PEREMPUAN PEKERJA DI LADANG GAMBIR
Studi kasus: Kampung Kalang Tanah Nagari Barung-Barung Balantai Kecamatan koto XI Tarusan
ARTIKEL
MARDI GIAVANO NPM. 11070158
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2017
HALAMAIT FgNGtsgAB&H. ARTIKEL
PEREMPUAN PEI(EIEilE SI LADAI\G GAMBIR
Studi
kasus:Kampung Kalang Tan1*.fttg6r{ Barung-Barung Balantai
.- Kecamatan ko&oXI Tarusan
Nama
NPM
Program Studi Jurusan Institusi
Pernbimbing
I
Mardi
Giavanol
1070158Pendidikan Sosiotogi
Pendidikan
Ilmu
Pengelahuan SosialSekolah
Tinggi
Kegtmran danIlmu
Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera BmatPadang, Maret2017
Dise&jui
o*eh :Pembimbing
II
Y
Y.anti Sri Wahyuni, M.Pd Marleni, M.Pd
Women Farm Workers Gambir (Case Study : Village Kalan Tanah, Nagari Barung-Barung Balantai, Sub District Koto XI Tarusan)
Oleh
Mardi Giavano1,Marleni2,Yanti Sri Wahyuni3 Email: [email protected]
ABSTRACT
As a housewife in the family and work, women have a lot of barriers and obstacles, but also many women who choose both the work but did not leave the role and function in families with working women can develop the potential that have other than to generate revenue, especially with a view to high the necessities of life, homemaker household dual role not only to work as servants, private employees, but also work as farmers, traders, pejahit, and others. The aim of this study was as follows: 1) Describe the activities of women workers in the fields gambir village Kalang Tanah nagari Barung-Barung Balantai sub district Koto XI Tarusan. 2) Describe the positive and negative effects of women workers in the fields gambir. The theory used in this research is the structural functional proposed by Talcot Parson. The approach used in this study is a qualitative approach and descriptive. Selection of informants in this study using purposive sampling technique, the number of informants 32 people. This type of data consists of primary and secondary data. The data collection is done by observation, interview and document study.The unit of analysis is the group, the family of farm worker women gambir. Analysis of the data using the model of Miles and Huberman that consists of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion The results of this study addressed that the activities of women working in the fields gambir, no activity that was done at home, there are activities undertaken in the fields gambir and there is also the impact of women worked in the fields gambir, these impacts are: 1) the positive impact of women field workers gambir namely improve the family economy, and can also enhance the status of the family. 2) the negative impact of women worked in the fields gambir changes in capacity homework, husband less attention, educative function of children less accomplished.
Keywords: Women, Worker, Gambir Farm
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.
2Pembimbing I, Staf Pengajar Program Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.
3Pembimbing II,StafPengajarProgram Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.
i
Perempuan Pekerja Ladang Gambir ( Studi Kasus Kampung Kalan Tanah Nagari Barung- Barung Balantai Kecamatan Koto XI Tarusan)
Oleh
Mardi Giavano1,Marleni2,Yanti Sri Wahyuni3 Email: [email protected]
ABSTRAK
Sebagai Ibu rumah tangga dalam keluarga dan bekerja, perempuan mempunyai banyak hambatan dan rintangan, namun banyak juga perempuan yang memilih keduanya yaitu bekerja tetapi tidak meninggalkan peranan dan fungsinya dalam keluarga dengan bekerja perempuan dapat mengembangkan potensi yang memilikinya selain dapat menghasilkan pendapatan, apalagi dengan melihat tingginya kebutuhan hidup, ibu rumah rumah tangga yang berperan ganda tidak hanya bekerja sebagai pegawai negri, pegawai swasta, tapi juga berkerja sebagai petani, pedagang, pejahit, dan lain-lainnya. Penelitian ini bertujuan sebagai berikut: 1) Mendeskripsikan aktifitas perempuan pekerja di ladang gambir diKampung Kalang Tanah Nagari Barung-Barung Balantai Kec. Koto XI Tarusan. 2) Mendeskripsikan dampak positif dan negatif perempuan pekerja di ladang gambir.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Stuktural Fungsional yang dikemungkakan oleh talcot Parson. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, Dengan jumlah informan 32 orang. Jenis data terdiri daru data primer dan data sekunder. Pengumpulan dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Unit analisis adalah kelompok yaitu keluarga perempuan pekerja ladang gambir. Analisis data menggunakan model Miles dan Hubermen yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan
Hasil penelitian ini menujukan bahwa adanya aktifitas perempuan yang bekerja di ladang gambir, ada aktifitas yang di kerjakan dirumah, ada pula aktifitas yang dikerjakan di ladang gambir dan ada juga dampak perempuan bekerja diladang gambir, dampak tersebut adalah yaitu 1) dampak positif perempuan pekerja ladang gambir yaitu meningkatkan ekonomi keluarga , dan dapat juga meningkatkan status keluarga. 2) dampak negatif perempuan bekerja diladang gambir yaitu terjadinya perubahan kapasitas pekerjaan rumah, suami kurang diperhatikan, fungsi edukatif terhadap anak kurang terlaksana.
Kata Kunci: Perempuan, Pekerja, Ladang Gambir
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.
2Pembimbing I, Staf Pengajar Program Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.
3Pembimbing II,StafPengajarProgram Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat.
ii
1
PENDAHULUAN
Perempuan diciptakan dengan struktur tubuh yang khas, karakter dan tabiat yang amat berbeda dibandingkan struktur tubuh, karakter dan tabiat kaum laki-laki.
Secara fisik dan psikologis perempuan dianggap lemah, emosional, keibuan, pasif dan tidak mandiri. Konsekuensinya kaum perempuan tidak cocok untuk bekerja disektor publik. Secara kodrat, kaum perempuan dengan organ reproduksi bisa hamil, melahirkan, dan menyusui membuat perempuan cocok bekerja pada sektor domestik (Budiman, 1983:43).
Menurut (Fakih, 1996:20) pada ranah domestik banyak perempuan yang harus bekerja untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah tangganya, mulai dari membersihkan dan mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari air untuk mandi dan memelihara anak. Menurut (Suprianti, 2002:7) pada ranah publik peran yang dijalani seorang perempuan yaitu mengerjakan pekerjaan di luar rumah dengan tujuan mendapatkan penghasilan.
Hal ini mengakibatkan pergeseran peran Ibu rumah tangga menjadi perempuan yang ikut membantu ekonomi keluarga.
Keluarga merupakan titik sentral bagi pembangunan yang berkelanjutan karena dari keluarga akan muncul sumber daya potensial yang merupakan sumber daya yang paling penting dan berharga bagi pembangunan bangsa untuk itu setiap keluarga perlu mendapat kesempatan dalam pengembangan potensi seluruh anggota keluarga agar mampu menghasilkan daya yang potensial (Sajogyo, 1997: 124).
Di dalam keluarga suami mempunyai peranan memimpin yaitu peranan sebagai yang lebih tua, dan istri mempunyai peranan sebagai orang yang dipimpin, pasif atau sebagai yang lebih muda. Dalam hal ini bahwa hak-hak dan kewajiban-kewajiban si istri terpusat di dalam pemeliharaan kepentingan rumah tangga dan anak-anak itu diperlukan. Ini antara lain membawa akibat, bahwa ia juga mempunyai tugas untuk membatu suami dengan pekerjaan-pekerjaan ringan lainya (Sajogyo, 2002:68)
Dalam kehidupan sehari-hari perempuan berada dalam suatu konteks bebas ganda untuk memberikan pengasuhan yang tidak dibayar dalam pelayanan-
pelayanan pekerjaan rumah tangga, serta kelangsungan beban hidup perekonomian melalui kerja upahan, memberikan norma pada perempuan (Ollenburg dan Moore, 2002: 266). Ibu rumah tangga yang berkerja tambahan (part time) atau berperan ganda juga mengalami ketimpangan dalam menjalankan kegiatannya, sehingga menimbulkan masalah dalam rumah tangga maupun dalam pekerjaannya.
Sebagai Ibu rumah tangga dalam keluarga dan bekerja, perempuan mempunyai banyak hambatan dan rintangan, namun banyak juga perempuan yang memilih keduanya yaitu bekerja tetapi tidak meninggalkan peranan dan fungsinya dalam keluarga dengan bekerja perempuan dapat mengembangkan potensi yang memilikinya selain dapat menghasilkan pendapatan, apalagi dengan melihat tingginya kebutuhan hidup, Ibu rumah rumah tangga yang berperan ganda tidak hanya bekerja sebagai pegawai, kantoran, tapi juga berkerja sebagai petani, pedagang, pejahit, dan lain- lainnya (Soekanto, 2009: 46)
Berdasarkan observasi awal peneliti lakukan pada tanggal 08 September 2015 di Kampung Kalan Tanah memiliki beragam jenis pekerjaan diantara PNS, buruh petani gambir, peternakan, pedagang ikan, pedagang pangan dan swasta. Dapat dilihat berbagai macam jenis pekerjaan dengan jumlah yang paling banyak adalah laki-laki berjumlah 150 orang diantaranya yaitu, PNS tujuh orang, buruh petani gambir 60 orang, peternakan sapi 45 orang, pedagang ikan 13 orang, pedagang pangan delapan orang, swasta tujuh orang, dan petani sawah 10 orang. Sedangkan perempuan berjumlah 138 orang diantaranya yaitu, PNS 10 orang, pedagang pangan enam orang, swasta lima orang, dan petani sawah 15 orang. Dari penjelasan di atas jenis pekerjaan yang paling banyak dilakukan perempuan adalah buruh petani gambir yaitu berjumlah 90 orang, sedangakan yang paling sedikit yaitu swasta berjumlah lima orang.
Berdasarkan observasi awal pada tanggal 08 September 2015, peneliti melihat perempuan yang bekerja sebagai buruh petani gambir bekerja dari jam 07.00 pagi sampai jam 06.00 sore dengan perlengkapan yang digunakan yaitu parang yang digunakan untuk membersihkan batang gambir. Sebelumnya perempuan tersebut 1
2
sudah menyiapkan bekal untuk dimakan pada saat istirahat. Pekerjaan yang dilakukan perempuan tersebut semata-mata untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dalam hal ini akan memberikan dampak pada keluarganya salah satunya kurang perhatian kepada suami dan anaknya, berupa biasanya tiap pagi perempuan tersebut sudah membersikan rumah, menyiapkan sarapan dan menstrika baju anaknya untuk pergi sekolah namun setelah bekerja perempuan tersebut tidak melakukan hal ini dikarenakan pagi hari dia harus pergi berangkat kerja sebagai buruh tani gambir.
Ibu rumah tangga yang bekerja dibagian domestik seharusnya mengurus rumah tangga, anak-anak dan suaminya.
Selain itu ibu rumah tangga juga bekerja disektor publik yaitu sebagai buruh tani gambir. Mereka bekerja tidak hanya sebagai pencari nafkah penunjang untuk keluarga mereka tapi juga pencari nafkah utama bagi keluaga mereka. Ibu rumah tangga harus bisa membagi waktu dimana harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya sebelum berangkat bekerja. Sebagai buruh tani gambir ibu rumah tangga dengan waktu yang begitu lama berada diluar rumah dengan pekerjaan yang penuh resiko yang lebih berat ditanggung oleh perempuan.
Keluarga perempuan yang bekerja sebagai buruh petani gambir mempunyai ekonomi kelas menegah kebawah dengan suaminya yang penghasilnya rendah.
Beberapa data penghasilan suami perminggu yang mana berada pada kelas menengah kebawah. Penghasilan suami masih di bawah rata-rata Rp 400.000 perminggu. Namun tidak juga mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. Menurut masyarakat Nagari Barung-Barung Berlantai biaya hidup pada saat sekarang setidaknya mempunyai penghasilan minimal rata-rata Rp 600.000 dalam satu minggu baru cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Menurut hasil wawancara dengan Ibu Ani penghasilan Rp. 600.000 perminggu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti uang belanja anak untuk sekolah sebesar Rp 15.000 untuk tiga orang anak, berarti dalam satu minggu uang belanja anak sebesar Rp 105.000, untuk membeli beras di butuhkan biaya Rp 60.000 perminggu, untuk sayuran dan lauk pauk sebesar Rp 150.000
perminggu, biaya untuk suami beli rokok perminggu sebesar Rp 70.000. Sisa dari uang Rp 600.000 bisa digunakan untuk biaya yang diperlukan untuk biaya perbulan seperti biaya listrik dan cicilan dalam rumah tangga seperti cicilan sepeda motor. Maka dari itu perempuan berperan untuk menambah penghasilan suami menjadi Rp 600.000 perminggu. Dengan berkerja sebagai buruh petani gambir dengan penghasilan rata-rata Rp 300.000 perminggu.
Dari penjelasan di atas maka hal yang akan di teliti adalah perempuan pekerja ladang gambir di Kampung Kalang Tanah Nagari Barung-Barung Balantai Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan.
tujuan dari penelitian ini Mendeskripsikan aktifitas perempuan bekerja di ladang gambir diKampung Kalang Tanah Nagari Barung-Barung Balantai Kecamatan Koto XI Tarusan dan mendeskripsikan dampak positif dan negatif perempuan bekerja di ladang gambir terhadap keluarga.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Stuktural Fungsional. Dimana pada penelitian ini akan menganalisis pada level keluarga menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian lain. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain.
Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak ada atau akan hilang dengan sendirinya (Ritzer, 1985: 25).
METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan tipe deskriptif, yaitu penelitian dengan memberikan gambaran secara jelas dan sistematis terkait dengan objek yang diteliti demi memberikan informasi dan data yang valid terkait dengan fakta dan fenomena yang ada di lapangan (Moleong, 2010:7). Penelitian ini didasari dengan maksud untuk menggambarkan secara deskriptif bagaimana keberadaan Ibu Rumah Tangga Yang Berkerja Di ladang Gambir di Barung Barung Balaintai. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik purposive samplin, adapun informan dalam penelitian ini berjumlah 32 orang. Jenis data yang
3
digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah pertama observasi, dalam penelitian ini penulis menggunakan non-partisipant observation, karena penulis tidak terlibat langsung dalam kegiatan yang dilakukan informan. Kedua wawancara, wawancara yang penulis lakukan untuk mengumpulkan data adalah wawancara mendalam. Ketiga studi dokumen, berfungsi sebagai bukti dari adanya suatu penelitian didaerah yang diteliti.
Unit analisis dalam penelitian ini ad adalah kelompok yaitu perempuan yang bekerja di ladang gambir. Adapun teknik anlaisis data yang digunakan adalah teknik analisis data model interatif yang diajukan oleh Milles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Penelitian dilakukan di Kampung Kalang Tanah Nagari Barung- Barung Balantai Kecamatan Koto XI Tarusan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Perempuan Pekerja Ladang Gambir
Ladang gambir merupakan tanah yang diusahakan dan ditanam tanaman gambir sebagai tempat usaha dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Tanaman gambir adalah tanaman berbunga, berbatang keras, bertangkai pendek dan berdaun hijau muda yang akarnya berbelit ke batang. Tanaman gambir tumbuh pada iklim tropis yang mempunyai luas pohonnya yang sama dengan luas daun anggur, juga merupakan tanaman perdu atau salah satu di antara famili rubiace (kopi-kopian).
Nilai ekonomi tanaman gambir sangat tinggi karena mempunya ekstrak getah. Setelah daun dipetik lalu direbus selama 1 jam, setelah itu dilanjutkan dengan cara diperas untuk diambil getahnya.
Diperas dengan menggunakan alat yang disebut dongkrak yang terbuat dari baja seberat 50 kg. Dongkrak yang biasanya digunakan untuk mobil, namuan dalam hal pekerjaan gambir digunakan untuk memeras daun gambir supaya getah yang berada di daun gambir bisa keluar.
Adapun cara penanaman gambir di kampung Kalan Tanah Nagari Barung- Barung Balantai pertama tanah dibersikan, setelah dibersihkan baru lah ditanam gambir
dengan cara menggali tanah sedalam 5cm baru ditanamkan bibit kedalam lubang tersebut. Setelah berumur empat bulan tanaman gambir dibersihkan atau penyiangan dan sampai berumur 1,5 tahun barulah dipanen. Hasil panen diproduksi masih relatif rendah karena daunya masih sedikit yaitu sekitar 2000 kg daun dan ranting muda. Setelah itu dilakukan panen kedua pada saat umur tanaman gambir 2 sampai 2,5 tahun dan produksinya dari panen kedua dan ketiga produsinya meningkat karena daunya sudah banyak.
Luas tanah yang digunakan untuk berladang gambir oleh masyarakat kampung Kalan Tanah Nagari Barung-Barung Balantai paling sedikit sekitar 1 ha dan yang paling luas 5 ha, itupun tergantung sudah berapa lama menjadi petani gambir, karena peningkatan lahan dari tahun ke tehan mengalami peningkatan. Hal ini juga dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat yang menggantungkan hidupnya bekerja diladang gambir sebagai mata pencaharian sehari-hari kususnya pada ibu-ibu rumah tangga.
Perempuan mengandung arti bahwa adat minangkabau memberikan beberapa keutamaan pada kaum perempuan, dan menjaga kemuliaan dan ditinggikan, sehingga harus dilindungi oleh seluruh keluarga dari segala kemungkinan yang akan menjatuhkan martabat. Sejalan dengan pembangunan yang terjadi dalam masyarakat, dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern dan diiringi pertambahan penduduk serta tuntutan ekonomi yang sedemikian komplek mengakibatkan perubahan peran dalam masyarakat. Perempuan tidak hanya menggeluti sektor domestik saja tetapi telah memasuki sektor publik. Hal ini mengakibatka pergeseran dari ibu rumah tangga menjadi perempuan yang ikut serta dalam membantu ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai buruh diladang gambir.
Khususnya di kampung Kalang Tanah Nagari Barung-Barung Balantai perempuan tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga tetapi memiliki peran dalam mencari nafkah. Kebanyakan dari perempuan kalan tanah bekerja sebagai pekerja ladang gambir, karena tidak memiliki keahlian lainnya, seperti membuka usaha lain berupa membuka warung, toko
4
dan lain-lain. Pada umumnya perempuan di kampung Kalan Tanah Nagari Barung- Barung Balantai berpendidikan rendah sehingga lebih memilih bekerja diladang gambir untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dan juga dipengaruhi oleh adanya area ladang gambir yang begitu luas membuat pilihan untuk bekerja diladang gambir.
Hal ini dapat dilihat di kampung Kalang Tanah Nagari Barung-barung Balantai pada umumnya perempuan khususnya yang telah berkeluarga yang berekonomi lemah, bekerja sebagai pekerja ladang gambir, di kampug Kalang Tanah Nagari Barung-Barung Balantai ini banyak terdapat perbukitan yang luas yang merupakan warisan turun temurun, masing- masing keturuna punya bagian yang telah dibagi oleh keluarganya.
Perempuan pekerja ladang gambir memiliki rutinitas seperti, harus bangun pagi-pagi untuk mengurus keperluan suami dan anaknya, membuatkan sarapan dan menyiapkan perlengkapan anaknya jika anaknya bersekolah, menyiapkan keperluan suami jika suaminya bekerja, memasak, mencuci, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Perempuan pekerja ladang gambir ini berangkat pada pagi hari pada pukul 06:00 wib dan mulai bekerja ketika mereka sampai di tempat ladang gambir tersebut. Ketika pukul 12:00 wib, azan zuhur masuk biasanya mereka istirahat sejenak, untuk melakukan sholat dan makan siang.
Karena separuh waktu dihabiskan di luar rumah dari pukul 06:00 pagi sampai pukul 17:00 wib, maka untuk mengerjakan tugas rutin sebagai ibu rumah tangga biasanya di lakukan sebelum atau sesudah perempuan tersebut bekerja.
Dilihat dari kondisi keluarganya pada umumnya mereka tergolong keluarga berekonomi lemah, tingkat pendidikanya rendah, rata-rata mereka memiliki 3-7 orang anak. Oleh sebab itu mereka harus bekerja keras untuk membiayai sekolah anaknya dan menompang ekonomi keluarga. Sedangkan suaminya bekerja sebagai buruh petani gambir, pedagang ikan, pedagang pangan, pertenakan sapi, petani sawah dan sebagainya. Dari penghasilan tersebut mereka membiayai kebutuhan keluarga, seperti membeli beras, membeli bahan makanan dan menambah biaya sekolah anak
mereka. Biasanya upah hari ini akan langsung habis pada hari yang sama pula, sehingga mereka juga berusaha mencari pekerjaan lainya seperti bertani.
Kampung Kalang Tanah Nagari Barung-barung Balantai terdapat 18 kk yang istrinya bekerja diladang gambir yang masing-masing mempunyai anak rata-rata 3- 7 orang anak, paling sedikit anak dari Ibu yang bekerja diladang gambir ialah 3 orang anak, sedangkan yang paling banyak memiliki anak 7 orang anak. Adapun kepala keluaga mempunyai anak 3 diantaranya ialah Ibu Imun, Imar, Iyet, Upik dan Ibu Iyar. Sementara itu yang memiliki 4 orang anak yaitu Ibu Ilis, Imas dan Ibu Ipas.
Kemudian yang memiliki 5 orang anak yaitu Ibu Iyur, Eri dan Ides. Selanjutnya yang memiliki 6 orang anak yaitu Ibu Yenti dan Siham. Selanjutnya yang memiliki 7 orang anak yaitu Ibu Laida, Irus, Tena dan Mayas.
