i COVER
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBINA AKHLAK MULIA PESERTA DIDIK DI SDIT AL
HIKMAH 2 (DUA) DEPOK TAHUN PELAJARAN 2023/2024
Diajukan kepada Institut Agama Islam Depok
untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Program Studi Pendidikan Agama Islam
TARISA AULIA PUTRI NIM : 19.1.1885
INSTITUT AGAMA ISLAM DEPOK FALKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SAWANGAN KOTA DEPOK
2023
ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini,
Nama Mahasiswa : TARISA AULIA PUTRI Nomor Induk : 19.1.1885
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi saya ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan skripsi saya ini adalah hasil karya/penelitian sendiri dan bukan hasil plagiasi dari karya/penelitian orang lain.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya agar dapat diketahui oleh anggota dewan penguji.
Depok, Agustus 2023 Yang menyatakan
Materai 10000,-
TARISA AULIA PUTRI NIM: 19.1.1885
iii
PENGESAHAN PENGUJI
Skripsi ini telah dimunakosahkan oleh tim penguji Fakultas taarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Depok (IAID) Al- Karimiyah pada hari ………., tanggal ………….2023, dan telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarja Pendidikan (S.Pd)
Depok, Aagustus 2023 Ketua
………..
Sekretris
………..
TIM PENGUJI Penguji 1
………
Penguji 2
………
iv
PERSETUJUAN PEMBIMBING
“PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBINA AKHLAK MULIA PESERTA DIDIK DI SDIT AL HIKMAH 2 (DUA)
DEPOK TAHUN PELAJARAN 2023/2024”
Oleh:
TARISA AULIA PUTRI NIM : 19.1.1885
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:
Pembimbing I
Dr. Ahmad Sujay, M.M
Mengetahui Ketua Progam Studi PAI
IAID Al-Karimiyah
Dr. Ahmad Sujay, M.M.
v MOTO
“Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Tidak ada keberhasilan tanpa kebersamaan. Tidak ada kemudahan tanpa doa.” – Ridwan Kamil
vi ABSTRAK
TARISA AULIA PUTRI, NIM: 19.1.1885. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlak Mulia Peserta Didik Di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok Tahun Pelajaran 2023/2024
Guru PAI di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok juga memiliki peranan yang penting dalam pembentukan akhlak mulia peserta didik. Salah satu contohnya adalah melalui pembiasaan, yakni guru mengajarkan kepada peserta didik untuk bersalaman kepada bapak ibu guru setiap pagi sebelum masuk sekolah. Ini bertujuan agar peserta didik terbiasa dengan melakukan akhlak mulia. tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini ialah: (1.) Untuk mendeskripsikan bagaimana peran guru PAI dalam membina akhlak mulia peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok (2.) Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi dalam membina akhlak mulia peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskrptif. Jenis penelitian lapangan yaitu meggunakan data-data faktual yang sifatnya autentik di lapangan. Penelitian ini menggambarkan tentang peran guru Pendidikan Agama Islam dalam pembinaan akhlak mulia peserta didik. Adapun subjek yang dituju pada penelitian ini adalah Guru Pendidikan Agama Islam, Kepala sekolah dan peserta didik yang berada di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok. peneliti menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data, yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun aktivitas yang dapat dilakukan dalam menganalisis data yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.
Hasil observasi, wawancara dan dokumentasi yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sudah berperan aktif dalam membina akhlak peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok. Hal ini terlihat dari berbagai partisipasi yang dilakukan oleh guru PAI&BP yang bertujuan untuk membina akhlak peserta didik. Seperti guru memberikan keteladanan, pembiasaan, teguran dan juga berperan sebagai pemimpin, yaitu dengan mengajak para peserta didik untuk kebaikan.
Kata Kunci : Guru Pendidikan Agama Isslam, Akhlak Mulia
vii ABSTRACT
TARISA AULIA PUTRI, NIM: 19.1.1885. The Role of Islamic Religious Education (Pai) Teachers in Fostering the Noble Morals of Students at SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok, Academic Year 2023/2024
PAI teachers at SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok also have an important role in the formation of the noble character of students. One example is through habituation, in which the teacher teaches students to shake hands with the teacher every morning before entering school. This is intended so that students are accustomed to carrying out noble morals. The objectives to be achieved in this study are: (1.) To describe how the role of PAI teachers is in fostering the noble character of students at SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok (2.) To identify the factors that influence in fostering the noble character of students at SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok
In this study, researchers used a descriptive qualitative approach. This type of field research is using authentic factual data in the field. This study describes the role of Islamic Religious Education teachers in fostering the noble character of students.
The subjects addressed in this study were Islamic religious education teachers, school principals and students at SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok. researchers used several techniques in data collection, namely: observation, interviews and documentation. The activities that can be carried out in analyzing data are data reduction, data display, and conclusion drawing/verification.
The results of observations, interviews and documentation that have been carried out by researchers, it can be concluded that the results of this study indicate that Islamic Religious Education and Moral Education teachers have played an active role in fostering the morals of students at SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok. This can be seen from the various participations carried out by PAI & BP teachers which aim to foster the morals of students. Such as the teacher provides exemplary, habituation, reprimands and also acts as a leader, namely by inviting students to do good.
Keywords: Islamic Religious Education Teacher, Noble Morals
viii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmaat dan pertolongan-Nya. Sholawat serta salam semoga tetap terlimah kepada Nabi Muhammaad SAW, yang telah menuntun manusiaa menuju jalaan kebahaagiaan hidup di dunia dan di akhiraat.
Penyusunan skripsi ini merupakan kajian singkat tentang “Peran Guru Pendidikan Agama Islam (Pai) Dalam Membina Akhlak Mulia Peserta Didik Di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok Tahun Pelajaran 2023/2024”. Penyusun menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, denga segala kerendaahan haati pada kesempatan ini penyususn mengucapkan rasa terimakasih kepada:
1. Bapak KH. DR Ahmad Damanhuri, MA selaku pimpinan pesantren Al- Karimiyah Depok.
2. Bapak Dr. H Ahmad Fatih Ghazali, S. Pd, M.M selaku Rektor Institut Agama Islam Depok.
3. Bapak Drs. Toyyibudin, M. Ag selaku Dekan Fakultas Institut Agama Islam Depok.
4. Bapak Dr. Ahmad Sujai, M.M selaku ketua Program Studi Agama Islam Institut Agama Islam Depok Sekaligus Dosen Pembimbing bidang materi dan metode pembuatan skripsi mahasiswa jurusan PAI.
5. Seluruh Dosen dan Jajaran Sruktural Institut Agama Islam Depok
6. Keluarga yang telah memberikan dukungan dan motivasi dalam penyelesaiaan skripsi.
7. Semua pihak yang telah ikut berjasa dalam penyusunan skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persaatu.
Kepada semua pihak tersebut semoga amal baik yang telah diberikan dapat diterima disisi Allah SWT, dan mendapatkan limpahan rahmat dari-Nya, amin.
