• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut dengan Tema Biophilic

N/A
N/A
Mas Tube

Academic year: 2025

Membagikan "Perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut dengan Tema Biophilic"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Konsep Perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Dengan Penerapan Tema Biophilic

Ulfa Misria1, Muslimsyah2, Muftiadi2

1Mahasiswa Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

2 Dosen Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala Email: [email protected]

Abstract

Along with the times, the general requirements for the quality of dental and oral health services have increased, especially in the Aceh region in 2013 reaching 64% of the population experiencing caries (dental and oral problems). By handling more specific dental problems, of course, you need a special dental and mouth hospital. This hospital covers emergency, outpatient and inpatient services. In planning and designing an object to overcome these problems, it is necessary to design an RSGM that can meet the community's need for dental and oral health so that it can facilitate and serve dental and oral health. The design of this RSGM is based on a Biophilic concept in which the patient's healing method is not only obtained from the medical department but will also be obtained from the design object in the form of a building that will be used by the patient.

Keywords: Hospital, Dental Hospital, and Biophilic

Abstrak

Seiring dengan perkembangan zaman, syarat umum mutu pelayanan kesehatan gigi dan mulut mengalami peningkatan, khuhusnya pada daerah Aceh pada tahun 2013 mencapai 64% penduduk yang mengalami karies (masalah gigi dan mulut). Dengan penanganan permasalahan gigi yang lebih spesifik tentunya memerlukan rumah sakit khusus gigi dan mulut. Rumah sakit ini melingkupi pelayanan gawat darurat, rawat jalan dan rawat inap. Dalam merencanakan dan merancang suatu objek untuk mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan desain RSGM yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan gigi dan mulut sehingga dapat memfasilitasi dan melayani kesehatan gigi dan mulut. Perancangan RSGM ini berlandaskan pada sebuah konsep Biophilic yang mana metode penyembuhan pasien tidak hanya didapatkan dari bagian medis tetapi juga akan didapatkan dari objek rancangan berupa bangunan yang akan digunakan oleh pasien.

Kata kunci: Rumah Sakit, RSGM, dan Biophilic

1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Salah satu anggota tubuh yang sering mengalami gangguan kesehatan yaitu gigi dan mulut. Kesehatan pada gigi dan mulut merupakan aspek penting yang tidak terpisahkan daripada kesehatan lainnya.

Kerusakan gigi yang dibiarkan dan tidak segera ditangani dapat memicu timbulnya penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan

komplikasi sehingga akan membahayakan jiwa pasien. [1]

Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas tahun 2013), 25% masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat Indonesia adalah permasalahan gigi dan mulut. Provinsi Aceh sendiri mencapai 62,9% untuk masalah kesehatan gigi dan mulut.

Menurut laporan yang diterbitkan pada tahun 2014 oleh Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, masalah kesehatan gigi dan mulut berada diperingkat ke-14 dari total 20 penyakit dengan frekuensi kunjungan di rumah sakit di wilayah Banda Aceh

(2)

sebanyak 4.779 kunjungan. Berdasarkan uji pemeriksaan pada gigi dan mulut, kisaran usia yang paling banyak mengalami permasalahan gigi dan mulut di Kota Banda Aceh adalah usia 6 sampai 14 tahun.

Berdasarkan observasi awal pada RSUZA dan RSGM Unsyiah, jumlah pasien yang mengalami keluhan pada gigi dan mulut mengalami peningkatan setiap bulannya. Seiring dengan meningkatnya jumlah pasien yang mengalami permasalahan gigi dan mulut, dibutuhkannya suatu tempat yang dapat mewadahi segala aktivitas pengobatan dan dapat menampung jumlah pasien yang lebih banyak yaitu Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM).

RSGM merupakan rumah sakit khusus berbasis pelayanan medik gigi, memiliki berbagai latar belakang pasien yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya, sehingga berbagai sarana dan prasarana penunjang yang disediakan harus disesuaikan dengan kapasitasnya. Hal tersebut merupakan penyebab adanya pengelompokan untuk setiap pelayanan agar dapat memberikan rasa nyaman bagi pasien serta mengurangi resiko penyebaran penyakit.

Rancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut harus dapat memenuhi kebutuhan pengguna yang berada didalam bangunan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas pelayanan medis melalui ruang perawatan dengan desain yang nyaman dan aman serta memiliki fasilitas penunjang bagi pengunjung non medis.

1.2 Identifikasi Masalah

a. Provinsi Aceh mencapai 62,9% untuk masalah kesehatan gigi dan mulut.

b. Belum tersedia rumah sakit khusus gigi dan mulut di Banda Aceh.

2. Kajian Pustaka

2.1 Pengertian Rumah Sakit Gigi dan Mulut

Menurut Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, menegaskan bahwa rumah sakit merupakan lembaga pelayanan kesehatan bagi

masyarakat yang memiliki ciri tersendiri serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus dapat meningkatkan pelayanan lebih spesifik, akurat, dan terjangkau oleh masyarakat. (Republik Indonesia, 2009).

Menurut Permenkes nomor 1173 tahun 2004 di dalam pasal 1, Rumah sakit gigi dan mulut adalah suatu sarana pelayanan kesehatan yang menjalankan lembaga di bagian kesehatan gigi dan mulut individual untuk pengobatan dan pemulihan dengan tidak menghilangkan pelayanan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang dilakukan melalui pelayanan gawat darurat, rawat jalan dan tindakan medik. [2]

2.2 Klasifikasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut

Terdapat 3 klasifikasi pada Rumah Sakit Gigi dan Mulut khusus yaitu Tipe A, B, dan C. untuk menentukan jenis Tipe pada Perancangan dapat dilihat dari Jumlah pasien tiap tahunnya. Jumlah pasien yang ada pada RSGM Unsyiah dan Poli Gigi Mulut RSUZA pada tahun 2017 sampai 2019 rata-rata mencapai 83 pasien perhari.

Menurut Pasal 16 PKM no.3 tahun 2020 maka RSGM yang cocok untuk di rancang adalah RSGM tipe B. [3]

Klasifikasi pada Rumah Sakit Gigi dan Mulut direncanakan untuk pengembangan jaminan mutu Kesehatan pada tahun yang akan dating. Ketentuan dalam menentukan jenis pelayanan yang ada, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta peralatan yang ada di rumah sakit telah diatur pada peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor

340/MENKES/PER/III/2010.

2.3 Konsep Biophilic

Istilah biophilia mulai popular dan mulai dikenal pada tahun 1984 dipelopori oleh Edward O. Wilson yang merupakan seorang ahli biologi pada Universitas Harvard. Menurut Edward O. Wilson biophilia merupakan suatu dorongan yang dimiliki oleh manusia saling berhubungan

(3)

dan membentuk aliansi dengan bentuk- bentuk kehidupan atau dikenal dengan mencintai kehidupan.

Desain biophilic merupakan suatu desain yang memberikan sugesti bagi orang- orang untuk merasakan hidup lebih baik dengan menghilangkan hal-hal yang memperburuk kondisi seseorang. Hal ini memberikan kesempatan untuk beraktifitas pada tempay yang menjamin akan Kesehatan yang tinggi dengan angka stres yang rendah dengan melibatkan alam kedalam desain pada kehidupan sehari-hari.

(Browning, Ryan, & Clancy, 2014).

Rumah Sakit Gigi dan Mulut adalah kawasan bangunan yang menampung aktifitas di bidang kesehatan dan penyembuhan. Untuk menunjang proses penyembuhan pasien, sebuah rumah sakit harus menghadirkan desain yang dapat memberikan kenyamanan bagi pasien dan juga dapat memberikan efek positif yang dapat diterima oleh pasien yang datang dan membuat pasien nyaman berada didalam dan disekitaran bangunan. Desain yang akan diterapkan adalah “biophilic design”.

Dalam beberapa kasus bangunan yang menggunakan desain Biophilic terbukti mampu berpengaruh terhadap kesembuhan pasien.

2.4 Prinsip-Prinsip Biophilic

Perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut menerapkan tema biophilic berdasarkan prinsip-prinsip desain biophilic seperti:

a. Berkaitan langsung dengan alam b. Keterkaitan dengan alam tetapitidak

menggunakan bahan dari alam c. Suhu dan sirkulasi udara

d. Cahaya yang maksimal dan menyebar e. Koneksi material dari alam

3. Metode Perancangan 3.1 Data Primer

Perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut menggunakan beberapa aspek dalam menentukan suatu rancangan yaitu melalui bentuk rancangan, pendekatan dengan pemilihan bentuk tapak dan lingkungan

sekitarnya, maka perlu dilakukan beberapa analisis dalam pemilihan tapak.

Terdapat 3 alternatif dalam pemilihan tapak, setelah dilakukannnya perbandingan berdasarkan berbagai kriteria lokasi yang terpilih sebagai tapak perancangan adalah lokasi yang berapa pada Jl. Cut Meutia, KP.

Baru, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh terlihat pada (Gambar 1).

Gambar 1. Lokasi Site Perancangan Sumber: Bappeda Kota Banda Aceh

Lokasi yang terpilih termasuk ke dalam tata guna lahan sebagai pelayanan umum dengan kepadatan sedang sesuai dengan RTRW Kota Banda Aceh. Lokasi perancangan yang terpilih Sesuai RTRW kota Banda Aceh tahun 2009-2029. Lokasi yang dipilih merupakan kawasan yang diperuntukkan sebagai tempat pelayanan umum. Adapun potensi yang terdapat pada lokasi tapak yang terpilih diantaranya yaitu:

a. Peruntukan lahan berupa kawasan pelayanan umum yang mendukung kegiatan dalam bidang Kesehatan.

b. Kondisi lingkungan sangat mendukung vegetasi sekitar lahan termasuk rimbun dan cukup asri untuk dijadikan pusat kesehatan karena mempertimbangkan lokasi yang membuat pengunjung tidak merasa stress dan tertekan.

c. Aksesibilitas ke lokasi tapak dapat dijangkau menggunakan fasilitas umum maupun fasilitas pribadi.

d. Kondisi fisik lahan berupa daerah daratan dan tidak ber kontur, struktur tanah relatif baik. penanganan khusus terhadap tapak tidak terlalu banyak

(4)

diubah. Suhunya juga terbilang cukup nyaman.

e. Sarana dan Prasarana pada tapak juga terbilang cukup baik. Tapak disamping sungai yang memiliki drainase yang baik dan aksesibilitas jalan yang sudah baik dan menggunakan aspal.

3.2 Data Sekunder

Data sekunder dalam perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut diperoleh berdasarkan sumber tertulis yang berkaitan dengan perancangan diantaranya :

a. RTRW Kota Banda Aceh untuk menjelaskan kondisi umum lingkungan lokasi perancangan, serta rencana perencanaan wilayah potensial dan juga peta wilayah.

Adapun kriteria dan karakteristik tapak perancangan adalah sebagai berikut :

Land Use : Pelayanan Umum Luas Lahan : 20.048m2

KDB Maksimum : 20.048m2 x 70%

= 14.033 m2 KLB Maksimum : 20.048m2 x 3,5 = 70.168m2 KB Maksimum :70.168m2 : 14.033m2

= 4 lantai

b. Studi literatur informasi dan data yang berkaitan seperti persyaratan rumah sakit, standar-standar ruang dan fasilitas rumah sakit, klasifikasi rumah sakit dan sebagainya dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang akan diselesaikan dengan cara mengumpulkan dan menganalisis data.

4. Hasil dan Pembahasan

Biophilic adalah adaptasi lingkungan dari suatu objek arsitektur yang menyesuaikan dan mendukung penyembuhan dan pemulihan pengguna serta membantu pengguna beradaptasi dengan kondisi tubuh yang mempengaruhi sisi psikologis pengguna. [4]

Secara keseluruhan, penerapan konsep biophilic pada perancangan Rumah Sakit

Gigi dan Mulut di Kota Banda Aceh bertujuan untuk menciptakan ruang arsitektural berkualitas yang dapat memberikan suasana nyaman, aman dan sehat serta meminimalisir stress selama masa pemulihan dan penyembuhan.

4.1 Penerapan Elemen Ruang Luar Ruang luar merupakan salah satu elemen penting dan harus diperhatikan dalam penerapan konsep biophilic karena penyusunan konsep ruang luar menentukan baik tidaknya penerapan konsep tersebut pada bangunan rumah sakit.

a. Tata Massa Bangunan

Desain pola massa pada perancangan bangunan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Kota Banda Aceh ini menerapkan beberapa massa bangunan yang dapat terhubung satu sama lain, ini diperuntukkan untuk menghadirkan sirkulasi yang baik didalam bangunan dan juga meminimaliskan kerusakan yang terjadi jika adanya bencana alam ataupun kebakaran.

Bentuk bangunan yang khas yang terpisah-pisah menawarkan beberapa keunggulan, seperti adanya area terbuka di beberapa sisi bangunan yang menciptakan koneksi dengan alam.

Pengelompokan zonasi massa bangunan disesuaikan dengan beberapa aspek pertimbangan, seperti Aksesibilitas, pengaruh lokasi dari tapak, pola sirkulasi bangunan dan sebagianya.

b. Roof Garden dan Inner Garden Beberapa bagian pada Rumah Sakit memanfaatkan ruang terbuka hijau seperti roof garden pada area pengelolaan lantai 2 dan Rawat Inap pada lantai 3 terlihat pada (Gambar 2).

(5)

Gambar 2. Roof garden Sumber: Data Pribadi

Pada area rawat jalan atau klinik integrasi, pola sirkulasi massa ruangan antar poliklinik diatur mengelilingi taman sehingga viod tetap berada di tengah bangunan yang berguna untuk menghadirkan udara yang higienis dan bersih. Tumbuhan yang digunakan di taman ini juga berperan dalam proses penyembuhan pada pasien.

Dalam penggunaan unsur alam pada bagian tengah bangunan, tanaman yang dipilih adalah tanaman yang dapat menghadirkan kenyamanan bagi pasien yang berada disekitar taman. Suara angin juga dapat menenangkan pasien saat berada di area terbuka hijau yang terhubung langsung dengan ruang tunggu yang ada di poliklinik (Gambar 3).

Gambar 3. Inner garden Sumber: Data Pribadi

c. Sirkulasi

Jalur untuk mengakses area dalam bangunan dibedakan menjadi 2 jalur yaitu jalur untuk pasien gawat darurat dan pasien untuk pelayanan kesehatan dengan layanan rawat jalan

dan rawat inap. Dengan adanya perbedaan jalur masuk yang berbeda, pencapaian untuk pasien gawat darurat dapat langsung menuju instalasi gawat darurat. Hal ini membuat pencapain menuju IGD memakan waktu lebih sedikit karena tidak terhalan oleh pasien lain yang ada di sekitaran bagunan.

Terdapat 5 akses pintu masuk untuk pengunjung yaitu main entrance di area depan bangunan dan side entrance yang terhubung langsung dengan tempat parkir pada sisi kiri dan belakang bangunan.

Terdapat 2 akses masuk utama menuju kawasan rumah sakit, 1 pintu masuk untuk umum dan staf serta 1 akses keluar-masuk Instalasi Gawat Darurat. Untuk akses jalan keluar, ada salah satu akses yang berada di belakang tapak yang ditunjukkan pada (Gambar 4)

Gambar 4. Layout Perancangan Sumber: Data Pribadi

d. Pencahayaan Alami

Bangunan Rumah Sakit Gigi dan mulut Kota Banda Aceh menghadap ke timur untuk menerima pencahayaan alami dari terbitnya matahari pada pagi hari. Pada bagian belakang bangunan akan menerima pencahayaan alami saat matahari terbenam dari arah barat. Dengan cara ini bangunan dapat menerima cahaya alami secara merata.

(6)

Proses penerimaan sinar matahari dengan massa bangunan dapat dipengaruhi oleh pola massa yang memiliki void, sehingga bangunan cukup mendapat cahaya alami yang maksimal dari sinar matahari dan selanjutnya di salurkan kedalam bangunan.

4.2 Penerapan Elemen Ruang Dalam a. Sirkulasi Ruang Dalam

Sirkulasi ruang Instalasi Rawat Jalan Atau Klinik Integritas didesain melingkupi inner garden yang berada di bangian tengah instalasi tersebut, hal ini dirancang agar pasien atau pengunjung memiliki akses langsung dengan ruang luar untuk mengurangi tingkat kecemasan dan stres (Gambar 5)

Gambar 5. Sirkulasi Pada Klinik Integrasi Sumber: Data pribadi

b. Skema Warna

Pemilihan warna juga merupakan salah satu pembantu dalam proses penyembuhan dari segi psikologis dan mental pasien. Warna- warna disekitarnya dapat memberikan kesan dan efek menyenangkan bagi pengguna ruang. Warna yang digunakan pada perancangan adalah warna yang lembut seperti warna kream.

c. Koneksi dengan Alam

Dalam Interior bangunan rumah sakit ini memiliki beberapa unsur alam, contohnya adalah menghadirkan vegetasi di dalam lobi utama. hal ini

merupakan salah satu bentuk pengaplikasian elemen alami di dalam ruangan.

Diharapkan dengan adanya vegetasi pada bangunan dapat meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan. Selain itu, keberadaan vegetasi dapat memberikan efek positif bagi pasien atau pengguna ruangan.

Selain penggunaan vegetasi, penggunaan material kayu juga merupakan salah satu bentuk pengaplikasian unsur alam pada bangunan. Salah satu contohnya adalah penggunaan material berbahan dasar kayu pada desain ceiling bangunan dengan pola yang teratur, seperti ruang tunggu klinik integrasi, seperti terlihat pada (Gambar 6).

Gambar 6. Penggunaan Kayu pada Ruang Intergarsi

Sumber: Data pribadi 5. Kesimpulan

Rumah Sakit Gigi dan Mulut merupakan salah satu institusi pada bagian pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan terkhusus bagi penderita gangguan gigi dan mulut. Dengan adanya perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut ini diharapkan dapat mengatasi permasahan gigi dan mulut bagi masyarakat Aceh khususnya yang ada di Banda Aceh.

Sebuah Rumah Sakit dan Mulut harus memiliki pelayanan kesehatan, peralatan, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan bagi pasien. [5]

Perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut menerapkan tema biophilic

(7)

berdasarkan prinsip-prinsip desain biophilic seperti:

a. Berkaitan langsung dengan alam b. Keterkaitan dengan alam tetapitidak

menggunakan bahan dari alam c. Suhu dan sirkulasi udara

d. Cahaya yang maksimal dan menyebar e. Koneksi material dari alam

Perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut dengan penerapkan tema biophilic ini diharapkan dapat memberikan efek nyaman dan meningkatkan kesehatan psikolgi bagi pengguna bagunan tidak hanya dari medis tetapi juga dari bagunan itu sendiri.

Daftar pustaka

[1] Suryono. 2014. Bedah dasar Periodonsia. Yogyakarta : Deepublish [2] Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia. 2004. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1173/MENKES/PER/2004. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

[3] Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2021 [4] Eka, Chendra Bella Sukarso. 2019.

Penerapan Desain Biophilik pada Bangunan Garden Living Plasari Mall.

Repository Jurnal Tugas Akhir ITENAS.

[5] Peraturan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor

340/MENKES/PER/III/2010.

Referensi

Dokumen terkait

Arsitektur perilaku dalam proses perancangan Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Kelas A di Kota Bandung menekankan pada tercapainya kesehatan pasien secara menyeluruh baik

Pelayanan dokter gigi di poliklinik gigi rumah sakit adalah kesempurnaan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai standar

Perancangan Rumah Sakit Umum Kelas B di Kabupaten Wonogiri dengan Konsep Biophilic Design berbasis Healing Environment merupakan strategi perancangan rumah sakit yang

Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut kelas A yang ada saat ini adalah Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Pendidikan sehingga masih menjadi bagian dari bangunan pendidikan

penyusunan tesis dengan judul “ Penilaian Standar Pelayanan Rumah Sakit Melalui Kepatuhan Prosedur Kerja di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran

Melalui Perancangan Interior Rumah Sakit Gigi dan Mulut Kelas B di Bandung Barat ini diharapkan dapat memberikan gambaran ruang interior rumah sakit gigi dan mulut yang sesuai dengan

menghasilkan rancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut yang sehat dan memenuhi segala kebutuhan pasien dalam proses pengobatan sampai penyembuhan dan diharapkan dapat

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH PERAWATAN KAPING PULPA INDIREK TERHADAP KUALITAS HIDUP TERKAIT KESEHATAN GIGI DAN MULUT DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH