• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERHITUNGAN DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG STATIS DAN DINAMIS PADA ABUTMEN JEMBATAN KELAYAN A - GERILYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PERHITUNGAN DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG STATIS DAN DINAMIS PADA ABUTMEN JEMBATAN KELAYAN A - GERILYA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

9 Desember 2023

12

PERHITUNGAN DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG STATIS DAN DINAMIS PADA ABUTMEN

JEMBATAN KELAYAN A - GERILYA Aisya Salsabila Putri

1,a

1Teknik Sipil, Politeknik Negeri Banjarmasin,

a[email protected]

ABSTRAK

Jembatan Kelayan A - Gerilya terletak di Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin. Bentang jembatan 50,94 m dengan lebar sungai 43 m, dan lebar jembatan 12,7 m. Hasil uji pemboran di lapangan, tanah permukaan hingga kedalaman 25 m merupakan tanah lanau lunak, lapisan selanjutnya berupa lapisan lempung sangat kaku pada kedalaman 25 - 33 m, mulai kedalaman 33 - 35 m terdapat lapisan pasir kasar sangat padat dengan N- SPT 60. Pada kedalaman 35 - 36 m terdapat lapisan lensa tipis pasir medium dengan N-SPT 18. lapisan tanah keras didapatkan mulai kedalaman 36 - 50 m. Pondasi abutmen jembatan menggunakan spun pile diameter 0,50 m dan kedalaman tiang 36 m. Abutmen yang dihitung pada sisi Gerilya.

Perhitungan daya dukung ijin pondasi tiang pada jembatan kelayan A - Gerilya ini menggunakan Data SPT, Kalendering, dan PDA Test. Perhitungan pembebanan dengan SNI 1725- 2016, Perhitungan gaya gempa berdasarkan SNI 2833-2016. Daya Dukung SPT dengan metode Mayerhoff (1956), Kalendering menggunakan metode Hiley, Daya Dukung Lateral menggunakan metode Broms, Perhitungan Effisiensi dengan metode Converse- Labarre. Kontrol daya dukung ijin tunggal terhadap beban aksial yang bekerja.

Hasil pembebanan pada abutmen dengan gaya horizontal 1,340 ton, dan gaya aksial sebesar 41,406 ton. Daya Dukung Ultimit hasil SPT sebesar 255,53 ton. Hasil Kalendering sebesar 243,995 ton. Hasil PDA Test sebesar 294 ton. Perbandingan N SPT dengan kalendering sebesar 96,27% , dan dengan PDA Test sebesar 115,99%. Faktor keamanan tiang terhadap beban aksial sebesar 6,171 < 2 (Aman), terhadap beban lateral sebesar 16,123 > 2 (Aman).

Kata kunci : Jembatan, Abutmen, Spun Pile PENDAHULUAN

Latar belakang

Wilayah Kelayan - Gerilya dlalui oleh anak Sungai kelayan yang merupakan daerah sangat padat penduduk, namun hanya terdapat jembatan non permanen (kayu ulin) yang terlah mengalami penurunan struktur, dan sulitnya akses kendaraan besar mulai dari roda 4 (empat) hingga truk besar dikarenakan sempitnya akses jalan, sehingga akses kendaraan yang melintasi Jalan Kelayan A ke Jalan Gerilya terhambat.

Permasalahan terhambatnya akses transportasi antara Jalan Kelayan A dan Jalan Gerilya diatasi oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin dengan

membangun sebuah jembatan yang menjadi penghubung antara ruas Jalan Kelayan A dengan ruas Jalan Gerilya, dengan adanya pembangunan jembatan tersebut diharapkan dapat menghubungkan akses lalu lintas dan dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di wilayah Kelayan dan Gerilya.

Adapun tujuan yang akan dicapai pada penyusunan tugas akhir ini adalah : Mendapatkan nilai pembebanan pada abutmen; Mendapatkan daya dukung tiang tunggal berdasarkan hasil uji SPT (Standart Penetration Test); Mengetahui besar daya dukung tiang berdasarkan data kalendering;Mengetahui besar daya dukung tiang berdasarkan PDA test.;

Mengetahui perbandingan daya dukung

(2)

9 Desember 2023

13 SPT (Standart Penetration Test) dengan data kalendering dan hasil PDA test.;

Mendapatkan efisiensi kelompok tiang dan daya dukung lateral tiang.;

Mendapatkan besar daya dukung pada setiap kelompok tiang di lapangan.;

Mengetahui faktor keamanan yang diperoleh dari hasil perhitungan.

