PERAN PERMAINAN TRADISIONAL TERHADAP PERKEMBANGAN MORAL DAN AGAMA ANAK USIA DINI
Fisca Azhar Silfanny
1, Pitria
2PGPAUD UPI Kampus Purwakarta
[email protected]
1, [email protected]
2ABSTRAK
Permainan tradisional bukan hanya sekedar permainan yang dapat menghibur anak-anak tetapi juga didalamnya bersifat mendidik dan dapat membantu aspek perkembangan anak. Kondisi lingkungan yang sudah berbeda, menjadikan permainan tradisional seakan tergerus oleh perkembangan zaman. Anak-anak cenderung lebih mengenal permainan elektronik atau digital, permainan tradisionalpun seakan-seakan tersingkirkan oleh penggunaan alat teknologi canggih. Banyak orang tua yang belum mengetahui akan pentingnya manfaat dari permainan tradisional bahkan tidak jarang orang tua berpandangan untuk memberikan gadget agar anak bisa diam dan tenang sesaat. Peran orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitar anak sangat berpengaruh untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak sebagai upaya untuk membantu aspek perkembangan moral dan agama pada anak.
Kata kunci:
Peran permainan tradisional, perkembangan moral dan agama anak usia dini, paradigma masyarakat tentang permainan tradisional
PENDAHULUAN
Peran orangtua sangat diperlukan dalam pendidikan anak, karena orangtua sebagai madrasah pertama bagi anaknya. Orangtua sebagai lingkungan terdekat anak harus dapat mengoptimalkan aspek-aspek perkembangan anak. Namun, di era globalisasi ini masyarakat cenderung memiliki perilaku yang serba cepat dan instan bahkan terkadang tidak mempertimbangkan nilai – nilai moral dan agama.
Aspek moral dan agama merupakan salah satu aspek penting yang harus ditanamkan sejak usia dini agar terciptanya generasi yang bermoral berlandaskan agama. Banyak orangtua yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sehingga lupa akan pentingnya pendidikan moral dan agama pada anak.
Menurut Erikson dalam (Mutiah, 2012) orangtua yang terlalu lelah karena bekerja dan ingin anaknya diam, sopan, dan tenang, juga akan merugikan perkembangan anaknya. Jika hal ini dibiarkan maka anak – anak akan kehilangan kesempatan untuk dapat mengembangkan kompetensi mereka.
Hasil survei yang dilakukan oleh The Asian Parent Insights dalam Fajrin (2015: hlm. 5-6), pada kawasan Asia Tenggara 2.417 orang tua yang memiliki gadget dan anak usia 3 – 8 tahun di 5 negara yaitu Singapura, Thailand, Philipina, Malaysia dan Indonesia diperoleh 3.917 sampel. Dari 98% responden anak usia 3 – 8 tahun pengguna gadget tersebut, 67% menggunakan gadget milik orang tua, 18%
menggunakan gadget milik saudara, dan 14% menggunakan gadget milik sendiri.
Hasil survei ini dapat disimpulkan bahwa penikmat gadget saat ini bukan hanya orang dewasa atau remaja, namun juga anak-anak. Hasil survei mengungkapkan bahwa 98% responden anak-anak di Asia Tenggara tersebut menggunakan gadget. (The Asian Parent Insights dalam Fajrin, 2015: hlm. 6).
Survei selanjutnya melibatkan anak-anak usia 6–8 tahun menghasilkan data bahwa konten pada gadget yang paling banyak dikonsumsi oleh para responden adalah konten permainan yakni sebanyak 89% pada responden laki-laki, dan pada responden perempuan sebanyak 74%. Dengan keberadaan gadget, anak-anak menjadi lebih mudah dalam menikmati sensasi bermain. (The Asian Parent Insights dalam Fajrin, 2015: hlm. 6).
Kegiatan bermain Menurut Tedjasaputra dalam (Ambiyak, 2011) dibagi menjadi dua yaitu bermain aktif dan bermain pasif. Berman aktif merupakan jenis permainan yang melibatkan seluruh kegiatan fisik, sedangkan bermain pasif merupakan kegiatan dimana anak memperoleh kesenangan tidak berdasarkan pada kegiatan yang dilakukannya.
Permainan tradisional sendiri termasuk ke dalam kegiatan bermain aktif dimana semua aspek perkembangan anak dapat terlibat ketika ia melakukan permainan, berbeda dengan bermain gadget yang mana tidak terjadi interaksi langsung antar teman sebayanya menyebabkan aspek perkembangan sosial emosional dan moral agamanya tidak terstimuluskan.
Kompetensi anak dapat dibangun melalui bermain yang tidak lepas dari kehidupan anak. Menurut Azis dalam (Riki., dkk. 2005), bermain yaitu suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau mempraktikan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa.
Pendekatan yang dapat ditempuh yaitu melalui permainan tradisional. Permainan tradisional bagi anak mengandung nilai-nilai pendidikan yang memberikan stimulus untuk membantu aspek-aspek perkembangan anak. Permainan tradisional juga dapat memberikan ransangan pada anak untuk mencintai tanah air dengan melestarikan budaya permainan tradisional.
TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya yaitu mengetahui peran permainan tradisional bagi anak usai dini, mengetahui perkembangan moral dan agama anak usia dini, mengetahui pentingnya permainan tradisional bagi perkembangan moral anak usia dini, mengetahui paradigma masyarakat tentang permainan tradisional beserta solusi yang dapat dilakukan untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional agar dapat membuat eksistensi permainan tradisional semakin diketahui oleh masyarakat luas.
MANFAAT
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk mengenalkan kembali dan melestarikan permainan tradisional dikalangan masyarakat luas dengan harapan agar anak-anak generasi selanjutnya dapat merasakan dan mendapatkan manfaat dari permainan tradisional. Adapun pentingnya manfaat dari permaianan tradisional adalah untuk memberikan stimulus bagi tumbuh kembang anak usia dini.
PEMBAHASAN
Teori Permainan Tradisional
Permainan tradisional merupakan jenis permainan yang berkembang dari suatu adat atau kebiasaan masyarakat sekitar. Menurut Teori Rekapitulasi oleh G. Stanley Hall (dalam Mutiah,2012) anak merupakan mata rantai evolusi manusia. anak akan bermain permainan yang telah dilakukan oleh nenek moyangnya serta akan melalui tahap perkembangan yang wajar sampai pada pertumbuhan yang sempurna.
Menurut Tuti Andriani (2012) Permainan tradisional merupakan simbol dari pengetahuan turun temurun dan memiliki banyak pesan di dalamnya serta memiliki nilai besar dalam rangka mengembangkan kemampuan anak untuk berfantasi, berekreasi,berkreasi, olahraga dan ketangkasan.
Permainan tradisional di Indonesia sangat erat kaitannya dengan aspek perkembangan anak usia dini. Menurut Soetjiningsih (dalam Simanjuntak dan Barutu, 2014,) Bermain merupakan unsur penting dalam mengoptimalkan kemampuan fisik motorik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan sosial.
Menurut Agustin (dalam Simanjuntak dan Barutu, 2014) permainan tradisional sering dijadikan sebagai jenis permainan yang mengandung ciri khas daerah dan tradisi budaya setempat serta biasanya mengandung unsur seni tradisional.
Permainan tradisional biasanya dilakukan bersama dengan teman satu daerah.
Menurut Desmita (dalam Simanjuntak dan Barutu, 2014) anak usia sekolah mengembangkan kegiatan bermain dengan peraturan. Anak akan bermain bersama dengan temannya, merumuskan aturan bermain, dan menyepakatinya bersama, sehingga dengan adanya permainan tradisional dapat mengoptimalkan perkembangan moral pada anak usia dini.
Peran Permainan Tradisional
Permainan tradisional yang dimainkan oleh anak akan berdampak pada tumbuh kembangnya. Hal ini sebagai stimulasi yang membantu perkembangan anak melalui kegiatan bermain.
Menurut Nurhayati (2012), manfaat dari permainan tradisional yaitu; (1) mengembangkan kecerdasan intelektual, (2)mengembangkan kecerdasan emosional,
(3) mengembangkan daya kreatifitas, (4) anak menjadi lebih kreatif, (5) bisa digunakan sebagai terapi terhadap anak (6) mengembangkan kecerdasan majemuk anak.
Pemgembangan kecerdasan majemuk anak dapat terdiri dari mengembangkan kecerdasan intelektual anak, mengembangkan kecerdasan emosi dan antar personal anak, mengembangkan kecerdasan logika anak, mengembangkan kecerdasan kinestetik anak, mengembangkan kecerdasan natural anak, mengembangkan kecerdasan spasial anak, mengembangkan kecerdasan musikal anak, mengembangkan kecerdasan spiritual anak
Tahapan Perkembangan Moral dan Agama Pada Anak Usia Dini
Menurut Kolhberg dalam Wuryandani dalam Siwiyanti ( 2014) ada tiga tingkat perkembangan moral pada anak, yaitu tingkat moralitas prakonvensional, tingkat moralitas konvensional, tingkat moralitas pasca konvensional.
Pada tingkat moralitas prakonvensional perilaku anak masih berorientasi pada kendali eksternal. pada tahap pertama tingkat ini Perilaku yang tercermin pada tahap ini ialah kepatuhan dan hukuman serta moralitas tindakan pada akibat fisiknya. Pada tahap kedua tingkat ini, anak menyesuaikan diri terhadap harapan sosial untuk memperoleh penghargaan dari lingkungan sekitar.
Tahap pertama pada tingkat moralitas konvensional anak akan menyesuaikan diri dengan peraturan untuk mendapat persetujuan dari orang lain serta untuk mempertahankan hubungan mereka. Tahap kedua dalam tingkat ini, anak merasa yakin bahwa kelompok sosial menerima peraturan yang sesuai bagi seluruh anggota kelompok, mereka merasa harus berbuat sesuai dengan peraturan itu agar terhindar dari kecaman dan ketidaksetujuan sosial.
Tahap pertama dalam tingkat moralitas pasca konvensional anak merasa bahwa harus ada keluwesan dalam keyakinan moral sehingga memungkinkan anak memodifikasi dan perubahan standar moral. Dalam tahap kedua tingkat ini, anak menyesuaikan standar sosial dan cita cita internal dengan tujuan menghindari rasa tidak puas dengan diri sendiri dan bukan untuk menghindari kecaman atau ketidaksetujuan sosial.
Menurut penelitian Ernest Harms (dalam Syamsu 2008), bahwa perkembangan agama anak-anak melalui tiga tingkatan, yaitu tingkat dongeng, tingkat kenyataan dan tingkat individu.
Tingkatan The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng) ini terjadi pada anak yag berusia 3-6 tahun. Konsep yang berkembang pada tingkatan ini dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Anak banyak dipengaruhi oleh kehidupan fantasi sehingga konsep tentang agama yang ditanggapinya diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
Tingkat The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan) terjadi pada anak sejak masuk SD hingga remaja. Konsep yang berkembang pada tingkat ini sudah mencerminkan pada kenyataan. Konsep ini mulai muncul melalui lembaga-lembaga pengajaaran agama dari orang dewasa disekitar lingkungannya. Hal ini membuat anak-anak tertarik dan senang berada di lembaga keagamaan tersebut sehingga segala tindak (amal) keagamaan yang dipelajari akan mereka ikuti.
Tingkat The Individual Stage (Tingkat Individu) ini anak sudah memiliki kepekaan emosi yang tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan pada tingkatan ini terdiri atas tiga golongan Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif, Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni, dan Konsep ke- Tuhanan yang bersifat humanistik.
Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif merupakan konsep yang dipengaruhi oleh sebagian kecil fantasi yang disebabkan oleh pengaruh dari luar (ekstern). Berbeda dengan Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni,yang mana dinyatakan dalam pandangan bersifat personal (intern).
Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik yaitu Konsep yang dimana agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam proses menghayati agama yang dianutnya. Perubahan dalam setiap tingkatan yang terjadi disebabkan oleh perkembangan usia (faktor intern) dan pengaruh luar yang dialaminya (faktor ekstern).
Pentingnya Permainan Tradisional bagi Perkembangan Moral dan Agama Anak Usia Dini
Menurut Karl Groos (dalam Mutiah, 2012) bermain memiliki fungsi untuk memperkuat insting yang dibutuhkan guna kelangsungan hidup di masa mendatang.
Masa usia dini merupakan masa yang cocok bagi peletakkan dasar pertumbuhan dalam mengembangkan berbagai aspek seperti fisik motorik. Kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, seni, serta nilai agama dan moral.
Permainan tradisional sangat erat kaitannya dengan perkembangan moral anak usia dini. Permainan tradisional merupakan jenis permainan yang memiliki kearifan lokal dan aset budaya bangsa. Sehingga, dengan dikenalkannya permainan tradisional dapat membentuk karakter anak sebagai generasi penerus bangsa yang cinta akan kebudayaannya.
Menurut Teori Sublimasi oleh Claparede dalam (Mutiah, 2012) bermain bukan hanya kegiatan yang dapat mempelajari fungsi hidup, terapi merupakan proses sublimasi atau pelarian menjadi lebih mulia. Melaui kegiatan bermain, anak akan belajar untuk berubah dan meningkatkan perbuatan atau tindakan yang lebih mulia.
Permainan tradisional anak usia dini juga dapat memperkenalkan adanya aturan – aturan bermain yang harus dirumuskan, disepakati, dan ditaati bersama. Anak juga akan belajar untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, menghargai perbedaan, bekerjasama, memiliki tanggung jawab dan bersikap sportif.
perbedaan, bekerjasama, memiliki tanggung jawab dan bersikap sportif.
Menurut Melinda (2017), permainan tradisional mengandung pesan moral diantaranya: (1) pemain harus dapat bersikap positif dalam permainan dan menerima jika kalah, (2) setiap pemain harus menyelesaikan permainan sampai akhir dan tidak boleh berhenti ditengah permaian sesuai dengan kesepakatan sebelum bermain.
Menurut Nurhayati (2016) Anak usia dini akan lebih termotivasi menerima nilai- nilai agama apabila guru menggunakan metode bervariasi, seperti: bercerita, bernyanyi, bermain peran, game, kuis, praktek langsung, mengamati langsung, menggunakan APE, serta mengaitkan pengetahuan dan pengalaman anak. Motivasi
anak akan terlihat jika mereka merasa percaya diri, diterima oleh teman, dan pengaruh dari perkembangan bahasa yang makin meningkat.
Achroni (dalam Setiawan, 2016), menyatakan bahwa manfaat permainan tradisional salah satunya adalah sebagai media pembelajaran penerapan nilai-nilai karena didalamnya menuntut anak bersikap jujur, tanggung jawab, menjunjung sportivitas, kesabaran, kerukunan dan berbagai nilai moral lainnya. Oleh karena itu, dengan anak bermain permainan tradisional maka anak dengan sendirinya belajar nilai etika dan moral yang sangat penting untuk pembentukan karakternya.
Paradigma Masyarakat tentang Permainan Tradisional
Bangsa Indonesia memiliki banyak permainan dari peninggalan generasi terdahulu yang disebut permainan tradisional. Permainan tersebut kaya akan moral dan bernilai edukasi yang bermanfaat untuk stimulus perkembangan anak. Menurut Yudiwinata dan Handoyo (dalam Saputa dan Ekawati, 2017) bahwa anak yang melakukan permainan tradisonal memiliki kemampuan yang lebih dari segi kerja sama, sportifitas, membangun strategi, memiliki ketangkasan dan karakternya.
Banyaknya manfaat dari permainan tradisional pada kenyataannya tidak jarang orang tua yang mengetahui manfaat tersebut. Permasalahan yang sering ditemukan adalah orang tua tidak mengetahui jenis-jenis permainan yang ada pada zaman dahulu, masih mengingat cara memainkan permainan tradisional, dan jarang menceritakan permainan tradisional kepada anak-anaknya. Hal ini membuat semakin tidak meluasnya pengetahuan tentang permainan tradisional di masyarakat luas.
Menurut Saputa dan Ekawati (2017), berdasarkan hasil Forum Grup Diskusi (FGD) menguraikan bahwa tidak banyak PAUD yang melakukan bermain dengan menerapkan permainan tradisional. Hal ini dikarenakan dalam penerapannya sulit untuk mengimplentasikan permainan-permainan tersebut, dan jarangnya ketersediaan lapangan luas untuk melakukan permainan tersebut.
Menurut Saputa dan Ekawati (2017) sebagai upaya dalam menangani paradigma masyarakat untuk memperkenalkan permainan tradisional kiranya untuk melakukan kegiatan sosialisasi di lingkungan PAUD mengenai permainan tradisional. Kegiatan
sosialisasi dapat berbentuk pengalaman belajar langsung dengan mengaplikasikan permainan tradisional.
Media sosialisasi dapat melalui buku saku berbentuk digital yang berisi kumpulan permainan tradisional, bagaimana cara memainkannya serta dilengkapi gambar- gambar angka menarik untuk anak. buku saku tersebut akan memudahkan pendidik terutama guru-guru PAUD dalam mengimplementasikan pengalamannya melalui kegiatan belajar di sekolah.
Kegiatan sosialisasi juga dapat dilakukan melalui pembuatan poster, serta sosialisasi di media massa dan media sosial. Kegiatan tersebut dilakukan tidak lain memiliki harapan agar dapat membangun pemahaman dan komitmen masyarakat untuk mulai melestarikan warisan budaya, khususnya permainan tradisional yang bermanfaat untuk generasi selanjutnya.
Bagi masyarakat umum, kegiatan sosialisasi permainan tradisonal dapat dilakukan melalui penyebaran buku saku permainan tradisional bagi orang tua yang memiliki anak usia dini dengan sosialisasi secara langsung.
PENUTUP
Permainan tradisional ialah jenis permainan yang berkembang di masyarakat dengan adat dan kebiasaan masyarakat sekitar. Permainan tradisional dapat mengajarkan anak untuk mencintai budaya Indonesia. Permainan tradisional sangat berpengaruh pada perkembangan moral dan agama pada anak usia dini. Melalui permainan tradisional anak dapat belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Permainan tradisional memiliki berbagai aturan yang harus dirumuskan dan ditaati bersama sehingga anak akan belajar mengenai aturan yaitu dengan mentaati peraturan yang telah disepakati bersama, dapat bekerjasama dengan baik, dan bersikap sportif.
DAFTAR RUJUKAN
Andriani, T. (2012). Permainan Tradisional Dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini. Jurnal Sosial Budaya. 9 (1), 34, dari https://media.neliti.com/media/publications/40427-ID- permainan-tradisional-dalam-membentuk-karakter-anak-usia-dini.pdf
Mutiah, D. (2010). Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta: Jakarta.
Nurhayati, I. (2012). Peran Permainan Tradisional dalam Pembelajaran Anak Usia Dini. Jurnal Empowerment. 1 (2), 44, dari http://garuda.ristekdikti.go.id/journal/article/735016 Riki, H., & dkk. (2015). Hakikat Manusia Bermain Dalam Filsafat Pendidikan Jasmani.
[Online] diakses dari https://www.academia.edu/17852518/Hakikat_bermain Saputra, N. E., & Ekawati, Y. N. (2017). Permainan Tradisional Sebagai Upaya Permainan
Dasar Anak. Jurnal Psikologi Jambi. 2 (2), 49-52, dari
https://online-journal.unja.ac.id/index.php/jpj/article/view/4796
Simanjuntak, J., & Barutu, T. (2015). Pengaruh Permainan Tradisional (Gowokan) Terhadap Perilaku Sosial Anak Usia 5-6 Tahun di TK Asisi Medan T.A 2014/2015. Jurnal Bunga Rampai Usia Emas. 4 (1), 12-14, dari
https://media.neliti.com/media/publications/75874-ID-none.pdf
Siwiyanti, L. (2016). Pengembangan Moral Anak Usia Dini dalam Membentuk Etika Wirausaha.
Indria: Jurnal Ilmiah Pendidikan Pra Sekolah dan Sekolah Awal. 1 (1), 25, dari
https://www.researchgate.net/publication/318769724_pengembangan_moral_anak_usia _dini_dalam_membentuk_etika_wirausaha
Syamsu. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Melinda. (2017). Eksistensi Permainan Tradisional Di Sekolah Dasar. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah, Purwokerto.
Setiawan, M. H. Y. (2016). Melatih Keterampilan Sosial Anak Usia Dini Melalui Permainan Tradisional. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran. 5 (1), 7, dari
http://journal.umpo.ac.id/index.php/dimensi/article/download/52/48
Nurhayati, E. (2016)." Mengoptimalkan Potensi Anak Usia Dini Dalam Internalisasi Nilai-Nilai Agama". Dalam Syahrial, Saharudin, dan Marzal. J (Penyunting), Proceeding Of The Second International Conference On Education, Technology, And Sciences (hlm. 63) Jambi: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi
Ambiyak, M. A. (2011). Efektivitas permainan konstruktif Keping Padu terhadap peningkatan kemampuan motorik halus siswa TK A RA al Kahfi Ds. Pilang Kec. Wonoayu Kab.
Sidoarjo. (Skripsi). Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya