Peran Lembaga Penyedia Layanan Terpadu Berbasis Gender dan Anak Terhadap Anak Korban KDRT
Dhita Sariwidayanti1 Jamiatur Robekha2 Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM, Indonesia1,2 Email: [email protected]1 [email protected]
Abstrak
Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sangat kompleks dan mempengaruhi ketahanan individu maupun ketahanan keluarga sehingga memerlukan penanganan yang serius untuk memulihkan korban. Dalam aspek hukum diperlukan lembaga-lembaga khusus dan aparat penegak hukum serta pendampingan korban KDRT untuk membantu jalannya proses penyelesaian korban KDRT. Dalam penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dan diketahui bahwa terdapat layanan untuk membantu jalannya proses penyelesaian korban KDRT yang dikelola oleh pihak yang berbeda, diantaranya adalah organisasi perempuan (misalnya women’s crisis centre), lembaga non- pemerintah (misalnya lembaga bantuan hukum) maupun pemerintah seperti badan pemberdayaan perempuan (misalnya P2TP2A), kepolisian (misalnya RPK) dan rumah sakit (misal PPT). Dalam perspektif pemenuhan HAM, pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) merupakan langkah yang sangat progresif karena merupakan implementasi pemenuhan HAM bagi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan dalam berbagai aspek, baik pelayanan pengaduan, pelayanan kesehatan, pelayanan rehabilitasi sosial, pelayanan bantuan hukum dan pemulangan serta reintegrasi sosial.
Dalam tataran kebijakan, peraturan pembentukan PPT sudah diatur, namun implementasinya masih banyak mengalami kendala.
Kata Kunci: Lembaga Penyedia Layanan Terpadu, Perempuan dan Anak, Korban KDRT Abstract
The impact of domestic violence is complex and affects the resilience of individuals and family resilience so that it requires serious treatment to recover victims. In the legal aspect, special agencies and law enforcement officials and assistance for victims of domestic violence are needed to assist in the process of resolving victims of domestic violence. In this study, it uses normative juridical methods and it is known that there are services to help the process of resolving victims of domestic violence managed by different parties, including women's organizations (for example women's crisis centers), non-governmental institutions (for example legal aid agencies) and governments such as women's empowerment agencies (for example P2TP2A), police (e.g. RPK) and hospitals (e.g. PPT). In the perspective of fulfilling human rights, the establishment of an Integrated Service Center (PPT) is a very progressive step because it is the implementation of human rights fulfillment for women and children who are victims of violence in various aspects, both complaint services, health services, social rehabilitation services, legal aid services and repatriation as well as social reintegration. At the policy level, regulations for the formation of CFT have been regulated, but their implementation is still experiencing many obstacles.
Keywords: Integrated Service Providers, Women and Children, Victims of Domestic Violence
This work is licensed under a Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.
PENDAHULUAN
Kewajiban penggunaan Lembaga Bantuan Hukum khususnya Lembaga yang menyediakan layanan berbasis gender dan anak sebagai kontrol dalam pelaksanaan hukum diatur didalam Undang-Undang Dasar 1945 terutama dalam Pasal 24 ayat (3) “Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang”.
Badan-badan yang dimaksud di dalamnya adalah LBH khususnya LBH penyedia layanan terpadu berbasis gender dan anak. Undang-undang No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan
Hukum Pasal 3 huruf b “Penyelenggaraan Bantuan Hukum bertujuan untuk: mewujudkan hak konstitusional segala warga negara sesuai dengan prinsip persamaan kedudukan di dalam hukum”. Kata frasa “mewujudkan” dalam Pasal tersebut bermakna wajib dilakukan untuk penyelenggaraan bantuan hukum dalam hal ini Lembaga Bantuan Hukum termasuk di dalamnya LBH penyedia layanan terpadu berbasis gender dan anak berarti LBH penyedia layanan terpadu berbasis gender dan anak dibentuk untuk semua orang tanpa terkecuali.
Pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi konvensi internasional mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Convention on the elimination of all forms of discriminationagainst women) dengan diterbitkannya UU. No. 7 tahun 1984.