Depok, Septeber 2023 Penyusun
TARISA AULIA PUTRI NIM : 19.1.1885
ix DAFTAR ISI
COVER ... i
SURAT PERNYATAAN... ii
PENGESAHAN PENGUJI ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
MOTO ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Pembatasan Masalah ... 4
C. Rumusan Masalah ... 4
D. Tujuan Penelitian ... 4
E. Manfaat Penelitian ... 5
F. Sistematika Penulisan ... 5
BAB II LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL ... 7
A. Landasan Teoritis ... 7
1. Peran Guru Pendidikan Agama Islam ... 7
2. Pembinaan Akhlak Mulia ... 27
B. Kerangka Konseptual ... 36
C. Penelitian yang Relevan ... 38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 40
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 40
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 41
C. Subjek dan Objek Penelitian ... 42
x
D. Langkah-Langkah Penelitian ... 43
1. Sumber Data ... 43
2. Teknik pengumpulan data ... 43
3. Analisis Data... 46
4. Pemeriksaan Atau Pengecekan Keabsahan Data ... 49
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 51
A. Gambaran Umum SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok ... 51
1. Sejarah Singkat tentang Kondisi Sekolah ... 51
2. Identitas Sekolah ... 51
3. Visi dan Misi Sekolah ... 52
4. Sarana dan Prasarana ... 52
5. Data Guru Dan Karyawan ... 54
6. Data Peserta Didik ... 56
B. Deskripsi Hasil Temuan Penelitian ... 57
1. Peran Guru PAI dalam membina akhlak mulia peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok. ... 57
2. Faktor yang mempengaruhi dalam membina akhlak peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok ... 68
C. Pembahasan Hasil Penelituan ... 75
BAB V PENUTUP ... 78
A. Kesimpulan ... 78
B. Saran ... 79
DAFTAR PUSTAKA ... 80
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 82
PEDOMAN OBSERVASI ... 82
xi
DAFTAR TABEL
Tabel ١ Daftar Guru dan karyawan SDIT Al Hikmah 2 (dua) ... 51 Tabel ٢ Data Peserta Didik ... 52
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar ١ Kerangka Konseptual ... 34
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Tabel ١ Pedoman Observasi ... 78
Lampiran 2 Pedoman Wawancara ... 79
Lampiran 3 Dokumentasi ... 82
Lampiran 4 Izin penelitian ... 84
Lampiran 5 Riwayat Hidup ... 85
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam agama Islam akhlak menempati posisi penting dan istimewa.
Bahkan ada hadits yang mengatakan bahwa “Sesungguhnya aku (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan Akhlak yang baik” (HR. Al Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu). Dalam pembahasan terkait akhlak atau terkadang yang disebut dengan moral, etika atau perangai, terdapat akhlaqul kharimah (akhlak mulia) dan akhlaqul madzmumah (akhlak tercela).1 Namun kenyataannya saat ini kita bersama dapat merasakan bahwa baik yang disebut akhlak, moral, maupun etika tersebut kini mengalami penurunan di negara kita terutama yang terjadi dikalangan pelajar. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya remaja meniru budaya barat yang modern dan bebas.
Berdasarkan pemaparan diatas mampu kita pahami bahawa mempelajari ilmu terkait akhlak merupakan sesuatu yang penting bagi peserta didik. Karena dengan mempelajari ilmu akhlak seorang peserta didik akan mampu memahami apa yang dikatakan akhlak baik dan buruk lalu cara menghindarinya, dan yang paling penting adalah merealisasikannya pada kehidupan sehari- hari.
Pada kurikulum Pendidikan Nasional Pendidikan Agama Islam menjadi bagian penting dan telah dilaksanakan sejak jenjang pendidikan dasar sampai
1 Abdul Majid, dkk, (2012), Pendidikan Karakter Persepektif Islam, Bandung: PT Rosdakarya. hal. 9.
2
pada jenjang pendidikan tinggi.2 Meskipun begitu hasilnya masih belum sesuai dengan tujuan pendidikan agama Islam itu sendiri, ini berarti belum semua peserta didik mempunyai perilaku atau akhlak yang baik secara utuh. Dapat dikatakan bahwa pendidikan di sekolah belum efektif dalam membangun karakter bangsa atau dalam membina akhlak peserta didik-siswinya.
Akhlak adalah hasil dari proses penerapan ajaran agama Islam yang meliputi sistem keyakinan (aqidah) serta sistem aturan dan hukum (syari’ah).
Tercapainya akhlak yang mulia di lingkungan masyarakat adalah misi dari pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI).3 Hal ini dapat kita pahami bahwa merosotnya akhlak, moral ataupun etika peserta didik menunjukan belum berhasilnya pembelajaran pendidikan agama islam di sekolah. Sehingga hal ini menyebabkan pendidikan agama kurang berfungsi dalam membetuk akhlak mulia peserta didik di Indonesia.
Hal ini tentu mejadi tanggung jawab tersendiri bagi guru PAI. Guru Pendidikan Agama Islam merupakan seseorang yang memberikan pendidikan dalam bidang agama Islam serta membimbing peserta didik kearah yang baik, membentuk kepribadian muslim yang berakhlak. Selain itu seorang guru terutama guru Pendidikan Agama Islam tidak cukup sekedar mentransfer ilmu namun juga memiliki tanggung jawab terkait akhlak peserta didik.
Ini juga sedang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok, karena di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok peserta
2 Abdul Majid, dkk, (2012), Pendidikan Karakter Persepektif Islam, Bandung: PT Rosdakarya hal. 37.
3 Marzuki, (2015), Pendidikan Karakter Islam. Jakarta: Amzah. hal. 36.
3
didiknya berasal dari berbagai daerah dan tentunya dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda.4 Selain memberikan materi tentang Pendidikan Agama Islam, guru PAI di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok juga memiliki peranan yang penting dalam pembentukan akhlak mulia peserta didik. Salah satu contohnya adalah melalui pembiasaan, yakni guru mengajarkan kepada peserta didik untuk bersalaman kepada bapak ibu guru setiap pagi sebelum masuk sekolah. Ini bertujuan agar peserta didik terbiasa dengan melakukan akhlak mulia.
Hal ini dapat kita simpulkan bahwa akhlak mulia peserta didik akan terbentuk jika didukung dengan kemampuan guru PAI dalam menanamkan nilai- nilai Islam kepada peserta didik. Berawal dari berbagai permasalahan yang terjadi saat inilah, peneliti tertarik untuk meneliti salah satu lembaga pendidikan tingkat SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok yang peserta didiknya berasal dari berbagai latar belakang.
Dengan demikian, pembentukan akhlak mulia tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seorang guru harus memiliki strategi yang sesuai dengan kegiatan yang ada di sekolah. Dari pemaparan diatas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih mendalam tentang “Peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Membina Akhlak Mulia Peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok Tahun Pelajaran 2023/2024.”
4 Dokumentasi data siswa pada tanggal 26 Oktober 2020
4 B. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah, terfokus, dan tidak meluas, maka penelitian ini dibatasi pada peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membina akhlak sejumlah peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan masalah yang akan diteliti yakni:
1. Bagaimana Peran Guru PAI dalam membina akhlak peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok?
2. Apa faktor yang mempengaruhi dalam pembinaan akhlak peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini ialah:
1. Untuk mendeskripsikan bagaimana peran guru PAI dalam membina akhlak mulia peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok
2. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi dalam membina akhlak mulia peserta didik di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok
5 E. Manfaat Penelitian
3. Secara Teoritik
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah hasanah keilmuan tentang pendidikan Islam khususnya materi Akhlak dan pengembangan teori dalam bidang Pendidikan Agama Islam.
4. Secara Praktis
a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi sekolah guna mencapai tujuan pendidikan nasional.
b. Membantu sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembentukan akhlak peserta didik disekolah
F. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini terdapat lima bab yang tersusun secara sistematis yang meliputi:
Bab Satu pendahuluan, dengan sub bab latar belakang masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan
Bab Dua landasan teoritis dan kerangka konseptual dengan sub bab landasan teoris, kerangka konseptual dan penelitian yang relevan.
Bab Tiga metodologi penelitian dengana sub bab pendekatan dan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek dan objek penelitian, dan Langkah-langkah penelitian.
6
Bab Empat Hasil penelitian dengan sub bab temuan umum, temuan khusus dan pembahasan hasil penelitian
Bab Lima penutup dengan sub bab kesimpulan hasil penelitian dan saran- saran.
7 BAB II
LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL
A. Landasan Teoritis
1. Peran Guru Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam
Dalam bahasa Indonesia kata Guru berasal dari bahasa sansekerta yang berarti orang yang digugu atau orang yang dituruti pendapat dan perkataanya. Seorang guru merupakan panutan bagi para murid-muridnya sehingga setiap perkataannya selalu ditiruti dan setiap perilaku dan perbuatannya menjadi teladan bagi para murid-muridnya.
Secara etimologi dalam literatur kependidikan Islam seorang guru biasa disebut sebagai ustadz, mu`alim, murabbiy, mursyid, mudarris, dan mu`addib, yang artinya orang memberikan ilmu pengetahuan dengan tujuan mencerdaskan dan membina akhlak peserta didik agar menjadi orang yang berkepribadian baik.5
Sedangkan secara terminology Menurut Muhaimin bahwa guru adalah orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun secara klasikal. Baik disekolah maupun diluar sekolah.6
5 Muhaimin, (2015), Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hal. 44-49
6 Muhaimin, (2015), Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hal. 50
8
Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikn ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti dalam lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga dilakukan di mesjid, di surau/ mushollah, di rumah dan lain sebagainya7
M. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Praktis dan Teoritis menjelaskan guru adalah orang yang telah memberikan suatu ilmu/kepandaian kepada yang tertentu kepada seseorang/kelompok orang.
Berdasarkan berbagai pengertian guru diatas dapat disimpulkan bahwa seorang guru adalah orang yang memberikan pendidikan atau ilmu pengetahuan kepada peserta didik dengan tujuan agar peserta didik mampu memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan guru pendidikan agam Islam adalah seorang yang memberikan pendidikan atau ilmu dalam bidang aspek keagamaan dan membimbing anak didik ke arah pencapaian kedewasaan serta membentuk kepribadian muslim yang berakhlak, sehingga terjadi keseimbangan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hal inilah yang membedakan antara guru pendidikan agama islam dengan guru-guru pendidikan yang lainnya. Dengan pendidikan agama Islam guru dapat menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik-siswi.
7 Syaiful Bahri Djamarah, (2015), Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta:
Rineka Cipta, hal. 31.
9
Pendidik dalam konsep Islam adalah seorang yang dapat mengarahkan manusia ke jalan kebenaran yang sesuai dengan Al-Qur‟an dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang pendidik dalam konteks agama Islam seharusnya memiliki sifat-sifat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Seorang pendidik atau guru dituntut untuk mampu menambah ilmu pengetahuan dan terus berusaha untu menjadi orang yang lebih berkualitas, baik akhlak maupun pengetahuannya. Kedudukan sebagai seorang pendidik sangat istimewa di dalam ajaran Islam, karena pendidik adalah sosok yang memberikan ilmu dan membina Akhlak peserta didiknya. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan Nsional yang bertujuan mempersiapkan manusia Indonesia menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.8
Pendidik dalam kontek Islam juga harus menyadari bahwa seorang muslim yang memiliki ilmu pengetahuan seharusnya disampaikan kepada orang lain.
Islam sebagai agama sosial mewajibkan umatnya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Firman Allah:
ِ قَح ْ
لاِب ا ْو َصا َو َتَو ِت ٰحِل ّٰصلا اوُل ِم َعَو اْوُنَم ٰ ا َنْي ِذ َّ
لا ا َّ
ل ِا ە
ࣖ ِر ْب َّصلاِب اْو َصاَوَتَو
Terjemah Kemenag 2019
8 Ridwan Abdullah Sani & Muhammad Kadri, (2016), Pendidikan Karakter;
Mengembangkan Pendidikan Anak Yang Islami, Jakarta: Bumi Aksara, hal. 11-14
10
“kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran”. (QS. Al ‘Ashr (103): 3)
Disisi lain, Rasulullah menyatakan bahwa orang yang menyembunyikan ilmunya akan mendapatkan balasan yang sangat keras seperti dijelaskan dalam hadist berikut:9
َم ْوَي ُللها ُه َمَج ْ
لا ُه َمَت َ ك ف اًم َ ْ
ل ِع َمِلَع ْن َم ِلِب ِه ِماَي ِق ْ
ٍرا َن ْنِم ٍما َج لا
Artinya: “Siapa orangnya yang diajari suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, Allah akan membelenggunya dengan rantai dari api neraka.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban)10
Kajian berdasarkan ayat dan hadist tersebut menjelaskan tentang pentingnya menjadi seorang pendidik sebagai agen penyebar ilmu pengetahuan. Jadi, Islam sangat menghargai orang-orang yang berilmu dan mau menyampaikan ilmunya kepada orang lain.
b. Peran Guru Pendidikan Agama Islam
Sebelum memasuki pembahasan tentang peran guru pendidikan Agama Islam, terlebih dahulu kita ketahui apa pengertian dari peran tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “peran” adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa.11 Dengan demikian
9 Ridwan Abdullah Sani & Muhammad Kadri, (2016), Pendidikan Karakter;
Mengembangkan Pendidikan Anak Yang Islami, Jakarta: Bumi Aksara, hal. 18-19
10 Ridwan Abdullah Sani & Muhammad Kadri, (2016), Pendidikan Karakter;
Mengembangkan Pendidikan Anak Yang Islami, Jakarta: Bumi Aksara hal 20
11 Departemen Pendidikan Nasional, (2017), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, hal. 751
11
dapat disimpulkan bahwa peran adalah sesuatu yang dilakukan seseorang dalam suatu ruang lingkup atau peristiwa.
Seorang guru merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada umumnya, karena guru memegang peranan yang sangat penting dalam suatu proses pembelajaran. selain dari pada itu, guru juga memiliki peranan yang sangat banyak yaitu meliputi, pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan belajar, perencana pembeajaran, supervisor, motivator, dan sebagai evaluator.12
Rusman dalam bukunya mengelompokkan peranan guru berkaitan dengan kompetensi guru menjadi 8 bagian yaitu sebagai berikut:
1) Guru melakukan diagnosis terhadap perilaku awal peserta didik. Pada dasarnya guru harus mampu membantu kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didiknya dalam proses pembelajaran, untuk itu guru dituntut untuk mengenal lebih dekat kepribadian para peserta didiknya.
2) Guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Pelaksanaan pembelajaran adallah membuata suatu persiapan sebelum melakukan pembelajaran.
3) Guru melaksanakan proses pebelajaran. Peran guru yang ketiga ini merupakan peran yang sangat penting, karena disinilah interaksi pembelajaran dilaksanakan. Sesuatu yang dapat diperoleh peserta
12 Rusman, (2011), Model-Model Pembelajaran; Mengembangakan Profesionalisme Guru, Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, hal. 58
12
didik dan mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti akhlak merupakan hasil dari pembelajaran.
4) Guru sebagai pelaksana administrasi sekolah.
5) Guru sebagai komunikator. Peran seorang guru dalam kegiatan ini menyangkut proses penyampaian informasi baik kepada dirinya, kepada anak didiknya, kepada atasannya, kepada orang tua murid dan juga kepada masyarakat pada umumnya.
6) Guru mampu mengembangakan keterampilan diri. Setiap guru harus mampu mengembangkan keterampilan pribadinya dengan terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena jka tidak demikian maka guru akan ketinggalan zaman dan kemungkinan pada akhirnya akan sulit membawa dan mengarahkan anak didik kepada masa di mana dia akan menjalani kehidupan.
7) Guru dapat mengembangkan potensi anak. guru harus mengetahui betul potensi yang ada pada diri peserta didiknya. Karena dari potensi itulah guru dapat menyiapkan strategi pembelajaran yang cocok dengan potensi yang dimiliki anak.
8) Guru sebagai pengembang kurikulum disekolah. Peran guru dalam hal ini adalah karena implementasi kurikulum sesungguhnya terjadi pada saat proses belajar-mengajar, dan gurulah yang melakukan proses tersebut.
Selain dari pada itu, masih banyak peran yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau siapa saja yang menerjunkan diri sebagai pendidik
13
atau guru. Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya menyebutkan peranan yang diihrapkan dari seorang guru adalah sebagai berikut:
1) Korektor. Sebagai korektor guru dituntut mampu membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk.
2) Inspirator. Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didiknya. Karena persoalan belajar merupakan masalah yang paling utama pada anak didik. Guru harus mampu memberi petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik bagi anak didiknya.
3) Informator. Sebagai seorang informator seorang guru harus mampu memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak atau peserta didik, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam suatu kurikulum. Informasi yang baik dan efektif juga diperlukan dari seorang guru. karena kesalahan informasi merupakan racun bagi para peserta didik.
4) Organisator. Dalam bidang yang ini seorang guru memiliki kegiatan pengololaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik dan lain sebagainya.
5) Motiator. Guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif dalam belajar.
6) Inisitor. Dalam perananya sebagai inisitor, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
14
7) Fasiliator. Sebagai seorang fasiliator yang baik, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar bagi anak didik.
8) Pembimbing. Peranan ini merupakan peranan guru yang tidak kalah penting dari peranan yang telah disebutkan diatas. Peranan ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran seorang guru disekolah adalah untuk member bimbingan kepada anak didik di sekolah agar menjadi manusia dewasa dan bersusila serta cakap dalam segala hal. Tanpa bimbingan seorang guru, anak didik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya.
9) Demonstrator. Peranan guru dalam hal ini adalah guru senantiasa bisa membantu peserta didik untuk memahami segala sesuatunya, yaitu dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik.
10) Pengelola kelas. Sebagai pengelola kelas, seorang guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan sangat baik, karena kelas merupakan tempat berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru.
11) Mediator. Seorang guru hendaknya memiliki pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan juga jenisnya.
12) Supervisor. Guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
15
13) Evaluator. Guru dituntut menjadi seorang evaluator yang baik dan juga jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh apsek ekstrinsik dan instrinsik.13
Menurut pemaparana peranan guru diatas, perbedaan yang paling mencolok antara peran yang yang dipaparkan oleh Syaiful Bahri Djamarah adalah peranan guru dalam membimbing. Pernan ini merupakan peranan yang tidak kalah penting dari peran-peran guru yang lainnya. Karena dengan peran ini guru lebih mudah menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Contohnya adalah seperti pendidikan akhlak pada anak, dengan bimbingan dan pembinaan yang baik dari guru, maka akhlak tersebut akan melekat pada diri anak didik dengan sempurna.
c. Syarat Guru Pendidikan Agama Islam
Menurut Zakiyah Darajat, menjadi guru pendidikan agama Islam harus memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini:14
1) Taqwa kepada Allah swt.
Seorang guru sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan Islam, tidak akan mungkin dapat mendidik seorang anak didik agar bertaqwa kepada Allah, jika ia sendiri tidak bertaqwa kepada Allah. Sebab ia adalah seorag teladan bagi anak didiknya sebagai mana Rasulullah SAW menjadi suri tauladan bagi para umatnya, sejauh mana seorang guru mampu memberi teladan yang baik kepada semua peserta
13 Syaiful Bahri Djamarah, (2015), Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta:
Rineka Cipta, hal. 43-46
14 Zakiyah Daradjat, (2016), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, hal 41-42
16
didiknya, maka sejauh itu jugalah guru tersebut diperkirakan akan dapat berhasil dalam mendidik mereka supaya menjadi generasi penerus bangsa yang baik serta mulia nantinya.
2) Berilmu
Ilmu merupakan salah satu kunci dalam memperoleh kesuksesan dalam sebuah proses pendidikan. Dalam hal ini seorang guru harus memiliki kualifikasi akademik. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada BAB IV pasal 1, yang menyatakan bahwa: “Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal tempat penugasan.”
Ijazah bukanlah semata-mata hanya selembar kertas, tetapi juga sebagai suatu bukti bahwa pemiliknya mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukan untuk suatu jabatan. Guru juga harus mempunyai ijazah agar ia diperbolehkan mengajar.
Seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, dimana pengetahuan itu nantinya dapat diajarkan kepada muridnya. Makin tinggi pendidikan atau ilmu yang dimiliki guru, maka makin baik dan tinggi pulalah tingkat keberhasilannya dalam memberi pelajaran.
3) Sehat jasmani
Kesehatan jasmani sering sekali dijadikan salah satu syarat penting bagi mereka yang melamar untuk menjadi seorang guru.
17
Karena seorang guru yang mengidap penyakit menular merupakan sangat membahayakan kesehatan bagi anak didiknya. Disamping itu juga, seorang guru yang memiliki penyakit, tidak akan bergairah dalam mengajarkan pebelajaran bagi anak didik. Dimana kita juga mengenal ucapan “mens sana in corpore sano” yang artinya di dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat. Seorang guru yang sakit-sakitan akan sering sekali terpaksa absen dan tentunya merugikan bagi anak didik.
4) Berkelakuan baik
Guru harus menjadi teladan, karena anak bersifat suka meniru.
Salah satu tujuan dari pendidikan yaitu membentuk akhlak yang mulia pada diri pribadi anak didik dan pembentukan akhlak mulia ini hanya mungkin bisa dilakukan jika pribadi guru tersebut memiliki akhlak yang mulia pula. Guru yang tidak memiliki akhlak mulia tidak akan mungkin dipercaya untuk mendidik seorang anak. Adapun salah satu diantara akhlak mulia yang harus dimiliki seorang guru tersebut adalah mencintai jabatannya sebagai seorang pendidik atau guru, bersikap adil terhadap semua anak didiknya, berwibawa, dan gembira, serta bersifat manusiawi.
d. Tugas Guru Pendidikan Agama Islam
Allah mengajar para Rasul-Nya melalui wahyu. Materi pembelajaran yang disampaikan Allah kepada mereka berupa pesan-pesan yang berisi perintah dan larangan, yang selanjutnya mesti pula diajarkan
18
oleh mereka kepada para umatnya. Pesan-pesan itu mesti dipahami dan diamalkan. Dengan demikian para Rasul tersebut adalah guru bagi ummatnya. Sebagaimana firman Allah:15
ُم ُه ُمِ ل َعُي َو ْم ِهْي ِ كَزُي َو ّٖهِتٰي ٰ ا ْم ِهْي َ
لَع ا ْو ُ
لْتَي ْم ُهْن ِ م ا ً
ل ْو ُس َر َنّٖ ي ِ م ُ ا ْ
لا ىِف ث َعَب ْي ِذ َ َّ
لا َو ُه ٍنْيِبُّم ٍل ٰ
ل َض ْي ِف َ ل ُ
لْب َ
ق ْن ِم اْوُنا َ
ك ن ِا َو َة َم ْ ْ ك ِح ْ
لا َو َب ٰ ت ِك ْ
لا
Terjemah Kemenag 2019
“Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Al-Jumu’ah: 2)
Ayat tersebut menegaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi tugas Rasul dan juga menjadi tugas guru, yaitu:
a. Seorang guru dituntut agar dapat menyingkap fenomena kebesaran Allah yang terdapat dalam materi yang diajarkannya.
b. Mengajarkan kepada peserta didik pesan-pesan normatif yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur‟an.
c. Menanamkan ilmu akhlak dan membersihkan peserta didiknya dari sifat dan perilaku tercela.16
15 Kadar M. Yusuf, (2013), Tafsir Tarbawi; Pesan-pesan Al-Qur’an Tentang Pendidikan, Jakarta: Sinar Grafika Offset, hal. 64-65
16 Kadar M. Yusuf, (2013), Tafsir Tarbawi; Pesan-pesan Al-Qur’an Tentang Pendidikan, Jakarta: Sinar Grafika Offset hal. 67
19
Imam al-Ghazali berpendpat bahwa, adapun salah satu tugas seorang pendidik yang paling utama ialah membersihkan, menyempurnakan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk lebih dekat (taqarrub) hanya kepada Allah swt. Karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri hanya kepada Allah.17
Adapun tugas seorang guru dalam pendidikan Islam dapat dijabarkan sebagai berikut:18
1) Menyampaikan ilmu (transfer of knowledge). “Sampaikan apa yang bersumber dariku walau satu ayat”. (Hadis Nabi). Dalam hal ini seorang pendidik bertugas mengisi otak peserta didik (kognitif) seseorang. Seorang pendidik (guru) tidak boleh menyembunyikan ilmunya agar tidak diketahui orang lain. Menyampaikan ilmu itu adalah kewajiban orang yang berpengatahuan.
2) Menanamkan nilai-nilai (transfer of values). Di sekeliling manusia terdapat nilai-nilai, baik nilai yang baik maupun buruk. Tugas pendidiklah memperkenalkan mana nilai yang baik tersebut seperti jujur, benar, dermawan, sabar, tanggung jawab, peduli, dan empati, serta menerapkanya dalam kehidupan peserta didik lewat praktik pengalaman yang dilatihkan kepada mereka. Pada tataran ini si
17 Abdul Mujib, (2018), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, cet.2, hal. 90
18 Haidar Putra Daulay, (2016), Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, Jakarta:
Prenadamedia Group, cet.2, hal. 106
20
pendidik mengisi hati peserta didik, sehingga lahir kecerdasan emosionalnya.
3) Melatihkan keterampilan hidup (transfer of skill). Pendidik juga bertugas untuk melatihkan kemahiran hidup. Mengisi tangan peserta didik dengan satu atau beberapa keterampilan yang dapat digunakannya sebagai bekal hidupnya.
Selain dari pada itu, tugas pendidik juga memiliki cakupan yang sangat luas yaitu guru juga bertanggung jawab mengelola, mengarahkan, memfasilitasi, dan merencanakan serta mendesain program yang akan dijalankan, dari sini tugas dan fungsi pendidik dapat disimpulkan antara lain:
a. Sebagai seorang pengajar (instructional), yang memiliki tugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta mengakhiri rencana tersebut dengan pelaksanaan penilaian setelah program tersebut dilakukan.
b. Sebagai pendidik (educator), yaitu memiliki tugas mengarahkan anak didiknya pada tingkat kedewasaan dan berkepribadian yang mulia yang mana sejalan dengan tujuan Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi.
c. Sebagai pemimipin (managerial), yang memimpin, mengendalikan diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan,
21
pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan.
e. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam
Kompetensi pada dasarnya ialah deskripsi tentang apa saja yang dapat dilakukan oleh seseorang dalam bekerja, baik seorang guru mupun pekerjaan lainnya, serta apa saja wujud dari pekerjaan tersebut yang bisa dilihat. Untuk dapat melakukan suatu pekerjaan, sseeorang harus memiliki kemampuan dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan yang relevan dengan bidang pekerjaan yang dia miliki.
Kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang harus dilakukan seorang guru dalam melaksanakan pekerjannya, baik berupa kegiatan, perilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan dalam proses belajara mengajar.19
Adapun kompetensi serta kemampuan yang diharapkan bagi lulusn Pendidikan Agama Islam (guru PAI) adalah sebagai berikut:
1) Mampu melaksanakan program pengajaran bidang studi PAI.
2) Mampu mengajar bidang studi PAI di sekolah dan diluar sekolah.
3) Mampu membimbing peserta didik dalam kehidupan beragama.
4) Mampu menganalisis masalah-masalah yang muncul dalam proses belajara mengajar.
19 Suyanto dan Asep Jihad, (2013), Menjadi guru professional (strategi meningkatkan kualifikasi dan kualitas guru di era global), Jakarta: Erlangga Group, hal. 39
22
5) Mampu mencari alternatif pemecahan masalah yang muncul dalam proses belajara mengajar.
6) Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat dalam pengalaman ajaran agama Islam. Mampu mengidentifikasi potensi masyarakat untuk digerakkan dalam bidang pendidikan.20
Menurut Suyanto dan Djihat Hisyam, ada tiga jenis kompetensi guru, yaitu sebagai berikut:
1) Kompetensi profesional, yaitu memiliki pengetahuan yang luas pada bidang studi yang diajarkan, memilih dan menggunakan berbagai metode mengjar di dalam proses belajar-mengajar yang diselenggarakan.
2) Kompetensi kemsyarakatan, yaitu mampu berkomunikasi dengan peserta didik, sesama guru, dan masyarakat luas dalam konteks sosial.
3) Kompetensi personal, yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yng menjalankan peran: ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.21
Guru harus menyadari bahwa manusia adalah sosok yang sangat mudah dalam menerima perubahan. Oleh karena itu seorang guru harus terus berkembang dan menjadi orang yang kompeten dalam profesinya.
20 Akmal Hawi, (2014), Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Rajawali Pers, hal.79-84
21 Akmal Hawi, (2014), Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Rajawali Pers, Hal. 40
23
Kemudia kriteria untuk menjadi guru menurut UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen diatur pada bab IV bagian kesatu yang meliputi; memiliki kualifikasi pendidikan minimal sarjana pendidikan (SI dan diploma IV), memiliki kompetensi (pedagogiek, kepribadian, professional dan sosial), memiliki sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan Nasional.22
Kompetensi guru yang ditetapkan dalam UU No. 14 Tahun 2005 tersebut dapat dikemukakan secara rinci di bawah ini:
1) Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar peserta didik, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang ia miliki sendiri. Sub kompetensi dalam kompetensi pedagogik adalah:
a) Memahami peserta didik secara mendalam yaitu meliputi memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
b) Merancang pembelajaran, yang termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahami landasan kependidikan, menerapkan teori-teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran
22 Yasaratodo Wau, (2017), Profesi kependidikan, Medan: Unimed Press, hal. 16
24
berdasarkan karakteristik masing-masing peserta didk, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
c) Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar (setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
d) Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode, menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntsan belajar, dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
e) Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan potensi akademik dan potensi non-akademik.
2) Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian seorang guru merupakan kemampuan personal yang dapat mencerminkan kepribadian yang lebih mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, dan juga menjadi teladan bagi peserta didik, serta berakhlak mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi:
a) Kepribadian yang mantap dan stabil ialah meliputi bertindak sesuai dengan norma-norma sosial, bangga menjadi seorang guru,
25
dan juga memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
b) Kepribadian yang dewasa ialah menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai seorang pendidik dan memiliki etos kerja sebagai seorang guru.
c) Kepribadian yang arif adalah bisa menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, juga masyarakat, dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan juga bertindak.
d) Kpribadian yang berwibawa ialah meliputi seorang guru harus memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan juga memiliki perilaku yang disegani oleh orang lain terkhusus peserta didik.
e) Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan ialah meliputi seorang guru bertindak sesuai dengan norma agama (imtaq, jujur, ikhlas, dan suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani oleh peserta didik.
3) Kompetensi Profesional
Kompetensi professional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan subtansi keilmuan yang menangani materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
26
a) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang diampu oleh guru.
b) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
c) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu oleh guru secara kreatif.
d) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
e) Memanfaatkan teknik informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
4) Kompetensi sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan juga masyarakat sekitarnya.
a) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, dengan indicator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik; guru bisa memahami keinginan dan harapan peserta didik.
b) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesame pendidik dan tenaga kependidikan, misalnya bisa berdiskusi tentang masalah-masalah yang dihadapi peserta didik dan solusinya.
27
c) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orangtua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Contohnya, guru bisa memberikan informasi tentang bakat, minat, dan kemampuan peserta didik kepada orangtua peserta didik.
2. Pembinaan Akhlak Mulia
a. Pengertian Pembinaan Akhlak Mulia
Pembinaan merupakan kata noun yakni proses, cara, pembaharuan, penyempurnaan, usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk memperoleh hasil yang baik. Dalam kamus besar bahasa indonesia, pembinaan berarti membina, memperbaharui atau proses, perbuatan, cara membina, usaha, tindakan, dan kegiatan, yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang baik (Depdikbud, KBBI).
Dalam membahas pengertian akhlak mulia/akhlakul karimah peserta didik terlebih dahulu penulis uraikan tentang pengertian akhlak dan kemudian pengertian karimah peserta didik. Kata akhlak menurut pengertian umum sering diartikan dengan kepribadian, sopan santun, tata susila atau budi pekerti.23
Dari segi etimologi kata akhlak berasal dari Arab “akhlak” bentuk jamak dari “Khuluq” yang artinya kebiasaan28. Pada pengertian sehari- hari akhlak ummnya disamakan artinya dengan kata “budi pekerti” atau
23 Humaidi Tatapangarsa, (2017), Pengantar Kuliah Akhlak, Surabaya: Bina Ilmu. hal.10
28
“kesusilaan” atau “sopan santun” dalam bahasa Indonesia, dan tidak berbeda pula dengan kata “moral” atau “ethic” dalam bahasa inggris29
Adapun pengertian akhlak dilihat dari sudut terminology ada bebrapa definisi yang telah dikemkakan para ahli antara lain:
1) Djatnika Rachmat mengutippendapat dari Ibnu Maskawih dalam bukunya Sistem Etika Islam menjelaskan, Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang denganya lahirlah macam-macam perbuatan baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.24 2) Menurut Asmaran mengutip pendapat dari Al-Ghazali dalam bukunya
Pengantar Studi Akhlak menjelaskan: akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.25
Sedangkan menurut Ibnu Maskawih dan Imam Ghazali sebenarnya memiliki kata-kata yang sedikit berbeda tetapi maksudnya sama. Yaitu, Bahwa akhlak itu adalah sesuatu dalam jiwa yang mendorong seseorang berbuat dengan tidak melalui berfikir.
Sedangkan Ahmad Amin berpendapat bahwa akhlak terjadi malalui proses berfikir. Akhlak adalah kebutuhan kehendak. Ini berarti bahwa kehendak itu bila dibiasakan akan sesuatu maka kebiasaan itu disebut akhlak.26 Sedangkan kehendak adalah ketentuan dari penerapan keinginan yang pasti. Oleh karena itu, akhlak lahir melalui proses berfikir.
24 Djatnika Racmat, (2018), Sistem Etika Islam (Akhlak Mulia), Surabaya: Pustaka Islam.
hlm.2
25 Asmaran As, (2020). Pengantar Stadi Akhlak. Jakarta: CV Rajawali, 1992. hlm.2-3
26 Asmaran As, (2020) Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. hlm.1-2.
29
Rumusan pengertian diatas menunjukkan haikat khuluq atau akhlak ialah Suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian.
Sedangkan karimah dalam bahasa arab artinya terpuji, baik atau mulia. Al-Qurtubi berkata: “Akhlak adalah sifat-sifat yang dimiliki seseorang sehingga dia dapat berhubungan dengan orang lain. Akhlak ada yang terpuji dan ada yang tercela. Secara global makna akhlak yang terpuji adalah engkau berhias dengan akhlak yang terpuji ketika berhubungan dengan sesama. Dimana engkau bersikap adil dengan sifat-sifat terpuji dan tidak lain karenanya. Sedangkan secara rinci adalah memaafkan, berlapang dada, dermawan, sabar, menahan peneritaan, kasih sayang, menutupi jahat-jahat orang lain, mencintai, bersikap lemah lembut dan sejenis itu.27
Selain itu Al-Abrasyi merinci tujuan akhir pendidikan islam adalah:28
a. Pembinaan Akhlak
b. Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat c. Penguasaan Ilmu
d. Ketrampilan bekerja dalam masyarakat
Berdasarkan dari pengertian akhlak dan karimah diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan akhlakul karimah
27 Ahmad Mua’dz Haqqiy, (2013). Berhias Dengan 40 Akhlakul Karimah, Malang: cahaya Tauhid Press. Hal. 20
28 Ahmad Tafsir, (2017). Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal. 49
30
peserta didik adalah segala budi pekerti baik yang ditimbulkan peserta didik tanpa melalui pemikiran yang mana sifat itu menjadi budi pekerti yang utama dan dapat meningkatkan harkat dan martabat peserta didik.
b. Ruang Lingkup Akhlak Mulia
Dalam setiap tingkah laku yang kita lakukan terdapat beberapa ruang lingkup yang harus kita ketahui, seperti:
1) Akhlak terhadap diri sendiri
Akhlak yang meliputi kewajiban terhadap dirinya sendiri dengan larangan merusak, membinasakan dan menganiaya diri baik secar jasmani, maupun rohani.
2) Akhlak dalam keluarga
Adalah akhlak yang meliputi segala sikap dan perilaku dalam keluarga. Sebagai individu kita wajib berperilaku baik terhadap keluarga yang telah mendidik kita dari kecil hingga dewasa.
3) Akhlak dalam masyarakat
Menolong sesama, menciptakan masyarakat yang adil yang berlandaskan Al-qur’an dan hadist.
4) Akhlak dalam bernegara
Meliputi kepatuhan terhadap Ulil Amri selama tidak bermaksiat kepada agama, ikut serta dalam membangun negar dalam bentuk lisan maupun fikiran, ikut serta dalam membangun negara dengan benar.
5) Akhlak terhadap agama
31
Meliputi beriman kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, beribadah kepada Allah, taat kepada Rosul serta meniru segala tingkah lakunya.
Allah SWT yang menciptakan segalanya termaksud manusia dengan segala kebutuhannya pusat disembah dan diagungkan. Akhlak terhadap Allah SWT adalah keseluruhan tingkah laku, perkataan dan suara hati dalam menyembah dan mengagungkan sang pencipta, seperti dalam mentauhidkan-Nya, berzikir, berdoa, bersyukur atas nikmat-Nya, kepatuhan atas perintah dan larangan-Nya, serta totalitas beribadah kepada-Nya29
c. Metode Pembentukan Akhlak Mulia
Tujuan pendidikan Islam bukanlah sekedar mematuhi otak peserta didik dengan ilmu pengetahuan, tetapi tujuannya adalah mendidik akhlak dengan memperhatikan segi-segi kesehatan, pendidikan fisik dan mental, perasaan dan praktek, serta mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat. Suatu akhlak yang baik adalah tujuan utama dan tertinggi dari pendidikan Islam dan bukanlah sekedar mengajarkan peserta didik apa yang tidak diketahui mereka, tetapi lebih dari itu yaitu menanamkan fadhillah, membiasakan berakhlak yang baik sehingga hidup ini menjadi suci, kesucian disertai keikhlasan.30
29 Nurhayati. 2014. Akhlak dan Hubungannya dengan Aqidah dalam. Islam. Jurnal Mudarrisuna. Vol. 4 No. 2, 296, 299, 300, 302.
30 M.Yatim Abdullah, (2017). Studi Akhlak Dalam Perpektif Al-Quran, Jakarta: Amzah. Hal.
23
32
Menurut seorang tokoh dalam pemikiran pendidikan Islam, Al- ghozali berpendapat. Pembinaan akhlak dapat dilakukan melalui beberapa metode, yaitu: keteladanan, pembiasaan, dan nasihat dalam rangka pembentukan akhlak Islam pada peserta didik31
Metode pembinaan akhlak menurut Islam dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain:
1) Metode Keteladanan (Uswah)
Teladan merupakan sesuatu yang pantas untuk diikuti, karena mengandung nilai-nilai kemanusiaan. Orang tua dan guru yang biasa memberikan keteladanan mengenai perilaku baik, maka biasanya akan ditiru oleh anak- anaknya dan peserta didik dalam mengembangkan pola perilaku mereka. Tidaklah berlebihan jika imam al-Ghazali pernah mengibaratkan bahwa orang tua itu cermin bagi anak-anakanya. Disini dapat diartikan bahwa perilaku orang tua itu biasanya akan ditiru oleh anak-anaknya. Karena dalam diri peserta didik terdapat kecenderungan suka meniru (hubbu al-taqlid).
2) Metode Pembiasan (Ta’wid)
Pembiasaan merupakan sebuah proses pembentukan kepribadian secara berulang-ulang kehidupan sehari-hari. Proses ini berjalan sampai pada akhirnya tercipta sebuah kebiasaan. Melatih peserta didik dengan perbuatan terpuji yang bisa membentuk
31 A.Zainuddin, Muhammad Jamhari. (2017). Al-Islam 2. Muamalah dan akhlak. Bandung:
Pustaka Setia
33
kepribadiannya. Dalam ilmu psikologi perkembangan, dikenal teori konvergensi, dimana pribadi dapat dibentuk oleh lingkungannya, dengan mengembangkan potensi dasar yang ada padanya. Untuk mengembangkan potensi dasar tersebut, adalah melalui kebiasaan baik.
3) Metode Mau’izzah (Nasihat)
Melalui metode nasihat, seorang guru dapat mengarahkan peserta didiknya. Nasihat disini dapat berupa sebuah tausiyah atau dalam bentuk teguran. Metode nasihat diantaranya adalah nasihat dengan argumen logika, nsihat tentang amal ma’ruf nahi mungkar, amal ibadah, dan lain-lain.
4) Metode Qishshah (Cerita)
Metode ini efektif digunakan dalam pembinaan aklak. Dimana seorang guru dapat menceritakan kisah-kisah terdahulu. Dalam pendidikan Islam, cerita yang diangkat bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist, dan juga yang berkaitan dengan perilaku orang muslim dalam kehidupan sehari-hari. Metode kisah mempunyai beberap keistimewaan yang membuatnya mempunyai dampak psikologis dan edukatif yang sempurn. Selain itu metode ini dapat melahirka kehangatan perasaan dan vitalitas serta aktifitas di dalam jiwa, yang kemudian memotivasi manusia untuk mengubah perilakunya dan memperbarui tekadnya dengan mengambil pelajaran dari kisah tersebut.
34
d. Faktor penghambat dan pendukung pembinaan akhlak mulia
Pada dasarnya setiap penerapan pendidikan agama Islam pasti akan ada faktor pendukung dan penghambat, terutama guru PAI dalam pembinaan akhlak peserta didik. Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap Muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah, yaitu hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepadanya.
Dengan merujuk pada hasil temuan yang diperoleh dari lapangan melalui observasi. Pembinaan akhlakul karimah dimaksudkan untuk membentuk dan meningkatkan akhlak yang baik kepada peserta didik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Akhlak : 1) Faktor Intern, meliputi:
a) Faktor genetika (Hereditas).
Hereditas merupakan totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewaris dari pihak orang tua melalui gen-gen. Seorang guru harus bisa memahami kebutuhan khusus atau kebutuhan individual anak. Akan tetapi perlu disadari pula bahwa ada faktor-faktor yang sulit atau tidak dapat diubah dalam diri anak, yaitu faktor genetik. Karena itulah, pendidikan anak usia dini diarahkan untuk memfasilitasi setiap anak dengan lingkungan dan bimbingan belajar agar anak dapat berkembang sesuai dengan kapasitas genetisnya.
35 b) Faktor dari dalam diri anak
Keadaan emosi anak yang tidak stabil yang bisa dilihat menunjukkan wajah yang muru, mudah tersinggung, tidak mau bergaul dengan orang lain, suka marah-marah, suka mengganggu teman, dan tidak percaya diri
2) Faktor Ekstern, meliputi:
a) Lingkungan keluarga
Keluarga sangat berperan dalam perkembangan kepribadian anak karena keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak, lingkungan pertama yang mengenalkan nilai-nilai kehidupan kepada anak, keluarga sebagai institusi yang memfasilitasi kebutuhan dasar insani (manusiawi), baik yang bersifat fisik-biologis, dan anak banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga.
Keluarga yang ideal menurut Alexander A. Schneiders memiliki karakteristik sebagai berikut: minimnya perselisihan antar orang tua atau antar orang tua-anak, penuh kasih sayang, ada kesempatan untuk menyatakan keinginan, menerapkan disiplin yang tidak terlalu keras, saling menghormati antar anggota keluarga, menyelenggarakan musyawarah keluarga untuk memecahkan masalah, menjalin kebersamaan antar anggota keluarga, orang tua memiliki emosi yang stabil, berkecukupan dalam bidang ekonomi, mengamalkan nilai- nilai moral agama.
36
Sementara keluarga yang disfungsional, menurut Dadang Hawari ditandai dengan karakteristik sebagai berikut: kematian salah satu atau kedua orang tua, kedua orang tua berpisah atau bercerai, hubungan kedua orang tua yang kurang baik, hubungan orang tua dengan anak kurang baik, suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan, orang tua sibuk dan jarang berada di rumah, salah satu atau kedua orang tua mempunyai kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan.
b) Lingkungan sekolah.
Periode usia sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai moral agama sebagai kelanjutan periode sebelumnya. Kualitas keagamaan anak akan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya.
c) Kelompok teman sebaya
Pengaruh kelompok teman sebaya terhadap anak bisa positif dan negatif. Berpengaruh negatif, apabila para anggota kelompok itu memiliki sikap dan perilaku positif, atau berakhlak mulia. Sementara yang negatif, apabila para anggota kelompoknya berperilaku menyimpang, kurang memiliki tatakrama, atau berakhlak buruk.
B. Kerangka Konseptual
Kerangka pikir penelitian ini berasal dari teori-teori yang telah dikemukakan pada uraian terdahulu, bahwa peneliti mengkaji tentang peran guru
37
pendidikan agama Islam dalam membentuk akhlak Islami peserta didik kelas IX SMP 2 Pamboang. Akhlak merupakan sifat yang sangat mulia, agung yang harus dimiliki oleh peserta didik, jadi penanaman akhlak yang terpuji harus dimulai dari sedini mungkin karna ketika akhlak yang baik telah meresap dalam diri seseorang maka itu akan menjadi kebiasaan dan akan timbul berbagai macam perbuatan yang baik dengan cara yang spontan tanpa berfikir.
Keberhasilan membentuk akhlak Islami peserta didik maka tentu tidak lepas dari didikan seorang guru, jadi guru sangat memiliki peran dalam membentuk akhlak peserta didik sehingga seorang guru dituntut untuk memahami dan mengetahui perannya sebagai guru
Adapun peran sebagai seorang guru itu tidak hanya transper ilmu atau tidak hanya sebatas menyampaikan ilmu saja akan tetapi juga mendidik atau membentuk kepribadian dan moral peserta didik. Kerangka konseptual yang digambarkan melalui gambar dibawah ini.
Gambar ١ Kerangka Konseptual Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam
Pembinaan Akhlak Mulia
Indikator Peran Guru Pendidikan Agama Islam : Sebagai demonstrator;
Sebagai pengelola kelas; Sebagai mediator/fasilitator; Sebagai evaluator
Indikator Pembinaan Akhlak Mulia : Akhlak terhadap diri sendiri; Akhlak
dalam keluarga; Akhlak dalam masyarakat; Akhlak dalam bernegara;
Akhlak terhadap agama
Peserta didik
38 C. Penelitian yang Relevan
Penelitian-penelitian terdahulu yang sealur ataupun yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Hendri Noleng, (2016), dengan judul penelitian “Upaya Pembinaan Akhlak Mulia Peserta Dididk di Pondok Pesantren Nurul Azhar Sidrap”. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembinaan akhlak di Pondok Pesantren Nurul Azhal Sidrap menggunakan beberapa metode dalam membina akhlak pada para santri-santri nya. Dan implikasi dalam penelitian ini adalah mendorong para Pembina dan orang tua untuk lebih aktif dalam mendidik, membina, dan membimbing anak-anaknya terutama dalam menanamkan nilai-nilai akhlak yang baik kepada anak.
2. Yusnta Ahdiani, (2013), dengan judul penelitian “Model Pembinaan Akhlak di SMA Negeri 20 Bandung”. Pendekatan dan jenis penelitian dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di SMA Negeri 20 Bandung telah terdapat sebuah model pembinaan akhlak pada para peserta didiknya . pembinaan akhlak dilakukan melalui tiga metode yaitu, metode pembiasaan, keteladanan dan pemberian hukuman dan hadiah.
3. Aan Afriawan, (2016), dengan judul penelitian “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlak Peserta didik (Studi Kasus Di SMP Negeri I Bandungan Kab. Semarang). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya guru PAI dalam membina akhlak, kendala yang dihadapi
39
guru PAI dalam membina akhlak. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan jenis penelitian kulaitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahawa upaya yang dilakukan guru pendidikan Agama Islam dalam membina akhlak peserta didik di Di SMP Negeri I Bandungan Kab. Semarang yaitu dengan memberikan nasihat, membangun pembiasaan, memberikan teladan, menyediakan fasilitas dan lain sebagainya.
Dari berbagai penelitian terdahu yang telah penulis paparkan diatas bahwa pembinaan akhlak mulia dilakukan dengan berbagai metode pembinaan akhlak.
Dan metode-metode yang dilakukan berhasil dalam membina akhlak anak. Dari tiga hasil penelitian yang dipaparkan diatas, hanya satu yang meneliti pada peserta didik sekolah menengah. Inilah salah satu yang menjadi daya tarik peneliti untuk melakukan peneliti di SDIT Al Hikmah 2 (dua) Depok. Peserta didik pada Sekolah Dasar islam terpadu. Dan anak pada usia seperti ini sedang membentuk kepribadian yang tangguh dan berakhlak mulia. Dan pada usia ini juga emosi pada anak tidak stabil.
40 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskrptif. Dengan penelitian ini penulis mengamati atau mencari informasi bagaimana peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk Akhlak Islami peserta didik.
Menurut Denzin dan Licoln, kata kualitatif menunjukan penekanan pada proses makna yang tidak dikaji secara ketat serta belum diukur dari sisi jumlah, intensitas, kuantitas, serta frekuensinya. Pendekatan kualitatif yaitu proses penelitian serta pemahaman yang berdasar kepada metodologi yang menganalisis kejadian sosial serta masalah manusia. Dalam pendekatan ini, peneliti memprioritaskan sifat kenyataan yang dibangun secara sosial, hubungan erat antara objek dan subjek yang diteliti.32
2. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil Jenis penelitian lapangan yaitu meggunakan data-data faktual yang sifatnya autentik di lapangan.
Penelitian ini menggambarkan tentang peran guru Pendidikan Agama Islam dalam pembinaan akhlak mulia peserta didik.
32 Denzin, N., & Lincoln, Y, Handbook of Qualitative Research,. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2019