90
BAB V
KONSEP PERANCANGAN
5.1 Konsep Dasar Penerapan Tema
Dalam perancangan pondok pesantren modern ini, penerapan konsep arsitektur berkelanjutan dipilih karena sangat berpengaruh terhadap perubahan-perubahan pondok pesantren dimasa yang akan datang nantinya. Pembagian dan penataan bangunan di pondok pesantren sangat perlu diperhatikan, khususnya untuk pembagian ruang publik, semi publik, dan pirivat agar dapat memberikan kenyamanan terhadap pengguna/santri yang ada di pesantren nantinya.
Konsep dasar perancangan pondok pesantren ini mengacu terhadap aktivitas islami yang mana memiliki tiga prinsip pokok tugas manusia di dunia yaitu :
1. Hablum minallah merupakan hubungan antara umat manusia dengan Allah, yaitu aktivitas spiritual seperti sholat, berdoa, dzikir, bersedekah, mengaji, dan juga harus selalu mengingat Tuhan yang Maha Esa.
2. Hablum minannas merupakan hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya. Yaitu memberikan fasilitas untuk berinteraksi antara sesama manusia dan mempererat tali silaturahim.
3. Hablum minal alamin merupakan hubungan yang berinteraksi dengan alam, yaitu memberikan kesadaran kepada manusia agar selalu menjaga kelestarian alam.
Dari konsep tersebut yang tertulis diatas dapat menggambarkan pendekatan arsitektur berkelanjutan dari memperhatikan pola ruang/bangunan sehingga dapat memberikan kenyamanan terhadap pengguna dan faktor yang mengutamakan pelestarian alam. Dengan ini memberikan pandangan rancangan pondok pesantren yang ramah lingungan.
Adapun beberapa aktivitas islami yang berkaitan dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan antara lain yaitu :
1. Tata masa bangunan sangatlah penting dan dikaitkan degan pendekatan arsitektur berkelanjutan yang mana aktivitas islami dapat memberikan pandangan tata masa dan sirkulasi yang berfokus terhadap satu pusat dan menghadirkan beberapa area RTH di setiap sisi bangunan nantinya.
2. Kenyamanan thermal dalam desain arsitektur berkelanjutan menerapkan sistem passive building dan penataan tata masa bangunan yang memungkinkan cahaya dan angin secara alami masuk ke dalam bangunan dengan maksimal dan efektif.
3. Metode hemat energy yang diterapkan di dalam aktivitas islami yang berpedoman pada pendekatan arsitektur berkelanjutan untuk mendukung sistem pelestarian alam dan mengurangi penggunaan energi yang ada pada bangunan pada saat siang hari.
4. Material terbarukan menggunakan material yang ada dan mudah dicari serta tidak merusak alam. Menjadikan bangunan yang aman dan berjangka
91
Panjang tidak membebani generasi yang akan datang untuk melakukan renovasi yang dapat merusak alam.
5. Memberikan sistem utilitas yang sesuai dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan yaitu ramah lingkungan dan memberikan dampak kebersihan, Kesehatan, dan kenyamanan terhadap pengguna.
5.2 Konsep Program Ruang
Konsep dan ketentuan mengenai program ruang yang nantinya akan di gunakan dalam setiap perancangan ruang pondok pesantren, diatur dalam standar tiap ruang sebagai berikut.
1. Ruang Kelas
a. Fungsi dari ruang kelas adalah sebagai tempat belajar teori, praktek yang tidak memerlukan peralatan khusus, atau dengan alat khusus yang mudah dihadirkan.
b. Jumlah minimum ruang kelas yaitu sama dengan banyak rombongan belajar/santri.
c. Kapasitas maksimum ruang kelas yaitu 32 peserta didik.
d. Rasio minimum luas ruang kelas menurut PerMen No. 27 Thn. 2007 yaitu 2 m²/peserta didik. Sedangkan untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 15 orang, luas minimum ruang kelas yaitu 30 m². Dengan lebar minimum ruang kelas yaitu 5 m.
e. Setiap ruang kelas memiliki jendela yang memungkinkan peserta didik lebih mudah membaca buku karena mendapat cahaya secara alami serta meminimalisir energi listrik dalam hal penerarangan.
Jendela juga berfungsi untuk memberikan pandangan atau view ke luar ruangan.
f. Ruang kelas memiliki pintu yang memadai agar peserta didik dan guru dapat segera keluar ruangan jika terjadi bahaya, dan dapat dikunci dengan baik saat ruangan kelas tidak sedang di gunakan.
Gambar 38. Ruangan Kelas Sumber. Data Pribadi, 2023
92 2. Ruang Perpustakaan
a. Ruang perpustakaan berfungsi sebagai tempat kegiatan peserta didik dan guru memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan Pustaka dengan membaca, mengamati, mendengarm dan sekaligus tempat petugas mengelola perpustakaan.
b. Luas minimum ruang perpustakaan menurut PerMen No. 27 Thn.
2007 yaitu 2 m²/peserta didik. Dengan lebar minimum ruang perpustakaan yaitu 5 m.
c. Ruang perpustakaan dilengkapi dengan jendela untuk memberi pencahayaan alami sehingga dapat meminimalisir energi listrik untuk digunakan sebagai media penerangan saat para peserta didik membaca buku.
d. Ruang perpustakaan terletak di bagian sekolah/madrasah yang mudah di capai.
3. Ruang Laboraturium Komputer, Bahasa, IPA, dan Kimia
a. Ruang laboratorium berfungsi sebagai ruang untuk berlangsungnya kegiatan pembelajaran secara praktek yang memerlukan peralatan khusus.
b. Ruang laboratorium dapat menampung minimum satu rombongan belajar.
c. Rasio minimum luas ruang laboratorium menurut PerMan No. 27 Thn. 2007 yaitu laboratorium Bahasa dan Komputer 2 m²/ peserta didik, sedangkan laboratorium IPA dan Kimia 2,4 m²/ peserta didik.
Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratotium 48 m² termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m². Dengan lebar minimum ruang laboratorium yaitu 5 m.
d. Ruangan laboratotium juga dilengkapi dengan fasilitas untuk memberikan pencahayaan yang memadai untuk mempermudah
Gambar 39. Perpustakaan Sumber. Data Pribadi, 2023
93
peserta didik dalam membaca atau mengamati obyek percobaan saat praktek.