Pasal 4 Undang-undang tersebut mengamanatkan kepada pemerintah untuk membuat kebijakan kusus guna mengatasi permasalahan gender dalam pelbagai bidang kehidupan.Negara peratifikasi konvensi CEDAW juga memiliki tanggungjawab sebagai berikut:
Menciptakan kewajiban dan akuntabilitas negara yang meratifikasinya, Menjadikan konvensi CEDAW resmi menjadi sumber hukum formal berkedudukan setingkat dengan undang- undang, Negara memberikan komitmen, mengikatkan diri untuk menjamin melalui peraturan perundang-undangan, kebijakan nasional dan daerah, program, langkah dan tindakan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan melalui perwujudan keadilan dan kesetaraan kedudukan dalam akses, partisipasi, kontrol, dan sebagai penikmat manfaat yang sama dari hasil-hasil pembangunan (Oktavia & Nurkhalizah, 2022).
Undang-Undang No.39 Tahun 1999 menjelaskan bahwa anak yang dirampas kebebasannya berhak memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya yang efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku. Hal mana diperjelas lagi oleh adanya Undang- Undang No.22 Tahun 2002 tentang perlindungan anak Pasal 18 menjelaskan bahwa anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak untuk memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya. Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang P- KDRT Pasal 10 bahwa korban berhak mendapatkan bantuan hukum pada setiap proses pemeriksaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam PP No. 4 Tahun 2006 Tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban KDRT bahwa Penegak hukum lainnya untuk membantu korban dalam proses sidang di Pengadilan. Yang dimaksud dengan penegak hukum lainnya itu adalah LBH penyedia layanan terpadu berbasis gender dan anak. Sehingga antara Pancasila, UUD NRI tahun 1945 dengan regulasi terkait dengan pemberian bantuan hukum kepada penerima bantuan hukum terdapat sinkronisasi, yakni adanya kewajiban LBH penyedia layanan terpadu berbasis gender dan anak untuk memberikan layanan konsultasi atau pendampingan kepada setiap orang sebagai bentuk pengawasan terhadap penegakan hukum dan penyelenggaraan peradilan (Putri et al., 2022).
Selain itu, Peraturan Daerah juga telah mengatur tentang perlindungan terhadap korban kekerasan berbasis gender dan anak serta membentuk lembaga- lembaga kusus di tingkat provinsi dengan melibatkan elemen masyarakat sipil seperti LSM namun nyatanya tindak kekerasan berbasis gender tergolong masih sangat memprihatinkan dan korban belum dapat terpenuhi hak-haknya untuk mendapatkan keadilan serta perlindungan.Pemerintah provinsi melalui unsur SKPD yang menangani yaitu BP3AKB memiliki peranan yang sangat strategis dalam mendorong pemerintah Kabupaten/Kota, swasta, dam kelompok sipil pada umumnya untuk berkomitmen dalam menangani kekerasan terhadap perempuan (Susdarwono &
Surahmadi, 2022).
Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sangat kompleks dan mempengaruhi ketahanan individu maupun ketahanan keluarga sehingga memerlukan penanganan yang serius untuk memulihkan korban. Dalam aspek hukum diperlukan lembaga-lembaga khusus dan aparat penegak hukum serta pendampingan korban KDRT untuk membantu jalannya
proses penyelesaian korban KDRT. Aspek psikologi diperlukan untuk memberi kenyamanan korban untuk menyampaikan masalah kekerasaan yang dialami dan membantu korban KDRT agar mampu mengambil keputusan yang diperlukan agar kembali berdaya. Aspek sosial diperlukan agar korban KDRT dapat hidup bebas sebagai warga masyarakat sebagaimana adanya. Untuk aspek pemenuhan HAM, diperlukan karena HAM sebagai hak-hak yang melekat pada diri manusia yaitu hak-hak dasar yang dimiliki manusia sejak ia lahir berkaitan dengan harkat dan martabat sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tidak bisa dilanggar oleh siapapun. Penegakan hukum korban KDRT itu penting karena akan memberikan perlindungan kepada korban KDRT itu sendiri serta menindak pelaku. Pendampingan korban KDRT juga penting sebagai salah satu bentuk pemenuhan hak-hak korban seperti tertuang dalam pasal 10 Undang-Undang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Pendampingan korban KDRT diperlukan untuk menguatkan korban agar ketahanan individunya kuat dalam menghadapi proses hukum (Rudi et al., 2022).
Data Simfoni Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) per 3 Juni 2020 menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan (KtP) dan KDRT sesudah Penetapan Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana (PPSKTDB) sejak 29 Februari s.d. 3 Juni 2020 yaitu 499 kasus KtP dan 319 KDRT dibanding periode sebelumnya 1 Januari s.d.
