PERAN PENDAMPING SOSIAL DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL (STUDI KASUS PADA KPM PKH DESA DUKUHKARYA)
Ricky Nugraha Sartono1, Astuti Darmiyanti2, Ferianto3
Email: [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
ABSTRACT
Multicultural education in society places everyone in an equal position, no one is higher than the others, education is a way of conveying equality among members of society, so that later a society that is just, prosperous, respects differences can be realized. The method used is the method of observation, interviews, literature study. A qualitative explanation from the data analysis found the importance of the Role of Social Facilitators in the implementation of multicultural education in the “Keluarga Penerima Manfaat” (KPM) Community of the
“Program Keluarga Harapan” (PKH). The results showed that multicultural education in the KPM PKH community, Dukuhkarya Village, Rengasdengklok, Karawang. Implemented in an integrated manner through P2K2 activities by Social Facilitators with KPM PKH. Activities are carried out so that KPM PKH can practice multicultural values directly in real life in the family and community environment. KPM PKH tries to understand diversity and how to appreciate that diversity as a concrete manifestation of loving the pluralistic Indonesian nation, understanding differences as a gift from God Almighty which we must be grateful for.
Multicultural values can be well internalized by KPM PKH in the family and community to become pious human beings.
Keyword : Multicultural, Social Facilitators, KPM PKH, P2K2 ABSTRAK
Pendidikan multikultural di masyarakat menempatkan siapapun dalam posisi sejajar, tidak ada seseorang yang lebih tinggi dari yang lain, pendidikan menjadi jalan menyampaikan persamaan diantara anggota masyarakat, sehingga nantinya terwujud masyarakat yang adil, sejahtera, saling menghargai perbedaan. Metode yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, studi kepustakaan. Penjelasan secara kualitatif dari analisis data yang ditemukan begitu pentingnya Peran Pendamping Sosial dalam pelaksanaan pendidikan multikultural di komunitas Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH Desa Dukuhkarya kec. Rengasdengklok, kab. Karawang Karawang. Dilaksanakan secara terpadu melalui kegiatan P2K2 oleh Pendamping Sosial bersama KPM PKH. Kegiatan di lakukan agar KPM PKH dapat mempraktikan nilai multikultural secara langsung dalam kehidupan nyata di lingkungan keluarga dan masyarakat. KPM PKH berusaha memahami keberagaman dan cara menghargai keberagaman tersebut sebagai wujud nyata mencintai bangsa Indonesia yang majemuk, memahami perbedaan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus di syukuri. Nilai multikultural dapat diinternalisasi dengan baik oleh KPM PKH di keluarga dan masyarakat untuk menjadi manusia bertakwa.
Kata Kunci : Multikultural, Pendamping Sosial, KPM PKH, P2K2
A. PENDAHULUAN
Multikultural adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
(Parekh, 1997) Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari beberapa jenis kumunitas budaya dengan semua manfaat, dengan sedikit perbedaan dalam konsepsi dunia, sistem makna, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat istiadat dan kebiasaan.1
A multicultural country2 bisa dijadikan sebutan yang cocok dan cukup sederhana untuk menggambarkan Indonesia. Hal tersebut berdasarkan pada keanekaragaman agama dan kepercayaan, suku yang terpencar di lebih dari 17.000 pulau, keunikan bahasa daerah yang menempati jumlah terbanyak di dunia (lebih dari 500 bahasa daerah).3 Selain itu juga, Indonesia juga menganut agama dan kepercayaan yang sangat beraneka ragam, seperti Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha, Konguchu, serta berbagai macam kepercayaan lainnya.
Keragamaan ini akan melahirkan kebudayaan (culture) yang berbeda-beda sehingga bangsa ini termasuk salah satu negara multikultural terbesar di dunia.4 Berdasarkan dari keragaman kebudayaan itulah maka terbentuk sebuah motto Bhinneka Tunggal Ika yang artinya beragam atau berbeda-beda namun tetap satu jua (satu ikatan). Dengan keberagaman ini, Indonesia menjadi gambaran contoh kelangsungan hidup masyarakat yang berlatar belakang multikultural.
Demokrasi menjadi tantangan tersendiri bagi keberagaman yang ada di Indonesia.
Demokrasi merupakan produk dari reformasi pasca 1998. Bangunan Indonesia Baru dari hasil reformasi atau perombakan tatanan kehidupan Orde Baru adalah sebuah “masyarakat mult
1 https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-multikultural/ diakses pada hari senin, 12 Desember 2022 jam 11.15 wib
2 Multicultural country adalah suatu negeri atau wilayah yang terdiri dari banyak kebudayaan dan antara pendukung kebudayaan saling menghargai satu sama lain, Sumber: Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press 1985), hlm.18.
3 M. Ainul Yaqin, Pendidik an Multik ultural: Cross-Cultural Understanding untuk Demok rasi dan Keadilan, (Yogyakarta: Pilar Media, 2007), hlm. 3.
4 Maslikhah, Pendidik an Multikultural, Rek ontruksi Sistem Pendidik an BerbasisKebangsaan (Surabaya: JP Books, 2007), hlm. 8.
ikultural Indonesia” yang bercorak “masyarakat majemuk” (plural society). Corak masyarakat Indonesia yang “bhinneka tunggal ika” bukan lagi keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya, melainkan keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia (Suparlan, 2002). Strategi politik kebudayaan juga berbeda, jika pada masa Orde Baru keberagaman atau multikulturalisme di Indonesia seperti permadani sedangkan pada masa reformasi ini sudah menyerupai mozaik.5
Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Desa Dukuh Karya merupakan satu desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Rengasdengklok, berjarak ± 17 km dari Ibukota Kab.Karawang, Jawa Barat, Indonesia. Desa Dukuhkarya Merupakan sebuah desa yang multikultur, setidaknya dilihat dari kehidupan sosial seperti mata pencaharian, Pekerjaan, kegiatan sehari-hari penduduk nya kebanyakan adalah sebagai Petani, kemudian Pedagang, PNS, TNI/Polri, Karyawan Swasta, dan Wiraswasta, Buruh, dll.6
Pendidikan berlangsung sepanjang kehidupan manusia dan berwujud dalam bentuk pengalaman hidup yang diperoleh dari berbagai lingkungan budaya. Pendidikan yang diperoleh di sekolah di samping di rumah, di masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan individu itu selanjutnya. Pendidikan penuh dengan nilai, termasuk nilai budaya.
Dalam pendidikan multikultural, setiap orang berada dalam posisi sejajar, tidak ada seorang yang lebih tinggi dari yang lain, pendidikan menjadi jalan untuk menyampaikan adanya persamaan diantara seseorang dengan orang lain di tengah masyarakat, anggapan bahwa seseorang lebih tinggi dari yang lain akan melahirkan egoisme, dengan pendidikan diharapkan terjadi tukar pemikiran yang pada gilirannya akan membentuk seorang memiliki adab sehingga nantinya terwujud masyarakat yang adil, sejahtera yang saling menghargai perbedaan.
Disisi lain, Pemerintah Indonesia memiliki program dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan sekaligus pengembangan kebijakan di bidang perlindungan sosial, sejak tahun 2007 Pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keluarga
5 Nurcahyono, Hadi. 2018. Pendidik an Multik ultural Di Indonesia Analisis Sink ronis Dan Diak ronis.
Jurnal Universitas Sebelas Maret. Hal 2
6 Wawancara dengan Bapak Enjay, Staf Pemerintahan Desa Dukuharya pada hari senin, 3 oktober 2022
Harapan (PKH). Program Keluarga Harapan yang selanjutnya disebut PKH adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada Keluarga Miskin (KM) yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH.
Sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan, sejak tahun 2007 Pemerintah Indonesia telah melaksanakan PKH. ProgramPerlindungan Sosial yang juga dikenal di dunia internasional dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT) ini terbukti cukup berhasil dalam menanggulangi kemiskinan yang dihadapi di negara-negara tersebut, terutama masalah kemiskinan kronis.
Sebagai sebuah program bantuan sosial bersyarat, PKH membuka akses keluarga miskin terutama ibu hamil dan anak untuk memanfaatkan berbagai fasilitas layanan kesehatan (faskes) dan fasilitas layanan pendidikan (fasdik) yang tersedia di sekitar mereka.Manfaat PKH juga mulai didorong untuk mencakup penyandang disabilitas dan lanjut usia dengan mempertahankan taraf kesejahteraan sosialnya sesuai dengan amanat konstitusi dan Nawacita Presiden RI.7
Melalui PKH, KM didorong untuk memiliki akses dan memanfaatkan pelayanan sosial dasar kesehatan, pendidikan, pangan dan gizi,perawatan, dan pendampingan, termasuk akses terhadap berbagai program perlindungan sosial lainnya yang merupakan program komplementer secara berkelanjutan. PKH diarahkan untuk menjadi episentrum dan center of excellence penanggulangan kemiskinan yang mensinergikan berbagai program perlindungan dan pemberdayaan sosial nasional.
Misi besar PKH untuk menurunkan kemiskinan semakin mengemuka mengingat jumlah penduduk miskin Indonesia sampai pada Maret tahun 2016 masih sebesar 10,86% dari total penduduk atau 28,01 juta jiwa (BPS, 2016). Pemerintah telah menetapkan target penurunan kemiskinan menjadi 7-8% pada tahun 2019, sebagaimana tertuang di dalam RPJMN 2015-2019. PKH diharapkan dapat berkontribusi secara signifikan untuk menurunkan jumlah penduduk miskin, menurunkan kesenjangan (gini ratio) seraya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
7 Kementerian Sosial RI, 2019. Program Keluarga Harapan (online) https://kemensos.go.id/program- keluarga-harapan-pkh, diakses 12 Desember 2022
Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa PKH memberikan dampak terhadap perubahan konsumsi rumah tangga, seperti di beberapa negara pelaksana CCT lainnya. PKH berhasil meningkatkan konsumsi rumah tangga penerima manfaat di Indonesia sebesar 4,8%.
Cakupan PKH Tahun 2007 s.d. 2018
Pada PJP Tahun 2010 - 2014 terjadi peningkatan target beneficiaries dan alokasi budget PKH, melampaui baseline target perencanaan
Pelaksanaan PKH tahun 2016 sebanyak 6 juta keluarga miskin dengan anggaran sebesar Rp. 10 Triliun
Jumlah penerima PKH tahun 2017 sebanyak 6.228.810 keluarga dengan anggaran sebesar Rp. 11,5 Triliun
Jumlah penerima PKH tahun 2018 sebanyak 10.000.232 KPM dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 17,5 Triliun
Target penerima PKH tahun 2019 sebanyak 10 juta KPM dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 32,65 Triliun
KPM PKH harus terdaftar dan hadir pada fasilitas kesehatan dan pendidikan terdekat.
Kewajiban KPM PKH di bidang kesehatan meliputi pemeriksaan kandungan bagi ibu hamil, pemberian asupan gizi dan imunisasi serta timbang badan anak balita dan anak prasekolah.
