• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran dan Struktur Pemerintahan Desa Berdasarkan UU No. 6 Tahun 2014

N/A
N/A
Erah Hardianti

Academic year: 2025

Membagikan "Peran dan Struktur Pemerintahan Desa Berdasarkan UU No. 6 Tahun 2014"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Desa yang berhubungan langsung dengan masyarakat, memiliki pera n penting dalam pemerintahan negara dan kehidupan sosial. Dalam sistem s osial kemasyarakatan Indonesia, desa memainkan peran penting dalam men capai cita-cita dasar negara dan bangsa. Dalam arti ini, desa memiliki hak ot onomi, seperti yang disebutkan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Rep ublik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa,

yaitu hak untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri berdasark an kebutuhan masyarakat lokal sesuai dengan sejarah dan adat istiadat desa.

Dengan ini pemerintah memberikan ruang gerak yang bebas bagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yang menjadikan masyarakat tidak hanya sebagai objek pembangunan tetapi juga sebagai subjek pembangunan dan de ngan tingkat partisipasi tersebut diharapkan akselerasi hasil-hasil pembangu nan dapat segera diwujudkan dan berdayaguna dalam peningkatan kualitas k ehidupan masyarakat.

Pemerintahan desa berdasarkan UU NO. 6 tahun 2014 terdiri dari kepala desa yang dibantu oleh perangkat desa sebagai unsur penyelenggara pemeri ntahan desa. Kepala desa memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa da n bertugas menyelenggarakan pemerintahan desa, pelaksanaan pembanguna n desa, pembinaan kemasyarakatan desa, serta pemberdayaan masyarakat d esa. Perangkat desa lainnya, seperti sekretaris desa, membantu kepala desa d

(2)

alam administrasi pemerintahan desa. Selain kepala desa dan perangkat desa dalam struktur pemerintahan desa terdapat juga Badan Permusyawaratan D esa (BPD) yang merupakan lembaga perwakilan masyarakat desa dengan fu ngsi membahas dan menyepakati peraturan desa bersama kepala desa, mena mpung aspirasi masyarakat, dan mengawasi kinerja kepala desa.

Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 205/PMK.017/2019 t entang Pengelolaan Dana Desa. Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa ya ng ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/

kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelak sanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masy arakat.

Dana desa merupakan instrument penting dalam Pembangunan desa.

Desa di harapkan dapat membangun kapasita Pembangunan dan pemberday aan dengan baik melalui dana desa. Hal ini dapat memicu Pembangunan dan kesejahteraan Masyarakat dapat tercapai. Sejak pertama kali dialokasikan p ada tahun 2015 sebesar Rp20,76 triliun, Dana Desa mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya(Sadya, 2023).

Gambar 1.1

Perkembangan Dana Desa di Indonesia

(3)

Sumber : DataIndonesia.id

Peningkatan Dana Desa dari tahun ke tahun mencerminkan komitme n pemerintah dalam memperkuat peran desa sebagai poros utama pembangu nan nasional. Dengan pengelolaan yang transparan dan akuntabel, diharapka n Dana Desa dapat memberikan dampak positif dalam memajukan perekono mian desa, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan mengentaskan ke miskinan di pedesaan. Partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan dan p engawasan penggunaan Dana Desa juga menjadi kunci keberhasilan progra m ini.

Dana desa ialah salah satu dukungan yang diberikan oleh pemerintah sebagai sarana untuk mendorong pemberdayaan dan pengembangan masyar akat supaya potensi desa semakin meningkat (Junior, Wijaya, dan Arthanay a, 2021:392). Dengan adanya dana desa bisa meningkatkan pemasukan di se tiap desa. Dengan harapan, pemerintah desa mampu meyalurkan dan menge lola dana desa yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yakni pe ngelolaan yang efisein, ekonomis, efektif, transparan serta bertanggung jaw

(4)

ab dengan memperhatikan keadilan dan kepatuhan, dan kepentingan masyar akat (Miftahudin, 2018:4).