Jadi kesimpulanya dari keseluruhanya dapat disimpulkan bahwa mayoritas Ibu-ibu yang bekerja diladang gambir mempunyai anak banyak dan mempengaruhi ekonomi dalam keluarga.
1. Aktifitas Perempuan Pekerja Di Ladang Gambir
Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan terhadap perempuan yang berkerja di ladang gambir di kampung kalang tanah Nagari Barung-Barung Balantai mulai berangkat keladang gambir pada pukul 06:30 WIB pagi, setelah perempuan tersebut sampai diladang gambir mereka melakukan persiapan untuk bekerja, setelah perempuan tersebut melakuakn persiapan mereka akan masuk keladang gambir pada pukul 07:00 WIB untuk membersihkan ladang gambir dan setelah itu beristirahat sejenak pada pukul 12:00 WIB untuk melaksanakan shalat dan makan siang dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Pada pukul 17:00 WIB perempuan yang bekerja di ladang gambir pulang ke rumahnya masing-masing. Intinya dalam setengah hari itu perempuan bekerja diladang gambir istirahat pada waktu istirahat melakukan sholat dan makan siang.
Sebelum berangkat keladang gambir perempuan terlebih dahulu bangun pada pukul 05:00 WIB pagi dan melakukan sholat subuh. Setelah itu Ibu Iyur melanjutkan aktifitasnya dirumah pada pukul 05:30 WIB, perempuan tersebut membersihkan rumah
5
seperti, menyapu rumah, mencuci pirirng dan lain sebagainya. Setelah itu mereka mempersiapkan sarapan untuk anaknya yang berangkat kesekolah dan untuk suami berangkat bekerja selanjutnya informan juga mempersiakan bekal untuk dibawa keladang, berupa makana. Selanjutnya pengamatan terhadap Ibu Imun dimana peneliti melihat ketika sudah balik dari bekerja diladang gambir, sampai dirumah pada pukul 18:00 WIB. Setelah sampai dirumah peneliti melihat Ibu Imun beristirahat sejenak karena berjalan dari ladang gambir dan kemudian Ibu Imun itu mandi dan Sholat magrib.
Sesudah itu Ibu Imun tersebut melanjutkan aktifitasnya dirumah seperti memasak.
Sesudah memasak Ibu Imun Istirahat karena keesokan harinya bekerja lagi dan tidak sempat untuk berkumpul sama keluarga atau mengajarkan anaknya dirumah disebabkan Ibu Imun sudah lelah balik bekerja diladang gambir.
Aktifitas perempuan pekerja ladang gambir Kampung Kalan Tanah Nagari Barung-Barung balantai. Dilihat dari perempuan bekerja diladang gambir sebelum perempuan berangkat keladang gambir mempersiapkan bekal dan sarapan untuk anak yang akan berangkat sekolah dan suami yang pergi bekerja, setelah itu barualh perempuan tersebut berangkat keladang gambir. Sesampai diladang perempuan tersebut mempersiapkan alat-alat untuk bekerja diladang gambir, setelah siap menyiapkan peralatan barulah perampuan tersebut bekerja untuk membersikan ladang gambir.
2.Dampak Perempuan Pekerja Di Ladang Gambir
a) Dampak Positif
1. Meningkatkan Ekonomi Keluarganya Bekerja di ladang gambir berdampak positif bagi keluarganya. Dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan dapat menutupi kekurangan ekonomi keluaga.
Dimana sebelum bekerja di ladang gambir ekonomi keluarga sangat tidak stabil, dimana perempuan tersebut mengutang diwarung-warung untuk makan sehari-hari atau meminjam uang kepada tetangga untuk berbelanja kepasar karena ekonomi lemah.
Setelah bekerja diladang gambir ekonomi keluarga sudah mulai satbil. Perempuan yang bekerja diladang gambir penghasilanya dapat untuk membayar uang sekolah,
membeli peralatan rumah tangga seperti TV, Kulkas dan Kompor gas walaupun peralatan rumah tangga tersebut masi kredit atau belum kes. Dan penghasilan juga dapat untuk membeli beras dan cabe. Terkadang perempuan tersebut tidak memintak uang belanja kepada suaminya karena sudah ada penghasilan.
2.Dapat Meningkatkan Status Keluarganya.
Status keluarga merupakan hal yang harus diperjuangkan agar harkat martabat keluarga tersebut terangkat karena sangat berpengaruh pada hubungan sosial.
Begitu pula dengan keluarga perempuan ladang gambir, untuk mengangkat status keluarganya suami dan mereka sama-sama menaikan ekonomi keluarga dalam bekerja diladang gambir. jika suami mereka saja yang bekerja perekonomian keluarga mereka rendah, dalam mencukupinya mereka bersedia mencari biaya tambahan mereka bekerja dengan bekerja membersikan dan menyiang ladang gambir. Begitu pula dengan hubungan sosial dengan masyarakat hal ini dapat dilihat sebelum mereka bekerja diladang gambir mereka masih dipandang sebagai keluarga yang tidak mampu dan tidak berkecukupan sehingga dalam kegiatan julo-julo, arisan dan koperasi mereka tidak diikut sertakan. Namun setelah perempuan tersebut bekerja diladang gambir masyarakat mau memasukan mereka untuk ikut dalam kegiatan tersebut dan mereka dapat menabung dan meminjam uang dari koperasi maupun dari kegiatan julo-julo dan arisan.
Dapat ditarik kesimpulan status perempuan terangkat setelah mereka bekerja diladang gambir
b) Dampak Negatif
Perempuan yang berkerja di ladang gambir sangat berdampak negatif terhadap keluarganya, dimana seorang ibu rumah tangga seharusnya bekerja dirumah untuk membersihkan rumah dan mengasuh, mendidikan anak dan mengatur rumah tangga dan menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga, dimana semenjak perempuan yang bekerja diladang gambir berdampak negatif terhadap keluarganya dimana pekerjaan rumah tangga tidak sepenuhnya terlaksana. Dampak negatif lain dari perempuan pekerja ladang gambir terhadap perenan domestik adalah sebagai berikut:
6
1.Terjadinya Perubahan Kapasitas Pekerjaan Rumah.
Bekerja diladang gambir dapat berdampak negatif terhadap keluarga, dimana biasanya perempuan yang sebagai ibu rumah tangga sudah bekerja di rumah sampai sore untuk membersihkan rumah dan mengurus rumah, seperti mencuci piring, mencuci baju, dan menyapu rumah tidak itu saja masih banyak hal lainya yang akan dikerjakan oleh seorang ibu rumah tangga.
Tetapi semenjak perempuan bekerja di ladang gambir pekerjaan rumah tidak lagi di kerjakan secara baik, maka dari itu pekerjaan rumah dilakukan oleh anak dari perempuan pekerja ladang gambir, seperti yang dikerjakanya mencuci piring, menyapu rumah, menstrika baju dan dibantu juga oleh suaminya dengan mengerjaka pekerjaan rumah menyapu halamn rumah yang berantakan karena sampah, ketika peremepuan pekerja ladang gambir sudah pulang dari ladang gambir aktivitas yang dilakukanya di rumah yaitu memasak dan mencuci pakaian dan pekerjaan lainya.
2.Kurangnya Perhatian Terhadap Suami Suami merupakan kepala keluarga bertugas untuk mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan keluarganya sedangkan istri bertugas untuk melayani kebutuhan suaminya. Jika istri juga bekerja untuk mencari nafkah tambahan diluar rumah maka perhatian istri terhadap suami berkurang.
Ketika istri bekerja diladang gambir sangatlah berpengaruh terhadap suaminya, dimana suami tidak terperhatikan lagi semenjak istrinya bekeja diladang gambir, ketika itu suami mengurus dirinya sendiri kalau suaminya mau makan terpaksa ambil sendiri terkadang kalau ada anaknya, anaknya mengambilkan mankan, setelah itu baju suami tidak terstrika oleh istri, terkadang kalau suami mau pergi kemana- mana terpaksa strika sendiri, biasanya kalau istri belum bekerja diladang gambir suami terperhatikan oleh istri, semuanya disiapkan oleh istri, kalau suami mau makan istrilah yang menghidangkan, dan baju suami juga rapi-rapi ketika istri belum bekerja diladang gambir.
3.Fungsi EdukatifTerhadap Anak Kurang Terlaksana.
Ketika perempuan bekerja di luar rumah sangatlah berpengaruh terhadap
anaknya, dimana kalau seorang ibu rumah bekerja diladang gambir anaknya tidak terurus lagi, tidak mendapatkan pendidikan dari orang tuanya atau pengarahan mana yang baik maupun yang buruk untuk tidak dikerjakan, setelah itu anak yang ditinggalkan dirumah ketika ibunya bekerja yang dia kerjakan tidak menentu, dilihat dari pola makan yang tidak teratur dan jam bermain tidak terbatas karena pengawasan terhadap anak tidak ada, ketika itulah berdampak negatif terhadap anaknya.
Dalam permasalahan sosial ini peneliti menggunakan teori Stuktural Fungsional yang dikemukan oleh Parson, dia menyatakan bahwa ada empat fungsi penting yang merupakan kumpulan yang ditunjukan ke arah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem antara lain: Adaptain (A), Goal Attaiment (G), Intregration (I), dan latency (L), berdasarkan teori ini dapat dijelaskan bahwa sistem organisme biologis dalam sistem tindakan berhubungan dengan fungsi adaptasi pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola-pola atau struktur yang ada dengan menyiapkan norma-norma dan nilai-nilai yang memotivasi mereka dalam berbuat sesuatu. Sehubungan dengan hal ini dimana ibu sebagai ibu rumah tangga dan pekerja ladang gambir menjalankan tuntunan untuk berkeja dan mampu menghadapi segala permasalahan dalam memenuhi kebutuhan keluarga , maka ibu harus merasa yakin bahwa dirinya mampu dalam menghadapi tantangan baik merawat anak dan mencari nafkah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan penelitian terhadap peneliti lakukan pada perempuan pekerja ladang gambir dikampung Kalan Tanah Nagari Barung-Barung Balantai dapat disipulkan : 1). Aktifitas perempuan pekerja ladang gambir Kampung Kalan Tanah Nagari Barung-Barung balantai. Dilihat dari perempuan bekerja diladang gambir sebelum perempuan berangkat keladang gambir mempersiapkan bekal dan sarapan untuk anak yang akan berangkat sekolah dan suami yang pergi bekerja, setelah itu barualh perempuan tersebut berangkat keladang gambir. Sesampai diladang perempuan tersebut mempersiapkan alat-alat untuk bekerja diladang gambir, setelah siap menyiapkan peralatan barulah perampuan
7
tersebut bekerja untuk membersikan ladang gambir. b) Dampak positif dan negatif perempuan bekerja diladang gambir Kampung Kalan Tanah Nagari Barung- Barung Balantai yaitu bertambahnya pendapatan ekonomi keluarga, meningkatnya status keluarga, Terjadinya Perubahan Kapasitas pekerjaan Rumah dimana pekerjaan rumah pekerjaan yang menjadi tanggung jawab ibu rumah tangga seperti mencuci pakaian, menyapu rumah, mencuci piring, mengurus anak dan mengurus rumah lainya, Suami Tidak Terlalu Terperhatikan, Fungsi Edukatif Kurang Terlaksana dimana anak tidak mendapatkan pendidikan didalam rumah tangga.
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, penulis juga mencantumkan beberapa saran yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan.
Adapun saran-saran itu sebagai berikut:
1. Diharapkan kepada perempuan yang bekerja diladang gambir khususnya Kampung Kalan Tanah Nagari Barung- Barung Balantai hendaknya dapat menjaga keseimbangan dalam rumah tangganya dengan melaksanakan peran domestiknya dan juga menjaga relasi dengan suaminya.
2. Diharapkan kepada seluruhanggota keluarga perempuan pekerja ladang gambir yaitu kepada suami dan anaknya.
Agar dapat membantu atau menyeimbangi pekerjaan istri. Seperti membantu mencuci piring, menyapu rumah dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Budiman, Arif. 1983.Sosiologi Keluarga.
Bandung : PT. Aksara.
Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Pustaka Pealajar: Yogyakarta.
Mahmut.2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : CV Pustaka Setia
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Ngurah, Gusti Agung. 1992. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ollenburge, J.D dan H.A. Moore. 2002.
Sosiologi Wanita. Jakarta: PT Asdi Mahasatya Rineka Cipta.
Ritzer George. 2010. Teori Sosiologi Modren. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Sajogyo, P.S. 2002. Sosiologi Pedesaan.
Yogyakarta: Gajah Mada Universiti Press.
Soekanto, Soerjono.2009 Sossiologi Keluarga. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sri Suprianti. 2002. Hubungan Antara Pandangan Peran Gender Dengan Keterlibatan Suami dalam Rumah Tangga.(jurnal) Vol XI
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.