• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Pondok Pesantren Modern (Bab 4)

N/A
N/A
Dewangga Futtra

Academic year: 2024

Membagikan "Perancangan Pondok Pesantren Modern (Bab 4)"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

50

BAB IV

ANALISA PERANCANGAN

4.1 Analisa Program Ruang

Program ruang adalah rancangan yang nantinya akan menjadikan wadah dari setiap aktifitas penggunanya dalam suatu bangunan. Maka dari itu, program ruang dapat dirancang dan ditentukan sesuai dengan kegiatan yang akan dilakukan oleh pengguna di dalam bangunan tersebut. Berikut ini adalah daftar kebutuhan ruang di Pondok Pesantren Modern berdasarkan jenis dan fungsinya yaitu :

1. Fungsi Primer

Tabel 4.1 Fungsi Primer Pondok Pesantren Fungsi Primer

No. Ruang Jenis Aktifitas Jenis Pengguna

1. Masjid Sholat Seluruh santri dan kyai, pengelola, pengunjung

Berwudhu Seluruh santri dan kyai, pengelola, pengunjung

Berdiskusi/mengaji Santri dan kyai yang berkepentingan Membersihkan masjid Marbot Masjid

Buang air Santri, kyai, pengelola, dan pengunjung 2. Pondok/asrama Tidur Santri, kyai, pengelola

Berdiskusi Para santi di dalam asrama Mengaji Para santi di dalam asrama Buang air Santri, kyai, pengelola

3. Kantin Memasak Chef dan staf

Makan Santri

Buang air Santri, dan pengelola Sumber : Asumsi pribadi

2. Fungsi Sekunder

Tabel 4.1.1 Fungsi Skunder Pondok Pesantren Fungsi Skunder

No. Ruang Jenis Aktifitas Jenis Pengguna

1. Kelas Belajar Santri dan pengurus pondok

Berdiskusi Santri dan pengurus pondok Membaca Santri dan pengurus pondok Membersihkan Petugas kebersihan

(2)

51

Buang air Santri, dan pengelolah pondok 2. Perpustakaan Belajar Penghuni pondok, dan guru

Pembersih Petugas kebersihan

Buang air Penghuni pondok, kyai, dan pengelola 3. Lab komputer Belajar dengan

menggunakan aplikasi, dan media internet.

Penghuni pondok

Pembersih alat Petugas/staf Pembersih ruang Petugas kebersihan

Buang air Penghuni pondok, guru, dan pengelola 4. Lab IPA Belajar dengan

menggunakan alat masa kini

Penghuni pondok

Pembersih alat Petugas/staf Pembersih ruang Petugas kebersihan

Buang air Penghuni pondok, guru, dan pengelola 5. Lab kimia Belajar dengan

menggunakan alat masa kini

Penghuni pondok

Pembersih alat Petugas/staf Pembersih ruang Petugas kebersihan

Buang air Penghuni pondok, guru, dan pengelola 6. Lab bahasa Belajar dengan

menggunakan aplikasi dan alat masa kini

Penghuni pondok

Pembersih alat Petugas/staf Pembersih ruang Petugas kebersihan

Buang air Penghuni pondok, guru, dan pengelola 7. Aula Acara penamatan Santri, staf, guru, dan keluarga

Acara pentas Santri dan pengurus pondok Sumber : Asumsi pribadi

3. Fungsi penunjang

Tabel 4.1.2 Fungsi Penunjang Pondok Pesantren Fungsi Penunjang

No. Ruang Jenis Aktifitas Jenis Pengguna

1. Sirkulasi Parkir Pengunjung dan pengelola

Melintasi kawasan pondok

Santri, pengunjung, dan pengelola

(3)

52 2. Admin dan

pengelolahan

Ruang informasi Pengelola

Tata usaha Pengelola

Bimbingan konseling Pengelola Ruang guru/kyai Guru dan Kyai Ruang kepsek Pengelola Ruang pimpinan Pengelola 3. Penyimpanan

/gudang

Menyimpan peralatan Pengelola Membersihkan

peralatan

Pengelola

4. Service Menjaga keamanan Security

Menjaga keselamatan Mekanikal/engineering, dan plumbing

Laundy Pengelola

Klinik kesehatan/UKS Pengelola

5. Minimarket Berbelanja Pengunjung, dan pengelola 6. Tempat parkir Parkir bus Pengunjung, dan pengelola Parkir mobil Pengunjung, dan pengelola Parkir motor Pengunjung, dan pengelola 7. Lapangan Olah

Raga

Lapangan sepak bola Santri, dan pengelola Basket Santri, dan pengelola

Voli Santri, dan pengelola

Sumber : Asumsi pribadi

4.2 Kebutuhan dan Besaran Ruang

Data yang terdapat dalam kebutuhan ruang nantinya akan digunakan untuk menentukan pembagian ruang apa saja yang akan di gunakan untuk mewadahi aktifitas yang ada dalam pondok pesantren. Berikut ini adalah pembagian untuk kebutuhan ruang pondok pesantren.

Ruang yang akan digunakan dalam perancangan pondok pesantren memiliki standar perancangan, yang mana akan di jabarkan seperti berikut.

1. Fungsi Primer

Tabel 4.1.3 Kebutuhan dan Besaran Ruang Fungsi Primer

PROGRAM KEBUTUHAN RUANG

NAMA RUANG KAPASITAS SUMBER STANDART PERHITUNGAN (m²) TOTAL (m²)

MASJID 1000 orang

Ruang ibadah 500 bergantian 2x AS 0,72 m²/orang 500x0,72 360,0

Ruang mihrab 1 orang AS 4,6 m² 1x4,6 4,6

Ruang ta'mir 2 orang AS 9 m² 1x9 9,0

(4)

53

Rak penyimpanan 4 unit AS 1,2 m²/rak 4x1,2 4,8

Ruang audio 1 unit AS 1,2 m²/rak

4x1,2 4,8

: 1meja+2kursi 1,0

: (1x0,72)+(2x0,16)

Ruang wudhu

1000 orang

AS 0,7 m²/orang

Pria 800 bergantian 4x 140,0

Pria :80%x1000=800 200x0,7

Wanita

:20%x1000=200 Wanita 200x0,7 gantian 4x 35,0

50x0,7

Toilet AS

Pria 80 bergantian 2x : Toilet biasa 35x2 150,0

10%x1000 orang 2 m²/wc : Toilet difabel 5x5,25 26,3

: 100 orang 5,25 m²/wc Wanita 20 bergantian 2x

: Toilet biasa 7x2 14,0

: Toilet difabel 3x5,25 15,8

765,2

Sirkulasi 30% 229,6

994,8

ASRAMA SANTRI 720 orang

Kamar tidur 4 orang, 180 unit NAD 16 m²/unit 180x16 2880,0

Kamar mandi 1 orang, 180 unit NAD 2 m²/wc 180x2 360,0

Kamar pengurus 1 orang, 6 unit AS 9 m²/unit 6x9 54,0

Kamar mandi

pengurus 1 orang, 6 unit NAD 2 m²/wc 6x2 12,0

Gudang 2 unit AS 21 m² 2x21 42,0

Toilet lobby 2 unit NAD

2 m²/wc Pria

24,6 1,6 m²/urinoir : 5wc+8urinoir+2wastafel

0,9 m²/wastafel : (5x2)+(8x1,6)+(2x0,9)

Wanita

13,6

: 5wc+4wastafel

: (5x2)+(4x0,9)

3386,2

Sirkulasi 30% 1015,9

4402,1

ASRAMA KYAI 48 orang

Kamar tidur 2 orang, 24 unit NAD 12 m²/unit 24x12 288,0

Kamar mandi 1 orang, 24 unit NAD 2 m²/wc 24x2 48,0

Kamar pengurus 1 orang, 6 unit AS 9 m²/unit 6x9 54,0

Kamar mandi

pengurus 1 orang, 6 unit NAD 2 m²/wc 6x2 12,0

Gudang 2 unit AS 21 m² 2x21 42,0

Toilet lobby 2 unit NAD

2 m²/wc Pria

24,6 1,6 m²/urinoir : 5wc+8urinoir+2wastafel

0,9 m²/wastafel : (5x2)+(8x1,6)+(2x0,9)

Wanita

13,6

: 5wc+4wastafel

: (5x2)+(4x0,9)

(5)

54

482,2

Sirkulasi 30% 144,7

626,9

Sumber : Asumsi pribadi

2. Fungsi Skunder

Tabel 4.1.4 Kebutuhan dan Besaran Ruang Fungsi Skunder

PROGRAM KEBUTUHAN RUANG

NAMA RUANG KAPASITAS SUMBER STANDART PERHITUNGAN (m²) TOTAL (m²)

MADRASAH 768 orang

Ruang kelas 32 orang, 24 unit KEMENDIKBUD

8 72 m²/unit 72x24 1728,0

Toilet 1 orang, 8 unit NAD

2 m²/wc 8wc+10urinoir+2wastafel

270,4 1,6 m²/urinoir : (8x2)+(10x1,6)+(2x0,9)

0,9 m²/wastafel : 33,8x8unit

Gudang 2 unit AS 21 m² 2x21 42,0

Lap. Upacara 1 unit, 1.000

orang AS 0,6 m²/orang

1.000x0,6 600,0

Sirkulasi pembawa upacara

20% 120,0

Lap. Olah raga 1 unit AS 2.300 m² 2300,0

5060,4

Sirkulasi 30% 1518,1

6578,5

LABORATORIUM

Lab. Komputer 30 orang, 4 unit PERMENDIKNAS 2 m²/orang (30x2)x4unit 240,0

Lab. Bahasa 30 orang, 2 unit AS 1,4 m²/orang (30x1,4)x4unit 168,0

Lab. IPA 20 orang, 4 unit KEMENAG

JATIM 2,4 m²/orang (20x2,4)x4unit 192,0

Lab. Kimia 20 orang, 4 unit KEMENAG

JATIM 2,4 m²/orang (20x2,4)x4unit 192,0

Ruang staff 4 orang NAD 5,5 m²/orang 4x5,5 22,0

Gudang 2 unit AS 21 m² 2x21 42,0

Toilet 1 orang, 2 unit NAD

2 m²/wc Pria

33,8 1,6 m²/urinoir :8wc+10urinoir+2wastafel

0,9 m²/wastafel : (8x2)+(10x1,6)+(2x0,9)

Wanita

13,6

: 5wc+4wastafel

: (5x2)+(4x0,9)

903,4

Sirkulasi 30% 271,0

1174,4

PERPUSTAKAAN As:75%x720=540

Hall 20%x540=108 NAD 0,8-2 m²/orang 108x2 216,0

Ruang loker 108 NAD 0,25 m²/orang 108/6x0,25 4,5

(6)

55

Ruang buku 165 buku, 4 rak NAD 1,85 m²/rak 4x1,85 7,4

Ruang baca 80%x540=432 NAD 2,32-3 m²/orang 432x3 1296,0

Ruang fotocopy 2 mesin NAD 2,5 m²/mesin 2x2,5 5,0

Ruang staff 4 orang NAD 5,5 m²/orang 4x5,5 22,0

Ruang kep. perpus 1 orang NAD 20 m²/orang 1x20 20,0

Toilet 1 orang, 6 unit AS 3 m²/wc 3x6 18,0

1588,9

Sirkulasi 30% 476,7

2065,6

OFFICE

Kantor pengelola 1 orang NAD 5 m²/orang 1x5 5

Ruang kepsek 2 orang NAD 5 m²/orang 2x5 10

Ruang guru 24 orang, 2 unit KEMENDIKBUD 4 m²/pendidik 24x4=96x2 unit 192

Ruang TU 2 orang, 2 unit NAD 5,5 m²/orang 2x5,5=11x2 unit 22

Ruang BK 1 orang NAD 5,5 m²/orang 1x5,5 5,5

Ruang OSIS 1 orang NAD 5,5 m²/orang 1x5,5 5,5

Ruang rapat 50 orang NAD 1,5 m²/orang 50x1,5 75

Gudang 2 unit AS 21 m² 2x21 42,0

Toilet 1 orang, 2 unit NAD

2 m²/wc Pria

33,8 1,6 m²/urinoir : 8wc+10urinoir+2wastafel

0,9 m²/wastafel : (8x2)+(10x1,6)+(2x0,9)

Wanita

13,6

: 5wc+4wastafel

: (5x2)+(4x0,9)

404,4

Sirkulasi 30% 121,32

525,72

AULA

Area hall 1.305 orang AS 1,63 m²/orang 1,305x1,63 2127,2

Area panggung 40 orang AS 6,68 m²/orang 40x6,68 267,2

Ruang

penyimpanan 1 unit AS 21 m²/ruang

Rak simpan (2x0,6)=1,2 m² 3,6 : 1,2x3 pcs

Space untuk barang 40% 8,4 : 21x40%

Space lainnya 9 m² 9,0

Ruang audio 1 unit AS 21 m²/ruang

Rak simpan (2x0,6)=1,2 m² 3,6 : 1,2x3 pcs

Meja (1,2x0,6)=0,72 m² 2,2 : 0,72x3pcs

Kursi (0,4x0,4)=0,16 m² 1,0 : 0,16x6 pcs

Space lainnya 14,28 m²

14,3

(7)

56

Toilet 1 orang, 2 unit NAD

2 m²/wc Pria

33,8 1,6 m²/urinoir :8wc+10urinoir+2wastafel

0,9 m²/wastafel : (8x2)+(10x1,6)+(2x0,9)

Wanita

13,6

: 5wc+4wastafel

: (5x2)+(4x0,9)

Area selasar AS 15% x luas aula 15% x 2483,75 m² 372,6

2856,3

Sirkulasi 30% 856,9

3713,2

Sumber : Asumsi pribadi

3. Fungsi Penunjang

Bangunan pondok pesantren yang terletak di lingkungan pedesaan Kabupaten Langkat ini ditunjukan untuk memenuhi kegiatan belajar para santri.

Dengan mengarah ke sistem pembelajaran yang moderen, maka dari itu harus memiliki fasilitas yang mendukung segala kegiatan belajar para santri nantinya.

Dan pada dasarnya, para santri ataupun kyai dalam pondok pesantren memiliki kegiatan dan kebutuhan dalam kehidupan sehari-harinya, sebagai contoh kegiatan tersebut antara lain yaitu makan, mandi, beribadah, berolahraga, serta berobat disaat mereka sedang sakit. Untuk mendukung beberapa kegitan tersebut maka diperlukan fasilitas penujang yang nantinya diaplikasikan dalam pembagian dan pola ruang.

Tabel 4.1.5 Kebutuhan dan Besaran Ruang Fungsi Penunjang

PROGRAM KEBUTUHAN RUANG

NAMA RUANG KAPASITAS SUMBER STANDART PERHITUNGAN (m²) TOTAL (m²)

Engineering, dll

Ruang security 2 orang, 4 unit NAD

1,5 m²/org (2x1,5)+(2x0,4)+(1x0,6)+2

25,6 0,4 m²/kursi : 3+0,8+0,6+2

0,6 m²/meja : 6,4x4 unit

2 m²/wc

Ruang

engineering 4 orang, 1 unit NAD 15 m²/unit 1x15 15,0

Ruang staff 5 orang, 1 unit NAD 24 m²/unit 1x24 24,0

Ruang genset 1 orang, 1 unit SBT 20 m²/unit 1x20 20,0

Ruang

trafo/panel 1 orang, 1 unit SBT 40 m²/unit 1x40 40,0

Ruang pompa 1 orang, 1 unit SBT 20 m²/unit 1x20 20,0

(8)

57

Ruang CCTV 1 orang, 1 unit SBT 30 m²/unit 1x30 30,0

Ruang UKS 2 unit KEMENDIKBUD 12m²/unit 2x12 24,0

Ruang laundry 10 orang, 1 unit SBT 5 m²/orang 10x5 50,0

Gudang linen 2 orang, 1 unit NAD 1,5 m²/orang 2x1,5 3,0

Pantry/kantin 276 orang, 1 unit 3 lt AS 384 m² 1x384 384,0

Ruang purchasing

Loading dock, 10 orang

NAD

1,5 m²/orang 10x1,5 15,0

Gudang umum, 5 orang 1,5 m²/orang 5x1,5 7,5

Gudang bahan, 5 orang 1,5 m²/orang 5x1,5 7,5

Ruang pengolah

sampah 40 m² 1x40 40,0

Ruang ATM 1 unit, 5 mesin AS 3 m²/mesin 1x15 15,0

Ruang parkir

Max 3000 orang, 60 SRP

DIRJEN PERDA 12,5

m²/mobil 20x12,5 250,0

: jumlah santri 720 42,5 m²/bus 4x42,5 170,0

1,5 m²/motor 20x1,5 30,0

Ruang parkir guru

Max 3000 orang, 60 SRP

DIRJEN PERDA 12,5

m²/mobil 6x12,5 75,0

: jumlah kyai/guru 48 42,5 m²/bus 0 0,0

1,5 m²/motor 10x1,5 15,0

Taman/RTH

1260,6

Sirkulasi 30% 378,2

1638,8

Sumber : Asumsi pribadi

4.3 Analisa Site

4.3.1 Analisa Pemilihan Tapak

Berikut merupakan beberapa persyaratan tapak bagi Pondok Pesantren : 1. Dapat dicapai dengan kendaraan bermotor, baik beroda 2 ataupun roda 4 2. Dapat dicapai dengan bus (dikondisikan)

3. Tersedia jaringan air bersih

4. Tersedia drainase dan pembuangan air kotor 5. Tersedia jaringan listrik

6. Tersedia jaringan telepon 7. Tersedia jaringan internet

8. Lahan terhindar dari pencemaran air (sesuai PP RI No. 20 Tahun 1990) 9. Lahan terhindar dari kebisingan (sesuai Keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup No. 48 tahun 1996)

(9)

58 4.3.2 Analisa Pencapaian Tapak

Analiasa pencapaian ini untuk menentukan akses menuju jalur masuk yang utama (Main Entrance), berikut ini visualisasi dari analisa pencapaian tapak.

4.3.3 Batas Site

Batasan site yang memiliki beberapa view dari berbagai arah, dikarenakan site berada di kawasan pedesaan maka yang banyak ditemukan adalah rumah- rumah warga, dan tidak terdapat gedung bertingkat atau semacamnya.

Gambar 19. Lokasi Site Sumber. Google Maps

Jalan utama Luas jalan ± 8m

Untuk 2 jalur

Main Entrace Menuju Pondok Pesantren

Jalur Alternatif Gambar 20. Analisa Pencapaian Tapak

Sumber. Data Pribadi, 2022

(10)

59 4.3.4 Analisa Orientasi Bangunan

Orientasi bangunan merupakan view-view unggulan pada lokasi, dan pengolahan fasad berdasarkan tanggapan yang berada di lingkungan sekitar yang telah terbentuk.

Orientasi bangungan diarahkan terhadap view-view yang memberikan pemandangan bagi bangunan, juga memberi view bagi lingkungan sekitar bangunan.

a. Orientasi bangunan lebih mengarah pada :

Orientasi bangunan yang baik yaitu menghadap arah utara dan selatan, di dalam kawasan pesantren ini terdapat bangunan yang berbentuk persegi panjang yaitu gedung asrama santri dan gedung kelas. Pengaplikasian sun-shading pada bangunan nantinya akan meminimalisir cahaya matahari yang langsung masuk ke dalam bangunan, peletakan sun- shading berupa overstek dan selasar bagian depan bangunan. Sementara bukaan pada bangunan sangat berpengaruh dalam memperoleh cahaya matahari yang masuk kedalam bangunan agar dapat menghemat energi pada waktu siang hari.

b. Bangunan memberi view bagi lingkungan melalui : - View dari luar ke dalam

Gambar 21. Batas Site Sumber. Data Pribadi, 2022

BARAT View pada bagian barat terdapat

rumah warga

SELATAN View pada bagian selatan terdapat masjid Al-Muttaqin

UTARA View pada bagian utara terdapat

rumah warga dan dikelilingi pepohonan rimbun

TIMUR

View pada bagian timur terdapat rumah warga dan beberapa area tanah kosong

(11)

60

Dikarenakan pada sekitar area site tidak terdapat bangunan bertingkat maka view yang di dapat dari luar ke arah bangunan tidak terhalang sehingga dapat terlihat cukup jelas, yang mana nantinya bangunan pesantren ini juga dapat dijadikan sebagai view terbaik dan sebagai penanda dari Kawasan pedesaan tersebut.

- View dari dalam keluar

Dimana dari view dalam tapak mengarah ke Jl. Beteng Rejo atau jalan utama yang merupakan view terbaik, dikarenakan pandangan keluar masih dapat terlihat banyak area lahan kosong persawahan milik warga sekitar dan banyak pepohonan sehingga dapat memberikan suasana pedesaan yang nyaman.

4.3.5 Analisa Kebisingan

 Pada bagian utara, timur, dan selatan tingkat kebisingan sedang yang berkisar 52 dB dikarenakan hanya terdapat rumah-rumah warga, tidak terdapat pabrik dan semacamnya yang menyebabkan kebisingan yang terlalu tinggi.

 Pada bagian barat kebisingan rendah berada di bawah 52 dB dikarenakan terdapat lahan kosong yang lumayan luas dan masih terdapat banyak pepohonan rimbun.

KEBISINGAN TINGGI KEBISINGAN SEDANG KEBISINGAN RENDAH

KETERANGAN

Gambar 22. Analisa Kebisingan Sumber. Data Pribadi, 2022

(12)

61

Dari analisa diatas memberikan gambaran bahwa kebisingan dari area luar site tidak menyebabkan gangguan nantinya, untuk aktifitas yang berlangsung didalam site. Tetapi yang harus di antisipasi adalah, tingkat kebisingan yang nantinya akan di timbulkan dari kawasan pesantren terhadap lingkungan sekitar site, maka dari itu akan dibuat pagar tembok setinggi 2 meter disekeliling site guna menurunkan kebisingan halaman sebesar rata-rata 9,02 dB.

4.3.6 Analisa Pergerakan Matahari

 Arah matahari terbit dari timur dan terbenam kearah barat

 Matahari merupakan sumber penerangan alami yang dapat digunakan semaksimal mungkin sebagai pencahayaan utama pada saat siang hari, sehingga dapat menghemat pemakaian energi listrik untuk menerangi suatu ruang maupun area tertentu.

 Sementara matahari juga memiliki dampak yang tidak baik dari sinar Ultra Violet nya sehingga dapat membahayakan kulit manusia.

 Sinar matahari juga dapat dimanfaatkan menjadi energi listrik dengan menggunakan solar panel.

 Dikarenakan lokasi site yang masih banyak di kelilingi pepohonan rimbun, maka cahaya matahari pada siang hari sedikit banyaknya dapat terhalang dan memberikan suasana teduh.

 Dikarenakan juga disekitar site belum terdapat bangunan besar dan bertingkat, maka dapat diasumsikan lokasi site akan mendapatkan sinar matahari secara maksimal.

Gambar 23. Analisa Matahari Sumber. Data Pribadi, 2022

SITE

(13)

62 4.3.7 Analisa Pergerakan Angin

Analisis angin digunakan untuk menentukan penempatan bukaan ataupun ventilasi pada suatu bangunan. Antara lain jika suatu bangunan yang dirancang cukup tinggi di area dimana bangunan sekitar lebih rendah analisis angin diperlukan untuk menghindari terjadinya turbulensi angin (kecepatan aliran udara berubah drastis) yang diakibatkan oleh perbedaan ketinggian bangunan dengan bangunan sekitarnya yang lebih rendah menahan angin dan menimbulkan terjadinya turbulen berupa pusaran angin kencang.

Pergerakan angin di area site akan di jabarkan seperti berikut :

- Pergerakan angin berasal dari arah barat daya menuju ke arah timur laut, lalu arah angin berputar (melawan arah jarum jam) dari timur laut tersebut ke arah barat dan barat laut.

- Kemudian pergerakan angin yang berasal dari barat dan barat laut berputar (melawan arah jarum jam) menuju kearah timur laut dan ke arah utara.

- Sementara pergerakan angin dari arah tenggara berputar (melawan arah jarum jam) menuju kembali ke arah barat dan barat laut.

Kecepatan angin pada area site dengan ketinggian 10 m diatas tanah ± 2 m/s

Gambar 24. Analisa Angin Sumber. Data Pribadi, 2022

(14)

63 4.3.8 Analisa Curah Hujan

Curah hujan pada site diasumsikan 1,3 mm per 3 jam, maka dalam 24 jam curah hujan tercatat menjadi 10,4 mm sementara dalam sebulan terhitung curah hujan mencapai 312 mm. Curah hujan dapat meningkat pada saat musim penghujan yang berlangsung mulai dari bulan September sampai 3 bulan kedepan.

Dikarenakan lokasi site masih di kelilingi banyak tanah kososng yang terdapat pepohonan rimbun, maka ketika intensitas curah hujan naik, dapat terserap oleh tanah dan akar-akar pohon yang ada, sehingga diasumsikan kecil kemungkinan terjadi nya banjir di lokasi site.

Gambar 24. Analisa Curah Hujan Sumber. Data Pribadi, 2022

(15)

64

4.3.9 Analisa Aksesibilitas Menuju Lokasi Site

Untuk pencapaian menuju lokasi site tidaklah terlalu sulit, antara lain dapat melalui :

1. Dari arah RSU PTPN II Tanjung Selamat sekitar 5 menit 2. Dari arah Indomaret Batang Serangan sekitar 8 menit 3. Dari Masjid An-Nuur Tanjung Selamat sekitar 2 menit 4. Dari arah Dusun Beteng Sari sekitar 10 menit

4.3.10 Jalur Pedestrian dan Vegetasi

Area di sekitar site belum terdapat jalur pedestrian, kareana site berada di lingkungan pedesaan, tidak seperti area kota yang memiliki kepadatan dari aktifitas transportasi, maka area kota tersebut menyediakan jalur pedestrian yang diperuntukkan kepada pejalan kaki.

Sementara untuk vegetasi yang ada di sekitar area site terdapat pepohonan dengan ukuran yang tidak sama dimana kondisi ini dapat memberikan kesan yang lebih lunak dan nyaman.

Gambar 25. Pencapaian Akses ke Lokasi Site Sumber. Data Pribadi, 2022

(16)

65 4.3.11 Jalur Drainase

Berdasarkan tinjauan lokasi sekitar site memiliki saluran drainase yang kurang baik sehingga perlu penataan kembali saluran-saluran yang bermasalah dan perlu penambahan saluran drainase demi kelancaran sistem drainase nantinya. Dan berikut dibawah ini adalah foto dari beberapa drainase yang dangkal disekitaran lokasi site, sehingga jika terjadi hujan yang cukup deras maka akan menyebabkan genangan di kawasan tersebut.

4.4 Analisa Penzoningan

Zona dan tata masa bangunan dibentuk berlandaskan dari aktivitas islami. Dari hablum minallah yang menjadikan masjid (semi publik) sebagai titik kegiatan di pondok pesantren dan akan mejadi batas antara area luar lapangan (public) dengan area asrama pesantren (privat). Berpedoman dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan membuat beberapa pembagian masa bangunan yang sesuai dengan penataan yang telah ditetapkan dan penataan yang memaksimalkan sumber energi agar bisa lebih mudah masuk ke bangunan sehingga dapat menghemat energi dan memberikan kenyamanan untuk penggunanya.

Gambar 26. Saluran Drainase yang Dangkal Sumber. Data Pribadi, 2022

(17)

66 4.5 Analisa Sistem Struktur

Analisa struktur pada pondok pesantren modern ini secara keseluruhan menggunakan konsep struktur kaku. Bentuk dasar bangunan pesantren adalah empat persegi panjang, yang dirancang simetris bentuk dan kekakuannya. Dengan peletakan kolom-kolom struktur disesuaikan dengan pola ruang yang ada. Sementara demi mendukung konsep keberlanjutan, material pada kolom-kolom struktur akan menggunakan baja karbon (carbon stell), pada bangian dinding menggunakan material bata jamur (mushroom brick), sekat dinding menggunakan serat busa (rock wool) dan sebagai tulangannya menggunakan kayu yang terbuat dari koran bekas (newspaper wood), sementara balok dan plat lantai menggunakan kayu laminasi (glulam wood). Selanjutnya dikombinasikan dengan struktur penahan gempa guna mencegah/mengurangi timbulnya torsi (gerakan berupa dorongan) bila terjadi gaya lateral gempa.

Pada bagian pondasi nantinya akan menggunakan pondasi setempat dengan bantuan Tie Beam untuk menahan gaya gravitasi dari beban mati yang ditopang di atasnya.

Agar bangunan juga mempunyai kekakuan terhadap gaya lateral gempa, maka setiap blok bangunan, dindingnya menggunakan bracing dan pengaku bangunan di kedua arah sumbunya.

Gambar 26. Analisa Penzoningan Sumber. Data Pribadi, 2022

(18)

67

Kerangka atap (kuda-kuda) dengan kerangka langit-langit juga dirancang agar dapat bekerja sebagai diafragma yang kaku, yang dapat menyalurkan gaya lateral dari dinding dan tiang yang satu kepada yang lainnya dan di teruskan ke pondasi.

Adapun alternatif tipe strukturnya seperti berikut

a. Struktur kayu dengan dinding pengisi pasangan bata sebagai pengaku (diagonal bracing).

b. Struktur kayu dengan pengaku dinding – panel – kayu + cladding.

c. Dinding geser panel kayu (flat form system)

Sistem struktur akan di jabarkan menjadi 2 bagian dalam bentuk tabel seperti berikut :

1. Struktur atas/upper structure, yaitu bagian struktur gedung yang berada di atas muka tanah (SNI 2002). Struktur atas dapat dijabarkan menjadi beberapa bagian, yaitu :

a. Struktur atap

Atap adalah bagian konstruksi yang berada pada bagian paling atas di sebuah bangunan. Atap sebagai penutup seluruh ruangan yang ada di bawahnya, sehingga terlindung dari cuaca panas, hujan, dan angin.

Tabel 4.1.6 Jenis-jenis rangka atap Jenis Rangka Atap

Rangka baja ringan

+ Bobot ringan, tahan api, dan tahan korosi.

- Mahal, mudah terbawa angin, rentan roboh, proses pembuatan tidak ramah lingkungan, butuh tenaga ahli.

Rangka kayu

+ Mudah dikerjakan, fleksibel, dan memberikan nuansa alami.

- Mudah dimakan rayap, mudah terbakar, mudah mengembang dan menyusut.

Rangka beton bertulang

+ Daya tahan kuat, menghalau panas, dan modern.

- Mahal, rentan bocor, dan menghasilkan limbah.

(19)

68 Rangka baja

+ Keberlanjutan, elastis, pemasangannya cepat, minim perawatan, dan tahan gempa.

- Rentan terhadap api, mudah karat, mahal, dan membutuhkan tenaga ahli.

Rangka bambu

+ Estetika, mudah dibentuk/modifikasi, biaya murah, dan tahan gempa.

- Rentan terserang hama, mudah terbakar, dan sambungan kurang kuat.

Rangka besi cnp

+ Bobotnya ringan, efisiensi waktu pemasangan, dan fleksibel.

- Rentan terhadap api, mudah terbawa angin, pemasangan harus teliti, dan kurang estetis.

b. Struktur balok

Balok merupakan struktur yang digunakan sebagai dudukan lantai dan pengikat kolom lantai atas. Fungsinya sebagai rangka penguat horizontal.

Tabel 4.1.7 Jenis-jenis balok Jenis balok

Balok beton bertulang

+ Dapat menahan gaya tekan yang cukup tinggi - Kemampuannya tidak begitu kuat dalam

menahan gaya tarik.

Balok beton tak bertulang

+ Mampu menahan gaya tekan

- Tidak begitu kuat dalam menahan gaya tarik.

Balok kayu

+ Struktur fleksibel dan ringan, tahan gempa, pengolahan lebih mudah, tahan pengaruh listrik dan kimia.

- Rentan terbakar, rentan rayap, mudah lapuk, mudah menyusut/memuai, harga lumayan mahal jika ingin kualitas kayu yang bagus.

Balok baja

+ Cepat dalam pemasangan atau penyambungan, mudah dibentuk, dan dapat digunakan kembali.

(20)

69

- Rentan mengalami tekuk (buckling), mahal, rentan korosi/karat, rentan terhadap api.

Kantilever

+ Estetika, mudah diaplikasikan untuk interior /eksterior, memberikan kesan lapang, kontruksi nya yang hemat.

- Relatif mahal, memerlukan tenaga ahli, memerlukan pondasi yang benar-benar kokoh.

c. Struktur kolom

Kolom adalah elemen struktur tekan yang memiliki peran penting dari suatu bangunan. Fungsi kolom yaitu sebagi penerus beban seluruh bangunan ke pondasi.

Tabel 4.1.8 Jenis-jenis kolom Jenis kolom

Kolom beton bertulang

+ Struktur sangat kokoh, memiliki kekuatan tekan yang lebih tinggi, daya tahan yang baik terhadap api dan air sehingga lebih awet, relatif murah.

- Saat pekerjaan merakit besi beton membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak kuat terhadap gaya tarik, kualitas tergantung dari proporsi campuran dan juga pengadukannya.

Kolom baja

+ Keberlanjutan, penyambungannya mudah (baut, paku keeling, atau las), dapat digunakan kembali setelah pembongkaran.

- Rentan terhadap api, mudah karat, mahal, dan membutuhkan tenaga ahli.

Kolom kayu

+ Material mudah didapatkan, pengerjaan mudah, abai terhadap perubahan suhu, tahan terhadap pengaruh kimia/listrik, dapat meredam suara, alami dan dapat diperbaharui.

- Mudah menyusut, rentan terhadap rayap,rentan terhadap api, dan harga relatif mahal.

Kolom bata

+ Estetika, meningkatkan stabilitas struktur susunan bata (masonry), jarang terjadi retakan, harga relatif murah.

(21)

70

- memiliki bobot yang berat dan memberi beban lebih pada struktur bangunan.

d. Struktur dinding

Dinding merupakan elemen bangunan yang berfungsi memisahkan dan membentuk ruangan.

Tabel 4.1.9 Jenis-jenis dinding Jenis Dinding

Bata merah

+ Mudah disusun, mudah diangkut, harga relatif murah, tahan terhadap api.

- Sulit membuat pasangan bata yang rapih, membuat suhu ruangan tidak stabil, boros dalam menggunakan material perekat, memiliki bobot yang berat dan memberi beban lebih pada struktur bangunan.

Bata ringan/hebel

+ Kualitasnya seragam, tidak memerlukan material perekat yang tebal, lebih ringan dibandingkan bata merah, kedap air, kedap suara, kekuatan nya cukup baik.

- Ukuran nya cukup besar, memerlukan tenaga ahli, harga relatif mahal.

Batako

+ Ukurannya lebih ekonomis, mudah di pasang, kuat dan kedap air.

- Berat, mudah retak, menyerap suhu panas, rentan terhadap guncangan.

Kayu

+ Memperlihatkan estetika, memberikan kesan alami, pengerjaan lebih cepat, ramah lingkungan.

- Proses instalasi lebih rumit di awal, sedikit sulit dimodifikasi, dan rentan terbakar api.

ACP

+ Permukaan halus, tahan terhadap api, mudah diaplikasikan, estetika, tahan karat, dan mudah di bersihkan.

(22)

71

- Ralatif mahal, membutuhkan tenaga ahli, resiko tersambar petir karena bahannya dari logam.

Kaca

+ Memaksimalkan view luar bangunan, stabil terhadap tempratur, membuat ruang/bangunan terlihat lebih luas, dapat meneruskan Cahaya dengan baik, material mudah didapatkan.

- Harga material serta pemasangan relative mahal, membutuhkan tenaga ahli, tidak tahan terhadap getaran, tidak mampu menahan beban berlebih, diperlukan perawatan extra, dapat meneruskan hawa panas dari sinar matahari, bobotnya lumayan berat.

Bata jamur (mycelium brick)

+ Ramah lingkungan, lebih kuat dari batu bata biasa, meningkatkan ekonomi petani, tidak mudah terbakar api, ringan, ukurannya dapat di bentuk sesuai keinginan.

- Belum banyak di produksi di Indonesia, saat ini hanya diproduksi di kota Bandung, dan butuh tenaga ahli.

e. Struktur lantai

Plat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung, jadi merupakan lantai tingkat. Plat lantai didukung oleh balok yang bertumpu pada kolom bangunan.

Tabel 4.1.10 Jenis-jenis lantai Jenis Lantai

Plat lantai beton

+ Lebih kuat, dapat mendukung beban yang besar, merupakan isolasi suara yang baik, tidak dapat terbakar, kedap air, dapat dipasang ubin dan sejenisnya.

- Mudah lembab/berlumut, sulit diperbaiki, karena sifatnya yang keras menjadikannya kurang nyaman saat dipijak.

Plat lantai kayu

+ Ekonomis, mudah dalam pembuatan, bobot yang ringan, harga relatif lebih murah.

(23)

72

- Hanya diperbolehkan untuk konstruksi bangunan yang sederhana/ringan, bukan media peredam yang baik, rentan terbakar api, tidak tahan air/ mudah bocor, dan tidak bisa di lapisi ubin atau sejenisnya, dapat terpengaruh oleh cuaca, kurang awet/tidak tahan lama.

Plat lantai baja

+ Permukaan tidak licin, pemasangan nya mudah, sangat kokoh, dan ringan sehingga tidak membebani struktur bangunan di bawahnya.

- Rentan terhadap korosi

2. Struktur bawah/lower structure, yaitu seluruh struktur gedung yang berada di bawah muka tanah. Struktur bawah dapat dijabarkan menjadi beberapa bagian, yaitu :

a. Pondasi

Pondasi merupakan bagian yang nantinya akan menopang keseluruhan beban yang disalurkan dari struktur atas, pondasi juga berhubungan langsung dengan tanah. Untuk membuat pondasi diperlukan perhitungan untuk dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap beratnya sendiri, dan beban bangunan (termasuk beban isi bangunan), juga stabil terhadap gaya luar seperti tekanan angin, gempa bumi, dan lainnya. Pondasi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu :

Tabel 4.1.11 Jenis-jenis pondasi dalam Pondasi Dalam

Pondasi dinding diafragma

+ Dapat dilaksanakan dalam beberapa jenis tanah dan berbagai kedalaman,

- Biaya konstruksi relatif mahal, diperlukan tenaga ahli

(24)

73 Pondasi tiang pancang

+ Pondasi lebih kuat dan kokoh, umur pondasi lebih panjang, meminimalisir dalam pekerjaan penggalian tanah, mampu memadatkan material tanah, dan tahan korosi.

- Proses produksinya lama, bobotnya sangat berat, harganya mahal.

Pondasi bor pile

+ Cocok dan aman diaplikasikan di kawasan sempit dan padat bangunan, tidak menimbulkan getaran yang begitu keras, tidak menimbulkan pergeseran tiang/gelombang pada tanah saat proses pengeboran, mempunyai kletahanan yang tinggi terhadap beban lateral.

- Rentan terhadap cuaca saat melakukan pengeboran, kepadatan tanah saat pengeboran akan mengalami penurunan, dapat menimbulkan tanah longsor jika tidak menggunakan casing, rentan terkena timbunan lumpur pada dasar lubang.

Tabel 4.1.12 Jenis-jenis pondasi dangkal Pondasi dangkal

Pondasi raft

+ Stabilitas yang tinggi, dapat mengatasi karakter tanah yang tidak stabil, mampu menahan beban yang berat, tahan terhadap gempa bumi, tidak perlu melakukan penggalian yang terlalu dalam.

- Tidak cocok untuk karakter tanah yang berbatu atau berlumpur, Teknik konstruksinya cukup rumit, dapat menimbulkan masalah drainase, tidak cocok untuk tanah yang memiliki tingkat air yang tinggi.

Pondasi tapak

+ Biaya pembuatan relatif lebih murah, proses pembuatan yang sederhana, cocok diaplikasikan pada tanah yang dangkal, awet dan tahan lama.

- Proses pembuatannya minimal 28 hari sebelum bangunan utama akan dibuat, beberapa bagian

(25)

74

harus dibuat dengan cetakan khusus, membutuhkan pengalaman khusus untuk memasangnya dengan baik.

Pondassi menerus

+ Beban bangunan dapat disalurkan secara merata, konstruksinya sederhana, dimensi pondasi dapat disesuaikan, waktu pengerjaan relatif cepat.

- Memerlukan biaya dan tenaga yang besar saat membuat pondasi ini, tidak cocok digunakan untuk bangunan yang lebih dari dua lantai, tidak terlalu kuat meskipun untuk menahan bangunan sederhana.

b. Galian tanah

Galian tanah harus diperhitungkan dengan ukuran, lebar dan kedalaman harus sesuai dengan peil dan instruksi yang dicantumkan oleh arsiteknya. Galian tanah juga diberlakukan untuk jalur utilitas lainnya.

c. Konstruksi basement

Konstruksi basement merupakan solusi ekonomis yang dapat mengatasi keterbatasan lahan dalam pembangunan gedung. Biasanya basement dijadikan lahan parkir.

Gambar 27. Pekerjaan Penggalian Tanah Sumber. Google, 2022

(26)

75 4.6 Analisa Sistem Utilitas

Berdasarkan konsep dari arsitektur berkelanjutan ada beberapa prinsip yang dapat digunakan untuk mendukung sistem utilitas pada rancangan pondok pesantren ini, yaitu:

4.6.1 Sistem Pencahayaan

Sistem pencahayaan terbagi menjadi dua bagian utama yang disesuaikan berdasarkan sumber energi yang di gunakan, yaitu sistem pencahayaan alami dan sistem pencahayaan buatan. Kedua sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang akan di jelaskan sebagai berikut :

Pemanfaatan cahaya matahari sebagai pencahayaan alami, cahaya matahari juga dapat digunakan untuk kebutuhan listrik menggunakan bantuan solar harvester.

a. Sistem pencahayaan alami

Pencahayaan alami merupakan sumber pencahayaan yang berasal dari sinar matahari, yang dimaksud bukanlah sorotan dari cahaya matahari langsung melainkan cahaya terang saat matahari diselimuti awan, sejatinya paparan sinar matahari langsung kurang baik karena mengandung gelombang ultraviolet. Tujuannya digunakan pencahayaan alami antara lain untuk menghasilkan cahaya berkualitas yang efisien serta meminimalkan penggunaan energi listrik. Selain itu pencahayaan alami dalam suatu ruangan dapat memberikan suasana yang lebih menyenangkan dan membawa efek positif lainnya dari sisi psikologi.

Gambar 27. Pekerjaan Basement Sumber. Google, 2022

(27)

76 b. Sistem pencahayaan buatan

Sistem pencahayaan buatan merupakan cahaya yang dihasilkan dari sumber cahaya selain cahaya alami (matahari), cahaya buatan berasal dari lampu yang berfungsi menyinari ruangan sebagai pengganti ketika sinar matahari tidak ada. Pencahayaan buatan dapat berfungsi pada siang hari ataupun malam hari. Cahaya buatan yang dihasilkan oleh lampu memerlukan tenaga listrik dan memerlukan biaya saat dipergunakan.

Sistem pencahayaan buatan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sistem pencahayaan langsung dan syitem pencahayaan tidak langsung.

1. Sistem pencahayaan langsung

Sistem pencahayaan langsung seperti penempatan lampu yang langsung menyinari bidang atau bagian ruang yang diinginkan. Sistem ini biasanya digunakan pada aktivitas yang memerlukan cahaya tinggi, seperti meja baca tulis, ruang kerja, dan sebagainya.

Gambar 28. Light Shelf Sumber. Jurnal Intra Vol. 3, 2015

Gambar 28. Contoh pencahayaan langsung

Sumber. Google, 2022

(28)

77

2. Sistem pencahayaan tidak langsung

Sistem pencahayaan tidak langsung seperti penempatan lampu selain pada bidang atau bagian ruang yang ingin disinari, contoh menempatkan lampu di bawah meja, di belakang lemari lampu yang menyorot dinding dan lain-lain.

Tujuannya agar tidak silau, sistem inidigunakan pada ruangan dengan aktivitas santai seperti ruang keluarga, lampu tidur, dan lainnya.

4.6.2 Sistem Penghawaan

Manusia membutuhkan udara serta ruang yang nyaman (thermal comfort) untuk melakukan aktivitas secara optimal. Jika dalam suatu ruangan yang panas dan pengap, manusia yang beraktifitas di dalamnya tentu merasa tidak nyaman dan terganggu sehingga tidak dapat focus dalam melakukan aktifitasnya dengan baik, bahkan bisa memberikan rasa tidak betah berada dalam ruangan tersebut. Maka dari itu suatu bangunan perlu memperhatikan sistem penghawaan demi mendapatkan kondisi ruangan yang memenuhi thermal comfort. Sistem penghawaan dibedakan menjadi dua tipe, yaitu : a. Sistem Penghawaan Alami

System penghawaan alami didapatkan dari pemanfaatan arah angin dengan orientasi pada bangunan sehingga sirkulasi udara sejuk dapat masuk kesetiap ruang yang ada. Angin akan masuk melalu setiap bukaan ataupun ventilasi yang terdapat disetiap bangunan. Penghawaan alami ini dapat dirasakan secara optimal pada area public ataupun semi public, sementara area privat akan sedikit mendapatkan penghawaan secara alami, dikarenakan ruangan yang tertutup.

Gambar 28. Contoh pencahayaan tidak langsung

Sumber. Google, 2022

(29)

78 b. Sistem Penghawaan Buatan

Penghawaan buatan atau ventilasi buatan merupakan penghawaan yang melibatkan peralatan mekanik. Penghawaan buatan sering juga disebut pengondisian udara (air conditioning) yaitu proses perlakuan terhadap udara di dalam bangunan yang meliputi suhu, kelembapan, kecepatan dan arah angin, kebersihan udara, bau, serta distribusinya untuk menciptakan kenyamanan untuk pengguna nantinya. Penghawaan buatan didapatkan melalui Kipas angin, AC (Air Conditioner) baik itu AC Split dan AC Floor Standing.

4.6.3 Sistem Air Bersih

Air merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi kehidupan manusia, terutama digunakan sebagai air minum, memasak makanan, mencuci, mandi dan kakus. Sumber air bersih dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :

a. Air Permukaan

Air permukaan paling banyak dimanfaatkan untuk air baku karena ketersediaannya yang lebih banyak, tetapi kualitasnya kurang baik dikarenakan pengaruh pencemaran dan erosi.

Gambar 28.

Penghawaan alami Sumber. Ir. I Nyoman

Sudiarta, Penghawaan Alami. 2022

Gambar 29. Ac split Sumber. Google. 2022

Gambar 30. Ac standing floor Sumber. Google. 2022

Gambar 31. Kipas angin, dan kipas angin gantung Sumber. Google. 2022

(30)

79 b. Air Tanah

Secara alamiah, kualitas dari air tanah dipengaruhi oleh susunan kimia batuan yang dilalui selama proses peresapan. Kualitas air tanah juga berbeda-beda tergantung wilayah batuan dan daerah tangkapnya. Air tanah mengalami proses pelaruatan mineral air, penyaringan dan pembersihan diri, sehingga kualitasnya cukup baik untuk digunakan sebagai air minum.

c. Air Hujan

Air hujan bersifat asam dan lunak, dapat dimanfaatkan untuk keperluan air minum dan rumah tangga dengan teknik pengumpulan dari atap bangunan.

Kebutuhan air bersih dalam suatu perencanaan perlu memerhatikan beberapa hal, yaitu kebutuhan air domestik dan non domestik. Dengan mempertimbangkan hal tersebut perolehan kebutuhan air bersih dapat mendekati hasil nyata dan dijadikan acuan dasar perencanaan atau pengembangan sistem jaringan distribusi air bersih.

Kebutuhan air domestik merupakan kebutuhan air yang digunakan pada tempat-tempat hunian pribadi dalam memenuhi keperluan sehari-hari.

Sementara kebutuhan air non domestik dipengaruhi dari besarnya pemakaian oleh pengguna yaitu penggunaan umum serta penggunaan komersil dan industri. Jumlah total kebutuhannya perlu diperhitungkan sesuai dengan fasilitas yang ada. Kebutuhan air non domestik dapat diasumsikan seperti dalam tabel berikut

Tabel 4.1.13 Kebutuhan Air Non Domestik Kategori I, II, III, IV

No. Sektor Nilai Satuan

1. Sekolah 10 lt/murid/h

2. Rumah Sakit 200 lt/bed/h

3. Puskesmas 2000 lt/unit/h

4. Masjid 3000 lt/unit/h

5. Kantor 10 lt/pegawai/h

6. Pasar 12000 lt/ha/h

7. Hotel 150 lt/bed/h

8. Rumah Makan 100 lt/kursi/h

(31)

80

9. Komplek Militer 60 lt/orang/h

10. Kawasan Industri 0.2 – 0.8 lt/s/h Sumber: Ditjen Cipta Karya, Dep. Pu, 1997

Tabel 4.1.14 Kebutuhan Air Non Domestik Kategori Lain

No. Sektor Nilai Satuan

1. Lapangan Terbang 10 lt/orang/h

2. Pelabuhan 50 Lt/orang/h

3. Stasiun KA dan Terminal Bus 10 lt/orang/h

4. Kawasan Industri 0.75 lt/s/h

Sumber: Ditjen Cipta Karya, Dep. Pu, 1997

4.6.4 Sistem Air Kotor

Sistem aliran air kotor merupakan hal yang penting dalam perancangan bangunan. Karena hal tersebut merupakan salah satu pertimbangan dalam membuat bangunan dikarenakan sanitasi akan di bangun saat pembangunan di mulai, dan hampir tidak bisa di ganti saat bangunan sudah berdiri. Sistem air kotor merupakan sistem instalasi untuk menyalurkan air kotor yang berasal dari tempat-tempat air di suatu bangunan (seperti dapur, kamar mandi, washtafel dll).

Gambar 32. Sistem aliran air kotor dan ven Sumber. Noerbambang & Morimura, 2005

(32)

81

Sistem air kotor dipisahkan menurut teknik pembuangannya yaitu :

 Sistem pengasingan air campuran, yaitu suatu sistem pembuangan dimana air kotor dan air bekas dialirkan kedalam suatu drainase/pipa.

 Sistem pengasingan air terpisah, yaitu sistem pengasingan dimana air kotor dan air bekas setiap dialirkan secara terpisah atau memakai pipa yang berlainan.

Sistem aliran air buangan dipisahkan menurut peletakannya yaitu :

 Sistem pengasingan gedung, yaitu sistem pengasingan yang berada didalam gedung.

 Sistem pengasingan luar, yaitu system yang berada diluar Gedung, disebut juga roil Gedung.

Sebelum air buangan dari perlengkapan saniter maupun dari buangan dapur dilemparkan ke drainase umum/kota maka dilaksanakan pengolahan terlebih dahulu dengan Sewage Treatment Plant (STP), sehingga mengisi ambang baku yang dipersyaratkan.

Setiap gedung yang direncanakan harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman (dengan pengerasan) di dalam persil ke saluran pembuangan campuran kota.

Pengaliran air hujan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : 1. Sistem Gravitasi

Melalui pipa dari atap dan balkon menuju lantai dasar dan dialirkan langsung ke saluran kota.

2. Sistem Bertekanan

Air hujan yang masuk ke lantai basement melalui ramp dan air buangan lain yang berasal dari cuci mobil dan sebagainya dalam bak penampungan sementara (sump pit) di lantai basement terendah untuk kemudian dipompakan keluar menuju saluran kota.

(33)

82 4.6.5 Sistem Jaringan Listrik

Instalasi listrik merupakan bagian penting yang terdapat dalam sebuah bangunan gedung, yang berfungsi sebagai penunjang kenyamanan penghuninya. Pada intinya hamper seluruh peralatan yang ada pada bangunan membutuhkan tenaga listrik, yang mana pembebanan listrik tersebut mencakup :

 Penerangan / lampu

 Stop kontak dan motor kecil (untuk setrika, pompa air, dll)

 Peralatan HVAC (heating, ventilating, air cond)

 Peralatan plumbing dan sanitasi (pompa-pompa besar, pressure tank, dsb)

 Peralatan khusus (alat medis, alat laboratorium, alat mekanik, dll)

Sistem elektrikal pada suatu bangunan merupakan pemasok energi untuk penerangan, pendinginan, pemanasan, dan pengoprasian peralatan- peralatan listrik lainnya. Sistem tersebut harus dipasang sesuai dengan peraturan instalasi listrik yang berlaku sehingga memenuhi standar keamanan dan keselamatan bagi penggunanya. Umumnya daya listrik diperoleh dari perusahaan pemasok energi listrik PLN.

Teknik pemasangan jaringan kabel listrik sangat beragam; ada yang tertanam, terekspos, menggunakan pipa/saluran kabel, dibawah lantai, didalam dinding, diatas plafon, dsb. Semua itu tergantung kebutuhan, fungsi bangunan, kemudahan penempatan, fleksibilitas, estetika interior, perawatan dan keamanan.

Gambar 33. Sistem distribusi listrik gedung Sumber. Harri Purnomo, 2023

(34)

83

Setiap lantai bangunan, minimal harus ada 1 buah sub panel penerangan, apabila luas setiap lantai sangat besar, perlu dipasang beberapa sub panel penerangan. Setiap jenis peralatan mekanikal harus dipasang panel/sub panel tenaga yang terpisah dengan sub panel penerangan.

Ada beberapa poin yang harus diperhatikan saat melakukan perancangan intalasi listrik pada suatu bangunan, yaitu :

1. Menghitung pembebanan 2. Menghitung daya listrik 3. Menghitung kuat arus listrik 4. Menentukan jenis kabel listrik

4.6.6 Sistem Jaringan Telepon/Internet

Sistem jaringan telepon/internet pada suatu bangunan diciptakan untuk mengembangkan dan memberikan fasilitas serta kinerja yang maksimal dan efisien, sehingga fungsi dari bangunan tersebut dapat tercapai. Adapun beberapa tujuan dari pengaplikasian sistem jaringan telepon/internet pada bangunan yaitu :

a. Memberikan fasilitas dan kenyamanan komunikasi sesuai dengan fungsi bangunan gedung.

b. Memudahkan dalam pencapaian kinerja bagi pengguna gedung.

c. Memberikan hubungan dan jalur komunikasi dengan media terkait sesuai dengan fungsi gedung.

Gambar 34. Prinsip peletakan panel Sumber. Harri Purnomo, 2023

(35)

84

d. Memberikan hasil yang dapat dinikmati oleh pengguna atau public.

e. Peralatan komunikasi sebagai bagian yang harus terakomodasi dalam pekerjaan konstruksi.

Pada umumnya instalasi jaringan dalam suatu bangunan dibuat dalam bentuk diagram satu garis (single line diagram), baik untuk jaringan kabel listrik, telepon, internet dan lainnya yang terkait dengan fungsi dari bangunan itu.

1. Jaringan telepon

Untuk dapat berfungsinya sistem telekomunikasi didalam bangunan, diperlukan saluran telepon dan Telkom, yang memiliki fasilitas hubungan keluar lokal (dalam kota), hubungan keluar interlokal, atau hubungan internasional.

2. Jaringan kabel komputer

Jaringan komputer merupakan sekumpulan computer berjumlah banyak yang terpisah-pisah akan tetapi saling berhubungan dalam melaksanakan tugasnya. Misalnya dua buah computer dikatakan terkoneksi bila keduanya dapat saling bertukar informasi.

3. Jaringan internet

Komunikasi menggunakan teknologi internet hampir menjadi kebutuhan primer setiap orang. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang pesat menyebabkan perubahan pola sistem jaringan menjadi semakin efisien. Awal mula teknologi internet (interconnection-networking) hanya untuk menghunbungkan jaringan antar computer berbasis Internet Protocol (IP) sebagai protokol pertukaran paket data.

Dan berkembang untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Pada umumnya media yang digunakan dalam transmisi komunikasinya, jaringan internet ini menggunakan satelit Geostasioner yang mengorbit pada titik yang sama diatas permukaan bumi dan mengikuti perputaran bumi pada sumbunya.

(36)

85

4.6.7 Sistem Jaringan Hydrant/Fire Sprinkler

Hydrant adalah sebuah sistem yang menggunakan air dengan tekanan tinggi untuk memadamkan api melalui sprinkler. Umumnya hydrant diinstalasi pada bangunan yang bersifat publik ataupun yang memiliki fasilitas umum seperti perkantoran, mall, gedung sekolah, dan sebagainya.

Sprinkler juga dapat berfungsi sebagai pendeteksi terhadap panas, dimana jika suatu ruangan mencapai titik didih maka air raksa pada sprinkler akan pecah dan mengalirkan air yang didapat dari pompa hydrant dengan tekanan tinggi.

Jenis sprinkler pada umumnya memiliki dua tipe, Wet sprinkler system dan Dry sprinkler system. Keduanya sama-sama memiliki sumber air dari ground tank. Pendistribusian yang juga sama, saat kepala sprinkler mendeteksi suhu panas dengan tempratur tertentu, pompa yang terpasang pada sistem bekerja sebagai pendistribusian utama dari ground tank menuju pipa, dan air dapat keluar melaui tiap-tiap kepala sprinkler.

Beberapa komponen yang ada dalam instalasi hydrant adalah sebagai berikut :

Gambar 35. Gambar distribusi jaringan internet Sumber. Direktorat Jendral Aplikasi Informatika, 2015

Gambar

Tabel 4.1.1 Fungsi Skunder Pondok Pesantren Fungsi Skunder
Tabel 4.1 Fungsi Primer Pondok Pesantren Fungsi Primer
Tabel 4.1.5 Kebutuhan dan Besaran Ruang Fungsi Penunjang
Gambar 19. Lokasi Site  Sumber. Google Maps
+7

Referensi

Dokumen terkait