TINJAUAN PUSTAKA

Jembatan adalah suatu bangunan yang memungkinkan suatu jalan menyilang sungai/ saluran air, lembah atau menyilang jalan lain yang tidak sama tinggi permukaannya. Dalam perencanaan dan perancangan jembatan sebaiknya mempertimbangkan fungsi kebutuhan transportasi, persyaratan teknis dan estetika- arsitektural yang meliputi: aspek lalu lintas, aspek teknis, aspek estetika (Supriyadi dan Muntohar, 2007)

Pondasi tiang atau pondasi dalam digunakan untuk konstruksi beton berat (high rise building). Sebelum melaksanakan suatu pembangunan kontruksi yang pertama dilaksanakan adalah pekerjaan pondasi (struktur bawah). Pondasi merupakan suatu pekejaan yang sangat penting dalam suatu pembangunan, karena pondasi memikul dan menahan suatu benda yang bekerja diatasnya yaitu beban kontruksi atas (Hardiyatmo,H.C. 2011:76). Tiang pancang merupakan salah satu jenis dari pondasi dalam. Pondasi tiang juga digunakan untuk mendukung bangunan bila lapisan tanah kuat teletak sangat dalam. Pondasi jenis ini dapat juga mendukung bangunan yang menahan gaya angkat ke atas, terutama pada bangunan tingkat yang di pengaruhi oleh gaya penggulingan akibat beban angin.

Tiang juga untuk mendukung bangunan dermaga, pada bangunan ini tiang dipengaruhi oleh gaya benturan kapal dan gelombang air. (Hardiyatmo, H.C.

2002).

Tiang pancang adalah bagian - bagian konstruksi yang dibuat dari kayu, beton dan atau baja, yang digunakan untuk meneruskan (mentransmisikan) beban-

beban permukaan ke tingkat - tingkat permukaan yang lebih rendah di dalam massa tanah. Fungsi dan kegunaan dari pondasi tiang pancang adalah untuk memindahkan atau mentransfer beban - beban dari konstruksi di atasnya (upper structure) ke lapisan tanah keras yang letaknya sangat dalam (Hutami,2013) HASIL PEMBAHASAN

Absis Tiang

Gambar 1. Konfigurasi Tiang Pancang pada Abutmen

Sumber : Gambar Kerja Proyek, 2020

Banyaknya tiang (n) = 10

Banyak tiang pancang dalam satu baris

arah x (nx) = 5

Banyak tiang pancang dalam satu baris

arah y (ny) = 2

Absis maksimum (Xmax) = 5,25 m Ordinat maksimum (Ymax) = 1,1 Jarak tiang pada arah x

X1 = 0,55 m X2 = 0,55 m Jarak tiang pada arah y

Y1 = 5,25 m Y2 = 2,63 m Y3 = 0,00 m Y4 = 2,63 m Y5 = 5,25

Jumlah kuadrat absis – absis tiang pancang : Ζ©X2 = 2 Γ— [(2Γ—5,252) + (2Γ—2,632) + (2Γ—02)]

= 137,813 m2 Ζ©Y2 = 5 Γ— (2Γ—0,552)

= 3,025 m2

(3)

9 Desember 2023

14 Beban Vertikal dan Gaya Aksial

π‘ƒπ‘šπ‘Žπ‘₯ = βˆ‘ 𝑉

𝑛 + 𝑀π‘₯ .π‘‹π‘šπ‘Žπ‘₯

𝑛𝑦 .βˆ‘ π‘₯2 + 𝑀𝑦 .π‘Œπ‘šπ‘Žπ‘₯

𝑛π‘₯ .βˆ‘ 𝑦2 Rekapitulasi Beban Ultimit

Kombinasi beban yang bekerja pada tiang pancang berikutnya dihitung dengan cara yang sama, dapat dilihat pada Tabel 18 Tabel 1. Rekapitulasi Gaya Yang Bekerja Pada Satu Tiang Abutmen

Sumber : Perhitungan

Dari Tabel 1 maka didapat gaya-gaya maksimum pada Kombinasi Kuat I yang bekerja pada satu tiang adalah sebagai berikut :

Gaya Vertikal Maksimum (V) = 41,406 ton Gaya Aksial Maksimum (P) = 41,406 ton Gaya Horisontal Maksimum (H) = 1,340 ton

Perhitungan Daya Dukung Pondasi Data Pondasi

Jenis Pondasi = Tiang Pancang Spunpile Diameter tiang = 50 cm

= 0,5 m

Kedalaman pemancangan = 36 m Luas Penampang (Atiang) = ΒΌ Γ— Ο€ Γ— D2

= ΒΌ Γ— 3,14 Γ— (0,5)2

= 0,196 m2 Keliling Tiang (Ptiang) = Ο€ Γ— D

= 1,57 m

Penentuan Rencana Kedalaman Tiang Tertanam

Tiang pada proyek ini direncanakan

menggunakan tahanan ujung tiang (end bearing pile). Hasil deskripsi tanah menunjukkan lapisan sangat padat terletak mulai kedalaman 33,00 sampai 50,00 meter.

Akan tetapi pada kedalaman 35,00-36,00 meter terdapat lensa pasir medium dengan N- SPT 18. Lapisan tanah keras dengan N-SPT

>50 sebanyak 3 kali berturut-turut mulai kedalaman 36,00 - 50,00 meter.

Direncanakan kedalaman tiang tertanam sebesar 36 meter.

Tabel 2 Deskripsi Tanah Hasil Uji N-SPT titik BH-1

Sumber : Perhitungan

Perhitungan Daya Dukung Tiang Beban Aksial Berdasarkan Standart Penetration Test (SPT)

Contoh perhitungan koreksi SPT pada kedalaman 36 m

1. Koreksi terhadap muka air tanah

Khusus untuk tanah pasir halus, pasir berlanau dan pasir berlempung yang berada dibawah muka air tanah dan hanya bila N > 15 :

a) N1= 15 + Β½ (N - 15) (Terzaghi & Peck) Perhitungan pada kedalaman 36 meter:

N1 = 15 + Β½ ( 18 - 15)

= 16,50

b) N1= 0,6 N (Bazaraa, 1967)

c) Perhitungan pada kedalaman 36 meter :

N1 = 0,6 Γ— 18

= 10,80

Maka diambil N1 terkecil yakni pada N1b. = 10,80

(4)

9 Desember 2023

15 2. Koreksi terhadap overburden pressure

dari tanah.

Hasil dari koreksi 1 (N1) dikoreksi lagi untuk pengaruh tekanan vertikal efektif pada lapisan tanah dimana harga N tersebut didapatkan (tekanan vertikal efektif = overburden pressure).

Koreksi terhadap overburden pressure (Bazaraa, 1967)

𝑁2 = 4 𝑁1

1+0,4 π‘π‘œ ; bila po ≀ 7,5 ton/m2 𝑁2 = 3,25+0,1 π‘π‘œ4 𝑁1 ; bila po > 7,5 ton/m2 po : tekanan tanah vertikal efektif pada lapisan / kedalaman yang ditinjau

𝑁2 = 4 Γ—10,80

3,25+0,1 Γ—18,60 = 8,454

Harga N2 harus ≀ N1, apabila dari koreksi didapat N2 > N1 dibuat N2 = 2 N1 Tiang pancang dibagi menjadi n segmen (biasanya hi = 1m atau 2m)

Tabel 3. Pedoman Memprakirakan Berat Volume Jenuh (Ξ³ sat) dari Harga N- SPT, untuk Tanah Dominan Pasir (Teng, 1962).

Sumber : Mochtar, 2009

Perhitungan nilai Qp, Qs, Qult, dan Qall pada kedalaman 36 meter :

N Koreksi = 8,454

N Rata- rata ujung = 20,04 Diameter tiang (D) = 0,5 m Luas Penampang Tiang (Ap) = ΒΌ Γ— Ο€ Γ— DΒ²

=ΒΌΓ—3,14Γ—

(0,5)2

= 0,196 m2 Keliling Tiang (Oi) = 3,14 Γ— 0,5

= 1,57

Maka,

Qp = 40 Γ— Nrata-rata ujung Γ— Ap

= 40 Γ— 20,04 Γ— 0,196

= 157,15 ton

Qs = 0,2Γ—N koreksi rata-rata Γ— Oi Γ— Kedalaman

= 0,2 Γ— 4,01 Γ— 1,57 Γ— 36

= 98,38 ton Qult = Qp + Qs

= 157,15 + 98,38

= 255,53 ton Faktor Keamanan

Dari perhitungan daya dukung, kemudian dihitung faktor keamanan dengan hasil ketentuan berdasarkan Tabel 2.18, untuk bangunan permanen dengan Pengendalian Baik sebesar 2.

𝑆𝐹 = 𝑃 π‘Žπ‘˜π‘ π‘–π‘Žπ‘™π‘„π‘’π‘™π‘‘ = 255,5341,406= 6,171 >

2 (Aman)

Dari hasil perhitungan pada kedalanan 36 meter, daya dukung ujung (Qp) sebesar 157,15 ton, daya dukung selimut (Qs) sebesar 98,38 ton, daya dukung ultimit (Qult) sebesar 255,53 ton, dan Faktor Keamanan (SF) sebesar 6,171

Gambar 2 Grafik Daya Dukung SPT BH-01 Menggunakan Metode Mayerhoff (1956).

Sumber : Perhitungan

(5)

9 Desember 2023

16 Effisiensi Kelompok Tiang dan Daya Dukung Lateral Tiang

Gambar 3 Sketsa Tiang Pancang Sumber : Gambar Proyek Perhitungan Effisiensi kelompok tiang menggunakan persamaan Converse- Labarre sebagai berikut :

Konfigurasi tiang sumbu x (m) = 2 Konfigurasi tiang sumbu y (n) = 5

Jumlah tiang = 10

Diameter = 50 cm

Jarak antar as tiang pada sumbu x (d) = 110 cm

Jarak antar as tiang pada sumbu y (k) = 262,5 cm

Σ¨x = tan-1 (D/d)

= tan-1 (50/110)

= 26,5650 Σ¨y = tan-1 (D/k)

= tan-1 (50/262.5) = 10,7840

Σ¨ = Σ¨π‘₯+ Ө𝑦

2 = 26,565+ 10,784 2

= 18,675 Efisiensi tiang (ƞ):

ƞ = 1 βˆ’ Σ¨ (π‘›βˆ’1)π‘š+(π‘šβˆ’1)𝑛 90 . π‘š . 𝑛

= 1 βˆ’ 18,675 (5βˆ’1)2+(2βˆ’1)5 90 . 2 . 5

= 73,03 %

Kapasitas daya dukung tiang pancang kelompok dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :

Qult group = Qult single Γ— n Γ— Efisiensi tiang

= 52,202 Γ— 10 Γ— 73,03%

= 385,68 ton Dimana,

Qult single = Efisiensi tiang Γ— Qizin

= 73,03 % Γ— 71,48

= 52,202 ton Kontrol :

Qult group > Qult single = 385,68 ton >

52,202 ton …. OK !

Daya Dukung Lateral Tiang

Digunakan metode Brom dalam perhitungan dengan data berikut :

Hkerja = 1,340 ton

Diameter tiang (D) = 0,50 m Tebal tiang (t) = 0,09 m

fc’ = 50 MPa

Angka Poisson (ΞΌs) = (Medium Clay 0,25-0,4) di ambil 0.4

Modulus elastisitas tanah / modulus young (Es)

Es = Medium Clay 17,25 – 27,6

= diambil 27,6 MPa

= 27600 kN/m2 Modulus Elastisitas Tiang Ep = 4700 Γ— βˆšπ‘“π‘β€²

= 4700 Γ— √50 π‘€π‘ƒπ‘Ž

= 33234,02 MPa

= 33,234.106 kPa

= 33,234.106 kN/m2

Momen Inersia Penampang Tiang Ip = (1

64) Γ— πœ‹ Γ— 𝐷4

= (1

64) Γ— πœ‹ Γ— 0,54

= 0,003 m4

Beban lateral kelompok tiang (H) : H = 13,396 ton = 133,96 kN Beban lateral tiang tunggal :

(6)

9 Desember 2023

17

= 133,96

10 = 13,396 kN Tegangan Izin Tiang (Οƒijin) Οƒijin = 0,33 Γ— 50 MPa Γ— 1000

= 16500 kN/m2 Momen Tahanan Tiang (S)

S = 1

32 πœ‹ (𝐷4βˆ’(π·βˆ’π‘‘)4

𝐷 )

= 1

32 πœ‹ (0,54βˆ’(0,6βˆ’0,09)4

0,5 )

= 0,00672 m3 Momen maksimum tiang : My = Οƒijin Γ— S

= 16.500 kN/m2 Γ— 0,00672 m3

= 110,55 kN.m

Koefisien reaksi horizontal subgrade : k = 0,65 Γ— βˆšπΈπ‘  . 𝐷4

𝐸𝑝 . 𝐼𝑝

12 . 𝐸𝑠

1βˆ’ πœ‡π‘ 

= 0,65 Γ— √ 27600 . 0,54 33234,02 . 0,003

12 .27600

1βˆ’ 0,4

= 15201,7 kN/m3 Ξ² = ( π‘˜ . 𝑑

4 . 𝐸𝑝 . 𝐼𝑝)

1⁄4

= ( 15201,7 . 0,5 4 . 33234,02 . 0,003)

1⁄4

= 2,089 Tiang tertahan

𝛽.L > 1,5 (tiang panjang) 𝛽.L < 1,5 (tiang pendek) Maka ,

𝛽.L = 2,089 Γ— 36 meter

= 75,219 > 1.5

termasuk dalam kategori tiang panjang.

Cu = 0,6 Γ— N-SPT

= 0,6 Γ— 18

= 10,8 t/m2 Rasio = 2 . 𝑀𝑦

𝐢𝑒 .𝐷3

= 2 . 11,05

10,8 . 0,53

= 16,370

Gambar 4. Grafik Ketahanan Lateral Ultimit Untuk Tiang Panjang Pada Tanah Kohesif

Sumber : BMS Bridge Desain Manual Volume 2 Tahun 1992

Dari pembacaan grafik, didapat nilai : 𝑄𝐿

𝐢𝑒 . 𝐷2= 8

Qu = Hu Γ— Cu Γ— D2

= 8 Γ— 0,6 Γ— (0,5)2 = 21,6 ton SF = Qu/P Horisontal

= 21,6/1,340

= 16,123 > 2 (Aman)

Daya Dukung Tiang Berdasarkan Data Kalendering

Untuk menentukan daya dukung tiang pancang tunggal pada data kalendering (Hiley, 1930).

Perhitungan daya dukung pada tiang C-5 : Data tiang :

Ap = 0,196 m2

Berat Palu (W) = 3,5 ton Tinggi jatuh ram (H) = 1 meter Koefisien restitusi (N) = 0,85

Menghitung penetrasi tiang pancang 10 tumbukan terakhir (kalendering)

S = 1,1

10

= 0,11 cm

(7)

9 Desember 2023

18

= 0,0011 meter

menghitung rata – rata rebound untuk 10 tumbukan terakhir :

K =

(2,2+2,1+2,2+2,2+2,1+2,2+2,2+2,2+2,1+2,2) 10

= 2,17 cm

= 0,0217 m

Menghitung berat tiang oancang (P) P = 0,29 Γ— Kedalaman tiang

= 0,29 Γ— 34.3

= 9,947 ton R = 2π‘Š . 𝐻

𝑆+𝐾 Γ— π‘Š+𝑁2 𝑃

π‘Š+𝑃

= 2 . 3,5 . 1

0,0011 +0,0217 Γ— 3,5 +0,852 9,947

3,5 +9,947

= 243,995 ton

SF = 𝑅

𝑃 π‘Žπ‘˜π‘ π‘–π‘Žπ‘™

= 243,995

41,406

Untuk perhitungan pada tiang lain dapat dilihat pada tabel 4

Daya Dukung Tiang Beban Aksial Berdasarkan PDA Test

Tabel 5 Rekapitulasi Hasil PDA Test

Hasil analisa pada tiang C5 dengan diameter 50 cm, panjang total saat diuji = 38 m, panjang tiang dari sensor = 36,5 m, panjang tertanam = 36 m dengan sumber impact diesel hammer DD35 menunjukkan kapasitas tiang uji (bearing capacity) sebesar 294 ton, dengan lengketan atau

daya dukung gesek (Rs) sebesar 113 ton, dan Tahanan Ujung (Rb) sebesar 181 ton dengan penurunan maksimum (DMX) 23 mm, dan penurunan permanen (DFN) 0,09 mm

Perbandingan Daya Dukung Pondasi Dari hasil perhitungan diatas, perbandingan nilai daya dukung (Qu) berdasarkan nilai N- SPT, Kalendering, dan PDA Test dapat dilihat pada Tabel 6 dan gambar 7

Tabel 6 Perbandingan Daya Dukung Ultimit

Gambar 5 Grafik Perbandingan Daya Dukung Ultimit (Qu)

Dari Gambar 4.14 diketahui daya dukung ultimit (Qu) berdasarkan SPT sebesar 255,532 ton, hasil perhitungan kalendering sebesar 243,995 ton dan PDA

Test sebesar 294 ton. Perbandingan N-SPT dengan hasil pengujian kalendering sebesar 95,49% , perbandingan N-SPT dengan hasil pengujian PDA Test sebesar 115,05%. Hasil uji PDA Test lebih besar dibandingkan dengan hasil kalendering di lapangan. Hal ini disebabkan pelaksanaan uji PDA Test dilakukan 1 hari setelah pemancangan sehingga meningkatkan kapasitas dukung ultimit tiang.

Tabel diatas menunjukkan bahwa hasil perhitungan metode statis menggunakan N- Koreksi (Bazaraa,1967) dan Daya Dukung SPT (Mayerhoff 1956) dapat diverifikasi

No.

Titik Tanggal Kedalaman Kalendering

(S) Rebound (K) P R SF

(meter) (meter) (meter) (ton) (ton) C-1 12 Agustus 2021 34,53 0,0012 0,0197 10,0137 266,0574 6,4256 C-2 12 Agustus 2021 34,27 0,0013 0,0222 9,9383 236,7414 5,7176 C-3 13 Agustus 2021 34,56 0,0011 0,0227 10,0224 233,6251 5,6424 C-4 13 Agustus 2021 34,35 0,0012 0,0214 9,9615 246,1306 5,9444 C-5 14 Agustus 2021 34,3 0,0011 0,0217 9,9470 243,9954 5,8928 C-6 11 Agustus 2021 34,82 0,0010 0,0214 10,0978 248,1022 5,9920 C-7 12 Agustus 2021 33,95 0,0010 0,0199 9,8455 266,3608 6,4330 C-8 13 Agustus 2021 34,15 0,0010 0,0231 9,9035 230,9019 5,5766 C-9 14 Agustus 2021 34,18 0,0012 0,0189 9,9122 276,8362 6,6860 C-10 14 Agustus 2021 34,05 0,0013 0,0203 9,8745 257,6776 6,2233

(8)

9 Desember 2023

19 sebagai rumus yang cukup handal dalam memprediksi daya dukung ultimit.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penyusunan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

1) Hasil perhitungan pembebanan pada abutmen diambil pada Kombinasi Kuat I dengan Gaya Vertikal Maksimum = 41,406 ton ,Gaya Horisontal Maksimum = 1,340 ton , dan Gaya Aksial Maksimum = 41,406 ton.

2) Pada SPT BH-01 kedalaman 36 meter, Daya Dukung Ultimit sebesar 255,53 ton, Daya Dukung Selimut (Qs) sebesar 98,38 ton, dan Daya Dukung Ujung sebesar 157,15 ton.

3) Pada Kalendering dengan No. Titik tiang C-5, Daya Dukung Ultimit sebesar 243,995 ton.

4) Pada PDA Test dengan No. titik tiang C-5, Kapasitas Tiang Uji sebesar 294,00 ton, Daya Dukung Gesek sebesar 113,00 ton, dan Tahanan Ujung sebesar 181,00 ton.

5) Perbandingan N-SPT dengan hasil pengujian kalendering sebesar 95,49%, dan perbandingan N-SPT dengan PDA Test sebesar 115,05%

6) Nilai effisiensi kelompok tiang menggunakan persamaan Converse- Labarre pada abutmen sebesar 73,03 %.

7) Daya dukung tiang kelompok abutmen sebesar 385,68 ton.

8) Faktor keamanan tiang terhadap beban aksial sebesar 6,171 > 2 (Aman), terhadap beban lateral sebesar 16,123 > 2 (Aman)

REFERENSI

[1] Hardiyatmo, H.C., 2002. Teknik Pondasi 2. Edisi Kedua. Beta Offset Yogyakarta.

[2] ---, 2011. Analisis dan Perancangan Fondasi I. Edisi Kedua. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

[3] Das, Braja M., 1998 Mekanika Tanah.

Jilid 1 dan 2. Erlangga. Jakarta. Husnah.

Tanpa Tahun. Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Pondasi Tissue Block 5&6, Universitas Abdurrab. Jurnal. Pekanbaru.

[4] Ramadhani, Hutami Dwi. 2013. Analisa Perhitungan Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Olahraga (GOR) Gulat Samarinda, Universitas 17 Agustus 1945.

Jurnal. Samarinda.

[5] Badan Standarisasi Nasional. 2016.

Standar Pembebanan untuk Jembatan (SNI 1725-2016). Jakarta.

[6] ---, 2016. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan (SNI 2833:2016). Jakarta.

[7] Das, Braja M, Noor Endah Mochtar, Indrasurya B. Mochtar. 1995. Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis). Erlangga, Surabaya.

[8] Bowles, Joseph E. 1992. Analisa dan Desain Pondasi 1. Edisi Keempat Jilid I.

Erlangga. Jakarta.

[9] Tunafiah, Halimah. 2017. Analis Metode Statis dan Dinamis Penelitian Daya Dukung dan Penurunan Pondasi Tiang Pancang. Staff Pengajar Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Tangerang, Tangerang.

[10] Sulha, dkk. 2019. Analisis Kapasitas Dukung Tiang Pncang Tunggal Berdasarkan Data N-SPT, CPT dan Kalendering. Universitas Halu Oleo.

Jurnal Stabilita. Kendari.

[11] Kawengian, Sabrina. 2018. Analisa Daya Dukung Lateral Pada Tiang Pancang Kelompok di Dermaga Belang.

Universitas Sam Ratulangi Manado.

Jurnal Sipil Statik. Manado

[12] Sadina, Elma. 2020. Perhitungan Pondasi Jembatan Sungai Putting.

Politeknik Negeri Banjarmasin. Tugas Akhir. Banjarmasin

Referensi

Dokumen terkait

Pondasi tiang merupakan salah satu jenis dari pondasi dalam yang umum digunakan, yang berfungsi untuk menyalurkan beban struktur kelapisan tanah keras yang mempunyai

Pondasi tiang pancang adalah batang yang relative panjang dan langsing yang digunakan untuk menyalurkan beban pondasi melewati lapisan tanah dengan daya dukung rendah kelapisan

Tujuan dari Tugas Akhir ini untuk menghitung dan menganalisis daya dukung tiang pancang pada proyek pembangunan jembatan sei deli – belawan medan.Kapasitas daya

Tujuan dari Tugas Akhir ini untuk menghitung dan menganalisis daya dukung tiang pancang pada proyek pembangunan jembatan sei deli – belawan medan.Kapasitas daya

Dari analisa pembebanan di dapat kombinasi beban yang terbesar adalah 1275,35 ton dan dari analisa daya dukung diperoleh hasil bahwa daya dukung pondasi tiang pancang

Tujuan dari studi ini untuk menghitung dan membandingkan daya dukung statis dari hasil sondir menggunakan Metode langsung (directcone), Metode Schmertmann dan Nottingham

Laporan ini mengkaji tentang beban kerja maksimal yang dipikul oleh pondasi tiang pancang, nilai daya dukung terhadap beban kerja aksial, dan nilai penurunan

Tiang dukung ujung 𝐼 = πΌπ‘œπ‘…π‘˜π‘…π‘π‘…πœ‡ S = QI EsD Es = 2qc sampai dengan 8qc lempung Eb= 10Es Ep= 4700 fβ€²c Ra= Ap 1 4Ο€d2 K =EpRa Es Dimana : S =Penurunan untuk tiang tunggal mm Q =