Nama : Galuh Putri Andayani
NIM : 41220012
Kelas : PJJ-4A
Polusi Udara di Jakarta, Menparekraf Anjurkan Naik Transportasi Umum
KOMPAS.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menganjurkan masyarakat untuk beralih naik transportasi umum sebagai upaya menurunkan polusi udara di Indonesia. "Salah satu yang menjadi penyumbang (polusi udara) terbesar adalah transportasi," kata dia dalam program The Weekly Brief with Sandi Uno di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (14/8/2023). Oleh karena itu, pihaknya mengurangi kendaraan pribadi untuk beralih ke transportasi umum dalam lingkup Kemenparekraf. Ia melanjutkan, kualitas udara di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi belakangan memang semakin memprihatinkan.
"Saya juga akan memulai untuk tidak menggunakan mobil, walaupun sudah menggunakan mobil listrik, saya akan mulai menggunakan kendaraan umum dan lari ke kantor sebagai bagian dari menurunkan polusi yang ada di Indonesia," kata Sandi.
Sandi melanjutkan bahwa untuk solusi jangka panjang, harus ada peningkatan dari segi ruang terbuka hijau, serta konversi industri untuk menggunakan energi ramah lingkungan.
"Kita melakukan konversi seperti yang kita lakukan di destinasi, untuk mesin-mesin yang tidak menggunakan energi ramah lingkungan dikonversi ke listrik," katanya.
Serta, memastikan industri-industri yang ada di kawasan Jakarta untuk menerapkan scrubber atau tidak ada emisi karbon yang membahayakan masyarakat.
"Ini tentunya akan berdampak negatif terhadap pariwisata, jadi harus kita kontrol agar ini segera ada tindak lanjutnya, dan jangan sampai masalah ini berlarut-larut," pungkas Sandi.
Ngerinya Polusi Udara Jakarta: Ganggu Kesehatan hingga Desakan WFH
Jakarta, IDN Times - Isu kualitas udara di wilayah DKI Jakarta belakangan menjadi pembahasan hingga muncul desakan Work From Home (WFH) yang digaungkan berbagai pihak. Masalah kesehatan jadi salah satu dampak yang dirasakan masyarakat dengan buruknya kualitas udara tersebut. Lembar fakta Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) yang diterima IDN Times menjelaskan bagaimana pencemaran udara bisa mempengaruhi kesehatan masyarakat. Studi yang dilakukan pada 2019 menunjukkan tingginya prevalensi kondisi pernapasan penduduk Jakarta. Di antaranya adalah 1,4 juta kasus asma, 200 ribu kasus bronkitis, 172.000 kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), dan 2,7 juta infeksi saluran pernapasan akut serta 1,3 juta jantung coroner.
Bukan hanya itu, masyarakat juga harus membayar biaya kesehatan Rp51,2 triliun per tahun.
Studi juga menemukan bahwa 15,4 persen kematian di Jakarta disebabkan oleh pencemaran udara dari sektor transportasi.
1. Aksi pengendalian pencemaran udara dengan uji emisi
Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin, mendesak aksi pengendalian pencemaran udara dilakukan. Dia mengatakan, sudah saatnya pengendalian dilakukan secara ketat dan konsisten. Mulai dari menjalankan razia emisi kendaraan, pabrik, power plant, pembakaran sampah, dan lainnya. “Dari sini semua akan memahami bahwa kepedulian kita harus bangkit untuk konsisten pada proses ketaatan hukum dengan melaksanakan aksi pengendalian pencemaran udara secara real dan tidak sekadar seremoni dan pencitraan lagi," kata dia dalam keterangan yang diterima IDN Times, Sabtu (12/8/2023). "Strict liability menghendaki hadirnya para penegak hukum dalam proses pengendalian pencemaran udara yang jujur, berintegritas, tegas, accountable, dan transparan serta tidak diskriminatif,” lanjut Ahmad.
2. Pemerintah serahkan pilihan WFH pada perusahaan
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (Ditjen PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sigit Reliantoro, meminta agar perusahaan rutin mengecek informasi kualitas udara sebelum mengambil kebijakan WFH. Pemerintah, kata dia, tak bisa menginterupsi aturan manajemen perusahaan. "Informasi kualitas udara tadi kan sudah tersedia di berbagai website. Nah, itu bisa digunakan masing-masing manajemen untuk menentukan, apakah perlu WFH atau tidak," ujar Sigit dalam konferensi pers di Kantor Dirjen PPKL, Jakarta, Jumat (11/8/2023).
3. Jakarta darurat polusi udara, harus ada tindakan pemerintah
Perusahaan teknologi kualitas udara Swiss, IQ Air mengungkapkan kualitas udara Jakarta pada Sabtu, 12 Agustus 2023 tidak sehat, yakni menyentuh angka 119 AQI US. Kualitas udara Jakarta, polutan utamanya masih di PM 2,5. Sebelumnya, Sekretaris Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta, William A. Sarana juga mendesak Pemprov DKI Jakarta untuk mengeluarkan langkah cepat untuk masyarakat DKI dalam masalah kualitas udara ini. Mulai dari mitigasi hingga upaya mengurangi polusi di Ibu Kota. "Jakarta sudah darurat polusi udara, harus ada tindakan drastis dari Pemprov untuk mengurangi polusi. Dalam keadaan seperti ini, Pemprov DKI harus menyerukan WFH untuk menyelamatkan warga DKI dari polusi udara," kata dia.
Sidang Putusan Polusi Udara Jakarta Ditunda Lagi, Penggugat Kecewa
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat kembali menunda sidang putusan gugatan warga negara terkait pencemaran udara di Ibu Kota. Sidang putusan tersebut harusnya dijadwalkan berlangsung Kamis (10/6/2021) ini. Namun dalam sidang yang berlangsung tak sampai lima menit hari ini, Ketua Majelis Hakim Saifuddin Zuhri menyatakan sidang ditunda lantaran majelis masih memerlukan waktu untuk mempelajari dan merundingkan putusan. Ayu Ezra Tiara, kuasa hukum dari 30 penggugat, menyatakan kecewa terhadap penundaan itu. “Ini merupakan bukti nyata dari buruknya manajemen waktu proses peradilan dan pelanggaran terhadap asas peradilan yang cepat, sederhana, dan biaya ringan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat 4 UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman,” kata Ayu saat dihubungi, Kamis. Sebelumnya, penundaan sidang dengan agenda yang sama juga dilakukan pada 20 Mei lalu. Saat itu, hakim beralasan masih menunggu soft file kesimpulan dari pihak tergugat. Menurut Ayu, pembacaan putusan yang tertunda hingga dua kali ini bukanlah hal yang wajar. Ayu beranggapan, dengan ditundanya pembacaan putusan itu, maka majelis hakim secara tidak langsung juga menunda pemenuhan hak masyarakat untuk dapat menghirup udara bersih. Ayu berharap majelis hakim PN Jakarta Pusat tak lagi mengulur waktu. Apalagi, gugatan itu juga sudah diajukan sejak 4 Juli 2019, atau hampir dua tahun silam. "Kami sangat berharap ke depannya majelis hakim tidak lagi mengulur-ulur waktu agar ada kepastian bagi para pencari keadilan," ujarnya.
Gugatan soal polusi udara Jakarta itu diajukan oleh 30 warga yang tergabung dalam Koalisi Ibu Kota ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 Juli 2019. Mereka menggugat tujuh pihak, yaitu Presiden Joko Widodo, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Jawa Barat, dan Gubernur Banten.
Penggugat meminta para tergugat untuk bisa mengendalikan pencemaran udara di kawasan Ibu Kota dan sekitarnya. Di antaranya dengan menerbitkan revisi Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang di dalamnya mengatur perihal pengendalian pencemaran udara lintas batas provinsi. Para tergugata juga diminta untuk mengetatkan Baku Mutu Udara Ambien Nasional yang cukup untuk melindungi kesehatan manusia, lingkungan, dan ekosistem, termasuk kesehatan populasi yang sensitif berdasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pemberlakuan WFH 50 Persen bagi ASN DKI Kurangi Kemacetan di Wilayah Jakarta Hingga 5 Persen
TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA --- Sebagai upaya meminimalisir polusi udara, Pemprov DKI Jakarta memberlakukan kebijakan work from home (WFH) 50 persen bagi aparatur sipil negara (ASN). Selain mengurangi polusi udara, penerapan WFH 50 persen bagi ASN DKI Jakarta rupanya juga berdampak mengurangi kemacetan sebesar 5 persen. "Kemarin kalau hitungan, 5 persen turun kata Dinas Perhubungan.
Itu waktu 50 persen WFH. Kemacetan turun indeksnya sampai dengan 4-5 persen,"
ujar Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya, Kombes Latif Usman, kepada wartawan, dikutip Minggu (3/9/2023).
Ia mengatakan bahwa angIa mengatakan bahwa angka kemacetan diperkirakan bakal terus berkurang pekan depan setelah ada penerapan WFH 50 persen.ka kemacetan diperkirakan bakal terus berkurang pekan depan setelah ada penerapan WFH 50 persen.
Pasalnya, kebijakan WFH ASN DKI ini akan ditingkatkan menjadi 75 persen saat KTT ASEAN berlangsung pada 5-7 September 2023. "Mudah-mudahan hari Senin (besok saat) persiapan KTT ASEAN, (kemacetan) bisa lebih menurun lagi," kata dia.
Lokasi tilang emisi kendaraan berpindah-pindah Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Latif Usman mengatakan, lokasi tilang uji emisi di Jakarta akan berpindah-pindah setiap minggunya. "Tempat uji emisi itu nantinya berpindah-pindah, dalam artian kami mencari ruas," ujar Latif, kepada wartawan, dikutip Minggu (3/9/2023). Ia menuturkan bahwa beberapa ruas jalan akan dijadikan lokasi uji emisi. Misalnya seperti di Kalimalang, Jakarta Timur; Lenteng Agung, Jakarta Selatan hingga Daan Mogot, Jakarta Barat.
"Ini nanti kami akan berputar," kata dia. Ruas jalan yang dijadikan uji emisi, kata dia, harus memiliki lahan yang dapat menampung kendaraan.
Latif mengatakan, itu dilakukan guna menghindari kemacetan ketika pelaksanaannya.
"Karena kami dalam penindakan ini, kami memerlukan alat. Tentunya yang mempunyai alat KLH ini, dan kami sebagai petugas kepolisian akan membackup kegiatan tersebut," ucapnya. Ia menegaskan, uji emisi penting dilakukan guna mengurangi polusi udara di Ibu Kota.
Oleh sebab itu, pihaknya meminta masyarakat mengikuti uji emisi ini. Pasalnya, warga yang kendaraannya gagal uji emisi akan dikenakan sanksi tilang. Untuk motor sebesar Rp250 ribu, sedangkan mobil senilai Rp500 ribu. "Uji emisi kan sudah kami sampaikan, tempatnya pun sudah kami tentukan. Saya harapkan masyarakat juga sudah mengantisipasi," tuturnya. "Datanglah ke bengkel-bengkel yang ada untuk melakukan uji emisi sehingga kendaraannya sudah layak pakai atau tidak," lanjut dia.
Sebab Polusi Udara Menurut Akademisi UGM
Polusi udara jadi topik hangat dibicarakan di tengah musim kemarau.
Pengamat iklim dan lingkungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Emilya Nurjani, menjelaskan sejumlah penyebab meningkatnya polusi udara belakangan.
Dilansir dari laman UGM, ada beberapa sebab buruknya kualitas udara. Sebab-sebab itu saling berkaitan satu dengan yang lain. Antara lain aktivitas manusia seperti transportasi, industri, dan sampah menjadi sumber polusi udara. Namun kondisi diperparah dengan musim kemarau yang ditandai dengan tidak adanya hujan.
"Jika ada hujan, maka gas buang di udara akan terbuang bersama air, dan dibawa jatuh ke permukaan tanah. Sehingga udara bisa kembali bersih. Dengan kondisi saat ini, di mana hujan tidak turun dalam kurun waktu panjang, dan kelembaban udara juga rendah, maka kehadiran gas polutan itu semakin jelas,"
katanya.
Namun ia menegaskan, jika sumber polutan dari aktivitas manusia masih tinggi, maka hujan pun tidak akan mampu memperbaiki kualitas udara. "Tendensinya, kualitas udara akan lebih bagus saat hujan. Tapi saat COVID kemarin, kualitas udara juga bagus meski kemarau. Jadi, hujan bukan variabel satu-satunya. Jika sumber polutan tetap tinggi, kualitas udara tetap buruk," lanjutnya. Warga pun bisa ikut memantau kualitas udara melalui Indeks Kualitas Polusi Udara (ISPU) yang diperbarui sehari sekali. ISPU akan menjelaskan kualitas udara di lokasi yang spesifik dan dampaknya pada kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kalkulasi ISPU berdasarkan enam parameter, yaitu PM19, PM2,5, NO2, SO2, CO, 03, dan HC.
PM2,5 baru saja ditambah sebab kadarnya bisa mempengaruhi kesehatan manusia.
Emilya menyebut, partikel ini bisa masuk ke paru-paru lewat pernapasan. Setelah masuk ke paru-paru, partikel polutan itu sulit dikeluarkan.
Berbeda Dengan Jakarta, Kualitas Udara di Surabaya Layak Hirup
Berbeda dengan Jakarta yang memiliki kualitas udara terpuruk di dunia, Kota Surabaya memiliki kualitas udara yang berkualitas baik dan layak hirup. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro. Hebi menjelaskan, berdasarkan data kualitas udara di semua wilayah Kota Surabaya mulai Januari hingga Juli 2023, 26,48 persen berkualitas baik dan 73,52 persen berkualitas sedang. "Tidak ada wilayah yang kualitas udaranya buruk, itu nol persen," kata Hebi, Senin, 14 Agustus 2023. Menurutnya, dari data yang ada saat ini dan menunjukkan hasil kualitas udara cukup baik, artinya udara di Kota Surabaya masih layak hirup. "Di Surabaya ini kualitas udaranya baik-baik saja. Masih layak hirup 100 persen," ungkapnya.
Meski demikian, ia tak menampik ada beberapa wilayah yang kualitas udaranya tidak baik karena polusi udara yang ditimbulkan kendaraan bermotor. Seperti di wilayah Tandes dan Margomulyo yang memiliki titik kemacetan tinggi. "Kalau misal udara ambien (lapisan udara yang berpegaruh pada kesehatan manusia) paling banyak itu kendaraan bermotor itu penyumbang terbesar, kedua itu pabrik. Baru ketiga yang lain- lain," papar Hebi.
Guna mengurangi polisi udara di Surabaya, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) untuk melakukan uji emisi sesering mungkin. Pasalnya, uji emisi adalah kemenangan dari Dishub. "Selain itu, kami juga melalukan penanaman pohon sesering mungkin. Terutama, di wilayah yang memiliki kadar polutan tinggi. Targetnya menanam 1.000 pohon tiap harinya," terangnya.
Tambahnya, jenis tanamannya antara lain, pohon, perdu, semak, dan lainnya.
Sementara itu, dari layar indikator kualitas udara di Surabaya yang berada di Jalan Gubeng Pojok menunjukkan kualitas udara didaerah tersebut berkualitas sedang.