28 Februari 2020, yaitu: 979 kasus KtP dan 589 KDRT. Ini berarti ada penurunan laju pertambahan dari 17 kasus KtP per hari menjadi 5 kasus per hari, sementara kasus KDRT dari 10 kasus per hari menjadi 3 kasus per hari.Sementara data Simfoni PPA periode 1 Januari s.d.
3 Juni 2019 adalah 3.879 kasus KtP dan 2.546 KDRT dibandingkan data periode yang sama tahun 2020 yaitu 1.478 kasus KtP dan 908 KDRT menunjukkan penurunan kasus KtP sekitar 62% dan 64% untuk KDRT (Muslim, 2022).
Walaupun data tersebut menunjukkan penurunan laju pertambahan KDRT sampai 70%
dan selisih jumlah kasus sampai 60% dari masa sesudah PPSKTDB dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun situasi ini belum dapat dikatakan menggembirakan. Besar dugaan bahwa tingkat KDRT masih sama banyaknya dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bisa jadi karena dampak kebijakan WFH dan PSBB yang membuat perempuan korban kekerasan dapat saja kehilangan akses untuk melaporkan kasus KDRT yang dialaminya. Terutama di wilayah yang sarana dan prasarana komunikasi dan transportasinya tidak mendukung untuk mendapatkan akses layanan bagi perempuan korban kekerasan. Selain itu, kebijakan WFH dapat membuat pusat penyedia layanan di suatu wilayah tidak dapat berfungsi secara optimal. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka akan dilakukan penelitian terkait Peran Lembaga Penyedia Layanan Terpadu Berbasis Gender dan Anak Terhadap Anak Korban KDRT.
METODE PENELITIAN
Jenis penulisan dalam karya tulis ini adalah penulisan hukum normatif melalui studi kepustakaan (library research). Sebagaimana umumnya penulisan hukum normatif yang dilakukan dengan penelitian pustaka, penelitian tersebut dilakukan dengan meneliti pustaka atau data sekunder yang berkaitan dengan penulisan yang dibahas. Sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan konseptual.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Cita-cita hukum merupakan rangkaian nilai terdalam yang terkandung di dalam hukum itu, atau bisa dikatakan sesuatu nilai tertinggi (idealisme) yang ingin dicapai oleh hukum itu.
Perlindungan terhadap hak asasi manusia merupakan sebuah cita-cita hukum negara dan demokrasi negara Indonesia. Perlindungan terhadap hak asasi manusia tidak hanya dilakukan pada orang yang sudah dewasa saja tetapi dilakukan mulai dari anak-anak tanpa terkecuali.
Hak asasi anak sudah tercantum di dalam Pasal 28B ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi: “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”
Selain itu negara juga menjamin agar hak-hak anak terpenuhi melaui peraturan perundang-undangan yang melindungi anak. Upaya-upaya perlindungan anak7 harus telah dimulai sedini mungkin, agar kelak dapat berpatisipasi secara optimal bagi pembangunan bangsa dan negara. Dalam pasal 2 ayat (3) dan (4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak, ditentukan bahwa anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa kandungan maupun sesudah dilahirkan. Kegiatan perlindungan anak merupakan suatu tindakan hukum yang berakibat hukum.Oleh karena itu, perlu adanya jaminan hukum bagi kegiatan perlindungan anak. Kepastian hukum perlu diusahakan demi kelangsungan perlindungan anak dan mencegah penyelewengan yang membawa akibat negatif yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan kegiatan perlindungan anak. Perlindungan anak terhadap anak korban KDRT harus dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan lembaga sosial untuk menyelenggarakan pelayanan dan perlindungan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) (Kodongan & Pandie, 2022).
Pada tingkat kebijakan, masalah perempuan dan anak korban kekerasan di Indonesia sejak tahun 1997 telah mendapatkan perhatian yang cukup. Hal ini terbukti dengan pengesahan 7 (tujuh) undang-undang yang terkait dengan penanganan masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak yang meliputi: (a) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang telah direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak; (b) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengalami perubahan menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
(c) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga; (d) Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban;
(e) Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang; dan (f) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Selanjutnya, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang merupakan amanat Pasal 43 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004.
Peraturan Pemerintah ini mengatur kerjasama penyelenggaraan pemulihan korban kekerasan dalam rumah tangga yang harus dilaksanakan oleh instansi pemerintah, pemerintah daerah dan lembaga sosial sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing termasuk penyediaan fasilitas yang diperlukan untuk pemulihan korban. Pada Pasal 3 Peraturan Pemerintah ini mengamanatkan perlunya dibuat pedoman pemulihan korban kekerasan dalam rumah tangga yang sensitif gender yang dirumuskan dalam standar pelayanan minimal.
Dalam Peraturan Pemerintah tersebut dinyatakan bahwa pemerintah kabupaten atau kota membentuk dan menyelenggarakan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) yang diatur dalam peraturan daerah kabupaten atau kota. Selain itu, untuk menjamin eksistensi dari PPT tersebut diperlukan dukungan sarana dan prasarana serta anggaran operasionalnya. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut juga diamanatkan untuk membentuk PPT di daerah perbatasan, yang merupakan daerah transit, debarkasi untuk mempermudah dan mempercepat penanganan saksi dan atau korban tindak pidana perdagangan orang. Untuk menjamin kualitas pelayanan terhadap saksi dan atau korban tindak pidana perdagangan orang, pada Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2008 mengamanatkan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan untuk menyusun suatu standar pelayanan minimal dan prosedur standar operasional yang akan menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pelayanan
terpadu oleh kementerian dan lembaga terkait dan PPT di daerah. Menindaklanjuti korban kekerasan yang terus meningkat maka pada 2010 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kemudian mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 01 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Layanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang menjadi panduan daerah untuk membentuk Unit Pelayanan Terpadu dari berbagai sektor, termasuk diantaranya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang harus dibentuk oleh pemerintah daerah di tingkat provinsi, kabupaten dan kota.
Kekerasan berbasis gender dipicu oleh relasi gender yang timpang yang diwarnai dengan ketidak adilan antar jenis kelamin, yang berkaitan dengan kekuasaan. Ketimpangan gender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan laki-laki yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dengan laki-laki. “hak istimewa” yang dimiliki oleh pihak laki-laki seolah-olah menjadikan perempuan sebagai “barang” milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan dengan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan.12 Kekerasan terhadap perempuan berasal dari budaya patriarki. Dimana patriarki merupakan sebuah sistem dominasi dan superioritas laki-laki serta sistem kontrol terhadap perempuan tempat perempuan dikuasai. Dalam patriarki melekat ideologi yang menyatakan bahwa laki- laki lebih tinggi daripada perempuan,bahwa perempuan harus dikontrol oleh laki-laki, dan bahwa perempuan adalah bagian dari milik laki-laki.
Dengan demikian terciptalah konstruksi sosial yang tersusun sebagai kontrol atas perempuan dan laki-laki berkuasa penuh mengendalikan hal tersebut. Artinya budaya patriarki meletakkan perempuan dalam kelas yang lebih inferior dibanding laki-laki, patriarki membentuk konstruksi struktural yakni penundukan berbasis kelas yang kemudian membuat relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan menjadi timpang sehingga kekerasan terjadi kepada kelompok yang memiliki kekuasan lebih rendah dibanding kelompok lainnya. Dalam hal ini perempuan menjadi kelompok yang lebih rentan mengalami kekerasan dibandingkan laki-laki.
Pelaksanaan perlindungan oleh lembaga penyedia layanan terpadu berbasis gender dan anak harus terkonsep secara matang dan sesuai dengan peraturan atau regulasi yang terkait dengan kegiatan perlindungan terhadap anak korban kekerasan dalam rumah tangga.
Kegiatan perlindungan terhadap anak korban kekerasan dalam rumah tangga dapat meliputi antara lain: pendampingan korban kekerasan dan perlindungan korban KDRT. Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Perempuan dan Anak (P2TP2A) merupakan urusan wajib Pemerintah Daerah. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi Korban dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Nomor 01 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Layanan Terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan. Berdasarkan Pasal 1 dalam Permen tersebut, SPM ini merupakan alat untuk mengukur kinerja Unit Pelayanan Terpadu dalam pemenuhan hak bagi perempuan dan anak korban kekerasan meliputi 5 (lima) jenis layanan, yakni: layanan pengaduan, layanan kesehatan, rehabilitasi sosial, penegakan dan bantuan hukum, serta pemulangan dan reintegrasi sosial. Saat ini, layanan bagi perempuan korban juga sangat terbatas, unit penanganan pengaduan di kepolisian belum menjadi prioritas dan pusat layanan terpadu yang dikoordinir oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kerap
terhambat oleh struktur dan dukungan seadanya.
Hampir seluruh daerah telah memiliki P2TP2A yang berfungsi sebagai pusat pelayanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan, meski dalam perkembangannya tidak semua berjalan secara maksimal dalam memenuhi hak korban karena kendala dukungan kebijakan dan anggaran dari pemerintah daerah, namun juga masalah koordinasi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait lainnya. Jadi, layanan bagi perempuan korban kekerasan, sesuai dengan apa yang dibutuhkan, biasanya meliputi layanan konseling, pendampingan, pendampingan hukum apabila korban ingin memproses perkaranya secara litigasi, ataupun layanan medik yang biasanya mencakup juga layanan medik darurat. Layanan tersebut masing-masing dikelola oleh pihak yang berbeda, diantaranya adalah organisasi perempuan (misalnya women’s crisis centre), lembaga non-pemerintah (misalnya lembaga bantuan hukum) maupun pemerintah seperti badan pemberdayaan perempuan (misalnya P2TP2A), kepolisian (misalnya RPK) dan rumah sakit (misal PPT).
Pelayanan diadakan mengikuti ketersediaan keahlian, sumberdaya manusia dan fasilitas yang ada. Jika tidak merasa sanggup melayani karena keterbatasan tenaga, fasilitas ataupun dana, biasanya mencari kenalan lain dan merujuknya kesana. Proses rujukan dilakukan atas dasar kepercayaan atau hubungan baik beberapa orang di antara lembaga-lembaga tersebut.
Sehubungan dengan keterbatasan tersebut, acapkali lembaga layanan tidak dapat memenuhi kebutuhan korban secara memadai sebagaimana yang dibutuhkan. Apalagi bila korban tempat tinggalnya terlampau jauh untuk dapat mengakses lokasi layanan. Aparat penegak hukum sebagai pemegang otoritas publik dalam sebuah negara memiliki kewajiban untuk membuat hukum tentang penegakan hukum yang baik, melaksanakan penegakan hukum dengan baik, menciptakan keamanan dan ketertiban umum bagi setiap orang yang ada di wilayah ini.
Namun kewajiban tersebut harus dilakukan dengan penghormatan, pemenuhan dan perlindungan HAM, utamanya hak-hak perempuan. Ruang pelayanan yang ada selama ini di kepolisian sebatas untuk pengaduan tindak pidana yang diatur dalam Undang- Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Dengan adanya ruang pelayanan khusus, saksi dan korban dapat memberikan keterangan dalam keadaan nyaman, tenang, utuh dan tidak dipermalukan di hadapan orang lain. Umumnya peningkatan jumlah unit layanan bagi perempuan dan anak belum diikuti dengan meningkatnya kualitas pelayanan. Staf penyedia layanan pada unit-unit tersebut “tidak sensitif gender”, dan belum diberikan pelatihan peningkatan kapasitas yang memadai. Banyak lembaga layanan tersebut belum memiliki fasilitas yang cukup dan representatif, khususnya tempat penampungan bagi korban. Unit layanan yang sudah ada terkadang kurang diikuti dengan kampanye yang gencar. Kelembagaan memang perlu diperkuat, namun pada saat yang sama, pendidikan serta sosialisasi atau kampanye untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan juga harus dilakukan.
Beberapa pengalaman para korban kekerasan patut dicatat bahwa: a) konsep pemberian bantuan didasari persepsi bahwa korban adalah orang lemah tak berdaya yang (hanya) membutuhkan belas kasihan sehingga ‘bantuan’ yang diberikan tidak memadai, parsial dan justru potensial menimbulkan kesengsaraan baru; b) Korban dianggap harus bertanggung jawab sendiri atas kemalangan yang menimpanya, sehingga mereka sering harus berjuang sendiri tanpa dukungan orang lain dan atau masyarakat; dan c) karena relasi gendernya, korban acapkali mengalami proses reviktimasi (menjadi korban untuk kesekian kalinya), misalnya eksploitasi kesengsaraannya, atau malah menerima stigma dan pengucilan oleh keluarga atau komunitasnya sendiri.
Dalam perspekstif pemenuhan HAM, pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) merupakan langkah yang sangat progresif karena merupakan implementasi pemenuhan HAM
bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam berbagai aspek, baik pelayanan pengaduan, pelayanan kesehatan, pelayanan rehabilitasi sosial, Komnas Perempuan, Layanan Terpadu-Pertautan Multi Disiplin dan Sinergi Kekuatan Masyarakat dan Negara (Cet.Kedua, Jakarta: Komnas Perempuan, 2005). pelayanan bantuan hukum dan pemulangan serta reintegrasi sosial. Dalam tataran kebijakan, peraturan pembentukan PPT sudah diatur, namun implementasinya masih banyak mengalami kendala. Konsep Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) di daerah masih sangat beragam, tetapi umumnya merupakan pelayanan berjejaring yang berbasis masyarakat.
Salah satu PPT yang saat ini dioptimalkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di setiap provinsi, kabupaten dan kota adalah Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang bentuknya masih berbeda-beda, sehingga konsepnya perlu disampaikan dengan panduan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kementerian Lembaga terkait lainnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan PPT, baik berupa P2TP2A maupun Women Crisis Center (WCC) yang dibentuk oleh LSM mampu menjawab kebutuhan terkait perempuan sebagai korban tetapi eksistensi lembaga tersebut sangat tergantung pada komitmen pemerintah daerah untuk memberikan fasilitas dan mendukung dalam bentuk regulasi daerah dan alokasi anggaran. Jaringan kerja yang terbentuk di setiap daerah juga menunjukkan relevansi yang sangat signifikan dalam optimalisasi PPT. Prinsip keterpaduan dalam praktik terkait erat dengan proses penegakan hukum, sehingga sinergi PPT dan kepolisian sebagai ujung tombak menjadi temuan kunci dalam permasalahan. Advokasi kepada pemerintah daerah dalam alokasi kebijakan dan anggaran yang ada di APBD untuk memberikan pelayanan prima dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan di PPT menjadi prioritas yang harus diupayakan oleh pemerintah pusat karena kekerasan perempuan terbukti merupakan isu strategis di semua daerah seluruh Indonesia.
Kemen PPPA dalam setiap kesempatan harus mendorong lembaga penyedia layanan UPTD PPA atau P2TP2A untuk pro aktif dalam “menjemput bola” kasus KDRT di wilayah mereka, bukan pasif hanya menunggu laporan datang selama masa sesudah PPSKTDB. Pihak penyedia layanan harus memahami situasi didaerah mereka masing-masing akibat kebijakan PSBB yang menghimbau karantina mandiri bagi masyarakat. Apa lagi, sesuai observasi, grafik data kasus covid-19 yang masih menanjak naik dan belum mencapai puncaknya, sehingga diperlukan unsur lembaga layanan yang sensitif terhadap kasus KDRT pada masa sesudah PPSKTDB ini.
Pola pelaporan kasus dengan lebih pro aktif dalam “menjemput bola” kasus KDRT merupakan salah satu solusi terbaik saat ini. “Kami disini melakukan pola pelayanan
“menjemput bola” berjejaring dengan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), Kader RT/RW, Badan Pembinaan Keamanan (Babinkam), Bintara Pembinaan Desa (Babinsa), dan Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang lebih jeli melihat potensi terjadi KDRT dan KtP di daerahnya. Kemudian kasus tersebut dibawah ke kabupaten/kota untuk diselasaikan di tingkat kab/kota.
Bagi sebagian besar keluarga WFH dan PSBB merupakan hal yang biasa saja atau bahkan menyenangkan karena bisa berkumpul bersama keluarga. Akan tetapi untuk keluarga yang rentan, kebijakan pada masa pandemi ini merupakan suatu hal yang mengerikan atau bahkan membahayakan nyawa mereka. Sebab bagi keluarga rentan, KDRT dan KtP seakan menghantui mereka saat beraktivitas di rumah sepanjang hari. Oleh karena itu, dengan pola “menjemput bola” akan memberikan kemudahan akses bagi perempuan korban KDRT dan KtP untuk melaporkan kasusnya saat pandemi sekarang ini.
KESIMPULAN
Terdapat layanan untuk membantu jalannya proses penyelesaian korban KDRT yang dikelola oleh pihak yang berbeda, diantaranya adalah organisasi perempuan (misalnya women’s crisis centre), lembaga non-pemerintah (misalnya lembaga bantuan hukum) maupun pemerintah seperti badan pemberdayaan perempuan (misalnya P2TP2A), kepolisian (misalnya RPK) dan rumah sakit (misal PPT). Dalam perspekstif pemenuhan HAM, pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) merupakan langkah yang sangat progresif karena merupakan implementasi pemenuhan HAM bagi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan dalam berbagai aspek, baik pelayanan pengaduan, pelayanan kesehatan, pelayanan rehabilitasi sosial, pelayanan bantuan hukum dan pemulangan serta reintegrasi sosial. Dalam tataran kebijakan, peraturan pembentukan PPT sudah diatur, namun implementasinya masih banyak mengalami kendala. Konsep Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) di daerah masih sangat beragam, tetapi umumnya merupakan pelayanan berjejaring yang berbasis masyarakat. Kemen PPPA dalam setiap kesempatan harus mendorong lembaga penyedia layanan UPTD PPA atau P2TP2A untuk pro aktif dalam “menjemput bola” kasus KDRT di wilayah mereka, bukan pasif hanya menunggu laporan datang selama masa sesudah PPSKTDB.
DAFTAR PUSTAKA
Arief Gosita, 1993, Masalah Korban Kejahatan, Jakarta: Akademika Pressindo, hal. 222 Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Anak Republik Indonesia, Implementasi
Pelaksanaan CEDAW di Indonesia
Kodongan, E. M. T., & Pandie, R. D. Y. (2022). Technological Developments in the Perspective of Christianity. IJRAEL: International Journal of Religion Education and Law, 1(1), 38–45.
Komnas Perempuan, Layanan Terpadu-Pertautan Multi Disiplin dan Sinergi Kekuatan Masyarakat dan Negara (Cet.Kedua, Jakarta: Komnas Perempuan, 2005).
Mosso. Julia Cleves, Gender & Pembangunan, 2007, Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Hlm. 2.
Muslim, A. (2022). Landasan Filsafat Idealisme dan Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar.
JETISH: Journal of Education Technology Information Sosial Sciences and Health, 1(1), 34–40.
Nashriana, 2011, Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Hal.3.
Natangsa Surbakti, 2012, Filsafat Hukum:Perkembangan Pemikiran dan Relevansinya dengan Reformasi Hukum Indonesia, Surakarta: Badan Penerbit Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS, hal. 121.
Oktavia, N., & Nurkhalizah, S. (2022). Implementation of Democratic Values in Islam to Build Student Character in the Millennial Era. Jurnal Pendidikan Amartha, 1(1), 11–13.
Penny Naluria Utami, Optimalisasi Pemenuhan Hak Korban Kekerasan Terhadap Perempuan Melalui Pusat Pelayanan Terpadu, Jurnal Hak Asasi Manusia Volume 7 No. 1, Juli 2016, hlm. 60.
Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan.
Publikasi dan Media Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kemen Pppa: Tingkatkan Layanan Kdrt Saat Pandemi Covid-19 Dengan Pola “Menjemput Bola”, Putri, T. D., Munandar, E., & Ganjar, S. (2022). Analysts Influence of Non Performing Financing
(NPF), Finance to Deposit Ratio (FDR), and Operating Costs and Operating Income (BOPO) on the Return on Assets (ROA) of PT BPRS in West Java Province During the
Covid-19 Pandemic. JAMBU AIR: Journal of Accounting Management Business and International Research, 1(1), 40–46.
Rudi, S. A., Syariefful, I., & Nur, K. (2022). Pengaruh Customer Relationship Management Terhadap Loyalitas Pelanggan Melalui Kepuasan Pelanggan (Studi Kasus pada Kedai Kopi He Kafei). Aurelia: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Indonesia, 1(1), 88–95.
Saptiawan, Itsna Hadi. Sugihastuti (2010). Gender & Inferioritas Perempuan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. hlm. 176.
Susdarwono, E. T., & Surahmadi. (2022). The Effectiveness of Promotional Tools in Making Covid-19 Vaccination a Success : Hypothesis Testing Methods for Changing Cochran ’ s Version. QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia, 1(1), 22–30.
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dan AusAID, 2009, Panduan Bantuan Hukum di Indonesia, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, hal. 117.