• Tidak ada hasil yang ditemukan

peranan pendidikan islam dalam mengatasi kenakalan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "peranan pendidikan islam dalam mengatasi kenakalan"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Pada Program Studi

Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

MISDAR 10519163312

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1438 H / 2017 M

(2)

ii

karya penulisan atau penelitian sendiri, Jika dikemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, plagiat, dibuat atau dibantu secara langsung oleh orang lain, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal secara hukum.

Makassar , 15 Rabi al-thanil 1438 H 13 Januari 2017 M

Peneliti

MISDAR

NIM: 1051963312

(3)
(4)
(5)
(6)

vi









































































Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Setiap amal baik dan buruk seorang akan dicatat malaikat dan setiap yang berusaha dengan sungguh-sungguh maka ia akan berhasil.

PERSEMBAHAN

Ku persempahkan karya ini untuk :

Almamaterku tercinta dan sebagai tanda baktiku kepada ayah dan ibuku, adikku, serta keluargaku yang senantiasa mendo’akan demi kesuksesanku

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Rabbul ’alamin atas segala limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, serta shalawat dan salam atas junjungan kita Nabiyullah Muhammad saw.

Penulisan skripsi ini banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, Alhamdulillah skripsi ini dapat penulis selesaikan pada waktu yang telah ditetapkan. Dalam hal ini penulis menyampaikan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada yang terhormat:

1. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Syafruddin Samaun dan Ibunda Ratna yang telah membimbing dan memberikan dukungan baik moril maupun materil sejak kecil sampai sekarang sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah senantiasa mengasihi dan melindungi mereka sebagaimana mereka mengasihi penulis sejak masih dalam kandungan hingga sekarang ini.

2. Dr.H.Abd Rahman Rahim, S.E, M.M Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah menyediakan fasilitas kampus yang memadai seperti; ruang kuliah, perpustakaan, laboratorium, ruang mikro teaching dan sebagainya, meskipun masih membutuhkan perbaikan untuk pengembangan pendidikan.

(8)

viii

3. Drs.H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I Dekan Fakultas Agama Islam berserta seluruh staf yang telah mengembangkan Fakultas dan memberikan bantuan dalam pengembangan kemampuan dan keterampilan kepemimpinan kepada penulis.

4. Amirah Mawardi, S.Ag, M.Si Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam yang senantiasa membantu penulis dalam persoalan Akademik.

5. Dra. Hj. Nurhaeni DS. M.Pd dan Amirah Mawardi, S.Ag, M.SI selaku pembimbing yang senantiasa sabar dalam mendampingi dan membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Bapak/Ibu para dosen yang telah melakukan tranformasi ilmu dan nilai kepada penulis yang penuh manfaat dan berkah, semoga amal jariahnya selalu mengalir.

7. Sahabat terbaik penulis yang selalu setia menemani saya dan senantiasa memberikan nasehat kepada saya agar selalau semangat dalam mengerjakan skripsi. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan hidayah dan kesehatan.

8. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman semuanya yang senantiasa berbagi ilmu dan pengalamannya selama ini. Semoga apa yang kita lakukan selama ini bermanfaat bagi kehidupan kita dan ilmu yang kita peroleh diridhoi Allah Swt.

Akhirnya, kepada Allah swt kami memohon semoga semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingannya semoga senantiasa

(9)

ix

memperoleh balasan disisi-Nya dan semoga skripsi ini dapat berguna bagi para pembaca umumnya dan lebih lagi bagi pribadi penulis, aamiin ya Rabbal

’alamin.

Makassar, 15 Rabil al- thanil1438 H 13 Januari 2017 M

Peneliti

MISDAR

NIM: 10519163312

(10)

x

oleh Hj Nurhaeni DS dan Amirah Mawardi ).

Tujuan penulisan skripsi ini mengacu pada tiga pembahasan yaitu, Untuk mengetahui bentuk kenakalan remaja di Desa Sangia Kec.Sape. Kab. Bima, faktor-faktor yang menyebabkan kenakala remaja di Desa Sangia Kec. Sape Kab. Bima, dan peranan pendidikan Islam dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Sangia Kec. Sape Kab. Bima.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dan dianalisis secara deskriptif kualitatif yang dilakukan di Desa Sangia Kec. Sape Kab. Bima sebagai lokasi penelitian. Variabel dalam penelitian ini adalah Pendidikan Islam sebagai variabel bebas dan kenakalan remaja sebagai variabel terikat. Sumber data penelitian diperoleh dari remaja dan masyarakat (tokoh pendidikan, pemuda, masyarakat, agama, orang tua).

Dalam pengumpulan data di lapangan dipergunakan instrumen penelitian yaitu observasi, dokumentasi, wawancara, dan datanya di analisis dengan analisis deskriptif kualitatif.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa: Bentuk kenakalan Remaja di Desa Sangia Kecamatan Sape Kab.Bima yakni minum-minuman keras, perkelahian antara sesama remaja.

Faktor-faktor yang menyebabkan remaja melakukan kenakalan yaitu kurang maksimalnya bimbingan dari orang tua, tidak memberikan perhatian yang penuh, pendekatan, pengawasan kurang, tingkat pemahaman pendidikan Islam yang rendah atau kurangnya pemahaman orang tua tentang pendidikan Islam sehingga orang tua tidak memberikan pendidikan Islam kepada anaknya, lingkungan (teman bermain), lingkungan rumah atau keluarga yang bermasalah, kurangnya perhatian masyarakat untuk memberikan nasehat pada remaja tentang perbuatan yang melanggar norma-norma social, dan pribadi remaja itu sendiri.

Peranan Pendidikan Islam dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Sangia Kec. Sape Kab. Bima adalah membentuk remaja berprilaku ihsan, membentuk pribadi remaja, mengontrol sikap dan tingkah laku remaja baik di rumah maupun di luar rumah, mengarahkan remaja kepada yang bernuansa Islam dengan mengajak remaja untuk selalu membaca al- quran dan mengajak remaja sholat, kajian-kajian ke-Islaman.

(11)

ix

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iv

BERITA ACARA MUNAQASAH ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... x

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiv

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi fokus ... 3

C. Rumusan Masalah ... 4

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

A. Pendidikan Islam ... 6

1. Pengertian Pendidikan Islam ... 6

(12)

xii

2. Tujuan Pendidikan Islam ... 8

3. Dasar dan Kedudukan Pendidikan Islam ... 10

4. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam ... 14

5. Peranan Pendidikan Islam ... 20

B. Kenakalan Remaja ... 22

C. Faktor-faktor yang Menyebabkan Timbulnya Kenakalan Remaja .. 26

D. Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja ... 40

BAB III METODE PENELITIAN... 42

A. Jenis Penelitian ... 42

B. Lokasi Dan Objek Penelitian ... 42

C. Variabel Penelitian ... 42

D. Definisi Operasional Variabel ... 43

E. Sumber Data ... 44

F. Instrumen Penelitian ... 44

G. Teknik Pengumpulan Data ... 45

H. Teknik Analisis Data ... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 47

A. Deskripsi Umum Desa Sangia Kecamatan Sape Kabupaten Bima sebagai daerah penelitian ... 47

B. Bentuk Kenakalan Remaja di Desa Sangia Kec. Sape Kabupaten Bima... 57

(13)

xiii

C. Faktor-faktor yang Menyebabkan Kenakalan Remaja di Desa

Sangia Kec. Sape Kab. Bima ... 61

D. Peranan Pendidikan Islam dalam Mengatasi Kenakalan Remaja di Desa Sangia Kec. Sape Kab. Bima ... 64

BAB V PENUTUP ... 72

A. Kesimpulan ... 72

B. Saran-saran ... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 75 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(14)

xiv

Tabel. 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Wilayah Dusun ... 53

Table. 3 Jumlah Penduduk Menurut Golongan Usia ... 53

Tabel. 4 Mata Pencaharian Penduduk di Desa Sangia ... 54

Tabel. 5 Fasilitas Pendidikan di Desa Sangia ... 55

Tabel. 6 Tingkat Pendidikan Penduduk di Desa Sangia ... 56

(15)

1 A. Latar Belakang

Merosotnya akhlak warga negara telah menjadi salah satu keprihatinan bangsa saat ini. Hal ini juga menjadi keprihatinan para pemerhati pendidikan, terutama para pemerhati pendidikan Islam. Dalam hal ini, lingkungan dianggap sebagai salah satu penyebab kemerosotan akhlak tersebut.

Kemerosatan akhlak nampaknya terjadi pada semua lapisan masyarakat. Meskipun demikian, pada lapisan remaja itulah kemerosotan akhlak lebih banyak terlihat. Kemerosotan ahklak dikalangan para remaja itu disebut kenakalan remaja. Sebagai akibatnya seperti yang telah banyak kita saksikan, banyak rumah tangga yang kehilangan ketentraman, bahkan ada penjabat yang harus meninggalkan jabatannya disebabkan oleh kenakalan anak remajanya.

Kenakalan remaja itu kadang-kadang menimbulkan keresahan pula dalam masyarakat, ketentraman dan kebahagiaan masyarakat terusik. Tidak jarang kenakalan remaja itu meningkat menjadi kejahatan remaja, seperti adanya pencurian atau perkelahian yang dilakukan oleh remaja, minuman keras dan pemakaian obat terlarang diperkirakan telah memacu semakin cepatnya peningatan kenakalan remaja itu. Kini, telah datang masanya kita bertanya sungguh-sungguh kepada diri kita masing- masing. Mengapa pembangunan yang telah dilakukan dengan susah

(16)

payah ini, menghasilkan juga hilangnya ketentraman dan kedamaian rumah tangga kita.

Kenakalan remaja, selain merugikan diri remaja itu sendiri juga merugikan masyarakat, bahkan secara keseluruhan akan merugikan bangsa. Karena kenakalan remaja itu, kerap kali kesehatan fisik itu tergangu, mereka sering sakit-sakitan, kehidupan mereka terlihat kurang bergairah, kurang nafsuh bekerja dan belajar, bahkan kurang nafsuh makan. Ada juga data yang menjelaskan bahwa prestasi remaja yang nakal ada penurunan. Menurunya prestasi belajar itu dikarenakan mereka banyak membolos, tidak rajin belajar di rumah, di perpustakaan dan kurangnya konsentrasi dalam mengikuti pelajaran di sekolahnya. Secara rasional, kenakalan remaja itu sangat membahayakan perjalanan bangsa, padahal remaja itu kelak akan menyadang tugas berat dalam melanjutkan perjalan bangsa. Tugas mereka itu akan lebih berat dari pada tugas yang kita emban sekarang.

Logikanya mutu dan kwalitas para remaja kita seharusnya jauh lebih baik dari mutu kita sekarang. Lebih dari itu, kita pun wajar mengkhawatirkan nasib remaja itu sebab masa global, tingkat godaan akan semakin banyak dan instan, persainganpun akan semakin ketat.Tak heran pula ketika pada hari ini, remaja kadang tidak memperdulikan apa dan bagaimana status dirinya dalam beragama, mereka acuh dan berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan yang bersentuhan dengan pendidikan Islam.

(17)

Melihat permasalahan yang dikutip di atas, semua tidak terlepas dari perilaku remaja yang ada di Desa Sangia Kecamata Sape Kabupaten Bima. Sampai saat ini masih terdapat kejadian yang merugikan masyarakat dan negara yang disebabkan oleh kenakalan remaja tersebut, sehingga penulis merasa tersentuh dan tergugah hatinya untuk meneliti bagaimana peranan pendidikan Islam dalam mengatasi kenakalan remaja yang terjadi di Desa Sangia Kecamatan Sape, Kabupaten Bima.

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus

Fokus penelitian adalah bagian yang akan diteliti. Menurut Suharsimi Arikunto (2003:91), fokus penelitian adalah apa yang menjadi titik perhatian penelitian. Fokus merupakan bagian penting dari suatu penelitian, karena merupakan objek penelitian atau menjadi titik perhatian penelitian. Sesuai dengan judul dan rumusan penelitian ini, maka yang menjadi fokus penelitian adalah Peranan Pendidikan Islam dalam Mengatasi Kenakalan Remaja di Desa sangia Kecamatan Sape Kab.

Bima. Deskripsi fokus penelitian dimaksudkan untuk membatasi ruang lingkup yang akan diteliti agar tidak terjadi masalah penafsiran dalam penelitian dan untuk pengukuran atau pengamatan terhadap variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen. Adapun deskripsi fokus penelitian yaitu :

1. Peranan pendidikan Islam adalah suatu usaha untuk menyiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran

(18)

agama Islam sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt dan berahklak mulia dalam kehidupannya.

2. Kenakalan Remaja adalah perilaku menyimpang atau suatu perbuatan yang melanggar dari norma-norma yang ada dalam masyarakat yang menimbulkan korban atau kerugian yang dilakukan oleh remaja. Khususnya kenakalan yang berupa minum-minuman keras dan perkelahian antara remaja.

C. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari uraian di atas, tentang latar belakang masalah, maka penulis membatasi diri dalam membahas pokok permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana bentuk kenakalan remaja di Desa Sangia Kecamatan Sape Kab. Bima?

2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan kenakalan remaja di Desa Sangia Kecamatan Sape Kab. Bima?

3. Bagaimana Peranan Pendidikan Islam dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Sangia Kecamatan Sape Kab. Bima?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kenakalan remaja di Desa Sangia Kecamatan Sape Kab. Bima.

(19)

2. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di Desa Sangia Kecamatan Sape Kab. Bima.

3. Untuk mengetahui peranan pendidikan Islam dalam mengatasi kenakalan remaja di Desa Sangia Kecamatan Sape Kab. Bima.

Selain penelitian ini memiliki tujuan atau sasaran, maka penelitian ini juga mempunyai target atau manfaat yaitu:

1. Memberikan kontribusi serta motivasi bagi pemerintah setempat untuk lebih memperhatikan atau menganalisi bagaimana peranan pendidikan Islam, dalam hal ini adalah pencegahan terhadap kenakalan remaja, sehingga para remaja tidak berbuat atau melakukan tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat dan bangsa terlebih terhadap orang tua mereka.

2. Sebagai bahan atau teladan bagi anak-anak remaja yang ada di Desa Sangia Kecamatan Sape Kab. Bima dalam hal pembinaan pendidikan Islam

3. Diharapkan menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya, khususnya calon peneliti yang akan mengkaji tentang Peranan Pendidkan lslam dalam Mengatasi Kenakalan Remaja.

(20)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendidikan Islam

1. Pengertian Pendidikan Islam

Mukhtar Yahya (1977:40-43) Pendidikan merupakan suatu usaha untuk menambah kecakapan, keterampilan, pengertian dan sikap, melalui belajar dan pengalaman yang diperlukan untuk memungkinkan manusia mempertahankan dan melangsungkan hidup serta untuk mencapai tujuan hidupnya, usaha itu terdapat baik dalam masyarakat yang masih terbelakang dan tidak. Sebelum membahas tentang pendidikan Islam, terlebih dahulu akan dibahas apa itu pendidikan?

Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 mengungkapkan bahwa:

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Suwarno mengutip pendapat dari Ki Hajar Dewantara (1985:2) mengatakan bahwa:

Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak- anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai angota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Ahmad D. Marimba (1987:19) menyatakan bahwa:

pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik

(21)

menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Unsur-unsur yang terdapat dalam pendidikan yaitu:

a. Usaha (kegiatan), usaha itu bersifat bimbingan (pimpinan atau pertolongan) dan dilakukan secara sadar.

b. Ada pendidikan, atau pembimbingan atau penolong.

c. Ada yang dididik atau si terdidik.

d. Bimbingan itu mempunyai dasar dan tujuan.

e. Dalam usaha itu tentu ada alat-alat yang dipergunakan.

Dari beberapa pengertian pendidikan yang diberikan para ahli tersebut, meskipun berbeda secara redaksional, namun secara essensial terdapat kesatuan unsur-unsur atau faktor-faktor yang terdapat di dalamnya yaitu bahwa pengertian pendidikan tersebut menunjukkan usaha suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang di dalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan dan sebagainya.

Pengertian pendidikan Islam dari segi bahasa Abdurrahman an- Nahlawi ( 1989:41) menyatakan bahwa:

Pendidikan Islarn adalah penataan individual dan sosial yang dapat menyebabkan seseorang tunduk taat pada Islam dengan menerapkannya secara sempurna didalam kehidupan individu dan masyarakat.

Oemar Muhammad al-Toumy al-Syaebani dalam arifin (1987:13) mengemukakan bahwa :

Pendidikan Islam adalah usaha mengubah tingkah laku individu dilandasi oleh nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitar melalui proses kependidikan.

Dari beberapa pengertian pendidikan Islam di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu usaha untuk menyiapkan peserta didik untuk mejadi manusia yang taat, mengarahkan

(22)

kejalan yang baik, dan mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia dalam kehidupannya.

2. Tujuan Pendidikan Islam

Secara umum, pendidikan Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehinga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada allah Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berkesadaran dan bertujuan, Allah telah menyusun landasan pendidikan yang jelas bagi seluruh umat manusia melalui Syariat Islam, termasuk tentang tujuan pendidikan Islam. Para ahli mengemukakan pendapat tentang tujuan pendidikan Islam sebagai berikut.

Tujuan pendidikan Islam dalam segala tingkat pengajaran umum Menurut Mahmud Yunus, (1983:13) adalah sebagai berikut:

a. Menanamkan perasaan cinta dan taat kepada Allah dalam hati kanak-kanak yaitu dengan mengingatkan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya.

b. Menanamkan itikad yang benar dan kepercayaannya yang betul dalam dada kanak-kanak.

c. Mendidik kanak-kanak dari kecilnya, supaya mengikuti suruhan Allah ataupun terhadap masyarakat, yaitu dengan mengisi hati mereka supaya takut kepada Allah dan takut akan pahalanya.

d. Mendidik kanak-kanak dari kecilnya, supaya membiasakan akhlak yang mulia dan adat kebiasaan yang baik.

e. Mengajar pelajaran-pelajaran, supaya mengetahui macam-macam ibadah yang wajib dikerjakan dan cara melakukannya, serta mengetahui hikmah-hikmah dan faedah-faedahnya dan pengaruhnya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Begitu juga mengajarkan hukum-hukum agama yang perlu diketaui oleh tiap-tiap

(23)

orang Islam serta taat mengikutinya.

f. Memberi petunjuk mereka untuk hidup di dunia menuju akhirat g. Memberikan contoh dan suri tauladan yang baik, serta pengajaran

dan nasehat-nasehat.

h. Membentuk warga negara yang baik dan masyarakat yang baik yang berbudi luhur dan berakhlak mulia, serta berpegang teguh dengan ajaran agama.

Muhammad Fadhil al-jamali (1986:3) merumuskan tujuan pendidikan Islam dengan empat macam yaitu:

a) Mengenalkan manusia akan perannya diantara sesama mahkluk dan tangung jawabnya dalam hidup ini

b) Mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tangung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat

c) Mengenalkan manusia akan alam dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakanya serta memberi kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat darinya

d) Mengenalkan manusia akan penciptaan alam (Allah) dan menyuruhnya beribadah kepadanya.

Mukhtar Yahya (1977:40-43) berpendapat bahwaTujuan pendidikan Islam adalah memberikan pemahaman ajaran-ajaran Islam pada peserta didik dan membentuk keseluruhan budi pekerti sebagaimana misi Rasuullah Saw sebagai pengembang perintah menyempurnakan akhlak manusia untuk memenuhi kebutuhan kerja.

Tujuan pendidikan Islam dilihat dari segi cakupan atau ruang lingkupnya, dapat dibagi dalam beberapa tahapan diantaranya yaitu:

1) Tujuan Pendidikan Islam Secara Universal

Menurut H. M Arifin (1991:40) Rumusan tujuan pendidikan yang bersifat universal dapat dirujuk pada hasil kongres sedunia tentang pendidikan Islam bahwa :

“Pendidikan harus ditunjuk untuk menciptakan keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh dengan cara

(24)

melatih jiwa, akal pikiran, perasaan, dan fisik manusia. Dengan demikian, pendidikan harus mengupayakan tumbuhnya seluruh potensi manusia, baik yang bersifat spiritual, intelektual, daya khayal, fisik, ilmu pengetahuan, maupun bahasah, baik secara perorangan maupun kelompok, dan mendorong tumbuhnya seluruh aspek tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan terletak kepada terlaksananya pengabdian yang penuh kepada Allah, baik pada tingkat perseorangan, kelompok maupun kemanusiaan dalam arti yang seluas-luasnya”.

2) Tujuan Pendidikan Islam secara Nasional

Tujuan pendidikan Islam secara nasional dapat dirujuk kepada tujuan pendidikan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional : “Membentuk manusia yang beriman bertaqwa, berahklak mulia, berkepridadian, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, sehat jasmani, dan rohani, memiliki rasa seni, serta bertanggung jawab bagi masyarakat bangsa dan Negara”.

Dari beberapa penjelasan tujuan pendidikan Islam di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan untuk merubah manusia kearah yang lebih baik, menyempurnakan hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesamanya, memilihara, memperbaiki dan meningkatkan hubungan antara manusia dan lingkungan.

3. Dasar dan Kedudukan Pendidikan Islam a. Dasar Pendidikan Islam

Dasa-dasar pendidikan Islam dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu:

1) Dasar Religius

(25)

Menurut Zulhairini, dkk (2002:17) bahwa yang dimaksud dengan dasar relegius adalah dasar-dasar yang bersumber dari ajaran Islam yang tertera dalam al-qur’an maupun alhadist. Menurut ajaran Islam, bahwa melaksanakan pendidikan agama Islam adalah merupakan perintah dari tuhan dan merupakan ibadah kepada-Nya. Sebagaimana dalam Al-qur’an (Qs, Al-alaq: 96 : 1-5).



















































Terjemahnya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpa darah, Bacalah dan Tuhan mulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”(Kementrian Agama RI, 2005:597).

2) Dasar Yuridis Formal

Menurut Zuhairini dkk, (2002: 18) bahwa yang dimaksud dengan yuridis formal pelaksanaan pendidikan Islam yang berasal dari perundang- undangan yang secara langsung atau tidak langsung dapat dijadikan pengangan dalam melaksanakan pendidikan agama Islam, di sekolah- sekolah ataupun di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia.

3) Dasar Ideal

Dasar ideal yakni dasar dari falsafah Negara: Pancasila, dimana sila yang pertama adalah ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mengandung pengertian, bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, atau tegasnya harus beragama.

(26)

4) Dasar Konsitusional/Struktural

Dasar konsitusional adalah dasar UUD Tahun 1945 BAB IV Pasal 29 ayat 1dan 2, yang berbunyi sebagai berikut:

Negara berdasarkan atas Tuhan Yang Maha Esa Negara menjamin tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya.

Bunyi dari UUD di atas mengandung pengertian bahwa Bangsa Indonesia harus beragama, dalam pengertian manusia yang hidup di bumi Indonesia adalah orang-orang yang mempunyai agama. Karena itu, umat beragama khususnya umat Islam dapat menjalankan agamanya sesuai ajaran Islam, maka diperlukan adanya pendidikan agama Islam”.

5) Dasar Operasional

Dasar operasional adalah dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah di Indonesia.

6) Dasar Psikologis

Dasar psikologis yaitu dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan dalam bermasyarakat. Hal ini didasarkan bahwa dalam hidupnya, manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dihadapkan pada hal-hal yang membuat hatinya tidak tenang dan tidak tentram sehingga memerlukan adanya pengangan hidup.

Semua manusia yang hidup di dunia ini selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama, mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada satu perasaaan yang mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa, tempat untuk berlindung, memohon dan tempat mereka memohon

(27)

pertolongan. Mereka akan merasa tenang dan tentram hatinya apabila mereka dapat mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Dari uraian diatas jelaslah bahwa untuk membuat hati tenang dan tentram ialah dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.

b. Kedudukan Pendidikan Islam

Bila seseorang percaya bahwa agama itu adalah sesuatu yang benar, maka timbullah perasaan suka terhadap agama. Perasaan seperti ini merupakan komponen efektif dari sikap keagamaan. Selanjutnya dari adanya kepercayaan dan perasaan senang seseorang itu akan mendorong untuk berprilaku keagamaan atau yang dikenal dengan pengalaman ajaran agama. Dengan demikian konsisten antara kepercayaan terhadap agama sebagai komponen kognitif, perasaan terhadap agama sebagai komponen afektif dengan perilaku terhadap agama. Agama sebagai komponen kognitif menjadi landasan pembentukan kepada tingkat kepercayaan terhadap agama.

Sikap keagamaan mencakup semua aspek yang berhubungan dengan keagamaan sepanjang yang bisa dirasakan dan dijangkau oleh anak dilingkungan keluarga dan sekolah, seperti sikap yang berhubungan dengan aspek keimanan, ibadah, ahklak dan muamalah. Sikap keagamaan adalah suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama.

Ada tiga komponen sikap keagamaan jalaludin (1996: 212)

(28)

sebagai berikut:

1) Komponen Kognisi, adalah segala hal yang berhubungan dengan gejala fikiran seperti ide, kepercayaan dan konsep.

2) Koponen Afeksi, segala hal yang berhubungan dengan gejala perasaan ( emosional: seperti senang, tidak senang, setuju).

3) Komponen Konasi, adalah merupakan kecenderungan untuk berbuat, seperti memberi pertolongan, menjauh diri, mengabdi dan sebagainya.

Pendidikan Islam mempunyai kedudukan yang tinggi dan paling utama, karena pendidikan Islam menjamin untuk memperbaiki akhlak anak-anak didik dan mengangkat mereka kederajat yang tinggi, serta berbahagia dalam hidup dan kehidupanya. Pendidikan Islam membersihkan hati dan kesucian jiwa, serta mendidik hati nurani dan mencetak mereka agar berkelakuan yang baik dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan yang mulia.

Mahmud Yunus (1983: 7-8) mengemukakan bahwa:

Pendidikan Islam sangat berperan memperbaiki akhlak anak-anak untuk membersihkan hati dan mensucikan jiwa mereka. Agar mereka berkepribadian baik dalam kehidupannya. Dengan pendidikan agama, maka anak-anak menjadi tahu dan mengerti akan kewajibanya sebagai umat beragama, sehingga ia mengikuti aturan yang telah ditetapkan dan menjauhi larangan agama.

4. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam a. Prinsip Wajib Belajar dan Mengajar

Prinsip wajib belajar adalah prinsip yang menekankan agar setiap orang dalam Islam merasa bahwa meningkatkan kemampuan dari dalam bidang pengembangan wawasan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, intelektual, spiritual, dan social merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Dengan prinsip ini, pendidikan Islam tidak

(29)

menghendaki adanya orang yang bodoh, karena orang yang bodoh bukan saja menyusahkan dirinya, melainkan menyusahkan orang lain.

b. Prinsip Pendidikan untuk Semua (Education for All)

Prinsip pendidikan untuk semua adalah prinsip yang menekankan agar dalam pendidikan tidak terdapat ketidakadilan perlakuan, atau diskriminasi. Pendidikan harus diberikan kepada semua orang dengan tidak membedakan karena latar belakang suku, agama, kebangsaan, status social, jenis kelamin, tempat tinggal, dan lain sebagainya.

c. Prinsip Pendidikan Sepanjang Hayat (Long Life Edukation)

Prinsip pendidikan sepanjang hayat adalah prinsip yang menekankan, agar setiap orang dapat terus belajar dan meningkatkan dirinya sepanjang hayat. Mereka terus belajar walaupun sudah menyandang gelar kesarjanaan. Prinsip belajar sepanjang hayat ini, sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW:

(ملسم هاور) ِ دْهَّللا ىَل إ ِ دْحَمْلا َِن م َِمْل عْلا ُِبُلْطُأ

Artinya:

Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat. (HR. Muslim) d. Prinsip Pendidikan Berwawasan Global dan Terbuka

Prinsip pendidikan berwawasan global, maksudnya adalah bahwa ilmu pengetahuan yang dipelajari bukan hanya yang terdapat di dalam negeri sendiri, melainkan juga ilmu yang ada di negeri orang lain, namun sangat diperlukan untuk negeri sendiri. Selain itu, pendidikan bewawasan global, menekankan bahwa pendidikan yang dilakukan ditunjukan untuk kepentingan seluruh umat manusia di dunia, dan juga menggunakan

(30)

standar yang berlaku di seluruh dunia. Prinsip pendidikan berwawasan global dan terbuka ini sejalan dengan sabda rasulullah SAW sebagai berikut.

اب ول و ملعلا اوبلطا:لاق ملسو هيلع الله يلص يبنل نا هنع الله يضر سنا نع ِّمْلِّعْلا َبَلَط َّنِّإَف ِّنْي ِّ صل مِّلْسُم ِّ لُك ىَلَع ٌةَضْي ِّرَف

ِّبِّلاَطِّل اَهَتَحِّنْجَا ُعَضَت َةَكِّئ َلََمْلا َّنِّا ،

َض ِّر ِّمْلِّعْلا بُلْطَي اَمِّب ًءا

Artinya :

Dari Anas ra. Bahwasanya Nabi saw bersabda: carilah ilmu walaupun sampai ke negri cina, karena menuntut ilmu itu merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam, dan bahwa sesunguhnya malaikat akan mengepakkan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu, karena ia senang dengan apa yang dicari oleh penuntut ilmu itu. (HR. Ibn Abd al-Barr)

e. Prinsip Pendidikan Integralistik dan Seimbang

Prinsip pendidikan integralistik adalah prinsip yang memadukan antara pendidikan ilmu agama dan pendidikan umum, karena sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa ilmu agama dan umum baik secara ontologis (sumbernya), epistimologi (metodenya), maupun aksiologis (manfaatnya) sama-sama berasal dari Allah SWT, dan diantara satu dan lainnya saling melengkapi. Hal ini sejalan dengan prinsip ajaran Islam yang tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat.

f. Prinsip Pendidikan yang Sesuai dengan Bakat Manusia

Prinsip pendidikan yang sesuai dengan bakat manusia adalah prinsip yang berkaitan dengan merencanakan program atau memberikan pengajaran yang sesuai dengan bakat, minat, hobi, dan kecenderungan manusia sesuai dengan tingkat perkembangan usianya.

(31)

g. Prinsip Pendidikan yang Menyenangkan dan Mengembirakan

Prinsip pendidikan yang menyenangkan ialah prinsip pendidikan yang berkaitan dengan pemberian pelayanan yang manusiawi, yaitu pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan manusia, selalu memberikan jalan keluar dan pemecahan masalah, memuaskan, mencerahkan, menggembirakan, dan menggairahkan. Prinsip pendidikan ini sejalan dengan firman Allah SWT QS Faathir (35) : 24 sebagai berikut.



























Terjemahnya:

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Kementrian Agama RI 2011: 437)

h. Prinsip Pendidikan yang Berbasis pada Riset dan Rencana

Prinsip pendidikan yang berbasis pada riset maksudnya adalah pendidikan yang dilaksanakan dan dikembangakan bedasarkan hasil penelitian dan kajian yang mendalam,dan bukan berdasarkan dugaan atau asal-asalan. Adapun prinsip pendidikan yang direncanakan, adalah pendidikan yang dilaksanakan bedasarkan perencanaan yang matang yang ditopang oleh hasil kajian dan penelitian yang mendalam.

i. Prinsip Pendidikan yang Unggul dan Profesional

Prinsip pendidikan yang unggul adalah prinsip pendidikan yang menjunjung tinggi dan mengutamakan mutu lulusan yang unggul dan ditopang oleh berbagai komponen pendidikan lainnya yang unggul pula.

Adapun prinsipn pendidikan yang profesional adalah prinsip yang

(32)

memberikan tugas dan tanggung jawab dalam mengelola pendidikan kepada orang yang ahli dalam bidangnya. Prinsip pendidikan yang berdasarkan penelitian dan perencanaan ini dapat dipahami dari firman Allah SWT QS. Al-Isra (17) : 36



































Terjemahnya:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(

Kementrian Agama RI 2011: 285)

Dan juga Firman Allah QS.Al-Hasyr (59) : 18





































Terjemahnya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( Kementrian Agama RI 2011 : 548)

j. Prinsip Pendidikan yang Rasional dan Objektif

Prinsip pendidikan yang rasional adalah prinsip yang menekankan, agar segala kebijakan yang ditempuh dalam bidang pendidikan dapat dijelaskan alasan dan argumentasinya, sehinnga kebijakan tersebut dapat diterima dengan penuh kesadaran dan pengertian, dan bukan karna paksaan. Adapun prinsip pendidikan yang

(33)

objektif adalah prinsip yang menekankan, bahwa segala kebijakan atau praktik yang dilakukan dalam bidang pendidikan didasarkan pada fakta dan alasan yang sesungguhnya, bukan karena kepentingan dan maksud- maksud seseorang atau kelompok tertentu.

k. Prinsip Pendidikan yang Berbasis Masyarakat

Prinsip pendidikan yang berbasis masyarakat adalah prinsip yang menekankan atau mengidealkan adanya partisipasi dan inisiatif yang penuh dan kuat dari masyarakat.

l. Prinsip Pendidikan yang Sesuai dengan Perkembangan Zaman

Prinsip pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman adalah prinsip yang menekankan adanya penyesuaian berbagai kebijakan dan program pendidikan sesuai dengan kebutuhan zaman tampa mengorbankan hal-hal yang bersifat ajaran dan prinsip.

m. Prinsip Pendidikan Sejak Usia Dini

Prinsip pendidikan sejak usia dini adalah prinsip yang menekankan agar setiap orang tidak terlambat memberikan pendidikan pada anaknya, dan juga berarti prinsip yang menekankan, bahwa usia dini merupakan usia yang paling baik untuk dimulainya pendidikan.

n. Prinsip Pendidikan yang Terbuka

Prinsip pendidikan yang terbuka adalah prinsip yang menekankan, agar dalam mengelola pendidikan senantiasa terbuka kepada masyarakat untuk menyampaikan saran, masukan, gagasan, dan pemikiran yang diperlukan bagi kemajuan pendidikan.

(34)

5. Peranan Pendidikan Islam

Iman Bawani (1987: 122) Mengemukakan bahwa: Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

Muhammad fadil al-Djamali, juga dalam Arifin (1987:16) mengatakan bahwa : pendidikan Islam adalah proses yang menggarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan meningkatkan derajat kemanusiannya.

Dilihat dari pengertian di atas pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berkesadaran dan betujuan untuk merubah manusia kearah yang lebih baik yang mempunyai ahklak mulia, dan juga untuk menyempurnakan hubungan manusia dengan Allah, meyempurnakan hubugan manusia dengan sesamanya, memelihara, memperbaiki dan meningkatkan hubungan antara manusia dan lingkungan.Nampak jelaslah bahwa peranan pendidikan Islam dalam penbentukan ahklak atau karakter seseorang menjadi karakter yang baik, sangat dibutuhkan adanya pendidikan Islam, dengan melalui lembaga formal ataupun non formal.

Dalam al-qur’an juga telah menjelaskan perintah untuk berahklak baik maupun yang berkaitan dengan larangan berakhlak buruk. Isyarat untuk berakhlak baik ini diungkapkan dalam Al - Qur’an tidak kurang dari 163 ayat dan larangan bersikap tercela sekitar 131 ayat. Diantaranya adalah dalam, (Qs.Al-Hajj : 22 : 77).

(35)

























Terjemahnya:

Hai orang-orang beriman ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.(Kementrian Agama RI 2011: 134)

Dan juga Firman Allah QS. Al-Mujadillah: 58 :11































































Terjemahnya:

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:

"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu dan apabila dikatakan;

"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meningikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Kementrian Agama RI 2011:543).

Sabda Rasulullah Saw, Diriwayatkan Bukhari dan Muslim

َة َرْي َرُه ْىِبَا ْنَع َص ِالله ُل ْوُس َر َلاَق : َلاَق ُهْنَع ُالله َي ِض َر

َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُالله ىَّل

ُها َو َر( ِهِنَسِِّجَمُي ْوَا ِهِن َرِّ ِصَنُي ْوَا ِهِناَد ِِّوَهُي ُها َوَبَاَف ِة َرْطِفْلا ىَلَع ُدَل ْوُي ٍد ْوُل ْوَم ُّلُك : ى ِراَخُبْلا ْمِلْسُم َو

)

Artinya :

Dari Abu Hurairah R.A, Ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda :

“Setiap anak dilahirkan secara fitrah (suci) maka orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR.

Bukhari dan Muslim)

(36)

Dari kedua ayat dan satu hadist Rasulullah SAW di atas, menjelaskan kepada kita agar kita sebagai manusia harus ada pembentukan atau pembinaan keagamaan agar tetap terjaga jiwa dari suatu kenistaan yang dibekali dengan ilmu pengetahuan yang sesuai.

B. Kenakalan Remaja 1. Pengertian Remaja

Desmita (2010:189) mengatakan bahwa :

Untuk merumuskan sebuah definisi yang memadai tentang remaja tidaklah mudah, sebab kapan masa remaja berakhir dan kapan anak remaja tumbuh menjadi seorang dewasa tidak dapat ditetapkan secara pasti. Kesulitan untuk memastikan kapan berakhirnya masa adolesens ini, diantaranya karena adolesens sesungguhnya merupakan suatu ciptaan budaya, yakni suatu konsep yang muncul dalam masyarakat modern sebagai tanggapan terhadap perubahan sosial yang menyertai perkembangan industri pada abad ke-19 di Eropa dan Amerika Serikat. Setidaknya, hingga akhir abad ke-18, konsep adolesens belum digunakan untuk menunjukkan suatu periode tertentu dari kehidupan manusia. Baru sejak abad ke-19 muncul konsep adolesens sebagai suatu periode kehidupan tertentu yang berbeda dari masa anak-anak dan masa dewasa. Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi.

Abu Ahmadi dan Munawar Soleh (2005:121) mengatakan bahwa:

membatasi usia remaja dengan: masa pra pubertas (pueral) pada usia 12-14 tahun, masa pubertas pada usia 14-18 tahun, dan masa adolesens pada usia 18-21 tahun. Mengenai batasan umur pemuda atau remaja sebagian sarjana, termasuk sarjana psikologi, berpendapat secara global masa pemuda atau remaja berlangsung antara umur 12-21 tahun.

Dari beberapa batasan tersebut, memang sulit untuk menyatukan pemahaman para ahli, namun secara umum dapat ditarik pemahaman bahwa masa remaja berlangsung antara umur 12-21 tahun.

(37)

2. Pengertian Kenakalan Remaja

Sebelum memberikan pengertian kenakalan remaja secara keseluruhan maka penulis akan memberikan pengertian satu persatu tentang kenakalan dan remaja.

Remaja menurut Muhammad Syarif ash-Shawwah (2003: 28) menjelaskan bahwa:

Masa terjadinya berbagai perubahan pada anak baik itu jasmani, seksualitas, pikiran, kedewasaan, maupun sosial, semua itu merupakan proses perpindahan seseorang dari masa kanak-kanak dan remaja kemasa dewasa dan kematangan. Masa perkembangan menuju kematangan jasmani, seksualitas, pikiran dan emosional.

Kenakalan remaja atau sering diterjemahkan dengan “juvenile deliquency”, menurut Kartini Kartono (2010:6) menjelaskan bahwa:

Kenakalan remaja ialah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkahlaku yang menyimpang.

Sarlito Wirawan yang mengutip pendapat M. Gold dan J. Petronio (1985:10) menjelaskan bahwa:

kenakalan remaja sebagai tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.

Dari pendapat beberapa ahli tersebut, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan kenakalan remaja atau sering disebut “juvenile deliquency” adalah suatu perbuatan melanggar norma-norma yang ada dalam masyarakat atau perilaku yang menyimpang, yang dilakukan oleh

(38)

remaja yang menimbulkan korban atau kerugian. Pada usia mereka, perilaku-perilaku mereka belum melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya karena yang dilanggar adalah status-status dalam lingkungan primer (keluarga) dan sekunder (sekolah) yang memang tidak diatur oleh hukum secara terinci. Akan tetapi kelak remaja ini dewasa, pelanggar status ini dapat dilakukannya dengan atasannya di kantor atau petugas hukum dalam masyarakat. Oleh karena itulah pelanggaran status ini oleh Jensen digolongkan juga sebagai kenakalan dan bukan sekedar perilaku yang menyimpang.

3. Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja

Sarlito Wirawan mengutip pendapat dari Jensen (1985:256) membagi kenakalan remaja sebagai berikut:

a. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain:

perkelahian, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan.

b. Kenakalan yang menimbulkan korban materi, perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dan Iain-lain.

c. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak orang lain:

pelacuran, penyalahgunaan obat. Di Indonesia mungkin dapat juga dimasukkan hubungan seks sebelum menikah dalam jenis ini.

d. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya.

(39)

Sementara Zakiah Daradjat (1977:10) membagi bentuk kenakalan sebagai berikut:

a. Kenakalan ringan, misalnya: keras kepala, tidak mau patuh kepada orang tua dan guru, lari (bolos) dari sekolah, sering berkelahi, suka mengeluarkan kata-kata kurang sopan, cara berpakaian dan lagak- lagu yang tidak perduli dan sebagainya.

b. Kenakalan yang mengganggu ketentraman dan keamanan orang lain misalnya: mencuri, memfitnah, merampok, menodong, menganiaya, merusak milik orang lain, membunuh, ngebut dan lain sebagainya.

c. Kenakalan seksual, terhadap jenis lain dan sejenis

Sementara itu Kartini Kartono (2010:21) menjelaskan pembagian kenakalan remaja secara mendetail, adapun pembagiannya adalah sebagai berikut:

a. Kebut-kebutan di jalanan yang mengganggu keamanan lalu- lintas, dan membahayakan jiwa sendiri serta orang lain.

b. Perilaku ugal-ugalan, brandalan, urakan yang mengacaukan ketenteraman masyarakat sekitar. Tingkah laku ini bersumber pada kelebihan energi dan dorongan primitif yang tidak terkendali serta kesukaan menteror lingkungan.

c. Perkelahian antargeng, antarkelompok, antarsekolah, antar-suku (tawuran), sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa.

d. Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan, atau bersembunyi di tempat-tempat terpencil sambil melakukan eksperimen bermacam-macam kedurjanaan dan tindakan susila.

e. Kriminalitas anak, remaja dan adolesens antara lain berupa perbuatan mengancam, intimidasi, memeras, maling, mencuri, mencopet, merampas, menjambret, menyerang, merampok, menggarong; melakukan pembunuhan dengan jalan menyembelih korbannya, mencekik, meracun, tindak kekerasan, dan pelanggaran lainnya.

f. Berpesta-pora, sambil mabuk-mabukan, melakukan hubungan seks bebas, atau orgi (mabuk-mabukan hebat dan menimbulkan keadaan yang kacau-balau) yang mengganggu lingkungan.

g. Pemerkosaan, agresivitas seksual dan pembunuhan dengan motif seksual, atau didorong oleh reaksi-reaksi kompensatoris dari perasaan inferior, menuntut pengakuan diri, depresi hebat, rasa kesunyian, emosi balas dendam, kekecewaan ditolak cintanya oleh seorang wanita dan Iain-lain.

h. Kecanduan dan ketagihan bahan narkotika (obat bius; drugs) yang

(40)

erat bergandengan dengan tindak kejahatan.

i. Tindakan-tindakan immoral seksual secara terang-terangan, tanpa tending aling-aling, tanpa rasa malu dengan cara yang kasar. Ada seks dan cinta bebas tanpa kendali (promiscuity) yang didorong oleh hiperseksualitas, Geltungsrieb (dorongan menuntut hak) dan usaha- usaha kompensasi lainnya yang kriminal sifatnya.

j. Homoseksualitas, erotisme anal dan oral, dan gangguan seksual lain pada anak remaja disertai tindakan sadistis.

k. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lain dengan taruhan, sehingga mengakibatkan ekses kriminalitas.

l. Komersialisasi seks, pengguguran janin oleh gadis-gadis delinkuen, dan pembunuhan bayi oleh ibu-ibu yang tidak kawin.

m. Tindakan radikal dan ekstrim, dengan cara kekerasan, penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak remaja.

n. Perbuatan a-sosial dan anti-sosial lain disebabkan oleh gangguan kejiwaan pada anak-anak dan remaja psikopatik (kelainan tingkah laku khususnya dalam hal anti social), yang menderita gangguan- gangguan jiwa lainnya.

o. Tindak kejahatan disebabkan oleh penyakit tidur (encephalitis lethargical), dan ledakan meningitis serta post-encephalitics; juga luka dikepala dengan kerusakan pada otak ada kalanya membuahkan kerusakan mental, sehingga orang yang bersangkutan tidak mampu melakukan kontrol-diri

p. Penyimpangan tingkah-laku disebabkan oleh kerusakan pada karakter anak yang menuntut kompensasi, disebabkan adanya organ-organ yang inferior.

C. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Timbulnya Kenakalan Remaja 1. Kurangnya Pendidikan Agama

Zakiah Daradjat (1990:13) Yang dimaksud dengan didikan agama bukanlah pelajaran agama yang diberikan secara sengaja dan teratur oleh guru sekolah saja. Akan tetapi yang terpenting adalah penanaman jiwa agama yang dimulai dari rumah tangga, sejak sianak masih kecil, dengan jalan membiasakan sianak kepada sifat-sifat dan kebiasaan yang baik, misalnya dibiasakan menghargai hak milik orang lain, dibiasakan berkata terus terang, benar dan jujur, diajari mengatasi kesukaran yang ringan dengan tenang, diperlakukan adil dan baik, diajarkan suka menolong, mau

(41)

memaafkan kesalahan orang, ditanamkan rasa kasih sayang sesama saudara dan sebagainya.

Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai dengan jiwa ajaran agama itu, akan dapat tertanam dengan mudah pada jiwa sianak, apabila orang dewasa disekitarnya (terutama ibu-bapak) memberikan contoh-contoh dari sifat yang baik itu kedalam kehidupan mereka sehari-hari, karena anak- anak lebih cepat meniru dari pada kata-kata yang abstrak itu.

Akan tetapi amat kita sayangkan, melihat kenyataan banyaknya orangtua tidak mengerti ajaran agama yang dianutnya, bahkan banyak pula memandang rendah ajaran agama itu, sehingga didikan agama itu praktis tidak pernah dilaksanakan dalam banyak keluarga.

Disamping didikan agama yang tidak diterima seorang anak pada masa kanak-kanak dirumah, maka di sekolah pun pendidikan agama itu pada masa yang lalu belum mendapat perhatian. Pelajaran agama dianggap kurang penting, tidak mempengaruhi kenaikan kelas anak-anak.

Disamping itu, guru-guru agama seringkali dianggap rendah, sehingga akhirnya anak-anak tidak mendapat didikan agama yang benar-benar, baik dari orangtuanya maupun dari guru sekolahnya. Dengan tidak kenalnya seorang anak akan jiwa agama yang benar, akan lemahlah hati nuraninya, karena tidak terbentuk dari nilai-nilai masyakarat atau agama yang diterimanya waktu ia masih kecil. Jika hati nuraninya lemah, atau unsur pengontrol dalam diri seorang anak kosong dari nilai-nilai yang baik, maka sudah barang tentu akan mudah mereka terperosok kedalam

(42)

kelakuan-kelakuan yang tidak baik dan menurutkan apa yang menyenangkannya waktu itu saja tanpa memikirkan akibat selanjutnya.

Kebiasaan-kebiasaan baik yang sesuai ajaran agama, yang dibentuk sejak seorang anak lahir, akan menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Apabila kepribadiannya dipenuhi oleh nilai-niiai agama, maka akan terhindarlah dia dari kelakuan-kelakuan yang tidak baik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja adalah kurangnya didikan agama bagi anak-anak, yakni bahwa anak-anak tidak dibekali ajaran atau nilai-nilai agama sejak dini.

2. Kurangnya Pengertian Orang Tua Tentang Pendidikan

Alangkah banyaknya orang tua yang tidak mengerti bagaimana cara mendidik anak. Mereka meyangka bahwa apabila telah memberikan makanan, pakaian dan perawatan kesehatan yang cukup kepada sianak, telah selesai tugas mereka. Dan ada pula yang menyangka bahwa mendidik anak dengan keras, akan menjadikannya orang baik dan sebagainya.

Sudarsono (1993:19) mengatakan bahwa:

Sesungguhnya yang terpenting dalam pendidikan sianak, adalah keseluruhan perlakuan-perlakuan yang diterima oleh sianak dari orangtuanya, dimana dia merasa disayangi, diperhatikan dan diindahkan dalam keluarga, disamping itu ia harus merasa bahwa dalam hubungannya dengan orangtua ia diperlakukan adil diantara saudara-saudaranya, ia merasa tentram, tanpa ada rasa ketakutan akan dimarahi, diolok atau dibanding-bandingkan dengan saudara- saudaranya yang lain. Kebebasan dalam batas kewajaran tidak terlalu terikat atau dikekang oleh peraturan-peraturan atau nasehat orangtua.

(43)

Apabila seorang anak merasa tidak disayanggi oleh orangtuanya dan merasa kurang mendapat perhatian dari ibu-bapaknya, ia akan berusaha mencari kesayangan itu dengan bermacam-macam jalan.

Misalnya dengan kelakuan yang menarik perhatian, sering mengeluh, berkelahi, mengganggu orang lain, tidak mau melakukan apa yang disuruh oleh orang tua dan sebagainya. Maka banyak diantara anak-anak yang menjadi nakal, itu akibat dari perasaan tertekan karena tidak adanya perhatian orang tua, maka kenakalannya didalam hal ini, sebagai hukuman atau pembalasan bagi orang tua. Demikian pula dalam hal pengisian waktu untuk anak. Sesungguhnya cara pengisian waktu terluang itu sangat mempengaruhi kelakuan anak-anak. Dalam masyarakat itu, jarang diperhatikan cara yang baik untuk mengisi waktu terluang bagi anak-anak. Bahkan ada orangtua yang menyangka bahwa seluruh waktu sianak harus diisi dengan sesuatu yang bermanfaat misalnya, belajar atau kerja menolong orang tua dan sebagainya, Bermain-main, menyalurkan hobbinya masing-masing dianggap membuang waktu. Maka anak yang diperlakukan seperti ini akan menggerutu, mungkin melawan kepada orang tua, membolos dari sekolah dan mungkin juga terganggu emosinya.

Bagi orang tua yang mampu biasanya tidak membutuhkan bantuan tenaga dari keluarganya, ia merasa bahwa yang perlu diatur hanya waktu sianak untuk belajar dan sekolah. Sedang selebihnya anak itu dibiarkan semaunya, entah bermain jauh, naik mobil dan ngebut dan

(44)

sebagainya. Memang, apabila anak-anak telah mulai berumur 13 tahun dan seterusnya, biasanya dia lebih senang berada ditengah kawan- kawannya dari pada selalu dirumah orang tuanya. Dan apa yang disenangi oleh kawannya, itu pulalah yang disenanginya. Jika anak-anak itu dibiarkan mencari jalan sendiri untuk mengisi waktu terluang itu, akan diisinyalah dengan cara yang menggembirakannya, sedangkan pertimbangan tentang baik dan buruk, masih kurang mereka ketahui.

Perlu disadari bahwa pertumbuhan anak-anak dari umur 13 tahun ke atas juga membawa perubahan pada perasaan seksual, mereka mulai senang kepada jenis lain dan rasa ingin tahu bertambah besar. Mungkin sekali mereka akan jatuh kepada kejahatan dan keabnormalan seksual serta onani, homoseksual dan sebagainya. Jika dorongan-dorongan baru itu tidak disalurkan dengan pimpinan yang baik kearah pembinaan mental yang sehat. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pengertian orang tua terhadap anak merupakan suatu hal yang sangat penting, karena kurangnya perhatian terhadap anak-anak tersebut dapat mempengaruhi perkembangan dan kelakuan anak-anak, tentunya yang dapat menimbulkan kenakalan-kenakalan bagi dirinya.

Al-Qur'an telah memberikan petunjuk mengenai sikap keteladanan orang tua dalam mendidik anak-anaknya melalui penggambaran Luqman.

Dalam memberikan wasiat kepada putra-putrinya, Luqman adalah seorang figur ayah yang sangat bijaksana. Hal ini dapat dilihat antara lain Firman Allah swt, dalam Al-qur’an QS. Lukman (31): 13, yang berbunyi

(45)

sebagai berikut:

 





























Terjemahnya:

“Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anak-anaknya, diwaktu dia memberikan pelajaran kepada anaknya : "Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesunguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman”.

(Kementrian Agama RI, 2011: 412).

Pada ayat lain Allah swt, berfimran dalam QS. Luqman (31): 16-19, yang berbunyi sebagai berikut:

















































































































































Terjemahnya:

“(Luqman) berkata : "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu dilangit atau di dalam bumi niscaya Allah akan (membalasanya), sesungguhnya Allah maha halus maha mengetahui. Hai anakku dirikanlah shalat dan serulah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu

(46)

berjalan dimuka bumi dengan angkuh, sesunguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesunguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai”.

(Kemetrian Agama RI, 2011:412).

Menaggapi ayat tersebut, Hasan al-Banna (1992:42) telah mengemukakan bahwa Luqman yang digambarkan dalam al-Qur'an sebagai sosok pribadi seorang ayah yang bijaksana merupakan cermin pendidikan bagi orang tua muslim dalam mendidik putra-putrinya. Dalam wasiat-wasiatnya itu terkandung suatu hakikat pendidikan anak yang mendasar. Arah tujuannya jelas tanpa membutuhkan pemikiran rumit.

Wasiat-wasiat Luqman kepada putra-putrinya mengandung konsep antara lain :

a. Larangan mempersekutukan Allah, dialah zat yang maha tunggal dan berkehendak atas segala sesuatu, hanya kepadanyalah kita wajib menghambakan diri,

b. Memberikan peringatan bahwa segala sesuatu yang terjadi dialam semesta ini diketahui oleh Allah swt, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Tak sebatas yang dapat dilihat oleh pandangan saja, pasti akan diketahuinya, dan kelak pada hari kiamat, perbuatan-perbuatan tersebut akan menjadi jelas. Sebanding dengan perbuatan yang telah dilakukan, semuanya akan menerima balasan masing-masing.

Perbuatan yang baik, akan berubah menjadi kebaikan. Sedangkan kejahatan juga akan dibalas dengan adzab yang setimpal, dengan dasar itulah, hendaknya ditanamkan tuntunan pada para pemuda bahwa semua perbuatan yang dilakukan akan berakibat bagi dirinya.

Gambar

Tabel II
Tabel IV
Tabel VI

Referensi

Dokumen terkait

Trong đó, một số chỉ tiêu nhằm đánh giá và mô tả sự phát triển về việc ứng dụng Airbnb trong kinh doanh dịch vụ lưu trú homestay tại thành phố Huế bao gồm: 1 Danh sách hoạt động của các

BIBLIOGRAFIE Het nieuwe stadhuiscomplex te Menado', IB T Locale Techniek 9 1940, no 6, pp 174-177 ir A van L e e u w e n 1931-1937 Werkzaam als ingenieur 3e klasse op het