4. Ruang Pimpinan
a. Ruang pimpinan berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan pengelolaan sekolah/madrasah, pertemuan dengan sejumlah kecil guru/kyai, orang tua murid/santri, unsur komite sekolah/majelis madrasah, petugas dinas Pendidikan, atau tamu lainnya.
b. Luas minimum ruang pimpinan menurut PerMan No. 27 Thn. 2007 yaitu 12 m² dengan lebar minimum 3 m.
c. Ruang pimpinan mudah diakses oleh guru dan tamu sekolah/madrasah, dapat dikunci dengan baik.
Gambar 40. Lab. Komputer Sumber. Data Pribadi, 2023
Gambar 41. Ruang Pimpinan Sumber. Data Pribadi, 2023
94 5. Ruang Guru
a. Ruang guru berfungsi sebagai tempat guru/kyai bekerja dan istirahat serta menerima tamu, baik peserta didik maupun tamu lainnya.
b. Rasio untuk luas ruang guru menurut PerMan No. 27 Thn. 2007 yaitu 72 m² dengan kapasitas 10 pendidik, dan luas minimum yaitu 40 m² dengan estimasi 4 m²/pendidik.
c. Ruang guru nantinya dirancang agar mudah dicapai dari halaman sekolah/madrasah ataupun dari luar lingkingan sekolah/madrasah, dan juga dekat dengan ruang pimpinan.
6. Ruang Tata Usaha
a. Ruang tata usaha berfungsi untuk tempat kerja petugas untuk mengerjakan administrasi sekolah/madrasah.
b. Rasio minimum luas ruang tata usaha menurut PerMan No. 27 Thn.
2007 yaitu 4 m²/petugas dan luas minimum 16 m².
c. Ruang tata usaha mudah dicapai dari halaman sekolah/madrasah ataupun dari luar lingkungan sekolah/madrasah, serta dekat dengan ruang pimpinan.
Gambar 42. Ruang Guru Sumber. Data Pribadi, 2023
Gambar 43. Ruang Tata Usaha Sumber. Data Pribadi, 2023
95 7. Ruang Ibadah
a. Tempat beribadah berfungsi sebagai tempat warga sekolah / madrasah melakukan ibadah yang diwajibkan pada waktu tertentu.
b. Tempat beribadah disesuaikan dengan kebutuhan tiap SMP/MTs dengan luas minimum 12 m² atau 1,2 m²/jamaah.
8. Ruang Konseling
a. Ruang konseling berfungsi sebagai tempat peserta didik mendapatkan konseling dari konselor berkaitan dengan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir.
b. Luas minimum ruang konseling menurut PerMan No. 27 Thn. 2007 yaitu 9 m².
c. Ruang konseling dapat memberikan kenyamanan suasana dan menjamin privasi peserta didik.
Gambar 45. Ruang Konseling Sumber. Data Pribadi, 2023 Gambar 44. Ruang Ibadah Sumber. Data Pribadi, 2023
96 9. Ruang UKS
a. Ruang UKS berfungsi sebagai tempat untuk penanganan dini peserta didik yang mengalami gangguan Kesehatan di sekolah/madrasah.
b. Luas minimum ruang UKS menurut PerMan No. 27 Thn. 2007 yaitu 12 m².
10. Ruang Organisasi Kesiswaan
a. Ruang organisasi kesiswaan berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan kesekretariatan pengelolaan organisasi kesiswaan.
b. Luas minimum ruang organisasi menurut PerMan No. 27 Thn. 2007 yaitu 9 m².
Gambar 46. Ruang UKS Sumber. Data Pribadi, 2023
Gambar 47. Ruang OSIS Sumber. Data Pribadi, 2023
97 11. Toilet/Jamban
a. Toilet berfungsi sebagai tempat untuk buang air besar dan buang air kecil.
b. Minimum terdapat 1 unit toilet untuk setiap 40 peserta didik laki- laki, 1 unit toilet untuk setiap 30 peserta didik perempuan, dan 1 unit toilet untuk guru/pendidik. Jumlah minimum toilet setiap sekolah/madrasah 3 unit.
c. Luas minimum 1 unit toilet 2 m².
d. Toilet harus berdinding, beratap, dapat dikunci, dan mudah dibersihkan.
e. Tersedia air bersih di setiap unit toilet.
12. Gudang
a. Gudang berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan pembelajaran di luar kelas, tempat menyimpan sementara peralatan sekolah/madrasah yang tidak/belum berfungsi, dan tempat menyimpan arsip sekolah/madrasah yang telah berusia lebih dari 5 tahun.
b. Luas minimum Gudang menurut PerMan No. 27 Thn. 2007 yaitu 21 m².
c. Gudang dapat di kunci.
Gambar 48. Toilet Sumber. Data Pribadi, 2023
Gambar 49. Ruang Gudang Sumber. Data Pribadi, 2023
98 13. Ruang Sirkulasi
a. Ruang sirkulasi horizontal digunakan sebagai penghubung antar ruang dalam banguan sekolah/madrasah dan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan bermain dan interaksi sosial peserta didik di luar jam pelajaran, terutama pada saat hujan ketika tidak memungkinkan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung di halaman sekolah/madrasah.
b. Ruang sirkulasi horizontal berupa koridor yang menghubungkan ruang-ruang di dalam bangunan sekolah/madrasah dengan luas minimum 30% dari luas total seluruh ruang pada bangunan, dengan lebar minimum 1,8 m, dan tinggi minimum 2,5 m.
c. Ruang sirkulasi horizontal dapat menghubungkan ruang-ruang dengan baik, beratap serta mendapat pencahayaan dan penghawaan yang cukup.
d. Koridor tanpa dinding pada lantai atas bangunan bertingkat dilengkapi dengan pagar pengaman dengan tinggi 90-110 cm.
e. Bangunan bertingkat dilengkapi dengan tangga. Bangunan bertingkat dengan panjang lebih dari 30 m dilengkapi minimum 2 buah tangga.
f. Jarak tempuh terjauh untuk mencapai tangga pada bangunan bertingkat tidak lebih dari 25 m.
g. Lebar minimum tangga 1,8 m, tinggi maksimum anak tangga 17 cm, lebar anak tangga 25-30 cm, dan dilengkapi dengan pegangan tangga yang kokoh dengan tinggi 85-90 cm.
h. Tangga yang memiliki lebih dari 16 anak tangga harus dilengkapi bordes dengan lebar minimum sama dengan lebar anak tangga.