Sedangkan kewajiban di bidang pendidikan adalah mendaftarkan dan memastikan kehadiran anggota keluarga PKH ke satuan pendidikan sesuai jenjang sekolah dasar dan menengah. Dan untuk komponen kesejahteraan sosial yaitu penyandang disabilitas dan lanjut usia mulai 60 tahun.
Masyarakat di desa Dukuhkarya Juga membutuhkan orang-orang yang mampu mengenalkan dan memahamkan serta mengaplikasikan nilai-nilai multikultural dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk kelompok masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga yang terhimpun dalam komunitas Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Kelarga Harapan (PKH) di desa tersebut.
Pendidikan merupakan jalan yang paling efektif untuk menyampaikan nilai-nilai multikultural kepada masyarakat, seperti peran yang dilakukan oleh Pendamping Sosial dalam mendampingi KPM PH desa Dukuhkarya.
Langkah yang sangat strategis untuk merubah pola fikr atau mindset dari Keluarga
Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) adalah kewajiban untuk mengikuti Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) yang didalamya disampaikan, dipelajari, didiskusikan, pendampingan dalam aplikasi di kelaurga KPM PKH mengenai perilaku yang baik sebagai orangtua yang lebih baik sehingga terlahir keluarga mandiri dengan konsep diri sebagai keluarga yang mandiri dan sejahtera untuk Indonesia yang lebih baik.
Keragaman tersebut berpengaruh langsung terhadap kemampuan Pendamping Sosial dalam mendampingi keluarga penerima manfaat (KPM) program keluarga harapan (PKH).
Kemampuan pendamping Sosial dalam mendampingi KPM juga berpengaruh terhadap kemampuan KPM dalam belajar dan berpengaruh dalam merubah pola pikir dari KPM.
Keragaman itu menjadi variable bebas yang memiliki kontribusi sangat signifikan terhadap keberhasilan program PKH.
Tujuan penelitian pada artikel ini adalah untuk :
a) Mengobservasi penerapan Pendidikan Multikultural pada komunitas keluarga penerima manfaat (KPM) program keluarga harapan (PKH).
b) Menentukan faktor pendukung dan penghambat penerapan pendidikan multikultural pada kegiatan pertemuan peningkatan kemampuan keluarga (P2K2) di komunitas KPM PKH Desa Dukuhkarya, Kec. Rengasdengklok..
Mengalisa permasalahan penerapan pendidikan multikultural pada kegiatan pertemuan peningkatan kemampuan keluarga (P2K2) di komunitas KPM PKH Desa Dukuhkarya, Kec.
Rengasdengklok dengan teori pendidikan multikultural yang relevan, didasarkan pada pendekatan dan karakteristik menurut para ahli.
B. KAJIAN PUSTAKA
1. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
Hakikat kata multikulturalisme artinya kebudayaan. Kebudayaan menurut para ahli sangat beragam, namun dalam konteks ini kebudayaan dilihat dalam perspektif fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam konteks perspektif kebudayaan tersebut, maka multikulturalisme adalah ideologi yang dapat menjadi alat atau wahana untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiannya. Multikulturalisme mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan.
Menurut james Banks menyatakan bahwa pengertian pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Pengertian ini senada dengan pengertian yang dikemukakan oleh Sleeter bahwa pendidikan multikultural adalah sekumpulan proses yang dilakukan oleh sekolah untuk menentang kelompok yang menindas. Pengertian- pengertian ini tidak sesuai dengan konteks pendidikan di Indonesia karena Indonesia memiliki konteks budaya yang berbeda dari Amerika Serikat walaupun keduanya memiliki bangsa dengan multi- kebudayaan. (Ibrahim 2013)8
Multikultural education can be defined as "education for or about cultural diversity in response to demographic and cultural changes within a particular community or even the world as a whole". (Pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai "pendidikan untuk atau tentang keragaman budaya sebagai tanggapan terhadap perubahan demografis dan budaya dalam komunitas tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan". (Abduloh et al. 2022).9
Sedangkan menurut (Tilaar 2004: 104) pendidikan multikulturan merupakan sebuah ikhtiar untuk mengurangi gesekan- gesekan atau ketegangan- ketegangan yang diakibatkan oleh perbedaan- perbedaan dalam masyarakat. (Agustian 2019)10
Sebagai masyarakat yang multi etnis, di Indonesia terdapat ratusan kelompok etnis beserta substansinya masing-masing. Walaupun Indonesia merupakan Negara berpenduduk sangat majemuk, tetapi secara moril dipersatukan dalam Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) dengan semboyannya “Bhehineka Tunggal Ika” (Berbeda Namun Satu Juga). Kemajemukan tersebut tidak hanya karena jumlah etnis yang banyak, tetapi juga karena terdiri dari berbagai perbedaan khas budaya yang melekat pada setiap etnis, baik yang bersifat horizontal maupun vertical (Said Agil 2006 : 130).
