar forum. Dengan terbentuknya anggota lingkungan pondok pesantren, mereka menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab atas tugas-tugas yang dapat diemban para santri. Yang mana motivasi yang diberikan asatidz kepada para santri yaitu memotivasi santri agar betah di pondok karena jauh dari orang tua.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan temuan dan pembahasan yang telah dilakukan tentang peran guru dalam meningkatkan kecerdasan sosial siswa laki-laki dan perempuan. Tingkat kecerdasan sosial yang dimiliki santri putra dan putri Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante cukup baik dan diwujudkan melalui program-program yang dibuat oleh para guru. Kendala yang dihadapi guru dalam meningkatkan kecerdasan sosial santri putra dan putri antara lain kurangnya dukungan masyarakat sekitar lingkungan pondok pesantren;

Solusi yang guru terapkan adalah: mengadakan program niha'ie, memberikan materi yang cukup dan memotivasi siswa, menjadikan manajemen tangan kanan guru, memberikan peringatan dan instruksi kepada siswa tanpa biaya mengadu langsung kepada orang tua mereka sebelum mereka diperhatikan oleh pengelola atau guru.

Saran

Muhammad Khakim Ashari, “Kompetensi Guru Pondok Pesantren Untuk Meningkatkan Kecerdasan Sosial Santri: Studi Kasus Multi di Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an dan Pondok Pesantren Fathul Hidayah Lamongan” (Disertasi, Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya , 2018). Nur Azizah, “Peran Pesantren Dalam Pengembangan Kecerdasan Sosial Santri (Studi Kasus Ponpes Al-Hasan Salatiga), Skripsi FTIK IAIN Salatiga, Salatiga, 2018. Menurut kami masyarakat belum menerima santri yang dianggap mampu untuk melakukan kegiatan setelah kami cukup mensosialisasikan siswa sehingga kami masih dapat memilih mereka.

Karena mudahnya memberikan aturan di pondok pesantren ini, otomatis aturan tersebut akan mendorong kita untuk melakukannya, sehingga para santri melakukannya. Apakah interaksi antara asatidz dengan wali santri dan santri di pesantren selalu berjalan dengan baik? Dalam hal ini para santri dibawa ke suatu tempat tertentu di pengadilan ini dan dihukum sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.

Salah satu kendala dalam mengembangkan inteligensi adalah hilangnya kepercayaan terhadap keberlangsungan suatu kegiatan, sehingga sebagian siswa beranggapan bahwa siswa yang terlibat dalam kegiatan sosial percaya bahwa rata-rata siswa tergolong disabilitas. Kecerdasan sosial menjadikan seseorang harus menjadi apa yang dilihatnya di lingkungan pesantren. Salah satu kecerdasan sosial di sini adalah menjaga etika kesopanan siswa dan terutama satu sama lain, yaitu mencium tangan asatidz a sebagai salah satu anggota. Dan juga kami merasa senang tinggal di cottage karena banyak motivasi yang telah diberikan oleh para asatidz dan manajemen.

Perbedaannya adalah sebagian besar yang saya rasakan ketika saya berada di luar saya tidak dikendalikan, karena ketika saya di rumah saya merasa bebas. Saya dapat melindungi diri saya dari pengaruh sosial di masyarakat karena saya menjaga perilaku saya di pondok.

Gambar

Tabel 2.1   Daftar Nama Asatidz Dan Asatidzah Pondok Pesantren Hadil  Ishlah Bilebante, 48
Tabel 2.1 Keadaan Guru Pondok Pesantren Hadil Ishlah   Tahun Pelajaran 2019/2020 48
Tabel 2.2 Sturuktural Pondok Tarbiyatul  ‘ Uluum Al-Islamiyah  Hadil Ishlah Bilebante 49
Tabel 2.3. Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Hadil Ishlah Bilebante  Tahun pelajaran 2020/2021 52
+2

Referensi

Dokumen terkait

It is of utmost importance for all medical staff (especially those in the surgical theatre where radiation exposure is continuous for longer periods) to have adequate knowledge