INFO ARTIKEL
Kata kunci:
Leptospira tikus got Semarang
Article History:
Received: 31 Dec. 2019 Revised: 26 Feb. 2021 Accepted: 13 April 2021
Keywords:
Leptosipra, norway rat, Semarang
Peran Tikus Got (Rattus norvegicus) dari Kelompok Tikus dan Suncus sebagai Penular Utama Leptospirosis di Semarang
The Role of Rattus norvegicus from Rat and Suncus Group as The Main Transmitter of Leptospira in Semarang
Semarang city is one of leptospirosis endemic area in Central Java Province and the disease is always found annualy with its mortality rate had tendency to increase. The Case Fatality Rate (CFR) in the period 2014-2018 increased from 18% to 25%. Rodents, especially rats are the most important reservoir and a maintenance host. A survey was conducted in Semarang city from March to November 2016. Rats was trapped twice and their kidneys were tested for Leptospira by using PCR. Kidneys containing leptospira were then examined by sequencing. Trap success in Jangli was 15,41% consisting of R.
norvegicus, R. tanezumi and insectivora S. murinus. The success trap in Gajahmungkur was 35,89% including Bandicota indica, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi and insectivora Suncus murinus. Positive Leptospira was found in Jangli Village (38,09%) and Gajahmungkur Village (56,25%) The positive leptospira were from B. indica, R.
norvegicus and R. tanezumi. Result of the sequencing revealed that nine from 17 sample homolog with pathogenic leptospira. Among rat populations, especially norway rats are specific serovar maintenance host in the region and are proved to carry a pathogenic Leptospira bacteria.
A B S T R A C T / A B S T R A K
© 2021 Jurnal Vektor Penyakit. All rights reserved Kota Semarang merupakan salah satu daerah endemis leptospirosis dan penyakit tersebut selalu ditemukan setiap tahun dengan angka kematian yang cenderung meningkat. Pada periode 2014–2018 angka kematian leptospirosis meningkat dari 18% menjadi 25%. Tikus merupakan reservoir paling penting dan merupakan maintenance host Leptospira. Survei dilakukan di Kota Semarang yakni di daerah Kelurahan Jangli dan Kelurahan Gajahmungkur pada bulan maret-november 2016.
Penangkapan tikus dilakukan sebanyak 2 kali dan diambil sampel ginjal untuk pemeriksaan Leptospira dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Ginjal dengan hasil PCR positif Leptospira dilanjutkan dengan tahapan sekuensing. Keberhasilan penangkapan tikus di Jangli 15,41% dengan spesies Rattus norvegicus, Rattus tanezumi dan Suncus murinus. Keberhasilan penangkapan tikus di Gajahmungkur 35,89%
dengan spesies tikus Bandicota indica, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi dan Suncus murinus. Positif Leptospira ditemukan di Kelurahan Jangli (38,09%) dan Kelurahan Gajahmungkur (56,25%). Hasil pemeriksaan PCR positif berasal dari spesies Bandicota indica, Rattus norvegicus dan Rattus tanezumi. Hasil sekuensing menunjukkan bahwa 9 dari 17 sampel mempunyai hubungan kekerabatan dengan Leptospira patogenik.
Diantara populasi tikus, khususnya tikus got merupakan maintenance host serovar tertentu di wilayah tersebut dan terbukti membawa bakteri Leptospira patogenik.
*Alamat Korespondensi : email : [email protected]
https://doi.org/10.22435/vektorp.v15i1.2607
*a a a
Zumrotus Sholichah , Bina Ikawati , Dewi Marbawati , Miftahuddin Majid
b a
Khoeri , dan Dewi Puspita Ningsih
aBalai Litbang Kesehatan Banjarnegara, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI Jl. Selamanik No.16 A, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, 53415, Indonesia
bEijkman Institue for Molecular Biology, Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN, Indonesia Jl. Diponegoro No.69, Jakarta, 10430, Indonesia
Zumrotus Sholichah, Bina Ikawati, dan Dewi Marbawati sebagai kontributor utama.
M i f t a h u d d i n M a j i d d a n D e w i P u s p i t a N i n g s i h sebagai kontributor anggota Kontribusi:
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Manusia dan hewan dapat terinfeksi bakteri Leptospira terutama melalui urin yang disekresikan oleh hewan terinfeksi.
Case Fatality Rate (CFR) leptospirosis di Indonesia pada 2009-2018 selalu dilaporkan mencapai lebih dari 5%. Lebih lanjut dijelaskan bahwa angka CFR mengalami fluktuatif pada kurun waktu lima tahun terakhir, yaitu terjadi kenaikan pada 2 0 1 4 – 2 0 1 5 ( 1 1 , 7 5 % – 1 7 , 7 6 % ) d a n 2016–2017 (7,44%–16,88%), menurun pada 2017–2018 (16,88% –16,55%). 1
Hewan reservoir Leptospira spp. berperan sebagai maintenance host. Bakteri ini tidak menyebabkan gejala klinis atau jikalaupun menimbulkan gejala klinis hanya ringan dan tidak bersifat fatal. Bakteri ini akan tumbuh dan memperbanyak diri di ginjal dalam jangka waktu lama. Beberapa Serovar Leptospira tertentu dilaporkan mempunyai hubungan komensal atau patogen ringan dengan spesies hospes hewan tertentu, misalnya hewan tikus d i h u b u n g k a n d e n g a n s e r o v a r Icterohaemorrhagie, mencit dengan serovar Ballum, anjing dengan serovar Canicola, sapi dengan serovar Hardjo dan babi dengan serovar Australis. Serovar-serovar tersebut 3
akan menjadi sumber keberadaan Leptospira di alam bahkan menjadi sumber penularan dari hewan ke manusia.
Kota Semarang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah dan tergolong sebagai salah satu daerah endemis leptospirosis di Indonesia. Angka CFR di kota ini cenderung meningkat sepanjang tahun 2014–2018 yaitu berkisar antara 14%–25%. Keberadaan kasus leptospirosis yang selalu terjadi setiap tahun dengan angka CFR yang relatif tinggi menjadi alasan utama studi ini dilakukan di Kota Semarang.2
PENDAHULUAN
Tikus terutama tikus got (Rattus nor vegicus) adalah reservoir utama Leptospira dan mempunyai peranan penting di daerah tipe urban dan peri-urban. Tikus 3–7
secara umum sudah banyak ditemukan berperan sebagai reservoir Leptospira di berbagai negara yaitu Brazil, India dan Filipina. Di Indonesia Rattus tanezumi, Rattus 6
norvegicus, Rattus argentiventer, Rattus
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan pada bulan maret- november 2016, dengan melakukan dua kali penangkapan tikus di lokasi terjadinya kasus leptospirosis terbaru pada manusia, yaitu di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang (wilayah Puskesmas Kedungmundu) dan Kelurahan Gajahmungkur, Kecamatan G a j a h m u n g k u r ( w i l aya h P u s ke s m a s Pegandan). Penangkapan tikus dilakukan dengan memasang perangkap hidup (single live trap) sebanyak 200 perangkap di masing- masing kelurahan. Sampel rumah lokasi pemasangan perangkap ditentukan secara purposive sampling berdasarkan lokasi kasus leptospirosis terbaru. Perangkap dipasang di dalam rumah dan luar rumah berdasarkan jejak run way, kotoran, dan urin tikus.
Dilakukan pemasangan perangkap selama tiga hari berturut-turut.
tiomanicus, Rattus exulans, Bandicota indica dan spesies lainnya ditemukan terdeteksi terinfeksi Leptospira di berbagai provinsi diantaranya Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY. 8–14
Provinsi Papua Barat yang belum dilaporkan adanya kasus leptospirosis pun sudah ditemukan tikus positif Leptospira. Studi ini 15
bertujuan untuk mengetahui peran tikus got sebagai reservoir Leptospira dalam penularan leptospirosis di Kota Semarang.
Pemetaan pemasangan perangkap dan i d e n t i f i k a s i l i n g k u n g a n d i l a k u k a n berdasarkan jenis vegetasi, kepadatan dan penataan pemukiman. Tikus yang tertangkap diidentifikasi dan diambil sampel jaringan g i n j a l nya u n t u k a n a l i s i s m o l e k u l e r (Polymerase Chain Reaction - PCR). 16
Ginjal dari setiap tikus disimpan dalam buffer kit masing-masing individu, tetapi pada proses pemeriksaan PCR dilakukan dalam bentuk gabungan ginjal yang berasal dari maksimal enam ekor tikus. Penggabungan ginjal dari beberapa ekor tikus dipilih berdasarkan kesamaan spesies, jenis kelamin dan kedekatan letak rumah tikus tertangkap, satu gabungan berisi maksimal enam sampel ginjal yang berasal dari enam ekor tikus.
Penggabungan ini dilakukan karena adanya keterbatasan kit isolasi DNA dan PCR.
Proses PCR menggunakan target gen LipL32 dan OmpL1 dan dijalankan sesuai protokol yang telah dipublikasi oleh Levett
17,18
dkk (2005) dan Vedhagiri dkk (2009).
Penggunaan kedua macam gen tersebut untuk mendeteksi Leptospira pada sampel karena LipL32 dan OmpL1 hanya terdapat pada strain Leptospira patogen dan tidak terdapat pada Leptospira saprofit serta strukturnya highly conserved. LipL32 merupakan komponen protein utama outer membrane Leptospira sedangkan OmpL1 merupakan protein yang berperan dalam transduksi sinyal dan imunogenesitas dan strukturnya sangat stabil.
Tahapan analisis PCR dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara s e d a n gka n s e ku e n s i n g d i l a ku ka n d i Laboratorium Molekuler Eijkman, Jakarta.
Semua sampel yang menunjukkan hasil PCR positif Leptospira dilanjutkan sekuensing.
Hasil sekuensing dari sampel positif PCR dilanjutkan dengan Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) untuk membandingkan kedekatan susunan asam amino Leptospira yang ada dengan Leptospira pada gen bank dan membuat pohon filogenetik dengan metode neighbor joining menggunakan MEGA- X.
Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Badan Litbangkes Nomor LB.02.01/5.2/KE.157/2016.
HASIL
Hasil penangkapan tikus di dua lokasi di Kota Semarang menunjukkan bahwa keberhasilan penangkapan di Kelurahan Jangli sebesar 15,41% dan di Kelurahan Gajahmungkur 12,31%. Spesies Rodensia dan Suncus yang tertangkap di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
Survei di Kelurahan Jangli dilakukan pada perumahan yang masih banyak terdapat lahan yang ditanami tanaman keras serta berbatasan dengan jalan tol (±500m). Area lingkungan tol banyak terdapat semak dan tanaman keras penghijauan. Kondisi pemukiman rapat namun masih banyak terdapat area terbuka yang mengitari kelompok pemukiman. Masih terdapat masyarakat yang memelihara ternak yaitu sapi. Sungai berada di lingkungan yang dilakukan survei tikus. Kondisi rumah secara umum sudah permanen, namun penataan barang di lingkungan rumah masih kurang.
Gambaran lingkungan lokasi survei di Kelurahan Jangli seperti pada Gambar 1.
Lokasi Jumlah B. indica R. norvegicus R. tanezumi S. murinus Total Trap perangkap B J Jumlah B J Jumlah B J Jumlah B J Jumlah Success (%)*
Jangli 597 - - - 22 21 43 26 9 35 7 7 14 92 15,41
Gajahmungkur 609 10 9 19 17 9 26 12 10 22 5 3 8 75 12,31
Total 1206 10 9 19 39 30 69 38 19 57 12 10 22 167 13,85
Tabel 1. Hasil Penangkapan Tikus di Kelurahan Jangli dan Kelurahan Gajahmungkur Kota Semarang Tahun 2016
Gambar 1. Lokasi Peletakan Perangkap Berisi Tikus dan Tikus positif Leptospira di Kelurahan Jangli
Penangkapan tikus di Kelurahan Gajahmungkur dilakukan pada daerah yang padat penduduk. Tanaman keras atau pekarangan yang luas jarang dijumpai. Rumah yang disurvei sudah permanen, dengan penataan barang di lingkungan rumah cukup rapi dibandingkan rumah di lokasi survei di Kelurahan Jangli. Keadaan lingkungan
Pemeriksaan PCR Leptospira dari ginjal tikus yang tertangkap dilakukan pada sampel yang telah digabung. Hasil pemeriksaan PCR positif tercantum pada Tabel 2 dan Tabel 3.
penangkapan di Kelurahan Gajahmungkur dan lokasi peletakan perangkap digambarkan dalam Gambar 2.
Gambar 2. Lokasi Peletakan Perangkap Berisi Tikus dan Tikus Positif Leptospira di Kelurahan Gajahmungkur
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan PCR Positif pada Ginjal Tikus di Kelurahan Jangli dan Kelurahan Gajahmungkur Kota Semarang Tahun 2016
No. Spesies Sex Kode
sampel
Jumlah Tikus*
Hasil PCR dengan Primer
LipL32 OmpL1
Penangkapan di Kelurahan Jangli
1 R. norvegicus Betina FILT 1 5 (+) (+)
FILT 2 4 (+) (-)
FILT 9 5 (+) (-)
FILT 10 4 (+) (-)
2 R. norvegicus Jantan FILT 3 5 (+) (-)
FILT 4 5 (+) (+)
FILT 12 6 (+) (-)
FILT 13 5 (+) (-)
Total gabungan positif : 8
Total gabungan : 21
Penangkapan di Kelurahan Gajahmungkur
1 B. indica Betina FILT 20 5 (+) (-)
FILT 21 5 (+) (+)
2 B. indica Jantan FILT 22 5 (+) (+)
3 R. norvegicus Betina FILT 24 4 (+) (+)
FILT 25 4 (+) (+)
FILT 26 4 (+) (+)
4 R. norvegicus Jantan FILT 28 4 (+) (+)
FILT 29 5 (+) (-)
5 R. tanezumi Jantan FILT 32 5 (+) (+)
Total gabungan positif : 9
Total gabungan : 16
* Pemilihan tikus berdasarkan spesies dan jenis kelamin sama serta lokasi tertangkap berdekatan
Tabel 3. Hasil Pemeriksaan PCR berdasarkan Spesies pada Tikus di Kelurahan Jangli dan Kelurahan Gajahmungkur Kota Semarang Tahun 2016
Hasil pemeriksaan PCR terhadap sampel ginjal R. norvegicus, R. tanezumi, B. indica dan S. murinus yang berasal dari Kelurahan Jangli menunjukkan 38,09% (8 dari 21) sampel positif Leptospira sedangkan dari Kelurahan Gajahmungkur yang positif Leptospira sebanyak 56,25% (9 dari 16 sampel). Secara k e s e l u r u h a n t e r d a p a t 1 7 s a m p e l menunjukkan hasil positif pada pemeriksaan PCR dari total 37 sampel ginjal Rattus sp dan Suncus murinus (43,24%).
Secara keseluruhan sebanyak 43,24%
sampel menunjukkan hasil PCR positif. Semua spesies tikus yang tertangkap mempunyai
Sekuens asam nukleat yang berasal dari sampel disejajarkan dengan sekuens asam nukleat yang ada di gen bank. Hasil BLAST menunjukkan 11 dari 17 sampel terdapat kedekatan 98-100% dengan spesies Leptospira patogenik yaitu Leptospira interrogans dan Leptospira borgpetersenii dengan berbagai serovar diantaranya:
Icterohaemorrhagie, Canicola, Autumnalis, H a r d j o , P o m o n a , P a i d j a n , S e j r o e , Grypphotyposa. Sebanyak lima sampel lainnya mempunyai kedekatan dengan spesies patogenik berkisar 94-97%. Kedekatan individu dengan spesies Leptospira patogenik digambarkan pada pohon filogenetik yang terbentuk pada Gambar 3. Berdasarkan pohon filogenetik yang terbentuk menunjukkan kedekatan dengan spesies patogenik Leptospira interrogans dan Leptospira borgpetersenii dengan berbagai serovar.
hasil PCR positif dengan proporsi yang berbeda-beda. Dari total 17 sampel positif PCR sebanyak 76,47% (13 sampel) adalah R.
norvegicus.
No Spesies Hasil Jumlah
Positif Negatif
1 B. indica 3 1 4
2 R. norvegicus 13 2 15
3 R. tanezumi 1 11 12
4 S. murinus 0 6 6
Jumlah 17 20 37
Gambar 3. Pohon Filogenetik Sampel dengan Metode Neighbor Joining
Kondisi lingkungan pada dua lokasi survei menunjukkan keduanya merupakan daerah pemukiman di daerah perkotaan yang berbeda kepadatannya, kemiringan tanah dan kondisi saluran air. Kelurahan Gajahmungkur lebih padat dan tertata daripada Kelurahan Jangli sedangkan di Kelurahan Jangli terdapat rumah yang berada pada lereng dimana terdapat saluran air yang terletak di bawah lereng tersebut dan di sekitarnya terdapat tempat pembuangan sampah. Keberhasilan penangkapan tikus di kedua lokasi hampir sama walaupun Jangli (15,41%) sedikit lebih t i n g g i d a r i h a s i l p e n a n g k a p a n d i Gajahmungkur (12,31%). Hal ini diduga karena tipe wilayah kedua lokasi survei yang sama yaitu tipe perkotaan. Hasil penangkapan tikus di Semarang dan Boyolali telah
14,19,20
membuktikan hal tersebut. Keberadaan tikus di pemukiman perkotaan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang mendukung tempat bersarangnya tikus. Pagar atau dinding yang rusak memiliki risiko 8,95%, rumah yang berada pada lokasi lereng memiliki risiko 4,68% dan tiap satu meter semakin menjauhi selokan akan mengurangi risiko 3% terinfestasi tikus. 2 1 Dengan memperhatikan letak rumah di Kelurahan Jangli maka diduga hal tersebut meningkatkan risiko untuk terinfestasi tikus.
Angka keberhasilan penangkapan menggambarkan kepadatan relatif tikus di lokasi survei. Kelurahan Jangli memiliki risiko terinfestasi tikus yang lebih tinggi daripada K e l u r a h a n G a j a h m u n g k u r s e h i n g g a kemungkinan memiliki kepadatan tikus lebih tinggi. Hal tersebut dibuktikan dengan angka keberhasilan penangkapan yang lebih tinggi di Kelurahan Jangli. Namun demikian, keberhasilan penangkapan tikus pada kedua lokasi tersebut tergolong dalam kategori sangat tinggi. Penangkapan tikus di dalam rumah diatas 7% dan di luar rumah diatas 2%
termasuk dalam kategori tinggi. Area 22
p e r g e r a k a n t i k u s d a l a m a k t i v i t a s kehidupannya mencari pakan, pasangan dan memelihara anak akan membentuk home range. Luasan home range dipengaruhi oleh pergerakan individu tikus. Area pergerakan tikus tergantung pada ketersediaan sumber pakan, bahan untuk membuat sarang, mencari
PEMBAHASAN pasangan dan ada tidaknya penghalang terhadap pergerakan tikus serta keberadaan tikus lain sehingga luas area pergerakan tikus
2 3 , 2 4
sangat spesifik tergantung lokasi.
Pergerakan tikus di Gajahmungkur dengan kondisi pemukiman yang lebih padat kemungkinan akan membentuk home range yang lebih sempit daripada di Jangli karena adanya penghalang pergerakan tikus dan dipengaruhi juga oleh ketersediaan sumber pakan. Home range yang lebih sempit ini memungkinkan keberhasilan penangkapan tikus yang lebih tinggi. Variasi spesies pun dari yang tertangkap di Gajahmungkur lebih bervariatif dengan ditemukannya Bandicota indica (tikus wirok).
Tikus got (R. Norvegicus) ditemukan pada kedua lokasi survei, baik penangkapan di dalam maupun di luar rumah. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat akses tikus ke dalam rumah, utamanya dari saluran air.
Berdasarkan hasil pemeriksaan PCR ditemukan lebih banyak tikus got yang menunjukkan positif Leptospira. Tikus spesies Rattus group utamanya R. norvegicus memiliki kemungkinan lebih besar untuk terinfeksi Leptospira dibandingkan tikus jenis yang lain.
Hal ini diduga karena habitat tikus got berada di lingkungan basah dan lembab yang m e n d u ku n g ke b e r l a n g s u n g a n h i d u p Leptospira. 25
Pemeriksaan PCR pada beberapa sampel menunjukkan hasil yang berbeda pada target gen LipL32 dan OmpL1. Terdapat tujuh sampel yang memberikan hasil positif pada gen LipL32 tetapi negatif pada gen OmpL1.
Hal tersebut diduga karena LipL32 lebih banyak terdapat pada spesies Leptospira patogenik daripada OmpL1. Berdasarkan BLAST sekuens primer LipL32 selaras dengan genome Leptospira interrogans, Leptospira borgpetersenii, Leptospira santarosai, Leptospira kirschneri, Leptospira noguchii dan Leptospira weilii sedangkan OmpL1 selaras dengan genome Leptospira interrogans, Leptospira borgpetersenii dan Leptospira noguchii. Walaupun demikian kedua gen target tersebut hanya terdapat pada Leptospira patogenik. 26
Prevalensi tikus got terinfeksi Leptospira lebih tinggi dibandingkan dengan jenis tikus yang lain, yaitu 13 dari 37 gabungan sampel
positif Leptospira. Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Semarang membuktikan bahwa prevalensi tikus got yang terinfeksi Leptospira lebih tinggi daripada tikus rumah, yaitu berturut-turut 31,43% dan 13,7%. 27
Studi didukung oleh laporan sebelumnya yang memperoleh pola prevalensi yang yang sama, yaitu 66,67% untuk tikus got dan 11,11%
untuk tikus rumah. Demikian juga studi yang 28
dilakukan di Gresik dan Demak juga menunjukkan pola yang sama, prevalensi tikus got lebih tinggi (66,67%) dibandingkan dengan tikus rumah (24,39%). Hasil-hasil ini 29
membuktikan bahwa tikus got merupakan reservoir Leptospira yang penting di Semarang. Hal ini juga diperkuat dengan hasil literature review yang menyatakan bahwa tikus got mempunyai angka prevalensi terinfeksi Leptospira lebih tinggi diantara tikus jenis Rattus yang lain.5
K e b e r h a s i l a n p e n a n g k a p a n menunjukkan tikus betina dari survei di dua lokasi lebih dominan berhasil ditangkap.
Tikus betina lebih mudah ditangkap daripada tikus jantan diduga terkait dengan peran tikus betina di dalam kelompoknya, yaitu sebagai pencari makan untuk anaknya. Aktivitas tikus betina lebih aktif dibandingkan dengan tikus jantan. 3 1 Disamping itu, tikus betina mempunyai area home range lebih sempit daripada tikus jantan sehingga hal ini memperbesar kemungkinan tikus betina lebih mudah tertangkap. Hasil pemeriksaan PCR 23
secara deskriptif menunjukkan pada jenis kelamin tikus jantan dan betina mempunyai peluang yang sama untuk terinfeksi bakteri Leptospira.
Hasil sekuensing yang dilanjutkan dengan BLAST mengindikasikan bahwa populasi tikus di Semarang terinfeksi oleh serovar yang tergolong patogen. Tingginya p e r s e n t a s e t i ku s p o s i t i f L e p t o s p i ra menunjukkan bahwa tikus berpotensi sebagai maintenance host untuk serovar tertentu dari Leptospira di wilayah tersebut.
Studi ini juga membuktikan bahwa B.
indica merupakan spesies tikus yang terinfeksi Leptospira dalam kategori tinggi.
Hasil ini sesuai dengan laporan studi yang dilakukan di Bangladesh, yaitu 77,8% B. indica ya n g te r t a n g k a p te r i n d i k a s i p o s i t i f leptospirosis. 30
Berdasarkan hasil PCR dan BLAST ditemukan bahwa kedua lokasi survei berisiko terjadinya penularan leptospirosis melalui t i k u s m a k a p e r l u d i l a k u k a n u p aya pengendalian tikus untuk meminimalkan t e r j a d i nya p e n u l a ra n l e p t o s p i ro s i s . Pengendalian tikus di pemukiman dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan dan kerapihan penataan rumah, mencegah masuknya tikus ke dalam rumah dengan m e n u t u p l u b a n g p e m b u a n g a n a i r, m e n g h i l a n g k a n c a b a n g p o h o n ya n g menempel atau berhubungan dengan rumah, m e n g g u n a k a n t e m p a t s a m p a h ya n g berpenutup dan memasang perangkap tikus.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Kepala Balai Litbang Kesehatan Banjarnegara beserta Koordinator dan teknisi L a b o ra t o r i u m M i k ro b i o l o g i , B i o l o g i Molekuler dan Imunologi, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang beserta Kasi P2, pengelola program dan staf, Kepala Puskesmas Kedungmundu beserta pengelola program, Kepala Puskesmas Pegandan beserta pengelola program dan staf, Kepala Kelurahan Jangli beserta Ketua RT, Kepala Kelurahan Gajahmungkur beserta Ketua RT dan masyarakat yang telah membantu Rattus norvegicus berperan utama sebagai maintenance host untuk serovar Leptospira tertentu di kedua wilayah survei.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan upaya pengendalian untuk mencegah terjadinya infeksi pada manusia.
Tikus got ditemukan sebagai hewan pembawa Leptospira utama yang tertangkap di dalam dan luar rumah. Oleh karena itu, m a sya ra ka t p e rl u m e l a ku ka n u p aya pencegahan akses tikus masuk ke dalam rumah utamanya akses tikus dari saluran air, menjaga dan meningkatkan kebersihan rumah serta saluran air di lingkungannya.
Pengendalian tikus dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap baik perangkap hidup maupun perangkap mati.
SARAN
UCAPAN TERIMA KASIH KESIMPULAN
terlaksananya penelitian.
2. P2 Dinkes Kota Semarang. Laporan Kasus Leptospirosis 2009 - 2013 Kota Semarang.
Semarang; 2016.
3. Goarant C. Leptospirosis : risk factors and management challenges in developing countries. Res Rep Trop Med. 2016;7:49–62.
4. Costa F, Ribeiro GS, Felzemburgh RDM, Santos N, Reis RB, Santos AC, et al. Influence of Household Rat Infestation on Leptospira Transmission in the Urban Slum Environment.
PLoS Negl Trop Dis. 2014;8(12):e3338.
5. Oliveira DDE, Figueira CP, Zhan L, Pertile AC, Pedra GG, Rodrigues G, et al. Leptospira in breast tissue and milk of urban Norway rats (Rattus norvegicus). Epidemiol Infect.
2016;144(11):2420–9.
7. Santos AAN, Figueira CP, Galvão M, Costa F, Ristow P. Heterogenic colonization patterns by Leptospira interrogans in Rattus norvegicus from urban slums. Brazilian J Microbiol.
2015;46(4):1161–4.
DAFTAR PUSTAKA
6. Boey K, Shiokawa K, Rajeev S. Leptospira infection in rats: A literature review of global prevalence and distribution. PLoS Negl Trop Dis. 2019;13(8):1–24.
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Profil Kesehatan Indonesia 2018 [Internet].
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2019. 207 p . A v a i l a b l e f r o m : http://www.depkes.go.id/resources/downlo a d / p u s d a t i n / p r o f i l - k e s e h a t a n - indonesia/Data-dan-Informasi_Profil- Kesehatan-Indonesia-2018.pdf
8. Widayati AN, Nurjana MA, Ardanto A, Ristiyanto R, Dhewantara PW, Wardhana AH.
The Potential of Rats and Bats as Reservoirs of Leptospirosis and Japanese Encephalitis (JE) in Muna Region, Southeast Sulawesi Province, Indonesia. Glob J Health Sci. 2020;12(13):125.
10. Joharina AS, Wicaksono Putro DB, Ardanto A, Mulyono A, Trapsilowati, SKM, M.Kes W.
Identifikasi Hewan Reservoir Leptospirosis Di Daerah Peningkatan Kasus Leptospirosis Di 9. Ardanto A, Yuliadi B, Martiningsih I, Putro D B W, J o h a r i n a A S , N u r w i d a y a t i A . Leptospirosis pada Tikus Endemis Sulawesi ( R o d e n t i a : M u r i d a e ) d a n P o t e n s i Penularannya Antar Tikus dari Provinsi Sulawesi Selatan. Balaba J Litbang Pengendali Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara.
2018;14(2):135–46.
17. Levett PN, Morey RE, Galloway RL, Turner DE, Steigerwalt AG, Mayer LW. Detection of pathogenic leptospires by real-time q u a n t i t a t ive P C R . J M e d M i c ro b i o l . 2005;54:45–9.
18. Vedhagiri K, Natarajaseenivasan K, Chellapandi P, Prabhakaran SG, Selvin J, Sharma S.
Evolutionary Implication of Outer Membrane Lipoprotein-Encoding Genes ompL1 , lipL32 and lipL41 of Pathogenic Leptospira Species.
Genomics Proteomics Bioinformatics.
2009;7(3):96–106.
Desa Pagedangan Ilir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang Tahun 2015. Vektora J V e k t o r d a n R e s e r v P e n y a k i t . 2018;10(1):59–66.
15. Nugroho A, Martiningsih I, Hidayati N, Muhidin M, Ristiyanto R. Analisis Spasial Tikus Positif Leptospira Patogenik dan Jenis Habitatnya di Provinsi Papua Barat. Balaba J Litbang Pengendali Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara. 2019;15(1):23–32.
11. Ningsih D, Sholichah Z. Kajian reservoir Leptospira di daerah sporadis leptospirosis Kabupaten Purworejo , Jawa Tengah. J MKMI.
2018;14(1):61–7.
16. Yuliadi B, Muhidin, Indriyani S. Tikus Jawa, Teknik Survei Di Bidang Kesehatan. Ahmadi AS, Ristiyanto, editors. Salatiga: Lembaga Penerbit Badan; 2016. 1–101 p.
19. Junianto SD, Siwiendrayanti A. Perbandingan Jumlah Tikus Yang Tertangkap Antara Perangkap Dengan Umpan Kelapa Bakar, Ikan Teri Dengan Perangkap Tanpa Umpan (Studi K a s u s D i W i l aya h Ke r j a P u s ke s m a s Pandanaran) Tahun 2015. Unnes J Public Heal.
2016;5(1):67.
13. Joharina AS, Pujiyanti A, Nugroho A, Martiningsih I, Handayani FD. Peran Tikus Sebagai Reservoir Leptospira di Tiga Ekosistem di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Bul Penelit Kesehat. 2019;47(3):191–8.
14. Sholichah Z, Rahmawati R. Sebaran Infeksi Leptospira Patogenik pada Tikus dan Cecurut di Daerah Pasca Banjir Kabupaten Pati dan Endemis Boyolali. Balaba J Litbang Pengendali Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara.
2017;13(2):173–82.
12. Widiastuti D, Sholichah Z, Agustiningsih A, Wijayanti N. Identification of Pathogenic Leptospira in Rat and Shrew Populations Using rpoB Gene and Its Spatial Distribution in Boyolali District. Kesmas Public Heal J.
2016;11(1):32–8.
20. Irawati J, Fibriana AI, Wahyono B. Efektivitas Pemasangan Berbagai Model Perangkap Tikus Terhadap Keberhasilan Penangkapan Tikus Di Kelurahan Bangetayu Kulon Kecamatan Genuk Kota Semarang Tahun 2014. Unnes J Public Heal. 2015;4(3):67–75.
22. Ikawati B, Majid M, Marbawati D, Sholichah Z, Ningsih DP. Analisis Filogenetik di Kota Semarang. Banjarnegara; 2016.
23. Byers KA, Lee MJ, Patrick DM, Himsworth CG.
Rats About Town : A Systematic Review of Rat Movement in Urban Ecosystems. Front Ecol Evol. 2019;7(13):1–12.
24. Low BW, Mills H, Algar D, Hamilton N. Home ranges of introduced rats on Christmas Island : A p i l o t s t u d y. E c o l M a n a g R e s t o r.
2013;14(1):1–6.
25. Ikawati B, Widiastuti D. Dominant factors in fluencing leptospira sp infection in rat and suncus. Heal Sci J Indones. 2012;3(2):27–30.
21. Santos N de J, Sousa E, Reis MG, Ko AI, Costa F.
Rat infestation associated with environmental deficiencies in an urban slum community with high risk of leptospirosis transmission. Cad Saude Publica. 2017;33(2):1–13.
26. Patricia H-R, Arlen GR, Mónica B, Gladys Q.
Identification of ompL1 and lipL32 Genes to
31. Firdaus MZ, Hestiningsih R, Martini M, Wuryanto MA. Kepadatan Tikus Di Daerah Kasus Penderita Leptospirosis Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngemplak Kabupaten Boyolali. J Kesehat Masy. 2019;7(4):476–80.
27.Ristiyanto, Wibawa T, Budiharta S, Supargiono.
Prevalensi Tikus Terinfeksi Leptospira interogans Di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Vektora. 2015;7(2):85–92.
30. Krijger IM, Ahmed AAA, Goris MGA, Groot Koerkamp PWG, Meerburg BG. Prevalence of leptospira infection in rodents from Bangladesh. Int J Environ Res Public Health.
2019;16(12).
Diagnosis of Pathogenic Leptospira spp.
Isolated from Cattle. Open J Vet Med.
2014;04(05):102–12.
28. Yunianto B, Ramadhani T. Studi epidemiologi leptospirosis di Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah Tahap II. 2009.
29. Mulyono A, Ristiyanto R, H FD, WP DB, R a h a rd i a n i n g t ya s E . S e ro p re va l e n s i Leptospira Pada Rattus norvegicus Dan Rattus tanezumi Berdasarkan Jenis Kelamin Dan Umur. Vektora J Vektor dan Reserv Penyakit.
2015;7(1):7–14.