• Tidak ada hasil yang ditemukan

peranan serikat pekerja dalam perlindungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "peranan serikat pekerja dalam perlindungan"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

i

PERANAN SERIKAT PEKERJA DALAM PERLINDUNGAN HAK PEKERJA PEREMPUAN PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG

NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN (STUDI KASUS DI GUDANG TEMBAKAU DI DESA KEMUNINGSARI KECAMATAN JENGGAWAH

KABUPATEN JEMBER)

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Untuk Memenuhi Persyaratan

Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syariah

Jurusan Hukum Ekonomi Syariah

Oleh :

QIROMATUL LAILIYAH NIM. S20152032

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER

FAKULTAS SYARIAH

JULI 2022

(2)

ii

PERANAN SERIKAT PEKERJA DALAM PERLINDUNGAN HAK PEKERJA PEREMPUAN PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG

NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN

(STUDI KASUS DI GUDANG TEMBAKAU DI DESA

KEMUNINGSARI KECAMATAN JENGGAWAH KABUPATEN JEMBER)

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Untuk Memenuhi Persyaratan

Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syariah

Jurusan Hukum Ekonomi Syariah

Oleh : Qiromatul Lailiyah

S20152032

Disahkan Oleh Dosen Pembimbing

Inayatul Anisah, S. Ag, M. Hum NIP. 19740329 199803 2 001

(3)

iii

PERANAN SERIKAT PEKERJA DALAM PERLINDUNGAN HAK PEKERJA PEREMPUAN PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG

NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN (STUDI KASUS DI GUDANG TEMBAKAU DI DESA

KEMUNINGSARI KECAMATAN JENGGAWAH KABUPATEN JEMBER)

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H)

Fakultas Syariah

Program Studi Hukum Ekonomi Syariah

Hari :Kamis

Tanggal :07 Juli 2022

Tim Penguji Ketua

Dr. H. Ahmad Junaidi, M.Ag NIP. 19731105 200212 1 002

Sekretaris

Moh. Syifa’ul Hisan, M.A NUP. 201603100

Anggota:

1. Dr. Hj. Mahmudah, M.E.I ( )

2. Inayatul Anisah, S.Ag M.Hum ( )

Menyetujui, Dekan Fakultas Syari’ah

Prof. Dr. Muhammad Noor Harisudin, M. Fil.I.

NIP. 19780925 20050 1 002

(4)

iv MOTTO







































Artinya : “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An- Nahl Ayat 97).

(5)

v

PERSEMBAHAN

Sembah sujud serta syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia- Nya memberikan cinta dan kasih saying-Nya sehingga atas izin-Nya skripsi yang sederhana ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam segala terlimpahkan kepada junjuungan kita Nabi Muhammad SAW.

Dengan segala kerendahan hati, skripsi ini saya persembahkan sebagai bentuk tanggung jawab bakti dan bentuk terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penelitian ini, oleh sebab itu skripsi ini saya persembahkan kepada :

1. Allah SAW dan Nabi Muhammad SAW, berkat karunia, kesehatan, rahmat, hidayah, suri tauladan Akhlaqul Karimah sehingga penulis dapat beajar dan bekerja keras untuk menyelesaikan skripsi untuk melangkah menuju kesuksesan dunia dan akhirat.

2. Kedua orang tua, (ayahanda Subadri Hasan dan Ibunda Siti Tumini Rahayu) yang telah tulus mencurahkan kasih sayangnya kepada putrimu serta tak terhitung selaksa do’a yang senantiasa dipanjatkan dalam setiap sujud malammu, semoga beliau bisa sehat dan panjang umur Amin.

3. Kakakku (Afifatul Muflikhah) serta kakak iparku (Asydad Farid al harisy) dan saudaraku terimakasih banyak selalu memberikan semangat dan motivasi hingga terselesaikan skripsi ini.

4. Seluruh teman-teman seperjuanganku Hukum Ekonomi Syariah Angkatan 2015 terimakasih sudah memberikan motivasi.

(6)

vi

5. Sahabat-sahabatku yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang selalu memberikan motivasi, tempat bertukar pikiran bersama kalian menemukan saudara baru hingga membuat hubungan persaudaraan dan silaturrahmi semoga tetap terjalin. Dan terimakasih buat yang selalu memberikan support dukungan dalam mengerjakan skripsi ini.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kepada hadirat Allah SWT, yang telah memberikan nikmat, rahmat, taufiq, serta hidayahnya kepada penulis, sehingga dapat menyelsaikan tugas dan kewajiban akademik dalam bentuk skripsi. Dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada insan kamil nabi besar kita yaitu Nabi Muhammad SAW, sebagai pembawa rahmat untuk seluruh alam.

Skripsi yang telah selesai dengan judul “Peran Serikat Pekerja Dalam Perlindungan Hak-Hak Pekerja Perempuan Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Studi Kasus di Gudang Tembakau Di Desa Kemuningsari Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember)”. Skripsi ini merupakan upaya dan daya pemikiran untuk menggali khazanah keilmuan yang lebih dalam. Walau dalam pembahasan dan penulisan jauh dari kata sempurna oleh karena itu penulis membutuhkan kritikan dan saran yang konstruktif dari semua pihak. Dengan selesainya penulisan Skripsi ini, maka kami sepatutnya mengucapkan terima kasih dan salam ta’dzim kepada.

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM. selaku Rektor UIN KHAS Jember 2. Prof. Dr. Miftah Arifin, M.Ag selaku Warek I UIN KHAS Jember

3. Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M. Fil.I. Selaku Dekan Fakultas Syari`ah UIN KHAS Jember

(8)

viii

4. Ibu Inayatul Anisah, S.Ag. M.Hum Selaku Dosen Pembimbing, beliau yang telah meluangkan waktunya kepada penulis untuk membimbing baik secara moril maupun spiritual hingga skripsi ini selesai.

5. Bapak DR. H. Ahmad Junaidi, S.P.d., M.Ag Selaku Kaprodi Hukum Ekonomi Syariah (HES) Fakultas Syariah UIN KHAS Jember

6. Ayahanda Subadri Hasan dan Ibunda Siti Tumini Rahayu yang dengan jerih payahnya membesarkan, mendidik penulis dengan baik demi keberhasilan di masa depan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Jember, 03 Juni 2022

Qiromatul Lailiyah NIM. S20152032

(9)

ix ABSTRAK

Qiromatul Lailiyah, 2022 : Peranan Serikat Pekerja Dalam Perlindungan Hak Pekerja Perempuan Perspektif Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Studi Kasus di Gudang Tembakau di Desa Kemuningsari Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember).

Kata Kunci : Peranan Serikat Pekerja, Perlindungan Hak Pekerja Perempuan.

Serikat Pekerja/Serikat Buruh menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja adalah organisasi yang di bentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.

Fokus masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah : 1. Bagaimana peranan serikat pekerja dalam perlindungan hak tenaga kerja perempuan perspektif Undang- Undang No 13 Tahun 2003 tentang Hukum Ketenagakerjaan di Gudang Tembakau di desa Kemuningsari Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember? 2. Bagaimana peranan serikat pekerja dalam perlindungan hak tenaga kerja perempuan perspektif Undang- Undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan di Gudang Tembakau di Desa Kemuningsari Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember?.

Tujuan penelitian ini adalah Mendeskripsikan perlindungan hak pekerja perempuan di Gudang Tembakau di desa Kemuningsari. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis empiris. Penelitian yuridis empiris adalah penelitian hukum mengenai pemberlakuan atau implementasi ketentuan hukum normatif secara in action pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat.

Hasil penelitian menunjukan bahwa : Implementasi hak-hak pekerja perempuan di Gudang Tembakau di Desa Kemuningsari Kecamatan Jenggawah dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, terdapat beberapa hak pekerja yang belum dipehuni secara maksimal sehingga dalam hal ini ada yang belum dipenuhi dan ada yang belum dipenuhi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Peranan Serikat Pekerja dalam perlindungan hak pekerja perempuan. Serikat Pekerja adalah melindungi dan memperkerjakan perbaikan upah, melindungi pekerja terhadap ketidakadilan dan diskriminasi, memperbaiki kondisi kerja dan melindungi lingkungan kerja, Perjanjian Kerjasama, Harkat dan Martabat Pekerja. Adapun hak-hak pekerja yaitu untuk mengembangkan potensi kerja, mengembangkan minat, bakat dan kemampuan, hak dasar atas jaminan sosial kesehatan dan keselamatan kerja, hak mendapatkan upah yang layak, hak untuk berlibur, cuti, istirahat serta memperoleh pembatasan waktu kerja, hak dasar untuk membentuk serikat pekerja, hak melakukan aksi mogok kerja dan hak melindungi atas pemutusan hubungan industrial.

(10)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 9

E. Definisi Istilah ... 10

F. Sistematika Pembahasan ... 11

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 15

A. Penelitian Terdahulu ... 15

B. Kajian Teori ... 22

BAB III METODE PENELITIAN ... 48

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 48

B. Lokasi Penelitian ... 48

C. Subyek Penelitian ... 49

D. Teknik Pengumpulan Data ... 49

(11)

xi

E. Analisis Data ... 50

F. Keabsahan Data ... 51

G. Tahap-tahap Penelitian ... 52

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS ... 55

A. Gambaran Objek ... 55

B. Penyajian dan Analisis Data ... 57

BAB V PENUTUP ... 65

A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Uraian No Hal

Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu 20

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Peran serikat pekerja terhadap perlindungan hak-hak pekerja di Gudang Tembakau di Desa Kemuningsari Kecamatan Jenggawah adalah sebagai salah satu bentuk dan tujuan memberikan perlindungan hukum yang diberikan oleh pemerintah. Bagi pekerja buruh adalah adanya jaminan atas kebebasan berserikat dan berkumpul dalam satu organisasi serikat pekerja buruh. Di dalam serikat pekerja buruh diharapkan aspirasi pekerja buruh harus sampai kepada pengusaha serta dapat menyeimbangkan posisi buruh dengan pengusaha.1

Pada masa sekarang ini, perempuan ikut berpartisipasi bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan cara bekerja merupakan hal biasa. Eksistensi perempuan di abad ke-20 ini tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, akan tetapi juga dapat bekerja membantu suami meningkatkan penghasilan karena untuk memenuhi kebutuhan ekonomi bagi keluarga.

Perempuan memiliki beberapa potensi yang juga tidak kalah di banding kaum pria, baik dari segi intelektual, kemampuan, maupun keterampilan.

Pekerja perempuan atau buruh perempuan yang bekerja di perusahaan, saat sekarang ini mengalami situasi yang sangat dramatis. Dalam situasi dilematis secara progresif cenderung memiliki dampak “Marginalisasi” dan

1Harintin Abidin, Peran Serikat Pekerja dalam Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (Studi Pada Serikat PT. PLN (Perseroan) Wilayah SULSELBAR), Skripsi (Universitas Negeri Makassar, Makassar, 2017), 185

1

(14)

“Privatisasi” pekerja perempuan, serta tetap fokus di dalam bentuk pekerjaan pelayanan yang tidak produktif. Kenyataan ini menimbulkan fenomena menurunnya kaum perempuan dalam bidang pekerjaan.2

Tidak kalah pentingnya dengan perlindungan tenaga kerja yang bertujuan agar bisa menjamin hak-hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesempatan serta perlakuan yang sama antara pekerja laki-laki dan perempuan tanpa diskriminasi. Hal ini merupakan isi dari disusunan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang mewujudkan kesejahteraan para pekerja/buruh yang akan berimbas terhadap kemajuan dunia usaha di indonesia.

Pembangunan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak lepas dari peran pembangunan manusia. Pembanguan yang dimaksud merupakan pembangunan masyarakat Indonesia yang seluruhnya untuk mewujudkan masyarakat sejahtera, adil, makmur dan merata berdasarkan pancasila didalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu pembangunan yang saat ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih yaitu untuk sektor pembangunan ketenagakerjaan.3

Pembangunan ketenagakerjaan merupakan bagian dari usaha untuk mengembangkan sumber daya manusia yang diarahkan pada tujuan meningkatkan harkat, martabat, dan kemampuan manusia. Di Indonesia pembangunan mulai bergerak semakin pesat dan semakin meluas mulai dari pusat menuju ke daerah-daerah. Hal ini dapat dilihat dari potensi di tiap-tiap

2 Iwan Prayitno, Wanita Islam Perubah Bangsa (Jakarta; Pustaka Tarbiatuna, 2003), 185

3 Wiwoho Soedjono, Hukum Perjanjian Kerja, Jakarta : (PT RINEKA CIPTA,1991), 39.

(15)

daerah yang mulai berkembang di setiap sektornya. Dengan perkembangan yang pesat di setiap sektor, ini memberikan sedikit solusi penyelesaian masalah antara pekerja tersebut, karena dalam suatu sektor membutuhkan tenaga kerja yang kebanyakan di dominasi oleh penduduk atau warga negara asli.

Di Indonesia sendiri peraturan yang berkaitan dengan pembangunan ketenagakerjaan sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Menurut Undang-Undang ini, ketenagakerjaan memiliki pengertian yaitu segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.4

Seorang pekerja tidak hanya sebatas orang yang mampu melakukan pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa yang kemudian mendapatkan upah atau imbalan. Terdapat hak-hak yang wajib diberikan kepada pekerja terkadang banyak yang belum diketahui oleh seorang pengusaha atau pemberi kerja. Sudah disebutkan dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang menjadi pelindungi hukum dalam perlindungan tenaga kerja bahwa setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan sama untuk memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang layak tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, dan aliran politik sesuai dengan minat dan kemampuan tenaga kerja yang bersangkutan.

Menurut Hadist mengenai waktu kerja ini sangat berkaitan dengan ipemberian upah pada pekerja, karena upah yang diberikan harus lah sesuai

4 Joni Bambang S., Hukum Ketenagakerjaan, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), hlm. 46.

(16)

Dan seimbang dengan waktu kerja yang dilewati oleh pekerja. Sebagaimana sabda RasulullahSAW:

ْنَأ َلْبَ ق ُهَرْجَأ َيرِجَلأا اوُطْعَأ ُهُقَرَع َّفَِيَ

Artinya: i“Berikanlah upah pekerja sebelum mengering keringatnya”.(HR.

iIbnuiMajjah)5

Hubungan antara pekerja dengan pengusaha yang terjadi setelah adanya perjanjian kerja, akan menimbulkan suatu hak dan kewajiban bagi pekerja maupun pengusaha. Bekerja pada pihak lain itu berarti melakukan pekerjaan tertentu dibawah pimpinan pihak perusahaan dan karena itu menimbulkan kewajiban pekerja untuk melakukan pekerjaan tertentu menurut petunjuk para pihak pengusaha. Dalam hal ini pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja merupakan pekerjaan yang ditetapkan dalam perjanjian kerja pada perusahaan tersebut.6

Sebagaimana kewajiban pekerja terhadap pengusaha yaitu melakukan pekerjaan, mentaati peraturan dan petunjuk pengusaha dan membayar ganti rugi/denda apabila melakukan perbuatanyang merugikan perusahaan. Adapun kewajiban pengusaha terhadap pekerja yaitu memberikan istirhat/cuti, mengurus perawatan dan pengobatan, memberikan surat keterangan dan membayar upah secara tepat waktu yang telah ditetapkan dalam sebuah peraturan perusahaanmaupunUndang-Undang Ketenagakerjaan. Peningkatnya kesejahteraan pekerja merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi bagi pengusaha.Dalam Hukum Ketenagakerjaan merupakan peraturan dan norma

5 Ibnu Hajar al Asqolani, Bulugul Maram (Semarang: Thoha Putra), 187.

6 Wiwoho Soedjono, Hukum Perjanjian Kerja, (Jakarta:PT RINEKA CIPTA, 1991), 13.

(17)

baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur tentang pola hubungan antara pengusaha dan para pekerja.

Masalah tenaga kerja untuk saat ini semakin berkembang pesat sehingga memerlukan penanganan yang sangat serius. Pada masa perkembangan tersebut pergeseran nilai dan tata kehidupan akan banyak terjadi. Oleh karena itu penyempurnaan terhadap sistem pengawasan ketenagakerjaan harus terus dilakukan agar peraturan perundang-undangan dapat dilaksanakan secara efektif oleh para pelaku usaha untuk memberikan pekerjaan atau pengusaha itu sendiri. Dengan demikian pengawasan ketenagakerjaan sebagai suatu sistem yang pengemban misi dan visi agar peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan dapat ditegakkan.

Penerapan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan juga dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan atau keserasian hubungan antara hak dan kewajiban bagi pengusaha, sehingga pekerja melangsungkan usaha dan ketenagakerjaan dalam rangka meningkatkan produktivitas kerja dan kesejahteraan kerja dapat terjamin.

Sementara itu dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.Merupakan salah satu solusi dalam perlindungan pekerja buruh maupun pemberi pekerjaan tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak perusahaan. Perlindungan buruh diatur di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 67-101 meliputi perlindungan buruh yang menyandang cacat, anak, perempuan, waktu kerja, keselamatan dan kesehatan kerja. Pengupahan dan kesejahteraan. Dengan

(18)

demikian. Undang-undnag Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sangat perlu dalam mengatur hak dan kewajiban bagi para tenaga kerja maupun para pengusaha di dalam melaksanakan suatu proses produksi di perusahaan.7

Pengertian Serikat Pekerja menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 pasal 1 tentang serikat pekerja ialah sebagai berikut:

“Serikat pekerja adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh dan untuk pekerja baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela, serta melindungi hak dan kepentingan pekerja serta meningkatkan kesejahreraan, pekerja/buruh dan keluarganya”.8

Serikat pekerja merupakan sebuah organisasi yang tidak mungkin dihindari oleh perusahaan. Serikat pekerta dapat digunakan oleh pekerja sebagai alat untuk mencapai tujuan bagi pekerja. Suatu kenyataan penetapan besarnya upah dan syarat-syarat kerja yang lain diserahkan kepada perusahaan dan pekerja sebagai sebagai hak pribadi. Kedudukan pekerja yaitu sangat lemah. Menyadari akan kelemahannya dalam menghadapi perusahaan mereka merasa perlu adanya persatuan. Dengan adanya persatuan mereka akan mempunyai kekuatan dalam menghadapi perusahaan.

Setiap perempuan mempunyai hak-hak khusus yang berkaitan dengan hak asasi manusia yang diakui dan dilindungi oleh Undang-Undang. Hak perempuan yang dimaksud perempuan yangdikategorikan dalam suatuorganisasi/kelompok yang rentan mendapat tempat khusus untuk

7 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 67-101

8 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat pekerja/buruh Pasal 1

(19)

mendapatkan jaminan dan perlindungan hak asasi manusia. Pada umumnya pemberian hak bagi perempuan sama dengan hak-hak yang diberikan laki-laki seperti yang telah disebutkan dalam pasal-pasal Undang-Undang hak-hak Asasi Manusia.Namun dengan berbagai alasan diatas maka harus dipertegas lagi. Asas yang mendasari hak bagi perempuan diantaranya hak prespektif gender dan anti diskriminasi yang dimaksud memiliki hak yang seperti laki- laki dalam bidang pendidikan, hukum, pekerjaan, politik, kewarganegaraan dan hak dalam perkawinan serta kewajibannya.9

Sehingga pada kenyataanya di Gudang Tembakau di desa Kemuningsari kecamatan Jenggawah kabupaten Jember ini Status perempuan sebagai pekerja tidak boleh mengganggu kodrat perempuan sebagai ibu dan dapat hamil, menyusui dan membesakan anaknya. Perusahaan manapun wajib memberikan perhatian terhadap pemenuhan hak-hak khusus pekerja perempuan dan tidak memberlakukan tindakan diskriminatif terhadap pekerja perempuan. di Gudang Tembakau ini hak serikat pekerja tersebut tidak diterapkan adanya cuti haid maupun cuti hamil sampai melahirkan. Karena mereka belum mengetahui dengan sepenuhnya terkait cuti haid maupun cuti hamil sampai melahirkan bagi pekerja perempuan.Maka dari itu dalam Undang-Undang telah dijelaskan terkait pelaksanaan. maupun aplikasi bagi pekerja yang tertera dalam Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada Bab X tentang Perlindungan, Pengupahan, dan Kesejahteraan Pasal 81 ayat (1) yang menyatakan:

9Rhona K.M Smith, et.al. 2008, Hukum Hak AsasiManusia, Knut D. Asplund, Suparman Marzuki, Eko Riyadi (Editor), PUSHAM UII: Yogyakarta, h. 269.

(20)

“Pekerja atau buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada atasan. Tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.”10

Melihat masih banyak perusahaan atau pemberi pekerjaan yang belum melaksanakan kewajibannya kepada pekerja khususnya perempuan sebagaimana mestinya. Berdasarkan hal-hal tersebut penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan dan melakukan penelitian dengan judul PERANAN SERIKAT PEKERJA DALAM PERLINDUNGAN HAK PEKERJA PEREMPUAN PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DI GUDANG TEMBAKAU DI DESA KEMUNINGSARI KECAMATAN JENGGAWAH KABUPATEN JEMBER.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang penulis susun, maka ada beberapa masalah yang akan dirumuskan dalam penilitian ini. Rumusan dalam penilitian ini adalah :

1. Bagaimana implementasi hak tenaga kerja perempuanperspektif Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan di Gudang Tembakau di Desa Kemuningsari Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember ?

2. Bagaimana peran serikat pekerja dalam perlindungan hak-hak tenaga kerja perempuanperspektif Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003

10 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 81 ayat (1).

(21)

tentang Ketenagakerjaan di Gudang Tembakau di Desa Kemuningsari Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember ?

C. Tujuan Penelitan

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Adapun tujuan penelitian ini diantaranya adalah:

1. Mendepskripsikan Hak-hak tenaga kerja perempuan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan di Gudang Tembakau di Desa Kemuningsari Kabupaten Jember.

2. Mendepskripsikan Peran Serikat Pekerja dalam perlindungan hak-hak tenaga kerja perempuan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan di Gudang Tembakau di Desa Kemuningsari Kabupaten Jember.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dapat berupa manfaat secara teoritis dan manfaat praktis, tidak hanya itu penelitian juga harus realistis. Dari penjabaran tersebut maka tersusunlah penelitian sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian dimanfaatkan bagi pengkaji ilmu Hukum khususnya dalam bidang Ketenagakerjaan. Penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh para pengemban hukum secara teoritis untuk mengkritisi model penanganan perkara pelaksanaan perlindungan hukum tentang penerapan.

(22)

2. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis diantaranya:

a. Bagi peneliti

Harapannya hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hak-hak pekerja perempuan dapat diketahui dilaksanakan sesuai Undang-Undang.

b. Bagi Perusahaan

Hasil penelititian ini sebagai acuan atau masukan dalam perusahan agar sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.

c. Bagi UIN KHAS Jember

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi seluruh aktifitas akademik untuk menggali dalam membengun suatu pengetahuan.

E. Definisi Istilah

1. Serikat Pekerja adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik dalam perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab untuk merjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.11

11 Undang-undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja

(23)

2. Tenaga Kerja Perempuan adalah seseorang yang mampu melakukan pekerjaan denganbaik di dalam maupun di luar hubungan kerja untuk menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.12 3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan adalah

peraturan Negara yang dibuat oleh pemerintah yang disahkan oleh parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat, dan sebagainya) dan ditanda tangani oleh presiden yang berisi tentang semua yang berhubungan dengan tenaga pada waktu sebelum, sekarang dan sesudah masa kerja.13

Dari pengertian bebrapa istilah tersebut diatas yang dimaksud pengertian dari judul “Peranan Serikat Kerja Dalam Perlindungan Hak Pekerja Perempuan perspektif Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Studi kasus di Gudang Tembakau di Desa Kemuningsari Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember)”. adalah perlindungan hak-hak pekerja perempuan berupa perlindungan hak cuti dan hak upah/gaji yang seharusnya diberikan bagi perusahaan terhadap pekerja perempuan yang akan dikaji dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi rencana susunan atau sistematika penulisan dalam penelitian. Dalam sistematika ini akan dijelaskan kerangka pemikiran yang digunakan untuk penyusun skripsi. Format penulisan

12 Undang-undang no 13 tahun 2003 Tentang ketenagakerjaan.

13Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

(24)

sistematika pembahasan adalah dalam bentuk deskriptif naratif, bukan seperti daftar isi.14

Secara garis besar skripsi ini terdiri dari lima bab yaitu pendahuluan, kajian kepustakaan, metode penelitian, penyajian data dan analisis, penutup.

Adapun sistematika pembahasan dalam proposal penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I

Pendahuluan merupakan dasar atau pijakan dalam penelitian, pada bab ini terdiri dari Latar Belakang Masalah yang di dalamnya mengungkap tentang permasalahan yang akan diteliti, sehingga pembaca dapat mengetahui alasan penulis dalam mengangkat judul tersebut. Kemudian Fokus Penelitian yang mencantumkan semua dokus permasalahan yang akan dicari jawabannya melalui proses penelitian. Selanjutnya Tujuan Penelitian yang merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian yang mengacu pada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya. Manfaat Penelitian yang berisi tentang konstribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Setelah itu Definisi Istilah yang memberikan pengertian terhadap istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Dan yang terakhir Sistematika Pembahasan yang memuat tentang deskripsi alur pembahasan skripsi mulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.

14Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Press, 2021), 48.

(25)

BAB II

Bab ini memaparkan kajian kepustakaan terkait dengan kajian terdahulu serta literature yang berhubungan dengan skripsi. Penelitian terdahulu yang mencantumkan penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya. Dan berikutnya teori-teori yang memuat tentang serikat pekerja dan perlindungan hak-hak pekerja perempuan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Fungsi ini adalah sebagai landasan teori pada bab berikutnya guna mengnalisa data yang diperoleh dari penelitian.

BAB III

Berisi tentang Metode penelitian yang memuat tentang Pendekatan dan Jenis Penelitian yang menguraikan tentang pendekatan dan jenis penelitian yang dipilih oleh peneliti. Lokasi Penelitian yang menunjukan lokasi penelitian tersebut akan dilakukan. Selanjutnya Data dan Sumber Data yeng memaparkan tentang apa saja yang akan dijadikan informan sebagai sumber data dalam penelitian yang akan dilakukan. Teknik Pengumpulan Data yang mrnguraikan tentang teknik pengumpulan data yang akan digunakan. Analisis data yang memaparkan tentang prosedur analisis data yang hendak dilakukan.

Dan terakhir adalah Keabsahan Data yang memuat usaha-usaha yang akan dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh keabsahan data-data temuan dilapangan.

(26)

BAB IV

Bab ini berisi tentang Penyajian Data dan Analisis. Yang meliputi Gambaran Obyek Penelitian, yang mendeskripsikan gambaran umum obyek penelitian. Kemudian ada Penyajian dan Analisis Data yang menguraikan data dan hasil temuan yang diperoleh.

BAB V

Bab ini merupakan bab terakhir adalah penutup yang memaparkan tentang tentang kesimpulan dari penelitian ini dan dilengkapi dengan kesimpulan dari penelitian ini dan dilengkapi dengan saran-saran dari penulis.

Bab ini berfungsi untuk memperoleh suatu gambaran dari suatu hasil penelitian berupa kesimpulan penelitian akan dapat membantu memberikan saran-saran konstruktif terkait dengan penelitian ini.

(27)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu

1. Fitri Anasari, 12340024, Pelaksanaan perlindungan hukum pekerja perempuan berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Studi kasus di CV. Sinar Joyo Boyo Plastik, Kota Malang). Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan dengan pendekatan yuridis empiris yang menggunakan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Fokus penelitian ini adalah: 1. Apakah pelaksanaan perlindungan hukum pekerja perempuan di CV. Sinar Joyo Boyo Kota Magelang sudah sesuai dengan Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan ?.

Hasil dari penelitian ini yang telah dilakukan adalah ada beberapa pelaksanaan perlindungan hukum pekerja perempuan yang sudah di penuhi dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan peraturan perundang-undangan lainnya.Yaitu memberi cuti melahirkan selama 3 bulan dan pemberian upah yang sama antara pekerja laki-laki dan perempuan atas pekerjaan yang sama. Adapun hak perempuan yang belum diberikan merupakan hak

15

(28)

atas cuti haid, hak untuk mendapatkan waktu menyusui atau ruang laktasi, hak atas makan dan minum bergizi bagi pekerja perempuan.15

2. Alan Yati, 1231030149, Pelaksanaan hak cuti haid dan cuti hamil menurut hukum islam dan undang-undang ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Studi kasus di PT. Indokom Samudra Persada).

Fakultas syariah Institut Agama Islam Raden IntanLampung. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif sedangkan jenis penelitian ini menggunakan penelitian lapangan (field reseach). Fokus penelitian ini adalah: 1. Bagaimana sistem pelaksanaan hak cuti haid dan cuti hamil bagi pekerja karyawan wanita di PT. Indokom Samudra Persada? 2. Bagaimana pandangan menurut islam dan undang-undang Ketenagakerjaan tentang pelaksanaan cuti haid dan hamil di PT. Indokom Samudra Persada?.

Dari hasil penelitian ini dapat di simpulkan, bahwa pelaksanaan hak cuti haid dan cuti hamil yang terjadi di PT. Indikom Samudra Persada sudah dilaksanakan tetapi dalam pelaksanaan cuti tersebut, peusahaan memberlakukan cuti haid yang seharusnya wajib diberikan pada hari pertama dan kedua pada saat merasakan sakit tetapi di dalam PT. Indokom Samudra Persada hanya diberikan satu hari saja dan pelaksanaan cuti

15 Fitri Anasari, “Pelaksanaan perlindungan hukum pekerja perempuan bedasarkan undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan (studi kasus di CV. Sinar Joyo Boyo plastik, Kota Malang)”, (Skripsi, fakultas syariah dan hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta).

(29)

hamil adanya perbandingan tunjangan yang diberikan bagi karyawan wanita di PT. Indikom Samudra Persada.16

3. Hana nur halimah, 11220049,Perlindungan Hukum Pekerja Perempuan di SPBU “Bersama membangun sahabat Malang” Tinjauan Undang-Undang Ketenagakerjaan dan Hukum Islam. Fakultas syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Penelitan ini menggunakan penelitian kualitatif sedangkan jenis penelitian ini menggunakan penelitian lapangan (field research).Fokus penelitian ini adalah: 1. Bagaimana perlindungan hukum terhadap hak-hak buruh/pekerja perempuan di SPBU

“Sahabat Membangun Bersama” Kota Malang tinjauan Undang-undang Nomor 13 tahun2003 tentang Ketenagakerjaan dana Maqasid asy-syariah?

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa untuk pengusaha atau perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja perempuan untuk menjalankan aturan sebagaimana mestinya yang sudah diatur dalam Undang-Undang, selain itu juga memberikan apa yang menjadi hak dari para pekerja perempuan tanpa ada sedikitpun yang dikurangi. Selain itu seharusnya lembaga pengawasan ketenagakerjaan Indonesia diharapkan dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal. Setiap pelanggaran yang terjadi terhadap hak-hak pekerja perempuan yang tidak sesuai dengan Undang-Undang ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003, di tindak dengan

16 Alan yati, “Pelaksanaan hak cuti haid dan cuti hamil menurut hukum islam dan undang- undang ketenagakerjaan No 13 tahun 2003 (studi kasus di PT. Indokom Samudra Persada)”.(Skripsi, Fakultas syariah Institut Agama Islam Raden IntanLampung).

(30)

tegas sesuai ketentuan yang diberikan oleh undang-undang ketenagakerjaan.17

4. Churin Tsuroyya, E0014079, Pemenuhan hak pekerja perempuan di PT.

Djarum Tayu Pati Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Penelitian ini menggunakan penelitian hukum empiris adalah penelitian yang dilakukan secara langsung di lapangan. Fokus penelitian ini adalah: 1.

Bagaimana pemenuhan hak pekerja perempuan di PT. Djarum Tayu Pati?

2. Apa saja hambatan dalam pemenuhan hak pekerja perempuan di PT.

Djarum Tayu Pati?.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa perlindungan hukum atas cuti haid bagi buruh perempuan yang bekerja di PT.Maica Nusantara memang sudah diberlakukan sesuai dengan peraturan perusahaan yang memuat dan bersumber dari Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, pasal 81 ayat 1 dan 2 tentang cuti haid. Akan tetapi, cuti haid diberikan hanya pada karyawan resmi saja.

Sedangkan karyawan non resmi tidak diberikan. Alasannya, karena status hak-hak dari karyawan non resmi tidak normatif tidak sepenuhnya didapat.

Selanjutnya, bahwa pelaksanaan cuti haid diartikan pada pengertian sakit, sakit yang dimaksud adalah sakit yang dirasakan dan di sebabkan oleh menstruasi yang sebagaian besar dialami oleh kaum perempuan, bukan makna cuti haid yang secara umum dipahami hanya pada saat hari pertama

17 Hana Nur Halimah,Perlindungan Hukum Pekerja Perempuan di SPBU “Bersama membangun sahabat Malang” Tinjauan Undang-Undang Ketenagakerjaan dan Hukum Islam.

Fakultas syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

(31)

dan kedua saja. Oleh karena itu, cuti haid menjadi perlu apabila memang dibutuhkan dan juga status dari karyawan itu sendiri.18

5. Resky Madani S, 1603030014, Peran Serikat Pekerja terhadap perlindungan hak-hak pekerja di PT. Mars Indonesia Noling Kabupaten Lawu. Fakultas Syariah IAIN Palopo. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif sedangkan jenis penelitian ini menggunakan penelitian lapangan (field reseach). Fokus penelitian ini adalah: 1. Bagaimana peran serikat pekerja terhadap perlindungan hak-hak pekerja di PT. Mars Indonesia Noling Kabupaten Lawu? 2. Bagaimana sistem kerja di PT.

Mars Indonesia Noling Kabupaten Lawu?.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa PT. Mars Indonesia Kabupaten Lawu dari awal berproduksi menggunakan tiga sistem kerja, untuk status kerja yang diterapkan pada pekerja atau buruh yang bekerja. Pertama, perusaan memperkerjakan pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau biasa disebut pekerja dengan status tetap. Kedua, pekerja dengan status kontrak. Ketiga, perusahaan memperkerjakan pekerja dnegan status harian (daily worker).19

18Churin Tsuroyya, Pemenuhan hak pekerja perempuan di PT. Djarum Tayu Pati.

Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

19Resky Madani S, Peran Serikat Pekerja terhadap perlindungan hak-hak pekerja di PT.

Mars Indonesia Noling Lawu. Fakultas Syariah IAIN Palopo.

(32)

Tabel 2.1

Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu

Peneliti Judul Skripsi Persamaan Perbedaan 1. FitriAnasari,

(12340024)

Pelaksanaan perlindungan hukum pekerja perempuan berdasarkan undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Studi kasus di CV. Sinar Joyo Boyoplastik, Kota Malang)

Menggunakan lapangan dengan pendekatan yuridis empiris yang menggunakan peraturan perundang- undangan yang berlaku di Indonesia serta melihat bagaimana hukum yang ada di dalam khususnya Undang-undang No 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan.

1. ada beberapa pelaksanaan perlindungan hukum pekerja perempuan yang sudah di penuhi dan dilaksanakan sesuai dengan undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dan peraturan perundang- undangan lainnya antara lain

memberi cuti melahirkan selama 3 bulan dan

pemberian upah yang sama antara pekerja lai-laki dan perempuan atas pekerjaan yang sama.

2. Adapun hak perempuan yang belum diberikan yaitu hak atas cuti haid, hak untuk mendapatkan waktu menyusui atau ruang laktasi, hak atas makan dan minum bergizi bagi pekerja perempuan.

2. Alan Yati, (1231030149)

Pelaksanaan hak cuti haid dan cuti hamil menurut hukum islam dan

penelitian kualitatif dengan jenis penelitian ini menggunakan

1. Bahwa

pelaksanaan hak cuti haid dan cuti hamil yang terjadi

(33)

undang-undang ketenagakerjaan No 13 tahun 2003 (studi kasus di PT.

Indokom Samudra Persada).

penelitian lapangan (field reseach).

di PT. Indikom Samudra Persada sudah

dilaksanakan tetapi dalam pelaksanaan cuti tersebut, peusahaan memberlakukan cuti haid yang seharusnya wajib diberikan pada hari pertama dan kedua pada saat merasakan sakit tetapi di dalam PT.

Indokom Samudra Persada hanya diberikan satu hari saja dan

pelaksanaan cuti hamil adanya perbandingan tunjangan yang diberikan bagi karyawan wanita di PT. Indikom Samudra Persada.

3. Hana nur halimah, (11220049)

Perlindungan Hukum Pekerja Perempuan di SPBU “Bersama membangun sahabat Malang”

Tinjauan Undang- Undang

Ketenagakerjaan dan Hukum Islam

Penelitian kualitatif sedangkan jenis penelitian ini menggunakan penelitian lapangan (field research).

bahwa untuk Selain itu lembaga pengawasan ketenagakerjaan Indonesia

diharapkan dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal, setiap pelanggaran yang terjadi terhadap hak-hak pekerja perempuan yang tidak sesuai dengan undang- undang

ketenagakerjaan No 13 tahun 2003.

4. Churin Pemenuhan hak Penelitian ini Pemenuhan hak

(34)

Tsuroyya (E0014079)

pekerja perempuan di PT. Djarum Tayu pati”.

menggunakan penelitian empiris yaitu penelitian lapangan.

pekerja perempuan di PT. Djarum Tayu Pati.

Hambatan dalam pemenuhan

pekerja perempuan di PT. Djarum Tayu Pati.

5. Resky Madani S (1603030014)

“Peran Serikat Pekerja terhadap perlindungan hak- hak pekerja di PT.

Mars Indonesia Noling Kabupaten Lawu”.

Penelitian ini menggunakan penelitian kulitatif yaitu peneliyian lapangan (field research).

Peran serikat pekerja terhadap perlindungan hak- hak pekerja di PT.

Mars Indonesia Noling Kabupaten Lawu

Sistem kerja di PT.

Mars Indonesia Noling Kabupaten Lawu.

B. Kajian Teori

1. Pengertian Serikat Pekerja

Pengertian Serikat Pekerja/Serikat Buruh menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja adalah organisasi yang di bentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.20

Peraturan serikat pekerja/serikat buruh di Indonesia terdapat pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat

20 Undang-undang No 21 Tahun 2000 tentang serikat pekerja

(35)

Buruh. Pada dasarnya serikat pekerja/serikat buruh dapat dibentuk dengan asas bebas dan tidak bertentangan dengan asas dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yaitusebagai dasar negara dan konstitusi negara kesatuan Republik Indonesia, dengan bertujuan memberikan perlindungan pembela hak dan kepentingan serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja/ buruh dan keluarganya.21

Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Serikat Pekerja Buruh: “Serikat Pekerja Buruh adalah organisasi yang dibentuk untuk pekerja buruh baik di perusahaan maupun diluar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab untuk memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja serta meningkatkan kesejahteraan pekerja buruh dan keluarganya.22

Didalam Undang-undang Nomor 21 tahun 2000 Tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh terbagi menjadi dua yaitu Serikat Pekerja/Serikat Buruh di perusahaan dan Serikat Pekerja/Serikat Buruh di luar perusahaan.

Pada Pasal 1 angka 2 Undang-undang No. 21 Tahun 2000, Serikat Pekerja/Serikat Buruh di perusahaan adalah serikat pekerja/serikat buruh yang didirikan oleh para pekerja/buruh disatu perusahaan atau dibeberapa perusahaan. Pada pasal 1 angka 3 Undang-undang Nomor 21 tahun 2000,

21Endah Pujiastuti, SH. MH., Pengantar Hukum Ketenagakerjaan, (Semarang: University Press 2008), 9

22David Bayu Narendra, Peran Serikat Pekerja Nasional (SPN) DPC Kota Semarang dalam Memperjuangkan Hak-hak Tenaga Kerja Outsourcing di Kota Semarang Pasca Keluarnya Putusan MK Nomor 27/PUU-1X/2011, Skripsi, (Universitas Negeri Semarang, 2013), 36

(36)

Serikat Pekerja/Serikat Buruh di luar perusahaan merupakan serikat pekerja/serikat buruh yang didirikan oleh para pekerja/buruh yang tidak bekerja di perusahaan.

Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pasal 104 diterapkan “setiap pekerja berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja atau serikat buruh”. Jadi, serikat pekerja merupakan tempat aspirasi bagi para pekerja di dalam perusahaan dan diluar perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya yang dibolehkan dan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Buruh adalah seseorang yang menjalankan pekerjaan untuk majikan, dalam hubungna tenaga kerja dengan menerima upah. Upah adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberian uang kepada tenaga kerja buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi tenaga kerja dan tunjangan bagi keluarga buruh atas suatu pekerjaan dana atau jasa yang telah atau akan dilakukan.23

Meskipun sudah jelas dipaparkan pengertian mengenai buruh dan upah, pada prosesnya pekerja atau buruh masih jauh dari kata sejahtera sehingga posisi mereka seolah menjadi korban bagi para pengusaha.

Sedangkan tenaga kerja bisa sebagai partner dari industry atau perusahaan, pekerja menginginkan keadilan dan mendapatkan hak kembali sebagai

23Ainun Najib, Peran Serikat Pekerja dalam Perlindungan Hak-Hak Buruh di PT. Gloria Satya Kencana, Skripsi (Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016),1

(37)

hasil pelaksanaan insdustri. Untuk itu pekerja harus memiliki kekuatan untuk menghilangkan permasalahan pemenuhan hak-hak para pekerja, seperti rendahnya pengupahan, buruknya kondisi pelayanan kesehatan dan keselamatan kerja.

Disatu sisi hal ini yang membawa keuntungan bagi para anggota pekerja buruh karena amanat yang diemban oleh serikat buruh salah satunya yaitu mendampingi atau membantu bagi para anggota buruh apabila terlibat dalam perselisihan hubungan industrial, namun disisi lain hal ini dapat berdampak negative bagi buruh, karena tidak jarang para pengurus serikat pekerja hanya mengumpulkan iuran anggotanya tanpa melakukan kegiatan ketika anggotanya ada yang terkena masalah dalam hubungan industrial. Belum lagi momentum kebebasan berserikat ini juga dimanfaatkan oleh para pengusaha dengan membentuk serikat buruh yang tentu saja bukan untuk kepentingan buruh itu sendiri namun justru untuk menekan para buruhnya.24

a. Peran Serikat Pekerja

Perusahaan biasanya terdapat organisasi serikat pekerja atau serikat buruh yang dalam pelaksanaannya mempunyai peran yang sangat penting dalam hubungan industrial. Serikat pekerja dalam memecahkan persoalan menuju suatu kemajuan dan peningkatan yang diharapkan, hendaknya menata dan memperkuat dirinya melalui upaya tersebut:

24Satrianto Fajar Perdana, Fungsi Serikat Pekerja dalam Perlindungan Hak-Hak Pekerja di PT Indonesua Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, (Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, 2012), 23-30

(38)

1) Menciptakan tingkat solidaritas yang tinggi dalam satu kesatuan diantaranya yaitu pekerja dengan pekerja, pekerja dengan serikat pekerjanya, pekerja atau serikat pekerja dengan managemen atau perusahaan.

2) Meyakinkan anggotanya untuk melaksanakan kewajiban disamping itu haknya organisasi dan diperusahaan, serta penumpukan dana organisasi.

3) Dana organisasi dibelanjakan berdasarkan program dan anggaran belanja yang sudah ditetapkan guna kepentingan peningkatan kemampuan dan pengetahuan terkait dengan keadaan dan kebutuhan yang ada ditempat kerja, termasuk pelaksanaan hubungan industrial.

4) Sumber daya manusia yang baik mampu berinteraksi dengan pihak manajemen secara asional dan objektif.25

b. Fungsi Serikat Pekerja

Pasal 4 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 menjelaskan, bahwa serikat pekerja atau serikat buruh bertujuan untuk memberikan perlindungan, pembekalan hak dan kepentingan, serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja atau serikat dan keluarganya.26 Pihak pembuatan perjanjian kerjasama dan penyelesaian perselisihan industrial, wakil pekerja atau buruh dalam lembaga kerja sama

25Elifaz Ekdy, Pengaruh Upah, “Peran Serikat Pekerja Terhadap Kesejahteraan Pekerja Melalui Unjuk Rasa pada Serikat Pekerja Nasional PSP PT. Sai Industries”, (Universitas Diponegoro, 2012), 9

26Dwi Pujiastuti, Peranan Serikat Pekerja dalam Menciptakan Hubungan Industrial yang Harmonis di PT, Air Mancur Karanganyar Tahun 2008, Skripsi, (Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2010), 33

(39)

dibidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatnya, sarana menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sarana penyalur aspirasi dalam memeperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya, perencanaan, pelaksana, dan dan penanggung jawab pemogokan pekerja buruh sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku, wakil pekerja atau buruh dalam memperjuangkan kepemilikan saham diperusahaan.

Serikat pekerja dibentuk oleh para pekerja dengan memastikan, bahwa kedudukan dan hak mereka sebagai pekerja dapat seimbang dengan kewajiban yang dia lakukan untuk pengusaha. Dalam hubungan pekerja dan majikan atau pengusaha, dan bisa terjadi kedudukan pekerja lebih tinggi. Dan kadangkala itu mengakibatkan kewenang-wenangan para majikan terhadap pekerjanya.27

c. Prinsip Serikat Pekerja 1) Sukarela dan Permanen

Prinsip sukarela dianut oleh serikat pekerja dalam proses perekrutan pekerja menjadi anggota, dimana pekerja mempunyai tuntutan dan kepentingan yang harus dilindungi dan diperjuangkan dan pekerja membutuhkan serta mengetahui, bahwa hanya melalui serikat pekerja tuntutan dan kepentingan pekerja dapat tercapai.

27Rezafaraby, Peran Serikat Pekerja dalam Upaya Menjamin Pemenuhan Hak Pekerja, Artikel, Diakses pada tahun 2022 Pukul 19:13.

(40)

Fondasi (kekuatan) serikat pekerja adalah anggota, dengan sifat sukarela (menjadi anggota) pekerja akan mendukung kuat setiap gerak dan aktifitas serikat pekerjanya. Serikat pekerja juga harus bersifat permanen (organisasi yang permanen) yaitu mempromosikan atau menyampaikan tuntutan yang bersifat jangka panjang, disamping itu alasan penting sebagai organisasi yang permanen adalah situasi dan orang mungkin berubah, tetapi kebutuhan serikat pekerja adalah tetap sama, di setiap lingkup sosial, pekerja membutuhkan perlindungan diri mereka dari ketidak adilan, pelecehan, penyalahgunaan kekuasaan. Mereka juga berjuang untuk peningkatan statusnya, haknya dan standar hidupnya.

Permanen disini juga berarti berkelanjutan organisasi yang menganut prinsip dan nilai organisasi yang sama tumbuh dan juga akar kepemimpinan yang kuat.

2) Kemandirian.28

Serikat pekerja harus mandiri dan terbatas dari pengaruh atau kontrol pemerintah, manajemen atau pengusaha atau partai politik. Karena serikat pekerja adalah organisasi dimana dikontrol oleh anggota, dilaksanakan dan atas nama anggota serta dibiayai oleh anggota.

28M Ihsan, “Karakter Kemandirian Masyarakat Kudus Menghadapi Industial Pekerja”, Jurnal Kajian Ekonomi dan Bisnis Islam, Vol. 2 No. 01, Agustus 2011, 8

(41)

d. Pembentukan Serikat Pekerja

Pekerja bebas membentuk sertifikat pekerja, karena berserikat merupakan hak pekerja. Dalam Undang-Undang No 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja yang tertuang dalam pasal 5, setiap pekerja buruh berhak membentuk serikat pekerja. Serikat pekerja dapat dibentuk oleh sekurang-kurangnya sepuluh orang pekerja. Serikat pekerja yang telah terbentuk harus mencatatkan kelembaga yang terkait, kemudian lembaga yang terkait tersebut memberikan nomor bukti pencatatan.

e. Hak dan Kewajiban Serikat Pekerja.

Hak dan kewajiban serikat pekerja dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 yang berada pada bab pembahasan pasal 25 dan pasal 27. Mengenai hak-hak dari serikat pekerja yang telah mempunyai nomor bukti pecatatan yang ada di pasal 25 Berikut;

1) Mempunyai perjanjian kerjasama dengan pengusaha.

2) Mewakili pekerja atau buruh dalam menyelesaikan perselisihan di industri.

3) Mewakili pekerja atau buruh dalam lembaga ketenagakerjaan.

4) Membentuk lembaga atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan usaha peningkatan kesejahteraan pekerja buruh.

Melakukan kegiatan lainnya dibidang ketenagakerjaan yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan untuk kewajiban dari serikat pekerja pada pasal 27 antara lain yaitu

(42)

“Melindungi dan membela anggota dari pelanggaran hak-hak dan memperjuangkan kepentingannya, memperjuangkan peningkatan kesejahteraan anggota dan keluarganya, mempertanggungjawabkan kegiatan organisasi kepada anggotanya sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga”.

f. Hal-hal yang perlu diperjuangkan serikat pekerja.

Serikat pekerja serikat pekerja merupakan tempat bagi para pekerja untuk memperjuangkan kesejahteraan. Menurut Taliduhu Ndraha pokok persoalan yang selalu menjadi bahan negoisasi antara kedua belah pihak yaitu: Pengakuan terhadap eksitensi serikat pekerja, keamanan, dan perlindungan terhadap serikat pekerja, pemogokan, jam kerja, Disiplin, keluhan, senioritas, upah, kesehatan dan keselamatan kerja, Tinjauan, Hak-hak.29

Serikat pekerja dibentuk oleh para pekerja dengan memastikan, bahwa kedudukan dan hak mereka sebagai pekerja yang dapat seimbang dengan kewajiban yang dia lakukan untuk pengusaha tersebut. Dalam hubungan kerja dan majikan atau pengusaha, dan bisa terjadi kedudukan pekerja lebih tinggi. Dan kedangkala itu mengakibatkan kewenang- wenangan para majikan terhadap pekerjanya.30

Mengurangi dan menghadapi kemungkinan yang terjadi kesewenag-wenangan tersebut, para pekerja sebaiknya mempunyai sebuah

29Dwi Pujiastuti, “ Peranan Serikat Pekerja dalam Menciptakan Hubungan Industrial yang Harmonis di PT. Air Mancur Karanganyar Tahun 2008”, Skripsi, (Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2010), 56

30Rezafaraby, Peran Serikat Pekerja dan Upaya Menjamin Pemenuhan Hak Pekerja, Artikel, Diaskes pada tahun 2022 Pukul 15:29.

(43)

perkumpulan yang biasanya dinamakan dengan serikat pekerja, para pekerja dapat bersatu sehingga bisa menyeimbangkan posisi antara pekerja dengan pengusaha.

Tiap orang memiliki hak untuk bergabung dengan serikat buruh yang dipilih secara bebas untuk bergabung, meningkatkan dan melindungi kepentingannya. Negara diizinkan melakukan pembatasan yang masuk akal terhadap hak ini untuk melindungi seseorang.

Serikat pekerja pada dasarnya adalah untuk melaksanakan salah satu hak asasi manusia yaitu kemerdekaan berserikat dan berkumpul serta mengeluarkan pikiran yang selanjutkan diharapkan agar terpenuhinya hak dasar buruh akan upah yang layak, tanpa diskriminasi dalam kerjaan atau jabatan, adanya jaminan sosial, adanya perlindungan dan pengawasan kerja yang baik.

2. Perlindungan Hak Pekerja Perempuan.

Hak yang dimiliki oleh seorang perempuan, baik sebagai seorang perempuan dan dalam khasanah hukum hak asasi manusia yang dapat ditemui pengaturannya dalam berbagai sistem hukum tentang hakasasi manusia. Dalam pengertian tersebut dijelaskan bahwa seorang perempuan dalampengaturan mengenai pengakuan atas hak untuk mendapatkan di berbagai sistem hukum tentang hak asasi manusia.

Namun, dalam praktiknya masih saja ada perusahaan yang belum memenuhi secara menyeluruh maupun sebagaian hak-hak yang sebagaimana seharusnya diterima oleh pekerja perempuan. Permasalahan

(44)

yang mungkin sering terjadi yaitu seringkali pekerja perempuan memiliki tekanan dalam lingkungan kerja, seperti jam kerja yang panjang, perjalanan yang jauh dan beban pekerjaan. Selain itu tekanan dalam keluarga yang mempengaruhi pekerjaan, misalnya kehadiran anak yang masih kecil, lemahnya dukungan dari keluarga serta konflik keluarga.

Peran yang dimaksud adalah peran seorang perempuan sebagai istri bagi suaminya, dan ibu bagi anak-anaknya, dan peran sebagai perempuan yang memiliki karier diluar rumah. Pekerja perempuan menjadi memiliki peran ganda yaitu sebagai istri dan ibu serta pencari nafkah.31

Khususnya tentang perlindungan pekerja perempuan, disini terdapat beberapa ketentuan dalam undang-undang dasar, undang-undang, dan peraturan pelaksanaannya, dalam Undang-Undang Dasar 1945 tercantum bahwa setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapatkan imbalandan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja diperusahan. Ini artinya pekerja perempuan juga berhak untuk mendapatkan hak yang sama dengan kaum laki-laki terkait perlakuan yang layak. Undang-Undang Dasar 1945 tersebut merupakan satu bentuk peraturan yang melindungi hak pekerja secara umum. Hal ini diatur dalam pasal 27 dan pasal 33 Undang-Undang dasar 1945. Selain itu, hak pekerja perempuan diatur dalam beberapa undang-undang dan peraturan pelaksanannya yaitu:

31Aristya Rahmarahyati M., Budhi Wibhawa, R. Nunung Nurwati, 2017, “Peran Ganda Buruh Perempuan Sektor Industri Dalam Keluarga”, Jurnal Penelitian & PKM, Vol, 4 No. 2, hlm. 231-232.

(45)

a. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan b. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah c. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 8 per-04/Men/1989 tentang

Syarat-Syarat Kerja Malam dan Tata Cara Memperkerjakan Pekerja Perempuan pada Malam Hari.

d. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Kep.

224/Men/2003 tentang kewajiban Pengusaha yang memperkerjakan buruh/pekerja perempuan antara pukul 23.33 sampai pukul 07.00.32

Berikut ini beberapa bentuk perlindungan hukum terhadap pekerja perempuan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, terdapat beberapa perlindungan hukum bagi perempuan diantaranya sebagai berikut:

a. Perlindungan jam Kerja

Pasal 76 Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur tentang perlindungan kerja malam bagi pekerja perempuan disini yaitu (pukul 23:00 sampai pukul 07.00) ialah sebagai berikut:

1) Pekerja perempuan yang berumur kurang dari 18 tahun dilarang untuk dipekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00 pagi.

2) Pengusaha dilarang memperkerjakan seorang pekerja perempuan yang sedang hamil dan menurut keterangan seorang dokter

32Sali Susiana,”Perlindungan Hak Pekerja Perempuan dalam Perspektif Faminisme”, Aspirasi. Vol.8. No.2 (Desember 2017) h. 210.

(46)

berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya, bila pekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00 pagi yaitu:

1) Harus emberikan makan dan minuman yang bergizi.

2) Harus menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.

3) Menyediakan transportasi antar jemput bagi para pekerja perempuan yang tempat tinggalnya jauh.

b. Perlindungan masa haid.

Dalam Pasal 81 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan mengatur masalah perlindungan dalam masa haid. isi pasal tersebut yaitu sebagai berikut:

“(1) Pekerja/Buruh perempuan dalam masa haid dan merasakan sakit yang tidak lazim wajib memberitahukan kepada pengusaha, dan tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.”33 c. Perlindungan selama cuti hamil

Dalam Pasal 82 ayat 1 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan mengatur tentang masalah cuti masa kehamilan bagi pekerja perempuan. Pekerja perempuan memiliki hak memperoleh istirahat selama 1,5 bulan sebelum melahirkan anak dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Maka dari itu sebaiknya para pekerja perempuan memberitahukan kepada pihak managemen perusahaan

33Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. pasal 81

(47)

baik secara lisan maupun tertulis maksimal 1,5 bulan sebelum perkiraan kelahiran. Setelah melahirkan, keluarga pekerja wajib memberitahukan kelahiran anaknya dalam tempo tujuh hari setelah kelahiran. Pekerja perempuan juga wajib memberikan bukti kelahiran dari rumah sakit atau akta kelahiran anaknya dalam tempo enam bulan setelah melahirkan. Meskipun dalam pasal ini telah diatur bahwa selama cuti hamil dan melahirkan para pekerja perempuan harusnya memperoleh upah penuh.34 Pelaksanaan cuti melahirkan bagi tenaga kerja perempuan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan dalam bekerja, memberikan kesempatan untuk merawat bayi yang dilahirkan dan memberikan kesempatan menyusui.

Tenaga kerja perempuan dalam menggunakan hak cuti baik sebelum dan sesudah melahirkan berdasarkan ketentuan Pasal 84 Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 berhak mendapatkan upah penuh.35

Dalam pasal 82 ayat 2 diatur tentang cuti keguguran, pekerja perempuan yang mengalami keguguran kandungan seharusnya berhak memperoleh istirahat 1,5 bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.

34Churin Tsuroyya, “Pemenuhan Hak Pekerja Perempuan si PT. Djarum Tayu Pati

(Surakarta: Skripsi Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2018), h.24

35Undang-Undang Republik Indonesia No. Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 84

(48)

d. Pemberian Lokasi Menyusui (Hak Menyusui dan/atau Memerah ASI) Dalam Pasal 83 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 mengatur masalah pekerja perempuan yang dalam masa menyusui.

Setelah melahirkan, seorang pekerja perempuan harus menyusui anaknya. Hal ini juga diatur dalam hukum internasional dan nasional.

Pasal 83 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 mengatur bahwa pekerja perempuan yang masih menyusui anaknya harus diberi kesempatan hak cuti minimal diberi waktu untuk memerah ASI pada waktu jam kerja atau jam istirahat. Dalam hal ini setiap perusahaan menyediakan ruangan untuk memerah ASI.36

e. Waktu Istirahat

Pasal 79 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Mengatur tentang waktu istirahat bagi buruh/pekerja. Uraian Pasalnya ialah sebagai berikut:

1) Waktu istirahat diantara jam kerja, sekurang kurangnya kurang lebih setengah jam setelah bekerja selama 4 jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja.

2) Waktu istirahat mingguan dalam 1 hari untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu atau 2 hari untuk untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.

3) Waktu cuti tahunan kurang lebih 12 hari kerja setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja 12 bulan secara terus menerus.

36Fitri Anasari,”Pelaksanaan Perlindungan Hukum Pekerja Perempuan berdasarkan UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.” (Yogyakarta: Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016), h.39

(49)

4) Waktu istirahat panjang kurang lebih 2 bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 tahun secara terus menerus pada perusahaan yang sama, dengan ketentuan pekerja/buruh yang tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 tahun.37

f. Larangan Melakukan PHK terhadap Pekerja Perempuan.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan melarang perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena alasan pekerja perempuan hamil, melahirkan, keguguran, mampu menyusui seperti yang tercantum dalam pasal 153 ayat (1) huruf e. ketentuan yang terdapat pada pasal 153 ayat (2) pada Undang-Undang tersebut juga mengatur jika PHK dilakukan karena pekerja hamil adalah batal demi hukum dan perusahaan wajib memperkerjakannya kembali.

Larangan diatas tersebut juga diatur dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 03/Men/1989 yang menyatakan adanya larangan melakukan PHK terhadap pekerja perempuan dengan alasan berikut ini:

1) Pekerja perempuan;

2) Pekerja perempuan hamil;

37Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 79.

(50)

3) Pekerja perempuan melahirkan;

Setiap se

Gambar

Tabel     2.1  Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu  20

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa Yayasan Penyandang Cacat Mandiri telah melaksanakan apa yang telah ditentukan dalam Pasal 67 Undang – Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang

Secara yuridis Pasal 5 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memberikan perlindungan bahwa setiap tenaga kerja berhak dan mempunyai kesempatan

Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dalam Pasal 1 angka 30 yang berbunyi: “ Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam

Sebagai program publik BPJS Ketenagakerjaan memberikan hak dan membebani kewajiban secara pasti ( compulsory ) bagi pengusaha dan tenaga kerja berdasarkan Undang – Undang

Bahwa Undang-Undang yang dimohonkan untuk diuji terhadap UUD 1945 adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 59 yang mengatur tentang Perjanjian

Hal ini telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam Pasal 76 ayat (4) yaitu pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput

Perjanjian kerja bersama merupakan salah satu bentuk perjanjian kerja yang di buat oleh pengusaha dan serikat pekerja, berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun

Perjanjian kerja bersama merupakan salah satu bentuk perjanjian kerja yang di buat oleh pengusaha dan serikat pekerja, berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun