• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perawatan Jenazah Pasien COVID-19

N/A
N/A
Fawwaz Akmal

Academic year: 2024

Membagikan "Perawatan Jenazah Pasien COVID-19"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH TUGAS INDIVIDU

PERAWATAN JENAZAH PASIEN COVID-19

Disusun oleh :

Fawwaz Akmal Musyaffa

20210320051

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2024

(2)

Kata Pengantar

Bismillahirohmanirrohim, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, puji syukur hanya bagi Allah atas segala hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan Makalah “Perawatan Jenazah pada pasien Covid- 19”. Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk pemenuhan nilai tugas individu sebagai tanggung jawab penulis pada Blok Gawat Darurat dan Kritis di Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2024.

(3)

1. Perawatan Jenazah

Memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dapat dilakukan dengan mengurus jenazah sebaik mungkin. Seperti yang dijelaskan oleh Sutomo Abu Nashir Lc dalam bukunya, merawat jenazah merupakan kewajiban bersama (fardu kifayah) yang perlu kita tunaikan. Dengan demikian, kita tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga menunjukkan penghargaan atas jasa dan pengorbanan orang yang telah berpulang.

Dalam Islam, perawatan jenazah itu ada 4 hal yakni, 1) Memandikan,

Syarat jenazah dimandikan adalah - Beragama Islam

- Didapati tubuhnya (walaupun hanya sebagian). Hal ini terjadi pada jenazah yang biasanya mengalami kecelakaan. Jika ada lukanya, bersihkan terlebih dahulu (jika memungkinkan).

- Bukan karena mati syahid (mati dalam peperangan membela agama Islam).

Berikut tatacara memandikanya : Berikut tata caranya:

 Tempat memandikan sepi, tertutup dan tidak ada orang masuk kecuali orang yang bertugas.

 Ditaburi wewangian

 Mayit dibaringkan dan diletakkan di tempat yang agak tinggi 

 Mayit dimandikan dalam keadaan tertutup semua anggota tubuhnya

(4)

 Orang yang memandikan wajib memakai alas tangan ketika menyentuh auratnya (antara pusar sampai lutut). Sunah beralas tangan ketika menyentuh bagian tubuh selain aurat.

 Perut mayit diurut dengan tangan kiri secara perlahan oleh orang yang memandikan secara berulang-ulang agar kotoran yang ada di perut mayit dapat keluar.

 Membersihkan dua lubang kemaluan dengan menggunakan tangan kiri yang wajib dibungkus dengan kain.

 Membersihkan gigi mayit dan kedua lubang hidungnya dengan jari telunjuk tangan kiri yang beralaskan kain basah

 Mewudhukan mayit seperti wudlunya orang yang hidup

 Membasuh mayit mulai kepala hingga telapak kaki dengan air sabun, sampo atau daun bidara

2) Mengkafani,

Dalam Islam, mengafani jenazah adalah menutupi atau membungkus jenazah dengan sesuatu yang dapat menutupi tubuhnya, walau hanya sehelai kain dari ujung rambut sampai ujung kaki, meskipun para fuqaha (ahli fiqh) memilahnya antara batas minimal dan batas sempurna.

Kain kafan yang dipergunakan hendaknya berwarna putih dan diberi wewangian, bila mengkafani lebih dari ketentuan batas, maka hukumnya makruh, sebab dianggap berlebihan, batas minimal mengafani jenazah, baik laki-laki maupun perempuan, adalah selembar kain yang dapat menutupi seluruh tubuh

(5)

jenazah, sedangkan batas sempurna bagi jenazah laki-laki adalah 3 lapis kain kafan. Sementara, untuk jenazah perempuan adalah 5 lapis terdiri atas 2 lapis kain kafan, ditambah kerudung, baju kurung dan kain.

3) Menyalatkan,

Proses perawatan jenazah ketiga adalah menyalatkan jenazah. Pihak yang paling utama menyalatkan jenazah adalah orang yang diwasiatkan oleh si jenazah dengan syarat tidak fasik atau tidak ahli bid’ah, ulama atau pemimpin terkemuka di tempat tinggal jenazah.

Selain itu, orang tua si jenazah dan seterusnya ke atas, anak-anak si jenazah dan seterusnya ke bawah, keluarga terdekat, dan kaum muslim seluruhnya.

4) Menguburkan

Prosesi terakhir yang merupakan kewajiban kifayah dalam pengurusan atau pemulasaraan jenazah adalah penguburan.

Berikut tata cara menguburkan jenazah:

 Disunnahkan membawa jenazah dengan tarbi’ (dibawa empat orang laki- laki).

 Kuburan harus digali dalam, luas dan bagus

 Arah masuk jenazah sebaiknya dari arah kaki kemudian terus maju ke arah kepalanya

 Jenazah diletakkan miring ke kanan menghadap kiblat dan menyandarkan tubuh sebelah kiri ke dinding kubur.

(6)

 Dianjurkan untuk menaruh tanah di bawah pipi jenazah sebelah kanan.

 Melepas simpul tali pengikat kain kafan.

 Khusus jenazah perempuan ada anjuran untuk membentangkan kain di atas kubur pada saat proses penguburan.

 Para hadirin baru disunnahkan duduk saat jenazah sudah selesai ditimbun.

(7)

2. Pasien Covid-19

Pasien Covid-19 adalah eseorang dari zona merah atau kontak dengan pasien positif COVID-19 termasuk suspek yang kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan swab. Jika hasilnya positif, penatalaksanaan pasien dilakukan berdasarkan gejala atau tanpa gejala yang dialami.

Virus ini sudah mewabah di Wuhan, China pada bulan Desember 2019. Lalu pada awal Januari ini WHO sudah mengidentifikasi virus tersebut sebagai Novel Coronavirus atau 2019-nCoV kemudian pada Februari WHO mengumumkan nama resmi virus ini adalah COVID-19, virus corona ini adalah keluarga besar dari virus yang menyebabkan flu biasa hingga penyakit yang seperti MERS atau SARS.

Pertama kalinya COVID-19 dilaporkan masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020 di Depok, Jawa Barat. Kasus penularan pertama ini terungkap setelah pasien 01 melakukan kontak dekat WN Jepang yang ternyata positif COVID-19 saat diperiksa di Malaysia pada malam Valentine, 14 Februari 2020.

3. Perawatan Jenazah Pasien Covid-19

Terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam merawat jenazah penderita Covid-19. Di lansir dari laman web Indonesia.go.id. Hingga Kamis (16/4/2020), berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, sebanyak 5.516 orang positif menderita virus corona tipe 2 (SARS COV-2), 548 orang berhasil sembuh sementara 496 lainnya meninggal dunia akibat serangan virus ini.

Dari jumlah yang meninggal, tak sedikit yang proses pemakamannya ditolak oleh sejumlah oknum warga. Padahal, pemakaman jenazah positif corona telah melewati

(8)

proses pemulasaran yang ketat, sesuai standar yang diatur dalam Protokol Penanganan Jenazah Pasien Covid-19 Badan Kesehatan Dunia atau WHO.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta pemerintah di tingkat wilayah pun telah mengeluarkan panduan- panduan resmi mengenai pemulasaran jenazah penderita Covid-19.

Berikut ini adalah tata caranya sesuai dengan protokol resmi WHO yang ditegaskan kembali oleh Kementerian Agama, MUI, dan Dinas Pertamanan dan

Pemakaman Provinsi DKI Jakarta.

a. Memandikan jenazah pasien virus corona.

Perlu digarisbawahi, pengurusan jenazah pasien Covid-19 harus dilakukan oleh petugas kesehatan pihak rumah sakit, sesuai agama si korban, dan telah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Jadi, tidak sembarang orang boleh mengurus proses pemakamannya.

b. Petugas kesehatan akan melakukan langkah-langkah di bawah ini:

Menggunakan pakaian pelindung, sarung tangan, hingga masker. Semua komponen pakaian pelindung harus disimpan terpisah dari pakaian biasa.

Tidak makan, minum, merokok, ataupun menyentuh wajah selama berada di ruang penyimpanan jenazah, autopsi, dan area untuk melihat jenazah.

Selama memandikan jenazah, tidak berkontak langsung dengan darah atau cairan tubuh jenazah.

Jenazah kemudian ditutup dengan kain kafan/bahan dari plastik (tidak dapat tembus air).

Jenazah yang sudah dikafani dan dibungkus plastik kemudian disemprot cairan klorin sebagai disinfektan. Dapat juga jenazah ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang

(9)

tidak mudah tercemar dan sebelumnya sudah disinfeksi. Jenazah beragama Islam posisinya di dalam peti dimiringkan ke kanan. Dengan demikian ketika dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.

Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi, kecuali dalam keadaan mendesak seperti untuk kepentingan autopsi dan hanya dapat dilakukan oleh petugas.

Jenazah disemayamkan tidak lebih dari empat jam.

Petugas selalu cuci tangan dengan sabun atau sanitizer berbahan alkohol. Luka di tubuh petugas (jika ada), harus ditutup dengan plester atau perban tahan air.

Sebisa mungkin menghindari risiko terluka akibat benda tajam.

Semua petugas kesehatan yang telah mengurus proses pemulasaran hingga jenazah masuk peti dan pihak keluarga yang menyaksikan prosesi tersebut diwajibkan menjalani proses sterilisasi dengan disemprotkan cairan disinfektan ke bagian pakaian yang dikenakan serta selalu mencuci tangan.

c. Selain itu, jika petugas terkena darah atau cairan tubuh jenazah, lakukanlah langkah-langkah berikut ini:

Segera bersihkan luka dengan air mengalir yang bersih

Jika luka tusuk tergolong kecil, biarkanlah darah keluar dengan sendirinya

Semua insiden yang terjadi saat proses memandikan jenazah harus dilaporkan pada pengawas.

d. Jika jenazah beragama Islam, dilakukan prosesi salat jenazah dengan ketentuan berikut ini:

(10)

Untuk pelaksanaan salat jenazah, dilakukan di rumah sakit rujukan. Jika tidak, salat jenazah bisa dilakukan di masjid yang sudah dilakukan proses pemeriksaan sanitasi secara menyeluruh dan melakukan disinfektasi setelah salat jenazah.

Salat jenazah dilakukan sesegera mungkin dengan mempertimbangkan waktu yang telah ditentukan yaitu tidak lebih dari empat jam.

Salat jenazah dapat dilaksanakan sekalipun oleh satu orang.

Setelah proses memandikan, jenazah pasien poistif corona telah siap dikuburkan.

Adapula yang dikremasi mengikuti ketentuan agama dari jenazah dengan kesepakatan keluarga. Namun, proses penguburan jenazah pasien virus corona pun tidak boleh sembarangan. Sebab, ada beberapa protokol yang harus dilakukan, untuk mencegah penyebaran virus lewat tanah.

Prosesi penguburan jenazah:

1. Jenazah harus dikubur dengan kedalaman 1,5 meter, lalu ditutup dengan tanah setinggi satu meter. Penguburan beberapa jenazah di dalam satu liang kubur dibolehkan karena kondisi darurat. Bagi jenazah beragama Islam penguburannya dilakukan bersama dengan petinya. Pemakaman jenazah dapat dilakukan di tempat pemakaman umum (TPU).

2. Tanah kuburan dari jenazah pasien virus corona harus diurus dengan hati-hati. Jika ada jenazah lain yang ingin dikuburkan, sebaiknya dimakamkan di area terpisah.

3. Setelah semua prosedur jenazah dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga dapat turut dalam penguburan jenazah.

(11)

Daftar Pustaka

Indonesia.go.id - Tata Cara Pengurusan dan Penguburan Jenazah Pasien Covid-19 Kapan Sebenarnya Corona Pertama Kali Masuk RI?

Begini Alur Pelayanan Pasien COVID-19 – Sehat Negeriku Informasi Tentang Virus Corona (COVID-19)

Tata Cara Merawat Jenazah (Tajhizul Jenazah) dalam Islam, Muslim Wajib Tahu - Bagian All

Referensi

Dokumen terkait

Pemulasaran jenazah adalah perawatan pasien setelah meninggal, yang meliputi persiapan jenazah untuk diperlihatkan pada keluarga, transportasi ke kamar jenazah dan melakukan

Garis panduan ini disediakan sebagai suatu dokumen rujukan dan panduan kepada semua pihak yang terlibat mengendalikan pengurusan jenazah orang Islam COVID-19 agar

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandangan tokoh agama kecamatan Metro Timur terhadap penyelenggaraan jenazah yang telah terinfeksi covid-19 merupakan hal yang baru sehingga wajar

Menurut ketentuan dari Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia tentang Panduan Penatalaksanaan jenazah suspek covid-19 untuk mencegah penularan covid-19 jenazah pasien yang terindikasi

Selanjutnya peneliti menanyakan pandangan masyarakat terkait pasien positif COVID-19 didapatkan data bahwa sebanyak 3 responden mengatakan takut kepada pasien COVID-19 sehingga mereka

Hasil penelitian ditemukan empat tema utama yaitu pengetahuan tentang perawatan Covid-19, motivasi perawat, kondisi psikologis perawat selama merawat pasien, upaya pencegahan penularan

Rekomendasi saat ini adalah menunda endoskopi yang tidak mendesak atau elektif selama pandemi, tergantung prevalensi lokal COVID-19, faktor risiko pasien, dan sumber daya pusat

Tinjauan jurnal dengan analisis PICOT bertema keperawatan kritis yang membahas respons psikologis perawat kritis dalam merawat pasien