• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN SISTEM PLAMBING HYDRANT PADA GEDUNG A INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA (ITERA)

N/A
N/A
Andien arichita putri

Academic year: 2025

Membagikan "PERANCANGAN SISTEM PLAMBING HYDRANT PADA GEDUNG A INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA (ITERA)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN SISTEM PLAMBING HYDRANT PADA GEDUNG A INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA (ITERA)

DESIGN OF AN HYDRANT PLUMBING SYSTEM IN A BUILDING OF THE SUMATERA INSTITUTE OF TECHNOLOGY (ITERA)

Zane Zestina Margaretha1, Naesa Aini Agustin2, Andien Arichita Putri3, Suci Wulandari4

Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan, Institut Teknologi Sumatera, JL. Terusan Ryacudu, Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan,

Lampung, 35365, Indonesia1,2,3,4 E-mail :[email protected]4

ABSTRAK

Sangat penting untuk mengelola keselamatan gedung bertingkat, terutama Gedung A Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang sistem pipa hydrant dengan menggunakan metode perencanaan yang menggunakan observasi langsung dan analisis data. Penelitian ini mengacu pada standar SNI 03-7065-2005 dan SNI 8153:2015. Gedung A ITERA memiliki luas 1.279,395 m2 dengan ketinggian 24 meter dan membutuhkan satu hydrant per 1.000 m2 lantai. Untuk mengalirkan air dengan pompa andal, desain sistem mencakup penempatan hydrantdan sprinkler yang ideal, pemilihan pipa yang tahan korosi, dan perhitungan hidrolik yang memastikan kehilangan tekanan tidak lebih dari 0,9 kg/cm2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa per lantai diperlukan 23 kepala sprinkler, dengan luas cakupan maksimal 34,07 m2. Sistem dirancang dengan mempertimbangkan klasifikasi bangunan tipe E, dengan total 33 sprinkler tersebar di empat lantai. Kesimpulan penelitian menunjukkan betapa pentingnya perencanaan komprehensif, yang mencakup distribusi pipa, penempatan hydrant, material yang dipilih, dan sistem ventilasi. Penelitian juga merekomendasikan pemeriksaan rutin dan penyediaan cadangan air untuk memastikan sistem pemadam kebakaran bekerja dengan baik.

Kata Kunci:Sistem Plumbing, Hydrant, Keselamatan Gedung, Institut Teknologi Sumatera

ABSTRACT

This research presents a sound approach to designing a fire hydrant and sprinkler system for Building A at the Sumatera Institute of Technology (ITERA), utilizing direct observation, data analysis, and Indonesian National Standards (SNI 03-7065-2005 and SNI 8153:2015). The design's strengths include compliance with SNI standards, a data-driven approach to hydrant placement (one per 1000 m²) and sprinkler head distribution (23 per floor, covering up to 34.07 m²), consideration of Building A's classification as type E, management of pressure loss (maximum 0.9 kg/cm²), and the use of corrosion-resistant pipes. However, for a complete evaluation, detailed hydraulic calculations, pump and pipe material specifications, sprinkler head details (type, response time, spray pattern), emergency water supply provisions, and a maintenance plan are crucial. While the research demonstrates a responsible approach to fire safety, The research concludes that comprehensive planning, encompassing pipe distribution, hydrant placement, material selection, and integration with ventilation systems, is crucial for effective fire suppression. The study further recommends regular inspections and the provision of water reserves to ensure the fire extinguishing system's reliable operation.

Keywords: Plumbing system, Fire hydrant, Building Safety, Sumatera Institute of Technology

(2)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Segala sesuatu yang berkaitan dengan pemasangan pipa dan peralatannya di dalam gedung atau gedung yang berdekatan yang terkait dengan air buangan dan air bersih yang dihubungkan dengan sistem kota atau sistem lain yang dibenarkan disebut plambing (SNI 03-6481- 2000). Walaupun sistem plambing sangat penting terutama untuk bangunan tingkat tinggi, banyak kesalahan dalam desain, pemasangan, dan perawatan yang dapat membahayakan kehidupan manusia [1]. Selain itu, sistem plambing untuk air buangan harus dirancang dengan baik sehingga tidak merusak bagian pipa yang dilalui dan menyebabkan kekotoran di lingkungan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat perencanaan sistem plambing adalah laju aliran pipa, kecepatan aliran dalam pipa, diameter pipa, dan tekanan air dalam pipa. Selain itu, penting untuk menggunakan software aliran pipa spesialis untuk menggambar dan menganalisis jaringan aliran pipa. Sehingga kerugian akibat kebakaran dapat dikurangi, perencanaan sistem pencegahan kebakaran di dalam dan di luar gedung juga harus dilakukan dengan baik [2]. Sistem Plambing adalah teknologi yang memberikan air bersih dengan tekanan yang cukup melalui pemasangan pipa dan peralatannya. Air kemudian didistribusikan ke lokasi yang dimaksud, dan sistem ini memainkan peran penting dalam menyediakan sistem pembuangan air kotor dengan menghindari pencemaran lingkungan.

Dengan demikian, kondisi kebersihan dan kenyamanan yang diinginkan dapat dicapai.

Sistem plambing adalah komponen bangunan bertingkat yang tidak dapat dipisahkan yang digunakan untuk menyediakan air bersih dan membuang air kotoran dan air buangan ke lokasi tertentu tanpa mencemari komponen penting lainnya [3]. Saat ini, pola-pola pembangunan pada gedung bertingkat di perkotaan semakin terlihat. Ini karena jumlah lahan yang tersedia untuk perkantoran dan pemukiman yang terbatas.

Pembangunan bangunan bertingkat membutuhkan perencanaan yang matang. Selain perancangan sistem elektrikal, perencanaan

sistem mekanikal gedung juga diperlukan. Sistem mekanikal ini termasuk sistem ventilasi mekanis, sistem proteksi kebakaran, dan sistem plambing yang layak. Semua ini dilakukan untuk memastikan bahwa penghuni bangunan gedung merasa nyaman. Institut Teknologi Sumatera (ITERA) adalah perguruan tinggi negeri di Lampung Selatan, provinsi Lampung, yang berfungsi sebagai penghubung ke generasi muda yang lebih cerdas. ITERA memiliki gedung A yang berfungsi sebagai kantor rektor dan jajaran pimpinan, serta tempat peneliti untuk pengembangannya. Kantor Rektor beserta jajaran pimpinan berada di bangunan gedung A ITERA yang terdiri dari 4 lantai ini berada dekat dengan Gerbang Utama ITERA. Gedung A ITERA memiliki beberapa ruang yang tersedia, yaitu ITERA International office, Ruang Administrasi Umum, Ruang Rumah Tangga, Gudang, Toilet Wanita, Toilet Pria, Meja Security, Hall, Teras, Ruang Staf Ahli Rektor, Ruang Kerja Sama, Ruang Rapat Besar, Ruang Wakil Rektor bidang non-Akademik, Ruang Sekretaris Rektor, Ruang Wakil Rektor bidang Akademik, Ruang Rektor, dan Ruang Rapat Kecil. Gedung A sendiri menjadi hal menarik yang dibicarakan tentang pembangunannya, yaitu perencanaan pada sistem plambingnya terutama untuk perencanaan hydrant dan sprinkler untuk keamanan para penghuni serta dokumen dokumen atau berkas yang ada di dalam gedung A. Semua bangunan selain rumah harus memiliki sistem perlindungan pasif dan aktif. Menurut Fajrian (2018), sprinkler adalah salah satu sistem perlindungan aktif yang berfungsi sebagai penghalang pertama terhadap bahaya kebakaran. Oleh karena itu, sprinkler harus ditempatkan dengan benar sehingga aliran air yang digunakan untuk memadamkan kebakaran dapat mencakup seluruh area ruangan.

Setiap perusahaan atau lembaga memiliki tanggung jawab untuk mengurangi dan memadamkan kebakaran. Hydrant digunakan untuk mencegah kebakaran jika api telah meluas dan sprinkler tidak dapat memadamkan api yang sudah menjalar atau meluas. Hidran api berfungsi sebagai terminal air untuk membantu darurat ketika terjadi kebakaran. Selain itu, hidran ini

(3)

membantu dalam penanggulangan selama bencana (bhiwara, 2017). Selain itu, hydrant juga berfungsi sebagai penyedia air untuk mobil pemadam kebakaran. Untuk mencegah kebakaran, air hydrant dan sprinkler didistribusikan melalui pompa, yang harus diperhatikan agar kapasitasnya tidak kurang atau berlebihan. Dalam merancang sistem plambing hydrant ini bertujuan untuk dapat menanggulangi bencana-bencana yang mungkin terjadi seperti kebakaran, memenuhi persyaratan peraturan, serta agar dapat menentukan kapasitas dan jenis sistem hydrant yang tepat digunakan pada gedung A institut Teknologi Sumatera.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, permasalahan yang muncul adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana merancang sistem plambing hydrant yang aman untuk Gedung A di Institut Teknologi Sumatera?

2. Apa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan jaringan pipa dan aliran air hydrant di Gedung A ITERA?

3. Bagaimana cara kerja hydrant untuk menanggulangi bencana-bencana yang mungkin terjadi pada Gedung A ITERA?

Tujuan Penelitian

Dalam perancangan sistem plambing hydrant pada Gedung A Institut Teknologi Sumatera ini memiliki tujuan untuk keamanan gedung, agar setelah hydrant terancang sesuai dengan standar yang ditetapkan dapat menyediakan sumber air darurat dalam kondisi kebakaran.

Manfaat penelitian

Penelitian tentang perancangan sistem plambing hydrant di Gedung A ITERA ini diharapkan memiliki berbagai manfaat. Salah satunya setelah dilakukan penelitian ini diharapkan pihak-pihak yang berkepentingan dapat meningkatkan tingkat keselamatan para penghuni gedung dengan memastikan bahwa sistem hydrant berfungsi secara efektif dalam keadaan darurat, sehingga mengurangi risiko kebakaran yang dapat merusak

gedung dan mengancam keselamatan penghuni.

LANDASAN TEORI

Sistem plambing hydrant adalah salah satu sistem yang digunakan untuk mendistribusikan air melalui jaringan pipa ke berbagai titik di gedung atau area yang memiliki potensi risiko kebakaran.

Sistem ini dirancang untuk memberikan suplai air yang cepat dan efektif pada titik-titik yang membutuhkan, terutama untuk tujuan pemadaman kebakaran. Dalam sistem ini, instalasi pipa dan peralatan yang terhubung harus mampu menahan tekanan air yang tinggi dan memberikan aliran yang stabil untuk digunakan oleh petugas pemadam kebakaran dalam situasi darurat. Sistem plambing hydrant memiliki tujuan utama untuk memadamkan kebakaran dengan cara mengalirkan air yang cukup ke area yang terbakar. Fungsi utama sistem ini antara lain untuk pencegahan kebakaran, memberikan akses air yang mudah dan cepat untuk pemadaman kebakaran pada gedung atau fasilitas dan keamanan, dengan menjamin bahwa air dapat disalurkan secara efektif ke lokasi kebakaran tanpa hambatan, menjaga keselamatan penghuni gedung serta kepatuhan pada regulasi, untuk memastikan sistem ini sesuai dengan standar dan peraturan kebakaran yang berlaku, seperti yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dalam perancangan sistem plambing hydrant, terdapat beberapa komponen penting yang harus dipertimbangkan, seperti hydrant pipa untuk menyalurkan air dari sumber ke lokasi hydrant yang tersebar di gedung, hydrant standpipe yang biasanya terdapat di sepanjang tangga atau lorong gedung, yang dapat dihubungkan dengan selang untuk pemadaman kebakaran, valve atau katup untuk mengontrol aliran air dalam sistem plambing hydrant, yang harus mudah dioperasikan dan dapat menahan tekanan tinggi, pump untuk meningkatkan tekanan air agar dapat mengalir dengan lancar ke titik hydrant, terutama pada gedung bertingkat tinggi, serta nozzle dan selang yang digunakan untuk mengalirkan air pada titik hidrant yang dapat disambungkan ke nozzle dengan tekanan air yang cukup untuk memadamkan api. Prinsip dasar dari sistem

(4)

plambing hydrant adalah untuk menyediakan tekanan air yang cukup tinggi untuk mengalirkan air ke titik-titik hydrant di gedung. Proses kerjanya dimulai dengan pemompaan air melalui pipa utama, kemudian dialirkan ke pipa hydrant yang terhubung ke nozzle dan selang pemadam kebakaran. Pada gedung bertingkat, sistem ini harus dilengkapi dengan pompa booster untuk memastikan tekanan air tetap stabil. Sistem plambing hydrant modern sering dilengkapi dengan kontrol otomatis untuk mengaktifkan pompa jika tekanan air turun di bawah batas tertentu, serta sistem alarm untuk memberi tanda kepada bahwa ada masalah pada aliran air atau sistem.

Dalam merancang sistem plambing hydrant, penting untuk mengikuti standar dan peraturan yang berlaku untuk memastikan keefektifan dan keselamatan sistem tersebut. Beberapa standar yang relevan di Indonesia dan internasional antara lain NFPA (National Fire Protection Association), yang merupakan standar internasional yang mengatur perancangan dan instalasi sistem hydrant, termasuk aliran air dan tekanan yang harus dipenuhi, SNI 03-3989-1995, yang merupakan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang sistem proteksi kebakaran dengan pemadam api hydrant, yang mencakup panduan teknis mengenai kapasitas sistem hydrant, serta peraturan pemerintah dan dinas pemadam kebakaran, yang setiap daerah memiliki regulasi yang mengatur desain dan implementasi sistem pemadam kebakaran, termasuk sistem plambing hydrant.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode perencanaan, yang memperhatikan empat tahap penting dalam perencanaan sistem: persiapan, perencanaan, pengolahan data perhitungan, dan pembuatan laporan. Tahap perencanaan dimulai dengan melakukan observasi langsung dan mencari referensi. Persyaratan SNI 03-7065-2005 dan SNI 8153:2015 harus diterapkan dalam perencanaan plambing ini. Spesifikasi dan jumlah post fire hydrant yang diperlukan, jumlah air yang diperlukan untuk post fire, jumlah sprinkler yang

diperlukan, debit air yang diperlukan untuk setiap sprinkler, dan panjang pipa ekivalen untuk pemasangan sprinkler adalah semua informasi perhitungan yang harus dipertimbangkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perencanaan sistem pipa tegak untuk sistem pipa hydrant dipengaruhi oleh tinggi bangunan, luas per lantai hunian, dan perancangan. sistem jalan keluar yang membutuhkan laju aliran dan tekanan air, serta jarak selang dari sumber air patokan.

SNI 0301745-2000, "Tata cara perancangan sistem pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung," mengatur seluk beluk perancangan sistem pipa tegak.

Sambungan slang dan kotak hydrant tidak boleh terhalang dan harus terletak lebih dari 1,5 m di atas permukaan tanah. Jumlah peletakan pipa hydrant disesuaikan berdasarkan luas lantai ruangan yang dilindungi oleh hydrant, yaitu : A = Ketinggian sampai dengan 8 m atau satu lantai.

B = Ketinggian sampai dengan 8 m atau dua lantai.

C = Ketinggian sampai dengan 14 m atau empat lantai.

D = Ketinggian sampai dengan 40 m atau delapan lantai.

E = Ketinggian lebih dari 8 m atau delapan lantai.

Digunakan klasifikasi bangunan E, karena Gedung A yang kami rancang memiliki ketinggian lebih dari 8 m yaitu 24m, sehingga:

Luas lantai = (35,1 x 36,45) = 1279,395 m2

Jumlah Hydrant = Luas lantai klasifikasi bangunan A

= 1279,395 𝑚2/1000 𝑚2 dengan 1 fire hydrant

= 1,279395

= 1 hydrant m2

Tabel 1.1 Klasifikasi Bangunan

p 35.1 m

l 36.45 m

(5)

L 1279.395 m2 Luas 4 lantai 5117.58 m2 1 hydrant 1,279,395 m2 Tabel 1.2 Spesifikasi Post Fire Hydrant

Jalur Jumla h

Diamet er (mm)

Panjan g Pipa (m)

Tekanan Per meter (10^-3 atm/m)

A-B 4 40 13.07 5.5

B-C 3 32 9 12

C-D 3 32 9 12

D-E 2 25 4.7 44

E-F 3 32 9 12

F-G 3 32 9 12

G-H 3 32 13.07 12

H-I 2 25 4.7 44

I-J 4 40 13.07 5.5

J-K 3 32 9 12

K-L 3 32 9 12

Kehilangan

Tekanan Cek <0,9

Diameter yang dipakai

(mm) 0.071885 Diterima 40

0.108 Diterima 32

0.108 Diterima 32

0.2068 Diterima 25

0.108 Diterima 32

0.108 Diterima 32

0.15684 Diterima 32 0.2068 Diterima 25 0.071885 Diterima 40

0.108 Diterima 32

0.108 Diterima 32

Luas lingkup maksimum kepada sprinkler adalah 34,07 m². Jarak antar kepala sprinkler adalah 4,5 m dan jarak kepala sprinkler ke dinding adalah 2,5 m. Ukuran minimal pipa cabang adalah 31,07 mm dengan jumlah kepala sprinkler maksimum 3 buah dan total sprinkler dalam satu lantai gedung adalah 23 buah. Untuk kelompok kepala sprinkler

berikutnya pada pipa cabang ukuran pipa ditentukan melalui perhitungan hidrolik dengan ketentuan kehilangan tekanan tidak boleh lebih dari 0,9 kg/cm² (9 kolom air).

Contoh Perhitungan:

Jalur = A - B Jumlah Sprinkler = 4 Diameter = 40 mm Panjang Pipa =13,07 m

Berikut ini adalah tabel dari perhitungan pipa hydrant dan pipa sprinkler:

Tabel 1.3 Kebutuhan Sprinkler

Jalu

r Jumlah Diameter (mm)

Akumulasi Jumlah

A-B 4 40 4

B-C 3 32 7

C-D 3 32 10

D-E 2 25 12

E-F 3 32 15

F-G 3 32 18

G-H 3 32 21

H-I 2 25 23

I-J 4 40 27

J-K 3 32 30

K-L 3 32 33

Panjang Pipa (m)

Akumul asi Panjang

Tekanan Per meter (10^-3

atm/m)

Kehilan gan Tekana

n 13.07 13.07 5.5

0.07188 5

9 26.14 12 0.108

9 35.14 12 0.108

4.7 44.14 44 0.2068

9 48.84 12 0.108

9 57.84 12 0.108

13.07 66.84 12 0.15684

4.7 79.91 44 0.2068

13.07 84.61 5.5

0.07188 5

9 97.68 12 0.108

(6)

9 106.68 12 0.108

Cek <0,9 Diameter yang dipakai (mm)

Diterima 40

Diterima 32

Diterima 32

Diterima 25

Diterima 32

Diterima 32

Diterima 32

Diterima 25

Diterima 40

Diterima 32

Diterima 32

KESIMPULAN

Perencanaan sistem plambing hydrant pada Gedung A merupakan bagian penting dalam menjamin keselamatan penghuni dan operasional gedung terkait dengan risiko kebakaran.

Berdasarkan analisis perencanaan sistem hydrant, berikut adalah kesimpulannya:

1. Sistem plambing hydrant harus direncanakan dengan memperhatikan kapasitas air yang cukup untuk menangani kebakaran.

Perencanaan ini mempertimbangkan faktor seperti luas gedung, jenis material yang digunakan dalam konstruksi, dan kemungkinan beban api.

2. Desain distribusi pipa hydrant harus mampu mengalirkan air ke semua titik strategis dalam gedung. Pipa harus memiliki kapasitas yang memadai dan terhubung dengan sumber air yang dapat diandalkan.

3. Penempatan hydrant dan alat pemadam api lainnya seperti alat pemadam api ringan (APAR) harus direncanakan dengan teliti, agar mudah dijangkau oleh penghuni gedung dan petugas pemadam kebakaran. Hydrant harus ditempatkan di lokasi yang mudah diakses dan dekat dengan jalur evakuasi.

4. Penggunaan pipa dengan material yang kuat dan tahan korosi, seperti pipa besi galvanis atau baja, sangat penting untuk memastikan kestabilan dan daya tahan sistem plambing hydrant dalam jangka panjang.

5. Dalam sistem hydrant, sistem ventilasi yang baik harus diterapkan untuk menjaga tekanan dalam pipa agar tetap stabil. Drainase juga harus diperhatikan untuk memastikan bahwa air yang digunakan dalam sistem pemadam kebakaran dapat dengan mudah mengalir kembali atau menghindari genangan.

SARAN

Berdasarkan hasil perencanaan sistem plambing hydrant Gedung A, beberapa saran yang dapat diberikan adalah:

1. Perlu dipastikan kapasitas cadangan air untuk kebakaran mencakup waktu yang cukup untuk menangani kebakaran besar dan dapat diakses dengan cepat.

2. Perlu dilakukan pemeriksaan dan

pemeliharaan sistem plambing hydrant secara berkala, termasuk uji aliran air dan tekanan untuk memastikan sistem bekerja dengan baik saat dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] R. C. Y. Perdana, "STUDI EVALUASI PERENCANAAN SISTEM PLUMBING DAN FIRE HYDRANT PADA PROYEK CONDOTEL HORISON ULTIMA BLOK A DAN BLOK B KOTA BATU," Jurnal Rekayasa Sipil, pp. 42-47, 2015.

[2] I. P. Lilipaly, R. E. Badriani and Y. Dhokhikah,

"PERENCANAAN SISTEM PLAMBINGDAN HIDRAN KEBAKARAN PADA PROYEK PEMBANGUNAN HOTEL PESONA ALAM,"

PADURAKSA, pp. 266-279, 2021.

[3] V. Fajrian, M. Ismail and A. Kurniawan,

"ANALISIS PERHITUNGAN SISTEM PERPIPAAN HYDRANT PILLAR DAN SPRINKLE PADA LANTAI GEDUNG SIMULATOR SEKOLAH TINGGU PENERBANGAN INDONESIA," Jurnal Ilmiah Aviasi Langit Biru , pp. 10-16, 2018.

(7)

[4] H. Yuniarto and W. T. Bhirawa, "Perancangan Jalur Hidran Pada Gudang Persediaan Materiil Bekmatpus Lanud Halim Perdanakusuma,"

Jurnal Teknik Industri, vol. 6, no. 2, pp. 71-91, 2017.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penerapan konsep dilakukan perencanaan 3 alternatif pilihan dalam penghematan penggunaan sumber daya air yaitu: alternatif 1 menerapkan pemasangan alat plambing hemat air

Mendapatkan hasil kebutuhan air bersih, mengetahui spesifikasi pompa yang digunakan dari perhitungan volume Roof Tank dan Ground Reservoir, penyaluran air buangan

Dalam penerapan konsep dilakukan perencanaan 3 alternatif pilihan dalam penghematan penggunaan sumber daya air yaitu: alternatif 1 menerapkan pemasangan alat plambing hemat air

Karena itu dibutuhkan evaluasi pada sistem plambing gedung A dengan melakukan perhitungan kebutuhan air bersih setiap harinya, volume reservoir yang ada dan tekanan pada pipa.. Dari

Dalam perancangan sistem plambing air bersih, terdapat hal penting yang harus diperhatikan, yaitu kualitas air yang akan didistribusikan, sistem penyediaan air yang akan

yaitu kualitas air yang akan didistribusikan, sistem penyediaan air yang akan digunakan, pencegahan pencemaran air dalam sistem, laju aliran dalam pipa, kecepatan

Peta lokasi penelitian keanekaragaman jenis burung di kawasan Institut Teknologi Sumatera ITERA Sumber: Foto udara PS Geomatika ITERA, 2019 Analisis Data Data jumlah jenis dan jumlah

Perancangan hydrant di Gedung Cak Durasim dibutuhkan 2 titik yaitu hydrant pillar di luar Gedung dan hydrant box di dalam Gedung, luas ruang pompa yang dibutuhkan sebesar 48 m2,