Namun, dengan adanya Dana Desa, muncul masalah baru terkait banyaknya dana desa sering kali disalahgunakan dan rawan korupsi. Hal Ini terlihat dari jumlah kasus korupsi yang terjadi ditingkat pemerintahan desa yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Gambar 1.1

Tren korupsi sektor Desa Tahun 2016 - 2023

Sumber : DataIndoneia.Id, 2024

Berdasarkan gambar 1.2 jumlah kasus korupsi yang terjadi di pemeri tahan desa, sejak tahun 2016 sampai 2023 secara konsisten mengalami penin gakatan kasus dan menjadikan salah satu faktor penyumbang kerugian negar a. Jika dibandingkan dengan jumlah desa diseluruh Indonesia yakni 75.265, jumlah kasus korupsi yang terpantau ini masih tergolong kecil. Namun penti ng untuk ditekankan bahwa hal ini bisa menjadi fennomena gunung es, dima

(5)

na patut diduga masih banyak kasus-kasus lain di sektor desa yang belum ter ungkap oleh penegak hukum.

Indonesia corruption watch (ICW) menghimpun sejumlah kerugian negara berdasarkan sektor kasus korupsi selama tahun 2023. Sebagai berikut :

Tabel 1.1

Pemetaan Sektor Korupsi Tahun 2023

SEKTOR JUMLAH KAS

US KERUGIAN NEGARA (Rp)

Desa 187 162.255.928.594

Pemerintahan 108 630.831.535.697

Utilitas 103 3.262.965.649.871

Perbankan 65 984.536.271.034

Pendidikan 59 187.096.039.246

Kesehatan 44 100.195.409.992

Sumber Daya Alam 39 6.724.907.706.435

Agraria 29 207.766.057.730

Sosial Kemasyarakatan 28 156.768.502.348

Keemiluan 17 46.845.890.853

Kepemudaan Dan Olahraga 14 82.334.958.656

Transportasi 14 42.603.318.430

Kebencanaan 14 16.429.080.660

Telekomunikasi Dan Onformasi 13 8.895.356.859.815

Perdagangan 13 6.773.735.133.411

Keagaamaan 11 26.167.204.458

Peradilan 11 999.600.000

Kebudayaan Dan Pariwisata 9 5.121.189.859

Administa\Rasi Kependudukan 8 400.000.000

Tidak Di Ketahui 2 500.000.000

Investasi Dan Pasar Modal 2 104.970.641.000

Pertahanan Dan Keamanan 1 -

TOTAL 79 28.412.786.978.089

(6)

sumber : Indonesia Corruption Watch 2024

Berdasarkan data dalam Tabel 1.1, pemerintahan desa menempati pe ringkat pertama dengan jumlah kasus korupsi terbanyak serta masuk dalam 10 besar sektor korupsi yang menyebabkan kerugian negara terbesar dari 21 kategori sektor korupsi. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya pengelolaa n dana desa yang baik dan jelas tujuannya karena rawannya penyimpangan d an penyalahgunaan anggaran yang dapat merugikan negara dan masyarakat desa secara luas.

Pengelolaan dana desa ditur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 20 Tahun 2018, yaitu mengenai pengelolaan dana desa, yang sebelumny a diatur dalam permendagri No 113 tahun 2014. Dimana peraturan tadi men gatur tentang pengelolaan keuangan desa dari tahap perencanaan, pelaksana an, penatausahaan, pelaporan serta pertanggungjawaban yang dilakukan sec ara transparansi, akuntabel dan partisipatif yang dilakukan secara tertib serta disip;in anggaran. Hal ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan keuangan desa harus dilaksanakan secara sinkron dengan ketentuan yang berlaku agar tercapai suatu pengelolaan keuangan desa yang baik dan dapat dipertanggun gjawabkan.