Mundzier Suparta dalam bukunya Islamic Multicultural Education, mencatat lebih dari sepuluh definisi tentang pendidikan multikultural,11 diantaranya adalah; (a)
8 Ibrahim,Rustam. 2013. Pendidik an Multikultural: Pengertian, Prinsip, Dan Relevansinya Dengan Tujuan Pendidik an Islam. ADDIN, Vol. 7, No. 1, Februari 2013. Hal 7
9 Abduloh, Agus Yosep, Uus Ruswandi, Mohamad Erihadiana, Naeli Mutmainah, and Hisam Ahyani.
2022. “The Urgency of Multicultural Islamic Education, Democracy And Human Rights In Indonesia” Vol.5 No.2. hal 7
10 Agustian, Murniati. 2019. Pendidik an Multik ultural. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atmajaya.
Hal 104
11 Mundzier Suparta, Islamic Multicultural Education: Sebuah Reflek si atas pendidik an A gama Islam di Indonesia, (Jakarta: Al Ghazali Center, 2008), hlm. 37
Pendidikan Multikultural adalah sebuah filosofi yang menekankan pada makna penting, legitimasi dan vitalitas keragaman etnik dan budaya dalam membentuk kehidupan individu, kelompok maupun bangsa. (b) Pendidikan Multikultural adalah menginstitusionalkan sebuah filosofi pluralisme budaya ke dalam system pendidikan yang didasarkan pada prinsip-prinsip persamaan (equality), saling menghormati dan menerima, memahami dan adanya komitmen moral untuk sebuah keadilan sosial. (c) Pendidikan Multikultural adalah sebuah pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang didasarkan atas nilai-nilai demokratis yang mendorong berkembangnya pluralisme budaya; dalam hampir seluruh bentuk komprehensifnya.Pendidikan multikultural merupakan sebuah komitmen untuk meraih persamaan pendidikan, mengembangkan kurikulum yang menumbuhkan pemahaman tentang kelompok-kelompok etnik dan memberangus praktik-praktek penindasan.(d) Pendidikan Multikultural merupakan reformasi sekolah yang komprehensif dan pendidikan dasar untuk semua anak didik yang menentang semua bentuk diskriminasi dan intruksi yang menindas dan hubungan antar personal di dalam kelas dan memberikan prinsip-prinsip demokratis keadilan sosial.
Maka dari itu dapat disimpulkan hakikat Pendidikan multikultural merupakan suatu pendekatan untuk mentrasformasi nilai- nilai yang mampu mencerdaskan dan memuliakan manusia dengan menghargai identitas dirinya, menghargai perbedaan suku bangsa, budaya, ras, agama dan kepercayaan, cara pandang serta menggali kearifan lokal budaya.
2. KPM PKH
Di dalam Permensos Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2018 disebutkan bahwa, keluarga dan/atau seseorang miskin dan rentan yang terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin, diolah oleh Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial dan ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat. Keluarga Penerima Manfaat (KPM) merupakan keluarga atau seseorang yang miskin dan rentan miskin yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang diolah oleh Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial dan ditetapkan sebagai Keluarga Penerima Manfaat.
Selanjautnya di dalam Permensos Nomor 1 Tahun 2018 juga disebutkan bahwa, Program Keluarga Harapan yang selanjutnya disingkat PKH adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada keluarga dan/atau seseorang miskin dan
rentan yang terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin, diolah oleh Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial. Bantuan Sosial PKH adalah bantuan berupa uang, kepada keluarga dan/atau seseorang miskin, tidak mampu, dan/atau rentan terhadap risiko sosial.
Dari penjelasan diatas, maka bisa diambil penjelasan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang selanjutnya disebut KPM PKH adalah keluarga dan/atau seseorang miskin dan rentan yang terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin, diolah oleh Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial dan ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat. Keluarga Penerima Manfaat (KPM) merupakan keluarga atau seseorang yang miskin dan rentan miskin yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang diolah oleh Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial dan ditetapkan sebagai Keluarga Penerima Manfaat bantuan sosial PKH.
3. PENDAMPING SOSIAL
Pendamping Sosial adalah pegawai kontrak pemerintah yang bertempat di tingkat kecamatan, yang memiliki tugas diantaranya: 1) melakukan kegiatan pendampingan PKH di kelurahan/desa/nama lain. Pendampingan PKH bertujuan memastikan anggota Keluarga Penerima Manfaat PKH menerima hak dan memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan dan persyaratan penerima manfaat PKH. Selanjutnya Pendamping Sosial berkewajiban melaksanakan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga bersama Keluarga Penerima Manfaat PKH paling sedikit 1 (satu) kali setiap bulan, Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga dilaksanakan oleh pendamping sosial dengan Keluarga Penerima Manfaat PKH setiap 1 (satu) bulan sekali.
4. PERTEMUAN PENINGKATAN KEMAMPUAN KELUARGA (P2K2)
Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga adalah proses belajar secara terstruktur untuk mempercepat terjadinya perubahan perilaku pada Keluarga Penerima Manfaat PKH. menciptakan perubahan perilaku dan kemandirian Keluarga Penerima Manfaat dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan serta kesejahteraan sosial. Mengikuti kegaiatan Pertemuan Peningkatan kemampuan Kelaurga merupakan salah satu kewajiban dari KPM PKH. Sebagian besar KPM PKH mengenal
dan menyebut kegiatan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dengan sebutan “Sekolah PKH”.
Kegiatan P2K2 dilakukan setiap satu bulan sekali untuk satu kelompok, jumlah anggota KPM PKH dalam satu kelompok antara 15-30 orang. Kelompok KPM PKH dibuat berdasarkan domisili atau demografis KPM PKH tersebut, biasanya berdasarkan RT atau wilayah yang terdekat.12
5. DESA DUKUHKARYA
Desa Dukuh Karya meruapakan satu Desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Rengasdengklok, berjarak ± 17 km dari Ibukota Kab.Karawang. Mata pencaharian, Pekerjaan, kegiatan sehari-hari penduduk nya kebanyakan adalah sebagai Petani, kemudian Pedagang, PNS, TNI/Polri, Karyawan Swasta, dan Wiraswasta, Buruh, dll.
Dukuhkarya sebagai salah satu penyangga Kecamatan Rengasdengklok terkenal dengan julukan kota Pangkal Perjuangan karena pada tahun 1945 sebelum kemerdekaan RI di proklamirkan, Presiden Soekarno dan Wapres Moh.Hatta merumuskan teks proklamasi serta Pengibaran Bendera Merah Putih pertama kali di laksanakan pada tanggal 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok. Untuk mengenang peristiwa tersebut di kota ini di bangun Monumen Tugu Rengasdengklok. Hasil Pertanian dari kec.Rengasdengklok disamping Padi juga terdapat hasil perikanan, sayur mayur, dan pemeliharaan domba, ayam, bebek, dll.13
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian kualitatif dengan metode deskriptif adalah metode yang menjelaskan atau mendeskripsikan suatu fakta, data, dan objek penelitian secara sistematis dan sesuai dengan situasi alamiah.
Terkait ini hasil penelitian lebih menekankan pada makna dari pada hasil, dan hasil penelitian tidak mengikat serta dapat berubah sesuai dengan kondisi yang dihadapi di lapangan
12 Wawancara dengan Siti Rahmah , Pendamping Sosial Desa Dukuhkarya, kecamatan Rengasdengklok, pada hari senin, 10 oktober 2022
13 https://www.karawangkab.go.id/sites/default/files/pdf/Rengsadengklok.pdf, diakses 12 desember 2022
penelitian dan diinterpretasikan dan dituliskan dalam bentuk kata-kata atau deskriptif berdasarkan fakta di lapangan (Anggito & Setiawan, 2018).
Penelitian ini mengenai komunitas KPM PKH di Desa Dukuhkarya, Kec.
Rengasdengklok, Kab. Karawang dengan sumber data penelitian yaitu sumber Informasi (Kepala RT, Pendamping Sosial, dan KPM PKH). Peneliti berperan sebagai human instrument (peneliti melakukan penelitiannya sendiri). Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi (Moleong, 2017). Analisis data bersifat kualitatif, dengan menggunakan model Milles & Huberman yaitu Reduksi data, Penyajian data dan kesimpulan atau Verifikasi (Miles & Huberman, 2014). Dan adapun teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan adalah: triangulasi data, meningkatkan ketekunan, dan menggunakan bahan referensi (Burhan Bungin,op.cit.,h.263).
D. PEMBAHASAN
Pelaksanaan pendidikan multikultural dalam kehidupan di komunitas KPM PKH Desa Dukuhkarya kec. Rengasdengklok Dilakukan secara terpadu dengan melalui kegiatan P2K2.
Kegiatan tersebut dilakukan setiap bulan. Hal ini dilakukan agar KPM PKH dapat mempraktikan secara langsung sesuai di lingkungan keluarga, komunitas dan masyarakat.
Kegiatan P2K2 dilakukan dengan penguatan materi tentang keberagaman yaitu tentang beragam suku, budaya, agama dan adat istiadat..
Melihat dari sosial budaya masyarakat melalui pekrjaan dan kegiatan sehari-hari dari keluarga di Desa Dukuh karya berdasarkan keterangan dari Kepala RT di masing-masing dusun di Desa Dukuhkarya menjelaskan kehidupan sosial sehari-hari dari warga yang ada disetiap dusun, dimana diantara pekerjaan dan kegiatan sehari-harinya yaitu: warga dusun sebagian berprofesi sebagai pengrajin tikar, warga dusun sebagian berprofesi sebagai petani, warga dusun sebagian berprofesi sebagai pedagang.14
Dalam proses implementasi pendidikan multukultural tersebut juga tidak terlepas dari peran Pendamping Sosial dan KPM PKH . Karena itu proses implementasi nilai-nilai pendidikan multikultural dapat dijelaskan secara rinci. berdasarkan peran kepala RT, Pendamping Sosial dan KPM PKH. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. PERAN KEPALA RT DI DESA DUKUHKARYA
14 Wawancara dengan Bapak Muhidin, kepala RT.001 RW.001 Dusun Dukuh Barat, Desa Dukuhkarya
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Kepala Rumah Tangga (RT) di masing-masing dusun di Desa Dukuhkarya menjelaskan kehidupan sosial sehari-hari warga yang ada disetiap dusun :
a) Warga dusun sebagian berprofesi sebagai pengrajin tikar.
b) Warga dusun sebagian berprofesi sebagai petani.
c) Warga dusun sebagian berprofesi sebagai pedagang.
2. PERAN PENDAMPING SOSIAL
Begitupun keterangan yang didapat dari Pendamping Sosial Desa Dukuhkarya yang juga menyampaikan terkait pekerjaan dan kegiatan sehari-hari dari KPM PKH yang ada di Desa Dukuhkarya juga tidak jauh berbeda kondisinya dengan warga Desa Dukuhkarya yang lainnya.
Tabel 4.1. Hasil Observasi15 Aspek yang
diamati
Deskripsi asp ek yang diamati Kesimpulan
Peran Pendamping Sosial dalam mengimplemen tasikan nilai pendidikan multikultural
Pendamping Sosial dalam implementasi nilai pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH yaitu pada kegiatan P2K2. misalnya Pendamping Sosial memberikan pengajaran dan pemahaman kepada KPM PKH petingnya menjaga keberagaman dan Pendamping Sosial melakukan itu melalui penguatan materi keberagaman pada kegiatan P2K2.
Pendamping Sosial dan KPM PKH mengadakan suatu diskusi tentang keberagaman dengan efektif.
Pendamping Sosial sebagai fasilitator berusaha memahami keunikan tiap individu atau KPM
Pedamping Sosial dalam
mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH dengan cara Kegiatan P2K2 dalam rangka melakukan penguatan materi keberagaman.
Mengadakan diskusi tentang keberagaman sesuai dengan tujuan.
15 Wawancara dengan Siti Rahmah, Pendamping Sosial Desa Dukuhkarya, kecamatan Rengasdengklok, pada, 10 oktober 2022
PKH.
Pada kegiatan P2K2 juga dilakukan kegiatan pendalaman dan pemahaman nilai tentang pentingnya menjaga keberagaman di sekitar
3. PERAN PENDAMPING SOSIAL DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN NILAI- NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Pendamping Sosial dalam implementasi nilai pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH yaitu pada kegiatan P2K2. misalnya Pendamping Sosial memberikan pengajaran dan pemahaman kepada KPM PKH pentingnya menjaga keberagaman dan Pendamping Sosial melakukan itu melalui penguatan materi keberagaman pada kegiatan P2K2.Pendamping Sosial dan KPM PKH mengadakan suatu diskusi tentang keberagaman dengan efektif. Pendamping Sosial sebagai fasilitator berusaha memahami keunikan tiap individu atau KPM PKH pada kegiatan P2K2 juga dilakukan kegiatan pendalaman dan pemahaman nilai tentang pentingnya menjaga keberagaman di sekitar.
Pentingnya pendidikan multikultural bagi KPM PKH yaitu sebagai solusi di lingkungan masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan keberagaman. Selain itu juga pendidikan multikultural dilakasanakan di lingkungan masyarakat agar KPM PKH dapat memahami tentang keberagaman dan cara menghargai satu sama lain sebagai wujud nyata mencintai keberagaman bangsa Indonesia yang majemuk.
Peran guru sebagai perangkai transisi keilmuan dari satu generasi ke generasi lain sudah setua perjalanan peradaban manusia sendiri. Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik.
Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari suatu
proses pendidikan.( Hamzah B. Uno : 2008 )
Peran Pendamping Sosial sebagai guru dalam implementasi nilai pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH yaitu: dengan kegiatan P2K2. Dalam kegiatan P2K2 misalnya saya memberikan pemahaman kepada KPM PKH petingnya menjaga keberagaman dan saya lakukan itu melalui penguatan materi keberagaman di komunitas KPM PKH, pada diskusi dengan KPM PKH saya tetap utamakan komunikasi dua arah yang humanis seperti layaknya seseorang dengan sahabatnya.
Pendamping Sosial memperhatikan KPM PKH secara personal dan menjalin hubungan yang humanis. Melalui komunikasi dua arah, terjalin relasi seperti layaknya teman. Pendamping Sosial selalu mengutamakan komunikasi, diskusi dan kesepakatan bersama KPM PKH. Komunikasi dan kesepakatan dilakukan kepada semua KPM PKH termasuk KPM PKH berkebutuhan khusus. Melalui diskusi, perbedaan diolah menjadi hal yang wajar. Setiap diskusi menghasilkan kesepakatan bersama. Melalui kesepakatan bersama Pendamping Sosial menerapkan nilai-nilai universal kemanusiaan Kemudian, peran Pendamping Sosial dalam menerapkan pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH yaitu Pendamping Sosial berperan sebagai fasilitator, Pendamping Sosial berperan memahami keunikan individu dan Pendamping Sosial berperan membangun hubungan yang humanis kepada setiap KPM PKH.
Tabel 4.2 Hasil Wawancara16
Aspek Pertanyaan Jawaban/Kesimpulan
Apa yang diketahui tentang pendidikan multikultural di
lingkungan masyarakat menurut bapak sebagai Pendamping Sosial?
Pendidikan multikultural yang saya ketahui yaitu pendidikan yang berlandasakan pada prinsip multikultural yakni keberagaman dengan menerima setiap perbedaan yang ada baik berupa perbedaan ras, agama, dan kelas sosial. Menghindari munculnya diskriminasi terhadap sesama.
16 Wawancara dengan Siti Rahmah , Pendamping Sosial Desa Dukuhkarya, kecamatan Rengasdengklok, pada hari senin, 10 oktober 2022
Bagaiaman Peran
Pendamping Sosial dalam menerapkan nilai
pendidikan multikultural?
Peran Pendamping Sosial dalam implementasi nilai pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH yaitu:
melalui kegiatan P2K2.
Pada kegiatan P2K2 misalnya Pendamping Sosial memberikan pemahaman kepada KPM PKH Pada modul
“pengasuhan dan pendidikan anak”, sesi “menjadi orang tua yang lebih baik”, point “orang tua bekerjasama dan mengasuh dan mendidik anak”.
Seberapa Penting
pendidikan multikultural bagi KPM PKH di lingkungan masyarakat?
Pentingnya pendidikan multikultural bagi KPM PKH adalah menjadi modal bagi KPM PKH dalam kehidupan bermasayarakat, karena Negara Indonesia memiliki berbagai macam suku, budaya dan agama maka penanaman nilai multikultural di komunitas KPM PKH adalah suatu wujud nyata dari kehidupan bermasyarakat.
Nilai-nilai yang akan ditanamkan adalah mencintai keberagamaan, Nasionalisme, Karakter, kejujuran dan kepribadian yang tanggung jawab.
Apa saja kegiatan yang dilakukan oleh KPM PKH sebagai wujud nyata implementasi dari nilai multikultural?
Adapun kegiatan yang dilakukan oleh KPM PKH dalam mengimplementasi nilai pendidikan multikultural adalah kegiatan P2K2 yang diikuti bukan hanya oleh ibu-ibu saja, akan tetapi bisa juga diikuti oleh bapak-bapak
. Adakah program khusus
yang dilakukan oleh Pendamping Sosial dalam menumbuhkan nilai multikultural pada KPM PKH?
Adapun program khusus yang dilakukan oleh Pendamping Sosial adalah dengan menuliskan nilai multikultural pada papan karakter yang di tempel di kertas karton, dan di muat juga dalam pembelajaran P2K2.
Apa saja faktor pendukung pendidikan multikultural di
Pendamping Sosial yang memahami pendidikan multikultural sesuai dengan kebutuhan KPM PKH yang
komunitas KPM PKH? saling berhubungan erat satu sama lain. Komunitas KPM PKH juga memiliki iklim yang menerima dan menghargai perbedaan, sehingga KPM PKH bersikap terbuka terhadap perbedaan dan menjadi lebih mudah untuk terbiasa dengan keberagaman yang ada di komunitas KPM PKH.
Apa saja faktor
penghambat pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH?
Faktor penghambat dalam pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH diantaranya : Kesulitan komunikasi masih kurangnya media yang mendukung implementasi pendidikan multikultural, hal tersebut juga sesuai dengan data yang diperoleh melalui observasi. Kekurangan yang dimaksud seperti kurangnya media yang bisa digunakan untuk mengajarkan tentang keberagaman misalnya media yang dapat digunakan untuk mengajarkan tentang budaya lain.
Faktor lain yang menjadi penghambat adalah sikap sebagian KPM PKH yang belum bisa menerima perbedaan yang ada di komunitas KPM PKH maupun di lingkungan masyarakat. masih ada yang belum bisa memahami KPM PKH yang berkebutuhan khusus.
faktor lain yang menjadi penghambat implementasi pendidikan multikultural berikutnya menurut Pendamping Sosial adalah belum adanya sosialisasi untuk Pendamping Sosial secara langsung terkait pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH.
Tabel 4.3 Hasil Wawancara17 Apa saja permasalahan penerapan pendidikan
Permasalahan penerapan pendidikan multikultural di komunitas KPM PKH yaitu pada sisi ekonomi lingkungan
17 Wawancara dengan Siti Rahmah , Pendamping Sosial Desa Dukuhkarya, kecamatan Rengasdengklok, pada hari senin, 10 oktober 2022
multikultural di komunitas KPM PKH?
masyarakat karena semua KPM PKH merupakan masyarakat yang kurang mampu sehingga muncul kesenjangan dilingkungan masyarakat.
Terkadang Pendamping Sosial kurang menguasai garis besar struktur dan budaya etnis KPM PKH binaannya, Rendahnya kemampuan Pendamping Sosial dalam mempersiapkan KPM PKH terhadap khasanah budaya masing-masing dalam konteks budaya masing-masing serta dalam dimensi pengalaman belajar yang diperoleh.
4. PENTINGNYA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BAGI KPM PKH
Pendidikan multikultural bagi KPM PKH merupakan salah satu solusi di lingkungan sesama KPM PKH dan di lingkungan masyarakat secara umum sebagai cara menyelesaikan permasalahan keberagaman. KPM PKH diharapkan tidak meninggalkan akar budayanya, dan pendidikan multikultural sangat berperan penting digunakan dalam menyelesaikan permasalahan keberagamaan yang ada di lingkungan masyarakat.
Pentingnya pendidikan multikultural dilaksanakan di lingkungan sesama KPM PKH agar KPM PKH dapat memahami tentang keberagaman dan bagaimana menunjukkan sikap yang menghargai satu sama lain sebagai wujud nyata mencintai keberagaman bangsa Indonesia.
Selain itu, KPM PKH dapat memahami perbedaan-perbedaan keragaman sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus di syukuri sehingga bisa mengimplementasikan nilai multikultural dalam kehidupan sehari-hari dengan baik oleh KPM PKH di tengah-tengah keluarga dan masyarakat.
Pentingnya pendidikan multikultural bagi KPM PKH yaitu sebagai solusi untuk menjaga keharmonisan dan persatuan, khususnya di lingkungan sesama KPM PKH dan umunya di lingkungan masyarakat yang cukup beragam sosial budayanya. Selain itu juga
pendidikan multikultural dilakasanakan di lingkungan masyarakat agar KPM PKH dapat memahami tentang keberagaman dan cara menghargai satu sama lain sebagai wujud nyata mencintai keberagaman bangsa Indonesia yang majemuk, tidak ada kata terlambat untuk belajar walaupun sudah menjadi orangtua dan sebagai keluarga menjadi bagian dari kumpulan masyarakat.
Dalam perspektif Al-Qur’an mengenai multikultural, Allah SWT menjelaskan di dalam QS. Al-Hujurot : 13
َأ َّنِإ ۚ اىُفَراَعَتِل َلِئاَبَق َو اًبىُعُش ْمُكاَنْلَعَج َو ٰىَثنُأ َو ٍرَكَذ نِّم مُكاَنْقَلَخ اَّنِإ ُساَّنلا اَهُّيَأ اَي ٌميِلَع َ َّاللَّ َّنِإ ۚ ْمُكاَقْتَأ ِ َّاللَّ َدنِع ْمُكَمَرْك
ٌريِبَخ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al-Hujurot: 13)
Puspita (2018) menyatakan pendidikan multikultural adalah pendidikan yang berlandaskan pada asas dan prinsip konsep multikulturalisme yakni konsep keberagaman yang mengakui,menerima dan menegaskan perbedaan dan persamaan manusia yang dikaitkan dengan gender, ras, dan kelas, agama berdasarkan nilai dan paham demokratis yang membangun pluralisme budaya dalam usaha memerangi prasangka dan diskriminasi. Adapun pentingnya pendidikan multikultural bagi peserta didik yaitu sebagai sarana alternatif pemecahan konflik, peserta didik diharapkan tidak meninggalkan akar budayanya, dan pendidikan multikultural sangat relevan digunakan untuk demokrasi yang ada seperti sekarang ini.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas bahwa memang penting pendidikan multikultural dilakasanakan di komunitas KPM PKH agar KPM PKH dapat memahami tentang keberagaman dan cara menghargai sebagai wujud nyata mencintai bangsa Indonesia yang majemuk. Selain itu KPM PKH memahami perbedaan-perbedaan keragaman itu sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang patut di syukuri. Sedangkan
tujuan diciptakannya manusia terdiri dari laki-laki, perempuan dan menjadikannya berbangsa-bangsa serta bersuku-suku agar manusia saling mengenal, tentunya yang paling mulia diantara manusia adalah yang paling bertakw. Ssehingga dalam implementasi nilai multikultural dalam kehidupan sehari-hari dapat diinternalisasi dengan baik oleh KPM PKH di keluarga dan masyarakat untuk menjadi manusia terbaik (bertakwa).
5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa implementasi nilai-nilai pendidikan multikultural dalam kehidupan di komunitas KPM PKH Desa Dukuhkarya kec.
Rengasdengklok, kab. Karawang Karawang. Dilaksanakan secara terpadu melalui kegiatan P2K2. Kegiatan P2K2 di lakukan agar KPM PKH dapat mempraktikan secara langsung dalam kehidupan nyata di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Kegiatan P2K2 dilakukan dengan penguatan materi tentang keberagaman yaitu tentang beragam suku, budaya, agama dan adat istiadat.
Oleh karena itu peran penting pendidikan multikultural dilaksanakan di komunitas KPM PKH agar KPM PKH dapat memahami tentang keberagaman dan cara menghargai keberagaman tersebut sebagai wujud nyata mencintai bangsa Indonesia yang majemuk. Selain itu KPM PKH diajarkan memahami perbedaan- perbedaan keragaman itu sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang patut di syukuri sehingga dalam implementasi nilai multikulturalisme dalam kehidupan sehari-hari dapat diinternalisasi dengan baik oleh KPM PKH di keluarga dan masyarakat untuk menjadi manusia bertakwa.
6. DAFTAR PUSTAKA
Abduloh, Agus Yosep, Uus Ruswandi, Mohamad Erihadiana, Naeli Mutmainah, and Hisam Ahyani. 2022. “The Urgency of Multicultural Islamic Education, Democracy And Human Rights In Indonesia” Vol.5 No.2.
Agil, Said Munawar Husin al-Munawar. 2006. Fiqih Kehidupan antar Agama Menata Masyarakat Berbasis Multikultural, dalam Masa Depan Bangsa dan Radikalisme Agama. Bandung: Gunung Djati Press.
Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Sukabumi: CV Jejak.
Agustian, Murniati. 2019. Pendidikan Multikultural. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atmajaya.
Agus Wibowo dan Hamrin. 2012. Menjadi Guru Berkarakter Strategi Membangun Kompetensi dan Karakter Guru. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hamzah B. Uno. 2008 Profesi Kependidikan, Problema, Solusi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian- multikultural/
Ibrahim,Rustam. 2013. Pendidikan Multikultural: Pengertian, Prinsip, Dan Relevansinya Dengan Tujuan Pendidikan Islam. ADDIN, Vol. 7, No. 1, Februari 2013. Diunduh dari: https://media.neliti.com
Ibrahim, Rustam. 2013. “Pendidikan Multikultural : Pengertian , Prinsip , Dan Relevansinya Dengan Tujuan Pendidikan Islam.” Addin 7 (1): 1–26.
Kementerian Agama, 2014. Al-Quran, Tajwid, dan Terjemah. Diponegoro, Bandung.
Kementerian Sosial RI, 2009. Pedoman Umum PKH, Jakarta
Maslikhah, Pendidikan Multikultural, Rekontruksi Sistem Pendidikan BerbasisKebangsaan (Surabaya: JP Books, 2007)
Miles, M.B, Huberman, A.M, & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis, A Methods Sourcebook, Edition 3. USA: Sage Publications. Terjemahan Tjetjep Rohindi Rohidi, UI-Press
Moleong, L. J. (2017). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nurcahyono, Hadi. 2018. Pendidikan Multikultural Di Indonesia Analisis Sinkronis Dan Diakronis. Jurnal Universitas Sebelas Maret.
Permensos Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2018
Satria, Andri. 2017. Internalisasi Nilai-Nilai Multikultural Di Sd Nasional 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto. Tesis tidak diterbitkan. Purwokerto: IPDS IAIN Purwokerto
Suparta, Mundzier. 2008. Islamic Multikultural Education: Sebuah Refleksi Atas Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Al-Ghazali Center. Jakarta.
M. Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural: Cross-Cultural Understanding untukDemokrasi dan Keadilan, (Yogyakarta: Pilar Media, 2007).