Gambar 50. Ruang Sirkulasi Sumber. Data Pribadi, 2023
99 14. Ruang Olahraga
a. Tempat bermain/berolahraga berfungsi sebagai area bermain, berolahraga, Pendidikan jasmani, upacara, dan kegiatan ekstrakulikuler.
b. Tempat bermain/berolahraga memiliki rasio luas minimum 3 m²/peserta didik. Jika jumlah peserta didik kurang dari 334 orang, maka luas minimum tempat bermain/berolahraga adalah 1000 m².
c. Di dalam luas tersebut terdapat tempat berolahraga berukuran minimum (30 m x 20 m) yang memiliki permukaan datar, drainase baik, dan tidak terdapat pohon, saluran air, serta benda-benda lain yang mengganggu kegiatan olahraga.
d. Tempat bermain Sebagian ditanami pohon penghijauan.
e. Tempat bermain/berolahraga diletakkan di tempat yang paling sedikit mengganggu proses pembelajaran di kelas.
f. Tempat bermain/berolahraga tidak digunakan untuk parkir kendaraan.
Gambar 51. Lapangan Olahraga Sumber. Data Pribadi, 2023
100 5.3 Konsep Tapak
5.3.1 Lokasi Tapak
Berdasarkan data yang telah dirangkum penulis pada bab sebelumnya. Lokasi perancangan berada di Jl. Batang Serangan, Dusun XII Beteng Rejo, Desa Tebing Tj.
Selamat, Kec. Padang Tualang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara, 20811. Lokasi perancangan ini merupakan bagian dari lahan warga sekitar, yang mana sudah ditunjuk sebagai lahan untuk perencanaan pesantren percontohan dari pihak BKM An- Nuur.
5.3.2 Konsep Tapak
Ukuran Tapak : Luas Tapak = 24.023 m²
A - B = 93 m GSB (A-B) = ½ x Lebar jalan + 1
B - C = 90 m = ½ x 5 + 1
C - D = 104 m = 3,5 m
D - E = 160 m GSB (D-E) = ½ x Lebar jalan + 1
E - F = 79,4 m = ½ x 5 + 1
F - G = 163 m = 3,5 m
G - A = 26 m GSB (E-F) = ½ x Lebar jalan + 1
= ½ x 5 + 1
= 3,5 m
KDB = 50 % (24.023) = 12.011 m² DHB = 25 % (24.023) = 6.005 m² KLB = 1 – 4 lantai.
Gambar 52. Luasan Tapak Sumber. Data Pribadi, 2023
A
B C D
E
F
G
101 5.4 Konsep Pemanfaatan GSB
Gambar 53. Konsep Tapak Sumber. Data Pribadi, 2023
Gambar 54. Konsep Pemanfaatan GSB Sumber. Data Pribadi, 2023
Area GSB 3,5m digunakan untuk pedestrian, dan sebagai drainase.
102 5.5 Konsep Enterance
Pada perancangan pesantren ini, konsep enterance jalur utama, jalur alternatif, maupun jalur untuk pejalan kaki akan diterapkan dan disesuaikan dengan kegiatan ataupun aktivitas yang dilakukan oleh pengguna.
Jalur Pejalan Kaki
In/Out Jalur Alternatif
In/Out Jalur Utama
Gambar 55. Konsep Enterace Sumber. Data Pribadi, 2023
103 5.6 Konsep Sirkulasi
5.7 Konsep Ruang Parkir
Sesuai dengan keputusan Direktur Jendral Perhubungan Darat No. 272/HK.
105/DRJD/96 sebagai pedoman dalam menyediakan fasilitas parkir yang bertujuan antara lain :
1. Memberikan tempat istirahat kendaraan.
2. Menunjang kelancaran arus lalu-lintas.
Pesantren atau sekolah di kategorikan jenis parkir untuk kegiatan parkir yang tetap. Berdasarkan hasil studi Direktorat Jendral Perhubungan Darat tertulis dalam table berikut.
Tabel 5.3 Kebutuhan SRP Sekolah/Perguruan Tinggi
Jumlah Siswa (Orang)
3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000 10.000 11.000 12.000
Kebutuhan (SRP)
60 80 100 120 140 160 180 200 220 240
Jalur Sirkulasi Untuk Pengguna Pesantren Jalur Sirkulasi Kendaraan Bermotor Jalur Sirkulasi Pejalan Kaki
1
1
1
2
Jalan Umum Dusun Beteng Rejo
Jalan No. 1 sebagai jalur utama untuk masuk maupun keluar dari Kawasan pesantren.
Jalan No. 2 sebagai jalur alternatif untuk masuk maupun keluar dari Kawasan pesantren.
Gambar 56. Konsep Sirkulasi Sumber. Data Pribadi, 2023
104
Tabel 5.3.1 Ukuran Kebutuhan Ruang Parkir
Peruntukan Satuan
(SRP untuk Mobil Penumpang)
Kebutuhan Ruang Parkir Pusat Perdagangan
- Pertokoan - Pasar Swalayan - Pasar
SRP/100 m² luas lantai efektif SRP/100 m² luas lantai efektif SRP/100 m² luas lantai efektif
3,5 – 7,5 3,5 – 7,5 Pusat Perkantoran
- Pelayanan bukan umum - Pelayanan umum
SRP/100 m² luas lantai SRP/100 m² luas lantai
1,5 – 3,5
Sekolah SRP/Mahasiswa 0,7 – 1,0
Hotel/Tempat Penginapan SRP/Kamar 0,2 – 1,0
Rumah Sakit SRP/Tempat Tidur 0,2 – 1,3
Bioskop SRP/Tempat Duduk 0,1 – 0,4
Sumber : Naasra 1988
Penentuan satuan parkir (SRP) dibagi atas tiga jenis kendaraan yaitu untuk mobil penumpang (tiga golongan), bus/truk, sepeda motor.
Tabel 5.3.2 Penentuan Satuan Euang Parkir (SRP)
Jenis Kendaraan Satuan Ruang Parkir (m²) 1. a. Mobil penumpang golongan I
b. Mobil penumpang golongan II c. Mobil penumpang golongan III
2,30 x 5,00 2,50 x 5,00 3,00 x 5,00
2. Bus/truk 3,4 x 12,50
3. Sepeda motor 0,75 x 2,00
Gambar 57. Dimensi Kendaraan Standar untuk Mobil Penumpang Sumber. Pedoman Teknis Fasilitas Parkir, 2023
105
Gambar 58. Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk Mobil Penumpang Sumber. Pedoman Teknis Fasilitas Parkir, 2023
Gambar 59. Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk Bus/Truk Sumber. Pedoman Teknis Fasilitas Parkir, 2023
Gambar 60. Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk Sepeda Motor Sumber. Pedoman Teknis Fasilitas Parkir, 2023
106
Tabel 5.3.3 Lebar Jalur Gang (SRP) SRP
Lebar Jalur Gang (m)
< 30º < 45º < 60º < 90º
1 arah 2 arah 1 arah 2 arah 1 arah 2 arah 1 arah 2 arah SRP mobil Penumpang
2,5m x 5,0m
3,0 6,0 3,0 6,0 5,1 6,0 6,0 8,0
SRP bus/truk 3,40m x 12,5m
3,5 6,5 3,5 6,5 4,6 6,5 6,5 8,0
SRP sepeda motor 0,75m x 3,0m
3,0 6,5 3,0 6,0 4,6 6,0 6,0 8,0
Gambar 61. Konsep Parkir Sumber. Data Pribadi, 2023
107 5.8 Konsep View Pada Tapak
Disesuaikan dengan fungsinya, pondok pesantren ini termasuk sebagai perancangan multi mass building, jadi bukan hanya terdapat satu bangunan tunggal besar. Maka view pada tapak sangatlah beragam, bangunan utama pada tapak antara lain yaitu :
1. Asrama
View yang terdapat dari bangunan asrama yaitu :
Pada sisi timur dapat terlihat banguan masjid.
Pada sisi selatan dapat terlihat laundry sebagai bangunan pendukung, dan ruang terbuka hijau.
Pada sisi barat dapat terlihat area pemukiman warga dusun Beteng Rejo.
Pada sisi utara dapat terlihat kantin dan market sebagai bangunan pendukung, dan ruang terbuka hijau.
2. Masjid
View yang terdapat dari bangunan masjid yaitu :
Pada sisi timur dapat terlihat banguan akademik, dan kantin sebagai bangunan pendukung.
Pada sisi selatan dapat terlihat bangunan akademik (lab).
Pada sisi barat dapat terlihat asrama santri, dan asrama kyai.
Pada sisi utara dapat terlihat kantin sebagai bangunan pendukung, dan ruang terbuka hijau.
Gambar 62. View Pada Tapak Sumber. Data Pribadi, 2023
108 3. Bangunan akademik
View yang terdapat dari bangunan akademik yaitu :
Pada sisi timur dapat terlihat area parkir, aula sebagai bangunan pendukung, dan lapangan olahraga.
Pada sisi selatan dapat terlihat jalan, dan pemukiman warga dusun Beteng Rejo.
Pada sisi barat dapat terlihat masjid, dan bangunan akademik (lab).
Pada sisi utara dapat terlihat kantor guru sebagai bangunan pendukung.
5.9 Konsep Vegetasi
RTH dapat berperan dalam menurunkan suhu udara, mengurangi pancaran radiasi matahari secara langsung, dan menghasilkan udara bersih (O2). Terdapat empat macam vegetasi yang akan di gunakan untuk perencanaan pondok pesantren ini, yang dibedakan sesuai fungsi masing-masing. Vegetasi tersebuat yaitu :
Gambar 45. Konsep Vegetasi Sumber. Data Pribadi, 2023 Pohon mangga, rambutan, papaya, dan sirsak Tanaman mawar, anggrek, telang, dan kamboja Pohon mahkota dewa, jeruk nipis, sirih, dan temulawak Pohon bungur, flamboyan, dan mahoni
Gambar 63. Contoh Vegetasi Sumber. Data Pribadi, 2023
109
a. Untuk menunjang konsep keberlanjutan
Pada point ini, vegetasi menggunakan pohon yang dapat menghasilkan buah antara lain yaitu :
1. Pohon mangga (Mangifera indica) 2. Pohon rambutan (Nephelium lappaceum) 3. Pohon papaya (Carica papaya)
4. Pohon sirsak (Annona muricata) b. Untuk menunjang kebutuhan medis
Pada point ini, vegetasi menggunakan pohon atau tanaman yang dapat digunakan untuk kesehatan yaitu :
1. Pohon mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) 2. Pohon jeruk nipis (Citrus × aurantiifolia) 3. Tanaman sirih (Piper betle)
4. Tanaman temulawak (Curcuma zanthorrhiza) c. Untuk menunjang kenyamanan termal
Pada point ini, vegetasi menggunakan pohon rindang yang dapat memberikan kenyamanan termal seperti :
1. Pohon bungur (Lagerstroemia) 2. Pohon flamboyan (Delonix regia) 3. Pohon mahoni (Swietenia mahagoni) d. Untuk menunjang keindahan lanskap
Pada point ini, vegetasi menggunakan tanaman berbunga dengan beraneka warna yang memberikan keindahan seperti :
1. Mawar (Rosa)
2. Anggrek (Orchidaceae) 3. Telang (Clitoria ternatea) 4. Kamboja (Plumeria)
Adapunn tujuan dari pemilihan vegetasi pada point-point diatas antara lain untuk :
Menumbuhkan kesadaran Pancasila sila kelima, bila pohon berbuah akan dibagi untuk guru/kyai dan santri secara adil.
Dapat memberikan sedekah berupa obat herbal kepada sesama guru/kyai, santri, ataupun masyarakat sekitar.
Dengan melakukan hal-hal baik diatas, di harapkan para santri dapat meniru dan menerapkan nya di masa yang akan datang.
Memberikan wadah dalam mempelajari ilmu dalam berkebun.
Melatih santri dalam merawat dan menjaga tanaman.
Melatih santi dalam memanfaatkan lahan kosong.
110 5.10 Konsep Bentuk dan Gubahan Massa
a. Bentuk Dasar Massa
Bentuk dasar massa diangkat dari nama daerah lokasi perancangan yaitu Beteng Rejo yang artinya Beteng (Benteng). Setelah itu di visualisasikan secara sederhana menjadi persegi Panjang. Dan Rejo yang artinya (Ramai), ramai memberikan visualisasi jamak atau lebih dari satu. Dan menggunakan tipologi linear sebagai organisasi dari gubahan massa.
b. Gubahan Massa
Visualisasi sederhana dari kata Beteng (benteng)
Visualisasi dibagi menjadi empat agar memenuhi kata Rejo (ramai)
Ke empat bagian ini mewakili tiga aspek pokok dan satu aspek pendukung yaitu aspek Aqidah (keimanan dan spiritual), aspek Syariah (sosial dan komunitas), aspek Akhlak (ilmu), dan aspek pendukung.
Asrama Masjid Akademis Aula Privat
Semi
Publik Semi
Publik Publik
Aspek Pendukung Aspek Akhlak
(ilmu) Aspek Aqidah
(spiritual) Aspek Syariah
(sosial)
111
Asrama
Masjid
PULL
PULL
PUSH
PUSH PUSH
PUSH PUSH
PULL
PULL
Menerapkan pengulangan pada bentuk bangunan, dan merubah ukuran bangunan agar bagunan memiliki irama visual
PULL
PULL
PUSH
PULL
PULL PULL
Bentukan menjadi kubus/persegi yang lebih besar, mengambil visualisasi kabah. Dan tiga titik hitam ditarik kedepan untuk mempermudah sirkulasi jamaah masjid keluar/masuk dari berbagai arah. Sedangkan titik merah di tarik keluar untuk memberikan sedikit space untuk imam saat melaksanakan sholat.
PULL
PULL PULL
Pada ke empat bagian dengan titik hitam sedikit di tarik keluar dan keatas, yang nantinya difungsikan untuk penopang dari keempat kubah kecil, dan pada bagian titik merah akan diletakkan kubah utama, dimana nantinya visual akan memiliki lima kubah yang menggambarkan lima waktu dalam ibadah sholat.
Bentukan akhir yang didapat mem-visualisasikan rumah, yang diharapkan para santri/pengguna masih tetap merasakan bahwa mereka bukanlah di asrama melainkan rumah mereka sendiri.
112
Akademis
MOVE
MOVE Peletakan lima kubah
PUSH
PUSH Bentukan akhir masjid
Menerapkan pengulangan pada bentuk bangunan, agar bagunan memiliki irama visual
Pada bagian ini telah terbentuk 3 masa bangunan, yang berfungsi sebagai MTs (titik merah), Perpustakaan &
Lab (titik kuning), Kantor (titik biru).
PULL PULL
PULL
MOVE
Pada bagian tengah massa ini akan dipisahkan dan difungsikan nantinya sebagai aula/gedung serbaguna.
PUSH PUSH
PUSH
PUSH PULL
Visualisasi akhir yang didapatkan menyerupai bentuk benteng.
113
Aula
5.11 Konsep Struktur Bangunan
Untuk konsep struktur pada bangunan di pesantren ini nantinya akan di sesuaikan dengan fungsi dari masing masing bangunan agar bisa lebih efektif dalam mempertahankan kekuatan bangunannya.
a. Konsep Struktur Asrama
Pada bangunan asrama, baik itu asrama santri maupun asrama kyai struktur yang akan digunakan yaitu :
Tabel 5.3.4 Konsep struktur perencanaan asrama Struktur Atas
Struktur Perencanaan
1. Atap Pelana, rangka baja ringan Genteng aspal bitumen
Canal C tebal 0,75 mm dan reng tebal 0,45 mm.
Jarak 1,2 m – dan reng 60 cm as ke as.
2. Balok Balok lantai 2 Balok lantai 3 Balok lantai 4 Balok atap
Beton bertulang
Dimensi 400 mm x 600 mm D19 dan begel Ø8 Dimensi 350 mm x 550 mm D19 dan begel Ø8 Dimensi 300 mm x 500 mm D19 dan begel Ø8 Dimensi 300 mm x 500 mm D19 dan begel Ø8 3. Kolom
Kolom lantai 1 Kolom lantai 2
Beton bertulang
Dimensi 550 mm x 550 mm D25 dan begel Ø10 Dimensi 500 mm x 500 mm D25 dan begel Ø10
PULL PULL
PULL
Bentukan massa menjadi lebih luas, dan memiliki 2 lantai untuk mendukung fungsi pada bangunan
Mengangkat filosofi 7 langit untuk dijadikan pintu menuju kedalam aula.
PULL PULL
Setiap pintu akan menggunakan nama nabi yang di temui rasul saat peristiwa isra’ mi’raj.
PUL L
PUL L PULL
Pada bagian atap akan diberikan sirkulasi udara dan pencahayaan secara manual/otomatis Visualisasi akhir
114 Kolom lantai 3 Kolom lantai 4
Dimensi 400 mm x 400 mm D25 dan begel Ø10 Dimensi 300 mm x 300 mm D25 dan begel Ø10 4. Dinding
Skat dinding
Bata jamur (micylium)
Rangka kayu, rockwooll, playwood 5. Struktur Lantai
Lantai 2 - 4
Plat lantai beton
Beton bertulang type A (3 m x 3 m), type B (3 m x 4m) type C (2 m x 2 m), dan type D (2 m x 4 m) dengan ketebalan plat 120 mm menggunakan tulangan pokok D10 – 140 dan tulangan bagi Ø8 – 200.
Struktur Bawah
Struktur Perencanaan
1. Pondasi Tiang Tunggal
Poer
Tiang pancang
Dimensi tiang tunggal 300 mm x 300 mm, dipancang pada kedalaman 18000 mm dengan menggunakan tulangan memanjang D16 dan tulangan geser Ø10 Pondasi berukuran 1750 mm x 1750 mm x 65 mm digunakan tulangan pokok D19 dan tulangan bagi D12.
2. Sloof Beton bertulang
Berdimensi 300/500 mm menggunakan tulangan memanjang D19 dan tulangan geser Ø8.
3. Galian Tahan Disesuaikan 4. Basement -
Struktur Transportasi Bangunan
Struktur Perencanaan
1. Tangga Beton bertulang
Tebal 120 mm digunakan optrade T = 18 cm dan antrade I = 30 cm. tulangan bordes dan badan tangga menggunakan tulangan D12 – 120, D12 – 200, dan D8- 200.
2. Lift -
b. Konsep Struktur Masjid
Pada bangunan masjid nantinya struktur yang akan digunakan yaitu :
Tabel 5.3.5 Konsep struktur perencanaan masjid Struktur Atas
Struktur Perencanaan
1. Atap Dak beton
2. Balok
3. Kolom Dimensi 550 mm x 550 mm 4. Dinding Bata jamur (micylium)
Rangka kayu, rockwooll, playwood 5. Struktur Lantai
Struktur Bawah
Struktur Perencanaan
1. Pondasi
115 2. Sloof
3. Galian Tanah Disesuaikan 4. Basement -
Struktur Transportasi Bangunan
Struktur Perencanaan
1. Tangga
2. Lift -
c. Konsep Struktur Gedung Akademik
Struktur gedung akademik keseluruhan mencakup bangunan MTs, kantor guru/pengelola, perpustakaan dan lab. Struktur yang akan di gunakan yaitu :
Tabel 5.3.6 Konsep struktur perencanaan gedung akademis Struktur Atas
Struktur Perencanaan
1. Atap Plat atap
Dak Beton
Menggunakan beton bertulang type A (3 m x 3 m), type B (3 m x 4 m), type C (2 m x 2 m) dan type D (2 m x 4 m) dengan ketebalan plat 100 mm digunakan tulangan pokok D10 – 175 dan tulangan bagi Ø8 – 200.
2. Balok Balok lantai 2 Balok lantai 3 Balok lantai 4 Balok atap
Beton bertulang
Dimensi 400 mm x 600 mm D19 dan begel Ø8 Dimensi 350 mm x 550 mm D19 dan begel Ø8 Dimensi 300 mm x 500 mm D19 dan begel Ø8 Dimensi 300 mm x 500 mm D19 dan begel Ø8 3. Kolom
Kolom lantai 1 Kolom lantai 2 Kolom lantai 3 Kolom lantai 4
Beton bertulang
Dimensi 550 mm x 550 mm D25 dan begel Ø10 Dimensi 500 mm x 500 mm D25 dan begel Ø10 Dimensi 400 mm x 400 mm D25 dan begel Ø10 Dimensi 300 mm x 300 mm D25 dan begel Ø10 4. Dinding
Skat dinding
Bata jamur (micylium)
Rangka kayu, rockwooll, playwood 5. Struktur Lantai
Lantai 2 - 4
Beton bertulang type A (3 m x 3 m), type B (3 m x 4m) type C (2 m x 2 m), dan type D (2 m x 4 m) dengan ketebalan plat 120 mm menggunakan tulangan pokok D10 – 140 dan tulangan bagi Ø8 – 200.
Struktur Bawah
Struktur Perencanaan
1. Pondasi Tiang Tunggal
Poer
Tiang pancang
Dimensi tiang tunggal 300 mm x 300 mm, dipancang pada kedalaman 18000 mm dengan menggunakan tulangan memanjang D16 dan tulangan geser Ø10 Pondasi berukuran 1750 mm x 1750 mm x 65 mm digunakan tulangan pokok D19 dan tulangan bagi D12.
2. Sloof Beton bertulang
116
Berdimensi 300/500 mm menggunakan tulangan memanjang D19 dan tulangan geser Ø8.
3. Galian Tanah Disesuaikan 4. Basement -
Struktur Transportasi Bangunan
Struktur Perencanaan
1. Tangga Beton bertulang
Tebal 120 mm digunakan optrade T = 18 cm dan antrade I = 30 cm. tulangan bordes dan badan tangga menggunakan tulangan D12 – 120, D12 – 200, dan D8- 200.
2. Lift -
d. Konsep Struktur Aula
Pada bangunan aula atau gedung serba guna ini nantinya struktur yang akan digunakan yaitu :
Tabel 5.3.7 Konsep struktur perencanaan gedung aula Struktur Atas
Struktur Perencanaan
1. Atap Plat atap
Dak Beton
Menggunakan beton bertulang type A (3 m x 3 m), type B (3 m x 4 m), type C (2 m x 2 m) dan type D (2 m x 4 m) dengan ketebalan plat 100 mm digunakan tulangan pokok D10 – 175 dan tulangan bagi Ø8 – 200.
2. Balok Besi baja 3. Kolom
Pembungkus
Besi Baja
ACP (Alumunium Composite Panel) 4. Dinding Bata jamur (micylium)
5. Struktur Lantai Mazzanine
Lantai cor beton bertulang Plat beton
Struktur Bawah
Struktur Perencanaan
1. Pondasi 2. Sloof
3. Galian Tanah Disesuaikan 4. Basement -
Struktur Transportasi Bangunan
Struktur Perencanaan
1. Tangga Beton bertulang
Tebal 120 mm digunakan optrade T = 18 cm dan antrade I = 30 cm. tulangan bordes dan badan tangga menggunakan tulangan D12 – 120, D12 – 200, dan D8- 200.
2. Lift -
117 5.12 Konsep Utilitas
5.12.1 Pencahayaan
Konsep pencahayaan yang akan digunakan pada perancangan pondok pesantren akan dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 5.3.8 Konsep pencahayaan pondok pesantren
Ruang Contoh Pencahayaan Penerapan
Alami Buatan Alami Buatan
1. Asrama
Area pencahayaan alami mencakup, lobby, selasar lantai 2 sampai lantai 4, dan pada tiap ruang kamar asrama.
Area Pencahayaan buatan mencakup lobby, selasar lantai 2 sampai lantai 4, ruang kamar, dan toilet.
Melalui cahaya matahari.
Memanfaatkan bukaan seperti roster/jendela.
Menggunakan led downlight.
Menggunakan led stip/lampu gantung.
2. Masjid
Area pencahayaan alami mencakup teras, tempat berwudhu, dan sebagian area dalam masjid.
Area pencahayaan buatan mencakup bagian dalam masjid, teras dan tempat berwudhu/
toilet.
Melalui cahaya matahari.
Memanfaatkan jendela kaca bermotif atau roster ornament.
Menggunakan lampu gantung.
Menggunaklan lampu hias / dinding.
118 3. Gedung
Akademis
Area pencahayaan alami mencakup, selasar, ruang kelas, ruang guru, administrasi, dan ruang pengelola lainnya.
Area pencahayaan buatan mencakup, selasar, ruang kelas, ruang guru, administrasi, ruang pengelola, dan toilet.
Melalui chaya matahari.
Memanfaatkan bukaan seperti jendela/void.
Menggunakan lampu neon panjang.
Menggunakan lampu gantung / led downlight / led light strip.
4. Aula
Area pencahayaan alami mencakup selasar dan bagian dalam aula.
Area pencahayaan buatan mencakup bagian dalam ruang aula, dan selasar luar.
Melalui chaya matahari.
Memanfaatkan bukaan jendela.
Menggunakan lampu gantung, atau lampu sorot.
Menggunakan lampu led light stip.
5. Lapangan
Area pencahayaan alami mencakup seluruh area lapangan saat siang hari.
Area pencahayaan buatan mencakup titik yang di tentukan untuk menerangi area lapangan saat malam hari.
Melalui chaya matahari.
Menggunakan lampu sorot / lampu jalan.
119 5.12.2 Penghawaan
Konsep penghawaan yang akan digunakan pada perancangan pondok pesantren akan dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 5.3.9 Konsep penghawaan pondok pesantren
Ruang Contoh Penghawaan Penerapan
Alami Buatan Alami Buatan
1. Asrama
Area sirkulasi penghawaan alami yaitu mencakup ruang kamar, selasar, dan lobby.
Area sirkulasi penghawaan buatan yaitu mencakup ruangan kamar, dan toilet.
Melalui udara bersih yaitu O2 (Oxygen)
Menggunakan AC split, kipas angin, atau exhause fan untuk di area toilet.
2. Masjid
Area siskulasi penghawaan alami yaitu mencakup teras, ruangan sholat, ruangan pengurus masjid, dan ruang wudhu.
Area sirkulasi penghawaan buatan yaitu mencakup ruangan sholat, dan ruangan pengurus masjid.
Melalui udara bersih yaitu O2 (Oxygen)
Menggunakan AC split, AC standing floor.
Atau juga dapat menggunakan kipas angin gantung.
3. Gedung Akademis
Area sirkulasi penghawaan alami yaitu mencakup, selasar, ruang kelas, ruang guru, administrasi, toilet, dan ruang pengelola lainnya.
Area sirkulasi penghawaan buatan yaitu mencakup, ruang guru, administrasi, dan ruang pengelola lainnya.
Melalui udara bersih yaitu O2 (Oxygen)
Menggunakan AC split, atau kipas angin gantung.
120 4. Aula
Area sirkulasi penghawaan alami mencakup selasar saja.
Area sirkulasi penghawaan buatan mencakup seluruh ruangan dalam aula.
Melalui udara bersih yaitu O2 (Oxygen)
Menggunakan AC split, AC standing floor, AC ceiling, atau kipas angin.
5. Lapangan
Area sirkulasi penghawaan alami mencakup seluruh area lapangan.
_
Melalui udara bersih yaitu O2 (Oxygen)
_
5.12.3 Instalasi Air Bersih
Konsep arsitektur berkelanjutan harusnya dapat mengoptimalkan penggunaan air bersih dan meminimalisir dampak buruk dari air bekas yang telah digunakan di dalam kawasan bagi lingkungan sekitarnya. Terdapat pengelolaan khusus dalam menejemen air, yaitu:
a. Water Efficiency (efisiensi penggunaan air atau hemat air) b. Water Sufficiency (kecukupan air)
c. Water Substitution (penggantian air)
d. Water Reuse, Recycle, and Harvesting (penggunaan Kembali, pendaurulangan, dan pemanenan air untuk memenuhi kebutuhan kawasan).
Analisa dari lokasi site bahwa sumber air bersih bisa didapatkan melalui pengeboran/sumur bor. Pada area sekitar site juga tidak terdapat pabrik dan bangunan instrial lainnya sehingga air yang didapatkan tidak tercemar oleh limbah kimia dan semacamnya. Sementara itu, system pendistribusian air yang digunakan nantinya adalah Down Feed System atau pengaliran/ distribusi air dari tangki atas ke outlet dengan bantuan dari gaya gravitasi. Pendistribusian air menggunakan Down Feed System memiliki kelebihan, tidak terlalu banyak memerlukan energi. Air dari sumur dipompa ke ground reservoir (tangka air dalam tanah), kemudian masuk ke filter dan dipompa ke tangka atas untuk selanjutnya dapat digunakan di masing-masing fasilitas.
121
Tidak hanya pengolahan air bersih, konservasi air dan penggunaan ulang serta water treatment yang efisien diperlukan juga. Ini dilakukan dengan penampungan air hujan dan pembuatan Sustainable Urban Drainage dengan memanfaatkan grass block di area parkir, serta pembuatan biopori di area kawasan site untuk memaksimalkan penyerapan air ke dalam tanah.
5.12.4 Instalasi Air Kotor
Air kotor yang berasal dari pembuangan baik itu pembuangan berbentuk cair ataupun padat harus dikelola dengan baik, agar tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan. Air kotor hasil pembuangan dari wc/kamar mandi akan disalurkan ke bak penampungan septicktank lalu dilakukan sistem pengangkutan menggunakan mobil truk tinja untuk di teruskan ke sistem pengolahan lumpur tinja.
Sementara air kotor hasil pembuangan dari wastafel, shower, laundry, dan tempat wudhu dapat di gunakan kembali untuk keperluan seperti menyiram tanaman dengan metode water treatment.
Gambar 64. Skema Pengolahan Air Bersih Sumber. Data Pribadi, 2022
Gambar 65. Skema Pengolahan Air Kotor Sumber. Data Pribadi, 2022
122 5.12.5 Instalasi Listrik
Aliran listrik pondok pesantren nantinya diambil langsung dari aliran PLN dan di alirkan ke seluruh gedung-gedung yang berada di pondok pesantren.
Tidak hanya itu sumber listrik juga dapat diambil melalui panel surya.
Pemakaian panel surya ini bertujuan untuk meminimalisir penggunaan listrik disuatu bangunan. Sistem panel surya nantinya akan menggunakan sitem hybrid yang merupakan sistem listrik yang dihasilkan dari tenaga panel surya dapat digabungkan langsung dengan listrik PLN, dan nantinya diharapkan sistem tersebut akan memudahkan pengguna untuk mendapatkan asupan energi listrik yang optimal sebagai antisipasi Ketika terjadi kekurangan daya atau adanya pemadaman.
5.12.6 Instalasi Jaringan Telefon dan Internet
Diera yang sudah modern ini, pondok pesantren nantinya tidak lagi menggunakan telepon kabel dan sejenisnya. Tidak adanya pemasangan jaringan telepon dikarenakan komunikasi yang sudah dapat dilakukan secara mobile dan digital. Sebagai pendukung dalam komunikasi tersebut maka diperlukan pemasangan jaringan internet/wifi yang nantinya dapat diakses untuk segala kebutuhan pembelajaran para santri.
Gambar 66. Skema PLTS Hybrid Sumber. Google, 2023
123 5.12.7 Instalasi Hydrant
Konsep instalasi hydrant pada pondok pesantren ini nantinya disesuaikan dengan analisa perilaku dari pengguna ruang atau bangunan yang ada. Jika ada aktifitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran, maka gedung tersebut diperlukan instalasi hydrant seperti halnya gedung lab kimia, dan lab komputer.
Pada lab kimia ada beberapa aktifitas yang nantinya memungkinkan terjadinya kebakaran jika tidak berhati-hati, sementara untuk lab kompurter hanya mengantisipasi terjadinya konslet pada aliran listrik.
5.12.8 Instalasi Penangkal Petir
Adapun instalasi penangkal petir terdiri dari tiga komponen utama. Komponen utama akan di jelaskan sebagai berikut;
1. Air Terminations (Ujung Penangkal)
Batang penangkal petir berupa batang tembaga yang ujungnya meruncing.
Dibuat runcing karena muatan listrik mempunyai sifat mudah berkumpul
Gambar 67. Skema Jaringan Internet/Wifi Sumber. Google, 2023
Gambar 68. Skema Instalsi Hydrant Sumber. Google, 2023
124
dan lepas pada ujung logam yang runcing. Dengan demikian dapat memperlancar proses tarik menarik dengan muatan listrik yang ada di awan.
Batang runcing ini dipasang pada bagian puncak suatu bangunan.
2. Down Conductors (Penghantar Turun)/Kabel Penangkal Petir
Penghubung antara ujung penangkal dengan tanah adalah penghantar turun ini. Kabel konduktor terbuat dari jalinan kawat tembaga. Diameter jalinan kabel konduktor sekitar 1 cm hingga 2 cm. kabel konduktor berfungsi meneruskan aliran muatan listrik dari batang muatan listrik ke tanah. Kabel tersebut dipasang pada dinding di bagian luar bangunan.
3. Earth Terminations (Grounding)
Grounding berfungsi mengalirkan muatan listrik dari kabel konduktor ke batang pembumian (Ground rod) yang tertanam di tanah. Batang pembumian ini terbuat dari bahan tembaga berlapis baja, dengan diameter 1,5 cm dan Panjang sekitar 1,8 – 3 m.
5.12.9 Transportasi Bangunan
Sistem transportasi pada bangunan pesantren ini masih menggunakan transportasi vertikal manual, artinya pergerakannya masih mengandalkan tenaga manusia untuk berpindah antar level lantai. Adapun sistem transportasi bangunan secara manual yaitu :
1. Tangga
Tangga merupakan jalur yang memiliki undak-undak/trap yang menghubungkan satu dengan lantai diatasnya dan mempunyai fungsi sebagai jalan untuk naik dan turun antara lantai tingkat. Penempatan dan
Gambar 68. Skema Instalsi Penangkal Petir Sumber. Google, 2023
125
letak tangga sendiri mudah dilihat dan dicari, tidak berdekatan dengan ruang lain agar tidak mengganggu aktifitas penghuni lain. Tangga juga memiliki fungsi sebagai sirkulasi umum dan untuk kepentingan darurat, direncakan dekat dengan pintu keluar, sebagai antisipasi terhadap bencana kebakaran, gempa, dan lain-lain. Tangga ini nantinya akan diaplikasikan pada bangunan bertingkat seperti asrama, gedung akademis, dan aula, dan sedikit pada detail bagungan masjid.
2. Ramp
Berbeda dengan tangga, ramp merupakan bidang miring yang menghubungkan perbedaan tingkat lantai. Ramp memiliki tingkat kemiringan tertentu yang dapat dilalui dengan nyaman oleh manusia.
Keunggulan ramp dibanding tangga adalah bisa dilalui oleh roda, baik oleh kursi roda, kendaraan maupun troli barang. Ramp ini nantinya akan di aplikasikan pada sebagian kawasan pesantren seperti area pedestrian.
Gambar 69. Tangga Sumber. Pinterest, 2023
Gambar 70. Ramp Sumber. Pinterest, 2023
126 5.12.10 Pembuangan Sampah
Sistem penampungan sementara dalam suatu wadah individual atau komunal di tempat sumber sampah (SNI 19-2454, 2002). Sistem pengumpulan sampah merupakan cara atau proses pengambilan sampah mulai dari tempat pewadahan/penampungan sampah dari sumber timbulnya sampah sampai ke tempat pembuangan sementara (TPS) dengan sistem tidak langsung atau ke tempat pembuangan akhir (TPA) dengan sistem langsung.
Dikarenakan mayoritas masyarakat di sekitar site berprofesi sebagai petani dan peternak, nantinya sampah organik dari pondok pesantren yang sudah dipilah akan didaur-ulang menjadi kompos, sedangkan sampah yang tidak dapat digunakan lagi akan dibuang ke TPS.
Perencanaan pengelolaan sampah di pesantren nantinya membutuhkan jenis-jenis atau sejumlah alat yang sesuai dengan kebutuhan dan jumlah santri. Jenis dan jumlah akan dijabarkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.3.10 Kebutuhan Alat untuk Santri 100 s/d 1000 dan >1000
No. Alat Jumlah Santri
(100 s/d 1000) (> 1000)
1. Kompotser komunal 2 – 20 unit -
2. Pengomposan skala lingkungan - 1 unit
3. Tungku pembakaran 1 unit 1 unit
4. Gerobak 1 unit 1 unit
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2002.
Gambar 71. Skema pembakaran sampah tanpa asap Sumber. Google, 2023