Berdasarkan gambar 1.1 Pemerintah Republik Indonesia mengangga rkan Dana Desa sebesar Rp70,00 triliun. Dana Desa ini didistribusikan secar a merata kepada total 74.954 desa yang tersebar di 434 kabupaten dan kota d i Indonesia, mencakup berbagai wilayah dengan karakteristik dan kebutuhan yang beragam. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas infra

(7)

struktur, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta memperbaiki taraf hidup masyarakat desa secara keseluruhan. Upaya ini juga menjadi bagian penting dalam mendukung pemerataan pembangunan dan mengurangi kesenjangan antar wilayah.

Tabel 1.2

Jumlah Dana Desa Provinsi Banten Tahun 2023-2024

Sumber : sid.kemendesa.go.id No Wilayah Jumla

h Desa

Pagu Anggaran Tahun

2023 2024

1 Pandeglang 326 Rp 323.136.298.000 Rp330.725.086.000 2 Lebak 339 Rp 345.528.304.000 Rp347.405.643.000 3 Tanggerang 249 Rp 329.904.517.000 Rp350.034.471.000

4 Serang 326 Rp 316.473.229.000 Rp325.551.426.000

Total Rp 1.315.042.348.00

0 Rp1.353.716.626.000

(8)

Pada tahun 2024, pemerintah menyalurkan dana desa sebesar Rp1.3 53.716.626.000 ke Provinsi Banten. Dana ini diberikan kepada 1.238 desa y ang tersebar di empat kabupaten. Pemerintah berharap bahwa pendistribusia n dana desa ini dapat memberikan dampak nyata bagi perkembangan dan ke majuan desa-desa di Banten. Dengan disalurkannya dana desa, diharapkan d apat dialokasikan dengan baik dan selaras dengan tujuan negara yakni kesej ahteraan Masyarakat.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertin ggal, dan Transmigrasi (PerMenDes PDTT) No. 13 Tahun 2023 tentang petu njuk operasional fokus penggunaan Dana Desa tahun 2024. Dalam peratura n ini, diatur prioritas penggunaan Dana Desa yang meliputi:

1. Penanganan Kemiskinan Ekstrem Melalui Bantuan Langsung Tunai Des a (BLT Desa),

2. Penguatan Ketahanan Pangan dan Hewani, Serta Pencegahan Stunting.

3. Pengembangan Potensi Ekonomi Desa Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan

4. Pembangunan Sarana prasarana desa yang berkelanjutan.

Pengelolaan dana desa harus dilakukan secara partisipatif dengan meliba tkan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan agar dan a desa dapat dimanfaatkan secara optimal dan tepat sasaran demi meningkat kan kesejahteraan masyarakat desa di Provinsi Banten. Dengan kata lain Pe merintah menaruh harapan besar kepada perangkat desa untuk mengelola da

(9)

na ini secara transparan, akuntabel, dan tepat sasaran demi tercapainya pemb angunan desa yang berkelanjutan dan merata(Az, 2023).

Pada tahun 2024 Kabupaten Pandeglang menjadi kabupaten dengan pendapatan dana desa terbesar ke 3 setelah kabupaten Tangerang dan lebak.

Rp330.725.086.000 di salurkan ke 326 desa di kabupaten pandeglang untuk mendukung jalannya penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, Pemba ngunan, pelatihan dan pemberdayaan desa. Penggunaan dana desa yang opti mal sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan men dorong partisipasi aktif dalam Pembangunan. Sebagian desa di kabupaten p andeglang memiliki potensi desa yakni wisata keindahan alam seperti Panta i dan keindahan alam bawah laut yang memukau, curug dan tanah yang subu r cocok untuk lahan pertanian seperti persawahan dan perkebunan.

Desa Gerendong Kecamatan Koroncong Kabupaten Pandeglang me rupakan salah satu desa yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di Keca matan Koroncong, dengan dana desa sebagai berikut :

Tabel 1.3

Daftar Pagu Anggaran Dana Desa Gerendong

Sumber : APB Desa Gerendong No. Tahun Pagu Anggaran

1. 2022 Rp688.978.000 2. 2023 Rp759.699.000 3. 2024 Rp763.899.000

(10)

Dari tabel jumlah anggaran dana desa di atas, terlihat bahwa Dana D esa di Desa Gerendong meningkat setiap tahunnya. Penggunaan dana desa membutuhkan akuntabilitas yang besar supaya pengelolaan dana tersebut da pat terlaksana dengan baik. Dengan demikian, peran pengawasan BPD pada penggunaan dana desa memiliki urgensi yang sangat diperlukan. Hal ini dise babkan karena pengawasan itu sendiri bertujuan untuk melakukan penyelesa ian terhadap tiga perkara utama, yaitu penyeimbangan tujuana (kerja sama), kapasitas dalam penyesuaian lingkungan dan integrasi (koordinasi) (Dekker dkk., 2018:5). Hal ini membuktikan bahwasanya pengawasan dana desa yan g dilakukan BPD ialah suatu tugas yang sangat penting. Ini bertujuan supaya penggunaan dana desa yang dilakukan oleh pemerintah desa dapat dipertang gungjawabkan keabsahan data laporannya.

Dalam penggunaan dana desa, diperlukan pedoman acuan yang jelas untuk pelaksanaan penggunaan dana desa tersebut, yang dijabarkan setiap ta hun melalui musyawarah desa (MusDes). Hal ini juga bertujuan agar progra m-program yang di rancang selaras dengan perioritas penggunaan dana desa yang ditentukan oleh pemerintah. Pada tahun 2024 Desa Gerendong telah megnalokasikan dana desa sebagai berikut :

Table 1.4

Pengalokasian Dana Desa Di Desa Gerendong

NO KEGIATAN ANGGARAN

1 Bidang Penyelnggaraan Pemerintahan Desa Rp 136.606.200,00 2 Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa Rp 481.923.400,00

Sub Bidang Pendidikan Rp 39.910.400,00

(11)

Sub Bidang Kesehatan Rp 62.512.000,00 Sub Bidang Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Rp 360.701.000,00 Sub Bidang Perhubungan,Komunikasi Dan Informasi Rp 8.800.000,00 Sub Bidang Energi Dan Sumberdaya Mineral Rp 10.000.000,00 3 Bidang Pembinaan Masyarakat Rp 72.012.400,00 Sub Bidang Ketentraman Dan Ketertiban Umum Rp 48.025.600,00 Sub Bidang Kepemudaan Dan Olahraga Rp 23.986.800,00 4 Bidang Pemberdayaan Masyarakat Rp 50.357.000,00 Sub Bidang Pertanian Dan Peternakan Rp 50.357.000,00 5 Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan M

endesak Desa Rp 18.000.000,00

JUMLAH BELANJA Rp 758.899.000,00

SURPLUS Rp 5.000.000,00

Sumber : APB Desa Gerendong

Berdasarkan data di table 1.4, pegalokasian dana desa terbesar di des a Gerendong adalah pada bidang pelaksanaan Pembangunan desa sebesar R p481.923.400, yakni pada sub bidang pekerjaan umum dan penataan ruang ata u Pembangunan infrastruktur desa sebesar Rp360.701.000. selain itu Marsad s elaku ketua BPD memberikan informasi bahwa :

“beberapa tahun ini memang penggunaan dana desa masih banyak dialokasikan ke Pembangunan infrastruktur, karenakan pembangunan infrastruktur itu lebih dibutuhkan masyarakat”.

Adapun jenis Pembangunan infrastruktur yang dibangun sebagai ber ikut :

Tabel 1.5

Pembangunan infrastruktur des gerendong tahun 2024

No Jenis Pembangunan Tempat

(12)

1 Jalan Paving Block Kp. Gerendong 2 Tembok Penahan Tanah

(TPT)

Kp. Gerendong RT. 003 RW. 00 1

3 Jalan Drainase Kp. Gerendong RT. 003 RW. 00 1

4 Jalan Rabat beton kKp. Laban bulan 5 Jalan Rabat beton Kp. Bojong 6 Sarana Air Bersih Kp. Kalang Anyar 7 Pengeboran Sarana Air

Bersih Kantor Desa Kp. Grendong Sumber : RKP Desa, 2024

Berdasarkan tabel 1.4 terlihat bahwa Pembangunan infrastruktur han ya berfokus satu daerah saja yakni Kp. Gerendong. Padahal berdasarkan has il observasi awal peneliti masih banyak kampung dengan infrastruktur jalan yang kurang baik. Selanjutnya terdapat ketidaksesuaian pada beberapa progr am Pembangunan di Desa Gerendong salah satunya pada Pembangunan Te mbok Penahan Tanah (TPT) di lingkungan RT 003 RW 001. Wakil ketua BP D Maman, menyatakan bahwa terdapat ketidaksesuaian Pembangunan TPT, ini terjadi karena perbedaan pengukuran dan struktur tanah yang berubah se hingga mengakibatkan adanya hambatan pembangunan atau perencanaan a wal yang sudah ditetapkan oleh pemerintahan desa domas.

Gambar 1.3

Tembok Penahan Tanah (TPT) RT 003 RW 001 Desa Gerendong

(13)

Sumber : Observasi Peneliti

Selain itu, masih terdapat banyak infrastruktur jalan desa dalam kon disi rusak seperti terlihat pada gambar 1.4, hal ini dapat menghambat aksesib ilitas masyarakat terhadapa pelayanan dasar yang ada di desa maupun pusat.

Peneliti melakukan wawancara awal bersama masyarakat SA, menyatakan :

“jalan yang rusak menghambat perjalanan, jadinya lama, terus jala nnya juga gelap, dari kampung saya kalau mau ke pasar itu jalannya kan harus ngelewatin sawah sama kebun, dan itu kalo malem gelap kita cuman pake lampu motor aja ”.

Gambar 1.4

Kondisi jalan rusak di lingkungan Kp. Gerendong

S umber : Observasi Peneliti

Berdasarkan table 1.4 pada poin sub bagian sumber energi dan sumb erdaya mineral desa gerendong menganggarkan untuk pengadaan sarana air bersih kantor desa, namun pemerintah desa melakukan pergantian program.

(14)

Peneliti melakukan wawancara awal Bersama perangkat keuangan desa IH, menyatakan bahwa :

untuk program pengadaan sarana air bersih kantor desa, itu ada p ergantian program. Yang tadinya SAB berubah jadi pembangunan j alan paving block di kp. Gerendong”

Dari hasil pengamatan peneliti, masih belum sesuai dengan program awal ya ng telah direncanakan, karena adanya temuan pergantian program.

Selanjutnya terdapat ketidaksesuain jumlah alokasi dana desa dengan yang diamanatkan dalam PerMenDes PDTT Nomor 13 Tahun 2023 Tentang Petunjuk Operasional Fokus Penggunaan Dana Desa Tahun 2024.

Yakni besaran alokasi dana desa untuk dana operasional pemerintah desa diatur pada pasal 8 yakni paling banyak dialokasikan sebesar 3% (tiga persen) dari pagu anggaran Dana Desa Setiap desa. Namun, seperti terlihat pada tabel 1.4 Pemerintah Desa Gerendong mengalokasikan dana desa sebesar Rp136.606.200 atau 18% dari total pagu anggaran Dana Desa.

Selanjutnya pada tabel 1.4 pada sub bidang pertanian dan peternakan pemerintah desa Gerendong telah mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp50.357.000 atau 6,5% dari jumlah pagu anggaran desa. Ini tidak sesuai dengan ketentuan alokasi dana desa pada pasal 5 PerMenDes PDTT Nomor 13 Tahun 2023 yakni paling redah 20% dari pagu anggaran dana desa.

(15)

Berdasarkan pemaparan tersebut terlihat bahwa pentingnya pengawa san pengalokasian dana desa baik oleh pihak pemerintah atau lembaga Masy arakat maupun oleh Masyarakat desa. sehingga dapat tecapainya maksud da n tujuan negara. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti judul “Evalua si Penggunaan Dana Desa Berdasarkan PerMenDes PDTT Nomor 13 Tahun 2023 (Studi di Desa Gerendong Kecamatan Koroncong Kabupat en Pandeglang)”.

B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Dari uraian diatas peneliti dapat mengidentifikasi masalah sebagai pene litian sebagai berikut :

1. Pembangunan yang tidak merata. Desa Gerendong hanya berfokus di kp. Gerendng saja.

2. Terdapat pergantian program yang mengakibatkan perubahan pada program yang telah di rencanakan.

3. Terdapat ketidaksesuaian dalam jumlah alokasi Dana Desa dengan PerMenDes PDTT Nomor 13 Tahun 2023.

2. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas peneliti membatasi masala h untuk memudahkan penyusunan melakukan indetifikasi terutama me mbatasi masalah-masalah yang ada agar tidak meluas. Dalam hal ini pen

(16)

eliti membatasimasalah yang telah diuaikan yaitu mengevaluasi penggu naan dana desa berdasarkan PerMenDes PDTT No. 13 Tahun 2023.

(17)

C. Rumusan Masalah

Bedasarkan uraian pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis mencoba merumuskan permasalahan yang akan di bahas seba gai berikut :

1. Bagaimana pelaksanaan pengelolaan Dana Desa di Desa Gerendon g Kecamatan Koroncong Kabupaten Pandeglang berdasarkan Berdasarkan PerMenDes PDTT No. 13 Tahun 2023, Tahun 2024?

2. Apa saja faktor kendala pelaksanakan penggunaan Dana Desa Tahun 2024 berdasarkan PerMenDes PDTT No. 13 Tahun 2023 di Desa Gerendong kecamatan koroncong Kabupaten Pandeglang?

3. Bagaimana Solusi terhadap kendala pelaksanaan penggunaan dana desa tahun 2024 Berdasarkan PerMenDes PDTT No. 13 Tahun 2023 di Desa Gerendong Kecamatan Koroncong Kabupaten Pandeglang?

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian a. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan dana desa tahun 2024 berdasarkan PerMenDes PDTT Nomor 13 Tahun 2023, serta apa saja kendala dan Solusi pada pelaksanaan penggunaan dana desa tahun 2024 Berdasarkan PerMenDes PDTT No. 13 Tahun 2023.

(18)

b. KegunaanPenelitian

Adapun kegunaan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebgai berikut :

1. Kegunaan Teoritis yaitu sebagai sumbangsih pemikiran administrasi pemerintahan an desa khususnya terkait pengelolaan dana desa.

2. Kegunaan praktis yaitu sebagai sumbangan pemikiran bagi pemerintahan Desa Gerendong Kecamatan Koroncong Kabupaten Pandeglang dalam perbaikan pengelolaan dana desa.

Referensi

Dokumen terkait

Desa dapat lebih fokus dalam mengintenfisikasi pelayanan publik serta pembangunan dalam skala yang lebih kecil. Kenyataan tersebut setidaknya mendorong otonomi yang

Ketiga, Money Politic dalam Pemilihan Kepala Desa dan Intervensi Politik Kepentingan Supra Desa Kepada Desa. Cukup besarnya kewenangan yang diamanahkan UU No.6

Saat ini Pemerintah Desa Lerep memiliki struktur organisasi yang terdiri dari tiga kepala urusan (kaur): pemerintahan (dibantu 1 staf teknis administrasi), pembangunan

Secara garis besar kendala-kendala di dalam penerapan pembangunan desa yang ideal berdasarkan UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa adalah (1) belum mampunya pemerintah desa

43 Tahun 2014 tentang Desa diatur beberapa hal seperti: Ketentuan Umum, Penataan Desa meliputi Pembentukan Desa, Penghapusan Desa, Perubahan Status Desa, Penetapan Desa menjadi Desa

Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, yang kemudian disempurnakan lagi dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, otonomi daerah dilaksanakan di bidang

Implementasi kebijakan otonomi desa yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, khususnya pada aspek kelembagaan dan pembiayaan pemerintahan desa, belum bisa diwujudkan

Buku Manajemen Strategik membahas aspek strategis bisnis dan hak cipta menurut UU No 28 tahun 2014 dengan fokus pada hak moral dan